Anda di halaman 1dari 10

Laporan Hari,Tanggal : Kamis, 20 April 2017

Praktikum ke-8 Waktu : 13.00 17.00 WIB


Teknik Dasar Dosen : Drh. Vetnizah Juniantito PhD APVet
Nekropsi Hewan Dr. Drh. Eva Harlina MSi APVet
Drh. Heryudianto Vibowo
Asisten : Wahyu Mega AMd

EUTANASIA

Kelompok 6 / P.2
Abdullah Aziz J3P115003
Nanda Finisa J3P115022
Ramadhani Febriansyah J3P115026
Rara Nopita Sari J3P115040
Ridho Rizki Kurniawan J3P115041
Zahara Kadri J3P115045
Riza Dwileski Fatria J3P115047
Miftahul Rizki J3P115054
Gelvinda Jamil J3P215074

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PENDAHULUAN

Pesatnya penemuan-penemuan teknologi modern, mengakibatkan


terjadinya perubahan-perubahan yang sangat cepat di dalam kehidupan sosial
budaya manusia. Di antar sekian banyak penemuan-penemuan teknologi tersebut,
tidak kalah pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis.
Pemanfaatan hewan pada bidang penelitian yang disebut sebagai hewan
model atau hewan percobaan telah berlangsung sejak berabad lalu sejalan dengan
berkembangnya bidang kedokteran. Pemanfaatannya semakin meluas setelah
ditemukannya anaesthesi dan publikasi dari Darwin yang menyatakan bahwa ada
persamaan secara biologis antara manusia dan hewan (Baumans, 2004).
Periode mematikan hewan percobaan ini yang dikenal sebagai euthanasia,
Eutanasia merupakan upaya untuk mengakhiri hidup orang lain dengan tujuan
untuk menghentikan penderitaan yang dialaminya karena suatu penyakit atau
keadaan tertentu. Pemakaian metode euthanasia dalam bidang keilmuan sangat
penting perannya, apabila ditinjau dari segi manfaatnya.
Uji laboratorium terhadap material non-toksik dan noninfectius sangat
bisa diterima karena hewan diasumsikan tidak akan merasakan penderitaan selama
penelitian berlangsung. Keadaan menjadi sangat memprihatinkan apabila hewan-
hewan tersebut dipergunakan untuk uji biologis virus maupun logam berat dan zat
toxik lainnya.
Praktikum ini dilaksanakan agar mahasiwa mengetahui secara pasti teori
euthanasia yang akan dilakukan pada ruminansia kecil, babi, unggas, anjing, dan
rodensia. Teknik euthanasia yang dilakukan pada setiap hewan berbeda sesuai
dengan umur hewan, kegunaan setelah euthanasia, dan tata cara euthanasia pada
setiap hewan. Hal tersebut dilakukan agar pada saat praktikum pelaksanaan
euthanasia mahasiswa bisa mengetahui tentang euthanasia pada hewan.
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah agar mahasiswa dapat
mengetahui tata cara penyembelihan hewan pada ruminansia kecil
(domba/kambing). Mengetahui tata cara euthanasia dengan melakukan
penyetruman pada babi. Mengetahui cara injeksi dan dosis ketamin pada hewan.

METODELOGI

Waktu dan tanggal


Praktikum ini dilaksanakan tanggal 20 April 2017. Waktu pelaksanaan
pukul 13.00-17.00 WIB. Tempat pelaksanaan praktikum di Klinik Hewan
Pendidikan, Kampus Gunung Gede, Program Diploma Keahlian Paramedik
Veteriner, Institut Pertanian Bogor.
Alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah peralatan
dan bahan euthanasia seperti pisau, jumper, ketamine (obat bius), spuit dan
syringe.

Prosedur kerja
Dilakukan pengamatan langsung terhadap beberapa peralatan penunjang
euthanasia. Praktikan mengamati dan mengetahui fungsi dan aplikasi peralatan
penunjang euthanasia.

HASIL DAN PEMBAHASAN

No Nama Alat Fungsi Target aplikasi


1. Pisau Memutus tiga saluran Penyembelihan
yang terdapat pada pada tiga saluran
bagian leher atau yang terdapat
cervicalis yaitu saluran bagian leher
pernapasan, saluran hewan (ayam dan
pencernaan dan saluran ruminansia).
nadi atau peredaran
darah.

2. Jumper Sebagai alat bantu untuk Pangkal belakang


melakukan euthanasia telinga dan bagian
melalui penyetruman lipatan paha kaki
pada hewan (Babi) belakang.
3. Spoit dan syringe Sebagai alat untuk Pada bagian
exsanguinasi intracardiac dan
lainnya.

4. Ketamin Bahan kimia (obat bius) Intra Muskular,


untuk melakukan intra vena
euthanasia pada hewan. (Paranteral).

Tata Cara Penyembelihan Domba/Kambing


Kambing/domba yang akan disembelih harus berumur diatas 1 tahun,
dengan ditandai tumbuhnya sepasang gigi tetap, hewan harus berjenis kelamin
jantan dan tidak dikastrasi serta tidak kurus dan cacat. Tempat penyembelihan
hewan harus memenuhi persyaratan:
a. lantai terbuat dari bahan yang tidak kedap air, tidak licin, mudah dibersihkan
dan didesinfeksi;
b. tersedia lubang penampungan darah berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm untuk
tiap 10 ekor kambing atau domba, atau 50 cm x 50 cm x 100 cm untuk tiap 10
ekor sapi atau kerbau;
c. tersedia penyangga kepala yang terbuat dari besi, balok kayu atau bahan lain
dengan ukuran 7 cm x 15 cm x 75 cm;
d. tersedia fasilitas pengekang hewan (restrainer) untuk merebahkan hewan sesaat
sebelum disembelih; dan
e. tersedia suplai air bersih dalam jumlah cukup untuk mencuci tangan, peralatan
dan membersihkan lantai penyembelihan hewan.
Penyembelihan herus sesuai dengan ketentuan syariah Islam dan prinsip
kesejahteraan hewan. Ketentuan syariah Islam tersebut meliputi:
a. hewan yang akan disembelih disunnahkan untuk dihadapkan ke arah kiblat;
b. penyembelihan dilaksanakan dengan niat menyembelih dan menyebut asma
Allah Bismillahi Allaahu Akbar atau Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
untuk setiap individu hewan;
c. penyembelihan dilakukan dengan 1 (satu) kali gerakan penyayatan tanpa
mengangkat pisau dari leher dan dilakukan secara cepat;
d. penyembelihan dilakukan dengan mengalirkan darah melalui pemotongan 3
(tiga) saluran sekaligus, yaitu saluran pembuluh darah (vena jugularis dan
arteri carotis kanan dan kiri/wadajain), saluran pernafasan (trachea/hulqum),
dan saluran makanan (oesophagus/ mari); dan
e. adanya pancaran aliran darah dan/atau gerakan hewan sebagai tanda hewan
yang disembelih dalam keadaan hidup
Selain itu juga harus dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam
dan ukuran yang sesuai dengan jenis hewan serta terbuat dari bahan yang tahan
karat, harus dilakukan segera setelah hewan dirobohkan, dilakukan dengan posisi
pada bagian bawah (ventral leher) 8-10 cm di belakang lengkung rahang bawah,
dan harus dipastikan telah memutus 3 (tiga) saluran.
Pemastian hewan mati sempurna dilakukan dengan cara melakukan uji
refleks kornea negatif, hilangnya pernafasan ritmik dan terhentinya pancaran
darah sebagai tanda hewan telah mengalami mati otak.
Hewan yang telah mati sempurna dilakukan penanganan:
a. pengikatan saluran makan (oesophagus) dan usus bagian belakang (rektum)
atau anus dengan tali agar isi lambung dan usus tidak keluar;
b. pemisahan kepala dengan tubuh pada persendian tulang leher pertama dan
tengkorak;
c. pemisahan kaki depan sampai persendian carpus dan pemisahan kaki belakang
sampai persendian tarsus;
d. penyayatan kulit pada sepanjang dada dan perut, serta bagian medial kaki
depan dan kaki belakang;
e. pengulitan pada sepanjang dada dan perut sampai bagian punggung, serta kaki
depan dan kaki belakang;
f. pada bagian tumit kaki belakang (tendo achilles) diikat pada alat penggantung
dan dilakukan penyayatan pada bagian medial rongga perut dan rongga dada;
dan
g. pengeluaran organ rongga perut meliputi lambung, usus, hati, limpa, ginjal, dan
pengeluaran organ rongga dada meliputi jantung dan paru-paru dilakukan
bersamaan dengan proses penggantungan badan hewan yang dilakukan secara
perlahan.
Penanganan produk hewan kurban dilakukan oleh dokter hewan atau
paramedik di bawah pengawasan dokter hewan berwenang terhadap kepala,
jeroan merah, jeroan hijau, dan karkas. Dokter hewan atau paramedik melakukan
pemeriksaan post-mortem dan mengambil keputusan:
a. menyayat bagian daging/organ yang dicurigai mengandung agen penyakit
zoonosis;
b. mengafkir bagian daging yang tidak layak untuk konsumsi;
c. mengambil bagian-bagian daging sebagai spesimen untuk pengujian
laboratorium.
d. menahan daging yang diduga mengandung agen penyakit zoonosis apabila
diperlukan dengan cara pengujian cepat (screening test); dan/atau
e. memerintahkan dan mengawasi pemusnahan kepala, karkas, jeroan yang tidak
lulus pemeriksaan post-mortem segera pada saat hari yang sama di lokasi
pemotongan hewan.

Electrocution pada babi


Elektroda menyebabkan kematian dengan fibrilasi jantung, yang
menyebabkan hipoksia serebral. Namun, hewan tidak kehilangan kesadaran
selama 10 sampai 30 detik atau lebih setelah onset fibrilasi jantung. Hal yang
sangat penting bahwa hewan tidak sadar dan tidak dapat disakiti sebelum
disetrum. Ketidaksadaran dapat diinduksi dengan metode apapun yang dapat
diterima sesuai dengan kondisi hewan , termasuk melewati arus melalui otak.
Ketika listrik digunakan untuk menginduksi ketidaksadaran, arus
dilewatkan melalui otak, yang akan menyebabkan kejang epilepsi grandmal.
Tanda-tanda induksi efektif dari kejang adalah perpanjangan dari anggota badan,
opisthotonus, putaran ke bawah dari bola mata, dan kejang tonik (kaku) yang
berubah menjadi kejang klonik (mengayuh) dengan kekentalan otot pada
akhirnya.
Nilai ampere arus listrik ini dapat ditingkatkan dengan meningkatkan
voltase atau mengurangi resistansi. Resistansi dapat dipengaruhi oleh panjang dan
ukuran kawat yang mengantarkan arus ke babi, kontak elektroda dengan kulit,
kebersihan elektroda, kelembaban kulit, adanya rambut, ketebalan lapisan kulit
dan lemak, dan ketebalan tengkorak. Frekuensi arus yang dikirimkan harus kira-
kira 60 hertz (standar A.S.) arus bolak-balik (AC). Menggunakan ammeter untuk
mengukur ampere dapat membantu untuk memastikan aliran yang memadai saat
dikirim ke babi.
Bila diterapkan dengan benar, listrik bisa memicu ketidaksadaran sesaat.
Babi secara efektif tertegun dengan paparan listrik tonik dan gerakan klonik.
Dalam aktivitas tonik, tubuh menjadi sangat tegang diikuti dengan relaksasi
bertahap. Tahap ini biasanya diikuti dengan gerakan klonik, atau tendangan tanpa
disengaja atau gerakan mendayung, selama satu atau dua menit. Aktivitas tonik
harus terjadi dalam detik pengiriman arus listrik. Jika metode ini efektif, listrik
akan merusak otak dan memulai fibrilasi jantung dan berakhir kematian.
Kerugian terbesar dari metode euthanasia ini adalah bahaya terhadap
keselamatan manusia jika prosedur lock out / tag out yang benar tidak ada. Untuk
kesehatan babi dan alasan keselamatan manusia, aparatus ini harus mengandung
transformator isolasi yang meningkatkan keselamatan listrik dan memberi ampere
yang cukup untuk menyebabkan ketidaksadaran.
Ada dua metode yang bisa digunakan untuk eutanasia dengan cara
menyetrum: head-only dan head-to-heart. Terlepas dari metode yang dipilih, arus
pertama-tama harus bergerak melalui otak untuk menyebabkan insensibilitas
(penempatan elektoda dengan cara menarik garis tengah yang menyilang pada
kepala). Metode dimana arus yang diarahkan hanya ke jantung tidak dapat
diterima.

Head-only electrocution
Aplikasi arus utama hanya arus listrik stuns babi dengan melewatkan
arus melalui otak dan tidak menyebabkan fibrilasi jantung. Metode ini harus
diikuti oleh tindakan sekunder seperti electrocution dari kepala ke jantung atau
pelepasan exsanguinasi dalam waktu 15 detik dari awal yang menakjubkan pada
hewan tersebut.

Electroda harus ditempatkan pada kepala babi di salah satu dari tiga posisi berikut
ini;
1. Antara mata dan dasar telinga kiri dan kanan
2. Di bawah dasar telinga kiri dan kanan
3. Secara diagonal, di bawah satu telinga berada di atas mata yang
berlawanan
Arus dianggap melewati posisi tersebut dalam otak dan secara efektif akan
menyetrum babi. Kontak elektroda dengan babi harus dijaga secara konstan untuk
mencegah gangguan aliran arus listrik yang dapat menyebabkan penyetruman
yang tidak efektif. Arus listrik harus diaplikasikan ke kepala minimal selama 3
detik.

Head-to-heart electrocution.
Penyetruman Head-to-heart
listrik dan membunuh babi dengan
melewati arus secara bersamaan
melalui otak dan jantung. Elektroda
depan harus ditempatkan di kepala,
sejajar dengan atau di depan otak dan
elektroda belakang harus ditempatkan
pada tubuh di belakang jantung di sisi
yang berlawanan sehingga arus
bergerak secara diagonal melalui tubuh
seperti yang ditunjukkan pada gambar 1 saat menerapkan elektroda ke depan
telinga, dasar telinga adalah lokasi yang disarankan. Arus harus diterapkan
minimal selama 15 detik.

Dosis Ketamine

Rodent
Euthanasia dengan menggunakan obat bius atau bahan kimiawi pada
rodensia dilakukan dengan menyuntikkan obat tersebut dengan dosis tiga kali lipat
(Ardana, 2015). Metode euthanasia pada hewan dengan injeksi agen kimiawi
tidak boleh dilakukan melalui intramuscular (IM) berdasarkan American
Veterinary Medical association (AVMA) Guidelines on Euthanasia (2007).
Penggunaan ketamine sebagai obat bius pada tikus dengan dosis 40-50
mg/kg bb, dan penggunaan ketamine untuk euthanasia pada tikus sebanyak 3 kali
lipat yakni dengan dosis 120-150 mg/kg bb dengan cara injeksi Intra Peritonium
(IP) menggunakan syringe 1 ml dan needle 5-8 inci (Etten V., 2015). Cara
pengaplikasian Inta Peritonium yaitu : Pada saat penyuntikkan, posisi kepala lebih
rendah dari abdomen yaitu dengan menunggingkan mencit atau tikus, kemudian
Jarum disuntikkan sehingga membentuk sudut 45 derajat dengan abdomen, posisi
jarum agak menepi dari garis tengah (linea alba)untuk menghindari agar tidak
mengenai organ di dalam peritoneum.

Unggas
Pada unggas yaitu ayam, dapat dilakukan euthanasia menggunakan
ketamine dengan dosis 67,9 mg/kg bb secara intravena (McGrath et al., 1984).
Ketamin merupakan jenis obat anestesi yang dapat digunakan pada hampir semua
jenis hewan (Hall dan Clarke, 1983). Penyuntikan ketamine dilakukan di bagian
vena pectoralis tepatnya di bawah sayap ayam.
Ketamin dapat menimbulkan efek yang membahayakan, yaitu takikardia,
hipersalivasi, meningkatkan ketegangan otot, nyeri pada tempat penyuntikan, dan
bila berlebihan dosis akan menyebabkan pemulihan berjalan lamban dan bahkan
membahanyakan (Jones et al., 1997). Oleh karena itu, penggunaan ketamin
sebagai bahan euthanasia akan menimbulkan rasa sakit yang dirasakan oleh
hewan sebelum kematiannya.

Anjing
Dalam praktek kedokteran hewan, golongan barbiturate (misalnya sodium
pentobarbital) dan kombinasi dari obat lainnya biasanya diberikan dengan dosis
tinggi untuk proses euthanasia hewan. Dosis dan cara pemberian yang digunakan
dapat menyebabkan hilangnya kesadaran yang kemudian diikuti oleh kematian.
Sebelumnya obat penenang /sedativa perlu diberikan pada hewan yang agresif.
Menurut Richard E.F. (2008), 4-5 kali dosis obat anastesi (ketamine) bisa
digunakan untuk melakukan euthanasia. Dosis ketamine pada kucing adalah
sekitar 0,05-0,15 mg/kg bb. Artinya untuk dosis euthanasia untuk anjing dengan
menggunakan ketamine sekitar 0,2-0,75 mg/kg bb. Pemberian obat bisa dilakukan
secara intra muskular atau intra peritonial.

SIMPULAN

Kambing/domba yang akan disembelih harus berumur diatas 1 tahun,


dengan ditandai tumbuhnya sepasang gigi tetap, hewan harus berjenis kelamin
jantan dan tidak dikastrasi serta tidak kurus dan cacat. Tempat penyembelihan
hewan harus memenuhi persyaratan. Penyembelihan herus sesuai dengan
ketentuan syariah Islam dan prinsip kesejahteraan hewan. Penyetruman Head-to-
heart listrik dan membunuh babi dengan melewati arus secara bersamaan melalui
otak dan jantung. Ketika listrik digunakan untuk menginduksi ketidaksadaran,
arus dilewatkan melalui otak, yang akan menyebabkan kejang epilepsi grandmal.
Dosis ketamin setiap hewan berbeda-beda, namun biasanya diberikan 3x lipat
untuk euthanasia. Cara injeksi untuk pemberian ketamin setiap hewan umumnya
sama, namun untuk cara injeksi lebih baik melalui IV.

DAFTAR PUSTAKA

Ardana I.B.K. 2015. Etika Menggunakan Hewan Percobaan Dalam Penelitian


Kesehatan. Bali (ID) : Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fk Unud
Baumans. Use of Animals in Experimental Research: aan ethical dilemma.
http\\nature.com/gt/journal. Tanggal akses 22 April 2017.

Departemen Pertanian. 2014. Tentang Pemotongan Hewan Kurban dengan


Rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Peraturan Menteri Pertanian Nomor
114/Permentan/PD.410/9/2014. Jakarta: Deprtemen Pertanian

Etten V. 2015. Recommended Methods Of Anesthesia, Analgesia, And


Euthanasia For Laboratory Animal Species. Albert Einstein College Of
Medicine Institute For Animal Studies
Febriani I.F. 2015. Gambaran Patologi Trakea Pada Ayam Petelur Yang
Terserang Coryza Setelah Pemberian Ekstrak Bawang Putih (Allium
Sativum Linn). Makassar (ID) : Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Hasanuddin
Hall, L. W and K. W. Clarke. 1983. Veterinary Anaesthesia 9th. Ed. Bailliere
Tindall. London. 58, 60, 308
Jones, L. M., N. H, Booth, and L. E. McDonald. 1997. Veterinary Pharmacology
and Therapeutics. Oxford and IBH Pub. Co. New Delhi. Pp292 - 365
McGrath CJ, Lee JC, and Campbell VL. 1984. Dose-response Anesthetic Effects
of Ketamine in the Chicken. Am J Vet Res Mar 45 (3): 531-534
Richard E.F. 2008. Anesthesia and Analgesia in Laboratory Animals. Academic
Press. Page 372