Anda di halaman 1dari 7

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Akuntasi Ijarah

Akuntansi adalah sistem informasi yang memberikan laporan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan mengenai kegiatan ekonomi dan kondisi perusahaan Sebagai proses Proses
pencatatan, penggolongan, peringkasan transaksi keuangan dan penginterpretasian hasil proses
tersebut.

Secara etimologi ijarah disebut juga upah, sewa, jasa, atau imbalan. Sedangkan menurut istilah
syara’ adalah merupakan salah satu bentuk kegiatan muamalah dalam memenuhi kebutuhan hidup
manusia, seperti sewa-menyewa dan mengontrak atau menjual jasa, dan lain-lain.

Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu aset dalam waktu tertentu dengan
pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri (PSAK
107, Par 4). Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat, jadi pada dasarnya prinsip
ijarah sama dengan prinsip jual-beli. Perbedaannya terletak pada obyek transaksinya, bila pada
jual-beli transaksinya barang maka pada ijarah bisa berupa jasa, baik manfaat atas barang maupun
manfaat atas tenaga kerja. Setelah kontrak berakhir, penyewa mengembalikan barang tersebut
kepada pemilik.

Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik (IMBT) adalah akad sewa menyewa antara pemilik obyek sewa dan
penyewa untuk mendapatkan imbalan atas obyek sewa yang disewakannya dengan opsi
perpindahan hak milik obyek sewa pada waktu tertentu sesuai dengan akad sewa. Dengan kata
lain, IMBT adalah akad yang semula berupa akad sewa-menyewa namun pada diakhirnya menjadi
akad jual beli, dengan harga sewa dan harga jual disepakati pada awal perjanjian.[1]

Bagi bank syariah, transaksi ini memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan jenis
akad lainnya yaitu:

1. Dibandingkan dengan akad murabahah, akad ijarah lebih fleksibel dalam hal objek transaksi.

2. Dibandingkan dengan investasi, akad ijarah mengandung resiko usaha yang lebih rendah, yaitu
adanya pendapatan sewa yang relatif tetap.
ijarah di bagi atas 3 macam yaitu :

1. Berdasarkan Objek Yang Disewakan

Berdasarkan obyek yang disewakan, Ijarah dibagi 2, yaitu:

a. Manfaat atas aset yang tidak bergerak seperti rumah atau aset bergerak seperti mobil, motor,
pakaian dan sebagainya.

b. Manfaat atas jasa berasal dari hasil karya atau dari pekerjaan seseorang.

2. Berdasarkan Exposure Draft PSAK 107

Berdasarkan Exposure Draft PSAK 107, Ijarah dibagi menjadi 3, yaitu:

a. Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu aset atau jasa, dalam waktu
tertentu dengan pembayaran upah atau sewa (ujrah), tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan
atas aset itu sendiri.

b. Ijarah Muntahiya Bit Tamlik (IMBT) merupakan Ijarah dengan wa’ad (janji) dari pemberi
sewa berupa perpindahan kepemilikan objek Ijarah pada saat tertentu (ED PSAK 107).

3. Berdasarkan jual dan sewa kembali atau transaksi jual dan Ijarah

Jenis Ijarah seperti ini terjadi dimana seseorang menjual asetnya kepada pihak lain dan menyewa
kembali aset tersebut. Alasan dilakukannya transaksi tersebut bisa saja si pemilik aset
membutuhkan uang sementara ia masih memerlukan manfaat dari aset tersebut.

Transaksi jual dan Ijarah harus merupakan transaksi yang terpisah dan tidak saling bergantung
(ta’alluq) sehingga harga jual harus dilakukan pada nilai wajar dan penjual akan mengakui
keuntungan atau kerugian. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari transaksi jual tidak dapat
diakui sebagai pengurang atau penambah beban Ijarah yang muncul karena ia menjadi penyewa.

B. Landasan Fiqh dan Fatwa DSN tentang Transaksi Ijarah [2]

1. Landasan Fiqh

a. Al Qur’an (Q.S. Al Baqarah: 233)


“Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak dosa bagimu apabila kamu
memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah
Allah Maha Melihat apa yang kammu kerjakan.”

b. Al Hadist (HR.Bukhari & Muslim)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa rosulullah SAW bersabda, “Berbekam kamu, kemumdian
berikanlah olehmu upahnya kepada tukang bekam itu.”

Dari Umar bahwa Rosulullah bersabda, “Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.”
(Hr. Ibnu Majah)

2. Fatwa DSN No: 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang IJARAH

Landasan syariah akad ini adalah fatwa DSN-MUI No.09 /DSN-MUI/IV/2000 tentang ijarah
Beberapa ketentuan yang diatur dalam fatwa ini, antara lain sebagai berikut:

C. Rukun dan Syarat Transaksi Ijarah

a) Transaktor yang terdiri atas penyewa (nasabah) dan pemberi sewa (bank syariah).

b) Objek kontrak ijarah meliputi pembayaran sewa dan manfaat dari penggunaan aset.

c) Ijab dan kabul dalam akad ijarah merupakan peryataan dari kedua belah pihak yang berkontrak,
dengan cara penawaran dari pemilik aset (bank syariah) dan penerimaan yang dinyatakan oleh
penyewa (nasabah).

D. Syarat Sah Transaksi Ijarah

1. pelaku transaksi adalah orang yang boleh mengadakan transaksi (balig dan berakal).
2. Maqsudah, adanya kejelasan jasa atau manfaat yang dibeli semisal menempati suatu rumah
atau pelayanan yang diberikan oleh pembantu rumah tangga.
3. adanya kejelasan iwad, yaitu nominal uang sewa atau gaji pekerja.
4. jasa atau manfaat yang dijual adalah manfaat yang dinilai mubah oleh syariat semisal
menempati suatu rumah. Ijarah tidak sah manakala jasa atau manfaat yang dijual adalah
manfaat yang haram semisal menyewakan rumah atau kios untuk jualan khamr,
menyewakan kamar hotel dengan sistem short time untuk keperluan zina, menyewakan
rumah untuk dijadikan sebagai gereja atau menjual barang barang haram.
5. jika objek transaksi ijarah adalah barang maka disyaratkan ada kejelasan barang yang
disewakan dengan cara melihat secara langsung atau deskripsi yang jelas dan yang menjadi
objek transaksi adalah manfaat barang bukan barangnya, barang tersebut bisa diserahkan
kepada pihak penyewa, mengandung manfaat yang mubah serta yang menyewakan adalah
pemilik barang atau wakil dari pemilik barang.[3]

E. Ketentuan Objek Ijarah

a) Obyek ijarah adalah manfaat dari penggunaan asset berwujud atau tidak berwujud. (par 04)

b) Manfaat barang harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak.

c) Pemenuhan manfaat harus yang bersifat dibolehkan.

d) Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan syariah.

e) Manfaat harus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk menghilangkan jahalah
(ketidaktahuan) yang akan mengakibatkan sengketa.

f) Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas termasuk jangka waktunya.

g) Sewa adalah sesuatu (harga) yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS sebagai
pembayaran manfaat.

h) Pembayaran sewa boleh berbentuk jasa (manfaat lain) dari jenis yang sama dengan obyek
kontrak. Serta Ketentuan dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran waktu, tempat
dan jarak.

F. ALUR TRANSAKSI IJARAH DAN IMBT [4]

1. Negosiasi dan Akad Ijarah

2. membeli barang/jasa dari pemasok


3. menggunakan objek ijarah

4. membayar sewa pada bank

5. mengalihkan hak milik barang ijarah pada akhir masa sewa (khusus IMBT)

Penjelasan Tentang Transaksi dilakukan dengan alur sebagai berikut:

Pertama, nasabah mengajukan permohonan ijarah dengan mengisi formulir permohonan. Berbagai
informasi yang diberikan selanjutnya deverifikasi kebenarannya dan dianalisis kelayakannya oleh
bank syariah.

Kedua, sebagaimana difatwakan oleh DSN, bank selanjutnya menyediakan objek sewa yang akan
digunakan nasabah.

Ketiga, nasabah menggunakan barang atau jasa yang disewakan sebagaimana yang disepakati
dalam kontrak.

Keempat, nasabah menyewa membayar fee sewa kepada bank syariah sesuai dengan kesepakatan
akad sewa.

Kelima, pada transaksi IMBT, setelah masa ijarh selesai, bank sebagai pemilik barang dapat
melakukan pengalihan hak milik kepada penyewa.

G. Pengawasan Syariah Transaksi Ijarah

Untuk menguji kesesuaian transaksi ijrah dan IMBT yang dilakukan bank dengan fatwa dewan
DSN, DPS suatu bank syariah akan melakukan pengawasan syariah. Menurut bank Indonesia,
pengawasan tersebut antara lain berupa:

a) Memastikan penyaluran dana berdasarkan prinsip ijarah tidak dipergunakan untuk kegiatan
yang bertentangan dengan prinsip syariah;
b) Memastikan bahwa akad pengalihan kepemilikan dalam IMBT dilakukan setelah akad
ijarah selesai, dan dalam akad ijarah, janji (wa’ad) untuk pengalihan kepemilikan harus dilakukan
pada saat berakhirnya akad ijarah;

c) Meneliti pembiayaan berdasarkan prinsip ijarah untuk multijasa menggunakan perjanjian


sebagaimana diatur dalam fawa yang berlaku tentang multijasa dan ketentuan lainnya antara lain
ketentuan standard akad;

d) Memastikan besar ujrah atau fee multijasa dengan menggunakan akad ijarah telah
disepakati di awal dan diyatakan dalam bentuk nominal bukan dalam bentuk persentase.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu aset dalam waktu tertentu dengan
pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri.

Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat, jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama
dengan prinsip jual-beli. Perbedaannya terletak pada obyek transaksinya, bila pada jual-beli
transaksinya barang maka pada ijarah bisa berupa jasa, baik manfaat atas barang maupun manfaat
atas tenaga kerja. Setelah kontrak berakhir, penyewa mengembalikan barang tersebut kepada
pemilik.

Ijarah Muntahiya Bit Tamlik (IMBT) adalah akad sewa menyewa antara pemilik obyek sewa dan
penyewa untuk mendapatkan imbalan atas obyek sewa yang disewakannya dengan opsi
perpindahan hak milik obyek sewa pada waktu tertentu sesuai dengan akad sewa.

Dengan kata lain, IMBT adalah akad yang semula berupa akad sewa-menyewa namun pada
diakhirnya menjadi akad jual beli, dengan harga sewa dan harga jual disepakati pada awal
perjanjian.

B. Saran
Nah, sebagai akhir dalam makalah kami dengan judul “Akuntasi Ijarah”, kami menyadari bahwa
setiap kegiatan yang kita lakukan terkadang masih ada berbagai kesalahan dan kekurangan yang
mungkin timbul, sama halnya dengan makalah kami ini,tidak bisa di pungkiri mungkin juga masih
ada kesalahan-kesalahan yang timbul di dalam pembuatannya, tetapi kami yakin bahwa suatu
kesalahan itu merupakan bagian dari suatu proses pembelajaran.

Nah, Untuk itu demi proses pembelajaran yang baik, kami sangat mengharapkan kritik dan saran
dari semua pihak, supaya dalam penyusunan makalah kami selanjutnya dapat tersusun dan tersaji
lebih baik lagi.

[1] Yaya, Rizal dkk. Akuntansi Perbankan Syariah ; teori dan praktik kontemporer. Jakarta:
Salemba Empat. 2009. Hlm 286

[2] Http://Re-Alitha.Blogspot.Com/2012/03/Akad-Ijarah-Akuntansi-Syariah.Html

[3] Http://Arioonyon.Blogspot.Com/2013/06/Makalah-Ijarah.Html

[4] Muhammad Antonio, Bank Syariah. Jakarta: Gema Insani, 2001.q