Anda di halaman 1dari 9

KLIPING IPA

PERUBAHAN LINGKUNGAN FISIK

Nama : Hanuun R.K


Kelas : 4 Ar-Razaq
Perubahan Lingkungan Fisik

1. Angin
A. Merobohkan Pepohonan

Hujan disertai angin kencang membuat pohon tumbang hingga menutup


akses jalan ke obyek wisata Telaga Sarangan, Magetan, Jawa Timur,
Minggu (23/4/2017) pagi. Hujan disertai angin kencang yang terjadi
sejak tadi malam membuat pohon jenis eukaliptus berdiameter sekitar
40 cm tumbang menutup akses jalan di kawasan obyek wisata Telaga
Sarangan. Akibat pohon tumbang, kendaraan roda dua dan roda empat
tidak bisa lewat. Kendaraan baru bisa lewat setelah pohon dipotong
dengan gergaji mesin.
B. Menghancurkan rumah penduduk

Angin puting beliung melanda Kabupaten Merangin, Senin (24/4)


malam. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut, namun belasan
rumah warga rusak akibat hantaman angin tersebut. Hujan deras
disertai petir dan angin kencang itu terjadi sekitar pukul 20.00 Wib.
Musibah tersebut melanda dua desa, yakni desa Durian Betakuk dan
Talang Segagah, Kecamatan Renah Pembarap. Angin kecang yang
datang tiba-tiba itu, membuat warga yang sedang istirahat buyar. Warga
cemas angin memporak-porandakan rumah warga, atap berterbangan
dan pohon-pohon tumbang.
2. Hujan
A. Erosi

Belasan rumah warga di Dusun Gunung Pandan, Desa Kampong


Selamat Kecamatan Tenggulun terancam erosi Sungai Gunung Pandan.
Jarak pinggir sungai yang longsor berjarak sekitar satu sampai dua
meter. Jika tidak cepat ditangani, diprediksi jika terjadi banjir besar,
dipastikan rumah tersebut ambruk ke dalam sungai. kondisi abrasi
sungai Gunung Pandan sudah berlangsung lama namun yang parah
dua tahun terakhir, saat terjadi banjir bandang besar, sebagian besar
pinggir sungai tersebut tergerus arus sungai. Selain rumah dan halaman
rumah warga, kebun sawit dan kebun holtikultura berisi tanaman pinang,
coklat, durian dipastikan juga akan terkena dampak erosi sungai
Gunung Pandan tersebut.
B. Banjir

Hujan lebat disertai angin kencang melanda Bintan sejak pukul 09.00.
Pantauan Tribun, hanya dalam hitungan 30 menit, hujan langsung
menciptakan banjir yang cukup lebar. Di Km 16, hampir sejumlah ruas
titik telah kebanjiran. Di area sekitar pintu gerbang perbatasan
Tanjungpinang-Bintan, para pengendara terutama roda dua tampak
berhati hati melalui titik area yang kebanjiran. Kondisi jalan dalam
kondisi banjir licin. Seperti biasa, hujan juga diserati pemadaman listrik
PLN.
C. Longsor

Sebuah bangunan di Desa Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten


Trenggalek rusak parah akibat longsornya tebing setinggi 10 meter yang
ada di sisi rumah, Senin (24/4) petang. Akibatnya, ruang tamu rusak
lantaran tertimpa material longsor yang masuk hingga ke dalam rumah.
Diduga longsornya bukit tersebut karena tingginya curah hujan di
daerah tersebut. Ditafsir kerugian yang dialami korban hingga puluhan
juta rupiah. Awalnya terjadi hujan deras selama beberapa jam. Tak
berselang lama, terdengar suara gemuruh yang ada disamping rumah.
Dan ternyata tebing setinggi 10 meter yang ada disebelah rumah
longsor hingga menghantam tembok rumah serta menghancurkan
rumah. Karena intensitas curah hujan yang cukup tinggi membuat tebing
tinggi disamping rumah korban ambrol.
3. Cahaya Matahari
A. Tumbuhan menjadi mati akibat kekeringan

Sejumlah tanaman di median Jalan Sholeh Iskandar meranggas dan


mati akibat kekeringan yang terjadi di Kota Bogor pada 28 Juli 2015.
Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Bogor mencatat 65
persen tanaman di Bogor mati kekeringan. Puluhan pohon meranggas
di sepanjang jalur hijau. Hanya tersisa pohon dengan ranting tanpa
daun. Yang masih tersisa dan masih ada daun adalah pohon trembesi.
Kerusakan itu terjadi, karena cuaca ekstrim. Rumput-rumput
menguning dan beberapa tanaman mati karena kekeringan.
B. Tanah menjadi kering dan retak-retak

Di Jatiasih, Bekasi, 30 Oktober 2015. Kekeringan merupakan salah satu


bentuk bencana alam yang terjadi secara perlahan (slow-onset
disaster), berdampak luas dan memiliki sifat lintas sektor (ekonomi,
sosial, kesehatan, pendidikan). Kekeringan akan menyebabkan matinya
pohon-pohon, tanah menjadi tandus dan gundul yang pada akhirnya
ketika musim hujan datang akan menyebabkan tanah menjadi mudah
tererosi dan bisa menyebabkan terjadinya bencana tanah longsor serta
banjir. Dampak lain yang tak kalah berisiko adalah hilangnya bahan
pangan akibat tanaman pangan dan ternak mati.
4. Gelombang Air Laut
A. Abrasi

Pada 7 Januari 2017 di Kecamatan Air Dikit, Kabupaten Mukomuko,


Provinsi Bengkulu, Bustari, sekitar 12 meter daratan hilang akibat abrasi
pantai di sana. Setiap tahun seluas 12 meter daratan yang hilang akibat
abrasi pantai dari sepanjang 11 kilometer pesisir pantai mulai dari Desa
Air Dikit hingga Desa Sari Bulan, abrasi pantai tersebut telah
menghilangkan sebagian besar kuburan di tempat pemakaman umum di
wilayah itu. Mayoritas kuburan lama warga setempat yang tidak
diketahui lagi identitas keluarganya. Abrasi pantai tersebut
menghilangkan daratan lahan KMD. warga masyarakat Desa Air Dikit
dan Sari Bulan tidak memiliki lahan untuk pemukiman.