Anda di halaman 1dari 22

PETUNJUK PRAKTIKUM PERBENGKELAN

Disusun Oleh :

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN 2011

PRAKTIKUM 1. PENGENALAN ALAT ALAT PERBENGKELAN


Tujuan Mengetahui peralatan bengkel sederhana. Mengetahui fungsi peralatan sederhana. Mengetahui cara kerja peralatan perbengkelan sederhana.

Dasar Teori

Bengkel merupakan tempat untuk pembuatan, perakitan maupun perbaikan alat dan mesin mesin tertentu. Selain itu bengkel juga dapat diartikan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar ketrampilan, untuk menjamin efektifitas dan efiseirnsi kegiatan perbengkelan diperlukan adanya managemen bengkel yang baik terhadap keseluruhan sumber daya yang ada. Selain pengelolaan terhadap sumber daya manusia, pengelolaan peralatan bengkel sangat penting sehingga setiap peralatan yang ada selalu dalam keadaan terawat dan siap pakai. Dengan kelengkapan dan kesiapan peralatan bengkel yang memadai, serta ditunjang pengetahuan cara yang baik dan benar dalam penggunaan alat akan membuat pekerjaan perbengkelan menjadi lebih mudah dan aman. Alat merupakan salah satu faktor yang dapat membantu pekerjaan manusia dalam kehidupan sehari hari. Seperti halnya alat perbengkelan dalam membantu menyelesaikan pekerjaan yang berhubungan dengan bengkel. Teknik dan teknologi perakitan, pembuatan dan penggunaan alat maupun mesin bengkel tersebut sangat berpengaruh dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Perkakas atau peralatan tangan adalah komponen yang sangat penting dalam membuat suatu benda atau barang. Jika salah satu dari perkakas tadi rusak atau bahkan hilang maka proses pembuatan akan terhambat. Sehingga hasilnya tidak akan sempurna dan bisa saja tidak terselesaikan. Peralatan tangan yang dimaksud adalah segala macam perkakas atau alat yang digunakan secara manual (tangan) untuk pekerjaan pekerjaan mekanik di bengkel listrik (elektro).

Perkakas bengkel hampir selalu tersedia pada setiap satuan kehidupan. Pekerjaan perbengkelan selalu dibutuhkan oleh setiap unit kehidupan. Hal tersebut disebabkan oleh sifat alami barang barang perlengkapan kehidupan yang selalu membuat perawatan serta mengalami kerusakan dari waktu ke waktu. Pada suatu perusahaan yang banyak menggunakan mesin, adanya bengkel adalah hal yang penting. Jika mesin tidak dirawat dengan semestinya, maka mesin cepat rusak dan umur pemakaian akan berkurang sehingga merugikan perusahaan. Pada suatu usaha tani, seberapapun ukuran usaha taninya, pastilah digunakan alat dan mesin pertanian. Supaya penggunaan peralatan tersebut aman dan tahan lama, hendaknya alat tersebut memiliki kriteria sebagai berikut: a. b. c. Membeli dan mempergunakan alat dan mesin yang bermutu baik. Selalu merawat dengan baik. Menggunakan jenis alat yang sesuai dengan fungsinya.

Mesin Perkakas Bengkel a. Mesin Bubut Mesin ini mempunyai gerak utama berputar pada sumbunya, dimana gerakan putar mesin itu didapatkan dari motor listrik yang dijalankan oleh arus listrik atau oleh gerak mekanik dari perputaran sumbu roda dengan perantaraan sabuk puli. Bentuk dan ukuran mesin bubut itu bermacam-macam, dari ukuran yang sederhana sampai pada ukuran yang besar dan lengkap. b. Mesin Frais Mesin frais adalah yang pling mampu melakukan banyak tugas dari segala mesin perkakas, pemotongan sudut, celah, roda gigi dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pahat pemotong, bentuk pahat mesin frais ini berupa lingkaran disekelilingnya terdapat gigi-gigi pemotong. Keuntungan yang lain dari mesin ini adalah ketersediaan dari pemotong yang sangat beraneka ragam membuat mesin frais sangat penting dalam bengkel dan ruang perkakas. Jenisjenis mesin frais: Mesin Frais Universal, Mesin Frais Vertikal, Mesin Frais Penyerut, dan Mesin Frais Portal. c. Mesin Ketam/Serut Mesin ini adalah mesin dengan gerak utama yang berjalan mondar-mandir

secara horizontal atau vertikal, bentuk dari pahat penyayatannya hampir mirip dengan pahat mesin bubut, menurut bentuknya mesin ketam atau mesin serut ini dapat dibagi atas kelompok: Mesin Ketam Horizontal, Mesin Ketam Vertikal dan Mesin Ketam Jenis Khusus (pemotongan roda gigi). d. Mesin Bor/Gurdi Mesin bor adalah satu peralatan mesin perkakas yang secara umum digunakan untuk mengebor/membuat lubang pada benda kerja selain itu juga melakukan pekerjaan: mereamer (meluaskan), pengeboran bentuk tirus,

pengeboran pembenaman (counter sink). Jenis-jenisnya: Mesin Bor Tegak, Mesin Bor Radial, Mesin Pengebor Horizontal, Mesin Bor Berporos Majemuk, dan Mesin Bor Koordinat. e. Mesin Gerinda/Asah Mesin gerinda adalah untuk mengasah pahat dengan perantaraan roda batu gerinda sehingga pahat-pahat dan benda kerja dapat digerinda dengan halus dan rata. Bentuk mesin ini bermacam-macam tetapi yang sering digunakan adalah mesin gerinda duduk yang dipasang pada bangku kerja. Menggerinda berarti menggosok, mengauskan dengan gesekan atau mengasah, roda gerinda terdiri dari banyak butiran kecil yang dilekatkan bersama, masing-masing butiran berlaku sebagai mata potong miniatur. f. Mesin gergaji Fungsi utama mesin gergaji adalah untuk memotong benda kerja, dengan mesin ini kita dapat memotong benda kerja dalam jumlah banyak. Baik dipotong dengan cara bertahap (satu demi satu) maupun dengan cara disatukan, sehingga pengerjaannya lebih cepat dan efisien daripada menggunakan gergaji tangan. g. Mesin Tempa Pada bengkel tempa yang bentuknya sederhana atau kecil maka pemukulan benda kerja yang ditempa dilakukan dengan palu oleh tenaga manusia, hasil penempaan demikian banyak memerlukan waktu dan tenaga karena benda tersebut harus sering dipanaskan berulang kali, pada bengkel tempa yang lebih besar maka pemukulan menggunakan palu tempa yang dijalankan oleh mesin, palu ini akan bekerja sendiri secara otomatis serta dapat diatur. Jenis-jenisnya: Mesin Tempa Udara, Mesin Tempa Uap, dan Mesin Tempa Hidrolik.

h.

Mesin Pembentuk Mesin pembentuk adalah mesin yang bertujuan untuk membentuk plat

atau logam dalam keadaan dingin melalui suatu tekanan (Daryanto, 1992).

Setting Eksperimen

Alat Dan Bahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Obeng Palu Tang Kunci Pahat Penitik Kikir 8. 9. Gergaji Canggam

10. Klem 11. Mata bor 12. Tap 13. Snei

Prosedur Kerja 1. 2. 3. Mengidentifikasi peralatan perbengkelan yang ada. Menggambar peralatan perbengkelan yang ada. Menjelaskan cara kerja dan fungsi peralatan perbengkelan yang ada.

Daftar Pustaka

PRAKTIKUM 2. MEMBUAT ULIR DALAM DAN ULIR LUAR


Tujuan

Mengetahui peralatan yang digunakan untuk pembuatan ulir dalam dan ulir luar. Mengetahui cara kerja tap dan snei. Dapat membuat ulir dalam dan ulir luar. Dasar Teori Pembuatan ulir dalam dipergunakan tap pada suatu logam benda kerja. Tap terdapat dalam berbagai jenis dan ukuran, dan dalam 1 set tap yang umum digunakan terdiri dari 4 jenis yaitu: lancip/ tirus, plug, bottoming, dan skrup mesin. Penggunaan tap dilengkapi dengan batang penghubung dan pegangan untuk memutarnya. Benda kerja yang di tap biasanya dijepit dengan tanggam dan selama pengerjaan hendaknya tap selalu dibubuhi pelumas untuk mengurangi gesekan dan panas yang berlebihan. Pembuatan ulir luar dipergunakan snei pada suatu logam benda kerja. Snei juga memiliki berbagai jenis dan ukuran, serta ada jenis snei yang dapat diperbesar maupun diperkecil diameternya. Penggunaan snei dapat langsung diputar tanpa ada penghubung atau pegangan tambahan, namun demikian terdapat jenis snei tertentu yang harus diputar dengan bantuan kunci-kunci (Morgan dan Setiawan, 1987) Peralatan tangan adalah segala macam perkakas atau alat yang digunakan secara manual (tangan) untuk pekerjaan pekerjaan mekanik di bengkel listrik (elektro). Secara umum peralatan tangan mempunyai ciri ciri antara lain adalah: 1. Bentuknya sederhana. 2. Ringan. 3. Mudah dibawa (portable). 4. Menggunakan sumber listrik yang tidak terlalu besar. 5. Digunakan secara manual. 6. Relatif mudah penggunaannya. Ukuran ulir standar ISO yang biasa dipakai ada 2 macam sebagai berikut: 1. Ulir metrik dengan simbol (M) Misalnya: M8 x 1,25, artinya : M = simbol ulir 8 = diameter benda kerja dalam millimeter. 1,25 = jarak puncak ulir atau kisar (K) 2. Ulir Withworth dengan simbol (W) Misalnya: W 5/8 x 16, artinya : W = simbol ulir 5/8 = diameter benda kerja dalam inchi 16 = jumlah gang per-inchi sudut puncak ulir 55

Gambar 1. Bentuk ulir dengan standar ISO Bentuk ulir yang paling umum digunakan adalah berbentuk V yaitu dipakai pada pekerjaan konstruksi dan permesinan dimana banyak bagian yang dirakit dengan sekrup atau mur dipasang batang ulir atau baut.

Gambar 2. Bentuk konstruksi ulir Alat yang dipakai untuk membuat ulir dalam dengan tangan dimanakan TAP dalam hal ini disebut saja tap tangan untuk membedakan penggunaannya dengan yang dipakai mesin. Bahannya terbut dari baja karbon atau baja suat cepat (HSS) yang dikeraskan (Morgan dan Setiawan, 1987). Tap adalah suatu alat yang digunakan untuk membuat ulir dalam dengan tangan atau mesin. Tap ini dibuat berbentuk ulir luar yang digerinda dengan tiga atau lebih lekukan memanjang, yang disebut alur. Alur inilah yang membentuk sisi-sisi pemotongnya. Tap dibuat dari bahan baja dengan kecepatan tinggi. Ada juga yang terbuat dari bahan baja karbon yang dikeraskan (Morgan dan Setiawan, 1987).. Master yang dibuat secara presisi, untuk membentuk sisi pemotong pada ulir dibuat alur atau flutes dan dilengkapi dengan ruang pembuangan beram saat dipakai. Dalam satu set ukuran tap mempunyai 3 macam bentuk, antara lain:

1. 2. 3.

Tap tirus. Tap tirus lebih kecil. Tap akhir.

Gambar 3. Bentuk Tap Taps tirus digunakan untuk membuat drad pada seluruh dinding suatu lubang. Taps jenis bottoming untuk membuat drad pada seluruh dinding lubang buntu. Untuk memulai mentap lubang buntu hendaknya mengunakan taps jenis plug karena taps jenis bottoming biasanya kurang lancar. Taps jenis sekrup mesin untuk membuat drad halus pada lubang yang berdiameter kecil. Dalam penggunaan, taps dilengkapi dengan batang penghubung dan pegangan. Benda kerja yang ditap biasanya dijepit dengan canggam. Alat bantu yang dipakai untuk menggunakan tap, supaya dalam pemakaiannya lebih mudah. Dibutuhkan kunci pemegang tap atau tangkai tap. Pemegang tap bentuknya ada 3 macam, yaitu: 1. tipe batang, 2. tipe penjepit, 3. tipe amerika.

Gambar 4. Tangkai Tap Pemotong ulir luar (SNIJ/die) dibuat dari bahan baja karbon tinggi. Pemotong ulir luar digunakan untuk membuat/memotong ulir-ulir luar dari batang

besi atau pipa. Ditinjau dari bentuknya, ulir luar ini mempunyai tiga tipe, yaitu pemotong ulir belah, pemotong ulir tertutup dan mur pemotong ulir. Bahan sney tersebut dibuat dari karon baja sayat cepat (HSS), dalam pemakaiannya sney tersebut dijepit dengan bantuan rumah sney yang dilengkapi dengan tangki. Sedangkan bentuk konstruksi sney ada 2 macam sebagai berikut: 1. Sney belah bulat;

Gambar 5. Sney belah bulat 2. Sney segi enam.

Gambar .6. Sney segi enam.

Gambar III.7. Rumah sney Pada pelaksanaan mengulir luar, balok pengulir dimasukkan ke dalam tangkai pemutar dengan diikat oleh baut sekrup pengikat.

Gambar 8. Balok Jenis Pengulir Luar yang akan Dipasang ke dalam Tangkainya Ulir yang rusak dapat diperiksa untuk menentukan bagaimana perbaikannya. Sering kali ulir rusak terlalu parah yang perbaikannya susah. Praktikan perlu pengalaman dalam mengambil keputusan untuk memperbaiki ulir. Ulir luar dapat diperbaiki dengan menggunakan mur sney segi enam, yang dapat diputar menggunakan kunci pas/ring. Sebuah ulir dalam dapat diperbaiki dengan tap. Jika kerusakannya ringan, sebuah baut ulir kanan juga dapat digunakan untuk memperbaiki bila tidak ditemukan tap. Hati-hati dalam menggunakannya. Jika kerusakannya berat dapat diterapkan cara lain. Tiga cara yang dapat digunakan :

1. Bor lubang lebih besar dan tap untuk ukuran baut yang lebih besar. 2. Bor lubang lebih besar, tap dan pasangkan sumbat, lalu bor sumbat tersebut untuk perencanaan pemasangan baut ukuran aslinya. 3. Gunakan satu set penggantian ulir lubang di bor lebih besar dan tap untuk memasang sebuah kumparan yang mana kumparan disisipkan kedalam lubang yang di besarkan tadi dan terpasang tetap. Kumparan khusus tersebut memiliki ulir ukuran asli pada sisi dalamnya. Setting Eksperimen Alat Dan Bahan 1. Snei. 2. Tap. 3. Tanggem. 4. Stock. 5. Tap wrench. 6. Besi cor kecil. 7. Besi plat. Prosedur Kerja 1. Menggambar dan mengidentifikasi peralatan yang dipergunakan untuk pembuatan ulir dalam maupun ulir luar. 2. Menjelaskan cara kerja dan fungsi masing-masing alat yang digunakan dalam praktikum. 3. Membuat ulir luar: Menjepitkan besi pada tanggem. Memasukkan snei kedalam stock kemudian mengencangkannya. Memasukkan snei kedalam ujung benda kerja (besi cor) kemudian memutar searah jarum jam dengan pelan-pelan agar hasil kerja baik. 4. Membuat ulir dalam: Mengebor besi cor terlebih dahulu. Memasukkan tap pada tap wrench. Menjepit besi. Memasukkannya ke ujung tap di dalam lubang besi yang telah dibor kemudian memutar pelan pelan sampai benda kerja benar membentuk ulir. Setelah mantap satu atau dua putaran, memutar balik tap sekitar seperempat sampai setengah putaran untuk menghancurkan serpihan serpihan logam. Daftar Pustaka

PRAKTIKUM 3. PAKU KELING DAN RIVETER

Tujuan

Mengetahui fungsi paku keling sebagai penyambung logam pipih. Dapat membedakan pasangan paku keling dengan mempergunakan palu dan riveter. Dapat memasang paku keling dengan mempergunakan palu maupun riveter.

Dasar Teori Penggunaan paku keling adalah untuk menyambung atau menyatakan bagian logam pipih lainnya dimana ikatan yang terbentuk bukan merupakan ikatan yng dibuka-pasang. Terdapat beberapa jenis paku keling seperti: paku keling besi, paku keling tabung, paku keling belah, paku keling tekan dan paku keling berlubang. Pemasangan paku keling mempergunakan palu khusus hingga terbentuk ikatan yang kuat antara kedua logam pipih yang disatukan dan khusus untuk paku keling berlubang dapat dipasang dengan mempergunakan riveter (Morgan dan Setiawan, 1987). Umumnya mesin terdiri dari beberapa bagian yang disambung menjadi sebuah mesin yang utuh. Sambungan keling umumnya diterapkan pada jembatan, bangunan, ketel, tangki, kapal dan pesawat terbang. Ada 2 kategori pada pembebanan sambungan keling yaitu : a. Beban Sentris b. Beban Eksentris Sambungan

Tetap / mati

Tidak Tetap / dapat di lepas (buka)

Keling (rivet) Las (weld) Pasak (spie)

Baut (nut)

Gambar 1. Alur penyambungan

1.

Beban Sentris, centrist load D P B P

C Gambar 2. Beban sentris

Gambar diatas, dua buah plat disambung dengan satu deret paku keling. Biasanya dalam perhitungan diasumsikan bahwa seluruh paku keling akan mendapat tegangan yang sama, yang sebenarnya terjadi, plat dibagian B dan C akan mengalami perpanjangan yang besar, karena memikul hampir seluruh beban P. Plat dibagian A dan D mengalami perpanjangan yang kecil karena beban yang dipikul relatif kecil. Karena mengalami Perubahan panjang yang tidak sama: paku keling yang terletak diujung akan mendapat beban yang paling besar, paku keling berikutnya lebih kecil. Pemasangan paku keling a. Tidak terlalu berdekatan dan berjauhan jaraknya. d

min. 3 d Gambar 3. Jarak antar paku keling b. Jika jarak antar paku terlalu besar dapat terjadi buckling. Jarak maksimum biasanya adalah 16 x tebal plat. c. Jarak dan pusat paku keling dengan sisi plat tidak boleh terlalu kecil, sebab dapat terjadi kegagalan. Tegangan pada paku keling Kegagalan yang dapat terjadi pada sambungan keling diantaranya:

Geseran pada paku keling

Tegangan tarik pada plat

Tekanan pada plat

Gambar 4. Kegagalan yang sering terjadi pada proses pengelingan.

Karena sambungan keling banyak dipakai pada ketel dan tangki, maka perlu diketahui tegangan yang terjadi pada silinder berdinding tipis yang mendapat tekanan dalam, diameter >10 dinding Analisa tegangan pada silinder berdiding tipis : Asumsi yang digunakan adalah bahwa distribusi tegangan sepanjang tebal dinding adalah sama dan merata. 2. Beban Eksentris, Eccentrics Load Bila beban yang bekerja pada sistem paku keling adalah eksentris maka harus diperhitungkan pula pengaruh teori atau momen yang terjadi. Misalkan suatu sambungan keling mendapat momen Pe. Titik O adalah titik berat dari sekelompok paku keling tersebut. e e
P/N R1 F1 F2 P/N P/N

P
F1
P/N

P
Gaya akibat beban P

R3

F2

P/N o R3 F3

P?N F3

Gaya Resultan (R)

Gambar 6. Beban eksentris.

Gaya akibat momen Pe

Digunakan untuk menyatukan bagian logam pipih dengan bagian logam pipih lainnya. Ikatan tersebut bukan merupakan ikatan yang dapat dibuka pasang. Cara penggunaan paku keeling sebagai berikut : 1. Bor bagian-bagian logam pipih yang akan di satukan untuk lubang yang sama dengan diameter paku keling. 2. Ujung paku keeling dipalu dengan palu atau pahat khusus sehingga kedua logam pipih bersatu. 3. Ujung paku keeling setelah dipalu bentuknya seperti kepala paku keling.

Setting Eksperimen Alat Dan Bahan 1. Paku keling. 2. 3. 4. 5. 6. Palu. Riveter. Besi plat. Gergaji besi. Mesin dan mata bor.

Prosedur Kerja 1. Mengidenifikasi dan menggambar jenis paku keling dan riveter yang dipergunakan. 2. Menyambung logam pipih dengan paku keling tak berlubang dengan cara sebagai berikut: a. Melubangi dua buah besi plat dengan mengebor sesuai ukuran diameter paku keling. b. Memasangkan paku keling pada kedua lubang besi plat (apabila terlalu panjang maka memotong ujung paku keling dengan mempergunakan gergaji besi). c. Memalu pada bagian ujung paku keling hingga kedua plat pipih bersatu (setelah memalu ujung paku keling maka akan terbentuk seperti kepala paku keling). 3. Menyambung logam pipih dengan paku keling berlubang dengan cara sebagai berikut: a. Melubangi dua buah besi plat dengan menggunakan bor sesuai dengan ukuran diameter paku keling. b. Memasang paku keling berlubang dan memasukkan pada riveter. c. Memasukkan ujung paku keling pada lubang benda kerja, kemudian menekan tuas riveter. d. Setelah kedua plat beri tersambung kuat, menarik tuas riveter dan batang paku keling akan patah. Daftar Pustaka

PRAKTIKUM 4. LAS LISTRIK


Tujuan

1. 2. 3.

Mengetahui peralatan dan perlengkapan las listrik. Mengetahui cara pengelasan. Dapat menyambung atau memotong logam mempergunakan las listrik.

Dasar Teori Menurut Welding Handbook, proses pengelasan adalah proses penyambungan bahan yang menghasilkan peleburan bahan dengan memanasinya hingga suhu yang tepat dengan atau tanpa pemberian tekanan dan dengan atau tanpa, pemakaian bahan pengisi. Panas digunakan untuk mencairkan logam dasar dan bahan pengisi agar terjadi aliran bahan. Selain itu, panas dipakai untuk menaikan daktilitas sehingga aliran plastis dapat terjadi walaupun bahan tidak mencair, lebih jauh lagi, pemanasan membantu penghilanagn kotoran pada bahan. Bunga api listrik terbentuk dengan cara menyalurkan arus listrik melalui elektroda yang didekatkan pada bagian permukaan logam benda kerja, dalah hal ini elektroda dan logam benda kerja merupakan kutub-kutub listrik yang berbeda. Elektroda yang telah diberi bahan pelapis dapat berfungsi sebagai kawat las atau kawat pengisi, dan untuk jenis elektroda tertentu dapat dipergunakan untuk memotong baja. Sedangakan solder digunakan untuk merakit atau menyolder komponen elektronika. Klasifikasi elektroda menurut AWS (American Welding Society) dinyatakan dengan tanda EXXXX yang artinya : E : Menyatakan elektroda XX : (dua angka) sesudah E menyatakan kekuatan tarik depositlas dalam ribuan lb/m2 X : (angka ketiga) menyatakan posisi pengelasan - Angka 1 untuk pengelasan segala posisi - Angka 2 untuk pengelasan posisi datar dan bawah tangan X : (angka keempat) menyatakan jenis selaput dan jenis arus yang cocok dipakai untuk pengelasan Contoh : E6013 Artinya : Kuat tarik minimum 60.000 lb/m2. Dapat dipakai pengelasan segala posisi. Jenis selaput rutil kalium dan pengelasan dengan arus AC atau DC + atau DC. Proses pengelasan yang paling umum, terutama untuk mengelas baja struktural, memakai energi listrik sebagai sumber panas, yang paling banyak digunakan adalah busur listrik (nyala). Busur nyala adalah pancaran arus listrik yang relative besar antara elektroda dan bahan dasar yang dialirkan melalui kolom gas ion hasil pemanasan. Kolom gas ini disebut plasma. Pada pengelasan busur nyala, peleburan terjadi akibat aliran bahan yang melintasi busur dengan tanpa

diberi tekanan. Pelekatan (bonding) terjadi akibat difusi. Dalam proses difusi, partiel seperti atom di sekitar pertemuan saling bercampur dan bahan dasar tidak mencair. Faktor yang mempengaruhi mutu sambungan las: 1. Elektoda yang sesuai, alat las, dan prosedur Ukuran elektroda dipilih berdasarkan ukuran las yang akan dibuat dan arus listrik yang dihasilkan oleh alat las. Karena umumnya mesin las mempunyai pengatur untuk memperkecil arus listrik, elektroda yang lebih kecil dari kemampuan maksimum mudah diakomodasi dan sebaiknya digunakan. 2. Persiapan tepi yang sesuai Lebar celah (root ring) R adalah jarak pisah antara potongan yang akan di sambung dan di buat agar elektroda dapat menembus dasar sambungan. Semakin kecil lebar celah, semakin besarlah sudut lereng yang harus dibuat. Tepi runcing akan mengalami pembakaran menerus(burn-through) jika tidak diberikan pelat pelindung (backup plate). Pelat pelindung umumnya di gunakan bila pengelasan hanya dilakukan dari satu sisi. Pembuat las sebaiknya tidak memberikan pelat pelindung bila sudah ada bagian tegak, karena kemungkinan besar kantung gas akan terbentuk sehingga merintangi las penetrasi sempurna. 3. Pengontrolan distorsi Faktor lain yang mempengaruhi kualitas las adalah penyusutan. Jika las titik diberikan secara menerus pada suatu plat, maka akan mengalami distorsi (perubahan geometri). Distorsi ini akan terjadi jika tidak hati hati baik dalam perencanaan sambungan maupun prosedur pengelasan. Teknik dan prosedur pengelasan yang tidak baik menimbulakn cacat pada las yang menyebabkan diskontinuitas dalam las. Cacat yang umumnya dijumpai adalah: peleburan tak sempurna, penetrasi kampuh yang tak memadai, porositas, peleburan berlebihan , masuknya terak, dan retak retak. Mengelas secara umum adalah suatu cara menyambung logam dengan menggunakan panas, tenaga panas pada proses pengelasan diperlukan untuk memanaskan bahan lasan sampai caur/leleh sehingga bahan las tersambung dengan atau tanpa kawat las sebagai bahan pengisi. Banyak hal penggunaan listrik lebih praktis dan cepat jika dibandingkan dengan las karbit, namun demikian las listrik tidak dapat dipergunakan untuk mengelas plat tipis. Sinar bunga api listriknya lebih berbahaya terhadap mata dan kulit karena kandungan sinar ultraviolet dan inframerah juga karena sinar yang ditimbulkan terlalu terang sehingga menyilaukan. Pengelasan busur listrik adalah cara pengelasan menggunakan busur listrik atau percikan bunga api listrik akibat hubungan singkat antara dua kutub listrik yang teionisasi dengan udara melalui penghantar batang elektroda yang sekaligus dapat digunakan pula sebagai bahan tambah atau bahan pengisi dalam pengelasan. Seperti yang terlihat dalam gambar di bawah ini:

Gambar Las Busur Listrik Ada beberapa macam proses las busur listrik berdasarkan elektroda yang digunakannya, antara lain: 1. Las busur dengan elektroda karbon, misalnya: a. Las busur dengan elektroda karbon tunggal. b. Las busur dengan elektroda karbon ganda. 2. Las busur dengan elektroda logam, misalnya: a. Las busur dengan elektroda berselaput/ SMAW. b. Las TIG (Tungsten Inert Gas)/GTAW. c. Las MIG/GMAW. d. Las Submerged. Praktikum ini secara khusus akan membahas Las busur listik dengan elektroda berselaput atau SMAW (Shielded Metal Arc Welding). Proses las busur ini menggunakan elektroda berselaput sebagai bahan tambah, busur listrik yang terjadi diantara ujung elektroda dan bahan dasar akan mencairkan ujung elektroda dan sebagian bahan dasar, selaput elektroda yang turut terbakar akan mencair dan menghasilkan gas yang melindungi ujung elektroda, kawah las, busur listrik dan daerah las sekitar busur listrik terhadap pengaruh udara luar. Di bawah ini gambar las busur dengan elektroda berselaput.

Gambar las busur dengan elektroda berselaput Untuk menjamin kelancaran dan keselamatan kerja pada saat pengelasan maka harus memperhatikan penggunaan alat keselamatan kerja pengelasan, antara lain: a. Pelindung mata. b. Pelindung muka. c. Pelindung pernafasan. d. Baju las (apron). e. Sepatu las.

f.

Sarung tangan las.

Gambar pemakaian alat keselamatan kerja Selama proses pengelasan ada beberapa hal yang dapat membahayakan pengelas dan pekerja lain yang berada disekelilingnya yaitu: 1. Bahaya cahaya las, berupa: a. Sinar ultraviolet. b. Cahaya tampak. c. Sinar infra merah. Dapat dihindaridengan memakai alat keselamatan kerja dan pembuatan sekat. 2. Bahaya listrik, yang dapat dihindari dengan: a. Menggunakan alat keselamatan kerja berisolator. b. Menghentikan pengelasan bila berkeringat. c. Mesin las dilengkapi penurun tegangan otomatis dan di grounded. d. Holder dan kabel las terisolator dengan baik. e. Tempat holder harus berisolator. f. Hati-hati pada saat mengganti elektroda dan matikan mesin jika tidak digunakan. 3. Bahaya debu yang berukuran antara 0,2 m s/d 3 m dan gas, yang dapat dihindari dengan: a. Menggunakan ventilator pada ruang las. b. Selalu menggunakan masker pada saat pengelasan.

Setting Eksperimen Alat Dan Bahan 1. Mesin las. 2. Kabel las dan brender las. 3. Pemegang elektroda. 4. Elektroda. 5. Tang penjepit. 6. Kacamata las.

Prosedur Kerja 1. Mempersiapkan keseluruhan peralatan yang dipergunakan untuk mengelas dan pergunakan kacamata las maupun alat pelindung yang lain. 2. Menyalakan busur listrik dengan cara sebagai berikut: a. Memegang elektroda secara menyudut dan menggoreskan ujung elektroda pada permukaan benda kerja. b. Memegang elektroda secara tegak lurus dan mengetukkan ujung elektroda secara naik turun pada permukaan benda kerja. 3. Setelah busur listrik terbentuk dengan panjang lebih kurang 1x diameter elektroda, kemudian menggerakkan elektroda kepinggir plat. Membuat panjang busur listrik sebesar 2x diameter elektroda untuk memanaskan logam dasar. 4. Membuat panjang busur listrik dengan panjang 1x diameter elektroda dan membuat posisi elektroda menyudut 5-10 terhadap permukaan benda kerja kearah gerak pengelasan. 5. Melakukan pengelasan dan membuat kubangan las (puddle) melebur sampai 1,5 atau 2 kali diameter elektroda. Menggerakkan elektroda dengan kecepatan yang konstan agar terbentuk jalur las yang sama lebarnya. 6. Bila elektroda harus diganti sebelum pengelasan selesai, maka perlu menyalakan busur listrik lagi dan sebaliknya melakukan pada tempat kurang labih 25 mm sebelum las berhenti. 7. Segera mematikkan busur listrik setelah proses pengelasan selesai. Daftar Pustaka

PRAKTIKUM 5. KUNJUNGAN BENGKEL YAMI


Tujuan

Mengetahui peralatan apa saja yang digunakan di bengkel. Mengetahui mekanisme kerja peralatan perbengkelan. Mengetahui fungsi masing masing alat tersebut.

Dasar Teori

Bengkel merupakan tempat untuk pembuatan, perakitan, maupun perbaikan alat dan mesin mesin tertentu. Selain itu bengkel juga dapat diartikan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar ketrampilan, untuk menjamin efektifitas dan efisiensi kegiatan perbengkelan diperlukan adanya managemen bengkel yang baik terhadap keseluruhan sumber daya yang ada. Selain pengelolaan terhadap sumber daya manusia, pengelolaan peralatan bengkel sangat penting sehingga setiap peralatan yang ada selalu dalam keadaan terawat dan siap pakai. Dengan kesiapan dan kelengkapan peralatan bengkel yang memadai, serta dutunjang pengetahuan cara yang baik dann benar dalam penggunaan alat akan membuat pekerjaan perbengkelan menjadi lebih mudah dan aman (Soeterjo, 1996). Peralatan bengkel yang umum digunakan antara lain obeng, palu, tang, kunci, pahat, penitik, kikir, gergaji, canggam, klem, mata bor, alat pembuat drad dan alat pencabut sekrup. Agar dalam penggunaanya peralatan bengkel tersebut dapat aman dan tahan lama perlu diperhatikan hal hal sebagai berikut: 1. Pembelian/penggunaan alat yang bermutu baik. 2. Perawatan yang baik. 3. Pengguanaan alat sesuai dengan jenis dan fungsinya. Alat merupakan salah satu faktor yang dapat membantu pekerjaan manusia dalam kehidupan sehari hari. Seperti halnya alat perbengkelan dalam membantu menyelesaikan pekerjaan yang berhubungan dengan bengkel. Teknik dan teknologi perakitan, pembuatan dan penggunaan alat maupun mesin bengkel tersebut sangat berpengaruh terhadap keefektifan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Perkakas atau peralatan adalah komponen yang sangat oenting dalam membuat suatu benda atau barang. Jika salah satu perkakas tadi rusak atau bahkan hilang maka proses pembuatan akan terahmabt. Sehingga hasilnya tidak akan sempurna dan bisa saja tidak terselesaikan. Peralatan tangan yang dimaskud adalah segala macam perkakas atau alat yang digunakan secara manual (tangan) untuk pekerjaan pekerjaan mekanik dibengkel listrik (elektro) (Morgan, K dan Setiawan, 1987). Sumber-sumber penjualan yang dapat dilakukan oleh sebuah bengkel diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Penjualan jasa perawatan dan perbaikan (Maintenance and Repair).

2. 3. 4. 5. 6.

Penjualan suku cadang (Spare parts). Penjualan suku cadang tambahan (Optional parts). Penjualan barang hiasan (accessories). Penjualan minyak pelumas dan minyak hidrolik. Penjualan barang-barang lainnya. Adapun ruang lingkup pekerjaan bengkel diantaranya adalah sebagai berikut: a. Layanan cepat (Quick service) dapat berupa, pekerjaan tune-up, mengganti minyak pelumas, mencuci dan lain-lain. b. Perbaikan umum (General repair) yang berupa perbaikan engine, transmisi, differensial, penyetelan geometrid dan balancing roda. c. Perbaikan elektrik (Electrical repair ) yang berupa perbaikan system pengapian, starter, pengisian, system penerangan dan instrument. d. Perbaikan system pendingin ruangan (Car cooler and Air conditioning). e. Over haul and reconditioning. f. Perbaikan masinai seperti boring, honing, bubut rem, skir katup dan lain lain. g. Perbaikan body kendaraan dan cat. h. Perbaikan yang bersifat fashion (salon). i. Pemasangan accessories dan optional parts. j. Pekerjaan lainnya. Beberapa jenis pekerjaan yang dapat dilakukan sangat tergantung kepada skala bengkel yang harus dipertimbangkan dari bayak hal, misalnya permodalan, jumlah pelanggan, lokasi bengkel, segmen pasar yang diharapkan dan lain-lain. Secara umum fungsi bengkel adalah melayani kerperluan teknis dari para pelanggannya. Ini berarti bahwa perbaikan kendaraan adalah tugas sebuah bengkel dan hanya berlangsung jika pelanggan menemui kesulitan dengan kendaraannya. Untuk itu system dan administrasi bengkel diarahkan kepada organisasi dan fasilitas yang dapat memperlancar pekerjaan-pekerjaan teknis dibengkel secara internal. Bengkel tradisional pada umumnya menunggu para pelanggan dating, usaha untuk mendatangkan pelanggan hamper tidak pernah dilakukan sehingga pengembangan usaha berjalan lambat dan cenderung tidak menunjukan kemajuan yang berarti. Manajemen bengkel diarahkan hanya untuk pembenahan didalam bengkel itu sendiri sambil tidak memperhitungkan dampak sosial, ekonomi, dan politik yang sedang berlangsung atau yang mungkin datang dari luar. Ciri lain dari bengkel tradisional adalah kondisinya yang kurang teratur dan kelihatan mengabaikan kebersihan, kerapihan dan keserasian. Penempatan peralatan, susunan dan penempatan barang, tata ruang dan fasilitas pendukung tidak nampak tertata dengan baik yang penting adalah seorang teknisi dapat menyelesaikan pekerjaannya secara baik. Apakah ia bekerja efisien dan produktif itu menjadi urusan lain.

Setting Eksperimen Alat Dan Bahan 1. Mesin bubut. 2. Mesin frais. 3. Mesin pengepres. Prosedur Kerja 1. Mencatat peralatan yang digunakan di bengkel. 2. Mencatat mekanisme kerja peralatan perbengkelan. 3. Mencatat fungsi peralatan perbengkelan. Daftar Pustaka