Anda di halaman 1dari 27

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama allah SWT, yang maha pengasih lagi maha

penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadiray-Nya, yang

telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya kepada kami, sehingga

kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Perdarahan

Antepartum.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan

bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan

makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada

semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada

kekurangan baik dari segi susunan kalimat m,aupun tata bahasanya. Oleh

karena itu dengan tangan terbuka kami menerima sagala saran dan kritik dari

pembaca agar kami dapat memperbaiki makalh ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan

manfaat inspirasi terhadap pembaca.

Tarakan February 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................I

DAFTAR ISI.......................................................................................................II

BAB I

PENDAHULUAN...............................................................................................1

A. Latar Belakang............................................................................................1

B. Rumusan Masalah......................................................................................3

BAB II................................................................................................................4

PEMBAHASAN.................................................................................................4

A. Pengertian..................................................................................................4

B. Etiologi........................................................................................................4

c. Komplikasi..................................................................................................8

C. Patofisiologi..............................................................................................12

D. Pemeriksaan penunjang...........................................................................14

E. Penatalaksanaan......................................................................................15

BAB III.............................................................................................................17

KONSEP DASAR KEPERAWATAN................................................................17

A. Pengkajian................................................................................................17

2
B. Diagnosa keperawatan.............................................................................17

C. Intervensi keperawatan............................................................................18

D. Evaluasi....................................................................................................20

BAB IV.............................................................................................................21

PENUTUP.......................................................................................................21

A. Kesimpulan...............................................................................................21

B. Saran........................................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................22

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pekerjaan melayani perempuan melahirkan sungguh pekerjaan

yang tidak terhindar dari berlumuran darah. Sampai sekarang perdarahan

dalam obstetric masih memegang peran penting sebagai penyebab utama

kematian maternal, sekalipun dinegara maju, terutama pada kelompok

sosio-ekonomi lemah. Pada sebuah laporan oleh Chichaki dan kawan-

kawan (1999) disebutkan perdarahan obstetric yang sampai

menyebabkan kematian maternal terdiri atas solusio plasenta (19%) dan

koagulopati (14%), robekan jalan lahir termasuk rupture uteri (16%),

plasenta previa (7%) dan plasenta akreta/inkreta dan perkreta (6%), dan

atonia uteri (15%). Perdarahan obstetric yang tidak dengan cepat diatasi

dengan transfuse darah atau cairan infuse dan fasilitas penanggulangan

lainnya (semisal upaya pencegahan dan/atau mengatasi syok, seksio

sesarea atau histerektomi dan terapi antibiotikayang sesuai),

prognosisnya akan fatal bagi penderitanya.


Dalam Reproductive Health Library no. 5 terdapat data global

mengenai kematian maternal. Setiap tahun terdapat 180 sampai 200 juta

perempuan menjadi hamil dan 585.000 orang diantaranya meninggal

1
akibat salah satu komplikasi sehubungan dengan kehamilan dan

persalinan. Latar belakang kematian maternal adalah perdarahan

obstetric (24,8%), infeksi (14,9%), eklampsia (12,9%), partus tidak

maju/distosia (6,9%), abortus yang tidak aman (12,9%), dan sebab-sebab

langsung lainnya (7,9%). Disamping itu, setiap tahun di dunia terdapat

kematian perinatal yang tinggi yaitu 3 juta kematian janin sebelum lahir

(still-birth) dan 3 juta kematian neonatus dini (dalam usia kurang lebih 7

hari). Peristiwa tragis ini 99% terjadi di Negara berkembang dan hanya

1% di Negara maju. Dari aspek prenatal care lebih dari 35% dari

perempuan hamil tersebut tidak memperoleh asuhan kehamilan, dan dari

aspek intranatal care 50% persalinan ditangani oleh petugas yang tidak

terlatih/terampil. Jika melihat latar belakang yang menyebabkan kematian

maternal dan perinatal diatas, sesungguhnya secara teknis medis

kematian tersebut tidak harus terjadi. Namun kematian maternal dan

perinatal terjadi juga. Salah satu faktor yang mempengaruhi mortalitas

dan morbiditas maternal dan perinatal adalah faktor keterlambatan pasien

menerima bantuan medik saat pertama pasien mulai sakit di rumah (delay

in decision to seek care), kemudian keterlambatan dalam pengangkutan

dan perjalanan (delay in reaching care), bahkan setelah tiba di rumah

sakit pun masih terjadi keterlambatan (delay in receiving care).

2
B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari pendarahan antepartum?

2. Apa penyebab dari pendarahan antepartum?


3. Apa saja Manifestasi klinis dari pendarahan antepartum?
4. Bagaimana Patofisiologi dari pendarahan antepartum?
5. Bagaimana pemeriksaan penunjang pada pendarahan antepartum?
6. Bagaimana penatalaksanaan pendarahan antepartum?

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah

kehamilan 28 minggu. Perdarahan intrapartum juga dapat dikatakan

perdarahan pervaginam pada kehamilan di atas 28 minggu atau lebih dan

sering disebut atau digolongkan perdarahan trimester ketiga.

Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada triwulan terakhir

kehamilan, yaitu usia kehamilan 20 minggu atau lebih. Pada triwulan

terakhir kehamilan sebab-sebab utama perdarahan adalah plasenta

previa, solusio plasenta dan rupture uteri. Selain oleh sebab-sebab

tersebut juga dapat ditimbulkan oleh luka-luka pada jalan lahir karena

trauma, koitus atau varises yang pecah dan oleh kelainan serviks seperti

karsinoma, erosi atau polip.

B. Etiologi

Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah rahim

belumlah diketahui dengan pasti. Mungkin secara kebetulan saja

blastokista menimpa desidua di daerah segmen bawah rahim tanpa latar

4
belakang lain yang mungkin. Teori lain mengemukakan sebagai salah satu

penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai, mungkin

sebagai akibat dari proses radang atau atrofi. Paritas tinggi, usia lanjut,

cacat rahim misalnya bekas bedah sesar, kerokan, miomektomi, dan

sebagainya berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di

endometrium yang semuanya dapat dipandang sebagai faktor risiko bagi

terjadinya plasenta previa. Cacat bekas bedah sesar berperan menaikkan

insiden dua sampai tiga kali. Pada perempuan perokok dijumpai insidensi

plasenta previa lebih tinggi 2 kali lipat. Hipoksemia akibat karbon mono-

oksida hasil pembakaran rokok menyebabkan plasenta menjadi hipertrofi

sebagai upaya kompensasi. Plasenta yang terlalu besar seperti pada

kehamilan ganda dan eritroblastosis fetalis bisa menyebabkan

pertumbuhan plasenta melebar ke segmen bawah rahim sehingga

menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum.

Jenis-jenis perdarahan antepartum

1. Solusio plasenta

a. Definisi

5
Adalah terlepasnya sebagian atau keseluruhan plasenta dari

implantasi normalnya (korpus uteri) setelah kehamilan 20 minggu

dan sebelum janin lahir.

b. Etiologi

Penyebab primer belum diketahui pasti, namun ada beberapa yang

menjadi faktor predisposisi:

1) Faktor kardio-reno-vaskuler glomerunefritis kronik, Hipertensi

esensial, sindroma preeklamsia dan eklamsia.

Pada penelitian diparkland, ditemukan bahwa terdapat

hipertensi pada separuh kasus solusio plasenta berat, dan

separuh dari wanita yang hipertensi tersebut mempunyai

penyakit hipertensi kronik, sisanya hipertensi yang disebabkan

oleh kehamilan.

2) Faktor trauma

a) Dekompresi uterus pada hidroamnion dan gemeli

6
b) Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin

yang banyak/bebas, versi luar atau tindakan pertolongan

persalinan

c) Trauma langsung, seperti jatuh, kena tending , dan lain-lain.

3) Faktor parites ibu

Lebih banyak dijumpai pada primipara. Beberapa

penelitian menerangkan bahwa makin tinggi paritas ibu makin

kurang baik keadaan endometrium

4) Faktor Usia ibu

Makin tua umur ibu, makin tinggi frekuensi hipertensi

menahun.

5) Leiomioma uteri (uterine leiomioma) yang hamil dapat

menyebabkan solusio plasenta apabila plasenta berimplantasi

diatas bagian yang mengandung leiomioma

6) Penggunaan kokain

7
Penggunaan kokain mengakibatkan peninggian tekanan darah

dan peningkatan pelepasan katekolamin yang bertanggung

jawab atas terjadinya vasospasme pembuluh darah uterus dan

berakibat terlepasnya plasenta. Namun, hipotesis ini belum

terbukti secara definitif.

7) Faktor kebiasaan merokok

Ibu yang merokok juga merupakan penyebab peningkatan

kasus solusio plasenta sampai dengan 25% [ada ibu yang

merokok < 1 bungkus perhari. Ini dapat diterangkat pada ibu

yang perokok [lasenta menjadi tipis, diameter lebih luas dan

beberapa abnormalitas pada mikrosirkulasinya.

8) Riwayat solusio plasenta sebelumnya

Hal yang sangat penting dan menentukan prognosis ibu

dangan riwayat solusio plasenta adalah bahwa resiko

berulangnya kejadian ini pada kehamilan berikutnya jauh lebih

tinggi dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak memiliki

riwayat solusio plasenta

8
9) Pengaruh lain seperti anemia, malnutrisi,/defesiensi gizi,

tekanan uterus pada vena cava inferior dikarenakan

pembesaran ukuran uterus oleh adanya kehamilan, dll.

c. Komplikasi

1) Syok perdarahan
Perdarahan antepartum dan intrapartum pada solusio

plasenta hamper hamper tidak dapat dicegah, kecuali dengan

menyelesaikan persalinan segera. Bila persalianan telah

diselesaikan, penderita belum bebas dari perdarahan

postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk

menghentikan pendarahan pada kala III. Pada solusio plasenta

berat keadaan syok sering tidak sesuai dengan jumlah

perdarahan yang terlihat.


2) Gagal ginjal
Gagal ginjal merupakan komplikasi yang sering terjadi

pada penderita solusio plasenta, pada dasarnya disebabkan

oleh keadaan hipovolemia karena pendarahan yang terjadi.

Biasanya terjadi nekrosis tubuli ginjal yang mendadak, yang

umumnya masih dapat ditolong dengan penanganan yang baik.


3) Kelainan pembekuan darah : Kelainan pembekuan darah

Biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemia


4) Apoplexy uteroplacenta (uterus couvelaire)
Pada solusio plasenta yang berat terjadi perdarahan dalam

otot-otot rahim dan dibawah primetrium kadang-kadang juga

9
dalam ligamentum latum. Perdarahan ini menyebabkan

gangguan kontraktilitas uterus dan warna uterus berubah

menjadi biru atau ungu yang biasa disebut uterus couvelaire.

Komplikasi yang dapat terjadi pada janin:

1) Fetal distress
2) Hangguan pertumbuhan/perkembangan,
3) Hipoksis
4) Anemia
5) Kematian
d. Terapi
1) Solusio plasenta ringan
Bila usia kehamilan kurang dari 36 minggu dan bila ada

perbaikan (peradrahan berhenti, perut tidak sakit, uterus tidak

tegang, janin hidup) dengan tirah baring dan observasi ketat,

kemudian tunggu persalinan spontan.


2) Solusio plasenta sedang dan berat
Apabila tanda dan gejala klinis solusio plasenta jelas

ditemukan, penanganan dirumah sakit meliputi transfusi darah,

amniotomi, infuse oksitosin dan jika perlu seksio sesaria.


Apabila diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan berarti

perdarahan telah terjadi sekurang-kurangnya 1000 ml. maka

transfusi darah harus segera diberikan.

2. Plasenta previa

a. Definisi

10
Plasenta previa adalah plasenta yang ada didepan jalan lahir.

Jadi yang dimaksud adalah plasenta yang implantasinya tidak

normal ialah rendah sekali hingga menutupi seluruh atau sebagian

osium internum. Implantasi plasenta yang normal ialah pada

dinding depan atau dinding belakang rahim didaerah fundus uteri

(obsetri patolodi, edisi 1984).

b. Etiologi

Belum diketahui pasti, frekuensi plasenta previa meningkat pada

grade multi para. Primigravida tua. Bekas seksiosesarea, bekas

aborsi, kelainan janin dan leiomioma uteri

c. Komplikasi

1) Pada ibu dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat

perdarahan, anemia karena perdarahan plasentitis, dan

endometritis pasca persalinan.

2) Pada janin biasanya terjadinya persalinan premature dan

komplikasi seperti asfiksi berat (mansjoer, 2002)

11
d. Penatalaksanaan

1) Terapi ekopektif

Tujuan terapi ekopektif ialah supaya janin tidak terlahir

premature , penderita dirawata tanpa melakukan pemeriksaan

dalam melalui kanalis servikalis. Upaya diagnosis dilakukan

secara non-infasif pemantauan klinis dipantau secara ketat dan

baik.

2) Terapi aktif

Wanita hamil diatas 2 minggu dengan perdarahan

pervaginam yang aktif dan banyak, harus segera

ditatalaksanakan secara aktif tanpa memandang maturnitas

janin.

3. Insertion velamentosa

12
Insertion velamentosa adalah insersi tali pusat pada selaput janin.

Insersi velamentosa sering terjadi pada kehamilan ganda. Pada

insersi, velamentosa, tali pusat dihubungkan dengan plasenta oleh

selaput janin. Kelainan ini merupakan kalainan insersi funiculus

umbilikalis dan bukan merupakan kelainan perkembangan plasenta.

Karena pembuluh darahnya berinsersi pada membran, maka

pembuluh darahnya berjalan antara funiculus umbilikalis dan plasenta

melewati membrane. Bila pembuluh darah tersebut berjalan diodaerah

ostium uteri internum, maka disebut vasa previa. Vasa previa ini

sangat berbahaya karena pada waktu ketuban pecah, vasa previa

dapat terkoyak dan menimbulkan perdarahan yeng berasal dari anak.

Gejalanya ialah perdarahan segera setelah ketuban pecah dan karena

perdarahan ini berasal dari anak maka dengan cepat bunyi jantung

menjadi buruk.

4. Plasenta sirkumvalata

Selama perkembangan amnion dan korion melipat kebelakang

disekeliling tepi-tepi plasenta. Dengan demikian korion ini masih

berkesinambungan dengan tepi pelkatannya meliputi kebelakang pada

permukaan foetal.

13
Pada permukaan foetal dekat pada pinggir plasenta terdapat

cincin putih. Cincin putih ini menandakan pinggir plasenta, sedangkan

jaringan disebelah luarnya terdiri daroi vili yang timbul kesamping,

dibawah desidua. Sebagai akibatnya pinggir plasenta muda terlepas

dari dinding uterus dan perdarahan antepartum. Hal ini tidak dapat

diketahui sebelum plasenta diperiksa pada akhior kehamilan.

C. Patofisiologi

Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada trimester ketiga

dan mungkin juga lebih awal, oleh karena telah mulai terbentuknya

segmen bawah rahim, tapak plasenta akan mengalami pelepasan.

Sebagaimana diketahui tapak plasenta terbentuk dari jaringan maternal

yaitu bagian desidua basalis yang bertumbuh menjadi bagian dari uri.

Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim, maka

plasenta yang berimplantasi di situ sedikit banyak akan mengalamin

laserasi akibat pelepasan pada desidua sebagai tapak plasenta. Demikian

pula pada waktu serviks mendatar (effacement) dan membuka (dilatation)

ada bagian tapak plasenta yang terlepas. Pada tempat laserasi itu akan

terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu dari ruangan

intervillus dari plasenta. Oleh karena fenomena pembentukan segmen

bawah rahim itu perdarahan pada plasenta previa betapa pun pasti akan

terjadi (unavoidable bleeding). Perdarahan di tempat itu relative

14
dipermudah dan diperbanyak oleh karena segmen bawah rahim dan

serviks tidak mampu berkontraksi dengan kuat karena elemen otot yang

dimilikinya sangat minimal, dengan akibat pembuluh darah pada tempat

itu tidak akan tertutup dengan sempurna. Perdarahan akan berhenti

karena terjadi pembekuan kecuali jika ada laserasi mengenai sinus yang

besar dari plasenta pada mana perdarahan akan berlangsung lebih

banyak dan lebih lama.


Oleh karena pembentukan segmen bawah rahim itu akan

berlangsung progresif dan bertahap, maka laserasi baru kan mengulang

kejaduan perdarahan. Demikianlah perdarahan akan berulang tanpa

sesuatu sebab lain (causeless). Darah yang keluar berwarna merah segar

tanpa rasa nyeri. Pada plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri

internum perdarahan terjadi lebih awal dalam kehamilan oleh karena

segmen bawah rahim terbentuk lebih dahulu pada bagian terbawah yaitu

pada ostium uteri internum. Sebaliknya pada plasenta previa parsialis

atau letak rendah, perdarahan baru terjadi pada waktu mendekati atau

mulai persalinan. Perdarahan pertama biasanya sedikit tetapi cenderung

lebih banyak pada perdarahan berikutnya. Untuk berjaga-jaga mencegah

syok hal tersebut perlu dipertimbangkan. Perdarahan pertama sudah bias

terjadi pada kehamilan dibawah 30 minggu tetapi lebih separuh

kejadiannya pada umur kehamilan 34 minggu ke atas. Berhubung tempat

perdarahan terletak dekat dengan ostium uteri internum, maka

15
perdarahan lebih muda mengalir ke luar rahim dan tidak membentuk

hematoma retroplasenta yang mampu merusak jaringan lebih luas dan

melepaskan tromboplastin ke dalam sirkulasi maternal. Dengan demikian,

sangat jarang terjadi koagulopati pada plasenta previa.

D. Pemeriksaan penunjang

1. Uji laboratorium, yang terdiri dari:


a) Pemeriksaan darah lengkap harus diperoleh dan dibandingkan

dengan penilaian sebelumnya untuk membantu menilai jumlah

kehilangan darah
b) Penilaian sistem pembekuan dengan memperoleh hitung trombosit,

fibrinogen serum, waktu protrombin, dan waktu tromboplastin

sebagian
c) Penentuan golongan darah
2. Ultrasonografi

Cara yang paling tepat untuk menentukan penyebab perdarahan

triwulan ketiga adalah dengan ultrasonografi. Evaluasi ultrasonografi

harus mencakup lokasi dan karakter plasenta, penilaian umur gestasi,

perkiraan berat janin, penentuan presentasi janin, dan penyaingan

untuk anomal janin

3. Kardiotokografi
Pemantauan aktivityas rahim dan frekuensi denyut jantung janin

harus dipantau untuk menangani persalinan dan menetapkan

kesehatan janin.
Pada umunya penderita mengalami perdarahan pada trimulan

ketiga, atau setelah kehamilan 28 minggu.

16
E. Penatalaksanaan

Setiap perempuan hamil yang mengalami perdarahan dalam

trimester kedua atau trimester ketiga harus dirawat dalam rumah sakit.

Pasien diminta istirahat baring dan dilakukan pemeriksaan darah lengkap

termasuk golongan darah dan faktor Rh. Jika Rh negative RhoGam perlu

diberikan pada pasien yang belum pernah mengalami sensitisasi. Jika

kemudian ternyata perdarahan todak banyak dan berhenti serta janin

dalam keadaan sehat dan masih premature dibolehkan pulang dilanjutkan

dengan rawat rumah atau rawat jalan dengan syarat telah mendapat

konsultasi yang cukup dengan pihak keluarga agar dengan segera

kembali ke rumah sakit bila terjadi peradarahan ulang, walaupun

kelihatannya tidak mencemaskan. Dalam keadaan yang stabil tidak ada

keberatan pasien dirawat dirumah atau rawat jalan.


Hal yang perlu dipertimbangkan adalah adaptasi fisiologik

perempuan hamil yang memperlihatkan seolah keadaan klinis dengan

tanda-tanda vital dan hasil laboratorium yang masih normal padahal bisa

tidak mencerminkan keadaanya yang sejati. Jika peradarahan terjadi

dalam trimester kedua perlu diwanti-wanti karena perdarahan ulangan

bisa lebih banyak.


Pada keadaan yang kelihatan stabil dalam rawatan di luar rumah

sakit hubungan suami isteri dan kerja rumah tangga dihindari kecuali jika

setelah pemriksaan ultrasonografi ulangan, dianjurkan minimal setelah 4

minggu, memperlihatkan ada migrasi plasenta menjauhi ostium uteri

17
internum. Bila hasil USG tidak demikian, pasien tetap dinasehati untuk

mengurangi kegiatan fisiknya dan melawat ke tempat jauh tidak

dibenarkan sebagai antisipaso terhadap peradarahan ulang sewaktu-

waktu.
Selama rawat inap perlu diberikan transfusi darah dan tehadap

pasien dilakukan pemantauan kesehatan janin dan observasi kesehatan

maternal yang ketat berhubung tidak bisa diramalkan pada pasien mana

dan bilamana perdarahan ulang akan terjadi.

BAB III

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas umum
2. Keluhan utama
3. Riwayat kesehatan
4. Pemeriksaan tanda-tanda vital
5. Pemeriksaan fisik
6. Pemeriksaan penunjang
7. Data sosial ekonomi

B. Diagnosa keperawatan
1. Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman

plasenta pada segman bawah rahim


2. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan

ketidakmampuan merawat diri, sekunder keharusan bedrest

18
3. Resiko rawat jalan janin : fital distress berhubungan dengan tidak ada

kuatnya perfusi darah keplasenta


4. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan trauma jaringan

dan spasme otot perut

C. Intervensi keperawatan
DX 1 : Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek

penanaman plasenta pada segman bawah rahim

Tujuan : klien tidak mengalami perdarahan berulang


Intervensi :
1. Anjurkan klien untuk membatasi pergerakan
2. Kontroln ttv
3. Control perdarahan pervaginam
4. Anjurkan klien untuk melporkan segera bila ada tanda-tanda

perdarahan lebih banyak


5. Monitor bunyi jantung janin
6. Kolaborasikan dengan tim medis untuk mengakhiri kehamilan

Dx2 : Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan

ketidakmampuan merawat diri, sekunder keharusan bedrest

Tujuan : pemenuhan kebutuhan klien sehari-hari terpenuhi

Intervensi:

1. Bina hubungan saling percaya antara perawat dengan klien dengan

menggunakan komunikasi therapeutic


2. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan dasar
3. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan
4. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien
5. Anjurkan klien untuk memberitahu perawat untuk memberikan bantuan

19
Dx 3 : Resiko rawat jalan janin : fital distress berhubungan dengan tidak

ada kuatnya perfusi darah keplasenta

Tujuan : gawat janin tidak terjadi

Intervensi :

1. Istirahatkan klien
2. Anjurkan klien agar miring kekiri
3. Anjarkan klien untuk nafas dalam
4. Kolaborasikan dengan doktertentang permberian kortikosteroid

Dx 4 : Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan trauma

jaringan dan spasme otot perut

Tujuan : rasa nyaman terpenuhi

Intervensi :

1. Kaji tingkat nyeri yang dirasakan klien


2. Jelaskan pada klien penyebab nyeri
3. Atur posisi nyaman menurut klien tidak menimbulkan peregangan luka
4. Alihkan perhatian klien dari rasa nyeri dengan mengajak klien

berbicara
5. Anjurkan dan latih klien teknik relaksasi (nafas dalam)
6. Control vital sign klien
7. Kolaborasi dengan dokter dalam memberikan analgetik

D. Evaluasi
1. Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat,

serta terapi mulai diberikan


2. Ibu dan bayi menjalani persalinan dan kelahiran yang aman.

20
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah
kehamilan 28 minggu. Perdarahan intrapartum juga dapat dikatakan

21
perdarahan pervaginam pada kehamilan di atas 28 minggu atau lebih
dan sering disebut atau digolongkan perdarahan trimester ketiga.
Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah rahim belumlah
diketahui dengan pasti. Teori lain mengemukakan sebagai salah satu
penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai, mungkin
sebagai akibat dari proses radang atau atrofi. Paritas tinggi, usia lanjut,
cacat rahim misalnya bekas bedah sesar, kerokan, miomektomi, dan
sebagainya berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di
endometrium yang semuanya dapat dipandang sebagai faktor risiko bagi
terjadinya plasenta previa. Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya
pada trimester ketiga dan mungkin juga lebih awal, oleh karena telah
mulai terbentuknya segmen bawah rahim, tapak plasenta akan
mengalami pelepasan. Sebagaimana diketahui tapak plasenta terbentuk
dari jaringan maternal yaitu bagian desidua basalis yang bertumbuh
menjadi bagian dari uri.
Pemeriksaan penunjang dari perdarahan ini ialah uji laboratorium,
ultrasonografi dan kardiotografi serta penatalaksanaannya yaitu Setiap
perempuan hamil yang mengalami perdarahan dalam trimester kedua
atau trimester ketiga harus dirawat dalam rumah sakit. Pasien diminta
istirahat baring dan dilakukan pemeriksaan darah lengkap termasuk
golongan darah dan faktor Rh, Selama rawat inap perlu diberikan
transfusi darah dan tehadap pasien dilakukan pemantauan kesehatan
janin dan observasi kesehatan maternal yang ketat berhubung tidak bisa
diramalkan pada pasien mana dan bilamana perdarahan ulang akan
terjadi.

22
B. Saran
Jika terjadi perdarahan antepartum sebagai tenaga kesehatan

harus melakukan penanganan sesegera mungkin. Biloa perlu harus

melakukan rujukan kerumah sakit yang memiliki fasilitas operasi dan

transfuse darah.

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono. 2016. Ilmu Kebidanan edisi 4. PT. Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo : Jakarta

23
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan

Maternal dan Neonatal edisi 1. PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo :

Jakarta

Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3 jilid 1. Media

Aesculapius : Jakarta

Nurarif, amin huda. Kusuma hardi 2015 aplikasi asuhan keperawatan

berdasarkan diagnose medis dan NANDA NIC NOC. Jogjakarta.

24