Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah
satu komplikasi pada bayi yang bila tidak ditangani secara benar
dapat menyebabkan kematian. Penyebab bayi lahir dengan
berat badan rendah hingga saat ini belum diketahui namun
kebanyakan karena penyakit ibu, aktivitas ibu, dan status sosial
ibu, termasuk komplikasi pada saat ibu hamil. 1
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia
kehamilan yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu
juga dapat disebabkan dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup
bulan (usia kehamilan 38 minggu), tetapi berat badan (BB)
lahirnya lebih kecil dibandingkan dengan masa kehamilannya,
yaitu tidak mencapai 2.500 gram. 2
Prevalensi berat badan lahir rendah (BBLR) menurut
World Health Organization (WHO) 2010 diperkirakan 15% dari
seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-3,8% dan lebih
sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosial ekonomi
rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR
didapatkan di Negara berkembang dan angka kematiannya 35
kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat badan lahir
lebih dari 2500 gram. Hal ini dapat terjadi dan dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti ibu mempunyai penyakit yang
langsung berhubungan dengan kehamilan, dan usia ibu. 3

Di tingkat Assosiation Of South East Asian Nation


(ASEAN), angka kematian bayi di Indonesia tahun 2010 yaitu 31
per 1.000 kelahiran hidup. Angka itu, 5,2 kali lebih tinggi
dibandingkan Malaysia juga 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan
Filipina dan 2,4 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan
Thailand. 4
Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara
satu dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil
study di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan
rentang 2,1%-17,2%. Secara nasional berdasarkan analisa
lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5%. Angka ini lebih besar
dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program
perbaikan gizi menuju Indonesia sehat 2010 yakni maksimal
7%. 5
Menurut Survey Demografi dan Kesehatan (SDKI) 200 72008, pada skala nasional juga masih terjadi kesenjangan
kematian bayi antara propinsi dengan variasi sangat besar yaitu
Propinsi Sulawesi Selatan mencapai 3,33 per 1.000 kelahiran
hidup (tertinggi) dan propinsi D.I. Yogyakarta mencapai 23 per
1.000 kelahiran hidup (terendah) sekitar 57% kematian bayi
tersebut terjadi pada bayi umur di bawah 1 bulan dan utamanya
disebabkan oleh gangguan perinatal dan berat badan lahir

rendah. Diperkirakan setiap tahunnya 400.000 bayi lahir dengan


berat badan lahir rendah (BBLR). 6
Laporan Millenium Development Goals (MDGs) tahun
2010 di Indonesia menunjukkan bahwa angka kematian bayi
telah mengalami penurunan dari 68 per 1.000 KH di tahun 1991
menjadi 34 per 1.000 KH di tahun 2007 dan mencapai 30 per
1.000

KH

di

tahun

2009.

Dari

data

kematian

tersebut

menunjukkan bahwa 55,8% dari kematian bayi terjadi pada


periode neonatal, sekitar 78,5%-nya terjadi pada umur 0-6 hari. 4
Menurut data dari dinas kesehatan provinsi Sulawesi
selatan pada tahun 2011, jumlah bayi normal sebanyak 141.744
(98,10%),

BBLR

2.743

(99,36%),

meninggal

(1,90%),

925

kelahiran

(0,64%)

dari

hidup

145.412

144.487
kelahiran

keseluruhan. 7
Dari bagian pencatatan dan pelaporan Rumah Sakit Sitti
Khadijah III Makassar pada Tahun 2012 didapatkan 440 jumlah
kelahiran hidup dari jumlah kelahiran ini didapatkan 26 (27,9%)
bayi

yang mengalami BBLR dan pada tahun 2013 dari bulan

januari sampai bulan juni didapatkan 186 jumlah kelahiran hidup


dari jumlah kelahiran ini didapatkan 15 (17%) bayi yang
mengalami BBLR. 8
Salah satu pendekatan yang dianggap penting dalam
penanganan

BBLR

adalah

dengan

melakukan

Manajemen

Asuhan Kebidanan. Oleh karena itu maka penulis tertarik untuk


membuat

karya

tulis

ilmiah

dengan

mengangkat

judul

Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Bayi M Dengan Berat


Badan Lahir Rendah Di RSIA Sitti Khadijah III Makassar Tahun
2013.
B. Ruang Lingkup Penulisan
Ruang lingkup penulisan karya tulis ilmiah ini dengan
penerapan Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Bayi M
Dengan Berat Badan Lahir Rendah di RSIA Sitti Khadijah III
Makassar yang dilaksanakan Tahun 2013.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Dapat melaksanakan manajemen asuhan kebidanan
pada bayi M dengan berat badan lahir rendah di RSIA Sitti
Khadijah III Makassar Tahun 2013 dengan menggunakan
pendekatan

manajemen

kebidanan

sesuai

kewenangan

bidan.
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melaksanakan pengkajian dan analisa data pada
bayi M dengan berat badan lahir rendah di RSIA Sitti
Khadijah III Makassar Tahun 2013.
b. Dapat menganalisis dan menginterpretasikan data untuk
menentukan diagnosa/masalah aktual pada bayi M

dengan berat badan lahir rendah di RSIA Sitti Khadijah III


Makassar Tahun 2013.
c. Dapat menganalisis dan menginterpretasikan data untuk
menentukan diagnosa/masalah potensial pada bayi M
dengan berat badan lahir rendah di RSIA Sitti Khadijah III
Makassar Tahun 2013.
d. Dapat melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi
pada bayi M dengan berat badan lahir rendah di RSIA
Sitti Khadijah III Makassar Tahun 2013.
e. Dapat merencanakan tindakan dalam asuhan kebidanan
pada bayi M dengan berat badan lahir rendah di RSIA
Sitti Khadijah III Makassar Tahun 2013.
f. Dapat melaksanakan tindakan asuhan kebidanan pada
bayi M dengan berat badan lahir rendah di RSIA Sitti
Khadijah III Makassar Tahun 2013.
g. Dapat mengevaluasi asuhan kebidanan pada bayi M
dengan berat badan lahir rendah di RSIA Sitti Khadijah III
Makassar Tahun 2013.
h. Dapat mendokumentasikan semua temuan dan tindakan
dalam asuhan kebidanan yang telah dilaksanakan pada
bayi M dengan berat badan lahir rendah di RSIA Sitti
Khadijah III Makassar Tahun 2013.
D. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan pada kasus tersebut di


atas adalah:
a. Manfaat praktis
Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan
ujian akhir jenjang pendidikan Diploma III Kebidanan Akademi
Kebidanan Universitas Muslim Indonesia Makassar.
b. Manfaat Ilmiah
Sebagai bahan masukan/informasi bagi tenaga bidan di
RSIA Sitti Khadijah III untuk menyelesaikan kasus khususnya
yang berkaitan dengan bayi berat lahir rendah.
c. Manfaat Institusi
Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan
ujian

akhir

jenjang

Universitas
acuan/pedoman

pendidikan

Muslim
bagi

Diploma

Indonesia
institusi

jurusan

III

Kebidanan

Makassar

bahan

kebidanan

untuk

penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) selanjutnya.


d. Manfaat Bagi Penulis
Merupakan pengalaman yang dapat menambah
kemampuan dalam penerapan manajemen asuhan kebidanan
khususnya bayi berat lahir rendah.
E. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan Karya Tulis
Ilmiah ini secara sistematis meliputi :
a. Studi Kepustakaan
Penulis

membaca

dan

mempelajari

buku-buku

berbagai literatur yang berkaitan dengan masalah diangkat

sebagai dasar teori yang dapat digunakan dalam pembahasan


karya tulis ilmiah ini.
b. Studi Kasus
Melaksanakan studi kasus pada bayi M dengan
menggunakan

pendekatan

pemecahan

masalah

melalui

asuhan kebidanan yang meliputi pengkajian, merumuskan


diagnosa/masalah
perencanaan

aktual

tindakan,

maupun

masalah

implementasi,

potensial,

evaluasi

dan

dokumentasi.
Dalam

memperoleh

data

yang

akurat

penulis

menggunakan tehnik :
1) Anamnesa
Penulis melakukan tanya jawab dengan orang tua
dan keluarga guna memperoleh data yang diperlukan
untuk memberikan asuhan kebidanan pada bayi tersebut.

2) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis
untuk menjamin diperolehnya data yang lengkap dengan
cara inspeksi terhadap karakteristik luar meliputi kulit,
telinga, genitalia, postur dan tonus otot, ukur tinggi badan

dan berat badan, apgar scor, anus, dan pemeriksaan


diagnostik lainnya sesuai dengan kebutuhan dan indikasi.
3) Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi dilakukan dengan mempelajari
status kesehatan bayi/klien yang bersumber dari catatan
dokter, bidan, dan hasil pemeriksaan penunjang lainnya
yang dapat memberi kontribusi dalam menyelesaikan
tulisan ini.
4) Diskusi
Penulis menggunakan tanya jawab dengan dokter
atau bidan yang menangani langsung bayi tersebut serta
berdiskusi dengan dosen pembimbing karya tulis ilmiah
ini.
F. Sistematika Penulisan
Untuk memperoleh gambaran umum tentang karya tulis ini
maka penulis menyusun dengan sistematis sebagai berikut :
BAB

I:

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Ruang Lingkup Penulisan
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
D. Manfaat Penulisan

E. Metode Penulisan
F. Sistematika Penulisan
BAB II :

TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Berat Badan Lahir
Rendah
1. Pengertian Berat Badan Lahir Rendah
2. Klasifiklasi Berat Badan Lahir Rendah
3. Etiologi Berat Badan Lahir Rendah
4. Gambaran

Klinik

Berat

Badan

Lahir

Rendah
5. Diagnosis Berat Badan Lahir Rendah
6. Prognosis Berat Badan Lahir Rendah
7. Penatalaksanaan

Berat

Badan

Lahir

Rendah
B. Tinjauan Dalam Islam Tentang Penciptaan
Manusia
C. Tinjauan Umum Tentang

Proses Manajemen

Kebidanan
1. Pengertian Manajemen Kebidanan
2. Pengertian Asuhan Kebidanan
3. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan
4. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan

10

5. Pendokumentasian

Manajemen

Asuhan

Kebidanan
D. Penyelenggaraan Praktik Bidan
1. Pasal 16 ayat 2
2. Pasal 17
BAB III :

STUDI KASUS
A. Langkah 1:

Pengkajian

dan

Analisa Data Dasar


B. Langkah 2 :

Merumuskan

Diagnosa/Masalah Aktual
C. Langkah 3:

Merumuskan

Diagnosa/Masalah Potensial
D. Langkah 4

:Tindakan Segera

dan Kolaborasi Asuhan Kebidanan


E. Langkah 5:
Tindakan

Rencana
Asuhan

Kebidanan
F.Langkah 6 :

Pelaksanaan

Tindakan Asuhan Kebidanan


G. Langkah 7

Evaluasi

Asuhan Kebidanan
H.

Pendokumentasian Hasil Asuhan Kebidanan


BAB IV : PEMBAHASAN

Hasil

11

Pada bab ini penulis akan membahas tentang


kesenjangan
manajemen
secara

antara
asuhan

sistematis

teori

dan

kebidanan
mulai

dari

pelaksanaan
yang

dibahas

pengkajian,

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.


BAB V :

PENUTUP
Merupakan bab terakhir yang memuat kesimpulan
dari hasil pelaksanaan studi yang dilakukan dan
juga

memuat

saran-saran

kualitas asuhan kebidanan.


DAFTAR PUSTAKA

operasional

untuk

12

BAB II

LAMPIRAN

TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
1. Pengertian Berat Badan Lahir Rendah
a.

Bayi berat lahir rendah adalah berat badan bayi kurang


dari 2.500 gram. 9

b.

BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir pada


saat kelahiran kurang dari 2500 gram (sampai 2499 gram)
tanpa memandang masa kehamilan. 10

c.

Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang


beratnya kurang dari 2,5 kilogram saat dilahirkan. 11

2. Klasifikasi BBLR
Bayi yang lahir dengan berat 2.500 gram atau lebih
dianggap cukup matang. Pertumbuhan rata-rata bayi di dalam
rahim dipengaruhi oleh berbagai faktor (Keturunan, penyakit
ibu, nutrisi, dan sebagainya). Oleh karena itu, dilakukan
penggolongan dengan menggabungkan berat badan lahir dan
umur kehamilan atau masa gestasi sebagai berikut :
a. Preterm infant atau bayi prematur, yaitu bayi yang lahir
pada umur kehamilan tidak mencapai 37 minggu.
b. Term infant atau bayi cukup bulan (maturre/atern) yaitu
bayi yang lahir pada umur kehamilan lebih dari 37 sampai
42 minggu.

13

c. Post term infant atau bayi lebih bulan (post term/post


matur) yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan sesudah
42 minggu.
Berdasarkan pengelompokkan tersebut (BBLR) dapat
dikelompokkan menjadi prematur murni dan dismatur.
a. Prematuritas

murni

yaitu

bayi

lahir

dengan

masa

kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badannya


sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan itu atau
biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa
kehamilan (SMK). Bayi lahir kurang bulan mempunyai
organ dan alat-alat tubuh yang belum berfungsi normal
untuk dapat bertahan hidup di luar rahim.
b.

Dismaturitas adalah bayi lahir dengan berat badan kurang


dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Hal
ini berarti bahwa mengalami reterdasi pertumbuhan intra
uterine dan merupakan bayi yang kecil untuk masa
kehamilannya (KMK) dimana bayi ini mempunyai organ
dengan alat-alat tubuh yang sudah matang ( matura) dan
berfungsi lebih baik dibandingkan dengan bayi lahir kurang
bulan walaupun berat badannya kurang. 5

3. Etiologi (Penyebab) BBLR

14

A. Penyebab BBLR secara umum


Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran
prematur. Faktor ibu yang lain adalah umur, paritas, dll.
Adapun BBLR dapat disebabkan oleh beberapa faktor
yaitu:
1. Faktor ibu
a. Penyakit
1) Toksemia gravidarum
2) Perdarahan antepartum
3) Trauma fisik dan psikologis
4) Nefritis akut
5) Diabetes mellitus
b. Usia ibu
1) Usia < 16 tahun
2) Usia > 35 tahun
3) Multigravida yang jarak kelahirannya terlalu dekat
c. Keadaan sosial
1) Golongan sosial ekonomi rendah
2) Perkawinan yang tidak sah
d. Sebab lain:
1) Ibu yang perokok
2) Ibu peminum alkohol
3) Ibu pecandu narkotik

15

2. Faktor janin
a. Hidramnion
b. Kehamilan ganda
c. Kelainan kromosom
3. Faktor lingkungan
a. Tempat tinggal dataran tinggi
b. Radiasi
c. Zat-zat racun. 12
4.

Gambaran Klinis Berat Badan Lahir Rendah


Gambaran bayi berat badan lahir rendah tergantung
dari umur kehamilan sehingga dapat dikatakan bahwa makin
kecil bayi atau makin muda kehamilan makin nya ta sebagai
gambaran umum dapat dikemukakan bahwa bayi berat lahir
rendah mempunyai karekteristik :
a. Berat badan kurang dari 2.500 gram.
b. Panjang badan kurang dari 45 cm.
c. Lingkar dada kurang dari 30 cm.
d. Lingkar kepala kurang dari 33 cm.
e. Kepala relatif lebih besar.
f. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.
g. Kulit tipis transparan, rambut lanugo banyak, lemak
kurang.
h. Otot hipotonik lemah.

16

i. Pernapasan tak teratur dapat terjadi terjadi apnea (gegal


napas).
j. Ekstremitas : Paha abduksi, sendi lutut/kaki fleksi lurus.
k. Kepala tidak mampu tegak.
l. Pernapasan sekitar 45 sampai 50 kali permenit.
m.

frekuensi nadi 100 sampai 140 kali per menit. 13


5. Diagnosis Berat Badan Lahir Rendah
a. Sebelum bayi lahir
1) Pada

anamnese

sering

dijumpai

adanya

riwayat

abortus, partus prematurus dan lahir mati.


2) Pembesaran uterus tidak sesuai umur kehamilan.
3) Pergerakan janin yang pertama terjadi lebih lambat
gerakan janin lambat walaupun kehamilannya sudah
agak lanjut.
4) Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai
menurut yang seharusnya.
5) Sering dijumpai kehamilan dengan polihidramnion atau
biasa pula dengan hidramnion, hiperemesis gravidarum
dan pada hamil lanjut dengan perdarahan antepartum.
b. Setelah bayi lahir
1) Bayi dengan reterdasi pertumbuhan intra uterine.
Secara
kelaparan,

klasik

tanda-tanda

tampak
bayi

seperti
ini

adalah

bayi

yang

tengkorak

kepala besar, gerakan bayi terbatas, vernik keseosa

17

sedikit atau tidak ada kulit tipis, kering, berlipat-lipat,


mudah diangkat abdomen cekung atau rata. Jaringan
lemak bawah kulit sedikit tali pusat tipis, lembek dan
berwarna kehijauan.
2) Bayi

prematur

yang

lahir

sebelum

kehamilan

37

minggu.
Verniks kaseosa ada jaringan lemak bawah
sedikit tulang tengkorak lunal mudah bergerak, muka
seperti boneka (doil like), abdomen bunait, tali pusat
tebal dan segar, menangis lemah, tonus otot hipotoni
dan kuat tipis merah dan transparan.
3) Bayi small for data sama dengan bayi dengan reterdasi
pertumbuhan intra uterine.
4) Bayi prematur kurang sempurna pertumbuhan alat-alat
dalam tubuhnya
gangguan

karena itu sangat peka terhadap

pernapasan,

infeksi,

trauma

kelahiran,

hipotermi dan sebagainya pada bayi kecil untuk masa


kehamilan (small for the) alat-alat dalam tubuh lebih
berkembang dibandingkan dengan bayi prematur berat
badan sama, karena itu akan lebih mudah hidup di luar
rahim, namun tetap lebih peka terhadap infeksi dan
hipotemi dibandingkan bayi matur dengan berat badan
normal. 2
6. Prognosis Berat Badan Lahir Rendah

18

Prognosis BBLR ini tergantung dari berat ringannya.


Masalah perinatal misalnya masa gestasi (makin muda
gestasi/makin
kematian),

rendah

berat

asfiksia/istemia

pernapasan,

metabolik

intra

retrolental,

(asidosis

makin

otak.

perdarahan

bronkupulmonal

bayi

tinggi

angka

Sindroma

gangguan

ventrikuler,

displesia

filopsia

hipogklikemia,

infeksi,

gangguan

hiperbilirubemia).

Prognosis juga tergantung dari keadaan sosial ekonomi,


pendidikan orang tua dan perawatan pada saat kehamilan,
persalinan

dan

postnatal

(pengaturan

suhu

lingkungan

resusitasi makanan mencegah infeksi, mengatasi gangguan


pernapasan asfiksia hiperbilirubemia, hipoglikemia. 14
7. Penatalaksanaan Berat Badan Lahir Rendah
Berdasarkan gambaran klinis pada bayi berat lahir
rendah

maka

perawatan

dan

pengawasannya

terutama

ditujukan pada pengaturan panas badan. Pemberian makanan


bayi dan menghindari infeksi:
a. Pengaturan Suhu bayi
Bayi prematur mudah dan cepat sekali menderita
hipotermia

bila

berada

di

lingkungan

yang

dingin.

Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh yang


relatif lebih luas bila dibandingkan dengan berat badan.
Bila bayi di rawat di dalam inkubator, maka suhunya untuk

19

bayi dengan berat badan kurang dari 2 kg adalah 35 0 C dan


untuk bayi berat badan 2000-2500 kg adalah 34 0 C, agar ia
dapat mempertahankan tubuh sekitar 37 0 C. cara lain
mempertahankan suhu tubuh bayi sekitar 36 0 C-37 0 C adalah
dengan memakai alat perspexheat shield yang diselimuti
pada bayi dalam inkubator.
b. Makanan Bayi Prematur
Alat pencernaan bayi prematur masih belum
sempurna,

lambung

kecil,

enzim

pencernaan

belum

matang, sedangkan kebutuhan protein 3 sampai 5 gr /kg BB


dan kalori 110 kal /kg BB badan, sehingga pertumbuhannya
dapat meningkat. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam
setelah
lambung,

lahir

dan

refleks

didahului

dengan

mengisap

mengisap

masih

lemah,

cairan

sehingga

pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit, tetapi


dengan frekuensi yang lebih sering.
ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi
dimana ASI sesuai dengan struktur saluran cerna dan juga
mengandung zat-zat gizi lengkap yang dibutuhkan oleh bayi
seperti : nutrisi (hampir 200 zat makanan), homon, unsur
kekebalan dan energi unsur yang terkandung dalam ASI
adalah hidrat arang, lemak, protein, vitamin dan mineral.
c. Menghindari infeksi

20

Bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi,


karena daya tahan tubuh yang masih lemah, kemampuan
leukosit masih kurang, dan pembentukan antibodi belum
sempurna.

Oleh

karena

itu,

upaya

preventif

sudah

dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak


terjadi persalinan prematuritas (BBLR). Dengan demikian
perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara
khusus dan terjaga dengan baik. 13
B. Tinjauan Dalam Islam Tentang Penciptaan Manusia
Hadits ini menjelaskan bahwa selama seratus dua puluh
hari,janin mengalami tiga kali perubahan. Perubahan-perubahan
tersebut terjadi setiap empat puluh hari. Empat puluh hari
pertama janin masih berbentuk nuthfah, percampuran antara
sperma dan sel telur wanita, empat puluh hari berikutnya
berbentuk gumpalan darah, dan empat puluh hari berikutnya
menjadi segumpal daging. Setelah seratus dua puluh hari,
Malaikat kemudian meniupkan ruh ke dalamnya, dan pada saat
itulah

ditetapkan

bagi

janin

tersebut

beberapa

kalimat

(ketentuan). Berbagai perubahan janin ini juga diisyaratkan Allah


dalam surah al-muminun ayat 12-14 yaitu:
( ) ( )


( )
Terjemahnya:

21

Dan sungguh kami telah menciptakan manusia dari sari


pati dari tanah kemudian kami menjadikan air mani dalam
tempat yang kukuh kemudian air mani itu kami jadikan sesuatu
yang melekat lalu sesuatu yang melekat itu kami jadikan
segumpal daging dan segumpal daging itu kami jadikan tulang
belulang lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging
kemudian kami jadikan makhluk yang lain mahasuci allah
pencipta yang paling baik,(QS. Al-Muminun:12-14).
Menurut ayat di atas, para ulama sepakat bahwa ruh
ditiupkan pada janin ketika janin tersebut telah berumur seratus
dua puluh hari, yang dihitung mulai dari bertemunya sel sperma
dan ovum. Artinya peniupan tersebut terjadi ketika janin berumur
empat bulan penuh, dan masuk ke bulan kelima. Pada masa
inilah segala hukum mulai berlaku padanya. Karena itu wanita
yang ditinggal mati suaminya menjalani masa iddah selama
empat bulan sepuluh hari, yaitu untuk memastikan bahwa ia
tidak hamil (dari suaminya yang meninggal) hingga tidak
menimbulkan keraguan ketika ia menikah lagi dan kemudian
hamil (apakah anak dari suami yang meninggal atau suami
barunya).

Sedangkan

ruh

adalah

sesuatu

yang

membuat

manusia hidup, dan ini sepenuhnya urusan Allah (HR. Bukhari).


C. Tinjauan Umum Tentang Proses Manajemen Asuhan
Kebidanan
1.Pengertian Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah suatu pendekatan
yang digunakan oleh bidan berupa proses pendekatan
pemecahan

masalah

yang

sistematis,

dimulai

dari

22

pengkajian,

analisis

data,

diagnosa

kebidanan,

perencanaan, pelaksanaan dan evalusi. 15


2.Pengertian Asuhan Kebidanan
Asuhan kebidanan adalah proses pengambilan
keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai
dengan

wewenang

dan

ruang

lingkup

praktiknya

berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan. 16


3.Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen asuhan kebidanan adalah pendekatan
dan kerangka pikir yang digunakan oleh bidan dalam
menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis
mulai dari pengumpulan data, analisis data, diagnosa
kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. 17

4. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan


Menurut varney, proses manajemen asuhan kebidanan
terdiri dari 7 (tujuh) langkah/step yaitu sebagai berikut :
Langkah I : Pengumpulan Data Dasar
Langkah ini dilakukan dengan melakukan pengkajian
melalui proses pengumpulan data yang diperlukan u tuk
mengevaluasi
riwayat

keadaan

kesehatan,

pasien

secara

pemeriksaan

fisik

lengkap

seperti

sesuai

dengan

kebutuhan, peninjauan catatan terbaru atau catatan terbaru


atau

catatan

sebelumnya,

membandingkannya

dengan

data
hasil

laboratorium
studi.

Semua

dan
data

23

dikumpulkan dari sumber yang berhubungan dengan kondisi


pasien.
Langkah II : Interpretasi Data Dasar
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi data
secara benar terhadap diagnosa atau masalah kebutuhan
pasien.

Data

diinterpretasikan
diagnosa

yang

dasar
sehingga
spesifik.

yang

sudah

ditemukan
Kata

masalah

dikumpulkan
masalah
dan

atau

diagnosa

keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat


diselesaikan

separti

diagnosa,

namun

membutuhkan

penanganan yang dituangkan ke dalam sebuah rencana


asuhan terhadap pasien.
Langkah III : Identifikasi Diagnosa/Masalah Potensial
Langkah

ini

dilakukan

dengan

mengidentifikasi

masalah atau diagnosa potensial yang lain berdasarkan


beberapa masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi .
Langkah ini membutuhkan antisipasi yang cukup dan apabila
memungkinkan dilakukan proses pencegahan atau dalam
kondisi tertentu pasien membutuhkan tindakan segera.
Contoh diagnosa kebidanan:
a. Kehamilan normal
b. Partus normal

24

c. Abortus, dll.
Pada langkah ini penting sekali untuk melakukan
asuhan yang aman. Misal pada persalinan dengan bayi
besar, bidan sebaiknya juga mengantisipasi dan bersiap-siap
terhadap kemungkinan terjadinya distosia bahu sehingga
perlu disiapkan kebutuhan resusitasi.
Langkah IV : Identifikasi dan Penetapan Kebutuhan yang
Memerlukan Penganan Segera
Tahap ini dilakukan oleh bidan dengan melakukan
identifikasi dan menetapkan beberapa kebutuhan setelah
diagnosis dan masalah ditegakkan. Kegiatan bidan pada
tahan ini adalah konsultasi, kolaborasi dan melakukan
rujukan.
Langkah V : Perencanaan Asuhan Secara Menyeluruh
Setelah beberapa kebutuhan pasien ditetapkan,
diperlukan
masalah

perencanaan
dan

secara

diagnosa

yang

menyeluruh
ada.

terhadap

Dalam

proses

perencanaan asuhan secara menyeluruh juga dilakukan


identifikasi

beberapa

data

yang

tidak

lengkap

agar

pelaksaan secra menyeluruh dapat teratasi.


Langkah VI : Pelaksanaan Perencanaan
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua
rencana sebelumnya, baik terhadap masalah pasien maupun

25

diagnosa yang ditegakkan. Pelaksanaan ini dapat dilakukan


oleh bidan secara mandiri maupun berkolaborasi dengan tim
kesehatan lainnya.
Langkah VII : Evaluasi
Merupakan tahap terakhir dalam manajemen
kebidanan,

yakni

dengan

melakukan

evaluasi

dari

perencanaan maupun pelaksanaan yang dilakukan oleh


bidan. Evaluasi sebagai bagian dari pelayanan secara
komprehensif dan selalu berubah sesuai dengan kondisi
atau kebutuhan klien. 17

5. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan


a. Data Subyektif
Data atau fakta yang merupakan informasi
termasuk biodata, mencakup nama, umur, tempat tinggal,
pekerjaan, status perkawinan, pendidikan serta keluhankeluhan, diperoleh dari hasil wawancara langsung pada
pasien atau dari keluarga dan tenaga kesehatan lainnya.
b.

Data Obyektif
Data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik
mencakup inspeksi, palpasi auskultasi, perkusi serta

26

pemeriksaan

penunjang

seperti

pemeriksaan

laboratorium dan pemeriksaan radio diagnostik.


c.

Assesment/Diagnosa
Merupakan keputusan yang ditegakkan dari hasil
perumusan masalah yang mencakup kondisi, masalah
dan

prediksi

terhadap

kondisi

tersebut.

Penegakan

diagnosa kebidanan dijadikan sebagai dasar tindakan


dalam

upaya

menanggulangi

ancaman

keselamatan

pasien/klien.

d. Planning/perencanaan
Rencana kegiatan mencakup langkah-langkah
yang akan dilakukan oleh bidan dalam melakukan
intervensi untuk memecahkan masalah pasien/klien. 17
D. Penyelenggaraan praktik bidan
1.Pasal 16 ayat 2
Pelayanan kebidanan kepada anak meliputi :
a.
Pemeriksaan bayi baru lahir
b.
Perawatan tali pusat
c.
Perawatan bayi
d.
Resusitasi pada bayi baru lahir
e.
Pemantauan tumbuh kembang anak
f.
Penberian imunisasi
g.
Pemberian penyuluhan.
2. Pasal 17
Dalam keadaan tidak terdapat dokter yang berwenang pada
wilayah tersebut bidan dapat memberikan pelayanan pengobatan

27

pada

penyakit

ringan

kemampuannya.18

bagi

ibu

dan

anak

sesuai

dengan