0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
331 tayangan7 halaman

Kain Tenun Ikat: Warisan Budaya NTT

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai berbagai jenis kain tenun tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari kain tenun ikat Lembata, Ende, Manggarai, Flores Timur, TTS, Alor, Ngada, Kupang, Sumba Barat, Sumba Timur, Sikka, Sabu, Rote, dan Belu. Setiap daerah memiliki ciri khas motif, teknik pembuatan, dan fungsi sosial kultural khas.

Diunggah oleh

Tildis
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
331 tayangan7 halaman

Kain Tenun Ikat: Warisan Budaya NTT

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai berbagai jenis kain tenun tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari kain tenun ikat Lembata, Ende, Manggarai, Flores Timur, TTS, Alor, Ngada, Kupang, Sumba Barat, Sumba Timur, Sikka, Sabu, Rote, dan Belu. Setiap daerah memiliki ciri khas motif, teknik pembuatan, dan fungsi sosial kultural khas.

Diunggah oleh

Tildis
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS KTK

NAMA : FRANSISKUS E. DALA


KELAS : VI

1. Kain tenun ikat lembata

Tenun Lembata mempunyai ciri khas dengan dua atau tiga sambungan. Kain ini dipergunakan sebagai
mas kawin dalam upacara perkawinan dari pihak keluarga perempuan, dan dipertukarkan dengan
gelang-gelang dari gading gajah yang sangat berharga yang diberikan oleh keluarga pihak laki-laki.
Semua jenis mas kawin ini merupakan warisan yang diberikan turun-temurun.
Kain sarung hasil tenunan di darah Lembata kebanyakan menggunakan warna dasar seperti cokelat
tua, abu-abu, dan juga merah hati yang diselingi dengan benang-benang berwaraa kontras dan
membentuk motif-motif tertentu sesuai dengan kreatifitas penenun. Motif pada kain sarung pada
setiap daera tentunya berbeda, kebanyakan motif dari daerah-daerah tersebut ada yang mengisahkan
tentang asal muasal suku tertentu atau memperlihatkan hasil atau budaya setempat yang terkenal.
Ada dua jenis tenunan kain sarung ikat Lembata yaitu kewatek nai rua dan kewatek nai teh. Kewatek
nai rua adalah kain sarung yang tenunannya terdiri atas dua bagian kain yang digabungkan. Kewatek
nai telo adalah kain yang paling tinggi nilainya. Kain ini terdiri atas tiga bagian yang disambungkan
menjadi satu sarung.

2. Kain tenun ikat Ende

Lawo mangga Senai atau Luka

Lawo Mangga
Jenis motif : sarung perempuan
Bentuk motif : Mata Bhuja dan Mata Ndala
Warna dasarnya adalah hitam dari nila. Disebut lawo Mangga atau Maga karena bentuk motifnya
seperti bambu palang pada pagar. Lawo mangga atau maga yang artinya bambu palang pagar.
Sedangkan bentuk motifnya adalah jala ikan (Mata Ndala) dan Bhuja (bagian sirip ekor ikan).
Sarung ini biasa dipakai sebagai pakaian sehari-hari oleh ibu-ibu dan para gadis.

Senai atau Luka


Jenis motif : selendang laki-laki (untuk menari)
Hampir semua ibu-ibu pengrajin dapat membuat selendang Luka atau Senai, tetapi motifnya berbeda-
beda sesuai daerah masing-masing. Gambar dibawah ini merupakan contoh Senai atau Luka Mata
Kopo dari desa Nggela Kec. Wolojita.
Daerah kecamatan Nangapanda kecamatan Ndona kota Ende dan sekitarnya menamakan Senai
karena terdiri dari satu lembar. Sedangkan di daerah Lio menyebutnya Luka karena dipakai oleh kaum
pria. Warna dasarnya adalah hitam dari nila.

3. Kain Tenun Manggarai

KAIN SONGKE merupakan kain tenun khas daerah manggarai, Kain tenun songke juga biasa di
sebut lipa atau towe. Towe atau lipa dalam bahasa setempat di kenakan oleh laki - laki dan
perempuan, baik di rumah maupun saat menghadiri ritual adat, ke gereja, ketika mandi dan tidur, saat
kelahiran dan pernikahan, dan untuk membungkus orang yang telah meninggal. Songke juga bisa
menjadi pemberian saat acara masuk minta(lipa widang) dari orang tua kepada bakal keluarga baru.
Dan dari fungsinya Lipa Songke kerap kali dianggap sebagai wengko weki, yang melindungi tubuh.
Boleh dibilang, Songke itu menjadi jejak budaya Orang Manggarai.

4. Kain Tenun Flores Timur

Tradisi pembuatan kain tenun ikat khususnya masyarakat Flores Timur dilakukan secara turun
temurun, dari generasi ke generasi baik teknik pembuatannya maupun nilai dan filosofi yang
terkandung di dalamnya. Bagi masyarakat di sana, kain tenun ikat bukan sekedar busana yang
dikenakan sehari-hari, ataupun souvenir saja, namun juga berfungsi sebagai penanda identitas etnis,
belis atau mahar perkawinan mereka. Dalam tradisi masyarakat di sana, pada saat pernikahan, seorang
pria akan memberikan belis berupa gading gajah, sedangkan sebaliknya pihak perempuan akan
menyerahkan selembar kain tenun ikat yang dibuat secara tradisional. Selain itu, fungsi kain tenun
ikat juga sebagai bekal kubur yang disertakan pada seseorang yang meninggal dan dibawa ke liang
lahat.

5. Kain Tenun TTS

Timor tengah selatan banyak menonjolkan corak motif burung,cecak,buaya dan motif kaif. Kain tenun
dari timo tengah selatan biasanya dipakai pada saat upacara adat, acara resmi, resepsi pernikahan dan
busana yang dipakai seharian.

6. Kain Tenun Alor

Tenunan alor merupakan tenunan lurik berjalur besar dengan jalur-jalur dengan kontras warna yang
tajam serta diselingi juga sulaman ragam hias geometris.Umumnya tenunan sarung dipakai oleh
wanita dan bagi pengantin wanita biasanya ditambah dengan selendang,kerudung kepala,ikat
pinggang logam (perak dan kuningan). Memakai mahkota muti merah,putih hitam bertahtakan kerang
laut serta membawakan tempat sirih pinang. Sedangkan bagi penganti pria memakai sarung dan
selimut,sebuah pedang berhiaskan bulu ayam,topi putih berhiaskan bulu ayamnyang dililiti muti
merah,putih dan hitam.
7. Kain tenun Ngada

Kain sarung dari Ngada ini mempunyai keunikan di mana bagian kepala berwarna biru tua
dan bagian badan kain di kiri dan kanan berwarna merah. Motif ragam hias ikat floral terletak
pada bagian tengah kain. Hiasan pinggir atas dan bawah berupa tumpal bentuk daun. Pada
jalur ikat di badan kain diisi motif sulur daun. Kain sarung yang dihiasi jalur-jalur garis
bermotif geometris berselang-seling jalur garis kecil dan garis besar berwarna kuning kemiri,
hitam, merah kecokelatan, dan jingga.

8. Kain Tenun Kupang

Motif Tenun Ikat di Kabupaten Kupang beranekaragam corak dan jenisnya misalnya motif Amfoang,
Fatuleu, Amabi Oefeto, Amarasi, Helong, Rote dan Sabu. Motif ini ini terdiri dari beragam corak dan
warna, dan warna yang lebih dominan adalah merah tua.

9. Kain tenun Sumba Barat

Kain tenun Sumba Barat baik berupa kain panjang dan sarung, selain tenun ikat ada juga tenun sulam
yang sangat diminati baik masyarakat maupun para wisatawan. Kain sulam ini berbeda dengan motif
sumba timur yang biasanya menggunakan motif hewan seperti ayam, udang atau kuda. Pada tenunan
sulam Kain Sumba Barat pada umumnya berupa permainan garis garis yang di hiasi gambar
gambar simetris seperti permainan kotak segitiga dan lingkaran. Permainan bentuk ini sering di
kombinasikan menyerupai bunga atau mamuli. Warna dasar Kain Tenun Sulam Sumba Barat,
bervariasi dari putih hitam, hijau ungu atau biru seperti gambar dibawah, ada juga permainan warna
dasar dan benang sulaman hias yang kontras atau kalem sesuai pengatuaran yang manis dari si
penenun.

10. Kain Tenun Sumba Timur

Ragam corak dan warna yang terdapat dalam sebuah kain merupakan sebuah narasi singkat yang
menceritakan budaya dari sebuah suku atau daerah. Dalam tenun ikat Sumba Timur, corak dan warna
tidaklah hanya untuk keindahan visual semata, namun kandungan nilai filosofisnya mencerminkan
keseharian hidup masyarakat Sumba Timur. Begitupula halnya tenun Hinggi Kombu Burung Merak
Satu Arah yang merupakan tenunan langka yang menggunakan teknik satu arah serta perpaduan
warna yang rumit antara biru dan merah. Motif bercorak burung merak searah dan corak burung pada
tenun ini menggambarkan keanggunan, keindahan serta kewibawaan. Adapun corak-corak yang
banyak muncul pada tenun ikat Sumba Timur menggunakan figur figur berupa manusia, pohon,
tengkorak dan fauna seperti kuda, rusa, udang, naga, dan singa. Masing masing simbol pada tenun
ikat memiliki makna tersendiri sehingga selain dipergunakan sebagai pakaian sehari - hari, tenun ikat
ini juga dipergunakan sebagai kelengkapan upacara adat.
11. Kain Tenun Sikka

Kain oranye tulada merupakan tenun ikat bermotif kelang tulada. Tulada menyimbolkan pohon
hidup yang memberi teladan. Warna asli kelang ini adalah merah atau biru gelap. Kain oranye tulada
ini merupakan hasil modifikasi dengan menggunakan pewarna sintetis

12. Kain Tenun Sabu


Dalam budaya Sabu seorang pria harus menikah dengan wanita dari garis keturunan yang sama
dengan ibunya dan neneknya. Maka komposisi dan pola yang ditampilkan pada sarung perempuan
dapat membedakan dengan jelas perempuan Hubi Ae (Bunga Besar) dan perempuan Hubi Iki (Bunga
Kecil).Sarung dari grup Bunga Besar (Hubi Ae) menunjukkan pita nila biru yang berkaitan dengan
pita motif ikat. Sedangkan sarung Bunga Kecil (Hubi iki) memiliki pita lebih besar berwarna nila
lebih gelap dan juga berkaitan dengan pita motif ikat.
Motif utama sarung Bunga Besar (Hubi Ae) adalah bersudut dan geometris terdiri dari tiga pastiles
(bentukan belah ketupat) yang disebut wokelaku. Sedangkan motif utama sarung Bunga Kecil (ledo)
adalah garis yang berombak-ombak dan lebih sulit untuk dibentuk melalu proses ikat. Tenunan Hubi
Ae bernuansa warna lebih terang daripada nuansa warna Hubi Iki, terutama untuk para anggota
keluarga Hubi Iki yang nilanya hampir berwarna kehitaman. Jumlah pita polos, disebut roa, dan jenis-
jenis motif yang ada menjadi sangat penting dalam perbedaan dan identitas penanda kain di Sabu.

13. Kain Tenun Rote

Pada dasarnya bentuk motif tenun ikat Rote adalah bangun persegi empat yang disambung-
sambung. Motif utama seluruh Rote terdapat pada kain selimut untuk pria (lafa). Ciri khas
motif Rote terdapat pada kepala selimut (lafa langgak) berupa lambang lilin dan salib
(kepercayaan agama Kristen). Kemudian motif selanjutnya setelah kepala selimut dibedakan
berdasarkan wilayah kerajaan. Motif tenun ikat yang ada di Rote terbagi menjadi 2 aliran
utama yaitu Rote bagian barat (henak anan = anak pandan / hendak) dan Rote bagian timur
(lamak nen = anak belalang). Rote barat meliputi Nusak Ba`a hingga Lelenuk, sedangkan
Rote Timur meliputi Nusak Landu hingga Renggo. Motif Rote Timur terinspirasi dari
makanan belalang berupa daun-daun halus (ngganggu dok = daun kangkung), pada umumnya
motif-motifnya berbentuk jalinan daun-daun kecil (bertalian). Kain tenun rote biasanya
digunakan dalam upacara perkawinan adat Rote, kain tenun untuk busana pengantin, barang
antaran dan penutup tempat sirih saat meminang gadis. Selain itu digunaka Saat upacara
kematian.
14. Kain tenun Belu

Tenunan yang dikerjakan oleh wanita Belu termasuk jenis tenunan ikat, tenunan lotis/sotis
dan buna. Tenunan Belu terdiri dari dua bagian besar yaitu : Tais Futus (tenun ikat bersulam)
dan Tais Soru (kain Tenunan).
Sejak dahulu ada perbedaan motif untuk pakaian sehari-hari dan pakaian pesta antara pria dan
wanita. Pakaian sehari-hari untuk pria adalah kain tenun putih polos atau bergaris hitam putih
tanpa rumbagi. Sedangkan untuk wanita memakai kain tenun berwarna hitam. Pakaian pesta
bagi bangsawan adalah tenun ikat Tais lalawar dan untuk orang kebanyakan Tais Lolo Metan.
Sama seperti di daerah lain,motif kain tenun Belu umumnya kecil dan abstrak. Pada kain
tenun laki-laki motifnya lebih banyak berupa garis fertikal atau tegak lurus yang
melambangkan tanggung jawab seorang laki-laki terhadap kelangsungan hidup keluarga.
Selain itu seorang laki-laki bertanggung jawab untuk menghubungkan keluarganya dengan
sang pencipta. Sedangkan kain perempuan motif kecil-kecil dan bergaris melingkar yang
melambangkan seorang perempuan selalu berada dalam kuasa dan perlindungan seorang laki-
laki.

Anda mungkin juga menyukai