BAB 3
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
3.1 Unit Kerja Penanganan dan Pengambilan Sampel
Penanganan pasien di RSUD Dr. Iskak dibedakan menjadi dua, yaitu rawat
jalan (pasien poli) dan rawat inap (pasien ruangan).
1. Rawat Jalan
Prosedur penanganan untuk pasien rawat jalan :
Pasien terlebih dahulu mendaftar pada loket umum (tanpa BPJS) atau
loket BPJS (pasien BPJS atau ASKES) sehingga pasien mendapatkan
nomor antrian untuk periksa ke poli.
Pasien menuju poli dan diberikan blanko permintaan pemeriksaan
untuk di isi oleh dokter.
Pasien mendaftar ke laboratorium sehingga mendapatkan nomor
antrian, blanko pembayaran pemeriksaan dan nomor laboratorium.
Dilakukan pengambilan sampel pasien sesuai permintaan
pemeriksaan.
Mengerjakan pemeriksaan sampel sesuai permintaan, hasil
pemeriksaan dcopy 2 kali, satu lembar untuk oassien dan satu lembar
untuk diserahkan pada petugas BPJS. Sementara itu pasien membayar
pemeriksaan ke loket bank JATIM yang ada pada Rumah Sakit
sehingga mendapatkan kuitansi.
Kuitansi pembayaran dari bank JATIM digunakan untuk mengambil
hasil pemeriksaan.
24
25
Hasil pemeriksaan dari laboratorium dibawa pasien kembali ke poli
untuk mendapatkan pengobatan atau tindakan lebih lanjut.
2. Rawat Inap
Penanganan sampel rawat inap didahulukan daripada rawat jalan karena
hasil segera ditunggu oleh dokter agar pasien segera mendapatkan penanganan
dan pengobatan dari dokter. Prosedur penanganan untuk pasien rawat inap :
Pada pasien rawat inap, pengambilan sampel dilakukan oleh perawat dari
masing-masing ruangan. Kemudian sampel beserta blanko pemeriksaan
dibawa ke laboratorium.
Blanko diserahkan ke petugas di loket, dilakukan pemberian nomor
laboratorium pada blangko dan sampel yang namanya sesuai blangko,
blangko pemeriksaan dibuatkan kuitansi pembayaran dan diproses sama
seperti pasien poli.
Dilakukan pemeriksaan sesuai dengan permintaan.
Hasil pemeriksaan untuk pasien rawat inap dicetak sebanyak 2 kopi dan
dikumpulkan sesuai dengan ruangan kemudian dicatat pada buku register.
Hasil diambil oleh masing-masing perawat ruangan.
3.2 Pengambilan Sampel
1. Sampel Darah
Spesimen laboratorium berupa darah yang didapatkan, dimasukkan kedalam
tabung vacutainer yang sesuai dengan pemeriksaan yang dikehendaki. Macam-
macam tabung vacutainer di RSUD Dr. Iskak Bojonegoro, antara lain :
Tabung vacuntainer dengan tutup warna ungu
26
Tabung vacutainer dengan tutup berwarna ungu berisi antikoagulan EDTA.
Tabung vacutainer ini digunakan untuk pemeriksaan darah lengkap atau DL,
IgG IgM Dengue, dan HbA1c.
Tabung vacutainer dengan tutup warna biru
Tabung vacutainer dengan tutup berwarna biru berisi antikoagulan Na sitrat
3,2%. Tabung vacutainer ini digunakan untuk pemeriksaan Faal Hemostasis
atau FH.
Tabung vacutainer dengan tutup warna merah atau kuning
Tabung ini tidak berisi antikoagulan. Digunakan untuk pemeriksaan yang
membutuhkan serum, seperti kimia klinik, imunologi, atau pemeriksaan
tumor marker.
Tabung vacutainer panjang dengan tutup warna hijau
Tabung vacutainer dengan tutup berwarna hijau berisi antikoagulan
Heparin. Tabung vacutainer ini digunakan untuk pemeriksaan Blood Gas
Analize atau BGA, troponin T, pro-BNP, dan D-Dimer.
Beberapa cara pengambilan specimen untuk pemeriksaan laboratorium
berupa darah, terdiri dari :
a. Pengambilan Darah Vena/Makrosampling
Alat-alat :
Spuit dan jarum
Torniquet
Vacutainer
Plester
Ackohol swap
27
Prosedur :
1. Nomor spesimen penderita ditandai dengan cermat pada tabung agar tidak
tertukar dengan penderita lain.
2. Peralatan dan bahan yang diperlukan, dipersiapkan sedemikian rupa
sehingga mudah dijangkau dari tempat pengambilan darah.
3. Pembendungan darah dilakukan dengan jalan memasang tourniquet diatas
lipatan lengan penderita kurang lebih 5-7 cm.
4. Pilih vena yang letaknya jelas, mudah teraba dan agak dalam (bukan
dipermukaan).
5. Daerah pemasukan dibersihkan dengan kapas alcohol 70%.
6. Lengan penderita dibawah daerah vena yang akan ditusuk ditekan dengan
ibu jari tangan kiri sampai kulit penderita menjadi tegang.
7. Spuit dipegang pada tabungnya memakai ibu jari dan jari tengah kanan
pada posisi dimana petugas dapat melihat garis garis skala volume spuit
dan lubang jarum menghadap keatas.
8. Dengan gerakan yang langsung (tidak tersendat) tusukan dapat kita
lakukan pada vena sedikit dibawah lipatan lengandengan perhitungan pada
waktu ujung jarum mencapai vena pada lipatan lengan penderita.
9. Tourniquet dilonggarkan pada saat darah memasuki pangkal spuit.
10. Hisapan dilanjutkan pelan-pelan, lebih disarankan sekuat darah keluar
sehingga kita tidak perlu menarik dengan tenaga tambahan.
11. Bila kita sudah mendapat darah sesuai dengan kebutuhan pemeriksaan
yang dikehendaki, tourniquet dilepaskan, luka tusukan ditekan perlahan
28
dengan kapas kering steril, kemudian jarun dilepas dengan gerakan yang
langsung dan cepat.
12. Penderita diminta menekan luka tusukan dengan kapas kering dan beri
plester sampai pendarahan berhenti.
13. Lepaskan jarum dari tabung spuit, kemudian dengan hati hati alirkan
darah dari tabung spuit ke dalam tabung yang udah disiapkan melalui
dinding tabung (untuk pemeriksaan elektrolit tabung tanpa anti koagulan
dan jangan dikocok dan untuk kimia klinik yang lain bisa diberi
antikoagulan). Sedangkan untuk pemeriksaan darah lengkap memakai
botol dengan anti koagulan EDTA. Dan untuk faal hemostasis
(PTT/APTT)darah dituang pada tabung yang sudah diberi Na. Citrate
dengan perbandingan 1:9 (100l Na.Citrate : 1 cc darah).
b. Pengambilan Darah Kapiler/ Mikrosampling
Biasanya pengambilan darah secara mikrosampling digunakan pada saat
pemeriksaan tetes tebal malaria.
Alat-alat :
Blood lancet
Alcohol swap
Obyek glass
Prosedur kerja :
1. Bersihkan daerah pengambilan itu dengan kapas alcohol 70% dan
biarkan sampai kering sendiri.
2. Tangan kanan petugas memegang lancet steril, sedangkan tangan kiri
memegang bagian jari yang akan ditusuk (jari penderita).
29
3. Tusuklah dengan cepat memakai lancet steril, pada jari dengan arah tegak
lurus pada garis garis sidik jari. Tusukan harus cukup dalam, supaya
darah mudah keluar, jangan menekan menekan jari untuk mendapatkan
cukup darah. Darah yang diperas keluar maka akan tercampur dengan
jaringan sehingga menjadi dan menyebabkan kesalahan.
4. Buanglah tetes darah yang pertama keluar dengan memakai kapas kering,
tetes darah berikutnya boleh dipakai.
2. Sampel Urine
Urine pasien ditampung pada wadah yang bersih, kering, bermulut lebar
dan bertutup.
1. Botol urine nomor specimen sesuai dengan nomor blanko pemeriksaan.
2. Botol yang sudah diberi nomor spesimen kemudian diberikan pada pasien.
3. Pasien dianjurkan untuk kencing dan menampung urinenya pada botol
tersebut. Jika sudah ditampung pasien diminta untuk meletakkan botol
urine pada tempat yang sudah disediakan.
Jenis jenis Spesimen Urine
1. Urine sewaktu
Urine yang dikeluarkan pada waktu yang tidak ditentukan (sewaktu
waktu). Digunakan untuk bermacam macam pemeriksaan.
2. Urine pagi
Urine yang pertama kali dikeluarkan pada pagi hari,setelah bangun tidur.
Urine ini sifatnya lebihpekat jika ditentukan berat jenisnya, maka dari
berat jenis ini dapat diketahui keadaan dari ginjal. Urine ini baik
digunakan untukpemeriksaan berat jenis, protein, sedimen.
30
3. Urine puasa
Urine yang dikeluarkan pada pagi hari setelah menajalankan puasa pada
malam harinya (8-10 jam).
4. Urine Post prandil
Urine yang dikeluarkan 2 jam setelah makan. Urine puasa maupun urine
post prandial digunakan untuk pemeriksaan glukosa dalam urine.
5. Urine 24 jam
Urine yang dikumpulkan selama 24 jam (misalnya dari 7 jam pagi sampai
jam 7 keesokan harinya). Urine ini untuk pemeriksaan kuantitatif terhadap
creatinin clearance. Pengumpulan urine 24 jam ini memerlukan
penampung yang besar, yang dapat menampung 3-5 liter urine dan dapat
ditutup dengan rapat.Botolpenampung harus bersih dan memerlukan zat
pengawet.
3. Sampel Sputum
1. Siapkan 3 wadah masing masing diberi kode A: untuk sputum/dahak
sewaktu pasien pertama kali datang, kode B: untuk sputum.dahak pagi
segera setelah bangun tidur, dank kode C : untuk sputum / dahak sewaktu
pasien akan berangkat ke laboratorium patologi klinik.
2. Wadah sputum (bermulut lebar, bersih dan kering) diberi nomor sesuai
dengan nomor specimen pemeriksaan.
3. Wadah yang sudah diberi nomor specimen kemudian diberikan pada
pasien.
31
Pasien dianjurkan untuk menampung dahak pada wadah A yang sudah
diberikode dan nomor spesimen. Sedangkan untuk wadah B dan C yang
sudah diberi kode dan nomor spesimen diserahkan pada besok harinya.
Pelaksanaan pengumpulan dahak SPS
S (Sewaktu);
Dahak diambil pada saat pasien/suspek TB datang berkunjung
pertama kali. Pada saat pulang, membawa 2 wadah dahak
untukmengeluarkan dahak pada hari kedua.
P (Pagi);
Dahak dikumpulkan pada pagi hari kedua, segera setelah bangun
tidur. Wadah dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di
Laboratorium Patologi Klinik.
S (Sewaktu);
Dahak dikumpulkan di laboratorium Patologi Klinik pada hari
kedua, saat menyerahkan dahak pagi.
4. Sampel Faeses
1. Botol/wadah faeces (bermulut besar, bersih dan kering) diberi nomor
sesuai dengan nomor specimen pemeriksaan.
2. Botol yang sudah diberi nomor specimen kemudian diberikan pada pasien.
3. Pasien dianjurkan untuk buang air besar dan menampung faecesnya pada
botil/wadah tersebut. Jika sudah ditampung pasien diminta untuk
meletakkan botol faeces pada tempat yang sudah disediakan.
32
3.3 Hematologi
3.3.1 Laju Endap Darah
Alat :
- Roller alivax 20
Metode :
- Westergreen
Prinsip :
Pengukuran pengendapan sel darah merah menggunakan prinsip gravitasi dan
juga memiliki korelasi tinggi dengan metode Westergren.. Pemeriksaan sampel
selesai dalam waktu kurang lebih 20 detik.
Bahan :
- Darah dengan antikoagulan K3EDTA.
Tujuan :
Untuk memenuhi kebutuhan pemeriksaan laju endap darah secara otomatis, serta
hasil yang cepat dan akurat.
Prosedur :
a. Persiapan alat
1. Menyalakan tombol power pada bagian belakang alat.
2. Jika alat meminta washing, masukkan tabung vacutainer tutup ungu
yang berisi aquades 3 mL pada well nomor 19 dan 20, kemudian tekan
ENTER.
b. Cara Pemeriksaan
1. Tekan angka 1 pada alat.
2. Masukkan nomor identitas sampel kamudian tekan ENTER.
33
3. Tekan START pada alat, dan tunggu sampai proses pemeriksaan
selesai.
4. Jika pemeriksaan selesai tekan ENTER.
5. Kemudian ambil sampel dari alat, dan ambil kertas print out hasil
pemeriksaan.
Nilai Normal :
Dewasa pria : 0 15 mm per jam
Dewasa Wanita : 0 20 mm per jam
Anak anak : 0 10 mm per jam
3.3.2 Pemeriksaan Darah Lengkap
Alat :
- Hematology Analyzer Sysmex XS-800i
Prinsip :
Pembacaan sel-sel darah (leukosit, eritrosit, trombosit dan hemoglobin) dan
pemeriksaan darah lengkap lainnya berdasarkan impedansi, yaitu besarnya
hambatan arus listrik yang mengenai sel-sel darah dan diklasifikasikan sesuai
dengan jenis sel.
Tujuan :
Untuk membantu pemeriksaan darah lengkap dengan kapasitas sampel yang
sangat banyak, pemeriksaan dilakukan secara otomatis, lebih cepat, dan akurat.
Bahan :
- Darah dengan antikoagulan K3EDTA
Prosedur :
1. Klik MANUAL.
34
2. Memasukkan ID pasien yang terdapat pada tabung vacutainer.
3. Memasukkan Nomor Registrasi pasien, Nama, Tanggal Pemeriksaan,
Ruangan/Poli, Alamat, Jenis Kelamin, dan Dokter Penanggungjawab.
4. Menghomogenkan sampel dengan baik dan benar.
5. Memasukkan jarum pada alat untuk menghisap sampel pada vacutainer.
6. Tekan tombol saat terdapat bunyi dan lampu pada alat menyala hijau agar
jarum menghisap sampel pada vacutainer.
7. Lakukan langkah diatas untuk sampel berikutnya.
8. Hasil pemeriksaan akan secara otomotis akan tercetak dalam bentuk print
out.
9. Hasil dapat dilihat pada Sample Explorer atau Data Browser.
10. Untuk sampel yang meminta hanya beberapa jenis pemeriksaan, klik
WORKLIST, kemudian klik REGISTER.
11. Masukkan nomor ID, Pilih FREE SELECT (klik jenis pemeriksaan yang
dikehendaki), Nomor Register, Nama, Tanggal Pemeriksaan,
Ruangan/poli, Alamat, Jenis kelamin, Dokter penanggungjawab, klik OK.
12. Klik MANUAL dan masukkan data seperti langkah nomor 2-9.
3.3.3 Pemeriksaan Masa Protrombin Time (PT) dan Tromboplastin Plasma
Teraktifasi (APTT)
Alat :
- Sysmex Ca-50 series
Prinsip :
Sampel dan reagen akan bereaksi sehingga akan terjadi pembekuan, pembekuan
akan dideteksi berdasarkan kekeruhan sampel (dimana sampel yang membeku
35
akan keruh) secara optikal melalui cahaya dari lampu, dan waktu yang dicapai
dari sampel direaksikan dengan regen sampai terjadinya pembekuan akan
dihitung.
Tujuan :
- Untuk mengetahui adanya gangguan faktor pembekuan darah pada jalur
ekstrinsik, yaitu faktor pembekuan V, VII, X phrothrombine dan
fibrinogen.
- Sebagai tes penyaring utama faktor faktor koagulasi melalui intrinsik
faktor kecuali trombosit dan factor VII.
Bahan :
- Darah dengan antikoagulan natrium sitrat 3,2%.
Prosedur :
1. Sampel darah di sentrifuge hingga terpisah plasma dan sel darahnya.
2. Menarik rak sampel dan meletakkan sampel pada rak yang sesuai
dengan urutan rak yang belum terpakai.
3. Memilih urutan rak sampel dengan menekan tombol pada layar.
4. Memasukkan nomor ID pasien yang sesuai dengan sampel, memilih
jenis pemeriksaan (PT dan APTT), menekan ENTER.
5. Kemudian mendorong rak sampel sesuai tempat yang sebelumnya.
6. Setelah menekan START, dan CONTINUE.
7. Hasil pemeriksaan keluar dari alat berupa print out.
Nilai normal :
PT : 10 14 detik
PT% : 70% - 130%
36
INR : 1,0 1,5
APTT : 22 30 detik
3.3.4 Sediaan Hapusan Darah
Prinsip :
Sediaan hapusan darah yang telah diwarnai dilihat adanya kelainan dalam bentuk
sel darah merah, jumlah sel darah putih, dan keping darah.
Tujuan :
Untuk mengetahui kelainan jenis, bentuk, ukuran, warna, dan jumlah sel darah.
Alat :
1. Obyek glass
2. Micropipette
3. Yellowtype
Bahan :
- Darah dengan antikoagulant K3EDTA
Cara pembuatan :
1. Letakkan 1 tetes darah di obyek glass
2. Buat hapusan dengan object glass yang lain menggunakan sudut 45o
3. Dorong hingga membentuk lidah api
4. Tunggu hingga kering setelah itu dilakukan pengecatan Wright.
5. Sediaan hapusan darah yang telah kering digenangi dengan Cat Wright
sampai menutupi seluruh hapusan, tambahkan aquades pada sediaan sampai
menutup seluh hapusan.
6. Biarkan selama 20 menit.
7. Bilas dengan air mengalir sampai bersih dari sisa cat.
37
8. Keringkan sediaan kemudian dilakukan penilaian menggunakan mikroskop.
3.3.5 Pemeriksaan Retikulosit
Metode :
- Sediaan cara basah
Prinsip :
Presentase reikulosit terhadap seluruh eritrosit yang beredar dalam sirkulasi darah
dihitung, dengan melihat tanda-tanda khusus berupa benang-benang filamen sisa-
sisa RNA yang dapat terlihat melalui pewarnaan supravital.
Tujuan :
Menghitung persentase retikulosit pada hapusan darah cara basah.
Bahan :
- BCB 1%
Alat :
Mikroskop
Obyek glass
Yellow tipe
Cover glass
Prosedur :
1. Mengambil 5L reagen BCB 1% menggunakan mikropipet.
2. Mengambil 5L darah menggunakan mikropipet.
3. Menghomogenkan dengan pengaduk sampai rata.
4. Menutup dengan cover glass.
5. Menunggu preparat kering.
6. Setelah kering menutup preparat dengan tissue.
38
7. Membaca preparat dengan mikroskop perbesaran obyektif 100x yang
sebelumnya dengan oil imersi.
8. Mengitung jumlah retikulosit dengan 1000 eritrosit.
Nilai Normal : 8 - 15 %
3.4 Pemeriksaan Kimia Klinik
3.4.1 Pemeriksaan Kimia Darah
1. Cobas c 311
Alat :
- Cobas c 311
Prinsip :
Teknik pemeriksaan kimia darah dengan pembacaan berdasarkan
spektrofotometer dan prinsip pemeriksaan masing-masing parameter berdasarkan
dari reagen yang digunakan, dimana reagen yang digunakan harus sesuai dari alat
yang digunakan.
Tujuan :
Untuk mendukung pemeriksaan kimia klinik dengan waktu yang cepat, hasil yang
akurat, dan mudah dikerjakan.
Bahan :
- Darah dengan tanpa antikoagulan tabung vacutainer tutup kuning atau
merah
- Darah dengan vacutainer tutup ungu untuk pemeriksaan HbA1c
Jenis-jenis pemeriksaan
a. Glukosa darah
Glukosa puasa
39
Glukosa 2 jam PP
HbA1c
Si TiBC
b. Profil Lipid
Cholesterol total
LDL
HDL
Trigliserida
Gama GT
c. RFT (Renal Function Test)
BUN
Uric Acid
Kreatinin
d. LFT (Liver Function Test)
SGOT (Serum Glutamik Oksaloasetik Transaminase)
SGPT (Serum Glutamik Piruvic Transaminase)
Bilirubin Total
Bilirubin Direct
ALP (Alkali phospatase)
e. Elektrolit
Natrium
Kalium
Calsium
Chlorida
40
Phospor
f. Total protein
Total protein
Albumin
Globulin
g. Jantung
CK
CK-MB
LDH
Prosedur :
1. Klik Test Selection
2. Masukkan nomor rak yang kosong, nomor ID pasien, dan jenis pemeriksaan.
3. Klik Demographic utuk memasukkan identitas pasien
a. Jenis kelamin
b. Umur
c. Nama pasien
d. Nomor registrasi
e. Ruangan/poli
4. Kemudian klik OK dan SAVE
5. Setelah alat stanby atau sampling stop, masukkan sampel dalam rak yang
sesuai dengan nomor yang sudah ditentukan sebelumnya.
6. Klik START
7. Hasil pemeriksaan akan keluar dalam layar dan akan tercetak berupa print out.
41
2. Selectra xl
Prinsip :
Teknik pemeriksaan kimia darah dengan pembacaan berdasarkan
spektrofotometer dan dengan tampilan touch screen dan mampu melakukan
pemeriksaan 400 tes per jam.
Tujuan :
Untuk mendukung pemeriksaan kimia klinik dengan waktu yang cepat, hasil yang
akurat, dan mudah dikerjakan.
Bahan :
- Darah dengan tabung vacutainer tutup kuning atau merah
Jenis-jenis pemeriksaan:
a. Glukosa darah
Glukosa puasa
Glukosa sewaktu
Glukosa 2 jam PP
b. Profil Lipid
Cholesterol total
LDL
HDL
Trigliserida
c. RFT (Renal Function Test)
BUN
Uric Acid
Kreatinin
42
d. LFT (Liver Function Test)
SGOT (Serum Glutamik Oksaloasetik Transaminase)
SGPT (Serum Glutamik Piruvic Transaminase)
Bilirubin Total
Bilirubin Direct
Bilirubun Indirect
e. Total Protein
Total protein
Albumin
Globulin
Prosedur :
1. Klik icon Request sample pada layar, untuk permintaan pemeriksaan
sample.
2. Pada layar akan muncul sample ID, nama pasien, jenis kelamin, ruang
pengirim sampel, dan type sample sebagai identitas sample.
Type sample terbagi dalam 6 macam yaitu:
a. Pediatric (jika sampel berasal dari bayi)
b. Stat (jika sample harus diperiksa lebih dulu dari sample yang lain atau
CITO)
c. Control
d. Calibrate
e. Blank
f. Normal (jika sample tidak memiliki ketentuan apapun atau berasal
dari anak dan orang dewasa)
43
3. Beri tanda pada pemilihan parameter pemeriksaan yang diminta oleh
pengirim.
4. Klik New sample jika terdapat permintaan pemeriksaan dari pasien yang
berbeda atau untuk menambah pemeriksaan dengan sample yang berbeda.
5. Klik Sample handing untuk melihat lubang mana yang telah diisi dan
mana yang masih kosong serta untuk melihat posisi nomer dan sample
mana yang telah selesai diperiksa.
6. Klik 2x atau enter untuk memberi nomer urut sample pada lubang kosong
yang terdapat di alat, maka sample yang akan diperiksa harus diletakkan
pada lubang yang sesuai dengan nomer tersebut.
7. Alat akan memproses sample dalam beberapa menit.
8. Klik Evaluate sample untuk melihat hasil pemeriksaan.
9. Hasil pemeriksaan yang telah muncul pada layar, kemudian di cetak
dengan klik icon print dan pilih print with setup (Alt+F1) hasil akan keluar
berupa hardcopy dan tersimpan dalam computer berupa soft file.
3.4.2 Pemeriksaan Jantung
Alat :
- Roche Cobas h 232
Tujuan :
Untuk pemeriksaan jantung memungkinkan penentuan kuantitatif troponin T, NT-
proBNP, CK-MB (mass), mioglobin, D-dimer
Bahan :
- Darah dengan vacutainer tutup hijau antikoagulan heparin.
44
Prosedur :
1. Troponin T (Roche CARDIAC T Quantitative)
Prinsip :
Roche Jantung T uji kuantitatif berisi dua antibodi monoklonal spesifik untuk
troponin T jantung (cTnT): satu emas - label, yang terbiotinilasi lainnya. Antibodi
membentuk kompleks roti dengan cTnT dalam darah. Setelah eritrosit
penghapusan dari sampel, plasma melewati zona deteksi di mana cTnT kompleks
roti emas berlabel menumpuk dan sinyal positif ditampilkan sebagai garis
kemerahan (garis sinyal). Kelebihan antibodi emas berlabel menumpuk di
sepanjang garis kontrol, menandakan bahwa tes itu valid. Intensitas garis sinyal
meningkat sebanding dengan konsentrasi troponin T. Sistem optik COBAS h 232
instrumen mendeteksi dua baris dan mengukur intensitas garis sinyal. Perangkat
lunak terintegrasi mengubah intensitas sinyal untuk hasil kuantitatif dan
menunjukkan hal itu di layar.
Penyimpanan dan stabilitas
Sampai dengan tanggal kedaluwarsa tercetak pada 2 8oC. Sampai dengan 1
minggu pada suhu kamar ( 15 25oC ). Tes ini dapat digunakan segera setelah
pengangkatan dari kulkas. Tes harus digunakan dalam waktu 15 menit setelah
kantong telah dibuka. Contoh stabilitas : 8 jam pada suhu kamar. Jangan
mendinginkan atau membekukan sampel.
Interpretasi hasil
Pola khas naik dan turun bersama-sama dengan ketinggian konsentrasi T troponin
di atas batas deteksi tes sebesar 50 ng / L dianggap sebagai MI akut , jika salah
satu tambahan dari beberapa kriteria untuk bukti iskemia miokard seperti yang
45
diberikan dalam Universal definisi Mycordial infark adalah fulfilled.Result < 50
ng / L : Karena kinetika pelepasan troponin T , bahkan akibat dari kurang dari 50
ng / L tidak mengesampingkan infark jantung dari kerusakan sel mycordial
dengan pasti . Jika dicurigai infark terus berlanjut , tes harus diulang pada interval
waktu yang tepat sesuai dengan panduan dari masyarakat kardiologi profesional.
Hasil T troponin kurang dari 50 ng / L tidak boleh digunakan sebagai kriteria
diagnostik tunggal .
2. NT-pro BNP
Prinsip :
Tes berisi satu monoklonal dan satu antibodi poliklonal terhadap epitop dari
molekul NT - proBNP yang satu adalah label dan lainnya terbiotinilasi. Antibodi
membentuk kompleks sandwich dengan NT - proBNP dalam darah . Setelah
penghapusan eritrosit dari sampel , plasma melewati zona deteksi di mana NT-
proBNP kompleks berlabel menumpuk dan sinyal positif ditampilkan sebagai
garis kemerahan (garis sinyal). Kelebihan antibodi berlabel menumpuk di
sepanjang garis kontrol, menandakan bahwa tes itu valid. Intensitas garis sinyal
meningkat sebanding dengan konsentrasi NT - proBNP. Sistem optik COBAS h
232 instrumen mendeteksi dua baris dan mengukur intensitas garis sinyal.
Perangkat lunak terintegrasi mengubah intensitas sinyal untuk hasil kuantitatif dan
menunjukkan hal itu di layar.
Penyimpanan dan Stabilitas
Sampai dengan tanggal kedaluwarsa tercetak pada suhu 2-8 C. Sampai dengan 1
minggu pada suhu kamar (15-25 C). Tes ini dapat digunakan segera setelah
pengangkatan dari kulkas. Tes harus digunakan dalam waktu 15 menit setelah
46
kantong telah dibuka. Stabilitas sampel : 8 jam pada suhu kamar. Jangan
mendinginkan atau membekukan sampel.
Interpretasi hasil
NT - proBNP konsentrasi Result ditampilkan
Kurang dari 60pg/mL " proBNP < 60 pg/mL "
Antara 60pg/mL dan 9000 pg/mL
misalnya " proBNP 2000 pg/mL " "
lebih besar dari 9000 pg/mL
proBNP >9000 pg/mL "
Ketika konsentrasi diukur secara signifikan lebih tinggi dari 9000 pg/mL,
menampilkan instrumen " proBNP > 9000 pg/mL " setelah 5 menit. Pengukuran
rentang 60-9000 pg/mL.
3. D-dimer
Prinsip :
Tes ini berisi dua antibodi monoklonal terhadap produk degradasi fibrin yang
mengandung elemen struktur d-dimer. Salah satu antibodi adalah berlabel emas,
yang lain biontinylated. Antibodi membentuk kompleks sandwich dengan d-
dimer. Setelah penghapusan eritrosit dari sampel, plasma melewati zona deteksi di
mana d-dimer kompleks roti emas berlabel menumpuk dan sinyal positif
ditampilkan sebagai garis kemerahan ( garis sinyal ). Kelebihan antibodi emas
berlabel menumpuk di sepanjang garis kontrol, menandakan bahwa tes itu valid.
Intensitas garis sinyal meningkat sebanding dengan konsentrasi d-dimer . Sistem
optik COBAS h 232 instrumen mendeteksi dua baris dan mengukur intensitas
garis sinyal. Perangkat lunak terintegrasi mengubah intensitas sinyal untuk hasil
kuantitatif dan menunjukkan hal itu di layar .
47
Penyimpanan dan Kestabilan Reagen
Sampai dengan tanggal kedaluwarsa tercetak pada 2-8oC. Sampai dengan 1
minggu pada suhu kamar (15-25oC). Tes ini dapat digunakan segera setelah
pengangkatan dari kulkas. Tes ini dapat digunakan dapat digunakan dalam waktu
15 menit setelah kantong telah dibuka. Stabilitas Contoh : 8 jam pada suhu kamar.
Jangan refrigate atau membekukan sampel.
Interpretasi hasil
Rentang pengukuran : 0,1-4 mg / mL
Kisaran normal untuk tes Roche JANTUNG D-Dimer termasuk nilai-nilai sampai
dengan 0,5 mg/ mL harus dianggap sebagai patologis tinggi. Setiap laboratorium
harus menyelidiki pengalihan nilai-nilai yang diharapkan untuk pasien sendiri
populationand jika perlu menentukan rentang referensi sendiri
Prosedur Pemeriksaan
1. Memasukkan chip reagen yang sesuai pemeriksaan
2. Menyalakan alat
3. Membuka kemasan strip reagen
4. Memasukkan reagen strip pada alat
5. Memasukkan sampel sebanyak 150 L pada sumuran sampel
6. Menunggu hasil pembacaan alat selama 15 menit
7. Hasil pemeriksaan akan muncul pada layar alat
8. Mengeluarkan strip reagen dari alat
3.4.3 Pemeriksaan Blood Gas Analizer
Alat :
- Cobas b 121
48
Prinsip :
Menggunakan metode ISE dimana menggunakan electrode untuk pembacaan hasil
pada sampel.
Tujuan :
Untuk pemeriksaan gas darah secara kuantitatif meliputi pH, PO2, PCO2, SO2,
BE, HCO3, dan TCO3.
Bahan :
- Darah dengan tabung vacutainer tutup hijau koagulan heparin.
Prosedur :
1. Mengambil darah dari tabung vacutainer menggunakan spuit, usahakan
tidak ada udara yang ikut masuk dalam spuit.
2. Memasukkan nomor ID pasien di bagian Sample ID.
3. Masukkan sampel pada alat dengan menyedotkan sampel yang ada pada
spuit dengan jarum yang di alat sampai terdengar bunyi dan layar muncul
tanda Close flap
4. Memasukkan Nama pasien, Jenis kelamin, Temperatur ruangan, dan Nilai
Oksigen (jika pasien menggunakan masker oksigen)
5. Menunggu hasil pemeriksaan yang akan muncul dalam bentuk print out.
Nilai normal
- PH = 7,350 7,450
- PO2 = 80,0 100,0 mmHg
- PCO2 = 35,0 45,0 mmHg
- SO2 = 75,0 99,0
- BE =+2
49
- HCO3 = 23 27 mmol/L
- TCO3 = 23- 29 mmol/L
3.5 Pemeriksaan Immunologi
1. Pemeriksan dengan alat mini-Vidas
Metode :
- Imunnoassay
Prinsip :
Mini-Vidas adalah imunnoassay analizer yang bekerja secara otomatis dengan
menggunakan teknologi pembacaan Enzyme-Linked Flouroscene Immuno-Assay
(ELFA). Sampel dan reagen ditempatkan dalam Reagent Strip siap pakai dan solid
phase berupa Solid Phase Receptacle (SPR). Proses pengetesan dilakukan secara
otomatos dan hasil pembacaan Flouroscent yaitu Relative Flouroscent Value
(RFV) akan dikonversikan menjadi hasil akhir tes kualitatif maupun kuantitatif.
Bahan :
- Serum
Jenis-jenis pemeriksaan:
a) Tiroid
- TSH
- FT3
- FT4
- T3
- T4
b) Tumor marker
- CEA
50
- CA-125
- AFP
- PSA
- HAV
Prosedur :
A. Running Kalibrasi dan Kontrol
1. Nyalakan alat dengan menekan Power Switch sehingga muncul
menu utama
2. Letakkan reagen strip pada section yang dikehendaki (A atau B)
3. Pilih status Screen
4. Pilih section yang dikehendaki (misalnya section A)
5. Pilih posisi A1 (dengan menekan angka 1 pada keypad). Untuk posisi
berikutnya misalnya A2 dapat dipilih dengan menekan angaka 2 pada
dan begitu juga seterusnya.
6. Untuk running standar atau kalibrasi pilih S dan angka 1 pada keypad
(S1 run duplo atau triplo sesuai prosedur), tekan enter atau jika S2
harus running. Pilih S dan angka 2 pada keypad (S2 run duplo atau
triplo sesuai prosedur), tekan enter.
7. Untuk running kontrol untuk kontrol C1 pilih C dan angka 1 pada
keypad, tekan enter. Untuk kontrol C2 pilih C dan angka 2 pada
keypad, tekan enter.
8. Tekan previous scren
9. Tekan tombol start.
51
B. Running Start
1. Nyalakan alat dengan menekan Power Switch sehingga muncul
menu utama
2. Letakkan reagen strip dan SPR pada section yang dikehendaki
(misalnya section A)
3. Pilih Start section
4. Pilih section yang dikehendaki (A atau B)
5. Pilih user ID
6. Mini vidas akan segera running, Identitas sampel dapat dimasukkan
selagi alat running.
2. Pemeriksaan Golongan Darah (GOLDA)
Metode :
- Slide Test
Prinsip :
Pemeriksaan golongan darah yang di dasarkan pada aglutinasi yang terjadi pada
Anti A, Anti B, dan Anti D. Apabila darah sampel mengalami aglutinasi dengan
salah satu dari Anti A, Anti B, dan Anti D, maka hasil aglutinasi merupakan hasil
dari golongan darah pasien.
Alat :
1. Obyek glass
2. Pengaduk
3. Micropipet
4. Yellow tipe
52
Reagensia :
1. Anti A
2. Anti B
3. Anti D
Bahan :
- Darah dengan antikoagulan K3EDTA.
Prosedur :
1. Menyipkan obyek glass
2. Memipet darah masing-masing 5 l, letakkan darah pada obyek glass
3. Teteskan masing-masing 1 tetes reagent golongan darah
4. Aduk atau campur darah dengan reagen sampai homogen
5. Goyang-goyangkan dan amati 1 2 menit ada tidaknya aglutinasi
Interpretasi Hasil :
Golongan darah A : Terjadi aglutinasi pada antigen A
Golongan darah B : Terjadi aglutinasi pada antigen B
Golongan darah AB : Terjadi aglutinasi pada antigen A dan B
Golongan darah O : Tidak terjadi aglutinasi
Rhesus positif : Terjadi aglutinasi pada antigen D
Rhesus negatif : Tidak terjadi aglutinasi pada antigen D
3. Pemeriksaan NS 1 Dengue
Metode :
- Rapid Test
53
Prinsip :
Antigen NS1 mengikat kompleks koloid emas yang mengandung antibodi anti-
NS1. Kompleks imun ini ditangkap oleh antibodi anti-NS1 bergerak dalam garis
melintasi membran dipstick untuk memberikan garis merah muda terlihat.
Bahan :
- Serum
Penyimpanan dan Kestabilan Reagen:
Menyimpan kit pada suhu 2 dan 8oC, temperatur ruang penyimpanan harus
konstan untuk menjaga kestabilan sampai tanggal berakhirnya kit. Lihat label
paket untuk tanggal kadaluwarsa. Jangan membekukan komponen kit. Tes kit
dapat digunakan sampai tanggal kadaluwarsa yang tertera pada label kemasan.
Prosedur :
Catatan : memastikan semua reagen memiliki suhu kamar, suhu (20-25oC)
sebelum pengujian dilakukan. Mengeluarkan dipstick dari kantong hanya sebelum
pemakaian. Satu garis biru (garis kontrol) akan terlihat pada dipstick.
1. Menambah 50 L serum ke tabung uji yang disediakan
2. Menambahkan 25 L Running Buffer ke tabung reaksi
3. Menambahkan 25 L Gold Conjugate ke tabung uji (sebelum
menambahkan, pastikan konjugat dicampur secara menyeluruh dengan
membalik botol beberapa kali).
4. Mencampur reagen perlahan dengan menekan tabung uji.
5. Masukan dipstick ke dalam tabung tes untuk menyentuh bagian bawah.
Mulai timer.
54
6. Baca hasilnya tepat 15 menit setelah menambahkan dipstick ke tabung
reaksi
Jejak garis merah muda di daerah uji menunjukkan hasil yang positif.
7. Setiap hasil yang dibaca setelah 15 menit dianggap tidak sah dan harus
diulang.
Interpretasi hasil :
Positif
Band merah muda muncul di uji dan daerah kontrol. Tes ini positif untuk
NS1 antigen dengue.
Negatif
Sebuah band merah muda muncul di daerah kontrol saja. Tidak terdeteksi
dengue NS1 antigen dengue.
Tidak valid
Tidak ada band merah muda muncul di daerah kontrol. Tes ini tidak sah dan
harus diulang
8. Pemeriksaan IgG IgM Dengue
Metode :
- Rapid Test
Prinsip :
Tes SD BIOLINE IgG/IgM dengue dirancang untuk mendeteksi secara bersamaan
dan membedakan IgG dan IgM antibodi terhadap virus dengue (den 1,2,3 dan 4)
dalam serum atau plasma manusia. Tes ini juga dapat mendeteksi semua 4
serotipe dengue dengan menggunakan campuran rekombinan dengue amplop
protein. Kedua monoklonal tikus anti-human IgG dan IgM pada membran dan
55
envelope protein gold virus dengue akan bereaksi secara spesifik dengan IgG dan
IgM antibodi terhadap virus dengue dari serum atau plasma manusia. Perangkat
tes SD BIOLINE IgG/IgM memiliki 3 garis, "G" (garis uji dengue IgG), "M"
(garis uji dengue IgM), "C" (garis kontrol) pada permukaan perangkat. "Garis
Kontrol" digunakan untuk kontrol prosedural. Garis kontrol harus selalu muncul
jika prosedur tes dilakukan dengan benar dan reagen uji garis kontrol bekerja. Jika
antibodi IgG dan / atau IgM terhadap virus Dengue tidak terdapat sampel, maka
tidak ada warna yang muncul dalam "G" dan / atau "M". Monoklonal tikus anti-
dengue Ab-colloidal gold terkonjugasi sehingga akan bereaksi dengan virus
dengue dalam blok virus dan membentuk kompleks antibodi - antigen. Karena
akan terus bergerak sepanjang strip secara kompleks dengan kapiler, maka akan
bereaksi dengan Anti - Dengue IgG dan IgM dalam garis tes dan menghasilkan
garis berwarna.
Tujuan :
Untuk mendeteksi adanya virus dengue pada sampel yang akan bereaksi dengan
Anti - Dengue IgG dan IgM.
Bahan :
- Plasma atau serum
Prosedur :
1. Biarkan semua komponen kit dan spesimen dalam suhu kamar sebelum
pengujian.
2. Lepaskan perangkat uji dari kantong foil , letakkan di permukaan yang
datar dan kering.
56
3. (menggunakan pipet kapiler) dengan pipet kapiler 5l, tambahkan 5l
serum atau plasma spesimen hingga garis hitam kemudian teteskan pada
daerah yang berbentuk persegi dengan tepat pada tanda "S" atau
(Menggunakan mikropipet) tambahkan 5l serum atau plasma specimen
dengan memipet ke dalam sampel kemudian teteskan pada daerah yang
berbentuk persegi dengan tepat pada tanda "S".
4. Tambahkan 3 tetes ( sekitar 90-120 l) buffer pada daerah yang berbentuk
bulat.
5. Membaca hasil tes antara 15-20 menit.
Perhatian : Jangan membaca hasil tes setelah 20 menit. Pembacaan lebih dari 20
menit dapat memberikan hasil yang palsu.
Interpretasi hasil
1. Negatif
Garis kontrol hanya terlihat pada perangkat uji. IgG dan IgM tidak terdeteksi.
Tes ulang dalam 3-5 hari jika infeksi dengue dicurigai.
2. IgM Positif
Garis kontrol (C) dan garis IgM (M) yang terlihat pada perangkat uji. Ini positif
untuk antibodi IgM terhadap virus Dengue. Ini merupakan indikasi dari infeksi
dengue primer.
3. IgG Positif
Garis kontrol (C) dan garis IgG (G) yang terlihat pada perangkat uji. Ini positif
untuk antibodi IgG. Ini merupakan indikasi infeksi dengue sekunder atau
sebelumnya.
57
4. IgG dan IgM Positif
Garis kontrol (C), IgM (M) dan garis IgG (G) yang terlihat pada perangkat uji.
Ini positif untuk kedua antibodi IgM dan IgG. Ini merupakan indikasi dari
infeksi dengue sekunder primer atau awal akhir.
5. Invalid
Garis kontrol gagal untuk muncul. Volume specimen tidak cukup atau teknik
prosedural yang salah adalah alasan paling mungkin untuk kegagalan garis
kontrol. Ulangi tes menggunakan perangkat pengujian baru.
9. Pemeriksaan Widal
Metode :
- Aglutinasi
Prinsip :
Terjadi reaksi aglutinasi antara antigen bakteri Salmonella sp. yang terdapat
dalam reagen dengan antibody yang terdapat dalam serum pasien.
Tujuan :
Untuk mengetahui diagnosa penyakit typus secara semikuantitatif.
Bahan :
- Serum
- Antigen H
- Antigen O
- Antigen AO
- Antigen BO
Alat :
- Obyek glass
58
- Mikropipet
- Yellow tip
- Mikroskop
- Pengaduk
Prosedur :
1. Menyiapkan obyek glass dan mikropipet
2. Memipet serum sebanyak 5L sebanyak 4 kali dan meneteskan pada
obyek glass.
3. Meneteskan 1 drop dari keempat reagen Antigen H, Antigen O,
Antigen AO, Antigen BO secara berturut-turut di dekat serum yang
sudah diteteskan sebelumnya.
4. Mengaduk masing-masing reagen dan serum dengan pengaduk yang
berbeda-beda.
5. Menggoyangkan obyek glass selama 2 menit.
6. Melihat aglutinasi dengan melihat preparat di mikroskop dan
menentukan titer aglutinasi.
Interpretasi hasil
(-) : Tidak terjadi aglutinasi
(1/40) : Terjadi sedikit aglutinasi
(1/80) : Terjadi aglutinasi kecil kecil
(1/160) : Terjadi aglutinasi di seluruh lapang pandang. Dapat
dikatakan aglutinasi dua kali aglutinasi 1/80.
59
(1/320) : Terjadi aglutinasi di seluruh lapang pandang. Dapat
dikatakan aglutinasi dua kali aglutinasi 1/60 atau bisa
lebih.
10. Pemeriksaan IgG IgM Salmonella
Metode :
- Reaksi inhibisi
Prinsip :
Mendeteksi adanya antibodi dalam serum pasien dengan menilai kemampuan
mereka untuk menghambat reaksi antara antigen yang melapisi reagen coklat dan
reagen biru yang dilapisi antibodi. Tingkat penghambatan sebanding dengan
konsentrasi antibodi dalam sampel. Pemisahan diaktifkan oleh gaya
magnet. Hasilnya dibaca secara visual menggunakan skala warna.
Bahan :
- Serum
Penyimpanan dan Kestabilan Reagen
Kit reagen disimpan pada suhu 2-8OC. Jangan dibekukan! Penyimpanan reagen
dalam keadaan tegak dalam wadah aslinya jika tidak digunakan.
Prosedur :
1. Letakkan Well Strip TUBEX TF untuk melakukan reaksi, dimulai dari
sumuran sampel awal. Tambahakan 45 L TUBEX TF reagen coklat
didalam sumur.
2. Tambahkan 45 L sampel, TUBEX TF kontrol positif atau TUBEX TF
kontrol negatif untuk dicampurkan dalam sumur, dan hati-hati campur
60
dengan menggunakan pipet selama 5-10 menit. Jangan sampai tumpah.
Gunakan pipet yang baru.
3. Inkubasi selama 2 menit.
4. Tambahkan 90 L TUBEX TF reagen biru pada setiap sumur.
5. Tutup TUBEX TF, kocok dengan menggunakan tangan selama 2 menit.
6. Letakkan Well Strip TUBEX TF dalam TUBEX COLOR standart warna.
Inkubasi selama 5 menit dan cocokan warnanya.
Interpretasi hasil :
Score Interpretasi hasil
Negative tidak ada indikasi infeksi demam
tipoid.
0-2
TUBEX TF kontrol negatif.
Skor meyakinkan. Mengulang ujian atau
menggunakan Tubex TF Wash Buffer. Jika masih
2-4
tidak meyakinkan, ulangi pemeriksaan sampel di
kemudian hari.
Positif nilai tinggi menunjukkan adanya indikasi
4-10 infeksi demam tipoid.
TUBEX TF kontrol positif.
Tidak ada nilai yang jelas yang diperoleh karena :
1. Ketidakpatuhan terhadap protokol assay.
Analisis diulangi.
Tidak tentu
2. Kualitas spesimen rendah. Ulangi pengambilan
sampel dan analisis menggunakan Tubex Wash
Buffer
11. Pemeriksaan ICT Malaria (Plsmotec Malaria-3)
Metode :
- Imunnokromatografi
Prinsip :
Plasmotec Malaria-3 menggunakan prinsip lateral immunochromatography aliran.
Sebagai sampel uji mengalir melewati uji dan kontrol membran setelah
61
penambahan buffer kliring, konjugat emas koloid monoklonal anti P.falciparum
HRP-2 antibodi (anti Pf HRP-2 mAbs), monoklonal anti P.vivax spesifik antibodi
pLDH (anti Pv pLDH mabs), monoklonal antibodi anti Pan pLDH spesifik (anti
Pan pLDH mAbs) dan anti kelinci igG konjugat emas koloid membentuk
immunocomplexes sesuai dengan HRP-2 dan / atau pLDH (s) ketika menyajikan
atau mereka dalam sampel segaris. Immunocomplexes ini bergerak lebih jauh
pada membran untuk menguji area di mana masing-masing bergerak dengan
monoclonal anti Pf HRP-2 mAbs dilapisi ke membran pada uji wilayah Pf, anti Pv
pLDH mAbs dilapisi ke membran pada uji wilayah Pv, dan anti Pan pLDH mAbs
dilapisi pada membran di tes wilayah Pan mengarah ke pembentukan pita
berwarna merah muda-ungu di garis daerah masing-masing yang menegaskan
hasil tes positif. Tidak adanya garis berwarna di daerah uji menunjukkan hasil tes
negatif. The immunocompexes tersisa bersama dengan anti kelinci igG konjugat
koloid emas bergerak lebih jauh yang kemudian bergerak dengan anti kelinci igG
antibodi dilapisi membran pada area kontrol, membentuk garis merah muda-ungu
melakukan tes dengan benar.
Tujuan :
Untuk mengetahui adanya antibodi terhadap Plasmodium falciparum dan
Plasmodium vivax.
Bahan :
- Darah dengan vacutainer ungu.
62
Penyimpanan dan Kestabilan Reagen
Kit uji dapat disimpan antara 2-30OC atau bahkan stabil sampai 45OC sampai
tanggal kadaluarsa seperti yang ditunjukkan pada kantong / outerbox. JANGAN
DIBEKUKAN.
Prosedur :
1. Bawa Plasmotec MALARIA-3 komponen kit sampai suhu kamar
setidaknya 30 menit sebelum pengujian jika disimpan di kulkas.
2. Buka kantong dan mengambil perangkat, lingkaran sampel dan pengering.
Catatan: warna cek pengering tersebut. Harus berwarna biru. Jika telah
berubah berwarna atau merah muda, buang perangkat dan gunakan
perangkat lain. Setelah dibuka, perangkat harus segera digunakan.
3. Kencangkan botol buffer kliring yang disediakan dengan kit dalam arah
searah jarum jam untuk menembus nozzle botol penetes.
4. Secara merata mencampur sampel darah digumpalkan anti dengan
berputar-putar lembut. Celupkan loop sampel ke dalam loop sampel ke
sampel. Memastikan bahwa loop penuh darah diambil, noda darah
sehingga dikumpulkan pada tempat sampel di pelabuhan sampel 'A' pada
posisi lingkaran sekitar 45OC. (ini memberikan sekitar 5 ml dari spesimen
darah utuh).
Atau
Dapat juga dengan menggunakan mikrosampling, sentuh loop sampel
darah pada tusukan jari. Memastikan bahwa loop penuh darah. Segera
noda spesimen pada tempat sampel dalam sampel pelabuhan 'A' di
63
lingkaran posisi sekitar 45OC. (perawatan harus diambil bahwa sampel
darah belum menggumpal untuk mentransfer ke sampel pad segera).
Atau
Juga bisa menggunakan 5 ml mikropipet bukan loop sampel.
5. Segera mengeluarkan 3 tetes buffer kliring ke port 'B', dengan memegang
botol penetes plastik vertikal kemudian menunggu selama 1 menit
tambahkan 3 tetes membersihkan penyangga lagi ke port 'B'.
6. Baca hasil dalam waktu 30 menit untuk mendapatkan latar belakang
dibersihkan dari hasil window.
Jangan membaca hasil setelah 45 menit.
Interpretasi hasil
Positif untuk malaria:
1. Infeksi plasmodium falciparum:
Satu garis merah muda-ungu muncul di Pf dan Pan daerah masing-masing
dan satu garis merah muda-ungu di daerah kontrol (C).
2. Infeksi plasmodium vivax:
Satu garis merah muda-ungu muncul di Pv dan Pan daerah masing-masing
dan satu garis merah muda-ungu di daerah kontrol (C).
64
3. Infeksi spesies malaria lainnya:
Satu garis merah muda-ungu hanya muncul di Pan daerah dan satu merah
muda-ungu line di area kontrol (C).
4. Infeksi campuran:
Satu garis merah muda-ungu muncul di Pf, Pv dan Pan daerah masing-
masing dan satu garis merah muda-ungu di daerah kontrol (C).
5. Abu-abu Zona
Satu atau dua atau tiga pita smear (s) tapi Clor tidak merah muda-ungu di
Pf dan / atau Pv dan / atau Pan daerah dan satu merah muda-ungu band di
area kontrol (C).
Negatif untuk malaria:
Hanya satu merah muda-ungu garis muncul di daerah kontrol (C).
Hasil tidak valid:
Jika dalam waktu 30 menit ada garis yang terlihat pada jendela kontrol, hasilnya
dianggap tidak sah. Tes harus diulang kembali dengan perangkat baru.
65
12. Pemeriksaan HbsAg
Metode :
- Rapid Test
Prinsip :
Tes One Step HBsAg adalah antibodi sandwich immunoassay. Koloid
terkonjugasi monoklonal antibody reaktif terhadap HBsAg kering - menghambat
membran nitroselulosa pada strip. Ketika sampel ditambahkan, akan bergerak
melalui difusi kapiler melalui strip rehidrasi konjugat. Jika ada, HBsAg akan
mengikat antibodi terkonjugasi untuk membentuk partikel-partikel. Partikel-
partikel ini akan terus bergerak sepanjang strip sampai Zona Test (T) di mana
mereka ditangkap oleh antibodi anti HBs yang bergerak pada strip dan garis
merah terlihat muncul. Jika tidak ada HBsAg dalam sampel, tidak ada garis merah
yang akan muncul di zona T.
Untuk mengontrol proses internal band control harus selalu dilihat setelah tes
selesai. Tidak adanya garis kontrol berwarna di daerah kontrol merupakan
indikasi hasil yang tidak valid. Batas deteksi untuk Uji Device One-Step HBsAg
adalah 1ng/ml. sampel darah yang sama dengan atau lebih besar dari 1ng/ml akan
diuji positif.
Tujuan :
Untuk menunjang pemeriksaan terhadap antibodi dari virus Hepatitis B pada
darah pasien.
Bahan :
- Serum
66
Prosedur :
1. Lepaskan perangkat tes dari kantong yang disegel dengan merobek pada
bagian pembuka. Kemudian letakkan perangkat tes pada permukaan yang
rata.
2. Memegang pipet sampel secara vertikal, tambahkan empat tetes penuh
(0,2 ml) spesimen tanpa gelembung udara ke dalam sampel sumur yang
ditandai dengan panah pada perangkat tes.
3. Membaca hasilnya dalam 15 menit. Pastikan bahwa latar belakang dari
area percobaan putih sebelum menafsirkan hasilnya. Jangan
menginterpretasikan hasil setelah 30 menit.
Interpretasi hasil
Negatif
Sebuah pita berwarna merah muda muncul hanya di daerah kontrol.
Positif
Sebuah band kontrol merah muda yang jelas dan tes band yang terdeteksi muncul.
67
Invalid
Tidak ada band yang terlihat di daerah kontrol. Ulangi dengan perangkat tes baru.
Jika tes masih gagal, silahkan hubungi distributor dengan nomor lot.
13. Pemeriksaan HCV
Metode :
- Rapid Test
Prinsip :
Tes kaset ANTI-HCV menggunakan prinsip dobel antigen sandwich
immunoassay untuk mendeteksi jumlah anti HCV dalam serum. Antigen
rekombinan dimurnikan yang digunakan untuk mengidentifikasi anti - HCV
khusus. Tahapan ini sangat sensitif dan hasilnya bisa dilihat pada 20 30 menit.
Tujuan :
Untuk menunjang pemeriksaan terhadap keberadaan antibodi terhadap Hepatitis C
pada darah pasien.
Bahan :
- Serum
68
Penyimpanan dan Kestabilan Reagen
Reagen kit dapat disimpan pada suhu ruang (18 30OC) sampai tanggal
kadaluarsa pada kemasan. Tes kit harus dijaga pada sinar matahari, embun, dan
panas.
Prosedur :
1. Ketika anda siap untuk memulai pengujian, buka segel pada kantong
dengan merobek sepanjang lekukan.
2. Mengambil 0.2 ml (sekitar 4 drop) sampel ke dalam pipet dan teteskan
sampel pada sumuran di kaset.
3. Tunggu 10 20 menit dan baca hasilnya. Jangan membaca hasilnya
setelah 30 menit.
Interpretasi hasil
Negatif : jika hanya ada satu warna merah muda pita pada bagian kontrol. Tidak
ada pita pada bagian tes.
Positif : kondisi dimana terdapat warna merah muda pada pita kontrol dan tes.
69
Invalid : tidak terdapat warna pada pada kedua bagian pita karena adanya indikasi
kesalahan prosedur atau pada tes reagen.
14. Pemeriksaan HIV
Metode :
- Rapid Test
Prinsip :
- Imunnokromatografi
Tujuan :
Merupakan penyaringan awal untuk mendeteksi adanya antibody terhadap HIV
type 1, HIV type 2 dan subtype O didalam serum serum/plasma dan darah pasien.
Bahan :
- Serum, plasma atau darah
Penyimpanan dan Kestabilan Reagen
Test haruslah disimpan pada suhu 2-30o C (jangan dibekukan) dan berlaku sampai
tanggal kadaluarsa.
Prosedur :
1. Menaruh test kit disuhu ruang.
2. Membuka bungkus test kit, member identitas sampel. Meletakkan pada
permukaan yang datar.
70
3. Untuk specimen serum/plasma : teteskan 1 tetes serum/plasma (+/- 25 L)
ke lubang sampel (S), kemudian meneteskan 1 tetes buffer (+/- 40 L)
4. Untuk specimen darah : teteskan 2 tetes serum/plasma (+/- 50 L) ke
lubanng sampel (S), kemudian meneteskan 2 tetes buffer (+/- 80 L)
5. Menjalankan timer sekitar 5-8 menit. Membaca hasil
Interpretasi Hasil :
Positif : Terbentuk dua atau tiga garis berwarna, satu pada zona garis test
1 atau test 2 dan satu zona pada garis control. Hal ini berarti pada serum,
plasma dan darah terdapat antibody HIV-1 atau 2. Garis warna pada zona
1 menandakan infeksi HIV-1, dan garis warna pada zona 2 menandakan
infeksi HIV-2
Negatif : terbentuk satu garis pada zona garis control saja. Ini berarti pada
serum, plasma dan darah tidak ada antibody HIV
71
Invalid/test gagal : Jika tidak timbul garis pada zona control maka test
dinyatakan gagal dan dilakukan pengulangan pemeriksaan dengan tes kit
baru.
15. Pemeriksaan hCG
Metode :
- ACON Rapid Test
Prinsip :
Tes kehamilan hCG (urin) adalah tes rapid imunoassay kromatografi secara
kualitatif yang mendeteksi human chorionic gonadotropin di urin untuk
mendeteksi awal kehamilan. Tes menggunakan dua garis untuk mengindikasi
hasil. Garis uji memanfaatkan kombinasi antibodi, termasuk antibodi monoklonal
hCG yang selektif mendeteksi peningkatan kadar hCG. Garis kontrol terdiri dari
antibodi poliklonal dan partikel emas koloid. Uji ini dilakukan dengan
menambahkan spesimen urin ke sumuran spesimen dari perangkat tes dan
mengamati pembentukan garis-garis berwarna. Spesimen bermigrasi melalui aksi
kapiler sepanjang membran untuk bereaksi dengan konjugat berwarna.
Spesimen positif bereaksi dengan antibodi-hCG sehingga membentuk garis
berwarna di wilayah garis uji membran. Tidak adanya garis berwarna ini
menunjukkan hasil negatif. Untuk melayani sebagai kontrol prosedural, garis
berwarna akan selalu muncul dalam kontrol menunjukkan bahwa volume yang
tepat dari spesimen telah ditambahkan dan membran sehingga terjadi reaksi.
72
Tujuan :
Untuk mendeteksi adanya antibodi-hCG pada sampel pasien.
Bahan :
- Urin sewaktu
Penyimpanan dan Kestabilan Reagen
Penyimpanan dikemas dalam kantong tertutup pada suhu kamar atau didinginkan
(2-30 C). Tes ini stabil sampai dengan tanggal kedaluwarsa tercetak pada kantong
yang disegel. Tes harus tetap dalam kantong tertutup sampai digunakan.
JANGAN DIBEKUKAN. Tidak menggunakannya melampaui tanggal
kedaluwarsa.
Prosedur :
Spesimen urin dan / atau kontrol untuk tes harus mencapai suhu kamar (15-30 C)
sebelum pengujian.
1. Membawa kantong ke temperature kamar sebelum membukanya.
Membuka perangkat uji dari kantong tertutup dan menggunakannya
sesegera mungkin.
2. Menempatkan perangkat tes pada permukaan yang bersih dan kering.
Memegang pipet secara vertikal dan mentransfer 3 tetes penuh urine
(sekitar 100ml) pada sumuran spesimen (S) dari perangkat tes, dan
kemudian memulai timer. Menghindari perangkap gelembung udara dalam
spesimen juga (S).
73
3. Menunggu garis berwarna muncul. Hasilnya harus dibaca pada 3 menit.
Menginterpretasikan hasil setelah 10 menit.
16. Pemeriksaan Narkoba
Metode :
- Imunnokromatrografi
Prinsip :
Satu langkah perangkat pemeriksaan narkoba ( urine ) adalah
immunoassay berdasarkan prinsip ikatan kompetitif. Narkoba yang ada dalam
specimen urine bersaing konjugat dengan obat yang ada dalam strip dan control
berisi antibodi spesifik. Selama pengujian, spesimen urin bermigrasi ke atas
melalui kapiler. Antibodi kemudian akan bereaksi dengan obat - protein konjugasi
dan garis berwarna terlihat akan muncul di wilayah garis uji. Kehadiran obat di
atas konsentrasi akan jenuh dalam mengikat antibodi. Oleh karena itu, garis
berwarna tidak akan terbentuk di wilayah garis uji.
Hasil positif narkoba dalam spesimen urin tidak akan menghasilkan garis
berwarna di wilayah garis uji karena persaingan obat, sedangkan hasil negatif
dalam spesimen urine akan menghasilkan garis di wilayah garis uji karena tidak
adanya persaingan obat.
Tujuan :
74
Untuk mendeteksi adanya narkoba pada urin pasien.
Bahan :
- Urin sewaktu
Penyimpanan dan Kestabilan Reagen
Penyimpanan dikemas dalam kantong yang baik pada suhu kamar atau
didinginkan (2-30oC). Perangkat tes stabil sampai dengan tanggal kedaluwarsa
tercetak pada kantong segel. Perangkat tes harus tetap di kantong sampai
digunakan. Jangan dibekukan. Jangan menggunakan sampai melampaui tanggal
kedaluwarsa.
Prosedur :
Biarkan tes, spesimen urin, dan/atau kontrol untuk mencapai suhu kamar (15-
30oC) sebelum pengujian .
1. Perangkat tes harus pada suhu kamar sebelum membukanya. Lepaskan
perangkat uji dari kantong tertutup dan menggunakannya sesegera
mungkin.
2. Menempatkan perangkat tes pada permukaan yang bersih dan tingkat.
Memegang pipet secara vertikal dan meneteskan 3 tetes penuh urine
(100L) sebagaimana contoh baik (S) dari perangkat tes, dan kemudian
memulai timer. Hindari gelembung udara dalam spesimen juga (S).
3. Tunggu garis berwarna (S) muncul. Baca hasil pada 5 menit. Jangan
menginterpretasikan hasil setelah 10 menit.
Interpretasi Hasil :
Negatif : dua garis muncul. Satu baris berwarna digaris kontrol wilayah (C), dan
75
garis berwarna di wilayah garis uji (T). Hasil negatif ini menunjukkan
bahwa konsentrasi obat di bawah tingkat terdeteksi .
* Catatan: warna di wilayah garis uji (T) akan berbeda-beda, tetapi harus selalu
dianggap sebagai negatif setiap kali bahkan ada garis berwarna samar.
Positif : satu baris berwarna muncul dalam garis kontrol wilayah (C). Tidak ada
kapur muncul di wilayah garis uji (T). Hasil positif ini menunjukkan
bahwa concerations obat melebihi tingkat terdeteksi.
Valid : garis kontrol gagal untuk muncul. Volume spesimen tidak mencukupi atau
teknik prosedural yang salah kemungkinan besar alasan kegagalan garis
kontrol tidak muncul. Meninjau ulang prosedur dan ulangi tes
menggunakan tes baru. Jika masalah terus berlanjut, menghentikan
menggunakan perangkat tes dan hubungi distributor lokal.
3.6 Pemeriksaan Sputum
Metode :
- Direct Preparat
Prinsip :
Basil Tanah Asam akan memberikan warna merah pada pewarnaan Ziehl Neelsen
atau Kinyoum Gebbett.
76
Tujuan :
Untuk menemukan adanya bakteri tahan asam dalam dahak penderita.
Bahan :
- Sputum
Alat :
- Ose diameter
- Obyek glass
- Lampu spirtus
- Mikroskop
- rak pewarna
- spidol
Reagen :
- Carbol fuchsin
- HCI Alkohol 3%
- Methylen blue
Prosedur :
1. Beri nomer pada bagian belakang obyek glass sesuai dengan nomor
registrasi
2. Bakar Ose sampai pijar warna merah, tunggu dingin.
3. Ambil sputum yang kental atau kehijauan menggunakan Ose lalu oles dan
ratakan pada obyek glass dengan ukuran 3x2 cm.
4. Apusan dahak jangan terlalu tebal atau tipis, keringkan pada suhu kamar.
77
5. Ose yang sudah digunakan dicelupkan dalam botol berisi campuran pasir
dan alcohol 70% dengan perbandingan 2 : 1 agar partikel yang melekat
pada Ose terlepas. Kemudian Ose dibakar sampai pijar warna merah.
6. Sediaan yang sudah kering difiksasai diatas lidah api dengan cepat
sebanyak 3 kali selama 3-5 detik.
7. Letakkan preparat BTA diatas rak pewarnaan.
8. Tuangkan carbol fuchsin panaskan diatas Ose berkapas yang dibakar
sampai menguap 3-5 menit (jangan sampai mendidih).
9. Diamkan selama 5 menit.
10. Bilas dengan air mengalir.
11. Tetesi dengan HCI alkohol 3% sampai warna merah dari carbol fuchsin
menghilang.
12. Bilas air mengalir
13. Tuangi Methylen blue 0,3% pada sediaan sampai menutupi seluruh
permukaan.
14. Diamkan selama 10-15 detik.
15. Bilas dengan air mengalir.
16. Keringkan di udara.
17. Baca dibawah mikroskop perbesaran lensa obyektif 100x.
78
Interprestasi Hasil:
Standar IUAT
Hasil Pemeriksaan Pelaporan Hasil
Tidak ditemukan BTA 100 Lp Neg (-)
Ditulis jumlah kuman yang ada hasil
1-9 BTA dalam 100 Lp
penulisan : scanty
Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 Lp (+) atau (1+)
Ditemukan 1-10 BTA dalam 10 Lp (++) atau (2+)
Ditemukan >10BTA dalam 1 Lp (+++) atau (3+)
3.7 Pemeriksaan Urin
1) Automatic Urine Analizer H-800 dan Automatic Urine Sediment
Analizer FUS-100
A. Automatic Urine Analizer H-800
Metode :
- Kolorimetri
Prinsip :
- reflektansi fotometer (H-800 ditambah opsional built-in
refraktometer, built-in Turbidimeter dan warna reflektif
sensor)
Tujuan :
Pemeriksaan urobilinogen, bilirubin, keton, darah, protein, nitrit, leukosit,
glukosa, pH, VC dan berat jenis
Bahan :
79
- Urine
B. Automatic Urine Sediment Analizer FUS-100
Metode :
- Mikroskopis berdasarkan memori dari alat
Prinsip :
Tujuan :
- Morfologi eritrosit, morfologi leukosit, kristal, epitel,
Bahan :
- Urin
C. Prosedur
1. Memilih WORKLIST untuk memasukkan identitas sampel yang baru
2. Memasukkan identitas sampel pada alat (jangan sampai tertukar) yang
dimulai dari :
- Sam. No (nomor sampel yang sesuai urutan sampel sebelumnya)
- Rack Tube (letak sampel pada rak nomor berapa)
- Name
- Sex
- Age
- ID (nomor laboratorium)
- Bed No (nomor register pasien)
- Date
- Send Dept (asal pasien dari ruangan/poli)
3. Memilih ADD untuk menambahkan atau menyimpan data
80
4. Memasukkan sampel pada tabung reaksi dan meletakkan pada rak yang
sudah disediakan
5. Memilih menu START pada alat untuk menjalankan alat
6. Pemeriksaan yang sudah selesai akan muncul tanda FINISH pada alat, dan
pilih menu PRINT untuk mencetak hasil pemeriksaan.
2. UL Uritest - 50
Prinsip :
- Reflektansi fotometri dengan panjang gelombang ganda
Tujuan :
Pemeriksaan urobilinogen, bilirubin, keton, darah, protein, nitrit, leukosit,
glukosa, pH, mikroalbumin dan berat jenis
Bahan :
- Urin
Prosedur :
1) Menyalakan tombol power yang terdapat dibelakang alat
2) Menuang urin yang pada tabung reaksi
3) Mencelupkan reagen carik celup hingga semua parameter terbasahi urin
4) Mengusap bagian bawah tes strip dengan tissue
5) Meletakkan tes strip pada tempat yang disediakan hingga alat berbunyi
tanda alat akan membaca tes strip
6) Menunggu pembacaan tes strip sampai hasil pemeriksaan keluar berupa
data print
Catatan : Alat ini hanya digunakan saat alat Automatic Urine Analizer H-
800 tidak mampu membaca karena sampel terlalu sedikit.
81
3.8 Pemeriksaan Faeses
Untuk melihat adanya kelainan kelainan dalam faeces baik secara
makroskop maupun secara mikroskopis.
Metode :
- Direct preparat
Prinsip :
Dengan penambahan PZ lalu diamati dibawah mikroskop maka mikro organisme
dan unsur unsur lain dalam faeces akan tampak jelas.
Bahan :
- Faeces segar
Alat :
- Obyek glass
- Cover glass
- Lidi
- Mikroskop
Reagen :
- Larutan PZ
Prosedur :
Makroskopis :
1. Spesimen diperiksa ditempat terang.
2. Amati warna, bau, konsistensi, adanya darah, lendir, cacing dll.
Mikroskopis
1. Teteskan PZ di atas obyek glass.
82
2. Ambil faeces dibagian tengah atau permukaan yang mengandung darah
atau lendr seujung lidi lalu ratakan dan tutup dengan cover glass.
3. Periksa di bawah mikroskop dengan perbesaran lensa obyektif mula
mula 10X selanjutnya perbesaran lensa obyektif 40X.
Pelaporan
Makroskopis
Warna :
Konsistensi :
Darah :
Lendir :
Mikroskopis
Telur cacing :
Amuba :
Eritrosit :
Lekosit :
Sisa Makanan :
Catatan :
Untuk pemeriksaan amuba harus segera diperiksa
Tinja tidak boleh disimpan terlalu lama
3.9 Pemeriksaan VVP
Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya kuman Gonorhoe pada spesimen
Alat :
- Obyek glass.
- Lampu spirtus.
83
- Mikroskop.
- Rak pewarnaan
Bahan :
- Gentian Violet.
- Lugol.
- Alcohol 96%.
- Secret,/usap hidung/usap tenggorok.
Prosedur :
1. Buat sediaan yang berasal dari bahan secret.
2. Fiksasi di atas nyala spirtus.
3. Sediaan dicat dengan carbol gentian violet tunggu sampai 3 menit
4. Cuci dengan air mengalir sampai bersih dan tuangi dengan cat lugol,
tunggu 30 detik.
5. Cuci dengan alcohol 96% sampai sisa cat hilang.
6. Tuangi sediaan air fuchsin selama 3 menit, kemudian cuci dengan air
mengalir sampai bersih.
7. Keringkan sediaan pada suhu kamar / di kering udarakan.
8. Baca dibawah mikroskop.
Interpretasi hasil
- Positif ( + ) bila ditemukan kuman diplococcus warna merah.