Anda di halaman 1dari 2

Pada percobaan kenaikan titik didih digunakan duah buah zat yang berbeda yaitu zat naftalen dan

zat X yang dilarutkan dengan pelarut yang sama yaitu aseton. Aseton digunakan karena titik didih aseton lebih kecil dibandingkan dengan titik didih air. Dalam percobaan ini, kami menggunakan hotplate yang diatasnya diletakkan beaker glass sebagai sarana untuk memanaskan kottrel yang juga digunakan. Jika digunakan pelarut yang memiliki titik didih yang lebih besar daripada air, akan membuat air yang digunakan menguap terlebih dahulu. Digunakan juga kottrel karena memiliki tiga leher, ketiga leher ini mempunyai fungsi yang berbeda-beda, leher pertama disebelah kiri digunakan untuk menjaga tekanan di dalam kottrel maka leher ini ditutup gabus, dan disebelah kanan untuk meletakkan kondensor. Kondensor yang digunakan pada percobaan ini berbeda dengan banyak kondensor yang sering dipakai pada umumnya, namun prinsip kerjanya sama yaitu mendinginkan uap dengan mengalirkan uap dingin ke dalam sistem Selain itu fungsi kondensor sendiri adalah agar jumlah larutan yamng dipanaskan tidak berkurang drastis dengan membuat uap yang telah menguap kembali menjadi cairan dan jatuh kembali ke labu leher tiga. Selain itu fungsi kondensor juga menjaga gar labu leher tiga tidak pecah. Dan leher terakhir berada di atas, digunakan untuk meletakkan termometer yang berfungsi untuk mengukur suhu dari larutan yang berada di dalam kottrel. Dari hasil percobaan didapatkan bahwa titik didih aseton yaitu 41 C, namun berdasarkan teori, titik didih aseton yaitu 80,1 C .Ini munkin disebabkan karena faktor kontaminasi, kemungkinan aseton yang kami gunakan dalam percobaan ini telah terkontaminasi dengan zat lainnya. Titik didih solven dalam hal ini adalah Aseton digunakan sebagai salah satu variabel untuk menghitung berat molekul zat X. Setelah mendapatkan titik didih solven, kottrel didinginkan yang bertujuan agar temperatur solven sama dengan temperatur ruangan agar ketika kita mengukur titik didih larutan lebih akurat, selain itu pendinginan juga bertujuan agar kottrel yang digunakan tidak menerima panas terus-menerus, karena apabila kottrell dipanaskan terus menerus tanpa ada jeda, lama kelamaan kottrel yang digunakan akan pecah. Kemudian ditambahkan solut yaitu Naftalen. Pada penambahan 0,25 gram naftalen, titik didih yang didapatkan yaitu 44 C. Dari data ini, kita dapat mengetahui bahwa titik didih pelarut lebih kecil jika dibandingkan dengan titik didih larutan. Ini disebabkan karena jika solut ditambahkan maka akan menurunkan tendensi molekul-molekul solven untuk meninggalkan larutan dan berpindah menjadi fase uap. Hal ini dapat menurunkan tekanan uap parsial solven. Dan apabila tekanan uap turun maka akan terjadi kenaikan titik didihnya. Berdasarkan dasar teori, titik didih zat cair dipengaruhi oleh tekanan uap. Agar tekanan uapnya sama dengan tekanan luar maka harus lebih banyak panas yang diperlukan, sehingga titik didihnya akan naik. Dan setiap penambahan 0,25 gram naftalen, terjadi kenaikan titik didih pada larutan tersebut. Ini disebabkan karena titik didih larutan hanya bergantung pada jenis pelarut dan konsentrasi larutan dan tidak bergantung pada jenis zat terlarut. Sesuai dengan hukum Roult titik didih larutan berbanding lurus dengan konsentrasi (molaritas) larutan. Seperti yang kita ketahui bahwa rumus dari molaritas dipengaruhi oleh massa zat terlarut. Dan hubungan antara molaritas larutan dan massa zat terlarut adalah berbanding lurus. Sehingga apabila massa solut semakin banyak maka molaritas larutan juga akan semakin besar. Ini

menyebabkan titik didih larutan tersebut semakin besar seiring dengan besarnya molaritas dari larutan tersebut. Adapun titik didih dari zat X adalah 45 C pada massa 1 gram. Titik didih zat X lebih rendah dibandingkan dengan titik didih Naftalen pada 1 gram. Dari hasil perhitungan didapatkan berat molekul zat X 103,0927 gr/mol. Dari literatur yang dibaca, semakin besar berat molekul suatu zat maka semakin besar juga titik didih dari zat tersebut. Hal ini yang menyebabkan mengapa titik didih naftalen lebih besar dibandingkan titik didih zat X, dikarenakam berat molekul naftalen adalah 128,17 gr/mol sementara zat X adalah 103,0927 gr/mol.