Anda di halaman 1dari 5

Makna Proklamasi Bagi Bangsa Indonesia

Makna Proklamasi Bagi Bangsa Indonesia sangatlah penting bagi bangsa Indonesia. Oleh
karena itu saya akan membagikan informasi tentang makna dari proklamasi bagi bangsa
indonesia ini. Proklamasi kemerdekaan yang dilakukan tanggal 17 Agustus 1945 menjadi titik
balik kehidupan bangsa Indonesia.

Persitiwa yang sangat penting tersebut mengawali perjuangan Indonesia bukan lagi
melawan penjajahan tetapi mempertahankan sebuah kemerdekaan yang telah direbut dengan
susah payah.

Makna Proklamasi Bagi Bangsa Indonesia


1. Sebagai Puncak Perjuangan Bangsa Indonesia

Indonesia yang telah berjuang mati matian mulai dari kedatangan belanda sampai pada
penjajahan jepang akhirnya pada saat proklamasi perjuangan itu mencapai puncaknya.Segala tumpah
darah para pahlawan terbayar ketika Indonesia berhasil memproklamasikan diri sebagai sebuah negara
merdeka.

Namun peristiwa ini tidak berarti sebagai titik akhir perjuangan bangsa Indonesia tetapi malah
titik awal perjuangan Indonesia membangun negeri yang telah merdeka dari penjajahan.

2.Menjadi Pernyataan De Facto

Proklamasi pada tanggal 17 Agustus menjadi pengakuan kepada dunia luar negeri bahwa
Indonesia terlah menyatakan diri sebagai negara yang merdeka. Setelah pengakuan de facto akan muncul
pengakuan de jure yang merupakan lanjutan dari efek pengakuan de facto karena pengakuan de jure
adalah pengakuan dari negara lain bahwa Indonesia telah merdeka.

Secara de facto Indonesia merdeka sejak 17 Agustus 1945.


Secara de jure Indonesia merdeka sejak 18 November 1946 ketika Mesir mengakui kemerdekaan
Indonesia

3. Menaikkan Martabat Bangsa

Indonesia yang dulunya hanyalah bangsa yang terjajah sejak adana proklamasi bangsa terjajah itu
mengaku telah merdeka dan mengangkat harkat martabat bangsa sebagai bangsa yang merdeka dan bebas
dari penjajahan oleh kolonial dan Jepang.

4.Dapat Memulai Perjuangan Sebagai Negara Baru

Sejak proklamasi lahirlah bangsa Indonesia dan sejak saat itu pemerintahan dimulai untuk
membangun negara yang baru ini menjadi negara yang lebih baik lagi. Indonesia mempunyai
pemerintahan sendiri dari rakyat oleh rakyatnya sendir bukan lagi dijadikan bangsa yang terjajah oleh
pemerintahan luar
5.Tonggak Sejarah Negara Indonesia

Proklamasi sebagai pintu awal kemerdekaan Indonesia. Makna proklamasi menjadi lahirnya
sebuah bangsa baru bernama Indonesia yang menentukan nasibnya sendiri dan tidak mau lagi dijajah oleh
bangsa asing.

Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Pembacaan Proklamasi
Pembacaan Proklamasi pukul 10.00 pagi - Hari Jumat pada bulan Ramadhan, pukul
05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi tetap menggelantung di
tepian daun. Para pemimpin bangsa serta para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana
Maeda, dengan diliputi kebanggaan seusai merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari.
Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di
rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta
pernah beramanat terhadap para pemuda yang bekerja pada pers serta kantor-kantor kabar,
untuk mempertidak sedikit naskah proklamasi serta menyebarkannya ke seluruh dunia

Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56


lumayan sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan terhadap Mr. Wilopo untuk
mempersiapkan peralatan yang diperlukan semacam mikrofon serta berbagai pengeras suara.
Sedangkan Sudiro memerintahkan terhadap S. Suhud untuk mempersiapkan satu tiang bendera.
Sebab situasi yang tegang, Suhud tak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, tetap ada dua
tiang bendera dari logam yang tak dipakai. Malahan ia mencari sebatang bambu yang berada di
belakang rumah. Bambu itu dibersihkan serta diberi tali. Lalu ditanam berbagai langkah saja
dari teras rumah. Bendera yang dijahit dengan tangan oleh Nyonya Fatmawati Soekarno telah
disiapkan. Bentuk serta ukuran bendera itu tak standar, sebab kainnya berkapasitas tak
sempurna. Terbukti, kain itu awalnya tak disiapkan untuk bendera.
Sementara itu, rakyat yang telah mengenal bakal dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah
berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda serta rakyat yang
berbaris teratur. Berbagai orang tampak gelisah, khawatir bakal adanya pengacauan dari pihak
Jepang. Matahari terus tinggi, Proklamasi belum juga dimulai. Waktu itu Soekarno terserang
sakit, malamnya panas dingin terus menerus serta baru tidur seusai berakhir merumuskan
teks Proklamasi. Para undangan telah tak sedikit berdatangan, rakyat yang telah menantikan
sejak pagi, mulai tak sabar lagi. Mereka yang diliputi suasana tegang bercita-cita keras supaya
Proklamasi segera diperbuat. Para pemuda yang tak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk
segera membacakan teks Proklamasi. Tetapi, Bung Karno tak mau membacakan teks Proklamasi
tanpa keberadaan Mohammad Hatta. Lima menit sebelum agenda dimulai, Mohammad Hatta
datang dengan pakaian putih-putih serta langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut
kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian. Ia
juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.
Upacara pembacaan teks Proklamasi itu. Upacara itu berjalan sederhana saja. Tanpa protokol.
Latief Hendraningrat, salah seorang anak buah PETA, segera memberi instruksi terhadap
seluruh barisan pemuda yang telah menantikan sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri
tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno serta Mohammad
Hatta maju berbagai langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap serta jelas, Soekarno
mengucapkan pidato pendahuluan pendek sebelum membacakan teks proklamasi.

"Saudara-saudara sekalian ! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan
sebuahmomen maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kami bangsa Indonesia
telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun.
Gelombangnya aksi kami untuk mencapai kemerdekaan kami itu ada naiknya ada turunnya.
Tetapi jiwa kami tetap menuju ke arah impian. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kami untuk
mencapai kemerdekaan nasional tak berhenti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kami
menyandarkan diri terhadap mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kami menyusun tenaga
kami sendiri. Tetap kami percaya pada kekuatan sendiri. Kini tibalah saatnya kami sangatlah
mengambil hidup bangsa serta hidup tanah air kami di dalam tangan kami sendiri. Hanya
bangsa yang berani mengambil hidup dalam tangan sendiri, bakal bisa berdiri dengan kuatnya.
Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat
Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa
sekaranglah datang saatnya untuk menyebutkan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara! Dengan ini kami menyebutkan kebulatan aspirasi itu. Dengarkanlah
Proklamasi kami:
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyebutkan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal yang
tentang pemindahan kekuasaan serta lain-lain, diselenggarakan dengan tutorial akurat serta
dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta , 17 Agustus 1945.
Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.

Demikianlah saudara-saudara! Kami kini telah merdeka. Tak ada satu ikatan lagi yang
mengikat tanah air kami serta bangsa kita! Mulai saat ini kami menyusun Negara kita!
Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, serta abadi. Insya Allah, Tuhan
memberkati kemerdekaan kami itu".
Acara, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Soekarno serta Hatta maju
berbagai langkah menuruni anak tangga terbaru dari serambi muka, lebih tak lebih dua meter di
depan tiang. Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dirinya menolak: "
lebih baik seorang prajurit ," katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang
berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud mengambil
bendera dari atas baki yang telah disediakan serta mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief
Hendraningrat.
Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan
spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan lambat sekali, untuk
menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang lumayan panjang. Seusai pengibaran
bendera, dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Walikota Soewirjo serta dr. Muwardi.
Seusai upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan, Sepasukan barisan pelopor yang
berjumlah tak lebih lebih 100 orang di bawah ceo S. Brata, memasuki halaman rumah
Soekarno. Mereka datang telat. Dengan suara lantang penuh sedih S. Brata meminta supaya
Bung Karno membacakan Proklamasi sekali lagi. Mendengar teriakan itu Bung Karno tak
hingga hati, ia keluar dari kamarnya. Di depan corong mikrofon ia membahas bahwa
Proklamasi hanya diucapkan satu kali serta berlaku untuk selama-lamanya. Mendengar
keterangan itu Brata belum merasa puas, ia meminta supaya Bung Karno memberi amanat
singkat. Hari ini permintaannya dipenuhi. Berakhir upacara itu rakyat tetap belum mau beranjak,
berbagai anak buah Barisan Pelopor tetap duduk-duduk bergerombol di depan kamar Bung
Karno.
Tidak lama seusai Bung Hatta pulang, datang tiga orang pembesar Jepang. Mereka
diperintahkan menantikan di ruang belakang, tanpa diberi kursi. Sudiro telah bisa menerka,
untuk apa mereka datang. Para anak buah Barisan Pelopor mulai mengepungnya. Bung Karno
telah menggunakan piyama ketika Sudiro masuk, jadi terpaksa berpakaian lagi. Kemudian
terjadi obrolan antara utusan Jepang dengan Bung Karno: " Kami diutus oleh Gunseikan Kakka,
datang kemari untuk melarang Soekarno mengucapkan Proklamasi ." " Proklamasi telah saya
ucapkan," jawab Bung Karno dengan tenang. " Telahkah ?" tanya utusan Jepang itu keheranan. "
Ya, telah !" jawab Bung Karno. Di sekeliling utusan Jepang itu, mata para pemuda melotot
serta tangan mereka telah diletakkan di atas golok masing-masing. Menonton kondisi semacam
itu, orang-orang Jepang itu pun segera pamit. Sementara itu, Latief Hendraningrat tercenung
memikirkan kelalaiannya. Sebab dicekam suasana tegang, ia lupa menelpon Soetarto dari PFN
untuk mendokumentasikan momen itu. Untung ada Frans Mendur dari IPPHOS yang plat
filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film).

Sekitar pukul 20.00 WIB, rombongan Bung Karno dan Bung Hatta telah kembali ke
Jakarta. Mereka tiba dengan selamat. Setibanya di Jakarta, para pemuda sibuk mencari tempat
pertemuan yang aman untuk membahas proklamasi. Atas usaha Mr. Achmad Soebardjo,
diperolehlah tempat yang aman untuk mengadakan pertemuan yaitu rumah Laksamana Maeda.

Laksamana Muda Maeda adalah Wakil Komandan Angkatan Laut Jepang. Ia banyak
menaruh simpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Rumah itu terletak di Jalan Imam
Bonjol No. I Jakarta Pusat. Dipilihnya rumah Laksamana Maeda, antara lain agar pembicaraan
tentang proklamasi kemerdekaan berjalan aman dari gangguan tentara Jepang. Sejak berita
menghilangnya Bung Karno dan Bung Hatta, memang mereka sibuk mencari kedua tokoh
bangsa Indonesia tersebut.
Di rumah Laksamana Maeda berkumpul tokoh-tokoh pemuda dan beberapa orang
anggota PPKI. Sebelum pertemuan dimulai, Bung Karno dan Bung Hatta mendatangi Jenderal
Nisyimura. Maksudnya untuk menjajaki sikap dan garis kebijaksanaan Penglima Tentara Jepang
terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ternyata, sikapnya tidak menghendaki adanya
pengalihan kekuasaan. Berdasarkan kenyataan itu, Bung Karno dan Bung Hatta kemudian
memutuskan untuk mewujudkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tanpa perlu berhubungan
lagi dengan Jepang.
Kedua tokoh bangsa Indonesia itu kembali menuju rumah Laksamana Maeda. Ir.
Soekarno segera memimpin perumusan teks proklamasi. Ketika pembahasan naskah proklamasi
berlangsung, Laksamana Maeda mengundurkan diri. Ia pergi ke ruang belajarnya di lantai dua.
Sementara itu, kepercayaan Jenderal Nisyimura, Miyosi, bersama tiga orang tokoh pemuda, yaitu
Soekarni, Soediro, dan B.M. Diah menyaksikan Bung Karno dan Bung Hatta merumuskan
naskah proklamasi. Yang lainnya menunggu di serambi depan.
Teks proklamasi ditulis tangan oleh Ir. Soekarno. Setelah rumusan teks proklamasi
selesai dibuat, tepat pukul 04.30 waktu Jepang atau 04.00 WIB, mereka menuju serambi muka
menemui tokoh-tokoh lainnya. Ir. Soekarno kemudian membacakan konsep proklamasi. Ia
kemudian menyarankan agar semua yang hadir turut serta menandatanginya. Dalam kesempatan
itu, Soekarni menyerankan agar yang menandatangi naskah proklamasi itu cukup dua orang atau
Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia. Usul Soekarni tersebut disetujui oleh
yang hadir.
Setelah dilakukan beberapa perubahan redaksi, Ir. Soekarno meminta Sayoeti Melik
untuk mengetik konsep proklamasi itu. Naskah proklamasi yang ditulis Ir. Soekarno setelah
diketik Sayoeti Melik, juga mengalami beberapa perubahan. Perubahan-perubahan tersebut
adalah sebagai berikut:

No. Naskah Tulisan Ir. Soekarno Naskah hasil ketikan Sayoeti Melik
1. Proklamasi. PROKLAMASI.
2. Hal2. Hal-hal.
3. Tempoh. Tempo.
4. Djakarta 17-08-05. Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05.
5. Wakil2 bangsa Indonesia. Atas nama bangsa Indonesia.

Ada tiga perubahan redaksi pada naskah proklamasi yang disetujui. Pertama, tempoh
diganti dengan tempo. Kedua, wakil bangsa Indonesia diganti dengan atas nama bangsa
Indonesia. Ketiga, cara menulis tanggal Djakarta 17-8-05 diganti menjadi Djakarta, hari 17
boelan 8 tahoen 05. Naskah hasil ketikan Sayoeti Melik kemudian ditandatangani oleh Bung
Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Dalam kesempatan itu, dibahas tentang tempat dan pelaksanaan upacara proklamasi
kemerdekaan. Soekarni kembali mengusulkan agar pembacaan proklamasi itu dilangsungkan di
lapangan IKADA. Namun, Ir. Soekarno menyarankan agar upacara proklamasi kemerdekaan
dilakukan di rumah kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Saran Ir. Soekarno tersebut
disetujui oleh yang hadir. Kemudian disepakati, bahwa pembacaan proklamasi akan
dilaksanakan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, hari Jumat, tanggal 17 Agustus 1945, pukul
10.00 WIB.