Anda di halaman 1dari 15

LETAK GEOGRAFIS SULAWESI

Secara geogafis Sulawesi Tenggara terletak di bagian Selatan khatulistiwa diantara 3


6 Lintang Selatan dan 120 45 124 60 Bujur Timur. Propinsi Sulawesi Tenggara
memiliki wilayah daratan seluas 38.140 Km2 atau 3.814.000. Ha dan wilayah perairan (laut
) diperkirakan seluas 110.000. Km2 atau 11.000.000 Ha.

Propinsi Sulawesi Tenggara terdiri atas 4 (empat) wilayah Kabupaten, yaitu


Kabupaten Kendari, Kolaka, Muna dan Buton, dan 1 (satu) wilayah kota Madya yaitu
Kotamadya Kendari, serta 1 (satu) wilayah kota administratif yaitu Kotif Bau-Bau

Kondisi tanah daerah Sulawesi Tenggara umumnya bergunung, bergelombang


berbukit-bukit. Permukaan tanah pegunungan relatif rendah (sebagian besar berada pada
ketinggian 100 500 meter diatas permukaan laut) digunakan untuk usaha mencapai
1.167.039 Ha.

Kondisi batuan wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara ditinjau dari sudut geologis
terdiri atas batuan sedimen, batuan metamorfosis, dan batuan beku. Dari ketiga jenis batuan
tersebut yang terluas adalah batuan sedimen, seluas 2.579.790 Ha.

Dari jenis tanah, Propinsi Sulawesi Tenggara memiliki 6(enam) jenis tanah yaitu :
tanah podzolik seluas 2.299.729 Ha, tanah mediteran seluas 899.802 Ha, tanah latosol seluas
349.784 Ha, tanah organosol seluas 116.099 Ha, tanah alluvial seluas 129.569 Ha dn tanah
grumosol seluas 20.017 Ha.
Sulawesi adalah sebuah pulau dalam wilayah Indonesia yang terletak di antara Pulau
Kalimantan di sebelah barat dan Kepulauan Maluku di sebelah timur. Dengan luas wilayah
sebesar 174.600 km, Sulawesi merupakan pulau terbesar ke-11 di dunia.

ANALISISPERSEBARAN KEBUDAYAAN BANGSA INDONESIA


MELALUI 7 KUNCI KEBUDAYAAN

PULAU SULAWESI

1. BAHASA
Proto
Proto Bungku-Tolaki
Proto Minahasa
Bahasa di pulau Sulawesi terdiri dari 5 rumpun :
1) Rumpun Celebic
2) Rumpun Filipina
3) Rumpun Melayik
4) Rumpun Sama-Bajau
5) Rumpun Sulawesi Selatan

Bahasa yang sering di pakai orang Sulawesi adalah Bahasa Sanger atau
Sangihe, Bahasa ini berasal dari Sulawesi Utara. Orang Sulawesi Utara
sering merantau dan menyebar di banyak wilayah Sulawesi lainnya, maka
dari itu Bahasa sanger lah yang sering di pakai oleh orang-orang di
bagian-bagian Sulawesi. Berikut Contoh percakapan menggunakan
Bahasa Sanger atau Sangihe :

A. Kera Habare? : Apa Kabar?


B. Mapaele : Baik-baik
A. Boa apa I kau? : Dari mana kamu?
B. Bopai : Dari sanah.

2. MATA PENCAHARIAN
1) Petani
2) Pedagang
3) Nelayan
3. SISTEM PERALATAN
Peralatan dan Perlengkapan
Dapur

1. Suku Batak
a. Panutuan dan Tutu utuan dan Tutu adalah alat untuk menggiling bumbu dapur.
Panutuan dan Tutu terbuat dari batu atau kayu. Panutuan adalah wadah tempat bumbu
akan digiling, sedangkan Tutu adalah batu atau kayu penggiling bumbu itu. Tutu ini
dinamai juga Papene.
b. Papene
Papene adalah Sapa kecil tanpa kaki. Besarnya sekitar 30-40 cm. Biasanya Papene
ini digunakan pada kesempatan sehari-hari.
c.Hansung atau Hiong
adalah bejana untuk mengambil air dari sumber air (sumur, pancuran atau sungai)
dan sekaligus tempat penyimpanannya. Hansung atau Hiong adalah tabung besar yang
terbuat dari bambu besar dengan ruas buku yang panjang.Kadang-kadang kulit
luarnya dibuang, tetapi kadang-kadang tidak.Kulit yang tidak dibuang sering dihiasi
dengan tulisan atau ukiran mitis.Selain untuk menampung dan menyimpan air,
Hansung atau Hiong digunakan juga untuk menampung air aren yang dikenal dengan
tuak.
d. Ompon
ialah sejenis karung berbentuk silinder. Ompon terbuat dari kulit kayu atau dari
diayam dari Baion atau pandan.Besarnya dan volumenya tidak tentu.Ada ompon yang
bisa menampung padi sebanyak 20-30 porsanan atau panuhukan.Porsanan atau
Panuhukan adalah ukuran umum sebanyak orang bisa memikul. porsan atau
tuhuk berarti pikul.
e. Hudon Tano atau Susuban Tano
adalah bejana yang terbuat dari tanah liat. Pada zaman dahulu bejana ini dipakai serba
guna, misalnya: tempat penyimpanan air, tempat memasak makanan dan air minum.
f. Hobon atau Tambarang
mengacu pada barang yang sama, yakni sejenis tong yang terbuat dari kulit kayu yang
amat besar. Hobon atau Tambarang ini dipakai untuk tempat menyimpan padi. Bila
Hobon atau Tambarang ini berdiri akan tampak seperti drum yang besar.
g. Sapa Bolonialah piring
yang terbuat dari kayu. Biasanya sapa itu berdiameter 30-40 cm; tinggi 20-30 cm.
Biasanya piring ini digunakan ketika satu keluarga makan hasil panen pertama atau
makan Dengke na hinongkoman (ikan pelindung) untuk menolak penyakit menular.
Nama ikan itu adalah Porapora.Jumlah ikan itu mesti sebanyak jumlah anggota
keluarga yang makan, yang ditaruh pada sapa.
h. Poting atau gunci
terbuat dari tanah liat dan tutupnya terbuar dari kayu. Barang ini dipakai sebagai
tempat tuak.
i. Losung adalah lumpang,
yakni perkakas untuk menumbuk padi untuk memperoleh beras. Losung dapat terbuat
dari batu atau kayu.Biasanya bentuknya seperti bidang trapesium yang terbalik.Pada
permukaan atas terdapat lubang besar ke dalamnya dimasukkan barang yang hendak
ditumbuk.Ada dua ukuran lumpang, besar dan kecil.Lumpang besar digunakan untuk
menumbuk padi, sedangkan yang kecil dipakai untuk menumbuk padi dalam jumlah
sedikit atau pun untuk menggiling bumbu.Andalu adalah alat pasangan untuk
menumbuk padi pada lumpang itu.Andalu adalah tongkat kayu sebesar genggaman
tangan dengan panjang 150-200 cm. Dengan pergesekan Andalu dan padi, kulit padi
menjadi terkelupas dan menghasilkan beras.
j. Geanggeang
termasuk perkakas dapur tempat penyimpanan lauk yang sudah dimasak. Bentuknya
seperti keranjang yang dianyam dari rotan besar.Geanggeang ini tergantung setinggi
ibu rumah tangga pemilik Jabu Bona pada Ruma Batak.Perkakas itu terikat pada atap
rumah.Disebut Geanggeang karena perkakas ini tergantung dan mudah bergoyang.Di
tempat inilah disimpan lauk yang sudah dimasak sehingga tidak mudah digapai anak-
anak, kucing atau tikus.
k. Ampang
adalah sejenis bakul yang terbuat dari anyaman rotan yang dibelah dan dihaluskan.
Bagian bibir Ampang berbentuk bundar yang dibuat dari rotan bulat.Tetapi bagian
dasar mendapat bentuk bidang bujursangkar.Ampang ini diperkuat oleh empat rangka
dari sudut bujursangkar pada bagian dasar yang menopang bibir Ampang yang
berbentuk bundar.Ampang digunakan sebagai alat pengukur isi untuk padi.
l.Parutan.
Parutan yang terbuat dari kayu dan sebatang besi.Fungsinya ialah untuk memarut
kelapa.
m. Keranjang.terbuat dari rotan. Fungsinya antara lain sebagai tempat pakaian

4. RELIGI
Agama dan kepercayaan orang Sulawesi, lebih tepatnya Sulawesi Selatan.
Sebelum datangnya agama Islam, sistem kepercayaan masyarakat Sulawesi Selatan
adalah Sure Galigo yang mengandung kepercayaan pada dewa tunggal. Pemujaan
terhadap roh nenek moyang juga pernah berkembang. Hal ini ditandai dengan adanya
pemeliharaan tempattempat keramat yang telah dikenal oleh masyarakat
Makassar sejak lama. Dalam Buku Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia
disebutkan bahwa sebelum datangnya agama Islam, orang Makassar mempercayai
adanya tokoh-tokoh dewa, roh nenek moyang serta makhluk gaib lainnya. Pada suku
Bugis
Makassar dikenal adanya Batara Guru (dewa pencipta jagad), PatotoE (dewa
yang menentukan nasib manusia), dewa SewuE (dewa tunggal), dan makhluk-
makhluk halus lainnya yang menempati tempat-tempat angker. Sedangkan tokoh
dewa tertinggi dalam keyakinan mereka disebut PatotoE atau Dewata SewuE (Dewa
yang tinggi).
Keyakinan lama itu masih nampak dalam pelaksanaan upacara-upacara
setempat, terutama yang berkaitan dengan pertanian dan daur hidup, serta
pemeliharaan tempat-tempat yang dianggap keramat yang oleh masyarakat setempat.
Upacara sosial yang dilakukan oleh masyarakat setelah panen disebut upacara
saukang. Tempat upacara biasa dilaksanakan di possi butta atau di kayuara (sejenis
pohon kayu besar).
TARIAN DARI SULAWESI TENGAH
TARI PEULE CINDE

Tarian_ini_adalah_prosesi_penyambutan_tam
u_agung_dimana_setiap_tamu_agung_yang_berkunjung_disuguhi_oleh_tarian_
ini_dan_ditaburkan_bunga-bungaan_oleh_para__gadis-
gadis_penari_yang_cantik.
ALAT MUSIK SULAWESI SELATAN
Kecapi

Kecapi merupakan alat musik petik yang berasal dari Sulawesi Selatan,
biasa digunakan sebagai pengiring suling atau dalam musik lengkap, sampai
saat ini masih terus dilestarikan dan dijadikan kekayaan seni yang sangat
bernilai bagi masyarakat asli Sulawesi Selatan.
Membutuhkan latihan khusus untuk dapat memainkan alat musik ini
dengan penuh penghayatan, tak jarang latihan dilakukan di alam terbuka agar
dapat menyatukan rasa dan jiwa sang pemetik Kacapi, lebih dari itu semua
suara yang dihasilkan dari alat musik ini akan menenangkan jiwa para
pendengarnya, dan mampu membawa suasana alam Pasundan di tengahtengah
pendengar yang mulai terhanyut dengan buaian nada-nada yang indah
dari Kacapi
.
Keso

Keso Adalah alat musik yang mirip seperti rebab hanya saja keso
menggunakan dua dawai saja. Alat musik ini dimainkan dengan cara digesek.

Gendang

Kendang, kendhang, atau gendang adalah alat musik yang


dimainkan dengan cara di tepuk.
ALAT MUSIK SULAWESI UTARA
Kolintang

Kolintang atau kulintang adalah alat musik khas daerah Minahasa,


Sulawesi Utara. Kolintang dibuat dari kayu lokal yang ringan namun kuat
seperti telur, bandaran, wenang, kakinik kayu cempaka, dan yang mempunyai
konstruksi fiber paralel. Nama kolintang berasal dari suaranya: tong (nada
rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada biasa). Dalam bahasa daerah, ajakan
"Mari kita lakukan TONG TING TANG" adalah: " Mangemo kumolintang".
Ajakan tersebut akhirnya berubah menjadi kata kolintang. Beberapa group
terkenal seperti Kadoodan, Tamporok, Mawenang yang sudah eksis lebih dari
35 tahun.Pembuat kolintang tersebar di Minahasa dan di pulau Jawa,salah satu
pembuat kolintang yang terkenal Petrus Kaseke.
Garputala Bambu

Garputala atau Druridana adalah alat yang berbentuk seperti


garpu bergigi dua (atau berbentuk huruf y) dan beresonansi pada
frekuensi tertentu bila dihentakkan pada suatu benda. Garpu tala ini
terbuat dari bambu.

Bansi

Bansi adalah alat musik dari keluarga alat musik tiup bambu.
Suara suling berciri lembut dan dapat dipadukan dengan alat musik
lainnya dengan baik.
Salude

Salude adalah alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Semacam
siter yang memilik dua dawai
ALAT MUSIK SULAWESI TENGAH
TUTUBA

Tutuba adalah merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Sulawesi Tengah
yang merupakan alat musik berdawai yang terbuat dari bambu. Tutuba adalah alat
musik khas suku To Wana.

TATALI

tatali adalah alat musik tiup (suling) yang merupakan alat musik tradisional khas
suku To Wana di Sulawesi Tengah. Talali adalah alat musik tiup yang terbuat dari
bambu berukuran sekitar 50 cm dengan diameter 2 cm dan memiliki 3 lubang untuk
resolusi udara tempat meletakan jari dan hanya memiliki 3 nada. Dengan teknik
meniup menggunakan perasaan untuk menemukan sound yang baik dan enak
ditelinga.
GESO-GESO

Geso-geso adalah alat musik gesek yang berasal dari Sulawesi Tengah. Sama
halnya dengan tutuba dan tatali, geso-geso merupakan alat musik khas suku To
Wana. Akan tetapi ada pula alat musik serupa yang dipergunakan oleh masyarakat
toraja atau tepanya di Kecamatan Saluputti.

POPONDO

Alat musik Popondo di Sulteng juga disebut dengan alat musik Talindo atau
Popondi (Sulsel). Alat musik Popondo ini terbuat dari kayu, tempurung kelapa, dan
senar. Talindo/Popondi merupakan alat musik jenis sitar berdawai satu (one stringed
stick zilher). Tempurung kelapa berfungsi sebagai resonator. Alat musik ini
dimainkan secara tunggal setelah para petani merayakan pesta panen dan untuk
mengisi waktu senggang bagi para remaja.
PAREE

Alat musik pare'e merupakan alat musik tradisional dari Sulawesi Tengah,
berbentuk seperti garpu tala dan berfungsi sebagai alat hiburan diwaktu senggang
dan dapat pula digunakan sebagai alat perkenalan atau pergaulan antar anggota
kelompok masyarakat.

SANTU

Santu merupakan alat musik tradisional jenis sitar tabung yang termasuk dalam
kelompok idio-kodofon. Kulit ari pada bagian badan bambu dibentuk empat dan di
tengah badan dibuat lubang sebagai resonator. Alat musik Santu dimainkan dengan
cara dipetik setelah para petani merayakan pesta panen dan saat mengisi waktu
senggang bagi para remaja.
TUGAS GEOGRAFI
SULAWESI

KELOMPOK 3
1. ANNISA FADHILAH
2. DIAH LESTARI
3. DIMAS AZIZI
4. DINI FEBRIANI
5. DWI SETIAWATI
6. EZA ANGGA ALFIAN