Anda di halaman 1dari 19

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan
1.1.1Menentukan kelarutan suatu zat dalam suatu zat pelarut
1.1.2Menggambarkan fase diagram tiga komponen
1.1.3Menerapkan dalam menentukan komposisi kadar minyak pengering dalam zat
1.2 Dasar Teori
1.2.1

Larutan
Suatu larutan adalah campuran homogen dari atom ataupun ion dari dua zat atau
lebih. Suatu larutan disebut suatu campuran karena susunannya dapat berubah-ubah.
Disebut homogen karena susunannya dapat begitu seragam sehingga tidak dapat
diamati adanya bagian-bagian atau fasa-fasa yang terpisah.
Meskipun semua campuran fase gas bersifat homogen namun dapat disebut juga
sebagai larutan. Molekul-molekulnya begitu terpisah sehingga tak dapat saling tarikmenarik dengan efektif. Larutan fase padat sangat berguna dan di kenal baik, contoh
perunggu.

1.2.2

Hubungan Kelarutan
a. Larutan Jenuh
Bila kristal gula ditaruh ke dalam air molekul-molekul memisahkan diri dari
permukaan gula dan menuju ke dalam pelarut. Dimana molekul-molekul ini
bergerak kira-kira dengan cara yang sama seperti molekul air. Karena gerakan acak
ini beberapa dari mereka akan menabrak permukaan gula dan terikat disitu oleh
gaya tarik dari molekul-molekul gula yang lain.

LABORATORIUM KIMIA RISET


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)


Gula itu secara tetap pada tiap saat melarut dan mengkristal ulang. Waktu
gula itu mula-mula ditaruh dalam air, laju pelarutan sangat cepat dibandingkan
dengan laju pengkristalan ulang. Makin lama konsentrasi gula yang terlarut
meningkat dengan teratur dan pengkristalan juga meningkat. Ketika laju
pengkristalan dan pelarut telah sama, proses-proses itu berada dalam
kesetimbangan. Kondisi kesetimbangan anak panah rangkap dalam suatu
persamaan, untuk menunjukkan bahwa dua proses yang berlawanan sedang terjadi
serempak dengan laju yang sama:
Gula + H2O

larutan gula

Suatu larutan jenuh didefinisikan sebagai larutan yang mengandung zat


terlarut dalam jumlah yang diperlukan untuk adanya kesetimbangan antara zat
terlarut yang larut dan tidak larut. Pembentukan yang kuat dan zat terlarut yang
berlebih.
Banyaknya zat terlarut yang melarut dalam pelarut yang banyaknya tertentu
untuk menghasilkan suatu larutan jenuh disebut kelarutan. Lazimnya kelarutan
dinyatakan dalam gram zat terlarut per 100 cm3 atau 100 gram pelarut pada
temperatur yang diperlukan.
b. Larutan Tak Jenuh dan Lewat Jenuh
Suatu laruan tak jenuh kalah pekat (lebih encer) dari pada suatu larutan
jenuh dan suatu larutan lewat jenuh lebih pekat dibandingkan suatu larutan jenuh.
Suatu larutan lewat jenuh biasanya dibuat dengan membuat larutan jenuh pada
temperatur yang lebih tinggi. Zat terlarut haruslah lebih banyak larut dalam pelarut
panas dari pada pelarut dingin. Jika tersisa zat terlarut yang belum larut sisa itu
disingkirkan.
Larutan panas itu kemudian didinginkan dengan hati-hati untuk menghindari
pengkristalan. Artinya larutan itu tidak boleh digetarkan atau diguncangkan dan
debu maupun materi asing harus dilarang masuk. Jika tidak ada zat terlarut yang
memisahkan diri selama pendinginkan maka larutan dingin itu bersifat lewat jenuh.
LABORATORIUM KIMIA RISET
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)

1.2.3

Efek Temperatur pada Kelarutan


Dalam seksi ini diperiksa efek temperature pada dua tipe larutan. Zat padat
dilarutkkan dalam cairan.
Zat Padat dalam Cairan
Kebanyakan zat padat menjadi lebih banyak larut ke dalam suatu cairan bila
temperatur dinaikkan namun terdapat beberapa zat padat yang kelarutannya
menurun bila temperaturnya dinaikkan. Karena proses pembentukkan larutan dan
proses pengkristalan berlangsung dengan laju yang sama pada kesetimbangan,
perubahan energi netto adalah nol. Tetapi jika temperatur dinaikkan proses yang
menyerap kalor dalam hal ini pembentukan larutan lebih disukai, segera setelah
temperatur dinaikkna sistem itu tidak berada dala kesetimbangan karena ada lagi
zat padat yang melarut.
Azas Chatelier (1850 1936)
Bila dilakukan suatu paksaan pada suatu sistem kesetimbangan, sistem itu
cenderung berubah demikian untuk mengurangi akibat paksaan itu. (Keenan,
1984)

1.2.4

Diagram Tiga Komponen


Sistem adalah suatu zat yang dapat diisolasikan dari zat-zat lain dalam suatu
bejana inert, yang menjadi pusat perhatian dan mengamatipengaruh perubahan
temperature, tekanan serta konsentrasi zat tersebut. Sedangkan komponen adalah yang
ada dalam sistem, seperti zat terlarut dan pelarut dalam senyawa biner. Banyaknya
komponen dalam sistem C adalah jumlah minimum spesies bebas yang diperlukan
untuk menentukan komposisi semua fase yang ada dalam sistem. Definisi ini mudah

LABORATORIUM KIMIA RISET


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)


diberlakukan jika spesies yang ada dalam sistem tidak bereaksi sehingga kita dapat
menghitung banyaknya. (Anonim, 2010)
Untuk sistem tiga komponen,derajat kebebasan, F = 3 P + 2 = 5 P. untuk P =
1, ada 4 derajat kebebasan. Tak mungkin menyatakan sistem seperti ini dalam bentuk
grafik yang lengkap dalam tiga dimensi, apalagi dalam dua dimensi. Oleh karena itu
biasanya sistem dinyatakan pada suhu dan tekanan yang tetap, dan derajat kebebasan
menjadi F = 3 P, jadi derajat kebebasannya paling banyak ada dua, dan dapat
dinyatakan dalam satu bilanhan pada suhu dan tekanan tetap, variabel yang dapat
digunakan untuk menyatakan sistem tinggal yaitu Xa, Xb dan Xc yang dihubungkan
molekul Xa + Xb + Xc = 1. Komposisi salah satu komponen lainnya diketahui antara
dua komponen.
Untuk fasa tunggal bagi sistem tiga komponen terdapat 4 derajat kebebasan.
F

=CD+2
=31+2
= 4 (temperatur dan tekanan susunan 2 dan 3 komponen)

Sistem tiga komponen sebenarnya banyak kemungkinan yang paling umum.


a. Sistem tiga komponen yang terdiri atas zat cair yang sebagian saling campur
b. Sistem tiga komponen yang terdiri atas dua komponen padat dan satu komponen
cair
Cara terbaik untuk menggambarkan sistem tiga komponen adalah dengan
mendapatkan suatu kertas grafik segitiga. Konsentrasi dapat dinyatakan dengan istilah
% berat atau fraksi mol. Puncak-puncak dihubungkan dengan titik tengah dari sisi
yang berlawanan yaitu Aa, Bb dan Cc. titik nol dimulai dari a, b, c dan titik tengah A,
B dan C. lebih lanjut segitiga adalah sama sisi jumlah jarak-jarak garis tegak lurus dari
sembarang titik dengan segitiga ke sisi-sisi adalah konstan dan sama dengan panjang
garis tegak lurus antara sudut dan pusat dari sisi yang berlawanan, yaitu 100% atau 1.
Pada ekstraksi eluen maupun solven sedikit larut maka baik komponen di eluen
maupun solven terdapat di kedua fase, yaitu fase ekstrak dan rafinat. Oleh karena itu
data kesetimbangan harus menunjukkan hubungan ketiga komponen di kedua fase
tersebut, atau dikenal dengan dengan diagram terner.

LABORATORIUM KIMIA RISET


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)


Dua fase dalam kesetimbangan harus selalu bertemperatur sama. Lebih dari itu
harus bertekanan sama, asalkan tidak terpisah oleh dinding keras atau lebih oleh suatu
permukaan yang memiliki lengkung berarti. Akhirnya sembarang zat yang dapat lalu
lalang dengan bebas di antara kedua fase itu harus memiliki potensial kimia yang sama
di dalamnya. Kriteria penting bagi kesetimbangan ini yang dinyatakan oleh sifat-sifat
intersep T, p dan , langsung menuju kepada aturan fase Willard Gibbs.
Dengan fase merupakan cara mudah untuk menampilkan wujud zat sebagai
fungsi suhu dan tekanan. Contoh khas diagram fase tiga komponen air, kloroform dan
asam asetat. Dalam diagram fase bahwa tersebut diisolasi dengan baik dan tidak ada
zat lain yang masuk maupun keluar dari sitem ini.
Asam asetat lebih suka pada air dibandingkan kloroform oleh karena
bertambahnya kelarutan kloroform dalam air lebih cepat dibandingkan dengan
kelarutan air dalam kloroform. Penambahan asam asetat lebih lanjut akan membawa
sistem bergerak ke daerah atau satu fase (fase tunggal). Namun demikian saat
komposisi mencapai titik a3, ternyata masih ada dua lapisan maupun sedikit. Setelah
penambahan asam asetat diteruskan, pada saat akan menjadi satu fase yaitu pada titik
p. titik p disebut pliet atau titik jalin yaitu semacam titik kritis. (Anonim, 2011)

BAB II
METODOLOGI
LABORATORIUM KIMIA RISET
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)

2.1 Alat
a. Labu erlenmeyer 50 ml
b. Piknometer
c. Pipet ukur 10 ml
d. Bulp
e. Neraca digital
f. Eksikator
g. Klem dan statif
2.2 Bahan
a. Kloroform
b. Asam Propionat
c. Aquades
2.3 Prosedur Kerja
2.3.1 Penentuan Berat Jenis Cairan
1. Menimbang piknometer kosong yang kering dan bersih
2. Mengisi piknometer dengan cairan yang akan di tetukan berat jenisnya sampai penuh.
3. Menimbang piknometer beserta isinya.
2.3.2 Penentuan Diagram Terner
1. Membuat campuran antara aqudest dan kloroform dengan komposisi yang di
variasikan.
2. Menambahkan masing-masing larutan tersebut dengan asam asetat glasial melalui
buret sampai larutan menjadi homogen.
3. Mencatat volume asam asetat glasial yang terpakai dan menghitung masing-masig
komposisi zat dalam setiap campuran kemudian membuat diagram ternernya.
2.4 Diagram Alir

Membuat campuran antara aquadest dan kloroform dengan kompo

Menambahkan masing-masing campuran dengan asam asetat glasial melalui

LABORATORIUM KIMIA RISET


JURUSAN
TEKNIK
KIMIA
Mencatat volume
asam
asetat
glasial yang terpakai dan dihitung masing-masing komposisi zat dalam
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
6

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Data Pengamatan
Tabel 1. Data Pengamatan
Volume H2O (ml)

Volume CHCl3 (ml)

LABORATORIUM KIMIA RISET


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Volume CH3COOH(ml)

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)


10
9
8
7
6
5
4
3
2
1

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

15,5
14,5
13,5
12,5
11,5
9,5
8,5
8
7
6,5

3.2 Hasil Perhitungan


Tabel 2. Perhitungan Massa H2O, C3H6O2 dan CHCl3
Massa H2O (gram)
9,87
8,883
7,896
6,909
5,962
4,935
3,948
2,961
1,974
0,987

Massa CHCl3 (gram)


1,446
2,892
4,338
5,784
7,23
8,676
10,122
11,568
13,014
14,46

Massa CH3COOH (gram)


15,748
14,732
13,766
12,7
11,684
9,652
8,636
8,128
7,112
6,64

Tabel 3. Komposisi Masing-masing Zat


% massa H2O
36,2 %
33,5%
30,4%
27,2%
23,9%
21,2%
17,3%
13,1%
8,9%
4,4%

% massa CHCl3
5,5%
10,9%
16,7%
22,7%
29,1%
37,2%
44,5%
51,05%
58,88%
65,58%

3.3 Pembahasan
LABORATORIUM KIMIA RISET
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

% massa CH3COOH
58,19%
55,58%
52,86%
50,01%
46,97%
41,49%
38,03%
35,87%
32,21%
29,95%

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)

Pada percobaan ini bertujuan untuk menentukan kelarutan suatu zat dalam zat pelarut,
menggambarkan fase diagram terner dan menerapkan dalam menentukan komposisi kadar
minyak pengering dalam zat.
Untuk menentukan komposisi sampel-sampel yang di gunakan dalam hal ini air,
klorofom dan asam asetat glasial perlu diketahui densitas dari masing-masing sampel
tersebut. Dalam percobaan ini di lakukan pencampuran antara air dan klorofrm dengan
komposisi yang d variasikan. Air merupakan zat yang bersifat polar sedangkan kloroform
bersifat non polar sehingga air tidak dapat larut didalamnya dan membentuk dua fase. Air
yang bersifat polar pada bagian atas karena mamiliki massa jenis yang lebih rendah yaitu
sebesar 0,987 gram/mL sedangkan kloroform yang bersifat non polar berada pada bagian
bawah karena massa jenisnya lebih besar yaitu sebesar 1,446 gram/mL.
Campuran air dan kloroform dengan volume yang divariasikan tadi, selanjutnya
dititrasi dengan menggunakan asam asetat agar menjadi satu fase karena sifat dari asam
asetat glasial yang semi polar. Semakin lama, volume asam asetat glasial yang dibutuhkan
semakin sedikit, seiring dengan komposisi kloroform yang bertambah. Semakin lama lapisan
dua fase tersebut akan lebih susah terlihat karena kloroform diikat oleh asam asetat glasial.
Dalam praktikum ini dapat dilihat bahwa kloroform tidak larut dalam air, namun larut
dalam asam asetat glasial. Hal ini dikarenakan karena kloroform merupakan non polar
sedangkan air polar dan asam asetat glasial semipolar.

LABORATORIUM KIMIA RISET


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
4.1.1
4.1.2

Kloroform larut dalam asam asetat glasial dan tidak larut dalam air
Semakin banyak volume dari kloroform, maka semakin sedikit pula volume asam

asetat glasial agar dapat menjadi satu fase.

LABORATORIUM KIMIA RISET


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

10

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010 a. 2010. http://anzar27.blokspot.com/2011/01/Laporan-Fisik-sistem_terner.html
Anonim. 2010 b. http://ginaangraeni10.wordpress.com/2010/05/03/diagram-terner-sistem-tiga
-komponen
Keenan, W.C. 1984. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga
Tim Laboratorium Kimia Dasar. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Fisika. Samarinda: Polnes

LABORATORIUM KIMIA RISET


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

11

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)

Perhitungan

Massa H2O

Massa H2O 7 mL
m= xv

Massa H2O 10 mL

= 0,987 g/mL x 7 mL

m= xv

= 6,909 gram

= 0,987 g/mL x 10 mL
= 9,87 gram

Massa H2O 6 mL
m= xv

Massa H2O 9 mL

= 0,987 g/mL x 6 mL

m= xv

= 5,962 gram

= 0,987 g/mL x 9 mL
= 8,883 gram

Massa H2O 5 mL
m= xv

Massa H2O 8 mL

= 0,987 g/mL x 5 mL

m= xv

= 4,935 gram

= 0,987 g/mL x 8 mL
= 7,896 gram

LABORATORIUM KIMIA RISET


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

12

Massa H2O 4 mL

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)


m= xv

= 1,446 g/mL x 2 mL

= 0,987 g/mL x 4 mL

= 2,892 gram

= 3,948 gram

Massa H2O 3 mL

Massa CHCl3 3 mL
m= xv

m= xv

= 1,446 g/mL x 3 mL

= 0,987 g/mL x 3mL

= 4,338 gram

= 2,961 gram

Massa H2O 2 mL

Massa CHCl3 4 mL
m= xv

m= xv

= 1,446 g/mL x 4 mL

= 0,987 g/mL x 2 mL

= 5,784 gram

= 1,974 gram

Massa H2O 1 mL

Massa CHCl3 5 mL
m= xv

m= xv

= 1,446 g/mL x 5 mL

= 0,987 g/mL x 1 mL

= 7,23 gram

= 0,978 gram
Massa CHCl3

Massa CHCl3 1 mL

m= xv

Massa CHCl3 6 mL
m= xv

= 1,446 g/mL x 1 mL

= 1,446 g/mL x 6 mL

= 1,446 gram

= 8,676 gram

Massa CHCl3 2 mL

m= xv
LABORATORIUM KIMIA RISET
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Massa CHCl3 7 mL
m= xv

13

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)

= 1,446 g/mL x 7 mL

= 1,016 g/mL x 14,5 mL

= 10,122 gram

= 14,732 gram

Massa CHCl3 8 mL

m= xv

m= xv

= 1,446 g/mL x 8 mL

= 1,016 g/mL x 13,5 mL

= 11,568 gram

Massa CH3COOH 13,5 mL

= 13,716 gram

Massa CHCl3 9 mL

m= xv

Massa CH3COOH 12,5 mL


m= xv

= 1,446 g/mL x 9 mL

= 1,016 g/mL x 12,5 mL

= 13,014 gram

= 12,7 gram

Massa CHCl3 10 mL

m= xv

Massa CH3COOH 11,5 mL


m= xv

= 1,446 g/mL x 10 mL

= 1,016 g/mL x 11,5 mL

= 14,46 gram

= 11,684 gram
Massa CH3COOH

Massa CH3COOH 15,5 mL

m= xv

m= xv

= 1,016 g/mL x 9,5 mL

= 1,016 g/mL x 15,5 mL

= 9,652 gram

= 15,748 gram

Massa CH3COOH 14,5 mL

Massa CH3COOH 8,5 mL


m= xv

m= xv
LABORATORIUM KIMIA RISET
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Massa CH3COOH 9,5 mL

14

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)


= 1,016 g/mL x 8,5 mL

= 8,636 gram

14,732
x 100
(14,732+2,892+8,883)

= 55,58 %

Massa CH3COOH 8 mL

m= xv
= 1,016 g/mL x 8 mL

% Massa CH3COOH 13,5 mL


=

13,716
x 100
(13,716+ 4,338+7,896)

= 8,128 gram
= 52,86 %

Massa CH3COOH 7 mL

m= xv

% Massa CH3COOH 12,5 mL


=

= 1,016 g/mL x 7 mL

12,7
x 100
(12,7+5,784 +6,909)

= 7,112 gram
= 50,01 %

Massa CH3COOH 6,5 mL

m= xv

% Massa CH3COOH 11,5 mL


=

= 1,016 g/mL x 6,5 mL


= 6,604 gram

11,684
x 100
(11,684 +7,23+5,962)

= 46,97 %

% Massa CH3COOH

% Massa CH3COOH 15,5 mL


=

15,748
x 100
(15,748+1,446+ 9,87)

= 58,19 %

% Massa CH3COOH 9,5 mL


=

% Massa CH3COOH 14,5 mL

9,652
x 100
(9,652+8,676+ 4,935)
= 41,49 %

LABORATORIUM KIMIA RISET


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

15

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)

% Massa CH3COOH 8,5 mL


=

% Massa CHCl3 1 mL
=

8,636
x 100
(8,636+10,122+3,948)

1,446
x 100
(1,446+15,748+ 8,883)
= 5,5 %

= 38,03 %

% Massa CHCl3 2 mL

% Massa CH3COOH 8 mL
=

8,128
x 100
(8,128+11,568 +2,961)

2,892
x 100
(2,892+14,732+8,883)
= 10,9 %

= 35,87 %

% Massa CHCl3 3 mL

% Massa CH3COOH 7 mL
=

7,122
x 100
(7,122+13,014+1,974)

4,338
x 100
(4,338+ 13,716+7,896)
= 16,7 %

= 32,21 %

% Massa CHCl3 4 mL

% Massa CH3COOH 6,5 mL


=

6,604
x 100
(6,604+ 14,46+0,987)

5,784
x 100
(5,784+12,7 +6,909)
= 22,7 %

= 29,95 %

% Massa CHCl3 5 mL
=

7,23
x 100
(7,23+11,684 +5,962)
= 29,1 %

% Massa CHCl3
LABORATORIUM KIMIA RISET
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

16

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)

% Massa CHCl3 6 mL
=

8,676
x 100
(8,676+ 9,652+ 4,935)

% Massa H2O

= 37,2 %

% Massa CHCl3 7 mL
=

% Massa H2O 10 mL
=

10,122
x 100
(10,122+9,636+3,948)

9,87
x 100
(9,87+ 1,446+15,748)
= 36,2 %

= 44,5 %

% Massa CHCl3 8 mL
=

% Massa H2O 9 mL
=

11,568
x 100
(11,568+8,128+2,961)

8,883
x 100
(8,883+2,892+14,732)
= 33,5 %

= 51,05 %

% Massa CHCl3 9 mL
=

% Massa H2O 8 mL
=

13,014
x 100
(13,014+7,112 +1,974)

7,896
x 100
(7,896+ 4,338+13,716)
= 30,4 %

= 58,88 %

% Massa CHCl3 10 mL
=

14,46
x 100
(14,46+6,604 +0,987)

6,909
x 100
(6,909+5,784+ 12,7)
= 27,2 %

= 65,58 %
LABORATORIUM KIMIA RISET
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

% Massa H2O 7 mL

17

Kelarutan Zat ( Diagram Terner)

= 17,3 %

% Massa H2O 6 mL
=

5,962
x 100
(5,962+7,32+11,684)

= 23,9 %

% Massa H2O 3 mL
=

2,961
x 100
(2,961+11,568+8,128)
= 13,1 %

% Massa H2O 5 mL
=

% Massa H2O 2 mL
=

4,9325
x 100
(4,9325+ 8,676+9,652)

1,974
x 100
(1,974+13,014 +7,112)
= 8,9 %

= 21,2 %

% Massa H2O 4 mL
=

3,948
x 100
(3,948+10,122+8,636)

LABORATORIUM KIMIA RISET


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

% Massa H2O 1 mL
0,987
x 100
(0,987+14,46 +6,604)
= 4,4 %

18

GAMBAR ALAT

Neraca Digital

Spatula

Labu ukur

Buret

Pipet ukur

Erlenmeyer

Kaca Arloji

Hot plate

Bulp

Piknomete
r