Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fenomena pengangguran juga berkaitan erat dengan terjadinya pemutusan
hubungan kerja, yang disebabkan antara lain; perusahaan yang
menutup/mengurangi bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan
yang kurang kondusif; peraturan yang menghambat inventasi; hambatan dalam
proses ekspor impor, dan lain-lain
Melemahnya pasar internasional akibat krisis ekonomi global telah
berdampak pada sektor riil Indonesia terutama industri yang berorientasi
ekspor yang banyak menyerap tenaga kerja, seperti industri garmen, sepatu,
elektronik, pertambangan industri kayu, minyak kelapa sawit mentah (GPO),
dan karet. Dewasa ini sektor industri nasional tidak hanya menghadapi masalah
penurunan harga jual dan permintaan, tetapi juga menghadapi masalah
peningkatan biaya bahan baku khususnya impor akibat merosotnya kurs rupiah,
sehingga tidak ada pilihan bagi industri nasional selain mengurangi volume
produksi yang berdampak pada pengurangan tenaga kerja baik dengan
melakukan PHK maupun merumahkan sementara karyawan.
Pengangguran terjadi disebabkan antara lain, yaitu karena jumlah
lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja. Juga
kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan pasar kerja.Selain itu juga kurang
efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja. Fenomena
pengangguran juga berkaitan erat dengan terjadinya pemutusan hubungan
kerja, yang disebabkan antara lain; perusahaan yang menutup/mengurangi
bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan yang kurang kondusif;
peraturan yang menghambat inventasi; hambatan dalam proses ekspor impor,
dan lain-lain.
Penelitian Biro Pusat Statistik (BPS) membedakan angkatan kerja menjadi
penduduk yang bekerja dan penduduk yang mencari pekerjaan atau dapat di
sebut sebagai pengangguran terbuka. Pengertian BPS tentang angkatan kerja

1
adalah penduduk usia kerja (10 tahun ke atas) yang bekerja atau punya
pekerjaan sementara tidak bekerja dan yang mencari pekerjaaan. Sedangkan
yang di maksud bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja yang
kegiatannya tidak bekerja maupun mencari kerja. Mereka adalah penduduk
dengan kegiatan sekolah, menjurus rumah tangga tanpa mendapat upah dan
tidak mampu melakukan kegiatan seperti pension atau cacad jasmani. Data
yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) ini sangat boleh jadi masih
lebih rendah daripada kenyataan riil yang ada di lapangan. Bisa saja dalam
kenyataannya angka pengangguran di Indonesia masih lebih tinggi dari data
dan angka resmi itu.Dalam makalah ini kami membahas Penomena
Pengangguran

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pengangguran ?
2. Apa jenis-jenis dan macam-macam pengangguran ?
3. Apa penyebab dari pengangguran ?
4. Bagaimana tingkat pengangguran di Indonesia ?
5. Apa dampak pengangguran terhadap ekonomi masyarakat ?
6. Bagaimana cara mengatasi pengangguran berdasarkan jenisnya?
7. Apa upaya pemerintah dalam mengatasi pengangguran ?

C. Tujuan Masalah
Tujuan penulis membuat makalah yang berjudul Masalah Pengangguran
adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui arti dari pengangguran.
2. Mengetahui macam-macam dari pengangguran.
3. Mengetahui penyebab dari pengangguran.
4. Mengetahui tingkat pengangguran di Indonesia.
5. Mengetahui dampak pengangguran terhadap ekonomi masyarakat.
6. Mengetahui cara mengatasi pengangguran berdasarkan jenisnya.
7. Mengetahui upaya pemerintah dalam mengatasi pengangguran.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Pengangguran
Definisi pengangguran secara teknis adalah semua orang dalam
referensiwaktu tertentu, yaitu pada usia angkatan kerja yang tidak bekerja, baik
dalam artimendapatkan upah atau bekerja mandiri, kemudian mencari
pekerjaan, dalamarti mempunyai kegiatan aktif dalam mencari kerja tersebut.
Selain definisi diatas masih banyak istilah arti definisi pengangguran
diantaranya: 1
Definisi pengangguran menurut Sadono Sukirno Pengangguran adalah
suatu keadaan dimana seseorang yang tergolong dalamangkatan kerja ingin
mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya Definisi
pengangguran menurut Payman J. Simanjuntak Pengangguran adalah orang
yang tidak bekerja berusia angkatan kerja yangtidak bekerja sama sekali atau
bekerja kurang dari dua hari selama seminggusebelum pencacahan dan
berusaha memperoleh pekerjaan.
Definisi pengangguran berdasarkan istilah umum dari pusat dan latihan
tenagakerja Pengangguran adalah orang yang tidak mampu mendapatkan
pekerjaan yangmenghasilkan uang meskipun dapat dan mampu melakukan
kerja.
Definisi pengangguran menurut Menakertrans Pengangguran adalah ornag
yang tidak bekerja, sedang mencari pekerjaan,mempersiapkan suatu usaha
baru, dan tidak mencari pekerjaan karena merasatidak mungkin mendapatkan
pekerjaan.Selanjutnya International Labor Organization (ILO) memberikan
definisi pengangguran yaitu:2

1
Iskandar Putong, Economics Pengantar Mikro Dan Makro, Jakarta: Mitra Wacana
Media, 2013 Hal: 426
2
Michael P. Todaro, Ekonomi Untuk Negara Berkembang, Jakarta: Sinar Grafika Offset,
1994 Hal:297-308

3
1. Pengangguran terbuka adalah seseorang yang termasuk kelompok
penduduk usia kerja yang selama periode tertentu tidak bekerja, dan
bersedia menerima pekerjaan, serta sedang mencari pekerjaan.
2. Setengah pengangguran terpaksa adalah seseorang yang bekerja sebagai
buruh karyawan dan pekerja mandiri (berusaha sendiri) yang selama
periode tertentu secara terpaksa bekerja kurang dari jam kerja normal,
yang masih mencari pekerjaan lain atau masih bersedia mencari pekerjaan
lain/tambahan (BPS, 2001: 4).
Sedangkan menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS)
menyatakan bahwa:
1. Setengah pengangguran terpaksa adalah orang yang bekerja kurang dari 35
jam per minggu yang masih mencari pekerjaan atau yang masih bersedia
menerima pekerjaan lain.
2. Setengah pengangguran sukarela adalah orang yang bekerja kurang dari 35
jam per minggu namun tidak mencari pekerjaan dan tidak bersedia
menerima pekerjaan lain

B. Jenis-jenis dan Macam-macam Pengangguran


1. Berdasarkan jam kerja
Berdasarkan jam kerja, pengangguran dikelompokkan menjadi 3 macam:
a. Pengangguran Terselubung (Disguised Unemployment). Pengangguran
terselubung terjadi jika tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal
karena sesuatu alas an tertentu. Misalnya, untuk mengerjakan suatu
pekerjaan sebenarnya cukup untuk dilakukan oleh lima orang, tetapi
dilakukan oleh tujuh orang. Oleh karena itu, yang dua orang sebenarnya
adalah penganggur, hanya saja tidak kentara.3
b. Setengah Menganggur (Under Unemployment) adalah tenaga kerja
yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan,
biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja
yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.

3
Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Teori Pengantar, Jakarta: Rajawali Press. 2011, Hal: 328-331

4
c. Pengangguran Terbuka (Open Unemployment. Pengangguran terbuka
adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan.
Penyebabnya antara lain: tidak tersedianya lapangan kerja, tidak sesuai
antara lapangan kerja denagn latar belakang pencari kerja, dan tidak
berusaha mencari pekerjaan secara keras karena memang malas.

2. Berdasarkan penyebab terjadinya


Berdasarkan penyebab terjadinya, pengangguran dikelompokkan
menjadi 7 macam:4
a. Pengangguran friksional (frictional unemployment)
Pengangguran friksional adalah pengangguran yang sifatnya sementara
yang disebabkan adanya kendala waktu, informasi dan kondisi
geografis antara pelamar kerja dengan pembuka lamaran pekerna
penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi
persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja. Semakin maju
suatu perekonomian suatu daerah akan meningkatkan kebutuhan akan
sumber daya manusia yang memiliki kualitas yang lebih baik dari
sebelumnya.
b. Pengangguran konjungtur (cycle unemployment)
Pengangguran konjungtur adalah pengangguran yang diakibatkan oleh
adanya siklus konjungtur (perubahan kegiatan perekonomian).
Perekonomian suatu Negara sering menghadapi perubahan. Bila
permintaan terhadap barang dan jasa turun terjadilah penurunan
permintaan missal terhadap tenaga kerja.
c. Pengangguran struktural (structural unemployment)
Pengangguran struktural adalah pengangguran yang diakibatkan oleh
perubahan struktur ekonomi dan corak ekonomi dalam jangka panjang.
Pengangguran struktural bisa diakibatkan oleh beberapa kemungkinan,
seperti:
1) Akibat permintaan berkurang

4
Ibid.h 345

5
2) Akibat kemajuan dan pengguanaan teknologi
3) Akibat kebijakan pemerintah
d. Pengangguran musiman (seasonal Unemployment)
Pengangguran musiman adalah keadaan menganggur karena adanya
fluktuasi kegiaan ekonomi jangka pendek yang menyebabkan seseorang
harus nganggur. Contohnya seperti petani yang menanti musim
tanam, pedagang durian yang menanti musim durian.
f. Pengangguran siklikal
Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang menganggur akibat
imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja
lebih rendah daripada penawaran kerja.
g. Pengangguran teknologi
Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang terjadi akibat
perubahan atau penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin-
mesin.
h. Pengangguran siklus
Pengangguran siklus adalah pengangguran yang diakibatkan oleh
menurunnya kegiatan perekonomian karena terjadi resesi.
Pengangguran siklus disebabkan oleh kurangnya permintaan
masyarakat (aggrerate demand).

D. Penyebab dari Pengangguran


Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak
sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya.
Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena
dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakatakan
berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-
masalah sosial lainnya. Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara

6
membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang
dinyatakan dalam persen.5
Faktor yang mendukung terhadap permasalahan pengangguran, antara lain:
1. Faktor Kemiskinan.
Banyaknya jumlah pengangguran itu dari kalangan masyarakat miskin.
Karena untuk mendapatkan pekerjaan itu membutuhkan biaya yang sangat
besar. Contohnya: Di suatu pabrik, untuk menjadi seorang karyawan di
suatu pabrik tersebut, harus ada orang dalam yang membantunya dan
menjamin pekerjaan dapat diraih selain itu juga orang yang ingin masuk
pabrik tersebut harus memakai jasa seorang calo dengan memberikan uang
jerih payah. Dan nominal uang tersebut tidak sedikit. Kesimpulannya,
orang yang tidak mempunyai uang, dia tidak bisa kerja.
2. Faktor Pendidikan.
Banyaknya anak putus sekolah juga merupakan salah satu faktor
yang menunjang pengangguran. Karena untuk bekerja di zaman sekarang,
harus bisa calistung (baca, tulis,hitung) minimal tamatan SLTP. Itupun
hanya pekerjaan berkisar Pembantu Rumah Tangga (PRT), Baby Sitter,
dan lain-lain. Namun, di era globalisasi sekarang sudah ada agen baby
sitter dan PRT. Jadi semakin sulit anak yang putus sekolah itu
mendapatkan pekerjaan yang berpenghasilan layak. Dari Pendidikan juga
belum ada kurikulum yang mampu menciptakan dan mengembangkan
kemandirian Sumber Daya Manusia yang sesuai dengan kebutuhan dunia
kerja.
3. Faktor Keahlian
Untuk zaman sekarang, diperlukan manusia yang kreatif dan inovatif.
Meskipun hanya lulusan SLTA, jika seseorang itu mempunyai keahlian
dan keterampilan, maka orang tersebut bisa menciptakan lapangan kerja
sendiri. Contohnya: Membuat kue, membuat prakarya, dan lain-lain.
Tetapi, masyarakat Indonesia pada umumnya malas untuk bekerja keras,
bekerja dari nol, maka karena itu pula pengangguran tercipta.

5
Ibid, Iskandar Putong, 2013, Hal: 427

7
4. Faktor Budaya
Telah disebutkan bahwa sindrom pengangguran tidak hanya terjadi di
kalangan bawah saja. Namun, kalangan atas pun ada. Ini dikarenakan
faktor budaya. Orang yang senantiasa hidup berkecukupan, ingin
memperoleh pekerjaan yang layak. Sedangkan segala sesatu itu harus
mengalami proses yang jelas. Kebanyakan dari orang tersebut
menginginkan kerja enak saja tanpa melakukan proses.
5. Faktor Pasaran
Kurangnya lapangan kerja, banyaknya masyarakat yang terkena PHK
(Pemutusan Hubungan Kerja) dikarenakan krisis ekonomi yang melanda
negri ini, juga rendahnya kualitas SDM yang kurang memenuhi standar di
lapangan kerja tersebut

E. Bagaimana Tingkat Pengangguran di Indonesia


Sejak 1997 sampai 2003, angka pengangguran terbuka di Indonesia terus
menaik, dari 4,18 juta menjadi 11,35 juta. Didominasi oleh penganggur usia
muda. Selain usia muda, pengangguran juga banyak mencakup berpendidikan
rendah, tinggal di pulau Jawa dan berlokasi di daerah perkotaan. Intensitas
permasalahan juga lebih banyak terjadi pada penganggur wanita dan pengaggur
terdidik.
Pengangguran dan setengah pengangguran merupakan permasalahan di
muara yang tidak bisa diselesaikan pada titik itu saja, tapi juga harus ditangani
dari hulu.Sektor di hulu yang banyak berdampak pada pengangguran dan
setengah pengangguran adalah sektor kependudukan, pendidikan dan ekonomi.
Ada tiga asumsi yang menjadi harapan untuk menurunkan pengangguran
dan setengah pengangguran. Pertama, pertumbuhan tenaga kerja rata-rata
pertahun dapat ditekan dari 2,0 persen pada periode 2000-2005 menjadi 1,7
persen pada periode 2005-2009. Demikian juga pertumbuhan angkatan kerja,
dapat ditekan menjadi 1,9 persen pada periode 2005-2009 dari periode
sebelumnya yang mencapai 2,4 persen. Kedua, dapat ditingkatkannya
pertumbuhan ekonomi menjadi 6,0 persen pada periode 2005-2009 dari periode

8
sebelumnya yang hanya mencapai 4,1 persen. Ketiga, transformasi sektor
informal ke sektor formal dapat dipercepat baik di daerah perkotaan maupun
pedesaan terutama di sektor pertanian, perdagangan, jasa dan industri.

C. Cara-cara Mengatasi Pengangguran


Untuk itu perlu diupayakan cara mengatasi pengangguran, antara lain
sebagai berikut:
1. Meningkatkan mutu pendidikan,
2. Meningkatkan latihan kerja untuk memenuhi kebutuhan keterampilan
sesuai tuntutan industri modern,
3. Meningkatkan dan mendorong kewiraswastaan,
4. Mendorong terbukanya kesempatan usaha-usaha informal,
5. Meningkatkan pembangunan dengan sistem padat karya,
6. Membuka kesempatan kerja ke luar negeri\
Menyadari bahwa upaya penciptaan kesempatan kerja itu bukan semata
fungsi dan tanggung jawab Depatemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, akan
tetapi merupakan tanggung jawab kita semua, pihak pemerintah baik pusat
maupun daerah, dunia usaha, maupun dunia pendidikan. Oleh karena itu,
dalam penyusunan kebijakan dan program masing-masing pihak, baik
pemerintah maupun swasta harus dikaitkan dengan penciptaan kesempatan
kerja yang seluas-luasnya.

D. Dampak Pengangguran Terhadap Ekonomi Masyarakat


Tingginya tingkat pengangguran dalam sebuah perekonomian akan
mengakibatkan kelesuan ekonomi dan merosotnya tingkat kesejahteraan
masyarakat sebagai akibat penurunan pendapatan masyarakat. Dampak
pengangguran terhadap ekonomi masyarakat meliputi hal-hal berikut ini:
1. Pendapatan Per Kapita
Orang yang menganggur berarti tidak memiliki penghasilan sehingga
hidupnya akan membebani orang lain yang bekerja. Dampaknya adalah
terjadinya penurunan pendapatan per-kapita. Dengan kata lain, bila

9
tingkat pengangguran tinggi maka pendapatan per kapita akan menurun
dan sebaliknya bila tingkat pengangguran rendah pendapatan per kapita
akan meningkat, dengan catatan pendapatan mereka yang masih bekerja
tetap.
2. Pendapatan Negara
Orang yang bekerja mendapatkan balas jasa berupa upah/gaji, Upah/gaji
tersebut sebelum sampai di tangan penerima dipotong pajak penghasilan
terlebih dahulu. Pajak ini merupakan salah satu sumber pendapatan
negara sehingga bila tidak banyak orang yang bekerja maka pendapatan
negara dari pemasukan pajak penghasilan cenderung berkurang.
3. Beban Psikologis
Semakin lama seseorang menganggur semakin besar beban psikologis
yang ditanggungnya. Orang yang memiliki pekerjaan berarti ia memiliki
status sosial di tengah-tengah masyarakat. Seseorang yang tidak memiliki
pekerjaan dalam jangka waktu lama akan merasa rendah diri (minder)
karena statusnya yang tidak jelas.
4. Munculnya Biaya Sosia
5. Tingginya tingkat pengangguran akan menimbulkan pengeluaran berupa
biaya-biaya sosial seperti biaya pengadaan penyuluhan, biaya pelatihan,
dan biaya keamanan sebagai akibat kecenderungan meningkatnya tindak
kriminalitas.

E. Cara mengatasi pengangguran berdasarkan jenis dan macam macamnya


Adanya bermacam-macam pengangguran membutuh-kan cara-cara
mengatasinya yang disesuaikan dengan jenis pengangguran yang terjadi,
yaitu sebagai berikut.
1. Pengangguran Terselubung (Disguised Unemployment). Pengangguran
terselubung terjadi jika tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal
karena sesuatu alas an tertentu. Misalnya, untuk mengerjakan suatu
pekerjaan sebenarnya cukup untuk dilakukan oleh lima orang, tetapi

10
dilakukan oleh tujuh orang. Oleh karena itu, yang dua orang sebenarnya
adalah penganggur, hanya saja tidak kentara.6
2. Setengah Menganggur (Under Unemployment) adalah tenaga kerja yang
tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan,
biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja
yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
3. Cara Mengatasi Pengangguran Struktural, Siklikal, Konjungtur, dan
Friksional, Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang digunakan
adalah :
a. Peningkatan mobilitas modal dan tenaga kerja.
b. Segera memindahkan kelebihan tenaga kerja dari tempat dan sector
yang kelebihan ke tempat dan sektor ekonomi yang kekurangan.
c. Mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk mengisi formasi
kesempatan (lowongan) kerja yang kosong, dan
d. Segera mendirikan industri padat karya di wilayah yang mengalami
pengangguran.
4. Cara Mengatasi Pengangguran Friksional, Teknologi, Siklus, dan Terbuka
Untuk mengatasi pengangguran secara umum antara lain dapat digunakan
cara-cara sebagai berikut.
a. Perluasan kesempatan kerja dengan cara mendirikan industri-industri
baru, terutama yang bersifat padat karya.
b. Deregulasi dan debirokratisasi di berbagai bidang industri untuk
merangsang timbulnya investasi baru.
c. Menggalakkan pengembangan sektor informal, seperti home industry.
d. Menggalakkan program transmigrasi untuk menyerap tenaga kerja di
sektor agraris dan sektor formal lainnya.
e. Pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah, seperti
pembangunan jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dan lain-lain

6
Hubbard, Ron, Masalah Pekerjaan. (Bandung: Angkasa Anggota IKAPI. . 1983)h.78

11
sehingga bisa menyerap tenaga kerja secara langsung maupun untuk
merangsang investasi baru dari kalangan swasta.
5. Cara Mengatasi Pengangguran Musiman, Setengah Menganggur, dan
Penganguran Terselubung.Jenis pengangguran ini bisa diatasi dengan cara
sebagai berikut.
a. Pemberian informasi yang cepat jika ada lowongan kerja di sektor
lain, dan
b. Melakukan pelatihan di bidang keterampilan lain untuk
memanfaatkan waktu ketika menunggu musim tertentu.
6. Cara Mengatasi Pengangguran Siklis
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini antara lain dapat digunakan cara-
cara sebagai berikut.
a. Mengarahkan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa, dan
b. Meningkatkan daya beli masyarakat.

F. Kebijakan Pemerintah dalam Mengatasi Pengangguran


Kondisi Indonesia masalah pengangguran harus dapat diatasi dengan
berbagai upaya. Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan
yang layak bagi kemanusiaan sesuai dengan UUD 45 pasal 27 ayat 2. Sebagai
solusi pengangguran berbagai strategi dan kebijakan dapat ditempuh, untuk itu
diperlukan kebijakan yaitu :7
1. Pemerintah memberikan bantuan wawasan
Pengetahuan dan kemampuan jiwa kewirausahaan kepada Usaha
Kecil dan Menengah (UKM) berupa bimbingan teknis dan manajemen
memberikan bantuan modal lunak jangka panjang, perluasan pasar. Serta
pemberian fasilitas khusus agar dapat tumbuh secara mandiri dan andal
bersaing di bidangnya. Mendorong terbentuknya kelompok usaha bersama
dan lingkungan usaha yang menunjang dan mendorong terwujudnya
pengusaha kecil dan menengah yang mampu mengembangkan usaha,

7
Zaini Ibrahim, M.Si, Pengantar Ekonomi Makro.Serang: LP2M IAIN Banten, 2013:Hal 111-112

12
menguasai teknologi dan informasi pasar dan peningkatan pola kemitraan
UKM dengan BUMN, BUMD, BUMS dan pihak lainnya.
2. Segera melakukan pembenahan,
Pembangunan dan pengembangan kawasan-kawasan, khususnya daerah
yang tertinggal dan terpencil sebagai prioritas dengan membangun fasilitas
transportasi dan komunikasi. Ini akan membuka lapangan kerja bagi para
penganggur di berbagai jenis maupun tingkatan. Harapan akan
berkembangnya potensi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) baik potensi sumber daya alam, sumber daya manusia.
3. Segera membangun lembaga sosial yang dapat menjamin kehidupan
penganggur.
Seperti PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PT Jamsostek) Dengan
membangun lembaga itu, setiap penganggur di Indonesia akan terdata
dengan baik dan mendapat perhatian khusus. Secara teknis dan rinci.
4. Segera menyederhanakan perizinan dan peningkatan keamanan
Karena terlalu banyak jenis perizinan yang menghambat investasi baik
Penanamaan Modal Asing maupun Penanaman Modal Dalam Negeri. Hal
itu perlu segera dibahas dan disederhanakan sehingga merangsang
pertumbuhan iklim investasi yang kondusif untuk menciptakan lapangan
kerja.8
5. Mengembangkan sektor pariwisata dan kebudayaan Indonesia (khususnya
daerah-daerah yang belum tergali potensinya)
Dengan melakukan promosi-promosi keberbagai negara untuk menarik
para wisatawan asing, mengundang para investor untuk ikut berpartisipasi
dalam pembangunan dan pengembangan kepariwisataan dan kebudayaan
yang nantinya akan banyak menyerap tenaga kerja daerah setempat.
6. Melakukan program sinergi antar BUMN atau BUMSyang memiliki
keterkaitan usaha atau hasil produksi akan saling mengisi kebutuhan.
Dengan sinergi tersebut maka kegiatan proses produksi akan menjadi lebih
efisien dan murah karena pengadaan bahan baku bisa dilakukan secara

8
Ibid,h.67

13
bersama-sama. Contoh, PT Krakatau Steel dapat bersinergi dengan PT.
PAL Indonsia untuk memasok kebutuhan bahan baku berupa pelat baja.
7. Dengan memperlambat laju pertumbuhan penduduk
Dengan meminimalisirkan menikah pada usia dini maka diharapkan dapat
menekan laju pertumbuhan sisi angkatan kerja baru atau melancarkan
sistem transmigrasi dengan mengalokasikan penduduk padat ke daerah
yang jarang penduduk dengan difasilitasi sektor pertanian, perkebunan atau
peternakan oleh pemerintah.
8. Menyeleksi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan dikirim ke luar
negeri.
Perlu seleksi secara ketat terhadap pengiriman TKI ke luar negeri.
Sebaiknya diupayakan tenaga-tenaga terampil. Hal itu dapat dilakukan dan
diprakarsai oleh Pemerintah Pusat dan Daerah.
9. Segera harus disempurnakan kurikulum dan sistem pendidikan nasional
(Sisdiknas).
Sistem pendidikan dan kurikulum sangat menentukan kualitas pendidikan
yang berorientasi kompetensi.Karena sebagian besar para penganggur
adalah para lulusan perguruan tinggi yang tidak siap menghadapi dunia
kerja.
10. Segera mengembangkan potensi kelautan dan pertanian.
Karena Indonesia mempunyai letak geografis yang strategis yang sebagian
besar berupa lautan dan pulau-pulau yang sangat potensial sebagai negara
maritim dan agraris. Potensi kelautan dan pertanian Indonesia perlu
dikelola secara baik dan profesional supaya dapat menciptakan lapangan
kerja yang produktif.

G. Gerakan Nasional Penanggulangan Pengangguran (GNPP)


Berdasarkan kondisi diatas perlu dilakukan Gerakan Nasional
Penanggulangan Pengangguran (GNPP) dengan mengerahkan semua unsur-
unsur dan potensi di tingkat nasional dan daerah untuk menyusun kebijakan
dan strategi serta melaksanakan program penanggulangan pengangguran. Salah

14
satu tolok ukur kebijakan nasional dan regional haruslah keberhasilan dalam
perluasan kesempatan kerja atau penurunan pengangguran dan setengah
pengangguran.
Gerakan tersebut dicanangkan dalam satu Deklarasi GNPP yang diadakan
di Jakarta 29 Juni 2004. Lima orang tokoh dari pemerintah provinsi,
pemerintah kabupaten/kota, perwakilan pengusaha, perwakilan perguruan
tinggi, menandatangani deklarasi tersebut, merekaadalah Gubernur Riau H.M.
Rusli Zainal; Walikota Pangkal Pinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
H. Zulkarnaen Karim; Palgunadi; T. Setyawan,ABAC; pengusaha; DR. J.P.
Sitanggang, UPN Veteran Jakarta; Bambang Ismawan, Bina Swadaya, LSM;
mereka adalah sebagian kecil dari para tokoh yang memandang masalah
ketenagakerjaan di Indonesia harus segera ditanggulangi oleh segenap
komponen bangsa. Menurut para deklarator tersebut, bahwa GNPP ini
dimaksudkan untuk membangun kepekaan dan kepedulian seluruh aparatur
dari pusat ke daerah, serta masyarakat seluruhnya untuk berupaya mengatasi
pengangguran.
Dalam deklarasi itu ditegaskan, bahwa untuk itu, sesuai dengan Undang-
undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, sebaiknya segera
dibentuk Badan Koordinasi Perluasan Kesempatan Kerja.
Kesadaran dan dukungan sebagaimana diwujudkan dalam kesepakatan
GNPP tersebut, menunjukan suatu kepedulian dari segenap komponen bangsa
terhadap masalah ketenagakerjaan, utamanya upaya penanggulangan
pengangguran. Menyadari bahwa upaya penciptaan kesempatan kerja itu bukan
semata fungsi dan tanggung jawab Depatemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi,
akan tetapi merupakan tanggung jawab kita semua, pihak pemerintah baik
pusat maupun daerah, dunia usaha, maupun dunia pendidikan. Oleh karena itu,
dalam penyusunan kebijakan dan program masing-masing pihak, baik
pemerintah maupun swasta harus dikaitkan dengan penciptaan kesempatan
kerja yang seluas-luasnya.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengangguran di Indonesia kondisinya saat ini sangat
memprihatinkan, banyak sekali terdapat pengangguran di mana-mana.
Penyebab pengangguran di ndonesia ialah terdapat pada masalah sumber daya
manusia itu sendiri dan tentunya keterbatasan lapangan pekerjaan. Indonesia
menempati urutan ke 133 dalam hal tingkat pengangguran di dunia, semakin
rendah peringkatnya maka semakin banyak pula jumlah pengangguran yang
terdapat di Negara tersebut. Untuk mengatasi masalah pengangguran ini
pemerintah telah membuat suatu program untuk menampung para
pengangguran. Selain mengharapkan bantuan dari pemerintah sebaiknya kita
secara pribadi juga harus berusaha memperbaiki kualitas sumber daya kita
agar tidak menjadi seorang pengangguran dan menjadi beban pemerintah.

B. Saran
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga dapat menambah
pengetahuan, wawasan serta bermanfaat bagi kita semua. Saya menyadari
akan ketidak sempurnaan makalah ini, untuk itu kritik dan saran dari teman-
teman yang membangun sangat bermanfaat untuk memperbaiki makalah
selanjutnya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Sukirno, Sadono, Makro Ekonomi Teori Pengantar, Rajawali. 2011, Jakarta


Todaro, Michael P, Ekonomi Untuk Negara Berkembang,Sinar Grafika Offset.
1994, Jakarta
Putong, Iskandar, Economic Pengantar Mikro dan Makro, Mitra Wacana Media.
2013, Jakarta
Hubbard, Ron. 1983. Masalah Pekerjaan. Bandung: Angkasa Anggota IKAPI.
Keynes, John Maynard.1991. Teori Umum Megenai Kesempatan Kerja, Bungan
dan Uang. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Hubbard, Ron. 1983. Masalah Pekerjaan. Bandung: Angkasa Anggota IKAPI.
Keynes, John Maynard.1991. Teori Umum Megenai Kesempatan Kerja,
Bungan dan Uang. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

17
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................


DAFTAR ISI ......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang .....................................................................................
B. Rumusan Masalah ................................................................................
C. Tujuan Masalah ...................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Arti dari pengangguran.
B. Macam-macam dari pengangguran.
C. Penyebab dari pengangguran.
D. Tingkat pengangguran di Indonesia.
E. Dampak pengangguran terhadap ekonomi masyarakat.
F. Cara mengatasi pengangguran berdasarkan jenisnya.
G. Upaya pemerintah dalam mengatasi pengangguran.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .........................................................................................
B. Saran ...................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

ii
18
KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim
Alhamdulillah, Puji beserta syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami
mampu menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya.
Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini berisikan tentang penjelasan Penomena Pengganguran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini .
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir . Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita . Amin .

Sungai Penuh, November 2017

19i
PENOMENA PENGGANGURAN
MAKALAH
Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Terstruktur dalam Mata Kuliah
Civic Education

Disusun Oleh:
Nilma Anggraini

Dosen Pembimbing:
ALDIA RESKA,M.Pd

JURUSAN EKONOMI DAN BISNIS ISLAM FAKULTAS SYRIAH


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) KERINCI
2017/2018

20