Anda di halaman 1dari 3

Aktivitas, Penggunaan Suber Daya, dan Perilaku Biaya

Perilaku biaya memiliki hubungan erat dengan aktivitas dan sumberdaya yang
diperlukan untuk melakukannya. Kapasitas merupakan kemampuan aktual atau potensial
untuk melakukan sesuatu. Dalam pembahasan mengenai kapasitas suatu aktivitas, dapat
didefinisikan bahwa kapasitas aktivitas adalah jumlah aktivitas yang dapat dilakukan
perusahaan. Besaran kapasitas yang diperlukan bergantung kepada tingkat kinerja yang
diminta. Dapat diasumsikan bahwa kapasitas yang diperlukan memiliki kaitan erat
dengan tingkat efisiensi suatu aktivitas. Tingkat kinerja aktivitas yang efisien biasa
deisebut dengan aktivitas praktis (praktical activity).

A. Sumber Daya Fleksibel

Secara umum sumber daya fleksibel dapat digambarkan sebagai sumberdaya yang
dibeli hinya ketika dibutuhkan. Sumber daya fleksibel diperoleh dari pihak eksternal
tanpa adanya kontrak perjanjian jangka panjang. Contoh dari sumber daya fleksibel
adalah bahan baku yang dibeli saat dibutuhkan dengan jumlah pembelian sesuai dengan
tingkat kebutuhan. Dalam penggunaannya, sumber daya fleksibel tidak menyisakan
kapasitan yang tidak terpakai, karena jumlah sumberdaya yang digunakan sama dengan
jumlah kebutuhan.

B. Sumber Daya Terikat

Suber daya terikat adalah sumber daya yang harus dipasok sebelum penggunaan.
Umumnya sumber daya terikat diperoleh melalui kontrak, baik ekplisist maupun implisit,
tanpa menimbang apakah jumlah sumber daya yangtersedia akan digunakan secara penuh
ataupun tidak.
Salah satu contoh sumber daya terikat adalah gedung pabrik. Gedung harus dibangun
sebelum produksi dimulai. Pada penggunaannya gedung tidak selalu dipakai pada
kapasitas maksimal. Bila dibahas lebih lanjut, ada banyak sumber daya yang dibeli
sebelum sumber daya tersebut benar-benar dibutuhkan. Sewa mesin yang dibayar di
muka adalah salah satu contoh sumber daya terikat yang diperoleh melalui kontrak
eksplisit. Pembebanan tahunan yang termasuk dalam kategori multiperiode tidak
bergantung pada aktivitas penggunaan aktual sumberdaya. Dari sini pembebanan tersebut
termasuk dalam kategoti biaya tetap terikat.
Selain sumber daya terikat yang diperoleh dari kontrak eksplisit, ada sumber daya
terikat dari kontrak implisit juga harus diperhatikan. Sebuah perusahaan biasanya
memiliki beberapa pegawai tetap dan pegawai tidak tetap. Perusahaan cenderung
mempertahankan jumlah pegawai meskipun terjadi penurunan akktivitas. Sebagai contoh
perusahaan sepatu yang memiliki 4 pegawai, di suatu periode jangka pendek produksi
sepatu di perusahaan tersebut turun sebesar 25%. Hal ini tidak semerta-merta membuat
perusahaan tersebut memberhentikan seorang pegawainya. Berbeda halnya jika
penurunan produksi tersebut terjadi dalam jangka waktu yang panjang atau permanen,
perusahaan akan mengurangi pegawai sesuai dengan aktivitas produksinya. Sumber daya
terikat untuk jangka pendek ini disebut dengan biaya tetap diskresi.
C. Perilaku Biaya Bertahap

Biaya Rp
Unit diproduksi

400

300

200

100

20 40 60 70 80

Biaya bertahap merupakan tingkat biaya yang konstan untuk rentang keluaran
tertentu, dan pada titik tertentu naik ke tingkat lebih tinggi di mana biaya tersebut tidak
berubah untuk rentang keluaran yang sama. Ilustrasi gambar di atas dapat menjelaskan
bagaimana biaya bertahap terjadi. Untuk aktivitas dengan keluaran produksi 0 hingga 20
unit, diperlukan biaya sebesar Rp 100. Bila aktivitas produksi naik antara 20 hingga 40
unit, maka biaya yang diperlukan naik menjadi Rp 200.
Mari kita ambil sebuah contoh pabrik permen. Di pabrik tersebut seorang pegawai
yang dibayar Rp200.000 perhari idealnya mampu membuat 20kg permen setiap hari. Bila
pabrik berproduksi menghasilkan 80kg permen perhari, maka dibutuhkan empat orang
pegawai dengan total gaji Rp800.000 perhari. Namun ada kalanya di musim liburan
panjang sekolah perusahaan meningkatkan aktivitas produksinya untuk menghasilkan
90kg permen perhari. Dari sini perusahaan harus pempekerjakan seorang pegawai
tambahan, dan total gaji untuk empat pegawai dan satu pegawai tambahan menjadi
Rp1.000.000. Tidak mungkin bagi perusahaan untuk memperkerjakan 4,5 pegawai. Pada
keadaan seperti ini ada kapasitas yang tidak terpakai sebesar 10%
(Rp100.000/Rp1.000.000).
Lebih jauh lagi, bila kita memasukkan komponen sumber daya variabel. Anggap saja
perusahaan tersebut menghabiskan biaya Rp 180.000 untuk perlengkapan aktivitas teknis.
Maka untuk menghitung biaya produksi satu kilogram permen perlu dihitung tarif
aktivitas tetap dan tarif aktivitas variabel.

Tarif aktivitas tetap = 1.000.000 / 100


= Rp10.000
Tarif aktivitas variabel = 180.000 / 90
= Rp2.000

Jadi biaya keseluruhan untuk satu kilogram permen adalah Rp12.000


Sistem perhitungan biaya berdasar fungsi pada umumnya hanya menyediakan
informasi tentang biaya sumber daya yang dibeli. Di sisi lain sistem manajemen
berdasarkan aktivitas memberikan informasi tentang banyaknya aktivitas yang digunakan
dan biaya penggunaannya. Hubungan antara jumlah sumber daya yang tersedia dan
sumber daya yang digunakan dinyatakan oleh persamaan berikut:

Sumber daya tersedia = sumberdaya yang dipakai + kapasitas idle

Persamaan ini dapat dinyatakan baik dengan menggunakan jumlah fisik maupun
jumlah uang. Pada contoh di atas, persamaan ini dapat dinyatakan dalam jumlah fisik
sebagai berikut:

Produksi permen tersedia = Produksi permen yang dipakai + Produksi permen yang tidak
digunakan
100kg = 90kg + 10kg

Jika persamaan terseut dinyatakan dalam bentuk uang Rupiah, maka cukup
dimasukkan jumlah rupiah

Biaya Produksi yang dipasok = Biaya yang dipakai + Biaya yang tidak dipakai
= (10.000+2000)*90 + 10.000*10
= 1.080.000 + 100.000
= Rp. 1.180.000

Jumlah Rp1.180.000 sama dengan uang Rp1.000.000 yang dipakai untuk menggaji
lima karyawan dan uang Rp180.000 untuk perlengkapan. Rumus ini penting karena
mengandung informasi yang dibutuhkan oleh manager untuk menambah atau mengurangi
produksi. Kelebihan kapasitan sebesar Rp100.000 dapat digunakan oleh manager sebagai
pertimbangan apakah sisa kapasitas produksi tersebut dapat dipakai untuk memproduksi
produk permen yang baru tanpa pengeluaran teknis saat ini.

D. Implikasi Untuk Pengambilan Keputusan

Model berdasar aktivitas yang telah diuraikan dapat dipakai untuk memperbaiki
pengendalian managerial dan pengambilan keputusan. Manager dapat mengambil
keputusan dengan berhati-hati mengenai produk baru yang harus diproduksi dengan
kelebihan kapasitas yang ada. Tentu hal ini harus disesuaikan dengan selera pelanggan
agar produk tersebut dapat terjual dan menambah laba. Selain itu bila ternyata kelebihan
kapasitas ini justru menjadi beban, manager dapat mengurangi produksi agar mencapai
titik yang efisien dan laba bisa maksimal.