Anda di halaman 1dari 18

PERKEMBANGAN EMBRIO AYAM

LAPORAN
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH SPH II
yang dibimbing oleh Ibu Nursasi Handayani

Disusun oleh :
Kelompok 7
Dewi Karomika

(150341601038)

Difandini Rizky Firdaus

(150341606658)

Nailul Minnah

(150341601078)

Tristanti Rakhmaningrum

(150341603788)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Oktober 2016

A. Tujuan

Mempelajari tahap pembentukan organ pada berbagai umur embrio

Mempelajari lapisan embrional yang membentuk bakal organ

B. Dasar Teori
Perkembangan embrio ayam terjadi di luartubuh induk. Pembuahan terjadi di
dalam tubuh induk dan telur dikeluarkan dari tubuh dalam kondisi terbungkus oleh
cangkang yang sangat kuat untuk melindungi embrio di dalamnya. Selama
berkembang, embrio memperoleh makanan dan perlindungan dari dalam telur. Telur
terdiri dari yolk, albumen, dan kerabang telur. Telur merupakan suatu tempat
penimbunan zat gizi yang diperlukan untuk perkembangan suatu embrio hingga
menetas (Basri, 2012). Perkembangan embrio ayam tidak dapat seluruhnya dilihat
dengan mata telanjang, tetapi perlu bantuan alat khusus seperti mikroskop atau kaca
pembesar.
Pada dasarnya perkembangan embrio aves terdiri dari tahap pembelahan,
blastula, gastrula, neurula dan organogenesis. Setelah fertilisasi, sel telur burung
mengalami pembelahan meroblastik di mana pembelahan sel hanya terjadi dalam
daerah kecil sitoplasma yang bebas kuning telur. Pembelahan awal menghasilkan
tudung sel yang disebut sebagai blastodisc yang berada diatas kuning telur. Blastomer
kemudian memisah menjadi dua lapisan, yaitu epiblas dan hipoblas. Rongga diantara
kedua lapisan ini adalah blastosoel. Gastrulasi aves melibatkan perpindahan sel dari
permukaan embrio ke bagian yang lebih dalam. Beberapa sel dari lapisan sel bagian
atas (epiblas) berpindah ke arah garis tengah blastodics, kemudian melepas dan
memisah, lalu berpindah ke arah dalam menuju kuning telur. Pergerakan ke tengah
pada permukaan dan pergerakan sel-sel ke arah dalam pada garis tengah blastodics
menghasilkan lekukan yang disebut sebagai primitif streak (Campbell, 2008).
Ayam sebagai salah satu anggota bangsa aves juga mengalami tingkat
perkembangan dari telur menjadi bentuk yang terdefinisi, meliputi:
1. Perbanyakan
2. Blastulasi
Blastula di blastodiscus terdapat 2 bagian, yaitu:
a. Area pellucid (bagian tengah) diatas blastocoels
b. Area opaca (bagian yang dibawahnya terdapat yolk)

c. Epiblas (bagian luar) selaput ekstraembrional untuk melindungi dan memberikan


makan embrio adalah penebalan yang mula-mula terlihat dibagian tengah
posterior dan area pellucid, terjadi karena imigrasi sel-sel dari bagian lateral dari
epiblast posterior menuju ketengah (Yatim, 1990).
3. Gastrulasi
Pada saat gastrulasi embrio dilapisi oleh 3 lapisan benih masing-masing: ectoderm,
mesoderm, dan endoderm. Pada saat inkubasi terbentuk:
Pipa ectoderm akan menghasilkan jaringan epitel sebelah luar tubuh, kulit epidermis
dan derivatnya yang terdiri dari bahan tanduk, kuku, dll.
Pipa mesoderm menghasilkan banyak jaringan dan otot-otot lurik, otot polos dan otot
jantung. Jaringan penunjang dan jaringan pengikat juga merupakan derivate dari
mesoderm. Pipa bagian atas mesoderm membentuk otot daging tubuh columa
vertebralis dan menggantikan notochord, sel rusuk, tulang tengkorak dan tulang
muka. Pipa bagian tengah menghasilkan ginjal, gonad, dan saluran. Pipa bagian
bawah menghasilkan bagian dermis kulit, otot subsitis, dll.
Pipa endoderm menjadi lapisan terdalam dan saluran pencernaan beserta kelenjarkelenjar misalnya hati penkreas tumbuh dan pipa endoderm paru-paru berasal dari
penonjolan ventral endoderm didaerah pharink.
Pipa syaraf menjadi otak di anterior (caput) dan medulla spinalis ditengah dan di
posterior. Saluran dengan pipa dan mempunyai cara centralis pada batang saraf pada
otak.
Notochord berkembang menjadi batang belakang (Juncquera, 1980).
4. Diferensiasi
Penebalan menyempit membentuk garis primitive dari posterior dan anterior sepanjang
60-75% area pellucid sumbu anterior dari embrio nantinya membentuk lekukan
primitive, dimana terjadi modulasi dari sel kedalam blastocoels ujung anterior garis
primitive ditemukan tonjolan yang disebut nodus Hensen yang sama dengan bibir
blastophorus. Sel yang bermigrasi melalui nodus hensen bergerak kearah anterior adalah
sel mesoderm yang akan membentuk notochord. Sel yang bermigrasi melalui lateral
garis primitive akan membentuk mesoderm dan endoderm embrio (Juncquera, 1980).
Setelah telur dibuahi sampai menjelang menetas ternyata menunjukkan perubahanperubahan dalam perkembangan embrio.Adapun beberapa tahap perkembangan embrio
ayam yang dapat diamati dengan jelas adalah sebagai berikut:
1. Embrio umur 16 jam

Adanya pertumbuhan yang cepat akan terlihat suatu daerah lekukan yang pinggirnya
bertanggul pada daerah blastodiscus. Daerah ini disebut daerah primitive embrio
(Harlita, 2005).
2. Embrio umur 19-21 jam
Pada stadium ini, anterior dari nodus Hensen telah berkembang dari sistem saraf yang
masih berupa lekuk neural dan terbentuk lekukan kepala. Anterior dari lipatan kepala
terlihat bening (Harlita, 2005).
3. Embrio umur 24 jam
Tampak lipatan neural dan parit neural. Porta usus depan mulai terbentuk. Terdapat
bakal pembuluh darah yaitu pulau-pulau darah yang merupakan penebalan dari
mesoderm splanknik di area opaka (Tenzer dkk,. 2001).
4. Embrio umur 33 jam
Jantung sudah mulai membelok kekanan dan sudah terbentuk 1 pasang aorta dan vena
vitelina dari anastomosis pulau darah. Sistem-sistem saraf mulai berdiferensiasi.
Bumbung neural terbagi menjadi 3 wilayah yaitu prosensefalon, mesensefalon dan
rhombensefalon. Pada bagian anterior masih terdapat neuroporus, sedangkan di daerah
posterior terdapat wilayah terbuka disebut sinus rhomboidales. Di daerah prosensefalon
terdapat penonjolan ke arah lateral disebut vesikula optik (Tenzer dkk,. 2001).
5. Embrio umur 48 jam
Wilayah otak terbagi menjadi telensefalon, diensefalon, mesensefalon, metensefalon
dan mielensefalon. Vesikula optik berinvaginasi membentuk cawan optik yang
berdinding rangkap. Plakoda telinga berinvaginasi membentuk vesikula otik. Vena
vitelin bergabung menjadi vena omfalomesenterika yang lebih besar. Jantung berputar
seperti huruf S dan sudah terbagi menjadi atrium, ventrikel, sinus venosus dan trunkus
arteriosus (Tenzer dkk,. 2001).
6. Embrio umur 72 jam
Bakal hidung terbentuk berupa lekuk hidung, yaitu hasil invaginasi plakoda hidung.
Tunas sayap terbentuk berupa tonjolan dari permukaan tubuh lateral dekat porta usus
depan (Tenzer dkk,. 2001).
Pada perkembangan embrio ayam, embrio dibantu oleh amnion dan alantois.
Kantung kuning telur memiliki dinding yang dapat menghasilkan enzim. Enzim dapat
mengubah isi kuning telur sehingga mudah diserap embrio. Amnion berfungsi sebagai
bantal, sedangkan alantois berfungsi pembawa oksigen ke embrio, menyerap zat asam dari

embrio, mengambil sisa-sisa pencernaan yang terdapat dalam ginjal dan menyimpannya
dalam alantois, serta membantu alantois dalam mencerna albumen (Adnan, 2012).

C. Alat dan Bahan


Alat

: Mikroskop cahaya

Bahan

: Sediaan utuh embrio ayam umur 26 jam, 37 jam, 48 jam dan 72 jam

D. Prosedur Observasi
Menyiapkan mikroskop
Mengamati sayatan embrio ayam umur 26 jam, 37 jam, 48 jam dan 72 jam
Menentukan bagian-bagian embrio ayam dengan mencocokkan pada gambar literatur
Menggambar hasil amatan

E. Hasil Pengamatan
No.
1.

Gambar Pengamatan

Gambar Literatur

Embrio ayam umur 24 jam

Sumber: Bgemann, G.M, et al. 2011.


Embryology. Radboud: Radboud
University Nijmegen.
Keterangan:
1. Area opaka (gelap)
2. Area pelusida (transparan)
3. Neural fold
4. head folding
5. Foregut

2.

Embrio ayam umur 37 jam

6. Neural groove
7. Somite
8. Chorda
9. Unsegmented mesoderm
10. Hensen's node
11. Primitive streak

Sumber: Bgemann, G.M, et al. 2011.


Embryology. Radboud: Radboud
University Nijmegen.
Keterangan:
1. Prosencephalon
2. Eye vesicle
3. Mesencephalon
4. Rhombencephalon
5. Heart
6. Lateral mesoderm
3.

7. Somite
8. Spine
9. Sinus rhomboidalis
10. Primitive streak
11. Small blood vessel
12. Blood islands

Embrio ayam umur 48 jam

Sumber: Bgemann, G.M, et al. 2011.


Embryology. Radboud: Radboud
University Nijmegen.

Perbesaran: 4x10
Keterangan:
1. Amnion
2. Metencephalon
3. Mesencephalon
4. Optic cup + lens
5. Prosencephalon
6. Otic vesicle
7. Branchial arches
8. Atrium

9. Ventricle
10. Lateral fold
11. Lateral mesoderm
12. Vitelline arteria / vein
13. Somite
14. Spine
15. Tail fold

4.

Embrio ayam umur 72

Sumber: Bgemann, G.M, et al. 2011.


Embryology. Radboud: Radboud
University Nijmegen.

Perbesaran: 4x10
Keterangan:
1. Auditive (otic) vesicle
2. Myelencephalon
3. Metencephalon
4. Amnion
5. Mesencephalon
6. Optic vesicle + lens
7. Diencephalon
8. Epiphyse
9. Telencephalon
10. Branchial arches
11. Heart
12. Forelimb (wing) bud
13. Vitelline arteria/vein
14. Hindlimb (leg) bud
15. Tail

F. Pembahasan
1. Embrio Ayam Umur 26 Jam
Pada pengamatan preparat embrio ayam umur 26 jam, terlihat adanya enam somit
yang telah terbentuk. Pembentukan somit dimulai pada embrio umur 21 jam, dimana
setelah itu dalam setiap satu jam akan terbentuk satu pasang somit. Somit merupakan
salah satu dari untaian segmen longitudinal seperti blok dimana mesoderm di kedua sisi
tulang belakang embrio melakukan diferensiasi. Secara kolektif somit merupakan
lempengan vertebrata. Dari somit nantinya timbul skleretoma yaitu pendahulu dari
tubuh dan lengkungan saraf tulang, dermatoma yaitu pendahulu dari jaringan ikat kulit,
dan miotoma atau otot primitif yang merupakan asal dari otot-otot utama vertebrata.
Pada masa ini, embrio akan memperlihatkan ciri yang mudah dibedakannya antara
daerah intra embrional dengan daerah ekstra embrional (Syahrum dkk, 1994).

(Sumber: Patten, 1920)


Daerah ekstra embrional terdiri area pelusida dan area opaka. Daerah kepala
mengalami perkembangan agak cepat, namun karena adanya daerah batas pertumbuhan
terjadi lipatan kepala (haed fold), mula-mula ke ventral, setelah ke ventral daerah kepala
terangkat dan melipat ke posterior. Kemudian terjadi penutupan neural fold secara

bertahap mulai daerah di atas AIP ke posterior, dengan demikian terbentuk tabung otak.
Di area pelusida tedapat pulau-pulau darah yang merupakan bakal dari pembuluh darah.
Selain itu foregut marginal yang merupakan bakal dari faring, sistem pernafasan bagian
bawah, esofagus, lambung sebagian duodenum, hati dan sistem bilier serta pankreas
sudah mulai terlihat, di bagian posterior terdapat daerah primitif (Faradilla dkk, 2009).
Daerah primitif merupakan daerah lekukan yang pinggirnya bertanggul pada
daerah meridian blastulosus yang terbentuk karena adanya pertumbuhan yang cepat.
Selanjutnya, embrio berkembang anterior dari garis ini. Lipatan primitif diseliputi oleh
zona pellucida. Primitive steak mulai terbentuk di daerah posterior zona pellucida dan
mulai tumbuh dari sel epiblast yang bergerak ke arah median berlanjut ke arah
posterior. Sel di dalam primitive steak akan memperbanyak diri hingga memenuhi
hampir setengah zona pellucida yang terdiri dari bakal pre-chorda, notochord dan
mesoderm yang berconvergensi streak dilanjutkan berinvolusi antar hipoblast dan
epiblast. Terbentuknya garis primitif yang berupa penebalan yang pertama kali terlihat
pada bagian tengah posterior dari zona pelusida yang terjadi karena migrasi sel-sel dari
bagian lateral dari epiblast posterior menuju ke median. Penebalan ini selanjutnya
menyempit dan membentuk garis primitif dari posterior ke anterior sebanyak 60-70%
dari zona pelusida. Lekuk primitif mempunyai fungsi seperti blastoporus pada katak
yaitu sebagai tempat terjadinya involusi sel ke dalam blastosol. Daerah embrional juga
tampak mulai dari bagian somit terakhir hingga dekat daerah primitif serta neural fold
yang terletak di daerah anterior (Syahrum dkk, 1994).

2. Embrio Ayam Umur 37 Jam


Pada pengamatan preparat embrio ayam umur 37 jam, sudah terbentuk 17 pasang
somit. Jantung terbentuk membelok kekanan dan terletak di daerah ventral anterior
intestinal. Pembentukanya dimulai dari perapatan median sepanjang kapiler sub
intestinal di ventral foregut diikuti selandus mesoderm spinalis mesoderm yang
membentuk lapisan epikardium direntang mesoderm yang membentuk lipatan ke dalam.
Bumbung neural telah terbagi menjadi 3 wilayah yaitu prosensefalon, mesensefalon,
dan rhombensefalon. Prosensefalon terjadi dari tiga neuromer pertama dan merupakan
bagian anterior otak. Mesensefalon merupakan otak bagian tengah yang berbentuk oval
dan menyediakan kebutuhan dalam proses data dari mata dan telinga. Bagian dorsal
akan membentuk lobus optic, dan visual center. Mesensefalon terdiri dari dua
neuromer. Rombensefalon bagian otak belakang yang berhubungan dengan sistem

pendengaran dan keseimbangan. Selain itu terdapat pula vesikula optik yang merupakan
diferensiasi dari dinding lateral prosensefalon yang terevaginasi. Jantung pada embrio
fase ini telah berdiferensiasi menjadi atrium dan ventrikel. Selain itu pada bagian
ventral notochord terdapat vena vitelin yang terbentuk dari jantung kapiler subintestinal
(Syahrum dkk, 1994).

(Sumber: Patten, 1920)


3. Embrio Ayam Umur 48 Jam
Pada pengamatan preparat embrio ayam umur 48 jam, somit yang telah terbentuk
sebanyak 28 pasang. Menurut Djuhanda (1981), embrio yang berumur 48 jam bagianbagian

yang

dapat

teramati

adalah

telensefalon,

diensefalon,

mesensefalon,

metensefalon, dan mielensefalon. Telensefalon dan diensefalon merupakan diferensiasi


dari prosensefalon serta metensefalon dan mielensefalon merupakan diferensiasi dari
rhombensefalon. Telensefalon merupakan bagian dari forebrain yang akan menjadi
bilobed, dan berasosiasi dengan organ olfaktori serta indra penciuman seperti pusat
intelejensi (biasa disebut serebrum). Diensefalon merupakan organ bagian dari

forebrain. Strukturnya sulit dibedakan dengan telensefalon, namun dapat diientifikasi


dengan lateral evaginasi (pelepasan satu paket sel) vesikula optik. Sisa evaginasi
dinding lateral akan membentuk thalamus (daerah integrasi sensoris). Bagian dasarnya
akan menjadi hipotalamus (sender hormone into posterior pituitrary) (Syahrum dkk,
1994).

(Sumber: Gilbert, 2006)


Bagian atas diencephalon akan membentuk anterior choroid plexus. Evaginasi
bagian atas diencephalon (epifisis) akan menjadi pineal gland. Metensefalon merupakan
bagian dari hindbrain yang membentuk cerebellum secara dorsal dan pons secara
vertical. Serebelum berfungsi untuk mengatur kordinat dan keseimbangan tubuh dalam
berdiri. Pons berfungsi untuk menghubungkan antara cerebrum dengan serebelum.
Mielensefalon merupakan bagian dari hindbrain yang biasa disebut medulla oblongata
berfungsi untuk mengatur gerakan motorik dan syaraf sensoris serta menghubungkan
otak dengan tulang belakang. Somit yang terbentuk sebanyak 28 pasang, lens placode
mulai berkembang yang selanjutnya akan membentuk lens vesicle. Vesikula optik
melakukan invaginasi membentuk cawan optik yang akan membentuk bagian dalam
mata seperti syaraf mata, retina dan pigmen retina. akan menjadi cikal bakal organ
penglihatan embrio ayam. Bagian

kepala embrio mengalami pelekukan (chepalic

flexure) sehingga mesensefalon

tampak di sebelah dorsal, prosensefalon dan

rombensefalon tampak sejajar. Terdapat pula vena vitelin dan posterior limb bud. Tunas
ekor sudah mulai terbentuk,berupa tonjolan ekor yang disebut talltoid.Tonjolan berada
di atas yolk disebut juga jaringan ekstra embrional. Pada seri pertama terbentuk paniris
arcus aurticus, chorda dorsalis, dan selaput embrio (Syahrum dkk, 1994).

4. Embrio Ayam Umur 72 Jam


Pada pengamatan preparat embrio ayam umur 72 jam, telah tebentuk 52 pasang
somit. Sinus venosus sudah mengalami perkembangan pada bagian jantung. Cawan
optik dan lensa telah tampak semakin jelas. Embrio mengalami pelekukan servikal,
sehingga daerah rhombencephalon berada di sebelah dorsal dan telencephalon
mendekati perkembangan jantung. Lipatan kepala makin berkembang ke arah posterior,
sebaliknya dengan amniotic tail fold (berkembang ke arah anterior), dan lateral body
fold semakin menutup. Mata terletak lebih ke arah kaudal dari pada otosis.
Berkembangnya derivat neural crest berupa pasangan ganglion saraf-saraf kranial di
daerah ventro-lareral rhombensefalon. Terjadinya penebalan mesoderm yang akan
berkembang menjadi upper limb bud atau wing bud, merupakan primordia sayap di
daerah setinggi AIP, sedangkan di daerah kauda dibentuk lower bud yaitu primordia
kaki. Tepat disebelah kaudal allantois ectoderm dan entoderm bersatu membentuk
membrane kloaka dan apabila pecah akan membentuk anus (Syahrum dkk, 1994).

(Sumber: Gilbert, 2006)

G. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah:
Umur inkubasi ayam dapat diketahui dan dibedakan dengan menghitung jumlah
somit yang sudah terbentuk.
Pada preparat embrio ayam dengan usia 26 jam dapat dibedakan antara daerah intra
embrional dengan daerah ekstra embrional. Pada usia 26 jam, enam pasang somit
terbentuk di bagian kanan dan kiri atau pada bagian lateral notochord.
Pada preparat embrio ayam dengan umur 37 jam sudah terbentuk 17 pasang somit,
jantung mulai terbentuk dan membelok ke kanan. Sistem saraf mulai berdiferensiasi
dan dinding lateral prosensefalon yang terevaginasi menjadi vesikula optik.
Pada preparat embrio ayam usia 48 jam sudah terbentuk 28 pasang somit, bagian
kepala embrio mengalami pelekukan (chepalic flexure) sehingga mesensefalon
tampak di sebelah dorsal, prosensefalon dan rombensefalon tampak sejajar.
Pada preparat embrio ayam usia 72 jam, sudah terbentuk 52 pasang somit embrio
mengalami pelekukan servikal, sehingga daerah rhombesenfalon berada di sebelah
dorsal dan telensephalon mendekati perkembangan jantung. Lipatan kepala makin
berkembang ke arah posterior.

H. Diskusi
Pada pengamatan embrio ayam yang telah dilakukan dengan mengamati preparat awetan
embrio ayam dengan variasi umur dibawah mikroskop, keadaan atau sediaan embrio nya
berbeda-beda antara kelompok yang satu dengan yang lain, preparat tidak sama antara
umur inkubasi 24 jam, ada yang 26 jam, hal tersebut dikarenakan perbedaan pembuatan
preparat. Akan tetapi umur embrio ayam dapat diamati dengan menghitung somitnya dan
dengan mencocokkan organ yang sudah terbentuk berdasarkan teori yang sudah ada.
Sebagian besar teori dan hasil amatan sudah cocok dengan literatur akan tetapi pada
beberapa preparat tidak dapat diamati dengan jelas bagian-bagiannya dan tidak dapat
dihitung dengan jelas bagian somitnya hal tersebut dikarenakan preparat awetan sudah
berasal dari masa yang lama sehingga kemungkinan mengalami kerusakan bisa terjadi,
selain itu pada beberapa mikroskop tidak dapat mengamati objek dengan jelas dikarenakan
kerusakan mikroskop dan lensa mikroskop yang kurang bersih. Selebihnya keadaan atau
sediaan preparat pada pengamatan embrio ayam ini beserta teorinya memiliki banyak
kesingkronan.

Tugas/Evaluasi
1. Pengamatan embrio ayam inkubasi 48 jam telah dilakukan. Bakal organ apa sajakah
yang berasal dari ektoderm, mesoderm, dan endoderm?
Jawab:Bakal organ yang berasal dari lapisan ektoderm, mesoderm dan endoderm pada
embrio ayam inkubasi 48 jam adalah:
No

Lapisan Germinal

Turunan

Bakal Organ

Ektoderm

Turunan ektoderm Terbentuk vesikula otic yang akan


adalah saraf pusat menjadi telinga, dan otak yang terbagi
dan mata

menjadi

telenssefalon,

mesensefalon,

diensefalon,

metensefalon,

dan

mielensefalon. Bakal organ adalah lensa


mata dan terbentuk optic cup.
2

Mesoderm

Turunan mesoderm Terbentuk bakal organ jantung yaitu


adalah

vena omfalomesensetrika dan jantung

pembentukan organ berputar seperti huruf S dan sudah


tubuh,
urogenital,

sistem terbagi menjadi atrium, ventrikel, sinus


dan venosus, dan trunkus arteriosus. Rangka

peredaran darah.

(tulang/osteon), alat reproduksi (testis


dan ovarium)

Endoderm

Turunan endoderm Terbentuk organ bakal usus, epitelium


adalah

yang melapisi sitem respirasi, bakal

pembentukan

organ paru-paru; hati; pankreas; tiroid;

sistem pencernaan paratiroid;


dan respirasi.

timus;

lapisan

kandung kemih.

2. Anda telah mengamati pembuluh darah yang terbentuk pada perkembangan embrio
ayam. Jelaskan tentang:
a. Awal terbentuknya pembuluh darah
Jawab: Pada embrio ayam yang termasuk vertebrata maka telurnya memiliki yolk.
Vena vitelin (omfalomesensetrika) dibentuk dari kumpulan sel-sel mesoderm

uretra,

splanknik yang menjadi pulau-pulau darah pada kantung yolk. Awal terbentuknya
pembuluh darah pada embrio aves adalah ketika pulau-pulau darah mulai tampak
pada area opakawaktu daerah unsur primitif mencapai ukuran maksimal. Pulaupulau darah kemudian berongga membentuk tabung berdinding rangkap seperti
halnya jantung. Sel-sel di bawah lapisan luar memipih dan menjadi lapisan
endotelium dan sel-sel lapisan luar menjadi otot polos. Kelompok sel darah di
dalam berdiferensiasi menjadi sel-sel darah embrio. Seiring pulau-pulau darah
berdiferensiasi, lapisan endotelium dan otot polos bersatu membentuk jaringan
kapiler yang bermuara di kedua pembuluh vitelin yang membawa makanan dan
darah ke dalam jantung yang baru dibentuk. Hal tersebut merupakan awal
terbentuknya pembuluh darah pada embrio ayam.
b. Terbentuknya pembuluh darah intra embrio
Jawab: Sama seperti terbentuknya pembuluh darah ekstra embrio, terbentuknya
pembuluh darah intra embrio pada kantung yolk hampir sama akan tetapi disini selselnya berasal dari mesenkim. Vena vitelin (omfalomesensetrika) dibentuk dari
kumpulan sel-sel mesenkim yang menjadi pulau-pulau darah pada kantung yolk.
Pulau-pulau darah mulai tampak pada area opaka waktu daerah unsur primitif
mencapai ukuran maksimal. Pulau-pulau darah kemudian berongga membentuk
tabung berdinding rangkap seperti halnya jantung. Sel-sel di bawah lapisan luar
memipih dan menjadi lapisan endotelium dan sel lapisan luar menjadi otot polos.
Kelompok sel darah di dalam berdiferensiasi menjadi sel-sel darah embrio. Seiring
pulau-pulau darah berdiferensiasi, lapisan endotelium dan dan otot polos bersatu
membentuk jaringan kapiler yang bermuara di kedua pembuluh vitelin yang
membawa makanan dan darah ke dalam jantung yang baru dibentuk.

3. Bandingkan dan jelaskan perbedaan perkembangan organ pada embrio ayam umur
inkubasi 33 jam dan 48 jam.
Jawab: Tabel perbandingan embrio ayam inkubasi 33 jam dan inkubasi 48 jam.
No

Perkembangan
Organ

Bumbung neural

Embrio ayam 33 jam

Embrio ayam 48 jam

Terbagi menjadi 3 bagian

Terbagi menjadi 5 bagian yaitu

yaitu prosensefalon,

prosensefalon menjadi telensefalon

mesensefalon, dan

dan diensefalon, mesensefalon

rombensefalon.

tetap, rombensefalon menjadi


metensefalon dan mielensefalon.

Neuroporus dan
Sinus Romboidales

Prosensefalon

Vesikula telinga

Vena vitelin

Masih ditemukan neuroporus

Tidak ditemukan neuroporus dan

di anterior dan sinus

sinus romboidales baik di anterior

romboidales di posterior.

dan di posterior.

Terdapat penonjolan lateral


disebut vesikula optic.

Belum terbentuk.

Vesikula optik invaginasi


membentuk cawan optik berdinding
rangkap.
Terbentuk plakoda telinga yang
berinvaginasi.

Vena vitelin mulai terbentuk

Vena vitelin telah terbentuk dan

dari pulau-pulau darah yang

bergabung membentuk vena

beranastomosis.

omfalomesensetrika.
Jantung berputar seperti huruf S

Jantung

Jantung berupa tabung yang

dan sudah terbagi menjadi atrium,

membelok ke kanan.

ventrikel, sinus venosus, dan


trunkus arteriosus.

Daftar Rujukan

Adnan. 2010. Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM


Makassar.
Basri. 2012. Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Bogemann, G.M, et al. 2011. Embryology. Radboud: Radboud University Nijmegen.
Campbell, Neil A, & Reece, Jane B. 2008. Biologi 1 Ed. 8. Jakarta: Erlangga.
Djuhanda, T. 1981. Embriologi Perbandingan. Bandung: Armico.
Faradilla, N dkk. 2009. Anestesi pada Tindakan Posterosagital Anorektoplasti pada Kasus
Malformasi Anorektal. (Online)
(https://yayanakhyar.files.wordpress.com/2009/06/malformasi_anorektal_files_of_dr
smed.pdf) diakses pada 30 Oktober 2016.
Gilbert, S.F. 2006. Developmental Biology 8 th ed. USA: Sinauer Associates Inc.
Harlita. 2005. Petunjuk Praktikum SPH 3. Surakarta: UNS Press.
Juncquera. 1980. Histologi Dasar. Jakarta: PT EGC.
Patten, B.M. 1920. The Early Embryology of the Chick. Philadelphia: P. Blakiston's Son
and Co.
Syahrum, M. H. Dkk. 1994. Reproduksi dan Embriologi: Dari Satu Sel Menjadi
Organisme.Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Tenzer, Amy., Handayani, Nursasi., Lestari, Umie., Listyorini, Dwi., Judani, Titi., Gofur,
Abdul. 2001. Petunjuk Praktikum Perkembangan Hewan. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Yatim, Wildan. 1990. Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Tarsito.