Asesmen Geriatri
Asesmen Geriatri
Disusun Oleh:
KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS/KESEHATAN MASYARAKAT
PERIODE 12 JUNI 2017 25 AGUSTUS 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
1
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Keberhasilan pembangunan adalah cita-cita suatu bangsa yang terlihat dari
peningkatan taraf hidup dan Umur Harapan Hidup (UHH) /Angka Harapan Hidup
(AHH). Namun peningkatan UHH ini dapat mengakibatkan terjadinya transisi
epidemiologi dalam bidang kesehatan akibat meningkatnya jumlah angka
kesakitan karena penyakit degeneratif. Perubahan struk-tur demografi ini
diakibatkan oleh peningkatan populasi lanjut usia (lansia) dengan menurunnya
angka kematian serta penurunan jumlah kelahiran.1
Indonesia termasuk negara berstruktur tua, hal ini terlihat dari persentase
penduduk lansia tahun 2008, 2009 dan 2012 telah mencapai di atas 7% dari
keseluruhan penduduk. Struktur penduduk yang menua tersebut merupakan salah
satu indikator keberhasilan pencapaian pembangunan manusia secara global dan
nasional. Keadaan ini berkaitan dengan adanya perbaikan kualitas kesehatan dan
kondisi sosial masyarakat yang meningkat.1
Situasi global pada saat ini di antaranya adalah :
Setengah jumlah lansia di dunia (400 juta jiwa) berada di Asia.
Pertumbuhan lansia pada negara sedang berkembang lebih tinggi dari
negara yang sudah berkembang.
Masalah terbesar lansia adalah penyakit degeneratif.
Diperkirakan pada tahun 2050 sekitar 75% lansia penderita penyakit
degeneratif tidak dapat beraktifitas (tinggal di rumah). 1
Rasio ketergantungan penduduk tua (old dependency ratio) adalah angka yang
menunjukkan tingkat ketergantungan penduduk tua terhadap penduduk usia
produktif. Angka tersebut merupakan perbandingan antara jumlah penduduk tua
(60 tahun ke atas) dengan jumlah penduduk produktif (15-59 tahun). Peningkatan
jumlah penduduk lanjut usia menjadi salah satu indikator keberhasilan
pembangunan sekaligus sebagai tantangan dalam pembangunan.1
2
Geriatri adalah bagian ilmu penyakit dalam yang melakukan
penatalaksanaan individu berusia 60 tahun ke atas dengan multi-patologi penyakit
kronis seperti hipertensi, diabetes, jantung, stroke, osteoartritis, demensia.1
Dengan bertambahnya umur, fungsi fisiologis mengalami penurunan
akibat proses degeneratif (penuaan) sehingga penyakit tidak menular banyak
muncul pada usia lanjut. Selain itu masalah degeneratif menurunkan daya tahan
tubuh sehingga rentan terkena infeksi penyakit menular. Penyakit tidak menular
pada lansia di antaranya hipertensi, stroke, diabetes mellitus dan radang sendi atau
rematik. Sedangkan penyakit menular yang diderita adalah tuberkulosis, diare,
pneumonia dan hepatitis.1
Penyakit pada lanjut usia (lansia) sering berbeda dengan dewasa muda,
karena penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-kelainan yang
timbul akibat penyakit dan proses menua, yaitu proses menghilangnya secara
perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta
mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan
terhadap penyakit (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita.1
Pelayanan kesehatan usia lanjut ditujukan untuk meningkatkan derajat
kesehatan dan mutu kehidupan lansia untuk mencapai masa tua bahagia dan
berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan
keberadaannya. Pelayanan kesehatan tersebut harus bersifat menyeluruh atau yang
disebut dengan Comprehensive Health Care Service yang meliputi aspek
promotive, preventive, curative, dan rehabilitative. Prioritas yang harus
dikembangkan oleh Puskesmas harus diarahkan ke bentuk pelayanan kesehatan
dasar (basic health care service) yang lebih mengedepankan upaya promosi dan
preventif (public health service).2
Salah satu jenis pelayanan kesehatan yang dapat diberikan kepada lansia
adalah kunjungan rumah atau home visit geriatry. Pada home visit geriatry
dilakukan asesmen geriatri yang akan mengevaluasi kesehatan secara
komprehensif pada lansia dengan harapan dapat meningkatkan kualitas kesehatan
lansia yang dikunjungi. Dari home visit geriatri dapat ditemui berbagai
permasalahan pada lansia.2
3
BAB II
ASESMEN GERIATRI
4
malas untuk beraktifitas ke luar rumah dan hanya duduk ataupun tidur-
tiduran di rumah.
Riwayat Pembedahan
Tidak Ada
Riwayat Alergi
Tidak Ada
Riwayat Kebiasaan
Merokok
Apakah anda merokok? Tidak pernah
Apakah orang terdekat atau di sekitar anda merokok? Ya, anak menantu
yang tinggal serumah merokok.
5
Minum Alkohol
Apakah anda minum minuman beralkohol? Tidak pernah
Olah raga
Apakah anda melakukan olah raga? Tidak pernah selama sakit. Sebelum
sakit melakukan lari pagi seminggu 2x.
Bila YA, apa jenis olah raga yang biasa anda lakukan? -
Berapa kali dalam seminggu? -
Berapa lama intensitas waktu anda melakukan olahraga tersebut?
6
Konsumsi Makanan Lansia
FORMULIR 24 HOUR RECALL
(Catatan : asupan makanan/minuman KEMARIN mulai bangun pagi hingga tidur
malam)
Jumlah
URT
Makan 08.00 Bubur kacang hijau Kacang hijau 1 mangkok
Pagi
Makan 12.00 Nasi, sayur bayam, dan Nasi, bayam, ayam 1 piring
Siang ayam goreng
Makan 19.30 Nasi dan telur dadar Nasi, telur ayam 1 piring
Malam
7
Penapisan Depresi
Untuk setiap pertanyaan di bawah ini, penjelasan mana yang paling dekat dengan
perasaan yang anda rasakan bulan lalu?
Setiap Sering Kadang Jarang Tidak
waktu sekali kadang sekali pernah
a. Berapa seringkah bulan yang lalu
masalah kesehatan anda menghalangi
kegiatan anda, (mis. pergi mengunjungi
teman, aktivitas sosial)?
b. Berapa seringkah bulan lalu anda
merasa gugup?
c. Berapa seringkah bulan lalu anda
merasa tenang dan damai?
d. Berapa seringkah bulan lalu anda
merasa sedih sekali?
e. Berapa seringkah bulan lalu anda
merasa bahagia?
f. Berapa seringkah bulan lalu anda
merasa begitu sedih sampai serasa tak
ada sesuatupun yang mungkin
menghiburnya?
g. Selama bulan lalu, berapa seringnya
perasaan depresi anda mengganggu
kerja anda sehari-hari?
h. Selama bulan lalu, berapa sering anda
merasa tak ada lagi sesuatu yang anda
harapkan lagi?
i. Selama bulan lalu, berapa sering anda
merasa tak diperhatikan keluarga?
j. Berapa sering selama bulan lalu anda
merasa ingin menangis saja?
k. Selama bulan lalu, berapa sering anda
merasa bahwa hidup ini sudah tak ada
gunanya lagi?
8
Status Fungsional
ADL dasar dan Instrumental
Bisa sendiri Perlu bantuan Tergantung
sepenuhnya seseorang orang lain
sepenuhnya
Mandi
Ambulansi
Tranfer
Berpakaian
Berdandan
BAB / BAK
Makan
Sediakan makan
Atur keuangan
Atur minum obat-obatan
Bertelepon
Keterbatasan Fungsional
Sudah berapa lamakah (apabila ada) kesehatan anda membatasi kegiatan anda
berikut ini?
9
2.3 PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda Vital
2. Keadaan Kulit
Bercak kemerahan : Tidak ada
Lesi kulit lain : Tidak ada
Curiga keganasan : Tidak ada
Dekubitus : Tidak ada
3. Pendengaran
Ya Tidak
Dengar suara normal
Pakai alat bantu dengar
Serumen impaksi
4. Penglihatan
Ya Tidak
Dapat membaca huruf surat kabar
- Tanpa kaca mata
- Dengan kaca mata
Terdapat katarak/tidak
- Kanan
- Kiri
10
5. Mulut
Buruk Baik
Higiene mulut
Ada Tidak
Gigi palsu
Terpasang
Lecet di bawah gigi palsu
Lesi yang lain (kalau ada jelaskan)
6. Leher
Normal Abnormal (jelaskan)
Derajat gerak
Kel. Tiroid
7. Dada
Massa teraba / tidak : Tidak teraba massa
Kelainan lain : Tidak ada
8. Paru-paru
Kiri Kanan
Perkusi Sonor Sonor
Auskultasi :
- suara dasar Vesikuler Vesikuler
- suara tambahan Rhonkhi (-), wheezing (-) Rhonkhi (-), wheezing (-)
11
9. Kardiovaskuler
a. Jantung
- Irama Regular Ireguler
- Bising Ya Tidak
- Gallop Ada Tidak
Lain-lain (jelaskan)
b. Bising Ada Tidak
- Karotis : Kiri
Kanan
- Femoralis : Kiri
Kanan
c. Denyut nadi perifer Ada Tidak
- A. dorsalis pedis
Kiri (regular)
Kanan (regular)
- A. tibialis posterior
Kiri (regular)
Kanan (regular)
Tak ada +1 +2 +3 +4
d. Edema
- Pedal
- Tibial
- Sakral
10. Abdomen
Hati membesar/ tidak : Tidak
Massa abdomen lain : Tidak ada
Bising/ bruit : Tidak ada
Nyeri tekan : Tidak ada
Cairan asites : Tidak ada
Limpa membesar/ tidak : Tidak
11. Rektum/ anus
Ada Tidak
Tonus sphincter ani
Pembesaran prostat
Jelaskan kalau ada TIDAK DIPERIKSA
Massa di rectum
12
Impaksi fekal
12. Genital/ pelvis :
Ya Tidak
Atrofi vaginal
Massa
Vaginitis atroficans TIDAK DIPERIKSA
Nyeri tekan
Prolaps pelvis
Lain-lain : -
Tes pap: Tidak dikerjakan
13. Muskuloskeletal
Tak Tl. Bahu Siku Tangan Pinggul Lutut Kaki
ada Blkg
Deformitas
Gerak terbatas
Nyeri
Benjolan/
peradangan
Krepitasi
Baik Terganggu
Orientasi
Orang
Waktu
Tempat
Situasi
Baik Terganggu
Daya ingat
Sangat lampau
Baru terjadi
Ingat obyek stlh 5
menit segera
(mengulang)
13
a. Kuisioner pendek / portable tentang Status Mental :
Betul Salah
Tanggal berapakah hari ini ?
Hari apakah hari ini ?
Apakah nama tempat ini ?
Berapakah nomor telpon rumah anda ?
Berapakah usia anda ?
Kapankah anda lahir (tgl/bln/thn) ?
Siapa nama gubernur sekarang ?
Nama gubernur sebelum ini ?
Nama ibumu sebelum menikah ?
20 dikurang 3 dan seterusnya
Jumlah kesalahan
0-2 kesalahan : baik
3-4 kesalahan : gangguan intelek ringan
5-7 kesalahan : gangguan intelek sedang
7-10 kesalahan : gangguan intelek berat
- Tonus
Sensorik : - Tajam
- Raba
- Getaran
Normal Abnormal
(jelaskan)
Refleks
Serebelar : - Jari ke hidung
- Tumit ke ujung kaki
- Romberg Tidak dilakukan
Gerak langkah
Antalgic Gait
14
Kesimpulan : Tidak terdapat kelemahan pada ekstremitas atas dan bawah,
cara berjalan pasien Antalgic gait (menjinjit).
d. Tanda-tanda lain
Ya Tidak Bila Ya, jelaskan
Tremor saat istirahat
Rigiditas cog-wheel
Bradikinesia
Tremor intense
Gerakan tak sadar
Refleks patologis
Kesimpulan : status neurologis pasien baik.
15
2.5 DAFTAR MASALAH DAN RENCANA PENANGANAN
Tanggal Problem Rencana
Nyeri Kedua Lutut - Menjelaskan kepada pasien dan keluarganya
tentang penyebab nyeri lututnya
- Menjelaskan apa yang dapat diberikan oleh
dokter untuk mengurangi rasa nyeri pada
kedua lututnya
- Menjelaskan apa saja yang dapat pasien
lakukan dan hindari untuk mengurangi rasa
nyeri pada kedua lututnya
- Memberikan motivasi kepada pasien agar
tetap memeriksakan penyakitnya secara rutin
dan patuh minum obat
- Edukasi agar pasien dapat mengatur pola
makannya
- Meminta pasien memberitahukan kepada
dokter apabila terjadi efek samping dari terapi
yang diberikan
- Rencana Pengobatan : Natrium Diklofenak
1x25 mg setelah makan
Depresi Ringan - Menjelaskan kepada keluarga pasien
mengenai adanya gangguan perasaan depresi
pada pasien
- Memotivasi keluarga untuk lebih dekat dan
mau mendengarkan keluh kesah pasien
- Memotivasi percaya diri pasien sehingga
pasien dapat kembali bergabung dengan
kelompok seusianya serta masyarakat
Hipertensi - Menjelaskan kepada pasien dan keluarganya
tentang penyakit hipertensi dan komplikasi
yang ditimbulkan bila tekanan darah tidak
terkontrol
- Memberikan terapi sesuai diagnosis dan
penjelasan tentang perlunya keteraturan dalam
minum obat antihipertensi
- Memotivasi penderita untuk kontrol hipertensi
ke Puskesmas secara rutin
- Edukasi mengenai pola makan pasien agar
mengurangi makanan tinggi garam, makanan
yang mengandung banyak lemak. Serta lebih
banyak mengkonsumsi makanan yang
mengandung protein, vitamin, dan serat
seperti buah-buahan dan sayuran.
- Edukasi kepada keluarga pasien untuk tidak
merokok dekat dengan pasien
- Rencana Pengobatan : Amlodipin 1x10 mg
malam hari
16
17
2.6 LAPORAN LANJUTAN
Tanggal Problem diagnostik Kegiatan
21 Juli 2017 - Nyeri kedua lutut - Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik
- Depresi Ringan menyeluruh dan edukasi kepada pasien
- Hipertensi mengenai masalah kesehatan yang dialaminya
- Menganjurkan pasien untuk minum obat dengan
benar sesuai anjuran dokter, baik dosis maupun
waktu minum serta kepatuhan minum obat.
- Pengukuran tanda-tanda vital, TD = 155/90
- Edukasi kepada keluarga untuk membawa
pasien berobat rutin ke Puskesmas agar
penyakitnya dapat dievaluasi dan diberikan obat
serta dapat dirujuk jika diperlukan
- Memotivasi pasien dan keluarga untuk
mengatasi gangguan perasaan yang dialami
pasien.
18
Informasi
- Menginformasikan tentang masalah yang dialami pasien kepada
pasien dan keluarganya
- Menjelaskan terapi yang diberikan kepada pasien
- Menjelaskan kepada pasien agar pasien datang ke Puskemas untuk
melakukan pemeriksaan laboratorium darah untuk mengetahui kadar
gula darah puasa, kolesterol dan asam urat setiap kali kontrol
Edukasi
- Mengedukasi pasien untuk mengkonsumsi obat antihipertensi secara
teratur agar tekanan darah tetap terkontrol
- Kontrol tekanan darah setiap kali kunjungan di Puskesmas dan
mengkonsumsi obat secara rutin dan benar
- Mengedukasi pasien untuk mengkonsumsi obat penurun kadar gula
darah secara teratur agar kadar gula darah tetap terkontrol
- Mengedukasi pasien untuk mengurangi makan makanan yang tinggi
garam dan lemak, serta memperbanyak konsumsi susu tinggi kalsium,
makanan yang tinggi protein, serat dan vitamin seperti buah-buahan
dan sayuran.
- Menyarankan kepada keluarga pasien untuk membuatkan pegangan
pada tempat-tempat yang licin seperti kamar mandi dan membuatkan
alas yang landai pada kamar-kamar pasien yang memiliki level,
sehingga mengurangi risiko jatuh pada pasien
- Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, memakai alas kaki yang
nyaman dan tidak licin di dalam rumah menggunakan alas kaki yang
nyaman, tertutup, dan tidak licin apabila berjalan kaki di luar rumah
- Meminta pasien untuk banyak beraktivitas dalam kegiatan sosial,
melakukan kegiatan positif yang digemari dan tetap melakukan ibadah
kepada Allah.
19
Terapi Farmakologik
- Obat anti nyeri berupa Natrium Diklofenak 2 x 50 mg diminum bila
perlu
- Vitamin saraf berupa vitamin B kompleks 1x1
- Pemberian suplemen zinc 1x10 mg
- Obat antihipertensi berupa Amlodipine 10 mg 1x1
Terapi Non-farmakologik
- Mengatur pola makan dengan komposisi sbb
Makanan pokok yang memiliki glikemik index yang rendah
seperti nasi merah, pengganti nasi ; kentang, jagung. Hindari
pemberian double carbohydrate pada pasien seperti pemberian
nasi yang dibarengi dengan kentang, ubi, singkong, roti,
ataupun biskuit.
Sayuran dan buah
Protein nabati / Protein Hewani
- Intake air putih 1.8-2L/hari
- Melakukan aktifitas fisik setiap hari seperti berjalan selama 30 menit
setiap hari (Pagi hari).
- Memantau berat badan untuk mencegah terjadinya malnutrisi pada
lansia.
20
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pasien merupakan seorang Perempuan berusia 80 tahun dengan nyeri
kedua lutut, hipertensi, dan depresi ringan. Nyeri lutut yang dialami pasien
membutuhkan pemeriksaan lanjutan agar dapat ditangani dengan tepat
sehingga dapat mengurangi keterbatasan aktivitas pasien sehari-hari. Penyakit
hipertensi yang dialami pasien juga harus dikontrol agar tidak timbul
komplikasi lanjut. Dari asesmen geriatri yang dilakukan dapat disimpulkan
pasien memiliki hendaya fisik berupa keterbatasan fungsional dalam
melakukan pekerjaan berat dan pekerjaan sedang, naik tangga/bukit,
membungkuk, berlutut, sujud, dan lari 100m.
Pada kunjungan pertama dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik
secara lengkap untuk mencari masalah yang ada pada pasien. Selanjutnya
diberikan tatalaksana nonmedikamentosa dengan cara pemberian informasi
dan edukasi terhadap masalah yang ditemukan pada pasien. Dari kunjungan
kedua dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik lanjutan dan didapatkan
masih terdapat beberapa masalah yang kemudian dilakukan edukasi ulang
seperti pada kunjungan pertama. Dari kedua kunjungan tersebut dilakukan
perencanaan perawatan pasien secara komprehensif. Perhatian dan motivasi
dari keluarga terdekat adalah hal yang sangat dibutuhkan pasien agar tetap
dapat hidup produktif di usianya meski dengan penyakit yang dideritanya.
3.2 Saran
Diharapkan dalam pembuatan laporan asesmen geriatri selanjutnya,
peneliti dapat memberikan penyuluhan lebih menyeluruh dan lebih detail
kepada pasien dan keluarganya mengenai masalah nyeri lutut, hipertensi, dan
depresi ringan yang dialami oleh pasien, juga menjelaskan pentingnya
kesehatan lingkungan tempat tinggal, pola makan dan pola hidup yang sehat,
pentingnya peran serta keluarga dalam memberikan dukungan pada para lansia
sehingga status kesehatan lansia baik dan tetap produktif diusianya.
21
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1. Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. Gambaran Kesehatan Lanjut Usia di
Indonesia. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. 2013; ISSN 2088-
270X: 2-17.
2. Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, Cushman WC, Green LA, Izzo JL, et
al. The Seventh Report of the Joint National Comitte on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. JAMA. 2003;
289(19): 2560-72.
22
LAMPIRAN
23