Anda di halaman 1dari 20

Karakteristik Anak SD Kelas Rendah

Anak SD yang berada di kelas rendah adalah anak yang berada pada rentang usia dini.
Massa usia dini ini merupakan massa perkembangan anak yang pendek tetapi massa yang sangat
penting bagi kehidupannya, oleh karena itu seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong
agar potensi anak akan berkembang secara optimal . perkembangan dan karakteristik anak pada
usia SD berbeda-beda Antara anak yang satu dengan anak yang lainnya, karakter anak pada masa
kelas rendah berbedah dengan karakter anak pada kelas tinggi hal ini dapat dilihat dalam proses
pembelajaran anak. usia sekolah dasar utamanya yang ada di kelas rendah belum dapat
mengembangkan keterampilan kognitifnya secara penuh, akan tetapi anak di kelas rendah belum
dapat mengembangkan keterampilan kognitifnya secara penuh, akan tetapi anak di kelas tinggi
sudah dapat berfikir, berkreasi secara luas .
Berikut adalah karakter anak SD kelas rendah serta implikasinya terrhadap
pembelajaran :
1. kongkrit, siswa sd kelas rendah salah satu karakteristiknya yaitu belajar dari hal-hal yang konkrit
dan secara bertahap menuju kearah yang abstrak.Kongkrit maksudnya belajar dari hal hal yang
nyata , misalnya dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba bahkan diotak atik, itu disebabkan karena
anak sd kelas rendah belum bisa menggambarkan atau membayangkan sesuatu berdasarkan
penjelasan atau teori. Oleh karena itu pembelajaran ips harus diusahakan ada media atau alat
peraga sesuai dengan tujuan materi yang diajarkan..memanfaatkan lingkungan sekitar dalam
proses belajar mengajar akan menghasilkan hasil belajar yang lebih bernilai.
2. Integratif , yaitu pada tahap anak sd kelas rendah anak masih memandang sesuatu sebagai satu
keutuhan, mereka belum bisa memisahkan suatu konsep ke bagian demi bagian.oleh karena itu
dalam pembelajaran ips harus dilakukan secara bertahap,dari hal-hal umum yang mudah
dipahami ke hal-hal yang lebih khusus.
3. Hierarkis, yaitu cara belajar anak yang berkembang secara bertahap dari hal yang sederhana ke
hal yang lebih kompleks.oleh karena itu pembelajaran ips materi atau ilmu yang diajarkan hrus
logis atau masuk akal, agar mudah dimengerti oleh siswa.
4. Suka bermain dan lebih suka bergembira / riang (Basset, Jacka, dan Logan:1983) , anak SD kelas
rendah masih suka bermain dan suka bergembira disebabkan karena mereka berada pada tahap

peralihan dari TK yang penuh dengan permainan.implikasinya terhadap pembelajaran ips, guru
harus menciptakan suasana belajar yang nyaman dan penuh ceriah dengan merancang model
pembelajaran yang serius tapi santai.
5. Mereka biasanya tergetar perasaannya dan terdorong untuk berprestasi sebagaimana mereka tidak
suka mengalami ketidakpuasan dan menolak kegagalan. (Basset, Jacka, dan Logan:1983
6. Krakteristik anak SD kelas rendah adalah senang merasakan atau melakukan / memperagakan
sesuatu secara langsung ditinjau dari teori perkembangan kognitif anak SD memasuki tahap
opersional kongkrit. Impliklasinya yaitu guru hendaknya merancang model pembelajaran yang
memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
7. Siswa masih senang belajar bersama temannya atau berkelompok karena pergaulannya dengan
kelompok sebaya . karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model
pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Karena
anak pada usia ini cenderung ingin mengajar anak-anak lainnya.
8. sebagian siswa tertentu misalnya yang paling kecil, besar, gemuk/ kurus ataupun kecacatan fisik
lainnya biasanya suka mencari perhatian seperlunya, oleh karena itu pembelajarannya hendaknya
diberikan perhatian khusus seperlunya dan diberikan kasihsayang tampak pamrih
9. Siswa usia ini sedang mengalami masa peka / sangat cepat untuk meniru , mendapat contoh /
figure dari guru yang dipavoritkannya.karena itu di dalam pembelajarannya guru hendaknya
bersikap baik dan bisa menjadi contoh bagi murid-muridnya.
10. Bahasa yang digunakan anak usia ini masih dipengaruhi oleh usia ibu Karena bahasa yang
digunakan adalah bahasa yang sederhana tidak kompleks.
11. Rasa ingin tahu yang tinggi, anak-anak SD usia ini sangat kritis mereka sering mengajukan
pertanyaan-pertanyaan diluar dugaan jadi alam pembelajaran
Diposkan oleh yulia lestari di 07.50
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Januari 28, 2012

Karakteristik Anak Usia Sekolah dasar


Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar
Tingkatan kelas di sekolah dasar dapat dibagi dua menjadi kelas rendah dan kelas atas. Kelas
rendah terdiri dari kelas satu, dua, dan tiga, sedangkan kelas-kelas tinggi sekolah dasar yang
terdiri dari kelas empat, lima, dan enam (Supandi, 1992:44).

Di Indonesia, kisaran usia sekolah dasar berada di antara 6 atau 7 tahun sampai 12 tahun. Usia
siswa pada kelompok kelas atas sekitar 9 atau 10 tahun sampai 12 tahun. Menurut Witherington
(1952) yang dikemukakan Makmun (1995:50) bahwa usia 9-12 tahun memiliki ciri
perkembangan sikap individualis sebagai tahap lanjut dari usia 6-9 tahun dengan ciri
perkembangan sosial yang pesat. Pada tahapan ini anak/siswa berupaya semakin ingin mengenal
siapa dirinya dengan membandingkan dirinya dengan teman sebayanya. Jika proses itu tanpa
bimbingan, anak akan cenderung sukar beradaptasi dengan lingkungannya. Untuk itulah sekolah
memiliki tanggung jawab untuk menanggulanginya.
Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada
umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar
terbagi dua, yaitu :
a)

Masa kelas-kelas rendah dan,

b)

Masa kelas tinggi.

Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 9/10 tahun) :


1)

Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi.

2)

Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional.

3)

Adanya kecenderungan memuji diri sendiri.

4)

Membandingkan dirinya dengan anak yang lain.

5)

Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.

6) Pada masa ini (terutama usia 6 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik,
tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
Pada masa ini (terutama usia 6 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa
mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) :
1)
Minat terhadap kehidupan
praktis sehari-hari yang konkret.
2)
Amat realistik, rasa ingin
tahu dan ingin belajar.

3)
Menjelang akhir masa ini
telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakatbakat khusus.
4)
Sampai usia 11 tahun
anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi
keinginannya.
5)
Selepas usia ini pada
umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk
menyelesaikannya.
6)
Pada masa ini anak
memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya.
7)
Gemar membentuk
kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan
aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri.
Sekolah sebagai tempat terjadinya proses menumbuhkembangkan seluruh aspek siswa memiliki
tugas dalam memabntu perkembangan anak sekolah. Adapun tugas-tugas perkembangan anak
sekolah (Makmun, 1995:68), diantaranya adalah:
1)

Mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan sehari-hari

2)

Mengembangkan kata hati, moralitas, dan suatu skala, nilai-nilai.

3)

Mencapai kebebasan pribadi.

4)

Mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok dan institusi-institusi sosial.

Anak besar adalah anak yang berusia antara 6 sampai dengan 10 atau 12 tahun (Sugiyanto dan
Sudjarwo, 1992:101). Beberapa sifat sosial yang dimiliki anak besar sebagai hasil perkembangan
dari usia 10 sampai 12 tahun:
1) Baik laki-laki maupun perempuan menyenangi permainan yang terorganisir dan permainan
yang aktif.
2)

Minat terhadap olahraga kompetitif meningkat.

3)

Membenci kegagalan atau kesalahan.

4)

Mudah bergembira, kondisi emosional tidak stabil.

Aktivitas yang diperlukan dalam proses tumbuh kembang anak besar di antaranya adalah
(Sugiyanto dan Sudjarwo, 1992:127-128):
1) Bermain dalam situasi berlomba atau bertanding dengan pengorganisasian yang sederhana.
Misalnya: berlomba dalam beberapa macam gerakan seperti berlari, merayap, melompat,
menggiring bola, adu lempar tangkap dan sebagainya. Melakukan pertandingan kecabangan
olahraga yang peraturannya disederhanakan, misalnya pertandingan voli mini. Dengan
pengarahan dan pengelolaan aktivitas yang baik dari guru, aktivitas ini akan berdampak kepada
peningkatan kepercayaan diri anak dan kebanggaan dirinya.
2) Aktivitas beregu atau berkelompok. Anak diberi kesempatan untuk bekerja sama dengan
temannya dalam melakukan aktivitas untuk membina kebersamaan di antara mereka.
Minat Melakukan Aktivitas Fisik Pada Anak Besar

Minat melakukan aktivitas fisik pada kelompok anak besar sangat dipengaruhi oleh kesempatan
untuk melakukan aktivitas fisik itu sendiri. Pada umumnya anak besar baik anak laki-laki
maupun anak perempuan mengalami peningkatan minat yang besar dalam melakukan aktivitas
fisik. Misalnya aktivitas bermain yang dilakukan anak besar lebih didominasi oleh permainan
yang bersifat aktif, seperti bermain kejar-kejaran, petak umpet, dan beberapa bentuk permainan
tradisional yang melibatkan aktivitas fisik. Tentunya disesuaikan dengan minat dan kesepakatan
anak-anak dalam memilih jenis permainan yang akan dilakukan
Minat terhadap aktivitas fisik dan atau olahraga sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya.
Pada anak-anak yang melakukan aktivitas fisik dipengaruhi oleh kecenderungan sifat yang
dimiliki (Sugiyanto dan Sudjarwo, 1991), antara lain:
1) Kemampuan memusatkan perhatian pada suatu macam aktivitas yang sedang dilakukan
makin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari tingkat konsentrasi yang cukup tinggi pada anak
yang terlibat dalam aktivitas yang dilakukannya.
2)

Semangat untuk mencari pengalaman baru cukup tinggi.

3) Perkembangan sosialnya makin baik yang ditunjukkan dengan luasnya pergaulan dengan
semakin mendalamnya pergaulan dengan teman sebayanya.
4) Perbedaan perilaku antara anak laki-laki dengan anak perempuan semakin jelas, ada
kecenderungan kurang senang bermain dengan lawan jenisnya. Ini semakin memperjelas bentuk
aktivitas yang dominan dilakukan oleh anak laki-laki dengan anak perempuan.
5) Semangat untuk menguasai suatu bentuk aktivitas tertentu dan semangat berkompetisi
tinggi.

Hampir seluruh aktivitas anak besar didominasi oleh bermain. Aktivitas bermain yang
dilakukannya dapat dilaksanakan baik secara sendiri-sendiri atau berkelompok

Karakteristik Anak Usia SD


Karakteristik Anak Usia SD. Ada beberapa karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu
diketahui para guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya ditingkat
Sekolah Dasar. Sebagai guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai
dengan keadaan
siswanya
maka
sangatlah
penting
bagi
seorang
pendidik
mengetahui karakteristik siswanya. Selain karakteristik yang perlu diperhatikan kebutuhan
peserta didik.

Perkembangan Anak Usia SD


Anak SD merupakan anak dengan katagori banyak mengalami perubahan yang sangat drastis
baik mental maupun fisik. Usia anak SD yang berkisar antara 6 12 tahun menurut Seifert dan
Haffung memiliki tiga jenis perkembangan :

1. Perkembangan Fisik Siswa SD


Mencakup pertumbuhan biologis misalnya pertumbuhan otak, otot dan tulang. Pada usia 10
tahun baik lakilaki maupun perempuan tinggi dan berat badannya bertambah kurang lebih 3,5
kg. Namun setelah usia remaja yaitu 12 13 tahun anak perempuan berkembang lebih cepat dari
pada lakilaki, Sumantri dkk (2005).
1. Usia masuk kelas satu SD atau MI berada dalam periode peralihan dari pertumbuhan
cepat masa anak anak awal ke suatu fase perkembangan yang lebih lambat. Ukuran
tubuh anak relatif kecil perubahannya selama tahun tahun di SD.
2. Usia 9 tahun tinggi dan berat badan anak lakilaki dan perempuan kurang lebih sama.
Sebelum usia 9 tahun anak perempuan relatif sedikit lebih pendek dan lebih langsing
dari anak lakilaki.
3. Akhir kelas empat, pada umumnya anak perempuan mulai mengalami masa lonjakan
pertumbuhan. Lengan dan kakimulai tumbuh cepat.
4. Pada akhir kelas lima, umumnya anak perempuan lebih tinggi, lebih berat dan lebih kuat
daripada anak lakilaki. Anak lakilaki memulai lonjakan pertumbuhan pada usia sekitar
11 tahun.
5. Menjelang awal kelas enam, kebanyakan anak perempuan mendekati puncak tertinggi
pertumbuhan mereka. Periode pubertas yang ditandai dengan menstruasi umumnya
dimulai pada usia 1213 tahun. Anak lakilaki memasuki masa pubertas dengan ejakulasi
yang terjadi antara usia 1316 tahun.

6. Perkembangan fisik selama remaja dimulai dari masa pubertas. Pada masa ini terjadi
perubahan fisiologis yang mengubah manusia yang belum mampu bereproduksi menjadi
mampu bereproduksi.
Hampir setiap organ atau sistem tubuh dipengaruhi oleh perubahan perubahan ini. Anak
pubertas awal (prepubertas) dan remaja pubertas akhir (postpubertas) berbeda dalam
tampakan luar karena perubahan perubahan dalam tinggi proporsi badan serta perkembangan
ciriciri seks primer dan sekunder.
Meskipun urutan kejadian pubertas itu umumnya sama untuk tiap orang, waktu terjadinya dan
kecepatan berlangsungnya kejadian itu bervariasi. Ratarata anak perempuan memulai
perubahan pubertas 1,5 hingga 2 tahun lebih cepat dari anak lakilaki. Kecepatan perubahan itu
juga bervariasi, ada yang perlu waktu 1,5 hingga 2 tahun untuk mencapai kematangan
reproduksi, tetapi ada yang memerlukan waktu 6 tahun. Dengan adanya perbedaanperbedaan
ini ada anak yang telah matang sebelum anak yang sama usianya mulai mengalami pubertas.

2. Perkembangan Kognitif Siswa SD


Perkembangan kognitif mencakup perubahan perubahan dalam perkembangan pola pikir.
Tahap perkembangan kognitif individu menurut Piaget melalui empat stadium:

Sensorimotorik (02 tahun), bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan medorong
mengeksplorasi dunianya.
Praoperasional(27 tahun), anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek
dengan gambaran dan katakata. Tahap pemikirannya yang lebih simbolis tetapi tidak
melibatkan pemikiran operasiaonal dan lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang
logis

Operational Kongkrit (711), penggunaan logika yang


telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit.

Operasional Formal (1215 tahun). kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar
secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia

memadai.

Tahap

ini

3. Perkembangan Psikososial
Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan dan perubahan emosi individu. J. Havighurst
mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan
aspek lain seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan sosial. Menjelang masuk SD,
anak telah Mengembangkan keterampilan berpikir bertindak dan pengaruh sosial yang lebih
kompleks. Sampai dengan masa ini, anak pada dasarnya egosentris (berpusat pada diri sendiri)
dan dunia mereka adalah rumah keluarga, dan taman kanakkanaknya.

Selama duduk di kelas kecil SD, anak mulai percaya diri tetapi juga sering rendah diri. Pada
tahap ini mereka mulai mencoba membuktikan bahwa mereka "dewasa". Mereka merasa "saya

dapat mengerjakan sendiri tugas itu, karenanya tahap ini disebut tahap "I can do it my self".
Mereka sudah mampu untuk diberikan suatu tugas.

Daya konsentrasi anak tumbuh pada kelas kelas besar SD. Mereka dapat meluangkan lebih
banyak waktu untuk tugas tugas pilihan mereka, dan seringkali mereka dengan senang hati
menyelesaikannya. Tahap ini juga termasuk tumbuhnya tindakan mandiri, kerjasama dengan
kelompok dan bertindak menurut cara cara yang dapat diterima lingkungan mereka.

Mereka juga mulai peduli pada permainan yang jujur. Selama masa ini mereka juga mulai
menilai diri mereka sendiri dengan membandingkannya dengan orang lain. Anak anak yang
lebih mudah menggunakan perbandingan sosial (social comparison) terutama untuk norma
norma sosial dan kesesuaian jenisjenis tingkah laku tertentu. Pada saat anakanak tumbuh
semakin lanjut, mereka cenderung menggunakan perbandingan sosial untuk mengevaluasi dan
menilai kemampuan kemampuan mereka sendiri.

Sebagai akibat dari perubahan struktur fisik dan kognitif mereka, anak pada kelas besar di SD
berupaya untuk tampak lebih dewasa. Mereka ingin diperlakukan sebagai orang dewasa.Terjadi
perubahan perubahan yang berarti dalam kehidupan sosial dan emosional mereka. Di kelas
besar SD anak lakilaki dan perempuan menganggap keikutsertaan dalam kelompok
menumbuhkan perasaan bahwa dirinya berharga. Tidak diterima dalam kelompok dapat
membawa pada masalah emosional yang serius Temanteman mereka menjadi lebih penting
daripada sebelumnya. Kebutuhan untuk diterima oleh teman sebaya sangat tinggi.
Remaja sering berpakaian serupa. Mereka menyatakan kesetiakawanan mereka dengan anggota
kelompok teman sebaya melalui pakaian atau perilaku.

Hubungan antara anak dan guru juga seringkali berubah. Pada saat di SD kelas rendah, anak
dengan mudah menerima dan bergantung kepada guru. Di awal awal tahun kelas besar SD
hubungan ini menjadi lebih kompleks. Ada siswa yang menceritakan informasi pribadi kepada
guru, tetapi tidak mereka ceritakan kepada orang tua mereka. Beberapa anak pra remaja
memilih guru mereka sebagai model.

Sementara itu, ada beberapa anak membantah guru dengan cara cara yang tidak mereka
bayangkan beberapa tahun sebelumnya. Malahan, beberapa anak mungkin secara
terbukamenentang gurunya. Salah satu tanda mulai munculnya perkembangan identitas remaja
adalah reflektivitas yaitu kecenderungan untuk berpikir tentang apa yang sedang berkecamuk
dalam benak mereka sendiri dan mengkaji diri sendiri. Mereka juga mulai menyadari bahwa
ada perbedaan antara apa yang mereka pikirkan dan mereka rasakan serta bagaimanamereka
berperilaku.

Mereka mulai mempertimbangkan kemungkinankemungkinan. Remaja mudah dibuat tidak


puas oleh diri mereka sendiri. Mereka mengkritik sifat pribadi mereka, membandingkan diri
mereka dengan orang lain, dan mencoba untuk mengubah perilaku mereka. Pada remaja usia 18
tahun sampai 22 tahun, umumnya telah mengembangkan suatu status pencapaian identitas.

Kebutuhan Peserta Didik Siswa SD


1. Anak SD Senang Bermain.
Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang

bermuatan permainan lebih lebih untuk kelas rendah. Guru SD seyogyanya merancang model
pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Guru hendaknya
mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai. Penyusunan jadwal pelajaran
hendaknya diselang saling antara mata pelajaran serius seperti IPA, Matematika, dengan
pelajaran yangmengandung unsur permainan seperti pendidikan jasmani, atau Seni Budaya dan
Keterampilan (SBK).
2. Anak SD Senang Bergerak.
Orang dewasa dapat duduk berjamjam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling
lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang
memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka
waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.
3. Anak usia SD Senang Bekerja dalam Kelompok.
Anak usia SD dalam pergaulannya dengan kelompok sebaya, mereka belajar aspek aspek yang
penting dalam proses sosialisasi, seperti : belajar memenuhi aturan aturan kelompok, belajar
setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya
tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah
raga dan membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang
memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan
demokrasi. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang
model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam6 kelompok.

Guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 34 orang untuk
mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.

4. Anak SD Senang Merasakan atau Melakukan/memperagakan Sesuatu Secara


Langsung.
Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari
apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep konsep baru dengan konsep
konsep lama. Berdasar pengalaman ini, siswa membentuk konsepkonsep tentang angka, ruang,
waktu, fungsifungsi badan, pera jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Bagi anak SD,
penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan
sendiri,sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru
hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam
proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata
angin, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap
arah angin, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari
arahmana angina saat itu bertiup.

Implikasi Karakteristik Peserta Didik terhadap Penyelenggaraan Pendidikan Bagi Anak Usia
Sekolah Dasar

Karakteristik anak usia SD adalah senang bermain, senang bergerak, senang


bekerja dalam kelompok, serta senang merasakan/melakukan sesuatu secara
langsung. Oleh karena itu, guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang
mengandung unsur permainan, memungkinkan siswa berpindah atau bergerak dan
bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa
untuk terlibat langsung dalam pembelajaran.
Menurut Havighurst tugas perkembangan anak usia SD adalah sebagai berikut : a.
menguasai keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan dan aktivitas fisik, b.
Membangun hidup sehatmengenai dirisendiri dan lingkungan. c. belajar bergaul dan
bekerja dalamkelompok sebaya, d. belajarmenjalankan peranan sosialsesuai dengan
jenis kelamin e. Mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan
berhitung. agar mampu berpartisipasi dalammasyarakat, f. Mengembangkan konsep
konsep hidup yang perlu dalamlehidupan. g. mengembangkan kata hati,moral, dan nilai
nilaisebagai pedoman perilaku. h. mencapai kemandirian pribadi.

Tugas perkembangan tersebut mendorong guru SD untuk :


1. menciptkaan lingkungan teman sebaya yang mengajarkan keterampilan fisik,
2. melaksanakan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar
bergaul dan bekerja dengan teman sebaya sehingga kepribadian sosialnya berkembang,
3. mengembangkan kegiatan pembelajaran yang memberikan pengalaman yang konkret
atau langsung dalam membangun konsep; serta

4. melaksanakan pembelajaran yang dapat mengembangkan nilainilai sehingga


siswa mampu menentukan pilihan yang stabil dan menjadi pegangan bagi dirinya.
Pendidikan di SD merupakan jenjang pendidikan yang mempunyai peranan sangat penting
dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Related articles

Dampak Globalisasi bagi Kehidupan


Pembelajaran Pecahan

Pembelajaran Bahasa

Arti Penting Lingkungan Hidup Bagi Manusia

Karakteristik Perkembangan Bahasa Anak

Pecahan Senilai

Karakteristik Siswa Sekolah Dasar

Karakteristik anak sekolah dasar berbeda dengan anak sekolah lanjutan. Dalam
proses pembelajaran, peserta didik merupakan komponen masukan yang mempunyai
kedudukan sentral. Tidak mungkin proses pembelajaran berlangsung tanpa kehadiran
peserta didik, yang di tingkat SD disebut siswa. Untuk dapat melaksanakan tugasnya
dengan baik, guru perlu memahami karakteristik siswanya. Ketika proses pembelajaran
di sekolah, siswa memiliki latar belakang yang berbeda. Guru harus dapat
mengakomodasi setiap perbedaan dari siswanya agar suasana pembelajaran kondusif.
Karakteristik siswa menurut Depdikbud (1997) adalah mencakup umur, jenis kelamin,
pengalaman prasekolah, kemampuan sosial ekonomi, tingkat kecerdasan, kreativitas,
bakat dan minat, pengetahuan dasar dan prestasi terdahulu, motivasi belajar, dan sikap
belajar.
Umur dan Jenis kelamin

Dalam belajar umur merupakan faktor penting untuk dipertimbangkan karena


berkaitan dengan tingkat perkembangan dan kematangan. Murid SD adalah kelompok
anak yang berada pada tingkat perkembangan awal.
Menurut Partini S (1995) ciri-ciri khas anak SD kelas rendah (I-III) usia antara 6 sampai
dengan 9 tahun adalah:
1. Ada hubungan yang kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah
2. Suka memuji diri sendiri
3. Kalau tidak dapat menyelesaikan sesuatu, sesuatu dianggap tidak penting
4. Suka membandingkan dirinya dengan anak lain, kalau menguntungkan dirinya
5. Suka meremehkan orang lain.
Sedangkan ciri-ciri khas siswa SD kelas tinggi (IV-VI) usia 9-12 tahun adalah:
1. Perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari
2. Ingin tahu, ingin belajar, realistis
3. Timbul minat kepada pelajaran- pelajaran khusus
4. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajar di
sekolah
5. Anak-anak suka membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama, dan
mererka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya.
Menurut Depdikbud (1997:67) murid laki-laki dan perempuan mempunyai
karakteristik belajar yang relatif berbeda. Misalnya, pada umur SD sebagian anak
perempuan sudah mengalami menstruasi yang menandai awal keremajaannya,
sedangkan anak laki-laki sebagian besar mengalami mimpi indah pada usia sekitar 15
tahun. Jadi datangnya masa keremajaan awal perempuan umumnya lebih cepat dari
laki-laki.
Pengalaman Prasekolah

Pengalaman

yang

dimiliki

sebelum

memasuki

sekolah

mempengaruhi

kemampuan murid dalam belajar di sekolah. Sebelum memasuki SD pada umumnya


anak telah menempuh pendidikan prasekolah seperti Taman Kanak-Kanak, Taman
Pendidikan Alquran, Pendidikan Anak Usia Dini.
Menurut Mohammad Sardja (1981) dan Dedi Supriadi (1982) yang dikutip
Depdikbud (1997) mengatakan bahwa prestasi membaca, bahasa Indonesia, dan
Matematika/berhitung murid SD yang pernah menempuh TK lebih tinggi daripada yang
tidak menempuh TK. Perbedaan tersebut terutama sangat nyata di kelas-kelas awal,
yaitu di kelas I - III. Meskipun demikian, faktor pengalaman prasekolah perlu
mendapatkan perhatian dari guru mengingat masa-masa kritis belajar di sekolah adalah
pada kelas-kelas awal.
Kemampuan Sosial Ekonomi Orang tua
Indikator latar belakang sosial ekonomi adalah: pendidikan orang tua, pekerjaan
orang tua, penghasilan orang tua dan tempat tinggal. Siswa yang orang tuanya
berpendidikan lebih tinggi, biasanya pekerjaannya lebih baik dan penghasilannya lebih
tinggi serta tempat tinggalnya/rumah relatif lebih baik. Demikian juga siswa yang orang
tuanya berpendidikan rendah, biasanya pekerjaan, penghasilan, rumah relatif
sederhana pula.
Latar belakang sosial ekonomi keluarga perlu dipertimbangkan dalam proses
belajar dan mengajar, karena hal ini akan mempengaruhi keberhasilan belajar siswa di
sekolah. Perhatian guru terutama diberikan kepada siswa-siswa yang berasal dari
lingkungan keluarga yang kurang menguntungkan, misalnya karena keterlantaran,
kemiskinan, dan keterpencilan.
Menurut Depdikbud (1997) kemiskinan secara ekonomi mempunyai akibat yang
luas terhadap kemiskinan perkembangan fisik, intelektual, sosial dan emosional.
Secara fisik anak-anak miskin sering sakit-sakitan, kurang bersemangat, mengantuk,
lusuh. Secara sosial mereka kurang bersahabat, agresif atau sebaliknya pemalu,
malas, rendah diri. Secara emosional mereka labil dan kurang peka pada kepentingan
orang lain. Secara kognitif mereka lemah, kemampuan belajarnya lambat, prakarsanya

kurang, dan sulit berkonsentrasi. Keadaan mereka berbeda dengan anak-anak dari
strata sosial ekonomi menegah dan tinggi. Dalam keluarga mereka mendapatkan
perlakuan yang baik, makanan yang bergizi dan iklim keluarga yang hangat. Sejak
umur 4-5 tahun mereka masuk TK yang memungkinkan sosialisasi mereka lebih dini,
sehingga ketika masuk SD mereka lebih siap.
Tingkat Kecerdasan
Menurut Depdikbud (1997) tingkat kecerdasan atau sering disebut inteligensi
merupakan kemampuan dasar yang dimiliki oleh setiap orang. Sebagian orang percaya
bahwa taraf inteligensi sifatnya tetap, artinya tidak dapat diubah-ubah, ditambah atau
dikurangi. Tetapi sebagian orang yang lain menyatakan bahwa taraf inteligensi
seseorang dapat berkembang melalui proses belajar.
Siswa di SD mungkin ada yang termasuk anak yang sangat cerdas, cerdas,
biasa-biasa saja, dan kurang cerdas. Dalam kegiatan belajar sehari- hari, tingkat
kecerdasan siswa dapat diamati dari kemampuan belajarnya, yaitu cepat, tepat, dan
akurat. Ada siswa yang dalam sekejap dapat , menyelesaikan soal dengan benar, ada
yang dapat menyelesaikannya dengan susah payah.
Adanya

perbedaan

tingkat

kecerdasan

murid

menuntut

guru

untuk

memperhatikannya. Murid-murid yang kecepatan belajarnya lambat perlu diperhatikan


agar tidak terlalu tertinggal oleh murid-murid yang lain, meskipun diakui bahwa pada
akhirnya akan selalu ada perbedaan pada prestasi belajar murid.
Kreativitas
Depdikbud (1997) mengemukakan bahwa kreativitas yaitu kemampuan
seseorang dalam menghasilkan sesuatu yang baru berdasarkan hal-hal yang telah ada
. Kreativitas siswa terlihat ketika mencetuskan ide atau gagasan yang relatif baru,
misalnya suatu masalah dipecahkan dengan cara berbeda dari biasanya, menguraikan
sesuatu dengan bahasa atau istilah yang bervariasi.
Kreativitas juga terlihat ketika mereka dapat mengalihkan persoalan ke
persoalan lain tanpa menyinggung perasaan temannya. Di sekolah setiap anak

mempunyai tingkat kreativitas yang berbeda. Siswa yang lebih cerdas biasanya
mempunyai

tingkat

kreativitas

yang

tinggi,

meskipun

ada

juga

anak

yang

kecerdasannya sedang/biasa-biasa saja tetapi memiliki kreativitas yang tinggi, demikian


pula sebaliknya.
Bakat dan Minat
Siswa SD mempunyai bakat yang sangat beragam, sebagaimana terlihat dalam
minat belajarnya. Meskipun bakat dan minat merupakan dua hal yang relatif berlainan,
tetapi dalam perwujudannya hampir sulit dibedakan. Ada siswa berbakat dalam
kemampuan berbahasa, ada juga yang lebih menunjukkan kegemaran dan kemampuan
berhitung atau menggambar. Sebagian siswa terlihat mempelajari materi pelajaran
Matematika, IPS. Meskipun demikian terdapat juga siswa yang mempunyai bakat dan
minat hampir merata pada semua mata pelajaran. Kenyataan di atas akan selalu
ditemukan di SD. Untuk itulah guru harus dapat mengakomodasi dan memahami
adanya perbedaan bakat dan minat agar dapat menguasai secara merata semua materi
pelajaran.
Pengetahuan Dasar dan Prestasi terdahulu
Belajar pada dasarnya merupakan proses yang berkelanjutan. Hasil belajar
terdahulu mendasari proses belajar kemudian. Oleh karena itu guru perlu mengetahui
dan mempertimbangkan apa yang telah dikuasai oleh murid-muridnya, sebelum mereka
diberikan materi yang baru. Menurut Depdikbud (1997) dari berbagai penelitian
diketahui bahwa siswa yang mempunyai pengetahuan dasar yang kuat sebelumnya
akan mencapai prestasi lebih baik pada proses belajar berikutnya. Agar terjadi
kesinambungan pengalaman belajar maka perlu adanya tautan materi terdahulu
dengan berikutnya. Materi pelajaran perlu ditata secara urut serta sesuai dengan tingkat
pencapaian siswa.
Hal ini disebabkan karena dalam satu kompetensi dasar kemungkinan ada siswa
yang telah menguasai sepenuhnya tetapi lainnya hanya sebagian. Pentingnya
pengetahuan prasyarat sebelum mempelajari materi berikutnya. Perlunya penyampaian
bahan yang sifatnya sederhana terlebih dahulu baru kemudian ke arah yang kompleks,

dari materi konkrit menuju abstrak. Sebagai contoh dalam pelajaran Matematika siswa
yang kurang menguasai penambahan dan pengurangan, akan mengalami kesulitan
dalam memahami perkalian dan pembagian.
Motivasi Belajar
Proses pembelajaran akan efektif dan berhasil apabila siswa memiliki dorongan
untuk belajar. Meskipun mereka memiliki kecakapan yang tinggi tetapi motivasi
belajarnya lemah, maka prestasi yang akan dicapai kurang berhasil. Menurut
Depdikbud (1997) motivasi belajar siswa dapat diamati melalui indikator: ketekunan
dalam belajar, keseringan dalam belajar, komitmen dalam memenuhi tugas, frekuensi
kehadiran di sekolah. Salah satu tugas guru adalah memberikan motivasi belajar
kepada siswanya agar pembelajaran dapat berlangsung efektif. Berbagai cara
membangkitkan motivasi perlu diupayakan guru.
Pertama, berikan pujian kepada siswa yang telah melakukan tugas dengan baik.
Pujian diberikan kepada siswa karena telah menjawab pertanyaan dengan benar,
mengajukan pertanyaan atau memperoleh nilai bagus. Cara memberikan pujian dapat
dengan kata-kata, tulisan maupun pemberian tanda bintang. Bagus, Hebat atau Ibu
senang sekali kamu telah berani mengajukan/menjawab pertanyaan!
Kedua, hindari kecaman dan kritikan yang dapat mematikan motivasi belajar.
Ucapan atau sebutan yang tidak disukai siswa seperti Bodoh,Pemalas menjadikan
siswa enggan belajar bahkan kurang hormat terhadap guru. Kritik dan hukuman bisa
saja diberikan asal secara bijaksana namun jangan mencari-cari kesalahan yang
sebenarnya tidak dilakukan oleh siswa.
Ketiga, ciptakan persaingan atau kompetisi di antara siswa secara sehat. Guru
memberikan soal cepat tepat atau kuis secara kelompok ataupun individu. Siswa yang
menjawab pertanyaan dengan benar dan cepat akan mendapat kesempatan pulang
terlebih dahulu di akhir pelajaran. Persaingan ini diciptakan agar siswa menjadi giat
belajar untuk mendapatkan prestasi terbaik.

Keempat, ciptakan iklim kerjasama yang positif di antara siswa. Misalnya dengan
menerapkan pembelajaran kooperatif, membentuk kelompok belajar, membentuk regu
piket. Pembentukan anggota kelompok secara campuran baik prestasi maupun jenis
kelamin.
Kelima, berikan umpan balik atau feed back kepada siswa atas hasil
pekerjaannya. Caranya antara lain dengan mengoreksi pekerjaan siswa, memberi nilai
dan memberi komentar. Informasi mengenai hasil yang dicapai sangat berarti bagi
siswa untuk mengetahui tingkat kemajuan belajarnya. Umpan balik bermanfaat bagi
siswa untuk memperbaiki atau mengatasi kekurangan sehingga di waktu yang akan
datang prestasinya akan lebih baik. Umpan balik juga berfungsi memberikan motivasi
belajar siswa.
Sikap Belajar
Sikap siswa terhadap sekolah, guru maupun teman lain serta materi pelajaran
mempengaruhi hasil belajar. Sebagian siswa beralasan bahwa belajar di sekolah
karena untuk mewujudkan cita-citanya, disuruh orang tua, malu dengan teman lain.
Demikian juga sikap siswa terhadap gurupun beraneka ragam, ada yang mengganggap
cara penyampaian materi mudah dipahami, susah dimengerti, menarik, membosankan.
Sebagian beranggapan bahwa guru memberikan nilai mahal atau murah serta tidak
adil hanya berdasarkan suka atau tidak terhadap siswa.
Semua ini akan memberikan warna kepada proses belajar murid, baik disadari
maupun tidak disadari oleh murid. Guru dituntut memahami dinamika perasaan dan
sikap siswanya tersebut dan berusaha melakukan tindakan-tindakan yang dapat
mengubah sikap negatif siswa menjadi positif, serta memperkuat sikap siswa yang
sudah positif.

Karakteristik Belajar Anak SD


Posted on 02/12/2012 by Belajar Menjadi Lebih under Edukasi

Dalam suatu jenjang pendidikan khususnya tingkat SD tentu memiliki karakter dan pola
tersendiri sesuai dengan usia anak tersebut. Untuk itu selaku seorang guru wajib mengetahui hal

ini agar pembelajaran dapat berjalan secara efektif, efisien, dan dapat mencapai tujuan
pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya sehingga bisa dikatakan guru tersebut berhasil
dalam mendidik anak. pada tingkat SD dibagi menjadi dua kelas yakni kelas rendah ( 1, 2, 3) dan
kelas tinggi (4, 5, 6 ). rentang usia anak SD antara 6-12 tahun. untuk itu kita perlu mengetahui
karakter dan cara belajar anak sesuai dengan kelas tersebut.
Karakteristik Siswa Kelas Rendah
Usia siswa pada kelompok kelas rendah, yaitu 6 atau 7 sampai 8 atau 9 tahun (Usia Dini). Masa
usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh
karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan
berkembang secara optimal. Berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa tugas perkembangan
siswa sekolah (Makmun, 1995: 68), diantaranya:
(a) mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan sehari-hari,
(b) mengembangkan kata hati, moralitas, dan suatu skala, nilai-nilai,
(c) mencapai kebebasan pribadi,
(d) mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok dan
institusi-institusi sosial.
Beberapa keterampilan akan dimiliki oleh anak yang sudah mencapai tugas-tugas perkembangan
pada masa kanak-kanak akhir dengan rentang usia 6-13 tahun (Soesilowindradini, ttn: 116, 118,
119). Keterampilan yang dicapai diantaranya, yaitu social-help skills dan play skill. Social-help
skills berguna untuk membantu orang lain di rumah, di sekolah, dan di tempat bermain seperti
membersihkan halaman dan merapikan meja kursi. Keterampilan ini akan menambah perasaan
harga diri dan menjadikannya sebagai anak yang berguna, sehingga anak suka bekerja sama
(bersifat kooperatif). Dengan keterampilan ini pula, anak telah dapat menunjukkan keakuannya
tentang jenis kelamin, mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, mampu
berbagi, dan mandiri. Sementara itu, play skill terkait dengan kemampuan motorik seperti
melempar, menangkap, berlari, keseimbangan. Anak yang terampil dapat membuat penyesuaianpenyesuaian yang lebih baik di sekolah dan di masyarakat. Anak telah dapat melompat dengan
kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah
berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang
gunting. Pertumbuhan fisik sebagai salah satu karakteristik perkembangan siswa kelas rendah
biasanya telah mencapai kematangan. Anak telah mampu mengontrol tubuh dan
keseimbangannya. Untuk perkembangan emosi, anak usia 6-8 tahun biasanya telah dapat
mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, mengontrol emosi, mau dan mampu berpisah
dengan orang tua, serta mulai belajar tentang benar dan salah. Perkembangan kecerdasan siswa
kelas rendah ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan
obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang
berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.
Karakteristik Pembelajaran Di Kelas Rendah Pembelajaran di kelas rendah dilaksanakan
berdasarkan rencana pelajaran yang telah dikembangkan oleh guru. Proses pembelajaran harus
dirancang guru sehingga kemampuan siswa, bahan ajar, proses belajar, dan sistem penilaian

sesuai dengan tahapan perkembangan siswa. Hal lain yang harus dipahami, yaitu proses belajar
harus dikembangkan secara interaktif. Dalam hal ini, guru memegang peranan penting dalam
menciptakan stimulus respon agar siswa menyadari kejadian di sekitar lingkungannya. Siswa
kelas rendah masih banyak membutuhkan perhatian karena focks konsentrasinya masih kurang,
perhatian terhadap kecepatan dan aktivitas belajar juga masih kurang. Hal ini memerlukan
kegigihan guru dalam menciptakan proses belajar yang lebih menarik dan efektif.
Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan
dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak
memiliki struktur kognitif yang disebut schemata, yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran
sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang
objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang
sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsepkonsep dalam pikiran
untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat
pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara
bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan uraian tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek
dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena
memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. Anak
usia sekolah dasar berada pada tahapan operasional konkret. Pada rentang usia tersebut anak
mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara
objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsurunsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir
operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan
keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab
akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia
sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
1. Konkrit
Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat
dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan
lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil
belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan
yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan
kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
2. Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan,
mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan
cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.
3. Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari halhal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu
diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta
kedalaman materi . Pembelajaran Bermakna Bagi Siswa Kelas rendah Pembelajaran pada
hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar
dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika
dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar

bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai
dengan perkembangannya dan lingkungannya. Menurut Ausubel (1966), bahan pelajaran yang
dipelajari siswa harus bermakna (meaningful). Pembelajaran bermakna (meaningful learning)
dimaknai sebagai suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang
terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif merupakan fakta-fakta, konsepkonsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. Senada dengan
pendapat tersebut, Suparno (1997) mengatakan bahwa pembelajaran bermakna adalah suatu
proses pembelajaran di mana informasi baru dighubungkan dengan struktur pengertian yang
sudah dipunyai seseorang yang sedang berada dalam proses pembelajaran. Pembelajaran
bermakna terjadi bila siswa mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur
pengetahuan mereka. Artinya, bahan pelajaran itu harus cocok dengan kemampuan siswa dan
harus relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Kebermaknaan belajar sebagai hasil
dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep,
informasi atau situasi baru dengan komponenkomponen yang relevan di dalam struktur kognitif
siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi
merupakan kegiatan menghubungkan konsepkonsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh,
sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan.
Pelajaran harus dikaitkan dengan konsepkonsep yang sudah dimiliki siswa, sehingga konsepkonsep baru tersebut benar-benar terserap oleh siswa. Dengan demikian, agar terjadi belajar
bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah
dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan
pengetahuan baru yang akan
diajarkan. Pengembangan sikap ilmiah pada siswa kelas rendah dapat dilakukan dengan cara
menciptakan pembelajaran yang memungkinkan siswa berani mengemukakan pendapat,
memiliki rasa ingin tahu, memiliki sikap jujur terhadap dirinya dan orang lain, dan mampu
menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Dalam pengembangan kreativitas siswa, proses
pembelajaran dapat diarahkan sesuai dengan tingkat perkembangannya, misalnya saja
memecahkan permasalahan melalui permainan sehari-hari. Di bawah ini adalah beberapa contoh
kegiatan belajar yang dapat dilakukan siswa kelas rendah.
1. Menggolongkan peran anggota keluarga
2. Menerapkan etika dan sopan santun di rumah, di sekolah, dan di lingkungan sekitar
3. Menggunakan kosakata geografi untuk menceritakan tempat
4. Menceritakan cara memanfaatkan uang secara sederhana melalui jual beli barang dan
menabung
5. Menceritakan masa kecilnya dengan bantuan foto
6. Mengkomunikasikan gagasan dengan satu kalimat
7. Mengekspresikan gagasan artistik melalui kegiatan bernyanyi dan menari
8. Menulis petunjuk suatu permainan
9. Membilang dan menyebutkan banyak benda
10. Melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Contoh-contoh di atas menggambarkan bahwa pembelajaran di sekolah dasar tidak harus
selalu dilakukan dengan ceramah saja, tetapi dapat menggunakan beberapa metode mengajar
yang memungkinkan siswa beraktivitas tinggi. Berdasarkan uraian tersebut, belajar akan lebih
bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih
banyak indera, daripada hanya mendengarkan penjelasan dari guru.