Anda di halaman 1dari 19

Pengertian Kromatografi Kolom

Kromatografi kolom adalah salah satu metode yang digunakan untuk pemurnian senyawa dari campuran dengan memakai kolom. Kromatografi kolom termasuk kromatografi preparatif.

Peralatan Kromatografi Kolom


Alat utama yang digunakan adalah sebuah tabung dengan diameter 5-50 mm dan tinggi 5 cm - 1 m. Pada bagian dasar tabung diberi semacam penyaring dari glass wool untuk menghindari hilangnya fasa diam. Fasa gerak Fasa gerak atau eluen adalah campuran cairan murni. Eluen dipilih sedemikian rupa sehingga faktor retensi senyawa berkisar antara 0,2-0,3 supaya meminimalisasi penggunaan waktu dan jumlah eluen melewati kolom. Jenis eluen yang digunakan pada kromatografi kolom dipilih supaya senyawa yang berbeda dapat dipisahkan secara efektif. Eluen yang digunakan dapat dicoba terlebih dahulu menggunakan kromatografi lapis tipis. Setelah dirasa cocok, eluen yang sama digunakan untuk mengelusi komponen dalam kolom. Fasa diam Fasa diam yang digunakan dalam kromatografi kolom adalah suatu adsorben padat. Biasanya berupa silika gel atau alumina. Dahulu juga sering digunakan bubuk selulosa. Fasa diam berbentuk serbukmicroporous untuk meningkatkan luas permukaan.

Metode
Dua metode utama yang digunakan yaitu metode kering dan metode basah: Metode kering Pada metode kering, kolom diisi dengan fasa diam kering, diikuti dengan penambahan fasa gerak yang disiramkan pada kolom sampai benar-benar basah. Metode basah Pada metode basah, bubur (slurry) disiapkan dengan mencampurkan eluen pada serbuk fasa diam dan dimasukkan secara hati-hati pada kolom. Dalam langkah ini harus benar-benar hati-hati supaya tidak ada gelumbung udara. Larutan senyawa organik dipipet di bagian atas fasa diam, kemudian eluen dituangkan pelan-pelan melewati kolom.

Cara Kerja Kromatografi Kolom

Komponen tunggal ditahan pada fasa diam berupa adorben karena telah terikat. Ketika eluen dialirkan, maka senyawa akan melakukan migrasi, terbawa oleh eluen sesuai dengan kesesuaian kepolaran. Masing-masing senyawa dalam komponen mempunyai kecepatan yang berbeda-beda dalam melewati kolom. Selama proses berlangsung, akan didapatkan beberapa fraksi. Masing-masing fraksi kemungkinan mengandung senyawa yang berbeda. Untuk mengujinya, fraksi hasil kromatografi kolom dapat diamati menggunakan KLT. Fraksi dengan Rf yang mirip, kemungkinan mengandung senyawa yang sama. Fraksi dapat diamati lebih lanjut menggunakan spektroskopi. Seluruh proses kromatografi kolom dapat dilihat pada gambar berikut:

Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran yang berdasarkan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Uraian mengenai kromatografi pertama kali dijelaskan oleh Michael Tswett, seorang ahli biotani Rusia yang bekerja di Universitas Warsawa Pada saat itu, Michael Tswett melakukan pemisahan klorofil dari pigmen- pigmen lain dari ekstrak tanaman menggunakan kromatografi kolom yang berisi dengan kalsium karbonat. Pada kromatografi, komponen- komponen yang akan dipisahkan berada diantara dua fase yaitu fase diam ( stationary ) dan fase bergerak ( mobile). Fase diam adalah fase yang akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak adalah fase yang akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal atau tidak bergerak sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat ( Sudarmadji, 2007 ). Kromatografi kolom bertujuan untuk purifikasi dan isolasi komponen dari suatu campurannya. Metode pembuatan kolom terbagi menjadi 2 yaitu untuk metode kering, kolom pertama diisi dengan kering fase diam bubuk, diikuti dengan penambahan fase mobile. Metode basah, sebuah bubur disiapkan dari eluent dengan fase diam bubuk dan kemudian dengan hati-hati dituangkan ke dalam kolom. Lapisan ini biasanya ditutupi dengan lapisan pasir kecil atau dengan kapas atau wol kaca untuk melindungi bentuk lapisan organik dari kecepatan baru ditambahkan eluent. Eluent perlahan-lahan melewati kolom untuk memajukan bahan organik (Roy, 1991). Sebagian besar prinsip pemisahan kromatografi kolom didasarkan pada afinitas kepolaran analite dengan fase diam, sedangkan fase gerak selalu memiliki kepolaran yang berbeda dengan fase diam. Pada sebagian besar kromatografi kolom menggunakan fase diam yang bersifat polar dengan fase gerak yang non-polar dengan begitu waktu retensi akan menjadi

lebih singkat. Semakin cepat pergerakan fase gerak akan meminimalkan waktu yang diperlukan untuk bergerak di sepanjang kolom. Laju aliran kolom dapat ditingkatkan dengan memperluas aliran eluent di dalam kolom dengan mengisi fase diam pada bagian bawah atau dikurangi dengan mengontrol keran. Laju aliran yang lebih baik dapat dicapai dengan menggunakan pompa atau dengan menggunakan gas dengan kompresi (misalnya udara,nitrogen, argon) untuk mendorong pelarut melalui kolom. Kolomnya (tabung gelas) diisi dengan bahan seperti alumina, silika gel atau pati yang dicampur dengan adsorben, dan pastanya diisikan kedalam kolom. Larutan sampel kemudian diisikan kedalam kolom dari atas sehingga sampel diasorbsi oleh adsorben. Kemudian pelarut (fasa mobil; pembawa) ditambahkan tetes demi tetes dari atas kolom. Partisi zat terlarut berlangsung di pelarut yang turun ke bawah ( fasa mobil) dan pelarut yang teradsorbsi oleh adsorben (fasa stationer). Selama perjalanan turun, zat terlarut akan mengalami proses adsorpsi dan partisi berulang-ulang. Laju penurunan berbeda untuk masing-masing zat terlarut dan bergantung pada koefisien partisi masing-masing zat terlarut (Sastrohamidjojo, 2005). Keuntungan kromatografi kolom yaitu dapat digunakan untuk analisis dan aplikasi preparative, digunakan unruk menentukan jumlah komponen campuran digunakan untuk memisahkan dan purifikasi substansi. Kerugian kromatografi kolom yaitu untuk mempersiapkan kolom dibutuhkan kemampuan teknik dan manual, metode ini sangat membutuhkan waktu yang lama (time consuming) (Rahman, 2009).

Kromatografi Kolom Isap : Suction Colomn Isolasi komponen kimia dalam jumlah yang banyak, berdasarkan absorpsi dan partisi, dimana kolom diisi dengan fase diam divakumkan dengan suatu pompa vakum agar eluen dapat turun mengelusi komponen kimia yang selanjutnya keluar sebagai fraksi-fraksi. Rapid-Sigel Isolasi komponen kimia dalam jumlah yang sedikit berdasarkan absorpsi dan partisi, dimana kolom diisi dengan fase diam divakumkan dengan suatu pompa vakum agar eluen dapat turun mengelusi komponen kimia yang selanjutnya keluar sebagai fraksi-fraksi. Press Colomn Kromatografi kolom sederhana di mana fase gerak bergerak dengan cepat karena penggunaan tekanan positif dari tabung nitrogren. Udara yang ditekan mengandung O2 dan uap air yang dapat menyebabkan peruraian produk dari ekstrak dan berubah saat pemisahan kromatografi.

Istilah kromatografi berasal dari kata latin chroma berarti warna dan graphien berarti menulis. Kromatografi pertama kali diperkenalkan oleh Michael Tsweet (1903) seorang ahli botani dari

Rusia. Michael Tsweet dalam percobaannya ia berhasil memisahkan klorofil dan pigmen-pigmen warna lain dalam ekstrak tumbuhan dengan menggunakan serbuk kalsium karbonat yang diisikan ke dalam kolom kaca dan petroleum eter sebagai pelarut. Proses pemisahan itu diawali dengan menempatkan larutan cuplikan pada permukaan atas kalsium karbonat, kemudian dialirkan pelarut petroleum eter. Hasilnya berupa pita-pita berwarna yang terlihat sepanjang kolom sebagai hasil pemisahan komponen-komponen dalam ekstrak tumbuhan (Alimin, 2007, hal: 73). Kromatografi adalah proses melewatkan sampel melalui suatu kolom, perbedaan kemampuan adsorpsi terhadap zat-zat yang sangat mirip mempengaruhi resolusi zat terlarut dan menghasilkan apa yang disebut kromatogram (Khopkar, 2008, hal: 137). Pemisahan kromatografi kolom adsorpsi didasarkan pada adsorpsi komponen-komponen campuran dengan afinitas berbeda-beda terhadap permukaan fase diam. Kromatografi kolom adsorpsi termasuk pada cara pemisahan cair-padat. Substrat padat (adsorben) bertindak sebagai fase diam yang sifatnya tidak larut dalam fase cair. Fase bergeraknya adalah cairan (pelarut) yang mengalir membawa komponen campuran sepanjang kolom. Pemisahan tergantung pada kesetimbangan yang terbentuk pada bidang antarmuka di antara butiran-butiran adsorben dan fase bergerak serta kelarutan relatif komponen pada fase bergeraknya. Antara molekul-molekul komponen dan pelarut terjadi kompetisi untuk teradsorpsi pada permukaan adsorben sehingga menimbulkan proses dinamis. Keduanya secara bergantian tertahan beberapa saat di permukaan adsorben dan masuk kembali pada fase bergerak. Pada saat teradsorpsi komponen dipaksa untuk berpindah oleh aliran fase bergerak yang ditambahkan secara kontinyu. Akibatnya hanya komponen yang mempunyai afinitas lebih besar terhadap adsorben akan secara selektif tertahan. Komponen dengan afinitas paling kecil akan bergerak lebih cepat mengikuti aliran pelarut (Yazid, 2005, hal: 199). Teknik pemisahan kromatografi kolom dalam memisahkan campuran, kolom yang telah dipilih sesuai ukuran diisi dengan bahan penyerap (adsorben) seperti alumina dalam keadaan kering atau dibuat seperti bubur dengan pelarut. Pengisian dilakukan dengan bantuan batang pemanpat (pengaduk) untuk memanpatkan adsorben dengan gelas wool pada dasar kolom.

Pengisian harus dilakukan secara hati-hati dan sepadat mungkin agar rata sehingga terhindar dari gelembung-gelembung udara. Untuk membantu homogenitas pengepakan biasanya kolom setelah diisi divibrasi, diketok-ketok atau dijatuhkan lemah pada pelat kayu. Sejumlah cuplikan dilarutkan dalam sedikit pelarut, dituangkan melalui sebelah atas kolom dan dibiarkan mengalir ke dalam adsorben. Komponen-komponen dalam campuran diadsorpsi dari larutan secara kuantitatif oleh bahan penyerap berupa pita sempit pada permukaan atas kolom, dengan penambahan pelarut (eluen) secara terus-menerus, masing-masing komponen akan bergerak turun melalui kolom dan pada bagian atas kolom akan terjadi kesetimbangan baru antara bahan penyerap, komponen campuran dan eluen. Kesetimbangan dikatakan tetap bila suatu komponen yang satu dengan lainnya bergerak ke bagian bawah kolom dengan waktu atau kecepatan berbeda-beda sehingga terjadi pemisahan. Jika kolom cukup panjang dan semua parameter pemisahan betul-betul terpilih seperti diameter kolom, adsorben, pelarut dan kecepatan alirannya, maka akan terbentuk pita-pita (zona-zona) yang setiap zona berisi satu macam komponen. Setiap zona yang keluar dari kolom dapat ditampung dengan sempurna sebelum zona yang lain keluar dari kolom. Komponen (eluat) yang diperoleh dapat diteruskan untuk ditetapkan kadarnya, misalnya dengan cara titrasi atau spektofotometri (Yazid, 2005, hal: 200 201).

BAB VII. ALKOHOL Alkohol merupakan kelompok senyawa organik dengan gugus fungsi hidroksil (-OH). Alkohol primer, sekunder, dan tersier sama-sama memiliki gugus metil pada posisi alfa. Alkohol adalah komponen dari gugus hidroksil dengan pengikatan atom karbon dengan gugus alkilnya sebanyak tiga buah dan satu tangan pada gugus hidroksil. Pada pola sederhana, desain R-OH dengan R adalah gugus alkil dan OH adalah gugus hidroksil yang terikat pada karbon. Hibridisasi sp 3 ada 3 jenis utama alkohol : Alkohol primer Alkohol tersier Alkohol tersier

Nama-nama ini merujuk pada jumlah karbon yang terikat pada C-OH, contoh alkohol primer adalah metanol dan etanol. Alkohol sekunder paling sederhana adalah propandiol dan alkohol alkohol tersier sederhana adalah 2-metil-2-propandiol. a. Alkohol primer Pada alkohol primer (1o), atom karbon yang membawa gugus OH hanya terikat pada satu gugus alkil. Ada pengecualian untuk metanol, CH3OH, dimana mmetanol ini dianggap sebagai sebuah alkohol primer meskipun tidak ada gugus alkilnya yang terikat pada atom karbon yang membawa gugus OH. b. Alkohol sekunder Pada alkohol sekunder (2o), atom karbon yang mengikat gugus OH berikatan langsung dengan dua gugus alkil, kedua gugus alkil ini biasanya sama atau berbeda. c. Alkohol tersier Pada alkohol tersier (3o) atom karbon yang mengikat gugus OH berikatan langsung dengan tiga gugus alkil, yang bisa merupakan kombinasi dari alkil yang sama atau berbeda. Alkohol merupakan senyawa seperti air yang satu hidrogennya diganti oleh rantai atau cincin hidrokarbon. Sifat fisis alkohol, alkohol mempunyai titik didih yang tinggi dibandingkan alkanaalkana yang jumlah atom C nya sama. Hal ini disebabkan antara molekul alkohol membentuk ikatan hidrogen. Rumus umum alkohol R OH, dengan R adalah suatu alkil baik alifatis maupun siklik. Dalam alkohol, semakin banyak cabang semakin rendah titik didihnya. Sedangkan dalam air, metanol, etanol, propanol mudah larut dan hanya butanol yang sedikit larut. Alkohol dapat berupa cairan encer dan mudah bercampur dengan air dalam segala perbandingan. Berdasarkan jenisnya, alkohol ditentukan oleh posisi atau letak gugus OH pada rantai karbon utama karbon. Ada tiga jenis alkohol antara lain alkohol primer, alkohol sekunder dan alkohol tersier. Alkohol primer yaitu alkohol yang gugus OH nya terletak pada C primer yang terikat langsung pada satu atom karbon yang lain contohnya : CH3CH2CH2OH (C3H7O). Alkohol sekunder yaitu alkohol yang gugus -OH nya terletak pada atom C sekunder yang terikat pada dua atom C yang lain. Alkohol tersier adalah alkohol yang gugus OH nya terletak pada atom C tersier yang terikat langsung pada tiga atom C yang lain . Reaksi-reaksi yang terjadi dalam alkohol antara lain reaksi substitusi, reaksi eliminasi, reaksi oksidasi dan esterifikasi. Dalam suatu alkohol, semakin panjang rantai hidrokarbon maka semakin rendah kelarutannya. Bahkan jika cukup panjang sifat hidrofob ini mengalahkan sifat hidrofil dari gugus hidroksil. Banyaknya gugus hidroksil dapat memperbesar kelarutan dalam air .

Senyawa yang mempunyai rumus molekul sama disebut isomer. Keisomeran dapat terjadi karena perbedaan struktur / karena konfigurasi. Struktur menggambarkan bagaimana atom atom saling berkaitan dalam satu molekul , yaitu menggambarkan ikatan , sedangkan konfigurasi menggambarkan susunan ruang atom atom dalam satu molekul . Sifat fisika alkohol 1) Titik didih Titik didih alkohol relatif tinggi. Hal ini merupakan akibat langsung dan daya tarik intermolekuler yang kuat. Titik didih adalah ukuran dasar dari jumlah energi yang diperlukan untuk memisahkan suatu molekul cair dari molekul terdekatnya. Jika molekul terdekatnya molekul padat molekul tersebut sebagai ikatan hidrogen. Dibutuhkan energi yang cukup besar untuk memisahkan ikatan tersebut. Setelah itu molekul tersebut dapat terlepas dari cairan menjadi gas. Semakin besar massa molekul relatif alkohol maka titik didih makin tinggi. Titik didih alkohol bercabang lebih rendah daripada alkohol berantai lurus, meskipun massa molekul relatifnya sama. 2) Kelarutan Kepolaran dari ikatan hidrogen merupakan faktor yang menentuksn besarnya kelarutan alkohol dan eter dalam air. Alkohol dengan massa molekul rendah larut dalam air. Kelarutan dalam air ini lebih disebabkan oleh ikatan hidrogen antara alkohol dan air. Dengan bertambahnya massa molekul relatif maka gaya-gaya Van den Waals antara bagian-bagian hidrokarbon dari alkohol menjadi lebih efektif menarik molekul-molekul alkohol satu sama lain. Oleh karena itu, semakin panjang rantai karbon, semakin kecil kelarutannya dalam air. Sifat Kimia 1) Dehidrasi alkohol Dehidrasi (pelepasan air) merupakan reaksi yang melibatkan terlepasnya H dan OH . Reaksi dehidrasi alkohol dapat membentuk alkena atau eter dan air. Asam sulfat pekat berlebih dicampurkan dalam aklohol kemudian campuran tersebut dipanaskan hingga 180 oC, maka gugus hidroksil akan terlepas dan atom hidrogen dari karbon terdekatnya juga terlepas, membentuk H2O. 2) Oksidasi alkohol Oksidasi alkohol akan menghasilkan senyawa yang berbeda, tergantung jenis alkoholnya. 3) Reaksi alkohol dengan logam Na dan K Alkohol kering (tidak mengandung air) dapat bereaksi dengan logam Na dan K tetapi tidak sereaksif air dengan logam Na dan K. Atom H dari gugus OH- digantikan logam tersebut, sehingga terbentuk Na-Alkoholat. Kegunaan alkohol

a. Kegunaan etanol Spirit (minuman keras) bermetil yang diproduksi dalam skala industri. Sebagai bahan bakar Sebagai pelarut Sebagai sebua stok industri.

b. Kegunaaan metanol

II. KARBONIL

Dalam kimia organik, gugus karbonil adalah sebuah gugus fungsi yang tersiri dari sebuah atom karbon yang berikatan rangkap denggan sebuah atom oksigen C=O. Istilah karbonil juga dapat merujuk ke karbon monoksida sebagai sebuah ligan pada senyawa organik atau kompleks organologam (misalnya nikel karbonil), dalam situasi ini karbon berikatan rangkap tiga dengan oksigen C=O. Senyawa karbonil dikarakteristikan oleh jenis-jenis senyawa berikut : Senyawa aldehida Keton Asam karboksilat Ester Anida enon Asil klorida Anhidrida asam

Struktur umum dari gugus karbonil adalah R-CHO, senyawa karbonil lainnya termasuk urea dan karbenat. Reaktivitas karbonil lebih elektropositif daripada oksigen, sehingga rapatan elektron akan tertarik dari karbon dan meningkatkan polaritas ikatan. Oleh karena itu, karbon karbonil bersifat elektrofilik sehingga lebih reaktif terhadap nukleofil. Selain itu, oksigen yang elektronegatif juga dapat bereaksi dengan elektrofil. Hidrogen alfa pada senyawa karbonil lebih asam daripada ikatan OH yang biasa. Sebagai contoh nilai pKa asetaldehida dan aseton adalah 16,7 dan 19. Gugus karbonil dapat direduksi reagen hidrida seperti NaBHu dan LiAlHu dan oleh reagen brinad. Aldehid dan keton adalah senyawa-senyawa sederhana yang mengandung sebuah gugus karbonil, sebuah ikatan rangkap CHO. Aldehid dan keton termasuk senyawa yang sederhana. Jika ditinjau berdasarkan tidak adanya gugus-gugus reaktif yang lain seperti OH atau Cl yang terikat langsung pada atom karbon digugus karbonil, seperti yang bisa ditentukan misalnya pada atom-atom karboksilat yang mengandung gugus COOH. Reaksi-reaksi penting dari gugus karbon

Atom karbon yang sedikit bermuatan positif pada gugus karbonil diserang oleh nukleofil. Nukleofil merupakan sebuah ion bermuatan negatif atau bagian yang bermuatan negatif dari sebuah molekul. Selalu reaksi berlangsung ikatan rangkap C=O terputus. Efek murni dari pemutusan ikatan ini adalah bahwa gugus karbonil akan mengalami reaksi adisi , seringkali diikuti dengan hilangnya sebuah molekul air. Ini menghasilkan reaksi yang dikenal sebagai adisi, eliminasi, atau kondensasi. Aldehid berbeda dengan keton karena memiliki sebuah atom hidrogen yang terikat pada guguus karbonilnya. Ini menyebabkan aldehid sangat mudah teroksidasi. Keton tidak memiliki atom hidrogen tersebut sehingga tidak mudah dioksidasi. Keton hanya dioksidasi dengan menggunakan agen pengoksidasi kuat yang memiliki kemampuan untuk memutus ikatan karbon-karbon. Sifat fisika 1). Titik didih Karbon dan oksigen pada gugus karbonil berbagi dua pasang elektron namun pembagiannya tidak seimbang. Keelektronegatifan oksigen lebih besar untuk mengikat pasangan elektron sehingga kerapatan elektron pada oksigen lebih besar daripada karbon. Karbon lebih bermuatan positif sedangkan oksigen lebih bermuatan negatif. Kepolaran ikatan rangkap pada karbonil oksigen lebih besar daripada ikatan tunggal pada karbon oksigen. Perbedaan muatan pada molekul menyebabkan terjadinya dipol. Kepolaran ikatan rangkap pada aldehid dan keton sangat mempengaruhi titik didihnya. Oleh karena itu, titik didihnya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan senyawa nonpolar yang setara. 2). Kelarutan Pada umumnya aldehid berfase cair, kecuali formaldehid yang berfase gas. Aldehid suhu rendah mempunyai bau yang khas menyengat, sedangkan aldehid suhu tinggi mempunyai bau yang enak sehingga digunakan untuk parfum dan aroma tambahan. Atom hidrogen pada molekul air dapat membentuk ikatan hidrogen dengan oksigen pada gugus karbonil, sehingga kelarutan aldehid hampir sama dengan alkohol dan eter. Formaldehid dan asetaldehid larut dalam air, sejalan dengan bertambahnya rantai karbon, kelarutan dalam air akan turun. Sifat kimia 1). Oksidasi Aldehid sangat mudah dioksidasi menjadi asm karboksilat, dengan pereaksi fehling dan tollens yang disebut tes fehling dan tes tollens. Tes Fehling Pereaksi yang digunakan dalam tes fehling terdiri dari campuran fehling A dan fehling B. Fehling A terdiri atas larutan CuSO4 dan fehling B terdiri dari campuran NaOH dengan natrium-kalium

tartrat. Pereaksi fehling dibuat dengan mencampurkan fehling A dan fehling B sehingga terbentuk ion kompleks Cu+2 dalam suasana basa. Tes Tollens Pereaksi yang digunakan adalah campuran larutan AgNO3 da larutan NH3 yang berlebihan membentuk ion kompleks Ag(NH3)2+. Aldehid akan teroksidasi menjadi asam karboksilat dan ion perak (Ag+) akan tereduksi menjadi logam perak. 2). Tidak membentuk hidrogen Aldehid a. Sifat sifat aldehid : 1). Senyawa-senyawa aldehid dengan jumlah atom C rendah (1 sampai 5 atom C) mudah larut dalam air. Sedangkan senyawa aldehid dengan jumlah atom C lebih dari 5 sukar larut dalam air. 2). Aldehid dapat dioksidasi menjadi asam karboksilatnya 3). Aldehid dapat direduksi dengan gas H2 membentuk alkohol primernya. b. Kegunaan Aldehid 1). Larutan formaldehid dalam air dengan kadar 40%dikenal dengan nama formalin. Zat ini banyak digunakan untuk mengawetkan spesies. 2). Formaldehid juga banyak digunakan sebagai : - Insektisida dan pembasmi kuman - Bahan baku pembuatan damar buatan - Bahan pembuatan plastik dan damar sintetik seperti Galalit 3). Asetaldehid dalam kehidupan sehari-hari antara lain digunakan sebagai : - Bahan untuk membuat karet dan damar buatan - Bahan untuk membuat asam asetat (asam Cuka) - Bahan untuk membuat alkohol Keton a. Sifat fisika keton : 1) Termasuk senyawa polar dan larut dalam air. 2) Titik didih alkanon / keton lebih tinggi disbanding yang lain. 3) Senyawa keton mempunyai sifat fisika hampir sama b. Sifat kimia keton : 1) Antar senyawa keton tidak terjadi ikatan hidrogen. 2) Keton kurang reaktif dibandingkan dengan aldehid.

3) Keton merupakan reduktor yang sangat lemah. c. Kegunaan Keton 1) Sebagai pelarut senyawa organik seperti lak, pembersih cat kayu, dan cat kuku. 2) Bahan baku dalam industri pembuatan kloroform. 3) Bahan anti ledakan pada penyimpanan gas asetilen.
III. ASAM KARBOKSILAT

Asam karboksilat bila bereaksi dengan basa akan membentuk garam dan dengan alkohol akan membentuk ester. Asam karboksilat banyak dijumpai dalam lemak sehingga sering juga disebut sebagai asam lemak. Pembuatan asam karboksilat dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti : 1. Oksidasi alkohol 1o, 2o, atau dengan aldehid 2. Oksidasi alkena 3. Okasidasi alkuna 4. Hidrolisa alkil sianida 5. Hidrolisa ester dengan asam 6. Hidrolisa asil halida Asam karboksilat adalah segolongan senyawa organik yang dicirikan oleh gugus karboksil yaitu nama yang berasal dari nama gugus fungsi karbonil dan hidroksil. Gugus karboksil (juga ditulis CO2H atau COOH). Rumus umum asam karboksilat adalah RCOOH. Asam karboksilat tergolong asam karena senyawa ini mengion dalam larutan, meghasilkan ion karboksilat dan proton. Empat asam karboksilat rantai lurus yang pertama adalah : Asam metanoat (asam format) Asam etanoat (asam asetat) Asam propanoat (asam propionat) Asam butanoat (asam butirat) Suatu asam karboksilat adalah suatu senyawa organik yang mengandung gugus karboksil, COOH. Gugus karboksil mengandung gugus karbonil dan sebuah gugus hidroksil. Antar aksi dari kedua gugus ini mengakibatkan suatu kereaktifan kimia yang unik dan untuk asam karboksilat. Asam format terdapat pada semut merah, lebah, jelatang, dan sebagainya. Sifat fisika yaitu cairan, tidak berwarna, merusak kulit, berbau tajam, larut dalam H2O dengan sempurna. Sifat kimia yaitu asam paling kuat dari asam-asam karboksilat, mempunyai gugus asam dan aldehid. Asam asetat (CH3COOH) merupakan asam karboksilat yang paling penting diperdagangkan industri dan laboratorium. Bentuk murninya disebut asam asetat glasial karena

senyawa ini menjadi padat seperti es bila didinginkan. Asam asetat glasial tidak berwarna, cairan mudah terbakar (titik leleh 7oC, titik didih 800C dengan bau pedas mengigit. Dapat bercampur dengan air dan banyak pelarut organik. Sifat fisika 1). Pada umumnya titik didih asam karboksilat relatif tinggi. Titik didih asam karboksilat relatif tinggi dibandingkan alkohol, aldehid, dan keton dengan massa molekul relatif yang hampir sama. Hal ini karena terjadinya ikatan hidrogen antar molekul. 2). Molekul asam karboksilat bersifat sangat polar 3). Asam karboksilat, empat anggota pertama mudah larut dalam air. Kelarutan asam karboksilat makin menurun seiring dengan kenaikan jumlah atom karbon. Adanya rantai bercabang menyebabkan kelarutan makin menurun. 4). Asam karboksilat dengan jumlah atom karbon rendah mempunyai bau asam, sedangkan jumlah atom karbon empat hingga delapan berupa cairan tidak berwarna yang mempunyai bau yang sangat tidak enak. Bau cuka merupakan bau asam asetat, bau mentega adalah asam butirat. Asam kaproat terdapat pada rambut dan keringat kambing. Asam dari C5hingga C10 semuanya mempunyai bau seperti kambing. Asam ini dihasilkan oleh bakteri kulit pada minyak keringat. Asam diatas C10 merupakan padatan seperti wax/lilin, dan karena tingkat penguapannya yang rendah, asam ini tidak berbau. Sifat kimia 1). Asam lemah Larutan asam karboksilat bersifat asam lemah. Larutan tersebut dapat mmengubah lakmus biru menjadi merah. 2). Reaksi yang terjadi tergolong reaksi netralisasi. Asam karboksilat tergolong asam lemah sehingga dalam air hanya terionisasi sebagian. 3). Reaksi esterifikasi Asam karboksilat bereaksi dengan alkohol membentuk ester dan air. Kegunaan asam karboksilat Asam format (asam metanoat) yang juga dikenal asan semut merupakan cairan tidak berwarna dengan bau yang merangsang. Biasanya digunakan untuk : a. Menggumpalkan lateks (getah karet) b. Obat pembasmi hama Asam asetat atau sam etanoat yang dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan nama asam cuka. Asam cuka banyak digunakan sebagai pegawet makanan, dan penambah rasa makanan.

Asam sitrat biasanya digunakan untuk pengawet buah dalam kaleng. Asam stearat, asam ini berbentuk padat, berwarna putih. Dalam kehidupan sehari-hari terutama Sifat sifat asam karboksilat : Mempunyai bau yang merangsang Mempunyai 2 iakatan hidrogen antara sepasang molekul yang ditunjuk sebagai dimer asam karboksilat. Asam karboksilat dapat di bagi beberapa golongan.

digunakan untuk membuat lilin.

1. Asam alkana karboksilat. Dapat dinggap ebagai turunan alkana dengan 1/lebih atom hidrogen telah diganti oleh gugus kardoksil. Sifat-sifatnya: Dengan logam alkali membentuk garam dan air H2 Dengan asam membentuk garam dan air Dengan PCl5 / PCl3 Membentuk HCl Sukar dioksidasi (kecuali asam format). 2. Asam Alkena Karboksilat. Dapat dianggap sebagai turunan dari alkena dimana 1/lebih atom H diganti oleh gugus karboksilat. 3. Asam Hidrosi Karboksilat Senyawa ini menjadi gugus hidrosil dalam molekul-molekul disamping gugus karboksilat. Sengandemikian senyawa ini bertindak sebagai asam. Asam hidroksil merupakan asam yanglebih kuat dari asam karboksilat dengan jumlah C yang sama. Cara mengidentifikasi gugus karbonil: Reaksi dengan Natrium bikarbonat Reaksi dengan PCl3 Esterifikasi yang menimbulkan bau harum

BAB VIII IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI AMINA, KARBOHIDRAT,


PROTEIN, DAN LEMAK

A. AMINA Amina merupakan senyawa organik yang mengandung atom-atom nitrogen trivalent yang terikat pada satu atom karbon atau lebih.

Contoh amina: RNH2, R2 NH, R3N Amina tergolong ke dalam basa organik lemah yang dapat bereaksi dengan asam membentuk garam yang dapat larut dalam air, tetapi dalam keadaan bebas amina sulit atau hampir tidak larut dalam air kecuali dengan senyawa amina yang berwujud gas. Amina merupakan turunan dari amoniak dimana satu atau lebih atom hidrogennya diganti oleh gugus alkil. Dengan R.U = R-NH2. Amina dibagi 3, yaitu: 1. Amina Primer 1 atom H diganti dengan alkil 2. Amina Sekunder 2 atom H diganti dengan alkil 3. Amina Tersier 3 atom H diganti dengan alkil Senyawa amina dapat membentuk suatu garam amonium garam, garam ini dikelompokkan menjadi: a. Garam Amina Garam yang mengandung atom H b. Garam Amonium Kuartener Garam yang tidak ada atom H, karena ke 3 nya berikatan dengan alkil. Sifat-sifat Amina: 1. Amina termasuk golongan basa. Karena itu dapat bereaksi dengan asam R- NH2 + HCl RNH2HCl 2. a. Amina primer dengan asam nitrat, mengahasilkan menghasilkan alkohol dengan nitrogen . R- NH2 HONO ROH +N2 + H2O R-N-H amina I b. Amina sekunder dengan asam nitrat, menghasilkan nitrogamin. c. Amina tersier tidak dapat bereaksi dengan asam nitrit. 3. Senyawa amina merupakan titik didih atau sifat fisik lainnya lebih besar dibandingkan senyawa alkohoh dengan massa molekul yang bersamaan atau hampir sama. 4. Senyawa amina mempunyai sifat polar dibandingkan hidrokarbon tapi kurang polar dibanding alkohol. 5. Senyawa amina mempunyai bau yang spesifik 6. Garam dari amina mudah larut dalam air.

7. Sifat garam dari asam amina lemah dari basa amina kerena gugus NH2 terpengaruh oleh gugus COO Sifat Basa Amina Sifat basa amina dipengaruhi oleh gugus alkil pendorong . Sifat basa amina dipengaruhi oleh gugus alkil maka akan semakin basa dan sebaliknya. Bagian molekul yang paling reaktif dari suatu amina: - NH2 - NHR - NR2 B. KARBOHIDRAT Karbohidrat adalah suatu senyawa organik yang banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan, hewan. Kabohidrat merupakan bagian yang digunakan sebagai jaringan penunjang dari tumbuh-tumbuhan dan sumber tenaga bagi manusia dan hewan. Kabohidrat dianggap sebagai senyawa antara atom karbon dan molekul air, atau sebagai karbohidrat yang terhidrasi dan disebut hidra arang Berdasarkan penguraian sakarida terbagi atas 4 bagian: Monosakarida Senyawa karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis lagi menjadi unit yang lebih sederhana sekali. Disakarida

Karbohidrat yang bisa dihidrolisis menjadi 2 monosakarida. Oligosokarida

Kabohidrat yang dapat dihidrolisis menjadi besar dari 4 monosakorida. Sifat umum dari monosakarida dan disalkarida 1. Merupakan kristal yang ada pada umumnya bewarna putih dan larut dalam air karena mempunyai banyak gugus fungsi (alkohol, aldehid dan keton). 2. Mempunyai rasa manis karena umumnya senyawa ini mempunyai 3 gugus OH yang berdampingan. 3. Bersifat optis aktif terutama senyawa karbohidrat yang menghasilkan asam. 4. Sedikit larut dalam alkohol tapi tidak larut dalam pelarut organik karena tidak punya gugus yang sama. Sifat Umum Polisakarida: 1. Berbentuk amorf, umumnya tidak larut dalam air

2. Tidak punya rasa 3. Tidak bersifat optis aktif Identifikasi Karbohidrat: 1. Pereaksi Molish 2. Dengan Fehling A dan Fehling B 3. Dengan HNO3 pekat.. Menghasilkan atau mengoksidasi aldehid dengan CH2OH Monosakarida dapat dibedakan atas: Aldosa Monosakarida yang memiliki gugus fungsi aldehid Ketosa Monosakarida yang memiliki gugus fungsi keton C = O Monosakarida juga digolongkan berdasarkan jumlah atom C dalam molekulnya. Cotoh: Triosa monosakarida yang terdiri atas 3 atom C Tetrasa monosakarida yang terdiri atas 4 atom C Pentosa monosakarida yang terdiri atas 5 atom C Monosakarida heksosaterdiri dari 2 molekul. Glukosa yang mempunyai gugus aldehid Fruktosa yang mempunyai gugus keton Monosakarida menjadi atom C asimetris, sehingga memerlukan isomer optis aktif misalnya D- glukosa dan L glukosa, struktur molekul glukosa maupun fruktosa dapat merupakan rantai panjang yang merupakan struktur molekul siklohemiasetal atau melingkar. Monosakarida = fruktosa > glukosa >glaktosa. Disakarida = sukrosa > maltosa > laktosa Secara umum : fruktosida > sukrosa > gukosa > maltosa > laktosa > glaktosa Disakarida tersusun dari 2 molekul monosakarida contohnya: Sukrosa yang terdiri dari 2 molekul monosakarida yaitu glukosa dan fruktosa. Maltosa, terdiri dari glukosa dan glukosa Laktosa , terdiri dari glukosa dan galaktosa Adapula polisakarida yang tersusun oleh banyak molekul monosakarida . Contoh: Amilum Glikogen Selulosa

C. PROTEIN Protein merupakan senyawa politeptida dengan berat molekul besar yang mengandung unsur C, H, N, O, dan juga menjadi unsur seperti protein dikenal dengan nama zat putih telur yang merupakan senyawa yang sangat penting dalam semua sel hidup, karena protein merupakan dinding sel. Sifat protein ditentukan oleh asam amino penyusunnya oleh karena itu, sifat protein = sifat aminonya. Protein merupakan polimer alam yang tersusun dari asam-asam amino. Asam amino memiliki 2 gugusan yaitu gugus karboksil yang bersifat asam dan gugus amino yang bersifat basa, sedangkan asam amio bersifat amfoter. Ikatan yang menghasilkan 2 molekul asam amino disebut ikatan peptida dan senyawa yang terbentuk disebut dipeptida. Protein tersusun dari banyak ikatan peptida atau polipeptida. Asam amino ada 2 macam: Asam yang tidak esensial Asam yang tidak dapat larut disentesis dalam tubuh, jadi harus terdapat dalam makanan sehari-hari. Contoh: - Leusin - Isoleusin - Lusin - Fenil alanin Asam amino non esensial Yang dapat disintesis dalam tubuh. Contoh: - Glisin - Tirosin - Alanin - Prolin Protein dapat dibedakan berdasarkan bentuk dan fungsi biologisnya. Berdasarkan bentuk protein dibedakan atas: Protein Serat Serabut panjang yang liat dan tidak larut dalam air Protein Globular Bentuknya agak bulat dan larut dalam air. Berdasarkan Fungsi Biologisnya, dibedakan atas: Enzim

Protein transpor Protein nutrien dan penyimpanan Protein kontraktil Protein struktur Protein pertahanan Protein pengatur Sifat-Sifat Asam Amina Bersifat optis aktif kecuali glisin tidak mempunyai atom C asimetris, tidak bisa memutar polimerisasi. Ion zwitter Molekul asam amino dapat mengalami reaksi intromolekul membentuk ion polar. Berat molekul besar Umurnya dari 20 asam amino Struktur tidak stabil terhadap PH, suhu, radiasi, dan medium. Umumnya reaktif dan spesifik. D. LEMAK Lemak atau mimyak adalah ester dari gliserol atau disebut juga trigliserida yang dibedakan jenuh atau tidaknya gugus alkil. Lemak sering dinamakan minyak. Pada dasarnya lemak dan minyak itu adalah sama. Sifat Lemak Bersifat non polar Tidak larut dalam air Dapat larut dalam pelarut non polar seperti eter, karbon tetraklorida, dan kloroform. Perbedaan antara lemak dan minyak: Lemak Pada temperatur kamar, lemak berbentuk padat Umumnya terdapat pada hewan Mempunyai ikatan tunggal Minyak Pada temperatur kamar. Minyak berbentuk cair. Umumnya terdapat pada tumbuh-tumbuhan Mempunyai ikatan rangkap

Lemak adalah ester dari gliserol dan asam lemak (asam-asam karboksilat dengan rantai alkil yang panjang) Lemak disusun atas asam-asam lemak. Senyawa jenuh C11 H23 COOH (asam larutan / asam dedeknoat) C13 H27 COOH (asam miristat / asam tetradekanoat) C15 H31 COOH (asam palmilat / asam heksadekanoat) C17H35 COOH (asam stearat / asam okta dekanoat) Senyawa tidak jenuh C17 H33 COOH (asam oleat / asam - 9 - okta dekanoat) C17 H31 COOH (asam linoleat /asam 9, 12 - okta dekanoat) C17 H29 COOH (asam linoleat / asam 9, 12, 15 - okta dekanoat) Lemak yang mempunyai akil jenuh berwujud padat, yang memeiliki rantai alkil tak jenuh berwujud cair (minyak), lemak tak jenuh ini disebabkan adanya ikatan rangkap pada atom C. Sifat Fisika Lemak Sukar larut dalam pelarut polar, mudah larut dalam perut non polar. Lemak memiliki titik didih yang tinggi dan kebanyakan bentuk padat . Reaksi titik lebur asam nitrat lemaknya tinggi , makin tinggi pula titik lebur minyak / lemak. Minyak umumnya bersifat cair. Sifat Kimia Lemak Dapat teroksidasi sehingga menimbulkan bau / rasa. Dapat terhidrolisis dengan bantuan enzim lipase. Larutan asam alkalin menghasilkan gliserol dan asam lemak.