Anda di halaman 1dari 20

2.

1 Pembusukan Secara Umum

2.1.1 Definisi Pembusukan

Pembusukan merupakan suatu proses yang dimulai pada beberapa sel dimana sel

yang lain masih hidup, proses ini saling bertumpang tindih dan berlanjut sampai beberapa

hari. Proses pembusukan pada mayat tergantung terhadap variasi waktu kematiannya, tetapi

pada wilayah ber-iklim sedang akan tampak kurang lebih setelah 3 hari kematian pada mayat

tanpa pembekuan.6,9

Pembusukan adalah suatu keadaan dimana tubuh mengalami dekomposisi yang

terjadi akibat autolisis dan aktivitas bakteri. dekomposisi mencakup dua proses, yaitu:

autolisis dan putrefaksi. Autolisis adalah keadaan perlunakan dan pencairan sel dan organ

tubuh yang terjadi pada proses kimia yang steril dikarenakan oleh enzim-enzim intraseluler

yang dilepaskan oleh sel-sel yang sudah mati. Pembusukan adalah suatu keadaan dimana

tubuh mengalami dekomposisi yang terjadi akibat autolisis dan aktivitas bakteri.

dekomposisi mencakup dua proses, yaitu: autolisis dan putrefaksi. Autolisis adalah keadaan

perlunakan dan pencairan sel dan organ tubuh yang terjadi pada proses kimia yang steril

dikarenakan oleh enzim-enzim intraseluler yang dilepaskan oleh sel-sel yang sudah mati.

Autolisis biasanya dimulai pada sel, yang secara metabolik aktif atau mengandung sejumlah

besar air, lisosom dan enzim hidrolitik. Organ yang terlibat dalam produksi adenosine

triphosphate (ATP) tinggi dan transport membran. Proses tersebut dapat dipercepat oleh

karena suhu tinggi, diperlambat karena suhuh rendah, dan dapat dihambat oleh karena

pendinginan atau hilangnya aktifitas enzim tersebut karena suhu tinggi. Pada organ yang

memiliki banyak enzim, proses autolisis akan berjalan lebih cepat dibandingkan pada organ

dengan lebih sedikit enzim.6,7,10,11

Tak lama setelah sistem pulmonal dan kardiovaskular berhenti, suplai oksigen ke sel

berhenti dan penipisan konsentrasi oksigen terus berlanjut akan menyebabkan kondisi
anaerob di dalam mayat. Untuk menjaga aktivitas metabolisme sel dasar, glikolisis

mekanisme anaerob berfungsi sebagai sumber energi alternatif dan menghasilkan produk

limbah seperti karbon dioksida dan laktat. PH selular turun sampai membran tidak mampu

mempertahankan permeabilitas dan ruptur normal disertai pelepasan enzim hidrolitik. Enzim

hidrolitik bebas akan mulai menyerang struktur seluler mana pun yang dalam kondisi hidup

tidak dianggap sebagai substrat. Akibatnya, selaput selaput seluler dan persimpangan seluler

rusak, melepaskan kandungan seluler. Konten seluler yang dilepaskan berfungsi sebagai

sumber nutrisi dan energi untuk reaksi mikrobiologi selanjutnya dalam proses pembusukan.12

Proses kedua dekomposisi adalah putrefaksi, dimana lebih dikenal dengan pengertian

pembusukan. Proses ini disebabkan oleh bakteri dan fermentasi. Setelah mati, flora normal

dari sistem pencernaan menyebar keseluruh tubuh menyebabkan terjadinya keadaan busuk.10

Pembusukan merupakan proses penghancuran jaringan tubuh yang terutama

disebabkan oleh bakteri Clostridium Welchii, yang sering ditemukan pada sistem

pencernaan. Pada orang yang telah meninggal sistem pertahanan tubuh akan hilang sehingga

kumankuman pembusuk dapat memasuki pembuluh darah dan menggunakan darah sebagai

media kuman untuk berkembang biak yang akan menyebabkan terjadinya proses

pembusukan dalam waktu kurang lebih 48 jam setelah mati.6

2.1.2 Mekanisme Pembusukan

Kejadian setelah mati dikenal sebagai dekomposisi mayat. Keurusakan dari jaringan

tubuh melalui proses autolisis, putrefaksi, dan decay. Putrefaksi adalah terjadinya degradasi

sel atau jaringan tubuh secara anaerob, sedangkan pada decay proses ini terjadi secara aerob.

Pada tahap awal terjadinya putrefaksi dimulai dengan autolisis dimana proses ini

berlangsung karena sel yang mati dengan adanya enzim-enzim tertentu serta tidak

dipengaruhi oleh mikroorganisme.6,8


Pada orang yang telah mati semu sistem pertahanan tubuh hilang maka kuman-kuman

pembusuk dapat leluasa memasuki pembuluh darah dan menggunakan darah sebagai media

yang sangat baik untuk berkembang biak. Kuman tersebut dapat menyebabkan hemolisa,

pencairan bekuan darah yang terjadi sebelum atau sesudah mati, pencairan thrombus dan

emboli, perusakan jarigan-jaringan dan pembentukan gas-gas pembusukan. Proses ini akan

mulai tampak kurang lebih 48 jam setelah mati.6

Sebagian besar perubahan post mortem oleh pembusukan terlihat secara

makroskopik seperti perubahan warna kulit dan kembung bagian tubuh. Produk dekomposisi

yang dibentuk oleh pembusukan mungkin muncul dalam bentuk gas, cairan atau garam.

Contoh produk gas meliputi hidrogen sulfida, karbon dioksida, metana, amonia, belerang

dioksida dan hydrogen. Bentuk produk lainnya meliputi skatole, indole, methylindole,

cadaverine, putrescine, berbagai hidrokarbon, senyawa yang mengandung nitrogen, senyawa

sulfur yang mengandung dan fenolik. Akumulasi produk dekomposisi (khususnya gas) ini

kemudian akan menyebabkan pembengkakan pada bagian tubuh anatomi yang luas seperti

wajah dan perut.12

Tanda awal dari pembusukan akan tampak diskolorasi pewarnaan hijau pada kuadran

bawah abdomen, bagian kanan lebih sering daripada bagian kiri. Biasanya akan terjadi pada

24-36 jam setelah kematian. Di daerah kuadran kanan bawah, dimana usus besar di daerah

tersebut banyak mengandung cairan dan bakteri selain karena letak usus tersebut memang

dekat dengan dinding perut. Pewarnaan kehijauan tersebut juga akan terjadi pada daerah

kepala, leher, dan bahu. Warna hijau tersebut disebabkan oleh karena terbentuknya sulf-Hb,

dimana H2S yang berasal dari pemecahan protein akan bereaksi dengan Hb yang akan

membentuk Hb-S dan Fe-S.6,7,10


Bakteri yang masuk dan berkembang biak pada pembuluh darah menyebabkan

hemolisa dengan adanya reaksi hemoglobin dan hydrogen sulfide yang kemudian mewarnai

dinding permbuluh darah dan jaringan sekitarnya menjadi hitam kehijauan, proses ini disebut

marbling. Bakteri ini memproduksi gas-gas pembusukan yang mengisi pembuluh darah

menyebabkan pelebaran pada pembuluh darah vena superfisial sehingga pembuluh darah

dan cabang-cabangnya nampak lebih jelas seperti pohon gundul (aborescent pattern atau

aborescent mark).6,10

Pada minggu kedua kulit ari akan mudah terlepas bila tergeser atau tertekan karena

terbentuknya gelembung-gelembung pembusukan yang merupakan kelanjutan dari

perubahan tersebut. Gelembung-gelembung pembusukan berisi cairan merah kehitaman

yang disertai bau pembusukan yang bila dipecah akan tampak pada kulit pada dasar

gelembung tersebut licin dan berwarna merah jambu.3

Setelah tiga atau empat minggu rambut akan mudah dicabut, kuku-kuku akan

terlepas, wajah akan tampak menggembung dan pucat dengan pewarnaan kehijauan dan akan

berubah menjadi hitam kehijauan yang akhirnya akan bewarna hitam, mata akan tertutup

erat oleh karena penggembungan pada kedua kelopak mata serta bola mata akan menjadi

lunak, bibir akan menggembung dan mencucur, lidah akan menggembung dan terjulur

keluar, dan cairan dekomposisi dapat keluar dari hidung.6,7,10

Organ-organ dalam akan membusuk dan kemudian hancur. Organ dalam yang paling

cepat membusuk adalah otak, hati, lambung, usus halus, limpa, uterus pada wanita hamil

atau masa nifas. Sedangkan organ yang lambat membusuk adalah paru-paru, esophagus,

jantung, diafragma, ginjal dan kandung kemih. Organ yang paling lambat membusuk antara

lain kelenjar prostat pada laki-laki dan uterus wanita yang tidak sedang hamil ataupun nifas.6

Otak akan menjadi lunak sampai seperti bubur, paru-paru akan menjadi lembek, hati,

jantung, limpa dan ginjal akan mudah dikenali. Hati akan menjunjukkan gambaran honey-
comb, limpa lunak dan mudah hancur, otot jantung akan tampak keunguan dan manjadi

suram. Pada organ yang paling lama membusuk seperti prostat dan uterus dapat menjadi

pertanda untuk menentukan jenis kelamin dari mayat pada keadaan dimana pembusukan

sudah berlanjut atau berlangsung lama.6,7

2.1.3 Tahapan Pembusukan12

Ada berbagai tahap dalam menggambarkan tingkat dekomposisi, variasi minor sering

hadir tergantung pada sudut pandang peneliti dan perbedaan geografis. Biasanya ada lima

tahap proses dekomposisi, yang segar, kembung, peluruhan aktif, peluruhan dan tahap awal

yang parah namun terkadang tahap kembung dan peluruhan aktif digabungkan menjadi satu

tahap awal pembusukan. Pengamatan yang digunakan untuk menggambarkan proses

dekomposisi umumnya berlaku di mana-mana karena semua mayat terdekomposisi dengan

pola dekomposisi yang serupa. Namun, tingkat dekomposisi mungkin tampak berbeda

bahkan di wilayah yang sama hanya karena iklim mikro, perbedaan topografi dan geografis.

a. Fresh

Tahap segar dimulai tepat pada saat kematian. Penghancuran sel autolisis terjadi pada

tahap ini dan menyebabkan perubahan post mortem awal, termasuk algor mortis, rigor

mortis dan livor mortis. Tidak ada bau dekomposisi yang kuat di tahap segar sampai

jenazah tersebut telah mencapai tahap bloating. Namun segera setelah kematian,

aktivitas arthropoda akan dimulai sebagian besar dengan kedatangan lalat. Studi

sebelumnya menunjukkan bahwa Dipteran adalah arthropoda paling awal yang tiba di

mayat. Dipteran biasanya memilih lubang alami (mata, hidung, mulut, genital), rambut

dan celah mayat sebagai tempat oviposisi.

b. Bloating

Bloating adalah distensi atau pembengkakan bagian tubuh karena akumulasi produk

dekomposisi (terutama gas) yang dihasilkan oleh mikroorganisme dalam pembusukan


anaerob pada ruang anatomis yang mungkin ada di dalam tubuh, termasuk organ dan

jaringan lunak. Bloating biasanya dimulai di perut kemudian perlahan mengembang ke

bagian tubuh lainnya, termasuk genital dan wajah dengan tonjolan mata dan lidah.

Akumulasi produk dekomposisi akan berlanjut sampai batas dimana mayat akan rusak

diikuti dengan pelepasan gas, cairan dan garam ke sekitarnya dari semua kemungkinan

lubang mayat.

Pada saat yang sama, enzim hidrolitik mencerna persimpangan antara dermis,

menyebabkan lepuh muncul di kulit dan dalam beberapa kasus stratum korneum

terlepas. Epidermis menjadi longgar menghasilkan kantong berisi cairan bening atau

merah muda disebut skin slippage yang terlihat pada hari 2 3. Bloating sering

diperhatikan bersamaan dengan marbling saat arteri dan vena terlihat pada penampilan

kulit akibat pembentukan sulf-hemoglobin dari reaksi bakteri pada pembuluh darah.

Perubahan secara bertahap dapat berubah menjadi perubahan warna kulit yang lebih

besar dengan berbagai perubahan warna yang bervariasi dari warna hijau, coklat dan

abu-abu sampai hitam.

c. Active decay

Ketika post bloating mayat terjadi, proses dekomposisi berlanjut ke tahap peluruhan

yang aktif. Tingkat degradasi berubah lebih cepat karena perpecahan integrasi kulit

membuka jalur akses ekstra untuk mikroorganisme dan arthropoda. Kulit mayat yang

pecah bisa berubah menjadi hitam disertai rambut rontok. Pencairan jaringan lunak

dimulai dengan adanya buih sementara ekstremitas mayat mungkin mengering dalam

beberapa kasus. Pada tingkat ini, aktivitas larva Dipteran maksimal dengan konsumsi

cepat jaringan lunak dan beberapa spesies Coleoptera mungkin ada.


d. Advanced decay

Proses dekomposisi kemudian diikuti oleh tahap advamced decay, yang juga dikenal

sebagai pembusukan hitam atau tahap akhir pembusukan. Pemaparan tulang dimulai dan

keseluruhan jenazah menunjukkan adanya caving dalam penampilan dengan beberapa

jaringan tahan degradasi yang tertinggal seperti tulang rawan, rambut dan jaringan

kering. Hanya ada bau busuk atau bau busuk yang membusuk pada tahap ini. Salah satu

indikator utama untuk tahap ini adalah migrasi besar larva Dipteran untuk pemangsaan.

Populasi spesies Dipteran secara bertahap digantikan oleh spesies Coleoptera sebagai

bagian dari pola suksesi fauna.

e. Skeletal

Kering tetap atau tahap rangka tercapai bila ada tingkat keterpaparan tulang yang

sangat tinggi namun kerusakan material tulang yang ekstrem belum dimulai.

Skeletonisasi didefinisikan sebagai salah satu dari: hanya tulang belakang yang

tertinggal di bawah kulit kering disertai dengan hilangnya jaringan intra-abdomen; Lebih

tinggi dari 50% paparan tulang dengan kelembaban minimal; Atau lebih dari 30% tulang

sudah mengalami pemutihan dan proses pelapukan. Selama tahap ini, hanya sedikit

jumlah kulit kering, tendon dan tulang rawan akan hadir. Kelembaban minimum dari

lingkungan atau lemak dapat terjadi pada permukaan tulang dan bau dekomposisi

umumnya hilang. Beberapa spesies serangga masih ada pada tahap ini namun sebagian

besar berasal dari Coleoptera dan Acari (tungau). Urutan skeletonisasi dapat bervariasi

tergantung pada lingkungan dan kondisi jenazah. Dipercaya bahwa dalam keadaan

normal, kepala, wajah dan anggota badan akan terurai lebih cepat tapi urutan bervariasi

yang disebabkan oleh posisi mayat dan lingkungan.


2.1.4 Faktor Pembusukan

Faktor- faktor yang dapat mempengaruhi pembusukan dibedakan menjadi dua yaitu faktor
luar (eksternal) dan faktor dalam (internal). Faktor eksternal merupakan faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi proses pembusukan mayat yang berasal dari luar tubuh mayat,
sedangkan faktor internal berasal dari tubuh mayat tersebut.
a. Faktor Eksternal : (6,14,16)
1. Temperatur atmosfer
Temperatur atmosfer lingkungan yang tinggi akan mempercepat pembusukan. Pada
umumnya, proses pembusukan berlangsung optimal pada suhu 70 sampai 100 derajat
Fahrenheit atau setara dengan 21-38 derajat Celcius, dan bila suhu di bawah 50 derajat
Fahrenheit (0 derajat Celcius) atau diatas 100 derajat Fahrenheit (45 derajat Celcius),
proses menjadi lebih lambat akibat terhambatnya pertumbuhan mikroorganisme. Suhu
yang optimal akan membantu pemecahan proses biokimiawi dan sangat
menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri sehingga proses pembusukan dapat terjadi
lebih cepat. Tubuh yang sudah mati dapat diawetkan selama waktu tertentu dalam
lemari pendingin, salju dan sebagainya. Pada beberapa kondisi (khususnya pada bulan
musim hujan), warna hijau ditemukan pada mayat setelah 6-12 jam post mortem.
2. Kelembaban udara
Seperti diketahui bahwa proses pembusukan diperlukan kelembaban udara.
Lingkungan yang lembab akan mendorong rposes pembusukan sedangkan lingkungan
yang kering akan memperlambat proses pembusukan. Oleh karena itu semakin tinggi
kelembaban semakin cepat pembusukannya. Mayat yang dikeringkan atau berada
ditempat yang kering akan menyebabkan mumifikasi.
3. Udara dan Cahaya
Udara sangat mempengaruhi temperatur dan kelembaan yang mengakibatkan seperti
hal diatas. Secara tidak langsung, lalat dan serangga biasanya menghindari bagian
tubuh yang terkespos sinar, cenderung meletakkan telurnya pada kelopak mata, lubang
hidung, dan sebagainya. Telur ini kemudian akan menetas menjadi belatung dalam
waktu 8-14 jam. Belatung akan merusak jaringan lunak dan otot, dengan cara protein
yang ada dalam jaringan dibusukkan sehingga menyebabkan sebagian besar daerah
mencair. Belatung dapat menyebarkan bakteri keseluruh tubuh dalam perjalanannya,
sehingga dapat merusak jaringan lunak dalam waktu singkat. Belatung juga
menghasilkan banyak panas sehingga akan merangsang proses pembusukan
selanjutnya.
4. Ketersediaan oksigen
Kandungan oksigen berkurang pada lingkungan akan memperlambat proses
pembusukan, karena oksigen diperlukan oleh bakteri aerob yang berperan dalam
proses pembusukan.
5. Medium di mana mayat berada
Pada medium udara proses pembusukan lebih cepat dibandingkan dengan pada
medium air, sedangkan pada medium air proses pembusukan lebih cepat terjadi
dibandingkan pada medium tanah. Tanah permukaan memiliki bakteri lebih banyak
dan kondisi yang lebih lembab dibandingkan tanah dalam sehingga pada tanah
permukaan lebih cepat terjadi dibanding tanah dalam. Jika tubuh terendam air,
kecepatan dekomposisi akan melambat karena pendinginan pada tubuh. Sementara
jika diangkat dari air dekomposisi akan meningkat karena sudah diencerkan oleh air
dan tekanan atmosfer yang tinggi yang akan membantu proses dekomposisi.
Pada umumnya tubuh yang terkubur dalam tanah yang dalam akan membusuk lebih
lama daripada tubuh yang terkubur dalam tanah yang dangkal. Pada tubuh yang
terkubur pada tempat yang basah, daerah rawa, tanah liat, maka pembusukan akan
lebih cepat. Pembusukan akan berlangsung lebih lama jika dikubur di tanah kering,
tanah kuburan pada dataran tinggi atau kuburan yang dalam. Adanya zat kimia
disekitar tubuh, khususnya lemon akan memperlambat pembusukan. Tubuh yang
terkubur tanpa pakaian atau kafan pada tanah berpori yang kaya bahan organtik, akan
menunjukkan pembusukan yang lebih lama.
Waktu antara saat kematian dengan saat dikuburkan dan lingkungan sekitar tubuh
pada waktu ini akan mempengaruhi proses pembusukan. Semakin lama tubuh berada
di tanah sebelum dikuburkan, maka akan mempercepat pembusukan khususnya bila
tubuh diletakkan pada udara yang hangat.
6. Pakaian
Fungsi pakaian bisa mempercepat atau memperlambat fungsi pembusukan. Pakaian
akan mencegah mikrooragnisme masuk kedalam tubuh melalui udara sehingga proses
pembusukan dapat dihambat. Akan tetapi apabila keadaan udara dingin, maka pakaian
akan membantu mempertahankan temperature menyebabkan tubuh dapat ditinggali
oleh beberapa jenis mikroorganisme, sehingga proses pembusukan akan dipercepat.
b. Faktor Internal : (6,14,16)
1. Umur dan jenis kelamin
Tubuh bayi yang baru lahir akan membusuk lebih lambat karena masih steril (belum
kemasukkan kuman-kuman pembusuk). Jika bayi baru lahir tersebut mengalami
trauma selama atau setelah lahir atau sudah mendapat makann setelah lahir, maka akan
membusuk lebih awal. Pada mayat dari orang-orang tua, proses pembusukannya lebih
lambat disebabkan lemak tubuhnya relatif lebih sedikit. Jenis kelamin tidak terlalu
berpengaruh. Tubuh wanita memiliki lemak yang lebih banyak yang akan
mempertahankan panas lebih lama yang akan mempercepat proses pembusukan.
2. Sebab kematian
Jika seseorang meninggal secara mendadak atau karena kecelakaan, pembusukan
akan berlangsung lebih lama daripada orang yang meninggal karena penyakit kronis.
Kematian karena gas gangrene, sumbatan usus, bakterimia/septicemia, aborsi akan
menunjukkan proseds pembusukan yang lebih cepat. Racun yang dapat memperlambat
pembusukan yaitu potassium sianida, barbiturat, fosfor, dhatura, strychnine dan
sebagainya.keracunan kronis oleh logam akan memperlambat pembusukan karena
memperlambat efek jaringan. Alkoholik kronik umumnya akan mempercepat
pembusukan.
3. Kondisi tubuh
Proses pembusukan yang cepat terjadi pada tubuh mayat yang gemuk, edematous,
luka-luka atau mayat wanita yang mati sesudah melahirkan. Pada tubuh yang berlemak
pada proses pemusukan terjadi lebih cepat karena jumlah air pada tubuh yang
berlemak lebih banyak sehingga memberikan tempat untuk mikroorganisme dapat
berkembang.
4. Perlukaan luar pada tubuh
Perlukaan pada tubuh dapat mempercepat proses pembusukan karena adanya
mikroogranisme tambahan yang masuk ke dalam tubuh melalui luka luar tubuh.

Pembusukan melalui media


Media di mana mayat berada berperan penting dalam kecepatan pembusukan
mayat. Kecepatan pembusukan ini di gambarkan dalam rumus klasik Casper, yaitu
perbandingan tanah : air : udara = 1 : 2 : 8 artinya mayat yang dikubur di tanah
umumnya membusuk 8 kali lebih lama dari pada mayat yang terdapat di udara terbuka.
(13)
Mayat yang dikubur di tanah proses pembusukan terjadi lebih lama daripada
mayat yang diletakkan pada permukaan, hal ini disebabkan karena suhu di dalam tanah
lebih rendah, terlindung dari predators seperti binatang dan insekta, dan rendahnya
oksigen menghambat berkembang biaknya organisme aerobik. Apabila tubuh
membusuk sebelum penguburan, proses pembusukan akan tetap terjadi walaupun
lambat, karena aktivitas enzim dan bakteri sudah terbentuk dari dalam sebelum mayat
dikuburkan, serta mikroorganisme dalam tanah tidak berperan pada tahap awal proses
pembusukan, melainkan berperan pada tahap akhir proses pembusukan. Penguburan
mayat yang lebih dalam menyebabkan proses pembusukan menjadi semakin lama,
karena tanah lebih dingin. Keadaan ini tidak berlaku apabila terendam air atau tanah
terkena air hujan. Bila mayat dikubur didalam pasir dengan kelembaban yang kurang
dan iklim yang panas maka jaringan tubuh mayat akan menjadi kering sebelum terjadi
pembusukan. Penyimpangan dari proses pembusukan ini disebut mumifikasi. (7,9)
Pada mayat yang tenggelam di dalam air proses pembusukan umumnya
berlangsung lebih lambat dari pada yang di udara terbuka. Hal ini dipengaruhi oleh
temperatur air, kandungan bakteri dalam air, kadar garam di dalamnya, dan binatang
air sebagai predator. Pada mayat yang tenggelam di dalam air pengaruh gravitasi tidak
lebih besar dibandingkan dengan daya tahan air, akibatnya walaupun mayat tenggelam
diperlukan daya apung untuk mengapungkan tubuh di dalam air. Mayat yang
tenggelam mempunyai posisi karakteristik yaitu kepala dan kedua anggota gerak
berada di bawah sedangkan badan cenderung berada di atas akibatnya lebam mayat
lebih banyak terdapat di daerah kepala. Sehingga mayat yang tenggelam di air
kepalanya menjadi lebih busuk dibandingkan dengan anggota badan yang lain. (7)

Penghambatan proses pembusukan dengan pembekuan


Proses pembusukan akan dipercepat oleh suhu yang hangat, diperlambat oleh
suhu yang dingin dan dihentikan oleh pembekuan. Pada mayat yang dibekukan
pelepasan enzim akan terhambat sehingga dengan sendirinya akan menghambat proses
autolisis. Micozzi mengamati bahwa hewan yang dibekukan kemudian dicairkan akan
mengalami proses pembusukan dari luar kedalam, sedangkan hewan yang tidak
mengalami pembekuan proses pembusukan terjadi dari dalam keluar. Menurut
Micozzi tidak ada proses pembusukan yang terjadi pada suhu kurang dari 40C. Pada
suhu kurang dari 120C aktivitas serangga dapat berkurang. (10,15)
Pada pembekuan suhu dikulkas dipertahankan 40C. Suhu tidak boleh turun
pada titik beku yaitu 00C, karena es akan terbentuk dalam jaringan tubuh sehingga sel
akan rusak. Hal ini menyebabkan pemeriksaan mikroskopis pada jaringan yang akan
dilakukan mendapatkan hasil yang lebih kecil. (15)
Pada keadaan tertentu, mungkin perlu pendinginan dalam waktu yang lama.
Misalnya pada kasus kematian akibat keracunan, dimana sifat racun belum bisa
ditentukan. Penyelidikan pada kasus ini dapat berlangsung lama, karena harus
menunggu analisis dari labolatorium forensik. Untuk mempertahankan kondisi tubuh
dalam waktu yang panjang perlu pendinginan yang dalam, oleh karena itu salah satu
bagian tubuh dipertahankan dalam suhu -200C, sehingga tidak akan terurai sampai
otopsi telah selesai dilakukan dan jaringan telah diambil untuk pemeriksaan histologi.
(15)

2.1.5 Mumifikasi
Mumifikasi merupakan suatu proses pengeringan yang terjadi pada jaringan mayat.
Seringkali diinduksi oleh lingkungan yang kering, arus udara yang cukup, suhu tinggi atau
pada tempat yang kurang lembab. Mumifikasi berasal dari bahasa Persia yaitu Mmiya
yang artinya aspal. Hal yang paling menonjol terlihat pada mumifikasi ialah bagian kulit,
kulit akan tampak coklat kehitaman, keras, dan berktekstur seperti kertas perkamen.
Keadaan tubuh mayat yang kering atau terdehirdrasi menjadikan mayat lebih awet pada
jangka waktu yang lebih lama. .
Mayat yang kurus lebih mudah mengalami mumifikasi dibanding mayat yang gendut
karena perbedaan ukuran otot dan jaringan adiposa. Bayi yang baru lahir juga cenderung
mengalami mumifikasi karena pada sistem pencernaan bayi baru lahir masih steril dari
mikroorganisme yang dapat memulai putrefikasi dari dalam. Selain faktor faktor tersebut
diatas, aliran udara yang cukup dan pakaian yang membolehkan evaporasi cairan tubuh
secara tidak langsung meningkatkan terjadinya mumifikasi.12
Mumifikasi dapat terjadi pada seluruh permukaan mayat atau terlokalisir pada bagian
tubuh tertentu seperti jari jari tangan, lidah, dan jari jari kaki. Mumifikasi dapat terjadi
pada organ dalam. Keawetan organ dalam bergantung pada seberapa luasnya putrefaksi dan
autolisis terjadi sebelum keadaan lingkungan menyokong proses mumifikasi, maka dari itu
penemuan organ dalam seringkali tampak lembab sementara kulit sudah mengering.12

2.1.6 Adipocera
Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak atau
berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati. Dulu
disebut sebagai saponifiikasi, tetapi istilah adiposera lebih disukai karena penunjukan sifat-
sifat di antara lemak dan lilin. Fenomena ini terjadi pada mayat yang tidak mengalami proses
pembusukan yang biasa, melainkan mengalami pembentukan adiposera.17
Adiposera terutama terdiri dari asam-asam lemak tak jenuh yang terbentuk oleh
hidrolisis lemak dan mengalami hidrogenisasi sehingga terbentuk asam lemak jenuh pasca
mati yang tercampur dengan sisa-sisa otot, jaringan ikat, jaringan saraf yang termumifikasi
dan kristal-kristal sferis dengan gambaran radial. Adiposera terapung di air, bila dipanaskan
mencair dan terbakar dengan nyala kuning, larut dalam alkohol dan eter.17
Adiposera dapat terbentuk di sembarang lemak tubuh, bahkan di dalam hati, tetapi
lemak superficial yang pertama kali terkena. Biasanya perubahan berbentuk bercak, dapat
terlihat di pipi, payudara atau bokong, bagian tubuh atau ekstremitas. Jarang seluruh lemak
tubuh berubah menjadi adiposera. Adiposera akan membuat gambaran permukaan luar
tubuh dapat bertahan hingga bertahun-tahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan
sebab kematian masih dimungkinkan.17
Faktor-faktor Pendukung Terjadinya Adiposera
Melalui penelitian dan pengalaman kasus, diketahui bahwa peranan besar
pembentukan adiposera dipengaruhi oleh lingkungan lembab. Namun, adiposera dapat
terbentuk dalam berbagai keadaan, termasuk lingkungan yang kering dan perendamaan di
air laut yang dingin. Selain itu juga dapat mencakup usia, jenis kelamin, pengawetan dan
distribusi lemak tubuh yang tinggi.18
Pemakaman di tanah liat atau jenis lain yang mempertahankan kelembaban dapat
memengaruhi pembentukan adiposera. Menurut penelitian oleh Forbes menerangkan
bahwa adiposera dapat terbentuk dalam berbagai jenis tanah, paling cepat di tanah berpasir
atau kering dan berlumpur. Kadar air yang tinggi jugamerupakan dapat membantu proses
adiposera.18
Suhu juga mempunyai peranan yang penting dalam adiposera. Kisaran suhu yang
optimum menurut penelitian Forbes dkk dalam pembentukan adiposera adalah sekitar 20C-
37C. Pada suhu yang lebih dari 40C dan dibawah 4C tidak dapat membentuk adiposera.
PH juga berperan pada pembentukan adiposera pH yang sedikit alkali yaitu sekitar 5.0-9.0
(paling optimum 8.5) dapat membantu dalam prosesnya. 18,19
Pakaian yang dipakai oleh mayat juga memengaruhi proses terbentuknya adiposera,
pakaian yang mempunyai daya serap air yang baik mendukung terjadinya proses ini apalagi
ditambah dengan mayat yang dilindungi oleh peti mati atau mayat yang dilindungi dengan
plastik karena terhindar dari mikroorganisme sekitar yang akan masuk kedalam tubuh.18
Penelitian experimental dengan jaringan babi adiposa menunjukkan bahwa faktor
kunci dalam pembentukan adiposera termasuk pH sedikit alkali, suhu hangat, kondisi
anaerob dan kelembaban yang adekuat. Sedangkan faktor yang menghambat pembentukan
adiposera adalah suhu yang dingin, pH asam, dan kondisi yang aerob.18
Tipe-tipe adiposera
Adapun tipe-tipe adiposera dibagi menjadi 20
Segar dan lama
Adiposera segar memiliki gambaran lembut dan basah, gambaran seperti pasta
lembut dan warna keabu-abuan, menghasilkan bau khas yang kuat, yang dapat dideteksi
oleh anjing yang terlatih untuk mendeteksi mayat sisa-sisa manusia. Ini adalah proses
dekomposisi awal yang berarti bahwaasam lemak dipecah dan telah terikat dengan ion
natrium atau kalium. Ketika adiposera menjadi lama (tua) itu akan berubah menjadi lebih
kering, rapuh, seperti zat sabun dengan warna keputihan. Ketika pemecahan asam lemak
terjadi, ion natrium dan ion kalium dengan ion kalsium atau magnesium. Ini biasanya
lebih umum terjadi pada individu dengan kandungan lemak tinggi, khususnya pada
wanita dan anak-anak.20
Tipikal dan atipikal
Nushida membagi jenis adiposera yaitu, tipikal dan atipikal. Adiposera tipikal
terbentuk dalam tubuh di kuburan basah, kubah basah dan tubuh direndam dalam air
sementara adiposera atipikal terbentuk dalam tubuh disimpan di tempat yang kering.
Dalam hal ini yang dimaksud adalah sebuah wadah yang kedap air, yang ditutupi dengan
kantong plastik. Adiposera atipikal mengandung asam 10-hydroxyoctadecanoic yang
juga hadir dalam adiposera tipikal, tetapi juga asam cis-12 octadecenoic. Senyawa
terakhir ini tidak ada dalam adiposera tipikal. Jumlah asam cis-12-octadecenoic hampir
sama dengan hilangnya asam linoleat, yang dapat disimpulkan bahwa di bawah
penyembunyian kering asam linoleat dapat dihidrogenasi menjadi asam cis-12
octadecenoic. Seperti telah disebutkan, adiposera atipikal bukan tidak mengandung
asam 10-hydroxyoctadecanoic tapi konsentrasinya jauh lebih rendah daripada adiposera
tipikal. Nushida juga menarik kesimpulan bahwa pembentukan adiposera atipikal lebih
dari 10 kali lebih lambat dari pembentukan adiposera tipikal.20
Gambar 1 Adiposera Tipikal

Gambar 2 Adiposera Atipikal


Mekanisme Terjadinya Adiposera
Adiposera terdiri dari asam-asam lemak tak jenuh yang terbentuk oleh hidrolisis
lemak dan mengalami hidrogenisasi sehingga terbentuk asam lemak jenuh pasca mati yang
bercampur dengan sisa-sisa otot, jaringan ikat, jaringan saraf yang termumifikasi dan kristal-
kristal sferis gambaran radial.21
Proses ini terjadi karena adanya hidrolisis dan hidrogenasi dari asam lemak tubuh
yang tidak jenuh menjadi asam lemak jenuh (asam palmitat,asam stearat) oleh kerja endogen
lipase dan enzim bakteri intestinal (lesitinase).22

Gambar 3 Proses hidrolisis asam lemak tak jenuh


Asam lemak jenuh kemudian bereaksi dengan alkali membentuk sabun yang tak
larut. Selama proses pembentukan ini, asam lemak bereaksi dengan Sodium (Natrium) yang
berasal dari cairan intestinal membentuk sapodurus atau sabun yang keras. Membran sel
akan bereaksi dengan Potassium (Kalium) membentuk sapo domesticus atau sabun lunak.
Sabun keras bersifat mudah rapuh sedangkan sabun lunak tadi akan berbentuk seperti
pasta.22

Gambar 4. Proses reaksi kimiawi adiposera asam lemak jenuh dengan Natrium

Gambar 5 Proses reaksi kimiawi adiposera asam lemak jenuh dengan Kalium

Asam lemak yang rendah dalam tubuh (sekitar 0,5%), pada saat kematian akan
meningkat menjadi 70% sehingga pembentukan adiposera dapat terlihat jelas. Tetapi perlu
diketahui bahwa, lemak dan air sendiri tidak bisa menghasilkan adiposera. Organisme
pembusuk seperti Clostridium welchii yang paling aktif, sangat penting dalam pembentukan
adiposera. Hal ini difasilitasi oleh invasi bakteri endogen pada jaringan post mortem.22
Adanya konversi asam lemak tubuh yang tidak jenuh menjadi asam lemak jenuh
menyebabkan penurunan pH, dan menghambat pertumbuhan bakteri. Dengan terbentuknya
zat semacam lilin tersebut, maka proses pembusukan akan tertahan, oleh karena kuman-
kuman tidak dapat masuk. Sehingga, jaringan lunak tubuh dapat bertahan untuk beberapa
tahun. Adiposera mempunyai bau asam yang khas (rancid odour).22,23
Meskipun dekomposisi jaringan lemak hampir terjadi beberapa saat setelah
kematian, tapi pembentukan adiposera umumnya terjadi beberapa minggu sampai beberapa
tahun setelah kematian. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor antara lain; tipe tanah,
pH, kelembaban, temperatur, pembalseman, kondisi terbakar, dan material-material yang
ada di sekitar mayat. Suhu panas, kondisi yang lembab, dan lingkungan anaerob dapat
memicu pembentukan adiposera. Sebab pada dasarnya pembentukan adiposera
membutuhkan kondisi yang lembab atau dengan dicelupkan ke dalam air. Dengan demikian,
maka adiposera biasanya terbentuk pada mayat yang terbenam dalam air atau rawa-rawa.
Tetapi, air yang terdapat dalam tubuh pada jasad yang disimpan dalam peti sudah cukup
untuk menginduksi terbentuknya adiposera.22,23
Adiposera pada awalnya terbentuk pada jaringan subkutan, umumnya pada pipi,
payudara, dan pantat. Organ dalam jarang dilibatkan. Pembentukan adiposera bercampur
dengan sisa-sisa mummifikasi otot, jaringan fibrosa, dan nervus.23
Pada suhu yang ideal, kondisi yang lembab, adiposera dapat terlihat dengan mata
telanjang setelah 3-4 minggu. Lama pembentukan adiposera ini juga bervariasi mulai 1
minggu sampai dengan 10 minggu. Umumnya, pembentukan adiposera membutuhkan waktu
beberapa bulan dan perluasan adiposera umumnya tidak terlihat lagi sebelum 5 atau 6 bulan
setelah kematian. Beberapa penulis menyebutkan bahwa, perubahan yang ekstensif
membutuhkan waktu tidak kurang dari 1 tahun setelah perendaman atau lebih dari 3 tahun
setelah pembakaran.24
Gambar 6 Adiposera Lama

Gambar 7 Adiposera Segar

Gambar 8 Adiposera Segar


DAFTAR PUSTAKA

6.Dahlan S. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan Penegak


Hukum.Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro; 2000:47-62
7.Idries A. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Binarupa Aksara, 1997:67-72
8.Miller RA. The Affects of Clothing on Human Decomposition: Implications for Estimating
Time Since Death.Masters Thesis, University of Tenessee, 2002
9.Knight B. Forensic Pathology. New york: Oxford University Press Inc; 1996.
10.Di Maio Dominick J. and Di Maio Vincent J.M;Time of Death; Forensic Pathology,CRC
Press,Inc;1993;2;21-41
11.Junqueira LC. Histologi dasar, Teks dan Atlas Edisi Sepuluh:EGC;2007
12.Hau CT dkk. Decomposition Process and Post Mortem Changes; Review, Sains
Malaysiana;2014;1873-1882
13.Dahlan Sofwan, Thanatologi; Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan
Penegak Hukum;Cetakan Pertama; Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang;
2004:9:47-67.
14.Stepherd R.2003. Changes After Death in Simpsons Forensic Medicine.12th edition
.Arnold. Page 37-48.
15.Chandrasoma, P. and Clive, R. T. 2005. Ringkasan Patologi Anatomi.Edisi II.
Jakarta:EGC: 30-629.
16.Gresham GA, Turner AF. Post-Mortem Procedures.Wolfe Medical Fublications Ltd;
1999: 24-25.
17.Howard C.,Adelman.M.Establishing The Time of Death in : Forensic Medicine. New
York :Infobase Publishing. 2007. p.20-26.
18.Ubelaker, Douglas H. et al.Adipocere: What Is Known After Over Two Centuries Of Research".
N.p. 2010. Forensic Science International , Volume 208 , Issue 1 , p.167 172
19.Moses Randloph J. Experimental Adipocere Formation: Implication for Adipocere Formation on
Buried Bone. 2011. Forensic Science International, Volume 57, p. 590-597. Available online at:
onlinelibrary.wiley.com

20.Nushida H. et al. Adipocere formation via hydrogenation of linoleic acid in a victim kept
under dry concealment. 2008. Forensic Science International.p.160-165. Available online at
www.sciencedirect.com.
21.Budiyanto A, dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi 1. 1997. Jakarta: Bagian Kedokteran
Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
22Liu C, Park HM, Monsalve MV, Chen DY, Free Fatty Acids Composition in Adipocere
of the Kwday Dn Tsinchi ancient remains found in a glacier. J Forensic Sci,
53..2010.p.1039-1052.
23.Makristathis A, Schwarzmeier J, Mader RM, Varmuza K, Simonitsch I, Chavez JC, Fatty
Acid Composition and Preservation of the Tyrolean Iceman and Other Mummies, J lipid res.
43.2009.p.2056-2061.
24.Dix J. 2011. Time of Death, Decomposition and Identification.2011.New York: CRC.