Anda di halaman 1dari 41

Skenario 3

PERUT KEMBUNG

Seorang pria 40 tahun, datang ke dokter dengan keluhan perut kembung disertai dengan muntah,
nyeri perut, tidak bisa buang angina dan tidak bisa buang air besar sejak 1 hari yang lalu. Pada
pemeriksaan fisik terlihat distensi abdomen, pemeriksaan colok dubur didapatkan tonus spinchter ani
baik, ampula kolaps, serta tidak ditemukan feses, lendir, dan darah. Untuk memastikan diagnosis
dilakukan pemeriksaan radiologi foto polos abdomen dan BNO 3 posisi. Kemudian dokter merencakan
untuk melakukan tindakan operasi. Pasien bersedia dilakukan tindakan operasi karena tidak bertentangan
dengan ajarin Islam.

KATA SULIT

1. Ampula kolaps : Bagian lebar yang membatasi dinding potensi dengan rectum kolaps.
2. Distensi abdomen : Keadaan membesar atau melebar pada abdomen.
3. BNO 3 posisi
: Foto pada daerah abdomen untuk melihat tractus urinarius dari ginjal
sampai empedu.
4. Tonus spinchter ani : Biadang datar dan serat otot, berbentuk elips.

PERTANYAAN

1.
2.
3.
4.
5.

Mengapa pasien mengalami keluhan perut kembung dan nyeri perut?


Mengapa terjadi distensi abdomen?
Mengapa pada pemeriksaan fisik didapatkan ampula kolaps?
Mengapa pasien tidak bisa BAB dan buang air kecil?
Mengapa dokter menyarankan tindakan operasi jika tindakan non bedah tidak dapat

menyembuhkan?
6. Mengapa dokter melakukan pemeriksaan foto polos abdomen dan BNO 3 posisi?
7. Bagaimana pandangan Islam mengenai tindakan operasi?
8. Mengapa pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan feses berlendir dan darah?
9. Mengapa dilakukan pemeriksaan colok dubur?
10. Apakah diagnosis pasien?

JAWABAN

1. Terdapat hambatan mekanik obstruktif pada sal. pencernaan bawah yang mengakibatkan
terganggunya gerakan parase usus yang meningkatkan tekanan intralumen sehingga
mengakibatkan nyeri dan perut kembung .
2 & 4. Pasien kemungkinan mengalami hambatan parase pada bagian saluran pencernaan bawah, yang
dapat berupa gangguan sal. pencernaan bawah obstruktif ataupun paralitik. Pada hambatan
obstruktif oksigen dan makanan terjebak dan terhambat pada abdomen sal. pencernaan bawah
karena adanya hambatan dan mengakibatkan distensi abdomen atau abdomen melebar, sehingga
pasien mengalami perut penuh dan kembung serta tidak bisa buang angin. Pada hambatan
paralitik biasanya terjadi akibat penanganan bedah sehingga gerakan parase terganggu.
3. Terjadi akibat adanya tekanan mekanik yang mengakibatkan abdomen melebar/ distensi abdomen
akibat adanya massa tumor/ hernia sehingga menekan colon sigmoid dan mengakibatkan ampula
kolaps.
5. Pada ileus obstruktif bias diberikan penatalaksanaan obstruktif terlebih dahulu seperti rehidrasi
cairan dan elektrolit, pelumas otot, atau obat analgesic. Namun jika tidak memungkinkan harus
dilakukan tindakan operatif dan pembedahan terhadap etiologi ileus obs.
6. Pada pemeriksaan radiologi efektif meberikan gambaran ileus obstruktif, seperti garis lururs
hitam diantara lumen, gambaran putih penuh pada abdomen dll.
7. Boleh jika lebih mementingkan kemaslahatan pasien, dan wajib jika mengancam jiwa
8. Karena terjadi akumulasi sel sel inflamasi pada peritoneum seperti adanya leukositosis, darah
dan lender. Pada operasi harus dilakukan pemotongan peritoneum yang terjadi inflamasi. Jika
terdapat gejala sama tapi tidak terdapat feses, ini mengindikasikan peritonitis bukan ileus
obstruktif.
9. Untuk mengetahui etilogi dari obstruktif, pada pemeriksaan colok dubur dapat dilihat :
- Darah di feses

= Strangulasi

- Feses (-)

= Obs. letak tinggi

- Feses keras

= Skibala

- Rectum semprot

= Hiscprung disease

-Nyeri tekan

= Peritonitis

10. ILEUS OBSTRUKTIF.

HIPOTESIS

Sumbatan pada ileum bagian atas dapat menyebabkan distensi abdomen di daerah kolaps
yang letaknya di colon sigmoid. Sumbatan bisa berupa, massa tumor, hernia, ascaris. Gejala yang
dapat muncul akibat distensi abdomen adalah mual, muntah, nyeri perut, perut kembung, tidak
bisa buang air besar dan buang air kecil. Penegakan diagnosis yang dapat dilakukan adalah
pemeriksaan colok dubur dan radiologi yang mendindikasikan pasien terkena ileus obstruktif.
Tatalaksana yang dapat dilakukan bisa berupa terapi bedah dan non bedah. Pandangan Islam
terhadap tindakan pembedahan di perbolehkan jika mengancam jiwa.

SASARAN BELAJAR
LO.1 Memahami dan Menjelaskan Saluran Pencernaan Bawah
1.1 Makroskopis
1.2 Mikroskopis
LO.2 Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Saluran Pencernaan Bawah
LO.3 Memahami dan Menjelaskan Ileus Obstruktif
3.1 Definisi
3.2 Etiologi
3.3 Epidemiologi
3.4 Klasifikasi
3.4 Patofisiologi
3.5 Manifestasi Klinis
3.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding
3.7 Tatalaksana (Bedah dan Non Bedah)
3.8 Komplikasi
3.9 Pencegahan
3.10 Prognosis
LO.4 Memahami dan Menjelaskan Operasi Menurut Agama

LI.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Saluran Pencernaan Bawah


Lo.1.1 Makroskopik
Intestinum Tenue
Duodenum (usus duabelas jari; duodenos = duabelas kali)
Panjang duodenum 12 jari atau 25 cm, melengkung seperti huruf C sehingga dapat
dibedakan:
1 Pars superior duodeni
2 Pars descendens duodeni
3 Pars inferior duodeni, dapat dibedakan :
a pars horizontalis
b pars ascendens

Jejunum : usus kosong; jejunus = kosong


Diameter jejenum cenderung lebiih besar darpada ileum
Mesenterium jejenum cenderung lebih tebal dari pada ileum.
Ileum : usus berkelok-kelok; ilien = memutar.
Panjangnya sekitar 6 meter

Dalam intestinum ileum terdapat kumpulan noduli solitarii sehingga terbentuk laminae
disebut noduli agregat atau plaques payeri, disini tidak ada villi dan letaknya berhadapan
dengan alat penggantung ileum.
Selain duodenum, 2/5 proximal usus intestinum tenue merupakan jejenum, 3/5 distal sisanya
merupakan ileum.

Arteriae : berasal dari cabang A. mesenterica superior, cabang-cabangnya membentuk


anyaman yaitu arcade jejunalis dan ilei. A. ileocolica menuju bagian bawah ileum.
Vena : senama dengan arterinya
Inervasi :simpatis dan parasimpatis berasal dari N X dari plexus mesentericus superior.
Intestinum Crassum
Intestinum crassum (crassum = tebal), dibagi dalam colon dan intestinum rectum.
Lapisan intestinum crassum dari luar ke dalam
o Tunica serosa : terdiri dari mesotelium dan jaringan pengikat tipis
o Tunica muskularis : stratum longitudinale dan circulare
o Tunica mukosa
Satu pita (taenia) terbentuk dari stratum longitudinale yang terbagi jadi 3 :
8

o Taenia ibera
o Taenia mesocolica
o Taenia omentalis
Colon dapat dibagi dalam :
1 Colon ascenden, terletak disebelah kanan, naik dari caudal ke cranial, dimulai dari
caecum(usus buntu). Pada ujung caecum mermuara bangunan kecil berupa pipa
menyerupai cacing disebut processus (appendix) vermiformis (processus = lanjutan;
appendix = alat tambahan; vermiformis = berbentuk cacing).
2 Colon transversum, berjalan dari kiri ke kanan
3 Colon descenden, bejalan dari cranial ke kaudal
4 Colon sigmoideum,berbentuk seperti huruf S
5 Caecum
o Sepeti kantong dengan ujung buntu menonjol ke bawah
o Terletak pada ileaca dextra
o Dibagian bawah terdapat junctura ileocolica tempat bermuaranya ileum
o Panjang sekitar 6 cm
o Pada sisi medial bawah caecum terdapat appendix vermiformis dengan panjang 8- 13
cm. Pada orang mati dapat ditemukan beberapa type :
Post caecalis (65%), terletak di belakang caecum.
Descending = pelvic type (31%), terletak di bawah ileum
Subcaecalis (2,6%), terletak di bawah caecum
Ante ilei (1,0%), terletak di depan ileum
Post ilei (0,4%), terletak di belakang ileum
Letak di regio iliaca dextra

Lo.1.2 Mikroskopik
USUS HALUS
- Sepanjang 6 8 M, dari sphincter pyloricum sampai ke ileo-coecal valve usus besar
- Kontak lama dengan makanan, terjadi proses pencernaan dan resorbsi
- Dinding terdiri dari 4 lapisan, sesuai pola saluran cerna
- Usus halus halus relatif panjang rata-rata 5 m
- Terdiri dari 3 segmen :
1. Duodenum
2. Jejunum
3. Ileum
- Usus halus berfungsi:
a. Mengangkut bahan makanan (chyme) dari lambung ke usus besar
b. Menyelesaikan pencernaan dengan sekret enzim yang berasal dari dinding dan
kelenjar pelengkapnya
c. Menyerap hasil akhir pencernaan ke dalam pembuluh darah dan limf pada
dindingnya
d. Mensekresi hormon-hormon tertentu.
Tunica Mucosa
10

Bangunan bangunan khusus pada mukosa


Plika sirkularis kerckringi
Merupakan lipatan permanen yang berjalan spiral atau melingkar terdiri atas
seluruh tebal mukosa dengan submukosa di bagian tengahnya.
Tiap lipatan dapat melingkari 2/3 atau lebih lumen usus, tetapi jarang
melingkari seluruh lumen usus.
Berkembang secara maksimal pada akhir duodenum dan pada bagian
proksimal jejunum, setelah itu berkurang dan menghilang pada setengah
bagian distal ileum.
Vilus dan Kriptus Lieberkuhn
Vilus, merupakan tonjolankecil mirip jari atau daun pada membran mukosa
Panjangnya 0,5 1,5 mm da hanya terdapat pada usus kecil
Kontraksi sel-sel otot polos di tengah vili menyebabkan vili dapat mengkerut
dan memendek, jadi membantu aliran limf.
Pada umumnya vili memendek bila usus mengembang.
Kriptus Lieberkuhn, bangunan-bangunan berbentuk tabung bermuara di
antara dasar vili.
Susunan kriptus tidak serapat kelenjar-kelenjar lambung, ruang-ruang di
antaranya terisi oleh jaringan ikat lamina propria.
Mikrovili
Masing-masing mikrovili diliputi oleh membran plasma, yang lapisan luarnya
dilengkapi dengan jala filamen halus yang memberi gambaran kabur.
Selubung filamen ini mengisi ruang ruang antar mikrovili dan ujungujungnya , membentuk suatu lapisan permukaan yang tidak terputus-putus,
mengandung glikoprotein, dan tahan terhadap bahan proteolitik dan
mukolitik.

Epitel mukosa usus merupakan epitel silindris, tetapi berbeda dengan epitel permukaan
lambung, oleh karena terdapat lebih dari satu jenis sel.
Sel silindris ( sel absorptif)
o Terletak di atas lamina basal
o Intinya lonjong dan terletak di bagian basal sel
o Tiap sel mempunyai batas yang bergaris (striated border) atau
berbentuk sikat (brush border) yang terdiri atas mikrovili berjajar dan
berhimpitan.
o Lapisan glikoprotein dibentuk oleh sel-sel silindris dan mengandung
enzim-enzi, pencernaan seperti disakarida dan dipeptidase yang memecah
gula dan peptida
o Sel silindris juga membentuk enzim fosfatase alkali dan enterokinase
yang terdapat pada lapisan permukaan.

11

Sel goblet
o Tersebar di antara sel-sel silindris
o Jumlahnya bertambah dari duodenum sampai ujung ileum.
o Pada umumnya dasar sel ramping berwarna gelap dan berisi inti.
o Puncaknya mengembung berbentuk khusus karena kumparan butir-butir
sekret mukus.
o Seperti sel silindris, sel goblet bermigrasi dari kriptus ke vilus
o Kemudian semakin banyak butir sekret yang ditimbun, bentuk selnya
makin menyerupai piala, dan dilepaskan diujung vilus.
Sel enteroendokrin
o Mengeluarkan peptida pengatur aktif yang berhubungan dengan sekresi
lambung, motilitas intestinal, sekresi pankreas, dan kontraksi kandung
empedu.
o Tersebar diantara sel-sel absortif dan sel goblet:
Sel gastrinintestinal pada vili dan kriptus
Sel penghasil somastatin (sel D) sepanjang usus halus
Sel penghasil cholecystokinine (sel I) crypti duodenum dan
jejunum
Sel penghasil enteroglucagon/glycentine (sel L) pada mucosa
jejunum dan ileum
Sel enterochromaffin sel EC1) sepanjang mukosa usus halus ,
penghasil serotonin dan substan P
Sel K paling sering terlihat pada crypti duodenum dan jejunum,
mengahsilkan gastric inhibitory peptide.

Sel

paneth
o Ditemukan hanya pada dasar cryptus usus halus
o Berbentuk piramid dengan dasar lebar dan puncak sempit

12

o Sel paneth menghasilkan lisozim suatu enzim yang mencerna dinding sel
bakteri tertentu , dan agaknya berkemampuan memfagositosis bakteri
tertentu.
o Walaupun fungsinya belum diketahui dengan pasti, ia mungkin mengatur
flora mikrobial usus.
o Sel paneth dewasa mengandung banyak granula dan terletak di dasar
kriptus
o Sel yang kurang dewasa terletak agak tinggi pada kriptus
o Pergantian sel paneth lebih lambat (30-40 hari) dibanding dengan sel
silindris atau sel goblet
-

Lamina propria
terdapat diantara kelenjar intestinal dan di tengah vilus.
Digambarkan sebagai jaringan ikat longgar yang menjurus ke arah limfoid.
Di dalam jala serat retikulin terdapat sel retikular primitif denga inti besar,
lonjong, dan pucat, limfosit, makrofag dan sel plasma.
Terdapat pula sejumlah besar folikel solietr atau noduli limfatisi yang menyendiri,
jumlahnya semakin banyak pada bagian distal usus.
Membentuk agregrat besar terdiri dari 20 atau lebih lympho nodulus disebut
plaque payeri.
Dari sudut pandang imunologik, lamina propria adalah penting dengan sel
limfosit dan makrofag sebagai sawar antara tubuh dan antigen, mikroorganisme
dan bahan asing lainnya yang selalu ada di dalam lumen usus.

Tunica
Submukosa
Kelenjar
submukosa
duodenum
(Brunner)
13

terdiri atas sel kubis tinggi dengan inti gelap, gepeng, terletak di basal sel dan
sitoplasmanya jernih bervakuola.
Kelenjar Brunner menghasilkan mukus basa
Sekret asam lambung dapat menyebabkan erosi pada mukosa duodenum, dan sekresi
kelenjar submukosa mencegah hal tersebut dengan mukusnya.
Sifat alkalinya diduga disebabkan oleh kapasitas bufer bikarbonat.
Sel kelenjar Brunner mengandung urogastrone, suatu peptida yang menghambat sekresi
asam hidroklorida di dalam lambung.

Tunica Muskularis Externa


- Tebal, dalam sirkular. Luar longitudinal
Tunica Serosa
- Digantung oleh mesenterium (mesotel), kecuali pada bagian retroperitoneal duodenum
yang ditutupi adventisia
Diantara keduanya sering terdapat ganglion parasympatik, plexus myentericus Auerbach, motor
inervasi perisraltik
USUS BESAR
- Panjangnya 180 cm
- Terdiri dari :
Sekum berhubungan dengan ileum melalui katup ileosekal
Apendiks suatu divertikulum kecil dari sekum
Kolon mulai dari sekum dan dibagi dalam bagian ascenden, transversa dan
descenden
Rektum saluran anus
- Fungsi usus besar :
Absorpsi cairan
Mensekresi mukus pelumasan menjadi lebih penting karena cairan diabsorpsi
dan feses menjadi lebih keras sehingga kemungkinan merusak mukosa menjai
lebih besar.
Pencernaan yang dilakukan oleh enzim yang ada di dalam makanan.
Pembusukan oleh bakteri yang selalu ada di dalam usus besar.
- Usus besar tidak mempunyai plika dan vili
- Epitel permukaan tampak lebih rata daripada yanga ada di usus kecil
- Sel goblet jumlahnya lebih banyak.
- Batas ileosekal
o Terjadi perubahan mendadak pada mukosa, yaitu membentuk lipatn anterior dan
posterior menjadi dua daun katup.
o Terdiri dari mukosa dan submukosa yang diperkuat oleh massa otot polos
melingkar
-

Apendiks
Panjangnya 25 cm
14

Dalam potongan melintang, lumennya sempit dan biasanya dengan batas yang
tidak teratur.
Vili tidak ada dan kelenjar intestinal jumlahnya sedikit dan panjang tidak teratur
Epitel permukaan tersusun dari sel silindris dengan striated border dan sel
gobletnya sedikit,
Di dalam kriptus terdapat sedikit sel paneth, dan banyak sel enteroendokrin.
Apendiks seringkali sebagai tempat peradangan akut dan kronis, sehingga sukar
mendapatkan apendiks yang normal. Biasanya terdapat eosinofil dan neutrofil
dalam lamina propria dan submukosa.
Dalam jumlah banyak eosinofil dan neutrofil berturut-turut menunjukkan adanya
infeksi menahun dan infeksi akut.
-

Sekum, kolon dan rektum


Kelenjar intestinal lebih dalam pada usus besar dari pada usus kecil dan letaknya
lebih berhimpitan. Di kolon dalamnya 0,5 mm, sedangkan di rektu mencapai 0,75
mm.
Sel goblet jumlahnya banyak dan sel enteroendokrinkadangkala terdapat di
bawah di dalam kelenjar.
Sel paneth tidak ada
Lamina propria di antara kelenjar sama dengan yang ada di usus halus, dan
mengandung noduli limfatisi yang letaknya tersebar meluas di submukosa.
Pada sekum dan kolon, lapisan muskularis longitudinal tidak merupakan lapisan
yang utuh tetapi membentuk 3 pta memanjang, sebagai taeniae coli.
Pada rektum lapisan longitudinal ini kembali menjadi lapisan yang utuh.
Tunika serosa, pada permukaan yang tidak melekat di dinding abdomen pagian
posterior, membentuk tonjolan-tonjolan kecil terdiri atas jaringan lemak yaitu
apendiks epiploika

Batas rektum anus


Disini membran mukosa membentuk lipatan-liptan memanjang disebut
Kolumna Rektalis Morgagni.
Epitel silindris tiba-tiba berubah menjadi epitel berlapis gepeng yang meluas
sedikit ke bawah sebagai daerah peralihan antara epitel usus dan kulit.
Pada anus, epitelnya mengandung lapisan tanduk dan dibawahnya terdapat
kelenjar tubulosa bercabang disebut kelenjar sirkumanal
Pada bagian bawah rektum, dan pada saluran anus, lapisan dalam muskularis
menebal, sebagai sfingter ani internum
Mengelilingi saluran anus adalah berkas-berkas otot lurik, yang membentuk
sfingter ani eksternum.

LI.2. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Saluran Pencernaan Bawah


15

Intestinum tenue

Pada usus halus terdapat metode motiitas utama yaitu mencampur dan mendorong perlahan
kimus dari lambung yang disebut Segmentasi dan metode penyapu bersih yang disebut
Kompeks Motilitas Migratif

1. Proses Segmentasi
Kimus mulai memasuki intestinehormon gastrin (refleks gastroileum) & aktifitas saraf
ekstrinsik (parasimpatis) menghasilkan irama listrik dasar (BER) Kontraksi berbentuk
cincin di sepanjang usus halus segmen yang berkontraksi melemas dalam jeda singkat
daerah yang sebelumnya melemas sekarang berkontraksi memicu kontraksi dua arah
kedepan dan belakang (propulsif) terjadi proses pencampuran (kimus + getah pencernaan)
dan memajankan kimus ke permukaan absorbtif usus
Kontraksi Segmentasi makin ke distal semakin menurun hal ini disebabkan untuk
mencegah kembalinnya sejumlah besar kimus ke belakang . Contoh : duodenum
kontraksi segmentasinya 12xmenit sedangkan di ileum terminal 9x/menit.

2. Proses Kompleks Motilitas Migratif


Terjadi diantara waktu makan yang merupakan geombang-gelombang peristaltik repetitif
lambat yang berjalan ke arah distal usus.
Berfungsi untuk menyapu sisa makanan+debris mukosa +bakteri ke arah kolon
Memerlukan waktu 100-150 menit

Isi usus membutuhkan waktu 3-5 jam untuk melintasi seluruh panjang usus halus
Metode propulsi pada usus halus yang lama meningkatkan penyerapan dan pencernaan

Intestinum Crassum
Dalam normal colon menerima sekitar 500 mL kimus dari usus halus per hari
Gerakan usus besar berlangsung lambat dan tidak propulsif
Kontraksi Haustra : metode motilitas utama di colon
o Prinsipnya sama dengan proses segmentasi usus halus tetapi jauh lebih jarang dan
bersifat nonpropulsif
o Refleks gastroileum Kimus dari usus halus (mengandung residu yang tidak dicerna
eg: selulosa,sisa cairan) kolon mengekstraksi H2O dan garam di isi lumen
Refleks gastrokolon (gastrin lambung + saraf otonom ekstrinsik) kontraksi haustra
(mengaduk kolon dengan gerakan maju mundur) feses terdorong sampai 1/3 3/4
panjang kolon

Refleks defekasi
feses di rektum peregangan rektum reseptor regang refleks defekasi
sfingter ani internus melemas (involunter) colon dan sigmoid berkontraksi rasa
ingin buang air sfingter ani eksternus melemas (volunter) disertai dengan
16

gerakan mengejan (kontraksi otot abdomen + ekspirasi paksa peningkatan tekanan


intra abdomen feses keluar
o Karena gerakannya lambat memungkinkan bakteri menumpuk dan tumbuh di colon
Fisiologi Usus Halus (intestinum minor)
Usus halus mempunyai 2 fungsi utama pencernaan dan absorbsi bahan-bahan nutrisi dan
air. Semua akitivitas lainnya mengatur atau mempermudah berlangsungnya proses ini. Proses
pencernaan ini dimulai dari mulut dan lambung oleh kerja ptialin, asam klorida dan pepsin
terhadap makanan yang masuk. Proses dilanjutkan didalam duodenum terutama oleh kerja
enzim-enzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat, lemak dan protein menjadi zat-zat yang
lebih sederhana. Adanya bikarbonat dalam sekret pankreas membantu menetralkan asam dan
memberikan pH optimal untuk kerja enzim-enzim. Sekresi empedu dan hati membantu proses
pencernaan dengan mengemulsikan permukaan yang lebih luas bagi kerja lipase pankreas.
Kerja empedu terjadi sebagai akibat dari sifat deterjen asam-asam empedu yang dapat
melarutkan zat-zat lemak dengan membentuk misel. Misel merupakan agregat asam empedu dan
molekul-molekul. Lemak membentuk inti hidrofobik, sedangkan asam empedu karena
merupakan molekul polar, membentuk permukaan misel dengan ujung hidrofobik mengarah ke
dalam dan ujung hidrofilik menghadap keluar menuju medium cair. Bagian sentral misel juga
melarutkan vitamin-vitamin larut lemak dan kolesterol. Jadi asam-asam lemak bebas, gliserida
dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak dipertahankan dalam larutan sampai mereka dapat
di absorbsi oleh permukaan sel epitel.
Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim dalam getah usus (sukus
enteriukus). Banyak di antara enzim-enzim ini terdapat pada brush border vili dan mencernakan
zat-zat makanan sambil diabsorbsi. Enzim-enzim utama pencernaan adalah kelenjar ludah
menghasilkan amylase (ptyalin) ludah; kelenjar ludah menghasilkan pepsin dan lipase lambung;
mukosa duodenum menghasilkan enterokinase; kelenjar eksokrin pankreas menghasilkan tripsin,
kemotripsin, karbosipeptidase, nuclase, lipase pankreas; amilase pankreas; hati menghasilkan
asam empedu (bukan enzim), kelenjar usus menghasilkan aminopeptidase, dipeptidase, maltase,
lactase, sukrosa, lipase usus, nucleotidase.
Dua hormon penting dalam pengaturan usus. Lemak yang bersentuhan dengan mukosa
duodenum menyebabkan kontraksi kantong empedu yang diperantarai oleh kerja kolesistokinin.
Hasil-hasil pencemaan tak lengkap yang bersentuhan dengan mukosa duodenum, merangsang
sekresi getah pankreas yang kaya akan enzim; hal ini diperantarai oleh kerja pankreozimin.
Parikreozimin dan kolesistokinin sekarang diduga merupakan satu hormon yang sama, yang
mempunyai efek berbeda, hurmon ini dinamakan CCK (beberapa buku teks menyebut hormon
ini CCK-PZ). Hormon ini dihasilkan oleh mukosa duodenum. Asam yang bersentuhan dengan
mukosa usus menyebabkan dikeluarkan hormon lain, sekretin dan jumlah yang keluarkan
sebanding dengan asam yang mengalir melalui duodenum. Sekretin merangsang sekresi getah
yang mengandung bikarbonat dari pankreas, dan empedu dari hati. Sekretin memperbesar kerja
CCK. Pergerakan segmental usus halus mencampur zat-zat yang dimakan dengan sekret
pankreas, hepatobiliar, dan sekresi usus, dan pergerakkan peristaltik mendorong isi dari salah
satu ujung ke ujung lain dengan kecepatan yang sesuai untuk absorbsi optimal dan suplai
kontinue isi lambung.
17

Absorbsi adalah pemindahan hasil-hasil akhir pengamatan karbohidrat, lemak dan protein
(gula sederhana, asam-asam lemak dan asam-asam amino) melalui dindirig usus ke sirkulasi
darah dan limfe untuk digunakan oleh sel- sel tubuh. Selain itu air, elektrolit dan vitamin juga
diabsorbsi. Absorbsi berbagai zat berlangsung dengan mekanisme transpor aktif dan pasif yang
sebagian besar kurang dimengerti.
Besi dan kalsium sebagian besar diabsorbsi dalam duodenum dan abscrbsi kalsium
memerlukan vitamin D, vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E dan K) diabsorbsi dalam
duodenum dan memerlukan garam-garam empedu. Asam folat dan vitamin-vitamin lain yang
larut dalam air juga diabsorbsi di duodenum. Absorbsi gula, asam-asam amino dan lemak
sebagian besar diselesaikan menjelang kimus mencapai jejunum. Absorbsivitamin B12
berlangsung pda ileum terminal melalui mekanisme transport khusus yang memerlukan faktor
intrinsik lambung. Sebagian besar asam-asam empedu yang dikeluarkan oleh kandung empedu
ke dalam duodenum untuk membantu pencernaan lemak, akan diabsorbsi pada ileum terminal
dan masuk kembali ke hati. Siklus ini dinamakan sirkulasi enterohepatik garam-garam empedu
dan sangat penting dalam mempertahankan cadangan empedu.
Dengan demikian asam-asam atau garam-garam empedu mampu bekerja mencenakan
leniak berkali-kali sebelum dikeluarkan dalam feses.
Penyakit atau reseksi ileum terminal dapat menyebabkan deifisiensi garam-garam empedu dan
mengganggu pencernaan lemak. Masuknya garam- garam empedu dalam jumlah besar ke dalam
kolon menyebabkan iritasi kolon dan diare.
Usus Besar
Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi usus.
Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengabsorpsi air dan elektrolit, yang sudah nampir
lengkap pada kolon. bagian kanan. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang menampung
massa feses yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung. Bila jumlah ini dilampaui,
misalnya karena adanya kiriman yang berlebihan dan ileum, maka akan terjadi diare.
Berat akhir feses yang dikeluarkan per hari sekitar 200 g, 75% diantaranya berupa air. Sisanya
terdiri dari residu makanan yang tidak diabsorpsi, bakteri, sel epitel yang mengelupas, dan
mineral yang tidak diabsorbsi.
Sedikitnya pencernaan yang terjadi di usus besar terutama diakibatkan oleh bakteri dan
bukan karena kerja enzim. Usus besar mengsekresikan mucus alkali yang tidak mengandung
enzim. Mukus ini bekerja untuk melumasi dan melindungi mukosa.
Bakteri usus besar munsintesis vitamin K. dan beberapa vitamin B. Pembusukan oleh bakteri
dari sisa-sisa protein menjadi asam amino dan zat- zat yang lebih sederhana seperti peptida,
indol, skatol, fenol dan asam lemak.
Pembentukan berbagai gas seperti NH3, CO2, H2 dan CH4 membantu pembentukan
flatus di kolon. Beberapa subtansi ini dikeluarkan dalam feses, sedangkan zat lainnya diabsorpsi
dan diangkut ke hati di mana zat-zat ini akan diubah manjadi senyawa yzng kurang toksik dan
diekskresikan melalui kemih. Fermentasi bakteri pada sisa karbohidrat juga melepaskan CO2 ,
H2 dan CH4 yang merupakan komponen flatus. Dalam sehari secara normal dihasilkan sekitar
1.000 ml flatus. Kelebihan gas dapat terjadi pada aerofagia (menelan udara secara berlebihan)
18

dan pada peningkatan gas di dalam lumenusus, yang biasanya berkaitan dengan jenis makanan
yang dimakan. Makanan yang mudah membentuk gas seperti kacang-kacangan mengandung
banyakkarbohidrat yang tidak dapat dicerna.
Pada umumnya, pergerakan usus besar adalah lambat. Pergerakan usus besar yarg khas
adalah gerakan mengaduk haustra. Kantong-kantong atau haustra teregang dan dari waktu ke
waktu otot sirkular akan berkontrasi untuk mengosongkannya. Pergerakannya tidak progresif,
tetapi menyebabkan isi usus bergerak bolak-balik dan meremas-remas sehingga memberi cukup
waktu untuk absorbsi. Terdapat dua jenis peristaltik propulsif;
(1) kontraksi lamban dan tidak teratur, berasal dari segmen proksimal dan bergerak ke depan,
menyumbat beberapa haustra, dan
(2) penstaltik massa, merupakan kontraksi yang mengbatkan segmen kolon. Gerakan peristaltik
ini menggerakkan massa feses ke depan, akhirnya merangsang defekasi. Kejadian ini timbul dua
sampai tiga kali sehari dan dirangsang oleh refleks gastrokolik setelah makan, khususnya setelah
makanan pertama masuk pada hari itu.
Fisiologi Defekasi
Propulsi feses ke rektum mengakibatkan distensi dinding rektum dan merangsang refleks
defekasi. Defekasi dikendalikan oleh stingier ani eksterna dan interna. Sfingter interna
dikendalikan oleh sistem saraf otonom, dan sfingter eksterna berada di bawah kontrol volunter.
Refleks defekasi terintegrasi pada segmen sakralis kedua dan keempat dari medula spinalis.
Serabut-serabut parasimpatis mencapai rektum melalui saraf splangnikus panggul dan
bertanggung jawab atas kontraksi rektum dan relaksasi sfingter interna. Pada waktu.
rektum yang mengalami distensi -berkontraksi, otot levator ani berelaksasi, sehingga
menyebabkan sudut dan anulus anorektal menghilang. Otot-otot sfingter intema dan ekstema
berelaksasi pada waktu anus tertarik atas melebihi tinggi massa feses. Defekasi dipercepat
dengan adanya peningkatan tekanan intraabdomen yang terjadi akibat kontraksi volunter otototot dada dengan glotis ditutup, dan kontraksi secara terus- menerus dari otol-otot abdomen
(menuver ata'i peregangan valsava). Defekasi dapat dihambat oleh kontraksi volunter otot-otot
sfingtcr ekstema dan levator ani. Dinding rektum secara bertahap akan relaks, dan keinginan
untuk berdefekasi menghilang. Kelainan dari proses defekasi adalah konstipasi dan diare.
Konstipasi terjadi karena kegagalan pengosongan rektum saal terjadi peristaltik massa.

LI.3. Memahami Dan Menjelaskan Ileus Obstruktif


Lo.3.1. Definisi
Ileus adalah gangguan atau hambatan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi
usus akut yang segera membutuhkan pertolongan atau tindakan. Ileus ada 2 macam, yaitu ileus
obstruktif dan ileus paralitik.
19

Ileus obstruktif atau disebut juga ileus mekanik adalah keadaan dimana isi lumen saluran
cerna tidak dapat disalurkan ke distal atau anus karena adanya sumbatan atau hambatan mekanik
yang disebabkan kelainan dalam lumen usus, dinding usus, atau luar usus yang menekan atau
kelainan vaskularisasi pada suatu segmen usus yang menyebabkan nekrosis segmen usus
tersebut. Ileus obstruktif merupakan obstruksi usus akibat dari penghambatan motilitas atau
peristaltik usus yang dapat ditimbulkan oleh banyak penyebab.
Sedangkan ileus paralitik atau adynamic ileus adalah keadaan dimana usus gagal / tidak
mampu melakukan kontraksi peristaltic untuk menyalurkan isinya akibat neurogenic atau
hilangnya peristaltic usus tanpa adanya obstruksi mekanik.
Lo.3.2 Etiologi
1

Perlengketan :
Lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh secara lambat atau pada jaringan
parut setelah pembedahan abdomen.
Intusepsi (invaginasi):
Salah satu bagian dari usus menyusup kedalam
bagian lain yang ada dibawahnya akibat penyempitan
lumen usus. Segmen usus tertarik kedalam segmen
berikutnya
oleh
gerakan
peristaltik
yang
memperlakukan segmen itu seperti usus. Paling
sering terjadi pada anak-anak dimana kelenjar limfe
mendorong dinding ileum kedalam dan terpijat
disepanjang bagian usus tersebut (ileocaecal) lewat coecum kedalam usus besar (colon) dan
bahkan sampai sejauh rectum dan anus.

Volvulus :
Usus besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri
dengan demikian menimbulkan penyumbatan dengan
menutupnya gelungan usus yang terjadi amat distensi. Keadaan
ini dapat juga terjadi pada usus halus yang terputar pada
mesentriumnya. Tindakan bedah, infeksi dan bahkan
endometriosis sering menyebabkan peradangan peritoneum
loka atau generalisata (peritonitis). Pada penyembuhan dapat
terjadi perlekatan antara segmen usus atau dinding abdomen dan tempat operasi.

Hernia :
Protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus atau dinding dan otot abdomen atau defek
di dinding rongga peritoneum yang memungkinkan terbentukkan tonjolan peritoneum mirip
kantong yang dilapisi serosa.
20

Gbr. Kantung Hernia


5 Tumor :
Tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus
menyebabkan tekanan pada dinding usus.
6 Inkarserasi (terperangkap) massa visera yang meningkat di dalam hernia sehingga massa
tersebut terperangkap akibat adanya stasis dan edema secara permanen.
7 Strangulasi gangguan lebih lanjut dimana pasokan darah dan drainase menyebabkan
infark segmen yang terperangkap.

Askariasis :
Cacing askariasis hidup di usus halus bagian jejenum, biasanya jumlahnya puluhan hingga
ratusan ekor. Obstruksi dapat terjadi dimana-mana di usus halus, tetapi biasanya di ileum
terminal yang merupakan tempat lumen paling sempit. Obstruksi umumnya disebabkan oleh
suatu gumpalan padat terdiri atas sisa makanan dan puluhan ekor cacing yang mati atau
hamper mati akibat pemberian obat cacing. Segmen usus yang penuh dengan cacing berisiko
tinggi untuk mengalami volvulus, strangulasi, san perforasi.

21

Lo.3.3. Epidemiologi
Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia didiagnosa ileus (Davidson, 2006). Di
Amerika diperkirakan sekitar 300.000-400.000 menderita ileus setiap tahunnya (Jeekel, 2003).
Di Indonesia tercatat ada 7.059 kasus ileus paralitik dan obstruktif tanpa hernia yang dirawat
inap dan 7.024 pasien rawat jalan pada tahun 2004 menurut Bank data Departemen Kesehatan
Indonesia.

Lo.3.4. Klasifikasi
Ada dua tipe obstruksi yaitu :
1 Mekanis (Ileus Obstruktif)
Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik. Ileus
obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau kronis akibat karsinoma yang
melingkari. Misalnya intusepsi, tumor polipoid dan neoplasma stenosis, obstruksi batu
empedu, striktura, perlengketan, hernia dan abses.
22

Neurogenik/fungsional (Ileus Paralitik)


Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf ototnom mengalami paralisis dan peristaltik
usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Contohnya
amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan
neurologis seperti penyakit Parkinson.
Berdasarkan penyebabnya ileus obstruktif dibedakan menjadi tiga kelompok (Bailey, 2002) :
a. Lesi-lesi intraluminal, misalnya fekalit, benda asing, bezoar, batu empedu.
b. Lesi-lesi intramural, misalnya malignansi atau inflamasi.
c. Lesi-lesi ekstramural, misalnya adhesi, hernia, volvulus atau intususepsi.
Ileus obstruktif dibagi lagi menjadi tiga jenis dasar (Sjamsuhidajat & Jong, 2005;
Sabiston,1995) :
1 Ileus obstruktif sederhana, dimana obstruksi tidak disertai dengan terjepitnya
pembuluh darah.
2 Ileus obstruktif strangulasi, dimana obstruksi yang disertai adanya penjepitan
pembuluh darah sehingga terjadi iskemia yang akan berakhir dengan nekrosis atau
gangren yang ditandai dengan gejala umum berat yang disebabkan oleh toksin dari
jaringan gangren.
3 Ileus obstruktif jenis gelung tertutup, dimana terjadi bila jalan masuk dan keluar suatu
gelung usus tersumbat, dimana paling sedikit terdapat dua tempat obstruksi.
Untuk keperluan klinis, ileus obstruktif dibagi dua (Stone, 2004) :
1. Ileus obstruktif usus halus, termasuk duodenum
2. Ileus obstruktif usus besar

Berdasarkan lokasi obstruksinya, ileus obstruktif atau ileus mekanik dibedakan menjadi :
1 Ileus obstruktif letak tinggi : obstruksi mengenai usus halus (dari gaster sampai ileum
terminal)
23

2
3

Ileus obstruksi letak tengah : obstruksi mengenai ileum terminal


Ileus obstruktif letak rendah : obstruksi mengenai usus besar (dari ileum terminal sampai
rectum)

Lo.3.5. Patofisiologi
Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang
apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan utama
adalah obstruksi paralitik di mana peristaltik dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi
mekanik peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang.
Perubahan patofisiologi utama pada obstruksi usus dapat dilihat pada Gambar-2.1. Lumen usus
yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan)
akibat peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen
ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan diekskresikan ke dalam saluran cerna setiap hari 10,
tidak adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat. Muntah dan
penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan
elektrolit. Pengaruh atas kehilangan ini adalah penciutan ruang cairan ekstrasel yang
mengakibatkan syokhipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan dan
asidosis metabolik. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan lingkaran setan
penurunan absorpsi cairan dan peningkatan sekresi cairan ke dalam usus. Efek lokal peregangan
usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai
absorpsi toksin-toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk
menyebabkan bakteriemia.

24

25

Etiologi1 penyumbatan intestinal penyempitan lumen usus pasase lumen usus


terganggu
Bagian proksimal3 obstrusi tersumbat Pengumpulan isi lumen2
Distensi4
Tekanan intralumen

sekresi kelenjar pencernaan

Iskemik

akumulasi cairan dan gas


terus bertambah

Kehilangan cairan ke
Peritoneum

seluruh bagian obstruksi


menyumbat

aliran air dan Na+


-Dehidrasi
- Hipotensi

Nekrosis
hiperperistaltik
Permabilitas
- Kolik abdomen
- Muntah
Kehilangan cairan dan elektrolit

- Perfusi jaringan
- Asidosis metabolit
- Syok hipovolumik

Obstruksi Mekanik Simple.


Pada obstruksi simple, hambatan pasase muncul tanpa disertai gangguan vaskuler dan
neurologik. Makanan dan cairan yang ditelan, sekresi usus, dan udara terkumpul dalam jumlah
yang banyak jika obstruksinya komplit. Bagian usus proksimal distensi, dan bagian distal kolaps.
Fungsi sekresi dan absorpsi membrane mukosa usus menurun, dan dinding usus menjadi udema
dan kongesti. Distensi intestinal yang berat, dengan sendirinya secara terus menerus dan
progresif akan mengacaukan peristaltik dan fungsi sekresi mukosa dan meningkatkan resiko
dehidrasi, iskemia, nekrosis, perforasi, peritonitis, dan kematian. 4
Obstruksi Strangulata.
Pada obstruksi strangulata, kematian jaringan usus umumnya dihubungkan dengan hernia
inkarserata, volvulus, intussusepsi, dan oklusi vaskuler. Strangulasi biasanya berawal dari
obstruksi vena, yang kemudian diikuti oleh oklusi arteri, menyebabkan iskemia yang cepat pada
dinding usus. Usus menjadi udema dan nekrosis, memacu usus menjadi gangrene dan perforasi.
26

1. Etiologi
2. Pengumpulan isi lumen usus oleh gas dan cairan
3. Hanya di bagian proksimal karena ingesti makanan, cairan, akumulasi gas yang
menumpuk pada bagian proksimal
4. Bagian proksimal dinding dari lumen usus yang mengalammi distensi, sementara yang
distal kolaps, fungsi normal sekresi dan absorpsi terganggu fungsinya dan dinding usus
menjadi edema
Lo.3.6. Manifestasi Klinis
1 Obstruksi sederhana
Obstruksi usus halus merupakan obstruksi saluran cerna tinggi, artinya disertai
dengan pengeluaran banyak cairan dan elektrolit baik di dalam lumen usus bagian oral
dari obstruksi, maupun oleh muntah. Gejala penyumbatan usus meliputi nyeri kram pada
perut, disertai kembung. Pada obstruksi usus halus proksimal akan timbul gejala muntah
yang banyak, yang jarang menjadi muntah fekal walaupun obstruksi berlangsung lama.
Nyeri bisa berat dan menetap. Nyeri abdomen sering dirasakan sebagai perasaan tidak
enak di perut bagian atas. Semakin distal sumbatan, maka muntah yang dihasilkan
semakin fekulen.1,2,10.
Tanda vital normal pada tahap awal, namun akan berlanjut dengan dehidrasi akibat
kehilangan cairan dan elektrolit. Suhu tubuh bisa normal sampai demam. Distensi
abdomen dapat dapat minimal atau tidak ada pada obstruksi proksimal dan semakin jelas
pada sumbatan di daerah distal. Bising usus yang meningkat dan metallic sound dapat
didengar sesuai dengan timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal.10
2 Obstruksi disertai proses strangulasi
Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebih nyata dan disertai dengan nyeri
hebat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas operasi atau hernia. Bila
dijumpai tanda-tanda strangulasi berupa nyeri iskemik dimana nyeri yang sangat hebat,
menetap dan tidak menyurut, maka dilakukan tindakan operasi segera untuk mencegah
terjadinya nekrosis usus.
Obstruksi mekanis di kolon timbul perlahan-lahan dengan nyeri akibat sumbatan
biasanya terasa di epigastrium. Nyeri yang hebat dan terus menerus menunjukkan adanya
iskemia atau peritonitis. Borborygmus dapat keras dan timbul sesuai dengan nyeri.
Konstipasi atau obstipasi adalah gambaran umum obstruksi komplit. Muntah lebih sering
terjadi pada penyumbatan usus besar. Muntah timbul kemudian dan tidak terjadi bila
katup ileosekal mampu mencegah refluks. Bila akibat refluks isi kolon terdorong ke
dalam usus halus, akan tampak gangguan pada usus halus. Muntah fekal akan terjadi
kemudian. Pada keadaan valvula Bauchini yang paten, terjadi distensi hebat dan sering
mengakibatkan perforasi sekum karena tekanannya paling tinggi dan dindingnya yang
lebih tipis. Pada pemeriksaan fisis akan menunjukkan distensi abdomen dan timpani,
gerakan usus akan tampak pada pasien yang kurus, dan akan terdengar metallic sound
pada auskultasi. Nyeri yang terlokasi, dan terabanya massa menunjukkan adanya
strangulasi.
27

Terdapat 4 tanda kardinal gejala ileus obstruktif (Winslet, 2002; Sabiston, 1995)
1. Nyeri abdomen
2. Muntah
3. Distensi
4. Kegagalan buang air besar atau gas (konstipasi).

Gejala ileus obstruktif tersebut bervariasi tergantung kepada (Winslet, 2002; Sabiston,
1995):
1. Lokasi obstruksi
2. Lamanya obstruksi
3. Penyebabnya
4. Ada atau tidaknya iskemia usus

Tanda cardinal gejala ileus obstruktif :


nyeri abdomen, muntah, distensi, konstipasi
b Manifestasi pada obstruksi sederhana :
- nyeri kram akibat gerak peristaltic meningkat
- kembung atau distensi
- muntah yang banyak, cairan hijau/ kuning pada usus halus
28

- jika muntah kental dan bau busuk, obstruksi usus besar


- dehidrasi
c obstruksi disertai strangulasi :
- adanya sicar bekas operasi atau hernia, nyeri iskemik, distensi abdomen, nyeri abdomen
menetap.
d Mekanisme nyeri abdomen :
- Usus halus : muncul tiap 4-5 menit, lokasi supraumbilikus
- Usus besar : 15-20 menit, lokasi intraumbilikus
e Muntah :
- Usus halus : warna hijau atau kuning, timbul muntah cepat
- Usus besar : berbau busuk dan kental, timbul muntah lambat
f Distensi :
- Usus halus : < usus besar
- Usus besar : > usus halus
g Konstipasi : absolut, relative (hanya gas yang bias keluar)
h Dehidrasi :
- usus halus : cepat
- usus besar : lambat
Lo.3.7.Diagnosis dan Diagnosis Banding
Diagnosis
Anamnesis
Gejala Utama:
Nyeri-Kolik
o Obstruksi usus halus : kolik dirasakan disekitar umbilikus
o Obstruksi kolon : kolik dirasakan disekitar suprapubik
Muntah
o Stenosis Pilorus : Encer dan asam
o Obstruksi usus halus : Berwarna kehijauan
o Obstruksi kolon : onset muntah lama
Perut Kembung (distensi)
Konstipasi
o Tidak ada defekasi
o Tidak ada flatus
Pemeriksaan Fisik
1 Inspeksi
Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata dehidrasi, yang mencakup kehilangan turgor
kulit maupun mulut dan lidah kering. Pada abdomen harus dilihat adanya distensi,
parut abdomen, hernia dan massa abdomen. Terkadang dapat dilihat gerakan peristaltik
usus (Gambar 2.4) yang bisa bekorelasi dengan mulainya nyeri kolik yang disertai
29

mual dan muntah. Penderita tampak gelisah dan menggeliat sewaktu serangan kolik
(Sabiston, 1995; Sabara, 2007).
2

Palpasi
Pada palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum apapun atau nyeri
tekan, yang mencakup defance musculair involunter atau rebound dan
pembengkakan atau massa yang abnormal (Sabiston, 1995; Sabara, 2007).
3 Auskultasi
Pada ileus obstruktif pada auskultasi terdengar kehadiran episodik gemerincing
logam bernada tinggi dan gelora (rush) diantara masa tenang. Tetapi setelah beberapa
hari dalam perjalanan penyakit dan usus di atas telah berdilatasi, maka aktivitas
peristaltik (sehingga juga bising usus) bisa tidak ada atau menurun parah. Tidak
adanya nyeri usus bisa juga ditemukan dalam ileus paralitikus atau ileus obstruksi
strangulata (Sabiston, 1995). Pada ileus paralitikus tidak didapatkan gerak peristaltic
usus.
Bagian akhir yang diharuskan dari pemeriksaan adalah pemeriksaan rektum dan pelvis.
Ia bisa membangkitkan penemuan massa atau tumor serta tidak adanya feses di dalam
kubah rektum menggambarkan ileus obstruktif usus halus. Jika darah makroskopik atau
feses postif banyak ditemukan di dalam rektum, maka sangat mungkin bahwa ileus
obstruktif didasarkan atas lesi intrinsik di dalam usus (Sabiston, 1995). Apabila isi rektum
menyemprot; penyakit Hirdchprung (Anonym, 2007).
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium tidak mempunyai ciri-ciri khusus. Pada urinalisa, berat jenis bisa
meningkat dan ketonuria yang menunjukkan adanya dehidrasi dan asidosis metabolik. Leukosit
normal atau sediki t meningkat, jika sudah t inggi kemungkinan sudah ter jadi peritonitis. Kimia
darah sering adanya gangguan elektrolit.
Foto polos abdomen sangat bernilai dalam menegakkan diagnosa ileus obstruksi.Sedapat
mungkin dibuat pada posisi tegak dengan sinar mendatar. Posisi datar perlu untuk melihat
distribusi gas, sedangkan sikap tegak untuk melihat batas udara dan air serta letak obstruksi.
Secara normal lambung dan kolon terisi sejumlah kecil gas tetapi pada usus halus biasanya tidak
tampak.
Gambaran radiologi dari ileus berupa distensi usus dengan multiple air fluid level,distensi
usus bagian proksimal, absen dari udara kolon pada obstruksi usus halus. Obstruksi kolon
biasanya terlihat sebagai distensi usus
yang terbatas dengan gambaran haustra, kadang-kadang gambaran massa dapat terlihat. Pada
gambaran radiologi, kolon yang mengalami distensi menunjukkan gambaran seperti pigura dari
dinding abdomen. Kemampuan diagnostik kolonoskopi lebih baik dibandingkan pemeriksaan
bariumkontras ganda. Kolonoskopi lebih sensitif dan spesifik untuk mendiagnosis neoplasma
dan bahkan bisa langsung dilakukan biopsi.
GAMBARAN RADIOLOGI

30

Untuk menegakkan diagnosa secara radiologis pada ileus obstruktif dilakukan foto abdomen 3
posisi. Yang dapat ditemukan pada pemeriksaan foto abdomen ini antara lain :
1. Ileus obstruksi letak tinggi :
- Dilatasi di proximal sumbatan (sumbatan paling distal di ileocecal junction) dankolaps usus
di bagian distal sumbatan.
- Coil spring appearance
- Herring bone appearance
- Air fluid level yang pendek-pendek dan banyak (step ladder sign)
2. Ileus obstruksi letak rendah :
- Gambaran sama seperti ileus obstruksi letak tinggi
- Gambaran penebalan usus besar yang juga distensi tampak pada tepi abdomen
- Air fluid level yang panjang-panjang di kolon. Sedangkan pada ileus paralitik gambaran
radiologi ditemukan dilatasi usus yang menyeluruhdari gaster sampai rectum.
Gambaran radiologis ileus obstruktif dibandingkan dengan ileus paralitik :

Gambar 1. Ileus Obstruktif . Tampak coil spring dan herring bone appearance4

Gambar 2. Ileus Paralitik. Tampak dilatasi usus keseluruhan


Diagnosis Banding
31

Pada ileus paralitik nyeri yang timbul lebih ringan tetapi konstan dan difus, dan terjadi
distensi abdomen. Ileus paralitik, bising usus tidak terdengar dan tidak terjadi ketegangan
dinding perut. Bila ileus disebabkan oleh proses inflamasi akut, akan ada tanda dan gejala dari
penyebab primer tersebut. Gastroenteritis akut, apendisitis akut, dan pankreatitis akut juga dapat
menyerupai obstruksi usus sederhana.
Ileus dapat disebabkan oleh adanya proses dalam intraabdominal dan retroperitoneal,
termasuk iskemik usus, kolik ureter, fraktur pelvis dan setelah operasi abdomen. Jika terjadi ileus
paralitik, nyeri biasanya tidak terlalu berat dan lebih konstan.
Obstipasi dan distensi abdomen menunjukkan adanya obstruksi usus besar. Muntah jarang
terjadi dan nyeri tidak bersifat kolik. Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan adanya hasil foto
roentgen yang menunjukkan adanya obstruksi dilatasi kolon bagian proksimal.
Obstruksi usus halus dapat dikacaukan dengan gastroenteritis akut, apendisitis akut dan
pankreatitis akut. Obstruksi strangulasi mempunyai keluhan yang mirip dengan pankreatitis akut,
enteritis iskemik atau penyumbatan vaskular mesenterika yang berhubungan dengan trombosis
vena. Ileus obstruksi harus dibedakan dengan ileus paralitik
Lo.3.7 Tatalaksana (Bedah dan Non Bedah)
PENATALAKSANAAN OPERATIF ILEUS OBSTRUKTIF
Terapi ileus obstruksi biasnya melibatkan intervensi bedah. Penentuan waktu kritis serta
tergantung atas jenis dan lama proses ileus obstruktif. Operasi dilakukan secepat yang layak
dilakukan dengan memperhatikan keadaan keseluruhan pasien (Sabiston, 1995).
Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami obstruksi untuk
mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan. Menghilangkan penyebab
ileus obstruksi adalah tujuan kedua. Kadang-kadang suatu penyumbatan sembuh dengan
sendirinya tanpa pengobatan, terutama jika disebabkan oleh perlengketan (Sabiston, 1995;
Sabara, 2007) Dekompresi pipa bagi traktus gastrointestinal diindikasikan untuk duaalasan
(Sabiston, 1995; Sabara, 2007):
1. Untuk dekompres lambung sehingga memperkecil kesempatan aspirasi isi usus.
2. Membatasi masuknya udara yang ditelan ke dalam saluran pencernaan,sehingga
mengurangi distensi usus yang bisa menyebabkan peningkatan tekanan intralumen dan
kemungkinan ancaman vaskular.
Pipa yang digunakan untuk tujuan demikian dibagi dalam dua kelompok (Sabiston, 1995) :
1. Pendek, hanya untuk lambung.
2. Panjang, untuk intubasi keseluruhan usus halus.
Pasien dipuasakan, kemudian dilakukan juga resusitasi cairan dan elektrolit untuk perbaikan
keadaan umum. Setelah keadaan optimum tercapai barulah dilakukan laparatom (Sabara, 2007).
Pemberian antibiotika spektrum lebar di dalam gelung usus yang terkena obstruksi strangulasi
terbukti meningkatkan kelangsungan hidup. Tetapi, karena tidak selalu mudah membedakan
antara ileus obstruksi strangulata dan sederhana, maka antibiotika harus diberikan pada semua
pasien ileus obstruksi (Sabiston,1995) Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan
organ-organ vital berfungsi secara memuaskan. Tetapi yang paling sering dilakukan adalah
pembedahan sesegera mungkin. Tindakan bedah dilakukan bila (Sabara, 2007) :
1. Strangulasi
32

2. Obstruksi lengkap
3. Hernia inkarserata
4. Tidak ada perbaikan dengan pengobatan konservatif (dengan pemasangan NGT, infus,
oksigen dan kateter)
Tindakan yang terlibat dalam terapi bedahnya masuk kedalam beberapa kategori mencakup
(Sabiston, 1995) ;
1. Lisis pita lekat atau reposisi hernia
2. Pintas usus
3. Reseksi dengan anastomosis
4. Diversi stoma dengan atau tanap resksi.
Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan dan elektrolit. Kita harus
mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus memberikan kalori yang cukup. Perlu diingat bahwa
pasca bedah usus pasien masih dalam keadaan paralitik (Sabara, 2007)
Tahapan Tindakan Operatif
a) Pre-operatif
Dasar pengobatan obstruksi usus meliputi :
1. Penggantian kehilangan cairan dan elektrolit ke dalam lumen usus sampai pencapaian
tingkat normal hidrasi dan konsentrasi elektrolit bisa dipantau dengan mengamati
pengeluaran urin (melalui kateter), tanda vital, tekanan vena sentral dan pemeriksaan
laboratoriumberurutan.
2. Dekompressi tractus gastrointestinal dengan sonde yang ditempatkan intralumen dengan
tujuan untuk dekompressi lambung sehingga memperkecil kesempatan aspirasi isi usus, dan
membatasi masuknya udara yang ditelan ke dalam saluran pencernaan,sehingga mengurangi
distensi usus yang bisa menyebabkan peningkatan tekanan intalumen.
3. Pemberian antibiotika untuk pencegahan pertumbuhan bakteri berlebihan bersama dengan
produk endotoksin dan eksotoksin.
b) Operatif
Tergantung dari etiologi masing-masing :
Adhesi
Pada operasi, perlengketan dilepaskan dan pita dipotong agar pasase usus pulih kembali.
Hernia inkarserata
Dapat dilakukan Herniotomi untuk membebaskan usus dari jepitan.
Neoplasma
Operasi berupa pengangkatan tumor. Pada tumor jinak pasase usus harus dipulihkan kembali,
sedangkan pada tumor ganas sedapat mungkin dilakukan reseksi radikal.

33

Askariasis
Jika terdapat obstruksi lengkap, atau jika pengobatan konservatif tidak berhasil dapat
dilakukan operasi dengan jalan enterotomi untuk mengeluarkan cacing, tapi apabila usus
sudah robek, atau mengalami ganggren dilakukan reseksi bagian usus yang bersangkutan.
Carsinoma Colon
Operasi dengan jalan reseksi luas pada lesi dan limfatik regionalnya. Apabila obstruksi
mekanik jelas terjadi, maka diperlukan persiapan Colostomi atau Sekostomi.
Divertikel
Reseksi bagian colon yang mengandung divertikel dapat dikerjakan secara elektif setelah
divertikulitis menyembuh. Dapat dianjurkan untuk menempatkan colostomy serendah
mungkin, lebih disukai dalam colon desendens, atau colon sigmoideum. Untuk
memungkinkan evaluasi melalui colostomy dan mencegah peradangan lebih lanjut pada
tempat abses.
Reseksi sigmoid biasanya dilakukan dengan cara Hartman dengan colostomy sementara.
Cara ini, dipilih untuk menghindari resiko tinggi gangguan penyembuhan luka anastomosis
yang dibuat primer dilingkungan radang. Prosedur Hartman jauh lebih aman karena
anastomosis baru dikerjakan setelah rongga perut dan lapangan bedah bebas kontaminasi dan
radang.
Volvulus
Pada volvulus sekum dilakukan tindakan operatif yaitu melepaskan volvulus yang terpelintir
dengan melakukan dekompresi dengan sekostomi temporer, yang juga berefek fiksasi
terhadap sekum dengan cara adhesi. Jika sekum dapat hidup dan tidak terdistensi tegang,
maka
detorsi
dan
fiksasi
sekum
di
qudran
bawah
bisa
dicapai.
Pada volvulus sigmoid jika tidak terdapat strangulasi, dapat dilakukan reposisi
sigmoidoskopi. Cara ini sering meniadakan volvulus dini yang diikuti oleh keluarnya flatus.
Reposisi sigmoidodkopi yang berhasil pada volvulus dapat dicapai sekitar 80% pasien. Jika
strangulasi ditemukan saat laparatomi, maka reseksi gelung sigmoideum yang gangrenous
yang disertai dengan colostomi double barrel atau coloctomi ujung bersama penutup tunggal
rectum (kantong Hartman) harus dilakukan.
Intusussepsi
Sebelum dilakukan tindakan operasi, dilakukan terlebih dahulu dengan reduksi barium
enema, jika tidak ada tanda obstruksi lanjut atau perforasi usus halus.
Bila reduksi dengan enema tidak dapat dilaksanakan maka dilakukan operasi berupa
eksplorai abdomen melalui suatu insisi transversal pada quadran kanan bawah. Intusussepsi
tersebut kemudian direduksi dengan kompressi retrograde dari intusussepsi secara hati-hati.
Reseksi usus diindikasikan bila usus tersebut tidak dapat direduksi atau usus tersebut
ganggren.
PENATALAKSANAAN
NON OPERATIF
A.Terapiumum
1.Istirahat
Dirawat di ruangan gawat darurat
Segera pasang sonde lambung (NGT)
34

Selang rectal
Pasang kateter
2.Diet
Pasien puasa
Nutrisi perenteral total sampai ada bising usus atau mulai flatus
3.Medikamentosa
Obat pertama :
Prostigmin 3 x 1 sampai IV untuk memacu mobilitas usus
Antibiotik
Obat alternative : Bagaimana terapi/pengobatan ileus obstruktif yang diberikan secara farmakologis?
Pemberian obat-obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai profilaksis. Antiemetik
dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual muntah.
Apa yang perlu diperhatikan dalam resusitasi pada pasien dengan ileus obstruktif?
Dalam resusitasi yang perlu diperhatikan adalah mengawasi tanda tanda vital, dehidrasi dan
syok. Pasien yang mengalami ileus obstruksi mengalami dehidrasi dan gangguan keseimbangan
ektrolit sehingga perlu diberikan cairan intravena seperti ringer laktat. Respon terhadap terapi
dapat dilihat dengan memonitor tanda-tanda vital dan jumlah urin yang keluar. Selain pemberian
cairan intravena, diperlukan juga pemasangan nasogastric tube (NGT). NGT digunakan untuk
mengosongkan lambung, mencegah aspirasi pulmonum bila muntah dan mengurangi distensi
abdomen.
OBAT ANTIEMETIK
Antagonis reseptor H1
Antagonis reseptor muskarinik
Antagonis reseptor dopamin
Antagonis reseptor serotonin
Cannabinoid
Steroid
Antagonis reseptor H1
Cinnarizine, cyclizine, dimenhydrinate, promethazine
Tidak dapat digunakan utk mual-muntah krn rangsangan pada CTZ
Efektif utk mabuk kendaraan dan mual-muntah krn rangsangan pada lambung
Diberikan sebelum timbul gejala mual-muntah
Puncak antiemetik : 4 jam, bertahan selama 24 jam
KI : wanita hamil trimester I (kec. Promethazine)
Antagonis reseptor muskarinik
Hyoscine
Untuk mual-muntah krn gangguan labirin dan rangsangan lokal di lambung
Tidak dapat digunakan utk mual muntah krn rangsangan pada CTZ
Puncak antiemetik : 1-2 jam
ES : drowsiness, mulut kering, penglihatan kabur, retensi urin

35

Antagonis reseptor dopamin


Metoklopramid
Domperidone Phenothiazine
Metoklopramid
Bekerja di CTZ
P.o., T1/2 4 jam, ekskresi via urine
ES : krn blokade reseptor dopamin di SSP gangguan pergerakan pada anak2 dan dewasa
muda, mengantuk, fatigue/lemah
Stimulasi release prolaktin galaktore dan gangguan menstruasi
Efek pada motilitas usus diare
Domperidone
Antagonis reseptor D2
Antiemetik untuk vomitting postoperatif dan akibat kemoterapi kanker
ES : diare
Phenothiazine
Neuroleptik : chlorpromazine, prochlorperazine, trifluoperazine dpt sebagai antiemetik
Triethylperazine hny sbg antiemetik
Dapat digunakan utk vomitting krn rangsangan pada CTZ
Tidak efektif utk muntah krn rangsangan di lambung
Cara kerja antagonis reseptor D2 di CTZ, menghambat reseptor histamin dan muskarinik
Pemberian p.o., rektal, atau parenteral
Antagonis serotonin
Serotonin (5-hidroksitriptamin) a direlease oleh CNS atau lambung a transmitter emesis
Antagonis serotonin : ondansetron, granisetron
Sangat baik utk terapi mual-muntah akibat obat sitotoksik
Pemberian p.o, injeksi IV pelan, infus
T1/2 5 jam
ES : sakit kepala, gangguan GIT
Cannabinoid
Nabilone derivat cannabinol sintetik menurunkan muntah krn rangsangan pada CTZ
Pemberian : p.o, absorpsi baik
T1/2 120 menit, ekskresi via urine dan feses
ES : jarang, a. l. drowsiness, dizziness, mulut kering, perubahanmood, hipotensi postural,
halusinasi, dan reaksi psikotik
Steroid
Dosis tinggi, dpt digunakan sendiri atau kombinasi dgn obat lain
Glukokortikoid deksametason dan metilprednisolon
Mekanisme kerja blm diketahui
Sinergisme dg ondansetron

36

MOTILITAS GIT
1. MENINGKATKAN PERGERAKAN :
PENCAHAR
TANPA EFEK PENCAHAR
PENCAHAR
BULK LAXATIVE meningkatkan volume residu padat yg tidak diabsorpsi
OSMOTIC LAXATIVE meningkatkan jumlah air
FAECAL SOFTENER mengubah konsistensi faeces
STIMULANT PURGATIVE meningkatkan motilitas dan sekresi
Bulk Laxative
Metilselulose, sterculia, agar, bran, ispaghula husk
Polimer polisakarida a tidak dapat dipecah
Mekanisme kerja a menahan air di lumen usus merangsang peristaltis a beberapa hari
ES : ringan
Osmotic Laxative
Pencahar salin dan laktulosa cairan yg absorpsinya jelek meningkatkan volume cairan di
lumen bowel mempercepat transfer makanan ke usus halus massa yg sangat besar masuk
kolon distensi ekspulsi faeces
Pencahar salin garam MgSO4 dan Mg(OH)2
Laktulosa disakarida semisintetik fruktosa dan galaktosa bakteri di kolon fermentasi
asam laktat dan asam asetat osmotik laksatif
Efek baru timbul 1 2 hari
Faecal Softener
Docusate sodium
Menghasilkan feses yg lebih lumak
Efek stimulan laksatif lemah
Stimulant Purgative
Bisacodyl, sodium picosulfat, preparat senna
Meningkatkan peristaltis dengan cara stimulasi mukosa usus
ES : kram abdomen, jangka panjang atonia colon
Bisacodyl p.o. atau suppositoria efek laksan 15-30 menit
Sodium picosulfat p.o.
Preparat senna dosis tunggal efek laksan dalam 8 jam
OBAT YG MENINGKATKAN MOTILITAS GIT
DOMPERIDONE
Antagonis reseptor D2 a antiemetik
Memblok adrenoreseptor a-1 dan menurunkan efek relaksannya a menurunkan tekanan
sfingter esofagus bawah a meningkatkan motilitas GIT
Tidak menstimulasi sekresi asam lambung
Digunakan untuk gangguan pengosongan lambung dan refluks esofagitis kronis
ES : hiperprolaktinemia
METOKLOPRAMID
37

Efek sentral antiemetik


Efek lokal percepatan pengosongan lambung tanpa menstimulasi sekresi asam lambung
Efeknya kecil pada motilitas usus bag. bawah
Digunakan untuk refluks gastroesofagus dan gangguan pengosongan lambung
Tidak dapat digunakan untuk ileus paralitik
CISAPRIDE
Menstimulasi release ACh pada pleksus myenterik di GIT bag. atas
Digunakan utk refluks esofagitis dan gangguan pengosongan lambung
Tidak mempunyai efek antiemetik
ES : diare, kram abdomen, takikardi (jarang)
Lo.3.8 Komplikasi
Pada obstruksi kolon dapat terjadi dilatasi progresif pada sekum yang berakhirdengan perforasi sekum sehingga
terjadi pencemaran rongga perut dengan akibat peritonitis umum.
Strangulasi menjadi penyebab dari kebanyakan kasus kematian akibat ileus obstruktif.Isi lumen usus merupakan
campuran bakteri yang mematikan, hasil-hasil produksi bakteri, jaringan nekrotik dan darah.Usus yang mengalami
perforasi mungkin mengalami perforasi dan menggeluarkan materi tersebut ke dalam rongga peritoneum yang
menyebabkan peritonis.Tetapi meskipun usus tidak mengalami perforasi, bakteri dapat melintasi usus yang
permeable tersebut dan masuk ke dalam sirkulasi tubuh melalui cairan getah bening dan mengakibatkan syok septic.
Komplikasi lain yang dapat timbul antara lain syok hipovolemia, abses, pneumonia aspirasi dari proses muntah
dan dapat menyebabkan kematian.

Lo.3.9 Pencegahan
Upaya pencegahan terhadap penyakit harus dilakukan sedini mungkin baik pencegahan primordial, primer,
sekunder dan tersier untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas.47 Demikian juga pada penyakit ileus
obstruktif, tindakan pencegahan harus dilakukan untuk mencegah terjadinya ileus obstruktif dan menghindari akibat
fatal yang disebabkan ileus obstruktif.
Pencegahan Primordial
Pencegahan primordial merupakan upaya pencegahan pada orang-orang yang belum memiliki faktor risiko
terhadap ileus obstruktif.Biasa dilakukan dengan promosi kesehatan atau memberikan pendidikan kesehatan yang
berkaitan ileus obstruktif atau dengan melakukan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
masyarakat dalam menjaga kesehatannya oleh kemampuan masyarakat.
Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya mempertahankan orang yang agar tetap sehat atau mencegah
orang yang sehat menjadi sakit.Pencegahan primer berarti mencegah terjadinya ileus obstruktif.Upaya pencegahan
ini dimaksudkan untuk mengadakan pencegahan pada masyarakat. Pencegahan primer yang dilakukan antara lain :
a. Bergaya hidup sehat dengan cara menjaga diri dan lingkungannya
b. Dengan meningkatkan asupan makanan bergizi yang meningkatkan daya tahan tubuh
c. Diet Serat
Berbagai penelitian telah melaporkan hubungan antara konsumsi serat dan insidens timbulnya berbagai macam
penyakit.Hasil penelitian membuktikan bahwa diet tinggi serat mempunyai efek proteksi untuk kejadian
penyakit saluran pencernaan.
d. Untuk membantu mencegah kanker kolorektal, makan diet seimbang rendah lemak dengan banyak sayur dan
buah, tidak merokok, dan segera untuk skrining kanker kolorektal setahun sekali setelah usia 50 tahun.
e. Untuk mencegah hernia, hindari angkat berat, yang meningkatkan tekanan di dalam perut dan mungkin
memaksa satu bagian dari usus untuk menonjol melalui daerah rentan dinding perut.
Pencegahan Sekunder

38

Pencegahan sekunder yang dapat dilakukan terhadap ileus obstruktif adalah dengan cara mendeteksi secara dini,
dan mengadakan penatalaksanaan medik untuk mengatasi akibat fatal ileus obstruktif.
Pencegahan Tersier
Tujuan pencegahan tertier adalah untuk mengurangi ketidakmampuan, mencegah kecacatan dan menghindari
komplikasi yang dapat memperparah keadaan.47 Tindakan perawatan post operasi serta melakukan
mobilitas/ambulasi sedini mungkin.

Lo.3.10 Prognosis
Obstruksi yang tak mengakibatkan strangulasi mempunyai angka kematian sekitar 5%.Kebanyakan yang
meninggal adalah pasien yang sudah lanjut usia. Obstruksi yang disertaidengan strangulasi mempunyai angka
kematian 8%. Kalau operasi dilakukan dalam jangkawaktu 36 jam sesudah timbulnya gejala yang bersangkutan.
Mortalitas ileus obstruktif ini dipengaruhi banyak faktor seperti umur, etiologi,tempatdan lamanya
obstruksi.Jika umur penderita sangat muda ataupun tua maka toleransinya terhadap penyakit maupun tindakan
operatif yang dilakukan sangat rendah sehingga meningkatkan mortalitas.Pada obstruksi kolon mortalitasnya lebih
tinggi dibandingkan obstruksi usus halus.

LI.4 Memahami dan Menjelaskan Operasi Menurut Agama


Perlakuan operasi menurut syariat hukumnya mubah yang bertujuan untuk kemaslatan hidup
disamping memberikan dorongan hidup dan lepas dari najis,dampak negatif pada tubuh dan
ancaman kematian serta merubah sunnatullah.
Sesungguhnya Rasulullah shallallahualaihi wasallam pernah mengutarakan masalah
berobat, sebagaimana dalam beberapa hadits. Di antaranya,
1. Dari Jabir Bin Abdullah radhiallahuanhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda,
Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat tepat dengan penyakitnya maka dia akan
sembuh dengan seizin Allah azza wa jalla. (HR. Muslim)
2. Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
Tidaklah Allah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya. (HR. Al
Bukhari dan Muslim)
3. Dari Usamah bin Syarik radhiallahuanhu, bahwa beliau berkata,
Aku pernah di sisi Rasulullah shallallahualaihi wasallam lalu datanglah serombongan orang
arab dusun. Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat? . Beliau
menjawab, Iya, wahai para hamba Allah berobatlah. Sebab Allah azza wa jalla tidaklah
meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit. Mereka
bertanya, Penyakit apa itu? . Beliau menjawab, Penyakit ketuaan. (HR. Ahmad, Al Bukhari
dalam Al-Adabul Mufrod, Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, beliau berkata bahwa hadits
39

ini hasan shahih. Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadii menshahihkan hadits ini dalam kitabnya
Al-Jamius Shahih mimma Laisa fish Shahihain 4/486)
4. Dari Ibnu Masud radhiallahuanhu, bahwa Rasulullah shallallahualaihi wasallam bersabda,
Sesungguhnya Allah azza wa jalla tidaklah menurunkan sebuah penyakit melainkan
menurunkan pula obatnya. Obat itu diketahui oleh orang yang bisa mengetahuinya dan tidak
diketahui oleh orang yang tidak bisa mengetahuinya. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim,
beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Juga Al-Bushiri menshahihkannya
dalam kitab Zawaidnya. Lihat Takhrij Al-Arnauth atas Zadul Maad 4/12-13)

DAFTAR PUSTAKA
Cormack D.H. Introduction to Histology. Philadelphia, J.B. Lippincott Company, 1984:299-303
Gandasoebrata R . 2010 . Penuntun Laboratorium Klinik.Cetakan keenambelas . Jakarta : Dian
Rakyat
Ganong W.F. 2008. Buku Ajar FIsiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
sherwood
Gunawan ,SG.(2007).Farmakologi dan Terapi, Edisi 5. Jakarta : Departement Farmakologi dan
Terapeutik FKUI
Guyton, Hall. 2006. Text Book of Medical Physiology 11th edition. Philadelphia: Elsevier
Soundres
Hamami, AH., Pieter, J., Riwanto, I., Tjambolang, T., dan Ahmadsyah, I. Usus Halus, apendiks,
kolon, dan anorektum. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Editor: Sjamsuhidajat, R. dan De
Jong, Wim. Jakarta: EGC, 2003. Hal: 615-681.
Junquiera L.C, Carneiro J, Kelley R.O. Basic Histology. 10th edition, Washington, Lange, 2003:
316-23
Kumar V,et al. 2008. Patologi Anatomi : Robbins edisi 7 vol 2. Jakarta
Leeson CR, Leeson TS, Paparo AA. 1996. Buku Ajar Histologi. Ed 5. Jakarta : EGC.

40

Levine, B.A., and Aust, J.B. Kelainan Bedah Usus Halus. Dalam Buku Ajar Bedah Sabistons
essentials surgery. Editor: Sabiston, D.C. Alih bahasa: Andrianto, P., dan I.S., Timan. Editor
bahasa: Oswari, J. Jakarta: EGC, 1992.
Murray,RK et al (2003). Biokimia Harper edisi 25.Jakarta.EGC
Price, Sylvia A. Wilson, Lorraine M. 1995. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit.
Ed. 4. Jakarta : EGC.
Sherwood Lauralee. Fisiologi Manusia dari sel ke sel. Edisi 2. Jakarta: EGC, 2001
Snell,RS.(2006).Anatomi Klinik untuk Mahasiswa kedokteran edisi 6. Jakarta.EGC
Sabiston D.C. : Obstruksi usus, Handbook of Surgery, Edisis 7, penerbit EGC, 1995.

41