Anda di halaman 1dari 23

Disusun Oleh :

1. Misto NIM. 43110120163


2. Sely Enggar R NIM. 43112110244
3. Johanes Hervindo NIM. 43111110193
4. Teta NIM. 43112120365
5. Harry NIM. 43112120436

Dosen Mata Kuliah :
Bpk. Moch. Soelton Ibrahem







Halaman
DAFTAR ISI


MAKALAH MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
TOPIK
PERENCANAAN KARYAWAN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2014


DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... xv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .............................................................. 5

1.3 Tujuan Penulisan Makalah ................................................. 6


BAB II PEMBAHASAN

2.1 Persediaan ................................................... ........................... 9

2.1.1 Definisi Persediaan ................................................... 9

2.1.2 Economic Order Quantity ......................................... 21
1




KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah Yang Maha Esa atas kuasa
dan rahmatNya sehingga penyusunan makalah ini dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Kami juga berterimakasih kepada Bapak Yuhasril selaku dosen untuk mata kuliah
Manajemen Sumber Daya Manusia sehingga dengan bimbingannya selama ini dapat
membantu kami dalam penyusunan makalah ini.
Pada kesempatan kali ini kami berkesempatan untuk mengangkat topik
Pengadaan Karyawan. Makalah ini berusaha untuk menjelaskan apa bagaimana
manajemen persediaan barang yang ada di perusahaan baik perusahaan dagang,
manufaktur, maupun jasa.. Demikian pengantar yang dapat kami sampaikan, kami
mengakui bahwa makalah ini masih banyak memiliki keterbatasan dan kelemahan dalam
isi, cara-cara pengutipan para ahli, dan sebagainya. Oleh sebab itu, kritik dan saran dari
semua kalangan yang menaruh minat pada makalah ini khususnya kepada pembimbing
yang telah membantu kami dan teman-teman sangatlah kami harapkan. Selain itu,
masukan dan sumbang saran dari semua pihak sangat berarti bagi perbaikan-perbaikan
berikutnya. Semoga makalah ini dapat berguna bagi semua pihak.


Terima kasih.












2

BAB I
PENDAHULUAN


1. Latar Belakang
Kepuasan pelanggan dapat diraih dengan cara menjual barang dengan kualitas
yang baik, harga yang terjangkau dan dengan pengadaan barang yang tepat waktu.
Untuk dapat mencapai hal tersebut perlu didukung dengan perencanaan bahan baku
yang baik. Perencanaan persediaan bahan baku merupakan hal yang penting pada suatu
proses produksi, terutama dalam industri manufaktur. Apabila persediaan bahan baku
tidak tersedia dengan baik sesuai dengan rencana atau kebutuhan ,maka akan
menghambat proses produksi.
Setiap perusahaan, apakah perusahaan itu perusahaan perdagangan ataupun
perusahaan pabrik serta perusahaan jasa selalu mengadakan persediaan. Tanpa adanya
persediaan, para pengusaha akan dihadapkan pada resiko bahwa perusahaannya pada
suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan pelanggan yang memerlukan atau
meminta barang/jasa. Persediaan diadakan apabila keuntungan yang diharapkan dari
persediaan tersebut hendaknya lebih besar daripada biaya-biaya yang ditimbulkannya.
Persediaan bahan baku yang melebihi kebutuhan akan menimbulkan biaya ekstra atau
biaya simpan yang tinggi. Sedangkan jumlah persediaan yang terlalu sedikit
malah akan menimbulkan biaya kerugian yaitu terganggunya proses produksi dan
juga berakibat hilangnya kesempatan untuk memperoleh keuntungan apabila ternyata
permintaan pada kondisi yang sebenarnya melebihi permintaan yang diperkirakan.
Persediaan merupakan salah satu aset yang paling mahal dan penting pada
sebuah perusahaan baik perusahaan jasa maupun perusahaan dagang. Perusahaan
harus focus terhadap pengendalian persediaan karena persediaan merupakan salah
satu bagian yang menyerap investasi terbesar. Nilai invesatasi perusahaan dalam
bentuk barang persediaan besarnya bervariasi antara 25%-35% dari nilai seluruh aset
(Indrajit dan Djokopranoto, 2003) dalam (Henmaidi dan Suci Hidayati). Perusahaan
harus bisa mencapai titik balance (seimbang) antara investasi persediaan dan tingkat
pelayanan konsumen. Manajemen persediaan merupakan hal yang mendasar dalam
penetapan keunggulan kompetatif jangka panjang.
Dalam upaya mencapai target yang diharapkan, diperlukan adanya
persediaan bahan baku yang optimal sehingga tidak menggangu kelancaran proses
3

produksi yang berlangsung. Adanya penanganan yang tepat terhadap persediaan
bahan baku sangat diperlukan untuk mengantisipasi keadaan apabila permintaan
pasar tiba tiba pada suatu periode tertentu. Dengan demikian produk dapat
dioptimalkan serta biaya biaya yang terkait didalamnya ditekan se-efisien
mungkin. Maka dari itu diperlukan Manajemen persediaan merupakan hal yang
mendasar dalam penetapan keunggulan kompetatif jangka panjang.

2. Perumusan Masalah
Dalam rangka untuk mempertajam telaah makalah ini, diambil beberapa
permasalahan yaitu :
1. Apa yang dimaksud Persediaan ?
2. Apa saja metoda/ sistem yang digunakan dalam manajemen persediaan ?

3. Tujuan Penulisan Makalah
Makalah ini bertujuan untuk memberikan wawasan mengenai berbagai macam
metoda / sistem persediaan yang berlaku saat ini serta untuk memberikan pengetahuan
cara penerapannya di perusahaan dan solusi apa saja yang dapat digunakan dalam
pengambilan keputusan.
hal | 4

BAB II
MATERI

1. Pengertian Persediaan
Manajemen persediaan yang baik merupakan hal yang sangat penting bagi
suatu perusahaan. Pada satu sisi, pengurangan biaya persediaan dengan cara
menurunkan tingkat persediaan dapat dilakukan perusahaan, tetapi pada sisi lainnya,
konsumen akan tidak puas apabila suatu produk stocknya habis. Oleh karena itu
keseimbangan antara investasi persediaan dan tingkat pelayanan kepada konsumen
harus dapat dicapai ( Zulian Yamit, 2005).
Pendapat Warren, reeve, Fess (2005:440) mengatakan persediaan adalah barang
dagang yang disimpan untuk dijual dalam operasi bisnis perusahan, dan bahan yang
digunakan dalam proses produksi atau disimpan untuk tujuan itu. Persediaan yang
diperoleh perusahaan langsung dijual kembali tanpa mengalami proses produksi
selanjutnya disebut persediaan barang dagang. Menurut Freddy Rangkuti (2004, p1),
persediaan adalah sebagai berikut. Persediaan merupakan bahan-bahan, bagian yang
disediakan, dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk
proses produksi, serta barang- barang jadi atau produk yang disediakan untuk
memenuhi permintaan dari konsumen atau pelanggan setiap waktu.
Jadi dapat disimpulkan bahwa persediaan adalah bahan-bahan, bagian yang
disediakan, dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses
produksi, serta barang-barang jadi atau produk yang disediakan untuk memenuhi
permintaan dari konsumen atau pelanggan setiap waktu yang disimpan dan dirawat
menurut aturan tertentu dalam tempat persediaan agar selalu dalam keadaan siap pakai
dan dicatat dalam bentuk buku perusahaan.

2. JENIS-JENIS PERSEDIAAN FISIK
Persediaan yang ada di perusahaan biasanya 5 terdiri dari tipe yaitu :
Persediaan bahan mentah
Persediaan komponen-komponen rakitan, bahan pembantu atau penolong
Persediaan barang setengah jadi
Persediaan barang jadi
Persediaan bahan penolong

hal | 5


a. Persediaan Bahan Mentah yang telah dibeli, tetapi belum diproses. Pendekatan
yang lebih banyak diterapkan adalah dengan menghapus variabilitas pemasok
dalam mutu, jumlah atau waktu pengiriman sehingga tidak perlu pemisahan.
b. Persediaan Barang Dalam Proses yang telah mengalami beberapa perubahan
tetapi belum selesai. Persediaan ini ada karena untuk membuat produk diperlukan
waktu yang disebut waktu siklus. Pengurangan waktu siklus menyebabkan
persediaan ini berkurang.
c. Persediaan MRO merupakan persediaan yang dikhususkan untuk perlengkapan
pemeliharaan, perbaikan, operasi. Persediaan ini ada karena kebutuhan akan
adanya pemeliharaan dan perbaikan dari beberapa peralatan yang tidak diketahui.
Sehingga persediaan ini merupakan fungsi jadwal pemeliharaan dan perbaikan.
d. Persediaan Barang Jadi, termasuk dalam persediaan karena permintaan
konsumen untuk jangka waktu tertentu mungkin tidak diketahui.

Istilah persediaan adalah suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu
atau sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap
pemenuhan permintaan.
Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian
yang memonitor tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi,
dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan. Sistem ini bertujuan menetapkan
dan menjamin tersedianya sumber daya yang tepat dan pada waktu yang tepat.

3. FUNGSI-FUNGSI PERSEDIAAN
Persediaan mempunyai beberapa fungsi penting yang menambah fleksibilitas
dari operasi suatu perusahaan, antara lain :
a. Fungsi Decoupling
Fungsi penting Persediaan adalah memungkinkan operasi-operasi
perusahaan internal dan eksternal mempunyai "kebebasan" (independence).
Persediaan "decouples" ini memungkinkan perusahaan dapat
memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier. Persediaan bahan
mentah diadakan agar perusahaan tidak akan sepenuhnya tergantung pada
pengadaannya dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman. Persediaan barang
dalam proses diadakan agar departemen-departemen dan proses-proses individual
hal | 6

perusahaan terjaga "kebebasan"-nya. Persediaan barang jadi diperlukan untuk
memenuhi permintaan produk yang tidak pasti dari para langganan. Persediaan
yang diadakan untuk menghada pi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat
diperkirakan atau diramalkan disebut fluctuation stock.

b. Fungsi "Economic Lot Sizing"
Melalui penyimpanan persediaan, perusahaan dapat memproduksi dan
membeli sumber daya-sumber daya dalam kuantitas yang dapat mengurangi biaya-
biaya per unit. Persediaan "lot-size"ini perlu mempertimbangkan
"penghematan- penghematan" (potongan pembelian, biaya pengangkutan per unit lebih
murah dan sebagainya) karena perusahaan melakukan pembelian dalam kuanti tas
yang lebih besar, dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul karena besarnya
persediaan (biaya sewa gudang, investasi, risiko, dan sebagainya).

c. Fungsi Antisipasi
Sering perusahaan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan
dan diramalkan berdasar pengalaman atau data-data masa lalu, yaitu
permintaan musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan
musiman (seasonal inventories) .
Di samping itu, perusahaan juga sering menghadapi ketidakpastian jangka
waktu pengiriman dan permintaan akan barang-barang selama periode
pemesanan kembali, sehingga memerlukan kuantitas persediaan ekstra yang sering
disebut persediaan pengaman (safety inventories). Pada kenyataannya, persediaan
penga- man merupakan pelengkap fungsi "decoupling" yang telah diuraikan di
atas. Persediaan antisipasi ini penting agar kelancaran proses produksi tidak terganggu.

Fungsi lain dari adanya persediaan adalah :
a. Untuk memberikan stock agar dapat memenuhi permintaan yang diantisipasi akan
terjadi.
b. Untuk menyeimbangkan produksi dengan distribusi.
c. Untuk memperoleh keuntungan dari potongan kuantitas, karena membeli dalam
jumlah banyak biasanya ada diskon.
d. Untuk hedging terhadap inflasi dan perubahan harga.
e. Untuk menghindari kekurangan stok yang dapat terjadi karena cuaca, kekurangan
hal | 7

pasokan, mutu, ketidaktepatan pengiriman.
f. Untuk menjaga kelangsungan operasi dengan cara persediaan dalam proses

4. BIAYA-BIAYA PERSEDIAAN
Dalam pembuatan setiap keputusan yang akan mempengaruhi besarnya
(jumlah)persediaan, biaya-biaya variabel berikut ini harus dipertimbangkan. Biaya
penyimpanan. Biaya penyimpanan (holding costs atau carrying costs) terdiri atas
biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya
penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang
dipesan semakin banyak, atau rata-rata persediaan semakin tinggi. Biaya- biaya
yang termasuk sebagai biaya penyimpanan adalah :

1. Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk, penerangan, pemanas atau
pendingin).
2. Biaya modal (opportunity cost of capital, yaitu alternatif pendapatan atas
dana yang diinvestasikan dalam persediaan).
3. Biaya keusangan.
4. Biaya penghitungan phisik dan konsiliasi laporan.
5. Biaya asuransi persediaan.
6. Biaya pajak persediaan.
7. Biaya pencurian, pengrusakan, atau perampokan.
8. Biaya penanganan persediaan; dan sebagainya.

Biaya-biaya ini adalah variabel bila bervariasi dengan tingkat persediaan. Bila
biaya fasilitas penyimpanan (gudang) tidak variabel, tetapi teta p; maka tidak
dimasukkan dalam biaya penyimpanan per unit. Biaya penyimpanan persediaan
biasanya berkisar antara 12 sampai 40 persen dari biaya atau harga barang. Untuk
perusahaanperusahaan manufacturing. biasanya biaya penyimpanan rata-rata secara
konsisten sekitar 25 persen.
Biaya pemesanan (pembelian). Setiap kali suatu bahan dipesan, perusahaan
menanggung biaya pemesanan (order costs atau procurement costs). Biaya-biaya
pemesanan secara terperinci meliputi.
1. Pemrosesan pesanan dan biaya ekspedisi.
2. Upah.
hal | 8

3. Biaya telephone.
4. Pengeluaran surat menyurat .
5. Biaya pengepakan dan penimbangan.
6. Biaya pemeriksaan (inspeksi) penerimaan .
7. Biaya pengiriman ke gudang.
8. Biaya hutang lancar; dan sebagainya.

Secara normal, biaya per pesanan ( di luar biaya bahan dan potongan
kuantitas ) tidak naik bila, kuantitas pesanan bertambah besar. Tetapi, bila
semakin banyak komponen yang di pesan setiap kali pesan, jumlah pesanan per
periode turun, maka biaya pemesanan total akan turun. Ini berarti, biaya pemesanan
total per pe- riode (tahunan) adalah sama dengan jumlah pesanan yang
dilakukan setiap periode dikalikan biaya yang harus dikeluarkan setiap kali pesan.
o Biaya penyiapan (manufacturing).
Bila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi diproduksi sendiri "dalam pabrik",
perusahaan menghadapi biaya penyiapan (setup costs) untuk memproduksi
komponen tertentu. Biaya-biaya ini terdiri dari :
1. Biaya mesin-mesin menganggur
2. Biaya persiapan tenaga kerja langsung
3. Biaya scheduling
4. Biaya ekspedisi, dan sebagainya.

Seperti biaya pemesanan, biaya penyiapan total per periode adalah sama
dengan biaya penyiapan dikalikan jumlah penyiapan per periode.
o Biaya kehabisan atau kekurangan bahan.
Dari semua biaya-biaya yang berhubungan dengan tingkat persediaan,
biaya keku rangan bahan (shortage costs) adalah yang paling sulit
diperkirakan. Biaya ini timbul bilamana persediaan tidak mencukupi adanya
permintaan bahan. Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan bahan
adalah sebagai berikut :

1. Kehilangan penjualan
2. Kehilangan pelanggan
3. Biaya pemesanan khusus
hal | 9

4. Biaya ekspedisi
5. Selisih harga
6. Terganggunya operasi
7. Tambahan pengeluaran kegiatan menajerial, dan sebagain ya

Biaya kekurangan bahan sulit diukur dalam praktek, teruta ma karena
kenyataan bahwa biaya ini sering merupakan opportunity costs, yang sulit
diperkirakan secara obyektif.

o Biaya Variabel dari persediaan tersebut dapat digolongkan kedalam :
a. Procurement atau Ordering Cost
Ordering cost adalah biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan frekuensi
pesanan, yang terdiri dari :
(1) Biaya selama proses pesanan
a. Persiapan-persiapan yang diperlukan untuk pemesanan
b. Penentuan besarnya kuantitas yang akan dipesan
(2) Biaya pengiriman pesanan
(3) Biaya penerimaan barang yang dipesan
a. Pembongkaran dan pemasukan ke gudang
b. Pemeriksaan material yang diterima
c. Mempersiapkan laporan penerimaan
d. Mencatat kedalam Material Record Card
(4) Biaya-biaya processing pembayaran
a. Auditing dan perbandingan antara laporan penerimaan dengan pesanan yang
asli
b. Persiapan pembuatan cheque untuk pembayaran
c. Pengiriman cheque dan kemudian auditnya.

b. Carrying Cost
Carrying cost adalah biaya yang berubah-ubah sesuai dengan besarnya persediaan.
Penentuan besarnya carrying cost didasarkan pada Average Inventory (persediaan rata-
rata), dan biaya ini dinyatakan dalam persentase dari nilai dalam rupiah dari average
inventory. Biaya-biaya yang termasuk kedalam carrying cost adalah :
(1) Biaya penggunaan/sewa ruangan gudang
hal | 10

(2) Biaya pemeliharaan material dan allowances untuk kemungkinan rusak
(3) Biaya untuk menghitung atau menimbang barang yang dibeli
(4) Biaya asuransi
(5) Biaya modal
(6) Biaya absolescence
(7) Pajak dari persediaan yang ada dalam gudang

5. Model / Sistem Pengendalian Persediaan
Dalam keyataannya banyak sekali mdel-model persediaan, Namun umunya yang
digunakan yaitu diantaranya sebagai berikut :
a. MODEL ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ)

Metoda manajemen persediaan yang paling terkenal adalah
model-model economic order quantity (EOQ) atau economic lot size (ELS). Metode
ini pertama kali dicetuskan oleh Ford Harris pada tahun 1915, tetapi lebih dikenal dengan
nama metode Wilson karena dikembangkan oleh Wilson pada tahun 1934. Metode ini
digunakan untuk menghitung minimasi total biaya persediaan berdasarkan persamaan
tingkat atau titik equilibrium kurva biaya simpan dan biaya pesan Metoda -metoda ini
dapat digunakan baik untuk barang-barang yang dibeli maupun yang diproduksi
sendiri. Model EOQ adalah nama yang biasa digunakan uniuk barang-barang
yang dibeli, sedangkan ELS digunakan untuk barang -barang yang diproduksi
secara internal. Perbedaan pokoknya adalah bahwa, untuk ELS,
biaya pemesanan (ordering cost) meliputi biaya penyiap an pesanan untuk
dikirimkan ke pabrik dan biaya penyiapan mesin-mesin (setup costs) yang
diperlukan untuk mengerjakan pesanan. Dalam hal ini akan digunakan istilah EOQ
yang mencakup pengertian keduanya EOQ dan ELS.
Dalam teori, konsep EOQ (kadang -kadang disebut model fixed-order-
quantity) adalah sederhana. Model EOQ digunakan untuk menentukan kuantitas
pesanan persediaan yang meminimumkan biaya langsung penyimpanan
persediaan dan kebalikannya biaya pemesanan persediaan.
Model persediaan yang paling sederhana ini memakai asumsi-asumsi sebagai berikut :
Hanya satu item barang (produk) yang diperhitungkan.
hal | 11

Kebutuhan (permintaan) setiap periode diketahui (tertentu).
Barang yang dipesan diasumsikan dapat segera tersedia (instaneously) atau
tingkat produksi (production rate) barang yang dipesan berlimpah ( tak
terhingga )
Ancang-ancang (lead time) bersifat konstan.
Setiap pesanan diterima dalam sekali pengiriman dan langsung dapat digunakan.
Tidak ada pesanan ulang (back order) karena kehabisan persediaan (shortage).
Tidak ada diskon untuk jumlah pembelian yang banyak (quantity discount).
Dari asumsi-asumsi diatas, model ini mungkin diaplikasikan baik pada system manufaktur
sperti penentuan persediaan bahan baku dan pada sistem non manufaktur seperti pada
penentuan jumlah bola lampu pada suatu bangunan; penggunaan perlengkapan habis pakai
(office suppliesi) seperti kertas, buku nota dan pensil ; konsumsi bahan-bahan makanan
sperti beras, jagung dan lain-lain. Tujuan model ini adalah untuk menentukan jumlah
ekonomis setiap kali pemesanan (EOQ) sehingga meminimasi biaya total persediaan
dimana :
Biaya Total persediaan = Ordering Cost + Holding Cost + Purchasing Cost
Berikut Rumus yang digunakan :
Q =


Parameter-parameter yang dipakai dalam metode ini dalah :
D = jumlah kebutuhan barang selama satu periode (misalnya: 1 tahun)

= ordering cost ( biaya pesan) setiap kali pesan

= Carrying cost (biaya simpan) setiap kali pesan.







hal | 12

Secara grafis, model dasar persediaan ini dapat digambarkan sebagai berikut :










Gambar 1.1. Model dasar persediaan EOQ
Gambar 1.1 diatas dapat membantu kita memahami pembentukan model
matematisnya.Sejumlah Q unit barang dipesan secara periodic. Order point merupakansaat
siklus persediaan (inventory cycle) yang baru dimulai dan yang lama berakhir, karena
pesanan diterima. Setiap siklus persediaan berlangsung selama siklus waktu t, artinya
setiap t hari (atau mingguan, bulanan dsb) dilakukan pemesanan kembali. Lamanya t sama
dengan proporsi kebutuhan satu periode (D) yang dapat dipenuhi oleh Q, sehingga dapat
ditulis t = Q/D. Gradien negatif Dt (-Dt) dapat dipakai untuk menunjukkan jumlah
persediaan dari waktu ke waktu. Karena barang yang dipesan diasumsikan dapat segera
tersedia (instaneously), maka setiap siklus persediaan dapat dilukiskan dalam bentuk
segitiga dengan alas t dan tinggi Q.




T
i
n
g
k
a
t


P
e
r
s
e
d
i
a
a
n

D
Q
t
Titik saat pesanan diterima (order point)
Rata-rata
persediaan =
Q/2
Waktu (t)
hal | 13

Biaya
Total biaya = ( Q/2 ) C + ( S
Biaya penyimpanan
= [Q / 2 ] C



Biaya pemesanan = [ S / Q ] O
EOQ Ukuran pemesanan (unit)

Maka, total biaya persediaan: TC=Co. D/Q + Q/2.Cc + Ss, dimana Ss adalah Safety
Stock.
a.1. Reorder Point
Reorder point (ROP) yaitu, batas/titik jumlah pemesanan kembali. ROP berguna
untuk mengetahui kapan suatu perusahaan mengadakan pemesanan. Terjadi apabila
jumlah persediaan yang terdapat dalam stock berkurang terus sehingga harus ditentukan
berapa banyak batas minimal tingkat persediaan yang harus dipertimbangkan sehingga
tidak terjadi kekurangan persediaan.
Jumlah yang diharapkan tersebut dihitung selama masa tenggang, ditambah
dengan persediaan pengaman (safety stock) yang biasanya mengacu kepada probabilitas
atau kemungkinan terjadinya kekurangan stok selama masa tenggang (lead time). Untuk
tingkat pelayanan dari siklus pemesanan, semakin besar tingkat permintaan atau masa
tenggang menyebabkan jumlah safety stock harus lebih banyak sehingga dapat
memenuhi tingkat pelayanan yang diinginkan.
Berikut rumusnya : ROP = d x Lt
Dimana : d = jumlah permintaan per hari
Lt= Lead time

hal | 14

a.2 Safety Stock
Safety stock adaalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi
atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan. (Assaury,sofjan;2000).
Semakin besar persediaan keamanan, tentu saja semakin kecil kemungkinan
perusahaan kehabisan persediaan. Sebaliknya biaya simpan tambahan akan
semakin besar dengan semakin bertambahnya persediaan keamanan ini. Dengan
demikian secara konsepsional besarnya safety stock yang optimal adalah yang akan
menyamakan tambahan biaya simpan ini dengan kerugian yang diharapkan karena
perusahaan kehabisan persediaan. Karena sulitnya memperkirakan kerugian yang
ditanggung kalau perusahaan kehabisan bahan, sering perusahaan menggunakan
cara penentuan resiko yang bersedia ditanggung oleh perusahaan.
b. Metoda poq (periodic order quantity)
Period Order Quantity (POQ) : Pendekatan menggunakan konsep jumlah pemesanan
ekonomis agar dapat dipakai pada periode bersifat permintaan diskrit, teknik ini dilandasi
oleh metode EOQ. Dengan mengambil dasar perhitungan pada metode pesanan ekonomis
maka akan diperoleh besarnya jumlah pesanan yang harus dilakukan dan interval periode
pemesanannya adalah setahun.
- PenggunaanPOQ terdiri dari :
POQ digunakan sebagai pengganti EOQ, bila permintaan tidak uniform.
Formula EOQ digunakan untuk menghitung waktu antarpemesanan (economic time
between orders)
POQ = EOQ/Rata2 pemakaian per minggu
Dengan POQ ini kuantitas pemesanan ditentukan oleh permintaan aktual, sehingga
akan menurunkan biaya penyimpanan (carrying cost).

c. Quantity discount model
Dalam rangka meningkatkan volume penjualan seringkali perusahaan (supplier)
memberikan harga yang lebih rendah kepada pelanggan yang membeli dalam jumlah yang
lebih besar. Jadi harga per unit ditentukan semakin murah dengan semakin banyaknya
jumlah yang dibeli.
Dalam model potongan harga ini kita harus mempertimbangkan trade off antara
biaya pembelian dengan biaya penyimpanan, dimana semakin banyak jumlah yang dibeli
hal | 15

maka biaya pembelian per unit akan semakin menurun, tapi di lain pihak biaya
penyimpanan akan semakin meningkat.
Asumsi dalam Quantity Discount Model
1.Permintaan Bebas (Independent Demand)
2. Tingkat permintaan konstan (Demand rate is constant).
3. Lead time tetap dan diketahui (Lead time is constant and know)
4. Harga per unit tergantung kepada kuantitas (Unit cost depent on quantity)
5. Biaya penyimpanan proporgsional dengan rata-rata tingkat persediaan (Carrying cost
depends linearly on the average level of inventory)
6. Biaya pemesana per pesanan tetap (Ordering/setup cost per order is fixed)
7. Hanya satu item yang dikendalikan (The item is a single product)
Dalam rangka mencari biaya terendah dengan menggunakan model ini dimasukan
biaya pembelian untuk mencari biaya total, secara matematis ditulis :


D QH
TC = S + + PD
Q 2


Kalau terdapat beberapa potongan harga, maka untuk menentukan jumlah pemesanan
yang akan meminimaliasi biaya persediaan total tahunan, perlu dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut :
1. Hitung nilai EOQ untuk potongan harga tertinggi (harga terendah). Apabila jumlah ini
fisibel, artinya jumlah yang akan dibeli mencapau jumlah yang dipersyaratkan dalam
potongan harga, maka jumlah tersebut merupakan jumlah pembelian/pesanan yang
optimal. Jika tidak lanjutkan ke tahap 2.
2. Hitung biaya total untuk kuantitas pada harga terendah tersebut.
3. Hitung EOQ pada harga terendah kedua. Jika jumlah ini fisibel hitung biaya totalnya,
dan bandingkan dengan biaya total pada kuantitas sebelumnya (langkah 2). Kuantitas
optimal adalah kuantitas yang memiliki biaya terendah.
4. Jika langkah ketiga masih tidak fisibel, ulangi langkah-langkah di atas sampai
diperoleh EOQ fisibel atau perhitungan tidak bisa dilanjutkan.

hal | 16

d. Model Persediaan ABC
Salah satu sistem pengelolaan persediaan adalah system analisis ABC. Analisis
ABC adalah analisis bagaimana mengelompokkan produk-produk persediaan serta
mempertahankan catatan persediaan yang ada. Analisa ABC merupakan penerapan dari
prinsip Pareto bahwa dalam persediaan ada bagian yang penting dan yang sepele. Dasar
pemikirannya adalah bagaimana focus pada sumber daya persediaan yang penting yang
sedikit, bukan pada barang yang banyak tapi sepele. Kebijakan pengendalian persediaan
untuk tiap kelas menurut analisa ABC adalah:
a. Perkembangan sumber daya pembelian yang dibayarkan pemasok harus lebih
tinggi untuk persediaan A dibanding C.
b. Persediaan A beda dengan B dan C, harus dikendalikan secara ketat, wilayah lebih
tertutup dan untuk keakuratan catatan persediaan harus lebih sering diverifikasi.
c. Meramalkan persediaan A lebih hati-hati daripada yang lainnya.

Meski persediaan sudah akurat, catatan atau arsip harus diverifikasi melalui
pemeriksaan atau audit yang berkelanjutan. Audit ini disbut penghitungan siklus ( Cycle
counting) Prosedur penghitungan siklus menurut klasifikasi analisa ABC yaitu setiap
komponen persediaan dihitung, arsi diverifikasi dan ketidak akuratan didokumentasi
secara berkala. Ketidak akuratan dilacak dan tindakan perbaikan yang tepat diambil
sesuai klasifikasi ABC, yaitu sebagai berikut:
Kelas A = persediaan dihitung rutin yaitu sebulan sekali
Kelas B = persediaan dihitung kurang rutin yaitu empat sebulan sekali
Kelas C = persediaan dihitung tidak rutin yaitu setahun sekali

e. Just In time
Sistem Just In Time berusaha melakukan pekerjaan secara terus-menerus tanpa
henti, dengan menghilangkan segala pemborosan dan segala sesuatu yang tidak memberi
nilai tambah dengan menyediakan sumber daya pada tempat dan waktu yang tepat. Sistem
ini akan mengakibatkan persediaan lebih sedikit, jumlah pekerja lebih sedikit, dan biaya
produksi lebih rendah serta produk dapat diserahkan ke pelanggan tepat waktu. Sedangkan
kualitas yang sangat tinggimerupakan hasil dari suatu sistem pengendalian mutu yang
sangat baik. Akhirnya, dengan kombinasi dan gabungan kedua sistem tersebut akan
membuat perusahaan mampu bersaing dengan perusahaan lain serta mencapai laba dan
hasil dari investasi yang maksimal.

hal | 17

f. . Material Requirement Planning
Material Requirement Planning menurut Herry P. Chandra adalah suatu metode
untuk menentukan apa, kapan dan berapa jumlah komponen dan material yang
dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dari suatu perencanaan produksi. Perencanaan
material secara detail dilakukan dengan Material Requirement Planning, yaitu
pengabungan aktivitas yang mempengaruhi koordinasi dari suatu usaha didalam
perusahaan.
Untuk menjalankan sistem MRP, ada tiga elemen utama yang harus dimasukkan,
yaitu:
1. Jadwual induk produksi (Master Production Schedule/MPS)
2. Jumlah kebutuhan Material (Bill of Material/BOM)
3. Status persediaan (Inventory Status)
Dalam jumlah induk produksi diuraikan bahan jadi yang akan diproduksi, yaitu
meliputi waktu dan jumlah yang diproduksi. Jumlah kebutuhan material berisi jumlah
kebutuhan material-material pembentuk bahan jadi, baik bahan mentah maupun bahan
yang dibeli jadi. Status persediaan berisi informasi tentang persediaan material, order
pembelian dan order pekerjaan.
Dari data imput kedalam sistem MRP akan didapat beberapa informasi sebagai
berikut:
1. Kebutuhan komponen/material pada periode-periode dalam jangka waktu tertentu
(Gross Requirement).
2. Komponen/material yang harus disediakan pada awal produksi (overdue)
3. Status persediaan komponen/material pada akhir suatu periode (Project On Hand)
4. Jumlah komponen/material yang harus disediakan pada awal suatu periode (planned
order)
Pada metode MRP terdapat beberapa hal yang mendasar, yaitu:
1. Permintaan material bersifat tergantung (dependent)
2. Filosofi pemesanan sesuai permintaan
3. Ramalan/perkiraan berdasarkan Master Production Schedule
4. Konsep pengawasan meliputi semua item
5. Lot sizing bersifat beragam
hal | 18

6. memenuhi kebutuhan produksi
7. Tipe persediaan adalah bahan mentah atau setengah jadi
Sebagai alat perencana dan pengontrol yang merupakan metode efektif dalam
manajemen persediaan, MRP memberikan beberapa keuntungan, yaitu:
1. Investasi persediaan dapat ditekan serendah mungkin
2. perencanaan dapat dilakukan secara detail dapat berubah sesuai keadaan
3. Penyediaan data untuk masa mendatang dengan basis tiap item
4. Pengontrolan persediaan dapat dilakukan setiap saat
5. Jumlah pemesanan berdasarkan kebutuhan
6. fokus pada waktu kebutuhan material














hal | 19

BAB 3
CONTOH KASUS

Sebuah perusahaan Garmen memiliki kebutuhan bahan baku Kayu jati sebesar 10.000 unit
per tahun. Biaya pemesanan untuk pengadaan bahan tersebut adalah sebesar Rp 150,-
/order. Biaya simpan yang terjadi sebesar Rp 0,75/unit /tahun. Hari kerja per tahun adalah
350 hari. Waktu tunggu (lead time) untuk pengiriman bahan tersebut selama 10 hari

Pertanyaan:
1. Hitunglah EOQ
2. Berapa total biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk pengadaan bahan tersebut
3. Berapa kali perusahaan melakukan pemesanan dalam 1 tahun
4. Berapa lama EOQ akan habis dikonsumsi perusahaan
5. Tentukan reorder point (titik pemesanan kembali)
6. Bagan persediaan perusahaan


Jawab :
Diketahui :
D = 10.000 unit/tahun hari kerja 1 tahun = 350 hari
Co = Rp. 150 / order Lead time = 10 hari.
Cc= 0,75/unit/tahun

1. EOQ =



2. TC=Co. D/Q + Q/2.Cc= (150 x 10000/2000) + (0.75 x 2000/2)
= 750 + 750
= Rp. 1500,-

3. Jumlah pemesanan/th = D/Q = 10000/2000 = 5 kali
4. Reorder point = d x Lt
= (10000/350) x 10 = 285. 7 hari






hal | 20

BAB 4
KESIMPULAN
2.1 Kesimpulan
1. bahwa persediaan adalah bahan-bahan, bagian yang disediakan, dan bahan-
bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi,
serta barang-barang jadi atau produk yang disediakan untuk memenuhi
permintaan dari konsumen
2. Metode yang umum digunakan dalam pengendalian persediaan adalah EOQ
model (Economic Order Quantity), POQ (Periodyc Order Quantity), Discount
Model, ABC model, dan Just In Time dan Material Requirement Planning.
2.2 Saran
Dalam penulisan makalah ini sangat diharapkan masukan baik saran maupun kritik
yang dapat membantu memperbaiki demi kesempurnaan penyusunan makalah ini.





















hal | 21

DAFTAR PUSTAKA

1. Handoko, Hani.202.Manajemen Produksi dan Operasi.BPFE.Yogyakarta
2. http://kk.mercubuana.ac.id/files/31003-9-393883995184.doc
3. http://kk.mercubuana.ac.id/files/31005-4-111196241976.doc
4. Rangkuti, freddy.1995.Manajemen Persediaan.PT. Raja Grafindo Persada Jakarta.
5. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20970/4/Chapter%20II.pdf
6. Yamit Drs, Zulian. 2005. Manajemen Persediaan. Ekonisia. Yogyakarta
7. Herry P. Chandra cs,2001, Material Requirement Planning