Anda di halaman 1dari 12

PENGOLAHAN MINYAK BUMI

KILANG MINYAK DI INDONESIA

Oleh:
Rayhan Hafidz Ibrahim

(1306409362)

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK, APRIL 2016

KILANG MINYAK DI INDONESIA

Kilang Minyak di Indonesia


1. Kilang Minyak Pangkalan Brandan, Sumatera Utara (UP I)
Kapasitas: 5.000 Barel per hari
Jenis Kilang: -

Gambar 1. Kilang Minyak Pangkalan Brandan, Sumatera Utara

Kilang minyak ini Pertamina dengan nama Pertamina Unit Pengolahan I


Pangkalan Brandan, Sumatera Utara.
Unit pengolahan minyak Pangkalan Brandan memiliki sejarah panjang sebagai
pelopor dimulainya eksplorasi minyak di Indonesia. Pangkalan Brandan sudah ada sejak
1883, ketika konsesi pertama pengusahaan minyak diserahkan Sultan Langkat kepada
Aeilko J. Zijlker untuk daerah Telaga Said dekat Pangkalan Brandan. Pada tahun 1892,
kilang minyak di Pangkalan Brandan yang dibangun Royal Dutch mulai berjalan.
Selanjutnya pada 1901 saluran pipa Perlak-Pangkalan Brandan selesai dibangun.
Baru pada 1945, lapangan minyak sekitar Pangkalan Brandan diserahkan pihak Jepang
atas nama sekutu kepada bangsa Indonesia. Sejarah Pangkalan Brandan yang panjang
sempat membuat masyarakat menolak keputusan Pertamina itu.
Kapasitas kilang ini mencapai 5.000 barel per hari, sayangnya kilang ini sudah
ditutup sejak awal 2007 karena tidak cukupnya pasokan minyak mentah maupun gas.
Apalagi kilang ini sudah sangat tua sekali.

Pengolahan Minyak Bumi - 2016

Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia

KILANG MINYAK DI INDONESIA

2. Kilang Minyak Dumai Sei Pakning, Riau (UP/RU II)


Kapasitas: 127.000 barel per hari
Jenis Kilang: Complex

Gambar 2. Kilang Minyak Dumai, Riau

Kilang ini dimiliki oleh Pertamina dengan nama Pertamina Unit Pengolahan II
Dumai. Sejak dioperasikan pada tahun 1971, kilang minyak Dumai dan Sungai Pakning
telah memberikan sumbangan nyata terhadap perkembangan dan kemajuan daerah
khususnya kota Dumai dan sekitarnya dan telah memberikan andil yang besar bagi
pemenuhan kebutuhan bahan bakar nasional. Kapasitas kilang ini mencapai
127.000 barel per hari. Disebut UP karena merupakan singkatan dari Unit Produksi,
sedangkan disebut RU karena singkatan dari Refinery Unit. Bahan baku atau crude dari
kilang ini adalah Sumatera Light Crude (SLC) yang diambil dari Lirik dan Duri,
Riau.
Berbagai produk bahan bakar Minyak (BBM) dan Non Bahan Bakar Minyak
(NBBM) telah dihasilkan dari kilang Dumai Sei Pakning dan telah didistribusikan ke
berbagai pelosok tanah air dan manca negara. Berikut ini produk-produknya:
-

BBM:

1. Aviation Turbine Fuel


2. Minyak Bakar
3. Minyak Diesel
4. Minyak Solar
5. Minyak Tanah

Pengolahan Minyak Bumi - 2016

Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia

KILANG MINYAK DI INDONESIA

Non BBM

1. Solvent
2. Green Coke
3. Liquid Petroleum Gas (LPG)

3. Kilang Minyak Plaju-Sungai Gerong (Musi), Sumatera Selatan (UP/RU III)


Kapasitas: 133.000 barel per hari
Jenis Kilang: Integrated-Complex

Gambar 3. Kilang Minyak Plaju, Sumatera Selatan

Kilang minyak miliki Pertamina ini memiliki kapasitas produksi mencapai


133.000 barel per hari. Kilang ini terintegrasi dengan kilang Petrokimia, dan
memproduksi produk-produk Petrokimia yaitu Purified Terapthalic Acid (PTA) dan
Paraxylene. Crude oil pada kilang ini adalah Sumatera Light Crude (SLC) Ramba,
Sumatera Selatan.
Cikal-bakal Unit Pengolahan III (UP III) Plaju-Sungai Gerong diawali pada 1900
dengan dibangunnya kilang minyak oleh Shell di bibir Sungai Musi yang dikenal sebagai
Kilang Plaju dengan kapasitas 110.000 barel/hari. Dua puluh dua tahun kemudian,
tepatnya pada 1926 Stanvac membangun kilang Sungai Gerong dengan kapasitas
70.000 barel/hari.

Pada masa lalu kilang minyak Plaju dan Sungai Gerong ini

merupakan penghasil minyak paling besar diantara seluruh kilang minyak di Indonesia.

Pengolahan Minyak Bumi - 2016

Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia

KILANG MINYAK DI INDONESIA

Pada tahun 1965 Kilang Plaju diakuisisi oleh Permina. Dan pada 1970 Permina
kembali mengakuisisi Kilang Sungai Gerong. Kedua kilang tersebut - kini
diintergrasikan menjadi Kilang Musi - merupakan aset utama Pertamina UP III Plaju.
Produk-produk yang dihasilkan diantaranya:
-

BBM:

1. Avtur
2. Premium
3. Kerosene
4. Pertamax Racing Fuel
5. Automotive Diesel Oil (ADO)
6. Industrial Diesel Oil (IDO)
- Non-BBM:
1. Liquid Petroleum Gas
2. Musi Cool (Refrigerant)
3. Low Sulphur Waxy Residu (LSWR)
4. Bijih Plastik Polytham (polyprophylene)

4. Kilang Minyak Cilacap, Jawa Tengah (UP/RU IV)


Kapasitas: 348.000 Barel per hari
Jenis Kilang: Integrated-Complex

Gambar 4. Kilang minyak Cilacap, Jawa Tengah

Pengolahan Minyak Bumi - 2016

Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia

KILANG MINYAK DI INDONESIA

UP-IV Cilacap berlokasi di Jawa Tengah bagian selatan merupakan satu dari dua
kilang Pertamina yang berlokasi di pulau Jawa. Kilang ini merupakan unit dengan
produksi paling besar diantara kilang yang lain sekaligus menghasilkan produk turunan
dengan jenis terbanyak dibanding kilang yang lain. Dengan kapasitas produksi
mencapai 348.000 BPSD, UP-IV Cilacap sangat bernilai strategis karena memasok 34%
kebutuhan bahan bakar nasional atau 60% kebutuhan bahan bakar di pulau Jawa.
Kilang ini juga merupakan satu-satunya kilang yang memproduksi aspal dan base
oil untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur di tanah air.
UP-IV Cilacap memiliki tiga kilang untuk memproduksi masing-masing
demand dari konsumen. Tiga kilang tersebut adalah:
1. Kilang Minyak I
Pembangunan kilang minyak I dimulai pada tahun 1974 dengan kapasitas mulamula 100.000 BPSD dan resmi beroperasi pada tanggal 24 Agustus 1976. Merespon
tingginya permintaan konsumen, kilang minyak I meningkatkan produksinya melalui
debottlenecking project pada tahun 1998/1999. Kilang minyak I akhirnya mampu
berproduksi 18% lebih banyak dari kapasitas awalnya. Sebanyak 118.000 BPSD
dihasilkan dari kilang minyak I.
Kilang minyak ini didesain secara khusus untuk memproses bahan baku minyak
mentah dari kawasan Timur Tengah, atau Arabian Light Crude (ALC), ARJUNA, dan
ATTAKA. Mengapa dirancang untuk mengolah crude oil dari Timur Tengah? Karena
selain untuk mendapatkan produk jadi berupa BBM, kilang minyak I diharapkan
mampu menghasilkan bahan dasar minyak pelumas (lube oil base) dan aspal mengingat
karakter minyak mentah dalam negeri tidak cukup ekonomis untuk produksi tersebut.
2. Kilang Minyak II
Pada tahun 1981, kilang minyak II dibangun untuk menjawab meningkatnya
konsumsi bahan bakar dalam negeri. Peresmian kilang minyak II dilaksanakan pada
tanggal 4 Agustus 1983 dengan kapasitas produksi sebesar 200.000 BPSD. Bersamaan
dengan debottlenecking project kilang minyak I, proyek yang sama di tahun yang sama
juga dilakukan untuk kilang minyak II. Peningkatan kapasitas sebesar 15% menjadi
230.000 BPSD berhasil dilakukan pada kilang minyak II. Kilang minyak II mengolah
minyak "cocktail" yaitu campuran minyak mentah dari dalam negeri dan luar negeri.

Pengolahan Minyak Bumi - 2016

Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia

KILANG MINYAK DI INDONESIA

3. Kilang Paraxylene
Kilang ini dibangun pada tahun 1988 dan resmi beroperasi tanggal 20 Desember
1990. Kilang ini menghasilkan produk NBM dan Petrokimia. Kilang ini dibangun karena
mempertimbangkan hal-hal seperti tersedianya bahan baku yang cukup berupa Neptha
dari kilang minyak II, adanya sarana pendukung berupa dermaga tangki dan utilitas,
serta potensi pasar yang menjanjikan baik dari dalam maupun luar negeri.
Varian produk yang dihasilkan oleh UP-IV Cilacap antara lain:
1. Aspal
2. Heavy Aromate
3. Lube Base Oil
4. Low Sulphur Waxy Residu
5. Minarex
6. Paraffinic Oil
7. Paraxylene
8. Slack Wax
9. Toluene
5. Kilang Minyak Balikpapan, Kalimantan Timur (UP/RU V)
Kapasitas: 253.600 Barel per hari
Jenis Kilang: Complex

Gambar 5. Kilang Minyak Balikpapan,Kalimantan Timur

Pengolahan Minyak Bumi - 2016

Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia

KILANG MINYAK DI INDONESIA

Balikpapan, kota pantai dengan kontur bukit di Kalimantan Timur ini dikenal
sebagai salah satu kota minyak di Indonesia. Terkenal dengan Blok Mahakam yang
dioperasikan oleh Total Indonesie dari Perancis, di kota ini juga dibangun fasilitas
pengolahan minyak mentah yang dikenal dengan UP-V Balikpapan. Crude oil kilang ini
sebagian besar berasal dari Kalimantan Timur (Bekapai/Handil, Badak/Waluyo).
UP-V Balikpapan didirikan di teluk Balikpapan dengan luas area 2,5 KM2 dengan
kapasitas produksi mencapai 253.600 BPSD. UP-V memiliki dua kilang yaitu kilang
Balikpapan I dan kilang Balikpapan II. Kilang Balikpapan I sudah dibangun sejak tahun
1922 oleh British Petroleum menindaklanjuti temuan sumur minyak di Sanga-sanga
tahun 1897. Kilang Balikpapan II mulai dibangun pada tahun 1981 dan mulai
beroperasi tanggal 1 November 1984. Produk yang dihasilkan adalah LPG, naftha
premium, kerosin, avtur, ado, wax, food oil, pad.

6. Kilang Minyak Balongan, Jawa Barat (UP/RU VI)


Kapasitas: 125.000 barel per hari
Jenis Kilang: Complex-Integrated

Gambar 6. Kilang minyak Balongan, Jawa Barat

PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan merupakan kilang keenam dari tujuh


kilang Direktorat Pengolahan PT Pertamina (Persero) dengan kegiatan bisnis utamanya

Pengolahan Minyak Bumi - 2016

Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia

KILANG MINYAK DI INDONESIA

adalah mengolah minyak mentah (Crude Oil) menjadi produk-produk BBM (Bahan
Bakar Minyak), Non BBM dan Petrokimia
RU-VI Balongan dibangun pada tanggal 1 September 1990 yang awalnya
dinamakan proyek EXOR (Export Oriented Refinery), lalu mulai beroperasi sejak tahun
1994. Kilang ini berlokasi di Indramayu (Jawa Barat) sekitar 200 km arah timur
Jakarta, dengan wilayah operasi di Balongan, Mundu dan Salam Darma. Bahan baku
yang diolah di Kilang RU-VI Balongan adalah minyak mentah Duri dan Minas yang
berasal dari Propinsi Riau.
Kilang UP-VI Balongan mendapat bahan baku minyak mentah dari Duri, Riau
sebesar 60% dan Minas Dumai 40%. Selain itu juga menggunakan gas alam (LNG)
sebesar 18 MMSCFD untuk proses produksi yang diperoleh dari Daerah Operasi Hilir
(DOH) Jawa bagian Barat lapangan Karangampel, Indramayu.
Keberadaan RU VI Balongan sangat strategis bagi bisnis Pertamina maupun bagi
kepentingan nasional. Sebagai Kilang yang relatif baru dan telah menerapkan teknologi
terkini, Pertamina RU VI mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Dengan produk-produk
unggulan seperti Premium, Pertamax, Pertamax Plus, Solar, Pertamina DEX,
Kerosene (Minyak Tanah), LPG, Propylene, Pertamina RU VI mempunyai kontribusi
yang besar dalam menghasilkan pendapatan baik bagi PT Pertamina maupun bagi
negara. Selain itu RU VI Balongan mempunyai nilai strategis dalam menjaga kestabilan
pasokan BBM ke DKI Jakarta, Banten, dan sebagian Jawa Barat.
Sejalan dengan tuntutan bisnis ke depan, PT Pertamina Balongan terus
mengembangkan potensi bisnis yang dimiliki melalui penerapan teknologi baru,
pengembangan produk-produk unggulan baru, serta penerapan standar internasional
dalam sistem manajemen mutu dengan tetap berbasis pada komitmen ramah
lingkungan.
7. Kilang Minyak Kasim, Sorong, Papua (UP/RU VII)
Kapasitas: 10.000 Barel per hari
Jenis Kilang: Complex

Pengolahan Minyak Bumi - 2016

Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia

KILANG MINYAK DI INDONESIA

Gambar 7. Kilang minyak Kasim, Sorong, Papua

Berdasarkan data Pertamina, kilang BBM Kasim dibangun diatas areal seluas
kurang lebih 80 HA. dan terletak di desa Malabam kecamatan Seget kabupaten Sorong
Papua bersebelahan dengan Kasim Marine Terminal (KMT) Petro China, kurang lebih
90 km sebelah selatan kota Sorong. Kilang tersebut mulai beroperasi sejak Juli 1997
sampai saat ini.
Kilang BBM Kasim mengolah crude lokal produksi daerah kepala burung Papua.
Lokasi Kilang BBM ini dipilih disekitar area Petro China dengan dasar pertimbangan:
-

Menghemat Biaya Transportasi karena dekat dengan Sumber Bahan Baku


(Crude) dan Pasar

Mengurangi Biaya Investasi dengan memanfaatkan beberapa fasilitas yang


tersedia diarea Petro China antara lain Dermaga, Acces Road, Tanki Dan Lain Lain.

Tersedianya Area dengan luas yang cukup untuk Pengembangan Kilang BBM
Kasim diwaktu yang akan datang.

Lokasi Kilang Di Tengah Hutan (Jauh Dari Pemukiman Penduduk).


Kilang BBM Kasim mempunyai kapasitas 10.000 Barel/hari, dirancang untuk

mengolah Crude (minyak mentah) Walio (60%) dan Salawati (40%).


Produk yang dihasilkan adalah :

10

Fuel Gas : 969 Barel / Hari

Premium : 1.987 Barel / Hari (Unleaded)

Kerosene : 1.831 Barel / Hari


Pengolahan Minyak Bumi - 2016

Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia

KILANG MINYAK DI INDONESIA

Ado (Solar) : 2.439 Barel / Hari

Residue : 3.390 Barel / Hari


Dari total produksi BBM RU VII dapat memberi kontribusi sekitar 15 % dari total

kebutuhan MALIRJA (MALUKU & IRIAN JAYA).

11

Pengolahan Minyak Bumi - 2016

Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia

KILANG MINYAK DI INDONESIA

Daftar Pustaka
http://finance.detik.com/read/2014/05/08/103456/2576861/1034/ini-dia-daftarkilang-minyak-milik-indonesia (Diakses pada tanggal 9 April 2016 pukul 13:00
WIB)
http://www.pertamina.com/our-business/hilir/pengolahan/ (Diakses pada 9 April
2016 pukul 13:20 WIB)
http://www.pertamina.com/our-business/hilir/pengolahan/unit-pengolahan/
(Diakses pada tanggal 9 April 2016 pukul 13:20 WIB)
http://www.pertamina.com/our-business/hilir/pengolahan/unit-pengolahan/unitpengolahan-ii/ (Diakses pada tanggal 9 April 2016 pukul 13:20 WIB)
http://www.pertamina.com/our-business/hilir/pengolahan/unit-pengolahan/unitpengolahan-iv/ (Diakses pada tanggal 9 April 2016 pukul 13:20 WIB)
http://www.pertamina.com/our-business/hilir/pengolahan/unit-pengolahan/unitpengolahan-vi/ (Diakses pada tanggal 9 April 2016 pukul 13:20 WIB)
http://www.pertamina.com/our-business/hilir/pengolahan/unit-pengolahan/unitpengolahan-vii/ (Diakses pada tanggal 9 April 2016 pukul 13:20 WIB)
http://www.indonesianship.com/beritaisi.php?ID=361 (Diakses pada tanggal 9 April
2016 pukul 14:00 WIB)

12

Pengolahan Minyak Bumi - 2016

Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia