Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM LINGKUNGAN I

PENETAPAN SULFAT, ORTOFOSFAT, POLIFOSFAT DAN


FOSFAT ORGANIK

Oleh:

Kelompok 1

1. Agnes Setioningrum (1142005016)


2. Nadya Nurul Amelinda (1142005002)

Asisten:
Fithri Zakiyah

Jurusan Teknik Lingkungan

Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer

Universitas Bakrie

Jakarta

2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
1.1.1. Penetapan Sulfat
Sulfat merupakan senyawa yang stabil secara kimia karena
merupakan bentuk oksida paling tinggi dari unsur belerang. Sulfat dapat
dihasilkan dari oksida senyawa sulfide oleh bakteri. Sulfide tersebut
adalah antara lain sulfide metalik dan senyawa organosulfur. Sebaliknya
oleh bakteri golongan heterotrofik anaerob, sulfat dapat direduksi menjadi
asam sulfide. Secarakimia sulfat merupakan bentuk anorganik daripada
sulfide didalam lingkungan aerob.
Sulfat didalam lingkungan (air) dapat berada secara ilmiah dana tau
dari aktivitas manusia, misalnya dari limbah industry dan limbah
laboratorium. Secara ilmiah sulfat biasanya berasal dari pelaruan mineral
yang mengandung S, misalnya gips (CaSO4, 2H2O) dan kalsium sulfat
anhidrat (CaaSO4). Selain itu dapat juga berasal dari oksidasi senyawa
organic yang mengandung sulfat adalah antara lain industry kertas, tekstil
dan industry logam)
1.1.2. Penetapan Ortofosfat
Ortfosfat yang merupakan produk ionisasi dari asam ortofosfat
adalah bentuk fosfor yang paling sederhana dalam perairan. Ortofosfat
merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh
tumbuhan akuatik, sedangkan polifosfat harus mengalami hidrolisis
membentuk orofosfat terlebuh dahulu sebelum dapat dimafaatkan sebagai
sumber fosfat. Setelah masuk kedalam tumbuhan, misalnya fitoplankton,
fosfat organic mengalami perubahan menjadi organofosfat. Fosfat yang
berikatan dengan ferri [Fe2(PO4)3] bersifat tidak larut dan mengendap
didasar perairan, pada saat terjadi kondisi anaerob, ion besi valensi tiga
(ferri) ini mengalami reduksi menjadi ion besi valensi dua (ferro) yang

1
bersifat larut dan melepaskan fosfat keperairan, sehingga meningkatkan
keberadaan fosfat diperairan (Effendi 2003).
1.1.3. Penetapan Polifosfat
Diperairan, unsur fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas
sebagai elemen, melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut
(ortofosfat dan polifosfat) dan berbentuk kompleks dengan ion besi dan
kalsium pada kondisi aerob, bersifat tidak larut, tidak mengendap pada
sedimen sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh algae akuatik (Jeffries
dan Mills, 1996).
Fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh
semua organisme untuk pertumbuhan dan semua energy. Fosfor di dalam
air laut, berada dalam bentuk senyawa organic, fosfot dapat berupa gula
fosfat dan hasil oksidasinya, nukloeprotein dan fosfo protein. Sedangkan
dalam bentuk senyawa anorganik meliputi ortofosfat dan polifosfat.
Senyawa anorganik fosfat dalam air laut pada umumnya beradadalam
bentuk ion (orto) asam fosfat (H3PO4), dimana 10% sebagai ion fosfat dan
90% dalam bentuk HPO42-. Fosfat merupakan unsur yang penting dalam
pembentukaan protein dan membantu proses metabolism sel suatu
organisme (Hutagulung et al, 1997).
1.1.4. Penetapat Fosfat Organik
Fosfat terdapat dalam air alam atau limbah sebagai senyawa
ortofosfat, polifosfat, dan fosfat organic. Ortofosfat adalah senyawa
monomer seperti H2PO4-, HPO42-, dan PO43-. Sedangkan polifosfat (juga
disebut condensed phospates) merupakan senyawa polimer seperti
P3O63- (heksametafosfat), P3O105- (tripolifosfat) dan P2O74- (pirofosfat).
Fosfat organic adalah P yang terikat dengan senyawa-senyawa organis
sehingga tidak berada dalam larutan secara terlepas. Dalam air alam atau
air buangan. Fosfor P yang terlepas dan senyawa P selain yang disebutkan
diatas hamper tidak ditemui (Alaerts dkk, 1984).
Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut,
tersuspensi, atau terikat di dalam sel organisme dalam air, dalam limbah,

2
senyawa fosfat dapat berasal dari bahan pupuk, yang masuk ke sungai
melalui drainase dan aliran air hujan. Polifosfat dapat memasuki sungai
melalui air buangan penduduk dan industry yang menggunakan deterjen
yang mengandung fosfat seperti industry, pencucian, industry logam , dan
sebagainya. Fosfat organic terdapat dalam air buangan penduduk dan sisa
makanan. Fosfat organic dapat pula terjadi dar ortofosfat yang terlarut
melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap
fosfat bagi pertumbuhannya. Bermacam-macam jenis fosfat juga dipakai
untuk pengolahan anti-kerak pada pemanas air (boiler) (Alaerts dkk.
1984).
Pada umumnya fosfat di air terdapat pada larutan yang dalam, pada
dasar lautsumber fosfat adalah batuan-batuan dan endapan-endapan atau
sedimen yang terbentuk pada tahun geologi masa lalu, yang secara
berangsur-angsur mengalami pengkisan dan melepaskan fosfat ke
perairan. Dengan demikian, sedimen berperan utama dalam menyediakan
fosfor di banyak perairan (Anonymous A. 2008).
Sedangkan sumber fosfat di perairan bentua da di perairan pesisir
adalah sungai, karena sungai membawa laruan-larutan sampah maupun
sumber fosfat lainnya dari darat, disamping itu dapat pula berasal dari
hutan bakau dan sampah-samah dekomposisi (Anonymous A. 2008).

1.2.Tujuan
1. Untuk menentukan konsentrasi sulfat dalam air dengan menggunakan
metode turbidimetri,
2. Untuk menentukan konsentrasi ortofosfat dalam air dengan menggunakan
metode spektrofotometri,
3. Untuk menentukan konsentrasi polifosfat dalam air dengan menggunakan
metode spektrofotometri,
4. Untuk menentukan konsentrasi fosfat organik dalam air dengan
menggunakan metode spektrofotometri,

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penetapan Sulfat


Sulfat merupakan senyawa yang stabil secara kimia karena merupakan
bentuk oksida paling tnggi dari unsur belerang. Sulfat dihasilkan dari oksida
senyawa sulfide oleh bakteri. Sulfide tersebut adalah antara lain sulfide
metalk dan senyawa organosulfur. Sulfat didalam lingkungan (air) dapat
berada secara ilmiah dana tau dari aktivitas manusia, misalnya dari limbah
industry dan limbah laboratorium. Secara ilmiah sulfat biasanya berasal dari
pelarutan mineral; yang mengandung S, misalnya gips (CaSO4, 2H2O) dan
kalsium sulfat anhidrat (CaSO4). Selain itu dapat juga berasal dari oksidasi
senyawa organic yang mengandung sulfat adalah antara lain industry kertas,
tekstil dan industry logam.

Metode yang digunakan untuk menentukan kadar sulfat adalah metode


turbidimetri dengan alat spektrofotometri. Metode tersebut berdasarkan
kenyataan bahwa BaSO4 cenderung membentuk endapan koloid yang
dibentuk dengan penambahan BaCl2. Bentuk koloid ini distabilkan oleh lar.
NaCl dan HCl yang mengandung gliserol dan senyawa organic. BaSO4
mempunyai kelarutan dimana kelarutan ini bertambah dengan adanya asam-
asam mineral karena terbentuk ion hydrogen sulfat. Pada pH>8 sulfida
membentuk ion sulfide namun pada pH <8 sulfida cenderung dalam bentuk
H2S yang akan melepas gas yang berbau busuk,

Prinsip penentuan sulfat secara spektrofotometri adalah dengan


mereaksikan ion sulfat yang ada di dalam sampel air dengan larutan BaCl 2,
sehingga terbentuk suspense BaSO4, kekeruhan yang dihasilkan diukur
dengan spektrofotometri pada panjang gelombang 420nm.

4
2.2. Penetapan Fosfat

Fosfor merupakan salah satu bahan kimia yang sangat penting bagi mahluk
hidup. Fosfor tidak terdapat secara bebas di alam. Fosfor ditemukan sebagai fosfat
dalam beberapa mineral, tanaman dan merupakan unsur pokok dari protoplasma.
Sumber fosfor alami dalam air berasal dari pelepasan mineral-meneral dan biji-
bijian (Bausch, 1974).

Fosfat terdapat dalam tiga bentuk yaitu H2PO4-, HPO42-, dan PO43-. Fosfat
umumnya diserap oleh tanaman dalam bentuk ion ortofosfat primer H2PO4- atau
ortofosfat sekunder HPO42- sedangkan PO43- lebih sulit diserap oleh tanaman.
Bentuk yang paling dominan dari ketiga fosfat tersebut dalam tanah bergantung
pada pH tanah (Engelstad, 1997). Pada pH lebih rendah, tanaman lebih banyak
menyerap ion ortofosfat primer, dan pada pH yang lebih tinggi ion ortofosfat
sekunder yang lebih banyak diserap oleh tanaman (Hanafiah, 2005).

Fosfor terdapat di alam dalam dua bentuk yaitu senyawa fosfat organik dan
senyawa fosfat anorganik. Senyawa fosfat organik terdapat pada tumbuhan dan
hewan, sedangkan senyawa fosfat anorganik terdapat pada air dan tanah dimana
fosfat ini terlarut dia air tanah maupun air laut yang terkikis dan mengendap di
sedimen. Fosfat terdapat dalam air alam atau air limbah sebagai senyawa
ortofosfat, polifosfat dan fosfat organik. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat
dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme air. Di
daerah pertanian ortofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam sungai
atau danau melalui drainase dan aliran air hujan. Ortofosfat merupakan bentuk
fosfat yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tanaman, sedangkan
polifosfat harus terlebih dahulu mengalami hidrolisis membentuk ortofosfat
sebelum dimanfaatkan sebagai sumber fosfor.

Polifosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri
yang menggunakan bahan detergen yang mengandung fosfat, seperti industri
logam dan sebagainya. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk dan
sisa makanan. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut

5
melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi
pertumbuhannya.

Semua polifosfat mengalami hidrolisis membentuk ortofosfat. Perubahan ini


tergantung pada suhu. Pada suhu yang mendekati titik didih, perubahan polifosfat
menjadi ortofosfat berlangsung cepat. Kecepatan ini meningkat dengan
menurunnya nilai pH. Perubahan polifosfat meenjadi ortofosfat pada air limbah
yang mengandung bakteri berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan
perubahan yang terjadi pada air bersih (Effendi, 2003).

Keberadaan senyawa fosfat dalam air sangat berpengaruh terhadap


keseimbangan ekosistem perairan. Bila kadar fosfat dalam air rendah (< 0,01mg
P/L), pertumbuhan ganggang akan terhalang, keadaan ini dinamakan oligotrop.
Sebaliknya bila kadar fosfat dalam air tinggi, pertumbuhan tanaman dan ganggang
tidak terbatas lagi (kedaaan eutrop), sehingga dapat mengurangi jumlah oksigen
terlarut air. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi kelestrian ekosistem perairan.
Kegunaan fosfat yang penting adalah dalam pembuatan pupuk dan secara luas
digunakan dalam bahan peledak, korek api, pestisida, odol dan deterjen.

Dalam lingkungan tidak diketemukan senyawa fosfor dalam bentuk gas,


unsur fosfor yang terdapat dalam atmosfir adalah partikel-partikel fosfor padat.
Penguraian senyawa organik baik berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mati
serta detergen limbah rumah tangga akan menghasilkan senyawa-senyawa fosfat
yang dapat menyuburkan tanah untuk pertanian. Sebagai senyawa fosfat yang
terlarut dalam air tanah akan terbawa oleh aliran air sungai menuju ke laut atau ke
danau kemudian mengendap pada dasar laut atau dasar danau.

6
BAB III
METODE

3.1. Waktu dan Tempat

a. Lokasi : Sungai Sekretaris, di depan Podomoro City (6o1031 S


106o4730 E)
b. Hari/tanggal : Selasa, 19 April 2016
c. Pukul : 07.05-07.30 WIB

Gambar 3.1 Lokasi sampling

3.2. Alat dan Bahan

3.2.1. Sampling

Tabel 3.1 Alat dan bahan sampling

No. Alat Ukuran Jumlah Bahan Konsentrasi Jumlah


Botol
1. sampling 500 mL 1 Buah - - -
(sampler)
Jerigen
2. 1,5 L 1 Buah - - -
sampel
3. Termometer - 1 Buah - - -

7
3.2.2. Penetapan Sulfat

Tabel 3.2 Alat dan bahan Penetapan Sulfat

Alat Ukuran Jumlah Bahan Ukuran

Bulb - 1 Sampel air 100 ml

Larutan
Pipet volumetri - 1 20 ml
Buffer

Labu erlenmeyer 250ml 1 Kristal BaCl2 1 sendok takar

Alumunium
Spektrofotometer - 1 secukupnya
Foil

3.2.3. Penetapan Fosfat

3.2.3.1 Penetapan Ortofosfat

Tabel 3.3 Alat dan bahan Penetapan Ortofosfat

Alat Ukuran Jumlah Bahan Ukuran

Bulb - 1 Sampel air 50ml

Pipet volumetri - 1 Air suling 45 ml

Larutan
Labu erlenmeyer 250ml 1 Secukupnya
NaOH 5N
Larutan
Labu ukur 100ml 1 Secukupnya
H2SO4

Spektrofotometer - 1 - -

8
3.2.3.2 Penetapan Polifosfat

Tabel 3.4 Alat dan bahan Penetapan Polifosfat

Alat Ukuran Jumlah Bahan Ukuran

Bulb - 1 Sampel air 40 ml

Pipet volumetri - 1 Air Suling secukupnya

Pereaksi
Labu erlenmeyer 250ml 1 8 ml
Campuran

Spektrofotometer - 1 - -

3.2.3.3 Penetapan Fosfat Organik

Tabel 3.5 Alat dan bahan Penetapan Fosfat Organik

Alat Ukuran Jumlah Bahan Ukuran

Labu Erlenmeyer - 1 Sampel air 25 ml

Pipet volumetri - 1 Air suling 100 ml


Bulb - 1 Pereaksi 4 ml
campuran
Labu Ukur 25 ml 1 - -

9
3.3. Langkah Kerja

3.3.1. Sampling

Tabel 3.6 Cara kerja sampling

No. Cara kerja Gambar

Menyiapkan water sampler vertikal


1 dan dirijen pada lokasi pengambilan
sample.

Mengulurkan tali water sampler


perlahan hingga water sampler
2
mencapai kedalaman 2/3 kedalaman
sungai.

Mendiamkan beberapa saat water


sampler hingga water sampler terisi
3
penuh dan tidak mengeluarkan
gelembung udara

Menarik tali water sampler secara


4 perlaharn untuk menaikan water
sampler dari badan sungai.

10
Menuangkan air sample yang telah
terisi pada water sampler ke dalam
5 dirijen dengan memiringkan dirijen
dan mengisi dirijen dengan air sample
hingga penuh.

Membawa water sampler dan dirijen


6 yang telah terisi air sample ke dalam
laboratorium

3.3.2. Penetapan Sulfat

Tabel 3.7 Cara kerja penetapan Sulfat

No. Cara kerja Gambar

Mengambil 100 ml sampel air dengan


menggunakan pipet volumetric dan
1
bulb ke dalam labu Erlenmeyer
250ml

2 Menambahkan 20 ml larutan Buffer

11
No. Keterangan Gambar

Menambahkan 1 sendok takar Kristal


3
BaCl2

Mengukur sampel dengan


4
menggunakan turbidimeter 420 nm

3.3.2. Penetapan Fosfat

3.3.2.1 Penetapan Ortofosfat

Tabel 3.8 Cara kerja penetapan Ortofosfat

No. Cara kerja Gambar

Mengambil 50 ml sampel air dengan


menggunakan pipet volumetric dan
1
bulb ke dalam labu Erlenmeyer
250ml

12
No. Keterangan Gambar


Menambahkan 8 mL pereaksi
2 kombinasi ke dalam labu erlenmeyer
lalu menghomogenkannya

Menutup bagian atas labu dengan


3 alumunium foil dan didiamkan
selama 10-30 menit

Mengukur sampel dengan


4 menggunakan spektrofotometer 880
nm

3.3.2.2 Penetapan Polifosfat

Tabel 3.9 Cara kerja penetapan Polifosfat

No. Keterangan Gambar

Mengambil 50 ml sampel air dengan


1. menggunakan pipet volumetric dan bulb ke
dalam labu Erlenmeyer 250ml

13
No. Keterangan Gambar

Menambahkan 10 mL H2SO4 5 N ke dalam


2.
labu Erlenmeyer tersebut

Mendidihkannya dan memanaskannya


setelah mendidih selama 30 menit di
3.
hotplate. Lalu mendinginkannya di air yang
mengalir

Menetralkannya dengan NaOH atau H2SO4


4.
sehingga pH bernilai 71

Setelah mencapai pH 7, lalu


memindahkannya ke labu ukur 100 mL dan
5.
melakukan pengenceran dengan aquades
hingga mencapai tanda terra

Mengambil 40 mL dari labu ukur 100 mL


6.
dan memasukkannya ke labu ukur 50 mL

14
No. Keterangan Gambar

Menambahkan 8 mL pereaksi campuran ke


7.
labu ukur 50 mL

Menambahkan aquades hingga mencapai


8.
tanda terra dan menghomogenkannya

Mengukur sampel dengan menggunakan


9.
spektrofotometer 880 nm

3.3.2.2 Penetapan Fosfat Organik

Tabel 3.10 Cara kerja penetapan Fosfat Organik

No. Keterangan Gambar

Mengambil 100 ml sampel air dengan


1. menggunakan pipet volumetric dan bulb ke
dalam labu Erlenmeyer 250ml

15
No. Keterangan Gambar

Menambahkan 1 ml H2SO4 dan 5 ml HNO3


pada ruang asam dan memanaskan sampel air
menggunakan hotplate dan batu didih pada
2.
ruang asam hingga sampel air menjadi
beberapa ml dan mendinginkannya dengan
air mengalir

Menambahkan indikator fenolftalein dan


3. NaOH hingga sampel air berwarna merah
muda seulas

Memindahkan sampel air ke labu ukur 100


4. mL dan menambahkan air suling hingga
tanda tera

Mengambil 25 ml sampel air menggunakan


6. pipet volumetric ke dalam Erlenmeyer 250
ml

16
No. Keterangan Gambar

Menambahkan 4 ml pereaksi campuran ke


7.
dalam labu Erlenmeyer 250 ml

Menutup bagian atas labu dengan alumunium


8..
foil dan didiamkan selama 10-30 menit

Mengukur sampel dengan menggunakan


9.
spektrofotometer 880 nm

3.4. Metode Analisis

3.4.1. Penetapan Sulfat

Metode yang digunakan untuk menentukan kadar sulfat adalah metode


turbidity dengan alat spektrofotometer. Metode terebut berdasarkan kenyataan
bahwa BaSO4 cenderung membentuk endapan koloid yang dibentuk dengan
penambahan BaCl2, bentuk koloid ini distabilkan oleh lar. NaCl dan HCl yang

17
mengandung gliserol dan senyawa organic. BaSO4 mempunyai kelarutan 3 ppm
pada temperature basa. Kelarutan ini bertambah dengan adanya asam-asam
mineral karena terbentuk ion hydrogen sulfat. Pada pH>8 sulfida membentuk ion
sulfide namun pada pH <8 sulfida cenderung dalam bentuk H2S yang akan
melepas gas yang berbau busuk,

3.4.2. Penetapan Ortofosfat

Penetapan ortofosfat dilakukan dengan metode kolorimetri/


spektrofotometri. Penetapan ini juga sering disebut metode asam askorbat
dikarenakan menggunakan senyawa asam askorbat sebagai pereduksi sehingga
menghasilkan warna biru pada kompleks antimony-fosfomolibdat yang diukur
serapannya. Ammonium molibdat dan kalium antimontartar bereaksi dengan
ortofosfat dalam suasana asam membentuk fosfomolibdat. Reaksi yang terjadi:

PO43- + 12 (NH4)MoO4+ 24H+ (NH4)3PO4. 12MoO3 + 21NH4+ + 12 H2O

Selanjutnya ammonium fosfomolibdat akan direduksi oleh asam askorbat,


sehingga warnanya menjadi biru molybdenum yang pekat. Warna biru yang
timbul tersebut diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 880nm.

3.4.3. Penetapan Polifosfat

Metode yang digunakan untuk menentukan kadar polifosfat adalah metode


kolorimetri/spektrofotometri dengan alat spektrofotometer. Penetapan polifosfat
dilakukan melalui pendekatan penetapan ortofosfat. Pertama-tama senyawa
polifosat yang terdapat dalam sampel air dihidrolisis menjadi ortofosfat dalam
suasana asam dengan menggunakan asam sulfat (H2SO4) pekat. Hdrolisis
dilakukan dengan pemanasan dalam autoklaf (pemanas bersuhu dan bertekanan
tinggi) paling tidak selama 90 menit. Selanjutnya dilakukan prosedur kerja dengan
prinsip yang sama dengan penetapan ortofosfat yang diuraikan, namun
sebelumnya larutan sampel harus ditambahkan standar basa untuk menetralkan
kelebihan asam. Jumlah polifosfat dalam sampel merupakan selisis dari total
fosfat organic dengan jumlah ortofosfat.

18
3.4.4. Penetapan Fosfat Organik

Penentuan fosfat organic didasarkan pada kenyataan bahwa senyawa


organic akan rusak menjadi unsur-unsurnya apabila diberikan oksidasi atau
dilakukan digesti/mineralisasi. Oleh karenanya pada penetapan ini larutan sampel
akan dioksidasi dengan oksidator kuat (asam perkloat, asam nitrat-asam sulfat,
atau persilfat) agar senyawa fosfat berubah menjadi ion fosfor. Selanjutnya apabla
proses oksidasi telah selesai, penentuan fosfat organic dilakukan dengan
pendekatan metode ortofosfat. Nilai senyawa fosfat organic diketahui dengan
menghitung selisih antara total fosfat keseluruhan dengan total fosfat
anorganiknya.

19
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil pengamatan dan perhitungan

4.1.1. Pengambilan sampel

Lokasi : Titik 1 (sungai sekretaris)


Titik : 6o1031 S 106o4730 E
Hari/tanggal : Selasa / 19 April 2016
Cuaca : Cerah
Kondisi sekitar sungai : Pemukiman, rumah sakit, pusat
perbelanjaan

Tabel 4.1 Hasil pengamatan pengambilan sampel

Keterangan Gambar

Pada pengambilan sampel cuaca


di sekitar Sungai Sekretaris cerah,
lokasi tepatnya di depan Podomoro
City dengan koordinat 6o1031 S
106o4730 E

20
4.1.2. Insitu

Tabel 4.2 Hasil pengamatan insitu

No. Parameter Gambar

Suhu
Pengukuran suhu secara
1. insitu dengan menggunakan
thermometer menghasilkan suhu
28,2oC suhu air sungai

Dissolved Oxygen (DO)


Pengukuran kekeruhan air
2. (turbiditas) menggunakan
turbidimeter menghasilkan nilai
kekeruhan air sungai 6,54 mg/L

pH
Pengukuran pH (derajat
3. keasaman) air menggunakan pH
meter menghasilkan pH sungai
7,32

21
Daya Hantar Listrik (DHL)
Pengukuran Daya Hantar Listrik
4. (DHL) menggunakan
konduktometer menghasilkan nilai
DHL air sungai 429 S/cm

4.1.3. Eksitu
4.1.3.1 Penetapan Sulfat

Tabel 4.3 Hasil pengamatan Sulfat

Sebelum Sesudah Keterangan


Perubahan warna :
Putih keruh

Turbiditas:
288 NTU

4.1.3.2 Penetapan Fosfat


4.1.3.2.a Penetapan Ortofosfat

Tabel 4.4 Hasil pengamatan Ortofosfat

Sebelum Sesudah Keterangan

22
Perubahan warna :
Biru pekat
Absorbansi:
0,247 Abs
Konsentrasi:
0,352 mg/L

4.1.3.2.b Penetapan Polifosfat

Tabel 4.5 Hasil pengamatan Polifosfat

Sebelum Sesudah Keterangan


Perubahan warna :
Biru pekat
Absorbansi:
0,424 Abs
Konsentrasi:
0,658 mg/L

4.1.3.2.c Penetapan Fosfat Organik

Tabel 4.5 Hasil pengamatan Fosat Organik

Sebelum Sesudah Keterangan

23
Perubahan warna :
Biru pekat
Absorbansi:
0,046 Abs
Konsentrasi:
0,001 mg/L

4.2. Perhitungan
4.2.1. Pengambilan sampel
Perhitungan analitik debit aliran
Diketahui :
p = 18,13 m ; l = 16,17 m ; h = 1,21875 m ; t = 106detik
Ditanya : v? Q?
Jawab :
18,13
v= = = 0,171 m/dtk
106
Q = A x v = (18,13 m x 1,21875 m) x 0,171 m/dtk = 3,7937 m3/dtk

4.2.2. Eksitu
4.2.2.1 Penetapan Fosfat
Tabel 4.6 Kalibrasi Fosfat

Conc (mg/L) Abs Angka yang muncul pada


spektrofotometer
0 0
Ortofosfat :
0,025 0,103 Abs = 0,247 Abs ; Calat = 0,352 mg/L
0,250 0,200 Polifosfat :
Abs = 0,424 Abs ; Calat = 0,658 mg/L
0,375 0,250
Fosfat Organik :
0,500 0,323
Abs = 0,046 Abs ; Calat = 0,001 mg/L

24
Perhitungan analitik penetapan Fosfat
Diketahui :
A = 0,0448
B = 0,5748
R = 0,9682
R2 = 0,9375
Ditanya: Cperhitungan? Kadar fosfat (mg/L)?
Jawab :
a. Ortofosfat
AbsInt 0,247 0,0448
C = = = 0,35177 mg/L
Slope 0,5748

AbsInt 0,247 0,0448


Fosfat (mg/L) = x fp = x 1 = 0,35177 mg/L
Slope 0,5748

b. Polifosfat
AbsInt 0,424 0,0448
C= = = 0,6597 mg/L
Slope 0,5748
AbsInt 0,424 0,0448
Fosfat (mg/L) = x fp = x 1 = 0,6597 mg/L
Slope 0,5748

Total Fosfat Anorganik = Polifosfat + Ortofosfat


= (0,6597 + 0,35177) mg/L
= 0,01147 mg/L
c. Fosfat Organik
AbsInt 0,046 0,0448
C= = = 0,0020877 mg/L
Slope 0,5748
AbsInt 0,046 0,0448
Fosfat (mg/L) = x fp = x 5 = 0,01043 mg/L
Slope 0,5748

Total Fosfat = Fosfat Organik + Fosfat Anorganik


= (0,01043 + 0,01147) mg/L
= 0,0219 mg/L

25
Kurva Kalibrasi Fosfat
0.35

0.3 y = 0.5619x + 0.046


R = 0.9343
0.25
Absorbansi (Abs)

0.2

0.15

0.1

0.05

0
-0.1 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
Konsentrasi (mg/L)

4.2.2.2 Penetapan Sulfat

Tabel 4.7 Kalibrasi Sulfat

Conc (mg/L) Turbiditas (NTU) Angka yang muncul pada turbidimeter


0 0 Turbiditas = 288 NTU
10 32,6
20 79,9
30 127
40 167

Perhitungan analitik penetapan sulfat


Diketahui :
A = - 4,38
B = 4,284
R = 0,99827
R2 = 0,99654
Ditanya: Cperhitungan? Kadar sulfat (mg/L)?
Jawab :

26
AbsInt 288 + 4,38
C= = = 68,2492 mg/L
Slope 4,284
AbsInt 288 + 4,38
Sulfat (mg/L) = x fp = x 1 = 68,2492 mg/L
Slope 4,284

Kurva Kalibrasi Sulfat


180
y = 4.284x - 4.38
160
R = 0.9965
140
120
Turbiditas (NTU)

100
80
60
40
20
0
-20 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Konsentrasi (mg/L)

4.3 Pembahasan
4.3.1. Sampling

Sampling dilakukan pada Sungai Sekretaris pada jembatan Podomoro


City. Sampling dilakukan pada pagi hari dengan langit cerah. Badan sungai
terlihat keruh kehijauan dan berbau tidak pekat. Beberapa sampah besar juga
dapat terlihat mengapung di badan sungai. Disekitar lokasi sampling terdapat
apartemen dan tempat perbelanjaan mewah. Digunakan water sampler untuk
mengambil sampel air. Sampel air yang terisi pada water sampler kemudian
dipindahkan pada jirigen hingga memenuhi jirigen. Pemenuhan jirigen dengan
sampel air dilakukan untuk meminimalisasi rongga udara yang dapat
mempengaruhi konsentrasi gas-gas terlarut pada sampel air.

4.3.2. Insitu

27
Pengukuran secara insitu dilakukan karena terdapat beberapa parameter
yang mudah berubah jika tidak segera dilakukan pengukuran. Parameter yang
diukur secara insitu adalah suhu, pH, DO, dan konduktivitas. Pada praktikum ini
praktikan hanya mengukur satu parameter insitu yaitu suhu. Pengukuran
parameter lain tidak dapat dilakukan secara insitu karena keterbatasan alat ukur
yang disediakan. Suhu air sungai diukur dengan termometer dan didapatkan suhu
28,2C. Setelah dilakukan pengukuran suhu, dilakukan pengukuran laju aliran air
sungai. Pengukuran laju aliran air sungai dengan mengukur jarak dan waktu
tempuh benda apung yang dijatuhkan pada salah satu sisi sungai hingga sisi
sungai yang ditentukan. Setelah dilakukan perhitungan didapat laju aliran air
sungai adalah 0,171 m/dtk.

Pengukuran debit sungai dilakukan dengan mengukur kedalaman sungai


dan lebar sungai, serta mengalikannya dengan laju aliran air sungai. Setelah
dilakukan perhitungan didapat debit air sungai adalah 3,7937 m3/dtk. Rendahnya
nilai debit, mengakibatkan besarnya beban pencemaran. Berdasarkan hasil
penelitian Irianto (2002), nilai debit air berkorelasi dengan beban pencemaran
(BOD, COD) dan berperan dalam pengenceran beban pencemar. Di bagian hilir
(DKI Jakarta), sedimen dari hulu (Kabupaten Bogor) yang terbawa aliran air akan
terakumulasi di bagian hilir sehingga memperlambat aliran air. Tingginya
konsentrasi BOD di bagian hilir yang tidak diimbangi suplai oksigen terlarut di
perairan dapat mengakibatkan tingginya beban pencemaran dan terjadi proses
respirasi anaerob.

4.3.3. Eksitu

4.3.3.1. Penetapan Fosfat

4.3.3.1.a. Penetapan Ortofosfat

Pada penetapan ortofosfat, air sampel direaksikan dengan pereaksi


kombinasi yang mengandung H2SO4, kalium antimon tartat, ammonium molibdat,

28
air suling, serta asam askorbat. Asam askorbat berperan sebagai pereduksi
ammonium fosfomolibdat yang diperoleh sebagai hasil reaksi, menghasilkan
warna biru pekat pada air sampel. Air sampel berwarna biru pekatdiukur dalam
spektrofotometer 880 nm untuk mengetahui absorbansi dan konsentrasi air
sampel.

Hasil pengukuran sampel pada spektrofotometer sebesar 0,247 ABS, dan


didapatkan hasil perhitungan konsentrasi sampel sebesar 0,352 mg/L. Kurva
kalibrasi penetapan fosfat memiliki persamaan garis regresi linear y = 0,0448 +
0,5748x dan memiliki nilai korelasi sebesar 0,9682. Melalui perhitungan kadar
ortoforfat diperoleh 0,35177 mg/L. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan
Hidup Nomor 37 Tahun 2003, rentang kadar ortofosfat pada perairan yaitu 0,01
1,0 mg/L. Maka dapat disimpulkan pencemaran orthofosfat pada air Sungai
Sekretaris masih dapat ditenggang keberadaannya karena berada dalam rentang
standar baku mutu.

4.3.3.1.b. Penetapan Polifosfat

Pada penetapan polifosfat, air sampel dihidrolisis menjadi ortofosfat. Pada


proses hidrolisis, air sampel direaksikan dengan H2SO4 hingga terbentuk suasana
asam selanjutnya dilakukan pemanasan pada hotplate menggunakan batu didih.
Penggunaan batu didih pada tahap ini berfungsi untuk menjaga labu erlenmeyer
agar tidak pecah atau mengalami proses dumping karena batu didih tersebut
mempertahankan suhu dengan menyerap kalor. Batu didih juga membantu
mempercepat proses pendidihan yaitu dengan mendistribusikan kalor secara
merata. Air sampel yang bersifat asam dinetralkan dengan menambahkan NaOH
hingga diperoleh pH 6,7. Air sampel direaksikan dengan pereaksi kombinasi
menghasilkan warna biru pekat sebagai hasil dari reduksi oleh asam askorbat pada
peraksi kombinasi. Air sampel berwarna biru pekatdiukur dalam spektrofotometer
880 nm untuk mengetahui absorbansi dan konsentrasi air sampel.
Hasil pengukuran sampel pada spektrofotometer sebesar 0,424 ABS, dan
didapatkan hasil perhitungan konsentrasi sampel sebesar 0,658 mg/L. Hasil yang

29
diperoleh berada diluar jangkauan kalibrasi, hal ini disebabkan oleh larutan yang
diuji dengan spektrofotometer masih berwarna terlalu pekat. Melalui perhitungan
kadar polifosfat diperoleh 0,6597 mg/L dan total fosfat anorganik 0,01147 mg/L.
Kurva kalibrasi penetapan fosfat memiliki persamaan garis regresi linear y =
0,0448 + 0,5748x dan memiliki nilai korelasi sebesar 0,9682. Polifosfat yang
terkandung berasal dari air buangan penduduk dan industri yang menggunakan
bahan detergen yang mengandung fosfat. Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun
2001 mencantumkan standar baku mutu polifosfat pada badan air adalah 0,2 mg/L
untuk badan air kelas 2 dan 1 mg/L untuk badan air kelas 3. Berdasarkan standar
baku mutu tersebut dapat disimpulkan air Sungai Sekretaris merupakan badan air
kelas 3.

4.3.3.1.c. Penetapan Fosfat Organik

Pada penetapan fosfat organik, air sampel direaksikan dengan H2SO4 dan
HNO3 untuk selanjutnya dipanaskan menggunakan hotplate pada ruangan asam.
Proses ini merupakan proses mineralisasi yang bertujuan untuk merusak senyawa
organik menjadi unsur-unsurnya dan mengubah senyawa fosfat menjadi ion
fosfor. Penggunaan batu didih pada tahap ini berfungsi untuk menjaga labu
erlenmeyer agar tidak pecah atau mengalami proses dumping karena batu didih
tersebut mempertahankan suhu dengan menyerap kalor. Batu didih juga
membantu mempercepat proses pendidihan yaitu dengan mendistribusikan kalor
secara merata. Air sampel kemudian direaksikan dengan indicator fenolftalein dan
NaOH hingga terbentuk warna merah muda seulas.
Air sampel direaksikan dengan pereaksi kombinasi menghasilkan warna
biru pekat sebagai hasil dari reduksi oleh asam askorbat pada peraksi kombinasi.
Air sampel berwarna biru pekatdiukur dalam spektrofotometer 880 nm untuk
mengetahui absorbansi dan konsentrasi air sampel. Dilakukan pengenceran 5x
pada air sampel karena larutan terlalu pekat. Setelah dilakukan pengenceran
didapatkan hasil pengukuran pada spektrofotometer sebesar 0,046 ABS, dan
didapatkan hasil perhitungan konsentrasi sampel sebesar 0,001 mg/L. Kurva

30
kalibrasi penetapan fosfat memiliki persamaan garis regresi linear y = 0,0448 +
0,5748x dan memiliki nilai korelasi sebesar 0,9682.
Melalui perhitungan kadar forfat organik diperoleh 0,01043 mg/L dan total
fosfat 0,0219 mg/L. Kandungan fosfat organic pada Sungai Sekretaris berasal dari
air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. Berdasarkan Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 173/Men. Kes./ Per/VIII/1977 standar baku mutu fosfat organik
pada badan air adalah 0,01 mg/L. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82
Tahun 2001 standar baku mutu total fosfat pada badan air kelas 1 adalah 0,2
mg/L. Kadar fosfat organik pada air sampel sesuai dengan standar baku mutu
badan air sedangkan total fosfat air sampel jauh lebih rendah dibandingkan
standar baku mutu badan air kelas 1. Maka dapat disimpulkan air Sungai
Sekretaris bukan termasuk badan air kelas 1 dan pencemaran fosfat organik masih
dapat ditenggang keberadaannya karena berada pada nilai maksimum standar
baku mutu.

4.3.3.2. Penetapan Sulfat

Pada penetapan sulfat dilakukan metode turbidimetri dengan mereaksikan


air sampel dengan larutan buffer dan BaCl2. Ion sulfat pada air sampel akan
bereaksi dengan BaCl2 membentuk kristal barium sulfat (BaSO4). Kekeruhan pada
hasil reaksi disebabkan oleh kristal barium sulfat (BaSO4). Air sampel berwarna
putih keruh diukur dalam turbidimeter 420 nm untuk mengetahui turbiditas atau
tingkat kekeruhan air sampel. Hasil pengukuran sampel pada turbidimeter sebesar
288 NTU. Melalui perhitungan kadar sulfat diperoleh konsntrasi dan kadar sulfat
68,2492 mg/L. Kurva kalibrasi penetapan fosfat memiliki persamaan garis regresi
linear y = - 4,38 + 4,284x dan memiliki nilai korelasi sebesar 0,99827.

Berdasarkan KepMenKes No. 907/MENKES/SK/VII/2002 standar baku


mutu sulfat pada air minum yaitu 250 mg/L. Berdasarkan Peraturan Pemerintah
No. 82 Tahun 2001 standar baku mutu sulfat pada badan air kelas 1 adalah 400
mg/L. Kadar sulfat air sampel jauh dibawah standar baku mutu air minum dan

31
standar baku muku badan air kelas 1. Maka disimpulkan air sampel tidak layak
digunakan sebagai air minum dan tidak termasuk dalam badan air kelas 1.

BAB V

KESIMPULAN

32
5.1 Sampling
1. Sampling dilakukan terhadap Sungai Sekretaris pada jembatan Podomoro
City pada pagi hari dengan langit cerah
2. Laju aliran Sungai Sekretaris adalah 0,171 m/dtk dengan debit 3,7937
m3/dtk.
3. Debit aliran yang rendah mengindikasikan tingginya beban pencemaran
pada Sungai Sekretariat.

5.2 Insitu
1. Suhu sampel air Sungai Sekretaris yang diukur secara insitu yaitu 28,2C.
2. Derajat keasaman (pH) sampel air Sungai Sekretaris adalah 7,31.
3. Oksigen terlarut (DO) sampel air Sungai Sekretaris adalah 6,54 mg/L.
4. Daya Hantar Listrik (DHL) sampel air Sungai Sekretaris adalah 429
S/cm.
5. Nilai DHL yang cukup tinggi mengindikasikan kemampuan kation dan
anion sampel air dalam menghantarkan arus listrik cukup tinggi,
kandungan mineral yang terkandung dalam air jugacukup tinggi.

5.3 Eksitu
5.3.1 Penetapan Fosfat
5.3.1.1 Penetapan Orthofosfat
1. Nilai absorbansi dan kadar orthofosfat sampel air adalah 0,247 Abs dengan
konsentrasi 0,352 mg/L.
2. Berdasarkan rentang kadar ortofosfat pada perairan sesuai Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup Nomor 37 Tahun 2003, pencemaran
orthofosfat pada air Sungai Sekretaris masih dapat ditenggang
keberadaannya karena berada dalam rentang standar baku mutu.

5.3.1.2 Penetapan Polifosfat


1. Nilai absorbansi dan kadar polifosfat sampel air adalah 0,424 Abs dengan
konsentrasi 0,658 mg/L dan total fosfat anorganik 0,01147 mg/L.

33
2. Berdasarkan standar baku mutu polifosfat badan air pada Peraturan
Pemerintah No. 82 Tahun 2001 disimpulkan air Sungai Sekretaris
merupakan badan air kelas 3.
3. Polifosfat yang terkandung berasal dari air buangan penduduk dan industri
yang menggunakan bahan detergen yang mengandung fosfat.

5.3.1.3 Penetapan Fosfat Organik


1. Nilai absorbansi sampel air adalah 0,046 Abs, kadar fosfat organik 0,01043
mg/L dengan konsentrasi 0,658 mg/L dan total fosfat 0,0219 mg/L.
2. Berdasarkan standar baku mutu fosfat organik pada Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 173/Men. Kes./ Per/VIII/1977 pencemaran fosfat
organik pada Sungai Sekretaris masih dapat ditenggang keberadaannya
karena berada pada nilai maksimum standar baku mutu.
3. Berdasarkan standar baku mutu total fosfat pada Peraturan Pemerintah No.
82 Tahun 2001 air Sungai Sekretaris bukan termasuk badan air kelas 1
karena kandungan total fosfat air jauh lebih rendah dibandingkan standar
baku mutu badan air kelas 1.
2. Kandungan fosfat organik berasal dari air buangan penduduk (tinja) dan
sisa makanan.

5.3.2 Penetapan Sulfat


1. Nilai turbiditas sampel air adalah 288 NTU dengan konsentrasi dan kadar
sulfat 68,2492 mg/L.
2. Berdasarkan standar baku mutu sulfat pada air minum KepMenKes No.
907/MENKES/SK/VII/2002 disimpulkan air Sungai Sekretaris tidak layak
digunakan sebagai air minum.
3. Berdasarkan standar baku mutu sulfat badan air kelas 1 pada Peraturan
Pemerintah No. 82 Tahun 2001 disimpulkan air Sungai Sekretaris tidak
termasuk dalam badan air kelas 1.
DAFTAR PUSTAKA

34
Anonymous. 2008. Fosfat. http://www.tekmira.esdm.go.id/data/fosfat/ ulasan.
asp?xdir=fosfat&commld=fosfat. Diakses pada Sabtu 22 April 2016 pukul
18.45 WIB.

Arif, Abdul Rahman. 2013. Laporan Penentuan Kadar Fosfor dalam Fosfat
Menggunakan Spektrofotometer UV-VIS. http://arhycancer.blogspot.co.id/
2013/11/laporan-penentuan-kadar-forfor-o-dalam.html?m=1. Diakses pada
Senin 25 April 2016 pukul 15.34 WIB.

Ayu, Eka Putri. 2010. Penentuan Kadar Sulfat dalam Air. httlp://ekaputriayu.
blogspot.co.id/2010/11/penentuan-kadar-sulfat-dalam-air.html?m=1. Diakses
pada Sabtu 22 April 2016 pukul 22.39 WIB.

Lindu, M., Diana Hendrawan, Pramiati Purwaningrum, Fahima Hernita Sari.


2016. Penuntun Praktikum Laboratorium Lingkungan 1. Jakarta: Fakultas
Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti.

Yasminto, Bambang. 2012. Makalah Fosfat. http://bkv315a.blogspot.co.id/


2012/09/makalah-fosfot.html?m=1 Diakses pada Sabtu 22 April 2016 pukul
22.23 WIB.

35
LAMPIRAN

36
37