Anda di halaman 1dari 15

STUDI KELAYAKAN PERENCANAAN PLTMH DI SALURAN

TURITUNGGORONO PADA BENDUNG GERAK MRICAN KEDIRI


1

Adi Martha Kurniawan1, Pitojo Tri Juwono2, Suwanto Marsudi2


Mahasiswa Program Sarjana Teknik Jurusan Pengairan Universitas Brawijaya
2
Dosen Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
e-mail: kadimartha@gmail.com

ABSTRAK
Pengembangan sumber daya air bisa dilakukan dengan memanfaatkan bangunan air
yang dibangun untuk dikembangkan menjadi unit pembangkit listrik kecil (PLTMH). Studi
kelayakan diperlukan untuk mengidentifikasi potensi dan keuntungan dari sebuah unit
pembangkit.
Studi berlokasi di bendung gerak Mrican Kediri dengan memanfaatkan debit aliran
sungai Brantas yang tidak terpakai untuk keperluan irigasi. PLTMH direncanakan
menggunakan sistem pengalihan aliran dari sungai brantas melalui saluran primer
Turitunggorono dan dialirkan kembali menuju sungai brantas. Studi ini menggunakan
alternatif debit untuk mendapatkan hasil yang optimum.
Hasil kajian menunjukkan debit 44 m3/dt (alternatif 4) dapat dibangkitkan energi
tahunan 20.169 MWh dan mereduksi emisi gas karbon sekitar 13687 tCO2/tahun, PLTMH
dibangun dengan komponen bangunan sipil (pipa pesat, saluran tailrace, forebay dan
rumah pembangkit) dan komponen peralatan mekanik elektrik seperti turbin, governor dan
generator. biaya pembangunan sebesar 193,15 milyar rupiah dengan nilai BCR 1,56, NPV
142,94 milyar rupiah, IRR 12,46 % dan paid back period 12,49 tahun, sehingga
pembangunan PLTMH layak secara ekonomi.
Kata kunci: PLTMH, debit, energi, emisi, kelayakan ekonomi
ABSTRACT
Development of water resources can be done by utilizing the water building built to
be developed into a small electric generating units (MHP). The feasibility study is needed
to identify the potential and advantages of a generating unit.
Studies located in Mrican barrage Kediri by utilizing unused Brantas river flow for
irrigation purposes. MHP is planned to use the system redirects the flow of the river
Brantas through Turitunggorono primary channel and flowed back toward the river
Brantas. This study uses an alternative discharge to obtain optimum results..
The results of the study showed the discharge of 44 m3/sec (Alternative 4) can be
produced 20169 MWh of annual energy and reduce carbon emissions around 13687
tCO2/year, MHP is constructed including: civil structures component (penstock, Tailrace
channel, forebay and power house) electrical and mechanical equipment such as turbines,
governors and generator. The construction cost of 193,15 billion rupiah to the value of
BCR: 1,56, NPV: 142,94 billion, IRR: 12,46 % and paid back period: 12,49 years, so the
development of MHP is economically viable .
Keywords: MHP, discharge, energy, emissions, economic feasibility
1. Pendahuluan
Permintaan energi dunia berkembang
sangat pesat mengakibatkan populasi
manusia yang berkembang menjadi
sangat pesat dan juga perkembangan
sektor industri yang sangat besar.

Kebutuhan energi global meningkat


sebesar 70% mulai tahun 1971 dan
diperkirakan terus meningkat sebesar
40% sampai tahun 2030, sementara akses
energi masih sangat kurang dan dapat
dirasakan.

Indonesia merupakan Negara yang


sedang mengalami perkembangan yang
pesat dimana pembangunan dalam sektor
industri digencarkan dan perkembangan
penduduk menyebabkan kebutuhan akan
energi listrik merupakan hal yang sangat
penting untuk diperhatikan. Sedangkan
sumber utama energi listrik di Indonesia
merupakan energi fossil yakni minyak
bumi dan batu bara yang dimana kedua
benda tersebut merupakan sebuah benda
yang tidak dapat terbarukan lagi. Saat ini
telah banyak digunakan alternatif dalam
mengganti sumber energi listrik dari
bahan bakar fossil menjadi sumber energi
yang terbarukan dengan menggunakan
air, ombak, angin, sinar matahari, panas
bumi, dan biomassa.
Sungai Brantas merupakan salah satu
sungai besar di Jawa yang memiliki potensi yang belum dimaksimalkan pasalnya sebagian besar air sungai Brantas
dipergunakan untuk kebutuhan irigasi, air
baku dan PLTA. Dengan peningkatan
kebutuhan energi maka sungai Brantas
harus dimaksimalkan lagi potensinya
mengingat masih banyak potensi yang
tersimpan. pemanfaatan kanal irigasi dan
tinggi jatuh yang terdapat pada bangunan
melintang sungai untuk instalasi pembangkit listrik tenaga mikrohidro dan
pembangkit listrik tenaga mikrohidro
dapat membantu kebutuhan energi yang
sedang meningkat.
Dengan adanya berbagai permasalahan
dan kebutuhan di masa yang akan datang,
diperlukan sebuah tindakan nyata untuk
mendukung terpenuhnya kebutuhan tersebut. Pengembangan sumber daya air
yang tersimpan sebagai sumber pembangkit energi listrik dapat dilaksanakan
dengan desain yang sederhana dan juga
dapat memberikan manfaat yang sangat
besar dalam memenuhi kebutuhan energi
listrik dimasa yang akan datang.
Studi ini bertujuan untuk menganalisa
kelayakan dari perencanaan PLTMH
dengan memanfaatkan debit air sungai
dan bangunan irigasi yang dirasa dapat
meningkatkan produksi energi listrik

untuk memenuhi kebutuhan energi listrik


yang meningkat.
2. Pustaka dan Metodologi
Klasifikasi pembangkit listrik tenaga
air
Klasifikasi dari pembangkit listrik tenaga
air perlu ditentukan terlebih dulu untuk
mengetahui karakteristik tipe pembangkit
listrik, mengklasifikasikan sistem pembangkit listrik perlu dilakukan terkait
dengan sistem distribusi energi listrik,
apakah listrik dapat disalurkan melalui
grid terpusat ataukah grid terisolasi.
Klasifikasi pembangkit listrik dapat ditentukan dari beberapa faktor (Penche,
2004) yakni:
1. Berdasarkan tinggi jatuh (head)
Rendah (< 50 m)
Menegah (antara 50 m dan 250 m)
Tinggi (> 250 m)
2. Berdasarkan tipe eksploitasi
Tengan regulasi aliran air (tipe
waduk)
Tanpa regulasi aliran air (tipe run off
river)
3. Berdasarkan sistem pembawa air
Sistem bertekanan (pipa tekan)
Sirkuit campuran (pipa tekan dan
saluran)
4. Berdasarkan penempatan rumah
pembangkit
Rumah pembangkit pada bendungan
Rumah pembangkit pada skema
pengalihan
5. Berdasarkan metode konversi energi
Pemakaian turbin
Pemompaan dan pemakaian turbin
terbalik
6. Berdasarkan tipe turbin
Impulse
Reaksi
Reversible
7. Berdasarkan kapasitas terpasang
Mikro (< 100 kW)
Mini (antara 100 kW dan 500 Kw)
Kecil (antara 500 kW dan 10 MW)
8. Berdasarkan debit desain tiap turbin
Mikro (Q < 0,4 m3/dt)
Mini ( 0,4 m3/dt < Q < 12,8 m3/dt)

Kecil (Q > 12,8 m3/dt)


Debit andalan
Debit andalan adalah Debit andalan
didefinisikan sebagai debit yang tersedia
guna keperluan tertentu misalnya untuk
keperluan irigasi, PLTA, air baku dan
lain-lain sepanjang tahun, dengan resiko
kegagalan yang telah diperhitungkan
(C.D. Soemarto,1986). Setelah itu baru
ditetapkan frekuensi kejadian yang
didalamnya terdapat paling sedikit satu
kegagalan. Dengan data cukup panjang
dapat digunakan analisis statistika untuk
mengetahui gambaran umum secara
kuantitatif besaran jumlah air. Beberapa
debit andalan untuk berbagai tujuan,
antara lain: (C.D. Soemarto, 1987).
1. Penyediaan air minum 99%
2. Penyediaan air industri95%-98%
3. Pusat Listrik Tenaga Air85%-90%
Perencanaan Bangunan PLTMH
Perencanaan bangunan PLTMH dengan
sistem pengalihan (diversion) meliputi:
A. Bangunan Pengambilan
Bangunan pengambilan bisa terdiri dari:
1. Pintu pengambilan. Pintu pengambilan
direncanakan untuk mengambil air dari
saluran atau sungai asli.
2. Bendung. Bendung digunakan untuk
membendung aliran aliran air sehingga
akan mempermudah untuk pengambilan
air.
3. penyaring (trashrack)
Trashrack digunakan untuk menyaring
muatan sampah dan sedimen yang
masuk, umunya pernyaring direncanakan
dengan menggunakan jeruji besi.
B. Bangunan Tengah
Bangunan tengah meliputi perencanaan:
1. bak penangkap sedimen
Bak penangkap sedimen dipergunakan
untuk mengendapkan sedimen yang
terdapat pada aliran yang menuju pipa
pesat.
2. bak penenang (forebay)
Bak penenang digunakan untuk menjaga
kestabilan debit yang akan masuk ke

turbin, aliran yang tidak stabil akan


menyebabkan kerusakan pada governor.
3. bangunan penguras
Bangunan penguras direncanakan berdasarkan kondisi daerah studi, jenis
bangunan penguras yang dipergunakan
dalam studi ini adalah:
A. Saluran Penguras
Saluran penguras digunakan untuk mengalirkan muatan sedimen dari bak penangkap sedimen dan kelebihan air dari
pelimpah samping menuju sungai.
B. Pintu Penguras
Pintu penguras direncanakan untuk
mengalirkan debit penggelontoran dari
bak penenang atau bak pengendap menuju saluran penguras, umumnya pintu
penguras didesain lebih kecil dari pintu
pengambilan dikarenakan pitnu penguras
tidak terlalu sering dipergunakan.
C. Pelimpah Samping
Pelimpah samping dipergunakan untuk
menjaga elevasi muka air pada bak
penenang (forebay) pada elevasi muka air
yang direncanakan, sehingga jika terjadi
peninggian muka air pada bak penenang
maka secara otomatis debit air yang
berlebihan akan dilimpahkan menuju
saluran pembuang.
D. Gorong Gorong (culvert)
Gorong gorong dipergunakan untuk
penggelontoran sedimen pada bak pendendap sedimen jika tidak memungkinkan untuk menggunakan pintu penguras.
E. Terjunan
Terjunan dipergunakan apabila terdapat
perbedaan elevasi yang cukup besar pada
tubuh saluran penguras, terjunan didesain
dengan pendekatan loncatan hidrolika
pada hilir terjunan.
C. Bangunan Pembawa
Bangunan pembawa bisa berupa bangunan pembawa bertekanan (pipa pesat) dan
juga saluran terbuka. Parameter desain
yang direncanakan pada pipa pesat adalah:
1. Diameter pipa pesat
Diameter ekonomis pipa pesat dapat
dihitung dengan persamaan:
Sarkaria formula:

D = 3,55.

. .

ESHA formula:
,

D=
Dimana:
D : diameter pipa (m)
n : koef kekasaran pipa
Q : debit pada pipa (m3/dt)
Hf : kehilangan tinggi tekan total pada
pipa (m)
H : tinggi jatuh (m)
Namun dalam penentuan diameter pipa
pesat perlu diperhitungkan besarnya
kehilangan tinggi dikarenakan hal ini
akan memperngaruhi besarnya daya yang
akan dihasilkan dan juga perlu diperhatikan keaman terhadap gejala vortex
2. Tebal pipa pesat
Tebal pipa pesat dapat dihitung dengan
persamaan:
ASME (Mosonyi,1963):
t = 2,5 D +1,2
USBR (Varshney,1971):
t = (d+500)/400
ESHA (Penche,20004) :
e = PD/2kf+es
Barlows Formulae (Varshney,1971):
H = (0,002+ x t)/(D+0,002 t)
Dimana:
H : Tinggi tekan maksimum ( m )
: tekanan statis + tinggi tekan akibat
pukulan air
: tegangan baja yang digunakan
(ton/m2 )
D : diameter pipa pesat ( m )
t : tebal pipa pesat ( m )
P : tekan hidrostatis pipa (kN/mm2)
kf : efisiensi ketahanan
es : tebal jagaan untuk sifat korosif (mm)
3. Kebutuhan terhadap tangki gelombang
Pipa
pesat
membutuhkan
tangki
gelombang jika L > 4H
4. Kedalaman minimum pipa pesat
Kedalaman minimum akan berpengaruh
terhadap gejala vortex, kedalaman minimum dapat dihitung dengan persamaan
(Penche,2004):
Ht > s
s = c V D

Dimana:
c : 0,7245 untuk inlet asimetris
0,5434 untuk inlet simetris
V : kecepatan masuk aliran (m/dt)
D : diameter inlet pipa pesat (m)

Gambar 1. Skema Inlet Pipa Pesat


5. Sistem Pengambilan Melalui Pipa
Pesat (Inlet)
Sistem pengambilan pada mulut pipa
pesat perlu diperhitungkan dengan tujuan
untuk mengatur sistem regulasi debit air
yang masuk ke dalam turbin baik saat
kondisi operasional maupun kondisi
perawatan ,intake pipa pesat biasanya
didesain dengan menggunakan sistem
katup (valve), Tipe katup yang sering
diaplikasikan adalah :
a. Gate valve
b. Butterfly valve
c. Needle valve
D. Bangunan Pembuang
Bangunan pembuang digunakan untuk
mengalirkan debit setelah melalui turbin
meuju ke sungai, bangunan pembauang
sendiri bisa direncanakan sesuai dengan
kondisi lapangan, umunya bangunan
pembuang direncanakan dengan tipe saluran terbuka (saluran tailrace).
Tinggi Jatuh Efektif
Tinggi jatuh efektif adalah selisih antara
elevasi muka air pada bangunan
pengambilan atau waduk (EMAW) dengan tail water level (TWL) dikurangi
dengan total kehilangan tinggi tekan
(Ramos, 2000). Persamaan tinggi jatuh
efektif adalah:
Heff
= EMAW TWL hl
dimana:
Heff
: tinggi jatuh efektif (m)
EMAW: elevasi muka air waduk atau
hulu bangunan pengambilan (m)

TWL : tail water level (m)


hl
: total kehilangan tingi tekan (m)

Gambar 2. Sketsa Tinggi Jatuh


Effektif
Kehilangan tinggi tekan digolongkan
menjadi 2 jenis yaitu kehilangan pada
saluran terbuka dan kehilangan pada
saluran tertutup.
Kehilangan tinggi tekan pada saluran
terbuka biasanya terjadi pada intake
pengambilan, saluran transisi dan penyaring.
Kehilangan tinggi pada saluran tertutup
dikelompokkan menjadi 2 jenis yaitu
kehilangan tinggi mayor (gesekan) dan
kehilangan tinggi minor. Kehilangan
tinggi mayor dihitung dengan persamaan
darcy wisbach (Penche,2004):
hf = f
sedangkan kehilangan minor dihitung
dengan persamaan (Ramos, 2000):
hf =
dimana:
hf : kehilangan tinggi tekan
V : kecepatan masuk (m/dt)
g : percepatan gravitasi (m/dt2)
L : panjang saluran tertutup / pipa (m)
D : diameter pipa (m)
f : koefisien kekasaran(moody diagram)
: keofisien berdasarkan jenis kontraksi
Perencanaan Peralatan Mekanik Dan
Elektrik
Perencanaan peralatan mekanik dan
elektrik meliputi:
A. Turbin Hidraulik
Turbin dapat diklasifikasikan berdasarkan
tabel berikut (Ramos,2000):

Tabel 1. Klasifikasi Jenis Turbin

Dalam perencanan turbin parameter yang


mendasari adalah kecepatan spesifik
turbin (Ns) dan kecepatan putar/sinkron
(n) dimana kedua parameter tersebut
dihitung dengan persamaan (USBR,
1976:):
Ns = n

120 f

n=
dimana:
Ns : Kecepatan spesifik turbin (mkW)
n : kecepatan putar/sinkron (rpm)
P : daya (kW)
H : tinggi jatuh effektif (m)
f : frekuensi generator (Hz)
p : jumlah kutub generator
nilai n bisa didapatkan dengan melakukan
nilai coba-coba dengan persamaan:
Untuk turbin francis:
n =
atau n =

Untuk turbin propeller:


n =
atau n =

setelah didapatkan nilai parameter


tersebut maka dapat ditentukan parameter
lain seperti:
1. Titik Pusat Dan Kavitasi Pada Turbin
Titik pusat perlu diletakkan pada titik
yang aman sehingga terhindar dari
bahaya kavitasi kavitasi akan terjadi bila
nilai aktual < kritis, dimana dapat
dihitung dengan persamaan (USBR,
1976):
.

c =
Hs = Ha Hv H.
Sedangkan titik pusat turbin dapat
dihitung dengan persamaan:
Z = twl + Hs + b
dimana:
Ns : Kecepatan spesifik turbin (mkW)
c : koefisien thoma kritis
: koefisien thoma

Ha: tekanan absolut atmosfer (Pa/g)


Hv: tekanan uap jenuh air (Pw/g)
H : tinggi jatuh effektif (m)
Hs : tinggi hisap turbin (m)
Z : titik pusat tubrin
twl: elevasi tail water level
b : jarak pusat turbin dengan runner (m)
2. dimensi turbin
Dimensi turbin reaksi meliputi:
Dimensi runner turbin, dimensi wicket
gate, dimensi spiral case dan dimensi
draft tube.
3. effisiensi turbin
Effisiensi turbin sangat tergantung
pengaruh dari debit aktual dalam turbin
dengan debit desain turbin (Q/Qd),
effisiensi turbin ditunjukkan pada gambar
berikut (Ramos,2009):

Gambar 3. Grafik Effisiensi Turbin


B. Peralatan Elektrik
Peralatan elektrik PLTMH berfungsi
sebagai pengaturan kelistrikan setelah
dilakukan proses pembangkitan listrik,
peralatan elektrik meliputi generator,
governor, speed increaser, transformer,
switchgear dan auxiliary equipment.
Analisa Pembangkitan Energi
Produksi energi tahunan dihitung
berdasarkan tenaga andalan. Tenaga andalan dihitung berdasarkan debit andalan
yang tersedia untuk pembangkitan energi
listrik yang berupa debit outflow dengan
periode n harian.(arismunandar,2005)
E = 9,8 x H x Q x g x t x 24 x n
Dimana:
E : Energi tiap satu periode (kWh)
H : Tinggi jatuh efektif (m)
Q : Debit outflow (m3/dtk)
g : effisiensi generator
t : efisiensi turbin

n : jumlah hari dalam satu periode.


Analisa Reduksi Emisi Gas Karbon
Analisa reduksi emisi gas karbon
dihitung dengan persamaan (RETScreen,
2005):
GHG : (ebase eprop) Eprop (1- prop)
Dimana:
GHG : Besaran reduksi gas karbon
( kgCO2e )
ebase : faktor emisi gas karbon dari
sumber tidak terbarukan
eprop : faktor emisi gas karbon dari
sumber terbarukan
Eprop : besarnya daya bangkitan (kWh)
prop : kehilangan daya pada grid
nilai unit konversi produksi emsisi gas
karbon per kWh adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Nilai Konversi Produksi Emisi

Sumber: IPCC,2006
Analisa Kelayakan Ekonomi
Analisa ekonomi dilakukan untuk
mengetahui kelayakan suatu proyek dari
segi ekonomi. Dalam melakukan analisa
ekonomi dibutuhkan dua komponen
utama yaitu:
cost (komponen biaya)
meliputi biaya langsung (biaya konstruksi) dan biaya tak langsung (O&P, contingencies dan engineering)
benefit (komponen manfaat).
Manfaat didapatakan dari hasil penjualan
listrik berdasarkan harga tarif yang berlaku dan pendapatan dari reduksi emisi
gas karbon (CER).
Parameter kelayakan ekonomi meliputi:
1. Benefit Cost Ratio
PV dari manfaat
BCR =
PV dari biaya capital dan O&
2. Net Present Value
NPV = PV Benefit PV Cost
3. Internal Rate Of Return
NPV
(I I)
IRR = I +
NPV NPV
4. analisa sensitivitas

Analisa sensitivitas dilakukan pada 3


kondisi yaitu:
Cost naik 20%, benefit tetap
Cost tetap, benefit turun 20%
Cost naik 20%, benefit turun 20%

Tabel 3. Alternatif Debit Desain

3. Hasil dan Pembahasan


Konsep perencanaan PLTMH adalah
dengan memanfaatkan debit sungai
Brantas yang tidak dipergunakan untuk
irigasi untuk kemudian dialirkan melalui
saluran primer Turitunggorono kemudian
dialirkan kembali ke sungai, konsep dasar
PLTMH ditunjukkan pada gambar
berikut:

Maka dari perencanaan alternatif tersebut


direncanakan komponen bangunan sipil,
pada studi ini digunakan alternatif 4
sebagai acuan debit desain bangunan
sipil, bangunan sipil yang direncanakan
meliputi:
1. Bangunan Pengambilan
Bangunan pengambilan direncanakan
berupa pintu pengambilan (intake) dan
dilengkapi dengan trashrack
trashrack, pintu pengambilan didesain menggunakan tipe pintu
sorong vertikal dengan data teknis seb
sebagai berikut:
Debit desain
: 44 m3/dt
Tinggi pintu
: 1,8 meter
Lebar pintu
: 3 meter
Jumlah Pintu
: 5 pintu
Elv ambang pintu
: +56,2
Elv saluran eksisting : +55,9
Elv MAN
: +57,8
Sedangkan kapasitas pintu dapat dihitung
dengan persamaan:
Q = b a . 2.g.H
Nilai daimbil 0,5
H : Elv MA Elv ambang:
ambang 57,8 56,2 :
1,6 m
a : 0,1 m
Q = 0,5 3 0,1 . 2.9,81.1,6
Q = 0,84 m3/dt untuk 1 pintu
Dengan cara yang sama maka akan
didapatkan kurva kapasitas pintu pengpeng
ambilan sebagai berikut:

Gambar 4. Konsep Dasar PLTMH


Mrican
Berdasarkan analisa hidrologi pencatatan
debit outflow harian digunakan debit
desain rencana untuk desain PLTMH
dengan keandalan tertentu seperti pada
kurva durasi aliran (FDC) seperti berikut:
Flow Duration Curve
10000.00

debit (m3 /dt)

1000.00

100.00

10.00

1.00
0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

70.00%

80.00%

90.00%

100.00%

Probabilitas Terlampaui (%)

Gambar 5. Kurva Durasi Aliran


Outflow
Dari kurva tersebut pertimbangan lain
adalah dengan memperhatikan kapasitas
saluran Primer Turitunggorono sebesar
64,7 m3/dt sehingga digunakan alternatif
al
debit desain sebagai berikut:
Gambar 6. Kurva Kapasitas Pintu

dari kurva tersebut diketahui kapasitas


maksimum sebesar 66,03 m3/dt sehingga
mampu mengalirkan debit desain sebesar
44m3/dt. Pintu pengambilan juga dilengkapi trashrack sebagai penahan sampah
yang masuk.

Dari
grafik
terssebut
didapatkan
kecepatan jatuh butiran sebesar 0,085
m/dt, Jika direncanakan kedalaman untuk
tampungan sedimen adalah 2 meter maka
tinggi muka air pada bak penangkap
sedimen adalah 1,6 meter + 2 meter = 3,6
meter. Maka dengan persamaan:
,
B = . = , . , = 39,63 meter
Dengan memperhatikan turbulensi pada
aliran maka:
,
,
=
= , = 0,25

Gambar 7. Desain Bangunan


Pengambilan
2. Bangunan Tengah
Bangunan tengah yang dimaksud adalah
bangunan air yang terletak pada tengah
sistem PLTMH yang berfungsi sebagai
pengaturan aliran dan perawatan, bangunan tengah yang dipergunakan dalam
studi ini adalah bak pengendap sedimen
(sand trap), forebay dan bangunan penguras.
Bak Pengendap Sedimen (Sand Trap)
Bak pengendap sedimen direncanakan
dengan menggunakan analisa kecepatan
kritis jatuh butrian dan panjang lintasan
pengendapan
perhitunganya
adalah
sebagai berikut:
Kecepatan kritis :
V = a
Dimana:
a
: 44 (untuk 10<d<0,1 mm)
V
: 44 0,73
V
: 37,24 cm/dt = 0,37 m/dt
Kecepatan jatuh butiran didapat dari
grafik:

Gambar 7. Grafik Penentuan


Kecepatan Jatuh Butiran

w = w . v = 0,085 . 0,25 = 0,021 m/dt


,
t =
= ,
= 56,65 detik
,
sehingga
panjang
lintasan
yang
dibutuhkan adalah: L = t x w = 56,65 x
0,021 = 20,89 meter Dari hasil perhitungan didapatkan dimensi bak penangkap sedimen yang kurang sesuai dengan
kondisi lahan yang tersedia maka modifykasi yang perlu dilakukan adalah dengan
mengubah kecepatan pada bak penangkap sedimen sehingga panjang lintasan
pengendapan akan bertambah panjang
dan lebar bak akan menyempit, direncanakan perubahan kecepatan adalah dua
kali dari kecepatan awal yakni:
V
= 0,37 m/dt
V
= 2 x v = 0,74 m/dt
Maka dengan cara yang sama akan
didapatkan dimensi baru yaitu:
Panjang bak (L)
: 42 meter
Lebar bak (B)
: 20 meter
Tinggi muka air (H) : 3,6 meter
Volume bak (V)
: 3024 m3
Forebay
Forebay direncanakan dengan tampungan
120Q agar dapat menjaga kestabilan governor akibat kestabilan debit operasional.
Volume bak penangkap sedimen
:
3
3024 m
Volume bak penampung
:
120 x Q = 120 x 44 = 5280 m3
Kekurangan tampungan
:
3
5280 3024 = 2256 m
Jika menggunakan lebar yang sama
dengan bak penangkap sedimen dan
elevasi mulut bak penangkap sedimen
+54,2 dengan tinggi muka air 3,6 meter
maka panjang yang dibutuhkan adalah:

L = V/(BxH) = 2256/(20x3,6) = 31,33


meter. diambil 32 meter.
Jadi dimensi bak penampung adalah :
Panjang bak (L)
: 32 meter
Lebar bak (B)
: 20 meter
Tinggi muka air (H) : 3,6 meter
Bangunan Penguras
Bangunan penguras yang direncanakan
dalam studi ini terdiri dari: culvert
penguras sedimen, pintu penguras, pelimpah samping, saluran penguras dan
terjunan miring.
Culvert penguras direncanakan dengan
tiga buah pipa baja dengan diameter 1
meter dengan kapasitas pembuangan
sebesar 16,16 m3/dt.
Pelimpah samping dipergunakan untuk
mempertahankan muka air pada elevasi
+57,8 direncanakan menggunakan bentuk
ambang tipe mercu ogee dengan lebar 10
m, tinggi jagaan 0,2 m dan kapasitas
pembuangan 4,38 m3/dt.
Pintu penguras direncakan menggunakan
tipe pintu sorong berjumlah 1 unit dengan
lebar 3 m dan tinggi 3,8 m dengan
kapasitas pembuangan maksimal sebesar
46,63 m3/dt.
Saluran pengguras direncanakan menggunakan saluran terbuka dengan penampang
persegi dengan dimensi:
Lebar
:6m
Tinggi
: 3,8 m
Slope
: 0,0014
Kecepatan
: 3,14 m/dt
Kapasitas
: 52,8 m3/dt.
Terjunan miring direncanakan dengan
kemiringan 1:2, panjang 11,4 m, tinggi
5,7 m, panjang loncatan hidrolis 12,23 m
dan tinggi loncatan sebesar 2,5 m.
3. Bangunan pembawa
Bangunan pembawa yang dipergunakan
adalah tipe tertutup atau pipa pesat bertekanan, pipa pesat direncanakan dengan
menggunakan 4 pipa baja dengan panjang
20 meter dengan debit desain sebesar 1,1
Q yaitu: 1,1 x 11 = 12,1 m3/dt
direncanakan besarnya diameter pipa,
tebal pipa, kedalaman minimum MA,
kebutuhan surge tank dan sistem pengambilan.

Diameter pipa pesat


Diameter pipa pesat harus direncakan
berdasarkan aspek hirdolik dan aspek
ekonomis, menurut mosonyi kecepatan
yang disarankan untuk pipa baja adalah
sebesar 2,5 m/dt 7 m/dt, berikut ini
adalah persamaan empirik untuk menentukan diameter pipa pesat:
Persamaan sarkaria:
,

D = 3,55.

. .
,

D
D
A
V

= 3,55. . , .
= 3,49 m, maka:
= 9,56 m2
= 1,27 m/dt (tidak memenuhi syarat
kecepatan minimum)
Persamaan diameter ekonomis ESHA
(Penche,2004):
Jika tinggi tekan karena gesekan pipa
direncanakan 4% dari gross head maka:
,

D = 2,69
,

D
D
A
V

= 2,69
= 1,67 m, maka:
= 2,12 m2
= 5,72
m/dt (memenuhi syarat
kecepatan maksimum)
Dari kedua persamaan diketahui bahwa
metode ESHA bisa dipergunakan namun
perlu dilakukan analisa pengaruh diameter terhadap beberapa faktor seperti kehilangan energi, biaya pipa sampai dengan
keamanan terhadap vortex. Maka harus
dilakukan dengan cara coba coba untuk
menentukan diameter pipa pesat sebagai
berikut:
Tabel 4. Hubungan Diameter Dengan
Headloss
Diameter

Kecepatan

Hf total

% of H

Heff

No.
(m)

(m/dt)

(m)

(%)

(m)

1,5

6,85

1,771

22,16

6,22

1,6

6,02

1,363

17,06

6,63

1,7

5,33

1,072

13,41

6,92

1,8

4,76

0,863

10,79

7,13

1,9

4,27

0,702

8,78

7,29

3,85

0,585

7,32

7,41

2,1

3,50

0,497

6,22

7,50

Diameter

Kecepatan

Hf total

% of H

Heff

(m)

(m/dt)

(m)

(%)

(m)

2,2

3,18

0,425

5,31

7,57

2,3

2,91

0,369

4,62

7,62

10

2,4

2,68

0,326

4,07

7,67

No.

Tabel 5. Hubungan Diameter Dengan


Cost - benefit
No.

Diameter
(M)

Daya
(MW)

Cost
(Milyar
Rupiah)

Benefit
(Milyar
Rupiah)

1,5

0,66

0,64

196,32

1,6

0,70

0,68

209,19

1,7

0,73

0,72

218,37

1,8

0,76

0,75

224,99

1,9

0,77

0,79

230,07

0,79

0,83

233,74

2,1

0,79

0,86

236,51

2,2

0,80

0,90

238,80

2,3

0,81

0,93

240,56

10

2,4

0,81

0,97

241,93

Tabel 6. Hubungan Diameter Dengan


Kedalaman Minimum
Diameter

Ht

(m)

(m)

1,5

2
3

No.

Keamanan Thp Vortex

1,60

0,95

aman

1,6

1,50

0,98

aman

1,7

1,40

1,01

aman

1,8

1,30

1,04

aman

1,9

1,20

1,07

aman

1,10

1,09

aman

2,1

1,00

1,12

vortex

2,2

0,90

1,15

vortex

2,3

0,80

1,17

vortex

10

2,4

0,70

1,20

vortex

Maka dari hasil coba coba tersebut dipilih


diameter pipa pesat adalah sebesar 1,8
meter.
Tebal pipa pesat
Tebal pipa direncanakan dengan tujuan
untuk menjaga keamanan pipa akibat
tekanan dari dalam dan luar pipa, dengan
menggunakan beberapa metode diperoleh
hasil sebagai berikut:
ASME
: 8.7 mm
USBR
: 8.77 mm
Penche
: 8.16 mm
Barlow
: 10,32 mm

Direncanakan tebal pipa pesat adalah 11


mm (tebal pipa terbesar dari analisa
diatas)
Pipa
pesat
membutuhkan
tangki
gelombang bila L > 4H, dalam studi ini
panjang pipa pesat (L) adalah 20 meter
sedangkan tinggi jatuh (H) adalah 8,03
meter maka:
L > 4H = 20 < 32,11. Sehingga pipa pesat
tidak membutuhkan adanya tangki gelombang (surge tank).
Pipa pesat memiliki sistem pengambilan
dengan menggunakan katup pintu (gate
valve).
4. Bangunan pembuang (tailrace chanel)
Saluran tailrace direncanakan sistem
pengaturan / regulasi pada bagian akhir
dari draft tube berupa pintu atau katup
kemudian debit air akan dialirkan melalui
saluran terbuka dimana diujung saluran
akan direncanakan ambang lebar sebagai
kontrol elevasi muka air (TWL). Dalam
perencanan saluran pembuang digunakan
data teknis rencana sebagai berikut:
Debit rencana
: 44 m3/dt
Elv dasar saluran rencana
: +48,53
Lebar saluran
: 40 meter
Bentuk saluran
: persegi
Jenis pasangan
: beton
Koefisien manning
: 0,012
Slope
: 0,00014
Aliran air dari saluran pembuang akan
dialirkan melaui ambang (weir) pada
ujung saluran dengan data perencanaan:
Bentuk ambang
: ogee tipe I
Lebar ambang
: 40 meter
Tinggi ambang
: 0,5 meter
Elevasi ambang
: +49,03
Elevasi dasar
:+48,53
Dengan menggunakan persamaan
Q = C B H1,5 dengan nilai koefisien debit
untuk pengaliran tenggelam (C = 1,7)
maka akan didapatkan lengkung kapasitas debit (ratingcurve) berdasarkan debit operasional pada ambang tailrace sebagai berikut:

Debit Banjir

50,8

Elevasi Muka Air Di Hulu


Debit 1 Turbin

57,1

Debit 2 Turbin

57,3

Debit 3 Turbin

57,6

Debit 4 Turbin

57,8

Tinggi Jatuh (Head)

Gambar 8. Rating Curve Pada Ambang


Tailrace
Sehingga elevasi TWL untuk tiap debit
operasional akan ditunjukkan pada sketsa
berikut:

Gambar 9. Sketsa Kondisi Muka Air


Pada Saluran Tailrace
Perhitungan Tinggi Jatuh Effektif
Dengan menggunakan persamaan empirik berdasarkan potensi kehilangan tinggi
tekan maka tinggi jatuh effektif ditentukan seperti pada tabel berikut:
Tabel 7. Perhitungan Tinggi Jatuh
Effektif
Paremeter Tinggi Tekan

Hf (m)

Net Head (1 Turbin)

7,11

Net Head (2 Turbin)

7,19

Net Head (3 Turbin)

7,28

Net Head (4 Turbin)

7,36

Net Head (Banjir)

5,67

Gross Head

7,99

Perencanaan Peralatan Hidromekanikal


Dan Elektrikal
Peralatan hidromekanikal dan elektrikal
yang direncanakan dalam studi ini
meliputi: turbin hidrolik, peralatan electrik dan rumah pembangkit.
Turbin hidrolik
Berdasarkan besarnya debit desain dan
tinggi jatuh effektif dapat dipilih tipe
turbin yang digunakan.
Debit desain
: 11m3/dt
Tinggi jatuh effektif : 7,5 m
Daya teoritis
: 794,5 kW atau
683 HP

Kehilangan Pada Bangunan Pengambilan


Inlet

0,00722

Trashrack

0,00064

Kehilangan Pada Bak Penangkap Sedimen


Transisi

0,03538

Kehilangan Pada Pipa Pesat


Gesekan

0,10672

Trashrack

0,00273

Belokan

0,22706

Inlet

0,15137

Kehilangan Sebelum Turbin


Diasumsikan

0,1

Total Kehilangan

0,547

Elevasi TWL
Debit 1 Turbin

49,3

Debit 2 Turbin

49,5

Debit 3 Turbin

49,6

Debit 4 Turbin

49,8

Gambar 10. Pemilihan Turbin Reaksi

Maka direncanakan:
Tipe turbin
: Kaplan
Jumlah turbin
: 4 unit
Debit
: 11 m3/dt
Frekuensi generator : 50Hz
Kutub generator
: 14 buah
Kecepatan putar
: 428 rpm
Kecepatan spesifik : 952 mkW
Diameter runner
: 1,2 m
kritis
: 1,45
aktual
: 1,52
elv pusat turbin
: +48,6
tinggi hisap
: -1,16 m
dan direncanakan sistem intake turbin
tipe spiral case dan draft tube tipe elbow
dengan dimensi:
lebar total spiral case
: 4,91 m
diameter intake spiral case : 1,85 m
tinggi draft tube
: 2,36 m
panjang draft tube
: 4,78 m
peralatan elektrik yang direncanakan
meliputi: generator 3 fasa, governor,
speed increaser, transformer, switchgear
dan auxiliary equipment.
rumah pembangkit direncanakan dengan
tipe dalam tanah (underground facility)
dengan dimensi:
Tinggi
: 12,8 meter
Lebar
: 30 meter
Panjang
: 53 meter
Material rumah
: beton
Tebal dinding rumah : 0.3 meter
Kedalaman pondasi : 1.5 meter

Tabel 9. Hasil Pembangkitan Energi


Tahunan Tiap Alternatif

Net
Head

Energi harian

(%)

(m)

(kWh)

89,28

7,11

16449,27

89,28

7,19

33266,64

33,00

89,28

7,28

50486,93

44,00

89,28

7,36

68097,05

Debit
Operasi

Jumlah
Turbin

Eff

(m /dt)

(buah)

11,00

22,00

3
4

No

Sedangkan hasil pembangkitan tahunan


untuk tiap alternatif adalah:

Debit
Desain

Hari
Operasional

Energi
Tahunan

(unit)

(m3/dt)

(hari)

(MWh)

11

317

5214

22

317

10427

33

317

15582

44

317

20169

Analisa CER
Berdasarkan hasil pembangkitan energi
tahunan maka didaptakan nilai reduksi
emisi dan pendapatan utnuk tiap alternatif
sebagai berikut:
Tabel 10. Hasil Reduksi Emisi Dan
CER
Alt

Jenis
Bahan
Bakar

Nilai
konversi
kgCO2

Energi
Bersih
Tahunan
MWh

Nilai
Reduksi
tCO2/th

Nilai
CER/Th
Milyar
Rp

Minyak

0,754

4693

3539

0,61

Diesel

0,764

4693

3585

0,62

4693

4411

0,76

Batu
Bara
Gas
Alam

0,581

4693

2727

0,47

0,754

9384

7076

1,22

Diesel

0,764

9384

7169

1,24

9384

8821

1,52

0,94
0,581

9384

5452

0,94

Minyak

0,754

14024

10574

1,82

Diesel

0,764

14024

10714

1,85

14024

13182

2,27

Batu
Bara
Gas
Alam

0,94

Minyak

Batu
Bara
Gas
Alam

Analisa Pembangkitan Energi


Energi yang dihasilkan pada PLTMH
Mrican tiap satu hari operasi ditabelkan
sebagai berikut:
Tabel 8. Hasil Pembangkitan Energi
harian Tiap Alternatif

Unit
Turbin

No.

0,94
0,581

14024

8148

1,40

Minyak

0,754

18153

13687

2,36

Diesel

0,764

18153

13869

2,39

18153

17063

2,94

18153

10547

1,82

Batu
Bara
Gas
Alam

0,94
0,581

Analisa Ekonomi
Biaya proyek dan OP dihitung dengan
menggunakan persamaan empirik sebagai
berikut:
Tabel 11. Estimasi Biaya PLTMH
Biaya (Milyar Rupiah)
No.
1

Item Pekerjaan
Biaya
Engineering

ALT 1

ALT 2

ALT 3

ALT 4

1,85

2,90

4,56

4,56

Biaya (Milyar Rupiah)


No.

Item Pekerjaan
ALT 1

ALT 2

ALT 3

ALT 4

16,66

37,61

62,91

92,50

2,50

5,64

9,44

13,87

3,08

3,08

3,08

3,08

0,19

0,50

0,95

1,52

0,03

0,08

0,14

0,23

Peralatan
Hidromekanik
Pemasangan
Hidromekanik
Pemasangan
Jalur Transmisi
Travo Dan
Substansi
Pemasangan
Travo Dan
Substansi

2
3
4
5
6

Dan analisa sensitivitas sebagai berikut:


Kondisi 1:benefit turun 20%, cost tetap
Kondisi 2:benefit tetap, cost naik
20%Kondisi 3:benefit turun 20%, cost
naik 20%
.
Hasil analisa sensitivitas untuk tiap
alternatif ditabelkan sebagai berikut:
Tabel 13. Hasil Analisa Sensitivitas
Tiap Alternatif
Kondisi

PV
Cost

PV
Benefit

NPV

BCR

82,10

12,76

1,18

83,21

102,63

19,42

1,23

83,21

82,10

-1,11

0,99

164,17

52,57

1,47

205,21

71,29

1,53

164,17

30,25

1,23

Sipil

5,25

9,07

12,52

15,78

Pipa Pesat

0,69

1,33

1,95

2,56

Pemasangan
Pipa Pesat

69,34

0,17

0,17

0,17

0,17

10

Saluran

0,37

0,69

0,99

1,29

11

Lain Lain

4,55

9,82

16,45

24,07

12

Biaya
Contingencies

3,53

7,09

11,32

15,96

111,60

13

Biaya O & P

0,35

0,71

1,13

1,60

133,92

14

Capital Cost

38,87

77,98

124,49

175,59

133,92

Alternatif 1

Alternatif 2

Alternatif 3

15

PPN 10%

3,89

7,80

12,45

17,56

16

Total Cost

42,76

85,78

136,94

193,15

179,16

245,34

66,17

1,37

17

Rasio Rp/Kwh

8,200

8,227

8,788

9,577

214,99

306,67

91,68

1,43

214,99

245,34

30,34

1,14

Sedangkan estimasi manfaat tahunan dari


penjualan energi listrik adalah:
Tabel 12. Estimasi Manfaat PLTMH
No.

Harga
Listrik
Rp/Kwh

Energi
tahunan
Mwh

income
Milyar
Rp

CER
Milyar
Rp

Total
Milyar
Rp

1004

5214

5,24

0,61

5,85

1004

10427

10,47

0,62

11,09

1004

15582

15,64

0,76

16,40

1004

20169

20,25

0,47

20,72

Dengan rencana usia proyek adalah 35


tahun maka akan didapatkan parameter
kelayakan ekonomi sebagai berikut:
Tabel 13. Analisa Ekonomi Tiap
Alternatif
Dengan CER
ALT

PV
Cost

PV
Benefit

BCR

NPV

IRR
(%)

Paid
Back
Period

69,34

102,63

1,48

33,29

12,61

10,42

111,60

205,21

1,84

93,61

14,59

10,57

179,16

306,67

1,71

127,51

13,63

11,37

254,02

396,96

1,56

142,94

12,46

12,49

69,34

93,95

1,35

24,61

10,94

11,26

111,60

187,86

1,68

76,25

13,26

11,73

179,16

280,73

1,57

101,57

12,37

12,65

254,02

363,39

1,43

109,36

11,29

13,85

Tanpa CER

Alternatif 4
1

254,02

317,57

63,55

1,25

304,83

396,96

92,14

1,30

304,83

317,57

12,74

1,04

Sehingga dari analisa ekonomi dipilih


alternatif 4 sebagai alternatif yang paling
mengguntungkan
4. Kesimpulan
1. Berdasarkan analisa, potensi sumber
daya air yang dapat dikembangkan
untuk pembangkitan energi listrik adalah sebesar 44 m3/dt dengan keandalan debit sebesar 84%, dengan debit
tersebut dapat dibangkitkan energi
sebesar 20.169 MWh pertahun.
2. Komponen bangunan PLTMH yang
dipergunakan dalam studi ini adalah:
a Bangunan sipil:
Bangunan pengambilan (pintu
sorong dan trashrack).
Bangunan tengah (bak penangkap
sedimen, bak penenang, culvert
penguras, saluran penguras, pelimpah samping, pintu penguras dan
terjunan miring).
Bangunan pembawa (pipa pesat).

Bangunan pembuang (saluran


tailrace dan ambang lebar).
Sistem regulator (katup pintu dan
katup kupu kupu).
Rumah pembangkit (power house)
b Peralatan mekanik dan elektrik:
Turbin kaplan beserta kelengkapanya (spiral case, draft tube dan
wicket gate), generator 50Hz 3 fasa
dengan 14 kutub, governor, speed
increaser, travo, switchgear dan
aksesoris kelistrikan.
3. Berdasarkan analisa reduksi emsisi gas
karbon maka besar reduksi dan
pendapatan dari CER yang dihasilkan
dengan adanya PLTMH untuk tiap
jenis konversi bahan bakar adalah:
a Minyak
Dapat direduksi emisi gas karbon
sebesar 13687 tCO2/tahun dengan
pendapatan dari CER sebesar 2,36
milyar rupiah

b Diesel
Dapat direduksi emisi gas karbon
sebesar 13869 tCO2/tahun dengan
pendapatan dari CER sebesar 2,39
milyar rupiah
c Batu Bara
Dapat direduksi emisi gas karbon
sebesar 17063 tCO2/tahun dengan
pendapatan dari CER sebesar 2,94
milyar rupiah
d Gas Alam
Dapat direduksi emisi gas karbon
sebesar 10547 tCO2/tahun dengan
pendapatan dari CER sebesar 1,82
milyar rupiah
4. Berdasarkan analisa ekonomi terhadap
alternatif terpilih (alternatif 4) didapatkan besar biaya total sebesar
193,15 milyar rupiah dengan nilai
BCR 1,56, NPV 142,94 milyar rupiah,
IRR 12,46 % dan paid back period
12,49 tahun, sehingga pembangunan
PLTMH layak secara ekonomi.

Gambar 11. Desain Plan PLTMH Mrican

Daftar Pustaka
1. Anonim. 2006. Guidelines for
National
Greenhouse
Gas
Inventories. Switzerland: IPCC
(International Panel In Climate
Change).
2. Anonim.
2005.
RETScreen
Engineering & Cases Textbook.
Kanada: RETScreen International.
3. Anonim,
1976.
Engineering
Monograph No. 20 Selecting
Reaction Turbines. Amerika: United
States Bureau Of Reclamation.
4. Anonim,
1976.
Engineering
Monograph No. 25 Hydraulic
Design Of Stilling Basin And
Energy Dissipator. Amerika: United
States Bureau Of Reclamation.
5. Arismunandar A. dan Kuwahara S.
2004. Buku Pegangan Teknik
Tenaga Listrik. Jakarta : PT
Pradnya Paramita.
6. Chow, Ven te. 1997. Hidraulika
saluran terbuka. Jakarta : Erlangga
7. Dandekar, MM dan K.N. Sharma.
1991. Pembangkit Listrik Tenaga
Air. Jakarta : Universitas Indonesia.

8.

9.

10.
11.

12.

13.

14.

Mosonyi, Emil. 1963. Water Power


Development Volume One Low
Head Power Plant. Budapest :
Akademiai Kiado
Mosonyi, Emil. 1963. Water Power
Development Volume Two High
Head Power Plant. Budapest :
Akademiai Kiado
Patty, O.F. 1995. Tenaga Air.
Erlangga : Surabaya.
Penche, Celso. 2004. Guidebook on
How to Develop a Small Hydro Site.
Belgia : ESHA (European Small
Hydropower Association).
Ramos, Helena. 2000. Guidelines
For Design Small Hydropower
Plants. Irlandia : WREAN (Western
Regional
Energy
Agency
&
Network) and DED (Department
of Economic Development).
Soemarto, C.D. 1987. Hidrologi
Teknik Edisi 1. Surabaya : Usaha
Nasional.
Varshney,R.S. 1977. Hydro-Power
Structure. India : N.C Jain at the
Roorkee Press.