Anda di halaman 1dari 101

MANUAL CSL1

CLINICAL SKILL LAB

SISTEM MUSKULOSKELETAL

Disajikan untuk Mahasiswa Semester II


Fakultas Kedokteran Unhas

Disusun Oleh :
Dr. Jainal Arifin, Sp.OT

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2014

BAB I
GAIT

1. Inspeksi gait
Evaluasi gait (gaya berjalan) merupakan factor penting dalam penilaian spine secara menyeluruh.
Observasi gait selama ambulasi (pergerakan) juga dapat memberikan informasi penting mengenai
karakteristik dinamis dan statis dari vertebra servikal.
Satu siklus gait diukur mulai dari tahap heel-strike awal hingga heel-strike berikutnya, yang terdiri
dari stance phase (periode dimana kaki menapak pada permukaan tanah) dan swing phase (periode
dimana kaki melayang dan bergerak maju).
Pada tahap heel strike, tumit menyentuh lantai dengan kaki dalam posisi supinasi. Pada saat tungkai
memasuki bagian pertama dari stance phase, tungkai akan mengalami rotasi internal, tumit eversi, dan
kaki pronasi. Selama tahap toe-off, tungkai berotasi eksternal, tumit inversi, arkus longitudinal
terangkat, serta kaki supinasi. Secara keseluruhan, panjang dan waktu yang diperlukan dalam stance
phase harus sama untuk kedua tungkai.

Tahapan siklus gait


o stance phase

initial contact
definisi: terjadi ketika kaki memulai kontak dengan permukaan tanah
kontraksi otot-otot ekstensor panggul
loading response (initial double limb support)
definisi: terjadi sejak kontak awal hingga elevasi tungkai kontralateral
otot tibialis anterior berkontraksi secara eksentrik untuk mengendalikan
momen plantar-fleksi

otot quadriceps berkontraksi untuk menstabilkan lutut dan melawan gaya


fleksi
mid-stance (single limb support)
definisi: dari elevasi tungkai kontraletal hingga kedua ankle sejajar pada
penampang koronal
kontraksi otot ekstensor panggul dan quadrisep
terminal stance (single limb support)
definisi: mulai dari kedua ankle sejajar hingga heel-strike pada tungkai
kontralateral.
Kontraksi otot fleksor halucis
pre-swing (second double limb support)
definisi: mulai dari kontak awal tungkai berlawanan hingga tepat sebelum
elevasi tungkai ipsilateral
kontraksi otot-otot fleksor panggul untuk mendorong tungkai ke depan
o swing phase ("In My Teapot")
initial swing (toe off)
definisi: mulai dari saat elevasi tungkai hingga ke titik fleksi lutut
maksimum
kontraksi otot fleksor panggul
mid-swing (foot clearance)
definisi: mengikuti fleksi lutut hingga titik dimana tibia dalam posisi
vertical
kontraksi otot ankle-dorsofleksor
terminal swing (tibia vertical)
definisi: mulai dari titik dimana tibia berada dalam posisi vertical hingga
tepat sebelum kontak awal
kontraksi otot hamstring untuk mempercepat gerakan paha ke depan
Center of gravity (COG)
o 5 cm kea rah anterior dari korpus vertebra S2
o Bergeser 5 cm ke anterior dan 5 cm vertical selama fase langkah laki-laki dewasa
Faktor penentu gait
o Rotasi pelvis
pelvis berotasi 4 derajat ke medial (anterior) pada tungkai yang berayun
memanjangkan tungkai untuk menerima berat badan
o pelvic tilt
pelvis menurun 4 derajat pada tungkai yang mengayun
menurunan COG pada tahap midstance
o fleksi lutut saat berdiri
fleksi lutut awal (15 derajay) pada saat heel strike
menurunkaan COG, mengurangi pemakaian energi
menyerap gaya tekanan heel strike
o foot mechanisms
plantar-fleksi ankle pada tahap heel-strikedan tahap awal stance phase
o knee mechanisms
pada tahap midtsnace, sendi lutut ber-ekstensi ketika ankle dalam posisi plantarfleksi, dan kaki dalam posisi supinasi
mengembalikan panjang tungkai awal

mengurangi penurunan pelvis pada saat heel-strike komtralateral


o lateral displacement of pelvis
pelvis bergeser pada tungkai yang menapak
Prosedur pemeriksaan:
1) Mintalah pasien untuk membuka pakaian dan alas kaki, serta hanya mengenakan pakaian dalam saja
2) Mintalah pasien untuk berjalanmenjauhi pemeriksa, kemudian perhatikan:
- (a)simetri
(rotasi torso, tanda Duchenne, tanda Tredelenburg, antalgic gait)
- Irama langkah berjalan; apakah lancar atau tersendat-sendat, apakah terhuyung-huyung atau terseretseret, apakah langkah-langkah pendek atau panjang
- Gerakan lengan
- posisi dan gerakan kaki; apakah diangkat tinggi dan dijejakkan dengan mantap
- distribusi berat badan; apakah seimbang kanan dan kiri
3) Mintalah pasien untuk kemudian berjalan kembali mendekati pemeriksa. Perhatikan ketika pasien
membalik badan.
Beberapa jenis gait yang abnormal:
Shuffling and slap foot gait
Terjadi pada individu dengan posterior cord syndrome, dimana penderita tidak menyadari posisi
kaki yang sedang melayang, dan tidak dapat memprediksi momen heel-strike yang tepat.
Shuffling gait; kaki diseret pada permukaan tanah selama fase swing. Slap foo gait; kaki menapak
dengan kasar dan keras.
Broad-based gait / halting gait
Terjadi pada penderita dengan stenosis vertebra servikal. Pasien memiliki langkah-langkah yang
lebar untuk dapat memperoleh keseimbangan, dengan ritme yang kacau.
Antalgic gait
Merupakan bentuk adaptasi intuitif terhadap nyeri yang timbul pada saat stance phase. Semua
nyeri yang diinduksi akibat weightbearing pada titik manapun di ekstremitas bawah. Stance
phase berlangsung lebih singkat pada tungkai yang bermasalah, diertai pergerakan tungkai sehat
dengan lebih cepat, sehingga menurunkan waktu fase swing.

Short-leg gait
Merupakan respon terhadap adanya perbedaan panjang tungkai kanan dan kiri.

Tes tredelenburg
1) Pasien diminta untuk berdiri dengan bertumpu pada satu tungkai yang sehat

2) Perhatikan bahwa pelvis kontralateral terangkat naik, menandakan bahwa otot gluteus medius sisi
tersebut bekerja baik (Tes Tredelenburg negative)
3) Pasien lalu diminta untuk berdiri dengan bertupu pada satu kaki yang sakit
4) Perhatikan bahwa pelvis kontralateral akan turun/jatuh, menandakan kelemahan otot gluteus medius
pada sisi tersebut (Tes Tredelenburg positif)

BAB II
SPINE

Anatomi Tulang Belakang (Vertebra)


Tulang belakang (vertebra/spine) terletak di antara basis cranium dan coxygeus, dan umumnya
terdiri atas 7 vertebra servikal (C1-7), 12 vertebra torakal (T1-T12), 5 vertebra lumbal (L1-L5), 5
vertebra sacral (S1-S5) dan 4 vertebra koksigeus (Co1-Co4). Dua vertebra yang berurutan, bersama-sama
dengan diskus intervertebralis dan sendi-sendinya, akan membentuk satu segmen.
Sebuah vertebra yang normal memiliki corpus vertebra, serta arkus vertebra pada sisi dorsal
dengan beberapa struktur penonjolan tulang: prosesus spinosus, prosesus transversus, prosesus artikularis
inferior, dan prosesus artikularis superior. Arkus vertebra dapat dibagi menjadi lamina dan pedikel.
Lamina merupakan bagian posterior dari arkus (dimana penonjolan-penonjolan berada); pedikel
merupakan penghubung antara arkus dan korpus vertebra. Arkus vertebra dan bagian dorsal dari corpus
mengelilingi suatu ruang kosong yang disebut foramen intervertebralis. Foramina intervertebralis dari
semua vertebra membentuk kanalis vertebralis yang merupakan lokasi dari medulla spinalis dan bagian
dari radiks spinalis.
Vertebra servikal I (atlas) berartikulasi dengan tulang oksipital (sendi atlanto-oksipitalis). Tulang
sacrum merupakan bagian dari pelvic ring. Tulang tersebut berartikulasi dengan tulang ilium pada kedua
sisi pelvis (sendi sakro-iliaka). Prosesus arikularis inferior dari satu vertebra (sebelah atas) dan prosesus
artikularis superior dari vertebra lainnya (sebelah bawah) bersama-sama membentuk sendi zygapophysial
atau facet joint. Oleh karena itu masing-masing segmen memiliki facet joint kanan dan kiri. Di antara
sebagian besar vertebra, terdapat diskus-diskus kartilaginis intervertebralis, dimana yang paling kranial
berada di antara C2 dan C3, serta 4 diskus paling kaudal bergabung menjadi tulang sacrum.
Struktur-struktur tulang dihubungkan satu sama lain oleh ligament-ligamen. Ligamentum
longitudinalis posterior dan ligamentum longitudinalis anterior menghubungkan corpus vertebra dan
diskus. Ligamentum flavum menghubungkan bagian ventral dari lamina dengan arkus vertebra.
Ligamentum interspinosum berada di antara prosesus-proses spinosus, dimana ligamentum supraspinalis
membatasi prosesus spinosus pada sisi dorsal. Pada region servikal, ligamentum supraspinalis disebut
sebagai ligamentum nuchal. Ligamentum intertransversum membentang dari satu prosesus transversus ke
lainnya.
Vertebra servikal
Vertebra servikal memiiki karakteristik adanya lubang pada prosesus transversus (foramen
transversum) yang dilewati oleh arteri vertebralis, kecuali pada C7. Prosesus spinosus servikal terletak
lebih horizontal.
Vertebra servikal pertama, atlas, tidak memiliki corpus vertebra maupun prosesus spinosus.
Vertebra ini terdiri atas 2 bagian lateral yang dihubungkan oleh sebuah arkus anterior yang pendek serta
sebuah arkus posterior yang lebih panjang. Arkus anterior memiliki sebuah facet joint (fovea dentis) pada
bagian belakang, yang merupakan tempat bagi C2 (dens). Proses transversus sangat menonjol di sisi
lateral dan dapat dipalpasi.
Vertebra servikal kedua, axis, memiliki penonjolan kea rah kranial (dens). Dens berartikulasi
dengan arkus anterior dari atlas. Atlas dan tulang oksipital membentuk sendi atlanto-oksipitalis kiri dan

kanan (C0-1); atlas dan axis membentuk sendi atlanto-aksial lateral dan atlanto-aksial medial (C1-2).
Ligamentum transversum atlas merupakan salah satu ligament yang mempertahankan dens pada
posisinya.
Ligamentum alar berfungsi sebagai ligamentum krusiatum pada kedua sisi dens axis. Keduanya
menghubungkan axis dengan bagian dalam dari kondilus oksipitalis (facet joint untuk sendi atlantooksipitalis). Tepi atas dari corpus vertebra C3-C7 memiliki ujung yang menonjol ke atas, yakni prosesus
uncinatus, yang menghubungkan corpus-corpus vertebra satu sama lain (sendi Luscka). Sendi-sendi ini
merupakan sendi synovial.
Vertebra servikal ketujuh disebut sebagai vertebra prominensia, oleh karena memiliki prosesus
spinosus yang lebih panjang disbanding vertebra servikal lainnya struktur ini sangat mudah di-palpasi.
Vertebra torakal
Dari semua vertebra, vertebra torakal merupakan prototype yang paling tepat dari sebuah vertebra
seperti yang dijelaskan di atas. Vertebra torakal pertama memiliki kemiripan dengan vertebra servikal,
sementara T11 dan T12 memiliki karakteristik vertebra lumbal.
Pada bagian mid-torakal, prosesus spinosus memiliki posisi sloping ke arah kadual, sehinga
bertumpang-tindih satu sama lain, seperti genteng atap; pada arah servikal dan lumbal, mereka memiliki
posisi yang lebih horizontal. Pada kedua sisi dari semua korpus vertebra torakal, dan pada prosesus
transversus dari T1-T10, facet joints berhubungan dengan costa (untuk kaput dan tuberkulum dari
berbagai kosta). T7 seringkali menjadi puncak kifosis dari torakal.
Vertebra lumbal
Vertebra lumbal memiliki corpus vertebra yang besar. Prosesus spinosus menebal pada ujungnya,
serta terletak hamper horizontal. Pada sisi lumbal dari prosesus transversus, juga dikenal sebagai
prosesus kostalis, yang merupakan kosta rudimenter. Prosesus aksesorius merupakan prosesus
transversus rudimenter yang terletak dorsal dari prosesus kostalis. Pada arah kranial dari prosesus
aksesorius dapat ditemukan penonjolan berbentuk putting: prosesus mammilaris. Corpus vertebra L4
membentuk dasar dari lordosis lumbal.
Sakrum
Tulang ini terdiri dari 5 vertebra sakralis yang terosifikasi. Prosesus spinosus menyatu menjadi krista
sakralia mediana, prosesus artikularis menjadi krista sakralis intermedius, serta prosesus transverus
menjadi krista sakralis lateralis.
Proses osifikasi menjadi komplit pada usia dewasa. Diskus intervertebralis tidak mengalamu osifikasi,
atau hanya terjadi pad usia pertengahan.
Tulang sacrum dan ilium dari pelvis bersama-sama membentuk sendi sakro-iliaka pada kedua sisi.
Permukaan sendi sangat ireguler. Sendi sakro-iliaka memiliki fungsi weight-bearing dan shock
absorbing pada berbagai direksi.
Koksigeus
Tulang ini umumnya terdiri dari 3 atau 4 vertebra koksigeus yang terosifikasi.

1. Inspeksi postur tulang belakang


Postur dan bentuk dari tulang belakang meliputi hubungan antara berbagai bagian tubuh,
khususnya kepala dan badan, yang dibandingkan dengan linea mediana pada tubuh. Ketika dilihat dari
samping, pada posisi tegak yang normal, linea mediana berjalan dari daun telinga melalui torkanter
femur, melewati bagian depandari lutut, dan berakhir tepat di depan malleolus lateral. Pada posisi ideal
tersebut, tubuh menggunakan energy minimal untuk mempertahankan postur demikian, oleh karena
kurangnya sangat kurangnya kerja otot yang diperlukan. Namun demikian, variasi bentuk dan postur
tulang belakang sangatlah luas, sehingga hanya abnormalitas-abnormalitas bentuk yang sangat nyata
yang dapat dikategorikan patologis.
Tulang belakang memiliki peranan penting dalam membentuk postur tubuh. Vertebra lumbal
merupakan lokasi insersi dari otot-otot fleksor panggul yang utama, serta menopang sebagian besar dari
berat badan.
Spine memiliki bentuk-S pada penampang sagittal. Pada inspeksi dari sisi lateral, regio servikal
dan lumbal memiliki kurvatura konveks ke arah ventral (lordosis), sementara region torakal dan sacral
memiliki kurvatura konveks ke arah dorsal (kifosis). Regio servikal merupakan bagian yang paling
fleksibel, sementara regio torakal memiliki gerakan yang paling terbatas.
Pelvis tilting, yang memiliki korelasi langsung dengan derajat lordosis lumbal, berperan penting
dalam mncapai postur tubuh yang baik. Ketika didapatkan bentuk punggung yang abnormal, maka
seorang pemeriksa harus dapat membedakan antara supple shape deviations, yang dapat diperbaiki
dengan latihan dan terapi postural serta dapat menghilang pada posisi berbaring, dengan structural shape
defects yang bersifat kaku, dan tidak dapat dikoreksi dengan latihan maupun terapi postural, serta tidak
menghilang ketika pasien berbaring.

Inspeksi ini meliputi penilaian menyeluruh terhadap bentuk dan postur tulang belakang, mulai
dari kepala hingga tumit, dimulai dari sisi ventral, kemudian dorsal, lalu lateral kedua sisi. Posisi netral
(posisi awal) merupakan posisi dimana pasien berdiri tegak dengan lutut lurus (apabila memungkinkan),
dan kedua kaki berdampingan satu sama lain.
Prosedur:
1. Jelaskan kepada pasien tujuan serta langkah-langkah pemeriksaan, lalu minta persetujuan pasien
2. Mintalah secara sopan kepada pasien untuk melepas pakaiannya, terkeuali pakaian dalam.
3. Mintalah pasien untuk berdiri, kemudian lakukan inspeksi dari jarak 2-3 meter dari sisi dorsal.
4. Lakukan inspeksi dari arah kranial ke kaudal.
5. Pertama-tama nilai postur spontan (posisi netral individu), kemudian mintalah pasien untuk
meluruskan/mengekstensikan lututnya dan menempatkan kedua kaki di samping satu sama lain.

Postur tubuh normal; dilihat dari anterior dan lateral

6. Lakukan penilaian bentuk/struktur tulang, kurvatura vertebra, postur tubuh, bandingkan kanan dan
kiri.
7. Perhatikan ada atau tidaknya:
- Lesi kulit: discolour, nevus, nodul kutaneus, ulkus/luka,
- gibbus
- pelvic obliquity; ketinggiaan SIAS/krista iliaka bilateral: jika terdapat perbedaan, perlu dilakukan
pemeriksaan leg-length discrepancy
- Malalignment (scoliosis, lordosis, kifosis, rotasional, etc.)
- Kelainan postur: head tilted, pelvis tilted
- Atrofi/hipertrofi otot
8. Ulangi inspeksi/penilaian dari kedua sisi lateral pasien; perhatikan kurvatura normal: cervical
lordosis, thoracic kyphosis

A, Normal sagittal alignment of the hip and pelvis. B, Simulated flexion contracture of the hip. C, Compensation with hyper-extension of the
lumbar spine

A. deformitas fleksi pada ankylosing spondilytis; B. sniffing position

C. Scheumanns kyphosis; D. flat back deformity

Scoliosis. A, Mild. B, More severe.

2. Inspeksi fleksi dan ekstensi punggung


Range of motion (ROM) tulang belakang ditentukan oleh bentuk facet joints, tulang kosta (untuk region
torakal), fleksibilitas diskus intervertebralis (annulus fibrosus dan nucleus pulposus), serta berbagai
ligament dan otot. Regio servikal secara umum memiliki ROM yang lebih besar dibandingkan dengan
region torakal dan lumbal.
Terminologi punggung (back) mengacu kepada area di antara prosesus spinosus vertebra servikal VII
dan coxygeus.
Vertebra Torakal
Bila dibandingkan dengan vertebra servikal, maka vertebra torakal hanya memiliki rentang gerakan yang
sangat terbatas. Untuk menilai fleksi dan ekstensi dari vertebra torakal, maka pasien dipersilakan duduk
pada sebuah bangku dengan sandaran lurus, untuk mengeliminasi gerakan lumbo-pelvis.
Prosedur:
1) Pemeriksa memberikan penjelasan kepada pasien mengenai tujuan dan langkah-langkah
pemeriksaan, lalu meminta persetujuan pasien.
2) Pasien diminta untuk membuka bajunya.
3) Pasien diminta untuk duduk pada sebuah bangku dengan sandaran tegak.
4) Pemeriksa berada di sisi lateral dari pasien.
5) Pemeriksa meminta pasien untuk melakukan fleksi vertebra torakal. Rentang gerakan dinilai dengan
mengobservasi perubahan antara vertebra torakal dan sandaran bangku.

Gerakan fleksi aktif vertebra torakal

6) Pemeriksa meminta pasien untuk melakukan ekstensi vertebra torakal.

Gerakan ekstensi aktif vertebra torakal

3. Penilaian fleksi dan ekstensi lumbal


Gerakan vertebra lumbal merupakan hasil dari interaksi yang kompleks antara struktur-struktur tulang,
artikulasio, dan jaringan lunak. Abnormalitas salah satu di antaranya dapat membatasi gerakan vertebra
lumbal. Loss of motion dapat disebabkan oleh nyeri, spasme otot, blok mekanis, atau deficit neurologis.
Prosedur
Fleksi:
1) pasien berdiri tegak dalam posisi netral (posisi awal);
2) instruksikan pasien untuk memposisikan dagu menempel pada dada, lalu membungkuk ke depan,
mem-fleksikan tubuhnya sejauh mungkin dengan kedua kutut diekstensikan;
3) jika memungkinkan, mintalah pasien untuk menyentuh lantai menggunakan jari-jari tangan, dengan
mempertahankan ekstensi lutut, agar mencegah kompensasi dari sendi lutut dan pelvis.
4)Gerakan fleksi dinilai berdasarkan sudut yang dibentuk antara posisi akhir badan dan penampang
vertical. Fleksi normal adalah sekitar 80o sampai 90o

Latero-fleksi kiri/kanan
1) Minta pasien untuk menjulurkan lengan kanan ke bawah sepanjang tungkai kanan; ulangi gerakan
serupa pada lengan kiri di sepanjang tungkai kiri.
2) Pemeriksa dapat membantu menstabilisasi pelvis pasien dengan meletakkan tangan pada kedua krista
iliaka,
3) Perhatikan adanya asimetri antara kedua sisi, scoliosis, atau abnormalitas lainnya.

Ekstensi:
1) Mintalah pasien untuk membungkukkan tubuhnya ke belakang sejauh mungkin, dengan memfleksikan daerah pinggang
2) Rentang ekstensi dinilai dengan menghitung sudut yang dibentuk antara badan dan penampang
vertical (normal = 20-300)

Schobers test (lumbar flexion index)


Indikasi: pada pasien dengan gerakan antefleksi torakolumbal yang terbatas dan/atau disertai nyeri,
sekaligus merupakan tes agilitas vertebra lumbal
Prosedur:
1) Pasien berdiri tegak dengan pungung menghadap pemeriksa
2) Pemeriksa dengan menggunakan pensil dermatograf, menandai prosesus spinosus S1 (kurang-lebih 12 cm arah kranial dari spina iliaka posterior superior) dan sebuah titik lainnya pada vertebra yang
berjarak 10 cm lebih jauh ke arah kranial. Lakukan pengukuran dengan menggunakan pita meteran
fleksibel.
3) Pasien lalu diminta untuk melakukan gerakan antefleksi maksimum, sementara pemeriksa sekali lagi
mengukur jarak antara kedua titik penanda.
4) Hasil pengukuran lalu dikurangi 10 cm untuk mendapatkan nilai Schober.
Interpretasi: Pada vertebra lumbal yang normal, nilai Schober adalah 3-5 cm.

4. Palpasi tulang belakang dan otot-otot punggung


Pemeriksaan palpasi tulang, sendi, serta jaringan lunak dapat dilakukan dalam berbagai posisi yang
berbeda. Tonus otot paravertebral berbeda pada posisi berdiri dan pada posisi pronasi. Prosesus-prosesus
spinosus tertentu dapat dipalpasi (dan diinspkesi) dengan lebih baik pada beberapa posisi tertentu,
apakah dalam posisi fleksi selagi pasien duduk atau berbaring pada sisi tubuh, ataukah dengan poisi
pronasi.

Prosedur
1) Pertama-tama palpasi pasien dalam posisi berdiri, kemudian jika memungkinkan dalam posisi duduk
atau bending; selanjutnya dalam posisi pronasi
2) Pemeriksa berada di belakang pasien
3) Lakukan palpasi dengan menggunakan ujung jari-jari tangan
4) Mintalah pasien untuk mengindikasikan dimana dan kapan timbulnya nyeri. Apabila diperoleh temuan
abnormal, perhatikan lokasi titik nyeri maksimum (point of tenderness). Pada pasien dengan riwaat
trauma, adanya point of tenderness sangat mngindikasikan adanya fraktur atau disrupsi ligament yang
signifikan.
5) Perhatikan pula adanya:
- pembengkakan serta karakteristiknya;
- tonus otot (dengan cara menempatkan jari-jari secara transversa pada serat otot yang dinilai,
untuk menentukan derajat kontraktilitas; hipo- atau hipertonus)
- suhu pada perabaan
- gibbus
- diskontinuitas (step deformity)
- agilitas yang abnormal

struktur-struktur abnormal lainnya (lump, soft-tissue tumor


6) Berikut palpasi yang dapat dilakukan dengan pasien dalam posisi berdiri ataupun duduk:

Palpasi servikal
Teknik pemeriksaan:
1) Vertebra servikal umumnya di-palpasi dengan pasien dalam posisi duduk atau supinasi. Posisi
supinasi memungkinkan pasien untuk lebih rileks; namun pemeriksa tidak dapat secara
langsung memvisualisasi struktur-struktur yang di-palpasi. Posisi duduk dapat mengganggu
relaksasi otot, namun memungkinan visualisasi langsung dari struktur yang di-palpasi. Dalam
situasi gawat-darurat, pasien harus diperiksa dalam posisi sebagaimana dia pertama kali
dating, hingga pemeriksa yakin bahwa tidak terdapat ketidakstabilan vertebra servikal.

2) Pada pasien dengan posisi duduk, dahi pasien diistirahatkan/ditopang pada/oleh salah satu
tangan pemeriksa. Posisi ini dapat merelaksasikan otot-otot servikal dan ligamentum nukal.
3) Palpasi dilakukan dengan ujung jari tangan lainnya.
4) Palpasi vertebra servikal biasanya dimulai pada inion, yang terletak pada basis cranium, yang
berada tepat dibawah protuberansia oksiptalis eksterna.

Palpasi protuberansia oksipitalis eksterna

5) Palpasi kemudian dilanjutkan ke arah distal pada linea mediana, dengan mengidentifikasi
prosesus-prosesus spinosus. Prosesus spinosus yang teridentifikasi pertama kali adalah C2.
Prosesus spinosus proksimal lebih mudah di-palpasi dalam posisi leher ekstensi.
Cat: lokalisasi C7 kadang-kadang sulit dibedakan dengan C6 dan T1 oleh karena juga
prominen. Untuk membedakannya dapat dilakukan dengan meminta pasien melakukan
gerakan fleksi dari posisi ekstensi: C6 biasanya akan menjadi kurang terpalpasi seiiring
gerakan fleksi.

Palpasi prosesus spinosus servikal

6) Pemeriksa harus menanyakan apakah penekanan pada masing-masing prosesus spinosus


menimbulkan nyeri atau tidak.
7) Secara simultan, pemeriksa mengevaluasi alignment vertebra servikal. Normalnya, prosesus
spinosus tersusun secara linear, dengan jarak regular satu sama lain. Adanya pergeseran ke
lateral dapat disebabkan oleh dislokasi facet joint unilateral atau fraktur. Pertambahan jarak
antara dua prosesus spinosus dengan alignment yang normal mengindikasikan adanya
kemungkinan disrupsi ligament posterior atau fraktur.
8) Setelah melakukan palpasi pada linea mediana, jari pemeriksa bergerak sekitar 2 cm kea rah
lateral, menuju posterior facet joint; oleh karena struktur muskuler yang melapisinya, maka
diperlukan palpasi yang lebih dalam untuk dapat menilai resistensi dari struktur tulang yang
ada di bawahnya. Pemeriksa mem-palpasi dari proksimal ke arah distal secara sistematis.
9) Ketika melakukan palpasi pada sisi lateral dari linea mediana, pemeriksa juga dapat
mengevaluasi struktur otot servikal posterior, yang terdiri dari otot trapezius pars superior
dan otot-otot intrinsic leher. Otot kapitis splenius tertutupi sebagian oleh trapezius, namun
dapat di-palpasi dengan lebih jelas pada leher proksimal, lateral dari trapezius.
Perhatikan ada atau tidaknya hipertonus, nyeri palpasi (muscle sprain)Spasme otot
mengindikasikan adanya cedera pada otot, ataukah merupakan reaksi involunter terhadap
nyeri pada struktur yang berdekatan.
10) Nyeri vertebra servikal dapat menjalar ke trapezius, baik superior dari spina scapula ataupun
di antara prosesus spinosus torakal dan margo medial scapula. Palpasi pada daerah ini dapat
menunjukkan trigger point.
Palpasi torakal dan lumbal
Teknik pemeriksaan
1) Posisi pasien bergantung kepada situasi klinis. Pada pemeriksaan klinis elektif, palpasi normalnya
dilakukan dengan pasien dalam posisi berdiri, duduk tegakm ataupun pronasi. Apabila pasien
datang dengan kondisi gawat-darurat, palpasi dilakukan dalam psisi manapun ketika pasien
datang/ditemukan.
2) Palpasi prosesus spinosus pada linea mediana, dengan menggunakan ujung-ujung jari

3) Lakukan pengetukan prosesus spinosus dengan menggunakan sisi ulnar dari kepalan tangan
(mulai dari C7 ke arah kaudal); angulus ingerior scapula dapat menjadi patokan ketinggian
prosesus spinosus T7. Ketinggian vertebra lainnya dapat diperkirakan dengan menggunakan
patokan landmark.

4) Perhatikan timbulnya nyeri dengan palpasi/pengetukan. Nyeri lokal pada suatu level vertebra
menandakan adanya kondisi patologis pada level tersebut. Kondisi-kondisi yang dapat
menimbulkan nyeri antara lain sprain atau disrupsi ligament posterior, fraktur elemen posterior,
tumor elemen posterior, artritis degenerative, atau spondilosis.
5) Secara simultan, pemeriksa mengevaluasi alignment vertebra torakal dan lumbal. Perhatikan
alignment dan jarak antara prosesus spinosus, apakah terdapat step-off atau tidak.
6) Lakukan palpasi otot-otot paraspinalis. Pada tiap sisi dari prosesus spinosus terdapat kolum
muskuler dari otot-otot erektor spinal, yakni otot multifidus, longisimus, dan iliocostalis.
Perhatikan ada atau tidaknya spasme otot, yang dapat merupakan tanda adanya cedera otot lokal,
atau sebagai respon terhadap focus nyeri yang berdekatan.
7) Apabila terdapat spasme otot, maka pasien diminta untuk melakukan latero-fleksi ke arah yang
sakit, dengan pemeriksa tetap melanjutkan palpasi otot paraspinalis. Normalnya, otot paraspinalis
pada sisi yang difleksikan akan menjadi lebih rileks. Apabila otot pada sisi tersebut tetap teraba
tegang, maka dapat dikonfirmasi adanya spasme otot.

Perhatikan ada atau tidaknya nyeri palpasi otot paraspinalis dan trigger point. Adanya trigger
point dapat mengindikasikan fibromyalgia.
5. Menetapkan ROM kepala (terhadap C7):
Sendi yang berperan dalam gerakan kepala terhadap spine adalah sendi atlanto-oksipital dan sendi
atlanto-aksial. Sendi atlanto-oksipital memungkinan gerakan fleksi dan ekstensi, sedangkan sendi
atlanto-aksial memungkinkan gerakan rotasi fleksi, ekstensi, dan latero-fleksi yang terbatas.
Untuk dapat menilai ROM vertebra servikal secara tepat, maka vertebra torakal harus difiksasi. Hal ini
dapat dilakukan dengan meminta pasien untuk duduk pada sebuah bangku dengan sandaran tegak dan
lurus. Idealnya, sandaran kursi harus mencapai mid-skapular, namun tidak melebihi di atasnya.
Ketika melakukan tes rotasi spine, pasien duduk dengan panggul dan lutut dalam fleksi 90o, sehingga
pelvis terfiksasi selama gerakan berlangsung.
Prosedur
1. Pasien dalam posisi duduk seperti dijelaskan di atas.

2. Jika diperlukan, lakukan contoh gerakan yang akan diuji, serta pandu dengan menggunakan kedua
tangan pemeriksa, khususnya untuk gerakan backward (ekstensi), dan ketika melakukan pemeriksaan
terhadap pasien berusia lanjut.
3. Fiksasi torso atau pelvis jika diperlukan.
4. Mintalah pasien untuk melakukan beberapa gerakan berikut (dalam posisi berdiri ataupun duduk):

Fleksi (chin to chest): pasien diminta untuk menyentuhkan dagunya ke dada dengan mulut
tertutup. Pasien engan vertebra servikal yang normal dapat mencapai kontak antara dagu dan
dada, atau sangat mendekatinya. Mengukur jarak antara dagu dan dada pada titik fleksi
maksimum merupakan cara termudah untuk meng-kuantifikasikan gerakan ini.

Ekstensi: pasien diminta untuk membengkokkan kepala ke arah belakang, sambil melihat ke
langit-langit. Ekstensi maksimum merupakan kombinasi gerakan servikal, torakal, dan oksipitoservikal. Normalnya, pasien dapat melakukan ekstensi hingga wajah berada dalam posisi parallel
dengan langit-langit. Derajat ekstensi berkuang pada kondisi artritis degenerative, atau deformitas
scoliosis atau kifosis.

Pemeriksa juga dapat meletakkan tangan di antara oksiput dan prosesus spinosus C7, lalu
meminta pasien untuk menjepit tangan pemeriksa dengan mengekstensikan lehernya. Gerakan
ekstensi leher memiliki ROM kurang-lebih 55o (20o pada sendi atlanto-oksipital).

Latero-fleksi (ear to shoulder): pasien diminta untuk mencoba menyentuhkan telinganya


pada bahu ipsilateral. Gerakan maksimum memungkinkan bahu untuk hamper menyentuh
telinga, atau kurang-lebih mencapai sudut 35o antara linea mediana wajah dan sisi vertical.

Rotasi: bahu pasien difiksasi, kemudian pasien diminta untuk memutar lehernya ke kedua
sisi secara bergantian (mengarahkan dagu ke bahu). Prosesus spinosus akan terlihat berotasi
berlawanan arah dengan dagu. Gerakan rotasi normal mencapai 60o pada masing-masing
arah, namun dapat mencapai 90o pada beberapa individu. Sekitar 50% dari gerakan ini
berlangsung di sendi atlanto-aksial.

6. Palpasi untuk mendeteksi nyeri akibat tekanan vertical


Tes Kompresi Aksial
Tes kompresi aksial dirancang untuk menentukan apakah pemberian tekanan kompresi aksial
akan memicu atau mengurangu gejala nyeri yang dialami pasien. Tes ini tidak boleh dilakukan
apabila ada kecurigaan kompresi radiks saraf yang disertai deficit motoric.
Prosedur:
1. Pasien dalam posisi duduk, dengan vertebra servikal dalam posisi netral
2. Pemeriksa berdiri di belakang pasien

3. Pemeriksa meletakkan kedua tangannya pada puncak kepala pasien, kemudian menekannya
23ea rah kaudal sehingga timbul gaya aksial. Pemberian tekanan harus dilakukan secara halus
dan gradual, oleh karena dapat memicu respon nyeri yang hebat.
4. Pasien diminta untuk memberitahu apakah maneuver tersebut menimbulkan nyeri atau sensasi
yang tidak nyaman, serta bagiamana kualitas dan distribusi dari nyeri yang dihasilkan.
5. Tes distraksi dapat dilakukan untuk meredakan gejala.

A.

Tes kompresi aksial; B. Tes distraksi

Tes Spurling
Apabila pemeriksa mencurigai adanya kondisi lateralisasi patologis, misalnya prolaps diskus,
maka maneuver kompresi dapat diulangi dengan berbagai posisi fleksi, ekstensi, later-fleksi, atau
rotasi dari vertebra servikal, dengan tujuan untuk mengetahui posisi yang memicu respon
maksimum. Pada Tes Spurling, leher di-ekstensikan dan dirotasikan ke arah yang terlibat,
sebelum dilakukan kompresi aksial.

BAB III
PELVIS
1. Palpasi pelvis
- Spina iliaka posterior superior (SIPS)
SIPS terletak pada ujung posterior dari krista iliaka, yang merupakan penanda utama
untuk palpasi pelvis dan panggul.

Spina iliaka anterior superior (SIAS)


Krista iliaka: berada di antara SIPS dan SIAS

Pelvis forward or backward tilting: pelvis normalnya memiliki forward tilting 100 pada
laki-laki dan 25o pada perempuan.

Sacrum
Pada linea mediana posterior, penonjolan yang dibentuk oleh promontorium sakralis
biasanya mudah untuk dipalpasi. Nyeri pada sacrum dapat disebabkan oleh fraktur,
tumor, atau infeksi.

Coxygeus
Dengan menulusuri sacrum ke arah distal menuju natal crease, pemeriksa dapat
mengidentifikasi dan mem-palpasi tulang koksigeus. Oleh karena lokasinya, tulang ini
merupakan lokasi umum terjadinya nyeri, baik akibat terjatuh pada bokong maupun
akibat iritasi kronis setelah posisi duduk berkepanjangan. Coccyodynia atau painful
coccyx, dapat diebabkan oleh pengggunaan berlebihan, fraktur, atau disrupsi salah satu
sendi segmen-segmen kecil yang membentuk tulang koksigeus.
Bila terdapat indikasi, pemeriksaan coxygeus dilengkapi dengan colok dubur, yang
dilakukan dengan pasien berada pada posisi decubitus dan fleksi sendi panggul.
Pemeriksa melakukan pemeriksaan rektal dengan menggunakan jari telunjuk, sehingga
memungkinkan pemeriksa untuk menjepit koksigeus antara jari telunjuk (di dalam
rectum) dan ibu jari (dari luar). Koksigeus kemudian dapat dimanipulasi ke arah belakang
dan depan untuk melihat timbulnya nyeri,

Sendi sakro-iliaka (palpasi indirek)


Tepat di sebelah profunda, lateral, dan inferior dari SIPS, pemeriksa dapat mem-palpasi
sendi sakro-iliaka. Struktur ini biasanya dapat dipalpasi berupa tepi tulang yang dapat
diikuti ke arah inferior dari SIPS. Nyeri atau pembengkakan pada sendi sakro-iliaka dapat
disebabkan oleh cedera, infeksi, ataupun kondisi artritis inflamasi, misalnya ankylosing
spondylitis.

Tuberositas isiadikus
Tuberositas isiadikus terletak pada tepi medial-inferior dari prominensia gluteal pada
pasien dalam posisi berdiri. Namun, palpasi tuberositas isiadikus jauh lebih mudah
dilakukan pada pasien dengan posisi supinasi dan sendi panggul difleksikan 45 o, dan
telapak kaki diistirahatkan di atas permukaan meja.

Nyeri pada palpasi tuberositas isiadikus dapat menandakan adanya fraktur avulsi akibat
kerja hamstring yang ber-origo di sana, ataupun akibat terjatuh langsung pada daerah
bokong. Inflamasi bursa, yang mengenai daerah tuberositas isiadikus pada individu yang
memiliki kebiasaan duduk di atas permukaan yang keras, dikenal dengan istilahweaver's
bottom.

2. Penilaian fleksi dan ekstensi, adduksi, abduksi dan rotasi sendi panggul
Pemeriksaan Gerakan Aktif
Pada posisi netral (starting point), pasien harus terbaring pada posisi supine diatas meja
pemeriksaan dan pelvis dapat dimiringkan (pemeriksa harus bisa menyelipkan tangannya di
antara meja pemeriksaan dan belakang pasien. Tungkai dan pinggul pada posisis ekstensi dan ibu
jari kaki menunjuk ke arah ventral.
Prosedur
1. Perhatikan posisi pasien di atas meja pemeriksaan (posisi spontan pada saat istirahat).
Perbedaan rotasional dari pinggul bisanya dapat langsung dilihat. Kemudian, temukan
apakah terdapat lordosis yang meningkat (disamarkan dengan kontraktur fleksi).Lakukan
pemeriksaan ini dengan menyelipkan tangan di antara meja pemeriksaan dan belakang
pasien. Biasanya hal ini dapat dilakukan.
2. Stabilisasikan pelvis dan juga tungkai atas bila diperlukan selama pemeriksaan. Lakukan
pemeriksaan awal dengan melakukan penekanan diatas Krista iliaka dengan
menggunakan telapak tangan pada SIAS.
3. Perhatikan gerakan dan nilai:
Rangkaian gerakan

Range of motion maksimum


Adanya nyeri
Adanya krepitasi
Kontraktur dan atau gerakan kompensasi yang kemudian terlihat
4. Perintahkan pasien untuk melakukan gerakan di bawah ini:
Fleksi
Lakukan fleksi pada pinggul tungkai homolateral dengan ekstensi dari tungkai
bawah kontralateral (sendi lutut diluruskan sehingga seluruh bagian belakang
lutut menempel pada permukaan meja pemeriksaan), kemudian dilakukan
pemeriksaan pada tungkai sebelahnya.
Catatan: Bila pasien tidak dapat meluruskan tungkai bawah kontralateral, tetapi
pinggul dan lutut cenderung fleksi, hal tersebut merupakan indikasi adanya
kontraktur fleksi dari pinggul sisi kontralateral
Abduksi
Stabilkan pinggul pada sisi kontralateral. Instruksikan pasien selama gerakan ini
ibu jari kaki harus menunjuk ke arah atap karena sebaliknyavkomponen rotasi ,
akan termasuk dalam gerakan ini.
Adduksi
Angkat tungkai bawah kontralateral ke atas pada ujung tumit. Instruksikan pasien
selama gerakan ini jari kaki harus menunjuk ke arah atap
Endorotasi
Posisi Inisial: Lakukan pemeriksaan pinggul pada posisi fleksi 0 dengan lutut
ekstensi, dan juga posisi fleksi 90 pada lutut dan pinggul. Alasannya adalah
tegangan pada kapsul sendi panggul berbeda pada posisi 0 dan 90, pada posisi
fleksi 0 komponen fleksi disisihkan
Eksorotasi
Posisi Inisial: Lakukan pemeriksaan pada posisi fleksi 0 pada panggul dan
dengan lutut ekstensi , dan juga pada posisi fleksi 90 pada lutut dan pinggul

Pemeriksaan Gerakan Pasif


Pada prinsipnya, pemeriksaan pasif harus termasuk gerakan yang nyeri dan atau terbatas dan atau
untuk rangkaian gerakan yang terganggu selama pemeriksaan aktif. Pemeriksaan pasif juga dapat

digunakan untuk menilai kecurigaan dari kasus hipermobilitas atau cedera otot/tendon minor.
Bila menemukan hasil pemeriksaan yang abnormal, bandingkan dengan sisi sebelahnya.
Prosedur
1. Pasien berbaring dalam posisi supine di atas meja pemeriksaan ; tungkai dan panggul
harus ekstensi dan jari kaki harus menunjuk ke arah ventral.
2. Lakukan gerakan pasif di bawah ini pada pasien:
Fleksi
Selama manuver ini , instruksikan pasien untuk menekan kebawah tungkai
kontralateral di atas meja pemeriksaan (ekstensi aktif; ekstensi pasif tidak dinilai
karena tidak memberikan informasi tambahan). Bila selama inspeksi pada posisi
supine, perhatikan adanya peningkatan lordosis dan atau ekstensi terganggu selama
pemeriksaan gerakan aktif. Melakukan fleksi dengan menggunakan Thomas test
untuk fixed flexion deformity dari panggul. Catat apakah tungkai kontralateral secara
spontan fleksi pada panggul dan lutut. Bila fleksi terjadi pada pinggul dan lutut dari
tungkai kontralateral, kemampuan ekstensi dari pinggul terbatas and dapat
disimpulkan adanya kontraktur fleksi pada pinggul tersebut.

Fleksi
Tes Thomas
Berdiri di sisi di mana kamu akan melakukan pemeriksaan fleksi pada pinggul.
Selipkan tangan diantara belakang pasien dan meja pemeriksaan , kemudian tekukkan
pinggul dan lutut yang terdekat dengan kamu sampai mencapai fleksi maksimal.
Peningkatan lordosis lumbal menghilang karena memiringkan pelvis, sebagai akibat
dari kontraktur fleksi dari sisi kontralateral tidak dapat tersamarkan lebih lama
(perhatikan tungkai kontralateral).

Tes Thomas
Abduksi
Berdiri di sisi tungkai yang akan diperiksa (stabilisasikan pelvis kontralateral) dan
gerakkan tungkai yang ekstensi ke arah luar.

Abduksi
Adduksi
Berdiri di depan meja pemeriksaan, angkat satu tungkai yang ekstensi dan gerakkan
tungkai satunya yang akan diperiksa melewati garis tengah di bawah tungkai yg di
angkat sejauh mungkin yang disa dilakukan.

Adduksi
Eksorotasi dan Endorotasi
Berdiri di sisi tungkai yang akan diperiksa. Fleksikan pinggul dan lutut 90 pada
tungkai yang akan diperiksa. Pegang tumit dengan satu tangan dan tangan lainnya
memegang lutut. Untuk eksorotasi, gerakkan tungkai bawah ke arah dalam dan untuk
endorotasi gerakkan tungkai bawah ke arah luar.

Eksorotasi

Endorotasi
3. Nilai kembali:
Rangkaian gerakan
Range of motion maksimal
Ada tidaknya nyeri
Ada tidaknya krepitasi
Kontraktur dan atau gerakan kompensasi yang timbul

PANGGUL
Pemeriksaan gerakan aktif
Mintalah pasien untuk membuka pakaian , hanya menyisakan pakaian dalam.
Dalam 'posisi netral' (titik awal) pasien harus berbaring di posisi telentang di meja pemeriksaan
dan panggul dapat dimiringkan sedikit ke arah depan (yaitu pemeriksa harus hanya dapat
menggeser tangan antara meja dan punggung pasien) [10]. Kaki dan pinggul diluruskan dan 'titik'
jari-jari kaki bagian ventral. [11].

Gambar : Rentang gerak sendi panggul


Prosedur
1.

2.

3.

4.

Amati posisi pasien di atas meja pemeriksaan (postur spontan saat istirahat). Perbedaan
rotasi pinggul biasanya segera jelas terlihat. Selanjutnya , menentukan apakah ada
peningkatan lordosis (menutupi contracture fleksi!). Lakukan ini dengan menggeser tangan
antara meja pemeriksaan dan punggung pasien. Biasanya ini dilakukan hanya apabila
memungkinkan.
Stabilisasi panggul dan jika perlu kaki bagian atas selama pemeriksaan gerakan . Lakukan
ini dengan tegas awalnya menekan krista iliaka dengan telapak tangan pada posisi spina
iliaka anterior superior.
Periksa gerakan dan nilai :
Jalannya gerakan
Jangkauan maksimum gerak
Terjadinya nyeri
Terjadinya krepitasi
Kontraktur dan / atau gerakan kompensasi yang terlihat
Minta pasien untuk membuat gerakan-gerakan berikut :
Fleksi pada pinggul kaki homolateral dengan ekstensi kaki kontralateral (bagian belakang
lutut ditekan ke meja pemeriksaan), dan selanjutnya berlawanan untuk kaki yang lain
[12].
NB: Jika pasien tidak dapat meregangkan kaki kontralateral , namun pinggul dan lutut
memiliki kecenderungan untuk melenturkan, ini juga dapat menunjukkan fleksi
contracture pinggul pada sisi kontralateral!

Abduksi: Stabilisasi panggul di sisi kontralateral . Anjurkan pasien bahwa selama


gerakan ini jari-jari kaki harus menunjuk arah langit-langit karena kalau tidak komponen
rotasi akan dimasukkan dalam gerakan [13].

Adduksi: secara pasif naikkan kaki kontralateral ke arah atas pada ujung kaki . Anjurkan
pasien bahwa selama gerakan ini jari-jari kaki harus menunjuk ke arah langit-langit [14].

Endoratasi: Posisi awal: periksa di 00 felxi pada pinggul [15] dengan lutut diluruskan ,
dan di 900 fleksi lutut dan pinggul [16]. Alasan untuk ini adalah bahwa ketegangan di
kapsul sendi panggul berbeda pada 00 dan pada 900, pada 00 komponen fleksi juga
dihilangkan.

Exoratasi: Posisi awal: periksa di 00 felxi pada pinggul [17] dengan lutut diluruskan, dan
di 900 fleksi lutut dan pinggul [18].

Gambar : Pemeriksaan rentang gerak pinggul totasi eksternal dan rotasi internal
Pemeriksaangerakanpasif
Prosedur
1.
2.

Pasien berbaringbenar-benar datardalam posisiterlentangdi atas mejapemeriksaan, kaki


danpinggulharus diperpanjang danjari-jari kakiharus 'titik' bagian ventral.
Lakukangerakanpasifberikut padapasien:
Fleksi. Selamamanuver inipinta pasienuntuk mendorongkakikontralateralturun kemeja
pemeriksaan(ekstensi aktif; ekstensipasiftidakdinilai karenainitidak memberikan
informasitambahan).
Jikaselama
pemeriksaandalamposisi
terlentang,
andamelihatadanyapeningkatanlordosisdan/atauperpanjangan
itutergangguselama
pemeriksaangerakan aktif, melakukanfleksimenggunakan ujiThomas'untuk deformitas
fleksipinggul
yang
menetap[19].
Perhatikanapakahkakikontralateralfleksispontanpadapinggul dan lutut. Jikafleksiterjadi
padapinggul yangterbatasdandapat disimpulkanbahwa adacontracturefleksidipinggulitu.
TesThomas
Berdiridi sisimana andainginmengujifleksipinggul. Gesertanganantarapunggung
pasiendanmeja
pemeriksaandantekukpinggul
danlututyang
terdekat

denganandasampaifleksimaksimal
tercapai.
Peningkatanlordosislumbalharusberkurangkarena kemiringandaripanggul, sebagai
akibat dimanacontracturefleksipada sisikontralateraltidak bisa lagiditutupi(amati
kakikontralateral).

Abduksi. Berdiri disisikakiyang akan diuji(stabilkan


pindahkankakiyang lurus ke arahsamping[20].

panggulkontralateral)

dan

Adduksi. Berdiri di ujungkakimeja pemeriksaan, naikkansatu kakiyang lurusdan


pindahkankaki yang lainuntuk diujidi atas garismedialsejauh mungkindi bawahkaki yang
diangkat(disebut 'gerakan gunting') [21].

Exorotasidanendorotasi. Berdiri disisikakiyang akan diuji. Lipatpinggul dan


lututkakiyang akan diujidengan sudut900. Pegangtumitdi satu tangan danlututdengan
tangan yang lain. Untukexorotasi, gerakkan kaki bagian bawahke dalam[22]
danuntukendorotasigerakkankaki bagian bawahke arah luar[23].

3.

NB:
Praktek
yang
umumadalah
untuk
memeriksarotasipasifpinggulpada
0
90 fleksipinggulkarenagerakan ini dapat dengan mudahterwujud dalamposisi ini, berbeda
denganrotasipada00 fleksipinggul.
Keterbatasanfleksipasiflebih
dari300 jarangterjadi.
Namun, ini bisamenjadi indikasi untukmenyelidikirotasipinggulpada00 fleksi.
Denganini nilai kembali:
Jalannya gerakan
Jangkauan maksimum gerak
Terjadinya nyeri
Ada atau tidaknya krepitasi
Kontraktur dan/atau gerakan kompensasi yang terlihat

3. Pengukuran panjang ekstremitas bawah


Perbedaan panjang tungkai biasanya disebut ketidak sesuaian panjang kaki, walaupun
ketidak sesuaian panjang tungkai lebih akurat karena secara keseluruhan panjang ekstremitas
bawah dengan dibandingkan.
Abnormalitas panjang tungkai biasanya merupakan akibat kemiringan pelvis,karena itu
memeriksa kemiringan pelvis merupakan permulaan yang bagus untuk pemeriksaan alignmen.
Pada pasien yang normal, kedua sisi pelvis biasanya sama tinggi ketika pasien berdiri.
Mengukur Kemiringan Pelvis
1. Pasien membelakangi pemeriksa
2. Dengan tanpa alas kaki, dengan lutut dipanjangkan dan kaki dirapatkan
3. Pemeriksa menempatkan jari atau kedua tangan pada krista iliaka pasien dan mebuat
garis imajiner antara kedua krista (gambar 1)
4. Dikatakan terdapat kemiringan pelvis apabila garis imajiner tidak sejajar dengan lantai.

Gambar 1. Mengukur Kemiringan Pelvis


True Leg Length - Pengukuran Langsung
1. Pasien berada dalam posisi supine diatas meja periksa dengan tubuh selurus mungkin
2. Identifikasi spina iliaka anterior superior kanan dan letakkan ujung alat pengukur tepat
diatasnya
3. Pasien diminta untuk memegang ujung pengukur,kemudian pemeriksa menarik pengukur
lurus hingga malleolus medialis kanan (gambar 2)
4. Pemeriksa mencatat hasil pengukuran dan melakukan pengukuran yang sama pada
ekstremitas bawah sebelah kiri
5. Jika panjang tungkai berbeda secara signifikan maka terdapat true leg leng diskrepansi
6. Perbedaan > 5 mm atau kurang sulit dinilai secara akurat dengan metode pengukuran ini

7. Jika jarak spina iliaka anterior superior ke malleolus medialis adalah sama, maka true leg
leng adalah sama.

Gambar 2. Mengukur True Leg Length


Apparent Leg Length Pengukuran Langsung
1. Pasien berada dalam posisi supine diatas meja periksa dengan tubuh selurus mungkin
2. Ukur jarak umbilicus ke ujung masing-masing malleolus medialis. (gambar 3)
3. Jika jarak SIAS ke malleolus medialis adalah sama tetapi jarak umbilicus ke malleolus
medialis berbeda, terdapat fungsional leg length diskrepansi.

Gambar 3. Mengukur Apparent Leg Length


Metode Blok
1. Pasien berdiri
2. Beberapa lok atau buku dengan ketebalan bervariasi diletakkan dibawah kaki yang lebih
pendek sampai garis imajiner antara krista iliaka sejajar dengan lantai
3. Mengukur ketebalan buku atau blok untuk memperkirakan true leg length diskrepansi
secara kuantitatif

Metode Visual
Metode ini berguna apabila diskrepansi sangat kecil dan metode skrining apabila tidak ada
alat pengukuran
1. Pasien berbaring dalam posisi supine diatas meja periksa
2. Pemeriksa meluruskan pasien selurus mungkin dan memegang kaki pasien, geser
ekstremitas bawah sampai dapat ditarik garis lurus diantaranya melewati pusat pasien.
(gambar 5.13A)
3. Pemeriksa membandingkan posisi kedua malleolus medialis (gambar 5.13B dan C)
4. Jika salah satu lebih proksimal atau distal maka terdapat leg length diskrepansi.
5. Perbedaan posisi kedua malleolus menunjukkan leg length diskrepansi
Jika terdapat true leg length diskrepansi pemeriksaan berikutnya adalah untuk memastikan
apakah diskrepansinya pada femur atau tibia.
Memeriksa Femoral Leg Length Diskrepansi
1. Pasien berbaring dalam posisi supine pada meja periksa dengan pinggul dan lutut
difleksikan 90 derajat.
2. Jika salah satu femur lebih panjang, posisi tinggi lutut berbeda
Tibial Leg Length Diskrepansi
1. Pasien berada dalam posisi pronasi dengan lutut difleksikan 90 derajat
2. Jika panjang tibia berbeda, telapak kaki pasien berbeda tingginya diatas meja
pemeriksaan.

BAB IV
SHOULDER
1. Inspeksi posisi skapula
Skapula merupakan tulang pipih berbentuk triangular yang hampir keseluruhannya ditutupi oleh
kumpulan otot. Margo medial dari scapula memiliki orientasi parallel dengan prosesus spinosus
torakal. Fossa glenoid berada pada sudut atas lateral skapula. Struktur tulang yang paling mudah
terlihat ialah spina scapula, yang bermula dari tepi medial scapula dan berlanjut hingga sudut
supra-lateral, dan berakhir sebagai prosesus acromion. Spina tersebut membagi sisi posterior
scapula menjadi dua fossa. Otot supraspinatus mengisi fossa superior (fossa supraspinatus),
sementara otot infraspinatus dan teres minor mengisi fossa inferior (fossa infraspinatus). Spina
scapula merupakan lokasi insersi dari otot trapezius, serta origo dari sepertiga posterior otot
deltoideus.
Prosedur pemeriksaan:
1) Pemeriksa menjelaskan kepada pasien tujuan dan langkah-langkah pemeriksaan, kemudian
meminta persetujuan pasien.
2) Pasien diminta untuk membuka bajunya.
3) Pasien berdiri tegak dengan punggung menghadap pemeriksa.
4) Lakukan inspeksi terhadap struktur-struktur yang terdapat pada aspek posterior dari bahu:
spina scapula, margo medial scapula, otot supraspinatus, otot infraspinatus, otot teres minor,
otot trapezius, margo lateral scapula, otot rhomboideus, otot levator scapula, otot lattisimus
dorsi

A, B, and C, Posterior aspect of the shoulder and upper arm. A, spine of the scapula; B, medial border of the scapula; C, supraspinalus; D, infraspinatus; E,
teres minor; F, trapezius; G, lateral border of the scapula; H, rhomboid muscles; I, levator scapula; J, posterior deltoid; K, latissimus dorsi; L, triceps
brachii; M, soft spot

5) Bandingkan sisi kiri dan kanan, perhatikan adanya atrofi otot.


Atrofi otot supraspinatus, infraspinatus, atau trapezius dapat membuat spina terlihat lebih
prominen. Atrofi otot lattisimus dorsi dapat membuat margo lateral scapula terlihat lebih
prominen.
Atrofi otot trapezius dapat membuat margo superior scapula terlihat lebih prominen.

Atrofi otot supraspinatus dan infraspinatus kiri

6) Perhatikan aligment dan kesimetrisan kedua scapula. Margo medial scapula seharusnya
parallel dengan prosesus spinosus vertebra torakal.
7) Minta pasien untuk melakukan gerakan rotasi internal sendi bahu. Gerakan ini akan
menyebabkan margo medial scapula menjadi lebih prominen.

Medial border of the scapula becomes more prominent when the shoulder is internally rotated

8) Perhatikan ada atau tidaknya winging of scapula (penonjolan margo medial scapula dalam
posisi netral, tanpa rotasi internal sendi bahu). Winging umumnya merupakan akibat
kelemahan otot seratus anterior, namun dapat pula ditimbulkan oleh kelemahan otot
romboideus dan trapezius.

9) Perhatikan ada atau tidaknya abnormalitas pada kulit maupun abnormalitas lainnya
(discolour, tumor, luka,
2. Tes fungsi otot pada bahu
Prosedur
1. Pasien berdiri atau duduk nyaman dengan lengan ke bawah.
2. Periksa otot-otot dengan menegangkan secara isometrik (tanpa gerakan). Selama periode
ini, berikan tahanan untuk kekuatan yang dihasilkan oleh pasien dengan meminta mereka
melakukan gerakan tertentu. Pastikan fiksasi yang baik dengan tangan yang lain (hati-hati
dengan gerakan kompensasi). Pada saat melakukan tes ini, tanyakan apakah adanya rasa
sakit. Jika terasa sakit, bandingkan kiri dengan kanan.
3. Jika perlu, palpasi otot:
- Untuk menentukan tonus dan titik maksimum nyeri
- Untuk membedakan lipoma dan sejenis dan herniasi otot
- Jika dicurigai suatu avulsi atau ruptur otot.
4. Pada prinsipnya, suatu tes isometrik untuk nyeri pada kelompok otot yang berbeda
harusnya mencukupi. Jika pasien merasakan gejala nyeri selama tes ini, diusahakan untuk
memeriksa kelompok otot secara individual (mengikuti perbandingan kiri-kanan).
Pastikan otot-otot ditegangkan seselektif mungkin.
- Anteflexi (terutama otot deltoid, pectoralis mayor, dan coracobrachialis)
- Retroflexi (terutama otot deltoid, teres mayor, dan latissimus dorsi)
- Abduksi (terutama otot deltoid dan supraspinatus)
- Adduksi (terutama otot pectoralis mayor dan latissimus dorsi)
- Putaran keluar (terutama otot infraspinatus dan teres minor)
- Putaran kedalam (terutama otot subscapularis, pectoralis mayor, latissimus dorsi, dan
teres mayor)
- Elevasi (terutama otot trapezius dan levator scapula)
- Ekstensi siku (terutama otot triceps brachii)

- Fleksi siku (terutama otot biseps brachii)


NB: otot sternocleidomastoid, otot rhomboid, dan otot serratus anterior hanya bisa di
periksa secara selektif.
5. Otot-otot berikut ini dapat diperiksa secara lebih selektif:
- Otot sternocleidomastoid
Fungsi : fleksi homolateral, rotasi kontralateral dari kepala
Kelainan : torticollis
- Otot deltoid (acromial origin)
Fungsi : abduksi lengan (terutama pada abduksi 75)
Kelainan : atropi karena lesi dari nervus axillaris dengan dislokasi dari sendi
glenohumeral
- Otot deltoid (scapular spine origin)
Fungsi : retrofleksi lengan (terutama dimulai pada abduksi yang lebih dari 75)
Kelainan : atropi karena lesi pada nervus axillaris
- Otot serratus anterior
Fungsi : fiksasi scapula dorsal terhadap thoraks, dan rotasi keluar dan gerakan
meluncur dari scapula
Kelainan : winging scapula
- Otot rhomboid
Fungsi : rotasi dalam, dan gerakan meluncur ke atas dan medial dari scapula
Kelainan : hipertonia
- Otot latissimus dorsi dan otot teres mayor
Fungsi : retrofleksi, rotasi dalam, dan adduksi lengan
6. NB: otot-otot berikut ini tidak dapat diperiksa secara selektif (tanpa pengaruh dari otototot lain)
- Otot trapezius (bagian descending) dan otot levator scapula
Kelainan : hipertonia, myogelosis
- Otot pectoralis mayor (bagian clavicular/ sternocostal)
Kelainan : trauma tumpul
- Otot deltoid (bagian clavicular)
Kelainan : atropi karena lesi nervus axillaris
- Otot coracobrachialis
Kelainan : tendonitis
- Otot rotator cuff
Kelainan : tendonitis
- Otot triceps brachii
Kelainan : tendonitis
- Otot bisep brachii

Kelainan : tendonitis, terutama yang dipengaruhi oleh bagian caput longum dari
otot bisep, yaitu ruptur caput longum otot bisep
3.Pemeriksaan Rentang Gerak (Range of Motion) Bahu
Posisi dasar (starting position) adalah posisi dimana lengan berada disamping torso dengan ibu
jari menunjuk ke arah ventral. Range of motion dinilai menggunakan posisi ini sebagai referensi.
Pergerakan aktif dari kedua bahu harus dilakukan oleh pasien secara simultan dan sesimetris
mungkin, untuk menghindari pergerakan dari torso dan untuk memungkinkan perbandingan
antara sisi yang diperiksa dan sisi kontralateral. Jika perlu, demonstrasikan pergerakannya.
Prosedur
1. Pasien harus berdiri atau duduk nyaman dengan lengan ke bawah, dan menghadap
pemeriksa.
2. Inspeksi pergerakan dan nilai:
- Jalannya pergerakan
- Maksimum range of motion
- Kejadian nyeri
- Kejadian krepitasi
- Kejadian kontraktur dan/atau pergerakan kompensasi
- Pergerakan di sendi acromioclavicular dan sternoclavicular
3. Untuk ini, lakukan enam gerakan gabungan:
- Antefleksi
- Retrofleksi
- Abduksi
- Adduksi horisontal
- Rotasi outward
- Rotasi inward
Harus diingat bahwa gerakan gabungan ini dicapai dengan pergerakan seluruh komponen
bahu, bukan hanya sendi humerus.
4. Juga inspeksi abduksi dan antefleksi pada bagian posterior, untuk menilai ritme
scapulohumeral
5. Jika ada kecurigaan kelainan sendi acromioclavicular atau sternoclavicular, penting untuk
meminta pasien melakukan gerakan berikut:
- Elevasi (menaikkan bahu)
- Depresi (mendorong bahu ke bawah)
- Protraksi (menggerakkan bahu ke depan)
- Retraksi (menggerakkan bahu ke belakang)

Gerakan : abduksi

Minta pasien untuk menahan lengan pada posisi vertikal. Pada bahu normal, lengan dapat
menyentuh telinga dengan memiringkan sedikit kepala. Normal range: 0-170.
Gerakan: adduksi dengan ekstensi

Letakkan satu tangan di bahu, fleksi di siku, ayunkan lengan didepan dada. Normal range: 050.
Gerakan: fleksi ke depan

Minta pasien untuk mengayunkan lengan ke depan dan angkat di atas kepala. Lihat pasien dari
arah samping. Normal range: 0-165.
Gerakan: ekstensi ke belakang

Minta pasien untuk mengayunkan lengan secara langsung ke belakang, kemudian lihat dan nilai
dari arah samping. Normal range: 0-60.
Gerakan: fleksi horisontal dan adduksi

Lengan digerakkan ke depan dari posisi abduksi 90. Lihat pasien dari atas. Normal range: 0140. Nyeri pada manuver ini biasa terdapat pada osteoartritis atau trauma pada sendi
acromioclavicular.
Gerakan: rotasi internal dengan abduksi

Abduksi bahu pada 90, dan fleksikan siku pada sudut yang benar. Minta pasien untuk
menurunkan lengan bawah dari kedudukan horisontal. Normal range: 70.
Gerakan: rotasi eksternal dengan abduksi

Dari posisi start yang sama, lengan bawah paralel dengan tanah, minta pasien untuk menaikkan
tangan, jaga bahu pada abduksi 90. Normal range: 100.
Gerakan: rotasi eksternal dengan ekstensi

Posisikan siku disamping dan fleksi pada 90 dengan tangan menghadap ke depan. Gerakkan
tangan ke lateral, bandingkan sisi yang satu dengan yang lain. Normal range: 70. Perhatikan
bahwa suatu peningkatan pada rotasi eksternal dengan ekstensi adalah tanda robekan otot
subscapularis.
Gerakan: rotasi internal dengan ekstensi

Gerakkan tangan ke dada dari posisi menghadap ke depan. Normal range: 70.
Gerakan: elevasi dan depresi bahu

Ini dapat diukur dengan pengukuran langsung, tapi Hallaceli dan Gunal menyarankan
penggunaan goniometer, dengan titik tengah pada jugular notch, dengan satu tangan vertikal dan
yang lain pada akromion. Normal range: elevasi 37, depresi 8. Elevasi memberikan penilaian
pada fungsi trapezius dan dapat juga digunakan untuk menilai penyembuhan tangan setelah
stroke. Gerakan ini juga terganggu pada kondisi yang melibatkan gerakan scapulothoracic.

BAB V
ELBOW
Pemeriksaan Range of Motion Siku
Posisi dasar (starting position) adalah: untuk fleksi/ekstensi: lengan atas dan bawah dalam posisi
segaris (fleksi 0), lengan bawah dalam posisi supinasi; untuk pronasi dan supinasi: siku dalam
posisi fleksi 90 dan telapak tangan dalam posisi sagital (midposition). Pergerakan dinilai secara
relatif dari posisi ini.
Prosedur
1. Pasien berdiri atau duduk nyaman dengan lengan ke bawah menghadap pemeriksa.
2. Inspeksi pergerakan pada sisi ventral dan nilai:
- Jalannya gerakan
- Maksimum range of motion
- Kejadian nyeri
- Kejadian krepitasi
3. Minta pasien untuk melakukan pergerakan berikut:
- Fleksi
- Ekstensi
- Pronasi
- Supinasi
Gerakan: fleksi

Rentang fleksi dapat diukur. Normal range = 145. Restriksi fleksi biasa terdapat setelah fraktur
di sekitar siku, dan segala bentuk artritis.
Gerakan: supinasi

Supinasi dapat direkam. Berikan pasien pensil untuk digenggam dan catat sudut yang dapat
dicapai dari posisi vertikal. Normal range = 80.
Gerakan: pronasi

Ini dapat dinilai dengan cara yang sama. Normal range = 75. Gerakan pronasi/supinasi dapat
berkurang setelah fraktur pada siku, lengan bawah dan pergelangan tangan (contoh sering setelah
fraktur Colles). Dapat juga terjadi setelah dislokasi siku dan rhematoid dan osteoartritis.
Kehilangan supinasi yang mutlak dapat terjadi pada anak-anak dengan siku tertarik.

BAB VI
WRIST AND HAND
Sendi pergelangan tangan(wrist joint)
Sendi pergelangan tangan ini terdiri dari 2 persendian yaitu sendi radiocarpal dan sendi
mediocarpal. Pada sendi radiocarpal, bagian distal dari tulang radius akan bersendi dengan tulang
scaphoid dan tulang lunate. Bersama sama dengan Head dari tulang ulna, bagian distal dari
radius akan membentuk sendi radiocarpal. Pada sendi ini dan pada sendi radioulnar proksimal
pronasi dan supinasi dari lengan bawah terjadi. Sedangkan sendi mediocarpal terbentuk dari faset
bagian distal dari tulang carpal proksimal (Scaphoid, Lunate, Triquetrum) yang bersendi dengan
faset bagian proksimal dari tulang carpal distal (trapezium, trapezoid, capitate, hamate).
Gerakkan yang mungkin terbentuk dari sendi pergelangan tangan ini antara lain:
Dorsal fleksi (Normalnya 90o)
Palmar fleksi (Normalnya 80o)
Abduksi radial (Normalnya 50o)
Abduksi ulnar (Normalnya 40o)
Pada bagian palmar dari sendi pergelangan tangan perjalanan dari terowongan carpal
yang terbentuk dari tulang tulang carpalia, ligament carpal transverse (pada sisi volar) dan
fleksor retinaculum. Melalui terowongan ini lewatlah beberapa struktur penting antara lain:
Tendon dari fleksor digitorum profundus
Tendon dari fleksor digitorum superficial.
Tendon dari otot fleksor pollicis longus.
Nervus medianus.
Didalam terowongan carpal, nervus medianus dapat mengalami kompresi oleh struktur struktur
disekitarnya, Yang akan menyebabkan terjadinya carpal tunnel syndrome.
Prosedur pemeriksaan
1. Mintalah pasien untuk melepaskan perhiasan, jam tangan dan aksesoris lainnya (bila
pasien menggunakan baju lengan panjang, gulunglah baju tersebut sampai diatas siku).
2. Persilahkan pasien duduk. Mintalah pasien untuk meletakkan lengan bawah dan telapak
tangan pada meja pemeriksaan
1.Inspeksi
a. Sisi Dorsal: Perhatikanlah bentuk dan posisi dari struktur berikut:
i. Tulang dan Sendi.

Perhatikanlah bagian distal dari tulang radius dan ulna (Adakah


Deformitas, memar, perubahan warna, dll)
Sendi pergelangan tangan (adakah ganglion, rheumatoid arthritis,dll)
Tulang tulang carpal (adakah deformitas, memar, perubahaan warna,
dll).
ii. Jaringan lunak
Perhatikan kulit dan kuku pasien (adakah perubahaan warna, Benjolan,
kuku hour glass, cyanosis, dll)
Perhatikan kontur otot pada daerah etensor dari pergelangan tangan
dan otot otot interosseous.
Perhatikan tendon dan sarung tendon (Adakah deformitas, oedem,
contracture, dll)

Sisi dorsal telapak tangan.A, Kuku jari tangan; B, kutikula; C, Sendi interphalang distal; D,Sendi interphalang proksimal;
E,Sendi metacarpophalangeal; F, web space; G, Phalangs distal; H. Phalangs medial; I, Phalangs proksimal; j,
metacarpal; K, Interoseus dorsal pertama; L, Tendon extensor (Jari telunjuk).

b. Sisi palmar : Perhatikanlah bentuk dan posisi dari struktur berikut:


i. Tulang dan sendi:
Perhatikan kontur dari tulang pisiform.
Perhatikan kontur tuberkel dari tulang scaphoid.
Perhatikan sendi pergelangan tangan (adakah deformitas, perubahaan
warna, oedem, dll)
ii. Jaringan lunak:
Perhatikan kulit pasien (adakah callus, sekresi keringat, gurattan
tangan pasien:down syndrome).

Perhatikan kontur otot fleksor, thenar dan hipothenar (adakah


deformitas, atrofi, dll).
Perhatikan tendon dan sarung tendon pasien

Sisi Palmar tepalak tangan. A, Gurattan jari telunjuk distal; B, Gurattan jari telunjuk proksimal; D,Gurattan telapak
tangan distal; E. Gurattan tangan proksimal; F, Lokasi dari sendi Metacarpophalangeal; G, thenar; H hypoihenar.

2.Palpasi
Mintalah pasien untuk duduk menghadap pemeriksa.
Palpasi dengan menggunakan ujung ujung jari tangan.
Mintalah pasien untuk menujukkan dengan tepat dimana dan kapan dia
merasakan nyeri (apabila ditemukan suatu kelainan maka bandingkan sisi kiri dan
kanan).
Sebagai tambahan, perhatikan bila ditemukan adanya:
o Pembengkakan dan sifat karateristiknya.
o Tonus otot pasien.
o Mobilitas abnormal.
o Struktur yang abnormal.
o Diskontuinitas.
Palpasilah secara sistematis (mulai dari proksimal ke distal)
o Palpasilah bagian distal dari tulang radius (apakah ditemukan adanya
fraktur, epiphysiolysis, Deformitas).

o
o
o
o

Prossesus styloid dari tulang radius.


Bagian distal dari pada tulang ulna.
Sendi radioulnar distal.
Tulang tulang carpalia (adakah ditemukan nyeri, deformitas,
diskontuinitas, oedem, dll)seperti:
Tulang scaphoid.
Tulang Lunate.
Tulang capitate.
Tulang psiform
Tulang Hamate.

Palpasi tulang scaphoid

Palpasi tulang Lunate

Palpasi tulang Pisiform

Palpasi tulang Hamate

o Palpasi pada jaringan lunak seperti:


Kulit (adakah nyeri, deformitas, perbedaan suhu, tanda tanda
radang.)
Palpasi tendon dan sarung tendon
3.Pemeriksaan Range of Motion
a. Gerakan aktif
Perhatikan gerakan tangan pasien dan nilai:
o Jalur gerakkan tangan pasien.
o Perhatikan ROM maksimum dari tangan pasien.
o Perhatikan apakah ada rasa nyeri?
o Perhatikan apakah terdapat krepitas?
Mintalah pasien untuk melakukan gerakan sebagai berikut:
o Pada sendi pergelangan tangan.
Dorsal Flexion (lebih kurang 90o)
Palmar flexion (lebih kurang 80o)
Radial abduction (lebih kurang 50o)
Ulnar abduction (lebih kurang 40o)
b. Gerakan pasif : Pada prinsipnya pemeriksaan gerakkan pasif hanya dilakukan bila
terdapat rasa nyeri dan atau terdapat keterbatasan gerakkan dan/atau jalur
gerakkan yang abnormal, dan/atau hipermobilitas atau cedera musculotendinosus
ringan pada saat gerakkan aktif.
Mintalah pasien untuk duduk menghadap pemeriksa.
Mintalah pasien untuk merilekskan pergelangan tangan dan tangan
pasien.
Untuk memeriksa pergerakan sendi radioulnar distal

o Peganglah tangan pasien seperti hendak berjabat tangan.


o Kemudian dengan tangan yang lainnya peganglah bagian
proksimal dari pergelangan tangan.
o Dengan menggunakan ujung jari lakukanlah palpasi pada
sendi distal antara radius dan ulna.
o Perhatikan arah dari gerakan tangan pasien, range of motion
maksimum yang dapat dicapai pasien, munculnya rasa nyeri,
dan hilang atau terdekteksinya crepitasi

Untuk memeriksa pergerakan sendi pergelangan tangan.


o Satu tangan pemeriksa memegang keempat jari tangan
pasien(biarkan jempol pasien bebas).
o Tangan pemeriksa yang lain dapat meraba bagian
pergelangan tangan untuk meraba sendi radiocarpal.
o Perhatikan arah dari gerakan tangan pasien, range of motion
maksimum yang dapat dicapai pasien, munculnya rasa nyeri,
dan hilang atau terdekteksinya crepitasi

Gerakan: dorsofleksi

Dorsofleksi dapat diukur dengan goniometer. Normal range = 75. Hipermobilitas biasa pada
wanita. Bagaimana pun juga, jika hipermobilitas terlalu menyolok harus diperiksa untuk
menyingkirkan sindroma joint laxity.
Gerakan: palmarfleksi

Palmarfleksi dapat diukur dengan goniometer. Normal range = 75. Jika rentangnya lebih dari
ini, cari tanda lain dari hipermobilitas pergelangan tangan (dan sendi lain), seperti yang
dideskripsikan sebelumnya.
Gerakan: deviasi radial

Deviasi radial diukur berdasarkan sudut yang terbentuk antara lengan bawah dan garis tengah
metacarpal. Tes ini paling baik dilakukan pada midposisi dari rentang pronasi/supinasi. Normal
range = 20.
Gerakan: deviasi ulnar

Deviasi ulnar dapat diukur dengan cara yang sama. Normal range = 35.
Gerakan: pronasi

Untuk pengukuran yang akurat, beri pasien pensil untuk dipegang. Minta pasien untuk menjaga
siku tetap disamping badan dan mempronasi pergelangan tangan. Ukur sudut antara garis
vertikal dan pensil yang dipegang. Normal range = 75.
Gerakan: supinasi

Supinasi dapat diukur dengan cara yang sama. Normal range = 80. Siku diukur dengan
seksama karena dapat mempengaruhi pronasi dan supinasi, dan jika perlu ukur kurvatura radius.
4.Tes fungsi otot
Periksa fungsi otot pasien:
ii. Mintalah pasien untuk melepaskan semua perhiasan dan aksesori dari
tangannya.
iii. Letakkanlah tangan pasien diatas meja pemeriksaan dengan siku pasien di
tekuk 90o.
iv. Berikanlah tekanan pada daerah dari tangan pasien yang berlawanan
dengan tenaga dari pasien.
v. Ukurlah berapa kekuatan otot yang dapat dihasilkan oleh otot tersebut.

vi. Adapun otot otot yang berfungsi untuk menggerakkan pergelangan


tangan antara lain:
Otot otot ekstensor pergelangan tangan otot Ekstensor
digitorum, otot ekstensor carpi radialis, otot ekstensor carpi ulnaris.
Otot otot fleksor pergelangan tangan Otot palmaris longus,
Otot fleksor carpi radialis dan otot fleksor carpi ulnaris.
Otot otot ulna Abductor otot fleksor carpi ulnaris, dan
ekstensor carpi ulnaris.
Otot otot radius abductor otot fleksor carpi radial, ekstensor
carpi radial longus dan brevis.

Test fungsi otot fleksor

Test fungsi radial abduction

Test fungsi otot Ekstensi

Test fungsi ulnar abduction

5.Tes Khusus
3. Tes khusus.
a. Finkelstein`s test
pemeriksaan ini dilakukan bila dicurigai adanya sindrom
De Quervain (tenosynovitis pada otot abductor pollicis longus dan otot
extensor pollicis brevis.)
i. Procedurnya:
Gengamlah pergelangan tangan pasien (biarkan jempol pasien
tetap bebas)
Lakukan pasif abduksi ke arah ulnar secara perlahan.
Kemudian gengamlah pergelangan tangan pasien tapi kali ini
gengamlah juga jempol tangan pasien.
Lakukan pasif abduksi ke arah ulnar secara perlahan.
Test positif bila keluhan nyeri yang dirasakan pertama dan kedua
mengalami peningkatan.

b. Test untuk suspek sindroma terowongan carpal test ini dilakukan bila
pasien mengeluhkan adanya rasa kesemutan dan/atau nyeri dan/atau hilangnya
kekuatan pada tangan (atrofi dari pada bagian thenar telapak tangan)
i. Test Tinel`s
Lakukan pengetukan dengan menggunakan jari tengah pemeriksa
atau dengan menggunakan palu refleks.
Pengetukan dilakukan pada sisi palmar pada petengahan level
ligament carpal di pergelangan tangan pasien.
Test dinyatakan positif bila pada saat pengetukan pasien
merasakan adanya nyeri dan/atau kesemutan pada perjalanan
nervus medianus.

ii. Manuver Phalen`s


Minta pasien untuk menahan kedua sisi punggung tangan (flexi
palmar maksimum) selama lebih kurang 1 menit.
Kemudian minta pasien untuk menahan kedua telapak tangan
(dorsal fleksi maksimum) selama lebih kurang 1 menit.
Test dinyatakan positif bila selama test pertama dan/atau test
kedua pasien merasakan nyeri atau kesemutan di sepanjang
perjalanan nervus medianus.

6.Test fungsi jari jari tangan.


Sendi carpometacarpal dibentuk oleh tulang tulang carpal distal dan oleh tulang
tulang metacarpal. Sedangkan sendi pada jari jari dibentuk oleh tulang tulang metacarpal dan
phalanks proksimal (membentuk sendi metacarpophalangeal, MCP), phalangs proksimal dan
phalangs medial (membentuk sendi proksimal interphalangs, PIP), Phalangs medial dan phalangs
distal (membentuk interphalangs distal). Ibu jari merupakan suatu pengecualian, dimana hanya
mempunyai sendi metacarpophalangeal dan sendi interphalangeal. Ibu jari juga hanya
mempunyai 2 phalangs.

Sendi carpometacarpal 1, yang merupakan sendi pelana kuda, yang dapat melakukan
beberapa gerakan antara lain:
Pada sendi metacarpophalangeal
o Fleksi (Lebih kurang 50o)
o Extensi (Lebih kurang 0o)
o Abduksi. (Sangat terbatas)
o Adduksi (Sangat terbatas).
Pada sendi interphalangeal
o Fleksi (Lebih kurang 90o).
o Ekstensi (lebih kurang 20o)
Sedangkan mulai dari jari telunjuk sampai ke jari manis (jari ke 2 sampai ke 5) dapat melakukan
gerakan gerakan sebagai berikut:
Sendi metacarpophalangeal
o Fleksi (lebih kurang 90o).
o Ekstensi (lebih kurang 35o).
o Abduction (lebih kurang 20o).
o Adduction (lebih kurang 20o).
o Rotasi (secara pasif)
Sendi Proksimal interphalangs.
o Fleksi (lebih kurang 100o).
o Ekstensi (lebih kurang 0o).
Sendi distal interphalangs
o Fleksi (lebih kurang 80o).
o Ekstensi (lebih kurang 20o)
Prosedur pemeriksaan
1. Mintalah pasien untuk melepaskan perhiasan, jam tangan dan aksesoris lainnya (bila
pasien menggunakan baju lengan panjang, gulunglah baju tersebut sampai diatas siku).
2. Persilahkan pasien duduk. Mintalah pasien untuk meletakkan lengan bawah dan telapak
tangan pada meja pemeriksaan.
3. Inspeksi
a. Sisi Dorsal: Perhatikanlah bentuk dan posisi dari struktur berikut:
i. Tulang dan Sendi.
Perhatikanlah tulang tulang metacarpal 1 sampai metacarpal 4
(Adakah deformitas, Angulasi, rotasi, Pemendekan, oedem, dll.)
Perhatikanlah sendi Metacarpophalangeal 2 sampai 5 (Adakah
deformitas, Angulasi, rotasi, oedem, dll.)

Perhatikanlah tulang tulang phalangs (Adakah deformitas, Angulasi,


rotasi, Pemendekan, oedem, Amputasi dll).
Lihatlah sendi interphalangs proksimal (Adakah deformitas, Angulasi,
rotasi, oedem, dll).
Perhatikanlah sendi interphalangs distal (Adakah deformitas, Angulasi,
rotasi, oedem, dll)
Perhatikan sendi pada jempol pasien:
o Sendi carpometacarpal, sendi metacarpophalangeal, dan sendi
interphangeal (Adakah deformitas, Angulasi, rotasi,
Pemendekan, oedem, dll)
ii. Jaringan lunak
Perhatikan kulit dan kuku pasien (adakah perubahaan warna, Benjolan,
cyanosis, dll)
Perhatikan tendon dan serung tendon (Adakah deformitas, oedem,
contracture, dll)
4. Palpasi
Mintalah pasien untuk duduk menghadap pemeriksa.
Palpasi dengan menggunakan ujung ujung jari tangan.
Mintalah pasien untuk menujukkan dengan tepat dimana dan kapan dia
merasakan nyeri (apabila ditemukan suatu kelainan maka bandingkan sisi kiri dan
kanan).
Sebagai tambahan, perhatikan bila ditemukan adanya:
o Pembengkakan dan sifat karateristiknya.
o Tonus otot pasien.
o Mobilitas abnormal.
o Struktur yang abnormal.
o Diskontuinitas.
Palpasilah secara sistematis (mulai dari proksimal ke distal)
o Palpasilah sendi metacarpophalangeal 1 sampai 5 (adakah nyeri,
deformitas, oedem, crepitasi, contracture, dll).
o Palpasilah tulang tulang phalangs. (adakah nyeri, deformitas, oedem,
crepitasi, contracture, dll).
o Palpasilah tulang tulang phalangs (adakah nyeri, deformitas, oedem,
crepitasi, contracture, dll)
o Palpasi Sendi interphalangs proksimal dan distal 2 sampai dengan yang
ke 5 (adakah nyeri, deformitas, oedem, crepitasi, contracture, dll).
o Palpasilah sendi interphalangs ibu jari.
o Palpasi pada jaringan lunak seperti:
Kulit (adakah nyeri, deformitas, perbedaan suhu, tanda tanda
radang.)

Palpasi tendon dan sarung tendon


5. Pemeriksaan gerakkan
a. Gerakan aktif
Perhatikan gerakan jari jari tangan pasien dan nilai:
o Jalur gerakkan jari tangan pasien.
o Perhatikan ROM maksimum dari jari tangan pasien.
o Perhatikan apakah ada rasa nyeri?
o Perhatikan apakah terdapat krepitas?
Mintalah pasien untuk melakukan gerakan sebagai berikut:
o Pada Sendi jari tangan kedua sampai ke lima:
Fleksi. (Lebih kurang 90o)
Ekstensi (Lebh kurang 0o, tp dapat hiperekstensi pasi samapi 45o)
Abduksi / Adduksi ()

Adduksi sendi metacarpophalangeal

Abduksi sendi metacarpophalangeal

o Pada sendi Interphalangs proksimal dan interphalangs distal:


Fleksi (lebih kurang 100o pada sendi PIP, 80o pada sendi DIP)
Ekstensi (lebih kurang 0o)

o Pada sendi ibu jari:


Sendi carpometacarpal.
Dapat bergerak opposition dan reposition.
Sendi metacarpophalangeal
Fleksi (Lebih kurang 55o)
Ekstensi (lebih kurang 0o, tapi dapat hiperekstensi sampai
5o)

Sendi interphalangeal
Fleksi (lebih kurang 80o)

Ekstensi (lebih kurang 20o)

b. Gerakan pasif : Pada prinsipnya pemeriksaan gerakkan pasif hanya dilakukan bila
terdapat rasa nyeri dan atau terdapat keterbatasan gerakkan dan/atau jalur
gerakkan yang abnormal, dan/atau hipermobilitas atau cedera musculotendinosus
ringan pada saat gerakkan aktif.
Mintalah pasien untuk duduk menghadap pemeriksa.
Mintalah pasien untuk merilekskan pergelangan tangan dan tangan
pasien.
Untuk memeriksa pergerakan pada sendi sendi jari tangan
o Rabalah celah sendi pasien dengan menggunakan ibu jari
dan jari telunjuk.
o Kemudian dengan tangan yang lain peganglah bagian distal
dari jari tersebut dan gerakkanlah sambil meraba pergerakan
pada sendi tersebut.

Untuk memeriksa pergerakan pada Sendi Carpometacarpal 1:


o Rabalah sendi carpometacarpal dengan menggunakan ibu
jari dan jari telunjuk.

o Kemudian peganglah tulang metacarpal pertama dengan


menggunakan ibu jari dan jari telunjuk tangan yang lainnya.
o Kemudian gerakkan bagian distal ibu jari oposisional dan
reposisional secara pasif.

c. Periksa fungsi otot pasien:


i. Mintalah pasien untuk melepaskan semua perhiasan dan aksesori dari
tangannya.
ii. Letakkanlah tangan pasien diatas meja pemeriksaan dengan siku pasien di
tekuk 90o.
iii. Berikanlah tekanan pada daerah dari tangan pasien yang berlawanan
dengan tenaga dari pasien.
iv. Ukurlah berapa kekuatan otot yang dapat dihasilkan oleh otot tersebut.
v. Adapun otot otot yang berfungsi untuk menggerakkan pergelangan
tangan antara lain:
Otot otot fleksor pada jari Otot fleksor digitorum superficial
dan profundus.
Otot ekstensor pollicis longus dan brevis.
Otot fleksor pollicis longus.
Abductor policis longus
Otot palmar interosseous.
Otot dorsal interosseous
Otot lumbricales

Otot fleksor pada jari

Otot fleksor pollicis longus

Otot Palmar interosseus

Otot ekstensor pollicis longus dan brevis

Otot abduktor pollicis longus

Otot dorsal interosseus

Otot lumbricales

BAB VII
KNEE
1. Pemeriksaan Range of Motion
Pemeriksaangerakan aktif
Pasien harusberbaringbenar-benar datardengan pingguldan lututyang diluruskan(jika mungkin!).
'Posisi netral' (titik awal) dari sendi lututadalahdimanapinggul, lutut dan pergelangan
kakiberbaring disatu garisbila dilihat dari sisi lateral[56].

1.
2.

3.

Mintalah pasien untuk membuka pakaian , hanya menyisakan pakaian dalam.


Periksa gerakan dan nilai :
Jalannya gerakan
Jangkauan maksimum gerak
Terjadinya nyeri
Terjadinya krepitasi
Perpindahanlateralpatela(selama gerakan fleksi) (patelladisplastikdapatberpindah
selama fleksi).
Nilaihal ini denganmeminta pasienuntuk melakukangerakanberikut:
Fleksi(bawa tumitkepantatjika mungkin) [57]

Extensi ('tekan' lekukanlututke arah bawah kemeja pemeriksaan, gerakanharus dimulai


denganlututdalam posisifleksimaksimal) [58]
NB: Exorotasidanendoratasilututdi900 fleksihampir tidak pernahterganggudalam
gerakanaktifdan karena itu tidakperludiperiksa secaraaktif.

Pemeriksaangerakanpasif
Prosedur
1.
2.

Pasien berbaringbenar-benar datardengan pingguldan lututdiluruskan(jika memungkinkan)


Test:
Untukfleksi[59] danekstensi[60]: Rabalututdengan satu tangan, di manaibu
jarimerabasatu sisiruang sendidanjari telunjukataujari tengah meraba di sisi laindariruang
sendi(untuk menemukan ruang sendi,lutut secara singkatdapatdibawa ke900 fleksi, jika
mungkin), selamapalpasiinitelapaktanganharus mengujilembutpatela. Tangan yang umum
digunakan harus ditempatkandisekitarpergelangan kakiataucalcaneuspada kaki yang
bersangkutan.

NB:
Jika
selamapemeriksaangerakan
aktifAndamengamatilateralisasi
yangabnormal,mungkin ada baiknyauntuk melakukanpalpasiinilagi sambilmerabapatella
dengan bebas antara ibu jari danjari telunjuk. Dengan cara ini Andamungkin
dapatmerealisasikandengan'pelacakan burukpatela. (Namun, literatur internasionaltidak
menyatakankapanlateralisasiini harus dianggapabnormal).
Untukexorotation[61] danendorotation[62]: Peganganadalah samaseperti yang dijelaskan
di atas. Namun, sekaranggunakantangan Anda(tempatkan di sekitarkalkaneus) untuk
memutarkaki(dalam posisi900 fleksi) lebih dulu ke arah luar(exoratation) dan kemudianke
arah dalam(endorotation). Perhatikanindikasinyeri(kerusakan meniskus).

3.

Saat membuatgerakan-gerakan ininilaisekali lagi:


Jalannya gerakan

Jangkauan maksimum gerak


Terjadinya nyeri
Ada atau tidaknya krepitasi
NB: Jika Anda tidak mengamati adanya kelainan, pemeriksaan gerakan pinggul harus
dilakukan berikutnya. Ingatlah bahwa keluhan lutut mungkin karena rasa sakit dari organ
lain dan hal ini terutama terjadi pada anak-anak.

2. Menilai Ligamentum Krusiatus dan Kolateral


Pemeriksaan Ligamen Kolateral
Prosedur
1. Pasien berbaring dalam posisi supine dengan pinggul ekstensi dan lutut, bila
memungkinkan.
2. Berdiri di sisi tungkai yang akan diperiksa. Letakkan tungkai atas secara diagonal
menyilang meja pemeriksaan ,jadi lutut dapat difleksikan 20-30 menggantung di
pinggir meja pemeriksaan. Kapsul posterior dan ligament krusiata dengan begitu akan
relaks.
3. Stabilisasikan tungkai atas dengan meletakkan satu tangan di atas otot vastus lateralis
pas di atas lutut.
4. Dengan tangan lain, lakukan valgus-inducing pada tungkai bawah. Tindakan ini
untuk memeriksa kelenturan dari ligament kolateral medial dan menekan meniskus
lateral.
5. Kemudian, stabilisasikan tungkai atas dengan meletakkan tangan di atas otot vastus
medialis pas di atas lutut.
6. Dengan tangan lain lakukan varus-inducing force pada tungkai bawah. Tindakan ini
untuk memeriksa ligament kolateral lateral dan menekan meniskus medial.
7. Ulangi pemeriksaan di atas dengan lutut ekstensi maksimal untuk memeriksa struktur
dorsal lutut secara khusus (kapsul posterior dan ligamen krusiata posterior).
Selama pemeriksaan, catat:
Mobilitas yang abnormal
Indikasi dari nyeri (di mana?); kerusakan meniskus, kerusakan ligamen
Muscular defence
Blockage ( kerusakan meniskus di sisi yang terkompresi)
Perbandingan antara kiri dan kanan

Pemeriksaan Ligamen Krusiatus


Tes Lachman
Indikasi Tes Lachman :
Akumulasi cairan yang banyak (dan atau hemarthrosis)

Trauma akut (kemungkinan fleksi terbatas)


Instabilitas kronik; pemeriksaan ini lebih spesifik dibandingkan dengan drawer sign pada
90
Prosedur
1. Pasien berbaring dengan posisi supine dengan kedua lutut difleksikan sekitar 15
2. Berdiri di sisi tungkai yang akan diperiksa. Pegang daerah femur bagian distal dengan
satu tangan kemudian pegang daerah tibia bagian proksimal dengan tangan yang satunya
lagi.
3. Periksa mobilitas tibia ke arah depan dan belakang.
4. Catat:
o Mobilitas yang abnormal (kelenturan) ke arah depan atau belakang
o Nyeri
o Muscular defence
o Perbandingan kanan dan kiri

Tes Lachman
Drawer sign
Prosedur
Pasien berbaring dengan posisi supine, dengan lutut fleksi 90 dan seluruh permukaan
telapak kaki menempel pada meja pemeriksaan.
Berdiri di sisi lutut yang akan diperiksa. Letakkan jari-jari kedua tangan di belakang
lutut, dengan jari telunjuk merasakan tegangan dari otot Hamstrings dan jempol
diletakkan vertical pada ruang sendi (disebelah ligamen patella).
Stabilisasikan kaki pasien dengan menduduki kaki pasien dengan menggunakan paha.
Dengan pelan tarik tibia bagian proksimal ke ventral berkenaan dengan femur (tes
drawer anterior).

Catat:
o Mobilitas ke depan yang abnormal (ketegangan)
o Nyeri
o Muscular defence
o Perbandingan kanan dan kiri
Bila ditemui mobilitas ke depan yang abnormal (terutama unilateral ), berarti tes drawer
anterior positif.
Ulangi tes drawer anterior dengan tungkai bawah distabilkan dalam posisi eksorotasi
maskimal. Catat sekali lagi poin-poin yang tertera di atas. Normalnya bila kapsul intak,
ketidakstabilan apapun yang timbul pada posisi netral harus dikurangi selama eksorotasi
dan atau endorotasi. Jika tidak demikian, maka ketidakstabilan tersebut akan tetap sama
atau bahkan meningkat. Tes drawer anterior yang positif pada posisi ini (mobilitas yang
abnormal) menandakan bahwa adanya masalah pada ligament krusiata anterior, kondisi
ini meliputi kapsul posteromedial dan atau sruktur ligamennya juga.
Ulangi tes drawer anterior dengan tungkai bawah distabilkan dalam posisi endorotasi
maksimal.
Catat sekali lagi poin-poin yang tertera di atas. Tes drawer anterior yang positif pada
posisi ini berarti , disamping kondisi yang meliputi ligamen krusiata anterior, juga
meliputi kapsul posterolateral dan atau struktur ligamennya juga.

Tes Drawer Anterior

Selanjutnya letakkan tungkai bawah pada posisi tengah sekali lagi dan secara perlahan
dorong tibia bagian proksimal ke arah dorsal berkenaan dengan femur (tes posterior
drawer), Catat sekali lagi poin-poin yang siudah disebutkan sebelumnya.
Bila ada mobilitas yang abnormal (terutama unilateral) pada arah posterior, berarti
mengarah ke tes drawer posterior yang positif. Pada kasus ini, terdapat masalah pada
ligament krusiata posterior juga. Tes posterior drawer yang positif tidak boleh dinilai
pada kasus cedera ligament krusiata posterior bila tibia, sebelum tes ini dilakukan,
posisinya terlalu jauh ke dorsal (ini memberikan hasil tes drawer posterior yang falsenegative dan tes drawer anterior yang false-positive

Tes Drawer Posterior

Posterior Sag Sign (Gravity drawer test)


Indikasi untuk dilakukan pemeriksaan ini adalah:
Tes drawer posterior yang positif
Tes drawer anterior yang positif
Bila ada rupture ligamen krusiata posterior, tibia dapat jatuh ke bawah dan membuat hasil tes
drawer anterior menjadi false-positive.
Prosedur
1. Pasien berbaring dalam posisi supine.
2. Fleksikan 90 pada kedua pinggul dan lutut.
3. Berdiri di depan kaki dan atau disampingnya. Konsentrasi tertuju pada lutut, perhatikan
ketinggian lutut, lihat kontur tuberositas tibia pada kedua lutut. Bila pada posisi ini
tuberositas tibia terlihat tenggelam 80ea rah dorsal , maka kondisi ini menandakan
adanya cedera pada 80ea rah80 krusiata posterior.

Gravity Drawer Test

4. Penilaian meniscus
Pemeriksaan meniscus lateral
Prosedur
1.
2.

3.
4.
5.

Pasien berbaring di meja pemeriksaan dalam posisi terlentang dengan pinggul dan lutut
diluruskan
Berdiri pada sisi kaki yang akan diperiksa dan membentuk sudut lutut fleksi 900. Dengan
satu tangan memegang calcaneus, dan gunakan jari-jari tangan lain untuk meraba ruang
sendi lateralis
Bentuk kaki hingga fleksi maksimum pada pinggul dan lutut [87], dan kemudian putar kaki
bagian bawah ke arah dalam.
Dari posisi ini luruskan lutut sementara anda masih meraba ruang sendi lateralis
Bandingkan kiri dan kanan

Tes ini positif jika gertakan menyakitkan di lutut terjadi (dengan kata lain dirasakan dan/atau
didengar) selama kaki diluruskan. Namun, rasa sakit tanpa gertakan selama manuver ini,
meskipun itu pada tingkat lebih rendah, juga dapat menunjukkan cedera meniscus. Krepitasi

pada puncak ruang sendi lateral yang mungkin merupakan indikasi dari degeneratif posterior
tanduk pecah.
Hasil tes positif membuat cedera pada meniskus lateral yang mungkin terjadi. Berbagai
penelitian telah menunjukkan, bagaimanapun, bahwa hasil negatif palsu sering terjadi.
NB: tes McMurray juga dilakukan dengan valgus dan varus stres oleh beberapa penulis. Namun,
kami berpendapat bahwa hal ini membuat tes lebih sulit untuk dilakukan dan diinterpretasi,
itulah sebabnya kami telah membatasi diri di sini untuk tes tradisional McMurray. Ada juga
berbagai tes meniskus lainnya (uji Steinmann, tes Apley, uji Bohler), namun keandalan tes ini
masih diperdebatkan.

BAB VIII
FOOT

1.Inspeksi postur dan bentuk


Pemeriksaan pergelangan kaki dan kaki dilakukan pada pasien dalam posisi berdiri dan
kemudian duduk.
1.

2.

3.
4.

5.

Mintalah pasien untuk berdiri. Pergelangan kaki dan kaki diperiksa untuk melihat adanya
pembengkakan dan deformitas. Kaki varus mempunyai arkus abnormal yang tinggi. Kaki
rata mempunyai lengkung longitudinal yang lebih datar dibandingkan normal.
Mintalah pasien untuk duduk dengan kaki terjuntai di sisi tempat tidur. Palpasi maleolus
medialis dan lateralis. Palpasi tendon Achilles. Apakah ada nodulus? Apakah ada nyeri
tekan?
Periksalah rentang gerak pergelangan kaki yang mencakup dorsofleksi dan fleksi plantar.
Periksalah rentang gerak pada sendi subtalus, yang meliputi eversi dan inversi. Anda harus
memegang tungkai pasien dengan satu tangan dan memutar tumit dan kaki dengan tangan
lainnya untuk melakukan gerakan eversi dan inversi.
Periksalah rentang gerak pada sendi midtarsus, yang mencakup eversi dan inversi. Stabilkan
tumit dengan satu tangan dan putarlah kaki bawah menjadi eversi dan inversi.

Gambar : Kelainan bentuk kaki

Gambar : Rentang gerak sendi peregelangan kaki dan sendi ka


2.Penilaian fleksi dorsal/plantar, inversi, dan eversi
Pemeriksaangerakan aktif
'Posisi netral' (titik awal) adalah posisidi manaaxis longitudinaldarikaki bagian bawahtegak
lurusterhadap bidangtelapak kakidanaxismeskipuntulangmetatarsalkedua tegak lurus terhadap
bidangfrontal[94].Minta pasienuntuk melakukangerakanaktifpada kedua sisipada saat yang sama.

Prosedur
1.
2.

Pasienduduk dimeja pemeriksaandengankakimenggantung ke bawah(lutut fleksi900, tidak


adabeban berat tubuhpada kaki).
Periksagerakandi sisiventraldan nilai:
Jalannya gerakan
Jangkauan maksimum gerak

3.

Terjadinya nyeri
Terjadinya krepitasi
Nilaiini dengan memintapasienuntuk melakukangerakanberikut:
Talocrural:
Dorsalfleksi[95]
Plantarfleksi[96]

Sendi Subtalar:
Inversi[97]
Eversi[98]

Inversidaneversiaktif
pada
kaki.
Secara
umumpasien
cenderunguntuk
memutarpinggulselama gerakanini. Untukmencegah hal ini, pemeriksadapat
menstabilkankedua
lututterlebih
dahulusehinggainversidan/ataueversidapat
diperiksatanpa efek yang mengganggu.
Sendi MTP, PIPdanDIPdanIP dari jari I:
Fleksi[99]
Extensi[100]

Fleksidanextensi
aktif
pada
sendi
MTP,
PIPdanDIPdansendiIPdarijariI.
Kalkaneusdanmidfootharus
distabilkanoleh
pemeriksadalam
posisinetral'untuk
mencegah sendilainnyajuga bergerak.

Pemeriksaangerakanpasif
Prosedur
1.
2.
3.

Pasienduduk dimeja pemeriksaandengankakimenggantung ke bawah(lutut fleksi900, tidak


adabeban berat tubuhpada kaki).
Jika
perlupemeriksadapatduduk
dibangkudi
sebelahdepanpasien.
Selama
pemeriksaanlututpasienharustetap berada 900fleksi.
Pegangan:
Untukdorsalfleksidan[101]
plantarfleksi[102]:
satu
tanganmenstabilkantungkai
bawahdistaldantangan lainmenggerakkanmidfoot.

Untukinversi[103] daneversi[104]: satu tanganmenstabilkantungkai bawahdistaldansisi


lainmenggerakkankalkaneus.

Untukpronasi[105] dansupinasi[106]:
lainmenggerakkanmidfoot.

satu

tanganmenstabilkancalcaneusdantangan

Untukfleksi dan ekstensijari kaki: tergantungpada sendiuntuk


Stabilisasitulangmetatarsalatauphalanxdengan
tangandandengantanganlainmenggerakkantulangdistalke bagianstabil[107].

diselidiki.
satu

BAB IX
PENATALAKSANAAN

1. Reduksi Dislokasi
Reduksi Dislokasi Sendi Ekstremitas Bawah
Dislokasi sendi panggul adalah suatu keadaan dimana terjadi perpindahan permukaan
caput femoris terhadap acetabulum. Dislokasi terjadi ketika caput femoris keluar dari
acetabulum. Kondisi ini dapat kongenital atau didapat (acquired). Dislokasi yang paling sering
ditemukan adalah dislokasi sendi panggul yang didapat akibat trauma (dislokasi panggul
traumatika). Ini merupakan suatu kegawat daruratan dibidang ortopedi dan harus segera
dilakukan reduksi dalam waktu kurang dari 6 8 jam setelah trauma untuk menimimalisir
osteonekrosis kaput femur.
Klasifikasi yang mudah dan sering digunakan adalah dislokasi sendi panggul posterior
dan dislokasi sendi panggul anterior. Dislokasi sendi panggul posterior merupakan dislokasi
yang paling sering terjadi. Dislokasi sendi panggul posterior terjadi sebanyak 90% dari kasus,
sedangkan dislokasi sendi panggul anterior terjadi sebanyak 10% dari seluruh kasus.
Dislokasi Sendi Panggul Posterior
Gejala klinis
1. Nyeri
2. Ekstremitas yang terkena tidak dapat digerakkan
Pemeriksaan Fisik
1. Terjadi pemendekan pada ekstremitas yang terkena
2. Posisi fleksi, adduksi dan internal rotasi pada sendi panggul
Metode Allis
1. Pasien berbaring dalam posisi supine.
2. Seorang asisten menekan spina iliaca anterior superior.
3. Operator memegang tungkai yang mengalami dislokasi pada pergelangan kaki
menggunakan satu tangan.
4. Lengan bawah operator diletakkan di bawah lutut, lalu lakukan traksi longitudinal sejajar
deformitas.
5. Paha dalam posisi adduksi dan endorotasi, lalu difleksikan 90 derajat. Tindakan ini
merelaksasikan ligamen iliofemoral.
6. Setelah traksi dipertahankan, caput femoris diungkit ke dalam acetabulum dengan
abduksi, rotasi eksternal, dan ekstensi pinggul.

Gambar 1. Manuver Allis


Manuver Stimson
Manuver ini menggunakan berat tungkai bawah dan gravitasi untuk mengurangi dislocasi.
1. Pasien ditempatkan di atas meja dalam posisi telungkup.
2. Tungkai yang mengalami dislokasi digantungkan ke bawah dan lutut difleksikan.
3. Seorang asisten memegang tungkai yang sehat secara horizontal.
4. Operator memberi tekanan ke bawah secara mantap pada lutut yang fleksi.
5. Posisi ini tetap dipertahankan hingga otot-otot relaksasi dan caput femoris turun ke
acetabulum.
Kadang-kadang dengan sedikit mengayunkan paha dapat mempercepat reduksi.

Gambar 2. Manuver Stimson

Maneuver Bigelow
1. Pasien dibaringkan di lantai dalam posisi supine.
2. Seorang asisten menekan spina iliaca anterior superior.
3. Angkat tungkai yang mengalami dislokasi dan fleksikan sendi pinggul dan lutut.
4. Rotasikan tungkai ke posisi netral.
5. Buat traksi yang mantap pada tungkai bawah ke arah atas, angkat caput femoris
ke dalam acetabulum.
6. Setelah traksi ke atas selesai, letakkan paha ke bawah dalam posisi ekstensi.

Gambar 3. Manuver Bigelow


Teknik Whistler
1. Panggul yang mengalami dislokasi direlokasikan menggunakan lengan operator untuk
mengangkat dan memanuver tungkai yang mengalami dislokasi ketika bahu operator
diangkat.
2. Tangan operator bertumpu pada paha kontralateral.
3. Seorang asisten atau tangan lain operator melakukan kontratraksi pada tibia atau fibula.

Gambar 4. Teknik Whistler


Traksi longitudinal
1. Pasien dibaringkan dalam posisi supin
2. Seorang asisten melakukan traksi lateral, sementara operator melakukan traksi
longitudinal.

Gambar 5. Traksi Longitudinal

Leg-crossing maneuver
Kadang-kadang dislocasi dapat direduksi dengan cara membujuk pasien untuk perlahan-lahan
menyilangkan tungkai yang mengalami dislocasi ke arah tungkai sebelahnya (adduksi) dan
kemudian lakukan traksi lembut ketika asisten memandu caput femoris kembali ke posisi semula
dengan melakukan tekanan di sebelah anterior.
Teknik fulcrum
1. Pasien dibaringkan dalam posisi supine
2. Lutut operator diletakkan di bawah lutut pasien di sisi yang mengalami dislocasi.
3. Lutut operator digunakan sebagai titik tumpu untuk mengungkit caput femoris agar
kembali masuk ke acetabulum.

Gambar 6. Teknik fulcrum


Manuver East Baltimore Lift
1.
2.
3.
4.

Pasien dibaringkan dalam posisi supine.


Operator berdiri di sisi panggul yang mengalami dislocasi.
Extremitas bawah pasien diflexikan hingga panggul dan lutut membentuk sudut 900.
Kemudian operator menempatkan lengannya yang lebih dekat dengan kepala pasien di
bawah lutut pasien, menopang tungkai pasien dengan cara menumpukan tangannya di
bahu seorang asisten yang berdiri di seberangnya, sedangkan tangan lain operator
memegang pergelangan kaki pasien.
5. Kemudian asisten meletakkan tangannya di bahu operator dengan cara melewati bagian
bawah lutut pasien (serupa dengan yang dilakukan oleh operator).
6. Operator dan asisten kemudian berdiri dengan posisi lutut sedikit flexi dan secara
bersama-sama berdiri tegak tanpa merubah posisi bahu untuk memberikan traksi.
7. Operator merotasikan tungkai bawah pasien di bagian pergelangan kaki, sedangkan
asisten yang kedua menstabilkan pelvis.

Gambar 7. Manuver East Baltimore Lift


Dislokasi Sendi Panggul Anterior
Dislokasi anterior jarang terjadi jika dibandingkan dengan dislokasi posterior. Dislokasi ini
terjadi sebanyak 10-12 % dari keseluruhan kejadian dislokasi sendi panggul. Penyebab yang
lazim adalah kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan penerbangan. Caput femoris didorong
dengan paksa ke arah anteroinferior dan berpindah ke foramen obturatorium atau pubis.
Reduksi Dislokasi Sendi Panggul Anterior
1. Setelah dilakukan sedai,analgesia dan relaksasi otot, paien diposisikan supine
2. Operator melakukan traksi segaris dengan tungkai diekstensikan untuk meindahkan kaput
femur dari bagian anterior asetabulum, sedangkan asisten melakukan tekanan berlawanan
terhadap pelvis atau menekan kaput femur ke bawah jika jika diraba
3. Ketika kaput femur berada di atas asetabulum, pinggung dirotasi internal secara perlahan
untuk mereduksi kaput femur ke dalam astabulum.
4. Setelah reduksi berhasil panggul dievaluasi dengan melakukan: fleksi dan ekstensi,
adduksi dan abduksi, internal dan eksternal rotasi.
5. Jika panggul stabil, lutut di immobilisasi dengan kaki diekstensikan untuk mencegah
fleksi dan eksternal rotasi.

2. Reposisi fraktur tertutup


Reposisi fraktur tertutup
1. Lakukan initial assessment sesuai prosedur ATLS
2. Menentukan adanya displacement fraktur
3. Berikan anestesi dan pelemas otot

4. Tarik bagian distal dari bagian tubuh yang mengalami fraktur searah dengan tulangnya
(gambar a)
5. Saat fragmen-fragmen tersebut terpisah, posisikan kembali dengan membalikkan arah
gaya yang menyebabkan cedera (jika dapat diketahui) (gambar b)
6. Sejajarkan alignment di setiap bidang (gambar c)
7. Lakukan stabilisasi fraktur

3.Stabilisasi fraktur (tanpa gips)


Pembidaian adalah tindakan memfiksasi/mengimobilisasi bagian tubuh yang mengalami
cedera, dengan menggunakan benda yang bersifat kaku maupun fleksibel sebagai
fiksator/imobilisatior.
Pembidaian adalah proses yang digunakan untuk imobilisasi fraktur dan dislokasi.
Pembidaian harus memfiksasi tulang yang patah dan persendian yang berada di atas dan di
bawah tulang yang fraktur. Jika yang cedera adalah sendi, bidai harus memfiksasi sendi tersebut
beserta tualng di sebelah distal dan proksimalnya.
Prinsip Pembidaian

1. Lakukan pembidaian pada bagian badan yang mengalami cedera (korban jangan
dipindahkan sebelum dibidai)
2. Lakukan juga pembidaian pada kecurigaan patah tulang, jadi tidak perlu harus dipastikan
dulu ada atau tidaknya patah tulang.
3. Melewati minimal 2 sendi yang berbatasan.
Tanda dan gejala fraktur:
1. Pasien datang dengan keluhan nyeri dan riwayat trauma
2. Inspeksi terlihat jejas, deformitas, bengkak
3. Palpasi didapatkan nyeri, krepitasi
4. Berkurangya atau hilangnya fungsi dari bagian yang fraktur
Prosedur pembidaian
1. Berikan penanganan Basic Life Support
2. Tenangkan penderita. Jelaskan bahwa akan memberikan pertolongan kepadanya
3. Cari gejala dan tanda fraktur
4. Jelaskan secara singkat dan jelas mengenai prosedur tindakan yang akan dilakukan
5. Meminimalkan gerakan daerah luka. Jangan menggerakkan atau memindahkan korban
sam memindahkan korban sampai daerah yang patah tulang distabilkan kecuali jika
keadaan mendesak (korban berada pada lokasi yang berbahaya, bagi korban dan atau
penolong)
6. Sebaiknya guntinglah bagian pakaian di sekitar area fraktur. Jika diperlukan, kainnya
dapat dimanfaatkan untuk proses pembidaian.
7. Jika ada luka terbuka maka tangani dulu luka dan perdarahan. Bersihkan luka dengan
cairan antiseptik dan tekan perdarahan dengan kasa steril. Jika luka tersebut mendekati
lokasi fraktur, maka sebaiknya dianggap bahwa telah terjadi patah tulang terbuka.
Balutlah luka terbuka atau fragmen tulang yang menyembul dengan bahan yang se-steril
mungkin
8. Lakukan reposisi fraktur jika diperlukan
9. Periksa keadaan neurovaskular distal dari lokasi fraktur
a. Periksa nadi distal dari fraktur (normal, melemah, atau menghilang), bandingkan
capillary refill time antara bagian yang cedera dengan bagian yang sehat
b. Periksa fungsi sensorik dan motorik distal dari fraktur
10. Lepaskan perhiasan/aksesoris pada ekstremitas yang mengalami fraktur
11. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. Sebelum dipasang, diukur dahulu
pada bagian yang sehat
12. Bidai dibalut dengan pembalut sebelum digunakan. Memakai bantalan di antara bagian
yang patah agar tidak terjadi kerusakan jaringan kulit, pembuluh darah, atau penekanan
saraf, terutama pada bagian tubuh yang ada tonjolan tulang
13. Ikat bidai dengan pengikat kain (mitella) dimulai dari sebelah atas dan bawah fraktur.
Tiap ikatan tidak boleh menyilang tepat di atas bagian fraktur. Simpul ikatan dibuat pada
permukaan bidainya, tidak pada permukaan anggota tubuh yang dibidai.
14. Ikatan jangan terlalu keras atau kendor. Ikatan harus cukup jumlahnya agar secara
keseluruhan bagian tubuh yang parah tidak bergerak
15. Kalau memungkinkan anggota gerak tersebut ditinggikan setelah dibidai.

4.Aspirasi Sendi
1. Aspirasi sendi harus selalu dilakukan dalam kondisi aseptik yang ketat.
2. Anestesi lokal dengan infiltrasi kulit
3. Tusukkan jarum 20G dan lakukan aspirasi sampel cairan sendi; bahkan jumlah cairan
yang sedikit (kurang dari 0,5mL) cukupuntuk analisis diagnostik
4. Catat volume cairan dan penampakannya
a. Cairan sinovial normal tampak jernih dan sedikitkuning
b. Cairan berawan atau keruh adalah karena adanya sel, biasanya tanda peradangan
c. Cairan dengan darah bisa ditemukan setelah cedera,tetapi juga terlihat
dalamgangguan inflamasi akut dan sinovitis nodular pigmented
5. Setetes cairan sinovial segar ditempatkan padakaca slide dan diperiksa menggunakan
mikroskop.
a. Sel darah mudah untuk diidentifikasi
b. leukosit yang banyakmemberi kesan infeksi
c. Kristal bisa dilihat, tapi ini biasanyamembutuhkanpencarian yang teliti;mereka lebih
bagus ditandai denganmikroskop cahayaterpolarisasi
6. Sapuan kering disiapkan dengan cairan heparinized;spesimen yang lebih terkonsentrasi
dapat diperoleh jika cairan disentrifus. Setelah pewarnaan yang sesuai (Wrights dan
Grams), apusan diperiksa untuk sel-sel nanah danorganisme.
Kondisi

Tampakan Viskositas Leukosit Kristal


Kuning
Tinggi
Sedikit
jernih

Biokimia
Bakteri
Sama dengan
plasma

Artritis septik

Purulen

Rendah

Glukosa rendah

Artritis TB

Keruh

Rendah

Glukosa rendah

Artritis
Rheumatoid

Berawan

Rendah

++

Gout

Berawan

Normal

++

Urat

Pseudogout

Berawan

Normal

Pyrophosphate -

Osteoartritis

Kuning
jernih

Tinggi

Sedikit

Sering +

Normal

5.Removal of splinters
A. Memastikan adanya benda asing yang tertancap di jaringan lunak subkutaneus atau di
permukaan dan menentukan lokasinya
a. Keluhan dari pasien yang merasakan adanya benda asing di dalam kulitnya
b. Inspeksi benda asing yang dapat terlihat
c. Palpasi untuk memastikan adanya benda asing dan untuk mengetahui lokasi dan arahnya
d. Untuk benda asing yang sulit untuk dideteksi, cari tanda adanya benda asing yang
tertinggal: bengkak, nyeri, sinus yang merembes, selulitis, abses, limfangitis, bursitis,
synovitis, artritis, atau osteomyelitis

e. Untuk benda asing yang tidak bisa dideteksi dari pemeriksaan fisik, bisa dibantu
menggunakan roentgent (bagi benda-benda yang bersifat radioopak), CT scan, MRI, atau
USG
B. Splinters horizontal superfisial
1. Disinfeksi daerah di sekitar splinters
2. Anestesi lokal menggunakan lidokain 2%
3. Insisi kulit menggunakan pisau scalpel no. 15
sepanjang axis splinter sampai semua benda asing
terlihat
4. Angkat benda asing menggunakan ujung pisau atau
pinset
5. Disinfeksi daerah yang telah bebas dari benda
asing
6. Balut luka
7. Injeksi tetanus toxoid bila diperlukan
C. Splinters vertikal
1. Disinfeksi daerah di sekitar splinters
2. Anestesi lokal menggunakan lidokain 2%
3. Insisi kulit superfisial menggunakan pisau scalpel
no. 15 mengelilingi splinter, kemudian lakukan
insisi yang lebih dalam mengililingi splinter
4. Lakukan eksisi elips mengelilingi jalur masuk
benda asing
5. Angkat jaringan yang dieksisi beserta benda asing
menggunakan pinset
6. Disinfeksi daerah yang telah bebas dari benda asing
7. Balut luka
8. Injeksi tetanus toxoid bila diperlukan

D. Splinter subungual
1. Disinfeksi jari yang tertancap benda asing
2. Anestesi lokal (blok nervus digital) menggunakan
lidokain 2%
3. Potong kuku yang menutupi benda asing
menggunakan gunting yang kecil dengan bentuk
V, dengan sudut bentuk V tersebut berada di
ujung proksimal dari benda asing.
4. Kuku yang dipotong dilepaskan menggukan nail
elevator dan pinset
5. Cabut benda asing dengan hati-hati menggunakan
pinset, jangan sampai mendorong benda asing
lebih ke dalam dari nail bed
6. Disinfeksi daerah yang telah bebas dari benda asing

7. Balut luka
8. Berikan antibiotik topikal
9. Injeksi tetanus toxoid bila diperlukan

6.Melakukan dressing (sling, bandage)


1. Perhatikan tempat atau letak bagian tubuh yang akan dibalut
a. Bagian tubuh yang mana? (untuk menentukan jenis dan ukuran pembalut yang
digunakan)
b. Luka terbuka atau tidak? (untuk perawatan luka dan menghentikan perdarahan)
c. Bagaimana luas luka?
d. Perlu dibatasi gerak bagian tubuh tertentu atau tidak?
2. Pilih jenis pembalut yang akan digunakan. Dapat satu atau kombinasi.
3. Sebelum dibalut, jika luka terbuka perlu diberi desinfektan atau dibalut dengan pembalut
yang mengandung desinfektan. Jika terjadi dislokasi perlu direposisi.
4. Letakkan sepotong kasa steril di tengah luka (tidak usah ditekan) untuk melindungi luka
selama disinfeksi.
5. Irigasi luka
6. Disinfeksi luka
7. Kasa penutup luka diambil kembali
8. Luka disiram dengan air steril untuk membasuh bekuan darah dan kotoran yang terdapat di
dalamnya.
9. Bersihkan kotoran yang tidak lepas ketika disiram, dengan menggunakan pinset steril.
10. Tutup luka dengan kasa antibiotik, kemudian di atasnya dilapisi dengan kasa yang agak tebal
dan lembut.
11. Apabila terjadi perdarahan, tindakan penghentian pendarahan dengan cara balut tekan,
dipertahankan sampai pendarahan berhenti atau sampai pertolongan yang lebih mantap dapat
diberikan.
12. Elevasi bagian yang terluka
13. Tentukan posisi balutan dengan mempertimbangkan:
a. Dapat membatasi pergerakan bagian tubuh yang perlu difiksasi
b. Sesedikit mungkin membatasi gerak bagian tubuh yang lain
c. Usahakan posisi balutan paling nyaman untuk kegiatan pokok penderita.
d. Tidak mengganggu peredaran darah
e. Tidak mudah kendor atau lepas.
14. Pembalutan dilakukan menutupi seluruh daerah luka dengan membiarkan daerah distal luka
tetap terbuka bila memungkinkan

7.Nail bed cauterization


1. Disinfeksi daerah yang akan dilakukan proseur kauterisasi
2. Anestesi lokal dengan ring blok
3. Keringkan darah dari kuku jari dengan plester tipe Esmarch dan turniket karet
4. Lakukan avulsi pada kuku
5. Berikan phenol 88% pada nail bed selama 3 menit
6. Buang phenol yang berlebih dengan surgical spirit dan tulle gras

7. Balut luka
8. Lepas turniket

8.Mengobati ulkus tungkai


1. Terapi antibiotik
Terapi antibiotik diberikan bila ada infeksi, antibiotik spesifik ditentukan berdasarkan kultur
dan sensitifitas. Biasanya diberikan antibiotik peroral karena antibiotik topikal terbukti tidak
efektif untuk ulkus tungkai
2. Debridement
Untuk mempercepat penyembuhan, luka dijaga agar tetap kering dari drainase dan jaringan
nekrotik.Ada berbagai bahan topikan dan sabun yang dapat digunakan bersama dengan
pencucian dan terapi debridement untuk mempercepat penyembuhan ulkus tungkai. Tujuan
penanganan adalah mengangkat jaringan mati dan menjaga ulkus kering dan lembab
sementara terjadi proses penyembuhan. Penanganan tidak boleh merusak jaringan yang mulai
senbuh. Agar penanganan topikal pada pasien berhasil. Maka terapi nutrisi perlu
diperhatikan.
a. Debridement bedah tajam menggunakan gunting
b. Debridement nonselektif dapat dilakukan dengan memberikan balutan saline isotonik
pada kasa diatas ulkus
c. Debridement enzimatik dengan pemberian salep enzim. Salep dioleskan pada lesi tetapi
tidak sampai mengenai jaringan normal disekitarnya. Lesi dan salep kemudian ditutup
dengan spon yang direndam saline yang telah diperas, kemudian ditutup dengan kasa
dan balutan longgar. Pada lesi jaringan granulasi berwarna merah jambu yang mulai
tumbuh, diberikan balutan lembab saline (tanpa salep enzim)
d. Bahan debridement dapat digunakan. Dextranomer (debrisan) adalah butiran kecil, bulat
dan sangat menyerap (diameter 0,1 - 0,3 mm), yang dapat megabsorbsi sekresi luka.
Bakteri dan nekrosis dan degradasi protein akan diabsorbsi oleh butiran-butiran tersebut.
Apabila butiran-butiran telah jenuh, warnanya berubah menjadi abu-abu, saat itulah
kemampuan pembersihannya sudah berhenti. Kemudian diangkat dan diganti dengan
butiran baru.
e. Balutan kalsium alginat juga dapat digunakan untuk debridement dan mengabsorbsi
eksudat. Balutan ini diganti setiap hari atau ketika eksudat sudah mulai tembus melalui

permukaan balutan. Balutan ini juga dapat digunakan pada daerah yang berdarah karena
bahan ini dapat membantu menghentikan perdarahan. Ketika serat kering menyerap
eksudat, maka berubah menjadi gel yang dapat diangkat tanpa nnyeri dari dasar ulkus
3. Pembalutan luka
Begitu status sirkulasi dikaji dan adekuat untuk penyembuhan (ABI diatas 0,5), maka dapat
diberikan balutan bedah untuk menjaga suasana lembab. Metode palling sederhana adalah
menggunakan bahan kontak (misalnya: tegapore) tepat pada dasar luka dan ditutup dengan
kasa. Tegapore dapat menjaga suasana lembab, dapat didiamkan selama beberapa hari, dan
tidak akan mengganggu dasar kapiler ketika diangkat untuk evaluasi. Hydrocolloid (duoderm
CGF restore, comfeel, tegasorb) bisa juga digunakan untuk mempercepat timbulnya jaringan
granulasi dan reepitelisasi. Mereka juga memberikan benteng perlindungan karena melekat
erat pada dasar luka dan jaringan sekitar. Tetapi luka dalam dan luka terinfeksi tidak boleh
ditutup dengan hydrocolloid. Balutan hidrocolloid menyebabkan suasana anaerobik dan
dapat meningkatkan insiden infeksi anaerob.
4. Terapi oksigen hyperbarik dapat dipertimbangkan pada terapi topikal. Peningkatan kadar
tekanan oksigen sampai 30 mmHg akan meningkatkan proliferasi fibroblas dan kolagen.