Anda di halaman 1dari 2

Hubungan kepolaritasan dengan nilai Rf

Ketika memisahkan dua atau lebih senyawa melalui kromatografi, sangat penting
untukmemilih pelarut yang benar sebagai fase gerak. Jika terlalu lemah pelarut yang dipilih
darieluting, akan memakan waktu yang sangat lama dan volume pelarut yang digunakan
sangat besar untuk mengelusi senyawa. Jika terlalu kuat pelarut yang dipilih dari eluting,
semua senyawa akan segera dielusi. Senyawa polar dengan mudah larut dalam pelarut
polardan memiliki afinitas rendah untuk pelarut nonpolar. Senyawa memiliki afinitas tinggi
untuk pelarut dengan polaritas yang mirip dengan diri mereka sendiri (Sermaand Bernard,
2003) Nilai Rf tergantung pada (Bidlingmayer, 1987):
Sifat polar pelarut yang digunakan Sifat Polar dari fase diam Sifat Polar sampel Kondisi
percobaan
Suatu senyawa yang mempunyai nilai lipofilitas tinggi berarati mudah larut dalamlipid atau
pelarut non polar, maka akan mempunyai harga Rf yang rendah sedangkansenyawa yang
mempunyai nilai lipofilitas rendah berarti senyawa tersebut tidak mudah larutdalam lipid atau
pelarut non polar, maka harga Rf-nya bernilai tinggi. Fase gerak yangdigunakan dilakukan
pemilihan beberapa campuran fase gerak atau eluen dengan berbagai perbandingan
untuk mendapatkan campuran fase gerak yang optimum (Gunardi, dkk., 2009)
Telah disebutkan sebelumnya bahwa polaritas sampel dan laju pergerakan
berbandingterbalik. Semakin tinggi polaritas senyawa, fase diam dari senyawa dengan
afinitas yanglebih besar akan mempunyai nilai Rf yang semakin kecil. Semakin rendah
polaritas senyawa,semakin tinggi afinitas untuk pelarut dan semakin besar nilai Rf. Jika
pelarut berubah
dari pelarut polaritas rendah (seperti hexane) ke polaritas yang lebih tinggi (seperti etil asetat)
kekuatan eluasi akan meningkat dan akan meningkatkan semua nilai-nilai Rf. Tempat
dengannilai Rf tertinggi adalah yang paling polar (bergerak tercepat), dan tempat dengan nilai
Rfterendah adalah yang paling polar (bergerak lambat) (Serma and Bernard, 2003).
6.3 Pembahasan penggunaan kombinasi eluen
Dalam percobaan ini digunakan beberapa macam perbandingan kombinasi eluenantara
toluene dan etil asetat. Hal ini dikarenakan berbagai senyawa fitokimia memberikannilai Rf
yang berbeda pada sistem eluen yang berbeda. Variasi nilai Rf pada fitokimiamemberikan
petunjuk penting dalam memahami polaritas senyawa fitokimia serta membantuuntuk
memilih sistem pelarut yang sesuai untuk pemisahan senyawa murni
denganmenggunakan kromatografi kolom. Campuran pelarut dengan polaritas yang
bervariasi pada perbandingan yang berbeda-beda dapat digunakan untuk memisahkan
senyawa murni tertentudari ekstrak tanaman. Pemilihan sistem pelarut yang sesuai untuk
ekstrak tanaman tertentuhanya dapat dicapai dengan menganalisa nilai Rf senyawa pada
sistem pelarut yang
berbeda- beda. Dengan demikian informasi ini dapat membantu untuk pemilihan sistem pelar
ut yang
lebih besar akan mempunyai nilai Rf yang semakin kecil. Semakin rendah
polaritas senyawa,semakin tinggi afinitas untuk pelarut dan semakin
besar nilai Rf. Jika pelarut berubah
dari pelarut polaritas rendah (seperti hexane) ke polaritas yang lebih tingg
i (seperti etil asetat)kekuatan eluasi akan meningkat dan akan

meningkatkan semua nilai-nilai Rf. Tempat dengannilai Rf tertinggi adalah


yang paling polar (bergerak tercepat), dan tempat dengan nilai
Rfterendah adalah yang paling polar (bergerak lambat) (Serma and
Bernard, 2003)
Seharusnya, semakin rendah polaritas senyawa, semakin tinggi afinitas untuk pelarutdan
semakin besar nilai Rf. Namun pada percobaan ini, piperin yang bersifat non polar
lebihtertarik ke fase gerak yang bersifat paling non polar yaitu perbandingan eluen
toluen:etilasetat = 70:3 tetapi jarak pergerakan totolan piperin lebih dekat dan diperoleh nilai
Rf yang paling rendah. Hal ini karena pada dasarnya piperin yang merupakan senyawa non
polar akanlebih tertarik untuk ke fase gerak yang non polar, dibandingkan dengan fase diam
yang polar,sesuai dengan prinsip
like dissolve like