Anda di halaman 1dari 10

Tugas Personal -02

Week 7

Pengantar:

Tugas personal kedua akan mengambil bahan dari materi-materi yang dibahas pada minggu
keenam dan minggu ketujuh, baik yang berasal dari Lecturer Notes, materi ppt, buku yang
menjadi bahan referensi, dan peraturan perundangan yang terkait dengan materi minggu keenam
dan ketujuh.

Jawablah tugas ini dengan dalam bentuk Essay dan cantumkanlah sumber jawaban kalian di
setiap akhir jawaban (misalnya jika dari buku, tulislah nama penulisnya, judul buku, tahun terbit
dan halaman yang dikutip. Jika dari sumber internet tulislah link sumber tersebut dan tanggal
berapa kalian mengakses sumber tersebut)

! Setiap lembar jawaban yang di submit harus mencantumkan nama dan NIM mahasiswa.

Soal:
1. Jelaskan perbedaan antara PKWT dan PKWTT secara lengkap, dengan disertai contoh kasus
2. Apa yang dimaksud dengan Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan, Jelaskan
dengan memberikan contoh masing-masing dari : 1) pemborongan pekerjaan, dan 2)
penyediaan jasa pekerja/buruh.
3. Jelaskan dengan memberikan deskripsi, apakah yang dimaksud bahwa Undang-Undang
Perlindungan Konsumen tidak bermaksud merugikan pengusaha, tetapi justru
menguntungkan pengusaha ! berikan deskripsi contoh yang relevan

Jawab:

LAWS6095 Legal Aspect in Economic I GUSTI NGURAH BAGUS SURYA ADI BASKARA (2001665033)
1. Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) adalah perjanjian kerja dengan jangka waktu
berlakunya telah ditentukan, atau sering disebut karyawan kontrak. Apabila jangka waktu
kerja karyawan kontrak sudah habis maka dengan sendirinya terjadi Pemutusan Hubungan
Kerja dan para karyawan tidak berhak mendapat kompensiasi Pemutusan Hubungan Kerja
(uang pesangon, uang penghargaan masa kerja, uang penggantian hak). PKWT harus
memenuhi syarat sebagai berikut:
i. PKWT harus dibuat tertulis dan harus menggunakan bahasa Indonesia
ii. PKWT yang tidak dibuat tertulis dianggap sebagai PKWTT dengan demikian
pekerja menjadi pekerja tetap di perusahaan tersebut
iii. PKWT tidah mempersyaratkan adanya masa percobaan. (Hal ini berbeda dengan
PKWTT yang mengenal masa percobaan selama tiga bulan)
iv. Apabila dalam PKWT ditetapkan masa percobaan maka akan batal demi hukum
v. PKWT tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat terus menerus atau tidak
terputus putus (Pasal 56 s/d 58 UUK).

Berikut ini merupakan kriteria pekerjaan yang dapat dibuatkan PKWT yaitu :
i. Pekerjaan yang sekali selesai dan sementara sifatnya
ii. Pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama
dan paling lama tiga tahun
iii. Pekerjaan yang bersifat musiman
iv. Pekerjaan yang berkaitan dengan produk baru, kegiatan baru atau produk tambahan
yang masih dalam percobaan atau penjajakan (Pasal 59 UUKK)
Ciri pekerjaan untuk PKWT adalah yang sekali selesai dan predictable, dengan
demikian PKWT berdurasi untuk paling lama dua tahun dan hanya boleh diperpanjang satu
kali untuk jangka waktu paling lama satu tahun. Pembaruan PKWT hanya dapat diadakan
satu kali dan paling lama dua tahun. Bila PKWT tersebut dibuat tidak sesuai dengan syarat
syarat tersebut di atas maka PKWT berubah menjadi PKWTT dan demikian para
pekerjanya bukan lagi menjadi karyawan kontrak tetapi diangkat menjadi karyawan tetap
sejak dimulainya perjanjian kerja tersebut.
apabila PKWT diakhiri oleh salah satu pihak sebelum jangka berakhirnya PKWT
tersebut, maka pihak yang mengakhiri harus mengganti rugi sebesar upah pekerja sampai
berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja (Pasal 62 UUKK). Sebaliknya kewajiban ganti

LAWS6095 Legal Aspect in Economic I GUSTI NGURAH BAGUS SURYA ADI BASKARA (2001665033)
rugi itu tidak terjadi bila pekerjaan yang diprediksikan untuk jangka waktu tertentu ternyata
lebih cepat diselesaikan. Bila demikian maka PKWT akan berakhir dengan sendirinya.
Jika PKWT tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu maka dapat dilakukan
pembaruan PKWT. Pembaruan PKWT tersebut dapat dilakukan setelah melebihi masa
tenggang waktu 30 hari setelah berakhirnya perjanjian kerja. Konsekuensinya selama 30
hari masa tenggang waktu itu tidak ada hubungan kerja antara pekerja dengan pengusaha.
Syarat syarat tersebut menunjukkan bahwa PKWT atau mempekerjakan pegawai kontrak
dilakukan dengan sangat selektif.
Contohnya seperti di tempat saya bekerja, kebetulan saya bekerja di PT PLN
(Persero) Unit Pendidikan dan Pelatihan dengan penempatan di Udiklat Palembang, saya
akan mencoba memberi contoh mengenai PKWT di tempat Udiklat Palembang. Menurut
sepengetahuan saya, para PKWT Unit Pendidikan dan Pelatihan disana mempunyai masa
kontrak minimal 1 tahun. Jika pekerjaan mereka bagus, maka mereka akan diperpanjang
kontraknya. Namun, mereka diberi kesempatan untuk memilih, apakah ingin lanjut atau
tidak. Jika mereka ingin lanjut, mereka harus mengikuti tes kembali, mulai dari tes seleksi
administrasi, wawancara dan lain lain. PKWT disana diperbantukan untuk membantu
pegawai tetap, dalam hal misalnya bagian registrasi, penerima tamu, dan lain lain, ada juga
sebagai petugas kelas disana.
PKWT akan berubah menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT)
sering kita lihat ketika karyawan kontrak berubah menjadi karyawan tetap terjadi apabila
jenis dan sifat pekerjaan bukan termasuk dalam ruang lingkup PKWT. Dalam PKWTT dapat
memberlakukan masa percobaan kepada karyawan asal hal tersebut tercantum dalam
perjanjian kerja tertulis atau bila perjanjian kerjanya bersifat lisan, masa percobaan harus
dicantumkan dalam surat pengangkatan. Sebaliknya jika dalam perjanjian tidak disebutkan
masa percobaan dan hal tersebut juga tidak dicantumkan dalam pengangkatan, maka masa
percobaan dianggap tidak ada.

Waktu berakhirnya PKWTT


Waktu berakhir PKWTT ketika :
i. Pekerja meninggal dunia (PKWTT tidak berakhir oleh meninggalnya pengusaha)
ii. Adanya putusan pengadilan dan / atau putusan / penetapan lembaga penyelesaian
perselisihan hubungan industrial yang mempunyai kekuatan hukum tetap

LAWS6095 Legal Aspect in Economic I GUSTI NGURAH BAGUS SURYA ADI BASKARA (2001665033)
iii. Adanya keadaan atau kejadian tertentu yang dicantumkan dalam perjanjian kerja,
Peraturan Perusahaan, Perjanjian Kerja Bersama seperti bencana alam, kerusuhan social
atau gangguan keamanan (Pasal 61 UUKK)
Meninggalnya pengusaha atau beralihnya hak atas perusahaan yang disebabkan
penjualan, pewarisan atau hibah tidak menyebabkan berakhirnya Perjanjian kerja waktu
tertentu. Bila terjadi pengalihan maka hak hak karyawan menjadi tanggung jawab
pengusaha baru, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian pengalihan asal tidak
mengurangi hak hak karyawan.
Contoh untuk PKWTT, seperti di PT PLN (Persero) merekrut karyawan baru, di
dalam perjanjian prajabatan tidak dijelaskan mereka akan diperkerjakan berapa lama,
tetapi karyawan baru tersebut diberi target oleh perusahaan selama masa prajabatan, jika
mereka (para karyawan) bisa menyelesaikan target yang diberikan maka karyawan tersebut
akan langsung diproses untuk menjadi karyawan tetap.
Referensi :
Libertus Jehani. 2007. Hak Hak Pekerja Bila di PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA.
Jakarta. Demedia Pustaka. Hal 5-7

2. Berdasarkan referensi yang saya baca dalam penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan
kepada perushaan penerima yang harus diperhatikan adalah apakah perusahan tersebut
berbadan hukum atau tidak. Karena penyerahan ini hanya dapat diberikan kepada
perusahaan yang berdadan hukum (pasal 3 ayat (I) Kepmen 220 / 2004) da nada beberapa
pengecualian terhadap hal ini (pasal 3 ayat (2) dan pasal 4 Kepmen 220 / 2004).
Berikut merupakan syarat syarat jenis pekerjaan yang dapat diserahkan kepada
perusahaan penerima:
i. Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama baik manajemen maupun kegiatan
pelaksanaan pekerjaan.
Dilakukan dengan perintah langsung ata tidak langsung dari pemberi pekerjaan
dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang cara melaksanakan pekerjaan
agar sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan pemberi.
ii. Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan, artinya kegiatan
tersebut merupakan kegiatan yang mendukung dan memperlancar pelaksanaan
pekerjaan sesuai dengan alur kegiatan kerja perusahaan pemberi.

LAWS6095 Legal Aspect in Economic I GUSTI NGURAH BAGUS SURYA ADI BASKARA (2001665033)
iii. Tidak menghambat proses produksi secara lansung, artinya kegiatan tersebut
merupakan kegiatan tambahan yang jika tidak dilakukan oleh perusahaan pembeli,
proses pelaksanaan pekerjaan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Selain hal di atas, perusahaan pemberi juga wajib membuat alur kegiatan proses
pelaksanaan pekerjaan (yang akan diserahkan kepada perusahaan penerima). Perusahaan
pemberi juga harus menetapkan jenis jenis pekerjaan utama dan pekerjaan penunjang.
Kemudian melaporkan semua ini kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang
ketenagakerjaan setempat.

Referensi : www.Hukumonline.com, 2009. 53 Tanya Jawab Seputar Tenaga Kerja, Jakarta,


Visi Media. Halaman 4 diakses tanggal 9 Juli 2017 pukul 11:00 WIB

Pemborong Pekerjaan
Menurut pasal 65 UU Nomor 13 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa penyerahan
sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahan lain dilaksanakan melalui perjanjian
pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis. Pengaturan lebih lanjut melalui peraturan
ini ditetapkan melaui Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Kep
220/Men/X/2004 tentang syarat syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada
Perusahaan Lain. Dalam konteks ini, yang diborongkan adalah pekerjaan.
Perusahaan lain (pihak ketiga) yang menerima penyerahan sebagian pelaksanaan
pekerjaan dari perusahaan pemberi pekerjaan disebut perusahaan penerima pemborong
pekerjaan.
Syarat yang harus dipenuhi dalam penyerahan sebagian pekerjaan kepada
perusahaan lain antara lain :
1) Syarat Normatif
i. Syarat kerja yang diperjanjikan dalam PKWT, tidak boleh lebih rendah dari ketentuan
dalam peraturan perundang undangan yang berlaku
ii. Perusahaan pemborong pekerjaan harus berbadan hokum
iii. Perusahaan pemborong pekerjaan boleh tidak berbadan hukum jika,
a. Perusahaan pemborong pekerjaan bergerak di bidang pengadaan barang
b. Perusahaan pemborong oekerjaan bergerak di bidang jasa pemeliharaan dan
perbaikan, serta jasa konsultasi yang dalam melaksanakan pekerjaan tersebut
memperkerjakan kurang dari 10 orang

LAWS6095 Legal Aspect in Economic I GUSTI NGURAH BAGUS SURYA ADI BASKARA (2001665033)
iv. Jika perusahaan pemborong pekerjaan akan menyerahkan lagi sebagian pekerjaan yang
diterima dari perusahaan pemberi pekerjaan, penyerahan tersebut daoat diberikan
kepada perusahaan pemborong pekerjaan yang bukan berbadan hukum
v. Jika perusahaan pemborong pekerjaan yang bukan berbadan hukum pada poin diatas
tidak dapat melaksanakan kewajibannya memenuhi hak hak pekerja dalam hubungan
kerja harus bertanggung jawab dalam memenhi kewajiban tersebut
vi. Jika di suatu daerah tidak terdapat perusahaan pemborong pekerjaan yang berbadan
hukum, penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan dapat diserahkan kepada
perusahaan pemborong yang bukan berbadan hukum
vii. Jika disuatu daerah terdapat perusahaan pemborong pekerjaan berbadan hukum tetapi
tidak memenuhi kualifikasi untuk dapat melaksanakan sebagian pekerjaan dari
perusahaan pemberi pekerjaan, sebagian pelaksanaan pekerjaan dapat diserahkan pada
perusahaan pemborong pekerjaan yang bukan berbadan hukum
viii. Perusahaan penerima pemborongan pekerjaan yang bukan berbadan hukum pada dua
poin diatas bertanggung jawab memenuhi hak hak pekerja yang terjadi dalam
hubungan kerja antara perusahaan yang bukan berbadan hukum tersebut dengan
pekerjanya. Tanggung jawab perusahaan yang bukan berbadan hukum tersebut harus
dituangkan dalam perjanjian pemborong pekerjaan antara perusahaan pemberi
pekerjaan dan perusahaan pemborong pekerjaan. Hal ini dilakukan sebagai alat control
agar perusahaan pemborong bertanggung jawab terhadap pekerjanya
ix. Penyerahan sebagian pelakasanaan pekerjaan kepada perusahaan pemborong
dilaksanakan secara tertulis
x. Hubungan kerja yang diatur dalam perjanjian kerja secara tertulis antara perusahaan
pemborong dan perusahaan pekerja. Jadi, meskipun pekerja melakukan pekerjaan untuk
perusahaan pengguna, tetapi hubungan kerja yang terjadi adalah antara pekerja dan
perusahaan pemborong.

2) Syarat Teknis
i. Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama, baik manajemen maupun kegiatan
pelaksanaan pekerjaan
ii. Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan
dimaksudkan untuk memebri penjelasan tentang tata cara melaksanaan pekerjaan agar
sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan pemberi pekerjaan

LAWS6095 Legal Aspect in Economic I GUSTI NGURAH BAGUS SURYA ADI BASKARA (2001665033)
iii. Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan, artinya kegiatan tersebut
merupakan kegiatan yang mendukung dan memperlancar pelaksanaan pekerjaan sesuai
dengan alur kegiatan kerja perusahaan pemberi pekerjaan
iv. Tidak menghambat proses produksi secara langsung artinya kegiatan tersebut adalah
merupakan kegiatan tambahan yang jika jika tidak dilakukan oleh perusahaan pemberi
pekerjaan, proses pelaksanaan pekerjaan tetap berjalan sebagaimana biasa.

Contohnya seperti, karyawan borongan di pabrik pabrik, atau kerja borongan yang
dikerjakan di rumah. Biasanya karyawan pabrik borongan mendapatkan perhitungan upah /
gaji berdasarkan hasil produksi yang dia dapatkan di hari itu.

Referensi : Much.Nurachmad ST, M.Hum, 2009, Tanya Jawab Seputar Hak Hak Tenaga
Kerja Kontrak (Outsourcing), Jakarta, Visimedia. Halaman 15

Penyedia jasa pekerja / buruh


Ketenagakerjaan diatur dalam Pasal 66 ayat (3) UU No. 13 Tahun 2003 yang
menyebutkan bahwa perusahaan penyedia jasa pekerja / buruh merupakan bentuk usaha yang
berbadan hukum (business entities) dan memiliki izin dari instansi yang bertanggung jawab
di bidang ketenagakerjaan. Ketentuan tersebut dipertegas kembali dalam Keputusan Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Kep-101/Men/VI/2004 tentang Tata Cara Perizinan
Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja/Buruh, khususnya dalam pasal 2 dan pasal 3, bahwa untuk
dapat menjadi perusaa=haan penyedia jasa pekerja / buruh wajib memiliki izin operasional
dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan (c.q Dinas Ketenagakerjaan
di Kabupaten/Kota) sesuai domisili perusahaan penyedia jasa pekerja / buruh yang
bersangkutan. Izin dimaksud berlaku di seluruh Indonesia untuk jangka waktu 5 tahun dan
selanjutnya dapat diperpanjang dalam jangka waktu yang sama.

Referensi: http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl5828/prosedur-mendirikan-
perusahaan-penyedia-jasa-tenaga-kerja diakses tanggal 9 Juli 2017 pukul 11:10 WIB

Contohnya seperti, pada perusahaan tempat saya bekerja yakni PT PLN (Persero)
Unit Pendidikan dan Pelatihan dengan lokasi di Udiklat Palembang, bekerja sama dengan
yayasan Tangkas untuk memborong pekerjaan pada bagian security (pengamanan). Selain

LAWS6095 Legal Aspect in Economic I GUSTI NGURAH BAGUS SURYA ADI BASKARA (2001665033)
Tangkas, PT PLN (Persero) Unit Pendidikan dan Pelatihan dengan lokasi di Udiklat
Palembang juga bekerja sama dengan PT Baniara Novita untuk memborong pekerjaan pada
bagian petugas kelas dan cleaning service. Yang saya ketahui, para pekerja dari pemborong
pekerjaan (dalam hal ini Tangkas dan PT Baniara Novita) gaji mereka tersebut dilimpahkan
ke yayasan, untuk selanjutnya yayasan yang langsung memotong gaji tersebut dan baru
melimpahkannya kepada pekerjanya. PT PLN (Persero) Unit Pendidikan dan Pelatihan
dengan lokasi di Udiklat Palembang hanya mempunya kewajiban untuk menggunakan jasa
mereka (para pekerja dari perusahaan pemborong pekerjaan), tetapi untuk hal yang lain lain
seperti misalnya ada pindah bagian, mutasi, pemutusan pekerjaan dan hal hal lain, itu
sepenuhnya merupakan tanggung jawab dari yayasan Tangkas dan PT Baniara Novita namun
tetap dengan pertimbangan permintaan dari perusahaan pemakai jasa.

3. Perlindungan konsumen
Perlindungan konsumen adalah perangkat hukum yang diciptakan untuk melindungi
dan terpenuhinya hak konsumen. Sebagai contoh, para penjual diwajibkan meunjukkan tanda
harga sebagai tanda pemberitahuan kepada konsumen.
Perlindungan Konsumen Republik Indonesia diatur dalam UU Perlindungan
Konsumen Nomor 8 tahun 1999 bahwa hak konsumen diantaranya adalah hak atas
kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengonsumesi barang dan atau jasa, hak
untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai
dengan niai tukan dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan: hak untuk diperlakukan atau
dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif, hak untuk mendapatkan kompensasi,
ganti rugi ataun penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan
perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya dan sebagianya.

Referensi : https://id.wikipedia.org/wiki/Perlindungan_konsumen diakses tanggal 9


Juli 2017 pukul 11:30 WIB

Perlindungan konsumen merupakan suatu hal yang cukup baru dalam perturan
perundang undangan di Indonesia. Praktek monopoli dan tidak adanya perlindungan
konsumen telah meletakkan posisi konsumen dalam tngkat yang terendah dalam menghadapi
para pelaku usaha. Tidak adanya alternatif yang dapat diambil / dipilih oleh konsumen telah
menjadi suatu hal yang umum dalam dunia usaha atau industry di Indonesia.

LAWS6095 Legal Aspect in Economic I GUSTI NGURAH BAGUS SURYA ADI BASKARA (2001665033)
Konsumen yang tidak berdaya dalam mengahadapi pelaku usaha ini jelas sangat
merugikan kepentingan masyarakat. Pada umumnya para pelaku usaha berlindung dibalik
Standard Contract atau Perjanjian Baku yang telah ditandatangi oleh kedua belah pihak
(antara pelaku usaha dan konsumen), ataupun melalui berbagai informasi semu yang
diberikan oleh pelaku usaha kepada konsumen.
Sistem peradilan yang dinilai rumit dan cenderung bertele tele dan relatif mahal turut
menguburkan hak hak konsumen dan kewajiban kewajiban pelaku usaha, sehingga
adakalanya masyarakat sendiri tidak mengetahui dengan jelas apa yang mejadi hak hak dan
kewajiban kewajibannya dari atau terhadap pelaku usaha dengan siapa konsumen tersebut
telah berhubungan hukum.
Masih banyak terdapat pelanggaran terhadap ketentuan yang terdapat dalam Undang
Undang Perlindungan Konsumen yang kita jumpai di pasaran. Keiginan pelaku usaha
untuk meraup keuntugan yang sebanyak banyaknya dapat mendorong pelaku usaha untuk
berbuat curang, baik melalui berbagai kiat promosi yang memikat konsumen, cara oenjualan
dan penerapan perjanjian standar yang cenderung lebih melindungi pelaku usaha dan dapat
merugika konsumen. Kecendrungan pelaku usaha untuk berbuat curang menjadikan
kedudukan pelaku usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang dan menempatkan
konsumen dalam posisi yang lemah.
Salah satu masalah yang timbul dalam masyarakat, yakni banyak beredarnya produk
Home Industri yang tidak memiliki izin dari Dinas Kesehatan. Kebanyakan dari pelaku usaha
Home Industry menyadari ha tersebut tetapi karena usaha mereka sudah berjalan maka
banyak pelaku usaha Home Industry kucing kucingan dengan aparat kepolisian dan
badan POM. Banyak ditemui produk pangan yang tidak memenui persyaratan mutu dan
keamanan pangan (bahan tambahan pangan, cemaran mikroba, tanggal kadaluarsa, masih
banyak kasus keracunan, masih rendahnya pengetahuan, keterampilan dan tanggung jawab
produsen pangan tentang mutu dan keamanan pangan serta rendahnya kepedulian konsumen
itu sendiri. Untuk itu suatu produk Home Industry khususnya produk pangan harus sesuai
dengan standar agar aman dikonsumsi.
Produk Home Industry yang telah memiliki izin dari Dinas Kesehatan berarti produk
tersebut telah sesuai telai sesuai dengan standar atau persyaratan, keamanan, mutu, serta
manfaat dari produk tersebut. Sebaliknya produk Home Industry yang tidak memiliki izin
dari Dinas Kesehatan baik itu berupa produk makanan maupun minuman tentu saja belum
melewati tahap pemeriksaan oleh pihak yang berwenang memeriksanya. Akan tetapi pada

LAWS6095 Legal Aspect in Economic I GUSTI NGURAH BAGUS SURYA ADI BASKARA (2001665033)
kenyataannya di lapangan masih banyak produk Home Industry yang tidak memiliki izin dari
Dinas Kesehatan jika dikonsumsi oleh konsumen dapat menyebabkan kerugian, baik
kerugian sacara materi maupun psikis. Hal ini tentu saja merugikan konsumen sebagai pihak
yang membutuhkan dan menkonsumsi produk Home Indutry.

Referensi : http://hukumconsumer.blogspot.co.id/ diakses tanggal 9 Juli 2017 pukul 11:40


WIB

LAWS6095 Legal Aspect in Economic I GUSTI NGURAH BAGUS SURYA ADI BASKARA (2001665033)