Anda di halaman 1dari 111

ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

KREDIT PADA PT. PEGADAIAN (Persero)


CABANG GARUT

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam menempuh


ujian sidang pada Program Studi Strata Satu (S1) Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Garut

Disusun oleh :

Nama : Harni Rustini


NPM : 2402210124

UNIVERSITAS GARUT
FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI
2014
2

ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN


KREDIT PADA PT. PEGADAIAN (Persero)
CABANG GARUT

Disusun oleh :

Nama : Harni Rustini


NPM : 2402210124

Menyetujui,

Pembimbing I, Pembimbing II,

Wahyuningsih, SE., M.Si Yaman Suryaman, SE., M.Si

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ekonomi Ketua Program Studi S1


Universitas Garut Akuntansi

H. M. Joesoef Adnan, SE., M.Si H.D. Kasmat Djuanta, SE., M.Si, Ak


3

Motto

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah
selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain
dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

(Q.S Alam Nasyrah 6-8)

Janganlah engkau menghitung kebaikan yang telah engkau lakukan

Tetapi hitunglah beberapa perbuatan yang buruk yang telah engkau kerjakan

di muka bumi ini, orang yang bijak adalah orang yang selalu berusaha untuk

memperbaiki dirinya dan tidak pernah ada kata untuk menyalahkan orang lain

Walaupun sebenarnya orang itu salah

Tanpa Melupakan-Mu ya Allah, sebuah karya kecil ini kupersembahkan untuk


memenuhi harapan papah dan mamah, adik-adikku serta orang yang paling
kusayangi semoga langkah ini lebih berarti, Amin
4

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Karya Tulis saya, skripsi dengan judul Analisis Sistem Pengendalian


Intern Kredit Pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut, adalah asli
dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik (sarjana),
baik di Universitas Garut maupun di perguruan tinggi lain.

2. Karya tulis ini adalah murni gagasan, rumusan dan penelitian saya sendiri,
tanpa bantuan pihak lain kecuali arahan tim pembimbing.

3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis
atau dipublikasikan orang lain, kecuali tertulis dengan jelas dicantumkan
sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan
dicantumkan dalam daftar pustaka.

4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari
terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya
bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah
diperoleh karena karya ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma yang
berlaku di perguruan tinggi ini.

Garut, Juli 2014


Yang Membuat Pernyataan,

Harni Rustini
NPM: 2402210124
5

ABSTRAK

PT. Pegadaian (Persero) merupakan salah satu lembaga formal di


Indonesia yang berdasarkan hukum diperbolehkan melakukan pembiayaan dengan
bentuk penyaluran kredit atas dasar hukum gadai. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui pelaksanaan sistem pengendalian intern kredit pada PT.
Pegadaian (Persero) Cabang Garut.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.
Proses pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Jenis data
yang digunakan adalah data dokumenter, dengan sumber data primer yang
diperoleh langsung dari perusahaan. Teknik pengolahan data yang digunakan
adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap sistem pengendalian
intern kredit yang meliputi struktur organisasi, sistem wewenang dan prosedur
pencatatan, praktik yang sehat serta karyawan yang berkualitas dapat disimpulkan
bahwa sistem pengendalian intern kredit pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang
Garut dapat dikatakan cukup baik. Akan tetapi, masih adanya beberapa kelemahan
seperti rangkap jabatan antara fungsi operasi dan fungsi akuntansi serta masih
menerima karyawan baru yang tidak sesuai dengan peraturan yang ditetapkan.
6

ABSTRACT

PT. Pegadaian (Persero) is one of the legal formal agencies in Indonesia


which in permitted to giving funding in the form of credit distribution based on
pawning law. The purpose of this study is to investigate the implementation of the
internal control system credit of the PT. Pegadaian (Persero) Garut.
The method used in this research is descriptive method. The process of
collecting data using the interviews and documentation. The type of data used is
documentary data, with the primary data source is obtained directly from the
company. Technique data processing used are reducing data, display data and
verification.
Based on the results of a research of the internal control system credits
that includes organizational structure, authority system and recording
procedures, practices a healthy and qualified employees can be concluded that
the internal control system at PT. Pegadaian (Persero) Garut can be quite good.
However, there still exists some disadvantages such as the double post between
the function operation and the accounting function and still hiring new employees
who are not in accordance with the regulations set.
7

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas

limpahan rahmat, taufik, hidayah dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul Analisis Sistem Pengendalian

Intern Kredit Pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut. Penyusunan

skripsi ini dimaksudkan untuk menyelesaikan studi program Strata Satu (S1)

Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Garut.

Penulis pada kesempatan ini sepatutnya menyampaikan banyak rasa

terimakasih serta penghargaan setinggi-tingginya pada berbagai pihak yang telah

membantu, membimbing maupun memberikan dorongan sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

Ucapkan terimakasih yang tak terhingga dan penghargaan yang setinggi-

tingginya penulis sampaikan kepada yang terhormat:

1. Bapak H.M. Joesoef Adnan, SE., M.Si., selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Garut.

2. Bapak H.D. Kasmat Djuanta, SE., M.Si, Ak selaku Ketua Program Studi S1

Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Garut.

3. Ibu Wahyuningsih, SE., M.Si, selaku Pembimbing I yang telah memberikan

ilmu, arahan, bimbingan dan koreksi serta motivasi yang sangat berharga

kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.


8

4. Bapak Yaman Suryaman, SE., M.Si, selaku Pembimbing II yang telah

memberikan ilmu, arahan, bimbingan dan koreksi serta motivasi yang sangat

berharga kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Seluruh dosen Fakultas Ekonomi Universitas Garut yang telah memberikan

ilmu pengetahuan kepada penulis.

6. Seluruh staf administrasi, staf perpstakaan dan seluruh karyawan Universitas

Garut yang telah membantu penulis selama berada di Fakultas Ekonomi

Universitas Garut.

7. Bapak Hartono selaku pimpinan PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut, serta

seluruh karyawan PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut, terimakasih telah

meluangkan waktunya dan untuk keterangan yang berharga bagi peneliti.

8. Teman-teman terbaikku Siti Aisyah, Citra Zulistiya, Yayang Mayangsari, Siti

Nurjanah, Siti Suminar, Irma Agustina Saputra, Ririn Revitasari, Annisa Nur

Muslimah dan Wulan Nur Aprilia yang telah banyak membantu penulis

sampai selesainya skripsi ini.

9. Teman-teman angkatan 2010 program studi Strata Satu (S1) Akuntansi kelas

C yang selalu memberikan keceriaan selama menjalani perkuliahan, serta

teman-teman program studi Strata Satu (S1) Akuntansi yang lainnya yang

telah membantu penulis dalam menjalani perkuliahan dan menyelesaikan

skripsi ini.

Teristimewa penulis ucapkan untuk ayahanda (Dede Sutisna) dan ibunda

(Emma Martini) yang sangat penulis sayangi, cintai dan hormati yang telah

memberikan dukungan baik moril maupun materil serta selalu memberikan doa,
9

semangat dan inspirasi bagi penulis. Adik-adikku (Taopik Al-Hakim dan Salsabila

Intan Hapita) yang telah memberikan motivasi, dukungan, kasih sayang dan

semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dan kepada seluruh

keluarga besarku, yang selalu mendukung dan membantu penulis.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak

terdapat kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Tidak lupa penulis pun

meminta maaf kepada semua pihak jika dalam penyusunan skripsi ini ada kata-

kata yang kurang berkenan. Hal ini disebabkan terbatasnya pengalaman dan

pengetahuan. Maka dari itu saran dan kritik yang bersifat membangun akan

penulis terima dengan lapang dada, demi penyempurnaan lebih lanjut.

Semoga Allah SWT membalas amal baik semua pihak yang telah

membantu penulis, dengan pahala yang berlipat ganda. Amin ya Robal Alamin.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Garut, Juli 2014

Penulis

Harni Rustini
10

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... ii

PERNYATAAN ............................................................................................. iv

ABSTRAK ..................................................................................................... v

ABSTRACT .................................................................................................... vi

KATA PENGANTAR ................................................................................... vii

DAFTAR ISI .................................................................................................. x

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xv

DAFTAR TABEL........................................................................................... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xvii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian ........................................................ 1

1.2 Identifikasi Masalah ................................................................ 4

1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................... 4

1.4 Kegunaan Penelitian ................................................................ 4

1.5 Pembatasan Masalah ............................................................... 5

1.6 Kerangka Pemikiran ................................................................ 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Umum Sistem Pengendalian Intern ............................ 11

2.1.1 Pengertian Sistem Pengendalian Intern ....................... 11

2.1.2 Unsur-unsur Sistem Pengendalian Intern .................... 13

2.1.3 Tujuan dan Fungsi Sistem Pengendalian Intern .......... 16


11

2.1.3.1 Tujuan Sistem Pengendalian Intern ................. 16

2.1.3.2 Fungsi Sistem Pengendalian Intern ................. 16

2.1.4 Keterbatasan Sistem Pengendalian Intern ................... 17

2.2 Konsep Umum Perkreditan ..................................................... 18

2.2.1 Pengertian Kredit ......................................................... 18

2.2.2 Jenis-jenis Kredit ......................................................... 19

2.2.3 Unsur-unsur Kredit ...................................................... 24

2.2.4 Tujuan dan Fungsi Kredit ............................................ 25

2.2.4.1 Tujuan Kredit ................................................. 25

2.2.4.2 Fungsi Kredit ................................................. 26

2.2.5 Kredit Gadai ................................................................ 28

2.2.5.1 Pengertian Gadai ........................................... 28

2.2.5.2 Pengertian Kredit Gadai ................................ 29

2.3 Sistem Pengendalian Intern Kredit .......................................... 29

2.3.1 Struktur Organisasi yang Memisahkan Tanggungjawab

Fungsional Secara Tegas ............................................. 30

2.3.2 Sistem Wewenang dan Prosedur Pencatatan yang

Memberikan Perlindungan yang Cukup Terhadap

Kekayaan, Utang, Pendapatan dan Biaya .................... 31

2.3.2.1 Prosedur Pemberian dan Pengembalian

Kredit ............................................................. 32

2.3.2.2 Dokumen dan Catatan Kredit ........................ 34


12

2.3.3 Praktik yang Sehat dalam Melaksanakan Tugas dan

Fungsi Setiap Unit Organisasi ..................................... 37

2.3.3.1 Pengawasan Kredit ........................................ 37

2.3.3.2 Penyelamatan Kredit Bermasalah .................. 38

2.3.4 Karyawan yang Mutunya Sesuai dengan

Tanggungjawabnya ...................................................... 39

2.4 Penelitian Terdahulu ................................................................ 40

BAB 3 OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian ...................................................................... 42

3.1.1 Sejarah Singkat PT. Pegadaian (Persero) Cabang

Garut ........................................................................... 42

3.1.2 Struktur Organisasi dan Uraian Tugas PT. Pegadaian

(Persero) Cabang Garut ............................................... 44

3.1.3 Aktivitas Pokok dan Perkembangan Usaha PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut .............................. 50

3.2 Metode Penelitian .................................................................... 51

3.2.1 Metode yang Digunakan .............................................. 51

3.2.2 Operasionalisasi Variabel ............................................ 51

3.2.3 Jenis dan Sumber Data ................................................ 52

3.2.4 Teknik Pengumpulan Data .......................................... 53

3.2.5 Teknik Pengolahan Data .............................................. 55

3.2.6 Tahap Penelitian .......................................................... 57


13

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN PELAKSANAAN

SISTEM PENGENDALIAN INTERN KREDIT PADA PT.

PEGADAIAN (PERSERO) CABANG GARUT

4.1 Struktur Organisasi yang Memisahkan Tanggungjawab

Fungsional Secara Tegas ......................................................... 58

4.2 Sistem Wewenang dan Prosedur Pencatatan yang

Memberikan Perlindungan yang Cukup Terhadap Kekayaan,

Utang, Pendapatan dan Biaya .................................................. 60

4.2.1 Prosedur Pemberian dan Pengembalian Kredit ........... 61

4.2.1.1 Prosedur Pemberian Kredit .............................. 61

4.2.1.2 Prosedur Pengembalian Kredit ........................ 68

4.2.2 Dokumen dan Catatan Kredit ...................................... 71

4.2.2.1 Dokumen Kredit .............................................. 71

4.2.2.2 Catatan Kredit .................................................. 74

4.3 Praktik yang Sehat dalam Melaksanakan Tugas dan Fungsi

Setiap Unit Organisasi ............................................................. 76

4.3.1 Pengawasan Kredit ......................................................... 76

4.3.2 Penyelamatan Kredit Bermasalah ................................... 77

4.4 Karyawan yang Mutunya Sesuai dengan Tanggungjawabnya . 81

4.4.1 Seleksi Calon Karyawan ................................................. 82

4.2.2 Pendidikan ...................................................................... 82

4.3.3 Pelatihan ......................................................................... 83


14

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan ................................................................................... 87

5.2 Saran ........................................................................................ 88

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP
15

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Struktur Organisasi PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut ... 45

Gambar 3.2 Tahapan Penelitian .................................................................. 57

Gambar 4.1 Flow Chart Prosedur Pemberian Kredit Gadai ....................... 66

Gambar 4.2 Flow Chart Prosedur Pengembalian atau Pelunasan Kredit

Gadai ........................................................................................ 70

Gambar 4.3 Flow Chart Prosedur Lelang ................................................... 80


16

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ................................................................... 40

Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel ........................................................... 52

Tabel 4.1 Daftar Uang Pinjaman, Tarif sewa Modal Berdasarkan Golongan

Kredit ........................................................................................... 61

Tabel 4.2 Pengelompokan dan Spesifikasi Barang Jaminan Berdasarkan

Jenis Barang Jaminan .................................................................. 62


17

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Lembar Bimbingan Skripsi 92

LAMPIRAN 2 Bukti Hadir Seminar Usulan Penelitian . 94

LAMPIRAN 3 Surat Keterangan Penelitian 95

LAMPIRAN 4 Pedoman Wawancara 96

LAMPIRAN 5 Formulir Permohonan Kredit (FPK) .. 98

LAMPIRAN 6 Surat Bukti Kredit (SBK) 99

LAMPIRAN 7 Surat Perjanjian Kredit 100

LAMPIRAN 8 Buku Kredit 101

LAMPIRAN 9 Buku Rekapitulasi Kredit . 102

LAMPIRAN 10 Buku Penerimaan Barang Jaminan 103

LAMPIRAN 11 Buku Ikhtisar Kredit dan Pelunasan .. 104

LAMPIRAN 12 Buku Gudang . 105

LAMPIRAN 13 Surat Pemberitahuan Jatuh Tempo . 106

LAMPIRAN 14 Slip Pelunasan .. 107

LAMPIRAN 15 Daftar Riwayat Hidup... 108

LAMPIRAN 16 Format Perbaikan Skripsi .... 109


18

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Persaingan yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk beroperasi

lebih efisien dan terkendali. Tidak mudah bagi perusahaan untuk mengendalikan

seluruh kegiatan perusahaan. Pengendalian merupakan tantangan yang semakin

serius bagi manajemen karena manajemen dihadapkan pada tuntutan dan

tanggungjawab dalam kegiatan operasional perusahaan serta terbatas waktu, maka

persoalan yang dihadapi dalam pengendalian menjadi semakin kompleks.

Umumnya suatu perusahaan perlu melakukan pengelolaan dan

pengawasan yang memadai terhadap aktivitas yang dilakukannya. Perusahaan

berkewajiban untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan perusahaan sehingga

para pengelola akan dihadapkan pada tuntutan terhadap penguasaan pengetahuan,

teknologi, keterampilan dan kemampuan manajemen.

Seiring dengan perkembangan skala usaha dalam suatu perusahaan,

pemimpin perusahaan tidak mungkin untuk bisa melakukan pengawasan atas

semua operasi perusahaan secara langsung atau dengan kata lain pemilik tidak

mungkin bisa terlibat langsung dalam operasi perusahaannya. Untuk itu pemimpin

perusahaan perlu mendelegasikan wewenangnya kepada manajemen perusahaan

dan menajemen meneruskan kembali wewenang tersebut. Dengan demikian

diperlukan adanya suatu sistem yang memadai yang dapat dijadikan sebagai alat
19

kontrol bagi perusahaan. Sistem tersebut dikenal dengan sistem pengendalian

intern.

Sistem pengendalian intern merupakan suatu sistem yang meliputi struktur

organisasi dan segala cara serta tindakan yang terkoordinasi dengan tujuan untuk

mengamankan harta milik perusahaan dari penyimpangan maupun penyelewengan

yang dilakukan oleh pihak didalam maupun diluar perusahaan. Dengan adanya

sistem pengendalian intern ini tidak dimaksudkan bahwa penyimpangan dan

penyelewengan sama sekali tidak akan terjadi. Akan tetapi diharapkan dapat

menekan terjadinya penyimpangan dan penyelewengan dalam batas-batas yang

layak sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikan yang tepat oleh pihak

manajemen perusahaan.

Kredit tidak hanya diberikan oleh kalangan perbankan saja, lembaga

keuangan non-bank pun dapat mengadakan atau melakukan transaksi kredit,

seperti koperasi simpan pinjam, perusahaan anjak piutang dan pegadaian. Fungsi

dari kredit antara lain membantu usaha masyarakat yang memerlukan dana, baik

dana untuk investasi maupun untuk modal kerja.

Agar memperoleh keuntungan dari usaha kredit, tentu perusahaan tersebut

harus menjalankan fungsi dan kegiatan operasional kreditnya dengan baik,

sehingga usaha kredit tidak mengalami kerugian maupun risiko yang tinggi atau

dengan kata lain dapat memperoleh keuntungan seperti yang ditargetkan.

Berkenaan dengan masalah tersebut maka perusahaan memerlukan suatu sistem

pengendalian intern yang disebut dengan sistem pengendalian intern kredit.

Sistem pengendalian intern kredit merupakan hal yang penting karena jika
20

diabaikan usaha kredit akan mengalami kerugian atau bahkan mungkin akan

mengalami kebangkrutan.

Disamping risiko tinggi, adanya tingkat persaingan antar perusahaan yang

menyebabkan perusahaan perlu menetapkan suatu pengendalian intern kredit yang

memadai dalam organisasi perkreditannya, yang diharapkan dapat membantu

mengatasi kesulitan dalam pengendalian dana yang disalurkan kepada nasabah.

Sistem pengendalian intern kredit ini meliputi aktivitas persiapan menentukan

layak tidaknya suatu pemberian kredit.

Salah satu lembaga keuangan non-bank yang menyediakan fasilitas kredit

dengan jaminan tertentu yaitu PT. Pegadaian (Persero). Perusahaan ini merupakan

badan usaha di Indonesia yang secara resmi mempunyai izin untuk melaksanakan

kegiatan lembaga keuangan berupa pembiayaan dalam bentuk penyaluran dana

kepada masyarakat atas dasar hukum gadai seperti yang dimaksudkan dalam

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1150.

Salah satu faktor yang dapat mendukung atau menunjang terlaksananya

sistem pengendalian intern yang baik menurut Mulyadi (2010:164) adalah

memiliki struktur organisasi yang memisahkan tanggungjawab fungsional secara

tegas, akan tetapi pada PT. Pegadaian (Persero) terdapat rangkap jabatan.

Rangkap jabatan ini terjadi antara kasir yang merangkap sebagai bagian

administrasi/ tata usaha yang seharusnya menurut Pedoman Operasional Kantor

Cabang dilaksanakan oleh orang yang berbeda karena berbeda tugas.


21

Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis merasa tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN

INTERN KREDIT PADA PT. PEGADAIAN (Persero) CABANG GARUT.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang yang telah dikemukakan di atas,

maka pokok permasalahan yang dapat diidentifikasi oleh penulis dalam penelitian

ini adalah Bagaimana Pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern Kredit pada PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut .

1.3 Tujuan Penelitian

Mengingat pentingnya sistem pengendalian intern kredit dan prospek PT.

Pegadaian (Persero) dimasa yang akan datang, maka tujuan dari penelitian ini

adalah untuk Menganalisa Sistem Pengendalian Intern Kredit Pada PT. Pegadaian

(Persero) Cabang Garut.

1.4 Kegunaan Penelitian

Kegunaan dari penelitian ini, penulis mengharapkan bahwa hasilnya dapat

bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, yang dibagi menjadi dua

kegunaan yaitu sebagai berikut:

1. Kegunaan Praktis

a. Diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi

manajemen perusahaan sebagai bahan masukan guna untuk


22

mempertimbangkan dan menyempurnakan Sistem Pengendalian Intern

Kredit yang sedang berjalan dalam upaya meningkatkan keefektifan dan

efisiensi perusahaan.

b. Diharapkan dapat menjadi masukan sebagai bahan pertimbangan

meningkatkan kinerja perusahaan pada masa yang akan datang.

2. Kegunaan Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk menambah wawasan ilmu

pengetahuan dan pengalaman khusus dalam menganalisa Sistem

Pengendalian Intern Kredit.

b. Dengan penelitian ini mudah-mudahan bermanfaat sebagai bahan

referensi penulisan karya ilmiah dan penelitian lebih lanjut dalam topik

yang serupa.

1.5 Pembatasan Masalah

Berdasarkan uraian pada identifikasi masalah yang terpapar di atas

diperoleh gambaran permasalahan yang begitu luas. Namun menyadari adanya

keterbatasan waktu dan kemampuan, maka penulis memandang perlu memberi

batasan masalah secara jelas dan terfokus. Selanjutnya masalah yang menjadi

obyek penelitian dibatasi hanya pada Sistem Pengendalian Intern Kredit untuk

produk Kredit Cepat Aman (KCA) pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut.
23

1.6 Kerangka Pemikiran

Salah satu cara untuk melindungi kekayaan perusahaan baik pihak

manajemen atau pemimpin perlu mengadakan suatu sistem pengendalian intern.

Demikian pula halnya dengan PT. Pegadaian (Persero) yang fungsi operasinya

dilaksanakan oleh kantor-kantor cabangnya, memerlukan suatu sistem

pengendalian intern.

Sebagaimana pengertian sistem pengendalian intern menurut AICPA

(American Institute of Certifield Public Accountant) yang dikutip Mardi (2011:59)

adalah sebagai berikut:

Sistem Pengendalian Intern meliputi struktur organisasi dan segala cara


serta tindakan dalam suatu perusahaan yang saling terkoordinasi dengan
tujuan untuk menjaga keamanan harta milik perusahaan, memeriksa
ketelitian dan kebenaran informasi akuntansi, meningkatkan efisiensi
operasional perusahaan serta membantu menjaga kebijaksanaan
manajemen yang telah ditetapkan.

Menurut Mulyadi (2010:163) sistem pengendalian intern itu sendiri

adalah:

Sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi, metode dan


ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi,
mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi
dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

Definisi sistem pengendalian intern tersebut menekankan tujuan yang

hendak dicapai, dan bukan pada unsur-unsur yang membentuk sistem tersebut.

Dengan demikian pengertian pengendalian intern tersebut di atas berlaku baik

dalam perusahaan yang mengolah informasinya secara manual, dengan mesin

pembukuan maupun dengan komputer.


24

Tujuan dari sistem pengendalian intern menurut Mulyadi (2010:163)

adalah sebagai berikut:

1. Menjaga kekayaan organisasi,


2. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi,
3. Mendorong efisiensi, dan
4. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen

Supaya tujuan utama dari sistem pengendalian intern tersebut dapat

dicapai, maka diperlukan adanya unsur-unsur yang mendukung atau menunjang

terlaksananya sistem pengendalian intern yang baik.

Menurut Mulyadi (2010:164) unsur-unsur sistem pengendalian intern

meliputi:

1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggungjawab fungsional


secara tegas.
2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan
perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan
biaya.
3. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit
organisasi.
4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya.

Disisi lain menurut La Midjan dan Azhar (2001:60-63) unsur-unsur dari

sistem pengendalian intern terdiri dari:

1. Adanya struktur organisasi yang menggambarkan pemisahan fungsi


(Segregation of Function) dan pekerjaan yang tepat
2. Sistem pemberian wewenang dan prosedur pencatatan
3. Unsur pelaksana yang wajar (praktek yang sehat)
4. Unsur kualitas pegawai
5. Adanya suatu bagian pengawas intern (Internal Auditing)

Pengertian kredit menurut Undang-undang perbankan Nomor 10 Tahun

1998 yang dikutip oleh Kasmir (2011:96) adalah sebagai berikut:

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan


dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam
25

antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi
utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Disisi lain menurut Teguh (2001:9) pengertian kredit adalah Kemampuan

untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan

suatu janji pembayarannya akan dilakukan ditangguhkan pada suatu jangka waktu

yang disepakati.

Pengendalian intern kredit mutlak harus dilaksanakan untuk menghindari

terjadinya kredit macet dan penyelesaian kredit macet. Oleh karena itu diperlukan

pengelolaan kredit yang baik yaitu dalam bentuk kebijakaan kredit yang

mengandung unsur pengendalian intern kredit, agar dana yang terdapat pada

debitur dapat tertagih tepat waktu sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi

perusahaan.

Menurut Mulyadi (2010:165) dalam suatu pengendalian harus adanya

pembagian tanggungjawab fungsional dalam organisasi yang harus di dasarkan

pada prinsip-prinip: Harus dipisahkan fungsi-fungsi operasi dan penyimpanan

dari fungsi akuntansi. Suatu fungsi tidak boleh diberi tanggungjawab penuh untuk

melaksanakan semua tahap suatu transaksi.

Suatu pemberian kredit harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan

aturan yang ditetapkan perusahaan. Maka menurut Rachmat dan Maya (2009:4)

Seandainya kredit kurang dikelola dengan baik maka akan banyak kredit

bermasalah (Non Performing Loans) dan seandainya kredit dikelola dengan baik

maka kredit bermasalah jumlahnya sedikit sekali.


26

Suhardjono (2003:100) menyatakan bahwa agar penyaluran kredit kepada

debitur tetap lancar dan produktif maka sekurang-kurangnya harus memuat dan

mengatur hal-hal pokok sebagai berikut:

1. Organisasi intern kredit

Organisasi merupakan salah satu unsur sistem pengendalian intern dimana

didalamnya terdapat gambaran yang mencerminkan kerangka pembagian

tugas dari masing-masing bagian serta keseluruhan dari fungsi-fungsi yang

saling berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan

organisasi.

2. Prosedur pemberian dan pengembalian kredit

Dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya, suatu lembaga atau organisasi

dituntut untuk melaksanakan prosedur pemberian dan pengembalian kredit

secara tepat sehingga tidak menimbulkan permasalahan.

3. Dokumen dan catatan kredit

Dokumen dan catatan akuntansi merupakan obyek fisik untuk membawa data

(dokumen sumber) ataupun membukukan setiap transaksi, diikhtisarkan dan

dilaporkan. Dokumen dan catatan akuntansi untuk pencatatan setiap transaksi

merupakan unsur penting dari sistem, namun biasanya dokumen yang tidak

memadai dapat menyebabkan timbulnya masalah pengendalian yang lebih

besar.

4. Pengawasan kredit

Pengawasan kredit diperlukan sebagai upaya peringatan dini (early warning)

yang mampu mengantisipasi tanda-tanda penyimpangan dari syarat-syarat


27

yang telah disepakati antara debitur dengan lembaga yang mengakibatkan

menurunnya kualitas kredit serta untuk menentukan tingkat kualitas/

kolektabilitas kredit yang bersangkutan.

5. Penyelamatan kredit bermasalah

Dalam kebijakan perkreditan suatu lembaga, setiap lembaga atau organisasi

harus mengatur dan mencantumkan tata cara penyelamatan dan penyelesaian

kredit bermasalah.

Bagaimanapun baiknya struktur organisasi, sistem otorisasi dan prosedur

pencatatan, serta berbagai cara yang diciptakan untuk mendorong praktik yang

sehat, semuanya sangat bergantung kepada manusia yang yang melaksanakannya.

Mulyadi (2010:170) menyebutkan bahwa Mutu karyawan merupakan unsur

sistem pengendalian yang paling penting. Oleh karena itu, organisasi harus

dijalankan oleh orang yang berkualitas, jujur, memiliki integritas dan

tanggungjawab yang tinggi agar mampu mengelola seluruh sumber daya yang

dimiliki organisasi dan membantu tercapainya tujuan organisasi.

Menurut Mulyadi (2010:165) Untuk mendapatkan karyawan yang

kompeten dan dapat dipercaya dapat dilakukan dengan cara Seleksi calon

karyawan berdasarkan persyaratan yang dituntut oleh pekerjaannya dan

pengembangan pendidikan karyawan selama menjadi karyawan perusahaan,

sesuai dengan tuntutan perkembangan pekerjaannya.


28

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Umum Sistem Pengendalian Intern

2.1.1 Pengertian Sistem Pengendalian Intern

Awal perkembangannya istilah sistem pengendalian intern dimulai dari

istilah internal cek, yang kemudian sejak tahun 1949 berubah menjadi sistem

pengendalian intern. Pada dasarnya sistem pengendalian intern telah

dikembangkan secara alamiah melalui pengalaman atau trial and error, dan secara

naluriah banyak ditemukan pada para pengusaha tradisional yang berusaha

mengembangkan sistem pengendalian intern dalam mengamankan hartanya,

disamping berkembang secara ilmiah sistem pengendalian intern juga berkembang

sesuai kebutuhan.

Pengertian sistem pengendalian intern menurut AICPA (American Institute

of Certifield Public Accountant) yang dikutip Mardi (2011:59) adalah sebagai

berikut:

Sistem Pengendalian Intern meliputi struktur organisasi dan segala cara


serta tindakan dalam suatu perusahaan yang saling terkoordinasi dengan
tujuan untuk menjaga keamanan harta milik perusahaan, memeriksa
ketelitian dan kebenaran informasi akuntansi, meningkatkan efisiensi
operasional perusahaan serta membantu menjaga kebijaksanaan
manajemen yang telah ditetapkan.

Disisi lain pengertian sistem pengendalian intern menurut AICPA

(American Institute of Certifield Public Accountant) yang dikutip oleh La Midjan

dan Azhar (2001:58) diartikan sebagai berikut:


29

Meliputi struktur organisasi dan segala cara serta tindakan dalam suatu
perusahaan yang saling terkoordinasi dengan tujuan untuk mengamankan
harta kekayaan perusahaan, menguji ketelitian dan kebenaran data
akuntansi, meningkatkan efisiensi operasi serta mendorong ketaatan
terhadap kebijakan-kebijakan yang telah digariskan oleh pemimpin
perusahaan.

Sistem Pengendalian Intern menurut Arens dan Loebbecke yang

diterjemahkan oleh Jusuf (2003:258) adalah Sistem Pengendalian Intern yang

terdiri dari kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur dirancang untuk

memberikan manajemen keyakinan memadai bahwa tujuan dan sasaran yang

penting bagi suatu usaha dapat dicapai.

Menurut Mulyadi (2010:163) sistem pengendalian intern itu sendiri

adalah:

Sistem Pengendalian Intern meliputi struktur organisasi, metode dan


ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi,
mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi
dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

Berdasarkan definisi diatas terdapat beberapa konsep dasar tentang sistem

pengendalian intern. Sistem pengendalian intern merupakan suatu proses untuk

mencapai tujuan tertentu, dijalankan oleh orang dari setiap jenjang organisasi

perusahaan yang diharapkan dapat menjaga keamanan harta milik perusahaan,

memeriksa ketelitian dan kebenaran informasi akuntansi, mendorong efisiensi dan

mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.


30

2.1.2 Unsur-unsur Sistem Pengendalian Intern

Unsur-unsur yang mendukung atau menunjang terlaksananya sistem

pengendalian intern yang baik menurut Mulyadi (2010:164) adalah sebagai

berikut:

1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggungjawab fungsional secara tegas.

Struktur organisasi merupakan kerangka (Framework) pembagian

tanggungjawab fungsional kepada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk

melaksanakan kegiatan-kegiatan pokok perusahaan. Pembagian

tanggungjawab fungsional dalam organisasi ini didasarkan pada prinsip-

prinsip sebagai berikut:

a. Harus dipisahkan fungsi-fungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi

akuntansi.

b. Suatu fungsi tidak boleh diberitanggungjawab penuh untuk melaksanakan

semua tahap suatu transaksi.

Pemisahan fungsi akuntansi dari fungsi-fungsi operasi dan fungsi

penyimpanan, catatan akauntansi yang diselenggarakan dapat mencerminkan

transaksi sesungguhnya yang dilaksanakan oleh unit organisasi yang

memegang fungsi operasi dan fungsi penyimpanan. Dengan demikian dalam

pelaksanaan suatu transaksi dapat terdapat internal check di antara unit

organisasi pelaksana.

2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan

yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya.


31

Setiap transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dan pejabat yang memiliki

wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi tersebut oleh karena itu,

dalam organisasi hanya dibuat sistem yang mengatur pembagian wewenang

untuk otorisasi atas terlaksananya setiap transaksi dalam organisasi. Salah

satu media yang digunakan untuk merekam penggunaan wewenang untuk

memberikan otorisasi terlaksananya transaksi dalam organisasi adalah

formulir, oleh karenanya penggunaan formulir dicatat dalam catatan

akuntansi dengan tingkat ketelitian dan keandalannya (reliability) yang tinggi.

Dengan demikian sistem otorisasi akan menjamin dihasilkannya dokumen

pembukuan yang dapat dipercaya, sehingga akan menjadi masukan yang

dapat dipercaya bagi proses akuntansi. Selanjutnya, prosedur pencatatan yang

baik akan menghasilkan informasi yang diteliti dan dapat dipercaya mengenai

kekayaan, utang, pendapatan, dan biaya suatu organisasi.

3. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit

organisasi.

Pembagian tanggungjawab dan sistem wewenang dan prosedur pencatatan

yang telah ditetapkan tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak diciptakan

cara-cara untuk menjamin praktik yang sehat dalam pelaksanaannya. Adapun

cara-cara yang umumnya ditempuh oleh perusahaan dalam menciptakan

praktik yang sehat adalah:

a. Penggunaan formulir bernomor urut tercetak yang pemakaiannya harus

dipertanggungjawabkan oleh orang yang berwenang.

b. Pemeriksaan mendadak (surprised audit).


32

c. Setiap transaksi tidak boleh dilaksanakan dari awal sampai akhir oleh satu

orang satu unit organisasi, tanpa ada campur tangan dari orang atau unit

organisasi lain.

d. Perputaran jabatan (job rotation)

e. Keharusan pengambilan cuti bagi karyawan yang berhak.

f. Secara periodik diadakan pencatatan fisik kekayaan dengan catatannya.

g. Pembentukan unit organisasi yang bertugas untuk mengecek efektivitas

unsur-unsur sistem pengendalian intern yang lain.

4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya.

Bagaimanapun baiknya struktur organisasi, sistem otorisasi dan prosedur

pencatatan, serta berbagai cara yang diciptakan untuk mendorong praktik

yang sehat, semuanya sangat bergantung kepada manusia yang yang

melaksanakannya. Jika perusahaan memiliki karyawan yang kompeten dan

jujur, unsur pengendalian yang lain dapat dikurangi sampai batas yang

minimum, dan perusahaan tetap mampu menghasilkan pertanggungjawaban

keuangan yang dapat diandalkan. Untuk mendapatkan karyawan yang

kompeten dan dapat dipercaya, berbagai cara berikut ini dapat ditempuh:

a. Seleksi calon karyawan berdasarkan persyaratan yang dituntut oleh

pekerjaannya.

b. Pengembangan pendidikan karyawan selama menjadi karyawan

perusahaan, sesuai dengan tuntutan perkembangan pekerjaannya.


33

2.1.3 Tujuan dan Fungsi Sistem Pengendalian Intern

2.1.3.1 Tujuan Sistem Pengendalian Intern

Tujuan dari sistem pengendalian intern menurut Mulyadi (2010:163)

adalah sebagai berikut:

1. Menjaga kekayaan organisasi,


2. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi,
3. Mendorong efisiensi, dan
4. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen

Mulyadi (2010:163) menyatakan bahwa Tujuan dari sistem pengendalian

intern tersebut dapat dibagi menjadi dua macam: pengendalian intern akuntansi

(Internal Accounting Control) dan pengendalin intern administratif (Internal

Administrative Control). Selanjutnya dikemukakan bahwa pengendalian intern

akuntansi yang merupakan bagian dari sistem pengendalian intern, yang meliputi

struktur organisasi, metode yang dikoordinasikan terutama untuk menjaga

kekayaan organisasi dan mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi.

Pengendalian intern administratif meliputi struktur organisasi, metode dan

ukuran-ukuran yang dikoordinasikan terutama untuk mendorong efisiensi dan

dipatuhinya kebijakan manajemen.

2.1.3.2 Fungsi Sistem Pengendalian Intern

Sistem pengendalian intern memiliki fungsi seperti yang diungkapkan oleh

Romney dan Steinbart yang diterjemahkan oleh Deni dan Dewi (2006:229) terdiri

dari tiga fungsi yakni:

1. Pengendalian untuk pencegahan (preventive control) mencegah


timbulnya suatu masalah sebelum mereka muncul. Mempekerjakan
personel akuntansi yang berkualifikasi tinggi, pemisahan tugas
34

pegawai yang memadai, dan secara efektif mengendalikan akses fisik


atas asset, fasilitas dan informasi, merupakan pengendalian secara
efektif.
2. Pengendalian untuk pemeriksaan (detective control) dibutuhkan untuk
mengungkap masalah begitu masalah tersebut muncul. Contohnya
pemeriksaan salinan atas perhitungan dengan mempersiapkan
rekonsiliasi bank dan neraca saldo setiap bulan.
3. Pengendalian korektif (corrective control) memecahkan masalah yang
ditemukan oleh pengendalian untuk pemeriksaan. Pengendalian ini
mencakup prosedur yang dilaksanakan untuk mengidentifikasi
penyebab masalah, memperbaiki kesalahan atau kesulitan yang
ditimbulkan dan mengubah sistem agar masalah dimasa yang akan
datang dapat diminimalisasikan atau dihilangkan. Contohnya dengan
pemeliharaan salinan (backup copies) atas transaksi dan file utama, dan
mengikuti prosedur untuk memperbaiki kesalahan memasukan data,
seperti juga kesalahan dalam menyerahkan kembali transaksi untuk
proses lebih lanjut.

2.1.4 Keterbatasan Sistem Pengendalian Intern

Keterbatasan yang terdapat dalam sistem pengendalian internal dapat

mengakibatkan tujuan dari pengendalian internal tidak akan tercapai.

Keterbatasan-keterbatasan tersebut menurut Menurut Azhar (2008:110) hal-hal

yang dapat memperlemah pengendalian intern adalah sebagai berikut:

1. Kesalahan (Error)
Kesalahan muncul ketika karyawan melakukan pertimbangan yang
salah atau perhatiannya selama bekerja terpecah.
2. Kolusi (Collusion)
Kolusi terjadi ketika dua atau lebih karyawan berkonspirasi untuk
melakukan pencurian (korupsi) ditempat mereka bekerja.
3. Penyimpangan Manajemen
Karena manajer suatu organisasi memiliki lebih banyak otoritas
dibandingkan karyawan biasa, proses pengendalian efektif pada tingkat
manajemen bawah dan tidak efektif pada tingkat atas.
4. Manfaat dan Biaya
Konsep jaminan yang meyakinkan atau masuk akal akan mengandung
arti bahwa biaya pengendalian intern tidak melebihi manfaat yang
dihasilkannya. Pengendalian yang masuk akal adalah pengendalian
yang memberikan manfaat lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkannya
untuk melakukan pengendalian tersebut.
35

La Midjan dan Azhar (2001:68) mengungkapkan Betapa baiknya sistem

pengendalian intern yang dihasilkan oleh sistem akuntansi yang telah disusun

dengan baik, pada pelaksanaannya tidak akan berjalan baik apabila tidak didukung

oleh pegawai yang berkualitas dan memadai. Sebagai akibat kelemahan faktor

pegawai ini maka dapat memperlemah sistem pengendalian intern.

2.2 Konsep Umum Perkreditan

2.2.1 Pengertian Kredit

Menurut Veitzal (2007:438) Istilah kredit, berasal dari perkataan lain

Credo yang berarti I Believe, I Trust, saya percaya atau saya menaruh

kepercayaan.

Kredit menurut Rachmat dan Maya (2009:1) yaitu Suatu kepercayaan

dari seseorang atau badan yang diberikan kepada seseorang atau badan lainnya

yaitu bahwa yang bersangkutan pada masa yang akan datang akan memenuhi

segala sesuatu kewajiban yang telah diperjanjikan terlebih dahulu.

Pengertian kredit menurut Undang-undang perbankan Nomor 10 Tahun

1998 yang dikutip oleh Kasmir (2011:96) adalah sebagai berikut:

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan


dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam
antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi
utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Sedangkan menurut Teguh (2001:9) kredit adalah Kemampuan untuk

melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu

janji pembayarannya akan dilakukan ditangguhkan pada suatu jangka waktu yang

disepakati.
36

2.2.2 Jenis-jenis Kredit

Jenis atau macam-macam kredit dilihat dari berbagai aspek tujuannya

sangatlah banyak dan bervariasi. Rachmat dan Maya (2009:10) menyebutkan

bahwa kredit yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari diantaranya:

1. Kredit menurut tujuan penggunaannya:

a. Kredit konsumtif, yaitu kredit yang digunakan untuk membiayai pembelian

barang-barang atau jasa-jasa.

b. Kredit produktif, yaitu kredit yang digunakan untuk tujuan-tujuan produktif.

2. Kredit ditinjau dari segi materi yang dialih haknya:

a. Kredit dalam bentuk uang (money credit), yaitu kredit yang diberikan dalam

bentuk uang dan pengembaliannya pun dalam bentuk uang juga.

b. Kredit dalam bentuk bukan uang (non-money credit), yaitu kredit berbentuk

benda-benda atau jasa yang biasanya diberikan oleh perusahaan-perusahaan

dagang, dan sebagainya.

3. Kredit yang ditinjau dari penguangannya (tunai atau tidak tunai):

a. Kredit tunai (cash credit), yaitu kredit yang penggunaannya dilakukan tunai

atau dengan jalan pemindah-bukuan ke dalam rekening debitur atau yang

ditunjuk olehnya pada saat perjanjian ditanda tangani.

b. Kredit bukan tunai (non-cash credit), yaitu kredit yang tidak dibayarkan

langsung pada saat perjanjjian ditanda tangani, melaikan diperlukan adanya

tenggang waktu tertentu sesuai dengan yang dipersyaratkan.


37

4. Kredit menurut jangka waktunya:

a. Kredit jangka pendek, yaitu kredit yang berjangka waktu minimal satu

tahun.

b. Kredit jangka menengah, yaitu kredit yang berjangka waktu antara satu

tahun sampai dengan tiga tahun.

c. Kredit jangka panjang, yaitu kredit yang berjangka waktu lebih dari tiga

tahun.

5. Kredit menurut cara penarikan dan pembayaran kembali:

a. Kredit sekaligus (aflopend credit), yaitu kredit yang cara penarikannya atau

penyediaan dananya dilakukan sekaligus, baik secara tunai maupun melalui

pemindah-bukuan ke dalam rekening debitur.

b. Kredir rekening Koran (kredit R/K), yaitu kredit yang penyediaan dananya

dilakukan dengan jalan pemindah-bukuan, ke dalam rekening koran/

rekening giro atas nama debitur, sedangkan penarikannya dilakukan dengan

cek, bilyet giro atau surat pemindah-bukuan lainnya.

c. Kredit bertahap, yaitu kredit yang penarikan atau penyediaannya

dilaksanakan secara bertahap.

d. Kredit berulang (revolving credit), yaitu kredit yang setelah satu transaksi

selesai dapat digunakan untuk transaksi berikutnya dalam batas maksimum

dan jangka waktu tertentu.

e. Kredit per-transaksi (selfiquiditing credit), yaitu kredit yang digunakan untuk

membiayai suatu transaksi dan hasil transaksi tersebut merupakan sumber

pelunasan kredit.
38

6. Kredit menurut sektor ekonominya:

a. Kredit untuk sektor pertanian, yaitu kredit dengan tujuan produktif dalam

rangka meningkatkan hasil di sektor pertanian, baik berupa kredit investasi

maupun modal kerja.

b. Kredit untuk sektor pertambangan, yaitu kredit untuk membiayai usaha-

usaha penggalian dan pengumpulan bahan-bahan tambang.

c. Kredit sektor perindustrian/ manufacturing, yaitu kredit yang berkenaan

dengan kegiatan-kegiatan mengubah bentuk, meningkatkan faedah dalam

bentuk pengolahan-pengolahan baik secara mekanik maupun secara kimiawi

dari suatu bahan menjadi barang baru.

d. Kredit untuk sektor listrik, gas dan air, yaitu kredit yang diberikan untuk

pembiayaan usaha-usaha pengadaan dan distribusi listrik, gas dan air, baik

untuk rumah tangga, untuk industri maupun tujuan komersil.

e. Kredit untuk sektor konstruksi, yaitu kredit yang diberikan kepada para

kontraktor untuk keperluan pembangunan dan perbaikan gedung, rumah,

pasar, jalan raya, jalan kereta api, pelabuhan, lapangan udara, proyek irigasi,

jembatan dan sebagainya.

f. Kredit untuk sektor perdagangan, restoran dan hotel, yaitu kredit untuk

membiayai usaha-usaha perdagangan.

g. Kredit untuk sektor pengangkutan, pergudangan, dan komunikasi, yaitu

kredit baik investasi maupun modal kerja untuk tujuan pengangkutan umum.
39

h. Kredit untuk sektor jasa-jasa dunia usaha, yaitu ktedit yang diberikan untuk

pembiayaan sektor-sektor real estate, profesi/ advokat/ pengacara, notaris,

akuntan, insinyur, leasing company dan sebagainya.

i. Kredit jasa-jasa sektor jasa-jasa masyarakat, yaitu kredit yang diberikan

untuk membiayai kegiatan-kegiatan di bidang kesenian dan kebudayaan.

j. Kredit untuk sektor-sektor lain, yaitu kredit yang diberikan untuk membiayai

sektor-sektor yang tidak termasuk ke dalam butir a-i.

7. Kredit dilihat dari jaminan atau agunannya:

a. Kredit yang tidak memakai jaminan (unsecured loan), yaitu kredit yang

diberikan benar-benar atas dasar kepercayaan saja, sehingga tidak ada

pengaman sama sekali.

b. Kredit dengan memakai jaminan/ agunan (secured loan) baik jaminan

perorangan (personal securities) atau badan maupun jaminan kebendaan

yang besifat tangible (berwujud).

c. Jaminan kebendaan yang bersifat tidak berwujud (intangible).

8. Kredit menurut organisasi pemberinya:

a. Kredit yang terorganisasi (organized credit), yaitu kredit yang diberikan oleh

suatu badan atau lembaga yang telah terorganisir secara baik dan syarat-

syarat pendiriannya berdasarkan ketentuan yang berlaku.

b. Kredit yang tidak terorganisasi (unorganized credit), yaitu kredit yang

diberikan oleh orang atau sekelompok orang maupun badan yang tidak

terorganisir secara resmi.


40

9. Kredit dilihat dari segi alat pembuktiannya (instrument credit):

a. Kredit secara lisan, yaitu kredit yang perjanjiannya dilakukan secara lisan

semata-mata.

b. Kredit secara pencatatan, yaitu transaksi kredit dicatat secara pembukuan/

administrasi masing-masing pihak oleh kreditur maupun oleh debitur.

c. Kredit dengan perjanjian tertulis, yaitu hubungan transaksi kredit yang

dinyatakan dalam suatu perjanjian tertulis antara pihak kreditur dengan pihak

debitur.

10. Kredit menurut sumber dananya:

a. Kredit yang dananya berasal dari tabungan masyarakat, yaitu pemberian

kredit karena adanya kelebihan pendapatan dari segolongan anggota

masyarakat yang dikumpulkan dalam bentuk simpanan.

b. Kredit yang dananya berasal dari penciptaan uang baru, yaitu pemberian

kredit yang dananya dibiayai oleh penambahan uang terhadap uang yang

beredar yang telah ada.

11. Kredit menurut negara pemberiannya;

a. Kredit dalam negeri (domestic credit), yaitu kredit yang diberikan oleh

kreditur di dalam negeri yang dananya serta pemberi kreditnya berasal dari

dalam negeri yang sama.

b. Kredit luar negeri (foreign credit/ off shore loan), yaitu kredit yang diberikan

oleh pihak asing (baik pemerintah maupun swasta negara lain).

12. Kredit menurut kualitas dan kolektibilitasnya:


41

a. Kredit Lancar (L)

b. Kredit Dalam Perhatian Khusus (KDPK)

c. Kredit Kurang Lancar (KL)

d. Kredit Diragukan (KD)

e. Kredit Macet (M).

13. Kredit menurut status subyek hukum debiturnya:

a. Kredit untuk golongan penduduk (resident), yaitu kredit yang diberikan

kepada penduduk Indonesia.

b. Kredit untuk bukan golongan penduduk (non resident), yaitu kredit yang

diberikan kepada bukan penduduk Indonesia.

14. Kredit yang pemberiannya melebihi suatu bank (kredit sindikasi/ syndication

loan), yaitu kredit yang diberikan secara bersama-sama oleh dua bank atau lebih

dengan pembagian risiko dan pendapatan (bunga dan provisi/ komisi) sesuai

porsi kepesertaan (sharing) masing-masing anggota sindikasi.

15. Kredit menurut ukuran besar kecilnya debitur:

a. Kredit usaha kecil dan menengah (UMKM), yaitu kredit yang diperuntukkan

bagi usaha kecil termsuk koperasi.

b. Kredit korporasi, yaitu kredit dengan jumlah besar dan diperuntukkan bagi

debitur-debitur korporasi (perusahaan besar).

2.2.3 Unsur-unsur Kredit

Kredit diberikan atas dasar kepercayaan sehingga pemberi kredit adalah

pemberi kepercayaan. Hal ini berarti bahwa prestasi yang diberikan benar-benar di
42

yakini dapat di kembalikan oleh penerima kredit sesuai dengan waktu dan syarat-

syarat yang disepakati bersama. Berdasarkan hal di atas, unsur-unsur dalam kredit

menurut Vaitzal (2007:438), adalah sebagai berikut:

a. Terdapat dua pihak, yaitu pemberi kredit (kreditor) dan penerima


kredit (nasabah). Hubungan pemberi kredit dan penerima kredit
merupakan hubungan kerja sama yang saling menguntungkan.
b. Terdapat kepercayaan pemberi kredit kepada penerima kredit yang
didasarkan atas kredit rating penerima kredit.
c. Terdapat persetujuan, berupa kesepakatan pihak bank dengan pihak
lainnya yang berjanji membayar dari penerima kredit kepada pemberi
kredit. Janji membayar tersebut dapat berupa janji lisan, tertulis (akad
kredit) atau berupa instrument (Credit Instrument).
d. Terdapat penerima kredit.
e. Terdapat unsur waktu (time element). Unsur waktu merupakan unsur
esensial kredit. Kredit dapat ada karena unsur waktu, baik di lihat dari
pemberi kredit maupun di lihat dari penerima kredit. Misalnya,
penabung memberikan kredit sekarang untuk konsumsi lebih besar di
masa yang akan datang. Produsen memerlukan kredit karena adanya
jarak waktu antara produksi dan konsumsi.
f. Terdapat unsur risiko (Degre Of Risk) baik di pihak pemberi kredit
maupun di pihak penerima kredit. Risiko di pihak pemberi kredit
adalah risiko gagal bayar (risk of default), baik karena kegagalan
unsur (pinjam komersial) atau karena ketidak mampuan bayar (pinjam
konsumen) atau karena ketidaksediaan membayar. Risiko di pihak
nasabah adalah adanya kecurangan dari pihak kreditor, antara lain
berupa pemberian kredit yang dari semula dimaksudkan oleh pemberi
kredit untuk mencaplok perusahaan yang diberikan kredit atau tanah
yang dijaminkan.
g. Terdapat unsur bunga sebagai kompensasi (prestasi) kepada pemberi
kredit. Bagi pemberi kredit, bunga tersebut terdiri dari berbagai
komponen seperti biaya modal (cost of capital), biaya umum
(overhead cost), risk premium dan sebagainya. Jika kredit rating
penerima kredit tinggi, risk premium dapat dikurangi dengan sofety
discount.

2.2.4 Tujuan dan Fungsi Kredit

2.2.4.1 Tujuan Kredit

Menurut Viatzal (2007:439) pada dasarnya terdapat dua fungsi yang saling

berkaitan dengan kredit, yaitu sebagai berikut:


43

1. Profitability, yaitu tujuan untuk memperoleh hasil dari kredit berupa

keuntungan yang di raih dari bunga yang harus dibayar oleh nasabah. Oleh

karena itu, bank hanya akan menyalurkan kredit kepada usaha-usaha nasabah

yang di yakini mampu dan mau mengembalikan kredit yang telah

diterimanya. Dalam faktor kemampuan dan kemauan ini tersimpul unsur

keamanan (safety) dan sekaligus juga unsur keuntungan (profitability) dari

suatu kredit sehingga kedua unsur tersebut saling berkaitan. Dengan

demikian, keuntungan merupakan tujuan dari pemberi kredit yang terjelma

dalam bentuk bunga yang diterima.

2. Safety, yaitu dari keamanan dari prestasi atau fasilitas yang diberikan harus

benar-benar terjamin sehingga tujuan profitability dapat benar-benar tercapai

tanpa hambatan yang berarti. Oleh karena itu, keamanan ini atau jasa itu

betul-betul terjamin pengembaliannya sehingga keuntungan (profitability)

yang diharapkan dapat menjadi kenyataan.

2.2.4.2 Fungsi Kredit

Kredit mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian.

Secara garis besar fungsi kredit di dalam perekonomian, perdagangan dan

keuangan menurut Veithzal (2007:440) dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Meningkatkan utility (daya guna) dari modal/ utang. Para pengusaha

menikmati kredit dari bank untuk memperluas/ memperbesar usahanya, baik

untuk peningkatan produksi, perdagangan, maupun untuk usaha-usaha

rehabilitasi ataupun usaha peningkatan, produktivitas secara menyeluruh.


44

b. Meningkatkan utility (daya guna) suatu barang. Produsen dengan bantuan

kredit bank dapat memproduksi bahan jadi sehingga utility dari bahan

tersebut meningkat.

c. Meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang. Kredit yang disalurkan melalui

rekening koran, mendorong pengusaha untuk menciptakan penambahan uang

giral dan sejenisnya seperti cek, bilyet giro, wesel, promes dan sebagainya

melalui kredit.

d. Menimbulkan gairah berusaha masyarakat. Dari sisi hukum permintaan dan

penawaran, dalam segala macam dan ragam usaha, permintaan akan terus

bertambah jika masyarakat telah melakukan penawaran. Sehingga semakin

besar permintaan secara berantai menimbulkan kegairahan yang meluas

dikalangan masyarakat dan meningkatkan produktivitas

e. Alat stabilisasi ekonomi. Dalam keadaan ekonomi yang kurang sehat

langkah-langkah stabilisasi pada dasarnya diarahkan pada usaha-usaha untuk:

pengendalian inflasi, peningkatan ekspor, rehabilitasi sarana dan pemenuhan

kebutuhan-kebutuhan pokok rakyat.

f. Jembatan untuk peningkatan pendapatan nasional. Pengusaha yang

memperoleh kredit tentu saja berusaha untuk meningkatkan usahanya,

peningkatan usaha berarti peningkatan profit, yang berarti pajak perusahaan

akan terus bertambah yang menghasilkan pendapatan bagi Negara.

g. Sebagai alat meningkatkan hubungan ekonomi internasional. Bank sebagai

lembaga kredit tidak saja bergerak di dalam negeri, tetapi juga diluar negeri.

Hubungan antar negara pemberi dan penerima kredit akan bertambah erat
45

terutama yang menyangkut hubungan perekonomian dan perdagangan. Lalu

lintas pembayaran internasional akan berjalan lancar bila disertai kegiatan

kredit yang bersifat internasional.

2.2.5 Kredit Gadai

2.2.5.1 Pengertian Gadai

Gadai berasal dari terjemahan dari kata pand atau vuistpand (bahasa

Belanda), atau pledge atau pawn (bahasa Inggris), pfand atau faustpfand (bahasa

Jerman). Kegiatan pokok PT. Pegadaian adalah menyalurkan kredit atau uang

pinjaman atas dasar hukum gadai. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata (civil code) Buku Kedua BAB XX pasal 1150 tentang Gadai, pengertian

gadai adalah sebagai berikut:

Gadai adalah suatu hak yang diperoleh kreditur atas suatu barang bergerak,
yang diserahkan kepadanya oleh debitur, atau oleh kuasanya, sebagai
jaminan atas utangnya, dan yang memberi wewenang kepada kreditur
untuk mengambil pelunasan piutangnya dan barang itu dengan mendahalui
kreditur-kreditur lain; dengan pengecualian biaya penjualan sebagai
pelaksanaan putusan atas tuntutan mengenai pemilikan atau penguasaan,
dan biaya penyelamatan barang itu, yang dikeluarkan setelah barang itu
sebagai gadai dan yang harus didahulukan.
Sedangkan menurut Totok dkk (2011:212), pengertian gadai adalah

sebagai berikut:

Gadai adalah hak yang diperoleh seseorang yang mempunyai piutang atas
suatu barang bergerak. Barang bergerak tersebut diserahkan kepada orang
yang berpiutang oleh seorang yang mempunyai utang atau orang seorang
lain atas nama orang yang mempunyai utang. Seorang yang berutang
tersebut memberikan kekuasaan kepada orang berpiutang untuk
menggunakan barang bergerak yang telah diserahkan untuk melunasi
utang apabila pihak yang berutang tidak dapat memenuhi kewajibannya
pada saat jatuh tempo.
46

2.2.5.2 Pengertian Kredit Gadai

Menurut Pedoman Operasional Kantor Cabang PT. Pegadaian (Persero)

pengertian kredit gadai adalah sebagai berikut:

Kredit Gadai adalah pemberian pinjaman (kredit) dalam jangka waktu


tertentu kepada nasabah atas dasar hukum gadai dan persyaratan tertentu
yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Nasabah menyelesaikan
pinjamannya kepada perusahaan (Pegadaian) sebagai pemberi pinjaman
(kreditur), dengan cara mengembalikan uang pinjaman dan membayar
sewa modalnya berdasarkan ketentuan yang berlaku.

2.3 Sistem Pengendalian Intern Kredit

Sistem pengendalian intern kredit merupakan usaha-usaha yang dilakukan

agar kredit tetap lancar, produktif dan tidak macet. Agar pemberian kredit dapat

dilaksanakan secara konsisten dan berdasarkan asas-asas perkreditan yang sehat,

diperlukan suatu kebijakan perkreditan tertulis yang dikabulkan menurut dokumen

kebijakan pemberian kredit. Sistem pengendalian intern kredit menurut

Suhardjono (2003:99) sekurang-kurangnya harus mencakup Organisasi kredit,

dokumen dan catatan kredit, prosedur pemberian kredit dan laporan kredit.

Menurut Suhardjono (2003:100) agar penyaluran kredit kepada debitur

tetap lancar dan produktif maka sekurang-kurangnya harus memuat dan mengatur

hal-hal pokok sebagai berikut:

1. Organisasi intern kredit

2. Prosedur pemberian dan pengembalian kredit

3. Dokumen dan catatan kredit

4. Pengawasan kredit

5. Penyelamatan dan penyelesaian kredit bermasalah


47

2.3.1 Struktur yang Memisahkan Tanggung Jawab Fungsional Secara

Tegas

Berbicara mengenai organisasi, sebagaimana kita maklumi bahwa teori

dan pandangan tentang organisasi sangatlah banyak dan beraneka ragam hal

tersebut menyebabkan penerapan organisasi tersebut juga berbeda-beda antara

satu dengan yang lain, tidak terkecuali aplikasi pada organisasi perkreditan.

Perbedaan teori (plus aplikasinya) pada organisasi perkreditan disebabkan oleh

perbedaan visi, misi/ tujuan, latar belakang lingkungan, situasi dan kondisinya

masing-masing. Namun demikian disamping perbedaan-perbedaan tersebut, pada

dasarnya setiap organisasi mempunyai pesamaan-persamaan tertentu setidak-

tidaknya dalam perannannya.

Suhardjono (2003:106) menyebutkan bahwa:

Untuk mendukung pemberian kredit yang sehat dan penerapan unsur


pengendalian internal (internal control) mulai dari tahap awal proses
kegiatan pemberian perkreditan sampai dengan kredit yang bersangkutan
lunas, maka harus menerapkan struktur organisasi serta tugas dan
tanggung jawab masing-masing pejabat yang terkait dalam proses
pemberian kredit.

Organisasi merupakan salah satu unsur sistem pengendalian intern dimana

di dalamnya terdapat gambaran yang mencerminkan kerangka pembagian tugas

dari masing-masing bagian serta keseluruhan dari fungsi-fungsi yang saling

berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Fungsi

organisasi yang terkait dalam pemberian kredit menurut Suhardjono (2003:109)

adalah sebagai berikut:


48

a. Ketua pimpinan

Memberikan keputusan peminjaman kredit berdasarkan ketentuan dan

peraturan yang berlaku dalam lembaga tersebut.

b. Seksi analisa kredit

Memberikan keterangan kepada calon debitur yang akan mengajukan

permohonan kredit dan mengadakan pembahasan kredit dan mengajukan

hasil pembahasan kepada pimpinan melalui kas kredit.

c. Seksi administrasi

Melayani pengajuan kredit dan meneliti kelengkapan persyaratan kredit dan

membuat analisa yang diajukan kepada pimpinan. Membuat realisasi kredit

dalam buku register dan melayani debitur yang akan mengambil jaminan.

d. Supervisi kredit

Membuat pengajuan penyelesaian kredit dan membuat peninjauan jaminan

kredit bersama petugas analisa kredit.

e. Kasir/ teller, bertugas untuk menerima dan mengeluarkan uang.

2.3.2 Sistem Wewenang dan Prosedur Pencatatan yang Memberikan

Perlindungan yang Cukup Terhadap Kekayaan, Utang, Pendapatan

dan Biaya

Sistem wewenang dan prosedur pencatatan kegiatan di antara lembaga

keuangan semacam Pegadaian tidaklah jauh berbeda, mungkin yang menjadi

perbedaan terletak dari prosedur dan persyaratan yang ditetapkan dengan

pertimbangan masing-masing. Prosedur pemberian kredit secara umum dapat


49

dibedakan antara pinjaman perseorangan dengan pinjaman oleh suatu badan

hukum. Kemudian dapat pula ditinjau dari segi tujuannya apakah untuk konsumtif

atau produktif.

2.3.2.1 Prosedur Pemberian Kredit dan Pengembalian Kredit

Menurut Suhardjono (2003:195) dalam proses pemberian putusan kredit,

prosedur kredit dibagi dalam empat tahap diantaranya:

1. Tahapan Prakarsa dan analisa permohonan kredit


a. Kegiatan pada tahap ini adalah penerimaan permohonan kredit
dari nasabah atau memprakarsai permohonan kredit, baik untuk
Permohonan kredit baru, perpanjangan kredit, perubahan jumlah
kredit, perubahan syarat kredit, restrukturisasi maupun
penyelesaian kredit.
b. Analisa dan evaluasi kredit
Analisa kredit yang dilakukan oleh pejabat pemrakarsa kredit
melipiti analisis 5C (Character, Capacity, Capital, Condition,
Collateral) yang terdiri dari analisis kualitatif dan kuantitaf.
c. Perhitungan kebutuhan kredit
Perhitungan kebutuhan kredit dimaksudkan untuk mengetahui
secara pasti kredit yang benar-benar dibutuhkan oleh pemohon,
hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kelebihan kredit yang
penggunaannya di luar usaha atau terjadi kekurangan kredit
sehingga usaha tidak berjalan.
d. Pembagian risiko kredit
Dalam upaya mengurangi risiko kredit yang harus ditanggung,
bank membagi risiko tersebut dengan perusahaan asuransi, yaitu
dengan melakukan asuransi kredit, asuransi kerugian maupun
asuransi jiwa debitur.
e. Negosiasi kredit
Negosiasi dilakukan dalam rangka mendiskusikan suatu
permasalahan kredit yang terjadi antara pihak bank dan pemohon,
dalam rangka mencapai kesepakatan mengenai jumlah kredit,
kelengkapan dokumen, struktur dan tipe kredit serta syarat-syarat
kredit yang harus dipenuhi oleh pemohon.
2. Tahapan pemberian rekomendasi kredit
Rekomendasi kredit merupakan suatu kesimpulan dari analisa dan
evaluasi atas proposal kredit yang disajikan oleh pemrakarsa kredit.
Rekomendasi harus secara jelas menguraikan kekuatan dan kelemahan
pemohon untuk memenuhi angsuran yang telah dijadwalkan.
50

Rekomendasi kredit harus memastikan bahwa tidak ada kebijakaan


dan prosedur kredit yang dilanggar serta tidak ada masalah hukum.
3. Tahapan pemberian putusan
Pemberian keputusan hanya dapat dilakukan oleh pejabat pemutus
kredit atau komite kredit yang diberikan kewenangan untuk memutus
kredit. Sebelum memberikan putusan kredit pejabat pemutus kredit
harus memeriksa dan meneliti kelengkapan paket kredit berdasarkan
pengalaman dan pengetahuan bisnis yang dimilikinya, pejabat
pemutus kredit melihat analisa dan evaluasi yang dibuat oleh bagian
rekomendasi akan mampu memberikan putusan kredit secara akurat.
4. Tahapan persetujuan pencairan kredit
Pencairan kredit dapat dilakukan setelah instruksi pencairan kredit
ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang, yaitu petugas
administrasi kredit sebagai pembuat instruksi (maker) dan disetujui
oleh pimpinan unit kerja yang bersangkutan

Langkah selanjutnya adalah merupakan prosedur pengembalian kredit.

Menurut Thomas dkk (2003:86) Pengembalian kredit adalah dipenuhinya semua

kewajiban utang peminjam terhadap bank yang berakibat hapusnya perjanjian

kredit.

Adapun prosedur pengembalian kredit menurut Suhardjono (2003:197)

adalah sebagai berikut:

1. Debitur dalam memenuhi kewajibannya untuk membayar.


Dalam memenuhi kewajibannya, debitur menyerahkan pembayaran
baik pembayaran pokok, bunga atau lainnya apabila ada. Sebagai
tanda pembayaran, debitur menerima kuitansi dari kasir dan menerima
struk yang berisikan total sisa pinjaman sebagai kontrol jumlah
kewajiban yang masih harus dibayar.
2. Kasir menerima pembayaran dari debitur.
Kasir menerima sejumlah uang dari debitur sebagai pembayaran, baik
pokok, bunga ataupun yang lainnya. Menghitung atau
membandingkan pembayaran yang harus dipenuhi oleh debitur yaitu
pembayaran pokok pinjaman, bunganya ataupun pembayaran lainnya
dengan jumlah potongan yang telah jatuh tempo. Kasir kemudian
menerbitkan dan menyerahkan kuitansi sebagai bukti pembayaran
yang diperuntukan kepada debitur dan bagian kredit. Transaksi di atas
dicatat pada buku transaksi.
3. Pencatatan oleh bagian perkreditan.
Bagian perkreditan mencatat jumlah pembayaran yang dilakukan oleh
debitur, kemudian mengeluarkan struk sisa pinjaman yang dipotong
51

sebagai pemberitahuan mengenai jumlah kewajiban yang masih harus


dipenuhi debitur.
4. Pencatatan oleh bagian akuntansi.
Bagian akuntansi menerima bukti bembayaran dari bagian kredit,
dilakukan pencatatan pada buku besar piutang dan dicockannya
dengan buku kas masuk bagian kredit.

2.3.2.2 Dokumen dan Catatan Kredit

Menurut Suhardjono (2003:221) pengertian dokumen kredit adalah

sebagai berikut:

Dokumen kredit adalah seluruh dokumen yang diperlukan dalam rangka


pemberian kredit yang merupakan bukti perjanjian/ ikatan hukum antara
bank dengan debitur dan bukti kepemilikan barang agunan serta
dokumen-dokumen perkreditan lainnya yang merupakan perbuatan
hukum atau mempunyai akibat hukum.

Dokumen berfungsi untuk memastikan bahwa seluruh aktiva telah

diawasi dengan sewajarnya dan pencatatan telah dilakukan dengan baik.

Formulir penting yang selalu dimasukan dalam setiap arsip dokumen

kredit menurut Suhardjono (2003:223) adalah sebagai berikut:

1. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan identitas atau legalitas


nasabah dan usahanya.
a. KTP, Kartu Keluarga (KK), pas photo
b. Akte pendirian usaha
c. Bukti perjanjian usaha
2. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan permohonan, analisa dan
evaluasi kredit, negosiasi, rekomendasi, persetujuan kredit.
a. Putusan kredit
b. Putusan penundaan dokumen
c. Memorandum analisa kredit
d. Putusan penghapus bukuan kredit macet
3. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan perjanjian dan pencairan
kredit.
a. Surat hutang
b. Adendum surat hutang
4. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kepemilikan barang
jaminan dan pengikatannya.
52

a. Hak atas tanah


b. Bukti kepemilikan agunan
c. Sertifikat hak tanggungan
d. Akte pengikat hak agunan
5. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pembinaan, pengawasan
dan penyelamatan atau penyelesaian kredit.

Pengertian catatan kredit menurut Suhardjono (2003:225) adalah sebagai

Pengelolaan atas dokumen-dokumen yang diperoleh selama kredit berlangsung,

pengelolaan tersebut mencakup pencatatan/ registrasi, penyimpanan berkas dan

pengamanan berkas kredit.

Sedangkan proses pencatatan transaksi kredit menurut Suhardjono

(2003:226) secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam beberapa tipe, yaitu:

1. Pencatatan pembayaran kewajiban-kewajiban yang harus dilunasi oleh

debitur yaitu:

a. Biaya administrasi, baik pada saat pembukuan rekening debitur atau biaya

administrasi rutin pada saat kredit berjalan.

b. Pembayaran provisi kredit atau commitmen fee saat nasabah memperoleh

kredit baru atau perpanjangan kredit.

c. Untuk pembayaran bunga kredit yang menjadi kewajibannya.

2. Pencatatan transaksi kredit selama fasilitas kredit tersebut berjalan, yaitu:

a. Pada saat pelaksanaan penarikan/ pembukuan kredit.

b. Pada waktu nasabah melaksanakan penyetoran-penyetoran terhadap

rekeningnya.

3. Pencatatan transaksi kredit pada saat pelunasan kredit.

4. Pencatatan transaksi kredit pada saat penghapusan sebagai debitur.


53

Adapun jurnal untuk pencatatan mutasi-mutasi di atas dapat disajikan

dengan cara sebagai berikut:

1. Pada saat pembukuan rekening debitur yaitu setelah nasabah menandatangani

akad perjanjian kredit maka jurnalnya dilakukan sebagai berikut:

Kas Rp. xxx

Provisi kredit Rp. xxx

Biaya bank lainnya Rp. xxx

2. Jurnal pembebanan/ pembayaran bunga oleh nasabah. Setelah bank selesai

membuat nota perhitungan bunga maka jurnalnya dilakukan sebagai

berikut:

Kas Rp. xxx

Pendapatan bunga kredit Rp. xxx

Yang menjadi masalah apabila nasabah tidak dapat membayar dan terjadi

tunggakan bunga maka jurnalnya dilakukan sebagai berikut:

Tagihan tunggakan bunga Rp. xxx

Pendapatan bunga kredit Rp. xxx

3. Pencatatan yang lain pada saat terjadi penarikan kredit atau pembebanan

lainnya maka jurnalnya dilakukan sebagai berikut:

Rekening debitur yang bersangkutan Rp. xxx

Kas Rp. xxx

Pemindahbukuan ke rekening lain Rp. xxx

4. Sering juga nasabah selain menunggak bunga juga menunggak angsuran

kredit maka jurnalnya dilakukan sebagai berikut:


54

Tunggakan angsuran kredit Rp. xxx

Rekening debitur yang bersangkutan Rp. xxx

Dan pada saat nasabah melunasi tunggakan angsuran tersebut maka jurnalnya

dapat dilakukan dengan cara:

Kas Rp. xxx

Tunggakan angsuran kredit Rp.xxx

2.3.3 Praktik yang Sehat Dalam Melaksanakan Tugas dan Fungsi Setiap

Unit Organisasi

Suhardjono (2003:229) menyebutkan bahwa: Dalam mendukung

pemberian kredit yang sehat dan menerapkan unsur pengendalian intern dalam

kegiatan perkreditannya, perusahaan melakukan pengawasan dan pembinaan atas

tahapan-tahapan proses pemberian kredit yang dilakukannya.

2.3.3.1 Pengawasan Kredit

Menurut Suhardjono (2003:229) prinsip-prinsip dalam pengawasan

kredit yang pada umumnya dilakkan antara lain:

a. Setiap tahapan proses pemberian kredit harus didasarkan atas asas-


asas perkreditan yang sehat dan menguntungkan/ melindungi
kepentingan bagi bank.
b. Setiap pemberian kredit harus mengandung unsur pengawasan ganda
dan pengawasan melekat yang berkesinambungan.
c. Setiap pemberian kredit harus dipantau perkembangan usaha debitur
yang dimaksudkan untuk memberikan arahan kepada debitur agar
kredit yang diberikan mencapai sasaran dan mencegah kemungkinan
penurunan kualitas kredit.
d. Setiap pemberian kredit tidak hanya diawasi oleh pejabat kredit saja.
Tetapi juga oleh unit kerja yang dibentuk untuk melakukan fungsi
pengawasan, yaitu audit internal.
55

Menurut Suhardjono (2003:230) pengawasan kredit adalah Kegiatan

pengawasan/ monitoring terhadap tahapan-tahapan proses pemberian kredit,

pejabat kredit yang melaksanakan proses pemberian kredit serta fasilitas

kreditnya. Pengawasan kredit bertujuan untuk memastikan bahwa

pengelolaan, penjagaan dan pengawasan kredit sebagai asset telah dilakukan

dengan baik sehingga tidak timbul resiko-resiko kredit yang diakibatkan

penyimpangan baik oleh debitur maupun oleh bank. Pengawasan kredit dapat

dilakukan dengan cara pengawasan preventif dan pengawasan represif.

Pengawasan preventif dimaksudkan untuk mencegah terjadinya masalah

dalam perkreditan dalam perkreditan yang dapat dilakukan dengan penerapan

prinsip kehati-hatian pada setiap tahapan proses pemberian kredit sejak

permohonan kredit sampai dengan pencairan kredit. Sedangkan pengawasan

represif dimaksudkan untuk memperbaiki masalah yang terjadi dalam bidang

perkreditan yang dapat dilakukan dengan berbagai macam cara setelah kredit

direalisasi dan digunakan oleh debitur sampai dengan kredit lunas.

2.3.3.2 Penyelamatan Kredit Bermasalah

Suhardjono (2003:252) mengemukakan bahwa Kredit bermasalah

adalah suatu keadaan dimana nasabah sudah tidak sanggup membayar sebagian

atau seluruh kewajibannya kepada bank seperti yang telah diperjanjikan dalam

perjanjian kredit. Walaupun semua tahap-tahap dalam proses pemberian kredit

telah dilakukan secara hati-hati dan telah dilakukan pengawasan dan pengendalian

kredit secara berkesinambungan, namun demikian tidak seratus persen kredit akan

menjadi lancar.
56

Menurut Suhardjono (2003:272), upaya penyelamatan kredit bermasalah

dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Penjadwalan kembali (Rescheduling)


Penjadwalan kembali yaitu perubahan syarat kredit yang hanya
menyangkut jadwal pembayaran dan atau jangka waktunya yang
meliputi: perubahan grace period, perubahan jadwal pembayaran,
perubahan jangka waktu, perubahan jumlah angsuran dan sebagainya.
2. Persyaratan kembali (Reconditioning)
Persyaratan kembali yaitu perubahan sebagian atau seluruh syarat-
syarat kredit yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran,
jangka waktu dan persyaratan lainnya sepanjang tidak menyangkut
maksumin saldo kredit, yang meliputi: perubahan tingkat suku bunga
atau denda, perubahan cara perhitungan tingkat suku bunga,
keringanan bunga atau denda, perubahan atau penggantian
kepemilikan atau pengurus, perubahan atau penggantian nama atau
status perusahaan, perubahan atau penggantian nasabah atau novasi,
perubahan atau penggantian agunan.
3. Penataan kembali (Restructuring)
Penataan kembali yaitu perubahan syarat-syarat kredit yang meliputi:
penambahan dana, pengurangan tunggakan pokok, konversi seluruh
atau sebagian tunggakan bunga menjadi pokok kredit baru, perubahan
jenis fasilitas kredit termasuk konversi pinjaman dalam valuta asing
atau sebaliknya, konversi seluruh atau sebagaian dari kredit menjadi
penyertaan dalam perusahaan, penjualan agunan/ asset debitur.

2.3.4 Karyawan yang Mutuya Sesuai dengan Tanggung Jawabnya

Berhasil tidaknya suatu organisasi dalam mencapai tujuannya sangat

tergantung pada kualitas pegawai yang ada di dalam organisasi tersebut. Faktor

kemampuan kerja pegawai dapat dilihat dari pengetahuan dan keterampilan yang

dimilikinya. Menurut Spencer (2007:6) yang dikutip Palan menguraikan lima

karakteristik yang membentuk kompetensi adalah sebagai berikut:

1. Pengetahuan
Merujuk pada informasi dan hasil pembelajaran. Pengetahuan pegawai
turut menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan tugas yang
dibebankan kepadanya, pegawai yang mempunyai pengetahuan yang
cukup akan meningkatkan efisiensi perusahaan.
57

2. Keterampilan
Merujuk pada kemampuan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan.
Pegawai yang mampu mempunyai kerja yang baik, maka akan
mempercepat pencapaian tujuan organisasi, sebaliknya pegawai yang
tidak terampil akan memperlambat tujuan organisasi.
3. Konsep diri dan nilai-nilai
Merujuk pada sikap, nilai-nilai dan citra diri seseorang seperti
kepercayaan seseorang bahwa dia bisa berhasil dalam suatu situasi.
Disamping pengetahuan dan keterampilan pegawai, hal yang perlu
diperhatikan adalah sikap atau prilaku kerja pegawai. Apabila pegawai
mempunyai sifat yang mendukung pencapaian tujuan organisasi, maka
secara otomatis segala tugas yang dibebankan kepadanya akan
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
4. Karakteristik pribadi
Merujuk kepada karakteristik fisik dan konsistensi tanggapan terhadap
situasi atau informasi, seperti pengendalian diri dan kemampuan untuk
tetap tenang dibawah tekanan. Karakteristik pribadi merupakan
cerminan bagaimana seorang pegawai mampu/ tidak mampu
melakukan suatu aktivitas dan tugas secara mudah/ sulit dan sukses/
tidak pernah sukses.
5. Motif
Motif adalah kekuatan pendorong yang akan mewujudkan suatu
perilaku guna mencapai tujuan kepuasan dirinya. Hal ini merajuk pada
emosi, hasrat, kebutuhan psikologi atau dorongan-dorongan lain yang
memicu tindakan.

2.4 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu

Nama
No Judul Metode Variabel Hasil Penelitian
Peneliti
Analisis Sistem Pelaksanaan sistem pengendalian
Pengendalian 1. Organisasi intern kredit pada BKM Tarogong
Intern Kredit Intern Kredit Kidul Garut belum memadai, akan
PNPM Mandiri 2. Dokumen dan tetapi pencapaian tingkat kolektibilitas
Linda Perkotaan dalam Catatan Kredit kreditnya dari tahun 2007 sampai
Mega MenjagaTingkat Analisis 3. Prosedur yahun 2008 dikategorikan sehat
1.
Sari Kolektabilitas Deskriptif Pemberian dan sehingga dapat dikatakan bahwa
2008 Kredit pada Badan Pengembalian pelaksanaan sistem pengendalian
Keswadayaan Kredit intern kredit pada BKM Tarogong
Masyarakat (BKM) 4. Laporan Kidul Garut belum memadai akan
Tarogong Kidul Kredit tetapi tingkat kolektibbilitas kreditnya
Garut terjaga.
58

Dari hasil penelitian dapat ditarik


kesimpulan bahwa:
1. Struktur 1. Pelaksanaan sistem pengendalian
Peranan Sistem Organisasi intern kredit gadai pada perum
Pengendalian
2. Dokumen dan Pegadaian Cabang Garut, sudah
Intern Kredit Gadai
Catatan Kredit dilaksanakan dengan baik.
dalam Upaya
Gadai 2. Efektivitas pengendalian kredit
Amirah Menjaga
Deskriptif gadai pada perum Pegadaian
2. Ahmad Efektivitas 3. Prosedur
Analisis Cabang Garut pada tahun 2006
2007 Pengembalian Pemberian dan sudah tercapai, dengan prosentase
Kredit Gadai Pada Pengembalian pengembalian sebesar 92,25%
Perusahaan Umum Kredit Gadai 3. Sistem pengendalian intern kredit
Pegadaian Cabang
4. Laporan gadai yang dilaksanakan pada
Garut
Kredit perum Pegadaian Cabang Garut
dapat menjaga efektivitas
pengembalian kredit gadai.
Pelaksanaan sistem pengendalian
1. Organisasi
intern kredit pada UPK Cilawu Garut
Intern Kredit
belum memadai, hal ini ditunjukan
Analisis 2. Prosedur
dengan adanya: rangkap jabatan untuk
Pelaksanaan Sistem Pemberian dan
bagian administrasi dan bagian
Pengendalian Pengembalian
akuntansi; tahap analisa kredit dan
Intern Kredit Kredit
peninjauan setempat kurang
Program Nasional 3. Dokumen dan
diperhatikan; dokumen dan catatan
Pemberdayaan Catatan Kredit
Rina Analisis kredit dapat memberikan keyakinan
3. Masyarakat 4. Pengawasan
2013 Kualitatif memadai bahwa seluruh aktiva
Mandiri Perdesaan dan
perusahaan dikendalikan dengan baik;
Pada Unit Pembinaan
pengawasan dan pembinaan secara
Pengelolaan Kredit
langsung jarang sekali dilakukan;
Kegiatan 5. Penyelamatan
penyelamatan dan penyelesaian kredit
Kecamatan Cilawu dan
yang bermasalah yang dilakukan
Kabupaten Garut. Penyelesaian
dengan upaya penjadwalan kembali,
Kredit
persyaratan kembali, penataan kembali
Bermasalah
dan penghapusan.
59

BAB 3

OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Objek penelitian adalah sarana atau lokasi yang dijadikan unit pengamatan

penelitian, dalam penyusunan skripsi ini penulis melakukan penelitian di PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut yang berlokasi di Jalan Pasar Baru No.36

Kabupaten Garut 44115.

3.1.1 Sejarah Singkat PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut

Pegadaian merupakan Lembaga Keuangan Non-Bank yang menyalurkan

kredit kepada masyarakat berdasarkan hukum gadai. Lembaga semacam ini pada

awalnya berkembang di Italia yang kemudian dipraktekan di wilayah-wilayah

Eropa lainnya, seperti Inggris dan Belanda. Sistem gadai tersebut Memasuki

Indonesia dibawa dan dikembangkan oleh orang Belanda (VOC).

Bentuk usaha Pegadaian di Indonesia berawal dari Bank Van Leening

yang didirikan VOC pada tanggal 20 Agustus 1746 di Batavia. VOC dibubarkan

bersama Bank Van Leening, kemudian dibentuk Pegadaian yang dikelola swasta.

Akan tetapi keberadaannya justru menyusahkan rakyat. Oleh karena itu,

Pegadaian kembali diambil alih oleh pemerintah untuk membantu kehidupan

buruh tani dan nelayan kecil. Keputusan ini tertuang dalam Staatbald No. 131

tanggal 12 Maret 1901. Pada tahun yang sama, didirikanlah Pegadaian pertama

milik pemerintah, tepatnya tanggal 1 April 1901 yang berlokasi di Sukabumi.


60

Pegadaian beberapa kali mengalami perubahan bentuk. Dengan Staatbald

1930 No. 266, lembaga ini berubah menjadi JAWATAN Pegadaian berstatus

lembaga resmi milik pemerintah. Kemudian, berdasarkan Peraturan Pemerintah

RI No. 178 tahun 1961, tanggal 3 Mei 1961 satus JAWATAN Pegadaian diubah

menjadi Perusahaan Negara Pegadaian diintegrasi ke dalam urusan Bank Sentral.

Dan diubah lagi menjadi Perusahaan Jawatan (PERJAN) Pegadaian dibawah

naungan Departemen Keuangan Republik Indonesia, dibawah pimpinan

Derektorat Jendral Moneter Dalam Negeri.

Melalui Peraturan Pemerintah No. 7 tanggal 11 Maret 1969. Selanjutnya

berdasarkan PP No. 10 tahun 1990, lembaga ini kembali diubah menjadi

Perusahaan Umum (PERUM) Pegadaian. Kemudian pada tahun 2011 perubahan

status kembali terjadi dari PERUM menjadi PERSEROAN yang telah ditetapkan

dalam Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2011 yang ditandatangani pada tanggal

13 Desember 2011 yang berlaku tanggal 1 April 2012.

Adapun visi dan misi dari PT. Pegadaian (Persero) adalah sebagai berikut:

1. Visi

Visi dari PT. Pegadaian adalah sebagai solusi bisnis terpadu terutama berbasis

gadai yang selalu menjadi market leader dan mikro berbasis fidusia selalu

menjadi yang terbaik untuk masyarakat menengah ke bawah.

2. Misi

a. Memberikan pembiayaan yang tercepat, termurah, aman dan selalu

memberikan pembinaan terhadap usaha golongan menengah kebawah

untuk pendorong pertumbuhan ekonomi.


61

b. Memastikan pemerataan pelayanan dan infrastruktur yang memberikan

kemudahan dan kenyamanan di seluruh Pegadaian dalam mempersiapkan

diri menjadi pemain regional dan tetap menjadi pilihan utama masyarakat.

c. Membantu pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat

golongan menengah kebawah dan melaksanakan usaha lain dalam rangka

optimalisasi sumber daya perusahaan.

Begitu juga dengan keberadaan kantor Cabang PT. Pegadaian (Persero) di

Garut yang didirikan tepatnya pada tahun 1982 di Jalan Pasar Baru Kecamatan

Garut Kota Kabupaten Garut, salah satu dasar pertimbangan didirikannya kantor

Cabang ini adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dalam hal

pemberian jasa kredit gadai.

3.1.2 Struktur Organisasi dan Uraian Tugas PT. Pegadaian (Persero)

Cabang Garut

Sebagaimana lembaga keuangan atau organisasi pada umumnya,

pembagian tugas (Job Discription) tergambar pada struktur organisasi yang

masing-masing bagian telah sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dengan adanya

pembagian tugas, akan mengetahui aktivitas sesuai dengan tugas, kedudukan,

wewenang dan tanggungjawabnya. Hal ini dapat digambarkan dalam bentuk

gambar struktur organisasi dibawah ini:


62

Pusat

Kantor Wilayah

Cabang

Pimpinan Cabang

Asisten Manajer Usaha Mikro


Penaksir Penyimpan Kasir Administrasi

Analisis Kredit

Administrasi/TU

Gambar 3.1
Struktur Organisasi PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut

Adapun uraian tugas-tugas pengelola PT. Pegadaian (Persero) Cabang

Garut adalah sebagai berikut:

1. Pimpinan Cabang/ Kepala Cabang

Tugas Pokok: Mengelola operasional cabang dengan menyalurkan uang

pinjaman secara hukum gadai dan melaksanakan usaha-usaha lainnya serta

mewakili kepentingan perusahaan dalam hubungan dengan pihak luar/

masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku dalam rangka melaksanakan misi

perusahaan.

Rincian Tugas:

a. Menetapkan taksiran dan mengkoordinasikan kegiatan penaksir barang

jaminan berdasarkan peraturan yang berlaku agar uang pinjaman gadai

yang diberikan sesuai peraturan yang berlaku.


63

b. Mengkoordinasikan penyaluran uang pinjaman berdasarkan taksiran

barang jaminan agar besarnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

c. Mengkoordinasikan pengambilan uang pinjaman, pendapatan sewa

modal dan usaha lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam

usaha pengembalian uang perusahaan.

d. Mengkoordinasikan pengelolaan barang jaminan sesuai dengan ketentuan

yang berlaku dalam rangka menjaga kualitas barang jaminan.

e. Mengkoordinasikan pelaksanaan lelang barang jaminan dan penjualan

Barang Sisa Lelang (BSL) serta pembayaran uang kelebihan sesuai

ketentuan yang berlaku dalam rangka pengembalian uang perusahaan dan

uang nasabah.

f. Melakukan kegiatan promosi sesuai ketentuan yang berlaku dalam

rangka meningkatkan pangsa pasar dan citra baik perusahaan.

g. Mengawasi pelaksanaan tugas pekerjaan operasional, keuangan dan

sumber daya manusia sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar

pelaksanaan tugas berjalan sesuai dengan rencana perusahaan.

h. Membuat laporan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan

pendelegasian wewenang operasional sebagai bahan pertimbangan dalam

program kerja tahun berikutnya.

2. Penaksir

Tugas Pokok: Menaksir barang jaminan untuk menentukan mutu dan nilai

barang sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka mewujudkan

penetapan uang pinjaman yang wajar serta citra baik perusahaan.


64

Rincian Tugas:

a. Menyiapkan sarana kerja sesuai dengan ketentuang yang berlaku agar

pemberian kredit dapat berjalan dengan lancar.

b. Menaksir barang jaminan berdasarkan peraturan yang berlaku untuk

mengetahui mutu dan nilai barang dalam rangka menentukan dan

menetapkan uang kredit gadai.

c. Menaksir barang jaminan yang akan dilelang berdasarkan peraturan yang

berlaku untuk mengetahui mutu dan nilai dalam rangka menentukan

harga dasar barang yang akan dilelang.

3. Penyimpan

Tugas Pokok: Mengelola gudang barang jaminan dengan menerima,

menyimpan, merawat, mengeluarkan dan mengadministrasikan barang

jaminan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka mengamankan

serta menjaga keutuhan barang nasabah.

Rincian Tugas:

a. Secara berkala memeriksa keadaan gudang penyimpanan barang jaminan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka keamanan dan

keutuhan barang jaminan untuk serah terima jabatan.

b. Menerima barang jaminan emas dan perhiasan kepada Wakil Kepala

Cabang atau Kepala Cabang sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk

disimpan dalam gudang penyimpanan barang jaminan emas.

c. Mengeluarkan barang jaminan sesuai dengan ketentuan yang berlaku

untuk keperluasn pelunasan, pemeriksaan atasan dan pihak lain.


65

d. Merawat barang jaminan dan gudang penyimpanan agar barang jaminan

dalam keadaan baik dan aman.

e. Mencatat mutasi penerimaan/ pengeluaran barang jaminan yang menjadi

tanggungjawabnya.

4. Kasir

Tugas Pokok: Melakukan tugas penerimaan dan pembayaran sesuai dengan

ketentuan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan operasional kantor

cabang.

Rincian Tugas:

a. Menerima modal kerja harian dari atasan sesuai dengan ketentuan.

b. Menyiapkan uang kecil untuk kelancaran pelaksanaan tugas.

c. Melaksanakan penerimaan pelunasan uang pinjaman dari nasabah.

d. Membuat Laporan Rekening Koran (LRK).

e. Melaksanakan penerimaan dari transfer, hasil penjualan lelang dan

penerimaan lainnya dan melaksanakan pembayaran untuk pinjaman

kredit dan pembayaran pengeluaran lain-lain.

f. Pembayaran uang kelebihan dan pembayaran pinjaman pegawai.

5. Administrasi

Tugas Pokok: mencatat setiap transaksi pelunasan atas dasar badan Surat

Bukti Kredit (SBK) yang diterima dari Kasir, pada Buku Pelunasan, Buku

Kas dan Ikhtisar Kredit dan pelunasan

Rincian Tugas:

a. Membuat Rekapitulasi Pelunasan


66

b. Mencocokan Rekapitulasi Pelunasan dengan Buku Gudang dan Buku

Pelunasan.

6. Asisten Manajer Usaha Mikro

Tugas Pokok: menyelenggarakan penyaluran uang pinjaman gadai untuk

produk Kreasi dan Krasida dan pelaksanaan usaha lainnya sesuai dengan

ketentuan yang berlaku agar pelaksanaan tugas operasional berjalan lancar.

Rincian Tugas:

a. Menyelenggarakan kegiatan penaksiran barang jaminan berdasarkan

peraturan yang berlaku agar uang pinjaman gadai yang diberikan sesuai

ketentuan.

b. Menyelenggarakan pengeluaran uang pinjaman gadai berdasarkan

taksiran dan pembayaran uang kelebihan serta melaksanakan kegiatan

usaha lain dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat.

c. Membuat laporan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas operasional

sebagai bahan pertimbangan pimpinan cabang dalam menyusun program

kerja tahun berikutnya.

7. Analisis Kredit

Tugas Pokok: melakukan survey untuk kredit Kreasi dan Krasida terhadap

nasabah dengan menganalisa kelayakan usaha serta taksiran barang

jaminannya, agar tidak terjadi risiko yang besar dalam pemberian kredit.

Rincian Tugas:

a. Melakukan survey kepada nasabah dengan memahami prinsip 5C yang

dituangkan dalam perhitungan baik berupa materiil maupun non materiil.


67

b. Memahami adanya kemauan (willingness), adanya kemampuan (ability)

dan adanya pengetahuan (knowledge) untuk menghitung risiko yang

paling kecil

8. Administrasi/ TU

Tugas pokok: mencatat setiap transaksi Kreasi dan Krasida sesuai dengan

kartu angsuran nasabah.

3.1.3 Aktivitas Pokok dan Perkembangan Usaha PT. Pegadaian (Persero)

Cabang Garut

PT. Pegadaian (Persero) merupakan perusahaan yang bergerak pada

bidang pemberian kredit kepada masyarakat ekonomi menengah kebawah, dengan

menggunakan barang jaminan dengan sistem gadai.

Aktivitas PT. Pegadaian (Persero) memindahkan prinsip-prinsip ekonomi

serta terjaminnya keselamatan kekayaan, usaha-usaha yang dilakukan oleh PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut adalah sebagai berikut:

1. Menyalurkan uang pinjaman atas dasar hukum gadai dengan proses yang

mudah, cepat dan aman.

2. Memberikan pembiayaan berupa Kredit Cepat Aman (KCA), Kreasi dan

Krasida. Kredit Cepat Aman (KCA) adalah kredit yang diberikan kepada

masyarakat dengan sistem hukum gadai (jaminan barang yang bergerak).

3. Memberikan aneka jasa seperti: Kucica (Pengiriman Uang), multi

pembayaran online, persewaan gedung, jasa sertifikasi batu mulia, jasa

taksiran dan jasa titipan


68

3.2 Metode Penelitian

3.2.1 Metode yang Digunakan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif,

yaitu suatu metode yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran, atau

lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta

hubungan antar fenomena yang diselidiki. Seperti yang diungkapkan oleh Nazir

(2011:54) adalah sebagai berikut:

Metode deskriptif adalah metode untuk mempelajari masalah-masalah


dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang
hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta
proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu
fenomena.

3.2.2 Operasionalisasi Variabel

Menurut Sugiyono (2010:38) variabel penelitian adalah Segala sesuatu

yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga

diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.

Sesuai dengan judul penelitian yaitu: Analisis Sistem Pengendalian Intern

Kredit pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut, maka terdapat satu variabel

dalam penelitian ini. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel

operasionalisasi variabel berikut:


69

Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel

Variabel Dimensi Indikator


1. Struktur organisasi yang
1. Fungsi Operasi
memisahkan tanggung
2. Fungsi Penyimpanan
jawab fungsional secara
3. Fungsi Akuntansi
tegas
2. Sistem wewenang dan
Sistem Pengendalian
prosedur pencatatan yang 1. Prosedur Pemberian dan
Intern Kredit
memberikan perlindungan Pengembalian Kredit
yang cukup terhadap 2. Dokumen dan Catatan
Mulyadi
kekayaan, utang, Kredit
(2010:164)
pendapatan dan biaya
dan
Suhardjono
3. Praktik yang sehat dalam 1. Pengawasan Kredit
(2003:100)
melaksanakan tugas dan 2. Penyelamatan Kredit
fungsi setiap unit organisasi Bermasalah

4. Karyawan yang mutunya 1. Seleksi Calon Karyawan


sesuai dengan 2. Pendidikan
tanggungjawabnya 3. Pelatihan

3.2.3 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dokumenter.

Menurut Nur dan Bambang (2002:146) data dokumenter adalah Jenis data

penelitian yang antara lain berupa faktur, jurnal, surat-surat, notulen hasil rapat,

memo atau dalam bentuk laporan program. Data dokumenter yang digunakan

dalam penelitian ini yaitu berupa dokumen maupun catatan yang berhubungan

dengan proses kredit yang diberikan oleh pihak PT. Pegadaian (Persero).
70

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa data

primer yang diperoleh langsung dari PT. Pegadaian (Persero). Menurut Sugiyono

(2013:225), data primer adalah Sumber data primer adalah sumber data yang

langsung memberikan data kepada pengumpul data.

3.2.4 Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Penelitian Lapangan (Field Reasearch)

Penelitian lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer, data tersebut

dikumpulkan dan diperoleh dengan cara:

a. Wawancara

Sugiyono (2010:231) mendefinisikan wawancara merupakan Pertemuan

dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab,

sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.

Menurut Esterberg (2002) yang dikutup Sugiyono (2010:233) Terdapat

tiga macam jenis wawancara, adalah sebagai berikut:

1. Wawancara terstruktur: teknik pengumpulan data, bila peneliti atau

pengumpul data telah mengetahui dengan pasti mengenai informasi

apa yang akan diperoleh.

2. Wawancara semi terstruktur: pelaksanaan wawancara ini lebih bebas

dibandingkan dengan wawancara terstruktur.


71

3. Wawancara tak berstruktur: wawancara yang bebas dimana peneliti

tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah disusun secara

sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.

Dari beberapa macam wawancara di atas, peneliti menggunakan

wawancara terstruktur karena penulis berpedoman pada pedoman

wawancara yang telah dibuat yang dijabarkan dari indikator sehingga

penulis akan memperoleh informasi yang pasti mengenai pelaksanaan

dan peran Sistem Pengendalian Intern Kredit pada PT. Pegadaian

(Persero) Cabang Garut.

b. Dokumentasi

Menurut Sugiyono (2010:240) Dokumen, merupakan catatan peristiwa

yang sudah berlalu, bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya

monumental dari seseorang. Teknik ini digunakan untuk memperoleh

data tentang struktur organisasi, daftar dan beberapa contoh dokumen

dan catatan, prosedur kegiatan serta laporan kredit yang ada pada PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut.

2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Menurut Iqbal (2006:5) penelitian kepustakaan adalah Penelitian yang

dilaksanakan dengan menggunakan literature (kepustakaan), baik berupa buku,

catatan maupun laporan hasil penelitian dari penelitian terdahulu.


72

3.2.5 Teknik Pengolahan Data

Suharsimi (2010:53) menyebutkan bahwa pengolahan data adalah

Mengubah data mentah menjadi data yang lebih bermakna. Teknik pengolahan

data yang dilakukan penulis adalah dengan menggunakan analisis data.

Sugiyono (2010:244) menyebutkan bahwa analisis data adalah sebagai

berikut:

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data
yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi,
dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan
kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih
mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan
sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, adalah analisis data

kualitatif. Analisis data kualitatif oleh Miles dan Huberman (1984), sebagaimana

yang dikutip oleh Sugiyono (2010:246) dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Data yang muncul berupa kata-kata dan bukan merupakan rangkaian angka.

Data tersebut mungkin telah dikumpulkan dalam berbagai macam cara

(melalui pengamatan, wawancara, pita rekaman) dan bila diproses (melalui

pencatatan, pengetikan, penyuntingan dengan alat-alat tulis) maka data

kualitatif tersebut tetap menggunakan kata-kata yang biasanya disusun

kedalam teks atau kalimat yang diperluas.

2. Prosedur analisis data menurut Miles dan Huberman (1984), yang dikutip

sugiyono (2008:246) terdiri dari tiga kegiatan yang terdiri secara bersamaan,

meliputi:

a. Data Reduction (Reduksi Data), yaitu merangkum, memilih hal-hal yang

pokok, memfokuskan pada hal yang penting, dicari tema dan polanya.
73

Dalam penelitian ini yang pertama kali dilakukan oleh seorang peneliti

dalam menganalisis data adalah dengan reduksi data, dengan demikian

data yang telah direduksi oleh peneliti dapat memberikan kemudahan di

dalam memberikan gambaran yang jelas tentang pelaksanaan dan

peranan Sistem Pengendalian Intern Kredit pada PT. Pegadaian (Persero)

Cabang Garut.

b. Data Display (penyajian data), yaitu kumpulan dari informasi yang

tersusun secara sistematis dan memberikan kemungkinan adanya sebuah

penarikan simpulan dan pengambilan suatu tindakan atas hasil penelitian.

Dari teknik mereduksi data, maka langkah selanjutnya yang dilakukan

oleh peneliti yaitu penyajian data, dimana penyajian data ini peneliti

melakukan dalam bentuk tabel. Melalui penyajian data ini, maka data

terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan mudah

dipahami.

c. Penarikan Simpulan atau Verification, yaitu sebuah jalinan keterkaitan

pada saat sebelum, selama dan sesudah pengumpulan data dan

membentuk suatu wawasan umum yang disebut dengan analisis. Dari

teknik analisis data yang terakhir, yaitu peneliti menggunakan penarikan

kesimpulan yang dilakukan secara terus-menerus sepanjang proses

penelitian. Agar dalam menganalisis data peneliti mendapatkan suatu

kesimpulan yang jelas dan mudah dipahami.


74

3.2.6 Tahap Penelitian

Adapun tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan oleh penulis

digambarkan sebagai berikut:

Pendahuluan
Penelitian Pendahuluan

Identifikasi Masalah

Kerangka Pemikiran

Pengumpulan Data

Pengolahan Data

Pembahasan

Simpulan
Gambar 3.2
Tahapan Penelitian
Saran

Gambar 3.2

Tahap Penelitian
75

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN PELAKSANAAN

SISTEM PENGENDALIAN INTERN KREDIT PADA PT.

PEGADAIAN (PERSERO) CABANG GARUT

Lingkup pembahasan atas sistem pengendalian intern kredit pada PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut mencakup pembahasan yang berhubungan

dengan unsur-unsur sistem pengendalian intern kredit, yaitu struktur organisasi

yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas, sistem wewenang dan

prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap

kekayaan, utang, pendapatan dan biaya, praktik yang sehat dalam melaksanakan

tugas dan fungsi setiap unit organisasi serta karyawan yang mutunya sesuai

dengan tanggungjawabnya.

4.1 Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional

secara tegas

Struktur organisasi merupakan salah satu unsur sistem pengendalian intern

dimana di dalamnya terdapat gambaran yang mencerminkan kerangka pembagian

tugas dari masing-masing bagian serta secara keseluruhan dari fungsi-fungsinya

yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan

organisasi. PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut menerapkan struktur organisasi

sesuai dengan aktivitas yang ada disertai dengan rincian tugas dan tanggungjawab

sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya.


76

Guna menunjang sistem pengendalian intern kredit PT. Pegadaian

(Persero) Cabang Garut telah membentuk perangkat perkreditan, yaitu sebagai

berikut:

a. Fungsi Operasi

Fungsi operasi pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut dilaksanakan oleh

penaksir dan kasir. Fungsi penaksir adalah bertugas untuk menaksir barang

jaminan yang diserahkan oleh nasabah dan menentukan nilai uang pinjaman

yang dapat dipinjamkan kepada nasabah. Sedangkan fungsi kasir pada PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut yaitu kasir bertanggungjawab atas

pengeluaran dan pemasukan uang kas serta penyimpanan kas kecil (petty

cash).

b. Fungsi Penyimpanan

Fungsi penyimpan barang pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut

dilaksanakan oleh penyimpan. Penyimpan bertanggungjawab penuh terhadap

barang jaminan nasabah, mulai dari barang jaminan masuk sampai barang

jaminan keluar dari gudang. Sedangkan untuk penyimpan uang dilaksanakan

oleh pimpinan cabang yang disimpan dalam brangkas, yang hanya diketahui

oleh pimpinan cabang.

c. Fungsi Akuntansi

Fungsi akuntansi pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut dilaksanakan

oleh bagian administrasi. Bagian administrasi ini mempunyai tugas yaitu,

bertugas melakukan pencatatan ke buku yang bersangkutan atas transaksi-

transaksi yang terjadi pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut.


77

Berdasarkan penelitian, struktur organisasi yang ada pada PT. Pegadaian

(Persero) Cabang Garut dapat dikatakan kurang baik, hal ini dapat dilihat dari:

1. Adanya rangkap jabatan antara fungsi operasi yang merangkap sebagai fungsi

akuntansi.

2. Dimana rangkap jabatan ini melibatkan kasir yang melakukan dua pekerjaan

sekaligus, yaitu kasir selaku fungsi operasi yang melaksanakan pengeluaran

dan pemasukan uang kas serta penyimpanan kas kecil (petty cash), juga

selaku fungsi administrasi yang melaksanakan pencatatan atas transaksi.

3. Tidak adanya pemisahan fungsi ini dapat memberikan kemudahan ruang

gerak karyawan untuk melakukan tindakan penyimpangan, penyelewengan,

penyalahgunaan atau kecurangan aktiva perusahaan. Alasan terjadi rangkap

jabatan adalah untuk melakukan efisiensi dalam hal pengeluaran perusahaan.

Menurut Mulyadi (2010:164) Struktur organisasi merupakan framework

pembagian tanggungjawab fungsional kepada unit organisasi untuk melaksanakan

kegiatan perusahaan yang menggambarkan secara jelas adanya pemisahan

tanggungjawab fungsional antara fungsi akuntansi, operasi dan penyimpan.

4.2 Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan

perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan

biaya

Sistem wewenang dan prosedur pencatatan merupakan alat yang

digunakan untuk mengolah data yang berhubungan dengan usaha termasuk usaha

perkreditan serta bertujuan untuk menghasilkan umpan balik dalam bentuk


78

laporan-laporan yang diperlukan oleh manajemen untuk mengawasi usahanya, dan

bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan seperti pemegang saham, kreditur,

lembaga-lembaga pemerintah untuk menilai hasil operasi perusahaan.

4.2.1 Prosedur Pemberian dan Pengembalian Kredit

4.2.1.1 Prosedur Pemberian Kredit

Sebelum membahas proses pemberian kredit pada PT. Pegadaian (Persero)

Cabang Garut ada baiknya mengetahui tentang golongan kredit, uang pinjaman

dan tarif sewa modal terlebih dahulu untuk menentukan suatu kredit termasuk

dalam golongan kredit apa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah

ini:

Tabel 4.1
Daftar Uang Pinjaman, Tarif sewa Modal Berdasarkan Golongan Kredit

Pembiayaan KCA (Gadai Konvensional)


Uang Pinjaman (UP) Tarif Sewa Modal Lama Pinjaman
Golongan
Min Max Emas Non-Emas (Hari)
A 50.000 500.000 0,750%xUP 0,750%xUP 1 s/d 120
B1 500.001 1.000.000 1,150%xUP 1,150%xUP 1 s/d 120
B2 1.000.001 2.500.000 1,150%xUP 1,150%xUP 1 s/d 120
B3 2.500.001 5.000.000 1,150%xUP 1,150%xUP 1 s/d 120
C1 5.000.001 10.000.000 1,150%xUP 1,150%xUP 1 s/d 120
C2 10.000.001 15.000.000 1,150%xUP 1,150%xUP 1 s/d 120
C3 15.000.001 20.000.000 1,150%xUP 1,150%xUP 1 s/d 120
D 20.000.001 1.000.000.000 1,000%xUP 1,000%xUP 1 s/d 120
Sumber : PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut

Tabel 4.1 merupakan tabel pembiayaan Kredit Cepat Aman (KCA) pada

PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut, terdiri dari golongan, uang pinjaman, tarif

sewa modal dan lama pinjaman. Perhitungan bunga berdasarkan pada kelipatan 15
79

hari dan dalam pemberian tarif sewa modal nasabah juga dikenakan biaya

administrasi yang dipotong langsung dari uang pinjaman.

Setelah mengetahui tentang golongan kredit, uang pinjaman dan tarif sewa

modal maka selanjutnya adalah mengetahui pengelompokan dan spesifikasi

barang jaminan berdasarkan jenis barang jaminan pada PT. Pegadaian (Persero)

Cabang Garut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.2
Pengelompokan dan Spesifikasi Barang Jaminan Berdasarkan Jenis
Barang Jaminan

Jenis Barang
Pengelompokan Barang Jaminan Spesifikasi
Jaminan
Televisi, DVD, VCD, LCD, tape,
radio, video games, mesin fax, mesin
Barang Elektronik
fotocopy, printer, receiver parabola,
mesin hitung, dll
Komputer Laptop, notebook, personal komputer
Sepeda motor, traktor, pompa air,
Barang Motor mesin pemotong rumput, generator,
Gudang kompresor, gergaji mesin
Kamera Kamera digital, tustel, handycam
Telepon Handphone, pesawat telepon
MTB, sepeda mini, sepeda balap,
Sepeda
sepeda klasik, sepeda gunung
Barang lain Gitar listrik, gitar akustik, gamelan
Barang Perhiasan Perhiasan emas, perak, dll
Kantong Batu Mulia Permata, intan, berlian, dll
Barang Mobil keluaran terbaru, mobil klasik,
Barang-barang non perhiasan
Mewah motor besar, dll
Sumber : PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut

Tabel 4.2 menjelaskan barang yang dapat diterima sebagai barang jaminan

untuk memperoleh kredit. Untuk barang non-emas maka harus disertakan

kelengkapan barang jaminannya seperti kardus, kwitansi, kartu garansi dan lain-
80

lain. Untuk barang jaminan non emas, taksiran gadainya sekitar 50% dari harga

second barang tersebut.

Prosedur pemberian kredit pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut

adalah sebagai berikut:

1. Prosedur permintaan kredit

a. Nasabah mengambil dan mengisi Formulir Permintaan Kredit (FPK).

b. Nasabah menyerahkan FPK yang telah diisi dengan melampirkan Bukti

Pendukung (BP) yaitu fotocopy KTP/ identitas lainnya serta Barang

Jaminan (BJ) yang akan dijaminkan.

2. Prosedur taksiran barang jaminan

a. Penaksir menerima FPK dengan lampiran fotocopy KTP/ identitas

lainnya beserta Barang Jaminan (BJ) dari nasabah.

b. Penaksir memeriksa kelengkapan kebenaran pengisian FPK dan Barang

Jaminan (BJ) yang dijaminkan.

c. Penaksir menandatangani FPK (pada badan dan kitirnya) sebagai tanda

bukti penerimaan Barang Jaminan (BJ) dari nasabah.

d. Menyerahkan kitir FPK kepada nasabah.

e. Penaksir melakukan taksiran untuk menentukan nilai Barang Jaminan

(BJ) sesuai dengan Buku Peraturan Menaksir (BPM) dan Surat Edaran

(SE) yang berlaku.

f. Menentukan besarnya Uang Pinjaman (UP) yang dapat diberikan kepada

nasabah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.


81

g. Mencatat nilai taksiran dan uang pinjaman pada Buku Taksiran Kredit

(BTK), menerbitkan Surat Bukti Kredit (SBK), dan menandatangani

SBK rangkap dua sesuai dengan kewenangannya.

3. Prosedur pencairan kredit

a. Penaksir menyerahkan SBK asli dan SBK dwilipat kepada kasir.

b. Kasir menerima SBK asli dan SBK dwilipat dari penaksir.

c. Kasir mencocokan SBK tersebut dengan kitir FPK yang diserahkan oleh

nasabah.

d. Kasir menyiapkan dan melakukan pembayaran UP sesuai dengan jumlah

yang tercantum pada SBK.

e. Kasir menyerahkan SBK asli beserta uang pinjaman kepada nasabah

sedangkan SBK dwilipat diserahkan kepada bagian administrasi.

f. Membuat Laporan Rekening Koran (LRK) berdasarkan Buku Kredit

(BK) dan mencocokannya dengan Buku Penerimaan Barang Jaminan

(BPBJ) yang di buat penaksir

4. Prosedur pencatatan

a. Bagian Administrasi menerima badan SBK dwilipat, Laporan Rekening

Koran (LRK) dan kitir FPK dari kasir.

b. Mencatat semua transaksi pemberian kredit semua golongan berdasarkan

SBK dwilipat yang diterima dari kasir kedalam Kas Kredit (KK) rangkap

dua, selanjutnya dicatat di dalam Buku Kredit dan Buku Kas rangkap

dua.
82

c. Pada akhir jam kantor, petugas administrasi membuat rekapitulasi kredit

berdasarkan badan SBK dwilipat dan Buku Kredit serta mencatatnya

pada Ikhtisar Kredit dan Pelunasan (IKPL).

5. Prosedur penyimpanan barang jaminan

a. Penaksir memasukan barang jaminan ke dalam kantong dan

menempelkan kitir dwilipat SBK. Setelah itu kantong barang jaminan di

plombir.

b. Penaksir menyerahkan barang jaminan yang telah di plombir kepada

penyimpan.

c. Penyimpan menerima dan menghitung Barang Jaminan (BJ) yang

diserahkan oleh penaksir.

d. Pada akhir jam tutup kantor, penyimpan mencocokan Barang Jaminan

(BJ) yang telah diterima dengan jumlah yang tertera pada buku

penerimaan barang jaminan dan apabila telah cocok, petugas

membubuhkan tandatangan pada kolom penerimaan dan di catat di

Buku Gudang (BG).

e. Barang Jaminan (BJ) yang di terima di simpan di gudang sesuai dengan

golongan, rubik dan bulan kredit Barang Jaminan (BJ).

Adapun tahapan atau langkah-langkah pemberian kredit gadai pada PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut dapat dilihat pada gambar Flow Chart sebagai

berikut:
83

Nasabah Penaksir Kasir Administrasi Penyimpan

1
FPK
BJ
BP 2 BJ
FPK SBK 5
FPK SBK 2

2 LRK

Diisi&dilengkapi Memeriksa
bukti pendukung kelengkapan & Dicocokan N
catat
melaksanakan
taksiran
1
BJ SBK IKPL
2 4
BP
3
BG
T
Pembayaran dan
Pendistribusian
FPK T
FPK
1
BP SBK 2

1
SP
2 catat

LRK
catat
BK

BPBJ

SBG 1 Keterangan:
Rp FPK : Formulir Permintaan Kredit
BJ : Barang Jaminan
BP : Bukti Pendukung
SBK : Surat Bukti Kredit
BPBJ : Buku Penerimaan Barang Jaminan
SP : Slip Penerimaan
LRK : Laporan Rekening Koran
BK : Buku Kredit
IKPL : Ikhtisar Kredit dan Pelunasan
BG : Buku Gudang
Rp : Uang Tunai

Gambar 4.1
Flow Chart Prosedur Pemberian Kredit Gadai
84

Berdasarkan penelitian, prosedur pemberian kredit pada PT. Pegadaian

(Persero) Cabang Garut telah dilaksanakan dengan memadai, hal ini dapat dilihat

dengan adanya tahapan-tahapan pemberian kredit sebagai berikut:

1. Adanya prakarsa dan analisa permohonan kredit yaitu berupa formulir

permintaan kredit (FPK) dari nasabah, hal ini dapat dilihat pada prosedur

permintaan kredit.

2. Adanya tahap pemberian rekomendasi, apabila nilai barang jaminan yang

telah ditaksir kurang dari nilai yang dibutuhkan oleh nasabah maka penaksir

akan memberikan rekomendasi sesuai dengan taksiran barang jaminan. Hal

ini dapat dilihat pada prosedur taksiran barang jaminan.

3. Adanya tahap pemberian putusan kredit yaitu pemberian kredit kepada

nasabah yang telah memenuhi seluruh persyaratan sesuai dengan ketentuan

perusahaan. Pemberian kredit dapat dilihat pada prosedur taksiran barang

jaminan.

4. Adanya tahapan persetujuan pencairan kredit, persetujuan pencairan kredit ini

telah disetujui dan diotorisasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam

tahap persetujuan juga telah termasuk prosedur pemberian kredit, prosedur

pencatatan dan prosedur penyimpanan barang jaminan.

Menurut Suhardjono (2003:195) Prosedur kredit dibagi dalam empat

tahap diantaranya: tahapan prakarsa dan analisa permohonan kredit, tahapan

pemberian rekomendasi kredit, tahapan pemberian putusan dan tahapan

persetujuan pencairan kredit.


85

4.2.1.2 Prosedur Pengembalian Kredit

Setelah prosedur pemberian kredit tentunya setiap nasabah berkewajiban

mengembalikan pinjaman dan membayar bunganya. Pelunasan atau pengembalian

kredit dapat dilakukan selama kredit yang diberikan belum jatuh tempo dan

barang jaminan belum dilelang. Berikut ini adalah prosedur dari proses pelunasan

atau pengembalian kredit:

1. Nasabah menyerahkan SBK asli.

2. Kasir menerima SBK asli dari nasabah.

3. Kasir memeriksa keabsahan SBK yang diterima, melakukan perhitungan

jumlah yang harus di bayar oleh nasabah yaitu: Pokok Pinjaman + Sewa

Pinjaman (bunga).

4. Nasabah menyerahkan sejumlah uang untuk pelunasan sesuai dengan jumlah

yang harus di bayar (pokok pinjaman + bunga).

5. Kasir menerima jumlah pembayaran dari nasabah, menerbitkan dan

menyerahkan Slip Pelunasan (SP) kepada nasabah sebagai tanda bukti

pelunasan dan membubuhkan cap lunas, tanggal dan paraf pada SBK asli

yang dilunasi, baik pada badan SBK, kitir dalam (D) dan kitir luar (L). Serta

kasir:

A. Melakukan distribusi SBK:

a) Kitir bagian dalam (D) kepada penyimpan.

b) Kitir bagian luar (L) kepada nasabah.

c) Badan SBK kepada bagian administrasi.

B. Melakukan pencatatan ke dalam Laporan Rekening Koran (LRK).


86

6. Bagian penyimpan menerima kitir SBK bagian dalam (D), memeriksa cap

lunas, tanggal dan paraf kasir, mengambil Barang Jaminan (BJ) ke gudang

dengan cara mencocokan kitir SBK bagian dalam (D) dengan kitir SBK yang

menempel di Barang Jaminan (BJ).

7. Penyimpan menyerahkan Barang Jaminan (BJ) kepada nasabah dengan cara

mencocokan nomor kitir SBK bagian dalam (D) dengan kitir SBK bagian luar

(L) yang di pegang nasabah.

8. Penyimpan melakukan pencatatan ke dalam Buku Gudang (BG). Setiap akhir

jam kerja melakukan pencocokan/ pemeriksaan:

a. Mencocokan kitir dwilipat SBK asli yang dimasukan ke dalam lispen

dengan bulan kredit, nomor rubik dan uang pinjaman

b. Mencocokan jumlah kitir yang ada dengan jumlah kitir pada pengeluaran

Barang Jaminan (BJ) (dengan meningat juga kitir yang ada pada pegawai

barang kasep/ pengikat pengikat/ penaksir/ KPK)

9. Bagian administrasi mencatat setiap transaksi pelunasan atas dasar badan

SBK yang diterima dari kasir pada Buku Pelunasan, Buku Kas, Ikhtisar

Kredit dan Pelunasan serta membuat Rekapitulasi Pelunasan dan mencocokan

dengan Buku Gudang dan Buku Pelunasan.

Adapun tahapan atau langkah-langkah pengembalian atau pelunasan kredit

gadai pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut dapat dilihat pada gambar Flow

Chart sebagai berikut:


87

Nasabah Kasir Penyimpan Administrasi


1
1 SBK D L

SBK 1
D L 2 1
Memeriksa keaslian D SBK
SBK dan menghitung
Sewa Modal
Memeriksa catat

RP RP
Pencocokan Lihat
1
Prosedur
SP 2 D
akutansi
kantor cabang
BJ
1
SP

Ditandatangani dan di Penyerahan


cap Lunas Keterangan

didistribusikan catat SBK : Surat Bukti Kredit


Rp : Uang Tunai
L SP : Slip Pelunasan
1 1
SP SBK D L 3 BG L : Kitir SBK Bagian Luar
BJ : Barang Jaminan
D : Kitir SBK Bagian Dalam
catat LRK : Laporan Rekening Koran
BPL : Buku Pelunasan
BG : Buku Gudang
LRK
BPL

BJ

Gambar 4.2
Flow Chart Prosedur Pengembalian atau Pelunasan Kredit Gadai

Berdasarkan penelitian, prosedur pengembalian kredit pada PT. Pegadaian

(Persero) Cabang Garut telah dilakukan dengan memadai. Hal ini dapat dilihat

dari:

1. Nasabah yang membayar uang pinjaman beserta sewa pinjaman (bunga) yang

dapat dilihat pada poin satu sampai dengan empat.

2. Kasir menerima jumlah pembayaran dari nasabah, menerbitkan dan

menyerahkan Slip Pelunasan (SP) kepada nasabah sebagai tanda bukti


88

pelunasan dan membubuhkan cap lunas. Hal ini dapat dilihat pada poin lima

sampai tujuh.

3. Pihak pegadaian mencatat transaksi pelunasan tersebut pada Buku Pelunasan,

Buku Kas dan Ikhtisar Kredit dan Pelunasan dan membuat Rekapitulasi

Pelunasan dan mencocokan dengan Buku Gudang dan Buku Pelunasan sesuai

dengan yang tertera pada poin delapan dan sembilan.

Menurut Suhardjono (2003:197), dalam tahap pengembalian kredit perlu

memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

4. Debitur dalam memenuhi kewajibannya untuk membayar.


Dalam memenuhi kewajibannya, debitur menyerahkan pembayaran
baik pembayaran pokok, bunga atau lainnya apabila ada.
5. Kasir menerima pembayaran dari debitur.
Kasir menerima sejumlah uang dari debitur sebagai pembayaran, baik
pokok, bunga ataupun yang lainnya.
6. Pencatatan oleh bagian perkreditan.
Bagian perkreditan mencatat jumlah pembayaran yang dilakukan oleh
debitur, kemudian mengeluarkan struk sisa pinjaman yang dipotong
sebagai pemberitahuan mengenai jumlah kewajiban yang masih harus
dipenuhi debitur.
7. Pencatatan oleh bagian akuntansi.
Bagian akuntansi menerima bukti bembayaran dari bagian kredit,
dilakukan pencatatan pada buku besar piutang dan dicockannya
dengan buku kas masuk bagian kredit.

4.2.2 Dokumen dan Catatan Kredit

4.2.2.1 Dokumen Kredit

Dokumen dan catatan pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut

merupakan media informasi bagi seluruh bagian kerja yang berbeda dan

memberikan keyakinan yang memadai bahwa seluruh aktiva perusahaan

dikendalikan dengan baik dan seluruh transaksi kredit dicatat dengan benar.
89

Dokumen kredit yang digunakan PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut

adalah sebagai berikut:

1. Bukti Pendukung

Bukti pendukung merupakan identitas/ data nasabah. Bukti pendukung yang

diperlukan pihak PT. Pegadaian (Persero) adalah KTP atau SIM yang masih

berlaku.

2. Formulir Permintaan Kredit (FPK)

Formulir Permintaan Kredit (FPK) adalah dokumen yang digunakan untuk

mengajukan permohonan kredit gadai pada PT. Pegadaian (Persero).

Dokumen ini digunakan sebagai dasar dalam pemberian kredit, yang

didalamnya memuat informasi mengenai identitas nasabah, data mengenai

permohonan kredit gadai dan data mengenai barang jaminan.

3. Surat Bukti Kredit (SBK)

Surat Bukti Kredit (SBK) adalah dokumen yang menunjukan bahwa nasabah

telah menerima kredit dengan mewajibkan membayar bunga dan membayar

uang pinjaman yang telah disetujui dalam jangka waktu tertentu. Di dalam

dokumen memuat informasi perjanjian kredit yang akan ditanda tangani

kedua belah pihak.

Berdasarkan penelitian, dokumen yang ada pada PT. Pegadaian (Persero)

Cabang Garut telah memadai, hal ini dilihat dari dokumen-dokumen yang

digunakan pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut sudah memenuhi syarat

yang lengkap untuk merekam terjadinya transaksi, yaitu sebagai berikut:


90

1. Dokumen yang berkaitan dengan identitas nasabah, ada pada Dokumen

Pendukung (DP) yaitu poin satu. Dokumen ini berupa KTP, SIM ataupun

Paspor yang masih berlaku. Dokumen ini merupakan dokumen yang paling

penting dikarenakan mencakup seluruh identitas nasabah dan merupakan

syarat utama dalam pemberian kredit.

2. Dokumen yang berhubungan dengan permohonan kredit dan dokumen

kepemilikan barang jamianan adalah Formulir Permintaan Kredit (FPK). FPK

merupakan formulir yang diisi oleh nasabah saat mengajukan permohonan

kredit dan di dalam FPK memuat informasi mengenai barang jaminan.

3. Dokumen yang berkaitan dengan perjanjian dan penyelamatan kredit ada

pada Surat Bukti Kredit (SBK). SBK memuat informasi mulai dari data

nasabah, perjanjian utang piutang dengan jaminan gadai hingga pada

pelelangan yang merupakan penyelamatan kredit pada PT. Pegadaian

(Persero).

Suhardjono (2003:111) menyebutkan bahwa dokumen kredit yang

sekurang-kurangnya harus ada:

1. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan identitas atau legalitas


nasabah dan usahanya.
2. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan permohonan, analisa dan
evaluasi kredit, negosiasi, rekomendasi, persetujuan kredit.
3. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan perjanjian dan pencairan
kredit.
4. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kepemilikan barang
jaminan dan pengikatannya.
5. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pembinaan, pengawasan
dan penyelamatan atau penyelesaian kredit.
91

4.2.2.2 Catatan Kredit

Catatan kredit yang digunakan pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang

Garut adalah sebagai berikut:

1. Buku Kredit (BKr)

Adalah catatan yang digunakan untuk mendebet rekening kas apabila terjadi

penerimaan kas atau saat pelunasan dan mengkredit rekening kas apabila

terjadi pengeluaran kas atau saat pemberian kredit.

2. Buku Rekapitulasi Kredit (RKr)

Adalah catatan yang digunakan untuk merekap kembali kredit yang

diberikan, kemudian mengakumulasikan jumlah kreditnya setiap bulan

3. Buku Penerimaan Barang Jaminan (BPBJ)

Adalah catatan yang digunakan untuk mencatat barang jaminan yang diterima

oleh PT. Pegadaian (Persero) Cabang, yang diisi setiap ada permintaan kredit.

4. Buku Gudang

Adalah catatan yang digunakan untuk memcatat masuknya barang jaminan

yang diterima oleh pihak PT. Pegadaian (Persero).

5. Ikhtisar Kredit dan Pelunasan

Adalah catatan yang berisi saldo awal yang diambil dari saldo akhir bulan

rekapitulasi kredit yang diberikan berdasarkan golongan kredit. Data

pelunasan piutang diambil dari saldo akhir bulan rekapitulasi kredit dan

taksiran serta data pelelangan diambil dari berita acara lelang. Buku

pelunasan digunakan untuk mencatat data barang jaminan dari nasabah yang

sudah ditebus.
92

Berdasarkan penelitian, catatan yang ada pada PT. Pegadaian (Persero)

Cabang Garut telah memadai, hal ini dilihat dari catatan-catatan yang ada pada

PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut, adalah sebagai berikut:

1. Pencatatan pembayaran kewajiban-kewajiban yang harus dilunasi, pencatatan

transaksi kredit pada saat pelunasan kredit dan pencatatan transaksi kredit

pada saat penghapusan sebagai debitur tercatat dalam Ikhtisar Kredit dan

Pelunasan yang ada pada poin lima.

2. Pencatatan transaksi kredit selama fasilitas kredit tersebut berjalan, dicatat

dalam Buku Kredit.

3. Catatan dibuat setiap hari, diarsipkan secara rutin dan direkap setiap bulan.

Hasil rekap yang dibuat oleh Pegadaian telah dibuat secara rangkap. Rangkap

satu untuk Pegadaian Cabang Garut dan rangkap dua dikirimkan ke Kantor

Wilayah (KANWIL) setiap bulan.

Menurut Suhardjono (2003:226) secara garis besar catatan diklasifikasikan

pada Pencatatan pembayaran kewajiban-kewajiban yang harus dilunasi oleh

debitur, pencatatan transaksi kredit selama fasilitas kredit tersebut berjalan,

pencatatan transaksi kredit pada saat pelunasan kredit dan pencatatan transaksi

kredit pada saat penghapusan sebagai debitur.

Suhardjono (2003:225) mengemukakan bahwa catatan yaitu sebagai

Pengelolaan atas dokumen-dokumen yang diperoleh selama kredit berlangsung,

pengelolaan tersebut mencakup pencatatan/ registrasi, penyimpanan berkas dan

pengamanan berkas kredit.


93

4.3 Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit

organisasi

Organisasi harus menerapkan sistem pengendalian intern yang dapat

melakukan pencegahan sedini mungkin terhadap hal-hal yang dapat merugikan

organisasi serta terjadinya praktek-praktek yang tidak sehat.

4.3.1 Pengawasan Kredit

Pengawasan kredit pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut dilakukan

secara langsung oleh pimpinan cabang dan penaksir.

A. Pengawasan yang dilakukan oleh Pimpinan Cabang

1. Mengawasi pelaksanaan tugas pekerjaan operasional, keuangan dan

sumber daya manusia sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar

pelaksanaan tugas berjalan sesuai dengan rencana perusahaan.

2. Melakukan monitoring terhadap seluruh kegiatan yang ada pada PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut.

3. Mengkoordinasikan penyaluran uang pinjaman berdasarkan taksiran

barang jaminan agar besarnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

4. Menjadi Kuasa Pemutus Kredit (KPK).

5. Mengirimkan surat pemberitahuan lelang kepada nasabah apabila nasabah

tidak tepat waktu (lebih dari 120 hari) dalam membayar kredit.

B. Pengawasan yang dilakukan oleh penaksir

Penaksir lebih berperan penting dalam melakukan pengawasan secara

penuh untuk produk Kredit Cepat Aman (KCA). Karena dalam pemberian
94

kredit ini penaksir langsung mengawasi, mengotorisasi dan mengecek

mengenai keabsahan serta kelengkapan dokumen dan barang jaminan yang

dijadikan sebagai jaminan kredit apakah telah sesuai dengan ketentuan yang

berlaku pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut.

Berdasarkan penelitian, pengawasan kredit PT. Pegadaian (Persero)

Cabang Garut telah dilaksanakan dengan memadai, hal ini dapat dilihat dari:

1. Pengawasan kredit yang tidak hanya dilakukan oleh pimpinan cabang juga

dibantu oleh penaksir.

2. Perencanaan dokumen dan catatan yang cukup baik sebagai media yang

digunakan untuk merekam wewenang dalam memberi otorisasi terlaksananya

transaksi pada perusahaan, sehingga setiap transaksi terjadi atas dasar

otorisasi yang memiliki wewenang untuk menyetujui pemberian kredit.

Menurut Suhardjono (2003:230) pengawasan kredit adalah Kegiatan

pengawasan/ monitoring terhadap tahapan-tahapan proses pemberian kredit,

pejabat kredit yang melaksanakan proses pemberian kredit serta fasilitas

kreditnya.

4.3.2 Penyelamatan Kredit Bermasalah

Upaya-upaya yang dilakukan oleh PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut

dalam penyelamatan kredit bermasalah adalah dengan cara sebagai berikut:

1. Penjadwalan kembali (Rescheduling)

Penjadwalan kembali diberikan oleh PT. Pegadaian kepada nasabah apabila

nasabah hendak memperbaharui kredit dengan hanya membayar bunganya


95

saja. Pada Surat Bukti Kredit (SBK), kitir dalam dan kitir luar diberi tanda

cap UG artinya Ulang Gadai sebagai tanda bahwa nasabah hanya

membayar bunga/sewa modal.

2. Persyaratan kembali (Reconditioning)

Persyaratan kembali dilakukan kepada nasabah dengan cara memperpanjang

jangka waktu pinjaman kredit dengan membayar sewa modal dan biaya

penyimpanan/ administrasi (PA) dan nasabah bisa memperpanjang jangka

waktu pinjaman dengan cara menambah pinjaman jika nilai taksiran barang

jaminan terpenuhi.

3. Penataan kembali pinjaman (Restructuring)

Penataan pinjaman diberikan kepada nasabah yang hendak mengajukan

permohonan penundaan pelaksanaan lelang.

4. Pihak PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut melakukan panagihan melalui

telepon kepada nasabah apabila melewati jatuh tempo, yaitu lebih dari 120

hari.

5. Apabila nasabah tidak merespon panggilan telepon maka pihak PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut menerbitkan surat teguran pertama. Jika

dalam jangka waktu tujuh hari setelah jatuh tempo belum ada pembayaran

maka perusahaan akan memberikan surat teguran kedua. Dalam jangka waktu

maksimum tujuh hari nasabah belum melakukan pembayaran maka

perusahaan akan memberikan surat teguran yang ketiga.

Upaya penyelamatan terakhir kredit bermasalah pada PT. Pegadaian

(Persero) Cabang Garut adalah dengan cara melelang barang jaminan. Lelang
96

adalah upaya pengembalian uang pinjaman beserta bunga/sewa modal, yang tidak

dilunasi sampai batas waktu yang ditentukan. Adapun prosedur lelang pada PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut adalah sebagai berikut:

1. Pelaksana Lelang menyiapkan Berita Acara Penyerahan Barang Jaminan

yang Akan Dilelang (BAPBJAL) yang dilampiri Daftar Barang Jaminan yang

Akan Dilelang (DBJYAL), formulir penjualan lelang beserta barang

jaminannya dan Cocokan dengan fisik barang jaminan yang akan dilelang.

2. Menetapkan harga penjualan lelang dengan pedoman sebagai berikut:

a. Apabila taksiran baru lebih rendah dari uang pinjaman + sewa modal

penuh, maka harga minimal lelang harus sebesar uang pinjaman + sewa

modal, dibulatkan ke atas menjadi ratusan rupiah penuh.

b. Apabila taksiran baru lebih tinggi dari uang pinjaman + sewa modal,

maka harga minimal lakunya lelang adalah sebesar uang pinjaman

maksimal berdasarkan taksiran baru + sewa modal penuh berdasarkan

uang pinjaman penuh.

3. Kasir menerima Berita Acara Lelang (BAL), Register Barang Sisa Lelang

(RBSL) dan uang hasil penjualan lelang dari pelaksana lelang (pimpinan

cabang) dan atas dasar Berita Acara Lelang (BAL) dan uang tunai yang

diterima dicatat pada Laporan Rekening Koran (LRK), dan uang disimpan

dibrankas. Berita Acara Lelang (BAL) dan Register Barang Sisa Lelang

(RBSL) diserahkan kepada petugas bagian administrasi.

4. Bagian administrasi menerima Berita Acara Lelang (BAL) dan Register

Barang Sisa Lelang (RBSL) dari kasir, mencatat nomor-nomor barang


97

jaminan yang dilelang dari buku kredit serta membuat Buku Penjualan Lelang

dan berdasarkan bukti-bukti tersebut dibuat Kas Debet dan dicatat kedalam

Buku Kas.

Adapun tahapan atau langkah-langkah lelang pada PT. Pegadaian

(Persero) Cabang Garut dapat dilihat pada gambar Flow Chart sebagai berikut:

Pelaksana Lelang Kasir Administrasi

Pelaksanaan lelang

RP RP
BAL BAL
BAL
1 RBSL
RBSL 1
RBSL
2 FPL
RBSL
3 BKL
RBSL
1

catat
Lihat Prosedur akutansi
kantor cabang

Keterangan:

LRK RP : Uang Tunai


BAL : Barang Sisa Lelang
RBSL : Rekapitulasi Barang Sisa Lelang
LRK : Lapran Rekening Koran
FPL : Formulir Penjualan Lelang
BKL : Buku Kas Lelang

Gambar 4.3
Flow Chart Prosedur Lelang

Berdasarkan penelitian, Penyelamatan Kredit Bermasalah pada PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut telah dilaksanakan dengan memadai, hal ini

dapat dilihat dari upaya yang dilakukan oleh perusahaan melalui beberapa upaya,

seperti:
98

1. Penjadwalan kembali (rescheduling) diberikan kepada nasabah yang hendak

memperbaharui kredit dengan hanya membayar bunganya saja.

2. Persyaratan kembali pinjaman (reconditioning) diberikan kepada nasabah

dengan cara memperpanjang jangka waktu pinjaman kredit.

3. Penataan kembali pinjaman (restructuring) diberikan kepada nasabah yang

hendak mengajukan permohonan penundaan pelaksanaan lelang.

4. Penagihan melalui telepon, menerbitkan surat pemberitahuan jatuh tempo

kredit hingga proses pelelangan barang jaminan nasabah.

Menurut Suhardjono (2003:272) Upaya penyelamatan kredit bermasalah

dapat dilakukan dengan cara penjadwalan kembali (rescheduling), persyaratan

kembali (reconditioning) dan penataan kembali (restructuring).

4.4 Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya

Sistem pengendalian intern yang telah dirancang tidak akan berjalan

dengan baik jika manusia yang menjalankannya tidak memiliki komitmen dan

kecakapan yang sesuai. Manusia yang menjalankan sistem pengendalian dalam

suatu organisasi terdiri dari seluruh komponen perusahaan, baik pimpinan

organisasi maupun para karyawan. Oleh karena itu, perusahaan atau organisasi

senantiasa meningkatkan mutu para karyawannya.

Apabila telah disusun struktur organisasi yang tepat, prosedur-prosedur

yang baik tetapi tingkat kecakapan pegawai tidak memenuhi syarat-syarat yang

diminta, bisa diharapkan bahwa sistem pengendalian intern juga tidak akan

berhasil dengan baik.


99

4.4.1 Seleksi calon karyawan

Setiap penerimaan karyawan pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut

dilakukan oleh kantor pusat yang ada di Jakarta. Seleksi calon karyawan ini

dilakukan terhadap seluruh penduduk Indonesia yang memiliki potensi,

kualifikasi dan kemampuan yang dianggap mampu melakukan pekerjaan.

4.4.2 Pendidikan

Pendidikan untuk karyawan baru yang terlibat secara langsung dalam

proses pemberian kredit pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut minimal

memiliki pendidikan Diploma 3 (D3). Kualifikasi pendidikan pada PT. Pegadaian

(Persero) yang terlibat secara langsung dalam proses pemberian kredit adalah

sebagai berikut:

a. Pimpinan Cabang

Pendidikan formal Sarjana (S1), Diploma 3 (D3), Sekolah Menengah Atas

(SMA) dengan masa jabatan 16 tahun di Cabang Pegadaian dan Lulus DPT

Pengelola Cabang, MMC, dan Suspim Lanjutan.

b. Penaksir

Pendidikan formal Sarjana (S1), Diploma (D3) dan Sekolah Menengah Atas

(SMA) dengan masa kerja 4 tahun dan Lulus DPT II Penaksir.

c. Penyimpan

Pendidikan formal Sarjana (S1), Diploma (D3), dan Sekolah Menengah Atas

(SMA) dengan masa kerja 4 tahun dan Lulus DPT II Penaksir serta Lulus

DPT Administrasi Gudang.


100

d. Kasir

Pendidikan formal Diploma (D3), untuk pegawai kontrak Sekolah Menengah

Atas (SMA) dan telah menjadi pegawai kontrak sekurang-kurangnya 3 bulan.

e. Administrasi

Pendidikan formal Sarjana (S1), Diploma (D3), dan Sekolah Menengah Atas

(SMA) dengan masa kerja 4 tahun dan Lulus DPT II Penaksir serta

pengetahuan dasar komputer.

4.4.3 Pelatihan

Pelatihan pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut dilaksanakan

melalui diklat yang disediakan oleh perusahaan, diklat ini dilaksanakan di Jakarta,

Surabaya dan Solo.

Pelatihan karyawan melalui diklat ini bertujuan untuk mendapatkan

kualitas dan kuantitas karyawan yang tepat yang diperlukan untuk mencapai

tujuan organisasi, untuk mengembangkan keahlian dan kemampuan sehingga

pekerjaan dapat diselesaikan denganl lebih cepat dan efektif serta untuk

mengembangkan sikap sehingga menimbulkan kerja sama antar karyawan dan

pimpinan.

Jenis-jenis diklat yang diberikan kepada karyawan oleh PT. Pegadaian

(Persero) adalah sebagai berikut:

1. Diklat Dasar, adalah diklat yang diberikan untuk karyawan dan trainee dalam

proses pengadaan karyawan guna membekali karyawan yang bersangkutan

dalam melaksanakan tugasnya. Diklat Dasar ini antara lain meliputi Program
101

Induksi (diklat pengenalan tugas-tugas kantor cabang atau kanwil atau

KPPP), program trainee dikantor cabang atau kanwil atau KPPP.

2. Diklat Fungsional, adalah diklat yang ditujukan untuk menunjang,

mengembangkan keahlian atau keterampilan kerja dititikberatkan pada

perubahan pola kerja, cara kerja, serta penggunaan metode-metode kerja

mutakhir. Diklat Fungsional ini antara lain meliputi Diklat Penaksir Muda,

Diklat Ahli Taksir, Diklat Pemeriksa Madya, Diklat Legal Officer Muda,

dan lain-lain.

3. Diklat Manajerial, adalah diklat dengan sasaran utama untuk meningkatkan

karir guna memangku suatu jabatan, fungsi atau pangkat tertentu secara

bertahap dan untuk memperkaya atau meningkatkan keterampilan manajemen

kepemimpinan serta kemampuan menciptakan metode-metode kerja baru.

Diklat Manajerial dititikberatkan pada penajaman maupun bidang manajerial.

Diklat Manajerial ini antara lain meliputi Diklat Pengelola Cabang, Kursus

Pimpinan Muda (SUSPIMDA), Kursus Pimpinan Madya (SUSPIMDYA),

Kursus Pimpinan Utama (SUSPIMA).

4. Diklat Lain-lain, adalah diklat yang diadakan secara inhouse atau penugasan

untuk meningkatkan wawasan karyawan seperti penataan seminar, lokakarya

atau workshop, pemagangan atau praktek kerja lapangan di instasi atau

perusahaan lain baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Diklat lain-lain

ini antara lain meliputi Pelatihan Akutansi Terapan, Diklat Pengelolaan Gadai

Syariah, dan lain-lain.


102

Berdasarkan penelitian, dapat dikatakan bahwa karyawan yang ada pada

PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut dapat dikatakan cukup berkualitas, hal ini

dapat dilihat dari:

1. Seleksi calon karyawan yang dilakukan oleh kantor pusat melalui berbagai

test dan penyaringan sehingga di dapatkan calon karyawan yang memiliki

memiliki potensi, kualifikasi dan kemampuan sesuai yang di inginkan oleh

perusahaan.

2. Pendidikan yang dipersyaratkan untuk karyawan baru pada PT. Pegadaian

(Persero) adalah minimal Diploma 3 (D3). Akan tetapi pada kenyataannya

masih menerima karyawan baru yang memiliki tingkat pendidikan SMA.

3. Pelatihan melalui diklat yang diberikan kepada karyawan yang diharapkan

dapat menambah wawasan dan pengalaman bagi karyawan guna untuk

meningkatkan kinerja, kemampuan, keterampilan dan pengetahuan karyawan.

Menurut Spencer yang dikutip Palan (2007:6) menguraikan lima

karakteristik yang membentuk kompetensi adalah sebagai berikut:

1. Pengetahuan, merujuk pada informasi dan hasil pembelajaran.


2. Keterampilan, merujuk pada kemampuan seseorang untuk melakukan
suatu kegiatan.
3. Konsep diri dan nilai-nilai, merujuk pada sikap, nilai-nilai dan citra
diri seseorang seperti kepercayaan seseorang bahwa dia bisa berhasil
dalam suatu situasi.
4. Karakteristik pribadi, merujuk kepada karakteristik fisik dan
konsistensi tanggapan terhadap situasi atau informasi, seperti
pengendalian diri dan kemampuan untuk tetap tenang dibawah
tekanan.
5. Motif adalah kekuatan pendorong yang akan mewujudkan suatu
perilaku guna mencapai tujuan kepuasan dirinya.
103

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan di atas,

maka dapat dikatakan bahwa sistem pengendalian intern kredit pada PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut adalah cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari:

1. Adanya rangkap jabatan antara fungsi akuntansi dan fungsi operasi, situasi

hal yang demikian dapat mengakibatkan terjadinya kecurangan,

penyelewengan dan penyalahgunaan dana maupun aktiva yang ada pada PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut.

2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan

yang cukup terhadap kekayaan, utang pendapatan dan biaya yang terdiri dari

prosedur pemberian dan pengembalian kredit serta dokumen dan catatan,

telah dilaksanakan dengan memadai.

3. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit

organisasi yang terdiri dari pengawasan kredit dan penyelamatan kredit

bermasalah telah dilaksanakan dengan memadai.

4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya dapat dikatakan

cukup berkualitas, dikarenakan masih menerima karyawan baru yang

memiliki tingkat pendidikan SMA.

Menurut Mulyadi (2010:164) sistem pengendalian intern yang baik

meliputi:

1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggungjawab fungsional


secara tegas.
2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan
perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan
biaya.
3. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit
organisasi.
4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya.
104

BAB 5

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab

sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa sistem pengendalian intern kredit

pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut adalah cukup baik. Hal ini dapat

dilihat dari:

1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggungjawab fungsional secara tegas

dapat dikatakan kurang baik, karena masih adanya rangkap jabatan antara

fungsi operasi dan fungsi akuntansi.

2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan

yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya telah dilakukan

dengan memadai, karena telah didukung oleh prosedur pemberian dan

pengembalian kredit serta dokumen dan catatan kredit.

3. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit

organisasi telah dilakukan dengan memadai, karena pengawasan kredit tidak

hanya dilakukan oleh pimpinan cabang tetapi dibantu oleh penaksir dan

penyelamatan kredit bermasalah dilaksanakan dengan berbagai upaya seperti:

penjadwalan kembali (rescheduling), persyaratan kembali (reconditioning)

dan penataan kembali (restructuring) hingga pada proses pelelangan barang

jaminan.
105

4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya dapat dikatakan

cukup berkualitas, karena pada kenyataannya masih menerima karyawan baru

yang memiliki tingkat pendidikan SMA.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil analisa serta simpulan yang telah diuraikan, maka saran

yang dapat diberikan kepada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut adalah

sebagai berikut:

1. Agar dilakukan pemisahan fungsi, antara fungsi operasi dan fungsi akuntansi.

Sehingga apabila telah dilakukan pemisahan fungsi antara fungsi operasi dan

fungsi akuntansi akan dapat meningkatkan pengendalian intern kredit dalam

pelaksanaan operasional perusahaan.

2. Untuk posisi kasir agar menerima karyawan baru dengan tingkat pendidikan

minimal Diploma 3 (D3) sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan

perusahaan.
106

DAFTAR PUSTAKA

Arens, A.A., dan Leobecke, J.K (2003), Auditing, Buku kesatu, Terjemahan Jusuf,
A.A, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Amirah Ahmad (2007), Peranan Sistem Pengendalian Intern Kredit Gadai


dalam Upaya Menjaga Efektivitas Pengembalian Kredit Gadai Pada
Perusahaan Umum Pegadaian Cabang Garut, Skripsi Jurusan Akuntansi,
Universitas Garut.

Azhar Susanto (2008), Sistem Informasi Akuntansi, Edisi Perdana, Penerbit


Lingga Jaya, Bandung.

Iqbal Hasan (2006), Analisis Data Penelitian dengan Statistik, Penerbit PT.
Bumi Aksara, Jakarta.

Kasmir (2011), Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Edisi Revisi, Penerbit
PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta.

La Midjan dan Azhar Susanto (2001), Sistem Informasi Akuntansi 1:


Pendekatan Manual Penyusunan Metode dan Prosedur, Edisi Delapan,
Penerbit Lingga Jaya, Bandung.

Linda Mega Sari (2008), Analisis Sistem Pengendalian Intern Kredit PNPM
Mandiri Perkotaan dalam MenjagaTingkat Kolektabilitas Kredit pada
Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Tarogong Kidul Garut, Skripsi,
Universitas Garut.

Mardi (2011), Sistem Informasi Akuntansi, Penerbit Ghalia Indonesia, Bogor.

Mulyadi (2010), Sistem Akuntansi, Cetakan Lima, Penerbit Salemba Empat,


Jakarta.

Mohammad Nazir (2011), Metode Penelitian, Cetakan Tujuh, Penerbit Ghalia


Indonesia, Bogor.
107

Nur Indriantoro dan Bambang Supomo (2002), Metode Penelitian Bisnis untuk
Akuntansi dan Manajemen, Edisi I, Penerbit BPPE, Yogyakarta.

Palan, R (2007), Competency Management: Teknik Mengimplementasikan


Manajemen SDM Berbasis Kompetensi untuk Meningkatkan Daya Saing
Organisasi, Terjemahan Octa Melia Jalal, Penerbit PPM, Jakarta.

Pedoman Kantor Cabang, Pedoman Operasional Kantor Cabang (POKC),


Penerbit Kantor Pusat PT. Pegadaian, Jakarta.

Rachmat Firdaus dan Maya Ariyanti (2009), Manajemen Perkreditan Bank


Umum: Teori, Masalah, Kebijakan dan Aplikasi Lengkap dengan Analisis
Kredit, Penerbit Alfabeta, Bandung.

Rina Andriani (2013), Analisis Pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern Kredit


Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan Pada
Unit Pengelolaan Kegiatan Kecamatan Cilawu Kabupaten Garut. Skripsi,
Jurusan Akuntansi, Universitas Garut.

Romney, B. Marshall dan Paul John Steinbart (2006), Accounting Information


System, diterjemahkan oleh Deny Arnos Kwary dan Dewi Fitriasari, Edisi
Sembilan, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Sugiyono (2010), Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D, Penerbit


Alfabeta, Bandung.

(2013), Memahami Penelitian Kualitatif, Penerbit Alfabeta, Bandung.

Suhardjono (2003), Manajemen Perkreditan Usaha Kecil dan Menengah, Edisi


Kesatu Unit Penerbit dan Percetakan (UPP) AMPYKPN, Yogyakarta.

Suharsimi Arikunto (2010), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,


Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Teguh Pudjo Mulyono (2001), Manajemen Perkreditan Bagi Bank Komersil,


Penerbit BPFE, Yogyakarta.
108

Thomas Suyatno, dkk (2003), Dasar-Dasar Perkreditan, Edisi Keempat,


Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Totok Budisantoso dan Sigit Triandaru, (2011), Bank dan Lembaga Keuangan
Lainnya, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Veithzal Rivai, dkk (2007), Bank and Financial Institution Management


Conventional & Sharia System, Penerbit PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta.

www.pegadaian.co.id

Undang-Undang dan Peraturan:

Undang-Undang Hukum Perdata (Civil Code) Buku Kedua, Tentang Benda,


BAB XX, Pasal 1150.
109

LAMPIRAN
110

RIWAYAT HIDUP

Identitas Pribadi:
Nama : Harni Rustini
NPM : 2402210124
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir : Garut, 18 Desember 1992
Agama : Islam
Alamat : Kp. Lunjuk Girang RT/RW: 02/10 Desa Talagasari
Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut.

Data Orang Tua:


Nama Ayah : Dede Sutisna
Pekerjaan : Karyawan BUMN
Nama Ibu : Emma Martini
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Kp. Lunjuk Girang RT/RW: 02/10 Desa Talagasari
Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut.

Riwayat Pendidikan:

1. SDN Leles 02 Garut Lulus Tahun 2004


2. SMPN 1 Leles Garut Lulus Tahun 2007
3. SMAN 2 Garut Lulus Tahun 2010
4. Sejak Tahun 2010 tercatat sebagai Mahasiswa pada Program Studi Strata Satu
(S1) Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Garut.
111

SURAT KETERANGAN TELAH MELAKUKAN

PENELITIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Hartono

Jabatan : Pimpinan Cabang

Dengan ini menyatakan bahwa :


Nama : Harni Rustini

NPM : 2402210124

Fakultas : Ekonomi

Program Studi : Akuntansi S1

Perguruan Tinggi : Universitas Garut

Mahasiswa tersebut di atas sudah melakukan penelitian pada PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Garut, yang dilakukan mulai dari bulan Desember

2013 sampai selesai. Dengan judul penelitian Analisis Sistem Pengendalian

Intern Kredit Pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Garut.

Demikian surat keterangan ini dibuat, atas perhatiannya kami ucapkan

terimakasih.

Garut, 18 Juli 2014

Pimpinan Cabang

Hartono