Anda di halaman 1dari 31

Akuntansi keuangan syariah Di Indonesia

“Isu kontemporer”

Oleh

Kelompok 16

1. Agil Salman Mahendra (B200130370)


2. Endah Purnama Sari (B200130374)
3. Alfan Baharuddin A (B200140353)
Isu Kontemporer
Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka
panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk uang, ekuitas (saham), instrumen
derivatif maupun isntrumen lainya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi
perusahaan maupun institusi lain (misalnya pemerintah) dan sarana bagi kegiatan berinvestasi
bagi para investor. Dengan demikian, pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana
kegiatan jual beli dan kegiatan jual beli dan kegiatan terkait lainya. (Darmadji dan fakhruddin
2006)

Dalam menjalankan fungsinya, pasar modal dibagi menjadi tiga macam, yaitu

1. Pasar perdana merupakan penjualan efek pertama kali atau penerbitan efek sebelum
efek tersebut dijual melalui bursa efek.

2. Pasar sekunder adalah penjualan efek setelah penjualan pada pasar perdana berakhir.
Harga efek ditentukan berdasarkan nilai pasar efek tersebut, dan perusahaan yang
menerbitkan tidak lagi memperoleh dana dari penjualan tersebut.

3. Bursa paralel merupakan bursa efek yang ada. Bagi perusahaan yang menerbitkan efek
dan akan menjual efeknya melalui bursa dapat dilakukan melalui bursa paralel. Bursa
paralel merupakan alternatif bagi perusahaan yang go public untuk memperjualbelikan
efeknya jika dapat memenuhi syarat yang ditentukan pada bursa efek.

Pasar Modal Syariah di Indonesia


Pasar Modal Syariah merupakan pasar modal yang menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam
kegiatan transaksinya dan terbebas dari hal-hal yang dilarang, seperti riba, perjudian, spekulasi
dan lain sebagainya. Penerapan prinsip prinsip syariah melekat pada instrumen atau surat
berharga atau efek yang diperjualbelikan (efek syariah) dan cara bertransaksinya sebagaimana
diatur oleh fatwa DSN MUI, sehingga tidak memerlukan bursa efek yang terpisah.

Pasar modal syariah di indonesia secara resmi diluncurkan pada tanggal 14 Maret 2003
bersamaan dengan penandatanganan MOU antara BAPEPAM-LK dengan Dewan Syariah
Nasional-MUI. Namun instrumen pasar modal syariah telah hadir di Indonesia pada tahun 1997.
hal ini ditandai dengan peluncuran Danareksa syariah pada 3 juli 1997 oleh PT Danareksa
Investmen management.
Selanjutnya bursa Efek Indonesia bekerja sama dengan PT Danareksa Investment Management
meluncurkan Jakarta Islamic Index pada tanggal 3 Juli 2000 yang bertujuan untuk memandu
investor yang ingin menanamkan dananya secara syariah. Dengan hadirnya indeks tersebut,
maka para pemodal telah disediakan saham-saham yang dapat dijadikan sarana berinvestasi
dengan penerapan prinsip syariah. (Darmadji dan Fakhruddin, 2006)

Bapepam sebagai badan yang berwenang atas pasar modal di Indonesia, tak terkecuali pasar
modal syariah dengan keputusan Nomor Kep-130/BL/2006 dan Nomor Kep-131/BL/2006 telah
menerbitkan satu paket regulasi yang terkait dengan penerapan prinsip syariah di pasar modal,
yaitu peraturan Nomor IX. 13 dan peraturan Nomor IX.A.14. Peraturan ini dikeluarkan 23
November 2006.

Peraturan yang dikeluarkan Bapepam terkait dengan efek syariah selalu mengacu pada
keputusan MUI yang berhubungan dengan pasar Modal Syariah. Fatwa Dewan Syariah nasional-
MUI yang telah diterbitkan adalah :

1. NO. 40/DSN-MUI/X/2003, tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip
Syariah di Bidang Pasar Modal;

2. NO. 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Saham;

3. NO. 20/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksa Dana


Syariah;

4. NO. 32/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah;

5. NO. 33/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah;

6. NO. 41/DSN-MUI/III/2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah

Walaupun telah disiapkan master plan pasar modal syariah berupa kerangka kebijakan
pengembangan pasar modal syariah termasuk serangkaian peraturan, serta komponen
pendukungnya seperti kebijakan akuntansi, hukum maupun bentuk syariah, perkembangan
pasar modal syariah di Indonesia masih tergolong lambat. Sebagai akibat dari (hasil studi
Bapepam):

1. Kurangnya tingkat pengetahuan dan pemahaman pelaku pasar dan pemodal;

2. Terbatasnya informasi tentang Pasar Modal Syariah;

3. Kurangnya sumber daya manusia (profesional) yang ahli dalam bidang keuangan
syariah;
4. Pola kelembagaan atau institusi dalam rangka pengawasan masih dianggap sebagai “dis-
insentif” oleh para pelaku;

5. Kurangnya “insentif” sehingga pelaku lebih cenderung menerbitkan produk


konvensional;

6. Terbatasnya produk syariah yang dapat dijadikan portofolio reksa dana (kendala khusus
untuk reksa dana syariah).

Sumber Hukum Syariah

1. Al-Quran

……dan Allah emnghalalkan jual beli dan mengharamkan riba… (QS 2:275)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang
belum dipungut) jika kamu orang—orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan
(meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan
jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak
menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS 2:278-279)

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia
Allah.” (QS 62:10)

“Hai orang orang yang beriman! Penuhilah akad akad itu…. (QS 5:1)

“…dan penuhilah janji: Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabanya.” (QS 17:34)

2. As-Sunah

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain” (HR
Ibnu Majah dari ‘Ubadah bin Shamit)

“Janganlah kamu menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR Al khomsah dari Hukaim bin
Hizam)

“Rasulullah SAW melarang jual beli yang mengandung gharar.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

“Allah SWT berfirman: ‘Aku adalah pihak kedua dari orang yang bersyarikat selama salah satu
pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, aku keluar dari
mereka.’ (HR Abu Daud, dari Abu Hurairah)

Dari ketentuan diatas, memang tidak ada yang langsung menghalalkan atau mengharamkan
transaksi tersebut belum dikenal pada zaman nabi. Hasil pertemuan ulama internasional telah
memperbolehkan transaksi saham seperti yang menjadi dasar fatwa DSN MUI yaitu: Keputusan
Muktamar ke-7 Majma’ Fiqh Islami tahun 1992 di Jeddah yaitu boleh menjual atau
menjaminkan saham dengan tetap memperhatikan peraturan yang berlaku pada perseroan.

Dari sisi penerapan prinsip syariah untuk saham harus tetap memperhatikan transaksi yang
dilarang menurut syariah, serta pemilikan emiten harus sesuai syariah yang telah dijelaskan
melalui fatwa DSN MUI yang merupakan hasil ijtihad dari ulama di Indonesia.

Kriteria Efek Syariah (DSN-MUI-BAPEPAM)

Dalam melakukan investasi di pasar modal harus memperhatikan kesesuaian suatu produk
investasi atau surat berharga dengan prinsip-prinsip ajaran islam. Dewan Syariah Nasional
(DSN) suatu lembaga dibawah MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang dibentuk tahun 1999
melalui fatwa DSN nomor: 40/DSN-MUI/X/2003 Tanggal 4 Oktober 2003 tentang pasar modal
dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal, telah menentukan
tentang kriteria produk-produk investasi yang sesuai dengan ajaran Islam.

Pada intinya, produk atau instrumen keuangan yang digunakan bisa memenuhi syarat, sebagai
berikut:

1. Jenis usaha, produk barang dan jasa yang diberikan serta cara pengelolaan perusahaan
emiten tidak bertentangan dengan prinsip prinsip syariah. Jenis kegiatan yang
bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, antara lain:

a. Usaha perjudian atau permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang
dilarang;

b. Lembaga keuangan konvesional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi


konvensional;

c. Produsen, distributor, serta pedagan makanan minuman haram

d. Produsen, distributor dan/atau penedia barang/jasa yang merusak moral dan


bersifat mudharat

e. Melakukan investasi pada emiten (perusahaan) yang pada saat transaksi tingkat
(nisbah) utang perusahaan pada lembaga keuangan ribawi lebih dominan
daripada modalnya

2. Pelaksanaan transaksi harus dilaksanakan menurut prinsip kehati-hatian serta tidak


diperbolehkan melakukan spekulasi dan manipulasi yang di dalamnya mengandung
unsur gharar, riba, maisir, risywah, maksiat dan kezaliman, seperti berikut ini:
a. Najsy, yaitu melakukan penawaran palsu

b. Ba’I Al Ma’doum, yaitu melakukan penjualan efek syariah yang belum memiliki
(short selling)

c. Insider trading, yaitu menggunakan informasi “orang dalam” dari perusahaan


emiten untuk memperoleh keuntungan atas transaksi yang dilakukan.

d. Menimbulkan informasi yang menyesatkan

e. Margin Trading, melakukan transaksi atas efek syariah dengan fasilitas pinjaman
berbasis bunga atas kewajiban penyelesaian pembelian efek syariah tersebut.

3. Corner, adalah sejenis manipulasi pasar dalam bentuk menguasai pasokan saham yang
beredar di pasar sehingga pelakunya dapat menentukan harga saham di bursa. Dengan
adanya corner ini, harga dapat direkayasa dengan cara melakukan transaksi fiktif atau
transaksi semu.

4. Window dressing, merupakan praktik tertentu dalam laporan keuangan yang didesain
untuk menyajikan kondisi keuangan yang lebih baik daripada keadaan yang sebenarnya

Ada 2 (dua) kriteria yang harus dipenuhi agar suatu efek dinyatakan sesuai syariah, kriteria ini
sesuai dengan SK Badan pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan no. KEP-208/BL/2012
yang meyempurnakan SK Bapepam dan LK No. Kep-180/BL/2009 Tanggal 30 Juni 2009 yaitu
sebagai berikut

a) Kriteria jenis usaha: dimana entitas tersebut tidak melakukan kegiatan usaha, antara
lain:

1) Perjudian dan permainan yang tergolong judi

2) Perdagangan yang dilarangmenurut syariah, antara lain

a) Perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa.

b) Perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu

3) Jasa keuangan ribawi, antara lain:

a) Bank berbasis bunga

b) Perusahaan pembiayaan berbasis bunga

4) Jual beli resiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau


judi (maisir), antara lain asuransi konvensional;
5. Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan antara lain:

a. Barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi);

b. Barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram lighairihi) yang ditetapkan
oleh DSN-MUI;

c. Barang atau jasa yang merusak moral dan/atau bersifat mudharat

6. Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah)


b. Kriteria rasio keuangan, memenuhi rasio-rasio keuangan
yaitu:
a. Total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak lebih dari
45% (empat puluh lima per seratus); atau
b. Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainya dibandingkan dengan
total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10%
(sepuluh per seratus);

Jenis Efek Syariah

Objek jual beli atau perdagangan dalam pasar modal dan Pasar Modal Syariah adalah efek atau
surat berharga. Dalam pasar Modal Syariah, efek yang dapat diperdagangkan harus merupakan
efek syariah, yaitu surat berharga yang dikeluarkan oleh emiten dimana pengelolaan
perusahaanya, dan cara penerbitan (emisi) efeknya memenuhi prinsip prinsip syariah.

Ada 5 (lima) jenis efek syariah yang dapat diperdagangkan dalam pasar Modal Syariah yaitu
sebagai berikut :

1. Saham syariah adalah bukti kepimilikana atas suatu perusahaan yang memenuhi kriteria
berdasarkan fatwa DSN-MUI dan tidak termasuk saham yang memiliki hak-hak istimewa

2. Obligasi syariah adalah surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang
dikeluarkan Emiten kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil/margin/fee
serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo

3. Unit penyertaan Kontrak Investasi kolektif (KIK) Reksa Dana Syariah adalah satuan
ukuran yang menunjukkan bagian kepentingan setiap pihak dalam portofolio investasi
suatu KIK Reksa Dana Syariah.

4. Efek Beragun Aset (KIK EBA) syariah adalah efek yang diterbitkan oleh kontrak investasi
kolektif EBA syariah yang portofolionya terdiri atas aset keuangan yang timbul dari surat
berharga komersial
5. Surat Berharga Komersial Syariah adalah surat pengakuan atas suatu pembiayaan dalam
jangka waktu tertentu yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah

6. Surat berharga syariah lainya.

Saham Syariah

Pengertian Saham Syariah

Sesuai fatwa DSN-MUI, pengertian saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan dan
tidak termasuk saham yang memiliki hak-hak istimewa. Berdasarkan definisi tersebut dapat
dikatakan bahwa saham merupakan bukti kepemilikan seorang/pemegang saham atas aset
perusahaan sehingga penilaian atas saham seharusnya berdasarkan atas nilai aset (yang
berfungsi sebagai underlying asset-nya)

Sebagai bukti kepemilikan, maka saham yang diperbolehkan secara syariah untuk dibeli adalah
saham untuk perusahaan-perusahaan yang kegiatan usaha, jenis produk/ jasa serta cara
pengelolaanya sejalan dengan prinsip syariah.

Penyertaan modal secara syariah tidak diwujudkan dalam bentuk saham syariah maupun
nonsyariah, melainkan pada saham uang memenuhi kriteria syariah. BEJ bekerja sama dengan
dewan pengawas syariah PT Danareksa Invesment Management telah mengembangkan jakarta
Islamic Index

(JII) yang menggambarkan indeks saham yang memenuhi prinsip-prinsip syariah.

Proses penetapan saham emiten yang dapat dikelompokkan dalam JII adalah sebagai berikut.

1. Saham-saham yang termasuk dalam indeks syariah adalah saham-saham dengan emiten
yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah sebagaimana persyaratan
pada Fatwa DSN-MUI

2. Setelah itu dinilai berdasarkan aspek likuiditas dan kondisi keuangan emiten, yaitu
sebagai berikut

a. Memilih saham dengan jenis usaha utama yang tidak bertentangan dengan
prinsip syariah dan sudah tercatat lebih dari tiga bulan (kecuali termasuk dalam
10 kapitalisasi besar)

b. Memilih saham berdasarkan laporan keuangan tahunan atau tengah tahun


berakhir yang memiliki rasio kewajiban terhadap aset maksimal sebesar 90%
c. Memilih 60 saham dengan berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar
(market capitalization) terbesar dalam satu tahun terkahir

d. Memilih 30 saham dengan urutan berdasarkan tingkat likuiditas rata-rata nilai


perdagangan reguler dalam satu tahun terakhir

JII akan dikaji setiap 6 (enam) bulan dengan penentuan komponen index pada awal bulan
Januari dan Juli setiap tahunya, sedangkan perubahan pada jenis usaha emiten akan
dimonitoring secara terus menerus berdasarkan data-data publik yang tersedia. Indeks harga
saham setiap hari dihitung menggunakan harga saham terkahir yang terjadi di bursa.
Hal yang harus Diperhatikan dalam Transaksi Saham

Sesuai dengan fatwa MUI, transaksi saham dihalalkan sepanjang perusahaan tersebut tidak
melakukan transaksi yang dilarang, emiten menjalankan usaha dengan kriteria syariah serta
transaksi dilakukan dengan harga pasar wajar. Harga pasar wajar saham syariah harus
mencerminkan nilai atau valuasi atas kondisi yang sesungguhnya dari aset menjadi dasar
penerbitan efek tersebut dan/atau sesuai dengan mekanisme pasar yang teratur, wajar dan
efisien serta tidak direkayasa.
Secara implisit fatwa ini mengatakan bahwa penentuan harga saham yang wajar adalah harus
mencerminkan nilai underlying asset perusahaan emiten, dan tidak semata-mata hanya
berdasarkan kekuatan permintaan dan penawaran sebagaimana yang kita lihat pasar sekunder.

Dari sisi investor, transaksi saham merupakan sesuatu yang halal jika memang digunakan untuk
investasi dan bukan untuk kegiatan spekulasi. Kegiatan spekulasi dilarang karena spekulasi
menyebabkan peningkatan pendapatan bagi sekelompok masyarakat tanpa memberikan
kontribusi yang bersifat positif maupun produktif serta memiliki unsur gharar (ketidakjelasan)
dan maisyir (judi).

KIK Reksa Dana Syariah

Pengertian Reksa Dana Syariah

KIK Reksa Dana Syariah adalah satuan ukuran yang menunjukkan bagian kepentingan setiap
pihak dalam portofolio investasi suatu reksa dana syariah.

Reksa Dana Syariah adalah reksa dana uang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syariah
Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta (shahib al-mal/rabb al-
maal) dengan manajer investasi sebagai wakil shahib al-mal, maupun antara Manajer Investasi
sebagai wakil shahib al-mal dengan pengguna Investasi. (Fatwa DSN Nomor: 20/DSN-
MUI/IX/2001)

Dengan ketentuan ini, maka batasan untuk produk-produk yang dapat dijadikan portofolio bagi
reksa dana syariah adalah produk-produk investasi sesuai dengan syariah; seperti saham-saham
yang tergabung dalam JII, obligasi syariah, dan berbagai instrumen keuangan syariah lainya.

Reksa dana syariah merupakan sarana investasi campuran yang menggabungkan saham dan
saham dan obligasi syariah dalam satu produk yang dikelola oleh manajer investasi. Manajer
investasi menawarkan KIK reksa dana syariah kepada para investor yang berminat, kemudian
dana yang diperoleh dari investor dikelola oleh manajer investasi untuk ditanamkan dalam
saham atau obligasi syariah yang dinilai menguntungkan.

Keuntungan berinvestasi pada reksa dana syariah adalah dapat dilakukan secara ritel sehingga
berinvestasi awal dapat disesuaikan dengan kesanggupan keuangan dan nilainya kecil, bahkan
ada yang hanya Rp. 250.000. Keuntungan lainya antara lain adalah hasilnya yang relatif lebih
tinggi (dibanding deposito) serta bebas pajak, mudah pelaksanaan transaksinya (ATM,
phonebanking, atau internet banking); perkembanganya yang dapat dipantau secara harian
melalui media (termasuk beberapa koran), serta adanya audit secara rutin dan pengawasan
oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Berikut beberapa reksa dana syariah di Indonesia:


1. BNI dana Syariah (Sejak tahun 2004)

2. Dompet Dhuafa-BTS Syariah (2004)

3. PNM Amanah Syariah (2004)

4. Big Dana Syariah (2004)

5. I-Hajj Syariah Fund (2005)

6. Reksa Dana PNM Syariah (Sejak tahun 2000)

7. Danareksa Syariah Berimbang (2000)

8. Batasa Syariah (2003)

9. BNI Dana Plus Syariah (2004)

10. AAA Syariah Fund (2004)

11. BSM Investa Berimbang (2004)

Mekanisme Reksa Dana

Mekanisme operasional dalam reksa dana syariah terdiri atas:

1. Antara pemodal dengan manajer investasi dilakukan dengan sistem wakalah

2. Antara manajer investasi dan pengguna investasi dilakukan dengan sistem


mudharabah

Karakteristik sistem mudharabah adalah sebagai berikut.

1. Pembagian keuntungan antara pemodal (sahib al-mal) yang diwakili oleh manajer
investasi dan pengguna investasi berdasarkan pada proporsi yang telah disepakati kedua
belah pihak melalui manajer investasi sebagai wakil dan tidak ada jaminan atas hasil
investasi tertentu kepada pemodal.

2. Pemodal hanya menanggung resiko sebesar dana yang telah diberikan

3. Manajer investasi sebagai wakil tidak menanggung resiko kerugian atas investasi
sepanjang bukan karena kelalaianya (gross neglience/tarfih)

Pihak yang Terlibat dalam Reksa Dana Syariah (DSN_MUI)


1. Manajer investasi adalah pihak/perusahaan yang kegiatan utamanya adalah mengelola
portofolio efek untuk nasabah atau mengelola portofolio atas investasi kolektif untuk
sekelompok orang termasuk reksa dana. Kewajiban manajer investasi adalah:

a. Mengelola portofolio investasi sesuai dengan kebijakan investasi yang tercantum


dalam kontrak dan prospektus.

b. Menyusun tata cara dan memastikan bahwa semua dana para calon pemegang
unit penyertaan disampaikan kepada Bank Kustodian selambat-lambatnya akhir
kerja pada hari berikutnya

c. Melakukan pengembalian dana unit penyertaan; dan

d. Memelihara semua catatan penting yang berkaitan dengan laporan keuangan


dan pengelolaan reksa dana sebagaimana ditetapkan oleh instansi yang
berwenang

2. Bank kustodian adalah bank yang menerima jasa penitipan efek dan harta lain yang
berkaitan dengan efek jasa lain, menyelesaikan transaksi efek dan mewakili pemegang
rekening nasabahnya. Kewajiban bank kustodian adalah:

a. Memberikan pelayanan penitipan kolektif sehubungan dengan kekayaan reksa


dana;

b. Menghitung nilai aset bersih dari unit penyertaan setiap hari bursa;

c. Membayar biaya-biaya yang berkaitan dengan reksa dana atas perintah manajer
investasi;

d. Menyimpan catatan secara terpisah yang menunjukkan semua perubahan dalam


jumlah unit penyertaan, nama, kewarganegaraan, alamat dan indentitas lainya
dari para pemodal;

e. Mengurus penerbitan dan penebusan dari unit penyertaan sesuai dengan


kontrak

f. Memastikan bahwa unit penyertaan diterbitkan hanya atas penerimaan dana


dari calon pemodal

3. Dewan pengawas syariah untuk mengawasi proses transaksi reksa dana baik sebelum
peluncuran maupun setelah peluncuran. Kewajiban dewan pengurus syariah adalah
sebagai berikut:
a. Melakukan proses penyeleksian portofolio efek. Jika efeknya saham maka usaha
dan kondisi keuanganya seperti yang telah ditetapkan MUI. Jika efeknya adalah
obligasi, maka harus pada obligasi syariah. Jika efeknya pasar uang maka harus
sesuai syariah.

b. Melakukan monitoring portofolio, memastikan bahwa investasi dilakukan pada


efek yang telah ditetapkan dan melakukan transaksi sesuai syariah. Hal ini harus
disajikan dalam laporan DPS.

c. Melakukan purifikasi (pemurnian) portofolio yaitu penyisihan atas pendapatan-


pendapatan nonhalal, jika diketahui ada maka akan digunakan sebagai dana
sosial kemasyarkatan serta dikeluarkan dari perhitungan nilai asset bersih.
Proses purifikasi dan penggunaan dana purifikasi harus disajikan dalam laporan
DPS.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam transaksi Reksa Dana


Sesuai dengan fatwa MUI, transaksi reksa dana dihalalkan sepanjang perusahaan tersebut
memenuhi kriteria syariah, tidak melakukan transaksi yang dilarang, serta menginvestasikan
dana investor sesuai tuntunan syariah yang diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.

Dewan pengawas syariah memegang peranan sangat penting dalam mengawasi transaksi
perusahaan penerbit reksa dana, karena kehalalan imbal hasil/dana yang diperoleh melalui
reksa dana sangat bergantung pada kegiatan investasi yang dilakukan oleh manajer investasi.
Obligasi Syariah

Pengertian obligasi syariah

Fatwa DSN mendefinisikan obligasi syariah sebagai surat berharga jangka panjang berdasarkan
prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang saham obligasi syariah, yang
mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa
bagi hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.

Obligasi syariah bukanlah surat utang seperti obligasi konvensional, melainkan sertifikat
investasi (bukti kepemilikan) atas suatu aset berwujud atau hak manfaat (beneficial tittle) yang
menjadi underlying asetnya. Jadi akadnya bukanlah akad utang-piutang melainkan investasi.
Dana yang terhimpun disalurkan untuk mengembangkan usaha lama atau pembangunan suatu
unit baru yang benar benar berbeda dari usaha lama.

Dalam menerbitkan obligasi syariah, emiten dapat menggunakan berbagai akadyang sesuai
dengan syariah seperti; mudharabah, musyarakah, salam, istishna’, dan ijarah. Oleh sebab itu
dasar syariah (sumber hukum dan ketentuan syariah) yang digunakan dalam obligasi syariah
tidak dapat lepas dari dasar syariah untuk masing-masing jenis akad tersebut. Misalnya, untuk
obligasi syariah mudharabah, maka dasar syariah untuk akad mudaharabah juga digunakan
untuk jenis ini.

Jenis obligasi syariah yang paling banyak digunakan hingga saat ini di Indonesia adalah obligasi
mudharabah dan ijarah dan MUI sudah mengeluarkan fatwa untuk kedua jenis obligasi syariah
tersebut. Struktur mudharabah lebih luwes untuk pengelolaan dana dalam jumlah besar, jangka
panjang serta tidak membutuhkan jaminan lain (Ichsien, 2003) sedangkan ijarah lebih
sederhana penggunaanya.

Untuk membantu investor dalam mengambil keputusan, obligasi syariah yang diterbitkan juga
memiliki rating sebagaimana obligasi konvensional. Obligasi syariah, memang agak kurang likuid
dan tidak dapat dibeli secara ritel, karena pembelian minimal adalah Rp. 1 Miliar dan karena
jumlah permintaanya lebih besar dari penawaran. Seluruh obligasi syariah diburu oleh
perusahaan asuransi syariah, perbankan syariah dan perusahaan investasi, dan mereka
memegangnya hingga jatuh tempo sehingga tidak mudah memperolehnya di pasar sekunder.

Hingga saat ini, total Obligasi Syariah dan Medium Term Notes (MTN) di Indonesia yang
diterbitkan sudah mencapai 32 jenis yaitu sebagai berikut :

1. PT. Indosat Tbk (Mudharabah)

2. Bank Bukopin Syariah

3. PT Berlian Laju Tanker (BLTA)

4. Bank Muamalat Tbk.

5. PT Cyliandra

6. Bank Syariah Mandiri

7. PTPN VII

8. PT Matahari Putra Prima Tbk.

9. PT Citra Sari Makmur

10. PT Sona Topas

11. PT Pembangunan Perumahan

12. PT Arpeni Pratama Ocean Line (APOL)

13. PT Humpuss Intermoda Transportasi (HIT) Tbk.


14. PT Indorent

15. PT Berlina Tbk.

16. PT Eternal buana Chemical Industries (EBCI)

17. PT Apexindo Pratama Duta Tbk.

18. PT Indosat Tbk. (Ijarah)

19. PT Polytama Propindo

20. PT Ricky Putra Globalindo (RPG)

21. PT Logindo Samudramakmur

22. PT Credit Suisse First Boston (CSFB)

23. PT Indonesia Commet Plus (Icomnet +)

24. PT PLN (Persero)

25. PT Pembangunan Perumahan (Persero)

26. PT Indosat Tbk (Ijarah I)

27. PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

28. PT Berlian Laju Tanker Tbk.

29. PT PLN (Persero)

30. PT Indosat Tbk. (Ijarah II)

31. PT Perkebunan Nusantara III

32. PT Pembangunan Perumahan (Persero)


Surat Berharga Syariah (SBSN/Sukuk Negara)

Surat berharga syariah negara adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan
prinsip syariahj, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata
uang rupiah maupun valuta asing. SBSN ini diterbitkan oleh pemerintah RI melalui perusahaan
penerbit SBSN atau langsung oleh [emerintah RI. SBSN ini dapat diterbitkan dengan
menggunakan akad-akad syariah seperti: mudharabah, musyarakah, isthisna’, dan ijarah.
Pembayaran bagi hasil atau fee akan dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui
Menteri Keuangan RI.

SBSN ini diterbitkan berdasarkan UU No. 19 Tahun 2008 tentang surat berharga Syariah Negara
pada tanggal 7 Mei 2008 dan merupakan UU yang ditunggu penerbitanya. Tujuan penerbitan
SBSN ini adalah untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau proyek-
proyek negara.

Hal yang harus Diperhatikan dalam Transaksi Obligasi


Sesuai dengan fatwa MUI, transaksi reksa dana dihalalkan sepanjang perusahaan tersebut
memenuhi kriteria syariah, tidak melakukan transaksi yang dilarang. Bahkan, dalam transaksi
obligasi diizinkan untuk dialihkan kepada pihak lain selama disepakati dalam akad. Kondisi ini
secara implisit mengatakan bahwa obligasi syariah lebih menekankan investasi dalam jangka
panjang dan bukan kegiatan spekulasi.

Fatwa MUI tentang obligasi syariah ijarah, merujuk kepada fatwa tentang pedoman transaksi di
pasar modal yang mengisyaratkan agar transaksi dilakukan dengan harga pasar wajar yang tidak
direkayasa serta mencerminkan nilai kondisi yang sesungguhnya dari aset yang menjadi dasar
penerbitan efek tersebut sesuai mekanisme pasar yang teratur, wajar dan efisien.

Obligasi syariah tidak mengenal adanya premium maupun diskon karena prinsip al-hawalah
(pengalihan piutang dengan tanggungan bagi hasil) sehingga harga yang digunakan adalah
harga nominal pelunasan jatuh tempo obligasi.

Bagi hasil ataupun margin/fee yang diberikan sebagai mbalan hasil dari obligasi syariah
merupakan hal yang harus dicermati. Pertama, imbal hasil dalam bentuk bagi hasil biasanya
diperoleh untuk obligasi syariah dengan akad mudharabah dan musyarakah, sehingga skema
imbal hasil berbentuk tingkat pengembalian yang relatif tidak tetap/memiliki volatilitas
tergantung pendapatan atau hasil kegiatan operasional (fatwa DSN MUI No. 15/DSN-
MUI/IX/2000)

Akuntansi Sukuk (PSAK 110)

PSAK No. 110 tentang Akuntansi Sukuk hanya mengatur 2 (dua) jenis sukuk yaitu: sukuk
mudharabah dan sukuk ijarah. Hal ini disebabkan penerbitan sukuk di Indonesia sebgian besar
didominasi oleh sukuk ijarah dan sebagian kecil adalah sukuk mudaharabah. Akuntansi sukuk ini
mengatur pihak yang melakukan transaksi sukuk baik investor maupun penerbit, sehingga apa
pun bentuk usahanya sepanjang mereka menerbitkan atau berinvestasi pada sukuk maka harus
mengikuti aturan pada PSAK ini. PSAK ini wajib diterapkan oleh entitas swasta namun entitas
sektor publik juga dapat menerapkan sepanjang tidak dilarang oleh regulasi yang berlaku. PSAK
ini juga mencakup semua bentuk efek yang memiliki karaktersitik yang serupa dengan sukuk
misalnya: mid tern notes syariah.

A. Akuntansi untuk Penerbit

Sukuk Mudharabah Sukuk Ijarah


Saat Pengakuan Saat entitas menjadi pihak yang Saat entitas menjadi pihak yang
terikat dengan ketentuan terikat dengan ketentuan
penerbitan sukuk mudharabah penerbitan sukuk
Pengukuran Sukuk mudharabah diakui Suku ijarah diakui sebesar nilai
sebesar nialai nominal nominal, disesuaikan dengan
premium atau diskonto dan
biaya transaksi terikait dengan
penerbitanya.
Setelah pengakuan awal, jika
jumlah tercatat berbeda dengan
nilai nominal maka perbedaan
tersebut diamortisasi secara
garis lurus selama jangka waktu
sukuk ijarah dan diakui sebagai
beban penerbitan sukuk ijarah
Pengakuan dan Pengukuran atas Biaya transaksi diakui secara Biaya transaksi diakui sebagai
Biaya Transaksi terpisah dari sukuk mudharabah pengurang atas nilai nominal
Biaya transaksi diamortisasi sukuk.
secara garis lurus slama jangka
waktu sukuk mudharabah , dan
diakui sebagai beban penerbitan
Return bagi Investor Berupa bagi hasil Berupa ujrah/fee
Bagi hasil yang menjadi hak Beban ijarah diakui pada saat
investor sukuk mudharabah terutang
diakui sebagai pengurang
pendapatan, bukan sebagai
beban
Penyajian Bagi entitas syariah: Sebagai Disajikan sebagia liabilitas secara
dana syirkah temporer neto setelah premium atau
Bagi entitas non syariah: sebagai diskonto dan biaya transaksi
liabilitas yang terpisah dari yang belum diamortasi
liabilitas lain dan dalam urutan
paling akhir dalam liabilitas
Biaya transaksi penerbitan sukuk
mudharabah disajikan dalam
asset sebagai beban tangguhan
Pengungkapan a. Persyaratan utama dalam a) Persyaratan utama dalam
penerbiatan, sep: aktivitas, penerbitan, sep: aktivitas,
ringkasan akad, jangka waktu, ringkasan akad, jangka waktu,
nilai, prinsip bagi hasil dan nilai nominal, besar imbalan
lainya dan lainya
b. Penjelasan aktivitas yang b) Penjelasan aktivitas yang
mendasari penerbitan sep: mendasari penerbitan sep:
jenis usaha, tren usaha dan jenis dn umur ekonomik
pihak pengelola c) Lain-lain
c. Lain-Lain
B. Akuntansi untuk Investor

Sukuk Mudharabah Sukuk Ijarah


Sebelum Pengakuan Entitas menentukan klasifikasi investasi, dalam 2 pilihan:
a. Diukur pada harga perolehan: jika model usahanya bertujuan
memperoleh arus kas kontraktual (tujuan ditetapkan oleh
entitas) dan persyaratanya ada tanggal pembayaran. Untuk
sukuk mudharabah adalah arus kas kontraktual berupa bagi hasil
dan pokok, sedangkan untuk sukuk ijarah adalah arus kas
imbalan berubah ujrah.
b. Diukur pada nilai wajar
Entitas tidak boleh mengubah klasifikasi kecuali ada perubahan
tujuan model usaha.
Saat Pengakuan Pada saat tanggal perdagangan Pada saat tanggal perdagangan
atau penyelesaian transaksi atau penyelesaian transaksi
dalam pasar yang lazim dalam pasar yang lazim
Pengukuran
Jika menggunakan harga Sebesar biaya perolehan Sebesar biaya perolehan
perolehan termasuk biaya transaksi termasuk biaya transaksi, jika
ada selisih atas nilai nominal dan
biaya perolehan maka
diamortisasi secara garis lurus
selama jangka waktu sukuk
Jika menggunakan nilai wajar Sebesar nilai wajar tidak termasuk biaya transaksi
Setelah Pengakuan Awal
Jika menggunakan harga Jika terdapat indikasi penurunan nilai, maka entitas membandingkan
perolehan antara nilai tercatat dan jumlah terpulihkan, Jika jumlah terpulihkan
lebih kecil maka diakui rugi penurunan nilai
Jumlah terpulihkan adalah jumlah dari nilai pokok yang akan
diterima tanpa memperhitungkan nilai terkini
Jika menggunakan nilai wajar Diukur pada nilai wajar, selisih antara nilai wajar dan jumlah tercatat
diakui dalam laba rugi
Penentuan nilai wajar investasi pengacu pada urutan sebagai
berikut:
 Kuotasi harga di pasar aktif atau,
 Harga yang terjadi dari transaksi terkini jika tidak ada kuotasi
harga di pasar aktif atau,
 Nilai wajar instrumen sejenis jika tidak ada kuotasi harga di pasar
aktif dan tidak ada harga yang terjadi dari transaksi terkini
Penyajian Tergantung pada pilihan pengukuran
Pendapatan investasi dan beban amortisasi disajikan secara neto
dalam laba rugi
Pengungkapan  Klasifikasi berdasarkan jumlah investasi
 Tujuan model usaha yang digunakan
 Jumlah investasi direklasifikasikan, jika ada dan penyebabnya
 Nilai wajar untuk investigasi yang diukur pada biaya perolehan.
Ilustrasi akuntansi sukuk

A. Sukuk Mudharabah

Perusahaan ABC menerbitkan sukuk mudharabah dengan nilai Rp 100 miliar pada tanggal 1
oktober 2014 dengan masa 5 tahun (dengan perhitungan 1 tahun = 360 hari). Sukuk ini
diterbitkan untuk membiayai satelit no “123” milik PT ABC. Bagi hasil yang ditawarkan (nisbah
bagi hasil) oleh PT ABC adalah sebesar 20%. Imbal hasil ini didasarkan atas pendapatan yang
diperoleh atas penggunaan satelit tersebut dan dibagikan setiap 3 bulan. Biaya yang
dikeluarkan terkait dengan penerbitan emisi adalah: biaya penjamin efek sebesar 0,25%, biaya
profesi penunjang pasar modal 0,18%, biaya penunjang lembaga pasar modal 0,10%, sedangkan
hiaya penerbitan tidak langsung yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. 500 juta.

Bank XYZ membeli 10% dari jumlah sukuk yang ditawarkan oleh PT ABC. Tujuan pembelian ini
adalah untuk memperoleh arus kas kontraktual. Biaya transaksi sebesar 0,1%.

Penerbit Sukuk PT ABC sebagai Bank XYZ sebagai Investor


Penerbit

Pengakuan dan Kas 100 miliar Investasi Sukuk Mudharabah 10,01 miliar
pengukuran
Sukuk Mudharabah 100 miliar Kas 10,01

(Bank XYZ diukur dengan harga perolehan


karena tujuannya memperoleh arus kas
kontraktual sehingga harga perolehan
termasuk biaya transaksi.)

Biaya Transaksi Untuk penerbit harus Biaya Amortisasi 166.667


dikelompokkan menjadi biaya emisi
dan biaya lain. Investasi Sukuk Mudharabah 166.667

Biaya Emisi Biaya dibayar di muka 530 juta

Kas 530
juta

*) 530 juta = 100 miliar x (0.25% +


0.17% + 0.1%)
Biaya Lain Beban Jasa Lain 500 juta

Kas 500 juta

Pengakuan Imbal Hasil Beban Imbal Hasil Sukuk 4,5 miliar Piutang Imbal Hasil 450 juta
Asumsi Pendapatan yang
Utang Imbal Hasil 4,5 Pendapatan Imbal Hasil 450 juta
akan dibagihasilkan
bulan 1 = Rp270 miliar x miliar
20%x30/360=4,5 miliar

Saat Pembayaran Imbal Utang Imbal Hasil 13,5 miliar Kas 13,5 miliar
Hasil Untuk memudahkan
perhitungan maka Kas 13,5 Piutang Imbal Hasil 13,5 miliar
diasumsikan = setiap miliar
bulan pendapatan yang
akan dibagihasilkan
sama.

Amortisasi Biaya Emisi Biaya Emisi 26,5 juta


dilakukan selama periode
Biaya dibayar dimuka 26,5
suku (3bulan)
juta

530 juta/ 60x3 =26,5 juta

Penyajian Laporan Posisi Aset: Aset:


Keuangan
Beban dibayar dimuka 503,5 juta Investasi

Dana Syirkah Temporer: Sukuk Mudharabah 10.009.500.000

Sukuk Mudharabah 100 miliar

Laporan Laba Rugi


Komprehensif Pendapatan: Pendapatan lain

Hak Bagi Hasil Pemilik Sukuk (4,5 Pendapatan Investasi 450.000.000


miliar)
Beban Amortisasi (500.000)

Pendapatan Neto 445.500.000


B. Sukuk Ijarah

Perusahaan ABC menerbitkan sukuk ijarah dengan nilai Rp 100 miliar pada tanggal 1 oktober
2014 dengan masa 5 tahun (dengan perhitungan 1 tahun = 360 hari). Sukuk ijarah tersebut
diterbitkan pada nilai nominal. Ujrah atas obligasi tersebut adalah sebesar 20% /tahun. Imbal
hasil akan dibagikan setiap 3 bulan. Biaya yang dikeluarkan terkait dengan penerbitan emisi
adalah: biaya penjamin efek sebesar 0,25%, biaya profesi penunjang pasar modal 0,18%, biaya
penunjang lembaga pasar modal 0,10%, sedangkan biaya penerbitan tidak langsung yang
dikeluarkan adalah sebesar Rp. 500 juta.

Bank XYZ membeli 10% dari jumlah sukuk yang ditawarkan oleh PT ABC. Tujuan pembelian ini
adalah untuk memperoleh arus kas kontraktual. Biaya transaksi sebesar 0,1%.

Penerbit Sukuk PT ABC sebagai Penerbit Bank XYZ sebagai Investor

Pengakuan dan Kas 99,47 miliar Investasi Sukuk Mudharabah 10,01


pengukuran miliar
Sukuk Mudharabah 100 miliar*
Kas 10,01
OJK akan mengawasi transaksi ini.
(Bank XYZ diukur dengan harga
perolehan karena tujuannya
Nilai Nominal Sukuk 100 miliar memperoleh arus kas kontraktual
sehingga harga perolehan termasuk
Biaya Emisi (530 juta) biaya transaksi.)

100 miliar x (0.25% + 0.18% + 0.1%)

Nilai bersih sukuk ijarah

Biaya Transaksi Biaya Amortisasi 166.667

Investasi Sukuk Mudharabah


166.667

Biaya amortisasi per bulan:

0.1% x 10 miliar x 1/60


Biaya Penerbitan Emisi Biaya transaksi akan sebagai pengurang
nominal

Biaya Lain Beban Jasa Lain 500 juta

Kas 500 juta

Pengakuan Imbal Hasil Beban Imbal Hasil Sukuk 1,67 miliar Piutang Imbal Hasil 167 juta
Asumsi Pendapatan yang
akan dibagihasilkan Utang Imbal Hasil 1,67miliar Pendapatan Imbal Hasil 167 juta
bulan 1 = Rp100 miliar x
20%x30/360=1,67 miliar

Saat Pembayaran Imbal Utang Imbal Hasil 5 miliar Kas 500 miliar
Hasil Untuk memudahkan
perhitungan maka Kas 5 miliar Piutang Imbal Hasil 500 miliar
diasumsikan = setiap
bulan pendapatan yang
akan dibagihasilkan
sama.
= 1,67 miliar x 3 = 5 miliar

Amortisasi Biaya Emisi Biaya Emisi 26,5 juta


dilakukan selama periode
suku (3bulan) Biaya dibayar dimuka 26,5 juta

530 juta/ 60x3 =26,5 juta

Penyajian Laporan Posisi Aset: Aset:


Keuangan
Sukuk Ijarah 99.496.500.000 Investasi Sukuk Ijarah 10.009.500.000

Beban:

Hak Bagi Hasil 1.670.000.000 Pendapatan lain


Laporan Laba Rugi
Komprehensif Pendapatan Investasi 450.000.000

Beban Amortisasi (500.000)

Pendapatan Neto 445.500.000


Asuransi Syariah

Definisi

PT syarikat Indonesia merupakanasuransi syariah yang pertama kali berdiri di Indonesia pada
tanggal 24 Februari 1994. pendirian asuransi syariah yang dimotori oleh Ikatan Cendekiawan
Muslim Indonesia ini, mendorong perkembangan asuransi syariah selanjutnya di Indonesia
hingga mencapai 44 perusahaan asuransi pada tahun 2012 (dakwatuna, 2012)

Asuransi syariah sendiri berbeda dengan asuransi konvensional. Perbedaan tersebut tercermin
dari definisi asuransi menurut UU No. 2 Tahun 1992, dengan fatwa DSN MUI tentang asuransi
syariah. Menurut UU No. 2 Tahun 1992, asuransi merupakan perjanjian antara dua pihak atau
lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkandiri kepada tertanggung, dengan menerima
premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian,
kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada
pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang
tidak pasti atau untuk memberikan pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya
seseorang yang dipertanggungkan.

Sedangkan definisi menurut fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)
No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah menyebutkan bahwa
definisi mengenai asuransi syariah (Ta’min, Takaful, atau Tadhamun) adalah usaha saling
melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam
bentuk aset dan/atau tabaru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko
tertentu melalui akad(perikatan) yang sesuai dengan syariah. Pada PSAK 108, asuransi syariah
didefinisikan sebagai sistem menyeluruh yang pesertanya mendonasikan (men-tabarru’-kan di
mana donasi tersebut adalah milik dari peserta secara kolektif) sebagian atau seluruh
kontribusinya yang digunakan untuk membayar klaim atas resiko tertentu akibat musibah pada
jiwa, badan atau benda yang dialami oleh peserta yang berhak
Sumber Hukum

Al Quran

Hai orang-orang yang bewriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperlihatkan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr:
18)

QS. Yusuf dari ayat 43-49 yang menjelaskan Nabi Yusuf AS menjelaskan tabir mimpi, dimana
jika kita mengetahui ada kondisi yang buruk di masa depan (kekeringan), maka kita dapat
melakukan persiapan yang baik untuk menghadapinya dengan cara bertanam tujuh tahun
(lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya
kecuali sedikit untuk kamu makan, Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat
sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali
sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.
Al Hadits

Barang siapa melepaskan diri dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan
melepaskan kesulitanya pada hari kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia
(suka) menolong saudaranya. (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Akuntansi Transaksi Asuransi (PSAK 108)

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 108 tentang Akuntansi Transaksi Asuransi
Syariah merupakan PSAK pertama yang ditujukan untuk entitas asuransi syariah dan hanya
mengatur tentang transaksi asuransi syariah secara resmi dikeluarkan pada bulan April 2009
dan berlaku efektif per 1 januari 2010. untuk laporan entitas keuangan entitas asuransi harus
mengacu pada PSAK 101 Lampiran 2 (dua) tentang penyajian Laporan Keuangan Entitas
Asuransi Syariah, yang terdiri dari :

• Laporan posisi keuangan (neraca)

• Laporan surplus defisit underwritting dana tabarru’;

• Laporan perubahan dana tabarru’;

• Laporan laba rugi

• Laporan perubahan ekuitas laporan arus kas

• Laporan sumber dan penggunaan dana zakat;

• Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan; dan

• Catatan atas laporan keuangan

Transaksi yang terkait dengan Regulator-Khusus Perbankan Syariah

Sertifikat Wadiah bank Indonesia

Sertifikat wadiah Bank Indonesia adalah sertifikat yang diterbitkan Bank Indoensia sebagai
bukti penitipan dana berjangka pendek dengan prinsip wadah. Akad wadiah adalah suatu akad
antara pemilik barang dengan penerima titipan barang untuk menjaga harta titipan dari
kerusakan atau kerugian serta demi keamanan barang yang dititpkan tersebut.

Dalam hal ini, Bank Syariah atau Unit Usaha Syariah dapat menempatkan kelebihan dananya
pada SWBI dan Bank Indonesia sebagai penerima titipan wajib menjaga dana tersebut hingga
jatuh tempo. Sebagai bukti penitipan dana tersebut, Bank Indoensia menerbitkan Sertifikat
Wadiah Bank Indonesia. SWBI merupakan instrumen yang tidak boleh diperjualbelikan.
Fungsi dari SWBI ini bagi Bank Indonesia adalah sebagai alat pengedalian moneter, dan bagi
Bank Syariah/unit Usaha Syariah dapat dijadikan sebagai alat untuk mengatur likuiditas. Bagi
bank syariah SWBI dapat digunakan sebagai agunan atas pemberian Fasilitas Pembiayaan
jangka Pendek bagi bank syariah oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia berkewajiban membantu
pemberian pembiayaan tersebut dalam fungsinya sebagai lender of the last resort.

Sertifikat Bank Indoensia Syariah

Sertifikat Bank Indoensia (SBI) adalah sejenis surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank
Indonesia selaku bank sentral dan ditujukan untuk dibeli oleh Bank Umum dengan nilai nominal
yang sangat besar. Tujuan penerbitan SBI bagi Bank Indonesia adalah mengatur peredaran uang
di dalam masyarakat, sedangkan bagi Bank Syariah/Unit Usaha Syariah sebagai salah satu cara
untuk mengatur likuiditas.

SBIS ini diterbitkan dalam nilai pecahan Rp 1.000.000,00 tanpa warkat dengan jangka waktu
maksimal 12 bulan, dapat diagunkan pada Bank Indonesia ketika memperoleh Fasilitas
Pinjaman Jangka Pendek dan tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

Pasar Uang Antar-Bank Syariah

Pasar uang antar-bank adalah transaksi untuk menyerahkan sejumlah kelebihan dana dari suatu
bank kepada bank yang lain, di mana bank menerima dana sedang kalah kliring. Kalah kliring
artinya sebuah bank yang kekurangan dana untuk membayar kepada nasabahnya. PUAS
diterbitkan dengan PBI No. 9/5/PBI/2007 pasar uang antar bank Berdasarkan Prinsip Syariah.
Sedangkan akad yang dapat digunakan untuk transaksi PUAS adalah akad mudharabah, akad
musyarakah, akad wadi’ah, akad qard dan akad sharf sesuai dengan fatwa DSN MUI No.:
37/DSN-MUI/X/2002.

Sertfikat Investasi Mudharabah Antar-Bank (SIMA)

Berlakunya instrumen keuangan syariah IMA ini berdasarkan Surat Edaran Bank Indoensia No.
9/8/DPM tertanggal 30 Maret 2007.

Tujuan diberlakukanya Sertifikat IMA ini adalah untuk saran investasi bagi Bank Syariah atau
Unit Usaha Syariah, terutama untuk mengatur kebutuhan likuiditasnya.

Sertifikat Investasi Mudharabah Antar Bank (sertifikat IMA) didefinisikan sebagai sertifikat yang
diterbitkan oleh Bank Syariah atau Unit Usaha Syariah (UUS) yang digunakan sebagai sarana
investasi jangka pendek di PUAS dengan akad mudharabah.

Karakteristik Sertifikat IMA yaitu :


1. Diterbitkan dengan akad mudharabah;

2. Dapat diterbitkan baik dalam bentuk rupiah maupun valuta asing;

3. Dapat diterbitkan dengan atau tanpa warkat;

4. Mencantumkan informasi sedikitnya nilai nominal investasi, nisbah bagi hasil, jangka
waktu investasi, indikasi tingkat imbalan Sertifikat IMA sebelum didistribusikan pada
bulan terakhir;

5. Berjangka waktu 1 hari sampai dengan 365 hari

6. Dapat diperdagangkan sebelum jatuh tempo

Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek bagi Bank Syariah (FPJPS)

FPJPS merupakan instrumen terakhir untuk memenuhi kebutuhan likuiditas bagi Bank Syariah
atau Unit Usaha Syariah setelah terjadinya saldo giro negatif dan tidak berhasilnya akses pasar
uang syariah untuk menutup kewajiban jangka pendek.

Untuk mengatur fasilitas pembiayaan jangka pendek bagi bank syariah telah diatur oleh PBI No.
11/24/PBI/2009 yang baru berlaku 1 Juli 2009 dengan menggantikan PBI No. 5/3/2003 dan No.
7/23/PBI/2005.

Plafon fasilitas pinjaman jangka Apendek syariah ini ditetapkan bewrdasarkan perkiraan jumlah
likuiditas selama 14 hari ke depan sampai bank memenuhi giro wajib minimum sesuai
peraturan yang berlaku atau maksimal 90 hari.

Pada saat FPJPS jatuh tempo, Bank Indoensia mendebet rekening giro ruppiah Bank yang
bersangkutan di Bank Indoensia sebesar nilai FPJPS dan imbalan FPJPS. Jika suatu saat FPJPS
jatuh tempo dan saldo giro rupiah Bank yang bersangkutan di Bank Indoensia tidak mecukupi
untuk membayar pokok dan imbalan FPJPS, maka Bank tidak lagi dianggap memenuhi
persyaratan untuk memperoleh perpanjangan FPJPS dan agunan FPJPS dieksekusi.

Bank wajib menyampaikan rencana tindak perbaikan (action plan) untuk mengatasi kesulitan
likuiditas paling lambat 5(lima) hari kerja setelah pencairan FPJPS dan wajib menyampaikan
laporan kepada Bank Indonesia mengenai penggunaan FPJPS dan kondisi likuiditas Bank pada
setiap akhir hari kerja.

Rangkuman

Sesuai dengan kaidah ushl fikh, transaksi dalam Islam dapat dilakukan dengan cara apa saja
asala tidak bertentangan dengan syariah islam. Hal ini diperkuat kembali dengan fatwa DSN
MUI yang mengirzinkan kondisi tersebut. Seiring dengan kemajuan zaman, maka dihalalkan
untuk melakukan transaksi jual beli saham, obligasi bahkan reksa dana sepanjang transaksi
tersebut tidak ada unsur riba, gharar, maisir dan lainya yan tidak sesuai dalam Islam.

Saham syariah, obligasi syariah dan reksa dana syariah telah menjadi instrumen pendanaan
yang lazim serta berkembang pesat saat ini. Melengkapi perbankan syariah dan asuransi syariah
yang telah diterima lebih dulu. Bahkan dengan dikeluarkanya UU No. 19/2008 telah terbit satu
instrumen syariah berupa Surat Berharga Syariah Negara.