Anda di halaman 1dari 3

Orthopaedic Check List

Prof. Dr. dr. I KetutSikiKawiyana Sp. B Sp. OT (K)


Pendahuluan
Seorang dokter melihat masalah dari seorang pasien yang memerlukan pertolongan
untuk mendapatkan kesehatan yang lebih baik. Tidak mudah untuk melihat masalah yang
tersembunyi terutama pada anak yang baru lahir, yang belum bisa menyampaikan keluhan.
Karena itu pemeriksaan secara sistematis harus dilakukan. Prof. R. Siffert dari Mt. Sinai
Hospital mengatakan kepada kita bagaimana cara mendeteksi secara awal kelainan pada bayi
baru lahir; dia menyebut system ini sebuah Orthopaedic check list.
History (anamnesis)
Cerita singkat tentang latar belakang dari kondisi saat ini pada bayi baru lahir
berhubungan dengan kehamilan, kondisi perinatal, perkembangan motorik dan mental.
Riwayat keluarga penting untuk melihat kondisi yang diturunkan, dominan atau resesive,
otonomik, atau berhubungan dengan kelamin.
Kelainan congenital adalah defek dalam perkembangan bentuk badan atau fungsi
yang muncul saat lahir. Kelainan congenital bisa saja tidak satu bagian, namun harus
dipikirkan menjadi bagian dari kelainan multiple sampai terbukti sebaliknya.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan sistematik harus dimulai dari kepala sampai ujung jari dan seperti yang
disarankan Graham Appley aturan dari pemeriksaan orthopaedic adalah: Look, Feel, Move.
Perhatikan bayi atau anak dalam kondisi tanpa busana dan cari bentuk kelainan, bagian yang
hilang (amputasi) dan untuk gerak aktif.
1. Kepala dan leher
a. Kepala : ukuran dan posisi dari kepala (defek wajah); ubun-ubun (apakah masih
terbuka?); stimulasi bayi dengan suara dan cahaya
b. Leher : adanya pembengkakan yang tidak mudah terlihat kecuali bayi diangkat;
jika pembengkakan tidak terlihat, leher harus diraba, bias any aotot
sternocleidomastoid; fleksi dan ekstensi, defleksi lateral dan rotasi harus diperiksa
c. Pikirkan kemungkinan untuk: congenital muscular torticolis; klippel-feil
syndrome
2. Tungkai atas

Perhatikan gerak aktif dari lengan dan tangan


a. Bahu : selama trauma saat dilahirkan bayi bisa mengalami cidera brachial plexus
karena fraktur klavikula, brachial plexus palsi (erbsduchenne, klumpke)
Di bagian clavikula, kemungkinan tidak ada atau fraktur kedua klavicula seperti
craniocleidodisostosis (pseudoarthrosis clavicula) harus dipertimbangkan. Tidak
adanya clavicula ROM kedua bahu menjadi besar.
b. Siku dan lengan bawah: posisi normal siku adalah fleksi. Bila ekstensi mungkin
arthrogryposis multiplex congenital. Pronasi dan supinasi biasanya penuh. Jika
tidak harus dipikirkan radioulnar synostosis. Tidak adanya radius atau displasia,
deviasi ke radial; selalu diikuti paraxial ray amputation jempol.
c. Tangan dan jari: posisi tangan bayi baru lahir adalah meninju. Jika keempat jari
ekstensi dan jempol masih fleksi ada 2 kemungkinan yaitu clasp thumb dan trigger
thumb.
3. Tulang belakang
Lihat semua tanda lahir, benjolan atau kumpulan rambut. Apakah tulang belakang
lurus? Lihat juga level skapula. Jika ada benjolan di tengah mungkin ada
pembentukan spinal canal yang tidak sempurna seperti spina bifida, meningocele, atau
meningomyelocele. Pada saat bersamaan lihat juga lebar perineum termasuk
kesimetrisan pantat dan lipatan kulit paha dalam posisi terlentang.
4. Tungkai bawah
Perhatikan gerak dan juga ukuran dan panjang dengan membandingkan kedua betis,
lihat lipatan kulit. Jika ada perbedaan, perjelas apakah berbeda pada paha atau betis.
a. Panggul dan paha: perbedaan paha akan menyebabkan lipatan kulit asimetris.
Untuk dislokasi panggul (DDH) patologik test nya adalah ortolani atau barlow
test.
b. Lutut: lutut bayi baru lahir biasanyaf leksi. Patela masih kecil namun dapat diraba
di depan.
c. Betis: sedikit deformitas varus (bowing) betis, dan segala deformitas harus
dipikirkan sebagai abnormal. Dengan kyphoscoliotic tibia, kemungkinannya
disamping tidak adanya fibula adalah congenital pseudoarthrosis tibia dan
neurofibromatosis.
d. Ankle dan kaki : ada 3 kemungkinan posisi abnormal bayi baru lahir CTEV,
metatarsus varus primus, calcaneovalgus, dan palnovalgus
Kenapa anomaly congenital harus dideteksi lebih awal?

Pertumbuhan dan perkembangan dari bentuk tulang harus dikontrol lebih awal untuk

mendapatkan hasil yang baik menggunakan orthoses atau stretching


Waktu intervensi pembedahan harus terencana untuk memberikan hasil fungsional
yang maksimal.

Pada kasus herediter, konsultasi genetik perlu bila orang tua menginginkan anak lagi

dan mengetahui kemungkinan memiliki anak normal


Membutuhkan waktu yang lama untuk mengikuti kelainan anak-anak karena kelainan
dapat mengganggu pertumbuhan tulang. Karena itu anak harus diikuti sampai
pertumbuhan berhenti.

Kesimpulan

Orthopaedic check list adalah sebuah metode untuk memeriksa pasien untuk kelainan
congenital awal dalam bentuk dan fungsi dan masalah lainnya untuk membuat

rencana yang baik dalam penanganan.


Rencana pengobatan tergantung pada pengawasan selama perkembangan anak dan
membuat investigasi lain yang diperlukan untuk mendapat waktu yang tepat dalam

intervensi bedah
Konseling genetik mungkin penting jika orang tua ingin mengetahui kemungkinan
memiliki anak yang normal