Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
Sejak perkembangan peradaban manusia dalam mencari makanan, tentu
telah mencoba beragam bahan baik botani, nabati, maupun dari mineral. Melalui
pengalamannya ini ia mengenal makanan,yang aman dan berbaya. Dalam kontek
ini kata makanan dikonotasikan ke dalam bahan yang aman bagi tubuhnya jika
disantap, bermanfaat serta diperlukan oleh tubuh agar dapat hidup atau
menjalankan fungsinya. Sedangkan kata racun merupakan istilah yang digunakan
untuk menjelaskan dan mengambarkan berbagai bahan zat kimia yang dengan
jelas berbahaya bagi badan. Kata racun toxic adalah berasal dari Bahasa
Yunani, yaitu dari akar kata tox, dimana dalam bahasa Yunani berarti panah. Efek
berbahaya (toksik) yang ditimbulkan oleh zat racun (tokson) telah dikenal oleh
manusia sejak awal perkembangan beradaban manusia. Oleh manusia efek toksik
ini banyak dimanfaatkan untuk tujuan seperti membunuh atau bunuh diri. Untuk
mencegah

keracunan,

orang

senantiasa

berusaha

menemukan

dan

mengembangkan upaya pencegahan atau menawarkan racun. Usaha ini seiring


dengan perkembangan toksikologi itu sendiri.
Toksikologi adalah ilmu yang menetapkan batas aman dari bahan kimia
(Casarett and Doulls, 1995). Selain itu toksikologi juga mempelajari
jelas/kerusakan/ cedera pada organisme (hewan, tumbuhan, manusia) yang
diakibatkan oleh suatu materi substansi/energi, mempelajari racun, tidak saja
efeknya, tetapi juga mekanisme terjadinya efek tersebut pada organisme dan
mempelajari kerja kimia yang merugikan terhadap organisme. Banyak sekali
peran toksikologi dalam kehidupan sehari-hari tetapi bila dikaitkan dengan
lingkungan dikenal istilah toksikologi lingkungan dan ekotoksikologi.
Dua kata toksikologi lingkungan dengan ekotoksikologi yang hampir sama
maknanya ini sering sekali menjadi perdebatan. Toksikologi lingkungan adalah
ilmu yang mempelajari racun kimia dan fisik yang dihasilkan dari suatu kegiatan

dan menimbulkan pencemaran lingkungan (Cassaret, 2000) dan Ekotoksikologi


adalah ilmu yang mempelajari racun kimia dan fisik pada mahluk hidup,
khususnya populasi dan komunitas termasuk ekosistem, termasuk jalan
masuknya agen dan interaksi dengan lingkungan (Butler, 1978). Dengan
demikian ekotoksikologi merupakan bagian dari toksikologi lingkungan.
Kebutuhan akan toksikologi lingkungan meningkat ditinjau dari proses
Modernisasi yang akan menaikan konsumsi sehingga produksi juga harus
meningkat, dengan demikian industrialisasi dan penggunaan energi akan
meningkat yang tentunya akan meningkatkan resiko toksikologis.
Proses industrialisasi akan memanfaatkan bahan baku kimia, fisika, biologi
yang akan menghasilkan buangan dalam bentuk gas, cair, dan padat yang
meningkat. Buangan ini tentunya akan menimbulkan perubahan kualitas
lingkungan yang mengakibatkan resiko pencemaran, sehingga resiko toksikologi
juga akan meningkat
1.2 Rumusan Masalah.
Adapun rumusan masalah yang akan di bahas dalam penulisan paper
ini,diantaranya :
1. Bagaimana pengertian dan definisi toksikologi ?
2. Bagaimana sejarah toksikologi ?
3. Bagaimana ruang lingkup toksikologi ?
4. Bagaimana cara pengklasifikasian toksikologi ?
5. Bagaimana karakteristik toksik?
6. Bagaimana jalur masuk, tempat, waktu dan frekuensi pemaparan toksik?
7. Bagaimana pengobatan dan pencegahan toksik dalam bidang kimia ?
1.3 Tujuan Penulisan.
1. Mengetahui pengertian dan definisi toksikologi.
2. Mengetahui sejarah toksikologi.

3. Mengetahui ruang lingkup toksikologi.


4. Mengetahui cara pengklasifikasiantoksikologi.
5. Mengetahui karateristik toksikologi.
6. Mengetahui jalur masuk, tempat, waktu dan frekuensi pemaparan
toksikologi.
7. Mengetahui pengobatan dan pencegahan toksikologi dalam bidang
kimia.
1.4 Manfaat Penulisan.
Manfaat yang dapat di ambil dari penulisan paper ini adalah :
Dapat menambah wawasan penulisan maupun pembaca.
Dapat dimanfaatkan sebagai ilmu dasar yang harus yang harus
dipahami dalam mempelajari toksikologi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN DAN DEFINISI TOKSIKOLOGI.

Toksikologi merupakan ilmu atau pemahaman tentang pengaruh berbagai


macam zat-zat kimia yang merugikan bagi kelangsungan hidup makhluk hidup.
Toksikologi adalah studi mengenai efek-efek yang tidak diinginkan dari zat-zat
kimia terhadap organisme hidup. Toksikologi juga membahas tentang penilaian
secara kuantitatif tentang organ-organ tubuh yang sering terpajang serta efek
yang di timbulkannya Toksikologi menurut para ahli kimia merupakan ilmu yang
bersangkut paut dengan berbagai macam efek dan mekanisme kerja yang dapat
merugikan dari agen kimia terhadap binatang dan manusia. Toksikologi menurut
para ahli farmakologi adalah cabang dari farmakologi yang berhubungan dengan
efek samping zat kimia di dalam sistem biologik. Dalam toksikologi terdapat
unsur unsur yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lain dengan suatu
cara tertentu sehingga dapat menimbulkan suatu respon pada sistem biologi yang
dapat menimbulkan kerusakan terhadap sistem biologi tersebut. Toksikologi
merupakan ilmu yang lebih dulu berkembang dari Farmakologi. Pengertian dan
definisi Toksikologi diantaranya sebagai berikut:
1. Istilah Toksikologi awalnya berasal dari bahasa latin yaitu toxon yang
artinya racun, sedangkan ilmu pengetahuan dikenal dengan kata logos.
Kombinasi arti ini terbitlah bidang ilmu yang diketahui umum sebagai
Toksikologi, dan dalam bahasa inggris disebut Toxicology. Secara
etimology Toksikologi terbagi dari dua kata diatas dan didefinisikan
sebagai ilmu tentang racun. Toksikologi juga didefinisikan sebagai ilmu
yang mempelajari efek-efek merugikan dari suatu zat. (Nelwan, 2010.)
2. Ilmu yang mempelajari tentang efek negative atau efek racun dari bahan
kimia dan material lain hasil kegiatan manusia terhadap organisme
termasuk bagaimana bahan tersebut masuk kedalam organisme. (Rand, GM
and Petrocelli, S.R. 1985. Fundamentals of Aquatic Toxicity : Methods and
Aplication, Hempsphere Public Corporation)
3. Ilmu yang mempelajari tentang efek membahayakan dari suatu
persenyawaan terhadap organisme hidup, terutama manusia

4. Ilmu yang mempelajari racun, berikut asal, efek, deteksi dan metode
pengolahannya. (Dictionary of Stientific and Technical Terms, McGraw
Hill, 1984).
5. Toksikologi adalah disiplin ilmu yang berkaitan dengan pemahaman
mekanisme efek beracun yang dihasilkan bahan kimia pada jaringan hidup
atau organisme; studi tentang kondisi (termasuk dosis) di mana paparan
bahan kimia pada makhluk hidup berbahaya.
6. Toksikologi didefinisikan sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme
efek toksik berbagai bahan terhadap mahluk hidup dan sistem biologik
lainnya.
7. Toksikologi adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang sifat sifat
dan cara kerja racun.

Ilmu ini membutuhkan disiplin lain untuk

memahaminya. Cabang cabang ilmu biologi, kimia, biokimia, farmakologi,


fisiologi dan patologi adalah ilmu ilmu yang sangat menunjang dalam
mempelajari atau mendalami toksikologi.
Para ahli toksikologi (Toxicologist), dengan tujuan dan metoda
tertentu tugasnya adalah mencari/mempelajari bagaimana bekerjanya
(Harmful action) bahan bahan kimia (beracun) pada jaringan atau tubuh.
Sementara Racun sendiri mempunyai dua pengertian, yaitu :
a. Menurut Taylor, Racun adalah Setiap bahan/zat yang dalam jumlah
tertentu bila masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan reaksi kimia
yang menyebabkan penyakit dan kematian.
b. Menurut pengertian yang dianut sekarang, Racun adalah Suatu zat
yang bekerja pada tubuh secara kimia dan fisiologis yang dalam dosis
toksik selalu menyebabkan gangguan fungsi dan mengakibatkan
penyakit dan kematian.
2.2. SEJARAH TOKSIKOLOGI.
Sejarah toksikologi dimulai sejak perkembangan peradaban manusia dalam
mencari makanan, tentu telah mencoba beragam bahan baik botani, nabati,
maupun dari mineral. Melalui pengalamannya ini ia mengenal makanan, yang
aman dan berbaya. Dalam kontek ini kata makanan dikonotasikan ke dalam
bahan yang aman bagi tubuhnya jika disantap, bermanfaat serta diperlukan oleh
5

tubuh agar dapat hidup atau menjalankan fungsinya. Sedangkan kata racun
merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan dan mengambarkan
berbagai bahan zat kimia yang dengan jelas berbahaya bagi badan. Kata racun
toxic adalah bersaral dari bahasa Yunani, yaitu dari akar kata tox, dimana
dalam bahasa Yunani berarti panah. Dimana panah pada saat itu digunakan
sebagai senjata dalam peperangan, yang selalu pada anak panahnya terdapat
racun. Di dalam Papyrus Ebers (1552 B.C.)

orang Mesir kuno memuat

informasi lengkap tentang pengobatan dan obat. Di Papyrus ini juga memuat
ramuan untuk racun, seperti antimon (Sb), tembaga, timbal, hiosiamus, opium,
terpentine, dan verdigris (kerak hijau pada permukaan tembaga). Sedangkan di
India (500 - 600 B.C.) di dalam Charaka Samhita disebutkan, bahwa tembaga,
besi, emas, timbal, perak, seng, bersifat sebagai racun, dan di dalam Susrata
Samhita banyak menulis racun dari makanan, tananaman, hewan, dan penangkal
racun gigitan ular.
Hippocrates(460-370 B.C.), dikenal sebagai bapak kedokteran, disamping itu
dia juga dikenal sebagai toksikolog dijamannya. Dia banyak menulis racun bisa
ular dan di dalam bukunya juga menggambarkan, bahwa orang Mesir kuno telah
memiliki pengetahuan penangkal racun, yaitu dengan menghambat laju
penyerapan racun dari saluran pencernaan. Disamping banyak lagi nama besar
toksikolog pada jaman ini, terdapat satu nama yang perlu mendapat catatan
disini, yaitu besar pada jaman Mesir dan Romawi kuno adalah Pendacious
Dioscorides (A.D. 50), dikenal sebagai bapak Materia Medika, adalah seorang
dokter tentara. Di dalam bukunya dia mengelompokkan racun dari tanaman,
hewan, dan mineral.
Hal ini membuktikan, bahwa efek berbahaya (toksik) yang ditimbulkan oleh
zat racun (tokson) telah dikenal oleh manusia sejak awal perkembangan
beradaban manusia. Oleh manusia efek toksik ini banyak dimanfaatkan untuk
tujuan seperti membunuh atau bunuh diri. Untuk mencegah keracunan, orang
senantiasa berusaha menemukan dan mengembangkan upaya pencegahan atau
menawarkan racun. Usaha ini seiring dengan perkembangan toksikologi itu
6

sendiri. Namun, evaluasi yang lebih kritis terhadap usaha ini baru dimulai oleh
Maimonides(1135 - 1204) dalam bukunya yang terkenal Racun dan Andotumnya.
Sumbangan yang lebih penting bagi kemajuan toksikologi terjadi dalam abad
ke-16 dan sesudahnya. Paracelcius adalah nama samaran dari Philippus Aureolus
Theophratus Bombast von Hohenheim (1493-1541), toksikolog besar, yang
pertama kali meletakkan konsep dasar dasar dari toksikologi. Dalam postulatnya
menyatakan: Semua zat adalah racun dan tidak ada zat yang tidak beracun,
hanya dosis yang membuatnya menjadi tidak beracun. Pernyataan ini menjadi
dasar bagi konsep hubungan dosis reseptor dan indeks terapi yang berkembang
dikemudian hari.
Matthieu Joseph Bonaventura Orfila dikenal sebagai bapak toksikologi
modern. Ia adalah orang Spayol yang terlahir di pulau Minorca, yang hidup
antara tahun 1787 sampai tahun 1853. Pada awak karirnya ia mempelajari kimia
dan matematika, dan selanjutnya mempelajari ilmu kedokteran di Paris. Dalam
tulisannya (1814-1815) mengembangkan hubungan sistematik antara suatu
informasi kimia dan biologi tentang racun. Dia adalah orang pertama, yang
menjelaskan nilai pentingnya analisis kimia guna membuktikan bahwa
simtomatologi yang ada berkaitan dengan adanya zat kimia tertentu di dalam
badan. Orfila juga merancang berbagai metode untuk mendeteksi racun dan
menunjukkan pentingnya analisis kimia sebagai bukti hukum pada kasus
kematian akibat keracunan. Orfila bekerja sebagai ahli medikolegal di Sorbonne
di Paris. Orfila memainkan peranan penting pada kasus La Farge (kasus
pembunuhan dengan arsen) di Paris, dengan metode analisis arsen, ia
membuktikan kematian diakibatkan oleh keracuanan arsen. M.J.B. Orfila dikenal
sebagai bapak toksikologi modern karena minatnya terpusat pada efek tokson,
selain itu karena ia memperkenalkan metodologi kuantitatif ke dalam studi aksi
tokson pada hewan, pendekatan ini melahirkan suatu bidang toksikologi modern,
yaitu toksikologi forensik. Dalam bukunya Traite des poison, terbit pada tahun
1814, dia membagi racun menjadi enam kelompok, yaitu:

corrosives,

astringents, acrids, stupefying or narcotic, narcoticacid, dan septica atau


putreficants.
2.3 RUANG LINGKUP TOKSIKOLOGI.
Sesungguhnya toksikologi merupakan perpaduan berbagai ilmu sehingga
untuk mempelajarinya harus dibekali dengan ilmu-ilmu yang lain. (Nelwan,
2010.) Dasar pembagian ruang lingkup pokok kajian toksikologi adalah cara
pemejanan dan pokok atau masalah yang dikaji. Cara pemejanan dibagi atas
pemejanan yang disengaja dan pemejanan yang tidak disengaja, sedangkan
pokok masalah yang dikaji dibedakan berdasarkan bidang yang dikaji dalam
toksikologi

secara

umum,

seperti

masalah

lingkungan,

ekonomi

dan

kehakiman/forensik.
a. Toksikologi Lingkungan
Merupakan cabang toksikologi yang menguraikan pemejanan yang tidak di
sengaja pada jaringan biologi (lebih khusus pada manusia) dengan senyawa
kimia yang pada dasarnya merupakan pencemaran lingkungan, makanan atau
air. Pada prinsipnya, toksikologi lingkungan mengkaji tentang keracunan yang
terjadi secara tidak sengaja seperti keracunan akibat makan ikan yang berasal
dari teluk minamata jepang dan mengakibatkan penyakit minamata keracunan
gas akibat aktifitas gunung berapi dan masih banyak contoh lainnya. Tujuan dari
pada toksikologi lingkungan adalah : mengurangi perlunya mencari substansi
yang aman, yang berarti harus mengetahui mekanisme bagaiman racun
menyerang organisme, mencegah terjadinya efek tang tidak di kehendaki dari
racun terhadap organisme dan kualitas lingkungan dapat membuat criteria dasar
untuk standarisasi kualitas lingkungan dapat memperbaiki cara pengolahan
karena mengetahui mekanisme terjadinya efek dan keracunan.
b. Toksikologi Ekonomi
Merupakan cabang toksikologi yang menguraikan pengaruh berbahaya zat kimia,
yang dengan segaja dipejankan pada jaringan biologi dengan maksud untuk
mencapai pengaruh atau efek khas, seperti : obat, zat tambahan makanan dan
peptisida. Pada bidang ini, keracunan bisa terjadi karena efek samping obat atau
8

berbagai gejala buruk yang muncul akibat adanya kandungan formalin dalam
produk mie instan dan lain sebagainya, dimana pemejanan obat atau makanan
tadi memang sengaja dilakukan untuk tujuan penyembuhan penyakit dan sebagai
bahan makanan.
c. Toksikologi Kehakiman/Forensik
Merupakan cabang toksikologi yang mengkaji aspek medis dan aspek hukum
atas pengaruh berbahaya zat kimia pada manusia. Pada bidang kajian ini,
masukknya senyawa kimia bisa terjadi karena kesengajaan untuk tujuan
pembunuhan atau secara tidak sengaja akibat kelalaian manusia. Akan tetapi,
yang jelas peristiwa keracunan yang terjadi menimbukan suatu masalah, dimana
masalah tersebut harus diselesaikan secara hukum di pengadilan. Kerja utama
dari toksikologi forensik adalah melakukan analisis kualitatif maupun kuantitatif
dari racun dari bukti fisik dan menerjemahkan temuan analisisnya ke dalam
ungkapan apakah ada atau tidaknya racun yang terlibat dalam tindak kriminal,
yang dituduhkan, sebagai bukti dalam tindak kriminal (forensik) di pengadilan.
Hasil analisis dan interpretasi temuan analisisnya ini akan dimuat ke dalam suatu
laporan yang sesuai dengan hukum dan perundangan-undangan. Menurut Hukum
Acara Pidana (KUHAP), laporan ini dapat disebut dengan Surat Keterangan
Ahli atau Surat Keterangan.
Belakangan ini berkembang di bidang ilmu lingkungan, problem pencemaran
lingkungan hidup akan berbicara aspek toksikologi, misalnya seberapa besar
kualitas dan kuantitas bahan kimia merusak ataupun terpenetrasi pada organisme
sehingga terjadi ketidakseimbangan lingkungan bahkan mematikan organisme
tertentu, sebab dengan pengetahuan ini kita dapat menentukan secara kuantitatif
toksikan bagi manusia. (Nelwan, 2010.
2.4. KLASIFIKASI BAHAN TOKSIK.
Bahan-bahan toksik dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, tergantung
dari minat dan tujuan pengelompokkannya.

Dimana pengelompokkannya

didasarkan atas :
Organ targetnya : hati ginjal, sistem hermatopotik, dan lain-lain..

Penggunaanya: pestisida, pelarut,aditif makanan, dan lain-lain.


Sumbernya: toksik tumbuhan dan binatang dan buatan.
efeknya: kanker, mutasi, kerusakan hati, dan sebagainya.
fisiknya: gas, debu, cair.
sifatnya : mudah meledak.
kandungan kimianya: amina aromatik, hidrokarbon halogen, dan lainlain
Tidak ada satupun klasifikasi yang sesuai untuk seluruh spektrum dari bahan
toksik. Kombinasi dari berbagai sistem klasifikasi atau berdasarkan faktor-faktor
lainyanya munkin diperlukan untuk memberikan sistem peringkat terbaik untuk
maksud tertentu. Meskupun klasifikasi yang mempertimbangkan komposisi
kimiawi dan biologis dari bahan serta karekteristik pemaparan akan lebih
bermanfaat untuk tujuan pengendalian dan pengaturan dari pemakaian zat-zat
toksik (Rukaesih Achmad, 2004: 156-157)
Di dalam lingkungan dikenal zat xenobiotik yaitu zat yang asing bagi tubuh,
dapat diperoleh dari luar tubuh (eksogen) maupun dari dalam tubuh (endogen).
Xenobiotik yang dari luar tubuh dapat dihasilkan dari suatu kegiatan atau
aktivitas manusia dan masuk ke dalam lingkungan. Bila organisme terpajan oleh
zat xenobiotik maka zat ini akan masuk ke dalam organisme dan dapat
menimbulkan efek biologis.

2.5. KARAKTERISTIK TOKSIK.


Efek merugikan/toksik pada sistem biologis dapat disebabkan oleh bahan
kimia yang mengalami biotransformasi dan dosis serta suasananya cocok untuk
menimbulkan keadaan toksik. Respon terhadap bahan toksik tersebut antara lain
tergantung kepada sifat fisik dan kimia, situasi paparan, kerentanan sistem
biologis, sehingga bila ingin mengklasifikasi toksisitas suatu bahan harus
10

mengetahui macam efek yang timbul dan dosis yang dibutuhkan serta keterangan
mengenai paparan dan sasarannya. Faktor utama yang berkaitan dengan
toksisitas dan situasi paparan adalah cara atau jalan masuknya serta durasi dan
frekuensi paparan.
Jalan masuk ke dalam tubuh suatu bahan polutan yang toksik, umumnya
melalui saluran penceraan makanan, saluran pernapasan, kulit dan jalur lain.
Jalur lain tersebut diantaranya adalah intra muskuler, intra dermal, dan sub kutan.
Jalan masuk yang berbeda ini akan mempengaruhi toksisitas bahan polutan.
Bahan paparan yang berasal dari industri biasanya masuk ke dalam tubuh melalui
kulit dan terhirup, sedangkan kejadian keracunan biasanya melalui proses
tertelan.
Perbandingan dosis letal suatu bahan polutan dan perbedaan jalan masuk dari
paparan sangat bermanfaat berkaitan dengan absorbsinya. Suatu bahan polutan
dapat diberikan dalam dosis yang sama tetapi cara masuknya berbeda. Misalnya
bahan polutan pertama melalui intravena, sedangkan bahan lainnya melalui oral,
maka dapat diperkirakan bahwa bahan polutan yang masuk melalui intravena,
memberi reaksi cepat dan segera. Sebaliknya bila dosis yang diberikan berbeda
maka dapat diperkirakan absorbsinya berbeda pula, misalnya suatu bahan masuk
melalui kulit dengan dosis lebih tinggi sedangkan lainnya melalui mulut dengan
dosis yang lebih rendah, maka dapat diperkirakan kulit lebih tahan terhadap
racun sehingga suatu bahan polutan untuk dapat diserap melalui kulit diperlukan
dosis yang tinggi.
2.6 JALUR MASUK, TEMPAT, WAKTU DAN FREKUENSI PEMAPARAN
TOKSIKOLOGI.
a) Jalur Masuk dan Tempat Pemaparan
Jalur utama bahan toksik untuk dapat masuk ke dalam tubuh manusia
adalah melalui saluran pencernaan atau gastro intestinal (menelan/ingesti,
paru-paru (inhalasi), kulit (topikal), dan jalur perenteral lainnya (selain

11

saluran usus/intestinal). Bahan toksik umumnya menyebabkan respon yang


paling cepat bila diberikan melalui jalur intravena.
Disamping itu, jalur masuk dapat mempengaruhi toksisitas dari bahan
kimia. Sebagai contoh, suatu bahan kimia yang didetoksifikasi di hati
diharapkan akan menjadi kurang toksik bila diberikan melalui sirkulasi
portal (oral) dibandingkan bila diberikan melalui sirkulasi sistematik
(inhalasi). Pemaparan bahan bahan toksik dilingkungan industry seringkali
sebagai hasil dari pemaparan melalui inhalasi dan topical, sedangkan
keracunan akibat kecelakaan atau bunuh diri seringkali terjadi melalui
ingesti oral.
b) Jalur Waktu dan Frekuensi Pemaparan
Durasi dan frekuensi paparan bahan polutan dapat diterangkan dengan
percobaan binatang. Pada percobaan binatang ahli toksikologi membagi
paparan akibat bahan polutan menjadi 4 kategori, yaitu akut, sub akut, sub
kronis, dan kronis. Paparan akut apabila suatu paparan terjadi kurang dari 24
jam dan jalan masuknya dapat melalui intravena dan injeksi subkutan.
Paparan sub akut terjadi apabila paparan terulang untuk waktu satu bulan
atau kurang, paparan sub kronis bila paparan terulang antara 1 sampai 3
bulan, dan paparan kronis apabila terulang lebih dari 3 bulan.
Pada beberapa bahan polutan, efek toksik yang timbul dari paparan
pertama sangat berbeda bila dibandingkan dengan efek toksik yang
dihasilkan oleh paparan ulangannya. Bahan polutan benzena pada pertama
akan merusak sistem saraf pusat sedangkan paparan ulangannya akan dapat
menyebabkan leukemia. Penurunan dosis akan mengurangi efek yang
timbul. Suatu bahan polutan apabila diberikan beberapa jam atau beberapa
hari dengan dosis penuh akan menghasilkan beberapa efek. Apabila dosis
yang diberikan hanya separuhnya maka efek yang terjadi juga akan menurun
setengahnya,

terlebih

lagi

apabila

dosis

yang

sepersepuluhnya maka tidak akan menimbulkan efek.


12

diberikan

hanya

Penggunaan bahan kimia oleh manusia terutama sebagai bahan baku


didalam industri semakin hari semakin meningkat.walaupun zat kimia yang
sangat toksik sudah dilarang dan dibatasi pemakaiannya, seperti pemakaian
tetra-etil timbal (TEL) pada bensin, tetapi pemaparan terhadap zat kimia
yang dapat membahayakan tidak dapat dielakkan. Pemaparan bahan-bahan
kimia terhadap manusia bisa bersifat kronik atau akut. Pemaparan akut
biasanya terjadi karena suatu kecelakaan atau disengaja (pada kasus bunuh
diri atau dibunuh), dan pemaparan kronik biasanya dialami para pekerja
terutama di lingkungan industri-industri kimia.
Efek toksik dari bahan-bahan kimia sangat bervariasi dalam sifat, organ
sasaran, maupun mekanisme kerjanya.

Beberapa bahan kimia dapat

menyebabkan cidera pada tempat yang kena bahan tersebut (efek lokal), bisa
juga efek sistematik setelah bahan kimia diserap dan tersebar ke bagian
organ lainnya. Efek toksik ini dapat bersifat reversibel artinya dapat hilang
dengan sendirinya atau irreversibel yaitu akan menetap atau bertambah
parah setelah pajanan toksikan dihentikan. Efek irreversibel (efek Nirpulih)
di antaranya karsinjoma, mutasi, kerusakan syaraf, dan sirosis hati.
Efek toksikan reversibel (berpulih) bila tubuh terpajan dengan kadar
yang rendah atau untuk waktu yang singkat, sedangkan efek terpulih terjadi
bila pajanan dengan kadar yang lebih tinggi dan waktu yang lama (Rukaesih
Achmad, 2004:170)
Di dalam ekotoksikologi komponen yang penting adalah integrasi antara
laboratorium dengan peneltian lapangan (Kenndall and Akerman, 1992).
Pendekatan eksperimental digunakan dalam analisis bahan berbahaya yang
berpotensi menimbulkan efek dapat dikembangkan pada beberapa tingkat
yang berbeda kompleksitasnya, tergantung pada target dari studi suatu
organisasi misalnya satu spesies, populasi, komuniats atau ekosistem. Hal ini
tergantung pada tipenya seperti panjang dan pendeknya waktu kematian,
khronis atau respon pada sub-khronis, kerusakan reproduktif. Sehingga
diperlukan kesepakatan diantara kenyataan ekologi dan kesederhanaan
13

dalam prosedur serta interpretasi hasil. Efek toksik yang timbul tidak hanya
tergantung pada frekuensi pemberian dengan dosis berbeda saja tetapi
mungkin juga tergantung pada durasi paparannya. Efek kronis dapat terjadi
apabila bahan kimia terakumulasi dalam sistem biologi. Efek toksik pada
kondisi kronis bersifat ireversibel. Hal tersebut terjadi karena sistem biologi
tidak mempunyai cukup waktu untuk mencapai kondisi menjadi pulih akibat
paparan terus menerus dari bahan toksik.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan.

Toksikologi merupakan ilmu atau pemahaman tentang pengaruh berbagai


macam zat-zat kimia yang merugikan bagi kelangsungan hidup makhluk
14

hidup atau studi mengenai efek-efek yang tidak diinginkan dari zat-zat
kimia terhadap organisme hidup.

Sejarah toksikologi dimulai sejak perkembangan peradaban manusia


dalam mencari makanan, tentu telah mencoba beragam bahan baik botani,
nabati, maupun dari mineral,sehingga melalui pengalamannya ini ia
mengenal makanan, yang aman dan berbahaya.

Faktor utama yang mempengaruhi toksisitas yang berhubungan dengan


situasi pemaparan (pemajanan) terhadap bahan kimia tertentu adalah jalur
masuk ke dalam tubuh, jangka waktu dan frekuensi pemaparan.

Pemaparan bahan-bahan kimia terhadap binatang percobaan biasanya


dibagi dalam empat kategori: akut, subakut, subkronik, dan kronik. Untuk
manusia pemaparan akut biasanya terjadi karena suatu kecelakaan atau
disengaja, dan pemaparan kronik dialami oleh para pekerja terutama di
lingkungan industri-industri kimia.

3.2 Saran.
Dengan adanya tulisan ini penulis menyararankan kepada pembaca untuk lebih
memahami ilmu toksikologi dengan tujuan agar terhindar dari adanya toksisitas
yang dapat menimbulkan efek berbahaya bagi tubuh ataupun mengancam jiwa.
Terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

15

Kojong, A.C.Christian. 2013. Toksikologi Dasar (beginning),


http://kojong-jumbox.blogspot.com/2011/10/toksikologi.html.
Sulistyowati,Eddy.2008. Diktat Toksikologi. Universitas Negeri Yogyakarta : Jurusan
Pendidikan Kimia
Wirasuta, Made Agus Galgel dan Rasmaya Niruri. (2007). Toksikologi Umum.
Bali: POM Jurusan Farmasi 2006.
Yashid.2014. makalah toksikologi,
http://yazhid28bashar.blogspot.com/2014/06/makalah-toksikologi.html

16