Anda di halaman 1dari 11

TUGAS INDIVIDU

RANGKUMAN MATERI KULIAH


PERPAJAKAN SEKTOR PUBLIK

CONTOH KASUS ASPEK PERPAJAKAN


RUMAH SAKIT

Oleh: Dian Mustaqim (F1315126)


Novia Ramadhan (F1315138)
S1 (TRANSFER) STAR BPKP BATCH IV 2016
KASUS ASPEK PERPAJAKAN RUMAH SAKIT

A. PPh Badan Rumah Sakit


Dasar hukum:
Sesuai dengan butir 6 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-34/PJ.4/1995,
Yayasan atau Organisasi yang sejenis hanya dikenakan Pajak Penghasilan jika terdapat
selisih lebih antara gunggungan penghasilan bruto yang merupakan obyek pajak dengan
biaya-biaya yang diperkenankan untuk dikurangkan dari penghasilan bruto. Tidak
termasuk sebagai penghasilan yang merupakan obyek pajak adalah sumbangan, bantuan
dan hibah sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor
10 Tahun 1994.
Dalam menghitung penghasilan bruto tersebut juga tidak termasuk sebagai penghasilan
yang telah dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final, seperti pajak penghasilan
atas bunga deposito & jasa giro.
Biaya-biaya yang diperkenankan untuk dikurangkan dari penghasilan bruto sebagaimana
dimaksud pada butir 4 Surat Edaran tersebut, antara lain berupa :
Bagi Yayasan Rumah Sakit :
1) Gaji/tunjangan/honorarium perawat/tenaga medis/karyawan;
2) Biaya umum;
3) Obat-obatan;
4) Konsumsi karyawan;
5) Biaya bunga;
6) Pemeliharaan kendaraan, inventaris, gedung;
7) Perlengkapan rumah sakit;
8) Transportasi;
9) Biaya penyusutan;
10) Kerugian karena penjualan/pengalihan harta;
11) Biaya penelitian dan pengembangan;
12) Biaya bea siswa dan pelatihan karyawan;
13) Subsidi/biaya pelayanan kesehatan pasien yang kurang mampu.

Contoh Soal:
Rumah Sakit Indonesia Sehat (swasta) tahun 2016 memiliki omzet lebih dari 50M dengan
penghasilan sebesar Rp2.870.000.000,00. Rincian penghasilan yang diperoleh sebagai
berikut:
Penghasilan usaha : Rp2.500.000.000,00
Hibah : Rp 300.000.000,00
Bantuan/sumbangan : Rp 50.000.000,00
Penghasilan bunga deposito : Rp 20.000.000,00
Biaya-biaya yang dikeluarkan RS Indonesia Sehat secara keseluruhan untuk tahun 2016
sebesar Rp2.150.000.000. Dengan rincian biaya tersebut terdiri dari:
a. Biaya-biaya yang berhubungan dengan kegiatan mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan ( Pasal 6 ayat 1 UU nomor 36 tahun 2008) dan SE -
34/PJ.4/1995 Jo SE - 39/PJ.4/1995) = Rp200.000.000,00
b. Biaya bunga= Rp 50.000.000
c. Subsidi kepada pasien kurang mampu= Rp 100.000.000
Hitunglah Pajak penghasilan Rumah Sakit tersebut !
Jawab:
Besarnya PPh Badan terutang yang harus dibayar RS:
1. Total Penghasilan RS Rp 2.870.000.000,00
2. Penghasilan bukan objek pajak
- Hibah Rp 300.000.000,00
- Bantuan/sumbangan Rp 50.000.000,00 +
Total Penghasilan bukan objek pajak (a) Rp 350.000.000,00
3. PKP Final (bunga deposito) (b) Rp 20.000.000,00 +
Total (a+b) Rp (370.000.000,00)
4. Penghasilan bruto Rp 2.500.000.000,00
5. Total pengeluaran Rp 2.150.000.000,00
6. Koreksi fiskal:
- Beban bunga atas Rp (50.000.000,00)
pinjaman yang didepositokan
7. Biaya yang boleh dikurangkan Rp2.100.000.000,00
8. Selisih lebih/kurang Rp 400.000.000,00
9. Penghasilan Kena Pajak Rp 400.000.000,00
10. PPh Badan Terutan Pasal 17: 25% x Rp400.000.000 Rp 100.000.000,00

Maka PPh Badan Terutang RS Indonesia Sehat sebesar Rp100.000.000,00

B. PPN atas penyerahan Obat pada Rumah Sakit


Dasar hukum:
Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-21/PJ.52/1998 tanggal
8 September 1998 telah ditegaskan bahwa instalasi farmasi (kamar obat) merupakan
suatu tempat untuk mengadakan dan menyimpan obat-obatan, gas medik alat-alat
kesehatan serta bahan kimia yang bukan berdiri sendiri tetapi merupakan satuan organik
yang tidak terpisahkan dari keseluruhan organisasi Rumah Sakit.
Selanjutnya ditegaskan bahwa penyerahan obat-obatan yang dilakukan oleh instalasi
farmasi (kamar obat) tidak terutang PPN.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-06/PJ.52/2000 tentang PPN atas
Penggantian Obat di Rumah Sakit, menyebutkan bahwa dalam kenyataannya instalasi
farmasi melayani Rumah Sakit yang terdiri dari pasien rawat inap, pasien rawat jalan,
dan pasien gawat darurat. Mengingat instalasi farmasi melakukan pelayanan kepada
pasien rawat jalan sebagai lazimnya sebuah apotik, maka atas penyerahan obat-obatan
oleh instalasi farmasi kepada pasien rawat jalan tetap terutang PPN.
Selanjutnya sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 1 huruf e Peraturan
Pemerintah
Nomor 50 Tahun 1994, pedagang eceran adalah pengusaha yang dalam lingkungan
perusahaan atau pekerjaannya melakukan usaha perdagangan dengan cara :
a. tidak bertindak sebagai penyalur kepada pedagang lainnya;
b. menyerahkan Barang Kena Pajak melalui suatu tempat penjualan eceran seperti
toko, kios atau dengan cara penjualan langsung kepada konsumen akhir atau dari
rumah kerumah;
c. menyediakan Barang Kena Pajak yang diserahkan di tempat penjualan secara
eceran tersebut;
d. melakukan transaksi jual beli secara spontan tanpa didahului dengan penawaran
tertulis,penawaran, kontrak atau lelang dan pada umumnya bersifat tunai, dan
pembeli pada umumnya datang ke tempat penjualan tersebut langsung membawa
sendiri Barang Kena Pajak yang dibelinya.
Dengan demikian apabila apotik atau instalasi farmasi di rumah sakit yang bertindak
sebagaimana lazimnya apotik melakukan penyerahan obat-obatan kepada pasien rawat
jalan dengan cara sebagaimana dimaksud dalam butir 3, maka Rumah Sakit yang
mempunyai instalasi farmasi/apotik tersebut adalah merupakan Pengusaha Kena Pajak
Pedagang Eceran. Selanjutnya Pajak Pertambahan Nilai harus dibayar atas penyerahan
obat-obatan kepada pasien rawat jalan oleh instalasi farmasi/apotik adalah sebesar 2%
dari jumlah seluruh penyerahan barang dagangan.

Contoh Soal:
Rumah Sakit Indonesia Sehat mempunyai unit instalasi farmasi/apotik, bulan September
2016 melakukan penyerahan (penjualan) obat dengan transaksi sebagai berikut:
1) Depot obat untuk pasien rawat inap = Rp 600.000.000.
2) Apotik untuk pasien rawat jalan sebesar = Rp 400.000.000.
3) Apotik untuk pembeli umum = Rp 500.000.000.
Berapa PPN terutang yang harus dibayar Rumah Sakit tersebut?

Jawab:
PPN yang harus dibayar oleh Rumah Sakit Indonesia Sehat adalah:
Transaksi yang dikenai PPN adalah transaksi nomor 2 dan 3, maka:
PPN terutang September = 2% x (Rp 400.000.000 + Rp 500.000.000)
= 2% x Rp 900.000.000
= Rp 18.000.000
Disetorkan menggunakan SSP ke Bank paling lambat pada tanggal 15 Oktober 2016
Dilaporkan lewat SPT Masa PPN paling lambat tanggal 20 Oktober 2016

C. Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Dokter


Dasar Hukum:
Pada umumnya dokter memiliki beberapa sumber penghasilan yaitu:
a. Penghasilan yang bersumber dari keuangan rumah sakit atau bendaharawan rumah
sakit sebagai pegawai tetap PNS atau karyawan rumah sakit berupa gaji, tunjangan-
tunjangan, honorarium, dan imbalan lainnya.
b. Penghasilan yang diterima sebagai tenaga ahli atau tenaga profesional berupa fee,
komisi, dan imbalan lainnya.
c. Penghasilan yang diterima sebagai anggota atau peserta kegiatan yang mendapatkan
imbalan berupa uang saku atau uang rapat
d. Penghasilan yang diterima berupa penghargaan atau hadiah atas hasil membuat obat-
obatan atau alat kesehatan.
e. Penghasilan yang diterima dari buka praktik sendiri.
f. Penghasilan lain yang diterima diluar pekerjaan yang terkait dengan kedokterannya,
seperti penghasilan dari bunga deposito, penjualan tanah, sewa mesin, hadiah, deviden
dll.
Penghasilan dokter yang diterima dari rumah sakit dikenakan pemotongan PPh Pasal 21
sebagai berikut :
a. Atas penghasilan dokter dari keuangan rumah sakit yang diterima oleh dokter yang
menjabat pengurus, pimpinan rumah sakit, pegawai tetap maupun tenaga honorer di
rumah sakit berupa gaji, tunjangan, honorarium dan imbalan lainnya dikenakan PPh
Pasal 21 sesuai dengan perhitungan PPh Pasal 21 untuk pegawai tetap atau pegawai
tetap sesuai buku petunjuk pemotongan PPh Pasal 21/26 (lihat KEP-545/PJ/2000 Jo
PER-15/PJ/2006). Tarif yang dikenakan adalah tarif Pasal 17 atas Penghasilan Kena
Pajak. Penghasilan Kena Pajak ini adalah penghasilan bruto dikurangi dengan biaya
jabatan, iuran pensiun dan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
b. Penghasilan yang berasal dari pasien yang diterima oleh semua jenis dokter dikenakan
pemotongan PPh Pasal 21 15% x 50% x imbalan jasa dokter atau sama dengan 7,5%
dari jasa dokter (lihat KEP-545/PJ/2000 Jo PER-15/PJ/2006)
Sesuai dengan Pasal 4 PP No. 80 Tahun 2010 tentang Tarif Pemotongan dan Pengenaan
Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Penghasilan yang Menjadi Beban Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, bahwa Pajak
Penghasilan Pasal 21 yang terutang berupa honorarium atau imbalan lain dengan nama
apapun yang menjadi beban APBN atau APBD, dipotong oleh bendahara pemerintah
yang membayarkan honorarium atau imbalan lain tersebut. Pajak Penghasilan pasal 21
yang dimaksud yaitu bersifat final dengan tarif:
a. Sebesar 0% (nol persen) dari jumlah bruto honorarium atau imbalan lain bagi PNS
Golongan I dan Golongan II, Anggota TNI dan Anggota POLRI Golongan Pangkat
Tamtama dan Bintara, dan Pensiunannya;
b. Sebesar 5% (lima persen) dari jumlah bruto honorarium atau imbalan lain bagi PNS
Golongan III, Anggota TNI dan Anggota POLRI Golongan Pangkat Perwira Pertama,
dan pensiunannya;
c. Sebesar 15% (lima belas persen) dari jumlah bruto honorarium atau imbalan lain bagi
pejabat Negara, PNS Golongan IV, Anggota TNI dan Anggota POLRI Golongan
Pangkat perwira Menengah dan perwira Tinggi, dan Pensiunannya.

Soal dan Pemhahasan:


1. Penghitungan PPh Pasal 21 atas dokter yang bekerja di Rumah Sakit sebagai
Pegawai Tetap
Tarif dan perhitungan berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak
Penghasilan untuk PPh 21 atas pegawai tetap.
Soal:
Dokter Joko adalah pegawai tetap di RS Indonesia Sehat dengan gaji dan tunjangan per
bulan sebesar Rp15.000.000, Dokter Joko belum menikah dan tidak mempunyai
tanggungan. Berapakah PPh Pasal 21 yang harus dipotong oleh RS Indonesia Sehat?
Jawab:
PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh RS Indonesia Sehat:
Gaji dan tunjangan setahun (15.000.000 x 12) Rp180.000.000,-
Pengurang:
Biaya jabatan Rp 6.000.000,-
PTKP Sendiri (TK/-) Rp 54.000.000-
Rp 60.000.000,-
Penghasilan Kena Pajak Rp120.000.000,-
PPh Pasal 21 terhutang :
5% x Rp 50.000.000,- = Rp 2.500.000,-
15% x Rp 70.000.000,- = Rp 10.500.000,-
Rp 13.000.000
Catatan:
RS Indonesia Sehat wajib memberikan bukti potong PPh pasal 21 untuk Dokter Joko.

2. Penghitungan PPh 21 atas dokter (PNS/Swasta) yang membuka praktik di rumah


sakit dan/atau klinik (Dokter Tamu)
Tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan
diterapkan atas jumlah kumulatif dari 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan
bruto untuk setiap pembayaran imbalan kepada Bukan Pegawai.
Soal:
Dokter Indro melakukan kerjasama dengan RS Indonesia Sehat untuk membuka praktik
dokter setiap hari Senin Jumat mulai pukul 19.00 21.00 WIB. Perjanjian kerjasama
berupa bagi hasil sebelum pajak sebesar 60:40 untuk Dokter Indro dan RS Indonesia
Sehat mulai berlaku bulan Februari 2016. Pada bulan Februari 2016, jumlah pasien
yang berobat sebanyak 300 pasien dengan jumlah pembayaran sebesar Rp. 60.000.000.
Sesuai dengan kesepakatan bahwa Dokter Indro akan menerima penghasilan sebelum
pajak sebesar 60% X Rp. 60.000.000 = Rp. 36.000.000. Berapa PPh Pasal 21 yang
terutang dan harus dipotong oleh pemberi kerja?
Jawab:
5% x (50% x Rp60.000.000,-) = Rp1.500.000.-
Maka penghasilan bersih setelah pajak yang diterima oleh Dokter Indro adalah Rp.
36.000.000 Rp. 1.500.000,- = Rp. 34.500.000,-
Catatan:
Besarnya jumlah penghasilan bruto adalah sebesar jasa dokter yang dibayar oleh pasien
melalui rumah sakit dan/atau klinik sebelum dipotong biaya-biaya atau bagi hasil oleh
rumah sakit dan/atau klinik.

3. Penghitungan PPh 21 atas dokter yang menerima penghasilan berupa


Honorarium, komisi, atau fee sebagai tenaga ahli yang sumber dananya dari
Rumah Sakit Swasta dan pekerjaannya bersifat berkesinambungan.
Soal:
Dokter Anisa menerima honorarium pada bulan Maret 2016 sebesar Rp30.000.000. dari
Rumah Sakit Indonesia Indah. PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh RS
Indonesia Sehat adalah:
5% x (50% x Rp30.000.000,-) = Rp750.000.-
Dokter Anisa wajib diberikan bukti potong PPh Pasal 21.
Catatan:
- Apabila penghasilan tersebut diberikan karena pekerjaan atau jasanya bersifat
berkesinambungan baik berdasarkan kontrak atau kenyataan sebenarnya, maka tarif
Pasal 17 ayat (1) huruf a diterapkan atas jumlah kumulatifnya.
Lanjutan soal:
Bulan April 2016 Dokter Anisa juga mendapat honorarium sebesar Rp80.000.000,- dari
RS Indonesia Sehat, sehingga jumlah kumulatif penghasilan Dokter Anisa menjadi
Rp30.000.000 + Rp80.000.000 = Rp110.000.000,-
Maka, Dasar Pemotongan PPh Pasal 21 dari jumlah kumulatif tersebut adalah
50% x Rp110.000.000,- = Rp55.000.000,- ,
sehingga PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh RS Indonesia Sehat
adalah :
5% x Rp50.000.000 = Rp2.500.000,-
15% x Rp5.000.000 = Rp 750.000,-
Rp3.250.000,-
Karena bulan Maret telah dipotong Rp750.000,-, maka bulan April PPh yang harus
dipotong sebesar (3.250.000,- 750.000) = Rp2.500.000

4. Penghitungan PPh 21 atas dokter yang menerima penghasilan dengan membuka


praktik sendiri
a. Pembukuan
Penghasilan yang diterima dokter baik dari pekerjaan bebas sebagai tenaga ahli atau
pegawai tetap di rumah sakit atau klinik kesehatan, maupun laba usaha dari membuka
praktik sendiri dikenakan tarif pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh setelah terlebih dahulu
dikurangi dengan PTKP setahun.
Soal:
Dokter Niki menyelenggarakan pembukuan untuk menghitung besarnya PPh yang
terutang selama satu tahun, yaitu:
Peredaran bruto Rp400.000.000,-
Pengurang:
Biaya operasional (gaji pegawai, peralatan, Obat, listrik, dll) Rp300.000.000,-
Penghasilan neto Rp100.000.000,-
Selain itu, Dokter Niki mendapatkan penghasilan neto sebagai pegawai tetap di Rumah
Sakit Indonesia Sehat sebesar Rp200.000.000,- setahun.
Jawab:
Maka perhitungan PPh terutang adalah:
Penghasilan neto (Rp100.000.000+Rp200.000.000) Rp 300.000.000,-
Pengurang:
PTKP (TK/-) Rp 54.000.000,-
Penghasilan Kena Pajak Rp 246.000.000,-

PPh Pasal 21 terhutang :


Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh x PKP
5% x Rp50.000.000,- = Rp 2.500.000,-
15% x Rp196.000.000,- = Rp 29.400.000,-
=Rp 31.900.000,-
b. Pencatatan
Laba usaha dari praktek maupun pekerjaan bebas seperti dokter sebagai tenaga ahli,
didapat dari peredaran atau penerimaan bruto (omzet) selama satu tahun dikalikan
norma penghitungan penghasilan neto.
Hasil perkalian (Penghasilan neto) tersebut dikalikan dengan tarif Pasal 17 ayat (1)
huruf a UU PPh setelah terlebih dahulu dikurangi PTKP.
Soal:
Dokter Yuniska memperoleh penghasilan dari praktek di Jakarta dengan peredaran atau
penerimaan bruto (omzet) setahun Rp300.000.000, dan dari Rumah sakit Indonesia
Sehat sebagai dokter tamu (praktek) Rp200.000.000,-
(PPh Pasal 21 yang dipotong oleh Rumah Sakit Z sebesar Rp5.000.000,-).
Jawab:
Peredaran bruto setahun (Rp300.000.000,- + Rp200.000.000) = Rp500.000.000,-
Penghasilan Neto Rp500.000.000 x 45% = Rp225.000.000
Pengurang :
PTKP (TK/-) = (Rp 54.000.000)
PKP Rp 171.000.000,-
PPh terutang :
5% x Rp 50.000.000 = Rp 2.500.000,-
15% x Rp121.000.000 = Rp18.150.000.-
Total = Rp20.650.000,-
PPh yang harus disetor Dokter Yuniska ke Bank Persepsi atau Kantor Pos
( diasumsikan tidak diperoleh penghasilan lain pada tahun tersebut) adalah:
Rp 20.650.000, - Rp5.000.000, = Rp15.650.000,-

5. Penghitungan PPh 21 atas Hadiah atau penghargaan, bonus, gratifikasi atau


imbalan dalam bentuk lain, karena sebagai dokter yang memberikan keuntungan
bagi produsen obat-obatan atau alat kesehatan lainnya.
Pajak penghasilan yang dikenakan atas hadiah atau penghargaan perlombaan,
penghargaan, dan hadiah sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan lainnya
diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-395/PJ/2001, perlakuan
pajak penghasilan tersebut dibedakan menurut penerima hadiah itu.
Apabila penerima hadiah atau penghargaan adalah orang pribadi Wajib Pajak Dalam
Negeri, maka atas hadiah yang diterima itu akan terutang Pajak Penghasilan Pasal 21
sebesar tarif yang diatur dalam Pasal 17 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor
36 Tahun 2008, dan dikenakan dari jumlah penghasilan bruto yang diterima.
Soal:
Dokter Pram (bukan pegawai tetap di PT X) menerima hadiah liburan berupa tiket
pesawat dan akomodasinya dari PT X senilai Rp50.000.000.
PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh pemberi penghasilan :
5% xRp50.000.000 = Rp2.500.000,-
Dokter A wajib menerima bukti potong PPh Pasal 21 dari PT X dan menghitung
kembali penghasilan tersebut dalam SPT Tahunan PPh-nya.
Apabila dari hadiah tersebut ternyata tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 21 dari PT
X, maka Dokter A wajib menghitung dan membayar sendiri Pajak Penghasilan dari
hadiah tersebut di dalam SPT Tahunan PPh-nya.

6. Penghitungan PPh 21 atas dokter yang menerima penghasilan berupa


Honorarium, komisi atau fee, uang saku, uang presentasi, uang rapat yang
dananya berasal dari APBN/APBD
a. PNS/TNI/POLRI
Dokter Widodo (PNS Golongan IV) menerima honorarium yang dananya dari
APBN/APBD sebesar Rp10.000.000. Berapa PPh Pasal 21 yang terutang dan harus
dipotong oleh pemberi kerja?
Jawab:
15% xRp10.000.000 = Rp1.500.000,-
Catatan:
Pada kasus ini Pemotongan PPh Pasal 21 bersifat final, oleh karena itu tidak
diperhitungkan lagi dengan penghasilan lainnya, namun tetap dilaporkan dalam SPT
Tahunan OP dengan melampirkan bukti potong PPh Pasal 21 tersebut.

b. Swasta
Dokter Yusuf (Pegawai swasta) menerima uang komisi yang berasal dari Kementerian
Kesehatan sebesar Rp16.000.000,-. Berapa PPh Pasal 21 yang terutang dan harus
dipotong oleh pemberi kerja?
Jawab:
5% x (50% x Rp16.000.000,-) = Rp400.000,-
Catatan:
Pada kasus ini Dokter Yusuf wajib menerima bukti potong PPh Pasal 21 dari
Kemenkes dan wajib menghitung kembali penghasilan tersebut dalam SPT Tahunan
PPh-nya.

Sumber:
Seri PPh - Pajak Penghasilan Bagi Dokter.
http://www.pajak.go.id/content/seri-pph-pajak-penghasilan-bagi-dokter
Penghitungan PPh 21 atas Dokter
http://ortax.org/ortax/?mod=studi&page=show&id=44
Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE - 34/PJ.4/1995
http://www.pajakonline.com/engine/peraturan/view.php?
id=92f54963fc39a9d87c2253186808ea61