Anda di halaman 1dari 4

Nama

: Qori Fitria Nur Ashriyah

NPM

: 1506800792

Kelas

: B Ekstensi 2015
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Masalah Cedera
Pada Anak Usia Pra Sekolah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), cedera merupakan suatu


kejadian atau peristiwa yang dapat menyebabkan seseorang celaka. Cedera sering
terjadi pada anak-anak, penyebabnya biasanya berawal dari rasa keingintahuan
anak untuk menelusuri sesuatu dan bereksperimen yang tidak seimbang dengan
kemampuan anak dalam memahami sesuatu atau bereaksi terhadap bahaya yang
akan terjadi. Cedera dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik dari luar
(lingkungan) maupun dari dalam diri anak sendiri (kuschithawati, 2007). Ada
beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cedera pada anak antara lain
kurangnya pengawasan orang tua, dapat kebebasan dari orang tua untuk
melakukan kegiatan apapun, kecanggungan, kelambanan yang disebabkan karena
buruknya koordinasi otot anak, anak yang terlalu aktif, kurangnya pengendalian
emosi atau sebagai bentuk pemberontakan anak terhadap orang tua yang terlalu
melindungi (kuschithawati, 2007).
Menurut Behrmen (2000), faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya
risiko cedera pada anak antara lain : umur, jenis kelamin, ras, status sosial
ekonomi, dan lingkungan.
1. Umur
Pada anak baru belajar jalan dan anak usia pra sekolah risiko terbesar yang
dapat tejadi yaitu luka bakar, tenggelam, dan jatuh. Ketika anak semakin
bertambah aktif dalam gerakan dan semakin besar rasa ingin tahu dan
menjelajah keracunan pada anak bisa saja terjadi, karena anak belum
mempunyai pemahaman untuk mengetahui bahwa obat dapat menjadi racun
atau beberapa tumbuhan di halaman rumah tidak boleh dimakan. Mereka
tidak mengerti bahaya yang ada pada kolam renang atau jendela tingkat dua

yang terbuka. Umur juga dapat mempengaruhi keparahan cedera serta risiko
cacat jangka-panjang.
2. Jenis Kelamin
Mulai pada sekitar umur 1-2 tahun dan berlanjut sampai umur dekade ke-7,
laki-laki mempunyai frekuensi cedera lebih tinggi daripada wanita.
Contohnya, anak laki-laki dapat mempunyai frekuensi cedera yang lebih
tinggi karena mereka menggunakan sepeda lebih sering atau karena lebih
lama.
3. Ras
Anak kulit hitam mempunyai angka cedera yang lebih tinggi daripada anak
kulit putih. Angka kematian kebakaran dan luka bakar pada anak prasekolah
kulit hitam tiga kali lebih lebih tinggi daripada kulit putih. Alasan perbedaan
ras ini tampak terutama dihubungkan dengan kemiskinan.
4. Status Sosio Ekonomi
Kemiskinan merupakan salah satu faktor risiko yang paling penting untuk
cedera masa anak. Angka mortalitas karena kebakaran, tabrakan, kendaraan
bermotor, dan tenggelam adalah dua sampai empat kali lebih tinggi pada anak
miskin daripada anak yang tidak miskin.
5. Lingkungan
Kemiskinan meningkatkan risiko cedera pada anak yang dapat berpengaruh
pada lingkungan terutama pada lingkungan luar. Anak yang miskin
meningkatkan risiko sampai cedera berat karena mereka terpajan terhadap
lebih banyak bahaya dalam lingkungan daripada anak lain. Mereka mungkin
hidup dalam perumahan lingkungan luar yang buruk seperti tinggal di
bantaran sungai, tinggal di pinggir rel kereta api, tinggal di pinggir jalan.
Lingkungan di dalam rumah dapat menjadi faktor risiko cedera pada anak,
diantaranya kondisi lantai, tangga rumah, pencahayaan rumah, perabotan
rumah tangga.
Lingkungan di rumah sakit juga dapat berisiko cedera terjadi pada anak,
yaitu risiko jatuh pada anak. Pasien yang berisiko untuk jatuh yang umumnya
disebabkan oleh faktor lingkungan dan faktor fisiologis yang dapat berakibat
cidera. Faktor lingkungan seperti lantai rumah sakit, tempat tidur pasien,

pencahayaan ruangan. Faktor fisiologis seperti kondisi anak yang sedang sakit,
kondisi psikologis anak.

Menurut Khasanah (2009) dalam Nugratmaja (2011), faktor-faktor yang dapat


mempengaruhi terjadinya kecelakaan pada anak dapat dikatagorikan menjadi tiga
bagian, yaitu:
1. Karakteristik Anak
Karakteristik ini merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui
insidensi, tipe dan resiko cidera yang dialami anak. Karakteristik anak
meliputi umur dan tingkat perkembangan, jenis kelamin, kemampuan
kognitif, afektif dan motorik serta tingkat aktivitas anak. Secara naluri anak
mempunyai rasa ingin tahu dan mereka akan belajar dari apa yang mereka
lihat, sentuh, dengar, cium dan mereka rasakan.
Pada anak berkebutuhan khusus seperti retardasi mental kemampuan kognitif,
afektif dan motorik merupakan faktor terbesar terjadinya risiko cedera.
Karena keterlambatan motorik dan kognitif mereka sehingga mereka rentan
terhadap cedera.
2. Karakteristik Agen Penyebab
Agen penyebab kecelakaan yang penting untuk diketahui adalah air, api,
mainan, tempat bermain dan bahan beracun. Menghindari kemungkinan
kecelakaan dapat dilakukan dengan melibatkan anak dengan memberikan
pemahaman terhadap agen penyebab dan bahaya yang bisa terjadi sehingga
anak mengerti dan dapat menghindarinya.
3. Karakteristik Lingkungan
Lingkungan fisik dan sosiokultural dapat mempengaruhi terjadinya
kecelakaan pada anak. Lingkungan fisik meliputi lingkungan rumah dan
lingkungan luar rumah. Lingkungan sosiokultural meliputi pola asuh, respon
keluarga dan kepedulian dari pemerintah atau masyarakat sekitar.

Daftar Pustaka

Behrmen, Richard E. (2002). Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol. 1. Jakarta :


EGC
Kuschithawai, Susy. (2007). Faktor Risiko Terjadinya Cedera Pada Anak
Usia Sekolah Dasar. Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat Online, Vol.
23, No. 3. http: //jurnal.ugm.ac.id/bkm/article/view/3620/3108. (Diakses
pada tanggal 14 September 2016 pukul 21.00 WIB)
Nugratmaja, Aji S. (2011). Penatalaksanaan Pencegahan Kecelakaan Anak
Usia Prasekolah Di Dusun Geblagan Kecamatan Kasihan Kabupaten
Bantul. Yogyakarta : Universitas Muhammadiyah