Anda di halaman 1dari 15

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengenalan dan Penggunaan Mikroskop

2.1.1 Sejarah Mikroskop

Mikroskop pertama ditemukan oleh Hans dan Zacharias jansen pada tahun

1590, tetapi kemudian mikroskop disempurnakan oleh Antony Van Leuwenhoek

(1632-1723) yang hanya terdiri dari satu lensa tunggal saja. Mikroskop yang

ditemukan oleh Anthony van Leuwenhoek pada tahun 1675, menggunakan

perbesaran 200x (Edward, 2006). Pada mulanya Anthony van Leuwenhoek

menggunakan mikroskop sederhana pada bidang mikrobiologi yaitu memakai

lensa sederhana berdiameter 270 mm. Selanjutnya dalam pemakaian mikroskop

untuk ketajaman dan perbesaran dari objek yang diamati, diperlukan pengetahuan

tentang metode lensa dan kombinasi lensa (Gabriel, 1998). Lensa merupakan

medium pembias yang dibatasi oleh dua permukaan, dan bayangan yang terbentuk

adalah maya karena sinar-sinar pembentuk bayangan tidak mengumpul ketitik

bayangan (Soedarjo, 2004). Pembuat mikroskop pertama kali ditemukan oleh 2

orang ilmuan jerman,yaitu Hans Janssens dan Zacharias Janssens (ayah-anak)

pada tahun 1950. temuan mikroskop saat itu mendorong ilmuan lain , seperti

Galileo Galilei (italia), untuk membuat alat yang sama. Galileo menyelesaikan

pembuatan mikroskop pada tahun 1609, dan mikroskop yang dibuatnya dikenal

dengan nama mikroskop Galileo ( Subowo ,2003).

7
8

2.1.2 Jenis-jenis Mikroskop

Ada berbagai jenis mikroskop masing-masing dibuat dengan tujuan

tertentu sesuai dengan keperluan dalam melakukan penelitian atau percobaan,

adapun jenis-jenis mikroskop sebagai berikut :

Mikroskop cahaya memiliki perbesaran maksimal 1000 kali. Mikroskop

memeiliki kaki yang berat dan kokoh agar dapat berdiri dengan stabil. Mikroskop

cahaya memiliki tiga dimensi lensa yaitu lensa objektif, lensa okuler dan lensa

kondensor. Lensa objektif dan lensa okuler terletak pada kedua ujung tabung

mikroskop.Lensa okuler pada mikroskop bias membentuk bayangan tunggal

(monokuler) atau ganda (binikuler). Paada ujung bawah mikroskop terdapat

dudukan lensa obektif yang bias dipasangi tiga lensa atau lebih. Pada mikroskop

konvensional, sumber cahaya masih barasal dari sinar matahari yang dipantulkan

oleh suatu cermin dataar ataupun cukung yang terdapat dibawah kondensor.

Cermin in akan mengarahkan cahaya dari luar kedalam kondensor ( Wawan

Junaedi,2009).

Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya bisa digunakan

untuk benda yang berukuran relative besar. Mikroskop stereo memiliki

perbesasran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan mikroskop ini dapat

dilihat secara 3 dimensi. Komponen utama mikroskop stereo hamper sama dengan

mikroskop cahaya. Lensa terdiri atas lensa okuler dan lensa objektif. Beberapa

perbedaan dengan mikroskop cahaya adalah ruang ketajaman lensa mikroskop

stereo jauh lebih tinggi dibandinhkan denan mikroskop cahaya ssehingga kita

dapat melihat bentuk tiga dimensi benda yang diamati, sumber cahaya berasal dari
9

atas sehingga objek yang tebal dapat diamati. Perbesaran lensa okuler biasannya 3

kali, sehingga prbesaran objek total minimal 30 kali. Pada bagian bawah

mikroskop terdapat meja preparat. Pada daerah dekat lenda objektif terdapat

lampu yang dihubungkan dengan transformator. Pengaturan focus objek terletak

disamping tangkai mikroskop, sedangkan pengaturan perbesaran terletak diatas

pengatur fokus (Soedarjo, 2004).

Mikroskop elektron mempunyai perbesaran sampai 100 ribu kali, elektron

digunakan sebagai pengganti cahaya. Mikroskop elektron mempunyai dua tipe,

yaitu mikroskop elektron scanning (SEM) dan mikroskop elektron transmisi

(TEM). SEM digunakan untuk studi detil arsitektur permukaan sel (atau struktur

renik lainnya), dan obyek diamati secara tiga dimensi. Sedangkan TEM digunakan

untuk mengamati struktur detil internal sel ( Edward, 2006 ).

2.1.3 Bagian-bagian dan Fungsi Komponen Mikroskop

Mikroskop terdiri atas beberapa komponen, antara lain Lensa okuler

berfungsi untuk memperbesar benda yang dibentuk oleh lensa objektif, pada

tabung mikroskop berfungsi untuk mengatur fokus, dapat dinaikan dan

diturunkan, tombol pengatur fokus kasar memiliki fungsi untuk mencari fokus

bayangan objek secara cepat sehingga tabung mikroskop turun atau naik dengan

lambat,pada revolver berfungsi untuk memilih lensa objektif yang akan

digunakan, lensa objektif memiliki fungsi untuk menentukan bayangan objektik

serta memperbesar benda yang diamati. Perbesaran bayangan dari suatu obyek

dapat diketahui dari angka perbesaran lensa obyektif dan lensa okuler. Ukuran
10

suatu benda dapat diketahui dengan membandingkan terhadap ukuran bidang

pandang sehingga hasil dapat terlihat secara jelas dan memudahkankan pandangan

terhadap benda yang di amati (Soedarjo, 2004).

2.1.4 Sifat Lensa Pada Mikroskop

Mikroskop cahaya menggunakan tiga jenis lensa, yaitu lensa obyejtif yaitu

bekerja dalam pembentukan bayangan pertama. Lensa ini menetukan struktur dan

bagian renik yang akan menentukan daya pisah specimen, sehingga mampu

menunjukan struktur renik yang berdekatan sebagai dua benda yang terpisah,

Lensa okuler merupakan lensa mikroskop yang terdapat dibagian ujung atas

tabung, berdekatan dengan mata pengamat. Lensa ini berfungsi untuk

memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa objektif. Perbesaran bayangan

yang terbentuk berkisar antara 4 – 24 kali. Lensa kondensor berfungsi untuk

mendukung terciptnya pencahayaan pada objek yang akan difokus, sehingga

pengaturannya tepat akan diperoleh daya pisah maksimal, dua benda menjadi satu.

(Subowo, 2003).
11

2.2 Pengamatan Sel

2.2.1 Pengertian Sel

Sel memiliki badan atau sistem organel-orgenel yang menjalankan fungsi

masing-masing tiap karakter, karena sel merupakan kesatuan atau unit struktural

mahluk hidup. Dari hasil pengamatan para ahli meyimpulkan bahwa : tiap mahluk

hidup trdiri dari sel, sel juga merupakan unit struktural terkecil dari mahluk hidup,

organisme bersel tunggal yaitu sebuah sel yang organisme lainnya atau lebih dari

satu sel organisme bersel banyak (Johanes Purkinye, 2005).

2.2.2 Sel Hewan

Secara struktural sel merupakan penyusun mahluk hidup baik yang bersel

satu maupun yang bersel banyak, adapun sel hewan lebih kecil dari pada sel

tumbuhan dan tidak mempunyai bentuk yang tetap, tidak mempunyai dinding

sel(cell wall ), tidak mempunyai plastida, bahkan tidak mempunyai vakuola

(vacuole ), walaupun terkadang sel beberapa hewan uniseluller memiliki vakuola

(tapi tidak sebesar yang dimiliki oleh tumbuhan) yang biasa dimiliki hewan

adalah vesikel atau ( vesicle ). Serta menyimpan tenaga dalam bentuk butiran

(granul ) glikogen, mempunyai sentrosom, lisosom, dan nukleus lebih besar dari

pada vesicel (Wilson, 2003).

2.2.3 Sel Tumbuhan

Makhluk hidup di bumi ini sangat banyak dan beraneka ragam. Hal ini

dapat kita lihat dengan adanya berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Tumbuhan

merupakan makhluk penyedia oksigen, dimana oksigen tersebut digunakan oleh


12

makhluk hidup lainnya untuk keberlangsungan hidupnya. Sel tumbuhan lebih

besar dari pada sel hewan dan mempunyai bentuk yang tetap, mempunyai dinding

sel dari solulosa, plastida, vakuola atau rongga sel yang besar, dan menyimpan

tenaga dalam bentuk butiran pati. Sel tumbuhan juga tidak mempuyai sentrosom,

lisosom, serta nukleusnya lebih kecil dari pada vakuola. (Heddy, 2004).

2.2.4 Organel-organel sel

Nukleus adalah bagian penting sel sebagai pengendali kegiatan sel.

Nukleus mengandung kromosom, nukleolus dan matriks.Setiap nukleus tersusun

atas berapa bagian diantaranya selaput inti yang merupakan bagian terluar dari inti

dan sehinnga dapat memisahkan nukleoplasma dengan sitoplasma. Nukleoplasma

yaitu merupakan cairan inti yang bersifat transparan dan semisolid (kental) yang

mengandung kromatin, granula, nukleoprotein dan senyawa kimia kompleks.

Nukleolus yaitu anak inti tersusun atas fosfo protein, DNA dan enzim berperan

dalam sintesis RNA (Wilson, 2003).

2.3 Pengamatan Tumbuhan

2.3.1 Tumbuhan Monokotil

Tumbuhan Monokotil adalah tumbuhan yang berkeping satu dan

mempunyai struktur morfologi dan anatomi tumbuhan. Akar dikotil dan

monokotil ujungnya di lindungi oleh tudung akar atau kaliptera, yang fungsinya

melindungi ujung akar sewaktu menembus tanah, sel-sel kaliptera ada yag

mengandung butir-butir amylum, di namakan kolumela. Pada batang monokotil,

epidermis terdiri dari satu lapis sel, batas antara korteks dan stele umumnya tidak
13

jelas. Pada stele monokotil terdapat ikatan pembuluh yang menyebar dan bertipe

kolateral tertutup yang artinya di antara xilem dan floem tidak di temukan

kambium. Tidak adanya kambium pada monokotil menyebabkan batang

monokotil tidak dapat tumbuh membesar, dengan perkataan lain tidak terjadi

pertumbuhan menebal sekunder, misalnya pada pohon Hanjuang

( Cordyline sp ) dan pohon Nenas seberang ( Agave sp ) (Fahn, 2006).

2.3.2 Tumbuhan Dikotil

Morfologi tumbuhan dikotil yaitu pada akar uungnya di lindungi oleh

tudung akar atau kaliptera, yang fungsinya melindungi ujung akar sewaktu

menembus tanah, sel-sel kaliptera ada yang mengandung butir-butir amilum, di

namakamn kolumela. Pada batang terdiri dari tunas aksiler, meristem epical, buku

dan kulit. Pada daun terdiri dari tepi daun, ujung daun, pangkal daun, bangun

daun. Pada bunga terdiri dari tangkai bunga, putik, kelopak dan mahkota. Bagian

anatomi tumbuhan dikotil yaitu pada akar terdiri dari meristem, epidermis,

korteks, sklerenkim, empulur, endodermis, xilem dan floem.Pada daun terdiri dari

polenkima, kutikula, xilem, floem, stoma, epidermis daun dan mesofil. Pada

bunga terdiri dari parenkim, epidermis, dan jaringan pembuluh (Fahn, 2006).
14

2.3.3 Organ-organ Tumbuhan

Organ-organ tumbuhan yang penting ada tiga yaitu akar, batang dan daun.

Akar ( Radix ) adalah dari akar pada dikotil, akar lembaga terus tumbuh sehingga

membentuk akar tunggang, pada monokotil akar lembaga mati, kemudian pada

pangkal batang akan tumbuh akar-akar yang memilki ukuran yang hampir sama

sehingga berbentuk akar serabut (Sudjino,2006).

Batang (Caulis) dikotil terdapat lapisan-lapisan dari luar kedalam :epidermis

terdiri atas selaput sel yang tersusun rapat, tidak mempunyai ruang antar sel.

Fungsi epidermis untuk melindungi jaringan di bawahnya. Pada batang yang

mengalami pertumbuhan sekunder, lapisan epidermis di gantikan oleh lapisan

gabus yang di bentuk dari kambium gabus. Korteks batang disebut juga kulit

pertama, tergdiri dari beberapa lapisan sel, yang dekat dengan lapisan epidermis,

tersusun tas jaringan kolenkim, makin ke dalam tersusun atas jaringan parenkim,

Endodermis, batang disebut juga kulit dalam, tersusun atas selapis sel, merupakan

lapisan pemisah antara korteks dengan stele.Endodermis tumbuhan Angiospermae

mengandung zat tepung, tetapi tidak terdapat pada endodermis tumbuhan

Gymnospermae, stele / silinder pusat merupakan lapisan terdalam dari batang.

Lapisan terluar dari stele disebut perisikel atau peri kambium. Ikatan pembuluh

pada stele disebut tipe kolateral yang artinya xil,em dan floem. Letak saling

bersisian, xilem di sebelah dalam dan floem di sebelah luar. Antara xilem dan

floem terdapat kambium intravasikuler, pada perkembangan selanjutnya jaringan

parenkim yang terdapat di antara berkas pembuluh angkut juga berubah menjadi

kambium, yang disebut kambium intervasikuler (Daroji, 2003)


15

Daun ( folium ) yaitu pengambilan zat-zat makanan berupa gas CO2 (di

udara ) dan merupakan modifikasi dari batang, merupakan bagian

tumbuh-tumbuhan yang paling banyak klorofilnya sehingga kegiatan fotosintesis

paling banyak berlangsung di daun, dan pengolahan zat-zat makanan atau

asimilasi serta penguapan atau transpirasi pernapasan (Daroji, 2003).

2.3.4 Reproduksi Pada Tumbuhan

Reproduksi pada tumbuhan di lakukan dengan dua cara, di antaranya yaitu

:Reproduksi generatif yaitu terjadinya pada tumbuhan biji terjadi melalui

pertemun sebuk sari dan ovum. Pada tumbuhan berbiji sampainya serbuk sari ke

kepala putik dapat melalui beberapa perantara, yaitu angin (anemogami ), air

(hidrogami), hewan ( zoidogami ), dan manusia (antropogami ). Berdasarkan asal

serbuk sari, penyerbukan di bedakan menjadi penyerbukan sendiri ( autogami ),

penyerbukan tetangga (geitonogami ), penyerbukan silang ( alogami ), dan

penyerbukan bastar (Daroji, 2003)

Reproduksi vegetatif adalah cara reproduksi makhluk hidup secara

aseksual (tanpaadanya peleburan sel kelamin jantan dan betina ). Reproduksi

vegetatif bisa terjadi secara alami maupun buatan (Wilson,2004).

2.4 Pengamatan Hewan

Klasifikasi Katak ( Taksonomi Amphibi )Pada katak memiliki sistem

klasifikasi yaitu, Kingdom : Ammalia, Divisio: Vertebrata, Class : Amphibie,

Ordo: Anura, Famili : Ranidae, Genus: Rana,Spesies : Rana cancrivora

( katak sawah ) ( Suharno, 2007).


16

2.4.2 Hewan Berdarah Dingin

Hewan berdarah dingin adalah hewan yang suhu tubuhnya kira-kira sama

dengan suhu lingkungan sekitarnya, suhu tubuh tergantung pada neraca

keseimbangan antara panas yang di produksi atau diabsorbsi eengan panas yang

hilang. Cairan atau gas besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan

perbedaan suhu. Evaporasi adalah merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap

air, besarnya laju konveksi kehilangan panas sehingga kehilangan evaporasi

(Jasmin, 2006).

2.4.3 Hewan Berdarah Panas

Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu tubuhnya,

pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi di bandingkan

lingkungan sekitarnya. Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat

yang menyejekukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh

agar tetap konstan. Contoh hewan berdarah panas adalah bangsa burung dan

mamalia (Heddy, 2004).

2.4.4 Sistem Pencernaan Hewan

Sistem pencernaan pada hewan di antaranya sistem pada hewan vertebrata

dan sisten pencernaan hewan invertebrata. Sistem pencernaan pada heawan

invertebrata yaitu proses pencernaan makanan dapat terjadi secara mekanik dan

kimia. Sedangkan sistem pencernaan pada hewan invertebrata disebut pencernaan

indra sel. Misalnya pada amoeba merupakan hewan bersel satu segala

aktivitas hidupnya terjadi di dalam sel itu sendiri. Dalam rongga makanan
17

tersebut terjadi pencernaan makanan. Makanan yang tela di cerna berupa sari

makanan yang di serap dari sisa-sisa makanan dan di keluarkan dari dalam

tubuh (Suharso, 2007).

Sistem pencernaan makanan pada katak tidak hanya berlangsung secara

mekanis tetapi juga secara kimia. Secara kimia sistem pencernaan di bantu oleh

enzim-enzim yang berasal dari kelenjar yaitu hati. Pencernaan secara mekanik

merupakan pengubahan makanan dari bentuk kasar menjadi halus.

( Suripto, 2004).

2.4.5 Sistem Reproduksi Hewan

Perkembangabiakan terjadi tanpa adanya peleburan sel jantan dan betina,

dapat terjadi pada tumbuhan maupun hewan. Reproduksi pada hewan terbagi atas

dua bagian yaitu reproduksi vegetatif dan reproduksi generatif yaitu : Reproduksi

vegetatif Membelah diri dan fragmentasi, contoh: organisme yang membelah diri,

protozoa, alga biru (bakteri). Sedangkan fragmentasi yaitu dengan cara

memotong-motong tubuhnya, contoh: algae (ganggang) dan planaria (cacing

pipih). Tunas, contoh: Hydra dan ragi (Saccharomyces). : perkembangbiakan

dengan cara spora antara lain: jamur, alga, lumut dan paku. Pada jamur, spora

dibentuk di dalam kotak spora (sporangium). Pada ganggang (alga), sporanya

dilengkapi dengan alat gerak berupa bulu cambuk atau bulu getar sehingga dapat

bergerak, spora ini disebut zoospora. Pada paku, biasanya spora terletak di daun-

daun sebelah bawah, tampak sebagai bintik-bintik hitam yang dinamakan sorus.

Sorus tersebut dilindungi indisium (Fahn, 2006).


18

Reproduksi generative Perkembangbiakan generatif pada hewan meliputi

perkembangbiakan dengan konjungsi dan pleburan dua sel gamet. Konjugasi yaitu

perkembangbiakan secar kawin pada organisma yang belum jelas alat kelaminnya,

contohnya Spirogyra. dan Peleburan dua sel gamet, dapat terjadi pada hewan yang

telah memiliki alat kelamin tertentu, sebagai contoh pada cacing tanah terjadi

perkawinan silang antara dua cacing yang kawin. Cacing A dibuahi oleh sperma

dari cacing B, sedangkan cacing B dibuahi oleh sperma dari cacing A. cacing

tanah tergolong hewan hermafrodit yang memiliki alat kelamin jantan dan berin

pada satu tubuh. Selain cacing tanah yang tergolong hermafrodit antara lain

cacing pita, siput darat dan bekicot Amfibia atau amfibi (Amphibia), umumnya

didefinisikan sebagai hewan bertulang belakang (vertebrata) yang hidup di dua

alam; yakni di air dan di daratan. Amfibia bertelur di air, atau menyimpan

telurnya di tempat yang lembab dan basah. Ketika menetas, larvanya yang

dinamai berudu hidup di air atau tempat basah tersebut dan bernafas dengan

insang. Setelah beberapa lama, berudu kemudian berubah bentuk

(bermetamorfosa) menjadi hewan dewasa, yang umumnya hidup di daratan atau

di tempat-tempat yang lebih kering dan bernafas dengan paru-paru (Daroji, 2003).

2.5 Memahami Konsep Hukum Mendel

2.5.1 Hukum mendel

Sifat-sifat dapat diturunkan dari generasi kegenerasi melalui faktor penentu

Mendel (Sudjino, 2006). Proses pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya

tidak dapat terlepas dari dua macam peristiwa pembelahan sel yaitu mitosis dan
19

meiosis. Pembelahan mitosis merupakan pembelahan tanpa disertai pengurangan

jumlah kromosom induknya. Kromosom merupakan pembawa sifat menurun

(hereditas) di dalam sel. Kromosom yaitu struktur berbentuk benang yang tampak

jelas pada waktu sel membelah diri atau metafase (Priyo Kuncoro, 2008).

Pada proses meiosis terjadi penyebaran dari komponen gen itu secara

bebas dan ini telah diteliti oleh Gregor Mendel sehingga ia mengeluarkan hukum

dalam hal ini Hukum Mendel I dan Hukum mendel II yang menghasilkan

berbagai perbandingan. Hukum Mende I menyatakan bahwa dalam peristiwa

pembentukan gamet, pasangan-pasangan alel akan memisah secara hebat. disebut

juga prinsip regrigasi secara bebas. Hukum Mendel II menyatakan bahwa dalam

peristiwa pembentukan zigot, alel-alel akan mengadakan kombinasi secara bebas

sehingga kombinasi sifat-sifat yang muncul dalam keturunannya beraneka ragam.

disebut juga prinsip berpasangan secara bebas. Prinsip-prinsip genetika yang

ditemukan oleh mendel telah banyak membuka perkembangan yang lebih maju

pada bidang gneika (Priyo Kuncoro, 2008).

2.5.2 Sifat Dominan dan Resesif

Sifat-sifat sesuatu makhluk hidup dapat diikuti dari satu generasi ke

generasi berikutnya. Sifat dominan Adalah dikatakan dominan apabila gen

tersebut bersama dengan gen lain ( gen pasangannya ) dan memiliki sifat yang

sering muncul pada keturunan, Sedangkan sedankan sifat resesif Adalah gen

yang dikatakan resesif yang apabila berpasangan dengan gen lain yang

dominan maka gen akan tertutup dan mempunyai sifat yang tidak mudah

muncul pada keturunan (Priyo Kuncoro 2008).


20

2.5.3 Sifat Intermediat

Sifat intermediet apabila gen lain yang berpasangan dengan gen yang

dominan maka gen dominan, akan tetutup dan mempunyai sifat yang tidak

kelihatan pada keturunannya. (Priyo Kuncoro, 2008).

2.6 Pengamatan Transpirasi

2.6.1 Pengertian Transpirasi

Transpirasi adalah berlangsung melalui bagian tumbuhan yang

berhubungan dengan udara luar, yaitu luka dan jaringan epidermis pada daun,

batang, cabang, ranting, bunga, buah, dan bahkan akar.Cepat lambatnya proses

transpirasi ditentuka oleh faktor-faktor yang mampu meruba wujud air sebagai

cairan kewujud air sebagai uap atau gas dan faktor-faktor yang mampu

menyebabkan pergerakan uap atau gas. (Zemansky, 2005).

2.6.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Transpirasi

Faktor lingkungan dipengaruhi oleh Kelembaban udara , suhu, kecepatan

angin,cahaya, tekanan udara, ketersediaan air tanah, debu. sedangkan Faktor

tanaman Stomata : jumlah persatuan luas, letak stomata ( permukaan bawah atau

atas daun, timbul / tenggelam ), waktu bukaan stomata. Daun berbulu / tidak,

warna daun ( kandungan klorofil daun ), posisinya menghadap matahari secara

langsung atau tidak (Zemansky, 2005).


21

2.7 Pengamatan Fotosintesis

2.7.1 Pengertian Fotosintesis

Fotosintesis adalah suatu proses pengubahan bahan-bahan organik

( air dan karbondioksida ) menjadi zat organik ( karbohidrat ) oleh klorofil dengan

pertolongan sinar matahari. Pengubahan energi sinar matahari menjadi energi

kimia (karbohidrat), kemudian mengubah energi ini diubah lagi menjadi energi

diuba lagi menjadi energi kerja. Peristiwa respirasi pada rubu tumbuhan, hewan

atau manusia itu merupakan rangkaian proses kehidupan didunia, sehingga

ketahanan hidup semua organisme didbumi ini bergantung pada fotosintesis

(Jasmin, 2006).

2.7.2 Percobaan Sachs

Percobaan sachs yaitu daun yang sebagian dibungkus kertas timah

dibiarkan terkena cahaya matahari sejak pagi hari dan dipetik disaat sore hari.

Daun tersebut kemudian direbus untuk mematikan sel-selnya. Selanjutnya, daun

tersebut dimasukan kedalam alkohol agar klrofilnya larut sehingga daun tersebut

menjadi pucat saat daun-daun itu ditetesi dengan iodini bagian yang sebelumnya

tertutup oleh kertas timah tetap pucat, sedangkan yang tidak tertutup warnanya

menjadi biru kehitaman.Warna biru kehitaman menandakan bahwa didalam daun

tersebut terdapat amilum (Jasmin, 2006).