Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Akuntan syariah muncul sejalan dengan adanya kesadaran untuk bekerja
lebih jujur, adil dan tidak bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan Al-
Hadist. Akuntansi syariah, pada tataran ontology dan epistemology terdapat
kesepahaman antar para pakar akuntansi bahwa akuntansi syariah berbeda
dengan akuntansi konvensional. Namun, dalam tataran metodologi masih ada
perbedaan pandangan di kalangan pakar akuntansi syariah Perbedaan
tersebut sangat mudah diketahui dengan cara membaca hasil dari karya-karya
(tulisan) terkait akuntansi syariah baik tulisan tingkat internasional maupun
skala nasional.

Tulisan tersebut merupakan hasil gagasan (ide) sebagai cerminan


perjalanan perumusan akuntansi syariah.Selain itu, banyak pengetahuan dan
pemahaman masyarakat akademisi atau praktisi- yang dibangun dari
tulisantulisan tersebut.Selain itu, tulisan tersebut sering digunakan sebagai
referensi bagi dosen maupun pengembangan penelitian akuntansi
syariah.Oleh karena itu, hadirnya tulisan tersebut sangat menentukan
persepsi masyarakat tentang konsep/teori akuntansi syariah.

Sejarah akuntansi syariah (baca akuntansi zakat), sebenarnya sudah lama


lahir.Jika diruntut, sejak ada perintah untuk membayar zakat itu. Adanya
perintah membayar zakat itulah mendorong pemerintah untuk membuat
laporan keuangan secara periodik Baitul Maal, sementara para pedagang
muslim atau produsen muslim wajib menghitung hartanya (assetnya) apakah
sudah sesuai dengan nishabnya (batas harta yang harus dibayarkan).

Penghitungan dengan sistem akuntan syariah itu di Indonesia belum


terbiasa.Maklum, Bank Mualamat saja, sebagai Bank Syariah Islam pertama
di Indonesia baru berdiri pada awal Nopember 1991. Itu artinya akuntan

1
syariah baru akan lahir setelah puluhan tahun bank itu berdiri. Tetapi
fenomena munculnya transaksi syariah, usaha syariah di kalangan pebisnis
Indonesia, kini telah mendorong lahirnya para akuntan syariah untuk lebih
mendalami masalah audit di bidang zakat dan bentuk perdagangan lainnya
secara syariah Islam.

Dari situ dapat kita simpulkan bahwa dalam Islam telah ada perintah untuk
melakukan sistem pencatatan yang tekanan utamanya adalah untuk tujuan
kebenaran, kepastian, keterbukaan, dan keadilan antara kedua pihak yang
memiliki hubungan muamalah.Dalam bahasa akuntansi lebih dikenal dengan
accountability.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
tentang Sejarah dan Pemikiran Akuntansi Syariah. Untuk memberikan
kejelasan makna serta menghindari meluasnya pembahasan, maka dalam
makalah ini hanya menjelaskan pandangan terhadap Mata Kuliah Akuntansi
Syariah termasuk aspek :

1. Bagaimana sejarah lahirnya Akuntansi Syariah ?


2. Bagaimana perkembangan awal akuntansi dan akuntansi syariah ?
3. Bagaimana perkembangan pemikiran Akuntansi Syariah ?
4. Bagaimana teorisasi akuntansi syariah ?
5. Bagaiman Prinsip-prinsip umum akuntansi Syariah ?
6. Bagaimana awal masuknya akuntansi syariah di Indonesia ?
7. Apa perbedaan dan hubungan akuntansi konvensional (modern) dan
akuntansi syariah ?
8. Penjelasan mengenai prosedur dan istilah yang digunakan ?

1.3 Tujuan Pembelajaran


Pada dasarnya penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu
tujuan umum dan khusus.Tujuan umum dalam penyusunan makalah ini

2
adalah untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Akuntansi Syariah.
Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah :

1. Mengatahui sejarah lahirnya Akuntansi Syariah


2. Mengetahui perkembangan awal akuntansi dan akuntansi syariah
3. Mengatahui perkembangan pemikiran Akuntansi Syariah
4. Memahami teorisasi akuntansi syariah
5. Mengetahui Prinsip-prinsip umum akuntansi Syariah
6. Mengetahui awal masuknya akuntansi syariah di Indonesia
7. Mengetahui perbedaan dan hubungan akuntansi konvensional (modern)
dan akuntansi syariah
8. Memahami prosedur dan istilah yang digunakan.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah lahirnya Akuntansi Syariah

Lahirnya akuntansi syariah sekaligus sebagai paradigma baru sangat


terkait dengan kondisi objektif yang melingkupi umat islam secara khusus
dan masyarakat dunia secara umum. Kondisi tersebut meliputi: norma agama,
kontribusi umat islam pada masa lalu, sistem ekonomi kapitalis yang berlaku
saat ini, dan perkembangan pemikiran.

a. Norma Agama

Ajaran normatif agama sejak awal keberadaaan islam telah memberikan


persuasi normatif bagi para pemeluknya untuk melakukan pencatatan atas
segala transaksi dengan benar dan adil sebagaimana yang difirmankan oleh
Allah SWT dalam Al-Quran Al-Baqarah : 282.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara


tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.Dan
hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar. Dan
janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah
mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah yang berutang
itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa
kepada Allah Rabbnya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun dari pada
utangnya... (QS. Al-Baqarah: 282).

Ayat inilah yang sebenarnya memberikan dorongan kuat kepada kaum


muslim untuk menggunakan akuntansi dalam setiap bisnis dan transaksi
yang dilakukannya. Disamping itu juga ada ayat-ayat lain yang sangat
kondusif bagi mereka untuk melakukan pencatatan, yaitu ayat-ayat tentang

4
kewajiban membayar zakat. Ayat tersebut diantaranya adalah : Ambillah
zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensuciksn mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu
itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka.dan Allah maha mendengar
lagi maha mengetahui. (QS. At- Taubah: 103).

Ayat-ayat tersebut sangat berpengaruh terhadap cara berbisnis dan


berprilaku umat islam dalam dunia nyata. Ayat tersebut tidak sekedar norma,
tetapi adalah praktik yang bisa membumi dalam bentuk perilaku
kehidupan manusia.

b. Kontribusi Umat Islam

Sepintas deskripsi diatas secara sepintas sebetulnya sudah menunjukkan


kontribusi umat islam sejak awal masa Islam terhadap akuntansi, yaitu
teknik pembukuan itu sendiri. Disamping teknik pembukuan dimana
akuntansi modern berkembang dengan basis sistem tata-buku berpasanagan
(double entry book-keeping sistem) juga pengenalan angka arab-hindu, ilmu
aljabar (matematika), dan sistem perdagangan merupakan faktor pemberi
kontribusi terbesar bagi berkembangnya akuntansi modern saat ini.

c. Sistem Ekonomi Kapitalis

Tidak dapat dipungkiri geliat kapitalisme telah merambah dan


menjerat setiap penjuru dan sudut kehidupan manausia. Gerak pikir dan
perilaku kita secra sadar atau tidak berada dalam pangkuan pengaruh
kapitalisme ini. Kekuatan yang besar ini nyata, atau samar, mengeksploitasi
kehidupan manusia dan alam semesta secara otomatis. Akuntansi modern
juga tidak terlepas dari pengaruh ini. Pemikiran-pemikiran islam dan

5
akuntansi syariah, misalnya merupakan pemicu untuk melakukan perubahan
dan pembebasan.

d. Perkembangan Pemikiran

Sejak tiga dekade terakhir ini, umat islam mulai menunjukkan geliat
kehidupannya dari sudut jendela ilmu pengetahuan. Ismail Al-Faruqi,
misalnya leawat islamisasi ilmu pengetahuannya seolah menggoyang tidur
lelapnya umat islam untuk bangun mengonstruksi ilmu pengetahuan
berdasarkan jiwa tauhid. Instrumen penyebar ide islamisasi ilmu
pengetahuan ini telah didirikan di Herndon : Amerika Serikat, yang
dikenal dengan nama International Institute of Islamic Thught (IIIT).
Lembaga ini akhirnya menyebar keberbagai negara islam lainnya, seperti :
Pakistan, Arab Saudi, Iran, Malaysia, dan Indonesia. Di Indonesia lembaga
ini didirikan sebagai cabang yang independen dengan nama International
Institute of Islamic Tought-Indonesia (IIIT-I) pada November 1999 yang
lalu.

IIIT melakukan islamisasi terhadap ilmu pengetahuan sosial, seperti :


antropologi, ekonomi, psikologi, sosiologi, dan lainnya. Di Indonesia IIIT-
I memfokuskan diri pada konstruksi dan pengembangan Ekonomi Islam.
Sementara, sampai saat ini wacana ekonomi islam yang telah turunp pada
dunia empiris adalah lembaga keuangan (bank syariah, baitul mal wa
tamwil), asuransi islam (takaful), dan reksadana syariah.

2.2 Perkembangan Awal Akuntansi dan Akuntansi Syariah


Perkembangan Awal Akuntansi

6
Pada awalnya akuntansi merupakan bagian dari ilmu pasti, yaitu bagian
dari ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah hukum alam dan
perhitungan yang bersifat memiliki kebenaran absolut.Penemuan metode
baru dalam akuntansi senantiasa mengalami penyesuaian dengan kondisi
setempat, sehingga dalam perkembangan selanjutnya, ilmu akuntansi lebih
cenderung menjadi bagian dari ilmu sosial (social science).

Akuntansi dalam islam merupakan alat (tool) untuk melaksanakan


perintah allah swt dalam (Qs. 2:282) untuk melakukan pencatatan dalam
melakukan transaksi usaha. Implikasi lebih jauh adalah keperluan terhadap
suatu sistem pencatatan terhadap suatu sistem pencatatan tentang hak dan
kewajiban pelaporan yang terpadu dan komprehensif.Akuntansi yang kita
kenal sekarang diklaim berkembang dari perdaban barat (sejak paciolli).
Padahal apabila dilihat secara mendalam dari proses lahir dan
perkembangannya, terlihat jelas pengaruh keadaan masyarakat atau
peradaban sebelumnya baik yunani maupun arab islam.

Perkembangan akuntansi dengan domain arithmatic quality nya,


sangat ditopang oleh ilmu lain khususnya arithnatic,
algebra,mathematics,alghorithm pada abad ke 9 M. Ilmu ini lebih dahulu
berkembang sebelum perkembangan bahasa. Filosofi islam yang dikenal
yaitu abu yusuf yakub bin ashaq al kindi yang lahir tahun 801 M. Juga Al
Karki (1020) dan Al- Khawarizmy yang merupakan asal kata dari Al gorith,
algebra juga berasal dari kata arab yaitu Aljabr. Ibnu khaldun (Lahir tahun
1332) adalah seorang filosofi islam yang juga telah bicara tentang politik,
sosiologi, ekonomi, bisnis, perdagangan.

Para filosofi barat belakangan ini yang muncul pada abad ke 18 M. Al


khawarizmy lah yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan
matematika dasarnya untuk digunakan memecahkan persoalan pembagian
harta warisan secara adil sesuai dengan syariah yang ada di Al Quran,perkara
hukum atau (law suit) dan praktek bisnis perdagangan. Ahli akuntan yang

7
mengakui keberadaan akuntansi islam itu, misalnya RE Gambling, William
roget, Baydoun, Hayasi dari jepang.

Perkembangan Akuntansi Syariah

1. Zaman Awal Perkembangan Islam

Pendeklarasikan negara islam di madinah (tahun 622 M atau


berketepatan dengan tahun 1H) didasari konsep bahwa seluruh muslim
adalah bersaudara tanpa memandang ras, suku, warna kulit dan golongan,
sehingga seluruh kegiatan kenegaraan dilakukan secara bersama dan gotong
royong di kalangan para muslim.

Setelah munculnya islam di semenanjung arab dibawah kepemimpinan


Rasulullah saw, serta telah terbentuknya daulah islamiyah di madinah,
mulailah perhatian Rasulullah untuk membersihkan muamalah maaliah
(keuangan) dari unsur-unsur riba dan dari segala bentuk penipuan,
pembodohan,perjudian, pemerasan, monopoli, dan segala usaha pengambilan
harta orang lain secara batil. Bahkan Rasulullah lebih menekankan pada
pencatatan keuangan.Rasulullah mendidik secara khusus beberapa orang
sahabat untuk menangani profesi ini dan mereka diberi sebutan khusus, yaitu
hafazhatul amwal (pengawas keuangan).

Dalam perkembangan islam selanjutnya ketika ada kewajiban zakat dan


ushr (pajak pertanian dari muslim) dan perluasan wilayah sehingga di kenal
adanya jizyah (pajak perlindungan dari non muslim) dan kharaj (pajak hasil
pertanian dari non muslim), maka rasul mendirikan baitul maal pada awal
abad ke 7.

Konsep ini cukup maju pada zaman tersebut dimana seluruh penerimaan
dikumpulkan secara terpisah dengan pimpinan Negara dan baru akan
dikeluarkan untuk kepentingan Negara walaupun disebutkan
pengelolaan baitul maal masih sederhana, tetapi nabi telah menunjukan

8
petugas qadi,ditambah para sekertaris dan pencatat administrasi
pemerintahan.

2. Zaman Khalifah

Abu bakar pengelola baitul maal masih sangat sederhana dimana


penerimaan dan pengeluaran di lakukan secara seimbang sehingga hampir
tidak pernah ada sisa. Di era kepemimpinana khalifah umar bin khattab
dengan memperkenalkan istilah diwan oleh saad bin abi waqqas (636 M).
Asal kata diwan dari bahasa arab yang merupakan bentuk kata benda
dari dawwana yang berarti penulisan. Diwan dapat diartikan sebagai tempat
dimana pelaksana duduk, bekerja dan dimana akuntansi dicatat dan disimpan.

Diwan yang dibentuk oleh khalifa umar terdapat 14 departement dan 17


kelompok, dimana pembagian departemen tersebut menunjukkan adanya
pembagian tugas dalam sistem keuangan dan pelaporan keuangan yang
baik. Diwan ini berfungsi untuk mengurusi pembayaran gaji. Khalifah umar
menunjukan beberapa orang yang mengelola dan pencatat dan Persia untuk
mengawasi pembukaan baitul maal.

Baitul maal juga sudah tidak terpusat lagi di madianh tetapi juga di
daerah-daerah taklukan islam. Pada diwan yang dibentuk oleh khalifah umar
terdapat 14 departemen dan 17 kelompok, dimana pembagian departemen
tersebut adanya pembagian tugas dalam sistem keuangan dan pelaporan
keuangan yang baik.

Yang termasuk pengawasan harta, kepentingan social,pelaksanaan ibadah


pribadi, dan pemeriksaan transaksi bisnis . akrab kahan memberikan 3 (tiga)
kewajiban muhtasib, yaitu:

a. Pelaksaan hak allah termasuk kegiatan ibadah semua jenis shalat,


pemeliharaan masjid.
b. Pelaksanaan hak-hak masyarakat perilaku di pasar, kebenaran
timbangan kejujuran bisnis

9
c. Pelaksana yang berkaitan dengan keduanya menjaga kebersihan jalan,
lampu jalan, bangunan yamg mengganggu masyarakat.

Pada zaman kekhalifahan sudah dikenal keuangan Negara. Kedaulatan


dalam islam telah memilih departemen-departemen atau disebut dengan
Diwan, ada Diwan Pengeluaran (Diwan An-nafaqat), militer (Diwan
Aljayash), pengawasan, pemungutan hasil, dan sebagainya.

Runtuhnya Khilafah Islamiyah serta tidak adanya perhatian dari


pemimpin-pemimpin islam untuk mensosialisasikan hukum islam, serta
dengan dujajahnya kebanyakan nagara islam oleh negara-negara eropa, telah
menimbulkan perubahan yang sangat mendasar disemua segi kehidupan
ummat islam, termasuk di bidang muamalah keuangan. Pada fase ini
perkembangan akuntansi didominasi oleh pikiran pikiran barat. Para muslim
pun mulai menggunakan sistem akuntansi yang dikembangkan oleh barat.
Untuk mengetahui bagai mana perkembangan akuntansi pada fase ini,
mungkin dapat membaca pada buku-buku teori akuntansi.

2.3 Perkembangan Pemikiran Akuntansi Syariah

Suatu pengkajian selintas terhadap sejarah Islam menyatatakan bahwa


akuntansi dalam Islam bukanlah merupakan seni dan ilmu yang baru,
sebenarnya bisa dilihat dari peradaban Islam yang pertama yang sudah
memiliki Baitul Mal yang merupakan lembaga keuangan yang berfungsi
sebagai Bendahara Negara serta menjamin kesejahteraan sosial.
Masyarakat Muslim sejak itu telah memiliki akuntansi yang disebut Kitabat
Al-Amwal. Dipihak lain istilah akuntansi disebutkan dalam beberapa karya
tulis umat Islam.

Adapun factor yang menyebabkan terjadinya percepatan perkembangan


akuntansi hingga sekarang diantaranya adalah :

10
1. Adanya motivasi awal yang memaksa orang untuk mendapatkan
keuntungan besar (maksimalisasi laba = jiwa kapitalis). Dengan
adanya laba maka perlu pencatatan, pengelompokkan, dan
pengikhtisaran dengan cara sistematis dan dalam ukuran moneter atas
transaksi dan kejadian yang bersifat keuangan dan menjelaskan
hasilnya.

2. Pengakuan usaha akan pentingnya aspek sosial yang berkaitan dengan


persoalan maksimalisasi laba. Dalam hal ini, pemimpin perusahaan
harus membuat keputusan yang menjaga keseimbangan antara
keinginan perusahaan, pegawai, langganan, supplier, dan masyarakat
umum.

3. Bisnis dilakukan dengan peranan untuk mencapai laba sebagai alat


untuk menapai tujuan bukan akhir suatu tujuan. Dengan pernyataan
lain, laba bukanlah tujuan akhir dri suatu aktivitas bisnis. Akan tetapi
bisnis dilakukan untuk memperluas kesejahteraan sosial. Dengan
demikian, akuntansi akan memberikan informasi yang secara
potensial berguna untuk membuat keputusan ekinomi da jika itu
diberikan akan memberikan perluasan kesejahteraan sosial.

Pertumbuhan ekonomi tidak selamanya memberikan jalan lurus. sehingga


timbul adanya aggapan bahwa akuntansi sebagai ilmu pengetahuan dan
praktik yang bebas dari nilai (Value-free). Dengan keadaan seperti ini
semakin kuat masyarakat terbawah oleh arus era informasi dan globalisasi,
yang memiliki ciri utama adanya kencenderungan untuk melakukan
harmonisasi sesuatu.

Kemudian sejak tahun 1980-an,mulai ada perhatian kuat dari para peneliti
akuntansi dalam upaya memahami akuntansi dalam pengertian yang lebih
luas. Misalnya dalam kontek social dan organisasi..akuntansi secara

11
tradisional telah di pahami sebagai prosedur rasional dalam menyediakan
informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan dan pengendalian.

Dalam pengertian tersebut menunjukan bahwa akuntansi tampak seperti


teknologi yang kelihatan konkrit, tangible dan bebas dari nilai massyarakat
dimana dipraktekan. Tricker secara tegas menyatakan, bahwa (bentuk)
akuntansi sebetulnya tergantung pada teknologi dan moral masyarakat

2.4 Prinsip-prinsip umum akuntansi Syariah


Dalam sistem akuntansi terdapat nilai pertanggung jawaban, keadilan, dan
kebenaran. ketiganya menjadi prinsip dasar yang universal. sedikit uraian
ketiga prisip tersebut terdapat dalam Al-Quran surat Albaqarah:282 :

a. Prinsip Pertanggungjawaban
Prinsip Pertanggungjawaban (accountability) merupakan konsep
yang tidak asing lagi yang berkaitan dengan konsep amanah. Implikasi
dalam bisnis dan akuntansi adalah bahwa individu yang terlibat dalam
praktik bisnis harus selalu melakukan pertanggungjawaban apa yang
diamanatkan dan diperbuat kepada pihak terkait.

b. Prinsip keadilan
Prinsip keadilan tidak hanya merupakan nilaiyang sangat penting
dalam etika kehidupan sosialdanbisni, tetapi juga merupakan nilaiyang
secara inheren melekat dalam fitra manusia.berarti manusia memiliki
kapasitas dan energy untuk berbuat adil dalam setiap aspek kehidupan.

c. Prinsip kebenaran

Prinsip kebenaran tidak bisa di pisahkan dari prinsip keadilan karena


aktivitas ini akan dapat dilakukan dengan baik apabila dilandaskan pada

12
nilai kebenaran. Kebenaran ini dapat menciptakan keadilan dalam
mengakui, mengukur, dan melaporkan transaksi-transaksi ekonomi

2.5 Praktik akuntansi dalam kekhalifahan/pemerintahan islam

Masa Rasulullah & Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Kewajiban dalam menunaikan Zakat berdampak pada didirikannya


institusi Baitul Maal oleh Rasulullah SAW yang berfungsi sebagai
lembaga penyimpan Zakat beserta pendapatan lain yang diterima oleh
negara. Pada pemerintaha Rasulullah SAW memiliki 42 pejabat yang
digaji berdasarkan spesialisasi dalam peran dan tugas masing-masing.
Adnan dan Labatjo (2006) memandang bahwa praktik Akuntansi pada
lembaga baitul maal di zaman Rasulullah baru berada pada tahap
penyiapan personal yang menangani fungsi-fungsi lembaga keuangan
negara. Pada masa tersebut, harta kekayaan yang diperoleh negara
langsung didistribusikan setelah harta tersebut diperoleh. Dengan
demikian, tidak terlalu diperlukan pelaporan atas penerimaan dan
pengeluaran Baitulmaal. Hal sama pun berlanjut pada masa Khalifah Abu
Bakr Ash-Shiddiq.

Masa Khaifah Umar Ibn Khattab

Perkembangan pemerintahan Islam hingga meliputi Timur Tengah,


Afrika dan Asia di Zaman Khalifah Umar Ibn Khattab telah
meningkatkan penerimaan negara secara signifikan.Dengan demikian,
kekayaan negara yang disimpan di Baitulmaal juga makin besar.Para
sahabat merekomendasikan perlunya pencatatan untuk pertanggung
jawaban penerimaan dan pengeluaran negara. Selanjutnya, Khalifah
Umar Ibn Khattab mendirikan unit khusus bernama Diwan, yang
bertugas membuat laporan keuangan Baitulmaal sebgaii bentuk
akuntabilitas Khalifah atas dan Baitulmaal yang menjadi tanggung
jawabnya (Zaid, 2001)

13
Masa Daulah Bani Umayyah

Pada masa khalifah Umar bin abdul Aziz (681-720 M),


dikembangkannya reliabilitas laporan keuangan Pemerintahan berupa
praktik pengeluaran bukti penerimaan Uang. Kemudian pada masa
Khalifah Al Waleed bin Abdul Malik (705-715 M), mengenalkan catatan
dan Register yang terjilid dan tidak terpisah seperti sebelumnya (Lasyin,
1973, dalam Zaid, 2001)

Masa Daulah Abbasiyah

Evolusi perkembangan pengelolaan buku Akuntansi mencapai


tingkat tertinggi pada masa Daulah Abbasiyah. Akuntansi
diklasifikasikan pada beberapa spesialisasi, antara lain Akuntansi
Peternakan, akuntansi Pertanian, Akuntansi Bendahara, Akuntansi
Konstruksi, Akuntansi Mata Uang dan Pemeriksaan buku (auditing)
(Zaid, 2001). Pada masa itu, sistem pembukuan telah menggunakan
model buku besar, yang meliputi sebagai berikut :

2.6 Pendekatan dalam Akuntansi Syariah


Pendekatan yang ada dalam akuntansi syariah ini ditinjau dari
pendekatan tradisional yang telah dapat diterima lebih tinggi dibanding
pendekatan baru. Beberapa pendekatan tradisional adalah :

1. Pendekatan Nonteoritis,praktis, atau pragmatis


2. Pendekatan teoritis
3. Deduktif
4. Induktif
5. Etis
6. Sosiologis
7. Ekonomis

14
Pendekatan Nonteoritis, praktis, atau pragmatis

Pendekatan nonteoritis adalah suatu pendekatan pragmatis (atau


praktis) dan suatu pendekatan otoriter. Pendekatan pragmatis adalah
pembentukan suatu teori yang berciri khas sesuai dengan praktik
senyatanya, dan pembentukan teori tersebut mempunyai kegunaan
ditinjau dari segi cara penyelesaian yang pragtis sebagaimana yang
diusulkan. Menurut pendekatan ini, teknik dan prinsip akuntansi harus
dipilih karena kegunaannya bagi pemakai informasi akuntansi dan
relevansinya tergadap proses pengambilan keputusan. Kegunaan atau
faedah mengandung arti bahwa sesuatu sifat yang menjadi sesuatu
bermanfaat untuk membantu atau mempermudah mencapai tujuan yang
dimagsudkannya.

Pendekatan otoriter adalah adalah perumusan suatu teori akuntansi,


yang umumnya digunakan oleh organisasi professional, dengan
menerbitkan pernyataan sebagai peraturan praktik akuntansi. Oleh karena
pendekatan otoriter juga berusaha memberikan cara penyelesaian yang
praktis. Kedua pendekatan ini beranggapan bahwa teori akuntansi dengan
teknik akuntansi yang dihasilkan harus didasarkan pada kegunaan akhir
laporan keuangan jika akuntansi menghendaki mempunyai satu fungsi
yang bermanfaat. Dengan kata lain suatu teori yang tanpa konsekwensi
praktis merupakan teori yang buruk.

Pendekatan Deduktif

Pendekatan deduktif adalah pendekatan yang digunakan dalam


membentuk teori yang dimulai dari dalil-dalil dasar tindakan-tindakan
dasar untuk mendapatkan kesimpulamn logis tentang pokok yang sedang
dipertimbangkan. Jika diterapkan dalan akuntansi, maka pendekatan
deduktif dimulai dengan dalil dasar akuntansi atau alaan dasar akuntansi

15
dan tindakan dasar akuntansi untuk mendapatkan prinsip akuntansi dengan
cara yang logis yang bertindak sebagai penentun dan dasar pengembangan
teknik akuntansi.

Pendekatan ini berjalan dari umum (dalil dasar tentang lingkungan


akuntansi) ke khusus (pertama ke prinsip akuntansi, dan kedua pada teknik
akuntansi). Apabila pada saat ini kita beranggapan, bahwa dalil dasar
tentang lingkungan akuntansi terdiri dari tujuan dan pernyataan, maka
langkah yang digunakan bagi pendekatan deduktif akan meliputi sebagai
berikut:

1. Menetapkan tujuan laporan keuangan


2. Memilih aksioma akuntansi
3. Memperoleh prinsip akuntansi
4. Mengembangkan teknik akuntansi.

Oleh karena itu, menurut teori akuntansi yang diperoleh secara


deduktif, teknik ini berkaitan dengan prinsip dan aksioma serta menurut
suatu cara yang sedemikian rupa sehingga apabila prinsip dan oksioma
serta tujuan benar, maka teknik pun harus menjadi benar. Struktur teoritis
akuntansi ditetapkan menurut rangkaian tujuan, aksioma, prinsip, teknik
yang bertumpu pada suatu perumusan tujuan akuntansi yang tepat.Dalam
hal ini diperlukan juga suatu perumusan tujuan akuntansi yang
tepat.Dalam hal ini diperlukan juga suatu pengujian yang tepat terhadap
suatu teori yang dihasilkan.

Pendekatan Induktif

Pendekatan induktif terhadap pembentukan suatu teori dimulai dari


pengamatan dan pengukuran serta menuju kea rah kesimpulan yang
digeneralisasi.Apabila diterapkan pada akuntansi, maka pendekatan
induktif dimulai dari pengamatan informasi keuangan perusahaan, dan
hasilnya untuk disimpulkan, atas dasar hubungan kejadian, kesimpulan
dan prinsip akuntansi.Penjelasan-penjelasan deduktif dikatakan berjalan

16
dari khusus menuju kea rah umum. Pendekatan induktif pada suatu teori
melibatkan empat tahap:

a. Pengamatan dan pencatatan seluruh pengamatan;


b. Analisis dan pengklasifikasian pengamatan tersebut untuk
mencari hubungan yang berulang kali yaknihubungan yang
sama dan serupa;
c. Pengambilan generalisasi dan prinsip akuntansi induktif dari
pengamatan tersebut yang menggambarkan hubungan yang
berulang terjadi;
d. Pengujian generalisasi

Tidaklah seperti halnya dengan masalah pengambilan keputusan


secara deduksi, kebenaran atau kepalsuan dalil tidak tergantung pada dalil
lain tetapi harus dibuktikan secara empiris.sedangkan dalam hal induksi,
kebenaran dalil tergantung pada pengamatan kejadian yang cukup
memadai dari hubungan yang berulang kali terjadi. Oleh karena itu,
tidaklah mengherankan kalau beberapa penulis induktif terkadang
mengemukakan pemikiran deduktif, dan penulis deduktif terkadang
mengemukakan pemikiran induktif. Juga menarik perhatian untuk
diperhatikan bahwa ketika Littleton, seorang teoritis induktif, dan Paton
seorang teoritikus deduktif bekerja sama, hasilnya bersifat campuran, yang
membuktikan suatu perpaduan antara dua pendekatan.

Pendekatan Etis

Inti dasar pendekatan etis adalah terdiri atas konsep-konsep


keadilan, kejujuran, kebenaran, serta kewajaran.Konsep tersebut
digunakan oleh D. R Scott sebagai criteria utama untuk perumusan suatu
teori akuntansi. Ia menyatakan perlakuan yang justice dengan perlakuan
yang setara atau sama (equitable), terhadap seluruh pihak yang
berkepentingan, menyamakan laporan akuntansi yang truth dengan
laporan akuntansi yang true dan accurate tanpa kesalahan penyajian; dan

17
menyamakan fairness dengan penyajian yang fair, unbiased, dan
impartical

Spacek satu langkah lebih maju dalam rangka menegaskan


keunggulan konsep kewajaran:

Suatu pembahasan tentang aktiva kewajiban, penghasilan, dan


biaya belumlah saatnya dan tidak ada gunanya sebelum menentukan
prinsip dasar yang akan menghasilkan suatu penyajian data yang wajar
dalam bentuk akuntansi keuangan dan laporan keuangan. Kewajaran
akuntansi dan laporan ini harus ada dan untuk masyarakat tersebut
mewakili berbagai golongan masyarakat kita

Kewajaran merupakan suatu tujuan yang diperlukan sekali dalam


pembentukan suatu teori akuntansi apabila apapun yang dipaksakan pada
dasarnya dapat dibuktikan secara logis atau secara empiris dan apabila
dioperasikan melaliu suatu definisi yang memadai dan melalui pengenalan
sifat-sifatnya.

Pendekatan Sosiologis

Pendekatan sosiologis perumusan suatu teori akuntansi


menekankan pengaruh social terhadap teknik akuntansi.Pendekatan ini
merupakan suatu pendekatan etis yang memusatkan pada suatu konsep
kewajaran yang lebih luas, yakni kesejahteraan social. Menurut
pendekatan sosiologis, suatu prinsip atau teknik akuntansi akan
bermanfaat bagi pertimbangan kesejahteraan social. Untuk mencapai
tujuan tersebut, pendekatan sosiologis menganggap eksistensi nilai-nilai
social yang terbentuk yang dapat dipergunakan sebagai criteria penentuan
teori akuntansi.

Pendekatan sosiologis dalam perumusan teori akuntansi telah


membantu evolusi suatu cabang ilmu akuntansi baru, yang disebut
Akuntansi Sosio-ekonomi.Tujuan utama sosio-ekonomi adalah mendorong

18
badan usaha berfungsi dalam suatu sistem pasar bebas untuk
mempertanggungjawabkan aktivitas produksi sendiri terhadap lingkungan
social melaliu pengukuran, internalisasi, dan pengungkapan dalam laporan
keuangan. Bertahun-tahun perhatian terhadap cabang ilmu tersebut
semakin meningkat akibat meningkatnya dukungan terhadap tanggung
jawab social, yang menitikberatkan pada ukuran social tergantung pada
nilai-nilai social, dan memenuhi suatu criteria kesejahteraan social,
kemungkinan akan memainkan suatu peran penting dalam perumusan
suatu teori akuntansi di masa yang akan datang.

Pendekatan Ekonomis

Pendekatan ekonomi terhadap suatu perumusan suatu teori


akuntansi menitikberatkan pengendalian perilaku indicator makroekonomi
yang diakibatkan oleh pemakaian berbagai teknik akuntansi.Sementara
pendekatan etis memfokuskan pada konsep kesejahteraan social,
pendekatan ekonomi memfokuskan pada konsep kesejahteraan ekonomi
umum.Menurut pendekatan ini, pemilihan teknik akuntansi yang berbeda
tergantung pada pengaruhnya terhadap kebaikan perekonomian
nasional.Swedia merupakan contoh yang lazim sebagai Negara yang
menyesuaikan kebijakan akuntansinya dengan kebijakan makroekonomi
laainnya. Lebih tegasnya, pemilihan teknik akuntansi akan tergantung
kepada situasi ekonomi tertentu. Missal metode masuk terakhir keluar
pertama (last In First Out-LIFO) akan menjadi teknik akuntansi yang lebih
menarik dalam suatu periode inflasi yang terus berlangsung. Selama
periode inflasi, metode MTKP atau LIFO dianggap menciptakan
pendapatan bersih tahunan yang lebih rendah karena menanggung lebih
tinggi biaya yang semakin membumbung bagi barang-barang yang terjual
disbanding menurut metode masuk pertama keluar pertama (First In First
Out-FIFO) ataupun metode rata-rata biaya (average cost)

2.7 Awal Masuknya Akuntansi Syariah di Indonesia

19
Akuntansi syariah pertama kali di terapkan Perbankan Islam pertama
kali muncul di Mesir tanpa menggunakan embel-embel Islam, karena
adanya kekhawatiran rezim yang berkuasa saat itu akan melihatnya
sebagai gerakan fundamentalis. Perintisnya adalah Ahmad El Najjar.
Sistem pertama yang dikembangkan adalah mengambil bentuk sebuah
bank simpanan yang berbasis profit sharing (pembagian laba / bagi hasil)
pada tahun 1963.Kemudian pada tahun 70-an, telah berdiri setidaknya 9
bank yang tidak memungutusaha-usaha perdagangan dan industri secara
langsung dalam bentukpartnership dan membagi keuntungan yang
didapat dengan para penabung.

Baru kemudian berdiri Islamic Development Bank pada tahun 1974


disponsori oleh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi
Konferensi Islam, yang menyediakan jasa finansial
berbasis fee dan profit sharing untuk negara-negara anggotanya dan
secara eksplisit menyatakan diri berdasar pada syariah Islam.

Kemudian setelah itu, secara berturut-turut berdirilah sejumlah bank


berbasis Islam antara lain berdiri Dubai Islamic Bank (1975), Faisal
Islamic Bank of Sudan (1977), Faisal Islamic Bank of Egypt (1977) serta
Bahrain Islamic Bank (1979) Phillipine Amanah Bank (1973)
berdasarkan dekrit presiden, dan Muslim Pilgrims Savings Corporation
(1983).

Akuntansi pertama kali dikenal di Indonesia sekitar tahun 1960an,


sementara akuntansi konvensional yang kita pahami dari berbagai
literature menyebutkan bahwa akuntansi pertama kali berkembang di
Italia dan dikembangkan oleh Lucas Pacioli (1494). Pemahaman ini
sudah mendarah daging pada masyarakat akuntan kita. Olehnya itu,
ketika banyak ahli yang mengemukakan pendapat bahwa akuntansi
sebenarnya telah berkembang jauh sebelumnya dan di mulai di arab,
akan sulit diterima oleh masyrakat akuntan.

20
Perkembangan akuntansi syariah beberapa tahun terakhir sangat
meningkat ini di tandai dengan seringnya kita menemukan seminar,
workshop, diskusi dan berbagai pelatihan yang membahas berbagai
kegiatan ekonomi dan akuntansi Islam, mulai dari perbankan, asuransi,
pegadaian, sampai pada bidang pendidikan semua berlabel syariah.

Namun dokumen tertulis yang menyiratkan dan mencermikan proses


perjuangan perkembangan akuntansi syariah masih sangat terbatas
jumlahnya. Demikian pula dengan sejarah perkembangan akuntansi
syariah di Indonesia.Kekurang tertarikan banyak orang terkait masalah
ini, baik sebagai bagian dari kehidupan penelitian maupun sebagai
sebuah ilmu pengetahuan menjadikan sejarah akuntansi syariah masih
sangat minim di temukan.Bank syariah sebagai landasan awal
perkembangan akuntansi syariah.

Perkembangan akuntansi syariah di Indonesia tidak dapat dilepaskan


dari proses pendirian Bank Syariah. Pendirian Bank Muamalat Indonesia
(BMI) merupakan landasan awal diterapkannya ajaran Islam menjadi
pedoman bermuamalah. Pendirian ini dimulai dengan serangkaian proses
perjuangan sekelompok masyarakat dan para pemikir Islam dalam upaya
mengajak masyarakat Indonesia bermuamalah yang sesuai dengan ajaran
agama. Kelompok ini diprakarsai oleh beberapa orang tokoh Islam,
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), serta Majelis Ulama
Indonesia (MUI) yang pada waktu itu, sekitar tahun 1990-1991.

Setelah didirikannya bank syariah, terdapat keganjilan ketika bank


membuat laporan keuangan. Dimana pada waktu itu proses akuntansi
belumlah mengacu pada akuntansi yang dilandasi syariah Islam. Maka
selanjutnya munculah kebutuhan akan akuntansi syariah Islam. Dan
dalam proses kemunculannya tersebut juga mengalami proses panjang.

Berdirinya bank syariah tentunya membutuhkan seperangkat aturan


yang tidak terpisahkan, antara lain, yaitu peraturan perbankan, kebutuhan

21
pengawasan, auditing, kebutuhan pemahaman terhadap produk-produk
syariah dan Iain-Iain. Dengan demikian banyak peneliti yang meyakini
bahwa kemunculan kebutuhan, pengembangan teori dan praktik
akuntansi syariah adalah karena berdirinya bank syariah.Pendirian bank
syariah adalah merupakan salah satu bentuk implementasi ekonomi
Islam.

Tabel 1.1.Daftar jumlah kantor bank syariah di indonesia:

2012(J
Kantor 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
an)

Bank umum
2 3 3 3 3 5 6 11 11 11
syariah

Unit usaha
8 15 19 20 26 27 25 23 24 24
syariah

BPRS 84 88 92 105 111 131 138 146 155 155

Jumlah Kantor 337 443 550 636 1024 1024 1233 1763 2101 2202

Dengan demikian, berdasarkan data dokumen, dapat


diinterpretasikan bahwa keberadaan sejarah pemikiran tentang akuntansi
syariah adalah setelah adanya standar akuntansi perbankan syariah,
setelah terbentuknya pemahaman yang lebih konkrit tentang apa dan
bagaimana akuntansi syariah, dan terbentuknya lembaga-lembaga yang
berkonsentrasi pada akuntansi syariah. jadi secara historis, sejak tahun
2002 barulah muncul ide pemikiran dan keberadaan akuntansi syariah,
baik secara pengetahuan umum maupun secara teknis. Sebagai catatan,
IAI baru membentuk Komite Akuntansi Syariah di Indonesia.

22
Pada tahun 2007, terdapat setidaknya 3 institusi bank syariah di
Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri dan
Bank Mega Syariah. Sementara bank umum yang telah memiliki unit
usaha syariah adalah 19 bank diantaranya merupakan bank besar seperti
Bank Negara Indonesia (Persero) dan Bank Rakyat Indonesia
(Persero).Sistem syariah juga telah digunakan oleh Bank Perkreditan
Rakyat, saat ini telah berkembang 104 BPR Syariah. Hanya saja, aset
perbankan syariah periode Maret 2006 baru tercatat 1,40 persen dari total
aset perbankan

Sedangkan untuk pertumbuhan asetnya, sistem perbankan Islam


telah mengalami pertumbuhan yang cukup pesat sebesar 74% per tahun
selama kurun waktu 1998 sampai 2002 (nominal dari Rp. 479 milyar
pada tahun 1998 menjadi 2.718 milyar pada tahun 2001). Dana pihak
ketiga telah meningkat dari Rp. 392 Milyar menjadi 1.806 milyar. (Bank
Indonesia, Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia,
2002: 5). Volume usaha mengalami pertumbuhan rata-rata pertahun
sebesar 64,98 % pada periode 2001-2003, bahkan pada tahun 2004
pertumbuhannya mencapai 80,56 %. Dari sisi ekspansi untuk
pembiayaan meningkat sebesar 101,08 % dengan pertumbuhan dana
yang dihimpun dari pihak ketiga sebesar 85,33%.(

Berdasarkan perhitungan Bank Indonesia sampai akhir November


2004 rasio antara pembiayaan dan penghimpunan dana (financing to
deposit ratio/FDR) mencapai 104,81 % dan ini merupakan angka
tertinggi bila dibandingkan dengan semua perbankan syariah di negara-
negara lain. Angka LDR (Loan Deposit Ratio) mencapai tingkat yang
lebih tinggi dibanding perbankan konvensional Indonesia yang mencapai
rata-rata sebesar 48 %.

2.8 Perbedaan dan Hubungan Akuntansi Konvensional (modern) dan


Akuntansi Syariah

23
Perkembangan ilmu pengetahuan termasuk sistem pencatatan pada
zaman dinasti abbaslah (750-1258 M) sudah sedemikian maju, sementara
pada kurun waktu yang hampir bersamaan. Eropa masih berada dalam
periode the dark age dari sini, kita dapat melihat hubungan antara luca
paciolli dan akuntansi islam. Pada tahun 1429 M angka dilarang digunakan
oleh pemerintah italia. Luca paciolli selalu tertarik untuk belajar tentang hal
tersebut serta belajar dari alberti seorang ahli matematika yang belajar dari
pemikir arab dan selalu menjadikan karya pisah sebgai rujukan.

Alasan teknis yang mendukung hal tersebut adalah : luca paciolli


mengatakan bahwa setiap transaksi harus dicatat dua kali disisi sebalah
kredit dan disisi sebelah debit. Dengan kata lain bahwa pencatatan harus
diawali dengan menulis sebelah kredit dan di sebelah debit. Penelitian
tentang sejarah dan perkembangan akuntansi memang perlu di kaji lebih
dalam lagi mengingat masih dipertanyakan bukti-bukti otentik/langsung
tentang hal tersebut bagaimana diungkapkan oleh napier.

2.9 Prosedur dan Istilah yang digunakan


Pelaksanaan akuntansi pada Negara islam terjadi terutama adanya
dorongan kewajiban zakat. Al Mazenderany (1363 M) mengenai praktik
akuntansi pemerintah selama dinasti khan II pada buku Risalah falakiyah
kitabus sikayat. Sistem akuntansi Negara Islam tersebut pertama kali
dilakukan oleh Al Khawarizmy pada tahun 976 M.

Ada tujuh hal khusus dalam sistem akuntansi yang dijalankan oleh
Negara islam sebagaimana dijelaskan oleh Al- khawariszmy dan Al-
mazendarany (zaid, 1999) yaitu:

1. Sistem akuntansi untuk kebutuhan hidup


2. Sistem akuntansi untuk kontruksi merupakan sistem akuntansi untuk
proyek pembangunan.
3. Sistem akuntansi untuk pertanian merupakan sistem yang berbasis non-
moneter

24
4. Sistem akuntansi gudang merupakan sistem untuk mencatat pembelian
barang Negara yang mencatat sehingga hal ini menunjukan sistem
pengendalian intern (intern control)
5. Sisitem akuntansi mmata uang, sistem ini telah dilakukan oleh Negara
islam sebelum abad ke 14 M. sistem ini memberikan hak kepada
pengelolanya untuk mengubah emas dan perak yang diterima pengelola
menjadi koin sekaligus mendistribusikannya.
6. Sistem akuntansi petrnakan merupakan sistem untuk mencatat seluruh
binatang
7. Sistem akuntansi perbendaraan merupakan sistem untuk mencatat
penerimaan dan pengeluaran harian Negara baik dalam nilai uang atau
barang.

Hal ini merupakan salah satu bentuk pengendalian internal (internal


control) penerapan prosedur audit (audit procedure) serta akuntansi berbasis
pertanggung jawaban (responsibility accounting). Prosedur yang harus
dilakukan adalah sebagai berikut (zaid; 1999)

1. Transaksi harus dicatat setelah terjadi


2. Transaksi harus dikelompokan
3. Penerimaan akan dicatat di sisi sebelah kanan dan pengeluaran dicatat di
sebalah kiri
4. Pembayaran harus dicatat dan diberikan penjelasan yang memadai di
sebelah sisi kiri halaman Pencatatan transaksi harus dilakukan dan
dijelaskan secra hati-hati
5. Pencatatan transaksi harus dilakukan dan dijelaskan secara hati-hati
6. Tidak diberikan jarak penulisan di sisi sebelah kiri, dan harus diberi garis
penutup
7. Koreksi atas transaksi harus dilakukan dan dijelaskan secara hati-hati
8. Jika akun telah ditutup, maka akan diberi tanda tentang tersebut
9. Seluruh transaksi yang dicatat di buku jurnal (al jaridah) akan dipindahkan
pada buku khusus berdasarkan pengelompokan transaksi
10. Orang yang melakukan pencatatan untuk pengelompokan berbeda dengan
orang yang melakukan pencatatan harian
11. Saldo diperoleh dari selisih
12. Laporan harus disusun setiap bulan dan tahun
13. Pada setiap akhir tahun, laporan yang disampaikan oleh al kateb

25
14. Laporan tahunana yang disusun al kateb akan diperiksa dan di bandingkan
dengan tahun sebelumnya dan akan di simpan di diwan

Dihubungkan dengan prosedur tersebut, terdapat beberapa istilah


sebagai berikut:

1. Al-jaridah merupakan buku untuk mencatat transaksi yang dalam


bahasa Arab berarti koran atau jurnal. Istilah ini pertama kali
disebutkan oleh Al-Mazendarany (1363) dan Ibnu Kaldun (1378).
Al-jaridah terbagi atas 3 (tiga),
b. Jaridah Al-Kharaj untuk berbagai jenis zakat
c. Jaridah Annaafakat untuk mencatat jurnal pengeluaran.
d. Jaridah Al-maal untuk mencatat jurnal pendanaan yang berasal
dari penerimaan dan pengeluaran zakat.
e. Jaridah Al-musaderen untuk mencatat jurnal pendanaan khusus
berupa perolehan dana dari individu yang tidak harus taat pada
hukum Islam (non muslim).
2. Daftar Al-Yaumiah (buku harian). Digunakan sebagai dasar untuk
pembuatan Ash-Shahed (jurnal Voucher). Jurnal Voucher adalah
tangunggjawab al-kateb dan disetujui oleh oleh pimpinan Diwan
dan menteri. Dalam bentuk daftar:
a. Daftar Attawjihat digunakan untuk mencatat anggaran
pembelanjaan. Berbentuk Mukarriyah (anggaran operasional)
maupun Itlakiyah (anggaran untuk pos direksi dari raja)
b. Daftar Attahwilat digunakan untuk mencatat keluar masuknya
dana antara wilayah dan pusat pemerintah.

Al-Khawarizmy membagi beberapa jenis daftar :

a. Kaman Al-Kharadj merupakan dasar-dasar survey


b. Al-Awardj menunjukkan utang per individu beserta daftar
pembayaran cicilan.
c. Al-Ruznamajd atau buku harian yaitu melakukan pencatatn untuk
pembayaran dan penerimaan setiap hari.
d. Al-Khatma merupakan laporan pendapatan dan pengeluaran per
bulan.
e. Al-Khatma Al-Djamia merupakan laporan tahunan

26
f. Al-Taridj merupakan tambahan catatan untuk menunjukkan
kategori secara keseluruhan.
g. Al-Arida merupakan 3 kolom jurnal yang totalnya terdapat dikolom
ke tiga.
h. Al-Baraa merupakan penerimaan pembayaran dari pembayarab
pajak.
i. Al-Muwafaka Wal-Djamaa akuntansi komprehensif disajikan oleh
amil.

Pembagian akuntansi untuk kantor militer (Diwan al-djaysh), Al-


Khawarizmy membagi menjadi antara lain:

a. Al-Djarida Al-Sawda merupakan daftar nama prajurit,silsilah, asal


suku, dan deskripsi fisik disiapkan setiap tahun.
b. Radja merupakan daftar permintaan yang dikeluarkan oleh muti
(pimpinan) untuk daerah terpencil.
c. Al-Radja Al-Djamia merupakan permintaan umum dikeluarkan
oleh muti (pimpinan) untuk akun umum (tama).
d. Al-Sakk, permintaan persediaan untuk akun umum yang
menunjukkan pembayaran dengan nomor dan jumlah serta tanda
dari pihak yang memiliki otoritas.
e. Al Mudmara permintaan persediaan yang dikeluarkan selama
periode akun umum.
f. Al-Istikrar merupakan persediaan setelah dilakukan pembayaran.
g. Al-Muwasafa adalah daftar yang menunjukkan lingkugan dan
penyebab terjadinya perubahan pada lingkungan.
h. Al-Djarida Al-Musadjadjala adalah registrasi yang tergesel.
i. Al-Fihrist adalah daftar persediaan yang terdapat pada Diwan.
j. Al-Dastur copy umum atas beberapa draf.

3. Beberapa jenis laporan keuangan di antaranya sebagai berikut:


a. Al-Khitmah merupakan laporan yang dibuat setiap akhir tahun
yang menunjukkan penerimaan dan pengeluaran. Dalam bahasa
Arab Al-Khitmah adalah lengkap atau akhir.
b. Al-Khitmah Al-Jameeh merupakan laporan yang disisipkan oleh
Al-Khateb tahunan dan diberikan kepada atasannya (biasa

27
disebut Al-Mawafaka-Penerimaan) yang berisikan: pendapatan,
beban dan surplus/deficit setiap akhir tahun.
c. Bentuk perhitungan dan laporan zakat akan dikelompokkan
pada laporan keuangan terbagi atas 3 kelompok, yaitu :
1. Ar-Raj Minal Mal (yang dapat tertagih)
2. Ar-Munkasir Minal Mal (Piutang tidak dan tertagih), dan
3. Al-Mutaadhir Wal Mutahayyer Wal Mutaakkid
(piutang yang sulit dan piutang bermasalah sehingga
tidak tertagih.

BAB III

28
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Akuntansi bukanlah suatu profesi baru, dalam bentuk yang sangat
sederhana telah dilakukan pada zaman sebelum masehi. Luca Piciolli dengan
bukunya tahun 1494 M dengan bukunya: Summa de Arithmetica Geometri
Proporsionalita (A Review of Arithmetic, Geometry and Proportions) pada
tahun 1494 Mmenerangkan mengenai double entry book keeping sehingga
ditetapkan sebagai penemu akuntansi modern.

Lahirnya sebuah paradigma dapat dipahami sebagai bagian dari siklus


hukum tuhan (sunnatullah).Akuntansi modern mulai dipertanyakan dan
diragukan kesahihannya. Dimasa yang akan datang akuntansi modern tidak
menutuyp kemungkinan akan diganti oleh akuntansi alternatif, yaitu
Akuntansi Syariah, yang sudah tampak sebagai bayi yang baru lahir.

Akuntansi syariah memiliki tujuan alternatif yang ideal, yaitu:


menciptakan realitas tauhid. Realitas ini adalah realitas sosial yang
mengandung jaringan kuasa ilahi yang mengikat dan memilin kehidupan
manusia dalam ketundukkan pada tuhan. Untuk sampai pada tujuan ini
diperlakukan instrument untuk membangun dan menbentuk Akuntansi
Syariah, yaitu dengan cara epistemologi dan metodologi syariah.

3.2 Saran
Telah jelas bagi kita, bahwa akuntansi merupakan sesuatu yang bermanfaat
dalam kehidupan kita.Utamanya dala kehidupan ekonomi dan bisnis.Dilihat
dari perkembangannya, memang bnyak hal yang perlu disesuaikan, seiring
dengan perubahan masyarakat yang sedang berubah.Kendatipun harus
memelihara harus memelihara dan mempertahankan sifat tehnisnya dalam
memberikan informasi yang relevan dan terpercaya. Oleh karena itu,

29
implikasi akuntansi secara bertanggung jawab, adil dan benar merupakan
nilai yang essensial dalam akuntansi dan kedua model akuntansi syariah,
yaitu: akuntansi filosofis-teoritis dan akuntansi syariah praktis, keduannya
dapat berjalan seiring sejalan yang secara positif dapat kita pandang sebagai
proses pengayaan (enrichment) pada perbendaharaan akuntansi syariah.

30