Anda di halaman 1dari 20

SEJARAH DAN ALIRAN-ALIRAN PSIKOLOGI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia psikologi terjadi perbedaan pendapat para ahli yang kita jumpai pada
penginterpetasian kata psyche sebagai kata kunci dari kajian psikologi. Perbedaan inilah
yang akhirnya melahirkan konsep atau teori dari aliran-aliran psikologi. Secara umum para
ahli berpendapat bahwa istilah psikologi berasal dari bahasa Yunani psyche yang berarti jiwa
dan logos yang berarti ilmu. Dari pengertian ini kemudian ada yang mengartikan psikologi
dengan ilmu jiwa atau zielkunde (Belanda), seelekunde (Jerman) dan al ilmu al nafs
(Arab) (Sarwono: 2009). Dalam perkembangan selanjutnya terjadi polemik diantara para ahli
dalam mengartikan hal tersebut. Sebab psikologi yang ada hanya bisa diamati dari gejalanya
saja. Akibatnya ada yang mengartikan psikologi ini sebagai ilmu ekspresi, alasannya bahwa
aktualisasi psyche selalu diekspresikan melalui badan atau jasmani nyata. Ada juga yang
mengartikan psikologi sebagai karakterologi, karena psikologi juga mempelajari tentang
karakter atau sifat kepribadian sedang behaviorisme mengartikannya dengan dengan ilmu
tentang tingkah laku. Pada jaman Renaisans psikologi lebih dikenal dengan ilmu tentang
kesadaran. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu tersebut juga berkembang
sehingga para pemikir pun semakin banyak tertarik mempelajari dan mengembangkannya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Psikologi
Sebelum kita sampai pada pembicaraan lebih lanjut tentang aliran-aliran dan tokoh
dalam psikologi, kita akan memicarakan terlebih dahulu secara singkat perkembangan
sejarah psikologi sejak mula awalnya hingga sekarang. Pembicaraan mengenai skema sejarah
psikologi ini akan diperlukan oleh pembaca untuk memahami peranan dari tiap-tiap aliran
dan tokoh dalam satu rangkaian yang besar dan bagaimana aliran dan tokoh yang berbedabeda dan mewakili pemikiran-pemikiran yang berbeda pula itu saling mempengaruhi atau
saling mengkritik satu sama lain. Untuk memahami pikiran-pikiran Watson misalnya, kita
harus

mengetahui

terlebih

dahulu

hasil

dari

pikiran Wundt, karena

sebenarnya

teori Watson sedikit banyak berasal dari antitese atau proses atau kritik terhadap teoriteorinya Wundt. Demikian juga kita tidak bisa memahami Freud dengan baik tanpa memiliki
pengertian

yang

baik

tentang

pendahulu-pendahulunya

seperti

Anton

Mesmer

dan Charcot, maupun murid-muridnya seperti Jung dan Adler. Maka berikut ini adalah isi,
skema atau uraian singkat tentang sejarah atau perkembangan psikologi sejak awal mulanya.
Dalam garis besarnya, sejarah psikologi dapat dibagi dalam dua tahap utama, yaitu
masa sebelum dan masa sesudah menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Kedua tahap itu diawali
oleh berdirinya laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig pada tahun 1879 yang
didirikan oleh Wilhelm Wundt. Sebelum 1879 itu pskologi dianggap sebagai bagian dari
filsafat atau ilmu faal, karena psikologi masih dibicarakan oleh sarjana-sarjana dari kedua
bidang ilmu itu yang kebetulan mempunyai minat terhadap gejala jiwa, tetapi tentu saja
penyelidikan-penyelidikan meraka masih terlalu dikaitkan dengan bidang ilmu mereka
sendiri saja. Barulah ketika Wundt berhasil mendirikan laboratorium psikologinya di Leipzig
para sarjana mulai menyelidiki gejala-gejala kejiwaan secara lebih sistematis dan obyektif.
Metode-metode baru ketemukan untuk mengadakan pembuktian-pembuktian nyata dalam
psikologi sehingga lambat laun dapat disusun teori-teori psikologi yang terlepas dari ilmuilmu induknya. Sejak masa itu pulalah psikologi mulai bercabang-cabang ke dalam aliranaliran, karena bertambahnya jumlah sarjana psikologi tentu saja menambah keragaman
berpikir dan banyak pikiran-pikiran itu yang tidak dapat disatukan satu sama lain. Karena
itulah maka mereka yang merasa sepemiikiran, sependapat, menggabungkan diri dan

menyusun suatu aliran tersendiri. Aliran-aliran struktualisme, fungsionalisme, behaviourisme


dan sebagainya adalah aliran-aliran yang tumbuh setelah lahirnya laboratorium pertama di
Leipzig tersebut.
Minat untuk menyelidiki gejala kejiwaan sudah lama sekali ada di kalangan umat
manusia ini. Mula-mula sekali ahli-ahli filsafat dari zaman yunani Kuno-lah yang mulai
memikirkan tentang gejala-gejala kejiwaan. Pada waktu itu belum ada pembuktianpembuktian nyata atau empiris, melainkan segala teori dikemukakan berdasarkan
argumentasi-argumentasi logis (akal) belaka. Dengan perkataan lain, psikologi pada waktu
itu benar-benar masih merupakan bagian dari filsafat dalam arti kata semurni-murninya.
Toko-tokoh filsafat Yunani Kuno yang banyak mengemukakan teori-teori psikologi antara
lain adalah Plato (427-347 S.M.) dan Aistoteles (384-322 S.M.).
Berabad-abad setelah itu, psikologi masih juga merupakan bagian dari filsafat, antara
lain di Perancis muncul Rene Descertes (1956-1650) yang terkenal dengan teori tentang
kesadaran dan di Inggris muncul tokoh-tokoh seperti John Locke (1623-1704),George
Berkeley (1685-1753), James Mill (1806-1873) yang semuanya itu dikenal sebagai tokohtokoh aliran asosioasonisme.
Sementara itu sejumlah sarjana ahli ilmu faal juga mulai menaruh minat pada gejalagejala kejiwaan. Mereka melakukan ekseprimen-eksperimen dan mengemukakan teori-teori
yang akan besar pengaruhnya pada perkembangan psikologi selanjutnya. Teori-teori yang
dikemukakan oleh ahli-ahli ilmu faal ini berkisar tentang syaraf-syaraf sensoris dan motoris
pusat-pusat sensoris dan motoris di otak, dan hokum-hukum yang mengatur bekerja
bekerjanya syaraf-syaraf tersebut. Tokoh-tokoh dari ilmu faal ini antara lain adalah C.
Bell (1774-1842), F. Magendie (1785-1855), J. P. Muller (1801-1858), P. Broca (18241880) dan sebagainya. Dalam hubungan ini kiranya perlu dicatat secara khusus nama seorang
sarjana Rusia, I. P. Pavlov (1849-1936), karena dari teori-teorinya tentang reflex kemudian
akan berkembang aliran behaviourisme di Amerika Serikat, yaitu aliran psikologi yang hanya
mau mengakui tingkahlaku-tingkahlaku yang nyata sebagai obyek studinya dan menolak
anggapan-anggapan sarjana psikologi lainnya yang mempelajari pula tingkahlakutingkahlaku yang tidak nampak dari luar. Selain daripada itu perlu pula dikemukakan
peranan

seorang

dokter

berdarah

campuran

Inggris-Skotlandia

bernama

Willian

McDougall (1871-1938) yang telah memberi inspirasi pula kepada aliran behaviourisme di

Amerika

Serikat

melalui

teori-teorinya

yang

dikenal

dengan

namapurposive

psychology (Psikologi purposif atau psikologi bertujuan).


Pada saat para sarjana baik dari bidang filsafat maupun dari bidang ilmu faal sedang
bersibuk diri dengan usaha untuk menerangkan gejala-gejala kejiwaan secara ilmiah murni,
muncul pula orang-orang yang secara spekulatif mencoba untuk menerangkan gejala-gejala
kejiwaan dari segi lain. Salah satu dari mereka adalah F. J. Gall (1785-1828) yang
mengemukakan teori bahwa jiwa manusia dapat diketahui dengan cara meraba tengkorak
kepala orang yang bersangkutan. Teori yang seolah-olah ilmiah ini pada hakekatnya hanya
bersifat imiah-semu (pseud-science) dan dikenal dengan namaphrenology. Di samping
phrenology, ada pula metode-metode lain yang juga bersifat ilmiah-semu seperti palmistry
(ilmu raja tangan), astrologi (ilmu perbintangan), numerology (ilmu angka-angka) dan
sebagainya.
Tahun 1879 adalah tahun yang sangat penting dalam sejarah psikologi. Pada tahun
inilah W. Wundt (1832-1920) mendirikan laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig
yang dianggap sebagai pertanda berdiri-sendirinya psikologi sebagai ilmu yang terpisah dari
ilmu-ilmu induknya (filsafat dan ilmu faal). Pada tahun ini pula Wundt memperkenalkan
metode

yang

digunakan

dalam

eksperimen-eksperimennya,

yaitu

metode

introspeksi. Wundt kemudian dikenal sebagai seorang yang menganut struktualisme karena ia
mengemukakan suatu teori yang menguraikan struktur (susunan, komposisi) dari
jiwa. Wundt juga dikenal sebagai seorang penganut elementisme, karena ia percaya bahwa
jiwa terdiri dari elemen-elemen. Ia pun dianggap sebagai tokoh asosianisme, karena ia
percaya

bahwa

asosiasi

adalah

mekanisme

yang

terpenting

dalam

jiwa,

yang

menghubungkan elemen-elemen kejiwaan satu sama lainnya sehingga membentuk satu


struktur kejiwaan yang utuh.
Ajaran-ajaran Wundt dibawa ke Amerika oleh E.B Titche-ner (1867-1927) dan dicoba
disebarluaskan di sana, tetapi tidak mendapat respons positif karena orang Amerika yang
terkenal praktis dan pragmatis itu kurang suka pada teori Wundt yang dianggap terlalu
abstrak dan kurang dapat diterapkan secara langsung dalam kenyataan. Orang-orang Amerika
kemudian membentuk aliran sendiri yang disebut fungsionalisme dengan tokoh-tokohnya
antara lain W. James (1842-1910) dan J. M. Cattel (1866-1944), sesuai dengan namanya,
aliran fungsionalisme ini lebih mengutamakan mempelajari fungsi-fungsi jiwa dari pada

mempelajari strukturnya. Bukti dari pada betapa pragmatisnya orang-orang Amerika dapat
kita lihat pada ditemukannya teknik evaluasi psikologi (yang sekarang secara popular dikenal
dengan nama: psikotest) oleh J. M. Cattel.
Sekalipun fungsionalisme sudah menekankan pragmatisme, namun bagi segolongan
sarjana Amerika aliran ini masih dianggap terlalu abstrak. Golongan yang terakhir ini
menghendaki agar psikologi hanya mempelajari hal-hal yang benar-benar obyektif saja,
karena itu meraka hanya mau mengakui tingkahlaku yang nyata (dapat dilihat, dapat di ukur)
sebagai obyek psikologi. Aliran yang di pelopori oleh J. B. Watson (1878-1958) ini
dikembangkan selanjutnya oleh tokoh-tokoh antara lain E.C. Tolman (1886-1959) dan B.F.
Skinner (1904- . . . ).
Sementara itu, di Jerman sendiri ajaran-ajaran Wundt mulai mendapat kritik-kritik
dan koreksi-koreksi. O. Kulpe (1862-1915), salah satu murid Wundt adalah salah satu dari
sekian banyka sarjana yang kurang puas dengan ajaran Wundt dan memisahkan diri dari
Wundt untuk mendirikan alirannya sendiri di Wuzburg. Aliran yang kemudian dikenal
sebagai aliran Wuzburg ini

menolak anggapan Wundt

bahwa

berpikir

itu selalu

berupaimage (bayangan dalam alam pikiran). Menurut Kulpe, pada tingkat berpikir yang
lebih tinggi apa yang dipikirkan itu tidak lagi berupa image, sehingga Kulpe
mengemukakan bahwa ada pikiran yang tak terbayangkan (imageless thought).
Reaksi lain terhadap Wundt di Eropa dating dari aliran psikologi Gestalt. Aliran ini
menolak ajaran elementisme dari Wundt dan berpendapat bahwa gejala kejiwaan (khususnya
persepsi, karena inilah yang banyak diteliti oleh aliran ini) haruslah dilihat sebagai
keseluruhan yang utuh, yang tidak terpecah-terpecah dalam bagian-bagian, harus dilihat
sebagai suatu Gestalt. Tokoh-tokoh dari aliran ini adalah M. Wertheimer (1880-1943), K.
Koffka (1886-1941) dan W. Kohler (1887-1967).
Aliran psikologi Gestalt berkembang lebih lanjut. Antara lain, dengan melalui tokoh
yang bernama Kurt Lewin (1890-1947), yang membawa aliran ini ke Amerika Serikat,
berkembang aliran baru di Amerika Serikat yang dinamakan Psikologi Kognitif. Aliran ini
merupakan perpaduan antara aliran Behaviorisme yang pada tahun 1940-an itu sudah ada di
Amerika Serikat dengan aliran Psikologi Gestalt yang dibawa oleh K. Lewin. Aliran ini
menitik beratkan pada proses-proses sentral (misalnya: Sikap, Ide, Harapan) untuk
mewujudkan tingkah laku.

Perkembangan Psikologi Gestalt setelah berjumpa dengan aliran Behaviorisme di


Amerika Serikat, melahirkan aliran Psikologi Kognitif dengan tokoh-tokohnya antara lain F.
Heider dan L. Festinger. Aliran ini khususnya mempelajari hal-hal yang terjadi dalam alam
kesadaran (kognisi) dan besar pengaruhnya dalam cabang Psikologi Sosial, khususnya untuk
mempelajari hubungan antar manusia.
Akhirnya tidak boleh kita lupakan peranan dokter-dokter, hususnya para psikiater
(ahli penyakit jiwa) dalam perkembangan psikologi. Dokter-dokter ini umumnya tertarik
pada penyakit-penyakit jiwa, khususnya psikoneurosis, dan berusaha mencari sebab-sebab
penyakit ini untuk mencari teknik penyembuhannya (terapi) yang tepat. Teknik-teknik terapi
seperti magnetism dan hipnotisme akhirnya meyakinkan para dokter ini bahwa dibelakang
kesadaran manusia, terdapat kualitas kejiwaan yang lain yang disebut ketidaksadaran (unconciousness) dan justru dalam alam ketidaksadaran itulah terletak berbagai
konflik kejiwaan yang menyebabkan penyakit-penyakit kejiwaan, S. Freud (1856-1939)
adalah orang yang pertama yang secara sistematis menguraikan kualitas-kualitas kejiwaan itu
beserta dinamikanya untuk menerangkan kepribadian orang dan untuk diterapkan dalam
teknik psikoterapi dan aliran atau teorinya disebut sebagai psikoanalisa. Psikoanalisa dikenal
juga sebagai psikologi dalam (depth psychology), karena ia tidak hanya berusaha
menerangkan segala sesuatu yang nampak dari luar saja, melainkan khususnya berusaha
menerangkan apa yang terjadi di dalam ata di bawah kesadaran itu. Pengaruh psikoanalisa ini
besar sekali terhadap perkembangan psikologi sampai sekarang.

B. Aliran-Aliran Psikologi
Tiga aliran awal dalam psikologi
Selama awal dekade sejak berdirinya psikologi sebagai disiplin ilmu yang formal,
terdapat tiga aliran psikologi yang cukup populer. Aliran yang pertama tidak bertahan lama
dan segera dilupakan. Aliran kedua juga tidak bertahan lama kemudian juga lenyap, namun
tetap memiliki pengaruh terhadap psikologi. Aliran ketiga tetap hidup hingga sekarang,
terlepas dari perdebatan seru mengenai apakah aliran ini masih dapat digolongkan sebagai
psikologi ilmiah.

1. Struktualisme
Di amerika, ide-ide Wundt dipopulerkan dengan cara yang sudah dimodifikasi
sedemikian rupa oleh salah satu muridnya, E. B. Titehener (1867-1927) yang menyebut
pendekatan Wundt dengan nama struktualisme. Seperti Wundt, para struktualism
berharap dapat menganalisis berbagai sensasi, gambaran, dan perasaan kedalam elemenelemen dasar. Sebagai contoh, ketika seseorang diminta mendengarkan bunyi mentronom
dan melaporkan secara tepat apa yang ia dengar. Kebanyakan orang menyatakan bahwa
mereka menangkap sebuah pola (seperti KLIK klik klik KLIK klik klik). Meskipun
semua bunyi klik dari sebuah mentronom tersebut pada kenyataannya sama. Atau
seseorang juga bisa diminta menguraikan semua komponen cita rasa yang berbeda-beda
ketika menggigit sebuah jeruk (manis, asam, basah, dan sebagainya).
Terlepas dari program penelitian yang intensif, struktualisme mengalami nasib
yang sama seperti kisah dinosaurus. Setelah anda menemukan struktur-struktur
pembangun sensasi atas imaji dan bagaimana mereka saling berakitan, lalu apa?
Bertahun-tahun kemudian, setelah struktualisme mati, Wolfgang Kohler (1959) teringat
kembali tentang bagaimana ia dan para rekan merespons hal itu ketika masih menjadi
mahasiswa: apa yang dulu mengganggu kami adalah . . . dampaknya, yaitu bahwa
kehidupan manusia yang tampaknya begitu berwarna dan sangat dinamis, ternyata
sebenarnya hanyalah sesuatu yang membosankan.
Kepercayaan struktualisme pada introspeksi yang dilakukan para partisipan juga
menimbulkan persoalan bagi mereka. Terlepas dari pelatihan yang telah diperoleh, para
partisipan yang melakukan introspeksi itu kerap memberikan laporan-laporan yang saling
bertentangan antara satu sama lain. Ketika ditanyai gambaran apa yang muncul dalam
benaknya ketika mendengar kata segitiga, kebanyakan responden menjawab bahwa
mereka membayangkan suatu bentuk visual yang mempunyai sudut-sudut sama;
sedangkan responden lainnya mengatakan melihat suatu bentuk tanpa warna yang
melingkar dengan satu sudut lebih besar daripada sudut yang lainnya. Sejumlah orang
bahkan mengaku bahwa mereka bisa memikirkan segitiga tanpa sama sekali membentuk
bayangan visual (Boring, 1953). Karena itu, sulit untuk mengetahui atribut mental
apakah yang mendasar bagi sebuah segitiga.

2. Fungsionalisme
Pendekatan awal yang lain terhadap psikologi ilmiah adalah fungsionalisme, yang
menekankan fungsi atau tujuan perilaku. Pendekatan ini berlawanan dengan
struktualisme yang senantiasa berusaha menganalisis dan mendeskripsikan perilaku.
Salah satu pemimpin fungsionalisme adalah William James (1842-1910), seorang filsuf,
dokter, sekaligus psikolog Amerika. Williams James berpendapat bahwa pencarian
struktur pembangun pengalaman, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Wundt dan
Titchener, adalah usaha yang sia-sia dan membuang waktu. Otak dan pikiran terusmenerus berubah , menurutnya. Ide-ide yang tetap permanen-mengenai segitiga atau
apapun juga, tidak muncul secara berkala sebelum adanya cahaya yang menyoroti
kesadaran (footlight of consciousness). upaya untuk mengungkap sifat dasar pikiran
melalui introspeksi,sebagaimana yang ditulis oleh James (1890/1950), ibarat
menangkap sesuatu yang berputar agar dapat melihat gerakannya atau mencoba
menyalakan lampu secepat mungkin untuk dapat melihat seperti apakah kegelapan itu.
Bila

para

struktualis

memperhatikan apa yang

terjadi

ketika

organisme

melakukan sesuatu, para fungsionalis mempermasalahkan bagaimana dan mengapa.


Mereka sedikit terinspirasi oleh teori-teori evolusi dari ilmu alam inggris, Charles Darwin
(1809-1882). Darwin berpendapat bahwa pekerjaan para ahli biologi tidak sekedar
mendeskripsikan gerakan membusungkan dada seekor burung dara atau warna pucat
seekor kadal, misalnya, namun juga menggambarkan bagaimana atribut-atribut ini dapat
mendukung kelangsungan hidup. Apakah hal-hal tadi membantu hewan unt? Demikian
pula, para fungsionalis ingin mengetahui bagaimana berbagai perilaku dan proses
mental yang spesifik dapat membantu seseorang atau seekor hewan beradaptasi dengan
lingkungannya. Oleh karena itulah para fungsionalis berusaha mencari penjelasan
mengenai penyebab-penyebab yang mendasari serta konsekuensi praktis dari setiap
perilaku dan proses mental ini. Tidak seperti para struktualis, para fungsionalis merasa
bebas untuk mengambil dan memilih di antara berbagai metode yang ada. Mereka juga
memperluas bidang psikologi dengan melakukan penelitian terhadap anak-anak, hewan,
pengalaman religious, dan apa yang disebut oleh James sebagai the stream of
consciousness sebuah istilah yang masih digunakan berkat keindahannya dalam

mendeskripsikan cara pikiran mengalir, seperti sebuah sungai, yang aliran airnya
bergulung-gulung, kadang kala tenang, kadang kala bergolak.
Sebagai sebuah aluran psikologi, fungsionalisme, seperti halnya struktualisme,
tidak berusia panjang. Aliran ini kurang memiliki teori atau program penelitian yang
tepat serta kurang mampu menarik pengikut. Akhirnya penelitian tentang kesadaran dan
konsep aliran ini tidak dapat bertahan. Meskipun demikian, penekanan para fungsionalis
terhadap penyebab dan konsekuensi perilaku telah menentukan perjalanan psikologi
sebagai suatu ilmu yang ilmiah.

3. Psikoanalisis
Abad ke-19 juga diwarnai oleh perkembangan berbagai terapi psikologi sebagai
contoh, di amerika serikat muncul gerakan yang sangat popular dan tersebar luas yang
disebut mind cure yang berkembang dari tahun 1830 hingga 1900. mind cure
merupakan pengkoreksian hasil pikiran yang dianggap salah kemudian diubah menjadi
kecemasan, kebahagiaan dan rasa depresi.
Bentuk terapi yang memiliki pengaruh terbesar secara mendunia selama hampi 1
abad kini berasal dari fienna, Australia. Sementara para peneliti di eropa dan amerika
bekerja di laboratorium berjuang menempatkan psikologi sebagai ilmu yang ilmiah,
Sigmund Freud (1856-1939), seorang neurolog yang tidak dikenal mendengar laporan
pasien-pasiennya mengenai depresi, kecemasan dan sejumlah kebiasaan obsesif di dalam
ruang kerjanya. Freud menjadi yakin bahwa banyak gejala pasiennya ternyata
diakibatkan oleh penyebab mental dan bukan penyebab fisik. Freud berkesimpulan
bahwa penderita (distress), yang mereka alami, terkait dengan konflik serta trauma
emosional yang terjadi di masa kanak-kanak dan hal itu terlalu menakutkan untuk diingat
secara sadar, misalnya hasrat seksual yang terlarang tehadap orang tua.
Freud berpendapat bahwa kesadaran yang kita ketahui hanyalah puncak dari
gunung es mental. Dibalik permukaan yang terlihat, terdapat bagian pikiran yang tidak
sadari, yang mengandung berbagai harapan, gairah, dan rahasia yang menimbulkan
perasaan bersalah, teriakan yang tidak terucapkan, dan konflik antara hasrat dan
kewajiban yang tidak terungkap. Banyak diantara dorongan dan pikiran ini yang bersifat
seksual atau agresif. Kita tidak menyadarinya seiring dengan tenggelamnya kita dalam

kesibukan sehari-hari, meskipun berbagai dorongan dan pikiran ini dapat muncul dalam
mimpi, kesalahan ucap (slip of the tongue), ketidaksengajaan yang tampak, bahkan
gurauan. Freud (1905) menulis, tidak ada orang yang dapat menyimpan rahasia, jika
lidahnya tidak berbicara melalui jari-jarinyalah ia akan berkata-kata, pengkhianatan akan
mengalir setiap pori-porinya.
Ide-ide freud bukanlah sensasi sesaat. Buku pertamanya yang berjudul The Inter
Pretation Of Dreams (1900/1953), hanya terjual sebanyak 600 buah 8 tahun sejak
dipublikasikan untuk pertama kali. Namun, ide-idenya akhirnya berkembang menjadi
teori kepribadian dan metode psikoterapi yang luas yang dikenal sebagai psikoanalisis.
Kebanyakan konsep freud dulu, sehingga sekarang masih ditolak oleh para psikolog yang
terorientasi empiris, seperti yang akan kita bahas. Meskipun demikian, konsep ini
memiliki pengaruh yang besar terhadap filsafat, literature, dan seni abad ke-20. Kini,
nama freud sudah sangat terkenal menyamai Einstein.
Sejak awal berkembangnya filsafat, ilmu alam, dan kedokteran psikologi telah
berkembang menjadi disiplin ilmu yang kompleks yang memiliki banyak spesialisasi,
perspektif, serta metode. Dewasa ini, psikologi telah menjadi keluarga yang besar. Para
anggota keluarganya ini memiliki nenek moyang yang sama dan ada banyak sepupu yang
telah bergabung. Meskipun demikian, ada beberapa orang yang bertengkar dan nada
yang enggang berbicara satu sama lain.
Psikologi adalah ilmu yang masih muda. Ia terpisah menjadi ilmu yang berdiri
sejak 1879, yaitu pada waktu didirikannya laboratorium psikologi yang pertama oleh
Wilhelm Wundt (1832-1920) di Leipzig, Jerman.
Meskipun demikian, jauh sebelumnya, yaitu sejak zaman Yunani Kuno, gejalagejala psikologis sudah banyak menarik perhatian para sarjana. Ahli-ahli filsafat
diantaranya Plato dan Aristoteles banyak sekali megemukakan pikiran-pikiran mengenai
gejala-gejala psikologis. Kemudian, Descartes (1596-1650) datang dengan semboyannya
COGITO ERGO SUM (saya berfikir maka saya ada) dan sejak itu timbul aliran yang
mementingkan kesadaran dalam psikologi.
Setelah itu berbagai macam ilmu lainnya memberi pengaruhnya terhadap
pertumbuhan psikologi, antara lain biologi, ilmu alam dan ilmu kimia. Hal ini terjadi
karena para ahli dari ilmu-imu itu juga mulai memperhatikan gejala-gejala psikologis.

Nyatalah disini, bahwa meskipun pada saat ini psikologi tidak lagi mempunyai
hubungan yang erat dengan ilmu-ilmu alam dan biologi, tetapi dahulu ilmu-ilmu itu ikut
memberikan sumbangan bagi lahirnya psikologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri.

Dua pendekatan pertama


Sebelum sampai pada psikologi eksperimentil oleh Wundt, maka terdapat dua teori yang
mulai megarahkan berdirinya psikologi sebagai ilmu.
Kedua teori ini adalah:
1.

Psikologi pembawaan
Teori ini mengatakan bahwa jiwa terdiri dari beberapa faktor yang dibawa sejak
lahir yang disebut pembawaan atau bakat. Pembawaan terpenting adalah pikiran, perasaan,
dan kehendak, yang masing-masing tebagi-bagi lagi kedalam beberapa jenis pembawaan
yang lebih kecil. Tingkah laku atau aktivitas jiwa ditentukan oleh pembawaan-pembawaan
ini. Tokoh terkenal ini adalah Frans Joseph Gall (1785-1828) yang mencoba menemukan
pembawaan-pembawaan itu di otak. Dengan teori ini gall mengajukan suatu metode untuk
mengenal seseorang dengan memeriksa tengkorak kepalanya dan metode ini dikenal
dengan nama frenologi. Metode ini tidak bertahan lama karena kurang kuat dasar-dasar
ilmiahnya.

2.

Psikologi asosiasi
Disini tidak diketahui adanya faktor-faktor kejiwaan yang dibawa sejak lahir. Jiwa.
Menurut teori ini, berisi ide-ide yang didapatkan melalui panca indera dan saling
diasosiakan satu sama lain melalui prrinsp-prinsip:
a. Kesamaan
b. Kontras
c. Kelansungan
Tingkah laku diterangkan oleh teori ini melalui prinsip asosiasi ide-ide, misalnya :
Seorang bayi yang lapar diberi makanan oleh ibunya. Melalui panca inderanya bayi
itu mengetahui bahwa rasa lapar selalu diikuti oleh makanan (prinsip kelangsungan)
dan makanan itu menghilangkan rasa laparnya. Lama kelamaan rasa laparnya diasosiasikan
dengan makanan dan tiap kali ia lapar, ia akan mencari makanan.

Demikian juga halnya dengan ide-ide lain yang mempunyai persamaan-persamaan


(misalnya makanan dengan minuman, burung dengan kupu-kupu, kursi dengan bangku) atau
yang saling berlawanan (misalnya siang dengan malam, pria dengan wanita, air dengan api)
saling diasosiasikan satu dengan yang lainnya melalui prinsip asosiasi yang serupa.

Pengaruh-pengaruh lain terhadap psikologi


Francis Galton (1822-1911), perintis psikologi eksperimentil di inggris, mempelajari
untuk pertama kalinya perbedaan-perbedaan antara satu orang dengan orang lainnya dalam
berbagai kemampuan (perbedaan-perbedaan individual). Karena itu ia mempunyai peranan
penting dalam pengembangan test intelegensia dikemudian hari.
Charles Darwin (1809-1882), adalah juga berasal dari inggris dan terkenal dengan teori
evolusinya. Disebabkan pendapat Darwin bahwa ada kontinuitas antara hewan dan manusia
timbullah psikologi komparatif (psikologi perbandingan).
Anton Mesmer (1734-1815), ia membawa pengaruh dari dunia limu kedokteran dan
pengobatan, khususnya psikiatri, terutama sekali dalam pengobatan penderita-penderita sakit
jiwa. Ia memperkenalkan hipnotisme yang kemudian dikembangkan dan mempengaruhi
timbulnya teori tentang alam ketidaksadaran. Aliran yang menekankan pentingnnya alam
ketidakasadaran dalam teori-teorinya adalah psikoanalisa yang ditemukakn oleh Sigmund Freud
(1856-1939).

Teori-teori dalam psikologi


Setelah psikologi berdiri sendiri, lambat laun para ahli psikologi mengembangkan
sistimatik dan metode-metodenya sendiri, yang saling berbeda satu sama lain. Dengan demikian
timbul apa yang disebut aliran-aliran dalam psikologi.
Dewasa ini aliran-aliran itu tidak begitu berpengaruh lagi, tetapi dahulu sangat penting
artinya dalam membina semangat para ahli dalam berkompetisi mendapatkan penemuanpenemuan baru dan saling kritik dan koreksi terhadap aliran-aliran lawannya. Aliran-aliran itu
mengajukan teori-teorinya masing-masing yang banyak diantaranya menjadi dasar daripada
teori-teori psikologi modern masa kini. Beberapa aliran yang terkemuka dengan teori-teorinya
masing-masing akan dikemukakan dengan teori-teorinya masing-masing akan dikemukakan di
bawah ini.

1. Psikologi Gestalt.
Kira-kira pada saat di amerika serikat tumbuh aliran behaviourism, dijerman timbul
pula aliran yang disebut psikologi Gestalt. Gestalt adalah sebuah kata jerman yang sering
diterjemahkan kedalam bahasa inggeris sebagai form atau configuration (bentuk). Aliran ini
di umumkan pertama kali oleh Max Wertheimer pada tahun 1912. Tokoh-tokoh lainnya
adalah Kurt Koffka (1886-1941) dan Wolfgang Kohler (1887-1967). Mereka kemudian
berpindah ke Amerika karena sebagai keturunan Yahudi mereka jadi sasaran kejaran NAZI.
Teori yang mereka ajukan adalah bahwa pengamatan atau persepsi suatu situasi rangsang
ditangkap secara keseluruhan. Jadi, persepsi bukanlah penjumlahan rrangsang-rangsang kecil
(detail) yang ditangkap oleh alat-alat indera, melainkan merupakan suatu keseluruhan yang
berarti detail-detail tadi. Misalnya, kalau kita mengamati sebuah mobil, kita tidak melihatnya
sebagai susunan ban, lampu, kaca, pintu, alat kemudi dan lain-lain, melainkan kita
mengamatinya benar-benar sebagai sebuah mobil, yang mempunyai arti sendiri yang terlepas
daripada detail-detailnya. Karena itulah, meskipun mobil itu kita lihat dari depan, dari belakang,
dari samping, dari dekat, dari jauh, dalam gelap dan sebagainya, selalu kita tangkap sebagai
mobil, tidak sebagai benda lain. Eskperimen Gestalt yang pertama adalah tentang pengamatan
gerakan. Kalau beberapa lampu diletakkan berderet dan dinyalakan berganti-berganti dengan
cepat, maka kita tidak akan melihat lampu-lampu itu menyala berganti-gantian, melainkan kita
akan lihat sebuah sinar yang bergerak. Gejala ini disebut phiphenomenom yang sering kita
lihat pada lampu-lampu reklame. Eksperimen lainnnya adalah mengenai wujud dan latar (figure
and ground), yaitu kecenderungan untuk melihat sebagian dari suatu pola sebagai suatu wujud
dilator belakangnya.
Jadi menurut psikologi Gestalt pengamatan kita tergantung pada pola rangsang yang
sampai pada kita dan cara kita mengorganisir pola tersebut.

2. Psikologi Behaviorisme
Psikologi behaviorisme muncul di Amerika Serikat pada tahun 1913. Sebagai peletak
dasar aliran ini adalah John Broadus B. Watson (1878-1958). Ia adalah seorang guru besar
psikologi di Universitas John Hopkins. Psikologi Behaviorisme muncul untuk menentang teoriteori aliran psikologi sebelumnya yaitu struktualisme di Jerman, dan fungsionalisme di Amerika

Serikat. Tokoh-tokoh yang banyak mengembangkan teori psikologi Behaviorisme antara lain
Thondrike, Pavlop, dan Skinner.
Para ahli psikologi itu menekankan bahwa psikologi sebagai ilmu social perlu
memurnikan metodenya dengan belajar langsung dari ilmu-ilmu sejenisnya, sehingga dengan
demikian menjadi lebih empiris dan eksperimental dalam analisisnya terhadap perilaku manusia.
Aliran yang paling keras menentang pendekatan psikoanalisis atau perilaku manusia dan
menekankan pada metodologi yang lebih objektif adalah mazhab yang biasa disebut
behaviorisme, mereka yang bekerja dibawah label behavioris tidak memiliki metodologi yang
sama. Namun mereka memiliki pandangan yang sama tentang hakekat manusia dan tujuan
psikologi. Semua yang bergabung dalam aliran behaviorisme sependirian dalam kecurigaan
mereka terhadap kesadaran (conscousness) sebagai kategori atau pegangan pengertian yang
berguna dan melepaskan acuan budi, psike atau jiwa. Seperti makhluk hidup pada tingkat di
bawahnya, manusia didorong untuk berbuat oleh kekuatan-kekuatan yang ada di dalam
lingkungannya, dan menanggapi sebagai makhluk fisiologis. Pengamatan (observation),
peramalan (prediction), dan pengendalian (control)perilaku manusia itulah tugas psikologi.
Dengan amat jelas Skinner menyatakakan pendiriannya bahwa manusia perlu berusaha
menemukan apakah sesungguhnya personalitas, keadaan jiwa, ciri-ciri watak, rencana, maksud,
tujuan, atau prasyarat manusia agar dapat menganalisis perilakunya secara ilmiah. (Crapps,
1993: 101-102).
Behaviorisme adalah aliran dalam psikologi yang hanya mempelajari tingkah laku yang
nyata, yang terbuka, yang dapat diukur secara objektif. Aliran ini mempelajari perbuatan
manusia bukan dari kesadarannya, melainkan hanya mengamati perbuatan dan tingkah laku yang
berdasarkan kenyataan, sedangkan pengalaman-pengalaman batin dikesampingkan. Sehingga
seringpula orang menyebut aliran ini sebagai aliran psikologi tanpa jiwa.
Tidak mengherankan bahwa behaviorisme tidak memberi perhatian banyak kepada
agama. Penganut behaviorisme yang ketat, juga bila mereka bersifat dengan agama, cenderung,
cenderung mengesampingkan atau mengabaikan agama dalam karya mereka. Pengandaian
mereka adalah bahwa perilaku keagamaan, sebagaimana segala perilaku lain, merupakan akibat
dari proses tanggapan fisiologis manusia. Dengan demikian tidak menyediakan cukup
kemungkinan untuk menggali agama dari segi metafisisnya. Maka psikologi ilmiah yang
didominasi oleh mazhab behavioristis jarang menyinggung secara serius topic agama. Buku-

buku pokok yang ditulis kaum behavioris menyentuh agama sambil lalu saja. Uraian yang luas
dan sistematis tentang agama di kalangan mereka, yang menekankan unsur biologis, yang dapat
dieksperimentasikan dan yang dapat diukur, amat sulit ditemukan. Meskipun demikian, mazhab
itu penting bagi pengembangan psikologi agama yang komprehensif, pertama karena perilaku
keagamaan kadang-kadang ditafsirkan dari sudut pandangnya. Kedua, barangkali lebih penting,
karena behaviorisme memiliki pengandaian tentang manusia yang berat bernada teologi.
(Crapps, 1993: 103).
Pada dasarnya psikologi behaviorisme lebih menekankan pada kekuatan-kekuatan luar
yang berasal dari lingkungan mereka berpendapat bahwa manusia adalah korban yang fleksibel,
dapat dibentuk dan pasif dari lingkungannya yang menentukan tingkah lakunya. Kaum ini yakin
kalau dalam waktu yang bersamaan, banyak bayi yang dapat dibentuk tingkah lakunya sesuai
dengan kehendak kita.
Demikian juga Freud, Darwin, serta kaum pendukungnya, memandang bahwa manusia
merupakan salah satu binatang. Tanpa ada perbedaan yang esensial dengan binatang yang
lainnya dan memiliki kecenderungan merusak dan anti social yang sama, hanya menurut Watson,
manusia berbeda dalam hal bentuk tingkah laku yang ditampilkannya. Nampaknya hal ini wajar
dikatakan karena mereka melakukan eksperimen dan penyelidikannya terhadap binatang, yang
kemudian digeneralisasikan terhadap manusia. Bahkan mereka percaya bahwa persamaan hakiki
antara manusia dan binatang, maka untuk mudahnya demi alas an subjektivitas, pada psikologi
behavioris

mendasarkan

sebagian

karya

mereka

pada

percobaan-percobaan

dengan

menggunakan binatang. Salah satunya adalah percobaan yang dilakukan oleh Skinner yang
dikenal dengan teori Stimulus-Respon. Teori ini mempelajari rangkaian yang menimbulkan
respon

dalam

bentuk

perilaku,

mempelajari

ganjaran (reinforcement)

dan

hukuman (punishment) yang mempertahankan respon itu, dan mempelajari perubahan perilaku
yang ditimbulkan karena adanya perubahan pola ganjaran dan hukuman. Skinner berpendapat
bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh stimulus saja dan tidak ada faktor perantara
lainnya. Pendekatan S-R (baca: stimulus-respon) tidak mempertimbangkan pengalaman
sadar (conscious experience) dan apa yang terjadi dalam organisme seseorang. Lebih lanjut
Watson mengatakan, bahwa tingkah laku adalah komplek dan dapat dianalisa menjadi kesatuan
dari stimulus (rangsangan) dan respon, reaksi terhhadap rangsangan yang disebutnya sebagai
reflek. Respon ada dua jenis, yaitu yang dapat dipelajari (learned), seperti membaca terhadap

stimulus tulisan dan respon yang tidak dapat dipelajari (unlearned) misalnya menangis karena
badannya sakit atau tertawa karena melihat ada hal yang lucu.
Selain Skinner, Pavlop, yang juga seorang dari behaviorisme, mengatakan hasil
penyelidikannya tentang reflek berkondisi (conditional reflex) bahwa tingkah laku itu sebenarnya
tidak lain merupakan rangkaian reflek kondisi, yaitu reflek-reflek yang terjadi setelah adanya
proses kondisi (Sarwono: 2009).
Dari teori yang dikemukakan di atas, secara sederhana dapat dikemukakan bahwa
psikologi behaviorisme memandang manusia ketika dilahirkan pada dasarnya tidak membawa
bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan respon-respon terhadap stimulasi yang
diterimanya dari lingkungan sekitarnya. Pandangan ini beranggapan bahwa apapun jadinya
seseorang, maka satu-satunya yang menentukan adalah lingkungannya. Kaum behavioris
mengagungkan proses belajar asosiatif atau proses dengan stimulus repson ini sebagai penjelasan
tentang munculnya tiingkah laku manusia.

3. Psikologi Psikoanalisa
Tokoh

pendiri

psikoanalisa

yang

disebut

juga

aliran

psikologi

dalam (dept

psychology) adalah Sigmund Freud. Ia dilahirkan di kota Freiberg Jerman pada tanggal 6 Mei
1856 dan meninggal di London tahun 1939.
Istilah psikoanalisa diciptakan oleh Freud sendiri dan untuk pertama kali dimunculkan
pada tahun 1896. Sebagaimana dikemukakan oleh Kees Bertens, bahwa Sigmun Freud
menjelaskan pengertian psikoanalisa ke dalam tiga arti, yaitu pertama, istilah psikoanalisa
dipakai untuk menujukkan satu metode penelitian terhadap proses-proses psikis, seperti mimpi,
yang sebelumnya hampir tidak terjangkau oleh penelitian ilmiah. Kedua, istilah ini menunjukkan
juga suatu teknik untuk mengobati gangguan-gangguan psikis yang dialami pasien-pasien
neurotis. Teknik pengobatan ini bertumpu pada metode penelitian tadi. Ketiga, istilah yang sama
dipakai pula dalam arti lebih luas lagi untuk menunjukkan seluruh pengetahuan psikologis yang
diperoleh melalui metode dan teknik tersebut di atas. Dalam arti terakhir ini kata psikoanalisa
menyatu pada suatu ilmu.
Penemuan Freud yang paling fundamental dan banyak mendapat perhatian dari para
psikologi adalah tentang peranan dinamis ketidaksadaran dalam hidup psikis manusia. Sigmun
Freud berpendapat bahwa hidup psikis manusia sebagian besar dikuasasi oleh alam

ketidaksadarannya. Berbagai kelainan menurutnya dapat disebabkan karena faktor-faktor yang


terdapat dalam alam ketidaksadarannya itu. Dengan demikian untuk menganalisa jiwa seseorang
kita harus melihat keadaan dalam ketidaksadarannya yang tertutup oleh alam kesadaran. Faktorfaktor yang ada dalam alam ini bukan merupakan faktor yang statis, melainkan mempunyai
faktor yang dinamis, selalu terdapat pergeseran, pergerakan akibat saling mempengaruhi antar
faktor tersebut.
Dalam pandangan Freud, seluruh kepribadian manusia terdiri dari tiga sistem yang
penting, yaitu; pertama, Id (es) yang terletak dalam alam ketidaksadaran (unconciouness) dan
berisi nafsu-nafsu, insting, dan sebagainya yang tidak disadari dan menuntut pemuasan. Psrinsip
yang dianut Id adalah prinsip kesenangan (pleasure principle) dalam hal ini dorongan seks
adalah yang terpenting.
Kedua, ego (ich) adalah pelaksana kepribadian yang bertugas melaksanakan dorongandorongan dari Id dan harus menjaga benar bahwa pelaksanaan dorongan-dorongan primitif
tersebut tidak bertentangan dengan kenyataan (reality principle). Ego yang dikuasai Id akan
menjadikan seseorang terkena psikopat, yaitu tidak memperhatikan norma-norma dalam segala
tindakannya. Ketiga, super ego (uber ich) adalah wewenang moral dari kepribadian, yang
mencerminkan yang ideal dan bukan yang real, dan memperjuangkan kesempurnaan, bukan
kenikamatan.
Secara singkat Freud menjelaskan bahwa sejak lahir struktur psychei anak hanyalah Id
yang selalu menuntut kepuasan, namun dalam perkembangannya kemudian muncul Ego dan
Super Ego. Pengaruh-pengaruh masa lalu, alam tidak sadar dan dorongan biologis tersebut selalu
menuntu kenikmatan untuk segera dipenuhi. Dengan demikian tidak heran kalau Freud
memandang bahwa hakekat manusia adalah buruk, kejam, liar, non etis, dan berakibat pada
kenikmatan jasmani.
Sisi pemikiran yang lain, Freud menganggap agama tidak lain merupakanrepetition of the
experience of the child yaitu pengulangan pengalaman masa kanak-kanak. Freud mencoba
membandingkan fenomena agama dengan fenomena neurosis obsesi atau hasrat yang dijumpai
pada diri anak-anak, oleh karena itu Freud menganggap bahwa agama merupakan neurosis
kolektif yang disebabkan oleh kondisi yang mirip dengan kondisi penyebab munculnya neurosis
pada anak-anak.

Dari beberapa pandangan di atas, jelaslah bahwa Freud secara tegas menolak fenomena
agama pada diri manusia, karena ia menganggap bahwa agama hanya satu ilusi yang
menyesatkan. Pandangan ini sangat kontradiktif sekali dengan pandangan agama-agama di
dunia.

4. Psikologi Humanistik
Istilah psikologi humanistik diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada
awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Maslow. Abraham Maslow sendiri
menyebut psikologi sebagai kekuatan ketiga (the third force). (Koswara, 1991:112). Psikologi
humanistic timbul sebagai reaksi terhadap pandangan-pandangan psikoanalisis dan behaviorisme
yang dianggap telah mereduksikan hakekat dan sifat-sifat manusia dalam taraf non manusiawi,
serta menganggap bahwa unsur lingkungan penentu tunggal perilaku manusia.
Konsepsi fundamental psikologi humanistik mengenai manusia adalah berakar dari aliran
filsafat

modern,

yakni

eksistensialisme.

Eksistensialisme

merupakan

filsafat

yang

mempermasalahkan manusia sebagai individu dan sebagai problema yang unik dengan
keberadaannya. Manusia menurut eksistensialisme adalah hal yang mengada dalam dunia (being
in the world) dan menyadari penuh keberadaannya. (Koswara, 1991:3).
Koswara (1991) mengemukakkan bahwa dari konsepsi inilah kemudian para ahli
humanistic menekankan bahwa individu adalah penentu bagi tingkah laku dan pengalamannya
sendiri. Manusia adalah agen yang sadar, bebas memilih atau menentukan setiap tindakannya.
Selanjutnya, psikologi humanistic memusatkan perhatiannya untuk menelaah kualitas-kualitas
insanni, yakni sifat-sifat dan kemampuan khusus manusia yang terpatri pada eksistensi manusia,
seperti kemampuan abstraksi, daya analisis dan sintesis, imajinasi, kreativitas, kebebasan
berkehendak, tanggung jawab, aktualisasi diri, dan lain sebagainya. Gejala kejiwaan ini bukan
merupakan pengejawantahan kualitas keilahiyan yang sangat sacral dan ideal. Gejala-gejala itu
adalah hal yang tercakup dalam cita, rasa, karsa, dan karya sera karakteristik manusia lainnya.
Selain itu psikologi humanistic memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki
otoritas atas kehidupan dirinya sendiri. Asumsi ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk
yang sadar, mandiri, pelaku aktif, yang dapat menentukan (hampir) segalanya untuk dirinya
sendiri. Manusia bisa dikatakan sebagai makhluk yang self determining being atau yang mampu

sepenuhnya menentukan tujuan-tujuan yang paling diinginkannya dan cara mencapai tujuan itu
yang dianggapnya paling tepat.
Maslow dengan optimis kemudian menyusun sederetan kemampuan yang bisa dicapai
manusia sehat yang mengaktualisasikan diri secara penuh, termasuk di dalamnya unsur Tuhan
dan ketuhanan yang diakui secara ilmiah. Jika dianalisa, maka corak psikologi humanistic ini
cenderung kepada corak filsafat antropolosentrisme, karena mengembangkan citra manusia
bebas, berdaulat, cerdas, pusat dari segala relasi dan penentu tunggal segala peristiwa. Psikologi
humanistic dari sisi pemikiran tokohnya dapat dibagi ke dalam dua golongan. Pertama adalah
kelompok serius, yang mencakup tokoh seperti Rolo May, Carl Rogers, dan Gordan W. Allport.
Kedua adalah kelompok dangkal, yang didalamnya bergabung pendukung pemikiran
positif (positive thinking). Meski kedua kelompok atau aliran itu berbeda, namun diikat oleh
suatu sikap yang sama, yaitu menolak teori dan metode behaviorisme dan berminat untuk
meneguhkan serta mengembangkan potensi manusia. Perwujudan kemampuan manusia
merupakan tema yang setiap kali dimunculkan. Tema itu digabungkan dengan kegairahan dan
optimisme yang biasanya menjadi ciri khas kaum agamawan.

DAFTAR PUSTAKA

Sarwono, Sarlito. W, Pengantar Psikologi Umum, Jakarta, Rajawali Press, 2009.


Weiten, Wayne, Psychology: Themes and Variations, 9th Edition, Las Vegas, University of
Nevada, 2013.
Boring, Edwin G, A History of Introspection, Harvard University, Psychological Bulletin, 1953.
Crapps, Robert W., PSIKOLOGI, Yogyakarta, Kanisius, 1993.
Koswara, E., Teori-Teori Kepribadian, Bandung, PT. Eresco Bandung, 1991