Anda di halaman 1dari 14

Miskonsepsi Kuat Arus Listrik dengan Alat ukur Voltmeter dan

Hukum Ohm

1. Pendahulan

Tidak dapat dipungkiri listrik sangat berguna bagi kehidupan. Manusia


akan mengalami kesulitan hidup yang cukup serius apabila satu hari saja listrik di
seluruh dunia ini harus dimatikan. Boleh dikatakan listrik merupakan kebutuhan
primer kehidupan manusia, mengingat hampir semua kegiatan manusia
membutuhkan listrik. Sesuai dengan yang kita kenal listrik dibagi menjadi dua
yaitu listrik arus AC dan DC.

Listrik merupakan salah satu sumber energi yang sangat dibutuhkan dalam
kehidupan manusia. Setiap saat peranan listrik dalam kehidupan semakin jelas
terlihat. Banyak kebutuhan hidup yang tidak dapat di lepaskan dari peranan listrik.

Sumber listrik yang kekurangan muatan negatif disebut kutub positif.


Sumber listrik yang kelebihan muatan negatif disebut kutub negatif. Jumlah
muatan yang mengalir melalui media perantara dari kutub positif ke kutub negatif
dalam suatu sumber listrik disebut kuat arus. Semakin banyak muatan yang
berpindah, maka semakin besar muatan yang mengalir. Beda potensial yang
terdapat dikutub positif dan kutub negatif disebut voltase. Beda potensial sangat
memerlukan besar kecilnya kuat arus yang mengalir dari kutub positif ke kutub
negatif. Penghambat aliran listrik dari kutub positif ke kutub negatif disebut
hambatan. Hambatan sangat menentukan besarnya alur listrik yang mengalir pada
media perantara. Kemampuan listrik untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan
dalam jangka waktu tertentu disebut daya listrik. Alat untuk mengukur kuat arus
listrik disebut Amperemeter. Alat untuk mengukur potensial listrik disebut
Voltmeter.

Miskonsepsi pada pelajaran Fisika banyak di alami oleh siswa maupun


mahasiswa. Miskonsepsi ini didapat oleh siswa dari pengalaman sehari-hari di
lingkungan rumah maupun dari sekolah karena metode pengajaran yang kurang
baik. Miskonsepsi yang di alami siswa jarang mendapat perhatian dari guru.
Semestinya guru dapat mengetahui pada materi apa saja siswanya mengalami
kesalahan konsep.

A. Pembahasan
1. Arus Listrik

Sehubungan dengan aliran listrik, orang menggunakan pengertian arus


listrik untuk menyatakan banyaknya muatan yang mengalir melalui suatu
penampang tiap satuan waktu.Walaupun yang mengalir ialah elektron bebas yang
bermuatan negatif, sudah menjadi kebiasaan orang untuk menyatakan arah arus
listrik berlawanan dengan gerak muatan negatif. Jelaskan arus listrik mengalir dari
tempat berpontensi tinggi ke berportensi rendah.

+ -

Garis yang lebih panjang pada simbol ini menyatakan terminal positif, dan
yang lebih pendek, terminal negatif. Alat yang diberi daya oleh baterai bisa berupa
bola lampu (yang hanya merupakan kawat halus didalam bola kaca hampa udara),
pemanas, radio, atau apapun. Ketika rangkaian seperti ini terbentuk, muatan dapat
mengalir melalui kawat rangkaian, dari satu terminal baterai ke yang lainnya.
Aliran muatan seperti ini disebut arus listrik. Lebih tepat lagi, arus listrik pada
kawat didefenisikan sebagai jumlah total muatan yang melewatinya persatuan
waktu pada suatu titik. Dengan demikian, arus rata-rata I didefenisikan sebagai:

Q
I=
t

dimana Q adalah jumlah muatan yang melewati konduktor pada suatu lokasi
selama jangka waktu t. Arus listrik diukur dalam Coulumb per detik; satuan ini
diberi nama khusus, ampere (disingkat amp atau A), berarti 1A = 1 C/detik.
2. Voltmeter DC Pada Multimeter

Dipasaran umumnya Voltmeter sudah menjadi bagian dari Multimeter.


Sehingga Voltmeter adalah salah satu FITUR yang diberikan oleh sebuah
Multimeter, yaitu hanya dengan mengganti SELEKTOR pengukuran ke posisi
Voltmeter. Hasil pengukuran dapat berupa JARUM INDIKATOR untuk
Multimeter ANALOG, atau TAMPILAN DIGITAL untuk Multimeter DIGITAL.
Pada Multimeter, Voltmeter dilengkapi dengan dua buah PROBE
PENGUKURAN dan disediakan dua tipe pengukuran Tegangan yaitu
TEGANGAN DC (DC Voltage) dan TEGANGAN AC (AC Voltage). Masing-
masing tipe pengukuran ini MEMILIKI beberapa SKALA PENGUKURAN.
Skala pengukuran dipilih untuk mendapatkan JANGKAUAN (range) pengukuran
yang DISESUAIKAN dengan AKURASI dari hasil pengukuran.

Mulitmeter Analog VS Multimeter Digital Multimeter Analog merupakan


yang paling DASAR dan MURAH, dan biasanya jangkauan Voltmeter-nya 0
600 Volt. Untuk Multimeter Digital, Voltmeter-nya umumnya memiliki
FASILITAS pembacaan Tegangan di skala yang lebih KECIL hingga milli Volt.

Multimeter Digital lebih umum digunakan karena AKURASI


pembacaannya LEBIH BAIK dibandingkan Multimeter Analog. Dimana
Multimeter Analog RENTAN dengan kesalahan membaca akibat POSISI MATA
yang tidak tepat saat MEMBACA Jarum Indikator.
3. Voltmeter DC untuk Mengukur Tegangan DC

Tegangan DC (Direct Current Voltage) banyak digunakan pada Perangkat


Elektronik Digital yang lebih bersifat portabel , seperti Jam, Hand Phone / Smart
Phone, Notebook, Remote Control, dan lain sebagainya. Tegangan DC dalam
rangkaian elektronik dikenal dengan tegangan se-arah. Tegangan DC memiliki
dua kutub (POLARITAS), yaitu Kutub positif dan Kutub negatif. Dan polaritas ini
tidak boleh dibolak-balik dalam penggunaanya. Apabila Kutub kutub tersebut
terbolak-balik, maka bisa fatal akibatnya, yang dapat menyebabkan kerusakan
pada peralatan yang menggunakan Sumber Tegangan DC ini.

Nilai Tegangan DC DIKENAL dengan Volt DC dan dilambangkan dengan


VDC atau hanva V saja. Dan nilai tegangan DC yang UMUM digunakan selain V
adalah mV (Milli Volt). Voltmeter DC adalah ALAT UKUR yang digunakan untuk
mengukur NILAI TEGANGAN DC pada sumber tegangan DC seperti Baterai,
Adaptor, Power Supply atau pada Beban DC. Pada Multimeter, voltmeter DC
disimbolkan dengan garis searah.
4. Cara Mengukur Tegangan DC
1) Ketahuilah terlebih dahulu dimana Sumber tegangan AC (PLN), dan Jalur
yang Terkonesi dengan Sumber tersebut.
2) Hindari bersentuhan langsung dengan sumber tegangan AC dan Jalur yang
terkoneksi sumber tersebut, dengan bagian tubuh

3) Hindari hubungan Singkat antara Kutub Positif dan Negatif pada Sumber
tegangan DC

4) Pilih Voltmeter DC yang sesuai dengan kebutuhan, yaitu Analog atau


Digital.
5) Pasangkan kedua probe pengukuran kedalam soket yang telah disediakan
pada multimeter yang umumnya probe berwarna merah (+) pada soket
POSITIVE dan Probe hitam (-) pada soket COMMON atau
NEGATIVE
6) Putar SELECTOR ke Voltmeter DC atau yang MEMILIKI TANDA V
atau DCV atau VDC, di skala ANGKA yang PALING BESAR (200 V atau
250 V). Multimeter dengan Skala Selector

7) Untuk Multimeter dengan FITUR Auto-range, CUKUP PUTAR


SELECTOR ke Voltmeter atau yang MEMILIKI TANDA V. Multimeter
dengan fitur Auto-range

8) Pastikan bahwa tegangan pada DUA TITIK yang akan anda ukur adalah
TEGANGAN DC. Dan KETAHUI yang mana Kutub POSITIF dan Kutub
NEGATIF pada dua titik tersebut.

9) Tempelkan ujung Probe Multimeter Warna Merah (+) dengan Kutub


Positif pada Sumber Tegangan DC atau Beban DC, dan Probe Multimeter
Warna Hitam (-) dengan Kutub Negatif pada Sumber Tegangan DC atau
Beban DC. Pengukuran Tegangan DC
Catatan: Jika posisi Probe Merah berada pada Kutub Negatif Sumber Tegangan
DC,sedangkan Probe Hitam berada Kutub Positif Sumber. Maka :

Pada Multimeter Analog, Jarum Indikator akan bergerak kekiri dari angka Nol.

Pada Mulimeter Digital, Nilai Pengukuran akan bertanda minus. Kesalahan


Pengukuran akibat Posisi Probe terbalik

10) Tunggu hingga hasil pembacaan sudah tidak bergerak/ berubah, yang
menandakan bahwa pembacaan sudah stabil.

Contoh pemanfaatan listrik DC

Listrik DC (direct current) biasanya digunakan oleh perangkat lektronika.


Meskipun ada sebagian beban selain perangkat elektronika yang menggunakan
arus DC. (contohnya 4 Motor listrik DC) namun kebanyakan arus DC digunakan
untuk keperluan beban elektronika. Beberapa beban elektronika yang
menggunakan arus listrik DC diantaranya: Lampu LED (Light Emiting Diode),
Komputer, Laptop, TV, Radio, dan masih banyak lagi. Selain itu listrik DC juga
sering disimpan dalam suatu baterai, contohnya saja baterai yang digunakan untuk
menghidupkan jam dinding, mainan mobil-mobilan dan masih banyak lagi.
Sehingga dapat di simpilkan bahwa kebanyakan perangkat yang menggunakan
listrik DC merupakan beban perangkat elektronika.

1. Hukum Ohm

Salah satu hasil percobaan laboratorium yang dilakukan George Simon


Ohm (1787- 1854) adalah hubungan arus dan tegangan yang kemusian dikenal
dengan hukum Ohm. Namun hukum Ohm sendiri merupakan hasil analisis
matematis dari rangkaian galvanik yang didasarkan pada analogi antara aliran
listrik dan aliran panas. Formulasi Fourier untuk aliran panas adalah

dQ dT
=kA
dt dt

dengan Q adalah quantitas panas dan T adalah temperatur, sedangkan k adalah


konduktivitas panas, A luas penampang dan T temperatur. Dengan mengikuti
formulasi Fourier untuk persamaan konduksi panas dan menganalogikan
intensitas medan listrik dengan gradien temperatur, Ohm menunjukkan bahwa
arus listrik yang mengalir pada konduktor dapat dinyatakan dengan

A dv
I=
dt

Dalam hal konduktor mempunyai luas penampang A yang merata, maka


persamaan arus itu menjadi

AV V l
I= = dengan R= A
dt R

V adalah beda potensial pada konduktor sepanjang yang luas penampangnya A,


adalah karakteristik material yang disebut resistivitas, sedangkan R adalah
resistansi konduktor. Persamaan diatas dapat ditulis juga sebagai

=
Hukum Ohm ini sangat sederhana namun kita harus tetap ingat bahwa ia
hanya berlaku untuk material homogen ataupun elemen yang linier. Banyak
fisikawan yang akan mengatakan bahwa ini bukan hukum Ohm, tetapi lebih
berupa defenisi hambatan. Jika kita ingin menyebut sesuatu sebagai hukum Ohm,
hal tersebut akan berupa pernyataan bahwa arus yang melalui konduktor logam
sebanding dengan tegangan yang diberikan, . Sehingga, R konstan, tidak
bergantung pada V, untuk konduktor logam. Tetapi hubungan ini tidak berlaku
umum untuk bahan dan alat lain seperti dioda, tabung hampa udara, transistor,
dsb. Dengan demikian, hukum Ohm bukan merupakan hukum dasar, tetapi
lebih berupa deskripsi mengenai kelas bahan (konduktor logam) tertentu. Bahan
atau alat yang tidak mengikuti hukum Ohm dikatakan nonohmik. Defenisi
hambatan

= /

Satuan untuk hambatan disebut ohm, dan dilambangkan (huruf besarYunani


untuk omega). Karena R = V/i, kita liat bahwa 1,0 ekivalen dengan 1,0 V/A.

Contoh soal :

Kawat speaker. Misalkan anda ingin menghubungkan

stereo anda ke speaker jarak jauh (remote) seperti pada

gambar.

a) Jika panjang setiap kawat harus 20 m, berapa diameter kawat tembaga


yang harus anda gunakan agar hambatannya lebih kecil dari 0,10 per
kawat?
b) Jika arus ke setiap speaker adalah 4,0 A, berapa tegangan yang melalui
setiap kawat?

Penyelesaian:

Diketahui: = 1,68 108 .

= 20
= 0,10

= 4,0

Ditanya :

a) d =....?
b) V =...?

Jawab :

l
a) Kita selesaian menggunakan persamaan R= untuk mencari luas A:
A
8
l (1,68 10 .m)(20 m) 6 2
A= = =3,4 10 m
R 0,10
Luas penampang lintang A dari kawat yang berupa lingkaran berhubungan
dengan diameter d dengan = 2 /4. Diameter paling tidak harus


6 2
AA 4 (3,4 10 m )
= 4,33 10 m =2,1 10 mm
6 2 3
d= =
3,14

b) Tegangan yang melalui setiap kawat yaitu menggunakan persamaan V =


iR = = (4,0)(0,10) = 0,40 Volt

Miskonsepsi Alat Ukur Arus Listrik dan Hukum Ohm

No Konsep Konsep Siswa Konsep Fisika


1 Arus Listrik Cahaya pada lampu yang Elektron mendapat
menggunakan baterai tambahan energi dari gaya
lama kelamaan akan tarik kutub pasitif baterai.
redup dan padam karena Namun energi itu akan
arus listriknya habis. habis karena adanya
tumbukan antar elektron.
Arus listrik adalah jumlah
muatan yang mengalir
melalui penampang
penghantar dalam tiap
satuan waktu. Besaran ini
dilambangkan dengan I dan
dinyatakan dalam satuan
ampere.
2 Kuat arus listrik Kuat arus listrik adalah Kuat arus listrik adalah arus
banyaknya arus listrik yang bergantung pada
yang mengalir, beberapa banyak sedikitnya elektron
siswa berpendapat bahwa bebas yang pindah melewati
kuat arus adalah suatu penampang kawat
kecepatan aliran arus dalam satuan waktu.
listrik.
3 Sumber Baterai sebagai sumber Baterai merupakan sumber
Tegangan (Beda arus listrik atau elektron energi atau tegangan untuk
Potensial) dan proton. memindahkan elektron dari
suatu atom ke atom
lainnya.
4 Hukum Ohm I (arus) itu sebanding Secara sistematis, hukum
dengan R (hambatan) Ohm diekspresikan dengan
persamaan V = IR. I adalah
arus yang mengalir pada
suatu penghantar ; V adalah
tegangan listrik yang
terdapat pada kedua ujung
penghantar ; R adalah nilai
hambatan listrik yang
terdapat pada suatu
penghantar. Besarnya
tegangan berbanding lurus
dengan hambatannya
(VR), besarnya tegangan
berbanding lurus dengan
kuat arusnya (VI),
besarnya kuat arus
berbanding terbalik dengan
hambatannya (I1/R)
5 Hambatan Lampu bukan termasuk Lampu merupakan salah
Listrik hambatan listrik karena satu komponen listrik yang
lampu hanya mengubah dapat menghambat arus
arus listrik menjadi listrik.
cahaya .
Besarnya hambatan Besarnya hambatan listrik
listrik tidak dipengaruhi sebanding dengan hambatan
oleh hambatan jenis, luas jenis penghantar, panjang
penampang dan panjang penghantar dan berbanding
kawat penghantar. terbalik dengan besar luas
penampang penghantar. =

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan
1) Arus listrik adalah banyaknya muatan yang mengalir melalui suatu
penampang tiap satuan waktu.
2) rus listrik AC (alternating current) merupakan listrik yang besarnya
dan arah arusnya selalu berubah-ubah dan bolak-balik dalam
satuan waktu sedangkan arus searah (DC) adalah arus listrik yang
arahnya selalu tetap terhadap waktu.
3) Hukum Ohm merupakan hasil analisis matematis dari rangkaian
galvanik yang didasarkan pada analogi antara aliran listrik dan
aliran panas. Adapun persamaannya yaitu : = atau =
(untuk bahan atau alat nonohmik)
4) Miskonsepsi pada arus listrik dan Hukum Ohm seperti dijelaskan
sebelumnya di Indonesia juga ditemukan pada negara lain. Jika
miskonsepsi diluar dan didalam negeri sama, maka miskonsepsi
dapat dinyatakan muncul dalam interaksi antara otak manusia dan
alam, tanpa (atau hampir tanpa) pengaruh budaya.