Anda di halaman 1dari 21

TEORI KINETIK GAS IDEAL

MAKALAH
Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok Fisika Statistik




Disusun Oleh :
1. Azhari Munif 4201412012
2. Aneng Dewi Sapuri 4201412039
3. Risnauli Sinurat 4201412070






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014


BAB I
PENDAHULUAN

Setiap cabang khusus fisika mula-mula dipelajari dengan memisahkan
ruang yang terbatas dari lingkungannnya. Bagian yang dipisahkan yang
menjadi pusat perhatian kita disebut sistem, dan segala sesuatu diluar sistem
disebut lingkungan. Bila suatu sistem telah dipilih maka kelakuan sistem atau
antaraksinya dengan lingkungan atau keduanya dinyatakan dalam
kuantitaskuantitas fisis. Pada umumnya terdapat dua pandangan yang dapat
diambil, pandangan makroskopik dan pandangan mikroskopik.
Pemerian makroskopik suatu sistem meliputi perincian beberapa sifat
pokok sistem, atau sifat skala besar dari sistem, yang dapat diukur
berdasarkan atas penerimaan indera kita. Termodinamika adalah contoh
cabang ilmu fisika yang menerapkan pandangan makroskopik. Sedangkan,
pemerian mikroskopik suatu sistem meliputi beberapa ciri khas seperti
adanya pengandaian bahwa sistem terdiri atas sejumlah molekul, dan
kuantitas-kuantitas yang diperinci tidak dapat diukur. Contoh penerapan
pandangan mikroskopik untuk cabang ilmu fisika yaitu dalam fisika statistik.
Bila kedua pandangan itu diterapkan pada sistem yang sama maka keduanya
harus meghasilkan kesimpulan yang sama.
Pada makalah ini akan dibahas tentang anggapan dasar gas ideal, fluks
molekul, tekanan gas, dan prinsip eki partisi energi. Anda telah mengetahui
dan telah mempelajari tentang gas ideal ini pada waktu mengikuti kuliah
termodinamika, baik persamaan keadaannya maupun proses yang dijalaninya.
Namun demikian dalam membahas perkuliahan termodinamika tersebut
belum dibahas secara detail perilaku molekulnya. Pada bahasan topik ini akan
dibahas perilaku molekul gas ideal mulai dari anggapan-anggapan dasar
molekul sampai prinsip eki partisi energinya.
Adapun yang menjadi tujuan instruksional khusus dalam bahasan ini
adalah diharapkan anda mempunyai kemampuan untuk menjelaskan prinsip-
prinsip dasar perilaku molekul gas berdasarkan tekanan, volume, temperatur,
dan energinya.


BAB II
PEMBAHASAN

1.1. Anggapan Dasar.
Untuk mempelajari teori kinetik pada gas ideal, kita perlu memahami
anggapan-anggapan dasar sebagai berikut:
1. Anggapan pertama adalah bahwa setiap elemen volume berisi molekul gas.
Dalam keadaan standart, 6,02 x 10
23
molekul menempati volume sebesar
22,4 x 10
-3
m
3
. Untuk itu 1 mm
3
volume, berisi molekul gas sebanyak =.....
? Oke, untuk menjawab hal ini mari kita telusur sebagai berikut:
Dari 1 m
3
= 1m x 1m x 1m
= 10
3
mm x 10
3
mm x 10
3
mm = 10
9
mm
3
.
Jadi 22,4 x 10
-3
m
3
= 22,4 x 10
6
mm
3
.
Sehingga 1 mm
3
berisi molekul sebanyak
6
23
10 4 , 22
10 02 , 6
x
x
= 0,26875 x 10
17
.

16
10 3x ~ molekul.
Jelaslah sekarang. Untuk itu mari kita pahami anggapan yang kedua.
2. Molekul-molekul terpisah oleh jarak yang lebih besar dibanding dengan
diameter molekul itu sendiri. Ambil misalnya satu molekul menempati
satu kubus kecil dengan tepat. Untuk ini telah diketahui bahwa dalam
keadaan standart, 6,02 x10
23
molekul menempati volme sebesar 22,4 x 10
-
3
m
3
. Sehingga volume kubus tersebut adalah =

molekul m x
molekul x
m x
/ 10 72 , 3
10 02 , 6
10 4 , 22
3 26
23
3 3

=
.
Volume = r x r x r, dimana r = rusuk kubus.
r = m x x Volume
9
3
26 3
10 549 , 1 10 72 , 3

= = .
Rusuk kubus ini direpresentasikan sebagai jarak rata-rata antara molekul.
Diketahui pula bahwa diameter molekul adalah
~
2 x 10
-10
m. Sehingga:
10
10 2
10 549 , 1
.
. .
10
9
~ =

x
x
molekul diameter
molekul antar jarak

Jadi jarak antar molekul = 10 x diameter molekul.
3. Anggapan ke tiga adalah bahwa gaya interaksi antar molekul diabaikan,
kecuali jika molekul tersebut saling bertumbukan. Dengan anggapan yang
ke tiga ini kita dapat menyatakan bahwa jika tidak ada gaya luar, maka
molekul akan bergerak lurus diantara dua tumbukan.
4. Anggapan yang keempat adalah bahwa tumbukan antar molekul dengan
molekul atau antar molekul dengan dinding bersifat lenting sempurna, dan
bagian dinding yang ditumbuk molekul dianggap rata sempurna.
Komponen kecepatan molekul arah tegak lurus permukaan dinding
berubah dengan perubahan total. Lihat gambar 2.1 berikut:


Gambar 1.1: Arah penjalaran gerak molekul
Dengan konvensi arah, kekiri + dan ke kanan - , maka gerak bolak-balik
molekul mengakibatkan perubahan momentum sebesar:
m V cos u - (- mV cos u ) = 2 mV cos u = m (2 V cos u ).
2V cos u = perubahan kecepatan.
5. Anggapan kelima, jika tidak ada pengaruh gaya medan luar, molekul-
molekul terdistribusi merata di seluruh wadah atau bejana. Dengan
anggapan ini, maka kerapatan molekul dapat didefinisikan sebagai
banyaknya molekul persatuan volume. Atau Kerapatan = N/V = konstan.
Sehingga dalam elemen volume dV terdapat dN molekul. Artinya:

V
N
dV
dN
= , Atau: dN =
V
N
dV ... (2.1)

6. Anggapan keenam bahwa, laju gerak molekul meliputi kisaran dari nol
hingga laju cahaya. Dengan anggapan ini tidak akan menimbulkan
kesalahan bila kita mengintegralkan fungsi distribusi peluang untuk laju
dari 0 sampai

.
7. Anggapan ke tujuh adalah bahwa, molekul-molekul bergerak menyebar
kesegala arah dengan peluang yang sama. Untuk menggambarkan
anggapan ini marilah kita ambil penyebaran molekul ini membentuk front
yang menembus permukaan bola seperti yang ditunjukkan gambar 2.2
berikut:


Gambar 1.2: Permukaan bola sebagai penyebaran molekul
dA = (r du ) (r sin u d
|
)
dA = r
2
sin u du d
|
... (2.2)
Jumlah rata-rata titik tembus molekul per satuan luas permukaan bola =
jumlah molekul yang menembus permukaan persatuan luas permukaan
bola, Yaitu =
2
. 4 r
N
t
.

Karena menyebar merata ke seluruh permukaan bola, maka:

2
. 4 r
N
dA
dN
t
=
dN = dA
r
N
2
. 4t
=
2
. 4 r
N
t
r
2
sin u du d| =
. 4t
N
sin u du d| .
Nampak bahwa dN disini merupakan jumlah molekul yang mempunyai
kecepatan dalam arah antara u dan u + du dan antara | dan | + d| .
Sehingga dapat dituliskan hubungan:

t
u|
4
N
dN =
sin u du d| ... (2.3)

t
u|
4
v
v
dN
dN =
sin u du d| ... (2.4)
Deff. Rapat molekul (density) = n
Atau n
Volume
molekul jumlah
V
N .


V
N
V
dN
dn
t
u|
u|
4
1
= =
sin u du d| .

t
u|
4
n
dn =
sin u du d| ... (2.5)
dan
t
u|
4
v
v
dn
dn =
sin u du d|

1.2. Fluks Molekul u
Fluks molekul pada suatu permukaan jumlah total molekul yang
tegak lurus mengenai permukaan persatuan luas persatuan waktu.

dt dA
dN
d
.
= u , fraksi molekulnya =
N
N A

atau u=
t A
N
A A
A
.
.
Perhatikan silinder miring yang berada dalam koordinat bola pada gambar 2.3
berikut:

Gambar 1.3: Silinder miring dalam koordinat bola

Sumbu silider mempunyai arah u
|
, dan panjang silinder = v dt.
Molekul u | yang mengenai permukaan alas dalam selang waktu dt sama
dengan banyaknya molekul v u | dalam silinder.
Ambil dn
V
banyak molekul persatuan volume yang mempunyai laju
antara v dan v + dv.
Dari n =
V
N
, maka : n
vu|
=
V
N
vu|
, dan
d n
vu|
=
V
dN
vu|

= | u u
t
d d dn
v
. . sin
4
1

deff. dn
v
n f(v) dv dan dN
v
N f(v) dv
Sehingga:
d n
vu|
= | u u
t
d d dv v f n . . sin ) ( .
4
1
...
(2.6)
Dari gambar 2.3 nampak bahwa:
Volume silinder miring: dV = dA. v dt cos u .
V =
}}
dA (cos u ) v dt.
Banyaknya molekul v u | dalam silinder adalah:
u| v
N
= n
vu|
. V.
Sehingga
V dn dN
v v
.
u| u|
=

=
}}
dt v dA d d dn
v
. . cos . . . . sin
4
1
u | u u
t


u| v
dN
= dt dA d d dn v
v
.. . . . cos . sin .
4
1
| u u u
t
... (2.7)
Atau t d dA d d dn v N
v v
}}} }
= .. . . . cos . sin .
4
1
| u u u
t
u|
... (2.8)
Fluks molekul v u
|
:

dt dA
dN
d
.
= u ... (2.9)
Berdasarkan persamaan 2.9, maka dapat dituliskan:

dt dA
dN
d
v
v
.
u|
u|
= u

dt dA
dN
d
v
v
.
u|
u|
= u
=
dt dA
dt dA d d dn v
v
.
. . . . cos . sin .
4
1
| u u u
t

= | u u u
t
d d dn v
v
. . cos . sin . .
4
1

= | u u u
t
d d dv v f n v . . cos . sin . ). ( . .
4
1


u| v
du
=
| u u u
t
d d dv v f v n . . cos . sin . ). ( . . .
4
1
... (2.10)

Fluks molekul vu = d
u v
u :
Diperoleh dengan mengintegralkan | dari 0 sampai 2
t
.
t |
t
2
2
0
=
}
d , sehingga:

u v
du = . . cos . sin . ). ( . .
2
1
u u u d dv v f n v ... (2.11)

Fluks molekul v =
v
du :
Diperoleh dengan mengintegralkan u dari 0 sampai t /2 (koordinat silinder)
Yaitu
}
=
2 /
0
2
1
. cos . sin
t
u u u d , sehingga:
dv v f v n d
v
). ( . .
4
1
= u
Untuk itu, maka:
}
= u dv v f v n ). ( .
4
1

u= (1/4) n
> < v
... (2.12)
u= fluks total untuk seluruh laju dan untuk seluruh sudut.


1.3. Tekanan Gas (P
A
F

)
Dalam persamaan gas ideal terdapat beberapa istilah kimia penting, yaitu
massa atom relatif, massa molekul raltif, bilangan Avogadro dan mol. Massa atom
relatif adalah massa satu atom suatu unsur yang dinyatakan sebagai perbandingan
massa satu tom unsur terhadap massa satu atom unsure lain. Massa molekul relatif
adalah jumlah seluruh massa atom relatif dari atom-atom penyusun unsur atau
senyawa tersebut. Mol adalah satuan jumlah atom dalam 12 gram karbon yaitu
sebanyak 6,02 x 10
23
butir. Bilangan 6,02 x 10
23
ini disebut Bilangan Avogadro
(N
A
). Dalam satuan SI N
A
dinyatakan dengan 6,022 x 10
26
molekul/kmol.
Kita ketahui bahwa untuk gas ideal, tumbukan yang terjadi adalah lenting
sempurna. Perhatikan gambar berikut :










Gambar 1.4 bidang koordinat molekul gas

Dari gambar diatas nampak bahwa :
Pada arah Y : Perubahan momentum

Pada arah Z : Perubahan momentum

Perubahan momentum : ||
Perubahan momentum yang dialami diding oleh molekul ( adalah :


Tekanan merupakan gaya per satuan luas :


Maka :


Berdasarkan hubungan : impul = perubahan momentum, maka :
Gaya = perubahan momentum / waktu, dan tekanan = gaya / luas, sehingga,
Tekanan = perubahan momentum persatuan luas persatuan waktu
Untuk jumlah molekul pada area tertentu kita gunakan persamaan 2.7 :


Dengan dn
v
n f(v) dv, maka banyaknya molekul ( u| v ) dalam waktu dt
menumbuk dinding seluas dA:

...(2.13)
Tekanan yang dialami dinding yang didalamnya ada banyak molekul adalah :

[ ]

...(2.14)

Persamaan Keadaan Gas Ideal:
Dari persamaan diatas diperoleh
P


P V


nRT

= Nkt

...(2.15)

disebut rata-rata energy kinetik tranlasi sebuah molekul



1.4. Prinsip ekipartisi energi
Merupakan suatu prinsip pemecahan masalah energi yang dimiliki oleh
molekul berdasarkan derajad kebebasan atom-atomnya untuk bertranslasi,
berotasi, dan bervibrasi.
Pada Translasi:

k v j v i v v
z y x


+ + =


dan > <
2
v =
> < + > < + > <
2 2 2
z y x
v v v


> < >= >=< >=< <
2 2 2 2
3
1
v v v v
z y x

atau
> <
2
v
=
> <
2
3
x
v

=
> <
2
3
y
v

=
> <
2
3
z
v

Dari persamaan 2.15:
kT v m
2
3
2
1
2
>= < ,
Berarti:

kT v m
kT v m
kT v m
atau
kT v m v m v m
z
y
x
z y x
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
3
3
2
1
3
2
1
3
2
1
2
2
2
2 2 2
>= <
>= <
>= <
>= < >= < >= <

Jadi dapat dituliskan:
>= <
2
2
1
x
v m
>= <
2
2
1
y
v m

>= <
2
2
1
z
v m

kT
2
1
... (2.16)
Sehingga dapat dinyatakan bahwa dalam translasi terdapat 3 derajad
kebebasan yaitu arah X, arah Y dan arah Z. Untuk rotasi dan vibrasi
tergantung jenis molekulnya, apakah monoatomik, dwiatomik atau poliatomik.
Sebagai contoh ambil molekul yang dwiatomik.
Perhatikan gambar 4 berikut:

Gambar 1.5: Molekul dwiatom

Rotasi bisa terjadi pada sumbu X, Y, Z, namun energi kinetik rotasinya hanya
pada rotasi sumbu X dan Y saja. Untuk rotasi terhadap sumbu Z diabaikan,
sebab momen innersianya nol.
Energi kinetik rotasi:
kT I I
Y Y X X
2
1
2
1
2
1
2 2
= = e e
Pada vibrasi ada dua energi, yaitu energi kinetik vibrasi dan energi potensial
vibrasi. Energi kinetik vibrasi dalam hal ini adalah:
kT mf
Z
2
1
2
1
2
= ,
dengan
Z
f
= kecepatan vibrasi arah Z.
Energi potensial vibrasi: kT kZ
2
1
2
1
2
=
Jadi energi yang terjadi adalah: E = E
translasi
+ E
rotasi
+ E
potensial vibrasi
+ E
vibrasi

Atau E = kT kT kT kT kT
2
7
2
1
2
1
2
2
2
3
= + + + ... (2.17)
Dapat dikatakan bahwa untuk molekul dwiatomik terdapat 7 derajad
kebebasan.

Energi Dalam (U):
U =
NkT
f
2
dengan N = n N
A
U =
nRT
f
2
, dengan
f
= derajad kebebasan.
Untuk molekul monoatomik, terdapat 3 derajad kebebasan, sehingga:

nRT NkT U
2
3
2
3
= =
... (2.18)
Specific Internal Energy permol:

= =
n
U
u kT N
f
RT
f
kT
n
N f
A
2 2 2
= = ... (2.19)
Kalor jenis =
m
C
c = ,
dengan C = Kapasitas Kalor.
Kalor jenis molar =
n
C
c =
*

Pada volume tetap:
nR
f
Nk
f
T
U
C
V
V
2 2
= =
(

c
c
=
... (2.20)
Kalor jenis:
R
f
k N
f
k
n
N f
T
u
c
A
V
V
2 2 2
= = =
(

c
c
=
... (2.21)
Telah diketahui bahwa:
R c c
V P
+ =

= R
f
R R
f
|
.
|

\
| +
= +
2
2
2

dan
f f
f
R
f
R
f
c
c
V
P
2
1
2
2
2
2
+ =
+
=
|
.
|

\
|
|
.
|

\
| +
= =
... (2.22)
Rumus-rumus definisi:

dv v f n dn
v
). ( . =


dv v f N dN
v
). ( . =

dE E f N dN
E
). ( . =

dp p f N dN
p
). ( . =


}

>= <
0
). ( . dv v f v v


}

>= <
0
2 2
). ( . dv v f v v

Laju yang paling mungkin: 0
) (
=
c
c
v
v f

Fraksi atom :
N
N A


> < =
2
v v
rms

| u u d d dv v dv dv dv
z y x
. . sin .
2
}}} }}}
=
| u u d d dp p dp dp dp
z y x
. . sin .
2
}}} }}}
=


1.5. Kapasitas panas gas

Pengertian Kapasitas Kalor Gas
Kapasitas kalor (C) suatu zat menyatakan "banyaknya kalor Q yang
diperlukan untuk menaikkan suhu zat sebesar 1 kelvin". Pernyataan ini dapat
dituliskan secara matematis sebagai
C = Q/T atau Q = CT
keterangan:
C= Kapasitas Kalor
Q = Qalor
T = Kenaikan Suhu
Kapasitas gas kalor adalah kalor yang diberikan kepada gas untuk
menaikan suhunya dapat dilakukan pada tekanan tetap (proses isobarik) atau
volum tetap (proses isokhorik). Karena itu, ada dua jenis kapasitas gas kalor
yaitu:
1. Kapasitas kalor gas pada tekanan tetap
2. Kapasitas kalor pada volum tetap.

Uraikan Konsep Kapasitas kalor Gas
Kapasitas kalor gas diperoleh dari fungsi empirik temperatur, dan
biasanya dalam bentuk yang sama. Kapasitas kalor gas sangat dipengaruhi
oleh tekanan, namun pengaruh tekanan pada sifat termodinamika tidak
digunakan dalam. Karena gas pada tekanan rendah biasanya mendekati ideal,
kapasitas kalor gas ideal bisa digunakan untuk hampir semua perhitungan gas
real pada tekanan atmosfir.

1. kapasitas kalor gas pada tekanan tetap (C
p
)
Kapasitas kalor gas adalah kalor yang diperlukan untuk menaikan suhu suatu
zat satu Kelvin pada tekanan tetap. tekanan system dijaga selalu konstan.
Karena yang konstan adalah tekanan, maka perubahan energi dalam, kalor,
dan kerja pada proses ini tidak ada yang bernilai nol.
Maka secara matematis :
Cp = Q/T = ((5/2PV)/(T)) = ((5/2nRV)/(T)
Cp = 5/2nR
2. Kapasitas kalor gas pada volum tetap (C
v
)
Kapasitas kalor pada volum tetap artinya kalor yang diperlukan untuk
menaikan suhu suatu zat satu kelvin pada volum tetap. Artinya kalor yang
diberikan dijaga selalu konstan.
Karena volume system selalu konstan, maka system tidak bisa melakukan
kerja pada lingkungan. Demikian juga sebaliknya, lingkungan tidak bisa
melakukan kerja pada system. Jadi kalor yang ditambahkan pada system
digunakan untuk menaikan energi dalam sistem.
Maka secara matematis :
Cv = Q/T = (3/2nRT)/T
Cv = 3/2nR
Berdasarkan persamaan di atas dapat diperoleh bahwa:
Cp Cv = 5/2nR 3/2nR
Cp Cv = nR
Kapasitas yang diperoleh pada persamaan tersebut adalah untuk gas
monoatomik. Sedangkan untuk gas diatomik dan poliatomik tergantung pada
derajat kebebasan gas. Dapat digunakan pembagian suhu sebagai berikut:
- Pada suhu rendah ( 250 K): Cv = 3/2nR dan Cp = 5/2nR
- Pada suhu sedang ( 500 K): Cv = 5/2nR dan Cp = 7/2nR
- Pada suhu tinggi ( 1000 K): Cv = 7/2nR dan Cp = 9/2nR
Oleh karena itu, konstanta Laplace dapat dihitung secara teoretis sesuai
persamaan sebagai berikut:
- Gas monoatomik: = Cp/Cv = ((5/2nR)/(3/2nR)) = 5/3 = 1,67
- Gas diatomik pada suhu kamar: = Cp/Cv = ((7/2nR)/(5/2nR)) = 7/5 = 1,4
Dengan memasukan nilai Q
p
danQ
c
sertqa W diperoleh :
C
p
T C
v
T =
p
V
(C
p
C
v
) =
p
V
C
p
C
v
=
p
V / T
Akhirnya kita mendapatkan rumus lengkap usaha yang dilakukan oleh gas
seperti dibawah ini :
W = pV = p (V
2
- V
1
)
W = nRV = nR(T
2
- T
1
)
W = Q
p
- Q
v =
(C
p
Cv)T

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Terdapat tujuh anggapan dalam pembahasan fisika statistik :
Anggapan pertama adalah bahwa setiap elemen volume berisi molekul gas
Molekul-molekul terpisah oleh jarak yang lebih besar dibanding dengan
diameter molekul itu sendiri.
Anggapan ke tiga adalah bahwa gaya interaksi antar molekul diabaikan,
kecuali jika molekul tersebut saling bertumbukan.
Anggapan yang keempat adalah bahwa tumbukan antar molekul dengan
molekul atau antar molekul dengan dinding bersifat lenting sempurna, dan
bagian dinding yang ditumbuk molekul dianggap rata sempurna.
Anggapan kelima, jika tidak ada pengaruh gaya medan luar, molekul-
molekul terdistribusi merata di seluruh wadah atau bejana.
Anggapan keenam bahwa, laju gerak molekul meliputi kisaran dari nol
hingga laju cahaya.
Anggapan ke tujuh adalah bahwa, molekul-molekul bergerak menyebar
kesegala arah dengan peluang yang sama.
Terdapat Teori tekanan gas ideal secara tidak sengaja telah memberikan
interpretasi molekuler tentang konsep suhu mutlak yang ternyata berbanding lurus
dengan kecepatan kuadrat rata-rata.
Rumus lengkap usaha yang dilakukan oleh gas seperti dibawah ini :
W = pV = p (V
2
- V
1
)
W = nRV = nR(T
2
- T
1
)
W = Q
p
- Q
v =
(C
p
Cv)T


DAFTAR PUSTAKA

Mirwan, Fisika Statistik.2007.Bandung : ITB. H: 12 - 23
Siti Nurul Khotimah, Fisika Statistik. Bandung : ITB, 1999. H: 9 17.

Fw Sears and Salinger, Thermodynamics, Kinetic Theory and Statistical
Thermodynamics. Addison Wesley, 1986. H: 250 271.

Zemansky M.W, dan R.H Dittman. 1986.Kalor dan Termodinamika. Alih Bhasa:
The Houw Liong.Penerbit ITB Bandung. H: 137 143.