Anda di halaman 1dari 17

Laporan Praktikum ke-9 Hari, tanggal : Kamis, 4 Mei 2017

Teknik Dasar Nekropsi Waktu : 08.00 12.00 WIB


Hewan Dosen : Drh. Vetnizah Juniantito, Ph.D, APVet
Drh. Heryudianto Vibowo

TEKNIK NEKROPSI AYAM


(Gallus gallus domesticus)

Kelompok 1 (Praktikum 1)
1. Syrif Wisuda (J3P115002)
2. Ananda Sarah Nur Azizah (J3P115011)
3. Fadhilah Dhani Santika F. (J3P115018)
4. Andri (J3P115025)
5. Anggita Dwi Chandra (J3P115027)
6. Tata Martha (J3P115037)
7. M. Kevin Apriansyah (J3P115039)
8. Miftahul Jannah (J3P115050)
9. Julia Veronica Ramses (J3P215059)
10. Yuri Hariyandi (J3P215072)

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER


PROGRAM DIPLOMA IPB
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PENDAHULUAN

Produk ternak merupakan sumber gizi utama untuk pertumbuhan,


kesehatan, dan kecerdasan manusia. Namun, produk ternak akan menjadi tidak
berguna dan membahayakan kesehatan apabila tidak aman dan bisa menjadi sumber
penularan penyakit zoonosis (Damayanti et al 2012) Diagnosa penyakit secara
cepat dan akurat sangat diperlukan dalam upaya pengendalian maupun
pemberantasan penyakit pada peternakan. Pencegahan penyebaran penyakit pada
peternakan unggas dapat dilakukan dengan pembedahan atau nekropsi pada unggas
yang mati ataupun hidup yang mengalami perubahan patologis.

Nekropsi atau bedah bangkai merupakan teknik yang sangat penting dalam
penegakan diagnosa penyakit. Sifat pemeriksaan hasil nekropsi adalah berdasarkan
perubahan patologi anatomi (Murtidjo, 1992 dalam Damayanti Y dkk 2012).
Nekropsi adalah tehnik lanjutan dari diagnosa klinik untuk mengukuhkan atau
meyakinkan hasil diagnosa klinik. Bedah bangkai dapat dilakukan pada ayam hidup
atau pada ayam mati. Jika menggunakan ayam hidup, maka ayam harus dibunuh
dahulu, cara membunuh atau euthanasia emboli udara ke dalam jantung, dan
disembelih seperti pada umumnya. nekropsi banyak digunakan dalam hal
pemeriksaan unggas yang diduga telah terjangkit penyakit. Hal ini dilakukan agar
dapat diketahui penyakit yang diderita oleh unggas sehingga dapat ditentukan
penanganan yang tepat untuk menanggulangi penyakit tersebut agar peternakan
terhindar dari kerugian finansial yang lebih besar. Untuk mendiagnosa penyebab
kematian unggas perlu dilakukan pemeriksaan secara patologi anatomi.
Pemeriksaan patologi anatomi dapat melihat lesi-lesi yang ditemukan, memberi
diagnosa morfologik pada organ-organ yang mengalami perubahan patologik serta
dapat memberi diagnosa tentatif (sementara) pada kasus yang ditemukan

Tujuan pratikum nekropsi pada ayam ini untuk mengetahui keadaan seluruh
bagian organ yang ada pada ayam tersebut atau agar dapat mengetaui perubahan-
perubahan patologis dan anatomis pada organ ayam.
METODE KERJA

Waktu dan Tempat


Praktikum Teknik Dasar Nekropsi Ayam ini dilaksanakan pada hari Kamis 27
Maret 2017 Pukul 08.00-12.00 WIB di GG Klinik Hewan Kampus Gunung Gede
Program Diploma Institut Pertanian Bogor.

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu pisau, gunting tulang, gunting
bedah, bak plastik, meja untuk nekropsi, dan pinset anatomis. Bahan yang
digunakan pada praktikum kali ini yaitu ayam jantan 2 ekor dan air bersih.

Prosedur Kerja
Pengambilan darah vena brachialis (sayap), ayam dihandling dengan benar,
dengan kapas alcohol swab pada daerah sayap tepat di vena brachialis agar terlihat
jelas, jarum ditusukkan dibawah tendon pronator muskulus, kemudian arahkan ke
vena brachialis, tarik spoit sehingga darah masuk ke spoit, jika darah sudah cukup
masukkan sampel darah ke dalam tabung darah dan beri label.
Pengambilan darah vena jugularis, ayam dihandling dan peralatan
disiapkan, jepit leher dengan jari telunjuk dan jari tengah, dengan kapas alcohol
swan bagian leher untuk memperjelas vena jugularis terlihat jelas, tarik spoit
sampai darah keluar dan masuk, masukkan sampel darah ke tabung darah dan beri
label.
Euthanasia ayam, euthanasi ayam yang dilakukan adalah dengan cara
penyembelihan secara islam agar daging yang disembelih halal dan dapat dimakan
oleh kita yang mayoritasnya adalah muslim. Pertama, penyembelih hewan adalah
Muslim dan membaca basmalah serta Allahu Akbar. Kedua, ayam dihandle dengan
baik. Leher sedikit di regangkan dan bulu disekitar leher yang akan dipotong
dicabut. Ketiga, sembelih ayam menghadap kiblat dengan memotong arteri karotis,
vena jugularis, esofagus, dan trakea. Keluarkan darah sebanyak mungkin dengan
waktu kira-kira 50-120 detik, tergantung dari besar dan kecilnya ayam yang
dipotong.
Pengambilan organ pencernaan, sebelumnya cadaver yang telah dieutanasia
dibasahi dengan air terlebih dahulu untuk menghindari bulu tidak berterbangan,
karena hal tersebut dapat menyebabkan pencemaran. Bangkai dibaringkan pada
bagian dorsal dan dibuat suatu irisan pada kulit di bagian medial paha dan abdomen
pada kedua sisi tubuh. Paha ditarik ke bagian lateral setelah dilakukan penyatan
pada bagian abdomen untuk mengambil organ pencernaan dapat memotong bagian
traktus gastroinstestinal diantara osephagus dan proventrikulus. Angkat organ
pencernaan dengan pelan dengan cara memotong perlekatan yang menempel.
Angkat organ pencernaan yang terdiri gizzard, usus kecil, usus besar, caeca, dan
potong bagian kloaka. Setelah itu amati organ.
Pengambilan organ pernapasan, pengambilan organ pernapasan yaitu
paru-paru yang melekat pada tulang rusuk dapat dengan pelan dikeluarkan dari
rongga rusuk. Selain itu, saluran pernapasan dari hidung hinggat ke trakea dapat
digunting dan diangkat untuk melihat kelainan sinus dan radang.
Nekropsi otak ayam, otak dapat dilihat dan dikeluarkan dengan cara
terlebih dahulu mengiris kulit di daerah kepala lalu dibuka. Irisan dibuat dengan
gunting dari foramen magnum ke arah os frontalis yang membentuk sudut 40 pada
kedua sisi tulang tengkorak. Lalu, irisan dibuat dengan menghubungkan kedua
sudut mata luar. Tengkorak dibuka melalui irisan yang telah dibuat, setelah dibuka
selaput otak di iris. Pehatikan situs vicerum otak dan lihat apabila terjadi kelainan.
Bulbus olfactorius, nervi cranialis dipotong sambil mengeluarkan seluruh bagian
otak. Hypofisis cerebri yang masih melekat pada tulang tengkorak dikeluarkan
dengan cara durameter yang mengelilingi sella tursica diiris.
Pengambilan organ jantung, pengambilan jantung dapat cara memotong
pada bagian dada, pemeriksaan jantung keadaan pericardium, ukuran, warna dan
apek cordis. Jantung diperiksa dengan membuat irisan dan dapat di gunting pada
bagian longitudinal melalui atrium dan ventrikel kiri dan kanan atau irisan
melintang di daerah ventrikel.
Prosedur nekropsi sistem pertahanan, saluran reproduksi dan jantung
ayam, rongga abdomen dan thorak dibuka seperti yang telah di jelaskan di atas.
Kemudian sistem limfatik diamati yang terdiri dari sekal tonsil yang berada pada
pangkal cecum, limfa yang berada di berada di dekat hati, thymus yang berada di
bagian lateral leher dan bursa fabrisius yang berada di di dekat kloaka, untuk
pemeriksaan organ reproduksi di lakukan pengamatan pada posisi organnya.
Kondisi jantung di periksaan dengan melakukan insisi pada jantung tanpa dilakukan
pengeluaran jantung dari tempat aslinya.
PEMBAHASAN

Sistem respirasi unggas adalah sistem pernafasan pada hewan unggas


termasuk ayam. Organ yang termasuk sistem organ ini antara lain laring, trakea,
paru-paru, dan sembilan atau tujuh pundi-pundi udara. Udara akan memasuki tubuh
unggas melalui lubang hidung (nares), memasuki laring, trakea, kemudian pundi
udara anterior, baru kemudian memasuki paru-paru.

Gambar 1. Sistem respirasi unggas

Laring unggas tidak memiliki fungsi pembuatan suara seperti pada mamalia
serta tidak memiliki epiglotis. Laring berfungsi hanya untuk menyalurkan udara
menuju trakea. Trakea pada unggas memiliki cincin yang berbentuk lingkaran utuh,
tidak seperti pada mamalia yang bentuknya lingkaran tidak utuh. Trakea unggas
juga hanya berfungsi untuk menyalurkan udara ke pundi-pundi udara.

Pundi-pundi udara adalah organ khusus unggas yang berfungsi menyimpan


udara selama unggas terbang. Jumlah pundi-pundi udara ini juga bervariasi antara
tujuh atau sembilan tergantung spesies unggas. Pada ayam terdapat sembilan pundi-
pundi udara yang tersebar di tubuh ayam.

Gambar 1. Letak pundi udara ayam.


Paru-paru ayam tidak berlobus dan bisa mengembang sempurna karena
memiliki kartilago. Letak paru-paru adalah craniodorsal tubuh dan menempel pada
rulang rusuk dan tulang punggung unggas. Penempelan ini terjadi karena ayam
tidak memiliki diafragma sehingga inspirasinya dilakukan bukan dengan relaksasi
diafragma, tetapi relaksasi otot intercostalis.

Beberapa cara untuk melakukan nekropsi pada sistem pernafasan unggas


antara lain adalah memeriksa mukosa pada nares, laring, dan trakea unggas.
Apabila terdapat mukosa berlebih dapat dicurigai menderita infeksi. Pemeriksaan
observasi juga dilakukan pada pundi udara unggas. Pundi udara yang mengalami
peradangan (air sacculitis) akan berwarna kemerahan, sedangkan yang normal akan
berwarna terang tembus (transparan).

(a) (b)
Gambar 3. Pundi udara normal (a) dan terinfeksi (b).

Pada paru-paru unggas, pemeriksaan yang dilakukan cukup standar yaitu uji
apung. Bagian yang dicurigai terkena infeksi, misalnya berwarna lebih gelap dan
teksturnya lebih kenyal, diinsisi lalu dimasukkan ke air. Apabila potongan organ
terseut mengapung maka hasilnya negatif dan apabila tenggelam maka hasilnya
positif.

Dari nekropsi yang telah dilakukan praktikan dapat disimpulan tidak


terdapat indikasi terjadinya penyakit. Tidak ditemukan abnormalitas pada sistem
organ pernafasan unggas. Dengan demikian, ayam yang kami nekropsi tidak
menderita penyakit pernafasan.

Sistem kekebalan adalah suatu sistem pertahanan tubuh yang dilakukan pleh
sistem limfoid dengan menghasilkan antibodi. Zat antibodi berfungsi sebagai
pertahanan tubuh secara alami untuk melawan substansi asing yang masuk ke dalam
tubuh seperti infeksi bakteri, virus, jamur, dan lainnya. Sistem kekebalan tubuh
ayam sudah terbentuk saat ayam masih kecil. Sekitar 70% dari sistem tersebut
terbentuk pada minggu pertama masa periode pemanasan. Karena itu, masa periode
pemanasan (brooding period) merupakan masa yang menentukan tingkat
keberhasilan pembentukan sistem kekebalan pada tubuh ayam. Di dalam tubuh
ayam, terdapat dua organ limfa, yaitu bursa fabricius dan timus, masing-masing
bertanggung jawab terhadap dua sistem kekebalan tubuh

Pada ayam muda, organ timus ini memroduksi limfosit yang lebih dikenal
dengan sebutan limfosit T (T-lymphocytes) atau T-cells. Sel-sel ini secara umum
bertanggung jawab sebagai sel mediasi (cell-mediated) terhadap reaksi kekebalan
dan untuk mengatur reaksi sistem kekebalan. Pada saat ayam dewasa, T-cells
berkempang dan terkumpul pada beberapa organ limfoid, seperti ginjal, tonsil usus
buntu (cecal tonsil), dan kelenjar Harderian. Beberapa minggu setelah ayam
menetas, T-lymphocytes tidak menghasilkan antibodi, tetapi berkembang menjadi
lymphokines atau sering juga disebut dengan sel defektor (defector cells). Sel
defektor berguna untuk menghancurkan sel-sel asing yang masuk ke dalam tubuh
ayam dengan cara kontak langsung tanpa menghasilkan antibodi. Sistem kekebalan
ini disebut dengan Cell-mediated Immunity atau Cellular Immunity.
Bursa fabricius adalah organ seperti kantong terletak berdekatan di atas bagian
kloaka melibatkan proses dan pematangan sistem imunitas (Bell dan Weaver,
2002). Bursa fabricius adalah organ limfoepitelial yang terdapat pada unggas, tetapi
tidak pada mamalia. Bursa fabricius dan timus tergolong dalam organ limfatik
primer pada unggas karena kedua organ ini berfungsi mengatur produksi dan
diferensiasi limfosit. Limfosit yang dominan pada bursa fabricius adalah limfosit
B. Sel limfosit B akan masuk ke sirkulasi dan berperan untuk menerima atau
memberi reaksi terhadap benda asing yang masuk atau keadaan patologis tubuh
misalnya demam/naiknya panas tubuh dari normal karena adanya cekaman panas
pada unggas. Selain itu bursa juga berperan sebagai organ limfoid sekunder yang
bekerja untuk menangkap antigen yang masuk ke dalam tubuh (Tizard, 1988).
Bursa fabricius akan mengalami regresi dan involusi secara lengkap pada saat ayam
mencapai kematangan seksual yaitu pada umur 14-20 minggu. Unggas yang
mempunyai berat relatif bursa fabricius besar cenderung relatif tahan terhadap
berbagai penyakit. Ada beberapa organ yang berperan di dalam reaksi tanggap
kebal antara lain bursa fabricius, timus, limpa dan caecal tonsil (Tizard, 1988).
Bursa fabricius terletak pada daerah dorsal kloaka. Bursa diketahui sebagai organ
limfoid primer yang fungsinya sebagai tempat pendewasaan dan diferensiasi bagi
sel dari sistem pembentukan antibodi. Bursa juga berfungsi sebagai organ limfoid
sekunder yaitu dapat menangkap antigen dan membentuk antibodi, juga
mengandung sebuah pusat kecil sel T di belakang lubang salurannya. Fungsi bursa
fabricius menurut Hartono (1992) adalah menghasilkan substansi yang dapat
menghambat limfosit B yang mampu berdiferensiasi menjadi sel plasma sebagai
sumber antibodi. Perkembangan cepat sering ditemukan pada awal 3-5 minggu
dalam kehidupan ayam. Umumnya regresi dihubungkan dengan kematangan
seksual. Mengecilnya bursa, karena jaringan ikat berperan lebih dominan, epitel
melipat kedalam dan folikel limfoid digantikan oleh kista (Riddel 1987).

Limpa merupakan organ limfoid terbesar dalam sistem pertahanan tubuh.


Organ ini merupakan organ limfoid sekunder yang terdapat pada bagian kiri
lambung. Limpa berfungsi sebagai tempat pematangan sel antibodi dan melakukan
tindakan perlawanan terhadap antigen asing yang datang. Limpa memiliki selubung
terluar yang disebut dengan kapsula. Bagian ini terdiri dari dari otot polos, serabut
kolagen, dan serabut elastin yang dilengkapi dengan fibrosit. Perpanjangan dari
kapsula disebut dengan trabekula yang menunjang kehidupan bagian parenkima
dari limpa (Aughey dan Frye 2001). Limpa pada unggas memiliki suatu keunikan
yang dapat membedakannya dengan hewan lain. Pada mamalia, fibromuskular
berkembang dengan baik, namun pada unggas secara histologi terlihat lebih tipis.
Unggas hampir tidak memiliki trabekula, bahkan pada sebagian unggas trabekula
tidak dapat ditemukan (Aughey dan Frye 2001). Secara histologi parenkima limpa
memiliki dua bagian utama, yaitu pulpa merah dan pulpa putih. Secara umum, pulpa
merah merupakan tempat produksi sel darah merah dan pulpa putih sebagai tempat
yang kaya dengan sel limfosit sebagai respon sistem imun (Dellman dan Eurell
1998). Pulpa merah sebagai salah satu bagian dari limpa berisi banyak jumlah
eritrosit sehingga berwarna lebih terang (Aughey dan Frye 2001).

Menurut Dellman dan Eurell (1998), pada pulpa merah juga terdapat sinus
venosus, arteri dan kapiler, serta korda limpa yang berisi makrofag, sel plasma,
limfosit, dan sel darah putih lainnya. Pulpa putih merupakan salah satu parameter
terbentuknya sistem kekebalan tubuh. Pada bagian ini banyak terdapat sel limfosit,
terutama limfosit T yang berasal dari sistem limfoid primer, makrofag, dan sel
dendrit (Aughey dan Frye 2001). Dellman dan Eurell (1998) mengatakan bahwa
pulpa merah dan pulpa putih dipisahkan oleh suatu selaput yang disebut dengan
zona marginal. Zona inilah yang menghubungkan kedua bagian dan
menghubungkan antibodi dengan pembuluh darah.

(a) (b) (c)

Gambar 4. (a ) Bursa fabricius, (b) timus, dan (c) limpa ayam


Sistem peredaran darah atau sistem sirkulasi darah, merupakan salah satu
sistem dalam tubuh yang memiliki fungsi yaitu mengangkut dan mengedarkan
berbagai bahan seperti hasil metabolisme, oksigen, garam-garam, hormon, antibodi
kedalam jaringan tubuh, serta mengangkut karbondioksida untuk dikeluarkan dari
tubuh. Sistem peredaran ini terbagi menjadi 2 macam yaitu sistem peredaran
terbuka dan tertutup. Sistem peredaran darah terbuka biasanya dimiliki oleh hewan-
hewan invertebrata. Sistem peredaran darah tertutup merupakan sistem yang
dimiliki oleh hewan-hewan vertebrata yang semuanya terjadi dalam pembuluh
darah. (Karmana, 2008). Dalam sistem sirkulasi atau peredaran darah, terdapat 2
organ yang sangat penting yang berperan dalam menjalankan tugas dari sistem ini,
yaitu jantung dan pembuluh darah. (Yatim 2007).

Ayam merupakan salah satu jenis hewan vertebrata atau bertulang belakang
yang memiliki sistem sirkulasi darah tertutup dan ganda atau melewati jantung
sebanyak 2 kali. Pada ayam, jantung terletak pada rongga dada, memiliki bentuk
kerucut dan terbungkus oleh selaput perikardium. Pada jantung ayam, terdapat 4
ruang yaitu 2 atrium dan 2 ventrikel. Pembagian ruang jantung tersebut untuk
mengefektifitaskan kerja jantung sehingga akan terjadi sirkulasi oksigen dan
karbondioksida dari kantung udara dengan tingkat metabolisme yang tinggi.
(Suprijatna et al 2005)

Dalam kegiatan nekropsi, pemeriksaan jantung merupakan salah satu jenis


pemeriksaan yang harus dilakukan. Hal ini dikarenakan kondisi jantung dapat
megindikasikan hewan terjangkit penyakit atau sehat. Pada ayam, kondisi jantung
yang sehat memiliki warna merah, tidak terdapat bintik-bintik pada selaput
perikardium, memiliki konsistensi kenyal, permukaan licin, serta tidak terdapat
pembengkakan.(Jahja et al 2006). Pada kegiatan nekropsi ayam yang telah
dilakukan, didapatkan hasil bahwa keadaan jantung pada ayam yang telah
dinekropsi dalam keadaan normal dan tidak menunjukkan adanya kelainan. Hal ini
dikarenakan keadaan jantung sesuai dengan literatur yang menyatakan keadaan
normal jantung yaitu berwarna merah, tidak terdapat bintik pada selaput, kenyal
serta permukaan yang licin. Selain pemeriksaan keadaan fisik jantung, pemeriksaan
dilanjutkan dengan pemeriksaan kebengkakan pada jantung. Pemeriksaan
dilakukan dengan cara menyayat organ jantung secara horinzontal, kemudian bekas
sayatan disatukan kembali, apabila sayatn tidak menyatu sempurna maka
diindikasikan bahwa jantung mengalami pembengkakan. Pada kegiatan
pemeriksaan jantung yang telah dilakukan, pemeriksaan kebengkakan jantung
dilakukan dan didapatkan hasil bahwa jantung tidak mengalami kebengkakan
karena bekas sayatan menyatu dengan sempurna. Pada kegiatan nekropsi yang telah
dilakukan, dilakukan juga kegiatan pengambilan darah secara intracardiac,
pengambilan darah ini dilakukan langsung pada jantung. Pada saat pembukaan
tubuh ayam setelah euthanasia, didapatkan bahwa jantung pada salah satu ayam
yang dinekropsi, tampak sedikit mengempis dengan darah yang banyak keluar. Hal
ini disebabkan oleh proses pengambilan darah yang dilakukan pada saat sebelum
dieuthanasia dan dianggap normal, karenaa darah keluar bukan karena kelainan
melainkan karena akibat perlakuan pengambilan darah intracardiac.

(a) (b)

Gambar. (a) hasil nekropsi jantung ayam, (b) hasil nekropsi jantung ayam yang
sebelumnya sudah dilakukan pengambilan darah intracardiac

Sistem saraf merupakan salah satu sistem yang paling penting didalam
tubuh makhluk hidup. Dalam tubuh makhluk hidup, sistem saraf terbagi menjadi 2
bagian yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat merupakan
sistem yang berfungsi untuk mengkoordinasikan atau mengatur seluruh aktivitas
saraf didalam tubuh. Sistem saraf pusat ini terdiri dari otak, dan medula spinalis
atau yang biasa disebut dengan sumsum tulang belakang. (Iskandar 2008).

Sistem saraf pada ayam merupakan satu kesatuan yang berfungsi untuk
mengontrol semua aktivitas dalam tubuh. Dalam sistem saraf ayam, terdapat
beberapa pusat saraf yaitu otak, medula spinalis atau sumsum tulang belakang dan
juga ganglia (terdapat pada tubuh). (Nesheim et al 1979). Salah satu sistem saraf
pusat yang dimiliki oleh ayam yaitu otak, terdiri dari 4 bagian yaitu otak besar
(serebrum), otak tengah, otak kecil (serebelum) dan juga sumsum lanjutan (medula
oblongata). Pada ayam, serebrum dan serebelumnya berkembang dengan baik. Hal
ini dikarenakan ayam memerlukan aktivitas tinggi saat bergerak dengan cepat.
Berbeda dengan otak pada mamalia, pada permukaan serebrum atau otak besar
ayam, tidak terdapat girus atau lekukan lekukan otak. Hal ini menyebabkan ayam
tidak dapat merasakan emosi seperti pada hewan mamalia. Ayam memiliki korteks
serebral atau neokorteks kecil (pada hewan berintelegensia tinggi berkembang
baik). Selain itu ayam juga mempunyai hipotalamus yang berfungsi untuk mengatur
kebutuhan pakan dan air, sekresi pituitari anterior, agresivitas dan juga tingkah laku
sosial. (Akoso 1993)
Gambar bagian-bagian otak ayam

Serebrum atau yang biasa disebut dengan otak besar merupakan bagian otak
yang memiliki fungsi untuk mengatur semua aktivitas mental. Bagian otak ini
merupakan pusat dari kegiatan atau aktivitas sadar. Pada bagian korteks, terdapat
warna kelabu yang berfungsi sebagai penerima rangsang yang letaknya ada
dibelakang area motor yang mengatur gerakan sadar. Untuk pusat pengelihatan
terdapat di area belakang. Pada anak ayam, pada bagian otak ini, terdapat struktur
yang bernama immunoreaktif yang terletak oada bagian telensefalon dan
diensefalon. Bagian otak yang terletak dibelakang serebrum adalah bagian otak
tengah. Bagian ini terletak didepan otak kecil atau serebelum dan jembatan varol.
Pada bagian depan otak tengah terdapat talamus dan kelenjar hipofisis yang akan
mengatur kerja kelenjar endokrin. Selain itu pada bagian otak tengah juga terdapat
lobus optikus yang terletak dibagian dorsal. Lobus optikus yang terletak pada otak
ayam ini berfungsi untuk mengatur refleks mata dan berhubungan dengan kepekaan
ayam terhadap suatu gerakan. bagian otak yang terletak dibelakang otak tengah
adalah otak kecil. Otak kecil pada ayam memiliki girus atau lekukan-lekukan yang
memperluas permukaan sehingga neuron berkembang cukup banyak. Pada ayam,
perkembangan bagian serebelum ini memiliki fungsi untuk keseimbangan tubuh.

Dalam kegiatan nekropsi, pemeriksaan keadaan otak merupakan salah satu


yang penting untuk dilakukan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan melihat
keadaan otak dan juga dapat pula dilakukan dengan pemeriksaan melalui
pembuatan preparat histologi. Pada kegiatan nekropsi ayam, pemeriksaan otak
dapat dilakukan dengan cara membuka bagian tulang tengkorak ayam untuk
melihat keadaan fisik dari otak ayam. Dalam keadaan normal, otak ayam akan
memiliki warna merah muda dengan permukaan licin, pada bagian serebelum
terdapa girus, tidak ada pembengkakan serta tidak terdapat pengendapan cairan
maupun darah dalam selaput otak. Pada kegiatan nekropsi ayam yang telah
dilakukan, didapatkan bahwa otak ayam tidak mengalami kelainan. Hal ini
didasarkan, pada saat pemeriksaan setelah dilakukannya pembukaan kepala, otak
dari kedua ayam yang diperiksa memiliki warna merah muda cerah, dan memiliki
permukaan yang licin. Selain itu pada bagian otak juga tidak terdapat
membengkakan yang dapat dilihat dari kedua bagian serebrum yang sama besar.
Pada bagian sekitar otak juga tidak terdapat akumulasi atau pengendapan cairan
maupun darah.

(a) (b)

Gambar hasil nekropsi otak ayam A & B

Sistem urogenital ayam,ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa


metabolisme tubuh, seperti CO2, H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat.
Sistem ekskresi adalah suatu sistem yang menyelenggarakan proses pengeluaran
zat-zat sisa. Zat-zat sisa ini merupakan hasil proses metabolisme dalam tubuh yang
sudah tidak berguna lagi. Alat ekskresi yang dimiliki oleh mahluk hidup berbeda-
beda. Semakin tinggi tingkatan mahluk hidup, semakin kompleks alat ekskresinya.
Setiap makhluk hidup mengeluarkan zat sisa agar tidak membahayakan dan
meracuni tubuhnya. Sistem ekskresi pada aves terdiri dari ginjal (metanefros), paru-
paru, dan kulit. Ayam memiliki sepasang ginjal yang berwarna cokelat. Saluran
ekskresi terdiri dari ginjal yang menyatu dengan saluran kelamin pada bagian akhir
usus (kloaka). Ayam mengekskresikan zat berupa asam urat dan garam. Kelebihan
larutan garam akan mengalir ke rongga hidung dan keluar melalui nares (lubang
hidung). Sistem ini sangat penting dan kegagalan (misalnya ketika ginjal sakit atau
rusak) ternak menjadi lemah dan akan mengakibatkan kematian. Fungsi sistem
ekskresi pada unggas adalah pemeliharaan keseimbangan elektrolit ,pemeliharaan
keseimbangan air dan pembuangan limbah khususnya produk dari metabolisme
nitrogen(kecuali karbon dioksida)

Ginjal unggas berjumlah dua buah terletak pada dinding posterior abdomen,
di luar rongga peritoneum. Sisi medial setiap ginjal merupakan daerah lekukan yang
disebut hilum tempat lewatnya arteri dan vena renalis, cairan limfatik, suplai saraf,
dan ureter yang membawa urin akhir dari ginjal ke kandung kemih, tempat urin
disimpan hingga dikeluarkan. Ginjal dilingkupi oleh kapsul fibrosa yang keras
untuk melindungi struktur dalamnya yang rapuh (Guyton & John 2007).
Ginjal ayam terletak pada sinsakrum bagian fossa renalis. Ginjal unggas
terdiri dari puluhan hingga ratusan mikroskopik lobus. Tiap lobus terdiri dari
kerucut korteks dan medula yang bertugas sebagai unit semiautogenus serta dua
tipe nefron juga ditemukan pada ginjal unggas. Ginjal merupakan organ utama yang
berfungsi untuk membuang produk sisa metabolisme yang tidak diperlukan lagi
oleh tubuh.Ginjal juga membuang sebagian besar toksin dan zat asing lainnya yang
diproduksi oleh pencernaan, seperti pestisida, obat-obatan, dan zat aditif makanan
(Guyton & John 2007)

Ekskresi air dan sisa metabolik sebagian besar tejadi melalui ginjal. Sistem
ekskresi pada unggas terdiri dari dua buah ginjal yang bentuknya relatif besar-
memanjang, berlokasi di belakang paru-paru, dan menempel pads tulang punggung.
Masing-masing ginjal terdiri dari tiga lobus yang tampak dengan jelas. Ginjal terdiri
dari banyak tubulus kecil atau nephron yang menjadi unit fungsional utama dari
ginjal. Fungsi utama ginjal adalah memproduksi urine, melalui proses sebagai
berikut filtrasi darah sehingga air dan limbah metabolism diekskresikan serta
reabsorpsi beberapa nutrien (misalnya glukosa dan elektrolit) yang kemungkinan
digunakan kembali.

Dengan demikian, sel dan protein darah disaring keluar dari darah,
sedangkan filtrat melewati tubula ginjal. Air dan zat-zat tertentu untuk tubuh
sebagian besar diabsobsi kembali, sedangkan sisa-sisa produk yang harus dibuang
diekskresikan melalui urine. Ginjal memiliki peran kunci dalam pengaturan
keseimbangan dan mempertahankan keseimbangan osmotik cairan tubuh. Ureter
menghubungkan masing-masing ginjal dengan kloaka. Urine pada unggas terutama
tersusun atas asam urat yang bercampur dengan feses pada kloaka dan keluar
sebagai kotoran berupa material berwarna putih seperti pasta.
Testis terletak di rongga badan dekat tulang belakang melekat pada bagian
dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum mesorchium dan
berdekatan dengan aorta dan vena cava, atau dibelakang paru-paru bagian depan
dari ginjal. Meskipun dekat dengan rongga udara tetapi temperatur testis selalu 41-
43C, karena spermatogenesis (pembuatan sperma) akan terjadi pada temperatur
tersebut. Testis berbentuk biji buah buncis dengan warna putih krem. Testis
terbungkus oleh dua lapisan tipis transparan, lapisan albugin yang. Bagian dalam
dari testis terdiri dari tubuli seminiferi (85-95% dari volume testis) dimana terjadi
spermatogenesis. Jaringan intersitial yang terdiri dari sel glanduler (sel Leydig)
tempat disekresikan hormon steroid, androgen dan testosteron. Besar testis
tergantung dari umur, strain, musim dan pakan.

Penampang sebuah testis ayam (Sumber: Etches, 1996)

Saluran deferens,saluran ini dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian atas
yang merupakan muara sperma dari testis. Sedangkan bagian bawah yang
merupakan perpanjangan dari saluran epididimis dinamakan saluran deferens.
Saluran deferens ini akhirnya bermuara di kloaka pada daerah proktodeum yang
bersebelahan dengan urodeum dan koprodeum. Di dalam saluran deferens ini
sperma mengalami pemasakan dan penyimpanan sebelum diejakulasikan.
Pemasakan dan penyimpanan sperma terjadi pada 65% bagian distal saluran
deferens.

Alat kopulasi pada ayam berupa papila (penis) yang mengalami rudimenter,
kecuali pada itik berbentuk spiral dengan panjang 12-18 cm. Pada papila ini juga
diproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma saat terjadinya
kopulasi.
Spermatogenesis yaitu proses pembentukan sel sperma yang terjadi di
epitelium (tubuli) seminiferi di bawah kontrol hormon gonadotropin dari hipofisis
(pituitaria bagian depan). Tubuli seminiferi ini terdiri dari sel Sertoli dan sel
germinalis. Spermatogenesis terjadi dalam 3 fase yaitu spermatogonial, meiosis dan
spermiogenesis dan butuh waktu 13-14 hari

1. Awal dari Spermatogenesis dengan pembelahan


meiotik dari spermatosit I menjadi spermatosit II
(waktu 6 hari)
2. Pembelahan meiotik II(0,5 hari)
3. Spermatid bulat (2,5 hari)
4. Spermatid memanjang untuk menjalani pemasakan
selama (waktu 8 hari)
Gambar : Diagram Spermatogenesis (Sumber: Etches,
1996)
SIMPULAN
Berdasarkan hasil pratikum bahwa saat melakukan nekropsi ayam dalam
kondisi sehat tidak terdapat kelainan atau penyakit yang dideteksi. Saluran
pencernaan normal dan tidak ada lesio atupun endoparasit, saluran pernafasan
dalam keadaan normal atau tidak ada penyumbatan dan bagian paru-paru ayam
yang telah dinekropsi tidak ada kelainan. Sistem urogenital, system syaraf dan
system limfatik ayam yang periksa tidak ada kelainan. Berdasarkan tujuan nekropi
untuk mengetahui jenis penyakit yang menyerang unggas, maka dapat dilihat dari
hasil nekropsi yang didapat bahwa unggas atau ayam tersebut dalam keadaan sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Akoso BT. 1993. Manual Kesehatan Unggas: Panduan bagi petugas teknis
penyuluhan dan peternakan. Yogyakarta (ID): Kanisius
Aughey E, Frye FL. 2001. Comparative Veterinary Histology with Clinical
Correlates. London (UK): Manson Publising. P: 252-270.
Bell DD, Weaver WD. 2002. Chicken Meat & Egg Production. Edisi ke-5.Springer
science+. New York (US) Business Media, inc.
Damayanti Y, Winaya I , Udyanto M. 2012. Evaluasi Penyakit Virus Pada Kadaver
Broiler Berdasarkan Pengamatan Patologi Anatomi Di Rumah Pemotongan
Unggas. Indonesia Medicus Veterinus 2012 1(3): 417 427 ISSN : 2301-
7848
Dellman HD, Eurell J. 1998. Textbook of Veterinary Histology.Fifth Edition. USA:
Lippincott Williams & Wilkins. P: 135-146.
Etches, RJ. 1996. Reproduction in Poultry.International Department of Animal and
Poultry Science. Ontario (CA): University of Guelpf.
Guyton AC, Hall JE. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta (ID):
EGC.
Hartono. 1992. Histologi Veteriner Organologi. Jilid 2. Bogor (ID): Laboraturium
Histologi Departemen Anatomi Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Iskandar R. 2008. Sistem Saraf. Makassar (ID): Unhas Press
Jahja J. 2006. Penyakit Penyakit Penting Pada Ayam. Bandung (ID): Medion
Karmana. 2008. Biologi SMA Untuk Kelas IX. Jakarta (ID): Gafindo Media
Pratama
Neshei MC, Austic RE, Card LE. 1979. Poultry Production, 12th cd. Philadelphia
(US): Lea and afaebiger,
Riddel C. 1987. Avian Histopathology. Inc. Pennsylvania (US): American
Association of Avian Pathologist
Suprijatna E, Umiyati A, Ruhyat K. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Cetakan I.
Jakarta (ID): Penebar Swadaya
Tizard, 1988. Pengantar Imunologi Veteriner. Terjemahan: M. Partodiredjo.
Surabaya (ID): Airlangga University Press.
Yatim W. 2007. Kamus Biologi. Jakarta (ID); Yayasan Obor Indonesia