Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI V UJI ANTIINFLAMASI METODE VOLUME UDEM

Disusun oleh : Muhammad Hafiz Ansari Nurul Hidayah Siti Nurhasanah Rahmatika Fitria Poppy Windi Yolanda Elok Muthoqorah Irmawati Faranita Churul Aini Cyhntia Paramitha Umi Nurul Jannah 201210310411062 201210310411236 201210310411239 201210310411238 201210310411242 201210310411244 201210310411245 201210310411249 201210310411254 201210310411250

KELAS PRAKTIKUM FARMASI A UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2013

BAB 1. TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Inflamasi Inflamasi merupakan respon terhadap cedera jaringan dan infeksi. Ketika proses inflamasi berlangsung, terjadi reaksi vaskular dimana cairan, elemen-elemen darah, sel darah putih (leukosit) dan mediator kimia berkumpul pada tempat cedera jaringan atau infeksi. Proses inflamasi merupakan suatu mekanisme perlindungan dimana tubuh berusaha untuk menetralisir dan membasmi agen-agen yang berbahaya pada tempat cidera dan untuk mempersiapakan keadaan untuk perbaikan jaringan. Meskipun ada hubungan antara inflamasi dan infeksi, tetapi tidak boleh dianggap sama. Infeksi disebabkan oleh mikroorganisme yang menyebabkan inflamasi, tetapi tidak semua inflamasi disebabkan oleh infeksi.Inflamasi adalah satu dari respon utama sistem kekebalan terhadap infeksi dan iritasi.Inflamasi distimulasi oleh faktor kimia (histamin, bradikinin, serotonin, leukotrien, dan prostaglandin) yang dilepaskan oleh sel yang berperan sebagai mediator radang di dalam sistem kekebalan untuk melindungi jaringan sekitar dari penyebaran infeksi. Terjadi inflamasi akibat dilepaskannya mediator-mediator kimia, contohnya : histamin, kinin dan prostaglandin. a) Histamin : mediator pertama dalam proses inflamasi menyebabkan dilatasi arteriol dan meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga cairan dapat meninggalkan kapiler dan mengalir ke daerah cedera. b) Kinik (bradikinin) : meningkatkan permeabilitas kapiler dan rasa nyeri. c) Prostaglandin : dilepaskannya prostaglandin menyebabkan bertambahnya fasodilatasi permeabilitas kapiler, nyeri dan demam.

Radang mempunyai tiga peranan penting dalam perlawanan terhadap infeksi: 1. Memungkinkan penambahan molekul dan sel elektron ke lokasi infeksi untuk meningkatkan perfoma makrofag. 2. Menyediakan rintangan untuk mencegah penyebab infeksi. 3. Mencetuskan proses perbaikan untuk jaringan yang rusak.

Tanda-tanda utama inflamasi: 1. Eritema (kemerahan) Merupakan tahap pertama dari inflamasi.Darah berkumpul pada daerah cedera jaringan akibat pelepasan mediator kimia tubuh. 2. Edema (pembengkakan) Tahap ke dua dari inflamasi.Plasma merembes ke dalam jaringan interstial pada tempat cedera.Kinin mendilatasi arteriol dengan meningkatkan permeabilitas kapiler. 3. Kolor (panas) Panas pada tempat inflamasi dapat disebabkan oleh bertambahnya penggumpalan darah dan juga dikarenakan pirogen (substansi yang menimbulkan demam) yang menggangu pusat pengaturan panas dan hipotalamus. 4. Dolor (nyeri) Disebabkan peningkatan dan pelepasan mediator-mediator kimia. 5. Function laesa (hilangnya fungsi) Disebabkan karena penumpukan cairan pada tempat cedera jaringan dan karena rasa nyeri, yang mengurangi mobilitas pada daerah yang terkena.

Cedera jaringan

Vasakonstroksi (sementara) Pelepasan Mediator mediator kimia

Dilatasi arterial (vasodilatasi)

Bertambahnya permeabilitas kapiler

Nyeri

Demam

Kemerahan

Pembengkakan

Nyeri (Ujung saraf Dan pembengkakan)

Panas (vasodilatasi)

(Kogesti Darah) (penimbunan cairan 7 sel)

Hilangnya nyeri

Radang dapat dihentikan menurut reaksi pemula dengan meniadakan noksi atau dengan menghentikan kerja yang merusak. Gejala inflamasi : reseptor suhu dalam hipotalamus dan disampaikan ke pusat termoregulasi (pusat panas) yang terletak dalam hipotalamus. Selanjutnya menerima implus dari reseptor dingin dan reseptor panas dari kulit dan dengan demekian dalam kondisi untuk bereaksi dengan cepat terhadap beban panas dan dingin.Pada keadaan beban panas (misal pada kerja jasmani) banyak panas dikeluarkan melalui peningkatan pembentukan keringat dan melalui peningkatan aliran darah kulit.Pada keadaan dingin, tidak hanya pembebasan panas di tekan, tapi juga produksi panas ditingkatkan. (Ernst Mutschlear, Dinamika Obat farmakologi dan Toksiologi. Buku ajar edisi kelima, penerbit ITB 1991) 1.2.1 Pengobatan Inflamasi Secara umum pengobatan inflamasi dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu : 1.2.2 Anti Inflamasi Non-Steroid (AINS) Obat golongan AINS yang mempunyai khasiat sebagai analgetik, antipiretik, serta antiinflamasi merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia. Walaupun demikian, obat-obat ini memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu menghambat biosintesis prostagalandin (wilmana, 2007). AINS menghamabat siklooksigenase (COX) sehingga konversi asam arakidonat menjadi prostaglandin, prostasiklin, dan tromboksan yang berperan dalam menimbulkan reaksi peradangan terganggu. Tetapi antiinflamasi nonsteroid tidak menghamabt biosintesis leukotrien yang diketahui ikut berperan dalam proses inflamasi (wilmana, 2007).

Sikloosigenase terdapat dalam dua bentuk, yaitu COX-1 dan COX-2. COX-1 penting dalam pemeliharaan berbagai organ dan jaringan khususnya ginjal, saluran cerna dan trombosit. Jika aktivitas COX-1 dihambat oleh AINS maka akan timbul efek sampng pada berbagai organ dan jaringan tersebut. Sedangkan jika aktivitas COX-2 dihambat oleh AINS maka inflamasi akan berkurang (wilmana, 2007 ; Fitgerald Garret & Carlo, 2001). Satu diantara obat golongan AINS yang sering digunakan untuk mengatasi inflamasi dan nyeri adalah natrium diklofenak. AINS derivate fenil asetat ini, memiliki aktivitas analgetik dan antipiretik serta mamiliki potensi efek antiinflamasi kuat dengan efek samping iritasi terhadap saluran cerna yang labih rendah jika dibandingkan dengan indometasin, naproxen dan piroxikam. Obat ini sering digunakan untuk mengatasi radang pada penyakit karena arthiritis (health professions division, 1996). Diklofenak diabsorpsi cepat dan sempurnah setelah pemberian peroral. Konsentrasi plasma obat ini tercapai dalam 2-3 jam. Pemberian bersama makanan akan memperlambat laju absorpsi tetapi tidak mengubah jumlah yang diabsorpsi. Bioavailabbilitasnya sekitar 50% akibat metabolism lintas pertama yang cukup besar. Obat ini 99% terikat pada protein plasma dan waktu paruhnya berbada pada rentang 2-3 jam. Diklofenak diakumulasi di cairan synovial setelah pemberian oral. Hal ini menjelaskan bahwa efek terapi di sendi jauh lebih panjang dari pada waktu paruhnya. Dosis untuk radang akibat arthritis adalah 100-150 mg sehari terbagi dalam 2 atau 3 dosis. (health professions division, 1996; wilmana, 2007).

1.2.3 Kortikosteroid Timbulnya gejala inflamasi dapat dicegah atau ditekan oleh kortikosteroid. Mekanisme kerjanya adalah menghambat aktivitas fosfolipase, sehingga mencegah pelepasan awal asam arakidonat yang diperlukan untuk mengaktivasi jalur enzim berikutnya. Hal ini menyebabkan sintesis prostaglandin, tromboksan, prostasiklin maupun leukotrien terganggu. Di samping itu, kortikosteroid juga dapat menguragi gejala inflamasi dengan efek vaskularnya, yaitu vasokonstriksi ; penurunan permeabilitas kapiler dengan menguragi jumlah histamin yang dilepaskan oleh basofil ; menghambat fungsi fagositosis leukosit dan makrofag jaringan (katzung, 2002 ; wilmana, 2007). 1.2.4 Model Inflamasi Akut Beberapa metode yang dapat digunakan untuk uji model inflamasi akut, diantaranya (suralkar, 2008). a. Induksi karaginan

Induksi udem dilakukan pada kaki hewan uji, dalam hal ini tikus disuntikkan suspensi karaginan secara subplantar. Obat uji diberikan secara oral. Volume udem kaki diukur dengan alat plestismometer. Aktivitas inflamasi obat uji ditunjukkan oleh kemampuan obat uji mengurangi udem yang diinduksi pada telapak kaki hewan uji.

b. Induksi Histamina Metode yang digunakan sama dengan metode induksi karaginan, hanya saja penginduksi yang digunakan adalah larutan histamine 1%.

c. Induksi Asam Asetat Metode ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas inhibisi obat terhadap peningkatan permeabilitas vakular yang diinduksi oleh asam asetat secara intraperitoneal. Sejumlah pewarna (evans blue 10 %) disuntikkan secara intravena. Aktivitas inhibisi obat uji terhadap peningkatan permeabilitas vakular ditunjukkan oleh kemampuan obat uji dalam mengurangi konsentrasi pewarna yang menempel dalam ruang abdomen, yang disuntikkan sesaat setelah induksi asam asetat.

d. Induksi Xylene pada udem daun telinga Hewan uji diinduksi xylene dengan mikropipet pada kedua permukaan daun telinga kanannya. Telinga kiri digunakan sebagai control. Terdapat dua parameter yang diukur dalam metode ini, yaitu ketebalan dan bobot dari daun telinga mencit. Ketebalan daun telinga mencit yang telah diinduksi diukur dengan menggunakan jangka sorong digital, lalu dibandingkan dengan telinga kiri. Hika menggunakan parameter bobot daun telinga, maka daun telinga mencit dipotong dan ditimbang. Kemudian beratnya dibandingkan dengan telinga kirinya.

e. Induksi asam arkhidonat pada udem daun telinga Metode yang digunakan hampir sama dengan metode induksi xylene, hanya saja penginduksi yang digunakan adalah asam arakhidonat yang diberikan secara topical pada kedua permukaan daun telinga kanan hewan uji. 1.2.5 Respon Inflamasi Akut Terdapat 2 stadium pada reaksi inflamasi akut yaitu, vascular dan selular. Stadium vascular pada respon inflamasi dimulai segera setelah jaringan mengalami cedera. Arteriol di daerah tersebut berdilatasi, sehingga terjadi peningkatan aliran darah ke tempat cedera. Hal ini meyebabkan timbulnya gejala rubor ( kemerahan ) dan kalor ( panas ). Vasodilatasi ini terutama akibat pelepasan bahan kimia dari degranulasi sel mast dan pelepasan mediator-mediator kimia lain selama inflamasi. Peningkatan aliran darah local tersebut menyebabkan lebih banyak leukosit fagositik dan protein plasma yang tiba di tempat cedera. Pada waktu yang bersamaan, histamine dan mediator kimia yang di bebaskan selama inflamasi menyebabkan membesarnya poripori kapiler ( ruang antar sel endotel ), sehingga permeabilitas kapiler meningkat. Protei plasma yang dalam keadaan normal tidak dapat keluar dari pembuluh darah dapay lolos ke ruang interstisium. Peningkatan tekana osmotic koloid di ruang interstisium yang disebabkan oleh kebocoran protein plasma dan peningkatan takanan darah kapiler akibat peningkatan aliran darah local dapat menimbulkan udem local yang disebut juga turgor ( pembengkakan )( corwin, 2008 ) Stadium selular dimulai setelah peningkatan aliran darah kebagian yang mengalami cedera. Leukosit dan trombosit tertarik ke daerah tersebut karena bahan kimia yang dilepaskan oleh sel yang cedera, sel mast, dan produksi sitokin. Penarikan leukosit yang meliputi neutrofil dan monosit ke daerah cedera sudah dipadati oleh leukosit yang keluar dari pembuluh darah. Neutrofil adalah sel yang pertama kali tiba kemudian diikuti oleh monosit yang dapat membesra dan berubah menjadi makrofag dalam periode 8 dan 12 jam berikutnya. Emigrasi leukosit dari darah ke jaringan melibatkan proses marginasi, diapedesia, dan gerakan amuboid. Marginasi adalah melekatnya leukosit darah, terutama neutrofil dan monosit kebagian dalam lapisan endotel kapiler pada jaringan yang cedera. Leukosit segera keluar dari darah kedalam jaringan dengan berprilaku seperti amuba dan menyelinap melalui pori-pori kapiler yang disebut sebagai diapedesis.

Gerakan leukosit ini juga dibantu oleh adanya kemokin, yaitu suatu mediator kimiawi yang bersifat kemotaksis yang dapat menarik leukosit ke daerah inflamasi. Neutrofil dan makrofag membersihkan daerah yang meradang dari zat-zat toksik dan debris jaringan dengan cara fagositosis. Setelah sel-sel fagositik memasukkan benda sasaran, terjadi fusi lisosom dengan membran yang membungkus benda tersebut dan lisosom mengeluarkan enzim hidrolitiknya ke dalam vesikel dalam membrane tersebut, sehingga benda yang terperangkap dapat di uaraikan. Trombosit yang masuk ke daeraha cedera merangsang pembekuan untuk mengisolasi infeksi dan mengontrol pendarahan. Sel-sel yang tertarik ke daerah cedera akhirnya akan berperan malakukan penyembuhan ( corwin, 2008) 1.3.1 mediator-mediator inflamasi Inflamasi di mulai saat sel mast berdegranulasi dan melepaskan bahan-bahan kimianya seperti histamin, serotonin, dan bahan kimia lainnya. Histamine yang merupakan mediator kimia utama inflamasi yang dilepaskan oleh basofil dan trombosit. Akibat pelepasan histamin ini adalah vasoldilatasi pembuluh darah sehingga terjadi peningkatan aliran darah dan terjadinya peningkatan permeabilitas kapiler pada awal inflamasi ( corwin, 2008 ) Mediator lain yang dilepaskan selama respon inflamasi yaitu factor kemotaktik neutrofil dan eusinofil, dilepaskan oleh leukosit ( neutrofil dan eusinofil ) yang dapat menarik sel-sel ke daerah cedera. Selain itu, juga dilepaskan prostaglandin terutama seri E. saat membrane sel mengalami kerusakan, fosfolipid akan diubah menjadi asam arakidonat dikatalis oleh fosfolipase A2. Asam arakidonat ini selanjutnya akan di metabolism oleh lipooksigenase dan siklookseginase (COX). Pada jalur siklooksegenase inilah prostaglandin disentesis. Prostaglandin dapat meningkatkan aliran ke tempat yang mengalami inflamasi, meningkatkan permeabilitas kapiler dan merangsang reseptor nyeri sintesis prostaglandin ini dapat dihambat oleh golongan obat AINS. Leukotrien merupakan produk akhir dari metabolime asam arikidonat pada jalur lipooksigenase. Senyawa ini dapat meningkatkan oermeabilitas kapiler dan Meningkatkan adhesi leukosit pada pembuluh kapiler selama cedera atau infeksi ( corwin, 2008) Mediator inflamasi yang lain adalah sitokin, yaitu zat-zat yang dikeluarkan oleh leukosit. Sitokin bekerja seperti hormone dengan merangsang sel-sel lain pada system imun untuk berproliferasi atau menjadi aktif selama infeksi dan inflamasi.

Sitokin terdiri dari 2 kategori yaitu yang bersifat pro_inflamasi dan anti inflamasi. Sitokin pro-inflamasin antara lain interleukin-1 yang berasal dari makrofag dan monosit ; interleukin-2, interleukin-6, tumor necrosis factor, dan interferon gamma berasal dari aktivita limfosit. Sitokin pro-inflamasi berperan dalam merangsang sumsum tulang untuk meningkatkan produksi leukosit dan eritrosit. Sitokin anti inflamasi meliputi interleukin-4 dan interleukin 10 yang berperan dalam menurunkan sekresi sitokin pro-inflamasi. Selain itu juga tardapat kemokin, yaitu sejenis sitokin, bekerja sebagai kemotaksis yang meregulasi pergerakan leukosit ( corwin , 2008)

1.3 Anti Inflamasi Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan karena mikroorganisme (non infeksi).Gejala inflamasi dapat disertai dengan gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu.Proses inflamasi meliputi kerusakan mikrovaskuler, meningkatnya permeabilitas vaskuler dan migrasi leukosit ke jaringan radang, dengan gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu. Mediator yang dilepaskan antara lain histamin, bradikinin, leukotrin, Prostaglandin dan PAF. Obat-obat anti inflamasi adalah golongan obat yang memiliki aktivitas menekan atau mengurangi peradangan.Obat ini terbagi atasdua golongan, yaitu golongan anti inflamasi non steroid (AINS) dan anti inflamasi steroid (AIS).Kedua golongan obat ini selain berguna untuk mengobati juga memiliki efek samping yang dapat menimbulkan reaksi toksisitas kronis bagi tubuh.

1.3.1 Anti Inflamasi Steroid Obat ini merupakan antiinflamasi yang sangat kuat.Karena Obat-obat ini menghambat enzim phospholipase A2 sehingga tidak terbentuk asam arakidonat. Asam arakidonat tidak terbentuk berarti prostaglandin juga tidak akan terbantuk. Namun, obat anti inflamasi golongan ini tidak boleh digunakan seenaknya.Karena efek sampingnya besar.Bisa menyebabkan moon face, hipertensi, osteoporosis dll. Senyawa teroid adalah senyawa golongan lipid yang memiliki stuktur kimia tertentu yang memiliki tiga cincin sikloheksana dan satu cincin siklopentana. Suatu molekul steroid yang dihasilkan secara alami oleh korteks adrenal tubuh dikenal dengan nama senyawa kortikosteroid.

Kortikosteroid sendiri digolongkan menjadi dua berdasarkan aktifitasnya, yaitu glukokortikoid dan mineralokortikoid.Glukokortikoid memiliki peranan pada metabolisme glukosa, sedangkan mineralokortikosteroid memiliki retensi garam.Pada manusia, glukortikoid alami yang utama adalah kortisol atau hidrokortison, sedangkan mineralokortikoid utama adalah aldosteron.Selain steroid alami, telah banyak disintetis glukokortikoid sintetik, yang termasuk golongan obat yang penting karena secara luas digunakan terutama untuk pengobatan penyakitpenyakit inflasi. Contoh antara lain adalah deksametason, prednison, metil prednisolon, triamsinolon dan betametason .

1.3.1 DEKOK Dekosasi biasanya dipreparasi dengan cara memanaskan (mendidihkan) bahan tanaman atau bahan yang mengandung komponen larut air dan stabil terhadap panas selama waktu tertentu. Biasanya digunakan bahan keras, seperti ranting, akar, kulit, dan lain sebagainya.Potongdanserbuk herbal (60gr), laluletakkan dalam bejana yang sesuai, kemudian tambah dengan 1 liter air dingin, sebaiknya air destilata.Tutup bejana dengan baik dan didihkan campuran selama 15 menit.Diamkan sampai dingin, kemudian saring cairan dengan kain kasar atau ayakan, dan tambahkan air dingin melalui penyaringa nsampai didapat cairan 1 liter, lalu saring lagi.Kemudian dinginkan atau simpan. Catatan dekok hanya tahan selama beberapa hari kecuali bila diawetkan atau didinginkan (GOESWIN AGOES, PENERBIT ITB)

1.3.2 INFUSA Infusa biasanya dipreparasi dari bahan botanical yang mengandung konskanpadaalattituen larut air.Sulit distandarisasi, tidak stabil, dan sangat mudah diserang oleh bermacam jamur dan bakteri.Oleh karena itu, sesudah preparasi suatu infusa, sebaiknya infuse ditempatkan pada alat pendingin. Untuk pembuatan suatuinfusi, herbal biasanya dipotong atau digiling kasar.Biasanya digunakan 60 gr herbal dalam 1liter air, lebih baik menggunakan air destilata.Basahi herbal dalam air.Diamkan selama 15 menit dan selanjutnya sisa air ditambahkan dalam bentuk air mendidih hingga 1 liter. Tutup bejanasecaraketatdandiamkanselama 30 menit, saringcampuransecaradantambahkan air secukupnya melalui penyaring sehingga didapat volume 1 liter.Jika air panas mempengaruhi konstituen produk, gunakan air dingin.

Dingingkan atau disimpan.Jika didinginkan, infuse hanya akan tahan selama beberapahari saja, kecuali jika diawetkan atau didinginkan (GOESWIN AGOES, PENERBIT ITB)

1.3.3 Natrium Diklofenak adalah derivat asam fenilasetat yang memiliki sifat antiinflamasi, analgesic dan antipiretik dengan potensi yang sama dengan indometasin. Hal ini disebabkan bukan hanya karena keefektifannya dalam menghambat COX, tapi juga kemampuannya menurunkan ketersediaan hayati asam arakidonat dengan meningkatkan konfersinya menjadi trigliserida. Seperti kebanyakan OAINS lain, diklofenak diabsorpsi secara cepat setelah pemberian oral, dan mengalami metabolism lintas pertama luas yang menyebabkan ketersediaan hayati sistemik sekitar 50%. Diklofenak merupakan salah satu dari beberapa OAINS yang berakumulasi di cairan synovial dengan waktu paruh dikompartemen ini dua kali dari di plasma. Diklofenak dimetabolisme sebagian besar di hati oleh CYP3A4 dan metabolit inaktifnya diekskresi terutama melalui urine dan sedikit di empedu. Efek sampingnya yaitu yang sering terjadi pada OAINS, yang meliputi gangguan GI, pendarahan, dan sejumlah kecil ulkus peptik. Obat ini lebih sering dihubungkan dengan peningkatan kadar aminotransferase seperti pusing, mengantuk, sakit kepala, bradi kardia, glaukoma, tinitus, dan leukositosis telah dilaporkan walaupun sedikit.

Mekanisme kerjanya adalah dengan penghambatan sintesa prostaglandin. Natrium diklofenak diabsorbsi secara cepat dan lengkap setelah pemberian peroral dan kadar puncak dalam plasma dicapai dalam 2 - 3 jam. obat ini 99% terikat pada protein plasma. metabolisme sebagian besar terjadi di dalam hati dan metebolit-metabolitnya diekskresikan dalam urin sebesar 65% dan di dalam empedu sebesar 35%.

Struktur Kimia Natrium Diklofenak

1. Sediaan, Indikasi terapeutik, dan Kontraindikasi: Natrium diklofenak tersedia dalam tablet salut enterik 25, 50, dan 75 mg. tablet lepas diperpanjang dan suppositoria rectal tersedia untuk dewasa. Diklofenak diindikasikan terutama sebagai senyawa antiinflamasi dalam pengobatan arthritis rheumatoid, osteoarthritis, dan apondilitis ankylosa (20). Selain itu, diklofenak digunakan sebagai analgesic pada pengobatan pasien dengan disminorae dan atau nyeri punggung bagian bawah kronis. Diklofenak dikontraindikasikan pada pasien dengan perdarahan aktif atau ulkus, serangan asma, rhinitis, urtikaria yang diinduksi OAINS, atau alergi terhadap diklofenak atau OAINS lain. 2. Dosis: Untuk peredaran nyeri dan inflamasi pada arthritis rheumatoid, natrium diiklofenak 75 atau 100 mg, sebagai tablet lepas diperpanjang, diberikan per hari (atau 75 mg dua kali sehari). Jika digunakan tablet biasa, dosis muatan harus 150-200 mg / hari dalam dosis terbagi. Dosis pemeliharaan 75-100 mg/hari dalam dosis terbagi. Dosis maksimum tidak boleh melebihi 225 mg/hari. Terkadang suppositoria rectal digunakan untuk menggantikan tablet pada dosis oral terakhir. Pada kasus seperti itu, diberikan diklofenak 50-100 mg. untuk peredaran nyeri dan inflamasi osteartritis, tablet diklofenak diberikan dalam jumlah 100-150 mg/hari dalam dosis terbagi. Dosis maksimum tidak boleh melebihi 150 mg/hari Untuk meredakan nyeri pada spondilitis antilosis, tablet diklofenak diberikan sebanyak 100-125 mg/hari yang dibagi dalam 4 atau 5 dosis. Untuk peredaan nyeri yang terjadi karena disminorae, tablet diklofenak 50 mg diberikan dua kali sehari, jika perlu dapat diberikan 100mg hanya sbagai dosis muatan. Jika pasien lanjut usia atau memiliki disfungsi ginjal serius, dosis dapat diturunkan.

3. Interaksi obat: Kadar diklofenak plasma meningkat oleh pemberian bersamaan simetidin. Simetidin, antagonis reseptor histamine, juga berikatan dengan sitokrom P450 dan menurunkan aktivitas oksedase fungsi campuran mikrosomal hati. Diklofenak juga berinteraksi dengan obat/kelas obat yang berinteraksi dengan indometasin

SIFAT FARMAKOLOGIS

Diklofenak mempunyai aktivitas analgesic, antipiretik, dan antiinflamasi. Diklofenak dapat menurunkan konsentrasi intraselular asam amino bebas dalma leukosit, kemungkinan dengan mengganggu pelepasan atau ambilannya. Selektifitas diklofenak terhadap COX-2 menyerupai selekoksib. Studi pengamatan telah dilakukan untuk mengetahui kemumngkinan resiko kardiovaskular akibat penggunaan terapi diklofenak secara terus menerus.

FARMAKOKINETIK Diklofenak diabsorpsi cepat, terikat kuat dengan protein, dan waktu paruhnya pendek. Obat ini mengalami efek lintas pertama yang besar, hanya sekita 50% diklofenak tersedia secara sistemik. Diklofenak terakumulasi dalam cairan synovial sesudah pemberian oral. Hal ini menjelaskan mengapa durasi efek terapeutiknya lebih lama dari pada waku paruh plasma. Dikofenak dimetabolisme di hati oleh sejumlah subfamily CYP2C menjadi 4-hidroksi diklofenak, suatu metabolit utama, dan bentuk terhidroksilasi lainnya; sesudah mengalami glukurodinasi dan sulfas, metabolitnya diekskresikan dalam urine (65%) dan empedu (35%).

PENGGUNAAN TERAPEUTIK Diklofenak telah disetujui di AS untuk pengobatan simtomatik jangka panjang pada arthritis rheumatoid, osteoarthritis, dan spondilitis ankilosa (100-200 mg dalam dosis terbagi). Obat ini tersedia dalam tiga formulasi : garam kalium lepas-sedang (CATAFLAM), bentuk lepas-tunda (VOLTARIN, VOLTAROL [UK] ). Dan bentuk lepas-diperpanjang (VOLTARIN-XR). Diklofenak juga berguna untuk terapi janngka pendek nyeri musculoskeletal akut, nyeri pascaoperatif, dan disminorea. Diklofenal juga tersedia dalam kombinasi dengan misoprostol, suatu analog PGE1 (ARTHROTEC). Larutan oftalmik diklofenak tersedia untuk pengobatan inflamasi pascaoperasi setelah estraksi katarak.

EFEK MERUGIKAN YANG UMUM Diklofenak menyebabkan efek samping (terutama GI) pada 20% pasien, dan 2% pasien menghentikan pengobatan. Peningkatan transaminase hepatic yang cukup reversible dalam plasma terjadi pada 5-15% pasien. Transminase harus diperiksa pada 8 minggu pertama sesudah terapi diklofenak, dan obat ini harus dihentikan bila terdapat kadar abnormal atau bila timbul gejala atau tanda efek merugikan. Efek

diklofenak yang tidak diinginkan lainnya meliputi efek SSP, ruang, reaksi alergi, retensi cairan, dan edema, dan jarang terjadi gangguan fungsi ginjal. Obat ini tidak dianjurkan untuk anak-anak, ibu menyusui, atau wanita hamil. Sesuai dengan kecenderungannya terhadap COX-2, dan tidak seperti ibuprofen, diklofenak tidak mengganggu efek antiplatelet aspirin. Berdasarkan pengamatan ini,diklofenak bukan merupakan alternative yang cocok untuk inhibitor COX-2 selektif pada individu yang mempunyai penyakit kardiovaskular atau serebrovascular. Efek samping : gangguan pencernaan, sakit perut, mata terasa pedas, mengantuk, pusing, sakit kepala, diare, penggunaan jangka panjang menyebabkan terjadinya anemia sekunder, retensi cairan, dan kenaikan tekanan darah.

1.3.4 Rimpang Temu Putih Nama tumbuhan Tanaman temu putih di berbagai negara dikenal dengan nama White Tumeric (Inggris), Kencur atau Ambhalad (India), dan cedoaria (Spanyol). di Indonesia disebut temu putih atau temu kuning. Sinonim : Curcuma paliida Lour (Heyne, 1987) a) Klasifikasi tumbuhan Klasifikasi tanaman ini sebagai berikut : Divisio Subdivisio Kelas Bangsa Suku Marga Jenis : Spermathopyta : Angiospermae : Monocotyledonae : Zingiberales : Zingiberaceae : Curcuma : Curcuma zedoaria (Berg) Rosc (Backer and Van den Brink, 1968)

b) Uraian tumbuhan Tumbuhan ini berupa terna tahunan, tinggi mencapai 2 m, tumbuh tidak berkelompok. Daun berbentuk lanset memanjang berwarna merah lembayung di sepanjang tulang tengahnya. Bunga keluar dari rimpang samping, menjulang ke atas

membentuk bongkol bunga yang besar. Mahkota bunga berwarna putih, dengan tepi bergaris merah tipis atau kuning. Rimpang berwarna putih atau kuning muda, rasa sangat pahit (Windono dkk, 2002).

c) Habitat dan Penyebaran Curcuma zedoaria (Rosc), Menurut Hong, Kim, Lee, tumbuhan ini berasal dari Himalaya, India, dan terutama tersebar di negara-negara Asia meliputi China, vietnam, dan Jepang. Curcuma zedoaria (Rosc) tumbuh liar di Sumatra (Gunung Dempo), di hutan jati Jawa Timur, banyak dijumpai di Jawa Barat dan Jawa Tengah, di ketinggian sampai 1000 dpl (Windono dkk, 2002).

d) Kandungan Kimia Kandungan kimia rimpang Curcuma zedoaria Rosc terdiri dari : kurkuminoid (diarilheptanoid), minyak atsiri, polisakarida serta golongan lain. Diarilheptanoid yang telah diketahui meliputi : kurkumin, demetoksikurkumin, bisdemetoksikurkumin, dan 1,7 bis (4-hidroksifenil)-1,4,6- heptatrien-3-on (Windono dkk, 2002) Minyak atsiri berupa cairan kental kuning emas mengandung : monoterpen dan sesquiterpen. Monoterpen Curcuma zedoaria terdiri dari : monoterpen hidrokarbon (alfa pinen, D-kamfen), monoterpen alkohol (D-borneol), monoterpen keton (D-kamfer), monoterpen oksida (sineol). Seskuiterpen dalam Curcuma zedoaria terdiri dari berbagai golongan dan berdasarkan penggolongan yang dilakukan terdiri dari : golongan bisabolen, elema, germakran, eudesman, guaian dan golongan spironolakton. Kandungan lain meliputi : etil-p- metoksisinamat, 3,7-dimetillindan-5asam karboksilat (Windono dkk, 2002).

e) Penelitian Aktivitas hepatoprotektor Aktivitas hepatoprotektor dari suatu senyawa secara eksperimental pada hewan percobaan, dapat dilakukan dengan cara membandingkan aktivitas metabolisme hepar yang dirusak oleh senyawa-senyawa hepatotoksik, misalnya CCl4, faloidin, alfa amanitin dan D-galaktosamin dengan hepar yang telah dilindungi oleh zat hepatoprotektor. Fungsi hepar dapat diketahui melalui aktivitas SGOT, SGPT, perpanjangan waktu tidur heksobarbital, ekskresi urin poksifenil asam piruvat dan sebagainya. Ekstrak metanol rimpang temu putih Curcuma zedoaria Rosc. menunjukkan perpanjangan waktu tidur

heksobarbital pada mencit, dan zat aktif yang menunjukkan efek tersebut adalah sesquiterpen : germakron, kurzerenon dan germakron epoksida (Windono dkk, 2002).

Aktivitas antimikroba Ekstrak etanol Curcuma zedoaria (5g/ cakram kertas) mampu menghambat pertumbuhan Micrococus luteus, Enterococci faecalis ATCC 29213, tetapi tidak menghambat pertumbuhan Eschericia coli ATCC 2922 dan ATCC 35213. minyak atsiri rimoang Curcuma zedoaria Rosc. menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap Staphilococcus aureus, Vibrio comma dan Escherichia coli. Ekstrak etanol rimpang kering Curcuma zedoaria menunjukkan efek antifungi, dengan senyawa aktifetil-pmetoksisinamat (EPMS) (Windono dkk, 2002).

Aktivitas antiradang Kurkumin yang terkandung dalam rimpang temu putih terbukti memiliki efek antiradang. Aktifitas antiradang kurkumin pertama kali dilaporkan oleh Grieve pada tahun 1971. pada percobaan tersebut dilaporkan bahwa kurkumin sangat aktif dalam menghambat peradangan baik secara akut maupun kronis pada model hewan percobaan. Pada percobaan akut, kurkumin memiliki potensi yang hampir sama dengan fenilbutason dan kortison. Sedangkan pada percobaan kronis kurkumin hanya menunjukkan setengah potensi fenilbutason (Grieve, 1971).

Aktivitas antikanker Ekstrak etanol rimpang Curcuma zedoaria menunjukkan aktivitas menghambat sel-sel OVCAR-3 ( Cell-line kanker ovarium manusia). Isolasi yang dipantau dengan bioaktivitas hambatan terhadap sel OVSCAR-3 menghasilkan senyawa aktif demetoksi kurkumin (Windono dkk, 2002). Ekstrak etanol 70% turmeric memperlihatkan penghambatan pada sel normal dan bersifat sitotoksis pada sel lymphoma pada konsentrasi 0,4 mg/ml. Ekstrak etanol turmeric juga menunjukkan penghambatan fase mitosis pada sel

mamalia secara in vitro dengan menghambat pembentukan kromosom (Mills and Bone, 2000).

Aktivitas insektisida Ekstrak diklormetan rimpang Curcuma zedoaria menunjukkan aktivitas insektisida terhadap larva nyamuk Aedes aegypti, larva Plutella xylostella dan Callosobruchus maculatus dewasa. Fraksinasi dipandu aktivitas, menunjukkan bahwa zat aktif insektisida terhadap larva A. aegypti adalah furanodien (LC50 = 0,56 g/ml) (Windono dkk, 2002).

Aktivitas antioksidan Kurkumin yang terkandung dalam rimpang temu putih diindikasikan juga sebagai antioksidan. Kereaktifan antioksidan kurkumin pertama kali dilaporkan oleh Sharma pada tahun 1972 melalui uji in vitro maupun in vivo, membuktikan kemampuan kurkumin dalam menghambat lipid peroksidase (LPO) tanpa dan dengan karagenin. Selanjutnya kurkumin menunjukkan pula aktivitas yang baik sebagai penangkap superoksid, lebih dibanding aktivitas analognya demetoksikurkumin. Hal ini menunjukkan pula bahwa gugus fenolik memberi sumbangan yang nyata sebagai penangkap superoksid, dan keberadaan gugus metoksi pada posisi ortho terhadap gugus fenolik akan menaikkan aktivitas penangkap radikal superoksid (Kunchandy and Rao, 1990)

1.3.5 Karaginan Iritan yang digunakan untuk pengujian efek antiiflamasi beragam jenisnya, satu diantaranya adalah karaginan. Karaginan merupakan polisakarida hasil ekstraksi rumput laut dari family Eucheuma, Chondrus, dan Gigartina. Bentuknya berupa serbuk berwarna putih hingga kuning kecoklatan, ada yang berbentuk butiran kasar hingga serbuk halus, tidak berbau, serta member rasa berlendir di lidah. Berdasarkan kandungan sulfat dan potensi pembentukan gelnya, karagenin dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu lamda karaginan, iota karaginan, dan kappa karaginan. Ketiga karagenin ini memiliki sifat larut dalm air bersuhu 80C (Rowe, Paul, & Marian,2009). Karaginan berperan dalam pembentukan udem dalam model inflamasi akut (Singh, Maholtra, 7 Subban, 2008). Jenis karaginan yang digunakan adalah

karaginan kappa karena mudah untuk diperoleh dan masih dapat menimbulkan udem yang berarti, walaupun waktu untuk melarutkannya lebih lama dibandingkan dengan jenis lamda. Karaginan dipilih karena dapat melepaskan prostlandin setelah disuntikkan ke hewan uji. Oleh karena itu, karaginan dapat digunakan sebagai iritan dalam metode uji yang bertujuan untuk mencari obat-obat antiinflamasi, tepatnya yang bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin (Winter, Risley, & Nuss,1962). Ada tiga fase pembentukan udem yang diinduksi oleh karaginan. Fase pertama adalah pelepasan histamine dan serotoin yang berlangsung hingga 90 menit. Fase kedua adalah pelepasan bradikinin yang terjadi pada 1,5 hungga 2,5 jam setelah induksi. Pada fase ketiga, trjadi pelepasan prostaglandin pada 3 jam setelah induksi, kemudian udem berkembang cepat dan bertahan pada volume maksimal sekitar 5 jam setelah induksi (Morris, 2003 ; Zubaidin, 1975). Berdasarkan penelitian terdahulu, yang berperan dalam proses pembentukan udem adalah prostaglandin internediet yang terbentuk melalui proses biosintesis prostaglandin. Senyawa ini dilepaskan lalu bereaksi dengan jaringan di sekitarnya dan menyebabkan operubahan pada pembuluh darah yang merupakan awal mula terjadinya udem (Vinegar)

BAB 2
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

2.1. Memahami prinsip eksperimen terhadap efek antiinflamasi dengan menggunakan alat plestimometer

BAB 3 PEMBAHASAN

3.1 ALAT Plestimometer Spuit Sonde Spidol

3.2. BAHAN Tikus Larutan Karagenin 1% Aquadest 2.5ml/20gBB (kontrol negatif) Na diklofenak 6.75 mg/kgBB (kontrol positif) Infus rimpang temu putih 5% (dosis 0.625 g/kgBB) Infus rimpang temu putih 10% (dosis 1.25 g/kgBB) Infus rimpang temu putih 20% (dosis 2.5 g/kgBB)

3.3. PROSEDUR KERJA 1. Mula-mula semua hewan uji dipuasakan 6-8 jam. Pengosongan lambung bermanfaat terhadap proses absorbs obat. Keberadaan makanan dalam gastric seringkali mengganggu proses absorbsi, sehingga terjadi manipulasi efek obat. 2. Salah satu kaki belakang tikus diberi tanda dengan spidol, kemudian diukur volumenya dengan cara mencelupkannya ke dalam tabug air raksa pada alat plestimometer sampai dengan batas tanda tersebut. 3. Pemberian bahan uji Semua kelompok diberikan masing-masing bahan uji secara per oral 2.5 ml/200gBB 4. Selang 10-15 menit , kemudian pada masing-masing tikus diberikan penginduksi udem larutan karagenin 1% sebanyak 0.1 ml secara subkutan pada bagian dorsal kaki yang sama. 5. Volume kaki tikus diukur kembali pada setiap interval waktu 5 menit sampai efek udemnya hilang.

6. Data-data yang perlu dicatat adalah: Mula kerja dan durasi aksi bahan penginduksi Mula kerja dan durasi aksi obat antiinflamasi

bagan alir prosedur kerja Tikusdipuasakan 6-8 jam (pengosonganlambug)

Salah satu kaki belakangtikusdiberispidol

Diukurvolumenya

Mencelupkakinyakedalam air raksa (pletismometer) ad garistanda

Pemberianbahanuji setelah 10-15 menitLarutankaragenin 1 % 0,1 ml subkutan

Volume kaki tikusdiukurtiap 5 menit ad udemnyahilang

catat data percobaannya

Cara menghitung volume udem pada kaki tikus : Volume Udem = Volume setelah diberi penginduksi Volume kaki awal

Persen hambatan udem dihitung sebagai berikut : % Hambatan = (x-y)/x x 100% X= volume rata-rata control negative Y= volume rata-rata bahan uji

VI. HASIL PENGAMATAN Perhitungan Dosis

1. Aquades 2,5 ml/200gBB Berat tikus = 83 g 6.75mg/x=1000g/83g X=0.56g Volume 50mg/0.56mg=50ml/x X=0.56ml 2. Na.diklofenak 6,75mg/kgBB Berat tikus = 123 g 6.75mg/x=1000g/123g X=0.83g Volume =1tab/50ml -50mg~50ml 50mg/0.83mg=50ml/x X=0.83ml 3. Infus rimpang temu putih 5% (dosis 0,625g/kgbb) Berat tikus = 147 g 6.25mg/x=1000g/147g X=0.09g Volume 5g/0.09mg=100ml/x X=1.8ml

4. Infus rimpang temu putih 10% (dosis 1,25g/kgbb) Berat tikus = 171g 1.25mg/x=1000g/171g X=0.21g Volume 1g/0.21mg=100ml/x X=2.1ml

5. Infus rimpang temu putih 20% (dosis 2.5g/kgbb) Berat tikus = 113 g 2.5g/x=1000g/113g X=0.28g Volume 20g/0.28mg=100ml/x X=1.4ml

TABEL PENGAMATAN Volume Udem pada kaki tikus (ml) Kelompok Setelah diberi penginduksi radang awal 0 0.65 15 0.65 30 1.3 45 1.3 60 0.95 0.15 0.15 0.8 0.8 0.45 0 15 Volume Udem 30 45 60 % Hambat an rata vol.ude m 0.47

Kontrol negative (aquadest) Kontrol positif (Na diklofenak) Infus 5% Infus 10% Infus 20%

0.5

1.2

1.3

1.3

0.2

0.3

0.3

0.16

65.96 %

1.2 1.2 0.75

1.25 1,2 0.9

1.3 1.4 0.9

1.35 1.4 1.05

2.15 1.95 1.20

2.05 1.95 1.25

0.05 0 0.15

0.1 0.2 0.15

0.15 0.20 0.3

0.95 0.75 0.45

0.85 0.75 0.5

0.42 0.38 0.31

10.64% 19.15% 34.04%

% efektivitas infus 5% % efektivitas infus10% % efektivitas infus 20%

= 10.64/ 65.96 x 100 = 16.13 % = 19.15/ 65.96 x 100 = 29.03 % = 34.04/ 65.96 x 100 = 51.61 %

Pembahasan Dari data tersebut menggambarkan peningkatan volume telapak kaki tikus terbesar, diperoleh dengan pemberian karagenin 1% pada masing-masing tikus yang mencapai volume

maksimun pada menit ke 30 dan 45 sebesar 0.8 ml selanjutnya mengalami penurunan volume udem, dimana dalam hal ini tikus di sonde dengan aquadest kemudian diinjeksikan dengan karagenin 1 ml. Natrium diklofelak merupakan obat anti inflamasi non steroid yang dapat menghilangkan radang atau yang lebih dikenal dengan sebutan NSAID (Non Steroidal Antiinflammatory Drugs) adalah suatu golongan obat yang memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun panas), dan antiinflamasi (anti radang).Dalam percobaan ini didapat hasih bahwa na-diklofelak dapat menyembuhkan pembengkakan mulai menit ke 45 dimana volume udem kaki tikus coba kembali pada keadaan semula sebelum di induksi dengan karagenin. Namun pada pemberian bahan uji temu rimpang putih didapatkan volume udem ratarata pada pemberian infus 5% sebesar 0,42 ml, temu rimpang putih 10% sebesar 0.38 ml, temu rimpang putih 20% sebesar 0.31ml,dari ketiga volume rata-rata bahan uji didapat volume yang lebih kecil dibandingkan dengan control negative yang disonde dengan aquadest.Dari hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa temu rimpang putih dapat mengurangi pembengkakan, dimana semakin besar kadar yang diberikan maka pembengkakan akan semakin kecil dan persen efektifitas semakin besar, sehingga temu rimpang putih dapat dikatakan sebagai zat anti inflamasi. GRAFIK PENGAMATAN
1.6 1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 1 2 3 4 5 kontrol negatif aquadest kontrol positif na diklofenak temu rimpang putih 5% temu rimpang putih 10% temu rimpang putih 20%

BAB 5 PENTUUTP

5.1 Kesimpulan Inflamasi adalah responprotektifterhadaplukajaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, t e r m a l , zat kimia yang merusak, atau zat-zatmikrobiologik (penyebab infeksi). Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan karena mikroorganisme (non infeksi). Infus temu rimpang putih dapat dikatakan sebagai obat anti inflamasi karena dapat mengurangi pembengkakan pada kaki tikus yang di induksi dangan karagenin.

5.2 Saran Dalam melakukan praktik ini sebaiknya praktikan selalu teliti dan selalu melihat kalibrasi daripada alat plestimometer sudah mulai dari 0 apa belum. Pastikan dalam menyonde sudah benar melalui saluran cerna dan bukan paru-paru, kalau dalam menyonde melewati saluran pernafasan ( paru-paru ) bias menyebebkan tikus mati, dan jika tdak semua zat yang di sondekan tidak masuk semua ( ada yang keluar-keluar ) bias menyebabkan ketidak akurasian data yang di peroleh.

Daftar Pustaka Universitas Indonesia, 2007, Farmakologi dan Terapi, edisi IV, Jakarta

M. J. Neal, 2005, At a Glance Farmakologi Medis, edisi v, Erlangga, Jakarta

Brunton, Laurence, Dkk. 2007. Goodman and Gillman: Manual Farmakologi dan Terapi. EGC: San Diego, CA: Jakarta

Raymon Lionel P,Pharm,PhD.dkk.Buku Ajar Interaksi Obat.Jakarta.EGC