Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI 3

ANTIBIOTIK LYNCOMICIN DAN KUINOLON

Disusun

Oleh

(G 701 14 144)
(G 701 15 125)
LINA RISMAWATI (G 701 15 013)
(G 701 15 043)
REZKY MULYANI (G 701 15 075)
LULU ANDRIANI (G 701 15 099)
(G 701 15 150)
MOH. RIVALDI SETIAWAN (G 701 15 180)
RATNA (G 701 15 200)
(G 701 15 224)
(G 701 15 240)
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum.Wr.Wb
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Taufik dan Inayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini
dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca
dalam ilmu pendidikan.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu, kami harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.

Terima Kasih
Palu, 28 September 2017

Kelompok 4

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................

DAFTAR ISI..............................................................................................................

BAB I : PENDAHULUAN...........................................................................

I.I LATAR BELAKANG...................................................................

I.2 RUMUSAN MASALAH..............................................................

I.3 TUJUAN...

BAB II : PEMBAHASAN..............................................................................

II.1. PENGERTIAN LINCOMYCIN.


II.2. MEKANISME KERJA LYNCOMICIN.
II.3. INDIKASI LYNCOMICIN
II.4. OBAT GOLONGAN LYNCOMICIN
II.5. PENGERTIAN KUINOLON.
II.6. INDIKASI KUINOLON.
II.7. OBAT GOLONGAN KUINOLON
II.8. SPEKTRUM ANTIBAKTERI GOLONGAN KUINOLON..
II.9.RESISTENSI ANTIBIOTIK GOLONGAN KUINOLON..
BAB III : PENUTUP .......................................................................................

III.I KESIMPULAN ..........................................................................

III.2 SARAN......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang
Antibiotika adalah segolongan senyawa baik alami maupun sintetik,
yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di
dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Antibiotik
dapat diklasifikasikan berdasarkan spectrum atau kisaran kerja, mekanisme
aksi, strain penghasil, cara biosintesis maupun berdasarkan struktur
biokimianya. Berdasarkan spektrum atau kisaran kerjanya antibiotik dapat
dibedakan menjadi antibiotik berspektrum sempit (narrow spectrum) dan
antibiotik berspektrum luas (broad spectrum). Antibiotik berspektrum sempit
hanya mampu menghambat segolongan jenis bakteri saja, contohnya hanya
mampu menghambat atau membunuh bakteri gram negative saja atau gram
positif saja. Sedangkan antibiotik berspektrum luas dapat menghambat atau
membunuh bakteri dari golongan gram positif maupun gram negatif.
Berdasarkan mekanisme aksinya, antibiotik dibedakan menjadi lima :
1. Antibiotik dengan mekanisme penghambatan sintesis dinding sel
2. Perusakan membran plasma
3. Penghambatan sintesis protein
4. Penghambatan sintesis asam nukleat
5. Penghambatan sintesis metabolit esensial
Antibiotika digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi akibat
kuman atau juga untuk prevensi infeksi, misalnya pada pembedahan besar.
Secara profilaktis juga diberikan pada pasien dengan sendi dan klep jantung
buatan, juga sebelum cabut gigi. Penghambatan pada sintesis asam nukleat
berupa penghambatan terhadap transkripsi replikasi mikroorganisme. Yang
termasuk antibiotik penghambat sintesis asam nukleat ini adalah antibiotik
golongan kuinolon dan rifampin atau rifampisin.
Pada awal tahun 1980, diperkenalkan golongan Kuinolon baru dengan
atom Fluor pada cincin Kuinolon ( karena itu dinamakan juga
Fluorokuinolon). Perubahan struktur ini secara dramatis meningkatkan daya
bakterinya, memperlebar spektrum antibakteri, memperbaiki penyerapannya
di saluran cerna, serta memperpanjang masa kerja obat.
Golongan Kuinolon ini digunakan untuk infeksi sistemik. Yang
termasuk golongan ini antara lain adalah Spirofloksasin, Ofloksasin,
Moksifloksasin, Levofloksasin, Pefloksasin, Norfloksasin, Sparfloksasin,
Lornefloksasin, Flerofloksasin dan Gatifloksasin.

I.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian lincomycin ?
2. Bagaimana mekanisme kerja lyncomicin ?
3. Bagaimana indikasi lyncomicin ?
4. Apa saja obat golongan lyncomicin ?
5. Apa pengertian kuinolon ?
6. Bagaimana Indikasi kuinolon ?
7. Apa saja obat golongan kuinolon ?
8. Bagaimana Spektrum antibakteri golongan kuinolon ?
9. Bagaimana Resistensi terhadap antibiotik golongan kuinolon ?

I.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian lincomycin.
2. Untuk mengetahui mekanisme kerja lyncomicin.
3. Untuk mengetahui indikasi lyncomicin.
4. Untuk mengetahui macam-macam obat golongan lyncomicin.
5. Untuk mengetahui pengertian kuinolon.
6. Untuk mengetahui indikasi kuinolon.
7. Untuk mengetahui macam-macam obat golongan kuinolon.
8. Untuk mengetahui Spektrum antibakteri golongan kuinolon.
9. Untuk mengetahui Resistensi terhadap antibiotik golongan kuinolon.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN LINCOMYCIN
Lincomycin adalah antibiotik yang melawan infeksi serius yang
disebabkan oleh bakteri. Lincomycin digunakan untuk mengobati infeksi
bakteri yang parah pada orang yang tidak dapat menerima antibiotik penisilin.

Linkomisin menghambat sintesa protein pada bakteri yang sensitif


dengan cara mengikat subunit 50 S ribosom bakteri dan menghambat
pembentukan ikatan peptida Linkomisin umumnya bersifat bakteriostatik
tetapi dapat pula bersifat bakterisid bila digunakan dalam dosis besar atau
terhadap bakteri yang sangat sensitif.

Lincomycin (lincocin) khasiatnya bakteriostatis dengan spektrum kerja


lebih sempit daripada makrolida, terutama terhadap bakteri Gram-positif dan
anaerob. Berhubung efek sampingnya yang hebat, yaitu colitis, di banyak
negara kini hanya digunakan bila terdapat resistensi terhadap antibiotik lain.
Misalnya, pada infeksi dengan bakteri anaerob, seperti Bacteroides yang
sangat peka baginya. Tetapi karena efek baiknya terhadap Propionibacter
acnes, zat ini digunakan secara topikal pada acne.

Resorpsi lincomycin dari usus sedikit buruk, k.1. 40%, PP-nya k.1.
45%, masa paruhnya k.1. 5 jam, dan distribusinya ke seluruh jaringan sama
baiknya dengan kloramfenikol. Ekskresinya sebagai metabolit inaktif
terutama melalui empedu dan tinja, hanya sebagian kecil melalui kemih.
Indikasi lincomycin bisa diberikan untuk infeksi saluran pernapasan atas dan
bawah, infeksi kulit, septicaemia, infeksi tulang dan sendi, termasuk
osteomyelitis haematogenous akut.
Efek sampingnya yang sering kali terjadi adalah gangguan lambung-
usus, diare, mual, muntah, jarang reaksi alergi kulit. Lebih berat tetapi jarang
adalah colitis pseudomembraneus, semacam radang usus besar yang
diakibatkan oleh toksin dari bakteri Clostridium difficile. Bakteri ini dapat
berkembang cepat karena bakteri anaerob (yang bersaingan) telah
dimusnahkan oleh lincomycin. Colitis ini dapat diatasi dengan vancomycin
atau metronidazol. Dosis oral 3-4 dd 500 mg a.c., injeksi i.m. 1-2 dd 600 mg.

2.2 MEKANISME KERJA LYNCOMICIN


Linkomisin dapat bekerja sebagai bakteriostatik maupun bakterisida
tergantung konsentrasi obat pada tempat infeksi dan organisme penyebab
infeksi. Lincomycin merupakan obat antibiotik yang mampu menghambat
sintesa protein bakteri. Mekanisme kerja Lincomycin dalam menghambat
sintesis protein bakteri yaitu dengan mengikat subunit ribosom 50S yang
mengakibatkan terhambatnya pembentukan ikatan peptida. Dengan demikian,
Lincomycin dapat digunakan untuk membantu mengobati infeksi serius yang
disebabkan oleh bakteri. Infeksi yang biasanya diatasi dengan obat ini, seperti
selulitis dan pneumonia, serta sebagai alternatif antibiotik bagi pasien yang
alergi terhadap penicillin.

2.3 INDIKASI LYNCOMICIN


1. Linkomisin diindikasikan untuk mengobati infeksi berat yang disebabkan
oleh Streptococcus,Pneumococcus dan Staphylococcus yang sensitif.
2. Linkomisin efektif terhadap infeksi Staphylococcus yang resistan terhadap
antibiotik lain.
3. Membantu mengobati infeksi saluran napas atas, seperti sinusitis,
faringitis, tonsilitis, dan terapi adjuvan difteri (infeksi selaput lendir pada
hidung atau tenggorokan).
4. Mengatasi infeksi saluran napas bawah, seperti pneumonia, bronkitis akut
dan kronis.
5. Mengobati infeksi telinga tengah.
6. Membantu mengatasi infeksi kulit dan strukturnya, seperti selulitis, abses,
bisul, impetigo, dan jerawat.
7. Mengobati luka yang terinfeksi, seperti erisipelas, limfadenitis, gangren,
masitis dan paronychia (yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif
terhadap lincomycin).
8. Mengatasi sepsis dan endokarditis. Infeksi tulang dan sendi, seperti septic
arthritis dan osteomyelitis.

KONTRA INDIKASI
Banyak sekali manfaat dari Lincomycin, namun tidak semua
orang bisa menggunakan obat ini. Obat ini tidak boleh digunakan oleh
orang dengan kondisi seperti berikut:
Memiliki hipersensitif atau alergi terhadap Lincomycin atau
obat golongan lincosamide lainnya, seperti Clindamycin.
Penderita infeksi usus oleh Clostridium dificile.
Wanita hamil.
Bayi baru lahir.
Mengalami infeksi virus, seperti flu dan pilek.
Memiliki gangguan fungsi hati dan ginjal.
Memiliki penyakit asma.
Penderita infeksi saluran pencernaan.

SPEKTRUM OBATNYA
Lyncomicin memiliki spektrum yang sangat luas sehingga dapat
menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain.
AKTIF TERHADAP BAKTERI
Lincomycin bersifat bakteriostatik, efektif terutama terhadap
Mycoplasma spp. dan bakteri Gram positif seperti Staphylococcus,
Clostridium, Streptococcus dan Treponema spp.

FARMAKOKINETIK
Linkomisin diabsorpsi dengan cepat dari saluran gastrointestinal
setelah pemberian oral. Linkomisin tidak mengalami inaktivasi oleh
asam lambung. Absorpsinya akan berkurang dengdn adanya makanan.
Linkomisin didistribusikan secara luas ke dalam cairan dan jaringan
tubuh,kecuali ke dalam cairan sere-brospinal. Kadar yang tinggi
ditemukan pada tulang,empedu ddn urine. Linkomisin dapat terdifusi
melalui plasenta. Waktu paruh Linkomisin pada fungsi ginjal yang
normal antara 4-5,4 jam.

FARMAKODINAMIK
Lyncomicin menghambat sintesis protein.

EFEK SAMPING
Seperti halnya dengan obat-obat lainnya, obat ini juga
berpotensi menyebabkan efek samping. Efek samping Lincomycin
yang umum terjadi diantaranya:
1. Gangguan sistem pencernaan, seperti diare, mual, muntah, keram
perut, dan radang usus.
2. Terjadi alergi pada kulit, seperti bengkak, gatal.
3. Telinga berdenging.
4. Terasa pusing seperti berputar.
5. Gangguan produksi sel darah, seperti leukopenia, neutropenia,
agranulositosis, dan trombositopenia.
6. Gangguan jantung dan paru-paru (bila diberikan dengan jarak
waktu yang terlalu cepat).
7. Iritasi pada tempat suntikan, seperti nyeri dan abses steril.
8. Radang vena (penggunaan melalui intravena).
Selain gejala efek samping tersebut, segera menghubungi
dokter untuk mendapatkan tindakan medis, jika Anda mengalami
tanda-tanda atau gejala seperti di bawah ini:
1. Demam, menggigil, nyeri badan, dan gejala flu.
2. Diare berdarah.
3. Jarang atau tidak sama sekali buang air kecil.
4. Noda putih dan sakit di dalam mulut atau bibir.
5. Mudah memar atau berdarah. Kelelahan.
6. Kulit melepuh, mengelupas, dan ruam berwarna merah.
7. Merasa ingin pingsan.

INTERAKSI OBAT
1. Pemberian harus secara hati-hati bila diberikan bersama obat
penghambat neuromuskuler.
2. Dapat berinteraksi dengan kaolin.

DOSIS
Dosis yang tepat sesuai dengan yang dianjurkan oleh dokter
setelah mempertimbangkan kondisi kesehatan, usia, berat badan dan
sebagainya. Adapun dosis Lincomycin yang sering direkomendasikan
antara lain:
Dosis untuk dewasa:
Kapsul (penggunaan oral)
Untuk infeksi bakteri, dosis yang dianjurkan adalah 500
mg dan digunakan setiap 6-8 jam per hari.
Untuk infeksi yang disebabkan oleh Streptokokus beta
haemolitikus, dosis yang dianjurkan adalah 500 mg dan
digunakan minimal 10 hari.
Obat Cair (injeksi)
Untuk infeksi bakteri serius, dosis yang dianjurkan adalah
600 mg melalui suntikan IM per hari atau 600-1000 mg
melalui infus IV setiap 8-12 jam per hari.
Untuk infeksi bakteri yang lebih berat, dosis yang
dianjurkan adalah 600 mg melalui suntikan IM yang
digunakan 2 kali sehari.
Untuk konjungtivis bakterial, dosis yang dianjurkan
adalah 75 mg secara subkonjungtiva 1 kali sehari.
Dosis Lincomycin untuk anak-anak:
Kapsul (penggunaan oral) Untuk usia lebih dari 1 bulan,
dosis yang dianjurkan 30/kg sampai 60 mg/kg berat badan
yang digunakan 3-4 kali sehari.
Obat Cair (injeksi)
Untuk infeksi bakteri serius, dosis yang dianjurkan adalah
10 mg/kg melalui suntikan IM per hari atau 10-20 mg/kg
melalui infus IV digunakan 2 -3 kali sehari.
Untuk infeksi bakteri yang lebih berat, dosis yang
dianjurkan adalah 10 mg/kg melalui suntikan IM yang
digunakan 2 kali sehari.

BENTUK SEDIAAN
1. Tablet
2. Kapsul
3. Sirup
4. Injeksi

2.4 NAMA SEDIAAN (OBAT GENERIK) LYNCOMICIN


Biolincom, Ehtilin, LIncocin, Lincophar, Lincyn, Lintropsin,
Nichomycin, Nolipo 500, Percocyn, Pritalinc, Tamcocin, Tismamisin,
Zencocin, Zumalin.
1. Biolincom
Indikasi / Kegunaan
Untuk mengobati infeksi berat oleh kuman Gram Positif (+) yang
rentan, strain Streptococcus, Pneumokokus dan Staphylococcus.
Kandungan / Komposisi
Tiap kaplet mengandung lincomycin HCl 500 mg
Dosis
Dewasa : 500 mg 3-4 kali sehari. Bayi > 1 bulan : 30-60 mg/kg berat
badan per hari terbagi dalam 3-4 dosis
Cara Pemakaian
Sebaiknya diberikan pada saat perut kosong 1 jam sebelum atau 2 jam
sesudah makan
Kemasan
1 kaplet
Golongan
Obat Keras
Kontraindikasi / Jangan digunakan oleh
Kontraindikasi bagi pasien hipersensitif terhadap klindamisin,
penderita diare. Neonatus
Efek Samping
Gangguan gastrointestinal, reaksi hipersensitif
Perhatian Khusus
Penggunaan pada gangguan fungsi hati atau ginjal dan wanita hamil
Cara Penyimpanan
Simpan pada tempat sejuk dan kering, serta terlindung dari cahaya
Principal
Otto
2. Ehtilin
Ethilin Capsule diindikasikan untuk perawatan infeksi bakteri dan
kondisi lainnya. Ethilin Capsule mengandung komposisi aktif berikut:
Lincomycin Hydrochloride. Tersedia dalam bentuk capsule. Soho
Industri Pharmasi memanufaktur Ethilin Capsule. Informasi detil
berkaitan dengan penggunaan Ethilin Capsule, komposisi, dosis, efek
samping dan ulasan dijabarkan dibawah:
Pemakaian
Ethilin Capsule digunakan dalam perawatan, kontrol, pencegahan, &
perbaikan penyakit, kondisi dan gejala berikut ini:
infeksi bakteri

Cara Kerja, Mekanisme Tindakan dan Farmasologi

Ethilin Capsule meningkatkan kondisi pasien dengan melakukan


fungsi-fungsi berikut:
Menghentikan produksi protein esensial yang diperlukan untuk
pertumbuhan bakteri.

Efek samping

Berikut adalah daftar efek samping yang memungkinkan yang dapat


terjadi dari semua bahan-bahan konstitusi Ethilin Capsule. Ini
bukanlah daftar yang komprehensif. Efek-efek samping ini
memungkinkan, tetapi tidak selalu terjadi. Beberapa efek samping ini
langka tetapi serius. Konsultasi pada dokter Anda jika Anda melihat
efek samping berikut, terutama jika efek samping tidak hilang.
Diare
Pusing
Mual
Nyeri atau iritasi di tempat suntikan
Muntah

3. Lincocin

Lincocin adalah merek paten dari antibiotik injeksi golongan lincosamide


yang mengandung lincomycin hydrocloride. Lincocin tersedia dalam
bentuk vial 2ml dan 10ml, bening dan tidak berwarna. Setiap mililiter
mengandung 300mg lincomycin dan 9,45mg benzyl alcohol. Lincocin
digunakan untuk mencegah atau mengobati infeksi bakteri yang sensitif
terhadap lincomycin, yaitu bakteri tertentu dari golongan streptokokus,
pneumokokus, dan stafilokokus. Lincocin dapat digunakan sebagai
alternatif bagi pasien yang alergi dengan antibiotik golongan penisilin.
Penggunaan Lincocin tidak disarankan untuk infeksi ringan atau infeksi
akibat virus. Pasien Lincocin dapat digunakan dengan injeksi ke dalam
otot, vena, atau subkonjungtiva.

4. Lincyn
Deskripsi
Lincomycin / linkomisin.
indikasi
infeksi berat yang disebabkan oleh staph, strep, pneumococcus &
clostridium.
infeksi tulang & sendi, saluran nafas, kulit & jaringan lunak.
infeksi saluran kemih.
kemasan
Kapsul 500 mg x 5 x 10's.
dosis
dewasa 500 mg tiap 6 jam.
anak > 1 bulan 30-60 mg/kg berat badan/hari dalam 3-4 dosis
terbagi. Lama pengobatan pada infeksi yang disebabkan oleh strep
& haemolyticus: sedikitnya 10 hari.
dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam sebelum/sesudah
makan)
Dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam sebelum/sesudah makan)
5. Nichomycin
DESKRIPSI

Lincomycin / Linkomisin.

INDIKASI

Pengobatan infeksi yang disebabkan oleh Streptococcus,


Pneumococcus, & Staphylococcus.

KEMASAN

Kapsul 500 mg x 50's

DOSIS
Dewasa : 3-4 kali sehari 1 kapsul.
Anak berusia lebih dari 1 bulan : 3-4 kali sehari 30-60 mg/kg berat
badan.
Infeksi Streptococcus -hemolyticum : perpanjang pengobatan paling
sedikit selama 10 hari untuk meminimalkan demam rematik dan
glomerulonefritis.

Dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam sebelum/sesudah


makan)

Dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam sebelum/sesudah makan)

PABRIK

Nicholas Laboratories Indonesia.

6. Percocyn
DESKRIPSI

Lincomycin / Linkomisin HCl.

INDIKASI

Pengobatan infeksi yang disebabkan oleh Streptococcus,


Pneumococcus, & Staphylococcus.
KEMASAN

Kapsul 500 mg x 10 x 10's

DOSIS

Dewasa & anak berusia lebih dari 14 tahun : 3-4 kali sehari 500
mg.

Bayi berusia lebih dari 1 bulan : 30-60 mg/kg berat badan dibagi
dalam 3-4 dosis sehari.

Dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam sebelum/sesudah


makan)
Dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam sebelum/sesudah makan)

7. Pritalinc
Kandungan
Lincomycin / Linkomisin.
Indikasi
Infeksi yang disebabkan oleh streptokokus, pneumokokus,
stafilokokus.
Kontra Indikasi
Penderita yang memiliki kepekaan berlebihan terhadap Linkomisin
dan Klindamisin, tidak digunakan untuk pengobatan infeksi ringan
yang disebabkan oleh bakteri dan virus.
Indeks Keamanan Pada Wanita Hamil
B: Baik penelitian reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko pada
janin maupun penelitian terkendali pada wanita hamil atau hewan coba
tidak memperlihatkan efek merugikan (kecuali penurunan kesuburan)
dimana tidak ada penelitian terkendali yang mengkonfirmasi risiko
pada wanita hamil semester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada
trisemester selanjutnya).
Kemasan
Kapsul 500 mg x 6 x 10's
Penyajian
Dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam sebelum/sesudah makan)
Pabrik
Molex Ayus Pharmaceutical

8. Tamcocin
DESKRIPSI
Lincomycin / Linkomisin HCl.

INDIKASI
Infeksi akibat golongan Staphylococcus, Streptococcus, dan
Pneumococcus Gram negatif yang rentan terhadap Linkomisin.

KEMASAN
Kapsul 500 mg x 100's

DOSIS
Dewasa : 3 kali sehari 500 mg untuk infeksi ringan, 4 kali sehari 500
mg untuk infeksi berat.
Anak-anak : 30-60 mg/kg berat badan/hari dalam 3-4 dosis terbagi.
Dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam sebelum/sesudah
makan)
Dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam sebelum/sesudah makan)

9. Tismamisin
DESKRIPSI
Lincomycin / Linkomisin HCl.

INDIKASI
Infeksi serius akibat golongan Streptococcus, pneumococcus, &
Staphylococcus yang rentan terhadap Linkomisin.
KEMASAN
Kapsul 500 mg x 10 x 10's

DOSIS
Dewasa:
-infeksi ringan : 3 kali sehari 500 mg.
- berat : 4 kali sehari 500 mg.
Anak-anak:
- infeksi ringan : 30 mg/kg berat badan/hari dalam 3-4 dosis terbagi.
- infeksi berat : 60 mg/kg berat badan/hari dalam 3-4 dosis terbagi.
Dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam sebelum/sesudah makan).

10. Lintropsin
Kandungan
Lincomycin / Linkomisin HCl.
Indikasi
Pengobatan infeksi serius yang disebabkan oleh Staphylococcus,
Streptococcus, Pneumococcus.
Kontra Indikasi
Hipersensitif terhadap Linkomisin.
Pasien dengan gangguan fungsi hati, ginjal, endokrin, atau
metabolik, demam rematik.
Bayi dan bayi baru lahir.
Infeksi berat, infeksi yang mengancam jiwa, infeksi bakterial
ringan dan infeksi yang disebabkan oleh virus.
Pasien dengan terapi penghambat neuromuskular.
Menyusui.
Perhatian
Pasien dengan riwayat asma atau reaksi alergika lainnya,
riwayat panyakit lambung-usus terutama kolitis.
Atopik individual.
Hamil, menyusui.
Neonatus (bayi baru lahir sampai dengan usia 4 minggu).
Penyakit berat pada ginjal atau hati.
Lakukan endoskopi usus besar, tes fungsi hati dan ginjal, dan
hitung darah secara teratur pada penggunaan jangka panjang.
Interaksi obat : penghambat neuromuskular, Eritromisin.
Efek Samping
Gangguan lambung-usus, leukopenia, neutropenia, agranulositosis,
trombositopenia, reaksi hipersensitifitas, mulut kering, kelelahan,
penurunan berat badan, superinfeksi (penggunaan jangka panjang).
Indeks Keamanan Pada Wanita Hamil
B: Baik penelitian reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko pada
janin maupun penelitian terkendali pada wanita hamil atau hewan coba
tidak memperlihatkan efek merugikan (kecuali penurunan kesuburan)
dimana tidak ada penelitian terkendali yang mengkonfirmasi risiko
pada wanita hamil semester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada
trisemester selanjutnya).
Kemasan
Kapsul 500 mg x 100's
Dosis
Dewasa : 3 kali sehari 1 kapsul.
Dapat ditingkatkan menjadi 4 kali sehari 1 kapsul.
Anak-anak dan bayi berusia lebih dari 1 bulan : 30 mg/kg berat
badan/hari dalam 3-4 dosis terbagi.
Dapat ditingkatkan sampai 60 mg/kg berat badan/hari dalam
dosis terbagi.
Infeksi yang disebabkan oleh Streptococcus -haemoliticus :
terapi dilanjutkan sampai lebih dari 10 hari.
Penyajian
Dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam sebelum/sesudah makan)
Pabrik
Tropica Mas Pharma

CARA PENYIMPANAN
Simpan di tempat sejuk (15-25C) dan kering.

2.5 PENGERTIAN KUINOLON


Asam Nalidiksat adalah prototip antibiotika golongan Kuinolon lama
yang dipasarkan sekitar tahun 1960. Walaupun obat ini mempunyai daya
antibakteri yang baik terhadap kuman gram negatif, tetapi eliminasinya
melalui urin berlangsung terlalu cepat sehingga sulit dicapai kadar pengobatan
dalam darah. Karena itu penggunaan obat Kuinolon lama ini terbatas sebagai
antiseptik saluran kemih saja.
Pada awal tahun 1980, diperkenalkan golongan Kuinolon baru dengan
atom Fluor pada cincin Kuinolon (karena itu dinamakan juga
Fluorokuinolon). Perubahan struktur ini secara dramatis meningkatkan daya
bakterinya, memperlebar spektrum antibakteri, memperbaiki penyerapannya
di saluran cerna, serta memperpanjang masa kerja obat.
Golongan Kuinolon ini digunakan untuk infeksi sistemik. Yang
termasuk golongan ini antara lain adalah Spirofloksasin, Ofloksasin,
Moksifloksasin, Levofloksasin, Pefloksasin, Norfloksasin, Sparfloksasin,
Lornefloksasin, Flerofloksasin dan Gatifloksasin.
Kuinolon merupakan bakterisida karena menghambat lepasnya untai
DNA yang terbuka pada proses superkoil dengan menghambat DNA girase
(enzim yang menekan DNA bakteri menjadi superkoil).
Golongan kuinolon secara garis besar dapat dibagi menjadi 2
kelompok, yaitu kuinolon dan fluorokuinolon. Kelompok kuinolon tidak
mempunyai manfaat klinik untuk pengobatan peradangan sistemik karena
kadarnya dalam darah terlalu rendah, daya antibakterinya lebih lemah, dan
resistensi cepat timbul. Indikasinya terbatas sebagai antiseptik saluran
kemih. Sedangkan kelompok fluorokuinolon memiliki atom fluor pada
posisi 6 dalam struktur molekulnya. Daya antibiotik fluorokuinolon jauh
lebih kuat dibandingkan kelompok kuinolon lama. Kelompok obat ini
diserap secara baik pada pemberian oral, dan derivatnya tersedia juga dalam
bentuk parenteral yang digunakan untuk penanggulangan peradangan
berat, khususnya yang disebabkan oleh bakteri Gram-negatif, sedangkan
terhadap bakteri Gram-positif daya bakterinya relatif lemah. Yang
termasuk golongan ini adalah siprofloksasin, pefloksasin, levofloksasin, dan
sebagainya.

Mekanisme Kerja
Untuk memasukkan DNA untai ganda yang panjang kedalam sel
bakteri, DNA diatur dalam loop (DNA terrelaksasi) yang kemudian
diperpendek oleh proses superkoil. Sel eukariotik tidak mengandung DNA
girase. Sifat penting dari Kuinolon adalah penetrasinya yang baik ke dalam
jaringan dan sel (bandingkan dengan Penisilin), efektivitasnya bila diberikan
secara oral, dan toksisitasnya relatif rendah. Pada saat perkembangbiakkan
kuman ada yang namanya replikasi dan transkripsi dimana terjadi pemisahan
double helix dari DNA kuman menjadi 2 utas DNA.
Pemisahan ini akan selalu menyebabkan puntiran berlebihan
(Overwinding) pada double helix DNA sebelum titik pisah. Hambatan
mekanik ini dapat diatasi kuman dengan bantuan enzim DNA girase
(topoisomerase II) yang kerjanya menimbulkan negative supercoiling.
Golongan kuinolon menghambat kerja enzim DNA girase pada kuman dan
bersifat bakterisidal.

Efek Samping dan Interaksi Obat


Golongan antibiotika Kuinolon umumnya dapat ditoleransi dengan
baik. Efek sampingnya yang terpenting ialah pada saluran cerna dan susunan
saraf pusat. Manifestasi pada saluran cerna,terutama berupa mual dan hilang
nafsu makan, merupakan efek samping yang paling sering dijumpai. Efek
samping pada susunan syaraf pusat umumnya bersifat ringan berupa sakit
kepala, vertigo, dan insomnia. Efek samping yang lebih berat dari Kuinolon
seperti psikotik, halusinasi, depresi dan kejang jarang terjadi. Penderita
berusia lanjut, khususnya dengan arteriosklerosis atau epilepsi, lebih
cenderung mengalami efek samping ini. Enoksasin menghambat metabolisme
Teofilin dan dapat menyebabkan peningkatan kadar Teofilin. Siprofloksasin
dan beberapa Kuinolon lainnya juga memperlihatkan efek ini walaupun tidak
begitu dramatis.

2.6 INDIKASI KUINOLON


Asam Nalidiksat hanya digunakan sebagai antiseptik saluran Kemih,
sedangkan Flurokuinolon digunakan untuk indikasi yang jauh lebih luas,
antara lain :
Infeksi Saluran Kemih ( ISK )

Flurokuinilon Efektif untuk ISK yang disebabkan oleh kuman-


kuman yang multiresisten dan kuman P. Aeruginosa. Siprofloksasin,
Norfloksasin, dan floksasin dapat mencapai kadar yang cukup tinggi di
jaringan prostat dan dapat diginakan untuk terapi prostatitis bakterial akut
maupun kronis.
Infeksi Saluran Cerna
Flurokuinilon juga Efektif untuk Diare yang disebabkan oleh
shingela, Salmonella, E. Coli, dan Campylobacter, Siploksasin dan
ofloksasin mempunyai efektifi tas yang baik terhadap demam Tifoid.
Infeksi Saluran Nafas ( ISN )

Secara Umum Efektifitas Flurokuinilon ( Siproflaksin, Ofloksasin,


dan enoksasin ) cukup baik untuk bakterial saluran nafas bawah. Tetapi
ada lagi Flurokinolon ( moksifloksasin, Gemifloksasin,dan Levloksasin )
mempunyai daya antibakteri yang cukup baik terhadap kuman Gram-
Positif maupun kuman Gram-Negatif, dan kuman atipik penyebab infeksi
saluran nafas Bawah.
Penyakit yang ditularkan Melalui Hubungan Seksual

Siprofloksasin oral dan levofloksasin oral merupakan obat pilihan


utama untuk pengobatan Uretritis dan Servitis oleh gonokukus.
Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak

Flurokinolon Oral mempunyai efektivitas sebanding dengan


sealosporin parenteral untuk pengobatan infeksi berat pada kulit atau
jaringan lunak.
KONTRA INDIKASI
Hindari pada porfiria dan riwayat kejang;
hindari paparan berlebihan terhadap sinar matahari.
Dapat mempengaruhi hasil uji reduksi urin, hitung jenis sel darah, uji
fungsi hati dan ginjal bila pengobatan lebih dari 2 minggu.
Hindari penggunaan pada defisiensi G6PD, peningkatan tekanan
intrakranial, riwayat konvulsi, paralisis nervus kranialis, kolestasis,
asidosis metabolik.
2.7 OBAT GOLONGAN KUINOLON

Asam Nalidiksat
Asam Nalidiksat adalah kuinolon pertama yang ditemukan memiliki aktivitas
antibakteri, tapi Asam Nalidiksat tidak mencapai kadar antibakteri sistemik
dan sampai saat ini hanya digunakan pada infeksi saluran kemih.

Spirofloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan
Spirofloksasin 250 mg, 500 mg, 750 mg bahkan ada yang 1.000 mg. Juga
tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan Spirofloksasin 200 mg/100 ml.

Ofloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan
Ofloksasin 200 mg dan 500 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan
kandungan Ofloksasin 200 mg/100 ml.

Moksifloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan Moksifloksasin
kandungan 400 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan
Moksifloksasin 400 mg/250 ml.

Levofloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan
Levofloksasin 250 mg dan 500 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan
kandungan Levofloksasin 500 mg/100 ml.

Pefloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan
Pefloksasin 400 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan
Pefloksasin 400 mg/125 ml dan ampul dengan kandungan Pefloksasin 400
mg/5 ml.

Norfloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 400
mg.

Sparfloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 200
mg.

Lornefloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 400
mg.

Flerofloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 400
mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan 400 mg/100 ml.

Gatifloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 400
mg. Juga tersedia dalam bentuk vial untuk ijeksi dengan kandungan 400
mg/40 ml.

DOSIS
1 gram tiap 6 jam selama 7 hari. Untuk infeksi kronis: 500 mg tiap 6 jam.
ANAK diatas 3 bulan, maksimum 50 mg/kg bb/hari dalam dosis terbagi.
Untuk jangka panjang, 30 mg/kg bb/hari. Namun, golongan kuinolon ini tidak
punya manfaat klinik untuk pengobatan infeksi sistemik karena kadarnya
dalam darah terlalu rendah. Selain itu daya bakterinya agak lemah dan
resistensi juga cepat timbul. Indikasi kliniknya terbatas sebagai antiseptic
saluran kemih.

2.8 Spektrum Antibakteri Golongan Kuinolon


Kuinolon yang lama aktif terhadap beberapa kuman gram-negatif,
antara lain E. coli, Proteus, Klebsiella, dan Enterobacter. Kuinolon bekerja
dengan menghambat subunit A dari enzim DNA girase kuman. Akibat nya
replikasi DNA terhenti.
Flurokuinolon lama ( Siproflaksin, Ofoflaksin, Norfloksasin )
mempunyai daya antibakteri yang sangat kuat terhadap E. Coli, Klebsiella,
Enterobacter, Proteus, H. Influenzae, Providencia, Serratia, Salmonelle, N.
Meningitis, n. Gonorrhoeae, B. Catarrhalis dan Yersinia Entericolitia, tetapi
terhadap kuman Gram-Fositif daya antibakterinya kurang baik.
Flurokuinolon Baru ( Moksifloksasin, Levloksasin ) mempunyai daya
antibakteri yang baik terhadap kuman Gram Positif dan kuman Gram-Negatif,
serta kuman atipik ( Mycoplasma, chlamdya ), Uji klinik menunjukan bahwa
flurikuinolon baru ini efektif untuk bakterial bronkitis kronis.

2.9 Resistensi Terhadap Antibiotik Golongan Kuinolon


Mekanisme resistensi melalui plasmid seperti yang banyak terjadi
pada antibiotika lain tidak dijumpai pada golongan kuinolon, namun resistensi
terhadap kuinolon dapat terjadi melalui 3 mekanisme yaitu:
1. mutasi gen gyr A yang menyebabkan subunit A dari DNA girase kuman
berubah sehingga tidak dapat diduduki molekul obat lagi.
2. Perubahan pada permukaan sel kuman yang mempersulit penetrasi obat
kedalam sel.
3. peningkatan mekanisme pemompaan obat luar sel (efflux). Ini merupakan
mekanisme penting yang menyebabkan resistensi S. pneumoniae terhadap
florokuinolon.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
A. Linkomisin
1.Linkomisin umumnya bersifat bakteriostatik tetapi dapat pula bersifat
bakterisid bila digunakan dalam dosis besar atau terhadap bakteri yang
sangat sensitif.
2. Linkomisin diindikasikan untuk mengobati infeksi berat yang disebabkan
oleh Streptococcus,Pneumococcus dan Staphylococcus yang sensitif.
3. Linkomisin efektif terhadap infeksi Staphylococcus yang resistan
terhadap antibiotika lain
4. Hipersensitivitas terhadap Linkomisin.
5. Hati-hatI pemakaian pada penderita dengAn gangguan fungsi hati dan
ginjal.
6. Keamanan pada wanita hamil belum diketahui dengan pasti.
7. Hati-hati pada penderita yang mempunyai nwayat gangguan
gastrointestinal seperti kolitis
8.Tidak diindikasikan untuk neonatus.
9. Hati-hati pemakaian pada penderita asma.

B. Kuinolon
Antibiotik Golongan Kuinolon hanya berindikasi sebagai aniseptik
saluran kemih saja, tetapi pada awal tahun 1980-an telah diperkenalkan
Kuinolon baru dengan atom flour yang disebut dengan Flurokuinolon yang
mempunyai atom flour pada cincin kuinolon, Flurokuinolon ini mempunyai
indikasi yang jauh lebih luas dibandingkan dengan kuinolon, indikasinya
antara lain : Infeksi Saluran Kemih ( ISK ), Infeksi Saluran Cerna, Infeksi
Saluran Nafas ( ISN ), Penyakit yang ditulakan melalui hubungan seksual,
Infeksi tulang dan Sendi, serta Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak.
3.2 SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman
dan pengetahuan kita tentang Antibiotik Lyncomicin dan kuinolon. Kami
selaku penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para
pembaca agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Terima Kasih.
DAFTAR PUSTAKA

Gunawan. G. Sulistia. 2007. Farmakoterapi dan Terapi edisi V. Fakultas Kedokteran,


Jakarta : Universitas Indonesia.

Rohman Abdul, Sudjadi. Drs. 2012. Analisis Farmasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Schmitz, G., Lepper. H & Heidrich. M, 2008. Farmakologi dan Toksikologi Ed. 3.
Jakarta : EGC

Tjay, Hoan T. Drs & Rahardja. K. 2010. Obat-obat Penting Edisi VI. Jakarta : PT.
Elex Media Komputindo