Anda di halaman 1dari 12

PERCOBAAN I

HANDLING DAN TEKNIK PENGAMBILAN


SAMPEL DARAH PADA HEWAN COBA
I.

TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan praktikum ini adalah praktikan dapat mempelajari dan memahami

prinsip penanganan hewan coba terutama pemberian perlakuan secara oral serta
pengambilan sampel darah.
II.

DASAR TEORI
Hewan coba atau sering disebut hewan laboratorium adalah hewan yang

khusus diternakkan untuk keperluan penelitian biologik. Hewan labboratorium


tersebut digunakan sebagai model untuk peneltian pengaruh bahan kimia atau
obat pada manusia. Beberapa jenis hewn dari yang ukurannya terkecil dan
sederhana ke ukuran yang besar dan lebih komplek digunakan untuk keperluan
penelitian ini, yaitu: Mencit, tikus, kelinci, dan kera. Mencit merupakan hewan
yang paling umum digunakan pada penelitian laboratorium sebagai hewan
percobaan, yaitu sekitar 40-80%. Mencit memiliki banyak keunggulan sebagai
hewan percobaan, yaitu siklus hidup yang relatif pendek, jumlah anak per
kelahiran banyak, variasi sifat-sifatnya tinggi dan mudah dalam penanganannya
(Moriwaki, 1994).
Mencit

harus

diberikan

makan

dengan

kualitas

tetap

karena

perubahan kualitas dapat menyebabkan penurunan berat badan dan tenaga.


Seekor mencit dewasa dapat mengkonsumsi pakan 3-5 gram setiap hari.
Mencit yang bunting dan menyusui memerlukan pakan yang lebih banyak.
Jenis ransum yang dapat diberikan untuk mencit adalah ransum ayam komersial
(Smith, 1988).
Hewan percobaan yang dipelihara untuk tujuan penelitian, umumnya
berada dalam suatu lingkungan yang sempit dan terawasi. Walaupun
kehidupannya diawasi, namun diusahakan agar proses fisiologis dan reproduksi
termasuk

makan,

minum,

bergerak

dan

istirahat

tidak

terganggu.

Hewan percobaan ditempatkan dalam kandang-kandang yang disusun pada rakrak didalam suatu ruangan khusus. Kandang harus dirancang untuk dapat

memberikan kenyamanan dan kesejahteraan bagi hewan tersebut (Anggorodi,


1973)
Peningkatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang
kesehatan dibarengi dengan peningkatan kebutuhan akan hewanuji terutama
mencit. Penggunaan mencit ini dikarenakan relatif mudah dalam penggunaanya,
ukurannya yang relatif kecil, harganya relatif murah, jumlahnya peranakannya
banyak yaitu sekali melahirkan bisa mencapai 16-18 ekor, hewan iotu memiliki
sistem sirkulasi darah yang hampir sama dengan manusia serta tidak memiliki
kemampuan untuk muntah karena memiliki katup dilambung. Sehingga banyak
digunakan untuk penelitian obat (Marbawati, 2009).
Semankin meningkat cara pemliharaan, semakin sempuran pula hasil
percobaan yang dilakukan. Dengan demikian, apabila suatu percobaan dilakukan
dengan hewan percobaan yang liar, hasilnya akan berbeda bila menggunakan
hewan percobaan konvensional ilmiah maupun hewan yang bebas kuman. Masih
dalam rangka pengelolaan hewan percobaan secara keseluruhan, cara memegang
hewan perlu diketahui. Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan
adalah berbeda beda dan ditentukan oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau
kecil) serta tujuannya. Kesalahan dalam caranya akan dapat menyebabkan
kecelakaan atau hips ataupun rasa sakit bagi hewan (iniakan menyullitkan dalam
melakukan penyuntikan atau pengambilan darah) dan juga bagi orang yang
memegangnya.( Sulaksono,M.E.,1992)
Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang
kedokteran/biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Hewan sebagai
model atau sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan
tertentu, antara lain persyaratan genetis / keturunan dan lingkungan yang
memadai dalam pengelolaannya, disamping faktor ekonomis, mudah tidaknya
diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada
manusia (Marbawati, 2009).
Umumnya pengambilan darah terlalu banyak pada hewan kecil dapat
menyebabkan shok hipovolemik, stress dan bahkan dapat menyebabkan kematian.
Tetapi bila dilakukan pengambilan sedikit darah tetapi sering, juga dapat
menyebabkan anemia. Pada umumnya pengambilan darah dilakukan sekitar 10%

dari total volume darah dalam tubuh dan dalam selang waktu 2-4 minggu. Atau
sekitar 1% dengan interval 24 jam. Total darah yang diambil sekitar 7,5% dari
bobot badan. Diperkirakan pemberian darah tambahan (exsanguination) sekitar
setengah dari total volume darah. Contohnya: Bobot 25g, total volume darah
1,875 ml, maksimum pengambilan darah 0,1875 ml, maka pemberian
exsanguination 0,9375 ml.
Pengambilan darah dapat dilakukan pada lokasi tertentu dari tubuh, yaitu:
-

vena lateral dari ekor

sinus orbitalis mata

vena saphena (kaki)

langsung dari jantung.


(Marbawati, 2009).

III.

METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 20 Maret 2015, pukul

14.00-17.00 WITA. Bertempat di Laboratorium Biologi Dasar Fakultas


Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarbaru.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah jarum suntik, syringe
dengan kanula, dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Tikus
dewasa, mencit, ikan, katak, dan ayam.

IV.

PROSEDUR KERJA
Hadling pada mencit
Mencit

Diangkat ekornya dengan tangan kanan.

Dibiarkan mencit menjangkau kawat.

Dicubit kulit diantara 2 telinga dan 3 jari lain.

Dipegang kulit punggung dengan tangan kiri.

Dijepit ekor dengan tangan manis dan kelingking.

Hasil

Hadling pada tikus


Tikus

Diangkat dengan cara dipegang bagian ujung ekor


Diletakkan pada kawat kandang, tangan kiri
bergerak dari belakang dengan jari tengah dan
telunjuk mengunci tengkuknya serta ibu jari
menjepit kaki depan.

Dimasukkan ke dalam holder untuk perlakuan hanya


memerlukan ekor.

Hasil

Pengambilan Darah
Darah

Diambil tidak boleh terlalu besar volumenya


supaya tidak terjadi syok hipovolemik.
Diambil tidak boleh sedikit-sedikit tapi sering
bisa terjadi anemia.
Cairan
exsanguin
is

Diberikan untuk mengatasi gejala tersebut.


Darah

Jumlah darah diambil 10% total volume darah/


2-4 minggu atau 1 % total volume darah / 24
Mencit &
tikus

jam.
Lokasi tempat pengambilan darah yaitu sinus
orbital mata, vena lateral pada ekor, vena
saphena kaki dan intra kardial

Hasil

Rute pemberian obat

Oral
Mencit &
Tikus

Diangkat ekornya dengan tangan kanan.

Dibiarkan mencit menjangkau kawat.

Dicubit kulit diantara 2 telinga dan 3 jari lain.

Dipegang kulit punggung dengan tangan kiri

Dijepit ekor dengan tangan manis dan kelingking


hingga leher dalam keadaan lurus.

Dimasukkan suntikan oral kedalam mulut sampai

esophagus ( posisi suntikan oral dimasukkan tegak


lurus).

Hasil

Subkutan
Mencit &
Tikus

Dicubit kulitnya dibawah kulit daerah tengkuk ( di

leher bagian atas )

Disuntikkan obat

Disuntik sudut 45 derajat.

Hasil

Intravena
Mencit &
Tikus

Dimasukkan didalam holder hingga ekor

terjulur keluar.

Dilatasi dengan alkohol atau xylol

Disuntikan obat pada vena ekor

Hasil

Intraperitoncal
Mencit &
Tikus

Dipegang hewan sesuai ketentuan


Posisi kepala lebih rendah dari abdomen dengan
menunggingkan tubuhnya.
Disuntikkan dengan jarum membentuk sudut 46
derajat egan abdomen, posisi jarum agak menepi

dari garis tengah agar tidak mengenai organ dalam


peritoneum
Hasil

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A.

Hasil

Tabel 1. Pengamatan Hewan Coba


No

Hewan

Cara handling

Foto

Keterangan

Coba
1.

Mencit

1. Diangkat ekornya
dengan tangan kanan.
2. Dibiarkan

1. Punggung
2. Ekor

menjangkau kawat.
3. Dicubit kulit diantara
2 telinga dan 3 jari
lain.
4. Dipegang kulit
punggung dengan
tangan kiri.
5. Dijepit ekor dengan
tangan manis dan
kelingking.

2.

Ayam

1. Diangkat dengan
tangan kanan pada

1bagian paruh hingga


2

menuju perut.
2. Sambil di elus pada
bagian kepala.

1. Paruh
2. Perut

2
3
3.

Ikan

1. Dipegang bagian

Nila

perut hingga bagian


sirip dada dengan

1. Perut
2. Punggung
3. Sirip
Pungung

tangan kiri.
2. Diangakat dengan
tangan kanan di
bagian punggung di
antara dua sirip
4.

Tikus

punggung .
1
1. Diangkat, dipegang
bagian ujung ekor
2. Diletakkan di kawat

1. Ekor
2. Kaki

kandang, tangan kiri


bergerak dari
belakang dengan jari
tengah dan telunjuk
mengunci
tengkuknya serta ibu
jari menjepit kaki
5.

Katak

depan.
1. Dipegang bagian

punggung.

2. Dicubit kulit bagian


pungung dengan
tangan kanan.
3. Diangkat dengan
membalikkan badan
katak.

B. Pembahasan

1. Kaki
2. Perut

Mencit adalah hewan percobaan yang sering dan banyak digunakan di


dalam laboratorium farmakologi dalam berbagai bentuk percobaan. Hewan ini
mudah ditangani dan bersifat penakut fotofobik, cenderung berkumpul sesamanya
dan bersembunyi. Aktivitasnya di malam hari lebih aktif. Kehadiran manusia akan
mengurangi aktivitasnya. Berbeda dengan tikus yang dapat hidup sendiri, lebih
cerdas, tidak fotofobik, lebih agresif, dan aktifitasnya tidak terhambat oleh
manusia.
Pada praktikum dilakukan perlakuan pada hewan coba mencit dengan
cara, pertama-tama ekor mencit dipegang dan diangkat dengan tangan kanan,
mencit dibiarkan mencengkram alas penutup kandang ( kawat rang), sehingga
frekuensi gerak mencit dapat diminimalkan. Cengkram kulit punggung mencit
sebanyak-banyaknya dan seerat mungkin dengan tangan kiri, hingga kepala
mencit tidak dapat digerakkan ke kanan dan kekiri. Jari tengah dan jari manis
mencengkram perut mencit dan ekor mencit dililitkan pada jari kelingking. Pada
praktikum ini juga, dilakukan perlakuan hewan coba tikus putih dan kelinci.
Perlakuan hewan coba tikus putih hampir sama mencit, namun harus berhati hati
sebab hewan coba ini lebih agresif daripada mencit.
Pada pengambilan darah mencit dilakukan dengan metode Intramuscular
yakni darah diambil pada bagian paha, mula-mula mencit diperlakukan senyaman
mungkin dan di handling dengan benar, Sebelumnya semprot bagian yang akan
disuntik dengan Alkohol 70%. Pembantu memegang paha, penyuntik memegang
paha kiri dari depan dengan tangan kiri. Jarum ditusukkan dari balik dengan sudut
tegak lurus terhadap permukaan kulit kira-kira ditengah paha sehingga tusukan
sampai ke otot bicep femoris. Lalu suntikkan perlahan, tarik pengisap spoit, jika
darah sudah terisi, tarik spoit dan usap lagi bagian tubuh mencit yang disuntik
dengan alkohol 70 %.
Sedangkan pada pengambilan darah tikus dilakukan dengan metode
intravena yakni pada bagian vena lateralis ekor tikus, mula-mula tikus dipegang
dengan perlakuan yang benar dan diusahakan dengan perlakuan yang senyaman
mungkin. Setelah tikus mulai tenang dan tidak bergerak, kemudian ekor tikus
dijulurkan keluar dan Vena lateralis pada ekor di Incis (dipotong) 0,2 2 cm dari
pangkal ekor dengan silet atau gunting yang steril. Darah ditampung pada
eppendorf, kemudian usapkan kapas yang sudah diberi alkohol pada ekor tikus.

Pada praktikum ini juga menggunakan ikan mas (Oreochromis niloticus),


ikan yang berada di dalam bak diberi aerator agar kebutuhan oksigen tetap bersih
sehingga ikan tetap segar, selanjunya dilakukan handling dengan memegang
bagian ventral ikan dan diusahakan perlahan agar ikan tetap tenang, setelah itu
ikan diletakkan pada bak parafin secara telentang, spoit disiapkan, carilah pada
bagian linea lateralis sisik pada pangkal ekor nomor 6-8, jarum spoit ditusukkan
pada pangkal ekor dengan kemiringan 450 dengan tujuan agar pada saat disuntik
dengan spuit mengenai tulang belakang ikan karena pada daerah tersebut banyak
mengandung pembuluh darh ikan, lalu perlahan-lahan diambil darah ikan dengan
spoit, sehingga didapat darah ikan yang diinginkan dan didapat hasilnya. Darah
dimasukkan kedalam tabung.
Pengambilan sampel darah pada ayam terletak di bagian sayap, di bagian
sayap merupakan pembuluh darah yang cukup besar untuk bisa di ambil darahnya.
Setelah ayam sudah disiapkan di sekitar pembuluh darah di bersihkan
menggunakan kapas yang dibasahi dengan alcohol guna untuk mengetahui
pembuluh darah lebih jelas, setelah dibersihkan pengambilan darah terletak
dipercabangan dari pembuluh darah tersebut, kemudian masukkan jarum suntik
diantara percabangan kapiler darah tersebut, setelah masuk tarik jarum suntik
(darah agar terhisap) dengan pelan-pelan. Pengambilan darah jangan terlalu
banyak sesuaikan dengan kebutuhannya. Setelah darah diambil langkah
selanjutnya adalah darah tersebut masukkan ke botol yang sudah di sediakan
kemudian campur dengan bubuk koagulasi.
V.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari praktikum tentang fungsi urinee (kualitas

urinee ini adalah sebagai berikut :


1. Pada penganan mencit dan tikus hampir sama, tetapi tikus lebih agresif
sehingga lebih sulit dalam pengambilan darah dan penganganannya.
2. Pada pengambilan darah ikan dilakukan dibagian linena lateralis pangkal
ekor karena pada bagian ini terdapat banyak pembuluh darah.
3. Pada pengambilan darah ayam dilakukan pada bagian ketiak atau bawah
sayap karena bagian inilah dijumpai banyak pembuluh darah dan tidak

tertutup oleh bulu yang tebal tetapi ditutupi oleh rambut sehingga pembuluh
darahnya terlihat.
4. Pada penanganan hewan coba dilakukan dengan baik agar hewan coba yang
ingin diperlakukan tidak stres sehingga hasil yang diinginkan lebih
maksimal

DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R. (1973). Ilmu Makanan Ternak Umum. Jakarta: Gramedia.

Marbawati , Dewi., dan Bina Ikawati, Kolonisasi Mus musculus albino Di


Laboratorium loka Litbang P2B2 Banjarnegara, Balaba Vol. 5, No.01
Moriwaki, K. (1994). Genetic in Wild
Biomedical Research. Tokyo: Karger.

Mice.

Its

Application

to

Smith, B. (1988). Pemeliharaan, pembiakan, dan Penggunaan Hewan Coba


di Daerah Tropis. Jakarta: UI Press.
Sulaksono, M.E.,1987, Peranan,Pengelolaan
Percobaan , Jakarta

dan

pengembangan

Hewan