Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

DAMPAK NEGATIF TRANSPORTASI DARAT DAN PENANGGULANGANNYA

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata kuliah Pendidikan Lingkungan Sosial
Budaya dan Teknologi

Disusun Oleh :

Krisiyanto

0604373

Kelas : IPS Reguler

PROGRAM S-1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

KAMPUS CIBIRU

BANDUNG

2009

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur, kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat sehat dan
kesempatan serta rahmat dan hidayahnya yang senantiasa tercurahkan kepada kita yang tak
terhingga ini. Sholawat serta salam kita panjatkan kepada junjungan Nabi besar kita Muhammad
SAW dan keluarganya, sahabatnya, beserta pengikutnya sampai akhir zaman amin ya robal
alamin.

Saya menyampaikan terima kasih kepada dosen mata kuliah PLSBT, yang telah membimbing
dalam pembuatan makalah ini dan semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah
ini, sehingga saya dapat menyelesaikannya makalah ini dengan tepat waktu.

Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh
karena itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Bandung, April 2009

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

1.4 Metode dan Prosedur

1.5 Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Hakekat Transportasi Darat

2.2 Dampak Yang di Timbulkan

2.3 Mengolah Masalah Transportasi Darat

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Transportasi merupakan urat nadi Pembangunan Nasioanal untuk melancarakan arus manusia
barang maupu informasi sebagai penunjang tercapainya pengalokasian sumber-sumber
perekonomian secara optimal untuk itu jasa transportasi harus cukup tersedia secara merata dan
terjangkau daya beli masyarakat. Transportasi yang banyak digunakan oleh masyarakat di
Indonesia adalah sala satunya transportasi darat. Pertambahan penduduk dan luas kota
menyebabkan jumlah lalu lintas juga meningkat. Sedangkan sistem lalu lintas mendekati jenuh,
sehingga bertambahnya jumlah lalu lintas berpengaruh besar terhadap lingkungan.

Saat ini di indonesia sedang manghadapi masalah yang cukup rumit berkaitan dengan
transportasi darat. Jumlah penduduk yang semakin bertambah, dibarengi dengan meningkatnya
daya beli masyarakat terhadap kendaraan bermotor memicu meningkatnya jumlah kendaraan
bermotor.

Sarana transportasi darat berkembang mengikuti fenomena yang timbul. Pemilihan sistem
transportasi yang salah untuk wilayah perkotaan dapat mengakibatkan terjadinya permasalahan-
permasalahan bagi masyarakat maupun linglungan., Perkembangan teknologi di bidang
transportasi dapat menuntut adanya perkembangan teknologi prasarana transportasi darat berupa
jaringan jalan. Sistem transportasi darat yang berkembang semakin cepat menuntut perubahan
tata jaringan jalan yang dapat menampung kebutuhan lalu lintas yang berkembang tersebut.
Perkembangan tata jaringan jalan baru akan membutuhkan ketersediaan lahan yang lebih luas.
Kebutuhan lahan yang sangat luas untuk sistem transportasi darat ini mempunyai pengaruh besar
terhadap pola tata guna lahan, terutama di daerah perkotaan. Di sini masalah lingkungan perlu
diperhatikan. Perubahan tata guna lahan akan berpengaruh terhadap kondisi fisik tanah, serta
masalah sosial dan ekonomi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka diperoleh permasalahan antara lain:

1. Bagaimana hakekat transportasi darat ?


2. Bagaimana dampak negatif yang di timbulkan oleh transportasi darat ?
3. Bagaimana mengolah masalah yang di timbulkan oleh transportasi darat ?

1.3 Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan
Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi serta untuk wawasan dan ilmu kami tentang dampak
negatif berkembangnya transportasi darat.bagi lingkungan.

1.4 Metode dan Prosedur

Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan mengumpulkan
informasi dari berbagai sumber buku dan browsing di internet.

1.5 Sistematika Penulisan

Makalah ini disusun dengan menggunakan kaidah penulisan makalah secara umum yaitu :

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

1.2. Rumusan Masalah

1.3. Tujuan

1.4. Metode dan Prosedur

1.5. Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Hakekat Transportasi Darat

2.2 Dampak Negatif Yang di Timbulkan

2.3 Mengolah Masalah Transportasi Darat

BABA III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Hakekat Transportasi Darat

Transportasi atau perangkutan adalah perpindahandari suatu tempat ke tempat lain dengan
menggunakan alat pengangkutan.

Unsur-Unsur Dasar Transportasi

Ada lima unsur pokok transportasi, yaitu :

a) Manusia, yang membutuhkan transportasi

b) Barang, yang diperlukan manusia

c) Kendaraan, sebagai sarana transportasi


d) Jalan, sebagai prasarana transportasi

e) Organisasi, sebagai pengelola transportasi

Pada dasarnya, ke lima unsur di atas saling terkait untuk terlaksananya transportasi, yaitu
terjaminnya penumpang atau barang yang diangkut akan sampai ke tempat tujuan dalam keadaan
baik seperti pada saat awal diangkut. Dalam hal ini perlu diketahui terlebih dulu ciri penumpang
dan barang, kondisi sarana dan konstruksi prasarana, serta pelaksanaan transportasi.

Transportasi darat atau perangkutan darat adalah pemindahan / pengangkutan orang atau
barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan alat pengangkutan melalui jalan
darat, baik yang digerakkan oleh tenaga manusia, hewan (kuda, sapi, kerbau), atau mesin.

Transportasi darat di pilih berdasarkan faktor-faktor :

Jenis dan spesifikasi kendaraan

Jarak perjalanan

Tujuan perjalanan

Ketersediaan mode

Ukuran kota dan kerapatan permukiman

Faktor sosial-ekonomi

Adapun jenis jenis dari transportasi angkutan darat adalah :

1. Angkutan Jalan

Angkutan adalah pemindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan
menggunakan kendaraan. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. 35 Tahun 2003
Tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan, maka Angkutan Jalan diklasifikasikan
sebagai berikut:

a) Bus

Bus adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi lebih dari 8 (delapan) tempat duduk tidak
termasuk empat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan
bagasi.

b) Taxi
Taxi Adalah angkutan umum yang menggunakan mobil untuk mengangkut penumpangnya.
Taksi umumnya menggunakan mobil jenis sedan, namun di beberapa negara ada pula taksi jenis
van yang dapat mengangkut lebih banyak penumpang atau muatan.

c) Mikrolet

Mikrolet adalah istilah yang merujuk kepada kendaraan umum dengan rute yang sudah
ditentukan. Tidak seperti bus yang mempunyai halte sebagai tempat perhentian yang sudah
ditentukan, mikrolet dapat berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang di mana saja.

d) Bemo

Bemo adalah kendaraan bermotor beroda tiga yang mulai digunakan di Jakarta pada awal tahun
1960-an. Mulanya bemo diharapkan dapat menggantikan peranan becak yang dianggap tidak
manusiawi karena memanfaatkan tenaga manusia sebagai penggeraknya. Karena itu kendaraan
angkutan yang aslinya di negara asalnya Jepang digunakan untuk mengangkut barang.

e) Becak

Becak (dari bahasa Hokkien: be chia kereta kuda) adalah suatu moda transportasi beroda tiga
yang umum ditemukan di Indonesia dan juga di sebagian Asia. Becak merupakan alat angkutan
yang ramah lingkungan karena tidak menyebabkan polusi udara dan tidak menyebabkan
kebisingan. Meskipun begitu, kehadiran becak di perkotaan dapat mengganggu lalu lintas karena
kecepatannya yang lamban dibandingkan dengan mobil maupun sepeda motor.

f) Delman

Delman adalah kendaraan transportasi tradisional yang beroda dua, tiga atau empat yang tidak
menggunakan mesin tetapi menggunakan kuda sebagai penggantinya. Nama kendaraan ini
berasal dari nama penemunya, yaitu Charles Theodore Deeleman, seorang litografer dan insinyur
di masa Hindia Belanda.

2. Angkutan Rel

Adapun jenis transportasi rel adalah :

a) Kereta

Kereta adalah kendaraan beroda yang merupakan bagian dari sebuah rangkaian kereta api dan
digunakan untuk mengangkut penumpang. Kereta umumnya dilengkapi dengan sistem listrik,
sistem hiburan audio visual, dan toilet. Di daerah atau negara-negara tertentu kereta dilengkapi
dengan tempat tidur untuk perjalanan malam hari. Pada awalnya kereta hanya diberi tempat
duduk dan tidak diberi atap (untuk kelas ekonomi) atau diberi atap (untuk kelas khusus). kereta
umumnya tertutup dan tidak dilengkapi dengan kabin / kamar tersendiri sebagaimana kereta yang
umum dijumpai saat ini di Indonesia.
2.2 Dampak Negatif Yang di Timbulkan Oleh Transportasi Darat

Berkembangnya alat transportasi darat menyebabkan dampak yang negatif maupun dampak yang
positif bagi manusia maupun bagi lingkungan. Adapun dampak negatif yang di timbulkan oleh
berkembangnya transportasi darat adalah sebagai berikut :

1). Polusi Udara

Seiring dengan berkembangnya sistem transportasi darat, salah satu dampak yang di timbulkan
adalah meningkatnya polusi udara. Secara umum definisi polusi udara adalah perbedaan
komposisi udara aktual dengan kondisi udara normal dimana komposisi udara aktual
tidak mendukung kehidupan manusia. Bahan atau zat pencemaran udara sendiri dapat
berbentuk gas dan partikel. Ada banyak sumber pencemaran udara yang salah satunya yang
terbesar adalah dari sektor transportasi seperti :

a. Kualitas Bahan Bakar Minyak

Ketersediaan bensin tanpa timbal (unleaded gasoline) dan minyak solar dengan kandungan
belerang rendah merupakan faktor kunci dalam penurunan emisi kendaraan, karena bahan bakar
jenis tersebut merupakan prasyarat bagi penggunaan teknologi kendaraan yang mutakhir yang
mampu mengurangi emisi kendaraan secara signifikan. Spesifikasi bahan bakar yang tersedia di
Indonesia mengikuti spesifikasi bahan bakar yang berlaku saat ini sesuai dengan Surat
Keputusan (SK) Direktur Jenderal (Dirjen) Minyak dan Gas (Migas) No. 108. K/72/DDJM/1997
yang memperbolehkan kandungan timbal hingga 0.30 gram/liter serta tekanan uap (Reid Vapour
Pressure) 62 kPa pada suhu 37,8 C untuk bahan bakar bensin. SK Dirjen Migas No.
113.K/72/DJM/1999 juga memperbolehkan kandungan belerang hingga 5000 ppm dan angka
setana minimum 48 pada bahan bakar solar. Dengan kualitas bahan bakar sesuai dengan
spesifikasi tersebut sulit untuk mewajibkan produsen kendaraan bermotor memasang peralatan
pereduksi emisi (katalis) pada kendaraan. Walaupun bensin tanpa timbal telah tersedia di
beberapa wilayah di Indonesia, namun ketidaktersediaan bensin tanpa timbal di hampir seluruh
wilayah Indonesia belum dapat mendukung penerapan teknologi tersebut.

b. Emisi Kendaraan Bermotor

Kendaraan bermotor merupakan salah satu sumber pencemaran udara yang penting di daerah
perkotaan. Kondisi emisi kendaraan bermotor sangat dipengaruhi oleh kandungan bahan bakar
dan kondisi pembakaran dalam mesin. Pada pembakaran sempurna, emisi paling signifikan yang
dihasilkan dari kendaraan bermotor berdasarkan massa adalah gas karbon dioksida (CO2) dan
uap air, namun kondisi ini jarang terjadi. Hampir semua bahan bakar mengandung polutan
dengan kemungkinan pengecualian bahan bakar sel (hidrogen) dan hidrokarbon ringan seperti
metana (CH4). Polutan yang dihasilkan kendaraan bermotor yang menggunakan BBM antara
lain CO, HC, SO2, NO2, dan partikulat.

Tingginya emisi kendaraan bermotor disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah:

Sistem kontrol emisi kendaraan bermotor tidak diterapkan


Pelaksanaan Pengujian Kendaraan Bermotor berkala untuk kendaraan umum tidak
berjalan efektif
Pemeriksaan emisi kendaraan di jalan sebagai bagian dari penegakan hukum (terkait
dengan pemenuhan persyaratan kelaikan jalan) belum diterapkan
Kendaraan bermotor tidak diperlengkapi dengan teknologi pereduksi emisi seperti katalis
karena tidak tersedianya bahan bakar yang sesuai untuk penggunaan katalis tersebut
Kualitas BBM yang rendah
Penggunaan kendaraan berteknologi rendah emisi yang menggunakan bahan bakar
alternatif masih belum memadai
Pemahaman tentang manfaat perawatan kendaraan secara berkala yang dapat
menurunkan emisi dan meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar masih kurang
Disinsentif terhadap kendaraan-kendaraan yang termasuk dalam kategori penghasil emisi
terbesar belum diperkenalkan.

c. Sistem Transportasi dan Manajemen Lalu Lintas

Sistem manajemen transportasi dan tata ruang perkotaan mempengaruhi pola pergerakan
manusia dan kendaraan di suatu kota yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas udara.
Pengendalian pencemaran udara melalui peningkatan sistem transportasi terfokus pada dua
aspek, yaitu pengurangan volume kendaraan dan pengurangan kepadatan lalu lintas. Makin
banyak volume kendaraan yang beroperasi di jalan, makin banyak jumlah emisi gas buang total.

2). Polusi Suara

Bertambanya jumlah kendaraan yang tidak tekendali dan sistem pembangnan pemukiman
penduduk yang dekat dengan jalan raya, akan mengakibatkan tidak tentram dan nyamannya
penduduk sekitar akibat polusi suara yang ditimbulkan oleh suara kendaraan bermotor. Polusi
suara atau pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatkan oleh bunyi atau
suara yang mengakibatkan ketidaktentraman makhluk hidup di sekitarnya. Pencemaran suara
diakibatkan suara-suara bervolume tinggi yang membuat daerah sekitarnya menjadi bising dan
tidak menyenangkan. Suara bising yang terus-menerus dengan tingkat kebisingan yang relatif
tinggi dapat mengakibatkan dampak yang merugikan kesehatan manusia. Ini dapat berarti
gangguan secara fisik maupun psikologis. Secara langsung, polusi suara seperti ini dapat
menyebabkan ketulian secara fisik dan tekanan psikologis. Lebih jauh, tekanan psikis akan
menyebabkan penyakit-penyakit lainnya muncul pada manusia.

3). Kemacetan

Pertumbuhan kendaraan bermotor yang cepat di kota-kota besar, tanpa di imbangi dengan
pembangunan sarana dan prasarana yang memadai akan menimbulkan betumpuknya kendaraan
dijalan sehingga mengakibatkan kemacetan. Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya
atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi
kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak
mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya
kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta dan Bangkok. Kemacetan lalu
lintas menjadi permasalahan sehari-hari di kota-kota besar di Indonesia. Kemacetan lalu lintas
memberikan dampak negatif yang besar yang antara lain : Kerugian waktu, karena kecepatan
perjalanan yang rendah, Pemborosan energi, karena pada kecepatan rendah konsumsi bahan
bakar lebih rendah, Meningkatkan polusi udara, Meningkatkan stress pengguna jalan..

4). Meningkatnya kecelakaan lalu-lintas

Pesatnya kendaran bermotor yang lalu lalang dijalan raya tanpa diimbangi dengan kesadaran
pengguna kendaraan untuk tertib berlalu-lintas akan mengakibat terjadinya kecelakaan lalu-
lintas. Kecelakaan lalu-lintas adalah kejadian di mana sebuah kendaraan bermotor tabrakan
dengan benda lain dan menyebabkan kerusakan. Kadang kecelakaan ini dapat mengakibatkan
luka-luka atau kematian manusia atau binatang. Kecelakaan lalu-lintas menelan korban jiwa
sekitar 1,2 juta manusia setiap tahun menurut WHO. Faktor yang mempengaruhi kecelakaan
faktor kendaraan yang paling sering terjadi adalah ban pecah, rem tidak berfungsi sebagaimana
seharusnya, kelelahan logam yang mengakibatkan bagian kendaraan patah, peralatan yang sudah
aus tidak diganti dan berbagai penyebab lainnya. Keseluruhan faktor kendaraan sangat terkait
dengan technologi yang digunakan, perawatan yang dilakukan terhadap kendaraan. Untuk
mengurangi faktor kendaraan perawatan dan perbaikan kendaraan diperlukan, disamping itu
adanya kewajiban untuk melakukan pengujian kendaraan bermotor secara reguler.

Selain mempunyai beberapa damak negatif yang ditimbulkan oleh adanya transportasi darat,
sistem tansportasi juga ini juga mempunyai beberapa dampak positif bagi kehidupan manusia.
Adapun mengenai beberapa dampak positif yang ditimbulkan oleh adanya transportasi darat
secara umum adalah:

a) Mengatasi kesenjangan jarak dan komunikasi

Transportasi dalam hal ini perlu untuk mengatasi kesenjangan jarak dan komunikasi antara
tempat asal dan tempat tujuan.

b) Mempercepat lalulintas orang dan barang

Dengan adanya alat transportasi, maka pergerakan lalu lintas barang dan orang akan menjadi
lebih cepat, aman, nyaman dan terintegrasi.

2.3 Mengelolah Masalah Transportasi Darat

Sistem transportasi darat yang berkembang dengan pesat memerlukan pengelolaan dan penataan
yang baik dan benar. Untuk mencapai sistem rtanportasi yang ideal, oleh karena itu dalam
pembangunan dan pengembangannya perlu memperhatikan efeknya terhadap manusia dan
lingkungan. Efek sektor transportasi terhadap lingkungan perlu dikendalikan dengan melihat
semua aspek yang ada di dalam sistem transportasi, mulai dari perencanaan sistem transportasi,
meliputi model transportasi, sarana, pola aliran lalu lintas, jenis mesin kendaraan, dan bahan
bakar yang digunakan.

Pemilihan model transportasi ditentukan dengan mempertimbangkan salah satu persyaratan


pokok, yaitu pemindahan barang dan manusia dilakukan dalam jumlah yang terbesar dan jarak
yang terkecil. Transportasi massal merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan
transportasi individual.

Perencanaan sistem transportasi harus disertai dengan pengadaan prasarana yang sesuai dan
memenuhi persyaratan dan kriteria transportasi antara lain volume penampungan, kecepatan rata-
rata, aliran puncak, keamanan pengguna jalan. Selain itu harus juga memenuhi persyaratan
lingkungan yang meliputi jenis permukaan, pengamanan penghuni sepanjang jalan, kebisingan,
pencemaran udara, penghijauan, dan penerangan.

Dalam mencapai sistem transportasi yang ramah lingkungan dan hemat energi, persyaratan
spesifikasi dasar prasarana jalan yang digunakan sangat menentukan. Permukaan jalan halus,
misalnya, akan mengurangi emisi pencemaran debu akibat gesekan ban dengan jalan. Tabir
akustik atau tunggul tanah dan jalur hijau sepanjang jalan raya akan mereduksi tingkat
kebisingan lingkungan pemukiman yang ada di sekitar dan sepanjang jalan, dan juga akan
mengurangi emisi pencemar udara keluar batas jalan kecepatan tinggi.

Dalam konteks ini, untuk mencapai sistem transportasi darat tersebut, ada beberapa hal yang
perlu dijalankan, di antaranya;

1. Rekayasa lalu lintas.

Rekayasa lalu lintas khususnya menentukan jalannya sistem transportasi yang direncanakan.
Penghematan energi dan reduksi emisi pencemar dapat dioptimalkan secara terpadu dalam
perencanaan jalur, kecepatan rata-rata, jarak tempuh per kendaraan per tujuan (vehicle mile trip
dan passenger mile trip), dan seterusnya. pola berkendara (driving pattern/cycle) pada dasarnya
dapat direncanakan melalui rekayasa lalu lintas.

Data mengenai pola dan siklus berkendaraan yang tepat di Indonesia belum tersedia hingga saat
ini. Dalam perencanaan, pertimbangan utama diterapkan adalah bahwa aliran lalu lintas berjalan
dengan selancar mungkin, dan dengan waktu tempuh yang sekecil mungkin, seperti yang dapat
di uji dengan model asal-tujuan (origin-destination). Dengan meminimumkan waktu tempuh dari
setiap titik asal ke titik tujuannya masing-masing akan dapat dicapai efisiensi bahan bakar yang
maksimum, dan reduksi pencemar udara yang lebih besar.

2. Pengendalian pada sumber (mesin kendaraan).

Jenis kendaraan yang digunakan sebagai alat transportasi merupakan bagian di dalam sistem
transportasi yang akan memberikan dampak bagi lingkungan fisik dan biologi akibat emisi
pencemaran udara dan kebisingan. Kedua jenis pencemaran ini sangat ditentukan oleh jenis dan
kinerja mesin penggerak yang digunakan. Persyaratan pengendalian pencemaran seperti yang
diterapkan Amerika Serikat (AS) telah terbukti membawa perubahan-perubahan besar dalam
perencanaan mesin kendaraan bermotor yang beredar di dunia sekarang ini. Sejak tahun 1970,
bersamaan dengan krisis energi dan fenomena pencemaran udara di Los Angeles Smog,
dikeluarkan persyaratan-persyaratan yang ketat oleh pemerintah Federal untuk mengendalikan
emisi kendaraan bermotor dan efisiensi bahan bakar.
Perubahan-perubahan yang dilakukan dalam rencana mesin, meliputi pemasangan (katup) PCV
palse sistem karburasi, sistem pemantikan yang memungkinkan pembakaran lebih sempurna,
sirkulasi uap bahan bakar minyak (BBM) untuk mengurangi emisi tangki BBM, dan after burner
untuk menurunkan emisi. Sedangkan teknologi retrofit disyaratkan dengan pemasangan alat
Retrofit Catalitic Converter untuk mereduksi emisi HC dan NOX dan debu (TSP). Teknologi ini
membawa implikasi yang besar terhadap sistem BBM, karena TEL tidak dapat lagi ditambahkan
dalam BBM.

3. Energi transportasi.

Besarnya intensitas emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor selain ditentukan oleh jenis dan
karakteristik mesin, juga sangat ditentukan oleh jenis BBM yang digunakan. Seperti halnya
penggunaan LPG, akan memungkinkan pembakaran sempurna dan efisiensi energi yang tinggi.
Selain itu dalam rangka upaya pengendalian emisi gas buang, bila peralatan retrofit digunakan,
diperlukan syarat bahan bakar, khusus yaitu bebas timbal.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, diharapkan sistem transportasi perkotaan, akan sesuai
dengan yang diharapkan, khususnya dalam upaya mengurangi tingkat kemacetan dan mencegah
semakin meningkatnya kadar polutan udara oleh asap kendaraan bermotor dan kebisingan.

Aspek perencanaan perkotaan dan sistem transportasi akan menjadi faktor generik dampak yang
umumnya timbul, khususnya penggunaan energi, pencemaran udara termasuk dalam mengurangi
tingkat kemacetan lalu lintas. Selama aspek sistem transportasi yang memadai dan sesuai
terlaksana dalam konteks perencanaan kota yang ada, melalui manajemen transportasi, efisiensi
energi dan pencegahan dampak bagi lingkungan dapat dilakukan.

Dalam hal pembangunan dan pengembangan sistem transportasi darat yang ideal untuk
kehidupan. Sebenarnya pemerintah sebagai pihak regulator sudah memberlakukan beberapa
peraturan guna menanggulangi atau meminimalisir dampak negatif yang di akibatkan adanya
sistem transportasi darat.

Berdasarkan kondisi saat ini dimana dapat dilihat bahwa transportasi sangat berpengaruh
terhadap pencemaran udara akibat emisi gas buang kendaraan bermotor, perlu diambil langkah-
langkah konkrit dan dukungan berupa :

1. Pemberi insentif bagi kendaraan bermotor yang berpopulasi rendah antara lain :
1. Keringanan pembebasan pajak untuk kendaraan bermotor yang menggunakan gas
berupa PBBKB (Pajak Bahan Bakar Kendaran Bermotor). PERPU.No.21
tahun1997.
2. Keringanan Pajak Kendaraan (STNK) khusus kendaraan berbahan bakar Gas
(BBG atau LPG) selama periode tertentu.
3. Penentuan harga jual Bahan Bakar yang berwawasan lingkungan (Mogas
Unleaded dan Gas) de ngan harga menarik bagi konsumen.
4. Pemberian keringanan pajak untuk Bea Masuk peralatan Konversi (Conversion
Kit), Sehingga harga jualnya dapat ditekan dan terjangkau oleh masyarakat.
5. Peraturan Pemerintah yang mewajibkan kepada Agen Tunggal Pemegang Merk
(ATPM) untuk setiap kendaraan baru yang diproduksi sudah dilengkapi/dipasang
Catalytic Converter serta alat konversi untuk kendaraan niaga dan angkutan
umum.

Selain itu, juga diperlukan dukungan dari lintas seketoral. Mengingat permasalahan pencemaran
udara terutama di kota -kota besar telah telah menyebabkan menurunnya kualitas udara yang
menggangu kenyaman bahkan telah menyebabkan gangguan kesehatan dan keseimbangan iklim
global. Untuk menanggulangi hal tersebut upaya-upaya pengendalian pencemaran udara perlu
dilakukan oleh semua pihak yang terkait dan berkepentingan antara institusional yang meliputi :
beberapa Departemen Teknis terkait (Departemen Perhubungan, Departemen Tenaga Kerja,
Departemen Keuangan dan Kementerian Pekerjaan Umum), serta Bapedalda, Pertamina dan
Polri, sedangkan Pemda akan berperan sekali sebagai penanggung jawab pelaksanaannya dan
Bappenas sebagai penanggung jawab pendanaannya.

Dalam upaya mengatasi persoalan kemacetan , Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk
memecahkan permasalahan kemacetan lalu lintas antara lain :

1. meningkatkan kapasitas jalan / prasarana seperti: memperlebar jalan, menambah lajur


lalu lintas sepanjang hal itu memungkinkan, membuat jalan tol, merubah sirkulasi lalu
lintas menjadi jalan satu arah, mengurangi konflik dipersimpangan melalui pembatasan
arus tertentu, biasanya yang paling dominan membatasi arus belok kanan., meningkatkan
kapasitas persimpangan melalui lampu lalu lintas, persimpangan tidak sebidang / flyover,
mengembangkan inteligent transport sistem.
2. Pembatasan kendaraan pribadi seperti : Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi
menuju suatu kawasan tertentu seperti yang direncanakan akan diterapkan di Jakarta
melalui Electronic Road Pricing (ERP), Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui
peningkatan biaya pemilikan kendaraan, Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki
kawasan atau jalan tertentu.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Transportasi merupakan urat nadi Pembangunan Nasioanal untuk melancarakan arus manusia
barang maupu informasi sebagai penunjang tercapainya pengalokasian sumber-sumber
perekonomian secara optimal untuk itu jasa transportasi harus cukup tersedia secara merata dan
terjangkau daya beli masyarakat. Sarana transportasi darat berkembang mengikuti fenomena
yang timbul. Pemilihan sistem transportasi yang salah dapat mengakibatkan terjadinya
permasalahan-permasalahan bagi masyarakat maupun lingkungan.

Permasalahan yang dapat ditimbulkan oleh berkembang pesatnya transportasi darat antara lain
polusi udara, polusi suara, kemacetan, dan meningkatnya angka kecelakaan lalu-lintas. Adapun
untuk menanggulangi berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh sektor transportasi darat,
perlu mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya efek tehadap lingkungan dan manusia.
Adapun mengenai efek terhadap lingkungan dan manusia perlu dikendalikan dengan melihat
semua aspek yang ada di dalam sistem transportasi, mulai dari perencanaan sistem transportasi,
meliputi model transportasi, sarana, pola aliran lalu lintas, jenis mesin kendaraan, dan bahan
bakar yang digunakan. Selain itu, juga diperlukan dukungan dari lintas seketoral. Karena
sebenarnya pemerintah sebagai pihak regulator sudah memberlakukan beberapa peraturan
guna menanggulangi atau meminimalisir dampak negatif yang di akibatkan adanya sistem
transportasi darat.

3.2 Saran

Transportasi sudah selayaknya ada untuk memberi kemudahan dalam kehidupan manusia. Tetapi
dalam perkembangannya transportasi ini juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi
lingkungan dan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, kita sebagai manusia sudah seharusnya
bijak dalam menggunakan alat transportasi, agar masalah atau dampak negatif dari tranportasi
darat dapat di minimalisir sekecil mungkin.

Sudah sepatutnya kita sadar akan pentingnya arti transportasi dalam kehidupan ini. Namun kita
juga harus sadar akan berbagai dampak negatif yang ditimbulkannya.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Ridwan dan Elly Malihah. (2007) . Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan
Teknologi. Bandung : Yasindo Multi Aspek

Hermawan, Ruswandi dkk. (2006) . perkembangan masyarakat dan Budaya. Bandung : UPI
PRESS

Sumaatmadja, Nursid. (1998) . Manusia Dalam Konteks Sosial Budaya dan Lingkungan Hidup.
Bandung : AlfaBeta

Sumaatmadja, Nursid dan Kuswaya Wihardit. (1999). Perspektif Global. Jakarta : Universitas
Terbuka

http://www.dephub.go.id/in/data/darat/map_dirjen.pdf

http://www.kpbb.org/download.html

www.uum.edu.my/pend/webpeke/ppend/lalu_lintas.pdf

http://www.walhijogja.or.id