Anda di halaman 1dari 27

Ocullar Drug Delivery System1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Mata adalah organ yang paling menarik karena karakteristik fitrahnya obat.
Untuk penyakit mata, administrasi topikal biasanya lebih dipilih daripada administrasi
sistemik, sebelum mencapai penghalang anatomi kornea, setiap molekul obat
diberikan melalui rute okuler harus stabil hambatan precorneal. Ini adalah hambatan
pertama yang memperlambat penetrasi bahan aktif ke dalam mata dan terdiri dari film
air mata dan konjungtiva. Obat, setelah pembangkitan berangsur-angsur, merangsang
mekanisme fisiologis pelindung, yaitu, produksi air mata, yang mengerahkan
pertahanan tangguh terhadap pemberian obat tetes mata. Lain seiring serius tentang
penghapusan obat yang dioleskan dari daerah precorneal adalah rongga hidung,
dengan luas permukaan yang lebih besar dan permeabilitas yang lebih tinggi dari
membran mukosa hidung dibandingkan dengan kornea. penetes Normal digunakan
dengan larutan tetes mata konvensional memberikan sekitar 50-75l per drop dan
sebagian dari tetes cepat menguras sampai mata kembali ke volume normal 7l
penduduk. Karena dari kehilangan obat di depan mata, obat yang sangat sedikit
tersedia untuk masuk ke jaringan kornea dan bagian dalam mata. permeabilitas kornea
Realisasi obat yang cukup rendah dan sangat kecil waktu kontak kornea dari sekitar 12 menit pada manusia untuk solusi menanamkan umumnya lensa dari 10% hanya 1-3
Akibatnya sejumlah kecil benar-benar menembus kornea dan mencapai intraokular
tissue. Drug delivery terkendali kepada mata dibatasi, karena keterbatasan ini
dipaksakan oleh mekanisme pelindung efisien.
Obat biasanya dipakai pada mata untuk maksud efek lokal pada pengobatan
bagian permukaan mata atau pada bagian dalamnya. Pengobatan dengan menyisipkan
dan meresapkan obat telah dikembangkan untuk memberikan penglepasan obat secara
terus menerus. Penyisipan obat ini mempunyai kegunaan yang khusus pada obatobat yang pemberiannya diperlukan siang dan malam.
Karena kapasitas mata untuk menahan atau menyimpan cairan dan salep
terbatas, pada umumnya obat mata diberikan dalam volume yang kecil. Preparat
cairan sering diberikan dalam bentuk sediaan tetes dan salep dengan mengoleskan
salep yang tipis pada pelupuk mata. Volume sediaan cair yang lebih besar dapat
digunakan untuk menyegarkan atau mencuci mata.

Ocullar Drug Delivery System2

Maka sangat penting bagi kita sebagai seorang farmasis untuk bisa dan
mampu memformulasi suatu sediaan obat tetes mata yang harus dibuat steril dan
bebas pirogen.
I.2

Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi ilmiah kepada
sesama mahasiswa farmasi khususnya dan masyarakat secara umum tentang
kelebihan dan kekurangan dari sediaan obat pada mata, mekanisme penyerapan
sediaan obat pada mata, sifat fisikokimia sediaan obat pada mata, dsb. Selain itu juga
diharapkan dapat mengetahui karakteristik, komponen serta metoda pembuatan dari
sediaan cair berdasarkan informasi yang terdapat dalam makalah.

I.3

Manfaat Penulisan
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua
pihak, khususnya kepada mahasiswa/i untuk menambah pengetahuan dan wawasan
mengenai sediaan obat pada mata. Manfaat lain dari penulisan makalah ini adalah
dengan adanya penulisan makalah ini diharapkan dapat dijadikan bahan pembelajaran
bagi mahasiswa/i mengenai sediaan obat pada mata.

I.4

Perumusan Masalah
Obat yang digunakan pasien menghasilkan efek tertentu yang dihasilkan oleh
interaksi obat dengan reseptor tertentu. Setiap bentuk sediaan obat mempunyai
keuntungan dan kerugian masing-masing. Teknologi pembuatan obat berkembang dan
semakin mengarah kepada bentuk sediaan obat alternative dari parenteral (route:
bukal, sublingual, nasal, pulmonary, dan vaginal). Dan komposisi yang terkandung
dalam pembuatan obat pada mata, bagaimana proses penyerapan sediaan obat pada
mata di dalam tubuh dan sebagainya.

BAB II

Ocullar Drug Delivery System3

ANATOMI FISIOLOGI MATA


II.1

Anatomi dan Fisiologi Mata


Mata manusia secara umum terbagi atas segmen anterior dan posterior. Segmen

anterior yaitu kornea, konjungtiva, iris, badan siliari, cairan humor, dan lensa. Sedangkan
bagian posterior yaitu sclera, koroid, retina dan humor viterous. Kornea merupakan membran
transparan multilayer yang terletak paling luar pada bagian mata, tidak disuplai darah dan
mendapatkan nutrisi yang diperoleh dari humor aquos dan kapiler limbal. Kornea manusia
terdiri atas 5 lapisan, yaitu corneal epitelium, membran bowman, stroma, membran descemet,
endotelium. Humor aquor merupakan cairan yang terdapat pada segmen anterior pada mata,
merupakan sumber nutrisi terbesar untuk lensa dan kornea. Iris merupakan bagian berwarna
dari mata, terdiri atas sel epitel berpigmen dan otot sirkular. Bagian tengan dari iris adalah
pupil. Sfingter iris dan otot dilator membantu dalam menyesuaikan ukuran pupil yang
mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata badan siliari, otot berbentuk cincin yang
menempel pada iris terdiri dari otot siliari. Kontraksi dan relaksasi dari otot ciliary
mengontrol bentuk lensa. Lensa adalah unit kristal dan fleksibel yang terdiri dari lapisan
jaringan tertutup dalam kapsul. Konjungtiva adalah membran mukosa yang melapisi bagian
dalam kelopak mata yang jelas dan menyebar dari permukaan anterior sclera hingga limbus.
Hal ini memfasilitasi pelumasan mata karena adanya mukus dan tear film. Sclera adalah
selubung putih sekitar bola mata dan disebut "bagian putih mata". Ini bertindak sebagai
perisai utama untuk melindungi organ internal. Sclera ini disandingkan dengan jaringan
vaskular dikenal sebagai koroid, yang terdapat diantara retina dan sclera. Koroid
menyediakan nutrisi ke sel-sel fotoreseptor di retina. Retina adalah sensori multilayer,
jaringan sensitif terhadap cahaya yang melapisi bagian dalam mata, berisi jutaan fotoreseptor
atau elemen fotosensitif yang menangkap cahaya dan mengkonversinya menjadi impuls
listrik. Impuls ini menjalar di sepanjang saraf optik ke otak , di mana mereka diubah
menjadi gambar. Humor

vitreous

adalah

zat seperti

jelly

atau

matriks

hidrogel,

didistribusikan antara retina dan lensa.


Mata adalah struktur bola dengan dinding terdiri dari tiga lapisan; bagian terluar
sclera, bagian tengah lapisan koroid, ciliary tubuh dan iris dan bagian dalam saraf lapisan
jaringan retina. Sclera adalah lapisan berserat keras yang melindungi jaringan dalam pada
mata bagian putih kecuali area transparan pada bagian depan dan kornea memungkinkan
cahaya untuk masuk ke mata.

Ocullar Drug Delivery System4

Lapisan koroid, terletak di sclera, mengandung banyak pembuluh darah yang


dimodifikasi pada depan mata sebagai iris berpigmen bagian berwarna dari mata (biru,
hijau,coklat, cokelat, atau abu-abu).

1. Struktur kornea
Kornea terletak pada bagian depan mata yang menyampaikan gambar ke bagian
belakang sistem saraf. Kornea dewasa memiliki radius sekitar 7-8 mm yang mencakup sekitar
seperenam dari total luas permukaan bola mata yang merupakan jaringan pembuluh darah
yang menyediakan nutrisi dan oksigen yang dipasok melalui cairan lakrimal dan cairan hmor
dan juga dari pembuluh darah yang terletak diantara korneadan sklera.
Kornea terdiri dari 5 lapisan, yaitu epitel, bowman, stroma, membran descemet,dan
endotelium, yang merupakan jalur utama permeasi obat pada mata. Epitel terbuat dari 5
hingga lapisan sel. Epitel skuamosa (5-6 lapisan sel) dengan ketebalan sekitar 50-100 um dan
waktu turnover sekitar satu lapisan sel setiap hari. Sel-sel basal dikemas dengan tight
junction untuk membentuk penghalang yang efektif untuk partikel debu dan kebanyakan
mikroorganisme, dan juga untuk penyerapan obat. Jalur transelular atau paracellular
adalah jalur utama untuk absorbsi obat di epitel kornea. Obat lipofilik memilih rute
transelular sedangkan yang hidrofilik memilih jalur paracellular untuk penetrasi (difusi pasif
atau difusi melalui intra seluler pada sel). Membran Bowman adalah lembar homogen
acellular dengan tebal 8 14 m yang terletak di antara membran basal epitel dan stroma.
Stroma, atau substania propria, mengandung air sekitar 85% dan sekitar 200-250
lamellae kolagen.

Ocullar Drug Delivery System5

2. Konjungtiva
Konjungtiva melindungi mata dan juga terlibat dalam pembentukan dan pemeliharaan
precorneal tear film. Konjungtiva adalah membran transparan tipis terletak pada permukaan
bagian dalam kelopak mata. Molekul-molekul sampai 20.000 Da bisa menyeberangi
conjuctiva, sementara kornea membatasi masuknya molekul yang berukuran lebih besar dari
5000 Da.
3. Sistem drainase nasolacrimal
Sistem drainase Nasolachrymal terdiri dari tiga bagian; sistem sekresi, sistem
distributif dan sistem ekskresi. Bagian sekresi terdiri dari kelenjar lakrimal yang
mensekresikan air mata, menyebar di permukaan okular oleh kelopak mata dengan adanya
kedipan. Sistem sekresi dirangsang oleh kedipan dan perubahan suhu karena adanya
evaporasi air mata dan refluks secretors yang memiliki saraf parasimpatis eferen yang
kemudian disekresikan sebagai respon pengaruh emosional, misalnya keadaan menangis.
Sistem distribusi terdiri dari kelopak mata dan meniskus air mata yang menyebarkan air mata
di atas permukaan okular dengan berkedip, sehingga mencegah kering pada mata.
Bagian ekskretoris dari sistem drainase Nasolachrymal terdiri dari puncta lakrimal,
bagian superior, bagian inferior dan kanalikuli; kantung air mata, dan saluran nasochrymal.
Pada manusia, dua puncta adalah bukan dari kanikuli lakrimal yang terletak di tempat yang
tinggi dikenal sebagai papilla lakrimal. air mata dalam jumlah besar akan terabsorbsi
oleh mebran mukosa, dan hanya sebagian yang mencapai rongga hidung.
II.2

Anatomi dan Fisiologi Kelopak Mata


Kelopak mata atau sering disebut palpebra mempunyai fungsi melindungi bola

mata dari trauma, serta mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di
depan kornea. Kelopak mata merupakan pelindung mata yang paling baik dengan membasahi
mata dan melakukan penutupan mata bila terjadi rangsangan dari luar.
Kelopak mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedangkan di bagian
belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal. Pada kelopak mata
terdapat beberapa bagian antara lain; kelenjar sebasea, kelenjar keringat atau kelenjar Moll,
kelenjar zeis pada pangkal rambut bulu mata, serta kelenjar Meibom pada tarsus. Kelopak
mata bisa terjadi kelainan yaitu lagoftalmos (mata tidak menutup bola mata), ptosis (kelopak
mata tidak bisa dibuka).

Ocullar Drug Delivery System6

II.3

Anatomi dan Fisiologi Sistem Lakrimalis


Sistem sekresi air mata atau lakrimal terletak di daerah temporal bola mata. Sistemik

skresi mulai pada pungtum lakrimalis, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal yang terletak di
bagian depan rongga orbita, air mata dari duktus lakrimal akan mengalir ke dalam rongga
hidung di dalam meatus inferior.
II.4

Anatomi dan Fisiologi Konjungtiva


Konjungtiva atau selaput lendir mata adalah membran yang menutupi sklera dan

kelopak bagian belakang. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang bersifat membasahi
bola

mata

terutama

kornea

dihasilkan

oleh

sel

Goblet.

Terdapat

tiga

bagian

konjungtiva yaitu ; konjungtiva tarsal yang menutup tarsus, konjungtiva bulbi membungkus
bulbi

okuli

serta

menutupi sklera, dan konjungtiva forniks sebagai

tempat

peralihan

konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.


II.5

Anatomi dan Fisiologi Bola Mata


a. Sklera
Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata
serta bagian putih pada bola mata yang bersama kornea sebagai pembungkus
dan pelindung isi bola mata. Kekakuan tertentu pada sclera mempengaruhi
tekanan bola mata.
b. Kornea
Merupakan selaput bening mata dan bagian terdepan dari sklera yang bersifat
transparan sehingga memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. Kornea
berperan meneruskan dan memfokuskan cahaya ke dalam bola mata. Pembiasan
terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar
masuk kornea dilakukan oleh kornea. Kornea terdiri dari beberapa lapis jaringan
yang menutup bola mata bagian depan yaitu epitel, membrane bowman, stroma,
membrandescement dan endotel. Saraf sensoris yang mempersarafi kornea yaitu
saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus

berjalan

suprakoroid yang masuk ke dalam stroma kornea menembus membran Bowman


dan melepaskan selubung Schwannya.
c. Bilik-bilik dalam mata

Ocullar Drug Delivery System7

Bola mata mempunyai 2 bilik yaitu, bilik mata depan yang merupakan ruangan
dibatasi oleh kornea, iris, lensa dan pupil serta berisi humor aquos yang membawa
makanan untuk jaringan mata sebelah depan. Kemudian bilik mata belakang
yang paling sempit pada mata.
d. Humor Aquos
Humor aquos atau cairan mata merupakan bagian dari mata yang dihasilkan oleh
badan siliar masuk ke bilik mata melalui pupil serta berfungsi memberikan
makanan dan oksigen untuk mempertahankan kornea dan lensa.
e. Uvea
Uvea

merupakan

lapis

vaskuler

di

dalam

bola

mata

yang

banyak

mengandung pembuluh darah yaitu ; iris, badan siliar, koroid. Iris atau selaput
pelangi mempunyai kemampuan mengatur secara otomatis masuknya sinar ke
dalam bola mata. Badan siliar mengandung otot untuk melakukan akomodasi
sehingga lensa dapat mencembung dan merupakan susunan otot melingkar dan
mempunyai sistem ekskresi di belakang limbus. Koroid itu sendiri lapis tengah
pembungkus

bola mata yang banyak

mengandung

pembuluh

darah

dan

memberikan makan lapis luar retina.


f. Pupil
Pupil pada anak-anak pupil berukuran kecil karena belum berkembangnya saraf
simpatis. Orang dewasa ukuran pupil sedang dan orang tua pupil mengecil akibat
rasa silau yang dibangkitkan oleh lensa yang sklerosis. Pada waktu tidur pupil
mengalami pengecilan akibat dari berkurangnya rangsangan simpatis dan kurang
rangsangan

hambatan

miosis.

Mengecilnya

pupil

berfungsi

untuk

mencegah aberasi kromatis pada akomodasi.


g. Retina
Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung reseptor dan
akan meneruskan rangsangan cahaya yang diterimanya berupa bayangan.
Dalam retina terdapat

makula lutea atau bintik kuning yang merupakan bagian

kecil dari retina dan area sensitif paling rentan pada siang hari.

II.6

Saraf yang ada di mata

Ocullar Drug Delivery System8

1. Saraf optikus, membawa gel. Saraf yang dihasilkan didalam retina ke otak.
2. Saraf Lakrimalis, merangsang pembentukan air mata oleh kelenjar air mata.
3. Saraf lainnya, menghantarkan sensasi ke bag. Mata yang lain dan merangsang otot
pada tulang orbita
II.7

Pembuluh darah yang melewati bagian mata


Arteri opthalmika dan arteri retinalis menyalurkan darah ke mata kiri dan mata
kanan, sedangkan darah dari mata dibawa oleh vena opthalmika dan vena retinalis.
Pembuluh darah ini masuk dan keluar melalui mata bagian belakang. Arteri inilah
juga yang akan menyalurkan darah ke cabang arteri lainnya :
1.
2.
3.
4.

II.8

Arteri retina sentralis,


Arteri lakrimalis,
Arteri siliaris posterior longa dan brevis, atau
Arteri palpebralis.

Karakteristik Organ Mata


Kornea tidak mempunyai pembuluh darah tetapi banyak mengandung akan
ujung saraf. Ketika sediaan topikal diberikan untuk mata, akan terpapar pertama kali
oleh kornea dan konjungtiva, mewakili hambatan utama untuk penetrasi obat.
Epitelium dan endotelium dari kornea banyak mengandung lipid, sehingga menjadi
penghalang untuk senyawa yang larut dalam air. Stroma adalah lapisan hidrofilik
mengandung 70% sampai 80% air, menjadi penghalang untuk senyawa yang tidak
larut dalam air. Sklera mengandung banyak pembuluh darah yang mensuplai darah ke
jaringan anterior pada mata. Konjungtiva dan permukaan kornea dilumasi oleh sebuah
lapisan cairan yang disekresikan oleh kelenjar air mata dan konjungtiva. Kelenjar
lakrimal menghasilkan cairan yang disebut dengan air mata. Kelenjar sebaceous
menghasilkan cairan berminyak yang akan tersebar dilapisan mata.

BAB III
SEDIAAN OBAT MATA

Ocullar Drug Delivery System9

III.1

Drug delivery System Mata


Ophthalmic drug delivery hanya digunakan untuk pengobatan lokal pada mata.
Obat tetes mata tersedia dalam berbagai bentuk sediaan, yaitu salep, larutan, suspensi,
dan strip. Beberapa diantaranya memerlukan perhatian khusus.
Menurut FI IV halaman 12 larutan obat mata adalah larutan steril, bebas
partikel asing, merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga
sesuai digunakan pada mata. Pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian
khusus dalam hal toksisitas bahan obat, nilai isotonisitas, kebutuhan akan dapar,
kebutuhan akan pengawet (dan jika perlu pemilihan pengawet) sterilisasi dan kemasan
yang tepat. Perhatian yang sama juga dilakukan untuk sediaan hidung dan telinga.
Menurut FI III halaman 10, Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa
larutan atau suspensi yang digunakan dengan cara meneteskan obat pada selaput
lendir mata disekitar kelopak mata dari bola mata.
DOM Martin : 880 Tetes mata adalah seringkali dimasukkan ke dalam mata
yang terluka atau kecelakaan atau pembedahan dan mereka kemudian secara potensial
lebih berbahaya daripada injeksi intavena.Menurut Scovilles halaman 221, Larutan
mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak dari alkaloid garam-garam
alkaloid, antibotik atau bahan lain yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam mata.
Ketika cairan, larutan harus isotonik, larutan mata digunakan untuk
antibakterial, anstetik, midriatikum, miotik atau maksud diagnosa. Larutan ini disebut
juga tetes mata dan collyria (singular collyrium).
Route utama pengobatan mata
1. Topical obat diberikan langsung pada conjungtiva (mencegah metabolisme obat)
2. Sistemik pengobatan di bagian posterior mata (saraf ,retina,uveal tract)
3. Intraocular suntikan dan implant, steroid dan antibiotic,pengobatan glaucoma
Route lain ialah membrane controlled patch.

II.2

Bentuk Sediaan Tetes Mata dan Metode Sistem Pengiriman Sediaan Obat Mata
Berdasarkan kondisi fisik:

Ocullar Drug Delivery System10

a. Intravitreal suntikan (IVT)


Disuntikan ke dalam mata vitreous humor antara lensa dan retina.
Suntikan intravitreal melibatkan agen terapi suntikan (obat/udara/gas) di dalam
rongga vitreous Pars Plana melalui tindakan pencegahan aseptik di bawah.

b. SubTenon
Digunakan untuk menggambarkan suntikan melalui membran yang menutupi otototot dan saraf di bagian belakang bola mata.
c. Sub-retina
Disuntikan dibawah retina.
d. Obat tetes mata
Sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata, dengan cara
meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola mata.
e. Salep Mata
Salep yang digunakan pada mata.Berbeda dengan salep dermatologi salep mata
yang baik yaitu :
-

Steril
Bebas hama (bakteri)
Tidak mengiritasi mata
Difusi bahan obat keseluruh mata yang dibasahi, Karena sekresi cairan mata
Dasar salep harus mempunyai titik lebur atau titik leleh mendekati suhu tubuh.
(Ansel 89)

II.3

Klasifikasi sediaan obat mata


Obat Tetes Mata

Ocullar Drug Delivery System11

1. Definisi
o sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata, dengan cara
meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola
mata. (FI III hal 10)
o larutan steril, bebas partikel asing , merupakan sediaan yang dibuat dan
dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. (FI IV , 13)
o Sediaan mata merupakan produk steril, tidak mengandung partikel asing,
dalam campuran dan wadah yang cocok untuk digunakan pada mata
o Suspensi obat mata adalah sediaan cair steril yang mengandung partikelpartikel yg terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada obat mata
seperti yg tertera pada Suspensiones .(FI IV hal 14)
o Larutan optalmik adalah larutan steril basis lemak atau air dari alkaloid, garam
alkaloid, antibiotik, atau zat lain yang dimasukkan ke dalam mata.
o Sediaan mata adalah larutan atau suspensi dengan pembawa air atau minyak
steril yang mengandung satu atau lebih zat aktif yang dibutuhkan untuk
digunakan pada mata.
2. Penggunakan obat tetes mata
o Obat-obat yang digunakan pada produk optalmik dapat dikategorikan menjadi:
miotik, midriatik, siklopegik, anti-inflamatory agent, anti infeksi, anti
galukoma, senyawa diagnostik dan anestetik lokal.
3. Syarat sediaan tetes mata :
o Steril
o Isotonis dengan air mata, bila mungkin isohidris dengan pH air mata.
o Isotonis = 0,9% b/v NaCl, rentang yang diterima = 0,7 1,4 % b/v atau 0,7
1,5 % b/v
o pH air mata = 7,4 Larutan jernih, bebas partikel asing dan serat halus.
o Tidak iritan terhadap mata (untuk basis salep mata)
4. Suspensi Mata
o Suspensi dapat dipakai untuk meningkatkan waktu kontak zat aktif dengan
kornea sehingga memberi kerja lepas lambat yang lebih lama .
o P emilihan bentuk suspensi ( mis. Sediaan kortikosteroid) disebabkan :

Rendahnya bioavailabilitas zat aktif dalam bentuk larutannya.

Toksisitas atau stabilitas zat aktif dalam bentuk larutan

Ocullar Drug Delivery System12

Karena mata adalah organ yang sangat sensitif, maka partikel-partikel


dalam suspensi dapat mengiritasi dan meningkatkan laju lakrimasi dan
kedipan Maka solusinya, digunakan partikel yang sangat kecil yaitu
dengan memakai zat aktif yang dimikronisasi ( micronized ).

Masalah utama suspensi optalmik adalah kemungkinan terjadinya


perubahan ukuran partikel menjadi lebih besar selama penyimpanan.

Untuk sediaan suspensi, surfaktan diperlukan untuk membasahi zat


aktif hidrofob dan untuk memperlambat pengkristalan.

Pensuspensi yang biasa digunakan biasanya sama dengan bahan


peningkat viskositas

5. Bahan tambahan
Pengawet
o Larutan obat mata dapat dikemas dalam wadah takaran ganda bila digunakan
secara perorangan pada pasien dan bila tidak terdapat kerusakan permukaan
mata. Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk
menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Sedangkan untuk penggunaan
pembedahan, disamping steril, larutan obat mata tidak boleh mengandung
antibakteri karena dapat mengiritasi jaringan. (FI IV hal 13 & 14)
o Kontaminasi pada sediaan mata dapat menyebabkan kerusakan yang serius,
misalnya menyebabkan radang kornea mata. Kontaminan yang terbesar adalah
Pseudomonas aeruginosa . Pertumbuhan bakteri bacillus Gram negatif ini
terjadi dengan cepat pada beberapa medium dan menghasilkan zat toksin dan
anti bakteri. Sumber bakteri terbesar adalah air destilasi yang disimpan secara
tidak tepat yang digunakan dalam pencampuran
o Organisme lain yang bisa menghasilkan infeksi kornea seperti golongan
proteus yang telah diketahui sebagai kontaminan dalam larutan metil selulosa.
Selain bakteri, fungi juga merupakan kontaminan misalnya Aspergillus
fumigatus . Virus juga merupakan kontaminan seperti herpes simplex, vaksin,
dan moluscum contagiosum. Umumnya pengawet tidak cocok dengan virus .
o Mikroorganisme lain yang dapat mengkontaminasi sediaan optalmik adalah
Hemophillus influenza, Hemophillus conjunctividis, Neisseria gonorrhoeae,
Neisseria meningitidis, dll

Ocullar Drug Delivery System13

o Pengawet yang dipilih seharusnya mencegah dan membunuh pertumbuhan


mikroorganisme selama penggunaan. Pengawet yang sesuai untuk larutan obat
tetes mata hendaknya memiliki sifat sebagai berikut :

Bersifat bakteriostatik dan fungistatik. Sifat ini harus dimiliki terutama


terhadap Pseudomonas aeruginosa.

Non iritan terhadap mata (jaringan okuler yaitu kornea dan


konjungtiva).

Kompatibel terhadap bahan aktif dan zat tambahan lain yang dipakai.

Tidak memiliki sifat alergen dan mensensitisasi.

Dapat mempertahankan aktivitas pada kondisi normal penggunaan

Kombinasi pengawet yang biasanya digunakan adalah :


o Benzalkonium klorida + EDTA
o Benzalkonium klorida + Klorobutanol/feniletilalkohol/ fenilmerkuri nitrat
o Klorobutanol + EDTA/ paraben
o Tiomerasol + EDTA
o Feniletilakohol + paraben
Contoh pengawet :
-

Benzalkonium Klorida
Klorobutanol
Feniletil alcohol
Thimerosal
Fenilmerkuri Nitrat
Propil paraben
Metil paraben

Pengisotonis
o Pengisotonis yang dapat digunakan adalah NaCl, KCl, glukosa, gliserol dan
dapar . Rentang tonisitas yang masih dapat diterima oleh mata :
o FI IV : 0,6 2,0% RPS dan RPP : 0,5 1,8%
o AOC : 0,9 1,4% Codex dan Husa : 0,7 1,5%
o Tapi usahakan berada pada rentang 0,6 1,5%
Pendapar
o Secara ideal, larutan obat mata mempunyai pH dan isotonisitas yang sama
dengan air mata. Hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena pada pH 7,4
banyak obat yang tidak cukup larut dalam air. sebagian besar garam alkaloid

Ocullar Drug Delivery System14

mengendap sebagai alkaloid bebas pada pH ini. Selain itu banyak obat tidak
stabil secara kimia pada pH mendekati 7,4 (FI III, 13). Tetapi larutan tanpa
dapar antara pH 3,5 10,5 masih dapat ditoleransi walaupun terasa kurang
nyaman. Di luar rentang pH ini dapat terjadi iritasi sehingga mengakibatkan
peningkatan lakrimasi . Rentang pH yang masih dapat ditoleransi oleh mata
menurut beberapa pustaka : 4,5 9,0 menurut AOC ; 3,5 8,5 menurut FI IV
o Syarat dapar :

Dapat menstabilkan pH selama penyimpanan


Konsentrasinya tidak cukup tinggi sehingga secara signifikan daqpat
mengubah pH air mata.

o Menurut Codex, dapar yang dapat dipakai adalah dapar borat, fosfat dan sitrat.
Tapi berdasarkan Suarat Edaran Dirjen POM, asam borat tidak boleh
digunakan untuk pemakaian topikal/lokal karena resiko toksisitasnya lebih
besar dibandingkan khasiatnya untuk penggunaan topikal. Jadi, dapar yang
boleh digunakan untuk sediaan optalmik hanya dapar fosfat dan sitrat.
o Dapar yang digunakan sebaiknya adalah dapar yang telah dimodifikasi dengan
penambahan NaCl yang berfungsi untuk menurunkan kapasitas daparnya.
Untuk dapar fosfat dapat digunakan dapar yang terdapat di FI III.
Peningkat viskositas
o Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemilihan bahan peningkat
viskositas untuk sediaan optalmik adalah
o Sifat bahan peningkat viskositas itu sendiri. Mis. Polimer mukoadhesif ( asam
hyaluronat dan turunannya; carbomer) secara signifikan lebih efektif daripada
polimer non mukoadhesif pada konsentrasi equiviscous.
o Perubahan pH dapat mempengaruhi aktivitas bahan peningkat viskositas.
o Penggunaan produk dengan viskositas tinggi kadang tidak ditoleransi baik
oleh mata dan menyebabkan terbentuknya deposit pada kelopak mata; sulit
bercampur dengan air mata; atau mengganggu difusi obat.
o Penggunaan peningkat viskositas untuk memperpanjang waktu kontak antara
sediaan dengan kornea sehingga jumlah bahan aktif yang berpenetrasi dalam
mata akan semakin tinggi sehingga menambah efektivitas terapinya
o Viskositas untuk larutan obat mata dipandang optimal jika berkisar antara 1525 cps. Peningkat viskositas yang biasa dipakai adalah metilselulosa 4000 cps

Ocullar Drug Delivery System15

sebanyak 0,25% atau 25 cps sebanyak 1%, HPMC, atau polivinil alkohol
(Ansel, 548-552). Menurut Codex, dapat digunakan turunan metil selulosa,
polivinil alkohol, PVP, dekstran and makrogol.
o Na CMC jarang digunakan karena tidak tahan terhadap elektrolit sehingga
kekentalan menurun; kadang tidak tercampurkan dengan zat aktif
o Pada umumnya penggunaan senyawa selulosa dapat meningkatkan penetrasi
obat dalam tetes mata, demikian juga dengan PVP dan dekstran. Jadi,
pemilihan bahan pengental dalam obat tetes mata didasarkan pada :

Ketahanan pada saat sterilisasi,

Kemungkinan dapat disaring,

Stabilitas, dan

Ketidak bercampuran dengan bahan-bahan lain.

o Contoh peningkat viskositas :


(1) Hidroksipropil metilselulosa = hypromellose (HPMC) , (2) Metilselulosa ,
(3) Polivinil alkohol
Anti Oksidan
o Zat aktif untuk sediaan mata ada yang dapat teroksidasi oleh udara. Untuk itu
kadang dibutuhkan antioksidan. Antioksidan yang sering digunakan adalah Na
metabisulfit atau Na sulfit dengan konsentrasi sampai 0,3%. Vitamin C (asam
askorbat) dan asetilsistein pun dapat dipakai terutama untuk sediaan fenilefrin.
o Degradasi oksidatif dikatalisa oleh logam berat, maka dapat ditambahkan
pengkelat seperti EDTA. Penggunaan wadah plastik yang permeabel terhadap
gas dapat meningkatkan proses oksidatif selama penyimpanan
o Contoh Anti Oksidan :
(1) Natrium metabisulfit , ( 2) Natrium bisulfit , (3) Natrium sulfit , (4) Asam
askorbat
Surfaktan
o Pemakaian surfaktan dalam obat tetes mata harus memenuhui berbagai aspek :
o Sebagai antimikroba (Surfaktan golongan kationik seperti benzalkonium
klorida, setil piridinium klorida, dll).
o Menurunkan tegangan permukaan antara obat mata dan kornea sehingga
meningkatkan akti terapeutik zat aktif.

Ocullar Drug Delivery System16

o Meningkatkan ketercampuran antara obat tetes mata dengan cairan lakrimal,


meningkatkan kontak zat aktif dengan kornea dan konjungtiva sehingga
meningkatkan penembusan dan penyerapan obat.
o Tidak boleh meningkatkan pengeluaran air mata, tidak boleh iritan dan
merusak kormea. Surfaktan golongan non ionik lebih dapat diterima
dibandingkan dengan surfaktan golongan lainnya.
o Penggunaan surfaktan dalam sediaan optalmik terbatas. Surfaktan non ionik,
yang paling tidak toksik dibandingkan golongan lain, digunakan dalam
konsentrasi yang rendah dalam suspensi steroid dan sebagai pembantu untuk
membentuk larutan yang jernih.
o Surfaktan dapat juga digunakan sebagai kosolven untuk meningkatkan
solubilitas (jarang dilakukan). Surfaktan non ionik dapat mengadsorpsi
senyawa pengawet antimikroba dan menginaktifkannya.
o Menurut Codex, surfaktan non ionik yang sering dipakai adalah Polisorbat 80
(Tween 80). Sedangkan menurut Diktat kuliah teknologi steril dapat juga
digunakan Tween 20, benzetonium klorida, miristil-gamma-picolinium
klorida, polioxil 40-stearat, alkil-aril-polietil alkohol, dioktil sodium
sulfosuksinat, dll.

II.4

Kelebihan dan Kekurangan Sediaan Obat Mata


Diantaranya kelebihan dan kekurangan salah satu sediaan obat mata yaitu obat tetes
mata adalah :
a. Kelebihan :
Larutan mata memiliki kelebihan dalam hal kehomogenan, bioavailabilitas dan
kemudahan penangananan. Suspensi mata memiliki kelebihan dimana adanya
partikel zat aktif dapat memperpanjang waktu tinggal pada mata sehingga
meningkatkan waktu terdisolusinya oleh air mata, sehingga terjadi peningkatan
bioavailabilitas dan efek terapinya.
b. Kekurangan :
Volume larutan yang dapat ditampung oleh mata sangat terbatas ( 7 L) maka
larutan yang berlebih dapat masuk ke nasal cavity lalu masuk ke jalur GI
menghasilkan absorpsi sistemik yang tidak diinginkan. Misalnya -bloker untuk

Ocullar Drug Delivery System17

perawatan glaukoma dapat menjadi masalah bagi pasien gangguan jantung atau
asma bronkhial.( Codex, 162)
Kornea dan rongga mata sangat kurang tervaskularisasi, selain itu kapiler pada
retina dan iris relatif non permeabel sehingga umumnya sediaan untuk mata
adalah efeknya lokal/topikal. (Codex, 161)
II.5

Karakteristik Sediaan Mata


Kejernihan
Larutan mata adalah dengan definisi bebas dari partikel asing dan jernih secara
normal diperoleh dengan filtrasi, pentingnya peralatan filtrasi dan tercuci baik
sehingga bahan-bahan partikulat tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain
peralatan untuk menghilangkannya. Pengerjaan penampilan dalam lingkungan bersih.
Penggunaan Laminar Air Flow dan harus tidak tertumpahkan akan memberikan
kebersamaan untuk penyiapan larutan jernih bebas partikel asing. Dalam beberapa
permasalahan, kejernihan dan sterilitas dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama.
Ini penting untuk menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan
wadah dan tutup. keduanya, wadah dan tutup harus bersih, steril dan tidak
tertumpahkan. Wadah dan tutup tidak membawa partikel dalam larutan selama kontak
lama sepanjang penyimpanan. Normalnya dilakukan test sterilitas.
Stabilitas
Stabilitas obat dalam larutan, seperti produk tergantung pada sifat kimia bahan obat,
pH produk, metode penyimpanan, zat tambahan larutan dan tipe pengemasan.
Tonisitas
Tonisitas berarti tekanan osmotik yang diberikan oleh garam-garam dalam larutan
berair, larutan mata adalah isotonik dengan larutan lain ketika magnefudosifat
koligatif larutan adalah sama. larutan mata dipertimbangkan isotonik ketika
tonisitasnya sama dengan 0,9% laritan Na Cl.
Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas daripada suatu waktu yang
diusulkan. Maka biasanya dapat mentoleransi larutan sama untuk range 0,5%-1,8%
NaCl. Memberikan pilihan, isotonisitas selalu dikehendaki dan khususnya penting
dalam larutan intraokuler. Namun demikian, ini tidak dibutuhkan ketika total stabilitas
produk dipertimbangkan.
Viskositas

Ocullar Drug Delivery System18

USP mengizinkan penggunaan bahan pengkhelat viskositas untuk memperpanjang


lama kontak dalam mata dan untuk absorpsi obat dan aktivitasnya. Bahan-bahan
seperti metilselulosa, polivinil alkohol dan hidroksi metil selulosa ditambahkan secara
berkala untuk meningkatkan viskositas.
Para peneliti telah mempelajari efek peningkatan viskositas dalam waktu kontak
dalam mata. umumnya viskositas meningkat 25-50 cps range yang signifikan
meningkat lama kontak dalam mata.
Bioavailabilitas
Obat mata diakui bioavailabilitasnya buruk jika larutannya digunakan secara topical
untuk kebanyakan obat kurang dari 1-3% dari dosis yang dimasukkan melewati
kornea. Sampai ke ruang anterior. Sejak boavailabilitas obat sangat lambat, pasien
mematuhi aturan dan teknik pemakaian yang tepat .
Additives/Tambahan
Penggunaan bahan tambahan dalam larutan mata diperbolehkan, namun demikian
pemilihan dalam jumlah tertentu. Antioksidan, khususnya Natrium Bisulfat atau
metabisulfat, digunakan dengan konsentrasi sampai 0,3%, khususnya dalam larutan
yang mengandung garam epinefrin. Antioksidan lain seperti asam askorbat atau
asetilsistein

juga

digunakan. Antioksidan

berefek

sebagai

penstabil

untuk

meminimalkan oksidasi epinefrin.


II.6

pH Sediaan Mata
Hind dan Goyan menemukan pH air mata adalah 7,4. Berdasarkan hal itu, pH cairan
lakrimal sekurang-kurangnya 7,4 dan mungkin lebih alkali. Larutan lakrimal
normalnya pH 7,4 dengan rentang 5,2-8,3. Ini masih bisa ditoleransi oleh larutan mata
dengan range pH ini, disebabkan oleh (1) volume kecil larutan, (2) buffer cairan mata,
dan (3) peningkatan produksi air mata.

II.7

Wadah untuk Sediaan Mata


Wadah untuk larutan mata. Larutan mata sebaiknya digunakan dalam unit kecil, tidak
pernah lebih besar dari 15 ml dan lebih disukai yang lebih kecil. Botol 7,5 ml adalah
ukuran yang menyenangkan untuk penggunaan larutan mata. Penggunaan wadah kecil
memperpendek waktu pengobatan akan dijaga oleh pasien dan meminimalkan jumlah
pemaparan kontaminasi. Botol plastik untuk larutan mata juga dapat digunakan.

Ocullar Drug Delivery System19

Meskipun beberapa botol plastik untuk larutan mata telah dimunculkan dalam
pasaran, mereka masih melengkapi dan yang terbaik adalah untuk menulis secara
langsung produksi untuk menghasilkan informasi teknik dalam perkembangan
terakhir.
II.8

Evaluasi
Evaluasi yang seharusnya dilakukan pada larutan tetes mata adalah sebagai berikut:
1. Evaluasi fisika: pH, volume sediaan dalam wadah, bahan partikulat, uji
kebocoran, uji kejernihan dan warna.
2. Evaluasi kimia: penetapan kadar, identifikasi
3. Evaluasi biologis: Uji sterilitas, uji pirogen, uji endotoksin bakteri.
4. Pengemasan dan penyimpanan
5. Penandaan

CONTOH SEDIAAN OBAT TETES MATA


ANAVIT ORAL DROPS GOLONGAN

KANDUNGAN
Vit A 2,500 iu, vit B1 0.6 mg, vit B2 phosphate 0.5 mg, vit B6 0.5 mg, vit B12 1.5 mcg, vit D
500 iu, niacinamide 5 mg, Ca pantothenate 2.5 mg
INDIKASI
Pencegahan & pengobatan kekurangan vitamin pada anak-anak.
KEMASAN
Tetes 15 mL.
DOSIS
Bayi : 6 tetes sekali sehari.
Anak berusia 1-3 tahun : 6-12 tetes sekali sehari.
PENYAJIAN
Dikonsumsi bersamaan dengan makanan atau tidak
PABRIK
Nufarindo.
BAQUINOR TETES MATA

Ocullar Drug Delivery System20

GOLONGAN

KANDUNGAN
Ciprofloxacin / Siprofloksasin.
INDIKASI
Ulkus kornea yang disebabkan oleh Pseudomonas aeroginosa, Serratia marcescens,
Staphyllococcus aureus, Streptococcus epidermidis, Streptococcus pneumoniae,
Streptococcus viridans.
Konjungtivitis (radang selaput ikat mata) yang disebabkan oleh Staphyllococcus aureus,
Streptococcus epidermidis, Streptococcus pneumoniae.
KONTRA INDIKASI
Hipersensitif terhadap Siprofloksasin atau quinolon lain.
PERHATIAN
Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan pertumbuhan organisme yang resisten
terhadap Siprofloksasin secara berlebihan.
Hentikan penggunaan saat pertama kali tampak ruam kulit atau tanda-tanda reaksi
hipersensitifitas lainnya.
EFEK SAMPING
Rasa terbakar atau rasa tidak enak setempat, gatal-gatal, edema kelopak mata, mata berair.
INDEKS KEAMANAN PADA WANITA HAMIL
Penelitian pada hewan menunjukkan efek samping pada janin ( teratogenik atau embriosidal
atau lainnya) dan belum ada penelitian yang terkendali pada wanita atau penelitian pada
wanita dan hewan belum tersedia. Obat seharusnya diberikan bila hanya keuntungan
potensial memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada janin.
KEMASAN
Tetes mata 3 mg/mL x 5 mL.
DOSIS
Ulkus kornea : 2 tetes tiap 15 menit selama 6 jam pertama, lalu 2 tetes tiap 30 menit
selama sisa hari pertama.
Hari kedua : 2 tetes tiap jam.
Hari ke-3 sampai hari ke-14 : 2 tetes tiap 4 jam.

Ocullar Drug Delivery System21

Konjungtivitis : 1-2 tetes tiap 2 jam selama 2 hari & 1-2 tetes tiap 4 jam selama 5 hari
berikutnya.
Pabrik : Sanbe

BAB IV
PEMBAHASAN
IV.1

Penggunaan Obat dengan Rute Melalui Mata


Dibandingkan dengan pemberian obat rute yang lain, penghantaran obat
melalui mata harus mengatasi tantangan penting yang ditimbulkan oleh berbagai
hambatan okular. Banyak hambatan yang terkait dengan anatomi dan fisiologi mata
membuatnya menjadi tantangan untuk memberikan dosis yang tepat pada tempat yang
sesuai. Kemajuan yang signifikan telah dibuat untuk mengoptimalkan penghantaran
obat yang terlokalisasi pada mata, sehingga rute yang sekarang terkait dengan teknik
pemberian obat yang sangat canggih. Beberapa teknologi ini unik untuk mata dan
banyak juga ditemukan di rute pengiriman lainnya.
Bioavailabilitas sistem pengiriman obat mata tradisional seperti tetes mata
sangat buruk karena mata dilindungi oleh serangkaian mekanisme pertahanan yang
kompleks yang membuatnya sulit untuk mencapai konsentrasi obat yang efektif dalam
area target mata. Anatomi dan fisiologi mata adalah salah satu sistem yang paling
kompleks dan unik dalam tubuh manusia. Lachrymasi, drainase efektif oleh sistem
nasolakrimalis, bagian dalam dan luar barrier blood retinal, impermeabilitas kornea,
dan ketidakmampuan

struktur non-kornea

lainnya

untuk

menyerap.

Senyawa

membuat mata sangat tahan terhadap zat-zat asing. Meskipun hambatan-hambatan ini
membuat mata terlindungi dari invasi senyawa asing, patogen dan partikulat yang
membahayakan

mata,

tapi

dilain

hal

ini

merupakan

sistem penghantaran obat melalui mata.


IV.2

Mekanisme Umum Perpindahan Obat Melalui Kornea Mata


1. Tingkat Organ

tantangan

untuk

Ocullar Drug Delivery System22

Rate-limiting membrane untuk kebanyakkan obat adalah epithelium kornea


yang beraksi ganda sebagai penghalang (barrier) untuk penetrasi dan sebagai
reservoir untuk obat. The rate-limiting barrier untuk kebanyakan obat tampaknya
berada pada lapisan dua sel bagian atas dari epithelium. Stroma adalah ratelimiting untuk obat-obat yang sangat larut lemak.
2. Tingkat Sel
Molekul-molekul kecil, contohnya seperti : air, metanol, etanol, propanol, dan
butanol, mudah melintasi kornea diasumsikan melalui pori-pori berair. Konstanta
permeabilitas mereka sangat besar. Senyawa larut air melintasi kornea melalui
rute para selular. Konstanta permeabilitas adalah konstanta partisi paling kecil.
Peptida, ion-ion, dan senyawa muatan lainnya tampaknya berpenetrasi ke kornea
melalui rute paraselular. Zat-zat yang memiliki kelarutan ganda lebih mudah
melintasi kornea. Zat-zat larut lemak mudah melewati membran selular yang
membatasi. Mereka tidak bisa berpenetrasi dalam proporsi konsentrasi mereka.
IV.3

Faktor-faktor formulasi yang mempengaruhi proses biofarmasetik sediaan optalmik


1. Faktor Fisiologi
Hilangnya obat dari area precorneal adalah efek dari drainase sekresi air mata,
absorpsi non-korneal, dan kecepatan proses absorpsi korneal. Secara kolektif
proses ini menyebabkan waktu kontak kornea yang khas sekitar 2-4 menit pada
manusia, untuk memberikan larutan dan bioavailbilitas ocular kurang dari 10%.
a. Faktor Prekorneal
Faktor prekorneal yang menyebabkan hilangnya obat adalah :
1. Pergantian air mata yang normal
Air mata mencuci dengan kecepatan kira-kira 16% permenit, kecuali
selama periode tidur atau selama anastesi. Volume normal air mata hanya 7
mikroliter, jadi obat yang menghilang besar.
2. Drainase larutan yang diberikan
Area prekorneal bisa menampung kira-kira 30 mikroliter, termasuk air
mata pada saat mata tidak berkedip. Volume berkurang menjadi 10 mikroli
ter ketika mata berkedip. Oleh karena itu, kelebihan volume yang
diberikan baik tumpahan atau kecepatan saluran dari mata ke saluran
nasokrimal dengan absorpsi ke dalam sirkulasi sistemik. Drainase dari
larutan yang diberikan jauh dari mata adalah penyebab hilannya obat dan

Ocullar Drug Delivery System23

karenanya mempengaruhi aktivitas biologis obat pada mata. Kecepatan


drainase berhubungan dengan volume larutan obat yang diberikan dan
peningkatan seiring dengan meningkatnya volume. Kecepatan drainase
dari volume yang diberikan meningkatkan kecepatan sebanding dengan
volume cairan pada mata lebih dari volume normal lakrimal. Kecepatan
drainase100 kali lebih cepat dari kecepatan absorpsi.
3. Pengikatan protein
Air mata umumnya mengandung 0.7% protein dan level protein meningkat
dengan adanya infeksi atau inflamasi. Tidak seperti darah, dimana
kompleks protein-obat berlanjut ke sirkulasi, air mata digantikan secara
cepat jadi memindahkan kedua bentuk bebas dan terikat dari obat.
4. Absorpsi obat tidak produktif
Setelah pemberian, obat diabsorpsi ke dalam kornea dan konjungtiva. Luas
area konjungtiva 17 kali dari luas kornea dengan 2-30 kali permeabilitas
yang lebih besar terhadap banyak obat. Semua jaringan absorpsi yang lain
dirasakan sebagai kehilangan yang tidak produktif ketika target jaringan
adalah bagian dalam mata.
b. Faktor Membran
Faktor membran termasuk area yang tersedia untuk absorpsi, ketebalan,
porosity, dan tortuosity (sifat berliku-liku) kornea dan kesimbangan lipofilik
/hidrofilik. Kornea terdiri dari tiga lapisan yaitu epithelium, stroma, dan
endothelium.
1. Epithelium
Studi permeabilitas pada kornea mengindikasikan lapisan paling luar dari
epithelium sebagai yang menentukan penilaian utama barrier (penghalang)
untuk penetrasi untuk obat larut air dan larut lemak. Karena epithelium
larut lemak, porositas yang rendah dan secara relatif tortuositas dan
ketebalan tinggi, penetrasi obat yang cepat harus memiliki koefisien partisi
lebih dari 1 untuk mencapai kecepatan penetrasi. Walaupun epithelium dan
endothelium adalah lipofilik, pengukuran permeabilitas air dari tiap
lapisan mengindikasikan endothelium lebih permeable 2.7 kali dari
epithelium.
2. Endhothelium
Penetrasi non elektrolit melalui endothelium terjadi secara utama melalui
ruang intraseluler.
3. Stroma

Ocullar Drug Delivery System24

Stroma pada dasarnya merupakan aseluler, hidrofilik, porositas tinggi,dan


tortuosity yang rendah tapi karena ini merupakan 90% dari ketebalan
kornea, stroma signifikan pada kontribusi keseuruhan terhadap resistensi.
Epithelium sebagai penentu penilaian barrier untuk senyawa hidrofilik dan
stroma

untuk

senyawa

dibandingkan senyawa

lipofilik.

lipofilik

Ketika

ditemukan

nilai

memiliki

absolut
koefisien

permeabilitas yang lebih besar.


Penetrasi kornea dapat ditingkatkan dengan cara :
a. Penyesuaian

keasaman

sehingga

pH

sediaan

memungkinkan

untuk

menghasilkan partikel tidak terionisasi secara optimal.


b. Penggabungan peningkat absorbansi ke dalam komposisi sediaan.
c. Produksi prodrug atau pasangan ion.
Karena dual kemampuan untuk mengakhiri aktivitas farmakologi obat
inheren aktif dan untuk mengubah obat aktif untuk menjadi gugus aktif mereka,
metabolisme obat di mata merupakan aspek aksi obat yang penting. Obat yang
mengalami degradasi secara oksidasi atau reduksi sedikit dimetabolisme di mata
dibandingkan dengan obat yang didegradasi secara hidrolisis.
2. Faktor Fisiokimia
Faktor fisiokimia adalah penentu terbesar untuk difusi pasif melintasi kornea.
a. Koefisien partisi
Koefisien partisi adalah parameter untuk menentukan status yang cepat dari
potensi penetrasi obat ke membran biologis yang berbeda. Korelasi hubungan
koefisien partisi dengan permeabilitas membantu untuk mendesain obat-obat
opthalmik yang permeabilitasnya optimal. Obat yang hidrofilik (log koefisien
partisi < 0), epitheliummemberikan persentase yang besae dari resistensi ke
penetrasi kornea. Untuk obat lipofilik dengan log koefisien partisi 1.6-2.5,
stroma berkontribusi dengan persentase yang signifikan terhadap resistensi.
Keseimbangan lipofilik/hidrofilik yang optimal pada struktur molekul dari
penetrant harus dicapai untuk menghasilkan efek penetrasi yangcepat melalui
barrier lipofilik dan hidrofilik di kornea.
b. Kelarutan

Ocullar Drug Delivery System25

Kecepatan penetrasi maksimum dicapai oleh permeating obat ke kornea


adalah faktor multiplikatif dari koefisien permeabilitas dan kelarutan air mata.
Jika kelarutan obat rendah, konsentrasinya pada lapisan air mata perkorneal
mungkin dibatasi dan oleh karena itu kecepatan absorpsi mungkin tidak cukup
tinggi untuk mencapai konsentrasi yang adekuat untuk aktivitas terapetik.
c. Konstanta Ionisasi
pKa dari obat-obat yang dapat terionisasi adalah faktor penting pada
penetrasikorneal. Derajat ionisasi mempengaruhi luas difusi yang melewati
membran. Banyakobat-obatan adalah asam dan basa lemah dan oleh karena itu
sebagian terionisasi pada pHfisiologis. Rata-rata pH air mata adalah 7.2 dan
pKa dari obat sekitar 1 atau 2 dari nilaitersebut, penetrasi kornea akan lebih
karena proporsi yang besar dari dosis yangdiadministrasikan akan dalam
bentuk tidak terionisasi. Bentuk ionisasi dari obat sedikitlarut lemak, jika
fraksi ini terlalu besar, kecepatan penetrasi kornea mungkin tidak cukupuntuk
menghasilkan efek terapeutik pada mata (Malhorta and Majumdar, 2001)
d. Berat Molekul
Berat molekul berhubungan dengan kekuatan difusional aktif selama permeasi
korneal. Untuk molekul kecil, koefisien difusi berhubungan terbalik dengan
akar kuadratdari berat molekul. Molekul besar, koefisien difusi berhubungan
terbalik dengan akar pangkat tiga dari berat molekul. Perubahan berat molekul
menunjukkan hubungan terbalik terhadap permeabilitas.
e. Pengikatan Melanin
Kehadiran melanin dapat mengubah disposisi obat mata. Interaksi dengan
pigmen ini dapat mengubah ketersediaan obat bebas di tempat yang
ditargetkan. Sehingga pengikatan melanin akan menurunkan aktivitas
farmakologis. Melanin dalam jaringan okular terdapat pada uvea dan RPE.
Melanin mengikat radikal bebas dan obat dengan elektrostatik dan ikatan van
der waals atau dengan transfer muatan sederhana. Dapat disimpulkan bahwa
semua obat lipofilik mengikat melanin. Obat yang terikat dengan melanin
biasanya tidak bisa berikatan dengan reseptor sehingga memerlukan
pemberian dosis yang lebih besar. Keberadaan melanin dalam koroid dan RPE
mempengaruhi tingkat penyerapan obat ke dalam retina dan vitreous
transscleral atau pemberian obat sistemik.

Ocullar Drug Delivery System26

BAB IV
PENUTUP
IV.1

Kesimpulan
Bentuk Sediaan Tetes Mata dan Metode Sistem Pengiriman Sediaan Obat
Mata berdasarkan kondisi fisik antara lain : a. Intravitreal suntikan (IVT), disuntikan
ke dalam mata vitreous humor antara lensa dan retina; b. SubTenon, digunakan untuk
menggambarkan suntikan melalui membran yang menutupi otot-otot dan saraf di
bagian belakang bola mata; c. Sub-retina, disuntikan dibawah retina; d. Obat tetes
mata, sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata, dengan cara
meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola mata; e.
Salep Mata, salep yang digunakan pada mata. Diantaranya kekurangan dan kelebihan
salah satu sediaan obat mata yaitu obat tetes mata adalah :
Keuntungan : Larutan mata memiliki kelebihan dalam hal kehomogenan,
bioavailabilitas dan kemudahan penangananan. Suspensi mata memiliki kelebihan
dimana adanya partikel zat aktif dapat memperpanjang waktu tinggal pada mata
sehingga meningkatkan waktu terdisolusinya oleh air mata, sehingga terjadi
peningkatan bioavailabilitas dan efek terapinya.
Kekurangan : Volume larutan yang dapat ditampung oleh mata sangat terbatas ( 7
L) maka larutan yang berlebih dapat masuk ke nasal cavity lalu masuk ke jalur GI
menghasilkan absorpsi sistemik yang tidak diinginkan. Misalnya

-bloker untuk

perawatan glaukoma dapat menjadi masalah bagi pasien gangguan jantung atau asma
bronkhial. Kornea dan rongga mata sangat kurang tervaskularisasi, selain itu kapiler
pada retina dan iris relatif non permeabel sehingga umumnya sediaan untuk mata
adalah efeknya lokal/topikal.

Ocullar Drug Delivery System27

DAFTAR PUSTAKA

Farmakope Indonesia Ed. III


Farmakope Indonesia Ed. IV
Codex
Buku Sistem Penghantaran Obat Pelepasan Terkendali
American Pharmaceutical Association. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients,
second edition. London : The Pharmaceutical Press.
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. Jakarta : UI
Depkes RI. Formularium Nasional, Ed II. 1978.Jakarta.
The Pharmaceutical Society of Great Britain. 1982. Martindale The Extra Pharmacopoeia
twenty eight edition. London : The Pharmaceutical Press.
N.K.Jain, Advances in Controlled & Novel Drug Delivery, CBS Publication, & distributor,
New Delhi, pg No.219-223.
Remington & Gennaro ; The Science & Practice Of Pharmacy. Mack Publication Company.
Easton, Pennsylvania. Pg. No. 1563-1567.
www.vision-care-guide.com
www.google/images/eye/anatomy& physiology
www.pharmainfo.net/reviews/recent-advances-ophthalmic-drug-delivery-system