Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN

BATU GINJAL

A. KONSEP DASAR MEDIS

1. Definisi

Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah

dikenal sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya

batu pada kandung kemih mummi. Batu saluran kemih dapat diketemukan

sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter,

buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun

ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih

bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena

hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra.

Batu di dalam saluran kemih (Urinary Calculi) adalah massa keras

seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa

menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi.

Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam

kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini

disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).

Batu ginjal terbentuk pada tubuli ginjal kemuidan berada di kaliks,

infundibulum, pelvis ginjal, dan bahkan bisa mengisi pelvis serta keseluruh

kaliks ginjal. Batu yang mengisi pielum dan lebih dari dua kaliks ginjal

memberikan gambaran menyerupai tanduk rusa sehingga disebut staghorn.

Kelainan atau obstruksi pada sistem pelvikalises ginjal (penyempitan

infundibulum dan stenosis ereteropelvik) mempermudah timbulnya batu

saluran kemih (Purnomo, 2014).

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


1 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
Batu ginjal adalah suatu keadaan terdapatnya batu (kalkuli) di ginjal.

Batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,

infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh

kaliks ginjal. Batu yang mengisi pielum dan lebih dari dua kaliks ginjal

membrikan gambaran menyerupai tanduk rusa sehingga disebut batu

staghorn (Muttaqin, 2012).

2. Etiologi

Urolithiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) di traktus urinarius.

Batu terbentuk di traktus urinarius ketika konsentrasi substansi tertentu

seperti kalsium oksalat, kalsium fosgat, dan asam urat meningkat. Batu juga

dapat terbentuk ketika terdapat defisiensi substansi tertentu, seperti sirat

yang secara normal mencegah kritalisasi dalam urin. Kondisi lain yang

mempengaruhi pembentukan batu mencakup pH urin dan status cairan

pasien (batu cenderung terjadi pada pasien dehidrasi) (Brunner&Suddarth,

2002).

Secara epidemiologis, terdapat beberapa faktor yang mempermudah

terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan

faktor ekstrinsik.

a. Faktor intrinsik

1) Faktor genetik

Faktor genetik berperan penting dalam terjadinya batu

ginjal pasa seseorang. Menurut Mange K.C (1999), seseorang

yang mempunyai keluarga penderita batu ginjal mempunyai risiko

mengalami penyakit batu ginjal sebesar 25 kali dibandingkan

dengan seseorang yang tidak mempunyai garis keturunan penyakit

batu ginjal. Hiperkalsiuria idiopatik ( penyebanya tidak diketahui)

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


2 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
bersifat familial atau genetik. Berdasarkan penelitian dilaporkan

bahwa 50% pasien dengan hiperkalsiura idiopatik bersifat

diturunkan.

2) Riwayat sakit batu ginjal sebelumnya

Penyakit batu ginjal bersifat kumat-kumatan. Artinya,

pasien yang pernah menderita batu ginjal sekalipun batunya

pernah keluar secara spontan atau dikeluarkan oleh dokter, suatu

saat nanti dapat mengalami kekambuhan.

3) Usia

Usia yang paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.

semakin bertambah usia, tubuh pun mengalami risiko kerusakan

lebih besar, tak terkecuali ginjal.

4) Jenis kelamin

Jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien

wanita. Karena saluran kemih pria yang lebih sempit. Juga karena

aktivitas pria yang cenderung lebih padat dari wanita.

5) Kelainan anatomi ginjal dan salurannya

Insidensi batu ginjal lebih sering terjadi pada seseorang

yang mengalami kelainan anatomi ginjal. Hal ini berhubungan

dengan terlambatnya aliran air kemih. Misalnya pada ginjal tapal

kuda (horseshoe kidney), penyempitan ureter, penyempitan

dikaliks, dan sebagainya.

b. Faktor Ekstrinsik

1) Jumlah minum sedikit

Kurang minum, aktivitas yang banyak mengeluarkan

keringat, dan cuaca/iklim panas menyebabkan volume cairan

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


3 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
tubuh berkurang. Akibatnya, jumlah air kemih yang terbentuk

juga lebih sedikit. Keadaan ini juga menciptakan supersaturasi

atau kejunuhan ginjal.

2) Meningkatnya konsentrasi mineral pembentuk batu dalam air

kemih.

Pengeluaran mineral yang berlebihan melalui air kemih

menciptakan kejenuhan air kemih dan berpotensi menyebabkan

terbentuknya batu ginjal. Misalnya :hiperkalsiura (pengeluaran

kalsium yang berlebihan bersama air kemih), hiperoksaluria

(pengeluaran oksalat yang berlebihan bersamaan air kemih), dan

hiperuricosuria (pengeluaran asam urat yang berlebuhan

bersamaan air kemih).

3) Jenis pekerjaan dan hobi yang memicu dehidrasi

Seseorang dengan pekerjaan sehari0hari lebih banyak

menggunakan kekuatan fisik dan yang terlebih lagi tinggal di

daerah yang beriklim panas serta terpapar matahari memiliki

peluang lebih besar untuk mendapatkan batu ginjal. Mereka yang

mempunyai hobi berolah raga tanpa diimbangi dengan jumlah

minum yang memadai yang termasuk golongan yang berpotensi

menderita batu ginjal.

4) Penyakit dan gangguan metabolik

Kelainan metabolik tertentu menyebabkan pembuangan

mineral tubuh meningkatkan misalnya penyakit

hiperparateriodisme (terjadi hiperkalsiura, penyakit rematik asam

urat/gout artritis (terjadi hiperuricosuria), penyakit usus

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


4 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
(menurunnya kadar sitrat), dan penyakit asidosis tubuler ginjal

(kehilangan sitrat melalui air kemih).

5) Geografi

Pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang

lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah

stone belt (sabuk batu).

6) Diet

Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah

terjadinya batu saluran kemih.

Menurut Brunner dan Suddath (2002), ada beberapa faktor yang dapat

menyebabkan batu ginjal, yaitu :

1) Infeksi

2) Stasis urin

3) Periode imobilitas (drainase renal yang lambat dari perubahan

metabolism kalsium)

4) Hiperkalsemia (kalsium serum tinggi) dan hiperkalsuira (kalsium

urin tinggi).

3. Patofisiologi

Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan

infeksi saluran kemih. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian

bawah adalah retensi urine atau keluhan miksi yang lain sedangkan pada

batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan hidroureter atau

hidrinefrosis. Batu yang dibiarkan di dalam saluran kemih dapat

menimbulkan infeksi, abses ginjal, pionefrosis, urosepsis dan kerusakan

ginjal permanen (gagal ginjal).

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


5 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
Mekanisme pembentukan batu ginjal atau saluran kemih tidak

diketahui secara pasti, akan tetapi beberapa buku menyebutkan proses

terjadinya batu dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :

a. Adanya presipitasi garam-garam yang larut dalam air seni, dimana

apabila air seni jenuh akan terjadi pengendapan.

b. Adanya inti ( nidus ). Misalnya ada infeksi kemudian terjadi tukak,

dimana tukak ini menjadi inti pembentukan batu, sebagai tempat

menempelnya partikel-partikel batu pada inti tersebut.

c. Perubahan pH atau adanya koloid lain di dalam air seni akan

menetralkan muatan dan meyebabkan terjadinya pengendapan.

Teori Terbentuknya Batu Saluran Kemih:

a. Teori nukleasi

Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti batu atau sabuk batu

(nukleus). Partikel-partikel yang berada dalam larutan kelewat jenuh akan

mengendap di dalam nukleus itu sehingga akhirnya membentuk batu. Inti

bantu dapat berupa kristal atau benda asing saluran kemih.

b. Teori matriks

Matriks organik terdiri atas serum/protein urine (albumin, globulin

dan mukoprotein) sebagai kerangka tempat mengendapnya kristal-kristal

batu.

c. Penghambat kristalisasi

Urine orang normal mengandung zat penghambat pembentuk kristal

yakni magnesium, sitrat, pirofosfat, mukoprotein dan beberapa peptida. Jika

kadar salah satu atau beberapa zat ini berkurang akan memudahkan

terbentuknya batu dalam saluran kemih.

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


6 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan

infeksi saluran kemih. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian

bawah adalah retensi urine atau keluhan miksi yang lain sedangkan pada

batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan hidroureter atau

hidrinefrosis. Batu yang dibiarkan di dalam saluran kemih dapat

menimbulkan infeksi, abses ginjal, pionefrosis, urosepsis dan kerusakan

ginjal permanen (gagal ginjal).

Mekanisme terbentuknya batu pada saluran kemih atau dikenal dengan

urolitiasis belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor

predisposisi terjadinya batu antara lain : Peningkatan konsentrasi larutan

urin akibat dari intake cairan yang kurang dan juga peningkatan bahan-

bahan organik akibat infeksi saluran kemih atau stasis urin menyajikan

sarang untuk pembentukan batu.Supersaturasi elemen urin seperti kalsium,

fosfat, oxalat, dan faktor lain mendukung pembentukan batu meliputi : pH

urin yang berubah menjadi asam, jumlah solute dalam urin dan jumlah

cairan urin. Masalah-masalah dengan metabolisme purin mempengaruhi

pembentukan batu asam urat.pH urin juga mendukung pembentukan batu.

Batu asam urat dan batu cystine dapat mengendap dalam urin yang

asam.Batu kalsium fosfat dan batu struvite biasa terdapat dalam urin yang

alkalin.Batu oxalat tidak dipengaruhi oleh pH urin.

Imobilisasi yang lama akan menyebabkan pergerakan kalsium menuju

tulang akan terhambat. Peningkatan serum kalsium akan menambah cairan

yang akan diekskresikan. Jika cairan masuk tidak adekuat maka

penumpukan atau pengendapan semakin bertambah dan pengendapan ini

semakin kompleks sehingga terjadi batu.Batu yang terbentuk dalam saluran

kemih sangat bervariasi, ada batu yang kecil dan batu yang besar. Batu

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


7 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
yang kecil dapat keluar lewat urin dan akan menimbulkan rasa nyeri,

trauma pada saluran kemih dan akan tampak darah dalam urin. Sedangkan

batu yang besar dapat menyebabkan obstruksi saluran kemih yang

menimbulkan dilatasi struktur, akibat dari dilatasi akan terjadi refluks urin

dan akibat yang fatal dapat timbul hidronefrosis karena dilatasi ginjal.

Kerusakan pada struktur ginjal yang lama akan mengakibatkan kerusakan

pada organ-organ dalam ginjal sehingga terjadi gagal ginjal kronis karena

ginjal tidak mampu melakukan fungsinya secara normal. Maka dapat terjadi

penyakit GGK yang dapat menyebabkan kematian.

Menurut Muttaqin (2012) mengatakan pelepasan ADH menyebabkan

peningkatan konsentrasi zat pembentuk batu melalui peningkatan

konsentrasi urin. Kelarutan bergantung pada pH urin.Fospat mudah larut

dalam urin yang asam, tetapi sukar larut pada urin yang alkalis. Jadi, fosfat

baru bisa hanya ditemukan pada urin yang alkalis. Sebaliknya, asam urat

lebih mudah larut jika terdisosiasi dari pada yang tidak terdisosiasi, dan

asam urat baru lebih cepat terbentuk pada urin yang asam. Jika

pembentukan Nh3 berkurang, urin harus lebih asam untuk dapat

mengeluarkan asam, dan hal ini meningkatkan pembentukan batu garam

asam urat. Faktor lain yang juga penting adalah beberapa lama sebenarnya

kristal yang telak terbentuk tetap berada di dalam urin yang sangat jenuh.

Lama waktu bergantung pada diuresis dan kondisi aliran dari saluran kemih

bagian bawah, misal dapat menyebabkan kristal menjadi terperangkap.

Batu yang terletak pada ureter maupun sistem pelviskalises yang

menimbulkan obstruksi saluran kemih dan menimbulkan kelainan struktur

saluran kemih sebelah atas. Obstruksi saluran kemih akan terjadi

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


8 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
hidronefritis. Pada keadaan yang lanjut dapat terjadi kerusakan ginjal

apabila berlanjut menyebabkan gagal ginjal permanen.

4. Manifestasi Klinis

Menurut Purnomo (2014) dan Brunner & Suddarth (2002) beberapa

tanda dan gejala yang dapat ditemukan dan dirasakan pada pasien batu

ginjal yaitu :

a. Nyeri

Nyeri mungkin bisa berupa nyeri kolik ataupun bukan kolik. Nyeri

kolik terjadi akrena aktivitas peristaltic otot polos sistem kalises

ataupunn ureter meningkat dalam usaha untuk mengeluarkan batu dari

saluran kemih.

b. Batu di ginjal dapat menimbulkan obstruksi dan infeksi.

c. Hematuria yang disebabkan akibat trauma mukosa saluran kemih

karena batu.

d. Demam

e. Perubahan dalam Buang air kecil dan warna urin

Salah satu fungsi ginjal adalah membuat air kencing (urin) ,apabila

ginjal manusia mengalami gangguan,maka akan terjadi lah gangguan

pada pembentukan urin,baik dari warna,bau dan karakterisitiknya.

Akibat dari gangguan ini,maka terjadilah perubahan dalam frekuensi

buang air kecil.mungkin buang air kecil lebih sering dan lebih banyak

dari pada biasanya dengan warna urin yang pucat. Dan mungkin buang

air kecil dalam jumlah sedikit dari biasanya dengan urin yang

berwarna gelap.

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


9 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
f. Tubuh mengalami pembengkakan

Ketika ginjal gagal untuk melakukan fungsinya, yakni

mengeluarkan cairan atau toksin dalam tubuh , maka tubuh akan

dipenuhi cairan yang mengakibatkan pembengkakan terhadap

beberapa bagian tubuh , diantaranya di bagian kaki, pergelangan kaki,

wajah dan atau tangan.

g. Tubuh cepat lelah / kelelahan

Ginjal yang sehat memproduksi hormon yang disebut dengan

erythropoietin yang mempunyai fungsi sebagai memerintahkan tubuh

untuk membuat oksigen yang membawa sel darah merah. Ketika

tubuh mengalami gagal ginjal, maka ginjal hanya memproduksi

sedikit. Dengan demikian karena sel-sel darah merah pembawa

oksigen tadi berkurang sehingga otot dan otak tubuh menjadi cepat

lelah. Kondisi ini disebut juga sebagai anemia. Oleh karena itu,

apabila mengalami anemia yang berkelanjutan, hati-hati karena hal

tersebut bisa saja merupakan gejala penyakit ginjal.

h. Bau Mulut / ammonia breath

Penumpukan limbah dalam darah (disebut juga sebagai uremia)

karena adanya gagal ginjal dapat membuat rasa tidak enak dalam

makanan dan bau mulut yang busuk.juga bisa mendadak berhenti

menyukai daging dan kehilangan berat badan drastis. Di beberapa

kasus ada juga yang merasa bau mulutnya seperti meminum cairan

besi.

i. Gangguan gastrointestinal: Rasa Mual dan Ingin Muntah

Gejala penyakit ginjal yang lainnya adalah rasa mual berkelanjutan

dan selalu ingin muntah. Gejala ini muncul disebabkan karena uremia

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


10 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
tadi (penumpukan limbah dalam darah). Gejala ini berhubungan

dengan gejala penyakit ginjal sebelumnya yakni bau mulut. Karena

bau mulut,akan mengalami mual yang berakibat sulit makan dan

kehilangan berat badan yang sangat drastis.

5. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang

Menurut Purnomo (2014) pemeriksaan penunjang untuk mengetahui

batu ginjal dapaat dilaksanakan melalui beberapa pemeriksaan, yaitu :

a. Foto polos abdomen

Pembuatan foto polos abdomen bertujuan untuk melihat

kemungkinan adanya batu radio-opak di saluran kemih. Batu-batu

jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat bersifat radio-opak dan paling

sering dijumpai diantara batu jenis lain, sedangkan batu asam urat

bersifat non opak (radio-lusen).

b. Pielografi Intra Vena (IVU)

Pemeriksaan ini bertujuan menilai keadaan anatomi fungsi ginjal.

Selain itu IVU dapat mendeteksi adanya batu semi-opak ataupun batu

non opak yang tidak dapat terlihat oleh foto polos perut. Jika IVU

belum dapat menjelaskan keadaan sistem saluran kemih akbiat adanya

penurunan fungsi ginjal, sebagai penggantinya adalah pemeriksaan

pielografi retrograde.

c. Ultrasonografi (USG)

USG dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan

IVU, yaitu pada keadaan-keadaan: alergi terhadap kontras, faal ginjal

yang menurun, dan pada wanita yang sedang hamil. Pemeriksaan USG

dapat menilai adanya batu di ginjal atau di buli-buli (yang ditunjukkan

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


11 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
sebagai echoic shadow), hidronefrosis, pionefrosis, atau pengerutan

ginjal.

Diagnosis dapat juga ditegaakan dengan uji kimia darah dan urin

24 jam untuk mengukur kadar kalsium, asam urat, kreatinin, naatrium,

pH, dan volume total merupakan bagian dari upaya diagnostic.

Riwayat diet dan medikasi serta riwayat adanya batu ginjal dalam

keluarga didapatkan untuk mengidentifikasi faktor yang mencetuskan

terbentuknya batu pada pasien (Brunner & Suddarth, 2002).

6. Komplikasi

a. Sumbatan atau obstruksi akibat adanya pecahan batu.

b. Infeksi, akibat diseminasi partikel batu ginjal atau bakteri akibat

obstruksi.

c. Kerusakan fungsi ginjal akibat sumbatan yang lama sebelum

pengobatan atau pengangkatan batu ginjal.

d. Obstruksi

e. Hidronephrosis.

7. Penatalaksanaan

Menurut Purnomo (2014) beberapa penatalaksanaan pada batu ginjal

yaitu :

a. Medikamentosa

Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang ukurannya

kurang dari 5 mm, karna diharapkan batu dapat keluar spontan. Terapi

yang diberikan bertujuan untuk mengurangi nyeri, memperlancar aliran

urine dengan pemberian diuretikum, dan minum banyak supaya dapat

mendorong batu keluar dari saluran kemih.

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


12 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
b. ESWL (Extracorporeal Shockwae Lithotripsy)

Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali

oleh Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu

ureter proksimal, atau batu buli-buli tanpa melalui tindakan invasif dan

tanpa pembiusan. Batu dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil

sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih. Tidak jarang

pecahan batu yang sedang keluar menimbulkan perasaan nyeri kolik

dan hematuria.

c. Endourologi

Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk

mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu, dan

kemudian mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang

dimasukkan langsung kedalam saluran kemih. Alat itu dimasukkan

melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Proses

pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik, dengan memakai

energi hidraulik, energi gelombang suara, atau dengan energi laser.

Beberapa tindakan endourologi yaitu :

1) PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) adalah usaha

mengeluarkan batu yang berada di dalam saluran ginjal degna cara

memasukkan alat endoskopi ke sistem kalises melalui insisi pada

kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu

menjadi fragmen-fragmen kecil.

2) Litotripsi adalah memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan

memasukkan alat pemecah batu ke dalam buli-buli. Pecahan batu

dikeluarkan dengan evakuator Ellik.

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


13 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
3) Ureteroskopi atau ureto-renoskopi adalah dengan memasukkan alat

utereskopi per-uretram guna melihat keadaan ureter atau sistem

pielokaliks ginjal. Dengan memakai energi tertentu, batu yang

berada di dalam ureter maupun sistem pelvikalises dapat dipecah

melalui tuntutan uteroskopi/uterorenoskopi ini.

4) Ektraksi dormia adalah mengeluarkan batu ureter dengan

menjaringnya melalui alat keranjang Dormia.

d. Bedah Laparoskopi

Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih saat

ini sedang berkembang. Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu

ureter.

e. Bedah terbuka

Di klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk

tindakan-tindakan endourologi, laparaskopi, maupun ESWL,

pengambilan batu masih dilakukan melalui pembedahan terbuka.

Pembedahan terbuka itu antara lain adalah pielolitotomi atau

nefrolitotomi unutk mengambil batu pada saluran ginjal, dan

ureterolitotomi untuk batu di ureter. Tidak jarang pasien harus

menjalani tindakan nefrektomi atau pengambilan ginjal karena

ginjalnya sudah tidak berfungsi dan berisi nanah (pionefrosis), korteks

sudah sangat tipis, atau mengalami pengkerutan akibat batu saluran

kemih yang menimbulkan obstruksi dan infeksi yang menahun.

8. Prognosis

Menurut data yang dihimpun Kementerian Kesehatan Indonesia

(Kemenkes) pada tahun 2013, diperkirakan prevalensi penderita yang

terdiagnosa batu ginjal untuk umur di atas 15 tahun adalah sebesar 0,6

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


14 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
persen dari total penduduk Indonesia. Lima provinsi yang menduduki

posisi tertinggi masalah penyakit batu ginjal di antaranya adalah DI

Yogyakarta, Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah.

Dalam mendiagnosis batu ginjal, biasanya pertama-tama dokter akan

menanyakan pada pasien mengenai seputar gejala-gejala yang telah

dialami. Dokter juga bisa menanyakan apakah pasien pernah menderita

batu ginjal sebelumnya, memiliki riwayat keluarga berpenyakit sama, atau

apakah pasien sering mengonsumsi makanan atau suplemen yang bisa

memicu terbentuknya batu ginjal.

Setelah keterangan dikumpulkan, dokter biasanya akan melakukan

sejumlah tes untuk memperkuat bukti. Tes-tes tersebut bisa berupa

pemeriksaan urine, pemeriksaan darah, dan pemindaian (misalnya USG,

rontgen, CT scan, dan intravenous urogram/IVU).

B. Konsep Keperawatan

1. Pengkajian

a. Identitas

Nama : Dengan inisial

Umur : Paling sering 30 50 tahun

Jenis kelamin : Lebih banyak pada pria

Alamat : Tinggal di daerah panas

b. Riwayat Keperawatan

1) Keluhan Utama : Biasanya keluhan utama klien merasakan nyeri,

akut/kronik dan kolik yang menyebar ke paha dan genetelia.

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


15 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
2) Riwayat Penyakit Dahulu : Biasanya klien yang menderita

penyakit batu ginjal, pernah menderita penyakit infeksi saluran

kemih.

3) Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga menderita batu ginjal dan hipertensi

c. Fungsional Gordon

1) Pola persepsi dan management

Pola ini akan menjelaskan bagaimana penderita batu ginjal

ini mengatasi penyakit yang di deritanya,apakah langsung di bawa

ke rumah sakit atau tidak.

2) Pola nutrisi dan metabolik

Menjelaskan bagaimana makan klien, apakah mengalami

muntah. Dan biasanya klien sering mengalami hidrasi

3) Pola eliminasi

Klien akan mengalami gangguan pada keseimbangan cairan

dan elektrolit. Dan biasanya klien terserang diare

4) Pola aktivitas dan latihan

Aktivitas dan latihan klien akan terganggu, karena klien

mengalami nyeri dan bengkak pada tungkai

5) Pola kognitif dan perceptual

Biasanya klien yang menderita batu ginjal tidak mengalami

gangguan pada penglihatan, dan pendengaran

6) Pola istirahat dan tidur

Biasanya tidur dan istirahat klien terganggu, karena

merasakan nyeri yang sangat hebat pada daerah tungkai

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


16 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
7) Pola konsep diri dan persepsi

Biasanya klien sering merasa cemas akan penyakitnya

8) Pola peran dan hubungan

Klien lebih sering menutup diri, dan sering mengabaikan

perannya baik sebagai suami, maupun ayah.

9) Pola reproduksi dan seksual

Biasanya klien yang menderita batu ginjal mengalami

gangguan reproduksi dan seksual nya, sehingga iya tidak dapat

memenuhi kebutuhan seksualnya.

10) Pola coping dan toleransi

Klien yang menderita batu ginjal cenderung stres, karena

cemas memikirkan penyakitnya, yang tak kunjung sembuh.

11) Pola nilai dan keyakinan

Klien agak susah melakukan aktivitas ibadah nya, karena

dirumah sakit klien menggunakan kateter.

Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan

yang perlu dikaji adalah:

1) Aktivitas/istirahat:

Gejala:

a) Riwayat pekerjaan monoton, aktivitas fisik rendah, lebih

banyak duduk.

b) Riwayat bekerja pada lingkungan bersuhu tinggi.

c) Keterbatasan mobilitas fisik akibat penyakit sistemik lainnya

(cedera serebrovaskuler, tirah baring lama).

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


17 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
2) Sirkulasi

Tanda:

a) Peningkatan TD, HR (nyeri, ansietas, gagal ginjal)

b) Kulit hangat dan kemerahan atau pucat

3) Eliminasi

Gejala :

a) Riwayat ISK kronis, obstruksi sebelumnya

b) Penurunan volume urine

c) Rasa terbakar, dorongan berkemih

d) Diare

Tanda:

a) Oliguria, hematuria, piouria

b) Perubahan pola berkemih

c) Makanan dan cairan:

4) Nutrisi

Gejala:

a) Mual/muntah, nyeri tekan abdomen

b) Riwayat diet tinggi purin, kalsium oksalat dan atau fosfat

c) Hidrasi yang tidak adekuat, tidak minum air dengan cukup

Tanda:

a) Distensi abdomen, penurunan/tidak ada bising usus

b) Muntah

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


18 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
5) Nyeri dan kenyamanan:

Gejala:

a) Nyeri hebat pada fase akut (nyeri kolik), lokasi nyeri

tergantung lokasi batu (batu ginjal menimbulkan nyeri dangkal

konstan)

Tanda:

a) Perilaku berhati-hati, perilaku distraksi

b) Nyeri tekan pada area ginjal yang sakit

6) Keamanan:

Gejala:

a) Penggunaan alkohol

b) Demam/menggigil

7) Penyuluhan/pembelajaran:

Gejala:

a) Riwayat batu saluran kemih dalam keluarga, penyakit ginjal,

hipertensi, gout, ISK kronis

b) Riwayat penyakit usus halus, bedah abdomen sebelumnya,

hiperparatiroidisme

c) Penggunaan antibiotika, antihipertensi, natrium bikarbonat,

alopurinul, fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau

vitamin.

Menurut Brunner & Suddarth (2002) pasien yang diduga

mengalami batu ginjal dikaji terhadap adanya nyeri dan ketidaknyamanan.

Keparahan dan lokasi nyeri ditentukan bersamaan dengan radiasi nyeri.

Pasien juga dikaji akan adanya gejala yang berhubungan seperti mual,

muntah, diare, dan distensi abdomen. Pengkajian keperawatan mencakup

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


19 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
obserasi tanda-tanda infeksi traktus urinarius (menggigil, demam, disuria,

sering berkemih, dan hesitancy) dan obstruksi (berkemih sering dengan

jumlah urin sedikit, oliguria, atau anuria). Selain itu, urin diobsevrasi akan

adanya darah dan disaring untuk kemungkinan adanya batu atau kerikil.

Riwayat difokuskan pada faktor predisposisi penyebab

terbentuknya batu di traktus urinarius atau faktor pencertus episode kolik

renal atau ureteral. Faktor predisposisi penyebab terbentuknya batu

mencakup riwayat adanya batu dalam keluarga, kanker atau gangguan

pada sumsum tulang,atau diet tinggi kalsium atau purine. Faktor yang

dapat mencetuskan pembentukan batu pada pasien yang terkena batu

ginjal mencakup episode dehidrasi, imobilisasi yang lama dan infeksi.

Pengetahuan pasien tentang batu renal dan upaya unutk mencegah

kejadian dan kekambuan juga dikaji.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri akut

Definisi : Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan

kerusakan jaringan aktual fungsional, dengan onset mendadak atau

lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang

dari 3 bulan.

b. Kekurangan volume cairan

Definisi : Penurunan cairan intravascular, interstitial, dan/atau

intraseluler. Ini mengacu pada dehidrasi, kehilangan cairan saja tanpa

perubahan kadar natrium.

c. Gangguan eliminasi urin

Definisi : disfungsi eliminasi urin

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


20 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
d. Risiko infeksi

Definisi : Rentan mengalami invasi dan multiplikasi organism

patogenik yang dapat mengganggu kesehatan.

e. Ansietas

Definisi : Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai

respons otonom (sumber sering kali tidak spesifik atau tidak diketahui

oleh individu), perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap

bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang memperingatkan

individu akan adanya bahaya dan memampukan individu untuk

bertindak menghadapi ancaman.

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


21 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
3. Intervensi Keperawatan

NO DIAGNOSA NOC NIC RASIONAL


1. Catat lokasi, lamanya/intensitas 1. Membantu evaluasi
1 Nyeri Akut Kontrol Nyeri nyeri (skala 1-10) dan tempat obstruksi dan
Klien diharapkan mampu untuk : penyebarannya. Perhatiakn tanda kemajuan gerakan batu.
non verbal seperti: peningkatan TD
Menilai factor penyebab dan DN, gelisah, meringis, 2. Melaporkan nyeri secara
merintih, menggelepar. dini memberikan
Menilai gejala dari nyeri kesempatan pemberian
analgesi pada waktu
Gunakan tanda tanda vital memantau yang tepat dan
perawatan 2. Jelaskan penyebab nyeri dan
pentingnya melaporkan kepada staf 3. Meningkatkan relaksasi
Laporkan tanda / gejala nyeri pada perawatan setiap perubahan dan menurunkan
karakteristik nyeri yang terjadi. ketegangan otot.
tenaga kesehatan professional
4. Mengalihkan perhatian
Gunakan catatan nyeri
3. Lakukan tindakan yang dan membantu relaksasi
Tingkat Kenyamanan mendukung kenyamanan (seperti otot.
masase ringan/kompres hangat
Klien diharapkan mampu untuk pada punggung, lingkungan yang
tenang) 5. Aktivitas fisik dan hidrasi
Melaporkan Perkembangan Fisik yang adekuat
4. Bantu/dorong pernapasan dalam, meningkatkan lewatnya
Melaporkan perkembangan kepuasan
bimbingan imajinasi dan aktivitas batu, mencegah stasis
Melaporkan perkembangan psikologi terapeutik. urine dan mencegah
pembentukan batu

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


22 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
5. Batu/dorong peningkatan aktivitas selanjutnya.
Mengekspresikan perasaan dengan (ambulasi aktif) sesuai indikasi
lingkungan fisik sekitar disertai asupan cairan sedikitnya 3- 6. Obstruksi lengkap ureter
4 liter perhari dalam batas toleransi dapat menyebabkan
Mengekspresikan kepuasan dengan jantung. perforasi dan
ekstravasasiurine ke
Kontrol nyeri 6. Perhatikan dalam area perrenal, hal
peningkatan/menetapnya keluhan ini merupakan
Tingkatan Nyeri nyeri abdomen. kedaruratan bedah akut.
Klien diharapkan mampu untuk:
7. Analgetik (gol. narkotik)
Melaporkan Nyeri biasanya diberikan
7. Kolaborasi pemberian obat sesuai selama episode akut
Ekspresi nyeri lisan program terapi: untuk menurunkan kolik
- Analgetik ureter dan meningkatkan
Ekspresi wajah saat nyeri
relaksasi otot/mental.
Melindungi bagian tubuh yang nyeri

Perubahan frekuensi pernapasan - Antispasmodik

- Kortikosteroid

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


23 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
1. Awasi asupan dan haluaran 1.Mengevaluasi adanya
2 Kekurangan Keseimbangan Elektrolit Asam dan stasis urine/kerusakan
volume cairan Basa ginjal.
2. Catat insiden dan karakteristik
Klien diharapkan mampu untuk: muntah, diare. 2.Mual/muntah dan diare
secara umum berhubungan
Denyut jantung dengan kolik ginjal karena
saraf ganglion seliaka
Irama jantung 3. Tingkatkan asupan cairan 3-4 menghubungkan kedua
Pernapasan liter/hari. ginjal dengan lambung.

Irama napas
4. Awasi tanda vital. 3.Mempertahankan
Kekuatan otot keseimbangan cairan
untuk homeostasis, juga
Keseimbangan Cairan
5. Timbang berat badan setiap hari. dimaksudkan sebagai
Klien diharapkan mampu untuk: upaya membilas batu
keluar.
Tekanan darah 6. Kolaborasi pemeriksaan HB/Ht
dan elektrolit. 4.Indikator hiddrasi/volume
Tekanan arteri sirkulasi dan kebutuhan
7. Berikan cairan infus sesuai intervensi.
Tekanan vena sentral
program terapi.
Palpasi nadi perifer 5.Peningkatan BB yang
8. Kolaborasi pemberian diet sesuai cepat mungkin
Kesimbangan intake & output keadaan klien. berhubungan dengan
retensi.
(24jam)

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


24 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
6. Mengkaji hidrasi dan
Kestabilan berat badan 9. Berikan obat sesuai program terapi efektiviatas intervensi.
Konfusi yang tidak tampak (antiemetik misalnya
Proklorperasin/ Campazin). 7. Mempertahankan volume
Hidrasi kulit sirkulasi (bila asupan per
oral tidak cukup)
Hidrasi
8. Makanan mudah cerna
Klien diharapkan mampu untuk: menurunkan aktivitas
Hidrasi kulit saluran cerna,
mengurangi iritasi dan
Kelembaban membran mukosa membantu
mempertahankan cairan
Haus yang abormal (-) dan keseimbangan
nutrisi.
Perubahan suara napas (-)

Napas pendek (-) 9. Antiemetik mungkin


diperlukan untuk
Mata yang cekung (-) menurunkan
mual/muntah.
Demam (-)

Keringat

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


25 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
1. Awasi asupan dan haluaran, 1. Memberikan informasi
3 Gangguan Eliminasi Urin karakteristik urine, catat adanya tentang fungsi ginjal dan
Eliminasi Urin Klien diharapkan mampu untuk: keluaran batu. adanya komplikasi.
Penemuan batu
Pola eliminasi 2. Tentukan pola berkemih normal memungkinkan
klien dan perhatikan variasi yang identifikasi tipe batu dan
Bau urin terjadi. mempengaruhi pilihan
terapi.
Jumlah urin 2. Batu saluran kemih dapat
Warna urin 3. Dorong peningkatan asupan cairan. menyebabkan
peningkatan eksitabilitas
Partikel urin yang bebas 4. Observasi perubahan status mental, saraf sehingga
perilaku atau tingkat kesadaran. menimbulkan sensasi
Kejernihan urin kebutuhan berkemih
segera. Biasanya
Pencernaan cairan yang adekuat
5. Pantau hasil pemeriksaan frekuensi dan urgensi
Keseimbangan intake dan output laboratorium (elektrolit, BUN, meningkat bila batu
kreatinin) mendekati pertemuan
dalam 24 jam uretrovesikal.
6. Berikan obat sesuai indikasi: 3. Peningkatan hidrasi dapat
Urin yang keluar tidak disertai nyeri - Asetazolamid (Diamox), membilas bakteri, darah,
Alupurinol (Ziloprim) debris dan membantu
Urin yang tak lancar keluar
- Hidroklorotiazid (Esidrix, lewatnya batu.
Urin yang keluar dengan tergesa-ge Hidroiuril), Klortalidon 4. Akumulasi sisa uremik
(Higroton) dan ketidakseimbangan
Pengawasan urin - Amonium klorida, kalium atau elektrolit dapat menjadi
natrium fosfat (Sal-Hepatika) toksik pada SSP.
Pengosongan kandung kemih dengan - Agen antigout mis: Alupurinol 5. Peninggian BUN,

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


26 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
(Ziloprim) kreatinin dan elektrolit
lengkap - Antibiotika menjukkan disfungsi
Tahu akan keluarnya urin - Natrium bikarbonat ginjal.
6. Meningkatkan ph urine
7. Pertahankan patensi kateter tak (alkalinitas) untuk
menetap (uereteral, uretral atau menurnkan pembentukan
nefrostomi). batu asam.
7. Mengasamkan urine
8. Irigasi dengan larutan asam atau untuk mencegah
alkali sesuai indikasi. berulangnya
pembentukan batu
alkalin.
9. Siapkan klien dan bantu prosedur 8. Mengubah ph urien dapat
endoskopi. membantu pelarutan batu
dan mencegah
pembentukan batu
selanjutnya.
9. Berbagai prosedur endo-
urologi dapat dilakukan
untuk mengeluarkan batu.
1. Cuci tangan setiap sebelum dan
4 Risiko infeksi Kontrol Resiko 1. Meminimalisir resiko
sesudah tindakan keperawatan
Mengetahui resiko 2. Batasi pengunjung bila perlu terjadinya infeksi.

Memonitor faktor resiko lingkungan 3. Intruksikan kepada pengunjung 2. Mengurangi tingkat

Memonitor faktor resiko dari tingkah untuk mencuci tangan saat kontaminasi pasien dengan
berkunjung dan setelah berkunjung

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


27 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
meninggalkan pasien
laku orang lain.
4. Inspeksi kulit dan membran mukosa
Mengembangkan strategi control terhadap kemerahan, panas, 3. Mencegah terjadinya

secara efektif drainase infeksi silang


5. Tingkatkan intake nutrisi 4. Mengetahui terjadinya
6. Instruksikan kepada pasien untuk
infeksi dan menjadi dasar
minum antibiotik sesuai resep
penentuan intervensi

selanjutnya

5. Nutrisi yang adekuat dapat

memperkuat sistem

imunitas tubuh

6. Mencegah terjadinya

infeksi

a. Anxiety control NIC 1. Memberikan rasa nyaman


5 Ansietas
b. Coping Anxiety Reduction (penurunan kepada pasien

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


28 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
c. Impulse control kecemasan)
1. Gunakan pendekatan yang 2. Agar klien dapat
Setelah dilakukan tindakan keperawatan menenangkan mengerti dan memahami
selama . Pasien bertoleransi terhadap 2. Jelaskan semua prosedur dan apa prosedur yang akan
aktivitas dengan Kriteria Hasil : yang dirasakan selama prosedur dilaksanakan
1. Klien mampu mengidentifikasi dan 3. Instruksikan kepada pasien untuk 3. Dapat mengurangi
mengungkapkan gejala cemas menggunakan teknik relaksasi kecemasan pasien
2. Mengidentifikasi, mengungkapkan 4. Libatkan keluarga untuk 4. Support dari keluarga
dan menunjukkan tehnik untuk mendampingi pasien dapat mengurangi
mengontol cemas 5. Kolaborasi pemberian obat anti kecemasan pasien
3. Vital sign dalam batas normal cemas 5. Pemberian obat cemas
dapat menurunkan
Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa
kecemasan pasien
tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan

berkurangnya kecemasan

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


29 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII
30 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)
DAFTAR PUSTAKA

Brunner &Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. EGC. Jakarta

Johnson, Meridian Maas, & Sue Moorhead. 2013. Nursing Outcame Clasification.
Mosby. Philadelphia

McCloskey & Gloria M Bulechek. 2013. Nursing Intervention Clasification.


Mosby. USA

Mubin, Halim. 2013. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam. EGC. Jakarta

Muttaqin Arif dan Kumala Sari. 2012. Asuhan keperawatan gangguan sistem
perkemihan. Salemba medika. Jakarta.

NANDA. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017. EGC.


Jakarta

PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Tim Pokja SDKI PPNI.

Jakarta

Purnomo, Basuki. 2014. Dasar-dasar Urologi. Sagung Seto. Jakarta

Program Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkt XIII


31 Siti Hardianti Ariana, S.Kep (70900117015)