Anda di halaman 1dari 35

APLIKASI FARMAKOKINETIKA DALAM FARMASI KLINIK

MAKALAH
Disusun:
Apriana Rohman S 07023232

FARMAKOLOGI OBAT
(FARMAKOKINETIK DAN FARMAKODINAMIK)

OLEH

1.
2.
3.
4.
5.
6.

ST. MARHAMAH
ABULKHAIR ABDULLAH
ADE IRMADWIARTI FIRMANSYAH
AGUS SALIM
AHMAD ZAKIR
MUHAMMAD AKBAR SYAMSUL

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

SAMATA-GOWA
2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya sehingga dalam pembuatan makalah ini dapat terselesaikan
sebagaiman mestinya. Salam dan shalawat semoga tetap tercurah kepada
rasulullah Muhammad SAW, kepada sahabat-sahabatnya, dan kepada umatnya
hingga akhir zaman.
Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih kepada dosen yang dengan
kegigihan dan keikhlasannya membimbing kami sehingga kami bisa mengetahui
sedikit demi sedikit apa yang sebelumnya kami tidak ketahui. Juga tak lupa
teman-teman seperjuangan yang telah membantu kami dalam pembuatan
makalah ini.
Makalah ini kami buat dengan sesederhana mungkin dan jika ada kesalahan
dalam penulisan makalah ini, kami berharap dan memohon saran serta kritikan
dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini ke depannya. Semoga makalah
kami dapat bermanfaat bagi kita semua.

Samata, 19 Mei 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................. i
Daftar isi........................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A.
B.
C.

Latar Belakang....................................................................... 1
Rumusan Masalah................................................................... 1
Tujuan Makalah...................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.

Sejarah Perkembangan Obat.................................................. 3


Apa itu Farmakologi?............................................................. 4
Apa itu Farmakokinetik?......................................................... 6
Apa itu Farmakodinamik?..................................................... 17
Kajian Al-Quran................................................................... 22
BAB III PENUTUP

A.
B.

Kesimpulan.......................................................................... 24
Saran................................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA.................................................................... 26

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Dalam arti luas, farmakologi ialah ilmu mengenai pengaruh senyawa


terhadap sel hidup, lewat proses kimia khususnya lewat reseptor. Senyawa ini
biasanya disebut obat dan lebih menekankan pengetahuan yang mendasari
manfaat dan risiko penggunaan obat.
Farmakologi mempunyai keterkaitan khusus dengan farmasi, yaitu ilmu
mengenai cara membuat, memformulasi, menyimpan, dan menyediakan obat.
Farmakologi terutama terfokus pada dua sub, yaitu farmakokinetik dan
farmakodinamik.
Tanpa pengetahuan farmakologi yang baik, seorang farmasis dapat menjadi
suatu masalah untuk bagi pasien karena tidak ada obat yang aman secara
murni. Hanya dengan penggunaan yang cermat, obat akan bermanfaat tanpa
efek samping tidak diinginkan yang tidak mengganggu.
Menurut suatu survey di Amerika Serikat, sekitar 5% pasien masuk rumah
sakit akibat obat. Rasio fatalitas kasus akibat obat di rumah sakit bervariasi
antara 2-12%. Efek samping obat meningkat sejalan dengan jumlah obat yang
diminum. Melihat fakta tersebut, pentingnya pengetahuan farmakologi bagi
seorang farmasis.

Dalam makalah ini akan dibahas secara umum mengenai farmakologi


(farmakokinetik dan farmakodinamik) serta hal-hal lain yang berkaitan dengan
materi ini.

B.
1.
2.
3.
4.

Rumusan Masalah
Bagaimana sejarah perkembangan obat?
Apa itu farmakologi?
Apa itu farmakokinetik?
Apa itu farmakodinamik?

C.

Tujuan Makalah
Setelah terselesaikannya makalah ini, semoga makalah ini dapat memberi
manfaat bagi pembaca terlebih pada masalah farmakologi di mana farmakologi
ini sangat penting untuk dikuasai oleh seorang farmasis.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Perkembangan Sejarah Obat


Obat merupakan semua zat baik kimiawi, hewani, maupun nabati yang
dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan, atau mencegah penyakit
berikut gejalanya.
Kebanyakan obat yang digunakan di masa lalu adalah obat yang berasal dari
tanaman.

Dengan

cara

mencoba-coba,

secara

empiris,

terdahulu

mendapatkan pengalaman dengan berbagai macam daun atau akar tumbuhan


untuk mengobati penyakit. Pengetahuan ini secara turun-temurun disimpan dan
dikembangkan sehingga muncul ilmu pengobatan rakyat seperti pengobatan
tradisional jamu di Indonesia.
Namun, tidak semua obat memulai riwayatnya sebagai obat anti penyakit,
ada pula yang pada awalnya digunakan sebagai alat ilmu sihir, kosmetika, atau
racun untuk membunuh musuh. Misalnya, strychnine dan kurare mulanya
digunakan sebagai racun panah penduduk pribumi Afrika dan Amerika Selatan.
Contoh yang lebih baru ialah obat kanker nitrogen-mustard yang semula
digunakan sebagai gas racun (mustard gas) pada perang dunia pertama.
Obat nabati ini digunakan sebagai rebusan atau ekstrak dengan aktivitas dan
efek yang sering kali berbeda-beda tergantung dari asal tana,an dan cara
pembuatannya. Kondisi ini dianggap kurang memuaskan sehingga lambat laun

para ahli kimia mulai mencoba mengisolasi zat-zat aktif yang terkandung di
dalamnya. Hasil percobaan mereka adalah serangkaian zat kimia, yang terkenal
di antaranya adalah efedrin dari tanaman Ma Huang (Ephedra vulgaris), kinin
dari kulit pohon kina, atropine dari Atropa belladonna, morfin dari candu
(Papaver somniferum), dan digoksin dari Digitalis lanata, dan masih banyak lagi.
Pada permulaan abad ke-20, obat-obat kimia sintetis mulai tampak
kemajuannya dengan ditemukannya obat-obat termashyur, yaitu salvarsan dan
aspirin sebagai pelopor yang kemudian disusul oleh sejumlah obat lain.
Pendobrakan

sejati

baru

tercapai

dengan

penemuan

dan

penggunaan

kemoterapeutika sulfanilamide (1935) dan penisilin (1940).


Sejak tahun 1945, ilmu kimia, fisika, dan kedokteran berkembang pesat dan
hal ini menguntungkan sekali bagi penelitian sistematis obat-obat baru. Menurut
taksiran, lebih kurang 80% dari semua obat yang kini digunakan secara klinis
merupakan penemuan dari tiga dasawarsa terakhir.

B.

Farmakologi Obat
Dalam arti luas, farmakologi ialah ilmu mengenai pengaruh senyawa
terhadap sel hidup, lewat proses kimia khususnya reseptor. Senyawa ini biasanya
disebut obat dan lebih menekankan pengetahuan yang mendasari manfaat dan
risiko penggunaan obat.
Farmakologi

atau

ilmu

khasiat

obat

adalah

ilmu

yang

mempelajari

pengetahuan obat dengan seluruh aspeknya, baik sifat kimiawi maupun


fisikanya, kegiatan fisiologi, resorpsi, dan nasibnya dalam organisme hidup.
Untuk menyelidiki semua interaksi antara obat dan tubuh manusia khususnya,
serta penggunaan pada pengobatan penyakit, disebut farmakologi klinis. Ilmu

khasiat obat ini mencakup beberapa bagian, yaitu farmakognosi, biofarmasi,


farmakokinetik, farmakodinamik, toksikologi, dan farmakoterapi.
Farmakologi sebagai ilmu berbeda dari ilmu lain secara umum pada
keterkaitannya yang erat dengan ilmu dasar maupun ilmu klinik.
Farmakologi mempunyai keterkaitan khusus dengan farmasi, yaitu ilmu
mengenai cara membuat, memformulasi, menyimpan, dan menyediakan obat.
Farmakologi terutama terfokus pada dua sub, yaitu farmakodinamik dan
farmakokinetik. Farmakokinetik ialah apa yang dialami obat yang diberikan pada
suatu makhluk, yaitu absorpsi, distribusi, biotransformasi, dan ekskresi. Sub
farmakologi ini erat sekali hubungannya dengan ilmu kimia dan biokimia.
Farmakodinamik menyangkut pengaruh obat terhadap sel hidup, organ atau
makhluk, secara keseluruhan erat berhubungan dengan fisiologi, biokimia, dan
patologi. Farmakokinetik maupun farmakodinamik obat diteliti terlebih dahulu
pada hewan sebelum diteliti pada manusia dan disebut sebagai farmakologi
eksperimental.

C.

Farmakokinetik Obat
Kerja suatu obat merupakan hasil dari banyak sekali proses dan kebanyakan
proses sangat rumit. Umumnya ini didasari suatu rangkaian reaksi yang dibagi
dalam tiga fase:

1.
2.
3.

Fase farmaseutik;
Fase farmakokinetik; dan
Fase farmakodinamik.
Farmakokinetik dapat didefinisikan sebagai setiap proses yang dilakukan
tubuh terhadap obat, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi.

Dalam arti sempit, farmakokinetik khususnya mempelajari perubahan-perubahan


konsentrasi dari obat dan metabolitnya da dalam darah dan jarigan sebagai
fungsi dari waktu.
Dalam fase farmakokinetik termasuk bagian proses invasi dan proses
eliminasi (evasi). Yang dimaksud dengan invasi ialah proses-proses yang
berlangsung pada pengambilan suatu bahan obat ke dalam organisme (absorpsi,
distribusi), sedangkan eliminasi merupakan proses-proses yang menyebabkan
penurunan konsentrasi obat dalam organisme (metabolisme, ekskresi). Lihat
gambar 1.

Invasi

Absorpsi

Distribusi

Eliminasi

Metabolisme

Ekskresi

Gambar 1. Bagian proses farmakokinetik


1.

Absorpsi
Umumnya penyerapan obat dari usus ke dalam sirkulasi berlangsung melalui
filtrasi, difusi, atau transport aktif.
Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam
darah. Bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah
saluran cerna (mulut sampai dengan rectum), kulit, paru, otot, dan lain-lain.
Pemakaian topikal. Contoh pemakaian topikal, selain pengobatan lokal
pada penyakit kulit, dapat disebutkan juga pemberian oral adsorbansia atau
adstringensia, pemakaian bronkholitika dalam bentuk aerosol, penyuntikan
anestetika lokal ke dalam jaringan dan pemakaian lokal sitostatika ke dalam
kandung kemih.
Keuntungannya pemakaian obat pada kulit ialah umumnya dosis lebih
rendah sedangkan keburukannya ialah bahaya alergi yang umumnya lebih besar.
Pemakaian parenteral. Penyuntikan intravasal (kebanyakan intravena)

a.

termasuk juga infuse ditandai oleh:


Dapat diatur dosis yang tepat dan ketersediaan hayati umumnya sebesar
100%. Hanya dalam hal-hal khusus terjadi adsorpsi sebagian bahan obat pada

b.

peralatan infuse dank arena itu mengakibatkan penurunan ketersediaan hayati.


Akibat pengenceran yang cepat dalam darah dan akibat kapasitas daparnya
yang besar maka persyaratan larutan yang menyangkut isotoni dan isohidri lebih

c.

rendah dibandingkan dengan penyuntikan subkutan.


Bahan obat mencapai tempat kerja dengan sangat cepat.

Oleh karena itu bentuk pemakaian ini terutama dipakai jika faktor waktu yang sangat
penting, misalnya dalam keadaan darurat serta pada pembiusan intravena.
Keburukannya, jika dibandingkan dengan cara pemberian lain, selain biaya
tinggi dan beban pasien (ketakutan akan penyuntikan) juga risiko yang tinggi.
Pemakaian oral. Obat-obat paling sering diberikan secara oral karena
bentuk obat yang cocok dapat relatif mudah diproduksi dan di samping itu,
kebanyakan pasien lebih menyukai pemakaian ini. Akan tetapi pemakaian obat
secara oral dihindari untuk bahan obat yang sukar diabsorpsi melalui saluran
cerna (strofantin dan tubokurarin) atau iritasi mukosa lambung. Untuk kasus
terakhir dibutuhkan pembuatan bentuk obat dengan penyalut yang tahan
terhadap cairan lambung.
Pemakaian rektal. Pemakaian rektal tetap terbatas pada kasus-kasus yang
tidak mutlak diperlukan kadar dalam darah tertentu dan juga tidak terdapat
keadaan darurat. Hal ini disebabkan oleh kuosien absorpsi sangat berbeda dan
kebanyakan juga sangat rendah.
Karena itu, suppositoria yang mengandung antibiotika ditolak, sebaliknya
pemakaian rektal analgetika dan antipiretika pada bayi dan anak-anak kecil
bermanfaat. Di samping itu, pada pasien yang cenderung muntah atau
lambungnya terganggu, lebih disukai pemakaian rektal sejauh tidak dibutuhkan
2.

pemberian parenteral.
Distribusi
Apabila obat mencapai pembuluh darah, obat akan ditranspor lebih lanjut
bersama aliran darah dalam sistem sirkulasi. Akibat landaian konsentrasi darah
terhadap jaringan, bahan obat mencoba untuk meninggalkan pembuluh darah
dan terdistribusi dalam organisme keseluruhan. Penetrasi dari pembuluh darah
ke dalam jaringan dan dengan demikian distribusinya, seperti halnya absorpsi,
bergantung pada banyak peubah.
Berdasarkan fungsinya, organisme dapat dibagi dalam ruang distribusi yang
berbeda (kompartemen):

a.
b.

Ruang intrasel dan


Ruang ekstrasel. (Lihat gambar 2)
Dalam ruang intrasel (sekitar 75% dari bobot badan) termasuk cairan intrasel
dan komponen sel yang padat. Ruang ektrasel (sekitar 22% dari bobot badan)
dibagi lagi atas:

a.
b.
c.

Air plasma;
Ruang usus; dan
Cairan plasma
Cairan transsel
Ruang ekstrasel
Ruang usus
Ruang intrasel
Cairan intrasel
Komponen sel padat

Cairan transsel.

Gambar 2. Ruang distribusi organisme


Sering kali distribusi obat tidak merata akibat beberapa gangguan, yaitu
adanya rintangan, misalnya rintangan darah-otak (cerebro-spinal barrier),
terikatnya obat pada protein darah atau jaringan dan lemak.

Dalam darah, obat akan diikat oleh protein plasma dengan berbagai ikatan
lemah (ikatan hidrofobik, van der Waals, hidrogen, dan ionic). Ada beberapa
macam protein plasma:
a.
b.
c.
d.

Albumin: mengikat obat-obat asam dan obat-obat netral (misalnya steroid)


serta bilirubin dan asam-asam lemak.
-glikoprotein: mengikat obat-obat biasa.
CBG (corticosteroid-binding globulin): khusus mengikat kortikosteroid.
SSBG (sex steroid-binding globulin): khusus mengikat hormon kelamin.
Obat yang terikat pada protein plasma akan dibawa oleh darah ke seluruh
tubuh. Kompleks obat-protein terdisosiasi dengan sangat cepat (t ~ a20
milidetik). Obat bebas akan keluar ke jaringan (dengan cara yang sama seperti
cara masuknya) ke tempat kerja obat, ke jaringan tempat depotnya, ke hati (di
mana obat mengalami metabolisme menjadi metabolit yang dikeluarkan melalui
empedu atau masuk kembali ke darah) dan ke ginjal (di mana obat/metabolitnya
diekskresi ke dalam urin).
Di jaringan, obat yang larut air akan tetap berada di luar sel (di cairan usus)
sedangkan obat yang larut lemak akan berdifusi melintasi membran sel dan
masuk ke dalam sel tetapi karena perbedaan pH di dalam sel (pH = 7) dan di
luar sel (pH = 7,4), maka obat-obat asam lebih banyak di luar sel dan obat-obat
basa lebih banyak da dalam sel.
Proses distribusi khusus yang harus dipertimbangkan ialah saluran cerna.
Senyawa yang diekskresi dengan empedu ke dalam usus 12 jari, sebagian atau
seluruhnya dapat direabsorpsi dalam bagian usus yang lebih dalam (sirkulasi
enterohepatik). Telah dibuktikan penetrasi senyawa basa dari darah ka dalam

lambung. Juga bahan ini sebagian direabsorpsi dalam usus halus (sirkulasi
enterogaster).
Satu segi khusus dari cara mempengaruhi distribusi ialah yang

disebut

pengarahan obat (drug targetting), artinya membawa bahan obat terarah


kepada tempat kerja yang diinginkan. Efek samping sering terjadi justru karena
bahan obat selain bereaksi dengan struktur tubuh yang diinginkan, ia bereaksi
juga dengan struktur yang lain. Pengarahan obat merangsang suatu sistem
pembawa yang sesuai yang memungkinkan satu transport yang selektif ke
dalam jaringan yang dituju dan dengan demikian memungkinkan kekhasan kerja
yang diinginkan.
Sebagai pembawa yang mungkin ialah makromolekul tubuh sendiri maupun
makromolekul sintetik atau sel-sel tubuh misalnya eritrosit. Contoh yang sangat
menarik ialah

pengikatan

kovalen sitostatika kepada antibodi antitumor.

Walaupun keberhasilan praktis dengan sistem demikian sampai sekarang malah


mengecewakan, tetapi harapan berkembang bahwa melalui penambahan
antibodi monoklon yang makin banyak tersedia, maka keefektifan dapat
diperbaiki.
3.

Metabolisme
Pada dasarnya setiap obat merupakan zat asing bagi tubuh yang tidak
diinginkan karena obat dapat merusak sel dan mengganggu fungsinya. Oleh
karena itu, tubuh akan berupaya merombak zat asing ini menjadi metabolit yang
tidak aktif lagi dan sekaligus bersifat lebih hidrofil agar memudahkan proses
ekskresinya oleh ginjal.

Biotransformasi terjadi terutama di dalam hati dan hanya dalam jumlah yang
sangat rendah terjadi dalam organ lain (misalnya dalam usus, ginjal, paru-paru,
limpa, otot, kulit, atau dalam darah.
Obat yang telah diserap usus ke dalam sirkulasi, lalu diangkut melalui sistem
pembuluh darah (vena portae), yang merupakan suplai darah utama dari daerah
lambung-usus ke hati. Dengan pemberian sublingual, intrapulmonal, transkutan,
parenteral, atau rektal (sebagian), sistem porta ini dan hati akan dapat dihindari.
Dalam hati dan sebelumnya juga di saluran lambung-usus seluruh atau sebagian
obat mengalami perubahan kimiawi secara enzimatis dan apda umumnya hasil
perubahannya (metabolit) menjadi tidak atau kurang aktif lagi. Maka proses ini
disebut proses detoksifikasi atau bio-inaktivasi. Ada pula obat yang khasiat
farmakologinya justru diperkuat (bio-aktivasi), oleh karenanya reaksi-reaksi
metabolisme dalam hati dan beberapa organ lain lebih tepat disebut biotransformasi.
Tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat yang nonpolar (larut lemak)
menjadi polar (larut air) agar dapat diekskresi melalui ginjal atau empedu.
Dengan perubahan ini, obat aktif umumnya diubah menjadi inaktif tapi sebagian
berubah menjadi lebih aktif (jika asalnya prodrug), kurang aktif, atau menjadi
toksik.
Reaski metabolisme terdiri dari reaksi fase I dan reaksi fase II. Reaksi fase I
terdiri dari oksidasi, reduksi, dan hidrolisis, yang mengubah oabt menjadi lebih
polar dengan akibat menjadi inaktif, lebih aktif, atau kurang aktif. Sedangkan
reaksi fase II merupakan reaksi konyugasi dengan substrat endogen: asam
glukuronat, asam sulfat, asam asetat, atau asam amino, dan hasilnya menjadi
sangat polar. Dengan demikian hampir selalu tidak aktif. Obat dapat mengalami
reaksi fase I saja atau reaksi fase II saja, atau reaksi fase I dan diikuti dengan

reaksi fase II. Pada reaksi fase I, obat dibubuhi gugus polar seperti gugus
hidroksil, gugus amino, karboksil, sulfhidril, dan sebagainya untuk dapat bereaksi
dengan substrat endogen pada reaksi fase II. Karena itu, obat yang sudah
mempunyai gugus-gugus tersebut dapat langsung bereaksi dengan substrat
endogen (reaksi fase II). Hasil reaksi fase I dapat juga sudah cukup polar untuk
langsung diekskresi lewat ginjal tanpa harus melalui reaksi fase II lebih dulu.
Reaksi metabolisme yang terpenting adalah oksidasi oleh enzim cytochrome
P450 (CYP) yang disebut juga enzim mono-oksigenase atau MFO (mixed-function
oxidase) dalam endoplasmic reticulum (mikrosom) hati.
4.

Ekskresi
Seperti

halnya

metabolisme,

ekskresi

suatu

obat

dan

metabolitnya

menyebabkan penurunan konsentrasi bahan berkhasiat dalam tubuh. Ekskresi


dapat terjadi bergantung kepada sifat fisikokimia (bobot molekul, hatga pKa,
kelarutan, tekanan uap) senyawa yang diekskresi.
Pengeluaran obat atau metabolitnya dari tubuh terutama dilakukan oleh
ginjal melalui air seni disebut ekskresi. Selain itu ada pula beberapa cara lain,
yaitu:
a.
b.

Kulit, bersama keringat, misalnya paraldehida dan bromida (sebagian).


Paru-paru, melalui pernapasan, biasanya hanya zat-zat terbang, seperti

c.

alkohol, paraldehida, dan anastetika (kloroform, halotan, siklopropan).


Empedu, ada obat yang dikeluarkan secara aktif oleh hati dengan empedu,
misalnya fenolftalein (pencahar).
Ekskresi melalui ginjal melibatkan tiga proses, yakni filtrasi glomerulus,
sekresi aktif di tubulus proksimal, dan reabsorpsi pasif di sepanjang tubulus.
Fungsi ginjal mengalami kematangan pada usia 6-12 bulan dan setelah dewasa
menurun 1% per tahun.

Filtrasi glumerulus menghasilkan ultrafiltrat, yakni plasma minus protein.


Jadi semua obat akan keluar dalam ultrafiltrat sedangkan yang terikat protein
tetap tinggal dalam darah.
Sekresi aktif dari dalam darah ke lumen tubulus proksimal terjadi melalui
transporter membran P-glikoprotein (P-gp) dan MRP (multidrug-resistance
protein) yang terdapat di membran sel epitel dengan selektivitas berbeda, yakni
MRP untuk anion organik dan konyugat dan P-gp untuk kation organik dan zat
netral. Dengan demikian terjadi kompetisi antara asam-asam organik maupun
antara basa-basa organik untuk disekresi.
Reabsorpsi pasif terjadi di sepanjang tubulus untuk bentuk nonion obat
yang larut lemak. Oleh karena derajat ionisasi bergantung pada pH larutan,
maka hal ini dimanfaatkan untuk mempercepat ekskresi ginjal pada keracunan
suatu obat asam atau obat basa.
Ekskresi melalui ginjal akan berkurang jika terdapat gangguan fungsi ginjal.
Lain halnya dengan pengurangan fungsi hati yang tidak dapat dihitung,
pengurangan fungsi ginjal dapat dihitung berdasarkan pengurangan kreatinin.
Dengan demikian, pengurangan dosis obat pada gangguan ginjal dapat dihitung.

D.

Farmakodinamik Obat
Farmakodinamik ialah sub farmakologi yang mempelajari efek biokimiawi dan
fisiologi obat serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari mekanisme obat
ialah untuk meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan
mengetahui urutan peristiwa serta spektrum efek dan respons yang terjadi.
Pengetahuan yang baik mengenai hal ini merupakan dasar terapi rasional dan
berguna dalam sintesis obat baru.

Kebanyakan obat menimbulkan efek melalui interaksi dengan reseptornya


pada sel organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan
perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respons khas untuk obat
tersebut. Reseptor obat merupakan komponen makromolekul fungsional, hal ini
mencakup dua konsep penting. Pertama, obat dapat mengubah kecepatan
kegiatan faal tubuh. Kedua, obat tidak menimbulkan fungsi baru, tetapi hanya
memodulasi fungsi yang sudah ada.
Tujuan pokok percobaan farmakologi adalah penjelasan terhadap pertanyaan,
apakah senyawa yang diuji merupakan obat yang bekerja spesifik atau tidak
spesifik.

1.
2.
3.
4.

Senyawa yang bekerja tidak spesifik. Zat berkhasiat ini mempunyai ciri:
Tidak bereaksi dengan reseptor spesifik;
Karena bekerja hanya pada dosis yang relatif besar;
Menimbulkan efek yang mirip walaupun strukturnya berbeda; dan
Kerjanya hampir tidak berubah pada modifikasi yang tidak terlalu besar.
Dalam kebanyakan hal, khasiatnya berhubungan dengan sifat lipofilnya. Oleh
karena itu, perbedaan kerjanya dapat dijelaskan dengan koefifien distribusi yang
berbeda. Kemungkinan besar kerja senyawa demikian menyangkut interaksi
dengan struktur lipofil organisme, khususnya struktur membran dalam hal ini
fungsi struktur diubah. Yang termasuk dalam obat yang bekerja tidak spesifik
antara lain, anestetika inhalasi, demikian juga zat desinfektan.
Senyawa dengan kerja spesifik. Senyawa golongan ini bekerja melalui
interaksi dengan reseptor spesifik. Efeknya sangat bergantung pada struktur
kimia dan dengan demikian bergantung kepada bentuknya, besarnya, dan
pengaturan stereokimia molekul. Selain itu, bergantung juga pada gugus
fungsinya serta distribusi elektronnya. Senyawa demikian berkhasiat dalam
konsentrasi yang lebih kecil daripada senyawa yang bekerja tidak spesifik.
Bahkan perubahan yang sangat kecil pada struktur kimianya dapat sangat
mempengaruhi

khasiat

farmakologinya.

Senyawa

yang

berkaitan

dengan

reseptor yang sama memiliki banyak unsur struktur yang umum yang disebut
gugus farmakofor, dalam tata susun ruang yang sesuai.
Walaupun sudah banyak diketahui tentang efek obat dalam tubuh manusia,
akan tetapi mengenai mekanisme kerjanya belum banyak dipahami dengan baik.
Mekanisme kerja obat yang kini telah diketahui dapat digolongkan sebagai
berikut:
1.

Secara fisis, misalnya anestetika terbang, laksansia, dan diuretika osmotis.


Aktivitas anestetika inhalasi berhubungan langsung dengan sifat lipofilnya. Obat
ini diperkirakan melarut dalam lapisan lemak dari membran sel yang karena ini
berubah demikian rupa hingga transport normal dari oksigen dan zat-zat gizi
terganggu dan aktivitas sel terhambat. Akibatnya adalah hilangnya perasaan.
Pencahar osmotis (magnesium dan natrium sulfat) lambat sekali diresorpsi usus
dan melalui proses osmosis menarik air dan sekitarnya. Volume isi usus
bertambah besar dan dengan demikian merupakan rangsangan mekanis atas

2.

dinding usus untuk memicu peristaltic dan mengeluarkan isinya.


Secara kimiawi, misalnya antasida lambung dan zat-zat chelasi (chelator).
Antasida, seperti natrium bikarbonat, aluminium, dan magnesium hidroksida
dapat mengikat kelebihan asam lambung melalui reaksi netralisasi kimiawi. Zatzat chelasi mengikat ion-ion logam berat pada molekulnya dengan suatu ikatan
kimiawi khusus. Kompleks yang terbentuk tidak toksis lagi dan mudah
diekskresikan oleh ginjal. Contohnya adalah dimerkaprol (BAL), natrium edetat

3.

(EDTA), dan penisilamin (dimetilsistein) yang digunakan sebagai obat rematik.


Melalui proses metabolisme pelbagai cara, misalnya antibiotika yang
mengganggu

pembentukan

dinding

sel

kuman,

sintesa

protein,

atau

metabolisme asam nukleinat. Begitu pula antimikroba mencegah pembelahan


inti sel dan diuretika yang menghambat atau menstimulir proses filtrasi contoh
lain adalah probenesid, suatu obat encok yang dapat menyaingi penisilin dan

derivatnya (antara lain amoksisilin) pada sekresi tubuler, sehingga ekskresinya


diperlambat dan efeknya diperpanjang.
4.
Secara kompetisi (saingan), di mana dapat dibedakan dua jenis, yakni
kompetisi untuk reseptor spesifik atau untuk enzim.
Ikatan antara obat denga reseptor biasanya terdiri dari berbagai ikatan
lemah (ikatan ion, hidrogen, hidrofobik, van der Waals), mirip ikatan antara
substrat dengan enzim, jarang terjadi ikatan kovalen.
Yang dimaksud dengan reseptor adalah makromolekul (biopolimer) khas atau
bagiannya dalam organisme, yakni tempat aktif biologi, tempat obat terikat.
Persyaratan untuk interaksi obat-reseptor adalah pembentukan kompleks obatreseptor. Apakah kompleks ini terbentuk dan seberapa besar terbentuknya
bergantung pada afinitas obat terhadap reseptor. Kemampuan suatu obat untuk
menimbulkan suatu rangsang dan dengan demikian efek, setelah membentuk
kompleks

dengan

reseptor

disebut

aktivitas

intrinsik.

Aktivitas

intrinsik

menentukan besarnya efek maksimum yang dicapai oleh masing-masing


senyawa.
Secara

farmakodinamik

dapat

dibedakan

dua

jenis

antagonisme

farmakodinamik, yakni:
1.

Antagonisme fisiologik, yaitu antagonisme pada sistem fisiologik yang sama


tetapi pada sistem reseptor yang berlainan. Misalnya, efek histamin dan autakoid
lainnya

2.

yang

dilepaskan

tubuh

sewaktu

terjadi

syok

anafilaktik

dapat

diantagonisasi dengan pemberian adrenalin.


Antagonisme pada reseptor, yaitu antagonisme melalui sistem reseptor
yang sama (antagonisme antara agonis dengan antagonisnya). Misalnya, efek
histamin yang dilepaskan dalam reaksi alergi dapat dicegah dengan pemberian
antihistamin yang menduduki reseptor yang sama.

Antagonisme pada reseptor dapat bersifat kompetitif atau nonkompetitif.


Antagonisme kompetitif. Dalam hal ini, antagonis mengikat reseptor di
tempat ikatan agonis secara reversibel sehingga dapat digeser oleh agonis kadar
tinggi.

Dengan

demikian

hambatan

efek

agonis

dapat

diatasi

dengan

meningkatkan kadar agonis sampai akhirnya dicapai efek maksimal yang sama.
Jadi, diperlukan kadar agonis yang lebih tinggi untuk memperoleh efej yang
sama.
Antagonism

nonkompetitif.

Hambatan

efek

agonis

oleh

antagonis

nonkompetitif tidak dapat diatasi dengan meningkatkan kadar agonis. Akibatnya,


efek maksimal yang dicapai akan berkurang tetapi afinitas terhadap reseptornya
tidak berubah.

E.

Kajian Al-Quran
QS. An-Nahl ayat 11:

M6/Z /3s9 m/ t9$# cqG9$#ur @Z9$#ur |


=uZF{$#ur `Bur e@2 NtyJV9$# 3 b) 9s
ZptUy 5Qqs)j9 cr6xtGt
Artinya: Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman;
zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
memikirkan.
QS. An-Nahl ayat 11:

NO ?. `B e@. NtyJW9$# 5=$$s @7


7n/u Wx9 4 ls .`B $ygRq/ >#u
#=tFC mRuq9r& m !$x $Z=j9 3 b)
y79s ZptUy 5Qqs)j9 tbr3xtGt
wur

(#q6=s?

Yys9$#
@t79$$/
(#qKG3s?ur
,ys9$# NFRr&ur tbqHs>s?

Artinya: Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah


jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar
minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat
yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar
memikirkan.

terdapat

tanda

(kebesaran

Tuhan)

bagi

orang-orang

yang

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Kebanyakan obat yang digunakan di masa lalu adalah obat yang berasal dari
tanaman.

Dengan

cara

mencoba-coba,

secara

empiris,

terdahulu

mendapatkan pengalaman dengan berbagai macam daun atau akar tumbuhan


untuk mengobati penyakit. Pengetahuan ini secara turun-temurun disimpan dan
dikembangkan sehingga muncul ilmu pengobatan rakyat seperti pengobatan
tradisional jamu di Indonesia.
Dalam arti luas, farmakologi ialah ilmu mengenai pengaruh senyawa
terhadap sel hidup, lewat proses kimia khususnya reseptor. Senyawa ini biasanya
disebut obat dan lebih menekankan pengetahuan yang mendasari manfaat dan
risiko penggunaan obat.
Farmakokinetik dapat didefinisikan sebagai setiap proses yang dilakukan
tubuh terhadap obat, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi.
Dalam arti sempit, farmakokinetik khususnya mempelajari perubahan-perubahan
konsentrasi dari obat dan metabolitnya dalam darah dan jarigan sebagai fungsi
dari waktu.
Farmakodinamik ialah sub farmakologi yang mempelajari efek biokimiawi dan
fisiologi obat serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari mekanisme obat
ialah untuk meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan

mengetahui urutan peristiwa serta spektrum efek dan respons yang terjadi.
Pengetahuan yang baik mengenai hal ini merupakan dasar terapi rasional dan
berguna dalam sintesis obat baru.

B.

Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Jika terdapat
kesalahan pada makalah ini mohon dimaklumi dan kami sangat membutuhkan
saran atau kritikan demi perbaikan makalah kami ke depannya. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran
Mutschler, Ernst. 1999. Dinamika Obat Edisi 5. Bandung: Penerbit ITB.
Syarif, Amir, dkk. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Tjay, Tan Hoan, dkk. Obat-Obat Penting Edisi 6. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Lihat Tan Hoan Tjay dan Kirana Rahardja, Obat-Obat Penting, 2007, hal. 3
Ibid, hal. 3

Ibid, hal. 3
Ibid, hal. 3
Ibid, hal. 3
Ibid, hal. 3-4
Lihat Amir Syarif, dkk, Farmakologi dan Terapi, 2007, hal. 1
Lihat Tan Hoan Tjay dan Kirana Rahardja, Obat-Obat Penting,
2007, hal. 4
Lihat Amir Syarif, dkk, Farmakologi dan Terapi, 2007, hal. 1
Ibid, hal. 1
Ibid, hal. 1

Lihat Ernst Mutschler, Dinamika Obat, 1999, hal. 5


Lihat Tan Hoan Tjay dan Kirana Rahardja, Obat-Obat Penting,
2007, hal. 22
Lihat Ernst Mutschler, Dinamika Obat, 1999, hal. 5-6
Lihat Tan Hoan Tjay dan Kirana Rahardja, Obat-Obat Penting,
2007, hal. 23
Lihat Amir Syarif, dkk, Farmakologi dan Terapi, 2007, hal. 2
Lihat Ernst Mutschler, Dinamika Obat, 1999, hal. 5
Ibid, hal. 7
Lihat Ernst Mutschler, Dinamika Obat, 1999, hal. 7
Ibid, hal. 7
Ibid, hal. 7
Ibid, hal. 8
Ibid, hal. 9
Ibid, hal. 9
Ibid, hal. 16
Lihat Ernst Mutschler, Dinamika Obat, 1999, hal. 16
Ibid, hal. 16
Lihat Tan Hoan Tjay dan Kirana Rahardja, Obat-Obat Penting,
2007, hal. 27
Lihat Amir Syarif, dkk, Farmakologi dan Terapi, 2007, hal. 6
Ibid, hal. 6
Ibid, hal. 6
Lihat Ernst Mutschler, Dinamika Obat, 1999, hal. 18

Ibid, hal. 19
Ibid, hal. 19
Lihat Tan Hoan Tjay dan Kirana Rahardja, Obat-Obat Penting,
2007, hal. 24
Lihat Ernst Mutschler, Dinamika Obat, 1999, hal. 20
Lihat Tan Hoan Tjay dan Kirana Rahardja, Obat-Obat Penting,
2007, hal. 25
Lihat Amir Syarif, dkk, Farmakologi dan Terapi, 2007, hal. 8
Ibid, hal. 8
Ibid, hal. 8
Lihat Ernst Mutschler, Dinamika Obat, 1999, hal. 34
Lihat Tan Hoan Tjay dan Kirana Rahardja, Obat-Obat Penting,
2007, hal. 29-30
Lihat Amir Syarif, dkk, Farmakologi dan Terapi, 2007, hal. 11
Ibid, hal. 11
Ibid, hal. 11
Ibid, hal. 11
Ibid, hal. 11
Ibid, hal. 12
Ibid, hal. 12
Lihat Ernst Mutschler, Dinamika Obat, 1999, hal. 52
Ibid, hal. 52
Ibid, hal. 52
Ibid, hal. 52

Lihat Tan Hoan Tjay dan Kirana Rahardja, Obat-Obat Penting,


2007, hal. 35
Ibid, hal. 35
Lihat Amir Syarif, dkk, Farmakologi dan Terapi, 2007, hal. 17
Lihat Ernst Mutschler, Dinamika Obat, 1999, hal. 52
Lihat Amir Syarif, dkk, Farmakologi dan Terapi, 2007, hal. 20
Lihat Amir Syarif, dkk, Farmakologi dan Terapi, 2007, hal. 20
Ibid, hal. 21
Ibid, hal. 21

A. LATAR BELAKANG
Farmakologi adalah ilmu mengenai pengaruh senyawa terhadap sel hidup, lewat proses kimia
khususnya lewat reseptor. Dalam ilmu kedokteran senyawa tersebut disebut obat, dan lebih
menekankan pengetahuan yang mendasari mafaat dan resiko penggunaan obat (Setiawati, 2007).
Farmakologi terutama terfokus pada dua subdisiplin, yaitu farmakodinamik dan farmakokinetik.
Farmakokinetik adalah apa yang dialami obat yang diberikan pada suatu makhluk, yaitu absorpsi,
distribusi, biotransformasi, dan ekskresi.
Kesuksesan dari terapi obat adalah sangat tergantung pada pilihan produk obat dan obat dan pada
desain pengaturan dosis. Pilihan produk obat dan obat, misalnya, intermediete release (ini sediaan
konvensional seperti tablet, kapsul, dsb) vs modified release (seperti transdermal), ini berdasar
pada karakteristik pasien dan farmakokinetika obat. Dengan merancang pengaturan dosis
mencoba untuk mencapai konsentrasi spesifik obat pada reseptor untuk menghasilkan respon
optimal dengan efek samping yang minimal. Variasi individu di dalam farmakokinetika dan
farmakodinamik membuat desain pengaturan dosis menjadi sulit. Oleh karena itu, aplikasi
farmakokinetika untuk desain pengaturan dosis harus diatur dengan benar pada evaluasi klinis
pasien dan pemantauan.
Di sinilah imu farmakokinetik berbicara, salah satu disiplin ilmu sebagi tools dalam memprediksi
nasib obat dalam badan meliputi ADME-nya (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, dan Ekskresi).
Farmakokinetik klinik adalah disiplin ilmu yang menerapkan konsep dan prinsip farmakokinetik
pada manusia, bertujuan untuk merancang aturan dosis secara individual sehingga dapat
mengoptimalkan respon terapeutik obat seraya meminimalkan kemungkinan efek sampingnya.

B. PEMBAHASAN
Pengaruh klinik atau terapeutik suatu obat pada seorang pasien sebenarnya merupakan hasil dari
daya farmakologik obat tersebut, di man hal yang terakhir ini akan sangat tergantung pada kadar
yang bisa dicapai pada tempat kerja obat (reseptor). Sayangnya, pengukuran kadar obat pada
reseptor hampir selalu tidak dimungkinkan. Namun demikian, karena setiap perubahan kadar obat
yang terukur dalam cairan darah secara praktis akan mencerminkan perubahan pada reseptor,
dengan pengukuran kadar obat dalam cairan darah akan bisa diperhitungkan atau diramalkan
tingkat aktifitas farmakologik yang tercapai (Barbour, 2007).
Tinggi rendahnya kadar obat dalam cairan darah merupakan hasil dari besarnya dosis yang
diberikan, dan pengaruh-pengaruh proses-proses alami dalam tubuh mulai dari absorpsi,
distribusi, metabolisme sampai ekskresi obat. Melalui data absoprsi, distribusi, metabolisme, dan
ekskresi tersebut mempunyai peran penting dalam aplikasi farmasi klinis, diantaranya adalah
untuk penentuan dosis pemakaian obat, penentuan frekuensi pemakaian obat, penentuan dosis
ganda, penentuan infus intra vena, dan penyesuaian dosis jika terjadi kerusakan renal maupun
hepar.
a. Penentuan dosis pemakaian
Dosis suatu obat diperkirakan dengan tujuan dapat memberikan kadar terapeutik obat yang
diinginkan dalam tubuh. Obat akan memberikan efek terapi jika kadar obat dalam plasma sudah
mencapai area terapi yaitu diatas MEC (minimum effective concentration) dan dibawah MTC
(minimum toxic concentrstion). Penentuan dosis obat ditentukan dari data kadar obat dalam
plasma dengan mencari nilai konsentrasi maksimum obat dalam plasma (C max), waktu yang
diperlukan untuk mencapai C max (t max), dan profil pelepasan obatnya (AUC).
b. Penentuan frekuensi pemberian obat
Obat merupakan senyawa xenobiotika yaitu senyawa yang dalam keadaan normal tidak
diperlukan oleh tubuh. Oleh karena itu obat dalam badan

akan mengalami proses metabolisme dan ekskresi. Akibatnya kadar obat dalam plasma akan
menurun. Penurunan kadar obat dalam plasma akibat metabolisme dan ekskresi akan menjadikan
respon terapi turun. Penentuan kapan seseorang itu harus minum lagi obat dapat ditentukan
dengan melihat nilai t eliminasi obat dan nilai clearance obat.
c. Pengaturan dosis ganda
Banyak obat diberikan dalam suatu aturan dosis ganda untuk memperpanjang aktivitas terapeutik.
Kadar plasma obat ini harus dipertahankan di dalam batas yang sempit untuk mencapai
efektivitas klinik yang maksimal. Secara ideal suatu aturan dosis untuk tiap obat ditetapkan untuk
memberikan kadar plasma yang benar tanpa fluktuasi dan akumulasi obat yang berlebihan.
Untuk obat-obat tertentu, seperti antibiotik, dapat ditentukan kadar efektif minimum yang
diinginkan. Obat-obat lain dengan indeks terapi sempit, seperti digoksin dan fenitoin,
memerlukan batasan kadar plasma terapeutik minimum dan konsentrasi plasma non-toksis
maksimum. Dalam memperhitingkan suatu aturan dosis ganda, kadar plasma yang diinginkan
harus dikaitkan dengan suatu respon terapeutik.
Untuk memperkirakan kadar obat dalam plasma selama pemberian dosis ganda, parameterparameter farmakokinetik diperoleh dari kurva kadar plasma-waktu yang didapat melalui dosisi
tunggal. Dengan parameter-parameter ini, dan mengetahui tentang ukuran dosis dan jarak waktu
pemberian memungkinkan untuk memperkirakan kurva kadar plasma-waktu yang lengkap atau
kadar plasma pada setiap waktu setelah dimulainya pengaturan dosis (Shargel, 2005).
d. Pengaturan infuse intravena
Pemberian obat secara intravena memberikan beberapa keuntungan diantaranya obat mudah
diberikan ayitu melalui infuse bersama-sama dengan cairan iv, laju infuse dapat dengan mudah
diatur sesuai kebutuhan penderita, dan ketiga adalah infuse konstan mencegah fluktuasi puncak
dan palung kadar obat dalam darah.
Setelah beberapa saat obat akan mencapai konsentrasi tunak yaitu suatu keadaan dimana laju obat
yang meninggalkan tubuh sama dengan laju obat yang

masuk dalam tubuh. Waktu yang diperlukan untuk mencapai kadar tunak dalam darah terutama
tergantung pada waktu-paruh eliminasi (Shargel, 2005).
Farmakokinetika berperan dalam pengaturan kecepatan tetesan cairan infus. Jika obat diberikan
dengan laju yang tinggi akan diperoleh kadar tunak yang lebih tinggi tetapi waktu yang
diperlukan untuk mencapai keadaan tunak tetap sama.
e. Penyesuaian dosis
Ginjal merupakan organ yang enting dalam pengaturan kadar cairan tubuh, keseimbangan
elektrolit, dan pembuangan metabolit-metabolit sisa dan obat dari tubuh. Kerusakan atau degerasi
fungsi ginjal akan mempunyai pengaruh pada farmakokinetika obat. Ganguan elektrolit dan
cairan dalam tubuh sehubungan dengan kegagalan ginjal dapat menyebabkan perubahn pada
volume distribusi obat (Shargel, 2005)
Ekskresi ginjal merupakan rute terbesar eliminasi untuk beberapa obat. Obat-obat yang larut
dalam air mempunyai berat molekul rendah atau mengalami biotransformasi secara lambat oleh
hati akan dieliminasi dengan sekresi ginjal.
Sementara itu, proses fabrikasi obat tidak melihat fisiologis pasien secara khusus. Misalnya
fabrikasi paracetamol, dibuat dengan dosis 500 mg dan 250 mg. maka tugas apotekerlah yang
kemudian melakukan penyesuaikan dosis apabila pasiennya mengalami serosis hati. Begitu juga
pada obat-obat yang meiliki rasio ekstraksi renalnya tinggi sementara pasien mengalami gagal
ginjal.
Farmakokinetika sangat berperan penting dalam menentukan penyesuaian dosis ini. Fungsi kerja
ginjal dapat dilihat dari nilai clearance yaitu volume darah yang dapat dibersihkan dari obat
dalam satu satuan waktu. Penyesuaian dosis obat kemudiaan didasarkan atas nilai clerence obat
tesrsebut.

C. KESIMPULAN
1. Famakokinetika atau kinetika obat adalah ilmu yang mempelajari nasib obat dalam tubuh atau
efek tubuh terhadap obat mencakup empat proses yaitu absoprsi, distribusi, metabolism, dan
ekskresi.
2. Melalui data absoprsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi tersebut farmakokinetika
mempunyai peran penting dalam aplikasi farmasi klinis, diantaranya adalah untuk penentuan
dosis pemakaian obat, penentuan frekuensi pemakaian obat, penentuan dosis ganda, penentuan
infus intra vena, dan penyesuaian dosis jika terjadi kerusakan renal maupun hepar.

Daftar Pustaka
Shargel, Leon., Yu, Andrew B. C., 2005, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan, edisi ke
dua, diterjemahkan oleh Sjamsiah, Surabaya, Airlangga University Press.
Setiawati, Arini., F.D Suryatna., Gan, Sulistia., 2007, Pengantar Farmakologi dalam Farmakologi
dan Terapi, Edisi 5, Gunawan, Sulistia Gan (editor)., Departemen Farmakologik dan Terapeutik
Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta.
Barbour, Nancy P., Lipper, Robert A., 2007, Introduction to Biopharmaceutics
and its Role in Drug Development in Biopharmaceutical Application in Drug
Development, Informa Healthcare USA, New York.