Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH ADMINSTRASI KEUANGAN NEGARA

SISTEM PERPAJAKAN dan POLITIK PAJAK

Disusun oleh :
Anisa Munnawaroh

1410201115

Semester III C

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI NEGARA


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TIDAR
2015/2016

Latar Belakang
Dunia yang terus berkembang menimbulkan banyak perubahan dalam kegiatan sehari-hari
yang dilakukan manusia. Perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi, telah
menggiring manusia ke dalam kehidupan yang serba cepat, serba otomatis, dan diliputi
berbagai kemudahan. Kemudahan-kemudahan inilah yang kemudian menjadikan manusia
memiliki berbagai cara dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Begitu halnya dalam dunia perpajakan. Perkembangan yang pesat dari kemampuan teknologi
yang telah diciptakan manusia membawa tidak hanya kemudahan, melainkan juga challenge
(tantangan) dan threat (ancaman) bagi setiap lini kehidupan manusia.
Dalam dunia perpajakan, perkembangan yang terjadi meliputi tidak hanya dalam kuantitas
dan kualitas sistem perpajakan, melainkan meliputi seluruh aspek dari sistem administrasi
perpajakan. Dunia dahulu hanya mengenal sistem pembayaran pajak manual, dimana para
petugas pajak mendatangi wajib pajak untuk menagih pajak bagi wajib pajak. Seiring dengan
berjalannya waktu, dikembangkan pula model-model sistem pemungutan pajak yang lebih
efektif, serta efisien dalam hal pemenuhan asas-asas perpajakannya.
Bila dahulu sistem pemungutan pajak hanya mengenal sistem Official Assesment dalam
pemenuhan kewajiban perpajakan wajib pajak, maka seiring dengan waktu, untuk mencegah
penghindaran pajak yang mungkin terjadi dengan pemberlakuan sistem tersebut, maka
berkembang pula sistem pemungutan pajak lainnya, seperti halnya sistem Self Assesment dan
sistem Withholding.
Sistem-sistem tersebut secara hukum memiliki dasar hukum yang memadai untuk
dilaksanakan. Namun secara asas perpajakan, patut dicermati, bagaimana kelebihan dan
kekurangan masing-masing sistem dalam pelaksanaan sistem pemungutan pajak ini. Selain
itu juga patut dicermati, bahwa tidak semua jenis pajak harus mengikuti suatu sistem tertentu
yang dianggap paling memadai dibanding sistem lainnya.
Perumusan Masalah
a. Apa saja sistem pemungutan pajak?

b. Bagaimana politik hukum pajak di Indonesia?


Tujuan
a. Untuk mengetahui sistem pemungutan pajak.
b. Untuk mengetahui politik hukum pajak.
c. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Administrasi Keuangan Negara.
d. Sebagai sarana atau media pembelajaran bagi mahasiswa pada umumnya.

Sistem Pemungutan Pajak


Sistem pemungutan pajak dapat dibagi menjadi :
1. Official assessment system
System ini merupakan system pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada
pemerintah untuk menentukan besarnya pajak yang terhutang. Pemerintah menentukan
besarnya terhutang.
Ciri-ciri official assessment system:
a.

Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang berada pada pemerintah

b. Wajib pajak bersifat pasif


c.

Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh pemerintah

Dalam system ini masyarakat Wajib Pajak bersifat pasif menunggu ketetapan hukum dari
aparat pajak atau pemungut pajak. Utang pajak baru timbul kalau sudah ada Surat ketetapan
Pajak (SKP) dari aparatur pajak.
Kelemahan-kelemahan system ini adalah:
a.

Pada permulaan tahun, wajib pajak dikenakan ketetapan sementara untuk pajak-pajak

pendapatan, kekayaan dan laba menurut perkiraan atau taksiran pejabat pajak untuk tahun
yang berjalan.
b.

Setelah tahun berakhir, wajib pajak harus memasukkan surat pemberitahuan, dimana

harus diberikan informasi tentang besarnya pendapatan, kekayaan maupun laba perseroan di
tahun yang baru berakhir tersebut. Setelah diadakan penelitian oleh pejabat pajak terhadap
surat pemberitahuan itu, maka dibuatlah surat ketetapan pajak rampung oleh pejabat pajak
yang bersangkutan.
Jelas kiranya, bahwa wajib pajak dalam tata cara tersebut di atas berada dalam suatu posisi
yang tersudut, sekalipun baginya tersedia instansi di mana mereka dapat mengajukan
sanggahan terhadap penetapan yang nyata tidak benar atau dianggapnya tidak adil.
Kelemahan sistem pemungutan ini antara lain adalah:
a)

Sulit untuk dapat memperkirakan jumlah pendapatan, kekayaan dan laba suatu

perusahaan yang mendekati dengan kenyataan. Oleh karena itu ada kaitannya ketetapan
sementara itu terlalu rendah atau terlalu tinggi.
b) Akibat dari ketetapan sementara yang terlalu rendah, maka akan memberatkan wajib
pajak dalam membayar ketetapan rampungnya, karena ketetapan rampungnya jauh lebih

besar daripada ketetapan sementaranya, sebaliknya kalau ketetapan tersebut terlalu tinggi
maka akan memberatkan wajib pajak dalam mengangsur ketetapan sementara tersebut.
c) Angsuran bulanan atas ketetapan sementara itu sama besarnya, sehingga mungkin tidak
selalu sesuai dengan tersedianya likuiditas wajib pajak, lebih-lebih mengingat ketentuan
pembayarannya yang harus dibayar pada setiap tanggal 15 dari bulan-bulan berikutnya
setelah bulan dimana surat ketetapan sementara diberikan.
d) Atas ketetapan sementara ini wajib pajak tidak dapat mengajukan keberatan, tetapi
dengan syarat-syarat tertentu, fiskus dapat memberikan penundaan pembayaran dari
(sebagian) ketetapan pajak sementara. Penundaan pembayaran ini dalam hal wajib pajak
mengajukan bukti-bukti bahwa ketetapan pajak sementara terlalu tinggi, pada dasarnya suatu
kebijaksanaan penagihan yang mengandung unsur subyektif.
e)

Ketetapan sementara itu merupakan pekerjaan massal, karena harus diselesaikan dalam

waktu yang sesingkat-singkatnya, disebabkan sisa waktu dalam tahun yang berjalan harus
digunakan untuk melakukan penetapan rampung. Hal ini mengakibatkan pekerjaan kurang
teliti, apa lagi mengingat jumlah aparatur pajak yang masih kurang.
f) Ada kalanya penetapan Pajak Rampung harus dilakukan dengan cara kompromi, yang
memungkinkan adanya exces negatif, yakni tawar-menawar. Kompromi tersebut dilakukan
dalam hal wajib pajak tidak melakukan pemberitahuan yang benar, sedangkan administrasi
pajak sendiri tidak memiliki bahan bahan yang lengkap untuk memungkinkan penetapan
Pajak Rampung dilakukan secara tepat.
g)

Para wajib pajak baru diwajibkan membayar pajak, bilamana kepada mereka telah

diberikan Surat Ketetapan Pajak. Surat Ketetapan Pajak itu baru dapat dikenakan bilamana
wajib pajak telah terdaftar pada tata usaha kantor pajak.Akibatnya, yang tidak terdaftar
berarti lolos dari pembayaran pajak.
2.

Self assessment system

System ini merupakan system pemungutan pajak yang memberi wewenang , kepercayaan,
tanggung jawab kepada wajib pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar, dan
melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar.
Menyadari akan kelemahan-kelemahan sistem pemungutan pajak sebagaimana dikemukakan
di atas, maka dipandang perlu untuk melaksanakan sistem pemungutan pajak yang lebih
sempurna, yang lebih efektif dan efisien dan yang memncerminkan pula kegotong-royongan
nasional.
Dengan sistem ini pada awal tahun pajak menentukan sendiri secara aktif menghitung,
memperhitungkan, menyetor, dan melaporkan sendiri pajaknya. Fiskus tidak ikut campur

tangan dalam penentuan besarnya pajak yang terhutang kecuali wajib pajak melanggar
ketentuan undang-undang perpajakan, maka yang bersangkutan dikenakan sanksi
administrasi ( bunga, denda, atau kenaikan ) atau sanksi pidana sebagai ditentukan dalam
Pasal 28 atau 29 Undang-Undang KUHP.
3. With Holding System
System ini merupakan sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak
ketiga untuk memotong atau memungut besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.

Politik Hukum Pajak


Menurut Suandy (2008) Politik perpajakan sejak zaman kemerdekaan, orde baru hingga era
reformasi merupakan politik hukum pajak di Indonesia. Selera Politik penguasa pada zaman
orde baru hingga zaman reformasi masih seputar kebijakan untuk mengejar target
pemasukan pajak yang sebesar-besarnya ke kas Negara tanpa diikuti pembaharuan dalam
birokrasi atau pemungut pajak (fiskus) itu sendiri. Harus diakui bahwa pemungutan pajak
tidak luput dari sistim perpajakan yang dipaksakan dan dengan menggunakan
kekerasan, tidak menyentuh pembaharuan dibidang petugas pajak yang berprilaku koruptif,
sehingga apa yang direformasi hanya menyentuh administrasi terhadap wajib pajak semata
yang notabene banyak merugikan hak-hak serta kebebasan individu wajib pajak.
Konsekwensi reformasi dalam administrasi perpajakan yang hanya ditekankan kepada wajib
pajak tanpa reformasi disisi fiskus akan menimbulkan penghindaran (Tax Avoidance) serta
penggelapan pajak (Tax Evasion ) oleh wajib pajak sebab wajib pajak tidak pernah
mengetahui untuk apa pajak dikumpulkan. Wajib pajak akan melakukan perlawanan untuk
membayar pajak selama wajib pajak merasakan minimnya sarana dan prasarana yang
dibangun pemerintah serta penggunaan pajak yang tidak transparan untuk kepentingan
masyarakat serta masih menumpuknya hutang luar negeri. Dalam situasi demikian, wajib
pajak akan menghindari pajak (to avoid the tax) sebab timbul praduga bahwa pajak yang
dibayar akan dipergunakan untuk tujuan lain. Politik perpajakan yang demikian tidak terlepas
dari selera politik dari pemerintah pusat yang hanya mengejar pemasukan pajak tanpa
memperdulikan hak-hak individu serta kebebasan wajib pajak. Politik hukum pajak demikian
dapat dikatakan sama sejak zaman kemerdekaan hingga reformasi, terkesan dipaksakan
(tergantung selera penguasa pusat), serta sangat minim dalam redistribusinya kepada
masyarakat, sehingga sulit mengatakan bahwa kebijakan fiskal di Indonesia sudah demokratis
Cara-cara pemungutan pajak demikian bisa dikatakan sebagai pencurian/perampokan hak
milik rakyat.

Daftar Pustaka
http://www.kabarpajak.com/2013/07/makalah-penggolongan-pajak-dan-sistem.html
https://www.academia.edu/7591213/Politik_Hukum_Pajak_di_Indonesia