Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

TERAPI TINGKAH LAKU DESENSITISASI SISTEMATIK


Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teknik Konseling dan Psikoterapi

Disusun Oleh :
Reni Sri Rejeki

1511412092

Kukuh Sujana

1511412121

JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Terapi tingkah laku merupakan cabang psikologi terapan yang
menekankan pada prinsip-prinsip belajar sebagai dasar kemahiran dan
modifikasi tingkah laku maladaptive. Saat ini masih banyak penulis dan
terapis yang menggunakan term behavior modification and behavior
therapy secara dipertukarkan.
Para teoris dan praktisi bebrbeda dalam mendefinisikannya, sesuia latar
belakang mereka yang beragam, mislanya klinis, eksperimental, sekolah,
psikologi konseling, dan psikiatri. Setiap spesialis telah memilih penekanan
bentuk tingkah laku yang berbeda untuk dimodifikasi.
Terapi tingkah laku merupakan usaha untuk memanfaatkan secara
sistematis pengetahuan teoritis maupun empiris yang dihasilkan dari
penggunaan metode eksperimen dalam psikologi, untuk memahami
danmenyembuhkan pola tingkah laku yang abnormal. Classical Conditioning
dari Pavlov dan Instrumental conditioning dari Bakhterev memberikan
pengaruh sangat besar terhadap terapi ini. Terapi ini bertujuan untuk
menghilangkan simptom-simptom yang salah suai (maladaptive) dari yang
sederhana sampai yang kompleks, baik individula maupun kelompok serta
membentuk tingkah laku baru yang sesuai.
Prinsip utama terapi tingkah laku ialah penggunaan reinforcement sebagai
alat pengatur pembentukan tingkah laku baru, melalui pendekatan
berdasarkan prinsip-prinsip belajar. Prinsip lainnya adalah ikatan antara
stimulus tertentu dengan respon cemas, dapat diperlemah dengan usaha yang
simultan, sehingga respon cemasnya hilang.
Desensitisasi sistematik didasarkan pada prinsip kondisioning klasik, yaitu
salah satu teknik/ prosedur terapi tingkah laku yang diteliti secara empiris dan
digunakan secara luas untuk mengeliminasi reaksi-reaksi kecemasan yang
terkondisikan dan fobia-fobia.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah :
1. Bagaimana konsep dasar teknik desentisisasi sistematik ?
2. Apa pengertian dari teknik desentisisasi sistematik ?

3.
4.
5.
6.

Apa saja karakteristik dari teknik desentisisasi sistematik?


Apa prinsip dari teknik desentisisasi sistematik?
Bagaimana prosedur dari teknik desentisisasi sistematik?
Apa kelebihan dan kelemahan dari teknik desentisisasi sistematik?

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui konsep dasar teknik desentisisasi sistematik
2. Untuk mengatahui pengertian dari teknik desentisisasi sistematik
3. Untuk mengetahui karakteristik dari teknik desentisisasi sistematik
4. Untuk mengetahui prinsip dari teknik desentisisasi sistematik
5. Untuk mengetahui prosedur dari teknik desentisisasi sistematik
6. Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan dari teknik desentisisasi
sistematik

BAB II
DESENSITISASI SISTEMATIK
A. Konsep Dasar
Teknik desentisisasi sistematik merupakan salah satu teknik perubahan
tingkah laku yang didasari oleh teori atau pendekatan behavioral klasikal.
Pendekatan behavioral memandang manusia atau kepribadian manusia pada
hakikatnya adalah perilaku yang dibentuk berdasarkan hasil pengalaman dari

interaksi individu dengan lingkungannya/hasil belajar. Perhatian dari


pendekatan behavioral adalah perilaku yang nampak, sehingga terapi tingkah
laku mendasarkan diri pada penerapan teknik dan prosedur yang berakar pada
teroi belajar yakni menerapkan prinsip-prinsip belajar secara sistematis dalam
proses perubahan perilaku menuju ke arah yang lebih adaptif. Untuk
menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku serta untuk
mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih dapat menyesuaikan. Salah
satu aspek yang paling penting dalam modifikasi perilaku adalah
penekanannya pada tingkah laku yang didefinisikan secara operasional,
teramati dan terukur.
Menurut sejarah

teknik desensitisasi sitematis,

Corey

(2005:254)

mengemukakan tentang latar belakang teknik ini melihat bahwa rasa takut
dipelajari lewat pengkondisian, demikian juga sebaliknya rasa takut dapat
dihilangkan lewat pusat pengkondisiannya. Tahun 1920-an Johannes Schulz,
psikolog Jerman, mengembangkan teknik Autogenic Training yang
mengkombinasikan diagnosis, relaksasi dan autosugesti untuk konseli yang
mengalami kecemasan. Tahun 1935 Guthrie mengemukakan beberapa teknik
untuk menghapus kebiasaan maladaptive termasuk kecemasan; dengan
menghadapkan individu yang mengalami phobia pada stimulus yang tidak
dapat menimbulkan kecemasan secara gradual ditingkatkan ke stimulus yang
lebih kuat menimbulkan ketakutan.
Desentisisasi sistematik dikembangkan oleh Joseph Wolpe dalam tradisi
behavioristik. Asumsi dasar teknik ini adalah respon ketakutan merupakan
perilaku yang dipelajari dan dapat dicegah dengan menggunakan aktivitas
yang berlawanan dengan respon ketakutan tersebut. Respon khusus yang
dihambat oleh proses treatment ini adalah kecemasan-kecemasan atau
perasaan takut yang kurang beralasan dan respon yang sering dijadikan
pengganti atas kecemasan tersebut adalah relaksasi atau perenungan.
B. Pengertian Desentisisasi Sistematik
Istilah desensitisasi merupakan usaha untuk memperkenalkan secara
bertahap stimulus atau situasi-situasi yang menimbulkan ketakutan.
Desentisisasi sistematik merupakan terapi yang digunakan untuk menghapus
tingkah laku yang diperkuat secara negatif, dan ia menyertakan pemunculan

tingkah laku atau respons yang berwalanan dengan tingkah laku yang hendak
dihapuskan itu. Desentisisasi diarahkan pada mengajar klien untuk
menampilkan suatu respons yang tidak konsisten dengan kecemasan (Corey,
2009).
Desensitisasi adalah pengurangan sensitifitas yang berkaitan dengan
kelainan pribadi atau masalah sosial setelah melalui prosedur konseling.
Dengan demikian desensitisasi adalah proses menjadi sensitive terhadap suatu
perangsang (Chaplin).
Desensitisasi adalah proses membukakan konseli untuk meningkatkan
jumlah rangsangan yang bersifat merangsang. Di sa mbmping itu mereka
juga menyatakan bahwa desensitisasi adalah metode untuk mengurangi
keresponsifan emosional terhadap rangsangan yang menakutkan atau tidak
menyenangkan dengan mengenalkan suatu aktivitas yang bertentangan
dengan respon yang menakutkan itu. Kadang-kadang proses ini disebut
countraconditioning. Misalnya takut berbicara di muka kelas duhubungkan
dengan suatu kesenangan yang bertentangan dengan perasaan relaks. Respon
yang tidak menyenangkan (takut) tidak bias dialami jika ada respon yang
senang (relaksasi) (Brammer dan Shostrom).
Wolpe mengajukan argumen bahwa segenap tingkah laku neurotik adalah
ungkapan dari kecemasan dan bahwa respons kecemasan bisa dihapus oleh
penemuan respon-respon yang secara inheren berlawanan dengan respons
tersebut. Dengan pengkondisian klasik, kekuatan stimulus penghasil
kecemasan bisa dilemahkan, dan gejala kecemasan bisa dikendalikan dan
dihapus melalui penggantian stimulus.
Desensitisasi Sistematis terdiri dari tiga tahap, yiatu: 1) melatih relaksasi
otot, 2) menyusun hirearki kecemasan (urutan kecemasan), dan 3)
menghayalkan stimulus-stimulus yang menimbulkan kecemasan yang
diimbangi dengan relaksasi.
Desentisisasi sistematik melibatkan teknik-teknik relaksasi untuk melatih
klien untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalamanpengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau divisualisasi.
Situasi-situasi dihadirkan dalam suatu rangkaian dari yang sangat tidak
mengancam kepada yang sangat mengancam. Tingkat stimulus-stimulus
penghasil kecemasan dipasangkan secara berulang-ulang dengan stimulus

penghasil keadaan santai sampai kaitan antara stimulus-stimulus penghasil


kecemasan dan respons kecemasan itu terhapus.
C. Karakteristik Desentisisasi Sistematik
Adapun karakteristik atau ciri-ciri terapeutik teknik desensitisasi sistematis
menurut pendekatan behavioral adalah sebagai berikut.
1. Merupakan suatu teknik melemahkan respon terhadap stimulus yang tidak
menyenangkan

dan

mengenalkan

stimulus

yang

berlawanan

(menyenangkan).
2. Penaksiran objektif atas hasil-hasil terapi.
3. Merupakan perpaduan dari beberapa teknik.
D. Prinsip Desentisisasi Sistematik
Prinsip utama terapi ini ialah penggunaan reinforcement sebagai alat
pengatur pembentukan tingkah laku baru, melalui pendekatan berdasarkan
prinsip-prinsip belajar. Prinsip lainnya adalah ikatan antara stimulus tertentu
dengan respon cemas, dapat diperlemah dengan usaha yang simultan,
sehingga respon cemasnya hilang. Maka klien dapat dikatakan sembuh
apabila sudah mampu merespon terhadap stimulus yang dihadapinya tanpa
menimbulkan masalah baru, atau apabila terbentuk pola baru yang serasi
dengan lingkungan hidupnya.
Desensitisasi sistematik didasarkan pada prinsip kondisioning klasik, yaitu
salah satu teknik/prosedur terapi tingkah laku yang diteliti secara empiris dan
digunakan secara luas untuk mengeliminasi reaksi reaksi kecemasan yang
terkondisikan dan fobia-fobia.
E. Prosedur Desentisisasi Sistematik
Desensitisasi sistematik menunjukkan prosedur eksperimental yang yang
dilaksanakan dengan reciprocal inhibition (counter conditioning) dan
extinction. Prosedur/teknik ini digunakan terutama bagi reaksi kecemasan
dan penghindaran, meliputi: (1) analisis behavioral dari stimulus yang
menyebabkan kecemasan, (2) dibangunnya suatu hirarki dari situasi penghasil
kecemasan, kemudian (3) relaksasi diajarkan dan dipasangkan dengan

skenario yang dihayalkan. Stimulus yang disajikan kepada klien bisa melalui
imajinasi atau sebaliknya melalui in vivo (real-life exposure).
Situasinya dikemukakan dalam suatu urutan-urutan yang berangkat dari
yang paling ringan sampai kepada yang paling mengancam. Stimulus yang
menghasilkan kecemasan berkali-kali dipasangkan dengan latihan bersantai
sampai hubungan antara stimulus-stimulus dan respon terhadap kecemasan
itu terhapus (Wolpe, 1958, 1969).
Dalam Corey (2009), prosedur model desentisisasi sistematikadalah
sebagai berikut.
1. Desensitisasi sistematis dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas
stimulus-stimulus

yang

dapat

membangkitkan

kecemasan

ujian.

Disediakan waktu untuk menyusun suatu tingkatan kecemasan konseli


dalam area tertentu.
2. Konselor dan konseli mendaftar hasil-hasil apa saja yang menyebabkan
konseli diserang perasaan cemas dan kemudian menyusunnya secara
hirarkis. Konselor menyusun suatu daftar yang bertingkat mengenai
situasi-situasi yang kemunculannya meningkatkan taraf kecemasan atau
penghindaran. Tingkatan dirancang dalam urutan dari situasi yang
membangkitkan kecemasan yang tarafnya paling rendah hingga situasi
yang paling buruk yang dapat dibayangkan oleh konseli.
3. Konselor melatih konseli untuk mencapai keadaan rileks atau santai.
Latihan ini dilakukan melalui suatu prosedur khusus yang disebut relaksasi
yang

berupaya

mengkondisikan

konseli

dalam

keadaan

santai

penuh. Selama pertemuan-pertemuan terapeutik pertama konseli diberi


latihan relaksasi yang terdiri atas kontraksi, dan lambat laun pengendoran
otot-otot yang berbeda sampai tercapai suatu keadaan santai penuh.
Sebelum latihan relaksasi dimulai, konseli diberitahu tentang cara relaksasi
dalam kehidupan sehari-hari, dan cara mengendurkan bagian-bagian tubuh
tertentu.
4. Konselor melatih konseli untuk membentuk respon-respon antagonistik
yang

dapat

menghambat

perasaan

cemas. Latihan

relaksasi

berdasarkan teknik yang digariskan oleh Jacobson dan diuraikan secara


rinci oleh Wolpe. Pemikiran dan pembayangan (imagery) situasi-situasi
yang membuat santai seperti duduk di pinggir danau atau berjalan-jalan di

taman yang indah sering digunakan. Hal yang penting adalah bahwa
konseli mencapai keadaan tenang dan damai. Konseli diajari bagaimana
mengendurkan segenap otot dan bagian tubuh dengan titik berat pada otototot wajah. Otot-otot tangan terlebih dahulu, diikuti oleh kepala, leher dan
pundak, punggung, perut, dada dan kemudian anggta-anggota badan
bagian bawah. Konseli diminta untuk mempraktekkan relaksasi di luar
pertemuan terapeutik, sekitar 30 menit lamanya setiap hari. Apabila
konseli

telah

dapat

belajar

untuk

prosedurdesensitisasi dapat dimulai.


5. Pelaksanaan
teknik
desensitisasi

santai

dengan

cepat,

maka

sistematis. Proses desensitisasi

melibatkan keadaan di mana konseli sepenuhnya santai dengan mata


tertutup. Pada tahap ini konselor mula-mula mengarahkan konseli agar
mencapai keadaan rileks. Setelah konseli dapat mencapai keadaan rileks,
konselor memverbalisasikan (menyajikan) secara berurutan dari atas ke
bawah situasi-situasi yang menimbulkan perasaan cemas sebagaimana
tersusun

dalam

hirearki

membayangkannya. Konselor

dan

meminta

menceritakan

konseli

serangkaian

situasi

untuk
dan

meminta konseli untuk membayangkan dirinya berada dalam situasi yang


diceritakan oleh konselor tersebut. Situasi yang netral diungkapkan, dan
konseli diminta untuk membayangkan dirinya berada dalam situasi
didalamnya. Jika konseli mampu tetap santai, maka dia diminta untuk
membayangkan situasi yang membangkitkan kecemasan yang tarafnya
paling rendah. Konselor bergerak mengungkapkan situasi-situasi secara
bertingkat sampai konseli menunjukkan bahwa dia mengalami kecemasan,
dan pada saat itulah pengungkapan situasi diakhiri. Kemudian relaksasi
dimulai lagi, dan konseli kembali membayangkan dirinya berada dalam
situasi-situasi yang diungkapkan konselor. Treatmen diangggap selesai
apabila konseli mampu untuk tetap santai ketika membayangkan situasi
yang

sebelumnya

paling

menggelisahkan

dan

menghasilkan

kecemasan. Jika konseli dapat membayangkan situasi tersebut tanpa


mengalami kecemasan, konselor menyajikan situasi berikutnya dan ini
terus dilakukan dengan cara yang sama sehingga seluruh situasi dalam
hirarki telah disajikan dan kecemasan bias dihilangkan. Jika dengan sikap

santai tidak cukup, maka konselor dapat mengulangi dengan cara meminta
membayangkan situasi lain yang menyenangkan ketika ia menyajikan
situasi yang menimbulkan perasaan cemas.
F. Relaksasi
Wolpe dalam Corey (2009) mengatakan bahwa penerapan relaksasi lebih
ditekankan pada latihan yang terdiri atas kontraksi, dan lambat laun
diteruskan pada pengenduran otot-otot yang berbeda sampai tercapai suatu
keadaan santai penuh. Dalam Desensitisasi sistematis, sebelum dimulai
latihah relaksasi klien diberikan informasi mengenai cara-cara relaksasi,
begaimana cara penggunaan relaksasi dalam kehidupan sehari-hari, dan cara
mengendurkan bagian-bagian tubuh tertentu. Dalam relaksasi klien
dianjurkan untuk membayangkan situasi-situasi yang membuat santai seperti
duduk di pinggir pantai, danau, atau tempat tenang lainnya. Hal yang
terpenting adalah klien diarahkan untuk mencapai keadaan tenang dan rileks
sehingga merasakan suatu kedamaian. Dalam penelitian ini selain dianjurkan
seperti cara di atas, peneliti juga menganjurkan cara-cara yang lain yang
dapat digunakan oleh siswa dalam relaksasi untuk meminimalkan tingkat
kecemasan.
Suryani (2000) mengatakan bahwa relaksasi ini merupakan cara untuk
melemaskan organ dan otot-otot tubuh dengan posisi terlentang atau duduk
untuk menanggulangi ketegangan yang ditimbulkan dalam kehidupan seharihari. Lebih lanjut relaksasi menurut Suryani dimulai dengan posisi tidur
terlentang, kaki lurus, tangan lurus lalu letakkan di samping badan. Untuk
memulai relaksasi setiap bagian anggota badan perlu diregangkan dan
dilemaskan, kemudian menutup mata, dan mulai mengosongkan pikiran,
rasakan ada getaran dari ujung kaki, naik perlahan-lahan ke lutut, paha, perut,
dada, bokong, bahu, tangan, leher, muka, dan sampai ke otak sehingga
akhirnya getaran itu keluar melalui ubun-ubun turun ke bawah sampai ujung
kaki.
Lebih lanjut Suryani mengungkapkan bahwa agar dapat melakukan
relaksasi dengan tahap ringan maka, dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut :

1. Duduk dengan posisi yang tegak lurus atau tegap, kedua tangan
diletakkan di atas paha. Kemudian mata dipejamkan, setelah itu nafas
ditarik dengan kuat secara perlahan, lalu nafas ditahan di dada, kemudian
hembuskan secara perlahan. Kegiatan ini dilakukan sampai siswa
merasakan kondisi yang nyaman.
2. Duduk dengan posisi yang tegak lurus atau tegap, lalu jempol kanan
menutup hidung sebelah kanan, hidung seblah kiri menarik nafas dengan
kuat secara perlahan, kemudian ditahan, kemudian hidung sebelah kiri
ditutup dengan menggunakan telunjuk dan jari tengah, kemudian buka
jempol kanan lalu hembuskan nafas secara perlahan. Latihan ini
dilakukan secara bergantian sampai terasa nyaman.
3. Duduk dengan posisi yang tegak lurus atau tegap, kedua tangan
diletakkan di atas paha. Kemudian gerakkan kepala menoleh ke kiri dan
ke kanan sambil mengatur nafas, setelah itu dilanjutkan dengan gerakan
mematahkan kepala ke kiri dan ke kanan, kemudian dilanjutkan dengan
gerakan memutar kepala. Setiap melakukan gerakan selalu diimbangi
dengan nafas.
4. Duduk dengan posisi yang tenang dan tegak lurus atau tegap, kedua
tangan diletakkan di atas paha, kemudian melakukan gerakan mata
melotot, menoleh ke kanan dan ke kiri, memutar mata secara bergantian.
Gerakan ini dilakukan seperlunya saja. Tujuannya adalah untuk melatih
perhatian menjadi fokus.
5. Duduk dengan posisi yang tegak lurus atau tegap, tangan kiri berada di
belakang dan tangan kanan dieltakkan di atas paha sebelah kiri, setelah
itu posisi tangan ditukar dengan gerakan yang sama sambil mengatur
pernafasan secara perlahan.
6. Duduk dengan posisi yang tegak lurus, kedua tangan menyentuh bahu,
kemudian sambil mengeluarkan nafas kedua tangan direntangkan,
kemudian diletakkan kembali ke bahu. Gerakan tersebut dilakukan
secukupnya.
7. Duduk dengan posisi yang tegak lurus atau tegap, kedua tangan
diletakkan di atas paha, atur pernafasan setenang mungkin, pikiran
ditenangkan dan bayangkan berada disuatu tempat yang indah dan sejuk.
Latihan ini berfungsi untuk menenangkan pikiran.

8. Duduk dengan posisi santai, kedua tangan digosokkan sampai telapak


tangan terasa panas, kemudian letakan tangan dimata sambil diusapkan,
dilanjutkan ke pipi, dahi, dan seluruh wajah sampai seluruh tubuh.
G. Kelebihan dan Kekurangan Teknik Desentisisasi Sistematik
1. Kelebihan
a. Cocok untuk menangani fobia-fobia.
b. Bisa diterapkan secara efektif pada berbagai situasi penghasil
kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi
ujian, ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi, kecemasan-kecemasan
neurotik, serta impotensi dan frigiditas sesksual.
2. Kekurangan
a. Kesulitan-kesulitan dalam relaksasi, yang bisa jadi menunjuk apada
kesulitan-kesulitan dalam komunikasi antara terapis dan klien atau
kepada keterhambatan yang ekstrem yang dialami oleh klien.
b. Tingkatan-tingkatan yang menyesatkan atau tidak relevan, yang ada
kemungkinan melibatkan penanganan tingkatan yang keliru.
c. Ketidakmemadaian dalam membayangkan.

BAB III
KESIMPULAN
Istilah desensitisasi merupakan usaha untuk memperkenalkan secara
bertahap stimulus atau situasi-situasi yang menimbulkan ketakutan. Merupakan
teknik yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara
negatif, dan menyertakan pemunculan tingkah laku atau respon yang berlawanan
dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan. Wolpe (1958), sebagai
pengembang teknik desensitisasi berargumentasi bahwa segenap tingkah laku
neurotik adalah ungkapan dari kecemasan dan respons kecemasan dapat dihapus
oleh penemuan respons yang secara inheren berlawanan dengan respons tersebut.
(Misalnya, dengan pengkondisian klasikal).
Systematic desensitization didesain untuk membantu klien yang
mengalami phobia. Klien dan terapis pertama-tama membuat daftar tingkatan/
hirarki ketakutan dari yang paling lemah sampai yang paling kuat. Kemudian
klien disuruh relax, dan selanjutnya prosedur terapis dimulai (mulai dari imaginal
menuju kepada aktual desensitisasi). Teknik ini juga melibatkan relaksasi. Klien
dilatih untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman
pembangkit kecemasan yang dibayangkan. Siituasi dihadirkan dalam suatu
rangkaian dari yang sangat tidak mengancam kepada yang sangat mengancam.

Sumber:
Corey, G. 2009. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Terjemahan.
Bandung: Refika Aditama.
https://lutfifauzan.wordpress.com/2009/12/31/konseptual-tentang-desensitisasisistematis