Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Deskripsi umum buah pala


2.1.1. Karakteristik umum
Pala (Myristica Fragans Houtt) merupakan tanaman buah berupa pohon
tinggi asli Indonesia, karena tanaman ini berasal dari Banda dan Maluku.
Tanaman pala menyebar luas ke pulau Jawa, pada saat perjalanan Marcopollo ke
Tiongkok yang melewati pulau Jawa pada tahun 1271 sampai 1295
pembudidayaan tanaman pala terus meluas sampai Sumatera (Sunanto, 1993).
Pala (Myristica fragrans Houtt) termasuk tumbuhan dari famili
Myristicaceae (pala palaan). Tumbuhan berbatang sedang dengan tinggi
mencapai 18 m itu memiliki daun berbentuk bulat telur atau lonjong yang selalu
hijau sepanjang tahun. Buahnya bulat berkulit kuning jika sudah tua, berdaging
putih yang merupakan bahan manisan yang dikenal khas di Bogor. Bijinya
berkulit tipis agak keras berwarna hitam kecokelatan yang dibungkus fuli
berwarna merah padam. Isi bijinya putih, bila dikeringkan menjadi kecokelatan
gelap dengan aroma khas mirip cengkeh (Sayidin, 2009).
2.1.2. Taksonomi
Sistematika penulisan taksonomi pala menurut Katzung (2004) adalah
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Magnoliidae
Ordo : Magnoliales
Famili : Myristicaceae
Genus : Myristica
Spesies : Myristica Fragan Haitt

5
6

2.1.3. Kandungan kimia


Komposisi kimia daging buah pala dapat dilihat pada Tabel. 1 sebagai
berikut (Soetanto, 1998):
Tabel 2.1 Komposisi kimia daging buah pala (100 gram)
Komposisi Jumlah
1. Kalori 42,00 kal
2. Air 88,10 %
3. Protein 0,30 g
4. Lemak 0,20 g
5. Karbohidrat 10,90 g
6. Kalsium 32,00 mg
7. Fosfor 24,00 mg
8. Besi 1,50 mg
9. Vitamin A 29,00 S. I.
10. Vitamin B1 0,00 mg
11. Vitamin C 22,00 mg

Sumber: Soetanto, 1998


Dari hasil analisa komposisi senyawaan kimia terhadap limbah pengolahan
minyak pala diperoleh bahwa limbah tersebut kaya akan senyawa trigliserida yaitu
trimiristin. Dengan mengisolasi trimiristin disertai dengan amidasi mengggunakan
senyawa amoniak maka akan diperoleh amida asam lemak yang selanjutnya dapat
digunakan sebagai surfaktan (Masyithah, 2006).
Pada biji buah pala terdapat minyak atsiri, minyak lemak, zat ramak,
miristisin, elemisi, enzim lipase, pektin, hars, saponin, lamonena, dan asam
olenolat. Kulit buah mengandung minyak atsiri dan zat samak (Rahadian, 2009).
Menurut Albert Y. Leung, komposisi kimia yang terdapat pada biji pala
ternyata cukup banyak dan beragam. Namun, jenis zat yang paling mendominasi
adalah zat zat antioksidan (Drazat, 2007).
7

Tabel 2.2 Komposisi zat pada buah pala menurut A. Y. Leung


Jenis Zat Persentase
Minyak Atsiri 2 16%
Minyak Kental (Fixed Oil) seperti asam palmetic, 25 40%
stearic, dan myristic
Karbohidrat 30%
Protein 6%
Minyak Pala (Monoterpen Hidro Carbon) 88%
Myristicin, termasuk jenis alkohol seperti eugenol 4 8%
dan methyleugenol
Zat antioksidan di bagian biji pala dan fuli 2,38 3,72%
Sumber: Drazat, 2007
2.1.4. Kegunaan dan manfaat
Tanaman biji pala mempunyai khasiat cukup besar untuk menyembuhkan
berbagai jenis penyakit. Dari daun hingga akarnya, tanaman ini berkhasiat sebagai
penenang (transquilizer), ekspektoran, diuretik, antitusif, antipiretik, dan anti
radang. Berkhasiat sebagai obat maag, mencret, disentri, untuk menghentikan
muntah, mengobati mual, mulas, perut kembung (Agromedia, 2008).
Di beberapa negara Eropa, biji pala digunakan dalam porsi sedikit sebagai
bumbu masakan daging dan sup. Fulinya lebih disukai digunakan dalam penyedap
masakan, acar, dan kecap. Minyak yang mudah menguap dari biji, fuli, kulit,
kayu, daun dan bunga hasil sarinya sebagai oleoresins sering digunakan dalam
industri pengawetan minuman ringan dan kosmetik (Rahadian, 2009).

2.2. Teknik isolasi


2.2.1. Ekstraksi soxhlet
Ekstraksi adalah metode pemisahan suatu komponen solute (cair) dari
campurannya menggunakan sejumlah massa solven sebagai tenaga pemisah.
Proses ekstraksi terdiri dari tiga langkah besar yaitu, proses pencampuran, proses
pembentukan fasa setimbang, dan proses pemisahan fasa setimbang (Yasita dan
Rachmawati, 2006).
Sokhlet merupakan penyempurna alat ekstraksi. Uap cairan penyari naik ke
atas melalui pipa samping, kemudian diembunkan kembali oleh pendingin tegak.
Cairan turun ke labu melalui tabung berisi serbuk simplisia. Adanya sifon,
8

mengakibatkan seluruh cairan akan kembali ke labu. Cara ini lebih


menguntungkan karena uap panas tidak melalui serbuk simplisia tetapi melalui
pipa samping (Indraswari, 2008).
Pemilihan cairan penyari harus mempertimbangkan banyak faktor. Cairan
penyari yang baik harus memenuhi kriteria antara lain, murah dan mudah
diperoleh, stabil secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap,
dan tidak mudah terbakar, selektif, tidak mempengaruhi zat berkhasiat,
diperbolehkan peraturan (Indraswari, 2008).

Gambar 2.1 Instrumen ekstraktor soxhlet


Ragam ekstraksi yang tepat sudah tergantung pada tekstur dan kandungan
air bahan tumbuhan yang diekstraksi dan pada jenis senyawa yang diisolasi.
Umumnya dibutuhkan untuk membunuh jaringan tumbuhan untuk mencegah
terjadinya oksidasi enzim dan hidrolisis. Prosedur klasik untuk memperoleh
kandungan senyawa organik dan jaringan tumbuhan kering ialah dengan
mengekstraksi serbuk bahan dengan alat sokhlet dengan menggunakan sederetan
pelarut secara berganti ganti, mulai dengan eter, lalu eter minyak bumi, dan
kloroform (Harborne, 2006).
2.2.2. Rotary evaporator
Rotary Evaporator merupakan alat yang menggunakan prinsip vakum
destilasi. Prinsip utama alat ini terletak pada penurunan tekanan sehingga pelarut
dapat menguap pada suhu dibawah titik didihnya. Prinsip umum dari rotary
evaporator adalah pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemisahan
9

yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat, cairan penyari dapat menguap 5
10o C dibawah titik didih pelarutnya disebabkan oleh karena adanya penurunan
tekanan (Craig dan hausmann, 1950).

Gambar 2.2 Rotary Evaporator


2.3. Hidrolisis trimiristin
2.3.1. Pengertian hidrolisis
Trigliserida, komponen utama minyak alami atau lemak, dikonversi menjadi
diasilgliserol, monoasilgliserol dan gliserol oleh hidrolisis disertai dengan
pembebasan asam lemak di setiap langkah. Gliserol dan asam lemak yang banyak
digunakan sebagai bahan baku, dan monoasilglicerol digunakan sebagai agen
pengemulsi dalam makanan, kosmetik dan farmasi industri (Hermansyah, 2007).
Hidrolisis adalah reaksi yang terjadi antara suatu senyawa dan air dengan
membentuk rekasi kesetimbangan. Selain bereaksi, air juga berperan sebagai
medium reaksi sedangkan senyawanya dapat berupa senyawa anorganik maupun
senyawa organik (Mulyono, 2006).
Reaksi hidrolisis adalah penguraian senyawa kimia yang disebabkan oleh
reaksi dengan air. Umumnya terjadi senyawa baru dengan penambahan atom
molekul H2O kepada salah satu pecahan senyawa yang terurai. Biasanya satu
pecahan mengambil satu atom hidrogen, sedangkan yang lainnya lagi mengambil
gugus hidroksil (Hadyana, 2002).
Hidrolisis dengan mengguanakan air murni reaksi yang terjadi sangat
lambat sehingga tidak pernah digunakan, dimana reaksi ini dikatalisis oleh asam
10

encer, sehingga ester dipanaskan dibawah refluks dengan sebuah asam encer
seperti asam hidroklorat encer atau asam sulfat encer. Berikut ini adalah dua
contoh yang sederhana dari hidrolisis menggunakan sebuah katalis asam yaitu
(Brady, 1998):
1. Hidrolisis etil etanoat
2. Hidrolisis metil propanoat
Sedangkan hidrolisis menggunakan basa encer merupakan cara yang lazim
digunakan untuk hidrolisis ester. Ester dipanaskan dibawah refluks dengan sebuah
basa encer seperti larutan natrium hidroksida. Ada dua kelebihan utama dari cara
ini dibandingkan dengan menggunakan asam encer yaitu, reaksi yang terjadi
berlangsung dengan satu arah dan tidak reversibel, serta produknya lebih mudah
dipisahkan, contoh hidrolisis menggunakan larutan natrium hidroksida yaitu
(Brady, 1998):
1. Hidrolisis etil etanoat menggunakan larutan natrium hidroksida
2. Hidrolisis metil propanoat menggunakan larutan natrium hidroksida
Hidrolisis trigliserida dapat dilakukan dengan menggunakan asam atau
basa, dimana hidrolisis dengan katalis basa dikenal dengan istilah penyabunan
(saponifikasi). Hidrolisis trimiristin dengan penyabunan dilakukan dengan cara
memanaskan trigliserida dalam suatu air yang mengandung natrium hidroksida.
Isolasi asam miristat hasil dari hidrolisis dilakukan dengan cara penambahan asam
yang kemudian dilanjutkan rekristalisasi methanol (Guenther, 2006).
Dari hasil analisa komposisi senyawa kimia terhadap limbah pengolahan
minyak pala diperoleh bahwa limbah tersebut kaya akan senyawa trigliserida yaitu
trimiristin. Dengan mengisolasi trimiristin disertai amidasi menggunakan senyawa
amoniak maka akan diperoleh amida asam lemak yang selanjutnaya dapat
digunakan sebagai surfaktan. Pemanfaatan Trimiristin yang terdapat pada limbah
hasil; pengolahan minyak pala untuk ditranfor masikan menjadi miristimida
dengan cara mengisolasi limbah pala dengan pelarut n- heksan yang menghasilkan
rendemin trimiristin (Guenther, 2006).
11

2.3.2. Refluks
Prinsip umum dari metode refluks adalah penarikan komponen kimia yang
dilakukan dengan cara sampel dimasukkan kedalam labu alas bulat bersama-sama
dengan cairan atau larutan penyari yang kemudian dipanaskan, dimana pemanasan
ini dilakukan untuk mempercepat proses kelarutan pada sampel. Uap-uap cairan
penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan
penyari yang akan turun kembali menuju labu alas bulat, setelah itu akan menyari
kembali sampel yang berada pada labu alas bulat, demikian seterusnya
berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna, penggantian
pelarut dilakukan sebanyak tiga kali setiap 3-4 jam, setelah itu filtrat yang
dihasilakan dikumpulkan dan dipekatkan (Subagio, 2003).

Gambar 2.3 Instrumen Refluks


Keuntungan dari metode ini adalah digunakan untuk mengekstraksi sampel-
sampel yang mempunyai tekstur kasar dan tahan pemanasan langsung, sedangkan
kerugiannya adalah membutuhkan volume total pelarut yang sangat besar dan
sejumlah manipulasi dari operator (Subagio, 2003).
2.4. Identifikasi trimiristin
2.4.1. Spektroskopi UV-Vis
Sumber radiasi elektromagnetik, yang mana sinar ultraviolet dan sinar
tampak merupakan salah satunya, dapat dianggap sebagai energi yang merambat
dalam bentuk gelombang. Beberapa istilah dan hubungan digunakan untuk
menggambarkan gelombang ini. Panjang gelombang merupakan jarak linier dari
satu titik gelombang ke titik yang bersebelahan pada gelombang yang berdekatan
(Gandjar dan Rohman, 2008).
12

Warna sinar tampak dapat dihubungkan dengan panjang gelombangnya.


Sinar putih mengandung radiasi pada panjang gelombang di daerah sinar tampak.
Sinar pada panjang gelombang tunggal (radiasi monokromatik) dapat dipilih dari
sinar putih (sebagai contoh dengan alat prisma) (Gandjar dan Rohman, 2008:
222). Berikut disebutkan dalam tabel hubungan antara warna dengan panjang
gelombang sinar tampak(Gandjar dan Rohman, 2008):
Tabel 2.3 Hubungan warna dengan panjang gelombang sinar tampak
Panjang Gelombang Warna yang diserap Warna yang diamati/
warna komplementer
400 435 nm Ungu (Lembayung) Hijau kekuningan
450 480 nm Biru Kuning
480 490 nm Biru kehijauan Oranye
490 500 nm Hijau kebiruan Merah
500 560 nm Hijau Merah anggur
560 580 nm Hijau kekuningan Ungu (Lembayung)
580 595 nm Kuning Biru
595 610 nm Oranye Biru kekuningan
610 750 nm Merah Hijau kebiruan
Sumber: Ginandjar dan Rohman, 2008
Spektrum ultraviolet adalah salah satu gambar antara panjang gelombang
atau frekuensi serapan lawan intensitas serapan (transmisi atau absorbansi). Sering
juga data ditunjukkan sebagai gambar grafik atau tabel yang menyatakan panjang
gelombang lawan serapan molar atau log dari serapan molar, Emax atau log Emax.
Dalam praktek, spektrofotometri ultraviolet digunakan terbatas pada sistem
terkonjugasi. Meskipun demikian terdapat keuntungan yang selektif dari serapan
ultraviolet, yaitu gugus gugus karakteristik dapat dikenal dalam molekul
molekul yang sangat kompleks. Sebagian besar dari molekul yang relatif
kompleks mungkin transparan dalam ultraviolet sehingga kita mungkin
memperoleh spektrum yang semacam dari molekul sederhana. Sebagai contoh,
spektrum pada hormon testosteron laki laki sangat mirip dengan spektrum yang
berasal dari mesitiloksida. Ternyata serapan dihasilkan dari struktur enon
terkonjugasi dari kedua senyawa tersebut (Sastrohamidjojo, 1991).
13

2.4.2. Spektroskopi inframerah


Penggunaan spektroskopi inframerah pada bidang kimia organik hampir
menggunakan daerah dari 650 4000 cm-1 (15,4 2,5 m). Daerah dengan
frekuensi lebih rendah dari 650 cm-1 disebut inframerah jauh, dan daerah dengan
frekuensi lebih tinggi dari 4000 cm-1 disebut inframerah dekat. Masing masing
daerah tersebut lebih jauh dan lebih dekat dengan spektrum tampak. Inframerah
jauh mengandung sedikit serapan yang bermanfaat bagi orang orang organik
dan serapan tersebut dikaitkan dengan perubahan perubahan rotasi dalam
molekul. Inframerah dekat terutama menunjukkan serapan serapan harmonic
overtones dari vibrasi pokok yang terdapat dalam daerah normal
(Sastrohamidjojo, 1991).
Pada suhu molekul molekul organik dalam keadaan vibrasi yang tetap,
setiap ikatan mempunyai frekuensi rentangan/ stretching dan bending yang
karakteristik dan dapat menyerap sinar pada frekuensi tersebut. Vibrasi dua atom
yang dihubungkan secara ikatan kimia dapat disamakan dengan vibrasi dua bola
yang dihubungakn dengan pegas, dengan menggunakan analogi ini, kita dapat
menerangkan sejumlah gambar dari spektra inframerah. Sebagai contoh, untuk
merentangkan pegas membutuhkan tenaga yang lebih besar dari pada untuk
membengkokkannya, hingga tenaga rentangan ikatan lebih besar dari suatu ikatan
muncul pada frekuensi frekuensi yang lebih tinggi dalam spektrum inframerah
dari pada serapan bending dari ikatan yang sama (Sastrohamidjojo, 1991).
Banyak faktor yang mempengaruhi ketetapan frekuensi vibrasi molekul, dan
biasanya tak mungkin untuk mengisolasi satu pengaruh dari yang lain
(Sastrohamidjojo, 1991: 54 64). Adapun faktor yang mempengaruhi vibrasi
adalah sebagai berikut (Sastrohamidjojo, 1991):
1. Penggabungan (coupling) vibrasi
2. Ikatan hidrogen
3. Efek elektronik
4. Sudut ikatan efek medan
Bagian pokok dari spektrofotometer inframerah adalah sumber cahaya
inframerah, monokromator, dan detektor. Cahaya dari sumber dilewatkan melalui
14

cuplikan, dipecah menjadi frekuensi frekuensi individunya dalam


monokromator dan intensitas relatif dari frekuensi individu diukur oleh detektor
(Sastrohamidjojo, 1991).
Ringkasan metode spektroskopi dalam kimia organik dan keterangan yang
dapat diperoleh dari masing masing (Sastrohamidjojo, 1991):
Tabel 2.4 Ringkasan metode spektroskopi
Radiasi yang diserap Efek terhadap molekul (dan
keterangan yang diperoleh)
Ultraviolet terlihat , 190 400 Perubahan perubahan dalam tingkatan
nm, dan 400 800 nm tenaga elektronik dalam molekul (adanya
sistem elektron , sistem tak jenuh
terkonjugasi, dan terkonjugasi dengan
elektron elektron tak berikatan).
Inframerah , 2,5 25 v, 400 Perubahan perubahan dalam gerakan
800 Cm-1 gerakan vibrasi dan rotasi dalam molekul
(deteksi gugus gugus fungsional, yang
mempunyai frekuensi vibrasi spesifik,
misal C=O, NH2, OH dan seterusnya).
Sumber: Sastrohamodjojo, 1991
2.4.3. Spektroskopi massa
Spektrofotometer massa adalah suatu instrumen yang dapat menyeleksi
molekul molekul gas bermuatan berdasarkan massa atau beratnya. Umumnya
spektrum massa diperoleh dengan mengubah senyawa suatu sampel menjadi ion
ion yang bergerak cepat yang dipisahkan berdasarkan perbandingan massa
terhadap muatan (m/e). Proses ionisasi menghasilkan partikel partikel bermuatan
positif, dimana massa yang terdistribusi adalah spesifik terhadap senyawa induk.
Selain untuk penentuan struktur molekul, spektrum massa dipakai untuk
penentuan analisis kuantitatif. Biasanya sampel ditembaki dengan berkas elektron
yang menhasilkan suatu ion molekul atau fragmen ionik. Fragmen fragmen
bermuatan ini dapat dipisahkan menurut massanya (Khopkar, 2008).
Instrumentasi spektrofotometer massa adalah memasukkan beberapa
micogram uap cuplikan ke dalam sistem pengurangan tekanan tinggi (kira kira
10-6 mmHg) dari spektrofotometer. Uap kemudian dialirkan melalui celah A ke
dalam kamar ion dimana ia ditembak dengan seberkas elektron yang dipercepat
dari suatu filamen, biasanya dengan tenaga sekitar 70 eV. Berbagai ion positif
15

dihasilkan oleh elektron yang menumbuk molekul, kemudian dipercepat melalui


celah kedua dengan potensial penolakan yang diberikkan diantara A dan B.
Akhirnya suatu potennsial mempercepat yang besar (kira kira 8 kv) ditempatkan
antara B dan C memungkinkan ion ion positif berjalan dengan kecepatan yang
dipisahkan sesuai dengan perbedaan perbedaan m/e mereka (Sastrohamidjojo,
1991).
2.4.4. Spektroskopi resonansi magnet inti
Prinsip dasar NMR adalah bila inti-inti ini diletakkan dalam medan magnet,
tingkat tingkat energinya akan terurai. Bloch dan Purcell menunjukkan bahwa
inti mengabsorpsi radiasi elektromagnetik pada medan magnet yang lebih kuat
karena tingkat energi yang terurai menginduksi gaya magnet. Instrumentasi NMR
terdiri atas komponen-komponen utama berikut (Khopkar, 2008):
Spektroskopi resonansi magnetik inti memberikan keterangan tentang
jumlah setiap tipe hidrogen dan memberikan keterangan tentang sifat lingkungan
dari setiap tipe atom hidrogen tersebut. Kegunaan yang besar dari resonansi
magnet inti adalah karena tidak setiap proton dalam molekul beresonansi pada
frekuensi yang identik sama. Ini disebabkan oleh kenyataan bahwa berbagai
proton dalam molekul dikelilingi elektron dan menunjukkan sedikit perbedaan
lingkungan elektronik dari satu proton dengan proton lainnya. Proton-proton
dilindungi oleh elektron-elektron yang mengililinginya. Di dalam medan magnet,
perputaran elektron-elektron valensi dari proton menghasilkan medan magnet
yang melawan medan magnet yang digunakan. Hingga setiap proton dalam
molekul dilindungi dari medan magnet yang digunakan yang mengenainya dan
bahwa besarnya perlindungan ini tergantung pada kerapatan elektron yang
mengelilinginya. Makin besar kerapatan elektron yang mengelilingi inti, maka
semakin besar pula medan yang dihasilkan yang melawan medan yang digunakan.
Akibat secara keseluruhan adalah inti/ proton merasakan adanya pengurangan
medan mengenainya. Setiap proton dalam molekul mempunyai lingkungan kimia
yang sedikit berbeda dan mempunyai perlindungan elektron yang sedikit berbeda
yang akan mengakibatkan dalam frekuensi resonansi yang sedikit berbeda
(Sastrohamidjojo, 1991).