Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH PENGELOLAAN LIMBAH

DAMPAK LIMBAH LAYANAN KESEHATAN

Kelompok

Ahmad Kurniawan Ansharullah EAK10150001


Khairinisa EAK101500
Puri Kusuma A. EAK10150024
Rabiatul Yulianty EAK10150025
Rizky Ariani EAK10150031

POLITEKNIK UNGGULAN KALIMANTAN

ANALIS KESEHATAN

BANJARMASIN

2017

i
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
pertolongan-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Dampak Limbah
Layanan Kesehatan”.
Akhirnya, penulis berharap makalah ini dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi
masyarakat di masa yang akan datang dan dapat menambah wawasan bagi para pembaca.

Banjarmasin, Nopember 2017

ii
Daftar Isi

Kata Pengantar ........................................................................................................................................ ii


Daftar Isi ................................................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 1
BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................................................ 4
BAB III PEMBAHASAN ..................................................................................................................... 13
BAB IVPENUTUP, KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 18

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sampah dan limbah menjadi permasalahan serius yang terjadi di
berbagainegara khususnya di Indonesia. Limbah merupakan bahan sisa yang
dihasilkandari suatu kegiatan baik pada skala industri, rumah tangga, instansi dan
lainsebagainya yang dilakukan oleh manusia. Limbah yang tidak diolah dengan
baikdapat menjadi salah satu faktor terjadinya pencemaran lingkungan
yangberdampak buruk bagi lingkungan.Manusia sebagai makhluk hidup
selainmendayagunakan unsur-unsur dari alam, manusia juga membuang kembali
segalasesuatu yang tidak dipergunakannya lagi ke alam. Tindakan ini akan
berakibatburuk terhadap manusia apabila jumlah buangan sudah terlampau
banyaksehingga alam tidak dapat lagi membersihkan keseluruhannya (proses
selfpurification terlampaui).
Pengotoran lingkungan yang terjadi dan sumber dayaalam yang sangat
dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari dan manusia sebagaiakibatnya mengalami
gangguan kesehatan karenanya (Soemirat, 2004: 16).
Limbah medis adalah limbah yang dihasilkan dari aktivitas pengobatan
atautindakan perawatan lainnya di instalasi kesehatan baik itu rumah sakit,
puskesmas,klinik, apotek, dan sebagainya. Pengelolaan limbah medis yang tidak
benar dapatmenimbulkan masalah yaitu menularkan penyakit kepada orang lain,
tenagakesehatan dan masyarakat sekitarnya. Limbah medis
mengandungmikroorganisme sumber penyakit.Limbah layanan kesehatan dapat
mencemaripenduduk lingkungan di sekitar layanan kesehatan dan dapat
menimbulkanmasalah kesehatan. Hal ini dikarenakan limbah tersebut dapat
mengandung jasadrenik penyebab penyakit pada manusia termasuk demam typoid,
cholera, disentri,dan hepatitis, sehingga limbah harus diolah sebelum dibuang ke
lingkungan(Badan Penanggulangan Dampak Lingkungan1999 dalam
Sudewi,2013:11).
Rumah sakit menjadi salah satu tempat yang di dalamnya terdapat proseskegiatan
yang dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak positifnyayaitu rumah

1
sakit sebagai sarana upaya perbaikan kesehatan yang melaksanakanpelayanan
kesehatan dan dapat dimanfaatkan sebagai lembaga pendidikan tenagakesehatan dan
penelitian.Dampak negatifnya yaitu pada sampah dan limbah yangdihasilkan rumah
sakit, baik itu limbah medis atau non medis yang dapatmenimbulkan penyakit dan
pencemaran lingkungan sekitarnya.Jenis limbah rumah sakit bermacam-macam, yaitu
limbah padat nonmedis, limbah padat medis, limbah cair, dan limbah gas.Limbah-
limbah tersebutterdiri dari limbah non infeksius, limbah infeksius, bahan kimia
beracun danberbahaya, dan sebagian bersifat radioaktif sehingga membutuhkan
pengolahansebelum dibuang ke lingkungan.
Temuan hasil penelitian Badan Penanggulangan Dampak LingkunganJawa
Barat yang bekerjasama dengan Departemen Kesehatan RI dan BadanKesehatan
Dunia (WHO) selama tahun 1998-1999, dari keseluruhan limbahrumah sakit maka
sekitar 10-15% diantaranya merupakan limbah infeksius yangmengandung logam
berat. Limbah organik sebanyak 40% merupakan yangberasal dari makanan pasien,
keluarga pasien, dan instalasi gizi, sedang sisanyasekitar 45-50% merupakan limbah
anorganik dalam bentuk botol infus danplastik. (Pristiyanto dalam Nur, 2013:1).
Limbah medis anorganik juga dapat berasal dari fasilitas layanankesehatan
lainnya.Data dari Direktorat Jenderal Pencegahan Penyakit Menulardan Penyehatan
Lingkungan (Ditjen P2MPL).
Kementerian Kesehatan RepubilikIndonesia menunjukkan bahwa limbah alat
suntik di Indonesia khusus imunisasidiperkirakan sebesar 66 juta per tahun yang
terdiri dari 36,8 juta untuk imunisasibayi, sekitar 10 juta untuk imunisasi ibu
hamil/wanita usia subur, dan kurang lebih20 juta berasal dari imunisasi anak sekolah,
sedangkan timbulan limbah alatsuntik untuk kuratif diperkirakan sebesar 300 juta per
tahun (Depkes 2006 dalamNur, 2013:1).
Pengelolaan limbah padat medis dapat dilakukan dengan berbagai cara,salah
satu pelaksanaan pengelolaan limbah medis padat yaitu denganmenggunakan mesin
insenerator. Insenerator digunakan sebagai alat untukmembakar dan mengelola
sampah medis yang dihasilkan dari kegiatanpuskesmas.Gas yang dipancarkan oleh
Sproeier dapat mencapai 700°C, limbahyang dibakar menghasilkan panas yang ikut
mempertahankan panas yang ada.Apabila ada rumah sakit atau puskesmas yang tidak
memiliki alat insenerator,pemilik atau pengelola rumah sakit atau puskesmas yang
bersangkutan dapatmeminta bantuan kepada rumah sakit atau puskesmas lain yang
memilikinya(Hanadi, 2002:23).
2
Sampah dibakar secara terkendali dan berubah menjadi gasdalam mesin
insenerator. Proses pengelolaan sampah dengan insenerator yangmenghasilkan abu
bukan merupakan proses akhir. Abu dan gas yang dihasilkanmasih memerlukan
penanganan lebih lanjut untuk dibersihkan dari zat-zatpencemar yang terbawa. (Sidik
dalam Sudewi, 2013:31)

B. Tujuan
1. Mengetahui Pengertian Limbah
2. Mengetahui apa itu limbah layanan kesehatan(medis)
3. Mengetahui dampak limbah medis bagi Lingkungan dan kesehatan

3
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian dan Penggolongan Limbah

Limbah adalah bagian dari hasil produksi yang pada umumnya dapat
menimbulkan dampak terhadap lingkungan yang kurang baik, namun jika limbah
tersebut dapat dimanfaatkan atau didaur ulang kembali menjadi produk yang sejenis
atau jenis produk lainnya maka akan mempunyai nilai tambah (added value) yang
sangat menguntungkan. Dari semua kegiatan-kegiatanrumah sakit, menghasilkan
berbagai macam limbah berupa benda cair, padat dan gas.Pengelolaan limbah rumah
sakit adalah bagian dari kegiatan penyehatan lingkungan di rumah sakit yang
bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang
bersumber dari limbah rumah sakit.

Sesuai dalam UU No. 9 tahun 1990 tentang Pokok-pokok Kesehatan, bahwa


setiap warga berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya.Ketentuan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk
menyelenggarakan kegiatan yang berupa pencegahan dan pemberantasan penyakit,
pencegahan dan penanggulangan pencemaran, pemulihan kesehatan, penerangan dan
pendidikan kesehatan kepada masyarakat (Siregar, 2001).

Upaya perbaikan kesehatan masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai


macam cara, yaitu pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, penyehatan
lingkungan, perbaikan gizi, penyediaan air bersih, penyuluhan kesehatan serta
pelayanan kesehatan ibu dan anak. Selain itu, perlindungan terhadap bahaya
pencemaran lingkungan juga perlu diberi perhatian khusus.Rumah sakit merupakan
sarana upaya perbaikan kesehatan yang melaksanakan pelayanan kesehatan dan
dapat dimanfaatkan pula sebagai lembaga pendidikan tenaga kesehatan dan
penelitian.Pelayanan kesehatan yang dilakukan rumah sakit berupa kegiatan
penyembuhan penderita dan pemulihan keadaan cacat badan serta jiwa (Said dan
Ineza, 2002).

4
Kegiatan rumah sakit menghasilkan berbagai macam limbah yang berupa
benda cair, padat dan gas.Pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagian dari
kegiatan penyehatan lingkungan di rumah sakit yang bertujuan untuk melindungi
masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari limbah rumah
sakit.

Unsur-unsur yang terkait dengan penyelenggaraan kegiatan pelayanan rumah sakit


(termasuk pengelolaan limbahnya), yaitu (Giyatmi. 2003) :

1. Pemrakarsa atau penanggung jawab rumah sakit.


2. Pengguna jasa pelayanan rumah sakit.
3. Para ahli, pakar dan lembaga yang dapat memberikan saran-saran.

Para pengusaha dan swasta yang dapat menyediakan sarana dan fasilitas yang
diperlukan.

Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan sebagai upaya untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat tersebut. Rumah sakit sebagai
salah satu upaya peningkatan kesehatan tidak hanya terdiri dari balai pengobatan dan
tempat praktik dokter saja, tetapi juga ditunjang oleh unit-unit lainnya, seperti ruang
operasi, laboratorium, farmasi, administrasi, dapur, laundry, pengolahan sampah dan
limbah, serta penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan.

Secara garis besar ada 3 (tiga) macam limbah Rumah Sakit yaitu limbah
padat (sampah), limbah cair dan limbah klinis.

1. Sampah Sampah
Rumah Sakit dapat dianggap sebagai mata rantai penyebaran penyakit
menular karena sampah menjadi tempat tertimbunnya mikro organisme penyakit
dan sarang serangga serta tikus.Di samping itu kadang-kadang dapat
mengandung bahan kimia beracun dan benda-benda tajam yang dapat
menimbulkan penyakit atau cidera. Sampah yang dihasilkan di Rumah Sakit
antara lain terdiri dari : sampah yang mudah busuk yang berasal dari instalasi
gizi, sampah yang tidak mudah busuk dan tidak mudah terbakar atau yang

5
mudah terbakar, sampah medis, sampah patologis serta sampah yang berasal dari
laboratorium.
2. Limbah Cair

Limbah cair Rumah Sakit adalah semua limbah cair yang berasal dari
ruangan-ruangan atau unit di Rumah Sakit yang kemungkinan mengandung
mikro
organisme, bahan kimia beracun dan radio aktif.
3. Limbah klinis
Limbah klinis adalah limbah yang berasal dari pelayanan medis,
perawatan gizi, "Veteranary", Farmasi atau sejenis serta limbah yang dihasilkan
di Rumah Sakit pada saat dilakukan perawatan/pengobatan atau penelitian.
Bentuk
limbah klinis antara lain berupa benda tajam, limbah infeksius, jaringan tubuh.

Sampah dan limbah rumah sakit adalah semua sampah dan limbah yang
dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya.Secara umum
sampah dan limbah rumah sakit dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu sampah
atau limbah klinis dan non klinis baik padat maupun cair. Bentuk limbah klinis
bermacam-macam dan berdasarkan potensi yang terkandung di dalamnya dapat
dikelompokkan sebagai berikut : Limbah benda tajam adalah obyek atau alat yang
memiliki sudut tajam, sisi, ujung atau bagian menonjol yang dapat memotong atau
menusuk kulit seperti jarum hipodermik, perlengkapan intravena, pipet pasteur,
pecahan gelas, pisau bedah. Semua benda tajam ini memiliki potensi bahaya dan
dapat menyebabkan cedera melalui sobekan atau tusukan.Benda-benda tajam yang
terbuang mungkin terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh, bahan mikrobiologi,
bahan beracun atau radioaktif.

6
Limbah infeksius mencakup pengertian sebagai berikut: Limbah yang
berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular (perawatan
intensif). Limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi
dari poliklinik dan ruang perawatan/isolasi penyakit menular.Limbah jaringan tubuh
meliputi organ, anggota badan, darah dan cairan tubuh, biasanya dihasilkan pada
saat pembedahan atau otopsi. Limbah sitotoksik adalah bahan yang terkontaminasi
atau mungkin terkontaminasi dengan obat sitotoksik selama peracikan,
pengangkutan atau tindakan terapi sitotoksik.Limbah farmasi ini dapat berasal dari
obat-obat kadaluwarsa, obat-obat yang terbuang karena batch yang tidak memenuhi
spesifikasi atau kemasan yang terkontaminasi, obat- obat yang dibuang oleh pasien
atau dibuang oleh masyarakat, obat-obat yang tidak lagi diperlukan oleh institusi
bersangkutan dan limbah yang dihasilkan selama produksi obat- obatan. Limbah
kimia adalah limbah yang dihasilkan dari penggunaan bahan kimia dalam tindakan
medis, veterinari, laboratorium, proses sterilisasi, dan riset. Limbah radioaktif adalah
bahan yang terkontaminasi dengan radioisotop yang berasal dari penggunaan medis
atau riset radio nukleida.

Selain sampah klinis, dari kegiatan penunjang rumah sakit juga menghasilkan
sampah non klinis atau dapat disebut juga sampah non medis.Sampah non medis ini
bisa berasal dari kantor/administrasi kertas, unit pelayanan (berupa karton, kaleng,
botol), sampah dari ruang pasien, sisa makanan buangan; sampah dapur (sisa
pembungkus, sisa makanan/bahan makanan, sayur dan lain-lain).Limbah cair yang
dihasilkan rumah sakit mempunyai karakteristik tertentu baik fisik, kimia dan
biologi.Limbah rumah sakit bisa mengandung bermacam-macam mikroorganisme,
tergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan sebelum
dibuang dan jenis sarana yang ada (laboratorium, klinik dll).Tentu saja dari jenis-
jenis mikroorganisme tersebut ada yang bersifat patogen. Limbah rumah sakit
seperti halnya limbah lain akan mengandung bahan-bahan organik dan anorganik,
yang tingkat kandungannya dapat ditentukan dengan uji air kotor pada umumnya
seperti BOD, COD, TTS, pH, mikrobiologik, dan lain-lain.

7
B. Pengaruh Limbah Rumah Sakit Terhadap Lingkungan Dan Kesehatan
Menurut Kepmenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 petugas pengelola sampah
harus menggunakan alat pelindung diri yang terdiri dari topi/ helm, masker, pelindung
mata, pakaian panjang, apron untuk industry, sepatu boot, serta sarung tangan khusus.
Pengaruh limbah rumah sakit terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan dapat
menimbulkan berbagai masalah seperti :
1. Gangguan kenyamanan dan estetika
Ini berupa warna yang berasal dari sedimen, larutan, bau phenol, eutrofikasi
dan rasa dari bahan kimia organik.

2. Kerusakan harta benda


Dapat disebabkan oleh garam-garam yang terlarut (korosif, karat), air yang
berlumpur dan sebagainya yang dapat menurunkan kualitas bangunan di sekitar
rumah sakit.
3. Gangguan/kerusakan tanaman dan binatang
Ini dapat disebabkan oleh virus, senyawa nitrat, bahan kimia, pestisida, logam
nutrien tertentu dan fosfor.
4. Gangguan terhadap kesehatan manusia
Limbah medis rumah sakit terutama karena berbagai jenis bakteri, virus,
senyawa-senyawa kimia, desinfektan, serta logam seperti Hg, Pb, Chrom dan Cd
yang berasal dari bagian kedokteran gigi. Gangguan kesehatan dapat
dikelompokkan menjadi gangguan langsung adalah efek yang disebabkan karena
kontak langsung dengan limbah tersebut, misalnya limbah klinis beracun, limbah
yang dapat melukai tubuh dan limbah yang mengandung kuman pathogen
sehingga dapat menimbulkan penyakit dan gangguan tidak langsung dapat
dirasakan oleh masyarakat, baik yang tinggal di sekitar rumah sakit maupun
masyarakat yang sering melewati sumber limbah medis diakibatkan oleh proses
pembusukan, pembakaran dan pembuangan limbah tersebut.
5. Gangguan genetik dan reproduksi
Meskipun mekanisme gangguan belum sepenuhnya diketahui secara pasti,
namun beberapa senyawa dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan genetik
dan sistem reproduksi manusia misalnya pestisida, bahan radioaktif.
6. Menyebabkan Infeksi Silang

8
Limbah medis dapat menjadi wahana penyebaran mikroorganisme pembawa
penyakit melalui proses infeksi silang baik dari pasien ke pasien, dari pasien ke
petugas atau dari petugas ke pasien. Pada lingkungan, adanya kemungkinan
terlepasnya limbah ke lapisan air tanah, air permukaan dan adanya pencemaran
udara, menyebabkan pencemaran lingkungan karena limbah rumah sakit.
7. Masalah ekonomis
Secara ekonomis, dari beberapa kerugian di atas pada akhirnya menuju
kerugian ekonomis, baik terhadap pembiayaan operasional dan pemeliharaan,
adanya penurunan cakupan pasien dan juga kebutuhan biaya kompensasi
pencemaran lingkungan.Orang yang kesehatannya terganggu karena pencemaran l
ingkungan apalagi sampai cacat atau meninggal, memerlukan biaya pengobatan
dan petugas kesehatan yang berarti beban sosial ekonomi penderitanya,
keluarganya dan masyarakat.
8. Pengelolaan sampah rumah sakit yang kurang baik akan menjadi tempat yang
baik bagi vector penyakit seperti lalat dan tikus.
9. Insiden penyakit demam berdarah dengue meningkat karena vector penyakit
hidup dan berkembangbiak dalam sampah kaleng bekas atau genangan air.
10. Proses pembusukan sampah oleh mikroorganisme akan menghasilkan gas-gas
tertentu yang menimbulkan bau busuk.
11. Adanya partikel debu yang berterbangan akan mengganggu pernafasan,
menimbulkan pencemaran udara yang akan menyebabkan kuman penyakit
mengkontaminasi peralatan medis dan makanan rumah sakit.
12. Apabila terjadi pembakaran sampah rumah sakit yang tidak saniter asapnya akan
mengganggu pernafasan, penglihatan dan penurunan kualitas udara.

C. Dampak Limbah Pada Kesehatan Masyarakat


Ada beberapa kelompok masyarakat yang mempunyai resiko untuk
mendapat gangguan karena buangan rumah sakit.
1. Pertama, pasien yang datang ke Rumah Sakituntuk memperoleh pertolongan
pengobatan dan perawatan Rumah Sakit. Kelompok ini merupakan kelompok
yang paling rentan
2. Kedua, karyawan Rumah sakit dalam melaksanakan tugas sehari-harinya selalu
kontak dengan orang sakit yang merupakan sumber agen penyakit.

9
3. Ketiga, pengunjung / pengantar orang sakit yang berkunjung ke rumah sakit,
resiko terkena gangguan kesehatan akan semakin besar.
4. Keempat, masyarakat yang bermukim di sekitar Rumah Sakit, lebih-lebih lagi bila
Rumah sakit membuang hasil buangan Rumah Sakit tidak sebagaimana mestinya
ke lingkungan sekitarnya.
Akibatnya adalah mutu lingkungan menjadi turun kualitasnya, dengan akibat
lanjutannya adalah menurunnya derajat kesehatan masyarakat di lingkungan
tersebut.Oleh karena itu, rumah sakit wajib melaksanakan pengelolaan buangan
rumah sakit yang baik dan benar dengan melaksanakan kegiatan Sanitasi Rumah
Sakit.
Melihat karakteristik dan dampak-dampak yang dapat ditimbulkan oleh
buangan/limbah rumah sakit seperti tersebut diatas, maka konsep pengelolaan
lingkungan sebagai sebuah sistem dengan berbagai proses manajemen didalamnya
yang dikenal sebagai Sistem Manajemen Lingkungan (Environmental
Managemen System) dan diadopsi Internasional Organization for Standar (ISO)
sebagai salah satu sertifikasi internasioanal di bidang pengelolaan lingkunan
dengan nomor seri ISO 14001 perlu diterapkan di dalam Sistem Manajemen
Lingkungan Rumah Sakit. Dengan pendekatan sistem tersebut, pengelolaan
lingkungan itu sendiri adalah suatu usaha untuk meningkatkan kualitas dengan
menghasilkan limbah yang ramah lingkungan dan aman bagi masyarakat sekitar.
Keterlibatan pemerintah yang memiliki badan yang menangani
dampak lingkungan, pihak manajemen puncak rumah sakit dan lembaga
kemasyarakatan merupakan kunci keberhasilan untuk melindungi masyarakat dari
dampak buangan /limbah rumah sakit ini.
Solusi Maxpell menawarkan solusi terbaik dalam menangani permasalahan
limbah medis dan non medis jenis padat (kering dan basah) yang terdapat di
Puskesmas, Poliklinik, dan Rumah Sakit yaitu dengan menggunakan incinerator
dengan sistem pembakaran yang sempurna dengan berbagai media bahan bakar
yang terus dikembangkan baik dari sisi teknologi maupun kapasitas.
Solusi yang ditawarkan oleh maxpell adalah untuk mengatasi limbah medis
dan non medis jenis padat (kering dan basah) dengan melakukan pemilahan jenis
limbahberdasarkan pemusnahannya.Dibawah ini terdapat tabel jenis limbah yang
dapat ditangani oleh teknologi maxpell.

10
KEGIATAN PRODUKSI LIMBAH
Perawatan Alat suntik , tabung infus , kasa, kateter, sarung tangan, masker ,
bungkus/botol obat, dlsb
Bedah Alat suntik , tabung infus , kasa, kateter, sarung tangan, masker ,
bungkus/botol obat , pisau bedah, jaringan tubuh, kantong darah
Laboratorium Alat suntik , pot sputum, pot urine/faeces, reagent, chemicals, kaca
slide
Poliklinik Alat suntik , tabung infus , kasa, kateter, sarung tangan, masker ,
bungkus/botol obat, dlsb
Farmasi Dos, botol obat plastik/kaca, bungkus plastik, kertas, obat kedaluarsa,
sisa obat.
Radiologi Cartrige film, film, sarung tangan , kertas, plastik .
IGD Alat suntik , tabung infus , kasa, kateter, sarung tangan, masker ,
bungkus/botol obat, dlsb
Dapur Sisa bahan makanan (sayur, daging, tulang, bulu,dlsb), sisa makanan,
kertas, plastik bungkus
Laundry Kantong plastic
Kantor Sisa bahan makanan (sayur, daging, tulang, bulu,dlsb), sisa makanan,
kertas, plastik bungkus
KM / WC Pembalut, sabun, odol

D. Upaya pengelolaan limbah RS


Pengolahan limbah pada dasarnya merupakan upaya mengurangi volume,
konsentrasi atau bahaya limbah, setelah proses produksi atau kegiatan, melalui proses
fisika, kimia atau hayati. Upaya pertama yang harus dilakukan adalah upaya preventif
yaitu mengurangi volume bahaya limbah yang dikeluarkan ke lingkungan yang
meliputi upaya mengurangi limbah pada sumbernya, serta upaya pemanfaatan
limbah.Program minimisasi limbah di Indonesia baru mulai digalakkan, bagi RS
masih merupakan hal baru, yang tujuannya untuk mengurangi jumlah limbah dan
pengolahan limbah yang masih mempunyai nilai ekonomis. Berbagai upaya telah

11
dilakukan untuk mengungkapkan pilihan teknologi mana yang terbaik untuk
pengolahan limbah, khususnya limbah berbahaya antara lain reduksi limbah (wasfe
reduction), minimisasi limbah (waste minimization), pemberantasan limbah (waste
abatement), pencegahan peF&emaran (waste prevention) dan reduksi pada sumbemya
(source reduction).
Reduksi limbah pada sumbernya merupakan prioritas atas dasar pertimbangan
antara lain meningkatkan efisiensi kegiatan, biaya pengolahannya relatif murah dan
pelaksanaannya relatif mudah.
Berbagai cara yang digunakan untuk reduksi limbah pada sumbernya adalah:
1) House keeping yang baik, dilakukan demi menjaga kebersihan lingkungan
dengan mencegah terjadinya ceceran, tumpahan atau kebocoran bahan serta
menangani limbah yang terjadi dengan sebaik mungkin.
2) Segregasi aliran limbah, yakni memisahkan berbagai jenis aliran limbah menurut
jenis komponen, konsentrasi atau keadaanya, sehingga dapat mempermudah,
mengurangi volume, atau mengurangi biaya pengolahan limbah.
3) Preventive maintenance, yakni pemeliharaan/penggantian alat atau bagian alat
menurut waktu yang telah dijadwalkan.
4) Pengelolaan bahan (material inventory), suatu upaya agar persediaan bahan selalu
cukup untuk ; menjamin kelancaran proses kegiatan, namun tidak berlebihan
sehingga tidak menimbulkan gangguan lingkungan, sedangkan penyimpanan agar
tetap rapi dan terkontrol.
5) Pemilihan teknologi dan proses yang tepat untuk mengeluarkan limbah B3
dengan efisiensi yang cukup tinggi, sebaiknya dilakukan sejak awal
pengembangan rumah sakit baru atau penggantian sebagian unitnya.
6) Penggunaan kantung limbah dengan warna berbeda untuk memilah-milah limbah
di tempat sumbernya, misalnya limbah klinik dan bukan klinik. Kantung plastic
cukup mahal, sebagai gantinya dapat digunakan kantung kertas yang tahan bocor,
dibuat secara lokal sehingga mudah diperoleh. Kantung kertas ini dapat ditempeli
strip berwarna, kemudian ditempatkan di tong dengan kode warna di bangsal dan
unit-unit lain.

12
BAB III
PEMBAHASAN

Beberapa hal yang patut jadi pemikiran bagi pengelola rumah sakit, dan jadi penyebab
tingginya tingkat penurunan kualitas lingkungan dari kegiatan rumah sakit antara lain
disebabkan, kurangnya kepedulian manajemen terhadap pengelolaan lingkungan karena tidak
memahami masalah teknis yang dapat diperoleh dari kegiatan pencegahan pencemaran,
kurangnya komitmen pendanaan bagi upaya pengendalian pencemaran karena menganggap
bahwa pengelolaan rumah sakit untuk menghasilkan uang bukan membuang uang mengurusi
pencemaran, kurang memahami apa yang disebut produk usaha dan masih banyak lagi
kekurangan lainnya (Sebayang dkk, 1996). Untuk itu, upaya-upaya yang harus dilakukan
rumah sakit adalah, mulai dan membiasakan untuk mengidentifikasi dan memilah jenis
limbah berdasarkan teknik pengelolaan (Limbah B3, infeksius, dapat digunapakai atau guna
ulang).Meningkatkan pengelolaan dan pengawasan serta pengendalian terhadap pembelian
dan penggunaan, pembuangan bahan kimia baik B3 maupun non B3.Memantau aliran obat
mencakup pembelian dan persediaan serta meningkatkan pengetahuan karyawan terhadap
pengelolaan lingkungan melalui pelatihan dengan materi pengolahan bahan, pencegahan
pencemaran, pemeliharaan peralatan serta tindak gawat darurat (Sebayang dkk, 1996).
Limbah rumah Sakit adalah semua limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit
dan kegiatan penunjang lainnya.Mengingat dampak yang mungkin timbul, maka diperlukan
upaya pengelolaan yang baik meliputi pengelolaan sumber daya manusia, alat dan sarana,
keuangan dan tatalaksana pengorganisasian yang ditetapkan dengan tujuan memperoleh
kondisi rumah sakit yang memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan (Said, 1999).Limbah
rumah Sakit bisa mengandung bermacam-macam mikroorganisme bergantung pada jenis
rumah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan sebelum dibuang.Limbah cair rumah sakit
dapat mengandung bahan organik dan anorganik yang umumnya diukur dan parameter BOD,
COD, TSS, dan lain-lain.Sedangkan limbah padat rumah sakit terdiri atas sampah mudah
membusuk, sampah mudah terbakar, dan lain-lain.Limbah- limbah tersebut kemungkinan
besar mengandung mikroorganisme patogen atau bahan kimia beracun berbahaya yang
menyebabkan penyakit infeksi dan dapat tersebar ke lingkungan rumah sakit yang disebabkan
oleh teknik pelayanan kesehatan yang kurang memadal, kesalahan penanganan bahan-bahan
terkontaminasi dan peralatan, serta penyediaan dan pemeliharaan sarana sanitasi yang masib
buruk.

13
Pembuangan limbah yang berjumlah cukup besar ini paling baik jika dilakukan dengan
memilah-milah limbah ke dalam pelbagai kategori. Untuk masing-masing jenis kategori
diterapkan cara pembuangan limbah yang berbeda. Prinsip umum pembuangan limbah rumah
sakit adalah sejauh mungkin menghindari resiko kontaminsai dan trauma (injury).jenis-jenis
limbah rumah sakit meliputi bagian berikut ini (Shahib dan Djustiana, 1998) :
a. Limbah Klinik
Limbah dihasilkan selama pelayanan pasien secara rutin, pembedahan dan di unit-unit
resiko tinggi.Limbah ini mungkin berbahaya dan mengakibatkan resiko tinggi infeksi
kuman dan populasi umum dan staff rumah sakit. Oleh karena itu perlu diberi label yang
jelas sebagai resiko tinggi. contoh limbah jenis tersebut ialah perban atau pembungkus
yang kotor, cairan badan, anggota badan yang diamputasi, jarum-jarum dan semprit
bekas, kantung urin dan produk darah.

b. Limbah Patologi

Limbah ini juga dianggap beresiko tinggi dan sebaiknya diotoklaf sebelum keluar dari
unit patologi. Limbah tersebut harus diberi label biohazard.

14
c. Limbah Bukan Klinik

Limbah ini meliputi kertas-kertas pembungkus atau kantong dan plastik yang tidak
berkontak dengan cairan badan.Meskipun tidak menimbulkan resiko sakit, limbah
tersebut cukup merepotkan karena memerlukan tempat yang besar untuk mengangkut dan
mambuangnya.
d. Limbah Dapur

Limbah ini mencakup sisa-sisa makanan dan air kotor.Berbagai serangga seperti
kecoa, kutu dan hewan mengerat seperti tikus merupakan gangguan bagi staff maupun
pasien di rumah sakit.
e. Limbah Radioaktif

Walaupun limbah ini tidak menimbulkan persoalan pengendalian infeksi di rumah


sakit, pembuangannya secara aman perlu diatur dengan baik.

15
Secara garis besar masalah yang dihadapi di Indonesia adalah sebagai berikut :
1) Sebagian besar bangunan Rumah Sakit di Indonesia pada saat ini tidak dilengkapi dengan
sarana pembuangan limbah yang memadai seperti
2) "Spoel Hok", sehingga pencemaran lingkungan lebih mudah terjadi.
3) Belum semua Rumah Sakit dilengkapi dengan sarana pembuangan sampah yang
memenuhi syarat karenabatasan lahan dan kendala biaya.
4) Sikap dan perilaku petugas termasuk para manajer Rumah Sakit yang belum mendukung
dalam setiap upaya penanggulangan limba
5) Adat dan kebiasaan buruk dari masyarakat kita yang disebabkan ketidaktahuan dan
tingkat pendidikan yang kurang.
6) Belum tersedianya dana kahusus baik untuk penelaahan maupun penyediaan sarana
pembuangan limbah Rumah Sakit yang tercantum dalam APBN, APBD ataupun sumber
dana lainnya.
7) Biaya pembuatan sarana pembuangan dirasakan masin terlampau mahal, sehingga perlu
dibuat suatu sarana yang lebih sederhana, lebih mudah namun memenuhi syarat.

16
BAB IV
PENUTUP, KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Limbah rumah sakit adalah semua sampah dan limbah yang dihasilkan oleh
kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Secara umum sampah dan
limbah rumah sakit dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu sampah atau limbah
klinis dan non klinis baik padat maupun cair.
2. Bentuk limbah klinis bermacam-macam dan berdasarkan potensi yang terkandung
di dalamnya diantaranya limbah benda tajam, limbah infeksius tubuh, limbah
sitotoksik, limbah kimia, limbah radioaktif , limbah plastik.
3. Pengolahan Limbah Rumah Sakit tergantung dari jenis Limbahnya
4. Limbah Padat : Pemisahan, penampungan, dan pengangkutan
5. Limbah Cair :Kolam Stabilisasi Air Limbah, Kolam oksidasi air limbah,
Anaerobic Filter Treatment System, Pengolahan dan Pembuangan, Incinerator.

B. Saran
Adanya toksikologi limbah rumah sakit, disarankan agar petugas rumah sakit
dalam mengolah limbah agar lebih memperhatikan cara atau teknik-teknik dalam
mengolah jenis limbah yang ada di ruah sakit.

17
DAFTAR PUSTAKA

http://www.indonesian-publichealth.com/pengaruh-limbah-medis-terhadap-
kesehatan/( di akses pada 12 November 2017 )
http://indryqhy.blogspot.co.id/2013/03/makalah-limbah-rumah-sakit.html( di
akses pada 12 November 2017 )
http://analissite.blogspot.co.id/2015/11/pengaruh-limbah-rumah-sakit-
terhadap.html( di akses pada 10 November 2017 )

18